• Tidak ada hasil yang ditemukan

Volume 9, Nomor 2, Desember 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Volume 9, Nomor 2, Desember 2016"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

 

Volume 9, Nomor 2, Desember 2016

VOL.9 NO.2

 

ISSN

2088-2653

POLITEKNIK PIKSI GANESHA BANDUNG

JURNAL ILMIAH

Hal. 1-68

DES 2016

Analisis Prosedur Pembayaran Jasa Medis Guna Menunjang

Mutu Pelayanan Dokter Di Rumah Sakit Umum Daerah

Al Ihsan Provinsi Jawa Barat

Anita Putri Wijayanti, Nadia Ilahi

Pemodelan Dan Simulasi Citra Untuk Penghitungan

Jumlah Sel Darah Merah

Candra Mecca Sufyana, Rena Amalika Asyari

 

Analisis Hubungan Pemahaman Akreditasi Rumah

Sakit, Karakteristik Dan Kinerja Perekam Medis

Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Di RSUP

Dr. Hasan Sadikin Bandung

Dina Sonia

Pengaruh Ketepatan Diagnosa, Pembuatan Rujukan

Bpjs Dan Kompetensi Petugas Rekam Medis

Terhadap Efisiensi Pelayanan Rawat Jalan

Di Klinik Prima Husada

Ika Kartisyah

 

Sistem Informasi Retensi Rekam Medis Di

Rumah Sakit Tk.IV 03.07.03

Sariningsih Bandung

Meira Hidayati

Analisis Ketepatan Kodifikasi Diagnosis

Penyakit Pada Rekam Medis Rawat Inap

Guna Menunjang Reimbursement JKN

Di Rumah Sakit Umum Daerah Cililin

Sali Setiatin, Arief Permana

 

(2)

JURNAL ILMIAH MEDIS DAN KESEHATAN

POLITEKNIK PIKSI GANESHA

PENGANTAR

JURNAL ILMIAH MEDIS DAN KESEHATAN Politeknik Piksi Ganesha ini terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, kajian analisis, aplikasi teori dan pembahasan tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan Informasi Medis, Kesehatan dan masalah Kesehatan Populer.

Penerbitan jurnal ilmiah ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas dan penyebarluasan kajian sekaligus sebagai wahana komunikasi ilmiah diantara cendekiawan, dosen, mahasiswa dan pemerhati kajian tersebut di atas.

Penasehat

DR. H. K. Prihartono AH, Drs., S.Sos., S.Kom., MM

Pimpinan Redaksi Wahyudi, SH., MH. Kes

Reviewer dr. Evi Novitasari

Emylia Fiskasari, S.Si., MM., APT Santy Christinawati, SS., M.Hum (Bahasa)

Mitra Bestari Akasah, S.Sos., MM Aris Susanto, S.ST., MM

Administrasi Naskah Ria Khoirunnisa, S.Si., M.Si

Tedy Hidayat, S.ST., MM

Alamat Redaksi/Penerbit POLITEKNIK PIKSI GANESHA Jalan Jend. Gatot Subroto no.301 Bandung 40274

Telp.022 87340030 Fax. 022 87340086 Email :[email protected]

(3)

 

 

JURNAL ILMIAH PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN  

ILMU MEDIS DAN KESEHATAN 

POLITEKNIK PIKSI GANESHA BANDUNG 

      VOL. 9 NO. 2 DESEMBER 2016  ISSN . 2088‐2653     

PENGANTAR REDAKSI

Para pembaca yang terhormat,

Puja dan puji syukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa,

Politeknik Piksi Ganesha Bandung telah menerbitkan Jurnal Ilmiah Penelitian dan

Pengembangan Ilmu Medis dan Kesehatan Volume 9 Nomor 2 ke hadapan para

pembaca. Jurnal Ilmiah ini memuat hasil tulisan karya ilmiah dosen-dosen konsentrasi

Ilmu Medis dan Kesehatan dan juga dari institusi lainnya.

Jurnal Ilmiah ini memuat karya ilmiah yang membahas tentang ANALISIS

PROSEDUR PEMBAYARAN JASA MEDIS GUNA MENUNJANG MUTU

PELAYANAN DOKTER DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AL IHSAN

PROVINSI JAWA BARAT oleh Anita Putri Wijayanti, Nadia Ilahi, PEMODELAN

DAN SIMULASI CITRA UNTUK PENGHITUNGAN JUMLAH SEL DARAH

MERAH oleh Candra Mecca Sufyana, Rena Amalika Asyari, ANALISIS

HUBUNGAN PEMAHAMAN AKREDITASI RUMAH SAKIT, KARAKTERISTIK

DAN KINERJA PEREKAM MEDIS TERHADAP KUALITAS PELAYANAN

KESEHATAN DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG oleh Dina Sonia,

PENGARUH KETEPATAN DIAGNOSA, PEMBUATAN RUJUKAN BPJS DAN

KOMPETENSI PETUGAS REKAM MEDIS TERHADAP EFISIENSI PELAYANAN

RAWAT JALAN DI KLINIK PRIMA HUSADA BANDUNG oleh Ika Kartisyah,

SISTEM INFORMASI RETENSI REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT TK.IV

03.07.03 SARININGSIH BANDUNG oleh Meira Hidayati, ANALISIS KETEPATAN

KODIFIKASI DIAGNOSIS PENYAKIT PADA REKAM MEDIS RAWAT INAP

GUNA MENUNJANG REIMBURSEMENT JKN DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH CILILIN oleh Sali Setiatin, Arief Permana.

Semoga dengan terbitnya Jurnal Ilmiah ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran

serta perkembangan keilmuan, terutama di bidang biomedis dan kesehatan.

