1
GAMBARAN PERILAKU BERISIKO HIV/AIDS PADA TERPIDANA KASUS NARKOBA DI LAPAS KLAS IIA KOTA MANADO TAHUN 2017
Stevi Langi*, Angela F. C. Kalesaran*, Sekplin A. S. Sekeon*
*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi
ABSTRAK
Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia yang berhasil dilaporkan pada Triwulan III (Juli-September) tahun 2016 menunjukkan terdapat banyak orang yang terinfeksi dengan HIV/AIDS. Di Sulawesi Utara kasus HIV/AIDS dari tahun 1997 sampai dengan bulan Desember 2016 terdapat banyak kasus. Terlebih khusus di Kota Manado. Di Lapas Klas IIA Kota Manado terdapat 3 kasus HIV/AIDS. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perilaku berisiko HIV/AIDS pada terpidana kasus narkoba di Lapas Klas IIA Kota Manado. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif-kualitatif (Mixed Methods). Sampel penelitian sebanyak 91 narapidana kasus narkoba sedangkan yang menjadi informan 6 orang. Variabel yang diteliti yaitu perilaku seksual, penggunaan narkoba suntik dan pembuatan tato.
Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner, pedoman wawancara dan alat perekam suara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 54 narapidana yang melakukan hubungan seksual di luar lapas diantaranya 8 responden yang tidak menggunakan kondom, 12 responden yang berganti-ganti pasangan, dan 3 responden yang melakukan anal seks. 52 responden yang menggunakan narkoba di luar lapas dengan cara tidak disuntikkan. 32 respoden yang memiliki tato. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu terdapat perilaku berisiko HIV/AIDS pada terpidana kasus narkoba terkait perilaku seksual.
Kata Kunci: Perilaku Berisiko HIV/AIDS, Terpidana Kasus Narkoba
ABSTRACT
Amount number of HIV/AIDS cases in Indonesian reported in 03 of 2016 shows that there are many people infected with HIV/AIDS. In North Sulawesi the case of HIV/AIDS from 1997 to December 2016 as much as infected. Especially in Manado City. In Prison class 2A of Manado there were 3 cases of HIV/AIDS. This research was conducted to determine the description of HIV/AIDS behavior contained on convicted drug cases in prison class 2A of Manado. The kind of research are description study with qualitative-quantitative method (mixed methods). The sample of research are 91 inmate of drug case while the informant are 6 person. The variables studied were sexual behaviot, injecting drug and tattooing. Instruments used are questionnaires, interview guides and voice recorder. The result of research shows the are 54 inmates who have sex outside of prison include 8 respondents who do not use condoms, 12 respondents who alternate couples and 3 respondents who do anal sex. 52 respondents who use drug outside of prison by not injection.
The conclusion in this research in there is risky behavior of HIV/AIDS in convicted drug cases related sexual behavior.
Keywords : Risk Behavior of HIV/AIDS, Convicted Drug Cases
2 PENDAHULUAN
Perkembangan kasus HIV/AIDS di Indonesia yang berhasil dilaporkan pada Triwulan III (Juli-September) tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah kasus terinfeksi HIV yang dilaporkan sebanyak 27.963 orang. Infeksi HIV yang dilaporkan berdasarkan kelompok umur yaitu paling banyak pada umur 25-49 tahun (69%). Presentase infeksi HIV menurut jenis kelamin yang dilaporkan paling tinggi yaitu pada jenis kelamin laki-laki (65%) (Ditjen P2P Kemenkes RI, 2016).
Kasus HIV di Provinsi Sulawesi Utara dari tahun 1997 sampai dengan bulan Desember tahun 2016 sebanyak 734 orang dimana paling banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki (52%) dan kelompok 20–29 (49,3%). Jumlah kasus menurut pekerjaan, paling tinggi yaitu pada swasta/wiraswasta dan IRT (Ibu Rumah Tangga) 183 orang. Presentase penderita HIV menurut faktor risiko paling banyak terjadi pada heteroseksual (76%), homoseksual (13%), pengguna Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat adiktif lain/Injecting Drug User (NAPZA/IDU) (6%), perinatal (4%), biseksual (1%) (Dinkes Sulut, 2016).
