HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum SekolahPenelitian dilakukan di salah satu sekolah dasar negeri di Jakarta yang memiliki sistem pembelajaran akselerasi. Sekolah yang terpilih adalah Sekolah Dasar Islam Panglima Besar Sudirman yang terletak di Jalan Raya Bogor Km. 24 Cijantung, Jakarta Timur. Sekolah Dasar Islam PB Sudirman ini merupakan salah satu sekolah swasta di Jakarta yang memiliki akreditasi A. Sejak bulan September 2002, SD Islam PB Sudirman ditetapkan sebagai Sekolah Koalisi Regional SEAMEO (South East Asia Minister of Education Organisation), yang menjalin kerjasama pendidikan Negara Asia Tenggara dalam hal peningkatan Quality dan Equity. Selain itu, sejak Februari 2005 SD Islam PB Sudirman ditetapkan sebagai anggota APEC Future Education Consortium Implementation of ICT Model School Network yang beranggotakan 16 negara antara lain: Australia, Brunei, Canada, Chili, Cina, Taipei, Hongkong, Jepang, Korea, Malaysia, Mexico, Philiina, Singapura, Vietnam, dan Thailand.
Visi sekolah ini yaitu menjadikan pendidikan yang berkualitas berdasarkan iman dan taqwa, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni serta berwawasan global. Adapun misi dari sekolah ini adalah (1) menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, (2) berprestasi akademis dan non akademis di tingkat nasional maupun internasional, (3) melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan, serta internasional, (4) menghasilkan lulusan yang mampu berkomunikasi dengan bahasa asing, dan (5) menghasilkan lulusan yang menguasai TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Jumlah siswa sekolah secara keseluruhan sebanyak 1741 siswa yang terdiri dari 934 siswa laki-laki dan 807 siswa perempuan. Fasilitas yang dimilki oleh sekolah antara lain laboratorium sains, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, perpustakaan, poliklinik, masjid, studio musik, sarana pembelajaran bahasa Inggris, sarana olahraga, kantin/katering, mobil antar jemput, dan ruang ICT. Kegiatan ekstrakulikuler yang disediakan sekolah untuk diikuti oleh para siswa antara lain keaagamaan, drama bahasa inggris, drumband, olahraga, kepramukaan, angklung, marawis, karate, taekwondo, paduan suara, seni musik, seni lukis, seni tari, paskibra, dan qasidah.
Sistem percepatan belajar di Sekolah Dasar Islam PB Sudirman sudah memasuki tahun ke-8. Latar belakang terselenggaranya Sistem percepatan belajar (akselerasi) adalah untuk melayani siswa-siswi dengan kecerdasan
istimewa untuk dapat menyelesaikan sekolahnya dengan cepat. Sistem percepatan belajar ini mulai dibuka untuk kelas 3. Syarat siswa yang ingin mengikuti program akselerasi antara lain: mendapatkan rekomendasi dari guru kelas, melakukan tes akademik, melakukan psikotes, dan mendapatkan persetujuan orangtua. Siswa-siswi yang mendapatkan peringkat 1-10 di kelas 2 akan direkomendasikan oleh guru untuk mengikuti program akselerasi pada tingkat selanjutnya. Siswa-siswi tersebut akan melakukan uji psikotes untuk melihat kepribadian siswa, kemampuan dasar, dan task commitment. Nilai tes IQ minimal untuk dapat mengikuti program akselerasi adalah 130. Siswa-siswa yang lulus persyaratan untuk mengikuti program percepatan belajar, akan masuk kelas akselerasi pada tahun-tahun ajaran berikutnya.
Karakteristik Keluarga Pendidikan
Pendidikan berperan penting dalam mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Pendidikan orang tua akan berpengaruh terhadap pendidikan/ perkembangan anak. Semakin tinggi pendidikan orang tua, semakin besar pengetahuan orang tua akan pentingnya pendidikan bagi anak (Gunarsa & Gunarsa 2006). Orang tua dengan pendidikan formal yang tinggi akan memiliki partisipasi yang lebih besar pada segala sesuatu yang berhubungan dengan stimulasi dan pendidikan anak, dibandingkan dengan orang tua yang berpendidikan rendah (Csikezentnihalyi 1996 dalam Ginting 2005).
Tingkat pendidikan orang tua siswa akselerasi dan siswa regular cukup bervariasi. Pendidikan minimal ayah siswa akselerasi adalah diploma/akademi, sedangkan pendidikan minimal ayah siswa reguler adalah SMA/sederajat. Pendidikan minimal ibu siswa akselerasi adalah SMA/sederajat, sedangkan pendidikan minimal ibu siswa reguler adalah SD/sederajat. Persentase terbesar pendidikan ayah pada kelompok siswa akselerasi adalah S2/S3 (47.37%), sedangkan pada kelompok reguler adalah S1 (52.54%). Persentase terbesar pendidikan ibu pada kelompok siswa akselerasi adalah S1 (36.84%), sedangkan pada kelompok reguler adalah SMA (37.5%). Secara umum, tingkat pendidikan ayah dan ibu siswa adalah sarjana. Berdasarkan hasil uji beda independent sample t-test, diperoleh bahwa tingkat pendidikan ibu dan ayah pada kedua kelompok berbeda nyata (p<0.05).
Tabel 5 Sebaran siswa berdasarkan tingkat pendidikan ayah dan ibu
Akselerasi Reguler Total
Variabel n % n % n % Pendidikan Ayah SD/sederajat 0 0.00 0 0 0 0.00 SMP/sederajat 0 0.00 0 0 0 0.00 SMA/sederajat 0 0.00 7 17.5 7 11.86 Diploma/Akademi 4 21.05 3 7.5 7 11.86 Sarjana 6 31.58 25 62.5 31 52.54 S2/S3 9 47.37 5 12.5 14 23.73 Total 19 100.00 40 100 59 100.00 Uji beda p=0.021 Pendidikan Ibu SD/sederajat 0 0.00 1 2.5 1 1.69 SMP/sederajat 0 0.00 0 0 0 0.00 SMA/sederajat 1 5.26 15 37.5 16 27.12 Diploma/Akademi 5 26.32 10 25 15 25.42 Sarjana 7 36.84 11 27.5 18 30.51 S2/S3 6 31.58 3 7.5 9 15.25 Total 19 100.00 40 100 59 100.00 Uji beda p=0.001
Tingkat pendidikan orang tua dapat mempengaruhi usaha meningkatkan prestasi belajar anak. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka akan semakin banyak pula pengetahuan orang tua yang diberikan kepada anaknya (Nasution dan Nasution 1986 dalam widayati 2009). Oleh karena itu, diduga prestasi belajar siswa akselerasi relatif lebih baik bila dibandingkan siswa reguler.
Pekerjaan
Pekerjaan orang tua siswa kedua kelompok cukup bervariasi mulai dari pegawai negeri sipil, pegawai swasta, BUMN, TNI/Polri, wiraswasta, ibu rumah tangga, dan lain sebagainya. Berdasarkan data yang diperoleh, sebagian besar ayah siswa bekerja sebagai pegawai swasta (54.24%), sedangkan proporsi terbesar pekerjaan ibu siswa adalah sebagai ibu rumah tangga (38.98%).
Tabel 6 menggambarkan sebaran pekerjaan ayah dan ibu siswa. Berdasarkan data pada tabel tersebut, dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah dan ibu pada kelas akselerasi dan reguler masing-masing adalah pegawai swasta dan ibu rumah tangga. Kategori lainnya dalam pekerjaan ayah dan ibu yang dipilih orang tua siswa, antara lain: guru dan advokat. Hasil analisis korelasi spearman menunjukkan adanya hubungan negatif antara pendidikan
ibu dengan pekerjaan ibu (r=-0.448; p=0.00). Hal ini diduga dikarenakan banyak ibu dengan pendidikan tinggi namun tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga.
Tabel 6 Sebaran siswa berdasarkan pekerjaan ayah dan ibu
Akselerasi Reguler Total
Variabel n % n % n % Pekerjaan Ayah PNS 1 5.26 7 17.5 8 13.56 Pegawai Swasta 13 68.42 19 47.5 32 54.24 Bekerja di BUMN 1 5.26 1 2.5 2 3.39 TNI/Polri 2 10.53 4 10 6 10.17 Wiraswasta 1 5.26 6 15 7 11.86 Lainnya 0 0.00 2 5 2 3.39 Wafat 1 5.26 1 2.5 2 3.39 Total 19 100 40 100 59 100 Pekerjaan Ibu PNS 1 5.26 4 10 5 8.47 Pegawai Swasta 6 31.58 10 25 16 27.12 Bekerja di BUMN 3 15.79 1 2.5 4 6.78 TNI/Polri 0 0 2 5 2 3.39 Wiraswasta 2 10.53 5 12.5 7 11.86 Ibu RT 7 36.84 16 40 23 38.98 Lainnya 0 0 2 5 2 3.39 Wafat 0 0 0 0 0 0 Total 19 100 40 100 59 100
Menurut Kartasapoetra dan Marsetyo (2003), jenis pekerjaan orang tua merupakan salah satu indikator besarnya penghasilan keluarga. Diharapkan dengan semakin besarnya penghasilan orangtua, maka konsumsi keluarga pun menjadi semakin baik dalam hal gizi makanan yang dikonsumsi, baik secara kualitas maupun kuantitasnya.