(4)

DAFTAR ISI

JURNAL ILMIAH ILMU MEDIS DAN KESEHATAN

ANALISIS PROSEDUR PEMBAYARAN JASA MEDIS GUNA MENUNJANG

MUTU PELAYANAN DOKTER DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AL

IHSAN PROVINSI JAWA BARAT

Anita Putri Wijayanti, Nadia Ilahi

1

PEMODELAN DAN SIMULASI CITRA UNTUK PENGHITUNGAN JUMLAH

SEL DARAH MERAH

Candra Mecca Sufyana, Rena Amalika Asyari

13

ANALISIS HUBUNGAN PEMAHAMAN AKREDITASI RUMAH SAKIT,

KARAKTERISTIK DAN KINERJA PEREKAM MEDIS TERHADAP

KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI RSUP DR. HASAN SADIKIN

BANDUNG

Dina Sonia

23

PENGARUH KETEPATAN DIAGNOSA, PEMBUATAN RUJUKAN BPJS DAN

KOMPETENSI PETUGAS REKAM MEDIS TERHADAP EFISIENSI

PELAYANAN RAWAT JALAN DI KLINIK PRIMA HUSADA BANDUNG

Ika Kartisyah

35

SISTEM INFORMASI RETENSI REKAM MEDIS DI RUMAH

SAKIT TK.IV 03.07.03 SARININGSIH BANDUNG

Meira Hidayati

46

ANALISIS KETEPATAN KODIFIKASI DIAGNOSIS PENYAKIT PADA

REKAM MEDIS RAWAT INAP GUNA MENUNJANG REIMBURSEMENT

JKN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILILIN

Sali Setiatin, Arief Permana

(5)

Selingkung Jurnal Merdis dan Kesehatan

POLITEKNIK PIKSI GANESHA

Berdasarkan rapat pengelola Jurnal POLITEKNIK PIKSI GANESHA pada tanggal 4

November 2016 menyepakati gaya selingkung Jurnal Medis dan Kesehatan dengan ketentuan

sbb :

Judul. Judul naskah hendaknya dibuat seringkas mungkin, dan mencerminkan isi naskah secara keseluruhan.

Data Penulis Tuliskan nama para penulis (nama lengkap tanpa gelar atau jabatan lainnya), Fakultas/Departemen,dan Universitas/Institusinya.

Abstrak. Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris apabila tulisan dalam Bahasa Indonesia sedangkan apabila tulisan menggunakan bahasa Inggris abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia, tidak berisikan rumus atau referensi. Abstrak harus meringkas permasalahan, tujuan penelitian, metode penelitian, hasil utama, dan kesimpulan. Panjang abstrak maksimum 200 kata.

Kata kunci: terdiri dari maksimal 5 kata, tiap kata dipisahkan dengan titik koma (;).

Naskah. Naskah ditulis dengan sistematika yang terstruktur, konsisten, dan lugas. Naskah ditulis dengan menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar atau bahasa Inggris dengan tata bahasa (grammar) yang benar. Adapun format penulisan sebagai berikut;

1. Naskah ditulis pada kertas ukuran A4 (210x297mm), dengan marjin kiri 3, kanan 3, atas 3, dan bawah 2 cm.

2. Naskah di tulis dalam format satu kolom untuk isi, sedangkan judul dan abstrak dalam satu halaman.

3. Halaman naskah terdiri dari 10-13 halaman.

4. Huruf yang digunakan adalah Times New Roman 12 petunjuk judul, dan 10pt untuk abstrak dan isi naskah, naskah ditulis dalam spasi satu.

5. Naskah minimal berisi bagian sebagai berikut: A. Pendahuluan B. Kajian Pustaka C. Metode Penelitian D. Pembahasan E. Kesimpulan F. Daftar Pustaka

Rumus. Setiap rumus diletakkan di tengah halaman dan diberi nomor pemunculan di sisi kanan dengan menggunakan angka arab di dalam kurung.

ሺݔ ൅ ܽሻ

ൌ ෍

൯ݔ

ܽ

௡ି௞ ௡

௞ୀ଴ ……….(1)

Tabel. Huruf yang digunakan Times New Roman 10pt untuk isi tabel, judul tabel, dan sumber. Tabel diberi nomor menggunakan angka arab, dengan menggunakan garis horisontal tanpa garis vertikal untuk memisahkan kolom. Nomor dan judultabel diletakkan diatas, sumber diletakan di bawah sejajar dengan garis tabel paling kiri. Judul tabel di Bold.

(6)

Tahun Jumlah Pencapaian

2008 540.000 90%

2009 340.000 75%

2010 330.000 73%

2011 320.000 70%

Sumber: Bagian Penjualan, 2013

Gambar. Gambar meliputi grafik, diagram, dan bentuk gambar lainnya. Gambar diberi nomor dengan menggunakan angka arab disertai judul gambar dengan ukuran huruf 10pt Times New Roman.Nomor dan judul gambar di Bold dan diletakkan di bawah gambar dengan posisi di tengah (center). Sumber diletakkan di bagian bawah judul gambar.

Gambar 1. Jumlah Produk Per Kota Periode 2010-2012

Sumber: BagianPenjualan, 2013 Daftar Pustaka.

Daftar pustaka disusun berdasarkan urutan abjad nama belakang mulai dari penulis pertama. Unsur-unsur daftar pustaka meliputi: nama pengarang, tahun terbit publikasi, judul publikasi, tempat terbit, dan penerbit. Judul buku atau jurnal ditulis miring (italic) sementara judul artikel pada jurnal ditulis dengan huruf tegak. Apabila terdapat lebih dari satu artikel rujukan yang ditulis oleh penulis yang sama, maka diurutkan berdasarkan tahun penerbitan terbaru. Seluruh pustaka yang tercantum dalam daftar pustaka harus dirujuk atausesuaidalam isi naskah, demikian pula sebaliknya.

Jurnal

Alfanura, F., Arai. T., danPutro. U.S. (2010). System Dynamics Modelling for E-Government Implementation: a Case Study in Bandung City, Indonesia. Jurnal Manajemen Teknologi, Vol9 No 2, hal: 121-145.

Buku

Husnan S, 2000, Dasar-dasar Manajemen Kauangan, Edisi keempat, Yogyakarta, UPP AMP

YKPN.

