STRATEGI PEMBERDAYAAN UMKM BALI
Bunga Rampai
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 1
1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ketentuan Pidana Pasal 113
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf I untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan / atau pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan / atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan / atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan / atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Udayana UnIveRSIty PReSS 2017
Editor:
Komang Ardana
STRATEGI PEMBERDAYAAN UMKM BALI
Bunga Rampai
I Wayan Ramantha Ni Luh Putu Wiagustini Ni Nyoman Kerti Yasa Made Suyana Utama Herkulanus Bambang Suprasto I Gusti Ayu Nyoman Budiasih I Gusti Wayan Murjana Yasa I Gede Wardana I Gede Riana
I Putu Gde Sukaatmadja I G. A. Ketut Giantari
Ida Bagus Putu Purbadharmaja I Made Sadha Suardikha Ni Putu Wiwin Setyari Nyoman Djinar Setiawina I Wayan Suartana I Ketut Sujana
v
Hak Cipta pada Penulis.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang :
dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Penulis:
I Wayan Ramantha ni Luh Putu Wiagustini
ni nyoman Kerti yasa Made Suyana Utama Herkulanus Bambang Suprasto
I Gusti ayu nyoman Budiasih I Gusti Wayan Murjana yasa
I Gede Wardana I Gede Riana I Putu Gde Sukaatmadja
I G. a. Ketut Giantari Ida Bagus Putu Purbadharmaja
I Made Sadha Suardikha ni Putu Wiwin Setyari nyoman djinar Setiawina
I Wayan Suartana I Ketut Sujana
Editor:
Komang ardana Cover & Ilustrasi:
Repro Design & Lay Out:
I Wayan Madita Diterbitkan oleh:
Udayana University Press Kampus Universitas Udayana denpasar Jl. P.B. Sudirman, denpasar - Bali telp. (0361) 255128
[email protected] http://penerbit.unud.ac.id Cetakan Pertama:
2017, viii + 282 hlm, 15 x 23 cm ISBN: 978-602-294-236-8
STRATEGI PEMBERDAYAAN UMKM BALI
Bunga Rampai
v
PRAKATA
Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/tuhan yang Maha esa, karena atas asung kertha waranugrahanya buku Strategi Pemberdayaan UMKM Bali dapat diluncurkan sebagai sumbangsih Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana kepada berbagai pihak, terutama kepada para pemangku kepentingan di Bali.
Kami menerbitkan buku ini disamping sebagi bagian dari perayaan ulang tahun emas fakultas, juga disebabkan oleh kondisi para palaku UMKM yang ada di Bali, yang selalu tidak pernah steril dari hambatan dan tantangan. disisi lain, sebagai gerakan ekonomi kerakyatan, UMKM adalah salah satu pilar ekonomi nasional yang sangat strategis.
dalam era globalisasi dan perdagangan bebas yang ditandai dengan tingkat persaingan yang kian sengit, UMKM sebagi suatu gerakan ekonomi kerakyatan harus terus ditingkatkan kualitasnya. Sampai kini permasalahan yang dihadapi UMKM masih tetap berkutat di sekitar: rendahnya kualitas SdM, terbatasnya modal dan akses permodalan, terbatasnya pengetahuan tentang pemasaran dan akses pasar, belum mampu memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada, manajemen yang masih sederhana, serta masih rendahnya jiwa kewirausahaan, dllnya. Beberapa permasalahan tersebut kalau tidak dicarikan solusi yang terbaik, sudah pasti para pelaku UMKM tidak akan mampu memanfaatkan peluang-peluang yang muncul dalam era globalisasi dan perdagangan bebas ini.
v
Para pemain UMKM di Bali kiprahnya tidak saja di kota, namun banyak juga berada di desa, seperti Bundes, LPd, KUd serta usaha kecil/kerajinan lainnya. Kehadiran buku ini memang didesain antara lain untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka menjawab tantangan/hambatan UMKM tersebut.