Manado merupakan salah satu Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara.
Kasus HIV/AIDS pada tahun 1997 sampai dengan bulan Desember 2016 di 15 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara, Manado menduduki urutan pertama dengan jumlah kasus HIV/AIDS terbanyak yaitu 831 penderita. Diantaranya 262 kasus dengan penderita HIV (36%) sedangkan untuk jumlah kasus AIDS yaitu sebanyak 569 penderita
dengan presentase (37%) (Dinkes Sulut, 2016).
Perilaku berisiko terkait perilaku seksual, penggunan jarum suntik, dan pembuatan tato merupakan salah satu faktor yang berisiko menularkan HIV/AIDS. Pengambilan data awal di Lapas Klas IIA Manado dengan melihat profil jumlah narapidana menunjukkan sampai pada bulan Maret tahun 2017 terdapat 545 narapida yang ditahan. Jumlah narapidana berdasarkan jenis kelamin paling banyak yaitu berjenis kelamin laki-laki yaitu 536 orang.
Terpidana kasus narkoba berjumlah 91 orang terdiri dari 87 laki-laki dan 4 perempuan.
Jumlah kasus HIV di Lapas Klas IIA Kota Manado Tahun 2016 berdasarkan data rekam medik di Lapas, menunjukkan bahwa terdapat 3 orang penderita HIV/AIDS.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini yaitu penelitian dengan metode kuantitatif-kualitatif (Mixed Methods).
Penelitian dilaksanakan di Lapas Klas IIA Kota Manado pada bulan April tahun 2017.
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh terpidana kasus narkoba di Lapas Klas IIA Kota Manado. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 91 responden, diambil dengan cara total sampling.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL
Penelitian ini dilakukan di Lapas Klas IIA Kota Manado dengan jumlah 91 responden terpidana kasus narkoba.
Pada saat
pengambilan data peneliti hanya
3
mendapatkan 54 responden karena pada saat pengambilan data hari pertama hanya mendapatkan 11 orang responden dari 30 narapidana yang terkumpul. Kemudian hari kedua hanya mendapatkan 5 responden begitu pun hari-hari berikutnya sampai terkumpul 54 responden. Hal tersebut dikarenakan narapidana yang lain tidak bersedia menjadi responden. Selain itu, waktu yang diberikan oleh pihak Lapas pada peneliti hanya dua jam perhari.
Begitu pula dengan pengambilan data untuk metode kualitatif pada saat rancangan penelitian, peneliti merancangkan bahwa akan diambil 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan yang akan diwawancarai tetapi pada saat pengambilan data kuantitatif, peneliti hanya mendapatkan 1 orang responden yang berjenis kelamin perempuan.
Oleh sebab itu, peneliti memutuskan untuk mengambil 1 orang respoden perempuan dan 5 orang responden laki-laki yang dijadikan informan.Karakteristik Responden Berdasaran Jenis Kelamin
Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin, terdapat 53 resonden (99%) berjenis kelamin laki-laki dari seluruh total responden.
Jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin n %
Laki-laki 53 99
Perempuan 1 1
Total 54 100
Karakteristik Responden Berdasaran Umur Pada distribusi karakteristik umur, responden terbanyak yaitu berumur 31-40 tahun yaitu 23 (43%) respoden, sedangkan yang paling sedikit yaitu responden yang berumur 61-70 tahun. Umur responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Umur
Umur n %
20-30 14 26
31-40 23 43
41-50 12 22
51-60 4 7
61-70 1 2
Total 54 100
Karakteristik Responden Berdasaran Pendidikan
Untuk karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir, yang paling banyak yaitu tamat SMA sebanyak 37 responden (68%), sedangkan yang paling sedikit yaitu tamat D3/S1 sebanyak 3 responden (6%).