---.2005. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi keempat.

Yogyakarta. UPP AMP YKPN.

Internet

Howard, N. (1995). Confrontation Analysis: How to Win Operations Other than War. CCRP Publication. Washington DC: Departement of Defence. Available at www.dodccrp.org. [diunduhpadatanggal 20 Oktober 2011] 0 2000 4000 6000 20 10 20 11 20 12

(7)

57

ANALISIS KETEPATAN KODIFIKASI DIAGNOSIS PENYAKIT PADA REKAM MEDIS RAWAT INAP GUNA MENUNJANG REIMBURSEMENT JKN DI RUMAH SAKIT

UMUM DAERAH CILILIN Sali Setiatin1, Arief Permana2

1Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Politeknik Piksi Ganesha Bandung [email protected]

2Mahasiswa Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Politeknik Piksi Ganesha Bandung [email protected]

ABSTRACT

The study aimed to determine the analysis of condition accuracy of diseases’ diagnosis of medical records’ inpatients’ supporting reimbursement JKN at Rumah Sakit Umum Daerah cililin. The research method used a quantitative research method with descriptive approach.Data collection techniques used observasions, interviews, and literature that had relevance to the subject matter closely.

From research conducted, it found several problems : Indistinctness doctor’s diagnosis writing writing the final diagnosis was not based on ICD-10, incompleted some medical record documen ( writing Diagnosis) on Reimbursement process. The result was shown that 59 sheet ( 73,75% ) precise code and 21 sheet ( 26,25 % ) not precise code of 80 samples in 410 populations.

The suggestion given were by : 1 ) Socialiszation of the procedure requres the doctor to record a diagnosis according to ICD-10, 2 ) Participation coder to coaching ( Training and Education Program ) especially about Disease’s Diagnosis codification, 3 ) Socialiszation of the completeness Medical Record;s documen supporting JKN reimbursement to all Health Practitioner.

Keywords : Disease’s Diagnosis Codification, Accuracy, JKN Reimbursement

A. PENDAHULUAN/INTRODUCTION

Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Tahun 1948 dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945 pada Pasal 28, menetapkan bahwa kesehatan adalah hak dasar setiap individu dan semua warga negara berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Selanjutnya pada pasal 34 ditegaskan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan Fasilitas Pelayanan Umum yang Layak.Sistem Kesehatan Nasional menyebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum.

Rumah Sakit merupakan bagian penting dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.Selain untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Dalam menghadapi persaingan yang ketat di era Globalisasi ini, Rumah sakit dituntut untuk terus dapat melakukan terobosan inovasi sehingga mampu tetap eksis dan Survive.Salah satu Kiatnya adalah dengan terus memberikan pelayanan optimal yang bersifat Penyembuhan (Kuratif) dan Pemulihan (Rehabilitatif) yang diselenggarakan secara serasi dan terpadu dengan pelayanan yang bersifat Promosi Kesehatan (Promotif) dan Pencegahan (Preventif).

Disamping itu,Peningkatan mutu pelayanan kesehatan harus dilakukan secara berkesinambungan dan dilakukan oleh seuruh bagian rumah sakit secara paripurna. Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi peningkatan pelayanan, antara lain dengan terlaksananya penyelenggaraan rekam medis yang sesuai dengan standar yang berlaku.

(8)

58

Sesuai dengan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No.32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan dan di pertegas di Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1996 Tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran, maka peningkatan pelayanan rumah sakit harus ditingkatkan dan pengolahan data rumah sakit begitu Kompleks, maka munculah kebutuhan berbagai jenis tenaga kesehatan. Tenaga Kesehatan yang berperan dalam administrasi dan pengolahan data yaitu Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.

Salah satu dari kegiatan dalam pengolahan data rekam medis yaitu kegiatan pengkodean Penyakit.kegiatan ini biasa disebut coding, kegiatan ini merupakan kegiatan pengolahan data rekam medis untuk memberikan kode huruf atau angka maupun kombinasi huruf dan angka yang mewakili komponen data. (Dirjen Yanmed 2006:59), yang disesuaikan berdasarkan

ICD-10 sebelum dimasukan dalam pelaporan data rekam medis di rumah sakit baik intern

maupun ekstern.

Kecepatan dan ketepatan coding dari suatu diagnosis sangat bergantung kepada pelaksana yang menangani rekam medis.Untuk itu, rekam medis sebagai data pusat rumah sakit sangat memberikan andil dalam menunjang pelayanan kesehatan yang didukung oleh

Coder yang profesional yang memiliki kemampuan dan keterampilan dalam menggunakan ICD-10, sehingga terciptanya informasi yang akurat.

Dalam era JKN ini seorang coder rekam medis dan dokter harus bener benar paham tentang penggunaan ICD-10.Karena apabila terjadi kesalahan kode diagnostik dalam input data, dapat menyebabkan kerugian finansial yang sangat besar. Kode Diagnostik yang menjadi salah satu variabel perhitungan biaya pelayanan di rumah sakit menghadapi tantangan akibat berlakunya sistem Indonesian Case Base Gropus ( INA CBG’s ).Sistem tersebut mengelompokkan ragam penyakit kedalam kelompok tertentu, dapat menciptakan kesulitan dalam sistem pengkodean diagnosis sehingga berdampak pada perhitungan biaya rumah sakit. Maka peran perekam medis cukup besar sehingga perlu memiliki strategi untuk memahami

ICD-10 dan ICD-9CM.

Rumah Sakit Umum Daerah Cililin dengan kategori rumah sakit kelas D adalah rumah sakit rujukan di wilayah Bandung Barat yang senantiasa berkembang meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pengembangan RSUD di Kabupaten Bandung Barat sesuai dengan visinya yaitu Pusat Rujukan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Kabupaten Bandung Barat..Agar dapat merealisasikan komitmen tersebut, maka dalam penyelenggaraan pelayanannya, semua unit di rumah sakit harus berjalan dengan optimal terlebih lagi unit rekam medis agar terciptanya hasil kerja yang efektif dan efisien.