Kami menghaturkan terimakasih serta apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para kontributor, editor dan penerbit, serta penitia atas sumbangsih dan kerja kerasnya, sehingga buku ini dapat diterbitkan tepat pada waktunya.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om
dekan Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
Dr. I Nyoman Mahaendra Yasa, SE., M.Si nip. 196106201986031001
v
DAFTAR ISI
Prakata ... v daftar Isi ... vii tata Kelola Keuangan desa ... 1
• dr. drs. Herkulanus Bambang Suprasto, M.Si., ak
• dr. I Gusti ayu nyoman Budiasih, Se., M.Si Optimalisasi Pemanfaatan dana desa dalam
Pengembangan UMKM Berbasis Keunggulan desa ... 20
• dr. I Gusti Wayan Murjana yasa, Se., M.Si
Gerakan ekonomi Kerakyatan Melalui Badan Usaha Milik desa (Bumdes) (Kajian Kebijakan ekonomi) ... 36
• dr. drs. I Gede Wardana, M.Si
Ekonomi Kreatif di Bali : Orange Economy
Strategi Pengembangannya ... 47
• Prof. dr. I Wayan Ramantha, Se., MM., ak., CPa
• dr. I Gede Riana, Se., MM
Pengembangan Model Strategi Bisnis Bagi Usaha Kecil
Menengah di Provinsi Bali ... 70
• Prof. dr. ni nyoman Kerti yasa, Se., MS
• dr. Putu Gde Sukaatmadja, Se., MP
• dr. dra. I G. a. Ketut Giantari, M.Si
Badan Usaha Milik desa (Bumdes) di Bali ... 91
• Prof. dr. ni Luh Putu Wiagustini, Se., M.Si Menuju Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Berkelanjutan: Tinjauan Dari Perspektif
arah Kebijakan Pengembangan UMKM di Bali ... 108
• dr. Ida Bagus Putu Purbadharmaja, Se., Me
v
Memperkuat aksesibilitas, Kreativitas, dan Inovasi
UMKM dalam Meningkatkan Kinerja Produk ekspor .... 121
• dr. I Putu Gde Sukaatmadja, Se., MP
• Prof. dr. ni nyoman Kerti yasa, Se., MS
Perlakuan Beban Ritual dalam akuntansi Berdasarkan
Filosofi Tri Hita Karana Pada Masyarakat ... 133
• dr. I Made Sadha Suardikha, Se., M.Si
• dr. I Gusti ayu nyoman Budiasih, Se., M.Si Prospek Perkembangan Badan Usaha Milik desa
(Bumdes) di Provinsi Bali dari Perpektif Kelembagaan ... 160
• Prof. dr. Made Suyana Utama, Se., MS Pengaruh Institusi terhadap Kinerja Lembaga
Perkreditan desa di Bali ... 173
• dr. ni Putu Wiwin Setyari, Se., M.Si
Badan Usaha Milik desa (BUMdes) Merupakan
Pembangunan ekonomi tingkat dasar ... 202
• Prof. dr. nyoman djinar Setiawina, Se., MS
LPd, BUMdes dan ekonomi Bali Berkelanjutan ... 225
• Prof. dr. I Wayan Suartana, Se., M.Si., ak
akuntabilitas dalam Perspektif Budaya tri Hita Karana (Studi Pada Lembaga Perkreditan desa Pekraman
Badung-Bali) ... 248
• dr. I Ketut Sujana, Se., ak, M.Si, Ca
MEMPERKUAT AKSESIBILITAS, KREATIVITAS, DAN INOVASI UMKM DALAM MENINGKATKAN
KINERjA PRODUK EKSPOR
Oleh:
Dr. I Putu Gde Sukaatmadja, SE., MP Prof. Dr. Ni Nyoman Kerti Yasa, SE., MS
(Dosen Fakultas Ekonom dan Bsns Unverstas Udayana)
Abstrak
Sejak krisis global melanda dunia, banyak eksportir menghadapi permasalahan serius. Permintaan produk dari luar negeri cenderung menurun drastis. Kinerja produk ekspor Provinsi Bali yang diekspor melalui beberapa pelabuhan di Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan adanya fluktuasi, di mana pada tahun ini sudah mulai tampak adanya penurunan kinerja. Salah satu terobosan yang dapat dilakukan dalam kerangka perekonomian liberal berideologi persaingan bebas adalah perlu kiranya memperkuat aksesibilitas secara sinergis, sekaligus membangun kreativitas dan inovasi secara berkelanjutan. aksesibilitas sangat diperlukan, terutama menyasar pasar non-tradisional yang perlu dilakukan pemerintah, baik secara bilateral maupun multilateral, sehingga biaya distribusi menjadi lebih efisien. Penguatan kreativitas dan inovasi dapat meningkatkan kinerja ekspor, sekali pun berhadapan dengan krisis global karena permintaan terhadap produk ekspor yang kreatif dan inovasi tidak pernah terbendung oleh krisis global.