Pendapatan
Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kuantitas dan kualitas makanan. Tingkatan pendapatan juga menentukan pola makanan apa yang dibeli dengan uang tambahan tersebut (Berg 1986). Menurut Suhardjo (1989), keluarga yang penghasilannya rendah, mempergunakan sebagian besar dari keuangannya untuk membeli makanan dan bahan makanan, dan semakin tinggi penghasilan tersebut, semakin menurun bagian penghasilan yang dipakai untuk membeli makanan.
Makanan, pakaian, dan tempat tinggal adalah kebutuhan primer setiap individu manusia untuk dapat hidup dan bersosialisasi. Selain makanan, pakaian, dan tempat tinggal, kebutuhan primer manusia di era globalisasi saat ini yang harus terpenuhi adalah pendidikan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat terpenuhi jika seseorang mempunyai penghasilan yang cukup.
Tabel 7 Sebaran siswa berdasarkan pendapatan orangtua
Akselerasi Reguler Total
Variabel n % n % n % Pendapatan Ayah < Rp 1.118.009 0 0 0 0 0 0 Rp 1.118.009-Rp 2.000.000 0 0 2 5 2 3.39 Rp 2.000.000-Rp 2.499.000 0 0 1 2.5 1 1.69 Rp 2.500.000-Rp 2.999.000 0 0 1 2.5 1 1.69 Rp 3.000.000-Rp 3.499.000 0 0 4 10 4 6.78 Rp 3.500.000-Rp 3.999.000 1 5.26 7 17.5 8 13.56 > Rp 4.000.000 17 89.47 24 60 41 69.49 Rp 0. 1 5.26 1 2.5 2 3.39 Total 19 100 40 100 59 100 Uji beda p=0.230 Pendapatan Ibu < Rp 1.118.009 1 5.26 3 7.5 4 6.78 Rp 1.118.009-Rp 2.000.000 0 0 4 10 4 6.78 Rp 2.000.000-Rp 2.499.000 0 0 0 0 0 0 Rp 2.500.000-Rp 2.999.000 0 0 0 0 0 0 Rp 3.000.000-Rp 3.499.000 0 0 2 5 2 3.39 Rp 3.500.000-Rp 3.999.000 2 10.53 5 12.5 7 11.86 > Rp 4.000.000 9 47.37 10 25 19 32.20 Rp 0. 7 36.84 16 40 23 38.98 Total 19 100 40 100 59 100 Uji beda p=0.299
Pendapatan orangtua siswa kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 7. Sebagian besar pendapat ayah siswa adalah > Rp 4.000.000 (69.49%). Proporsi pendapatan ayah > Rp 4.000.000 pada kelas akselerasi lebih besar dibandingkan dengan kelas reguler. Sebagian besar pendapatan ibu siswa adalah Rp 0 atau dengan kata lain tidak berpenghasilan. Hal ini dikarenakan rata-rata pekerjaan ibu siswa adalah ibu rumah tangga (tabel 6). Akan tetapi, proporsi terbesar pendapatan ibu siswa pada kedua kelompok berbeda. Proporsi terbesar pendapatan ibu siswa kelas akselerasi adalah > Rp 4.000.000, sedangkan pada kelas reguler adalah Rp 0. Hal ini dikarenakan sebanyak 63.18% ibu contoh kelas akselerasi bekerja dan memperoleh penghasilan.
Berdasarkan hasil uji beda independent sample t-test, diketahui bahwa pendapatan orangtua kedua kelompok tidak berbeda nyata (p>0.05). Tingkat pendapatan orangtua diduga akan mempengaruhi kelengkapan fasilitas belajar anak dalam mendukung kegiatan belajar dan prestasi belajar anak.
Besar Keluarga
Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga lain yang hidup dari pengeloloaan sumberdaya yang sama (Sukandar 2007). Besar keluarga contoh dikategorikan dalam 3 kelompok, yaitu kategori kecil, apabila jumlah anggota keluarga ≤ 4 orang; kategori menengah/sedang, apabila jumlah anggota keluarga 5-7 orang; dan kategori besar, apabila jumlah anggota keluarga > 7 orang (BKKBN 2008).
Secara umum, besar keluarga contoh kedua kelompok sebagian besar termasuk dalam kategori sedang (61.02%), dengan rata-rata 4.9 ± 0.92. Besar keluarga minimum contoh adalah 3 orang, sedangkan besar keluarga maksimal contoh adalah 7 orang. Berdasarkan hasil uji beda independent sample t-test antara kedua kelompok, diperoleh bahwa besar keluarga kedua kelompok tidak berbeda (p>0.05).
Tabel 8 Sebaran siswa berdasarkan kategori besar keluarga
Akselerasi Reguler Total
Besar Keluarga n % n % n % Kecil (≤ 4 orang) 8 42.11 15 37.5 23 38.98 Menengah (5-7 orang) 11 57.89 25 62.5 36 61.02 Besar (> 7 orang) 0 0.00 0 0 0 0.00 Total 19 100.00 40 100 59 100.00 Rata-rata±SD 4.84 ± 1.07 4.92 ± 0.86 4.9 ± 0.92 Min-max 3-7 4-7 3-7 Uji beda p=0.744
Menurut Sanjur (1982), jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap belanja pangan. Semakin tingginya besar jumlah anggota dalam keluarga, maka akan menyebabkan menurunnya pendapatan per kapita dan belanja pangan. Adanya kepadatan dalam keluarga akan mengganggu pola dan corak hubungan antar anggota keluarga sehingga jaringan komunikasi antara anggota keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya (Gunarsa & Gunarsa 2004).
Karakteristik Individu Usia Masuk Sekolah
Umur menjadi salah satu syarat untuk masuk sekolah karena diduga dapat mempengaruhi tingkat kematangan dan penerimaan belajar siswa. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1990 Bab VIII pasal 15 ayat 1 menyatakan bahwa untuk dapat diterima sebagai siswa sekolah dasar dan sederajat, seseorang harus berusia sekurang-kurangnya 6 tahun. Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mulai masuk sekolah pada usia <6 tahun (55.93%), dengan presentase siswa akselerasi (68.42%) lebih banyak daripada siswa reguler (50%). Hasil uji beda independent sample T-test menunjukkan bahwa usia masuk sekolah kedua kelompok tidak berbeda nyata (p>0.05).
Tabel 9 Sebaran siswa berdasarkan usia masuk sekolah
Akselerasi Reguler Total
Usia Masuk Sekolah
n % n % N % <6 tahun 13 68.42 20 50 33 55.93 ≥6 tahun 6 31.58 20 50 26 44.07 Total 19 100 40 100 59 100 Uji beda p=0.183 Umur
Umur akan mempengaruhi tingkat kematangan berpikir seseorang. Berdasarkan data yang diperoleh, umur siswa berkisar pada 9 sampai 11 tahun. Rata-rata umur siswa akselerasi adalah 9.4 ± 0.5 tahun, sedangkan siswa reguler rata-rata berumur 10.35 ± 0.5 tahun). Umur minimum siswa adalah 9 tahun, sedangkan umur maksimal siswa adalah 11 tahun. Pada kelas akselerasi sebagian siswa laki-laki dan perempuan berumur 9 tahun, sedangkan pada kelas reguler sebagian siswa laki-laki dan perempuan berumur 10 tahun. Sebaran umur siswa akselerasi dan siswa reguler dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10 Sebaran siswa berdasarkan umur
Akselerasi Reguler Total
Umur n % n % n % 9 tahun 13 68.4 0 0 13 22.03 10 tahun 6 31.6 26 65 32 54.24 11 tahun 0 0.0 14 35 14 23.73 Total 19 100 40 100 59 100
Berdasarkan teori Piaget, anak pada umur 7 sampai 11 tahun memasuki taraf perkembangan kognitif yang disebut taraf operasional konkret. Anak pada tahap ini mulai mempunyai kemampuan menggunakan pemikiran logis dalam
berhadapan dengan persoalan-persoalan konkret sehingga mulai mampu menyelesaikan persoalan-persoalan konkret dan sistematis (Suparno 2002 ). Mereka sudah dapat mengambil kesimpulan dari suatu pertanyaan (Hurlock 1997 dalam Widayati 2009). Monks (1992) dalam Widayati (2009) melakukan pembagian perkembangan remaja adalah pra remaja (10-12 tahun), remaja awal atau pubertas (12-15 tahun), remaja pertengahan usia (15-18 tahun), dan remaja akhir usia (18-21 tahun). Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa siswa dalam penelitian ini berada dalam fase anak-anak hingga pra remaja. Hasil uji beda independent sample t-test, diketahui bahwa umur kedua kelompok berbeda nyata (p=0.000).
Jenis Kelamin
Pada tabel 11 dapat dilihat bahwa sebagian besar jenis kelamin siswa akselerasi adalah laki-laki (63.16%). Sebaliknya pada siswa reguler, sebagian besar siswa berjenis kelamin perempuan (55%).
Tabel 11 Sebaran siswa berdasarkan jenis kelamin
Akselerasi Reguler Total
Jenis Kelamin n % n % n % Laki-laki 12 63.16 18 45 30 50.85 Perempuan 7 36.84 22 55 29 49.15 Total 19 100 40 100 59 100 Uang Saku
Besar uang saku siswa berkisar antara Rp 1000 hingga Rp 30000 per hari, dengan rata-rata Rp 10559.32 ± 5688.07. Sebagian besar siswa (74.58%) pada kedua kelompok memiliki uang saku antara Rp 5000 hingga Rp 10000 per hari dengan persentase 78.95% pada siswa akselerasi dan 72.5% pada siswa reguler.