Tempat dilakukannya penelitian ini yaitu di RSUD Cililin, pelaksanaan pengkodean disana sudah berjalan cukup baik namun masih ada beberapa hal yang menjadi kendala dan harus diperbaiki. Dalam pelaksanaan pengkodean penyakit terdapat diantaranya beberapa masalah dalam prosedur pengisian kode penyakit, diantaranya penulisan diagnosis yang diberikan dokter menggunakan istilah yang tidak baku dan singkatan yang hanya diketahui oleh dokter itu sendiri, dan adanya tulisan dokter yang tidak dimengerti bahkan tidak terbaca sama sekali.

B. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konsep Rekam Medis

Menurut Dirjen Yanmed (2006:11) Rekam medis diartikan sebagai keterangan baik yang tertulis maupun yang terekam tentang identitas, anamneses, pemeriksaan fisik, laboratorium, diagnosa serta segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien, dan pengobatan baik yang di rawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.269/MENKES/PER/III/2008: “Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan

(9)

59

dan dokumentasi tentang identifikasi pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien”.

Sesuai dengan penjelasan pasal 46 ayat (1) UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Dirjen Yanmed, 2006:11) Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.” Dan yang dimaksud dengan “petugas” adalah dokter atau dokter gigi atau tenaga kesehatan lain yang memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada pasien.

2.2 Konsep Kodifikasi dan Rawat Inap a. Pengertian Kodifikasi

Klasifikasi penyakit didefinisikan suatu sistem penggolongan (kategori) dimana kesatuan penyakit disusun berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kode Klasifikasi penyakit oleh WHO bertujuan untuk menyeragamkan nama dan golongan penyakit, cedera, gejala, dan faktor yang mempengaruhi kesehatan (Dirjen Yanmed 2006:59), oleh karena itu WHO mengharuskan negara anggotanya termasuk indonesia menggunkan klasifikasi penyakit revisi-10 (ICD-revisi-10, International Statistical Classification of Disease and Related

Health Problems). ICD-10 menggunakan kode kombinasi, yaitu menggunakan

abjad dan angka.

b. Langkah-Langkah Menentukan Kode Penyakit

Mengkode diagnosa agar memudahkan pelayanan pada penyajian informasi untuk menunjang fungsi manajemen dari riset bidang kesehatan merupakan kegiatan Kodifikasi dalam rekam medis.Untuk meningkatkan informasi dalam rekam medis, petugas harus membuat koding sesuai dengan klasifikasi yang tepat.Hal yang perlu dilakukan saat akan menentukan kodifikasi diagnosa penyakit adalah sebagai berikut:

Langkah-langkah menentukan kode diagnosa

1. Tentukan tipe pernyataan yg akan di kode, buka ICD 10 vol 3. Bila pernyataan merupakan istilah penyakit atau cidera atau kondisi lain yang terdapat pada Bab I-XIX (ICD-10 Vol 1), maka gunakan pernyataan tersebut sebagai “leadterm” untuk digunakan sebagai panduan menelusuri istilah yang dicari pada ICD-10 Vol 3 seksi 1. bila pernyataan adalah penyebab luar dari cidera yang ada di Bab XX (ICD-10 Vol 1) lihat dan cari kodenya pada ICD-10 Vol 3 seksi 2.

2. ”Leadterm” (sering disebut kata kunci) untuk penyakit & cidera biasanya merupakan kata benda yg memaparkan kondisi patologisnya. sebaiknya jangan menggunakan istilah kata benda anatomi, kata sifat atau kata keterangan sebagai leadterm.

3. Baca dengan teliti & ikuti petunjuk catatan yang muncul di bawah istilah yg akan dipilih pada ICD-10 Vol 3

4. Baca istilah yang terdapat pd tanda “( )” sesudah leadterm, (kata dalam tanda kurung merupakan modifier, tidak akan mengurangi kode. Istilah lain yang ada di bawah leadterm (di awali tanda “-” minus) dapat mempengaruhi nomor kode, sehingga semua katak-kata diagnostik yang ada harus diperhitungkan.

5. Ikuti secara hati-hati setiap rujukan silang dan perintah see dan see also yang terdapat pada indeks.

(10)

60

6. Lihat daftar tabulasi ICD-10 Vol 1 untuk mencari nomor kode yang paling tepat. Lihat kode tiga karakter di indeks dengan tanda minus pada posisi keempat yang berarti bahwa isian untuk karakter keempat itu ada di dalam ICD-10 Vol 1 dan merupakan posisi tambahan yang tidak ada dalam ICD-10 Volume3. Perhatikan juga perintah untuk membubuhi kode tambahan serta aturan cara penulisan dan pemanfaatannya dalam pengembangan indeks penyakit dan dalam sistem pelaporan morbiditas dan mortalitas.

7. Ikuti pedoman “inclusion” dan “exclusion” pada kode yang dipilih atau bagian bawah suatu bab, blok, kategori, dan subkategori.

8. Tentukan kode yang dipilih.

9. Lakukan analisis kuantitatif dan kualitatif data diagnosis yang dikode untuk memastikan kesesuaiannya dengan pernyataan dokter tentang diagnosis utama di berbagai lembar formulir rekam medis pasien, guna menunjang aspek legal rekam medis.

c. Pengertian Rawat Inap

Menurut Crosby (dalam Nasution,2005) rawat inap adalah kegiatan penderita yang berkelanjutan ke rumah sakit untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berlangsung lebih dari 24 jam. Instalasi Rawat inap (Opname) adalah istilah yang berarti proses perawatan pasien oleh tenaga kesehatan profesional akibat penyakit tertentu, di mana pasien diinapkan di suatu ruangan di rumah sakit .