Pendidikan responden dapat dilihat pada tabel berikut:
4 Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan
Pendidikan Terakhir Pendidikan
Terakhir
n %
SD 1 2
SMP 13 24
SMA 37 68
D3/S1 3 6
Total 54 100
Responden Yang Melakukan Hubungan Seks
Dapat diketahui bahwa seluruh responden yang berjumlah 54 orang (100%) pernah melakukan hubungan seksual. Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Distribusi Responden yang pernah melakukan hubungan seksual.
Berhubungan Seks
n %
Ya 54 100
Total 54 100
Lokasi Saat Berhubungan Seks
Diketahui bahwa seluruh responden (100%) melakukan hubungan seks saat berada di luar Lapas. Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5. Distribusi responden lokasi saat berhubungan seks.
Lokasi Saat Berhubungan
Seks
n %
di luar Lapas 54 100
Total 54 100
Penggunaan Kondom
Terdapat 46 responden (85%) yang melakukan hubungan seks tidak menggunakan kondom.
Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6. Distribusi responden terkait penggunaan kondom saat berhubungan seks.
Menggunakan Kondom
n %
Ya 8 15
Tidak 46 85
Total 54 100
Jumlah Pasangan Seks
Dapat diketahui bahwa dari 54 responden (100%) yang melakukan hubungan seksual, diantaranya terdapat 12 responden (22%) yang memiliki pasangan seks lebih dari satu. Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 7. Distribusi responden terkait memiliki pasangan seks lebih dari satu atau berganti- ganti pasangan.
Pasangan Seks Lebih Dari Satu
n %
Ya 12 22
Tidak 42 78
Total 54 100
Seks Jenis Anal
Terdapat 3 responden (6%) yang melakukan seks jenis anal. Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 8. Distribusi responden terkait seks jenis anal.
Anal Seks n %
Ya 3 6
Tidak 51 94
Total 54 100
5 Frekuensi Berhubungan Seks
Pada tabel 9 di bawah ini, menunjukkan bahwa dari 54 responden diantaranya terdapat 26 responden (48%) yang paling banyak melakukan hubungan seks 2 kali dalam seminggu.
Tabel 9. Distribusi responden berdasarkan frekuensi berhubungan seks dalam seminggu.
Frekuensi Behubungan Seks
(Seminggu)
n %
1 Kali 5 9
2 Kali 26 48
> 2 Kali 23 43
Total 54 100
Responden Yang Menggunakan Narkoba Diketahui bahwa dari 54 narapidana, sebagian besar (96%) terpidana kasus narkoba pernah memakai narkoba dan 2 responden (4%) bukan sebagai pengguna. Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 10. Distribusi responden berdasarkan penggunaan narkoba.
Memakai Narkoba
n %
Ya 52 96
Tidak 2 4
Total 54 100
Lokasi Saat Menggunakan Narkoba
Presentase berdasarkan lokasi menggunakan narkoba, secara keseluruhan (100%) menggunakan narkoba pada saat berada di luar Lapas. Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11. Distribusi responden lokasi saat menggunakan narkoba.
Lokasi Saat Menggunakan
Narkoba
n %
di luar Lapas 52 100
Total 52 100
Jenis Narkoba Yang Digunakan
Dapat diketahui berdasarkan tabel 12 menunjukkan bahwa dari 52 responden yang menggunakan narkoba, 21 responden (40%) diantaranya paling banyak menggunakan narkoba jenis amphetamine.
Tabel 12. Distribusi responden berdasarkan jenis narkoba yang digunakan.
Jenis Narkoba N %
Amphetamine 21 40
Methadone 5 9
Extasi 6 12
Heroin 3 6
Lainnya (ganja, lysergic acid diethylamide)
17 33
Total 52 100
Cara Menggunakan Narkoba
Tabel 13 menunjukkan bahwa semua responden (100%) tidak ada yang pernah menggunakkan narkoba suntik.
Tabel 13. Distribusi responden berdasarkan cara mengunakan narkoba.
Cara Menggunakan
N %
Tidak disuntikkan
52 100
Total 52 100
6 Responden Yang Memiliki Tato
Dapat diketahui bahwa dari 54 responden terdapat 32 responden (59%) yang memiliki tato. Dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 14. Distribusi yang memiliki tato.