Tabel 12 Sebaran siswa berdasarkan kategori uang saku
Akselerasi Reguler Total
Uang Saku (Rp/hari) n % n % N % <5000 1 5.26 1 2.5 2 3.39 5000-10000 15 78.95 29 72.5 44 74.58 >10000 3 15.79 10 25 13 22.03 Total 19 100.00 40 100 59 100.00 Rata-rata ± SD 9526.3 ± 6801.7 11050 ± 5098.8 10559.32 ± 5688.1 Min-Max 4000-30000 1000-30000 1000-30000 Uji beda p=0.393
Berdasarkan hasil uji beda independent sample t-test, diketahui bahwa besar uang saku kedua kelompok tidak berbeda nyata (p>0.05). Hasil uji korelasi
spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang nyata antara uang saku dengan umur siswa (r=0.197; p=0.134). Sebaran uang saku siswa dapat dilihat pada tabel 12.
Khomsan (2002) menyarankan kepada orangtua untuk membekali anak dengan uang saku bila berangkat ke sekolah, karena jajan bagi anak sekolah merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan energi karena aktivitas sekolah yang tinggi (terutama bagi anak yang tidak sarapan pagi).
Fasilitas Belajar
Orang tua bertugas untuk memenuhi kebutuhan perkembangan intelektual atau pendidikan anak (Opit 1996). Fasilitas belajar merupakan salah satu kebutuhan dalam pendidikan untuk menunjang keberhasilan anak dalam belajar. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar anak adalah dengan menyediakan fasilitas belajar seperti: alat tulis, buku pelajaran, dan sarana belajar (Nio 1985 dalam Rukoyah 2003).
Dari tabel 13 dapat dilihat kategori kepunyaan fasilitas belajar siswa seperti meja belajar, laptop/komputer, akses internet, peralatan tulis, dan mengikuti les/kursus. Berdasarkan data pada tabel 13, diketahui bahwa proporsi terbesar kepunyaan fasilitas belajar pada kedua kelompok adalah kepunyaan peralatan tulis pribadi (96.6%). Berdasarkan hasil uji beda independent sample t-test, tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kedua kelompok mengenai fasilitas belajar yang dimiliki (p>0.05).
Tabel 13 Sebaran siswa berdasarkan fasilitas belajar yang dimilki
Akselerasi Reguler Total
No Kategori
n % n % n %
1 Memiliki Meja Belajar 15 78.9 36 90 51 86.4 2 Memiliki Laptop/komputer 18 94.7 36 90 54 91.5 3 Memiliki akses internet 15 78.9 30 75 45 76.3 4 Memiliki peralatan tulis pribadi 18 94.7 39 97.5 57 96.6 5 Mengikuti les/kursus 9 47.4 11 27.5 20 33.9
Rata-rata total kepunyaan 4 78.95 3.8 76
Uji beda p=0.613
Menurut Hamalik (1980) dalam Maftukhah (2007), syarat-syarat belajar yang perlu diperhatikan agar dapat belajar dengan baik yaitu faktor jasmani, rohani yang sehat, lingkungan yang tenang, tempat belajar yang nyaman, tersedia cukup bahan dan alat-alat yang diperlukan. Syarat-syarat belajar yang terpenuhi akan dapat memotivasi anak untuk belajar sehingga anak dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Dari 5 macam fasilitas yang ditanyakan, rata-rata siswa
kedua kelompok telah memiliki 4 fasilitas tersebut. Hal ini menandakan bahwa syarat belajar untuk dapat belajar dengan baik telah terpenuhi.
Hasil uji korelasi spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan fasilitas belajar anak (r=0.270; p=0.038). Hal ini bermakna bahwa semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka fasilitas belajar yang dimiliki anak semakin baik. Menurut Nasution dan Nasution (1986), tingkat pendidikan orang tua dapat mempengaruhi usaha meningkatkan prestasi belajar anak. Usaha meningkatkan prestasi belajar anak dapat dilakukan dengan membimbing anak dalam belajar dan menyediakan fasilitas belajar (alat tulis, buku-buku pelajaran, dan tempat untuk belajar) (Nio 1985 dalam Hanum 1993).
Tingkat Kecukupan Energi dan Zat Gizi
Kecukupan gizi yang dianjurkan adalah banyaknya masing-masing zat gizi yang harus terpenuhi dari makanan (Karyadi & Muhilal 1996). Kecukupan konsumsi makanan dapat ditentukan dengan menganalisis kandungan zat gizinya kemudian dibandingkan dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan untuk mencapai suatu tingkat gizi dan kesehatan yang optimal (Suhardjo 1989). Konsumsi pangan siswa diukur dengan menggunakan metode recall 2x24 jam pada hari sekolah dan hari libur. Recall pada hari sekolah diasumsikan dapat mewakili konsumsi pangan sehari-hari ketika sekolah, sedangkan recall pada hari libur diasumsikan dapat mewakili konsumsi pangan sehari-hari siswa ketika dirumah. Tabel 14 menunjukkan rata-rata konsumsi, kecukupan, dan tingkat konsumsi siswa pada dua kelompok.
Energi dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan hidup, menunjang pertumbuhan, dan melakukan aktivitas fisik (Almatsier 2005). Berdasarkan data pada tabel 14, dapat diketahui bahwa rata-rata konsumsi energi siswa akselerasi adalah 1841 Kal, dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 91.56%. Pada siswa reguler, rata-rata konsumsi energi adalah 1762 Kal dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 88.93%. Hasil uji beda independent sample t-test menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan nyata (p>0.05) antara tingkat kecukupan energi siswa akselerasi dan reguler.
Protein memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk sel-sel dan jaringan tubuh. Protein berfungsi dalam pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan serta menggantikan sel-sel yang mati (Sediaoetama 2006). Secara keseluruhan, rata-rata konsumsi protein siswa adalah 48 gram dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 98.12%. pada siswa akselerasi, rata-rata konsumsi protein
adalah 49.17 gram, dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 99.64%, sedangkan pada siswa reguler, rata-rata konsumsi protein adalah 47.08 gram dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 97.79%. Hasil uji beda menyebutkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) antara tingkat kecukupan protein siswa akselerasi dan reguler.
Tabel 14 Sebaran rata-rata konsumsi, kecukupan, dan tingkat kecukupan energi dan zat gizi siswa
Variabel Akselerasi Reguler Total Uji beda (p)
Energi Konsumsi 1841 1762 1787 Kecukupan 2119 2047 2075 Tk konsumsi (%) 91.56 88.93 89.45 0.712 Protein Konsumsi 49.17 47.08 48 Kecukupan 52.56 50 51 Tk konsumsi (%) 99.64 97.79 98.12 0.844 Fe Konsumsi 10.16 11.62 11.15 Kecukupan 12.58 16.78 15.65 Tk konsumsi (%) 84.83 74.77 77.31 0.191 Vitamin A Konsumsi 1036.97 765.07 852.63 Kecukupan 531.58 599.17 578.80 Tk konsumsi (%) 195.60 129.50 150.16 0.003 Vitamin C Konsumsi 29.85 26.87 27.83 Kecukupan 46.58 49.93 48.97 Tk konsumsi (%) 63.87 54.18 57.07 0.607
Besi sangat penting bagi sel darah merah untuk memelihara seluruh sel tubuh, agar ia dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan aktif. Menurut As-sayyid (2006), Kekurangan zat besi (kekurangan darah) dapat mengakibatkan idiot, malas, dan lemah, serta kehilangan semangat, sulit menyerap informasi, terganggu pertumbuhan, dan mudah terserang penyakit. Dari tabel 14 diketahui bahwa rata-rata konsumsi zat besi siswa adalah 11.15 gram, dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 77.31%. Pada siswa akselerasi, rata-rata konsumsi zat besi siswa adalah 10.16 gram dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 84.83%. Pada siswa reguler, rata-rata tingkat konsumsi zat besi siswa adalah 11.62 gram, dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 74.77%. Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa tingkat kecukupan konsumsi zat besi siswa kedua kelompok tidak berbeda nyata (p>0.05).
Vitaimin A sangat dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memelihara jaringan agar tetap baik dan sehat, agar masing-masing jaringan itu dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, khususnya mata, kulit, tulang, jaringan pernapasan dan pencernaan, serta fungsi kekebalan (imunitas) tubuh. Selain itu, vitamin A juga sangat penting untuk menjaga vitalitas tubuh disetiap fase yang dilaluinya. Kekurangan vitamin dapat menyebabkan lemah penglihatan pada malam hari (rabun ayam) (As-Sayyid 2006). Lemah penglihatan ini diduga dapat mengganggu anak dalam beraktivitas di malam hari, mengganggu anak dalam kegiatan belajar sehari-hari yang akan mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar anak.