2.3 Konsep Ketepatan

Ketepatan merupakan suatu ukuran dimana segala sesuatu dilaksanakan secara benar menurut kriteria yang berhubungan dengan subjek atau objek yang diukur tersebut. Maka pengertian ketepatan menurut kamus lengkap bahasa indonesia (2005:1179) adalah:

“Ketepatan adalah keadaan tepat, keakuratan, ketelitian, kejelian.”

Namun istilah ketapatan sering diartikan juga sebagai Validitas.Seperti yang diungkapkan Anastasi (Surapranata, 2006:50) bahwa “Validitas (Ketepatan) adalah suatu tingkatan yang menyatakan bahwa suatu alat ukur telah sesuai dengan apa yang diukur”

2.4 Konsep Reimbursement JKN A. Pengertian Reimbursement

Sistem penggantian biaya kesehatan oleh pihak perusahaan berdasar layanan kesehatan yang dikeluarkan terhadap seorang pasien. Metode ini pada dasarnya mirip dengan fee for service, hanya saja dana yang dikeluarkan bukan berasal dari pasien, namun dari pihak perusahaan yang menanggung biaya kesehatan pasien, namun berbeda dengan kapitasi karena metode ini melihat jumlah kunjungan dan jenis layanan yang diberikan oleh provider.

Dengan Kata Lain Reimbursement menurut (Surat Dirjen Pajak :SE-53/PJ/2009) Sistem penggantian biaya kesehatan oleh pihak perusahaan berdasar layanan kesehatan yang dikeluarkan terhadap seorang pasien. Metode

(11)

61

ini pada dasarnya mirip dengan fee for service, hanya saja dana yang dikeluarkan bukan berasal dari pasien, namun dari pihak perusahaan yang menanggung biaya kesehatan pasien.

B. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah “Jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah” (Perpres No.12 Tahun 2013)

C. METODE PENELITIAN

3.1 Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yang digunakan adalah metodologi penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif.metode penelitian tradisional, metode ini disebut metode ilmiah atau scientific, karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah, yaitu konkrit atau empiris, obyektif, terukur, rasional dan sistematis. (Sugiyono,2011:7) 3.2 Teknik Pengumpulan Data

a. Studi Pustaka

Metode yang dimaksud untuk menggambarkan data yang diperoleh dari lapangan penelitian dengan cara menguraikan dan menarik kesimpulan dari data apa adanya ditinjau dari berbagai aspek (Nasuha, 2007 :33).

b. Observasi

Menurut (Notoatmodjo, 2011:131), observasi atau pengamatan adalah “ suatu hasil perbuatan jiwa cesara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan “.

c. Wawancara

Menurut (Notoatmodjo, 2011:139), wawancara adalah “suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dimana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut ( face to face)..

d. Dokumrntasi

Mengumpulkan data-data yang diperlukan pada saat penelitian berlangsung. Mulai dari yang tertulis seperti resume medis rawat inap, buku register rawat inap, Standar Prosedur Operasional ( SPO ) dan buku pedoman penyelenggaraan rekam medis.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perhitungan Pelaksanaan Ketepatan Kodifikasi

Tabel 1Tabel Analisis Ketepatan Kodifikasi Diagnosa Penyakit Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Cililin

No No. Rekam

Medis

Pelaksanaan Diagnosa Penyakit Oleh Petugas

Medis

Coding Petugas Audit Coding Petugas Ceklis Ketepatan

Keterangan Diagnosa

Utama Tambahan Diagnosa Diagnosa Utama Tambahan Diagnosa Tepat Kurang Tepat

(12)

62

1 04-22-00 Dengue Fever ISK

A90 N39 A90 N39.0  Kurang Karakter Keempat 2 04-17-03 G3 P2 A0 Gravida 40 - 41 mg dengan KPD - O42.9 - O42.9 -  3

04-23-47 CHF + Efusi Ascites e.c

Pleura

DC + Hipoalbum

in

I50.0

J90 A15 I50.0 J90 I51.9 E88.0

 Kode Tambahan Tidak Tepat 4 04-19-37 G1 P0 A0 Parturient aterm Kala I Fase Aktif -

O80.9 - O63.0 -  Kode Tidak Tepat

5 04-16-71 G1 P0 A0 Gravida 35 mgg dg KPD - O42.9 - O42.9 -  6 04-16-75 PTI (34-35 mg ) SGA P.Spontan + BBLR + Ibu KPD - P07.1 O42.9 - P05.1 O80.9 P07.1 O42.9

-  Kurang Tepat Kode Utama

7

04-14-13 Susp. DHF dyspepsia A91 K30 Z03.8 A91 K30  Kurang Tepat Kode Utama

8 04-17-85 PTI SGA (27 mmgg) P.Spontan + Ibu KPD BBLSR O42.9 P07.1 O80.9 P05.1 O42.9 P07.1  Kode Utama Kurang Tepat 9 04-17-52 Molahidatidosa - O01.9 - O01.9 - 

10 04-14-76 a/i Sungsang TI AGA SC - O64.9 - O32.1 O82.9 -  Kode Tidak Tepat

11 04-22-65 G2 P1 A0 part 36 - 37 mg kala I Fase Aktif dg PEB

- O14.9 - O63.0 O14.1 -  Kurang Tepat Kode Utama

12 04-21-04 G1 P0 A0 Parturient aterm Kala I Fase Aktif -

O80.9 - O63.0 -  Kode Tidak Tepat

13

04-23-95 TB Paru Asma CAP

Bronchiale

A15 - A16.9 P23.9 J45.9  Kode Tidak Tepat

14 04-23-65 DHF - A91 - A91 -  15 04-22-42 Diare akut dengan dehidrasi - A09 - A09 -  16 04-23-62 DHF - A91 - A91 -  No Rekam No. Medis Pelaksanaan Diagnosa Penyakit Oleh Petugas

Medis Coding Petugas Audit Coding Petugas Ceklis Ketepatan

Keterangan Diagnosa

Utama Tambahan Diagnosa Diagnosa Utama Tambahan Diagnosa Diagnosa Utama Tambahan Diagnosa Tepat Kurang Tepat