Memiliki Tato n %
Ya 32 59
Tidak 22 41
Total 54 100
Lokasi Saat Membuat Tato
Pada tabel 15 menunjukkan bahwa 32 orang yang memiliki tato, mereka membuat tato tersebut saat berada di luar Lapas.
Tabel 15. Distribusi responden berdasarkan lokasi saat mereka membuat tato.
Lokasi Pembuatan
Tato
n %
di luar Lapas 32 100
Total 32 100
Jarum Yang Digunakan Untuk Membuat Tato
Berdasarkan tabel 16 dapat diketahui bahwa dari 32 responden (100%) yang memiliki tato, mengetahui bahwa jarum yang digunakan untuk membuat tato tersebut adalah jarum yang baru.
Tabel 16. Distribusi responden terpidana berdasarkan jarum yang digunakan.
Jarum Yang Digunakan
n %
Baru 32 100
Total 32 100
Alasan Melakukan Hubungan Seksual Melalui wawancara tambahan diketahui bahwa responden melakukan hubungan seksual karena nikmat, keinginan, napsu, kebutuhan, cinta dan merasa diri normal bila berhubungan seksual. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara berkikut :
“yang jelas, yang pertama kebutuhan. Kita rasa itu noh” (SA, 42 th)
(yang jelas, itu merupakan kebutuhan. Saya rasa seperti itu)
“sadap noh.. Tidak ada cuma sadap” (AH, 43 th)
(nikmat.. Tidak ada lain selain nikmat)
“normal” (MR, 24 th) (normal)
“karna kiapa kang.. Sayang noh berupa cinta” (DP, 28 th)
(karena apa ya. sayang berupa cinta)
“karna napsu noh” (SH, 33 th) (ya, karena napsu)
“karna keinginan, ehh.. Cuma keinginan”
(BR, 23 th)
(karena keinginan, hanya keinginan)
Alasan Tidak Menggunakan Kondom Hasil wawancara terkait alasan tidak menggunakan kondom karena merasa tidak nikmat, ingin mempunyai keturunan, kendala waktu untuk membeli dan merasa dirinya setia. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut :
“nda bagus kalo pake kondom.. Untuk mendapatkan turunan” (AH, 43 th)
(tidak baik kalau memakai kondom.. Untuk mendapatkan keturunan)
“tidak enak noh..” (MR, 24 th)
7 (tidak nikmat)
“karna memang Cuma dia noh.. Nda ada pikiran mo apa deng orang laeng” (DP, 28 th)
(karena memang hanya dia.. Tidak ada pikiran untuk melakukan dengan yang lain)
“ingin punya keturunan” (SH, 33 th) (ingin mempunyai keturunan)
“ehh.. Waktu mungkin, masih mo pi beli lagi” (BR, 23 th)
(ehh.. Mungkin waktu, karena masih perlu untuk membeli lagi)
Alasan Berganti-ganti Pasangan
Hasil wawancara tambahan dapat diketahui bahwa mereka memiliki pasangan seks lebih dari satu atau berganti-ganti pasangan karena sudah tidak menjalin hubungan dengan pasangan sebelumnya, mencari gairah lain atau ingin menikmati yang lain, mencari sensasi baru, serta dipengaruhi oleh lingkungan sekitar pengguna narkoba sehingga mempunyai akses yang lebih mudah untuk mendapatkan wanita. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut :
“begini eh, dunia narkoba ini kan hidup dengan lawan jenis. Oleh karna itu, apalagi kalo kita hampir semua jenis narkoba kita pake. Cuma, kalo yang sering kita pake shabu deng heroin. Di Sulawesi Utara cepat skali deng cara babisnis barang ini, cepat skali mo dapa doi deng parampuang” (SA, 42 th)
(begini ya, dunia narkoba ini hidup dengan lawan jenis. Oleh karena itu, apalagi kalau saya hampir semua jenis narkoba, saya pakai. Tapi, kalau yang sering saya pakai