Secara keseluruhan, rata-rata konsumsi vitamin A siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan siswa reguler (tabel 14). Rata-rata konsumsi vitamin A siswa akselerasi adalah 1036.97 Re, dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 195.6%, sedangkan rata-rata konsumsi vitamin A siswa reguler adalah 765.07 Re, dengan tingkat kecukupan konsumsi vitamin A sebesar 129.5%. Konsumsi vitamin A yang tinggi pada siswa akselerasi diduga dapat meningkatkan sistem imunitas siswa, sehingga siswa dapat terhindar dari penyakit. Hal tersebut diduga akan berkaitan dengan prestasi siswa, karena siswa dengan keadaan tubuh yang sehat dapat menerima pelajaran di sekolah dengan baik. Hasil uji beda menunjukkan bahwa tingkat kecukupan konsumsi vitamin A siswa kedua kelompok berbeda nyata (p<0.05).
Dari tabel 14 diketahui bahwa rata-rata konsumsi vitamin C siswa akselerasi adalah 29.85 gram dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 63.87%. Pada siswa reguler, rata-rata tingkat konsumsi vitamin C siswa adalah 26.87 gram, dengan tingkat kecukupan konsumsi sebesar 54.18%. Rendahnya konsumsi vitamin C siswa disebabkan oleh konsumsi sayuran dan buah-buahan yang rendah. Menurut As-sayyid (2006), sumber vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan dan sayur-sayuran.
Tabel 15 Sebaran siswa berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan energi
Akselerasi Reguler Total
Klasifikasi tingkat
kecukupan energy n % n % n %
Defisit Tingkat Berat 3 15.79 9 22.5 12 20.34 Defisit Tingkat Sedang 2 10.53 8 20 10 16.95 Defisit Tingkat Ringan 3 15.79 5 12.5 8 13.56 Normal 10 52.63 15 37.5 25 42.37 Berlebih 1 5.26 3 7.5 4 6.78
Rata-rata ± SD 91.56 ± 22.91 88.93 ± 24.74 89.45 ± 23.59 Pada tabel 15 dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat kecukupan energi termasuk pada kategori normal (siswa akselerasi) dan defisit tingkat ringan (siswa reguler), sehingga secara keseluruhan rata-rata tingkat kecukupan energi siswa termasuk pada kategori defisit tingkat ringan (89.45 ± 23.59). Hal ini sudah dapat dikatakan cukup baik karena persentase tingkat kecukupan energi siswa sudah mendekati normal.
Tabel 16 Sebaran siswa berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan protein
Akselerasi Reguler Total
Klasifikasi Tingkat Kecukupan
Protein n % n % n %
Defisit Tingkat Berat 4 21.05 5 12.5 9 15.25 Defisit Tingkat Sedang 0 0.00 7 17.5 7 11.86 Defisit Tingkat Ringan 3 15.79 6 15 9 15.25 Normal 8 42.11 14 35 22 37.29 Berlebih 4 21.05 8 20 12 20.34
Total 19 100 40 100 59 100
Rata-rata ± SD 99.64 ± 34.17 97.79 ± 30.57 98.12 ± 31.36
Pada tabel 16 dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat kecukupan protein siswa akselerasi dan reguler termasuk pada kategori normal. Secara keseluruhan rata-rata tingkat kecukupan protein siswa kedua kelompok termasuk pada kategori normal (98.12 ± 31.36), sehingga dapat disimpulkan bahwa konsumsi protein siswa kedua kelompok termasuk baik.
Tabel 17 Sebaran siswa berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan zat besi
Akselerasi Reguler Total
Klasifikasi Tingkat
Kecukupan Zat Besi n % n % n %
Kurang 7 36.84 25 62.5 32 54.24 Cukup 12 63.16 15 37.5 27 45.76
Total 19 100 40 100 59 100
Rata-rata ± SD 84.83 ± 21.45 74.78 ± 36.71 77.31 ± 33.99
Tabel 17 menunjukkan klasifikasi tingkat kecukupan zat besi. Penilaian untuk tingkat konsumsi vitamin dan mineral seperti vitamin A (RE), vitamin C, dan zat besi berdasarkan penggolongan menurut Gibson (2005). Berdasarkan data pada tabel 17, rata-rata tingkat kecukupan zat besi siswa pada kelas akselerasi termasuk pada kategori cukup (84.83 ± 21.45), sedangkan pada kelas reguler termasuk pada kategori kurang (74.78 ± 36.71). Namun, rata-rata tingkat kecukupan zat besi siswa secara keseluruhan termasuk dalam kategori cukup (77.31 ± 33.99). Hal tersebut sudah tergolong baik karena rata-rata konsumsi zat besi siswa berada pada kategori normal. Meskipun begitu, perlu
adanya peningkatan konsumsi pangan sumber zat besi seperti telur, daging, ikan, sayuran hijau, hati, bayam, dan kacang-kacangan, untuk menghindari terjadinya defisiensi besi. Menurut As-sayyid (2006), kekurangan zat besi dapat mengakibatkan idiot, malas, lemas, kehilangan semangat, sulit menyerap informasi, dan mudah terserang penyakit. Hal tersebut apabila dialami oleh siswa diduga dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan siswa di sekolah.
Tabel 18 Sebaran sisa berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan vitamin A
Akselerasi Reguler Total
Klasifikasi Tingkat Kecukupan Vitamin A n % n % n % Kurang 1 5.26 4 10.00 5 8.47 Cukup 18 94.74 36 90.00 54 91.53 Total 19 100 40 100 59 100 Rata-rata ± SD 195.6 ± 79.38 129.5 ± 53.02 150.16 ± 69.11
Berdasarkan data pada tabel 18, rata-rata tingkat kecukupan vitamin A siswa pada kelas akselerasi dan reguler termasuk pada kategori cukup, sehingga rata-rata tingkat kecukupan vitamin A secara keseluruhan termasuk dalam kategori cukup (150.16 ± 69.11). Hal ini sudah tergolong baik karena rata-rata kebutuhan vitamin siswa sudah terpenuhi.
Tabel 19 Sebaran siswa berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan vitamin C
Akselerasi Reguler Total
Klasifikasi Tingkat Kecukupan Vitamin C n % n % n % Kurang 15 78.95 28 70.00 43 72.88 Cukup 4 21.05 12 30.00 16 27.12 Total 19 100 40 100 59 100 Rata-rata ± SD 63.87 ± 72.81 54.18 ± 52.73 57.07 ± 59.32
Rata-rata tingkat kecukupan vitamin C siswa pada kelas akselerasi dan reguler termasuk pada kategori kurang (57.07 ± 59.32). Kekurangan vitamin C dapat mengakibatkan badan menjadi lemas dan pucat (Budiyanto 2002). Apabila hal tersebut terjadi pada saat kegiatan belajar di sekolah, Hal ini diduga dapat menurunkan kemampuan siswa dalam menyerap informasi pelajaran di sekolah. Oleh karena itu, perlunya peningkatan konsumsi makanan sumber vitamin C seperti buah dan sayur untuk mencegah dampak negatif dari kekurangan vitamin C tersebut.
Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih pangan dan mengonsumsi sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologi, psikologi, dan sosial budaya (Suhardjo 1989). Kebiasaan makan adalah faktor penting
yang mempengaruhi status gizi dan kesehatan. Kebiasaan makan yang tidak baik dicerminkan dengan terjadinya kelebihan asupan dan penyakit akibat gizi (Atmarita 2005). Hal yang diteliti mengenai kebiasaan makan contoh adalah frekuensi makan, kebiasaan sarapan, kebiasaan membawa bekal ke sekolah, dan kebiasaan jajan.
Menurut berbagai kajian, frekuensi makan yang baik adalah tiga kali sehari, ini berarti makan pagi (sarapan) hendaknya jangan ditinggalkan. Seringkali orang mengabaikan sarapan karena diburu oleh waktu yang sempit. Sebagian orang harus meninggalkan rumah sejak pagi-pagi untuk memulai aktivitasnya ditempat kerja. Sementara di rumah makan pagi belum tersedia, akhirnya makan pagi ditinggalkan tanpa ada perasaan bersalah (Khomsan 2002).
Secara kuantitas dan kualitas rasanya sulit untuk memenuhi kebutuhan gizi apabila hanya makan 1 kali atau 2 kali sehari. Keterbatasan volume lambung menyebabkan seseorang tidak bisa makan sekaligus dalam jumlah banyak. Itulah sebabnya makan dilakukan secara frekuentif yakni 3 kali sehari termasuk makan pagi (Khomsan 2002). Dari tabel 21 dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa pada kelas akselerasi dan kelas reguler memiliki kebiasaan makan 3 kali dalam sehari dengan persentasi masing-masing 68.42% dan 77.50%. Hal ini berarti bahwa frekuensi makan sehari siswa sudah tergolong baik. Hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata mengenai frekuensi makan siswa kedua kelompok (p>0.05).
Makan pagi adalah suatu kegiatan yang penting sebelum melakukan aktivitas fisik pada hari itu. Manfaat melakukan makan pagi, antara lain : pertama, sarapan pagi dapat menyediakan karbohidrat yang siap digunakan untuk meningkatkan kadar gula darah. Dengan kadar gula darah yang terjamin normal, maka gairah dan konsentrasi belajar bisa lebih baik sehingga berdampak positif untuk meningkatkan produktivitas dalam hal ini adalah prestasi belajar. Kedua, pada dasarnya makan pagi akan memberikan kontribusi penting akan beberapa zat gizi yang diperlukan tubuh seperti protein, lemak, vitamin dan mineral. Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat untuk berfungsinya proses fisiologis dalam tubuh (Khomsan 2002).