17 04-22-78 Typhoid Fever - A01.0 - A01.0 -

 18 04-21-73 Susp. TB Paru + Synd. Dyspepsia - Z03.0 K30 - Z03.0 K30 - 

19 04-24-02 Tonsilofaringitis syndrome dyspepsi

(13)

63

20 04-22-34 Pneumonia Susp. DBD J18.9 Z03.8 A91 J18.9 Z03.8 A91  21 04-18-30 P2 A1 dg AB. Inkomplit - O03.4 - O03.4 -  22 04-20-32 Pneumonia + TB Paru -

J18 - A16.9 J18.9 -  Kurang Tepat Kode Utama

23 04-20-78 Dengue Fever Typhoid Fever A90 A01.0 A90 A01.0

 24 04-20-76 Asma Bronchial - J45.9 - J45.9 -  25 04-20-44 DHF - A91 - A91 -  26 02-36-23 Diare akut dengan dehidrasi - A09

E86 - A09 E86 -

 27 04-05-89 CAP - J18.9 - J18.9 -  28

04-08-16 GEA non dehidrasi - A09 - A09 -

 29 04-13-91 Respirator y Failure ec Syok

Septic Meningitis Suspek

J96.9 Z03.8 G03.9 J96.9 Z03.8 G03.9

30 04-21-64 Viral Inf ISPA ec B34.9 J06.9 - B34.9 J06.9 - 

31 04-17-87

Infeksi

Bakteri - A49.9 - A49.9 -

32

04-03-54 Pneumonia Diare Akut J18.9 A09 J18.9 A09

 33 04-13-90 DHF - A91 - A91 -  34

04-14-91 Demam Typoid - A01.0 - A01.0 -

35 04-12-10 Pneumonia Dermatitis Seborroik

J18.9 L21.9 J18.9 L21.9 

36 04-05-04 Susp TB CAP A15 - Z30.9 A16.9 P23.9 

Kode Diagnosa Utama Tidak tepat + Kode Diagnosa Tambahan Tidak Tidak Tepat 37 04-03-51 DHF - A91 - A91  38

04-08-10 Dengue Fever - A90 - A90

No Rekam No. Medis

Pelaksanaan Diagnosa Penyakit Oleh Petugas

Medis Coding Petugas Audit Coding Petugas

Ceklis Ketepatan Keterangan Diagnosa Utama Diagnosa Tambahan Diagnosa Utama Diagnosa Tambahan Diagnosa Utama Diagnosa Tambahan Tepat Kurang Tepat

39 01-01-16 Diabetic Foot DM Tipe II

- E11 E11.5 E11,5  Karakter Kurang

Keempat

40 02-16-43 DHF HT gr II OA A91 I10 A91 M15.4 I10  Tambahan Diagnosa

Kurang Tepat

41 04-12-12

Tifoid

Fever - A90 - A01.0 -

Kode Tidak

(14)

64

42 01-11-11 Bakteri Infeksi Kejang Demam Komplek

- R56 A49.9 R56.0  Kode Tidak Tepat

43 02-48-18

GEA dg dehidrasi

sedang -

A09 - A09 E86 - 

Diagnosa Utama Kurang Tepat 44 04-06-58 Stroke ec

Infark - I64 - I63.9 -

 Kode Tidak Tepat 45 02-25-53 Henoch Schlein Purpura - D69.0 - D69.0 -  46 04-18-72 Obs Penurunan kesadaran ec Susp. Stroke ec PIS Meningitis SOL Metabolic encelopathy I64 G03.9 G93.4 R90.0 I64 G03.9 G93.4 R90.0 

47 01-30-26 Bronchial Asma ISPA J45.9 J06.9 J45.9 J06.9

 48 04-01-73 Tifoid Fever + Dengue Fever - A01.0

A90 - A01.0 A90 -

 49 04-05-11 DHF HT Gr I Synd Dispepsia

A91 I10 K30 A91 I10 K30 

50

00-43-28

BPH + Vesikolithi

asis ISK

N32.4 - N40 N21.0 N39.0  Kode Tidak Tepat

51 03-68-63 SOL - R90.0 - R90.0 -

52

04-05-59 Tifoid Fever - A01.0 - A01.0 -

 53 04-09-30 Morbili Tonsilitis Kronis Hipertofi B05.9 J35.1 B05.9 J35.1  54 04-20-09 Gastropati erosiva ec NSAID HT gt II OA

A08.1 M05.4 I10 A08.1 M05.4 I10 

55 04-17-78

Typhoid

Toxic - A01.0 - A01.0 -

 56 00-82-94 Syndrome Dyspepsi HHD HT Gr II

K30 I11.9 I10 K30 I11.9 I10 

57 01-20-82 Hemateme sis melena e.c Gastropati NSAID HT stg I

A08.1 I10 A08.1 I10 

58 04-19-97 obs Hemplegi Sinistra Susp SOL -

R90 - G81.9 -  Kode Tidak Tepat

No No. Rekam

Medis

Pelaksanaan Diagnosa Penyakit Oleh Petugas

Medis Coding Petugas Audit Coding Petugas Ceklis Ketepatan Keterangan

Diagnosa

Utama Tambahan Diagnosa Diagnosa Utama Tambahan Diagnosa Diagnosa Utama Tambahan Diagnosa Tepat Kurang Tepat

59 04-17-93 Pneumonia - J18.9 - J18.9 -  60 04-18-27 Gastropati erosiva ec NSAID Ulcus Pepticum e.c NSAID Anemia K25.9 K27.9 D64.9 K25.9 K27.9 D64.9  61 04-21-19 Dengue

Fever - A90 - A90 -

(15)