shabu dan heroin. Di Sulawesi Utara cepat sekali dengan cara berbisnis barang ini, cepat sekali untuk mendapatkan uang dan wanita)
“suka mo rasa lebih deng nikmati yang laeng” (AH, 43 th)
(ingin merasakan yang lebih dan menikmati yang lain)
“ganti pasangan karna so putus deng maitua, mencari sensasi baru” (MR, 24 th) (ganti pasangan karena sudah putus dengan pacar, mencari sensasi baru)
“banya istri, bagitu noh suka cari gairah laeng” (SH, 33 th)
(banyak istri, seperti itu ingin mencari gairah lain)
“karna so putus deng satu” (BR, 23 th) (karena sudah putus dengan yang satu)
Seks Jenis Anal
Hasil wawancara tambahan diketahui bahwa responden melakukan anal seks karena dipengaruhi sering menonton film pornografi, ingin mencari inovasi baru dan merasa bosan melakukan vaginal seks. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut :
“apa ee.. Kalo mo bilang inovasi, mungkin torang so bosan deng barang tu dia kong mo coba hal baru” (SA, 42 th)
(apa yaa.. kalau mau dikatakan ya inovasi, mungkin kita sudah bosan dengan barang seperti itu kemudian ingin mencoba hal yang baru)
“karna ja ba uni film” (BR, 23 th) (karena sering menonton film)
8 Alasan Menggunakan Narkoba
Hasil wawancara tambahan pada responden yang menggunakan narkoba mengaku menggunakan narkoba karena memiliki masalah pribadi, untuk kerja, menghilangkan stres, merasa enak, serta merasa sehat. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa dengan menggunakan narkoba, bisa mendapatkan uang. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut :
“yang pertama untuk kerja, itu yang pasti”
(SA, 42 th)
(yang pertama untuk kerja, yang pasti seperti itu)
“enak, bisa mendapatkan uang” (AH, 43 th) (nikmat, boleh mendapatkan uang)
“dipengaruhi oleh lingkungan, ada masalah pribadi” (MR, 24 th)
(dipengaruhi oleh lingkungan, mempunyai masalah pribadi)
“salah bergaul, deng mo rasa noh bagimana, dengan nakal” (DP, 28 th) (salah bergaul, dengan ini merasakan seperti apa, dan nakal)
“karna menghilangkan stress, sehat, Cuma itu” (BR, 23 th)
(karena ingin menghilangka stress, sehat, hanya itu)
Alasan Membuat Tato
Hasil wawancara tambahan bahwa responden yang memiliki tato atau membuatkan tato di tubuh karena ikut-ikutan. Tetapi, pada umumnya mengaku bahwa tato itu merupakan seni. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut :
“itu mungkin buat orang manado sebuah seni. Deng lain lagi kalo untuk daerah lain”
(SA, 42 th)
(mungkin itu untuk orang manado merupakan seni. Dan lain lagi kalau untuk daerah lain)
“cuma ikut-ikutan saja” (AH, 43 th) (hanya ikut-ikutan saja)
“seni” (SH, 33 th) (seni)
“seni” (BR, 23 th) (seni)
B. PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menujukkan bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki merupakan responden yang paling banyak dalam penelitian ini yaitu sebanyak (99%).
Pada distribusi karakteristik umur, responden terbanyak yaitu berumur 31-40 tahun yaitu 23 (43%) respoden, sedangkan yang paling sedikit yaitu responden yang berumur 61-70 tahun.
Untuk karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir, yang paling banyak yaitu tamat SMA sebanyak 37 responden (68%), sedangkan yang paling sedikit yaitu tamat D3/S1 sebanyak 3 responden (6%).