Tidak makan pagi dapat menyebabkan tubuh kekurangan glukosa dan menyebabkan tubuh menjadi lemah dan kurang konsentrasi karena tidak adanya suplai energi (Khomsan 2002). Berdasarkan data pada tabel 21, dapat dilihat bahwa kebiasaan sarapan yang dimiliki siswa pada kelas akselerasi dan kelas
reguler sudah termasuk baik. Sebagian besar siswa pada kedua kelompok selalu melakukan sarapan. Persentase siswa yang selalu melakukan sarapan masing-masing adalah 57.89% pada kelas akselerasi dan 52.50% pada kelas reguler. Makanan yang dikonsumsi saat sarapan oleh sebagian siswa pada kedua kelompok adalah nasi dan lauk pauk. Hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata mengenai kebiasaan sarapan siswa kedua kelompok (p>0.05).
Proporsi terbesar siswa pada kelas akselerasi memiliki kebiasaan selalu membawa bekal ke sekolah (42.11%). Makanan yang dibawa sebagai bekal pada umumnya adalah nasi dan lauk pauk (78.95%), sedangkan proporsi terbesar siswa pada kelas reguler memiliki kebiasaan kadang-kadang membawa bekal ke sekolah (42.50%). Makanan yang dibawa sebagai bekal pada umumnya adalah nasi dan lauk pauk (80.56%). Berdasarkan hasil pengamatan, di sekolah SD Sudirman terdapat catering untuk makan siang yang disediakan oleh sekolah atau pun oleh orangtua murid. Hal ini menyebabkan terdapat anak yang jarang atau tidak pernah membawa bekal ke sekolah. Hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata mengenai kebiasaan membawa bekal siswa kedua kelompok (p>0.05).
Sebanyak 73.68% siswa pada kelas akselerasi terkadang membeli makanan jajanan di sekolah, sedangkan sebanyak 50% siswa pada kelas reguler selalu membeli makanan jajanan di sekolah. Hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata mengenai kebiasaan jajan siswa kedua kelompok (p>0.05). Menurut Husaini et al (1993), peranan makanan jajanan cukup signifikan dalam menyumbang energi dan zat-zat gizi terhadap total konsumsi setiap hari. Akan tetapi dalam buku Kompas (2010) menyebutkan bahwa jajan juga mempunyai aspek negatif yang harus diwaspadai. Terlalu sering jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah. Selain itu banyak makanan jajanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan sehingga mengancam kesehatan anak.
Husaini et al (1993) juga menyatakan bahwa masalah lapar pada waktu sekolah dapat mempengaruhi prestasi belajar. Rasa lapar sementara karena tidak sarapan pagi dapat mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan kemampuan memecahkan soal, dan sering membuat kesalahan dalam perhitungan matematik. Oleh karena itu, kebiasaan sebagian siswa untuk
sarapan dan membawa bekal yang sudah tergolong baik, perlu terus ditingkatkan dan dipertahankan mengingat pentingnya sarapan dan membawa bekal.
Hubungan antara kebiasaan jajan dengan kebiasaan membawa bekal makanan siswa menunjukkan hubungan negatif dan signifikan antara (r=-0.293; p=0.024). Hal ini berarti semakin tinggi kebiasaan membawa bekal siswa, maka kebiasaan jajan siswa semakin rendah. Makanan jajanan pada umumnya dikonsumsi pada saat waktu istirahat sekolah. Pada waktu istirahat, anak mulai merasa lapar setelah mengikuti pelajaran. Anak yang membawa bekal akan menangani rasa lapar dengan memakan bekal makanannya sehingga tidak perlu lagi untuk membeli jajanan.
Tabel 20 sebaran siswa berdasarkan kebiasaan makan
Akselerasi Reguler Total Uji Beda
Kebiasaan Makan Kriteria n % n % n % p 1 kali 0 0.00 0 0.00 0 0.00 2 kali 0 0.00 4 10.00 4 6.78 3 kali 13 68.42 31 77.50 44 74.58 Frekuensi makan dalam sehari > 3 kali 6 31.58 5 12.50 11 18.64 0.484 Selalu 11 57.89 21 52.50 32 54.24 Kadang-kadang 7 36.84 11 27.50 18 30.51 Jarang 1 5.26 7 17.50 8 13.56 Sarapan pagi Tidak pernah 0 0.00 1 2.50 1 1.69 0.251 Nasi + lauk pauk 10 52.63 22 56.41 32 54.24 Mie 1 5.26 2 5.13 3 5.08 Roti 7 36.84 14 35.90 21 35.59 Makanan yang dikonsumsi saat sarapan Lainnya 1 5.26 1 2.56 2 3.39 - Selalu 8 42.11 11 27.50 19 32.20 Kadang-kadang 6 31.58 17 42.50 23 38.98 Jarang 5 26.32 8 20.00 13 22.03 Kebiasaan membawa bekal Tidak pernah 0 0.00 4 10.00 4 6.78 0.250 Nasi + lauk pauk 15 78.95 29 80.56 44 74.58 Mie 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Roti 4 21.05 7 19.44 11 18.64 Makanan sebagai bekal Lainnya 0 0.00 0 0.00 0 0.00 - Selalu 4 21.05 20 50.00 24 40.68 Kadang-kadang 14 73.68 16 40.00 30 50.85 Jarang 0 0.00 4 10.00 4 6.78 Kebiasaan jajan Tidak pernah 1 5.26 0 0.00 1 1.69 0.119
Hasil uji korelasi spreamen menunjukkan adanya hubungan yang negatif dan signifikan antara uang saku dengan sarapan (r=-0.322; p=0.013). Hal ini berarti
semakin tinggi uang saku siswa, maka kebiasaan sarapan siswa semakin rendah. Orang tua biasanya membekali anak dengan uang jajan apabila anak berangkat ke sekolah terutama bila anak tidak sempat sarapan di rumah (Kompas 2010). Hasil uji korelasi terhadap uang saku dengan kebiasaan membawa bekal makanan menunjukkan hubungan yang negatif dan signifikan (r=-0.526; p=0.000). Hal ini berarti semakin tinggi uang saku siswa, maka kebiasaan membawa bekal makan siswa semakin rendah. Orang tua terkadang hanya membekali anak dengan uang saku saja atau dengan snack saja, sehingga anak yang sudah dibekali snack tidak mendapatkan uang jajan dari orang tuanya atau pun sebaliknya. Hasil uji korelasi terhadap uang saku dengan kebiasaan jajan menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan dengan r=0.368; p=0.004. Hal ini membuktikan bahwa uang saku siswa digunakan untuk jajan di sekoah.
Hasil uji korelasi spearman menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara pendidikan ibu dengan kebiasaan jajan siswa (r=-0.310; p=0.017). Hal ini berarti semakin tinggi pendidikan ibu, maka kebiasaan jajan siswa semakin rendah. Menurut Madanijah (2004), ibu yang memiliki pendidikan tinggi cenderung mempunyai pengetahuan gizi, kesehatan, dan pengasuhan anak yang baik. Oleh karena itu, ibu cenderung akan lebih membatasi kebiasaan jajan anak di sekolah mengingat banyaknya peredaran makanan jajanan anak di sekolah yang tidak higienis dan memakai bahan kimia bukan makanan (Kompas 2006).
Konsumsi Pangan
Makanan yang baik adalah dasar utama bagi kesehatan. Makanan merupakan unsur terpenting bagi makhluk hidup terutama anak, karena tidak hanya menentukan kesehatan anak pada masa sekarang, tetapi juga berpengaruh terhadap keadaan di tahun-tahun mendatang (Sukarni 1989). Berdasarkan tabel 21, dapat diketahui bahwa bahan pangan yang sering dikonsumsi siswa adalah nasi, kentang, mie kering, roti putih, makaroni, dan sereal. Frekuensi konsumsi sumber karbohidrat paling banyak pada kedua kelompok adalah nasi, dengan frekuensi dan jumlah (gram) lebih tinggi siswa akselerasi dibandingkan siswa reguler. Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada frekuensi konsumsi sumber karbohidrat per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) siswa kedua kelompok (p<0.05).
Tabel 21 Sebaran siswa berdasarkan frekuensi konsumsi pangan sumber karbohidrat selama satu bulan
Siswa Bahan Pangan Frekuensi (kali per minggu) gram per 1x makan
Nasi 22.84 172.37 Kentang 1.83 66.32 Mie Kering 1.55 53.68 Roti Putih 7.79 54.53 Akselerasi Sereal 4.79 63.16 Rata-rata ± SD 7.76 ± 3.3 82.01 ± 17.7 Nasi 20.35 148.13 Kentang 1.98 43.88 Makaroni 0.96 8.38 Roti Putih 4.93 48.10 Reguler Sereal 1.9 41.75 Rata-rata ± SD 6.02 ± 1.78 58.04 ± 16.23 Uji beda 0.042 0.000
Berdasarkan hasil uji tersebut, diketahui bahwa rata-rata frekuensi konsumsi sumber karbohidrat per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan siswa reguler.