65

62

04-17-73 Grade I DHF Paratypoid Fever A91 A01.4 A91 A01.4

63 04-12-69 Pneumonia Candidiasis Oral J18.9 B37.0 J18.9 B37.0

 64 04-23-20 Respiratory Failure Stroke PIS D HT Emergency

J96.0 I61.9 I10 J96.9 I61.9 I10 

65 04-23-18 Pneumonia - J18.0 - J18.0 -  66 04-24-90 DHF - A91 - A91 - 

67 04-19-97 Sepsis - A41.9 - A41.9 -

 68 02-12-42 CAP Susp. TB J18.9 Z03.0 J18.9 Z30.9 

69 04-22-05 Demam Dengue Demam Typoid A90 A01.0 A90 A01.0

70

04-21-79 Stroke Infark - I63.9 - I63.9 -

71 04-18-11 Typoid Fever A01.0 - A01.0 -

72 04-18-86 Fever + Typoid

DHF -

A01.0

A91 - A01.0 A91 

73 04-23-04 Hipoglike mia e.c OAD + CKD N28.9 CHF + Acute on CKD + Edema Paru - I50.0 J90.0 - M15.4 N18.9 I50.0 J90.0

-  Kode Tidak Tepat

74 04-15-15 Gastropati NSAID - A08.1 - A08.1 - 

75 04-15-71 Bronkitis Morbili J40 B05.9 J40 B05.9  76 04-16-96 DHF - A91 - A91 -  77 04-12-06 DHF Grade II Typoid Hemoroid

A91 A01.0 I84.9 A91 A01.0 I84.9

78 04-21-33 Typoid Fever DF TB Paru

A01.0 A90 A16.9 A01.0 A90 A16.9 

79 04-15-22 DF - A90 - A90 -  80 04-22-71 Pneumonia - J18.9 - J18.9 -  Jumlah 59 21 80

Sumber : Analisis Penulis

Berdasarkan tabel1 dan hasil perhitungan pada bulan Maret tahun 2016 dari sampel 80 yang diambil secara random, dapat diketahui bahwa ketidak tepatan kodifikasi sebanyak 21 lembar (26,25%) dan 59 lembar ( 73,75 %) kode tepat.

Gambar 1 Diagram Jumlah Ketepatan Kodifikasi Rekam Medis Rawat Inap Bulan Maret tahun 2016 Rumah Sakit Umum Daerah Cililin

(16)

66

74%

26%

Tepat Tidak Tepat

Sumber : Analisis Penulis

Gambar 2 Diagram Presentase Ketepatan Kodifikasi Rekam Medis Rawat Inap Bulan Maret tahun 2016 Rumah Sakit Umum Daerah Cililin

Sumber : Analisis Penulis

B. Hubungan Ketepatan Kodifikasi Diagnosis Penyakit Dengan Reimbursement JKN Dalam proses Reimbursement, Besaran tagihan per diagnosis telah disepakati oleh pihak BPJS dan ditetapkan oleh pemerintah sebelum tagihan rumah sakit tersebut dikeluarkan, maka dari itu Rumah Sakit maupun pihak BPJS tidak lagi merinci tagihan dengan merinci pelayanan apa saja yang telah diberikan kepada seorang pasien.

Rumah Sakit mendapatkan pembayaran sesuai dengan biaya yang ditetapkan oleh BPJS. Besaran biaya ini sangat ditentukan oleh diagnosa akhir, oleh karena itu ketepatan koding sangat berperan dalam menentukanbesaran biaya yang didapatkan oleh rumah sakit. ketentuan umum dalam proses reimbursment diantaranya :

59 21 0 10 20 30 40 50 60 70 Tepat Tidak tepat

(17)

67

1.

Fasilitas kesehatan mengajukan kalim setiap bulan secara reguler paling lambat

tanggal 10 bulan berikutnya, kecuali kapitasi tidak perlu diajukan klaim oleh Fasilitas Kesehatan

2.

BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada peserta paling lambat 15 hari kerja sejak dokumen klaim diterima lengkap di Kantor cabang / Kantor Operasional Kabupaten / Kota BPJS Kesehatan.

3.

Biaya pelayanan kesehatan rawat inap tingkat lanjutan dibayar dengan paket INA

CBGs tanpa pengenaan iuran biaya kepada perserta.

4.

Tarif paket INA CBGs sudah mencakup biaya seluruh pelayanan yang diberikan kepada peserta BPJS Kesehatan, baik biaya administrasi, jasa pelayanan, sarana, alat / bahan habis pakai, obat, akomodasi dan lain-lain.

5.

Klaim diajukan secara kolektif oleh fasilitas kesehatan kepada BPJS Kesehatan maksimal tanggal 10 bulan berikutnya dalam bentuk softcopy (luaran aplikasi

INA CBGs Kementrian Kesehatan yang berlaku) dan hardcopy ( berkas

pendukung klaim)

6.

Tagihan Klaim di fasilitas kesehatan lanjytan menjadi sah setelah mendapat persetujuan dan ditanda tangani Direktur / Kepala Fasilitas Kesehatan Lanjutan dan Petugas Verifikator BPJS Kesehatan.

7.

Klaim diajukan ke Kantor Cabang / Kantor Operasional Kabupaten / Kota BPJS Kesehatan secara kolektif setiap bulan dengan kelengkapan administrasi antara lain, sebagai berikut :

a. Rekapitulasi pelayanan

b. Berkas Pendukung masing-masing pasien yang terdiri dari : 1) Surat Eligibiltas Peserta ( SEP )

2) Surat Perintah Rawat Inap

3) Resume Medis yang ditandatangi oleh Dokter Penanggung Jawab ( DPJP ) 4) Bukti Pelayanan lain yang ditandatangani oleh DPJP, misalnya :

a) Laporan Operasi

b) Protokol Terapi dan Regimen ( jadwal pemberian obat atau obat khusus

c) Perincian tagihan Rumah Sakit ( manual atau automatic billing ) d) Berkas pendukung lain yang diperlukan

C. Permasalahan Terkait Dengan Pelaksanaan Kodifikasi Diagnosis Penyakit dalam Menunjang Reimbursement JKN

1. Ketidak Jelasan diagnosa yang dituliskan oleh dokter 2. Penulisan diagnosa akhir yang tidak berdasarkan ICD-10

3. Ketidaklengkapannya beberapa berkas rekam medis (penulisan diagnosa)

D. KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan

Dari hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Cililin, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Kodifikasi diagnosa penyakit pada rekam medisrawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Cililin masih ditemukan pelaksanaan kodifikasinya yang belum tepat. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukan 21 lembar (26,25%) kode tidak tepat dan59 lembar (73,75 %) kode tepat dari 80 sampel dalam 410 populasi yang diteliti.