Perilaku Seksual Berisiko HIV/AIDS Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Lapas Klas IIA Kota Manado Tahun 2017 terdapat 54 narapidana (100%) kasus narkoba yang pernah melakukan hubungan seksual sebelum di Lapas. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh sistem keamanan oleh karena
9 itu tidak ada narapidana kasus narkoba yang melakukan hubungan seksual selama di Lapas.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian di Lapas Kerobokan Bali (2009) yang dilakukan oleh Hartawan, dkk didukung oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menunjukan bahwa terdapat perilaku berisiko tertular HIV/AIDS di Lapas karena sebanyak 7 (3%) dari total 230 responden yang diwawancarai mengaku pernah melakukan hubungan seks selama tinggal di Lapas oleh sebab itu dikatakan berbeda. Penelitian ini juga yang menjadi sampelnya hanya terpidana kasus narkoba sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Hartawan, dkk yang menjadi sampelnya yaitu semua narapidana di Lapas Kerobokan dengan menggunakan metode pengambilan data melalui angket terhadap 200 warga binaan yang telah dipilih secara acak sistematik dari daftar populasi.
Salah perilaku berisiko tertular HIV/AIDS yaitu melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Diantara 54 responden (100%) yang melakukan hubungan seksual terdapat 8 responden (15%) melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Sementara itu menurut (Gunung k, Sumantera M. dkk, 2003) menjelaskan bahwa cara penularan HIV/AIDS yaitu melalui hubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
Selain itu, terdapat sebagian responden 12 (22%) yang melakukan hubungan seks berisiko yaitu berganti-ganti pasangan.
Menurut Katiandagho (2015) salah satu faktor yang berisiko untuk tertular HIV/AIDS yaitu
dengan berhubungan seks yang berganti-ganti pasangan.
Adapun perilaku berisiko lainnya yang dapat menularkan HIV/AIDS yaitu anal seks.
Data yang telah diperoleh dari 54 responden (100%) yang melakukan hubungan seks, terdapat 3 responden (6%) melakukan hubungan seksual berisiko terkait anal seks.
Menurut Katiandagho (2015) risiko pada seks anal lebih besar untuk tertular HIV/AIDS dibandingan dengan hubungan seksual oral.
Untuk frekuensi berhubungan seksual dalam seminggu dari 54 responden yang melakukan hubungan seksual diantaranya 23 responden (43%) melakukan hubungan seksual >2 kali, 26 responden (48%) yang melakukan hubungan seksual 2 kali dalam seminggu, dan 5 responden (9%) yang melakukan hubungan seksual dalam seminggu.
Hasil wawancara tambahan pada responden yang melakukan hubungan seksual, mengaku bahwa melakukan hubungan seksual karena merasa nikmat, keinginan, kebutuhan, cinta dan merasa diri normal bila berhubungan seksual. Adapun yang mengaku berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom karena mereka merasa tidak nikmat, ingin mempunyai keturunan, kendala waktu untuk membeli kondom serta merasa dirinya setia. Selain itu, untuk alasan terkait berganti-ganti pasangan atau memiliki pasangan seks lebih dari satu karena sudah tidak menjalin hubungan dengan pasangan sebelumnya, mencari gairah lain atau ingin menikmati yang lain, mencari sensasi baru, serta dipengaruhi oleh lingkungan sekitar narkoba sehingga mempunyai akses yang lebih mudah untuk
10 mendapatkan wanita. Begitu pun dengan perilaku seksual berisiko terkait anal seks mengaku bahwa melakukan anal seks karena pengaruh menonton film pornografi, ingin mencari inovasi baru dan merasa bosan bila melakukan vaginal seks.
Perilaku Penggunaan Narkoba Suntik Hasil penelitian yang dilakukan di Lapas Klas IIA Kota Manado Tahun 2017 menunjukan bahwa terdapat 52 responden (96%) dari 54 responden yang pernah menggunakan narkoba.