Tabel 22 Sebaran siswa berdasarkan frekuensi konsumsi pangan hewani selama satu bulan
Siswa Bahan Pangan Frekuensi (kali per minggu) gram per 1x makan
Akselerasi Ayam 5.46 57.89 Abon Sapi 2.62 12.11 Corned Beef 1.83 12.37 Daging Sapi 1.18 22.63 Sosis Sapi 2.91 31.58 Telur Ayam 5.42 49.21 Cumi-Cumi 1.25 16.32 Ikan Lele 2.79 36.84 Udang 1.36 20 Rata-rata ± SD 2.76 ± 2.14 28.77 ± 8.5 Reguler Ayam 3.43 57.50 Bebek 0.62 8.75 Sosis Sapi 1.31 23 Telur Ayam 3.63 49.50 Telur Bebek 0.53 1.38 Cumi-Cumi 0.65 8.88 Ikan Lele 0.6 22.5 Ikan Mas 0.34 8.75 Udang 1.35 18.25 Rata-rata ± SD 1.38 ± 1.24 22.06 ± 9.62
Uji beda 0.015 0.010
Jenis pangan hewani yang dikonsumsi kedua kelompok tidak jauh berbeda. Pada kelompok akselerasi, pangan hewani yang sering dikonsumsi adalah ayam, abon sapi, corned beef, daging sapi, sosis sapi, telur ayam, cumi-cumi, ikan lele, dan udang. Frekuensi konsumsi pangan hewani tertinggi adalah ayam (5.46 kali per minggu). Pada kelompok reguler, pangan hewani yang sering dikonsumsi adalah ayam, bebek, sosis sapi, telur ayam, telur bebek, cumi-cumi, ikan lele, ikan mas, dan udang. Frekuensi konsumsi pangan hewani tertinggi adalah telur ayam (3.63 kali per minggu). Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa bahwa terdapat perbedaan nyata pada frekuensi konsumsi sumber protein hewani per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) siswa kedua kelompok (p<0.05). Berdasarkan hasil uji tersebut, diketahui bahwa rata-rata frekuensi konsumsi sumber protein hewani per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan siswa reguler.
Tabel 23 Sebaran siswa berdasarkan frekuensi konsumsi pangan nabati selama satu bulan
Siswa Bahan Pangan Frekuensi (kali per minggu) gram per 1x makan
Akselerasi Kacang Hijau 1.05 26.32
Tahu 5.37 44.21
Tempe 4.87 37.89
Susu Kedelai 0.62 52.63
Rata-rata ± SD 2.98 ± 2.72 40.26 ± 28.21
Reguler Kacang Hijau 0.6 38.75
Tahu 3.11 33
Tempe 3.83 47.25
Susu Kedelai 0.43 31.25
Rata-rata ± SD 1.99 ± 2.3 37.56 ± 26.15
Uji beda 0.182 0.727
Jenis pangan nabati yang dikonsumsi kedua kelompok adalah sama, yaitu kacang hijau, tahu, tempe, dan susu kedelai. Pada kelompok akselerasi, frekuensi tertinggi konsumsi pangan nabati adalah tahu (5.37 kali per minggu), sedangkan pada kelompok reguler adaah tempe (3.83 kali per minggu). Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa bahwa terdapat perbedaan nyata pada frekuensi konsumsi sumber protein nabati per minggu siswa kedua kelompok (p<0.05). Berdasarkan hasil uji tersebut, diketahui bahwa rata-rata frekuensi konsumsi sumber protein nabati per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan siswa reguler.
Tabel 24 menunjukkan jenis sayuran yang sering dikonsumsi siswa. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa Jenis sayuran yang dikonsumsi kedua kelompok cukup berbeda. Pada kelompok akselerasi, sayuran yang sering dikonsumsi adalah bayam, buncis, jagung muda, kol, tauge, dan wortel, sedangkan pada kelompok reguler, sayuran yang sering dikonsumsi adalah bayam, kangkung, wortel, sop kol dan wortel, tauge, sawi, dan kol. Frekuensi konsumsi sayuran tertinggi pada kedua kelompok adalah bayam. Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa bahwa tidak terdapat perbedaan nyata pada frekuensi konsumsi sayuran per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) siswa kedua kelompok (p>0.05). Berdasarkan hasil uji tersebut, diketahui bahwa rata-rata frekuensi konsumsi sayuran per minggu dan jumlah konsumsi sayuran (gram per satu kali makan) siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan siswa reguler.
Tabel 24 Sebaran siswa berdasarkan frekuensi konsumsi sayuran selama satu bulan
Siswa Bahan Pangan Frekuensi (kali per minggu) gram per 1x makan
Akselerasi Bayam 2.42 31.32 Buncis 1.8 12.11 Jagung Muda 1.12 10 Kol 1.03 10.26 Tauge 1.17 16.32 Wortel 1.74 15.79 Rata-rata ± SD 1.55 ± 1.66 15.97 ± 7.64 Reguler Bayam 2.28 26 Kangkung 1.36 19 Wortel 1.46 14.63 Sop Kol&Wortel 0.68 12 Tauge 0.29 5.25 Kol 0.28 2.88 Rata-rata ± SD 1.06 ± 0.996 13.3 ± 8.3 Uji beda 0.248 0.229
Tabel 25 menunjukkan jenis buah yang sering dikonsumsi siswa. Jenis buah-buahan yang dikonsumsi kedua kelompok tidak jauh berbeda. Pada kelompok akselerasi, buah-buahan yang sering dikonsumsi adalah apel, jeruk, mangga, melon, pepaya, dan pisang, sedangkan kelompok reguler adalah apel, jeruk, mangga, pepaya, pisang, dan pir. Frekuensi konsumsi buah-buahan tertinggi siswa akselerasi adalah apel (3.63 kali per minggu), sedangkan siswa reguler adalah jeruk (3.82 kali per minggu). Hasil uji beda independent sample
t-test menunjukkan bahwa bahwa tidak terdapat perbedaan nyata pada frekuensi konsumsi sumber buah-buahan per minggu siswa kedua kelompok (p>0.05), namun terdapat perbedaan pada jumlah (gram per satu kali makan) konsumsi pangan buah-buahan siswa kedua kelompok (p<0.05).
Tabel 25 Sebaran siswa berdasarkan frekuensi konsumsi Pangan buah-buahan selama satu bulan lalu
Siswa bahan pangan Frekuensi (kali per minggu) gram per 1x makan
Akselerasi apel 3.63 82.79 jeruk 3.59 69.47 Mangga 1.72 52.11 melon 1.22 71.05 pepaya 2.54 75.26 pisang 1.82 50 Rata-rata ± SD 2.42 ± 1.95 66.8 ± 24.46 Reguler apel 3.01 62.33 jeruk 3.82 55.75 Mangga 1.08 42 pepaya 1.21 31.50 pisang 1.38 18.75 Pir 1.11 23.38 Rata-rata ± SD 1.93 ± 1.81 38.95 ± 21.3 Uji beda 0.358 0.000
Berdasarkan hasil uji tersebut, diketahui bahwa rata-rata frekuensi konsumsi buahan per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) konsumsi buah-buahan siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan siswa reguler.
Tabel 26 Sebaran siswa berdasarkan frekuensi konsumsi susu beserta olahan selama satu bulan lalu
Siswa bahan pangan Frekuensi (kali per minggu) gram per 1x makan
Akselerasi Keju 2.83 31.58
Susu kental manis 3.2 115.8
Susu sapi 4.03 147.37
Yoghurt 1.89 136.84
Rata-rata ± SD 3.40 ± 1.83 107.89 ± 35.05
Reguler Keju 2.06 12.48
Susu kental manis 0.86 26.25
Susu sapi 6.9 157.5
Yoghurt 1.18 53.75
Rata-rata ± SD 2.75 ± 1.71 62.49 ± 31.78
Susu beserta olahan yang dikonsumsi siswa kedua kelompok adalah sama yaitu: keju, susu kental manis, susu sapi, dan yoghurt. Perbedaan hanya terdapat pada frekuensi konsumi per minggu dan jumlah konsumsi per satu kali makan. Rata-rata frekuensi susu beserta olahan siswa akselerasi adalah 3.40 ± 1.83 kali per minggu dan rata-rata jumlah konsumsi per satu kali makan siswa adalah 107.89 ± 35.05 gram, sedangkan pada siswa reguler rata-rata frekuensi susu beserta olahannya adalah 2.75 ± 1.71 kali per minggu dan rata-rata jumlah konsumsi per satu kali makan siswa adalah 62.49 ± 31.78 gram. Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa bahwa tidak terdapat perbedaan nyata pada frekuensi konsumsi susu beserta olahannya per minggu siswa kedua kelompok (p>0.05), namun terdapat perbedaan pada jumlah (gram per satu kali makan) konsumsi pangan susu beserta olahan siswa kedua kelompok (p<0.05). Berdasarkan hasil uji tersebut, diketahui bahwa rata-rata frekuensi konsumsi susu beserta olahan per minggu dan jumlah (gram per satu kali makan) konsumsi susu beserta olahan siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan siswa reguler.
Pola Aktivitas
Pola aktivitas siswa diperoleh dari recall 2x24 jam, yaitu pada hari sekolah dan hari libur. Tabel 27 menjelaskan mengenai rata-rata waktu yang dihabiskan siswa untuk melakukan beberapa jenis aktivitas. Aktivitas yang diamati meliputi tidur malam, tidur siang, sekolah, menonton tv, bermain game/komputer, les, belajar di rumah, olahraga, dan aktivitas lainnya. Aktivitas lainnya yang dimaksud meliputi waktu siswa untuk istirahat, shalat, makan, mandi, siap-siap berangkat ke sekolah, perjalanan ke sekolah/ke luar rumah, main dengan anggota keluarga/teman, dan membantu orangtua.