2. Dalam Proses Reimbursement JKNketepatan kodifikasi sangat berperan dalam menentukanbesaran biaya yang didapatkan oleh rumah sakit.

(18)

68

3. Terdapat beberapa permasalahan terkait dengan Pelaksanaan kodifikasi diagnosa penyakit rawat inapdalam menunjang Reimbursement JKN seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

b. Saran

Adapun saran yang penulis berikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak Rumah Sakit Umum Daerah Cililin khususnya mengenai kegiatan Reimbursement JKN adalah sebagai berikut:

1. Mensosialisasikan prosedur yang mewajibkan dokter untuk mengisi diagnosa berdasarkan buku ICD-10

2. Mengadakan pelatihan (DIKLAT) khusus tentang kodifikasi penyakit bagi petugas coding

3. Mensosialisasikan kelengkapan berkas Rekam Medis dalam menunjang

Reimbursement JKNkepada semua tenaga kesehatan yang terlibatPihak rumah

sakit

E. DAFTAR PUSTAKA

Hatta, Gemala, (2013), Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di sarana Pelayanan Kesehatan ,Edisi Revisi 2, Jakarta: Universitas Indonesia,

Huffman, Edna K. (1994). Health Information Management,edited by Jennifer Cover, Part I translation by Ekardius

Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta : Rineka Cipta Sugiyono, Martoyo. (2010).Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D. Alfabeta. Bandung. Sujarweni, V. Wiratna.(2014).Metodologi Penelitian.Pustaka Baru Press.Yogyakarta.

World Health Organization, (2005).International Statistical Classification of Disease and

Related Health Problems Tenth Revision Vo.1, geneva

World Health Organization, (2005).International Statistical Classification of Disease and

Related Health Problems Tenth Revision Vo.2, geneva

World Health Organization, (2005).International Statistical Classification of Disease and

Related Health Problems Tenth Revision Vo1.3, Geneva

Peraturan Menteri Kesehatan RI No.269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis

Surat Keputusan Menteri kesehatan RI No 50/MENKES/SK/I/1998 tentang penggunaan Kode ICD-10

Surat Edararan Dirjen Pajak No: SE-53/PJ/2009Tentang Reimbursement

Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Republik Indonesia, (2006), Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit Revisi II, Depkes, Jakarta Departemen Pendidikan Nasional, (2002), Kamus Besar Bahasa Indonesia,Balai Pustaka, Jakarta.

(19)

FORMULIR BERLANGGANAN

1. Nama

: ...

2. Alamat

:

 

...

3. Telepon/HP :

 

...

4. e-mail

:

 

...

Menyatakan bersedia untuk berlangganan Jurnal Ilmiah Penelitian dan

Pengembangan Ilmu Medis dan Kesehatan Politeknik Piksi Ganesha Bandung

mulai edisi ... dan bersedia membayar biaya cetak and

ongkos kirim sebesar ... per eksemplar.

Pemohon,

(...)

Formulir berlangganan dapat dikirim lewat pos/fax/email ke:

● Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Ilmu Linguistik dan

Pengajaran Bahasa Politeknik Piksi Ganesha Bandung

 

Alamat : Jl. Jend. Gatot Subroto No.301 Bandung 40274

 

Telepon :

 

Telp. 022 87 3400 30 Fax. 022 87 3400 86

 

e-mail

:

 

Email:

[email protected]

(20)

 

Gambar

Gambar 1. Jumlah Produk Per Kota Periode 2010-2012  Sumber: BagianPenjualan, 2013
Tabel  1Tabel    Analisis  Ketepatan  Kodifikasi  Diagnosa  Penyakit  Pasien  Rawat  Inap  Rumah  Sakit  Umum Daerah Cililin
Gambar  1  Diagram  Jumlah  Ketepatan  Kodifikasi  Rekam  Medis  Rawat  Inap  Bulan Maret tahun 2016 Rumah Sakit Umum Daerah Cililin
Gambar 2 Diagram Presentase Ketepatan Kodifikasi Rekam Medis Rawat Inap  Bulan Maret tahun 2016 Rumah Sakit Umum Daerah Cililin

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian metode survei analitik dengan data retrospektif berupa rekam medik pasien rawat inap tuberkulosis paru di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung periode 1

Pengelolaan Filing Rekam Medis Rawat Jalan Untuk Pencegahan Missfile ... Karakteristik Petugas Filing

Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Oktamianiza (2016) tentang Ketepatan Pengodean Diagnosa Utama Penyakit Pada Rekam Medis Pasien Rawat Inap JKN

Distribusi Frekuensi Pengaruh Ketidak Tepatan Petugas Rekam Medis Terhadap Tempat Penyimpanan Berkas Rekam Medis Pasien rawat Jalan berdasarkan beban kerja di Rumah

B. Sebaiknya terdapat petugas khusus koding rawat inap sehingga petugas koding rawat inap tidak merangkap tugas sebagai kepala rekam medis. Berdasarkan hasil perhitungan

Untuk menghindari terjadinya pemberian duplikasi penomoran, seharunya petugas rekam medis dibagian pendaftaran pasien baik rawat jalan maupun rawat inap

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan ketepatan reseleksi diagnosa dan kode utama dokumen rekam medis rawat inap berdasarkan aturan morbiditas terhadap

Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2016-Desember 2018 Yoyos Dias Ismiarto, Yoan Putrasos Arif Lama Menderita Diabetes Melitus Tipe 2 terhadap Jarak yang Ditempuh Selama Six