Responden tersebut menggunakan narkoba sebelum di berada di Lapas. Sedangkan untuk jenis narkoba yang digunakan diantaranya terdapat 21 responden (40%) yang menggunakan narkoba jenis amphetamine, 5 responden (9%) yang menggunakan narkoba jenis methadone, 6 responden (12%) menggunakan narkoba jenis extasi, 3 responden (6%) menggunakan narkoba jenis heroin, dan yang menggunakan narkoba jenis lain (ganja, lysergic acid diethylamide) yaitu 17 responden (33%). Hasil penelitian ini ada perbedaan dengan hasil penelitian di Lapas Kerobokan Bali yang dilakukan oleh Hartawan, dkk (2009). Perbedaannya yaitu hasil penelitian yang dilakukan oleh Hartawan, dkk hanya menggunakan metode kuantitatif dan menunjukkan bahwa terdapat responden yang menggunakan narkotika dengan cara suntik saat berada di Lapas sedangkan penelitian ini menggunakan mixed methods dan tidak terdapat narapidana di Lapas Klas IIA yang berisiko tertular HIV/AIDS terkait penggunaan narkoba suntik saat mereka
berada di Lapas. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh sistem keamanan masing-masing lapas.
Berdasarkan cara penggunaan narkoba terdapat 52 responden (100%) yang menggunakan narkoba dengan cara tidak disuntikkan. Itu tidak memiliki risiko untuk tertular HIV/AIDS. Berdasarkan jenis yang paling banyak digunakan yaitu narkoba jenis amphetamine (40%) sedangkan yang paling sedikit digunakan yaitu narkoba jenis heroin (6%). Menurut (UNESCO, 2012) dalam buku yang berjudul Infeksi Menular Seksual dan HIV/AIDS mengemukakan bahwa pengguna narkoba suntik merupakan salah satu faktor risiko untuk tertular HIV/AIDS karena jarum yang digunakan, merupakan jarum yang sudah digunakan sebelumnya oleh orang lain atau bergantian satu sama lain.
Hasil wawancara tambahan mengenai alasan menggunakan narkoba, para responden terpidana kasus narkoba mengaku menggunakan narkoba karena memiliki masalah pribadi, untuk kerja, menghilangkan stress, merasa enak, serta merasa dirinya sehat kalau menggunakan narkoba serta bisa mndapattkan uang.
Pembuatan Tato
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Lapas Klas IIA Kota Manado terkait pembuatan tato yang berisiko. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat responden yang memiliki tato sebanyak 32 responden (59%). Berdasarkan lokasi pembuatan tato secara keseluruhan responden tersebut, membuat tato saat berada di luar lapas. Untuk jarum yang digunakan membuat
11 tato, seluruh reponden tersebut menggunkan jarum yang baru. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh sistem keamanan lapas yang ketat oleh sebab itu tidak terdapat narapidana kasus narkoba membuat tato saat berada di lapas.
Hasil penelitian yang dilakukan di Lapas Kelas IIA Kendari oleh (Sari, M, dkk 2016) berbeda dengan hasil penelitian ini karena hasil penelitian oleh sari, m dkk menujukkan terdapat 27 narapidana (48%) yang membuat tato saat berada di Lapas. Sedangkan hasil penelitian ini tidak terdapat narapidana kasus narkoba di Lapas Klas IIA Kota Manado yang membuatkan tato selama berada di Lapas malainkan mereka membuatkan tato pada saat sebelum berada di Lapas. Mungkin ini salah satu dipengaruhi oleh faktor keamanan di Lapas Kendari yang belum terlalu ketat.
Sementara itu menurut teori yang dikemukakan oleh UNESCO (2012) yang didukung oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) menjelaskan bahwa mereka yang menggunakan alat tajam/suntik secara bergantian, misalnya jarum tato, jarum tindik, peralatan pencet jerawat yang tidak disterilkan merupakan salah satu faktor yang berisiko menularkan atau tertular HIV/AIDS.
Alasan mereka berdasarkan wawancara tambahan terkait membuatkan tato di tubuh, pada umumnya mereka mengaku karena merasa bahwa tato merupakan seni dan ada juga karena ikut-ikutan.