Tabel 27 Rata-rata alokasi waktu siswa untuk melakukan aktivitas fisik (jam/hr)
akselerasi Reguler Uji Beda
Aktivitas rata-rata ± SD rata-rata ± SD p Tidur malam 8.51±1.42 9.13±1.30 0.062 Tidur siang 0.47±0.77 0.68±1.13 0.337 Sekolah 6.37±0.38 6.18±0.40 0.090 Menonton tv 3.33±2.18 2.27±1.70 0.043 Bermain game/komputer 0.99±1.93 0.97±1.59 0.952 Les 0.29±0.59 0.22±0.37 0.584 Belajar di rumah 1.53±1.45 1.17±1.05 0.215 Olahraga 0.45±0.93 0.87±1.20 0.083 Lainnya 5.24±2.46 5.61±2.31 0.465
Berdasarkan tabel 27, diketahui bahwa sebagian besar waktu yang dimiliki siswa dihabiskan untuk sekolah dan tidur. Terdapat perbedaan waktu sekolah diantara kedua kelompok yang seharusnya adalah sama. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas akselerasi, pada kelas akselerasi seringkali diberikan waktu belajar tambahan, terutama apabila siswa mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran yang bersangkutan, sedangkan berdasarkan pengamatan pada kelas reguler, terdapat siswa yang terkadang sudah pulang mendahului waktu pulang sekolah pada umumnya, walaupun terkadang diadakan pula waktu belajar tambahan. Waktu belajar siswa kelas 4,5,6 SD baik akselerasi ataupun reguler pada SD Islam Sudirman dimulai pukul 07.00 WIB hingga 14.45 WIB, dengan istirahat sebanyak 2 kali pada pukul 09.30 WIB dan 12.00 WIB. Meskipun begitu, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara waktu sekolah kedua kelompok (p=0.090), antara alokasi waktu belajar di rumah kedua kelompok (p=0.215), dan alokasi waktu les siswa pada kedua kelompok (p=0.584). Hasil analisis korelasi spearman menunjukkan tidak adanya hubungan antara waktu sekolah, waktu belajar dirumah, dan les dengan prestasi belajar siswa.
Status Gizi
Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan (absorpsi), dan utilisasi zat gizi makanan (Gibson 2005). Gambaran tentang status gizi siswa diperoleh melalui pengukuran antropometri secara langsung. Penentuan status gizi didasarkan pada indeks masa tubuh menurut umur (IMT/U) yang mengacu pada WHO 2007 dengan menggunakan software anthroplus 2007 . Klasifikasi pengkategorian status gizi siswa dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu sangat kurus (<-3 SD), kurus (-3 ≤ SD <-2), normal (-2 ≤ SD <2), dan gemuk (>2 SD).
Tabel 28 Sebaran siswa berdasarkan status gizi
Akselerasi Reguler Total
Status gizi (IMT/U)
n % N % n % Sangat kurus 0 0 0 0 0 0 Kurus 0 0 0 0 0 0 Normal 12 63.16 27 67.5 39 66.1 Gemuk 7 36.84 13 32.5 20 33.9 Total 19 100 40 100 59 100 Uji beda p=0.075
Tabel 28 menunjukkan gambaran status gizi siswa kedua kelompok. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa tidak terdapat siswa yang
tergolong kurus atau sangat kurus pada kedua kelompok. Sebagian besar siswa akselerasi dan reguler berstatus gizi normal, dengan persentase 63.16% siswa akselerasi dan 67.5% siswa reguler. Secara keseluruhan, rata-rata siswa berstatus gizi normal (66.1%). Hasil uji beda menunjukkan bahwa status gizi kedua kelompok tidak berbeda nyata (p>0.05).
Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu cukup lama pada masa lalu. Menurut Sudiarti & Utari (2007), seseorang yang kekurangan salah satu atau lebih zat gizi dapat menyebabkan penyakit defisiensi. Kekurangan yang hanya ringan dapat menimbulkan menurunnya kemampuan fungsi meskipun kadang-kadang tidak disadari. Daya tahan tubuh yang menurun diduga dapat mempengaruhi konsentrasi seseorang dalam belajar. Kekurangan zat gizi dapat menurunkan prestasi belajar, kemampuan bekerja, dan kekebalan menurun (Sudiarti & Utari 2007), sedangkan menurut Grossman (1997) dalam Kusumaningrum (2006), prestasi yang semakin meningkat dapat terjadi karena dengan status gizi yang baik maka anak dapat berkonsentrasi dengan baik dalam mengikuti pelajaran sehingga semua yang dipelajari dapat diterima dengan baik. Siswa yang kurang sehat atau kurang gizi, daya tangkapnya terhadap pelajaran dan kemampuan belajarnya akan lebih rendah. Oleh karena itu, status gizi sebagian besar siswa, baik siswa akselerasi atau pun reguler, yang tergolong normal diduga akan mempengaruhi peningkatan prestasi belajar siswa.
Tingkat Kehadiran Sekolah
Tingkat kehadiran siswa di sekolah menggambarkan seberapa banyak jumlah kehadiran siswa pada kedua kelompok hadir di sekolah ataupun seberapa banyak jumlah ketidakhadiran siswa karena alasan sakit. Data kehadiran tersebut diperoleh dari buku absensi guru wali kelas.
Tabel 29 Sebaran siswa berdasarkan tingkat kehadiran sekolah
Akselerasi Reguler
Kehadiran Rata-rata ± SD
(Hari per bulan)
Rata-rata ± SD (Hari per bulan)
Uji beda p
Hadir 18.89 ± 0.72 18.97 ± 0.55 0.689 Tidak Hadir (Sakit) 0.69 ± 0.68 0.38 ± 0.42 0.076
Berdasarkan data pada tabel 29, rata-rata kehadiran siswa akselerasi lebih kecil dibandingkan dengan siswa reguler. Hal ini disebabkan karena rata-rata siswa akselerasi yang tidak hadir sekolah karena sakit lebih besar dibandingkan siswa reguler. Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan nyata mengenai jumlah hadir dan tidak hadir sekolah siswa kedua kelompok (p>0.05).
Konsumsi vitamin A akan mempengaruhi tingkat kekebalan (imunitas) seseorang (As-sayyid 2006). Siswa dengan tingkat kecukupan vitamin A yang cukup diduga akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik sehingga dapat terhindar dari infeksi penyakit. Hal tersebut secara tidak langsung dapat dilihat melalui jumlah kehadiran sekolah atau jumlah ketidakhadiran siswa akibat sakit. Namun, hasil uji korelasi spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan nyata antara tingkat kecukupan konsumsi vitamin A siswa dengan jumlah kehadiran sekolah (r=0.085; p=0.521) dan jumlah ketidakhadiran sekolah karena sakit (r=0.037; p=0.779), sehingga dugaan pengaruh vitamin A terhadap fungsi imunitas tubuh yang dilihat dari jumlah kehadiran dan ketidakhadiran sekolah tidak dapat dibuktikan.
Prestasi Belajar
Prestasi belajar siswa diukur berdasarkan nilai rata-rata rapor semester terakhir. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan nilai rapor karena dapat memberikan gambaran prestasi siswa secara keseluruhan selama satu semester. Nilai rapor yang diambil pada kelas akselerasi adalah nilai rapor kelas 5 semester 1, sedangkan nilai rapor yang diambil pada kelas reguler adalah nilai rapor kelas 5 semester 2. Nilai dikelompokkan dalam 4 kategori, yaitu sangat baik (80-100), baik (70-79), cukup (60-69), dan kurang (<60).
Tabel 30 Sebaran siswa berdasarkan nilai rata-rata rapor
Akselerasi Reguler Total
Kategori n % n % n % Sangat baik 19 100 1 2.5 20 33.90 Baik 0 0 36 90 36 61.02 Cukup 0 0 3 7.5 3 5.08 Kurang 0 0 0 0 0 0 Total 19 100 40 100 59 100 Rata2 ± SD 84.78±2.08 74.53±3.38 77.83±5.69 Uji beda p=0.000
Tabel 30 menjelaskan mengenai sebaran nilai rata-rata rapor kedua kelompok siswa. Pada kelas akselerasi, seluruh siswa memperoleh nilai rata-rata rapor sangat baik, dengan nilai nilai rata-rata kelompok adalah 84.78±2.08. Berbeda dengan kelas reguler, perolehan nilai rata-rata rapor tersebar mulai dari kategori sangat baik, baik, hingga cukup. Hampir seluruh siswa pada kelas reguler memperoleh nilai rata-rata rapor baik (90%). Secara keseluruhan,
proporsi terbesar sampel memperoleh nilai baik (61.02%) dengan nilai rata-rata 77.83±5.69. Hasil uji beda independent sample t-test menunjukkan bahwa nilai rata-rata rapor kedua kelompok siswa berbeda nyata (p<0.05).
Hubungan Antar Variabel
Hubungan Karakteristik Keluarga dengan Prestasi Belajar
Keluarga merupakan tempat pembelajaran pertama untuk anak. Orangtua adalah contoh pertama bagi anak. Sikap dan perilaku orangtua, biasanya akan ditiru oleh anak. Tidak heran ada pepatah yang menyebutkan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Kebiasaan orangtua untuk membaca, biasanya akan ditiru oleh anak. Hal tersebut diduga dapat mempengaruhi prestasi anak. Pada penelitian ini, karakteristik keluarga (pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orangtua serta besar keluarga) akan diuji hubungannya dengan nilai prestasi belajar anak secara statistik. Lampiran 11 menjelaskan hasil uji korelasi atau hubungan antara karakteristik keluarga dengan prestasi siswa.
Pada lampiran 11 diketahui bahwa terdapat hubungan nyata antara pendidikan ayah (r=0.293; p=0.024) dan pendidikan ibu (r=0.445; p=0.000) dengan prestasi belajar anak. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendidikan orangtua baik ayah atau ibu, maka prestasi belajar anak akan semakin baik. Menurut Hardinsyah (2007), seorang ibu yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi akan mampu mengasuh anaknya, sehingga anak memiliki kemampuan kognitif lebih tinggi dibandingkan anak dari ibu yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
Orang tua dengan pendidikan formal yang tinggi akan memiliki partisipasi yang lebih besar pada segala sesuatu yang berhubungan dengan stimulasi dan pendidikan anak, dibandingkan dengan orang tua yang berpendidikan rendah (Csikezentnihalyi 1996 dalam Ginting 2005). Selain itu, tingkat pendidikan orang tua dapat mempengaruhi usaha meningkatkan prestasi belajar anak. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka akan semakin banyak pula pengetahuan orang tua yang diberikan kepada anaknya (Nasution dan Nasution 1986 dalam widayati 2009). Hal ini akan mempengaruhi prestasi belajar anak baik secara langsung ataupun tidak, karena orang tua berperan penting dalam memenuhi faktor-faktor yang dapat menunjang keberhasilan anak. Penelitian oleh Burnstein, Fisher, dan Miller pada tahun 1984 telah membuktikan bahwa pada umumnya orang tua dengan tingkat keterampilan dan pendidikan rendah akan menciptakan lingkungan rumah dan tempat tinggal yang memproduksi
anak-anak dengan tingkat penguasaan pelajaran dan pencapaian prestasi akademis yang sama rendahnya. Mereka menyimpulkan bahwa siswa berprestasi belajar rendah adalah anak-anak yang berasal dari kalangan pekerja, sedangkan siswa berprestasi belajar tinggi adalah anak-anak dari golongan menengah dan atas (Ihromi 1999). Selain itu, menurut Boeree (2003), Kecerdasan dapat diturunkan melalui gen-gen dalam kromosom. Oleh karena itu, ayah-ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula. secara logika, ayah dan ibu yang berpendidikan tinggi adalah ayah-ibu yang cerdas, sehingga dapat menurunkan kecerdasannya pada anak mereka.
Pada lampiran 11 diketahui pula bahwa terdapat hubungan nyata antara pendapatan ayah dengan prestasi belajar anak (r=0.272; p=0.037). Hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendapatan ayah, maka prestasi belajar anak akan semakin baik. Prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh diri siswa sendiri tetapi juga oleh faktor lain diluar diri siswa. Salah satu faktor yang turut berperan adalah faktor lingkungan keluarga. Orangtua bertugas untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak (Opit 1996). Kebutuhan pendidikan akan tercapai salah satunya apabila orangtua mempunyai cukup penghasilan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Orang tua dengan keadaan sosial ekonomi tinggi tidak akan banyak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak. Penghasilan ayah akan menjadi faktor penting terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak, karena ayah merupakan kepala keluarga yang mempunyai tugas utama mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti pendidikan. Hal tersebut diduga menjadi alasan adanya hubungan pendapatan ayah dengan prestasi belajar anak.
Menurut Christopher Jenks (1972), rendahnya prestasi pada siswa dari keluarga golongan sosial rendah diantaranya disebabkan oleh jumlah anggota keluarga yang cukup besar. Konsekuensinya, orang tua mempunyai tanggungan perhatian cukup banyak. Sebaliknya para siswa dengan latar belakang dari kelas menengah dan atas memiliki kondisi yang berbeda. Pertama, orang tua golongan sosial menengah umumnya cukup berpendidikan dan mampu memberikan perhatian terhadap kemajuan belajar anak-anak mereka secara aktif. Kedua, pada lingkungan golongan menengah dan atas lebih banyak tersedia fasilitas pendukung belajar seperti buku, majalah, dan suasana rumah yang tenang (Ihromi 1999).
Hubungan Karakteristik Siswa dengan Prestasi Belajar
Karakteristik individu siswa di dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, dan besar uang saku. Umur merupakan indikator kematangan seseorang dalam berpikir. Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto, Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indoensia, bahwa kriteria calon peserta didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun. Pengecualian terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten, seperti konselor sekolah/madrasah maupun psikolog (Rachman 2010). Tujuan dibuat peraturan tersebut diduga agar anak yang akan masuk sekolah merupakan anak yang sudah siap. Dari semua kelompok umur, anak usia sekolah dapat dikatakan kelompok termuda yang mulai menggunakan pikirannya “secara serius” karena di sekolah dasar ada sistem evaluasi belajar yang dilakukan secara lebih ketat daripada masa sebelumnya (Collins 1991 dalam Nasoetion A 1998).
Berdasarkan hasil uji korelasi spearman, terdapat hubungan negatif antara umur dan prestasi belajar anak dalam penelitian ini (r=-0.244; p=0.063) yang ditunjukkan melalui nilai rata-rata rapor (lampiran 12). Hal ini berarti bahwa semakin rendah umur anak, maka prestasi belajar anak semakin tinggi. Dalam penelitian ini hal tersebut terjadi karena nilai rata-rata rapor kelompok akselerasi dan reguler berbeda. nilai rata-rata rapor kelompok akselerasi lebih tinggi dibandingkan kelompok reguler. Selain itu umur siswa pada kelompok akselerasi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok reguler. Hal tersebut diduga menjadi penyebab adanya hubungan negatif antara umur dengan prestasi belajar.
Hubungan Fasilitas Belajar dengan Prestasi Belajar
Fasilitas belajar merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan seseorang dalam belajar. Anak yang tidak mempunyai fasilitas belajar seperti buku pelajaran, alat tulis, dan sarana belajar biasanya akan mengalami kesulitan dalam belajar. Hasil uji korelasi spearman pada lampiran 13 menunjukkan tidak terdapat hubungan nyata antara fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar siswa (r=0.129; p=0.328). Hal ini diduga karena fasilitas yang dimiliki kedua kelompok tidak berbeda namun nilai prestasi kedua kelompok tersebut berbeda. Menurut Nasution dan Nasution (1986), tingkat pendidikan orangtua dapat
mempengaruhi usaha meningkatkan prestasi belajar anak. Usaha meningkatkan prestasi belajar anak dapat dilakukan dengan membimbing anak dalam belajar dan menyediakan fasilitas belajar (alat tulis, buku-buku pelajaran, dan tempat untuk belajar) (Nio 1985 dalam Hanum 1993).
Hubungan Pola Aktivitas dengan Prestasi Belajar
Salah satu aktivitas yang mendukung prestasi adalah belajar, baik belajar di sekolah, di tempat les, atau pun di rumah. Alokasi waktu siswa untuk belajar di rumah, mungkin berbeda-beda tergantung kebiasaan siswa di rumah. Pada lampiran 14 menunjukkan adanya hubungan negatif antara waktu berolahraga dengan prestasi belajar (r=-0.295; p=0.023). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi waktu yang dihabiskan untuk berolahraga maka nilai prestasi belajar anak semakin rendah. Setelah anak banyak melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, maka anak menjadi lelah dan tidak belajar sehingga waktu untuk belajar di rumah menjadi berkurang bahkan tidak ada. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Agustina (2003) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara aktivitas bermain dan berolahraga dengan prestasi belajar namun hubungannya tidak signifikan. Artinya ada kecenderungan semakin banyak waktu yang digunakan untuk bermain dan berolahraga maka prestasi belajar anak relative semakin menurun. Menurut Jus’at dan Jahari (1999) dalam Agustina (2003), bermain dan berolahraga termasuk kedalam aktivitas fisik yang membutuhkan energi yang lebih besar dibandingkan kegiatan-kegiatan leisure yang lain, sehingga jika anak lebih banyak bermain atau berolahraga bukan lagi merupakan leisure untuk anak tetapi menyebabkan kelelahan fisik anak, yang pada akhirnya mengurangi motivasi anak untuk belajar dan menurunkan prestasinya.
Selain itu, aktivitas lain yang berhubungan dengan prestasi belajar anak adalah tidur malam. Hasil uji korelasi spearman menunjukkan adanya hubungan negatif antara waktu tidur malam dengan prestasi belajar (r=-0.313; p=0.016). Hal ini berarti semakin tinggi waktu yang dihabiskan untuk tidur di malam hari, maka nilai prestasi belajar anak semakin rendah. Semakin tinggi proporsi waktu untuk tidur, maka proporsi waktu untuk belajar di rumah menjadi semakin berkurang. Hal ini sejalan dengan penelitian Widayati (2009) yang menyatakan bahwa semakin banyak waktu yang digunakan untuk belajar maka alokasi waktu yang dihabiskan untuk tidur menjadi berkurang. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk belajar, maka akan semakin baik prestasi belajar yang dicapai.