KESIMPULAN
1. Terdapat perilaku berisiko HIV/AIDS terkait perilaku seksual diantaranya tidak
menggunakan kondom saat berhubungan seks, berganti-ganti pasangan, dan melakukan anal seks
2. Tidak terdapat perilaku berisiko HIV/AIDS terkait penggunaan narkoba suntik.
3. Tidak terdapat perilaku berisiko HIV/AIDS terkait pembuatan tato.
4. Narapidana kasus narkoba melakukan hubungan seks karena nikmat, keinginan, kebutuhan, cinta dan merasa diri normal.
Alasan tidak menggunakan kondom karena merasa tidak nikmat, ingin mempunyai keturunan, kendala waktu serta merasa dirinya setia. Sebagian responden yang berganti-ganti pasangan atau memiliki pasangan seks lebih dari satu karena ingin mencari gairah lain, sudah tidak menjalin hubungan dengan pasangan sebelumnya, mencari sensasi baru, serta dipengaruhi oleh lingkungan sekitar pengguna narkoba sehinggaa mempunyai akses yang lebih mudah untuk mendapatkan wanita. Melakukan anal seks karena sering menonton film pornografi, ingin mencari inovasi baru dan merasa bosan bila melakukan vaginal seks.
SARAN
1.
Kepada pihak Lapas Klas IIA Kota Manado agar menjalin kerjasama dengan Instansi Kesehatan dalam rangka untuk melakukan penyuluhan mengenai perilaku seksual, serta perilaku lainnya yang berisiko tertular HIV/AIDS karena mengingat perilaku mereka sebelum berada di Lapas.12
2.
Peran petugas di LembagaPemasyarakatan Klas IIA Kota Manado sangat penting dan untuk itu pengawasan terhadap narapidana dipertahankan dan lebih ditingkatkan.
3.
Kepada peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian serupa, diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat memperkaya variabel penelitian yang diteliti dan agar hasil penelitian tersebut dapat lebih baik lagi.DAFTAR PUSTAKA
Centers for Disease Control and Prevention.
2016b. Can I get HIV From Injecting
Drugs. (Online).
(http://www.cdc.gov/hiv/basics/transmissi on.html, diakses 13 Maret 2017)
Dinas Kesehatan Prov. Sulut. 2016.
Pencegahan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara.
Ditjen P2P, Kemenkes RI. 2016. Laporan Siuasi Perkembangan HIV-AIDS di Indonesia Juli-September. (Online).
(http://www.aidsindonesia.or.id/list/7/Lap oran-Menkes.pdf, diakses 13 Maret 2017) Febrian H. 2010. Gambaran Perilaku Seks
Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Muara Padang. (Online).
(http:repository.nand.ac.id/18036/1/GAM BARAN%20PERILAKU%20PERILAKU
%20SEKS%20NARAPIDANA%20DI%2 0LEMBAGA%20PEMASYARAKATAN
%20KELAS%20II%20MUARA%20PAD ANG.pdf, diakses 13 maret 2017).
Gunung K, Sumantera M, Sawitri S, dan Wirawan D, 2003. Buku Pegangan
Konselor Bekerja Sama dengan Yayasan Praja dan Yayasan Burnet Indonesia di dukung oleh Australia NGO Cooperation Program.
Hartawan G, Sawitri S, Septarini W. 2009.
Survei Perilaku Berisiko dan Perilaku Pencegahan Terinfeksi HIV di Lapas Kerobokan, Denpasar, Bali yang didukung oleh Komisi Penanggulangan AIDS
Nasional. (Online).
(http://www.aidsindonesia.or.id/repo/SUR VEILAPASKEROBOKANUDAYANA.p df, diakses 13 Maret 2017)
Katiandagho D. 2015. Epidemiologi HIV- AIDS. Bogor : In Media.
Sari M, Yuniar N, Jafriati. 2016. Analisis Perilaku Berisiko Tertular Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) Pada Terpidana Kasus Narkoba di Lapas Klas IIA Kota Kendari (Online).
.(http:ojs.uho.ac.id/indeks.php/JIMKESM AS/article/view/1255.pdf, diakses 13 Maret 2017).
UNESCO, 2012. Infeksi Menular Seksual dan HIV/AIDS. Buku Suplemen Bimbingan Teknis Kesehatan Reproduksi. Jakarta