Kata kunci: aksesibilitas, kreativitas, inovasi, kinerja produk ekspor
I. Pendahuluan
Kinerja nilai ekspor Bali yang diekspor melalui beberapa pelabuhan di Indonesia dalam empat tahun terakhir ini
menunjukkan adanya fluktuasi. Hal ini dapat dilihat dari kinerja nilai ekspor periode 2012 menunjukkan angka sebesar US$ 579,234,470, kemudian pada periode 2013 mengalami penurunan sebesar 14,56% menjadi US$ 494,914,000. Selanjutnya, pada periode 2014 baru mengalami peningkatan 8,37% menjadi US$ 536,330,800 dan pada periode 2015 kembali mengalami sedikit penurunan sebesar 7,02% menjadi US$ 498,681,700.
Penyebabnya adalah belum pulih krisis global yang masih melanda perekonomian dunia. Kinerja perekonomian negara- negara maju di dunia masih sedang mengalami keterpurukan, termasuk pasar tradisional yang biasanya dilayani selama ini seperti amerika Serikat, Jepang, australia, Singapura, thailand, Hongkong, Belanda, Jerman, Inggris, dan Italia. Kondisi ini bila tidak diantisipasi dengan kreativitas dan inovasi untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya lokal spesifik maka dapat berimplikasi pada penurunan permintaan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari pasar ekspor tradisional.
Kreativitas sebagai sumberdaya terbarukan perlu dikembangkan secara kolaborasi antar Triple Helix, yakni Academician, Businessman, dan Government (aBG), yang dapat mendorong inovasi sehingga tidak tergantung pada ekspor komoditas bernilai ekonomi rendah, tetapi bergantung pada ekspor produk dan jasa usaha unggulan bernilai tambah tinggi. Inovasi dimaksud, bukan hanya menekankan modernisasi semata, melainkan ditunjang pengintegralan nilai-nilai lokal.
Untuk dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, dapat pula mengembangkan strategi one village one product (OvOP) yang digagas Kementerian Perindustrian pada periode 2006 untuk memfokuskan satu produk unik berkelas dunia yang dilakukan masyarakat setempat secara integratif sesuai kekhasan daerah setempat. Strategi ini, sebagai salah upaya menuju klasterisasi produk unggulan UMKM agar dapat meningkatkan daya saing. Klaster dimaksud, bukan saja diartikan hanya sebagai desa saja, tetapi dapat diperluas menjadi
kecamatan, kabupaten/kota, atau kesatuan wilayah lainnya sesuai potensi dan skala usaha secara ekonomis. Ide OvOP pertama kali dikemukakan oleh Morihiko Hiramatsu ketika menjabat selama periode 1979- 2003 sebagai Gubernur Prefektur Oita di timur Laut Pulau Kyushu yang digunakan untuk mengentaskan kemiskinan. OvOP sebagai gerakan masyarakat secara integratif dengan memanfaatkan segala sumber daya lokal, berupaya meningkatkan penciptaan lapangan usaha, peningkatan daya saing, dan pertumbuhan ekonomi. Beberapa negara yang sudah berhasil mengembangkannya, yakni thailand (One Tambon One Product - OTOP), Taiwan (One Town One Product – OTOP), Malaysia (Satu Distrik Satu Industri – SDSI), Filipina (One Town One Product – OTOP), dan Kamboja (One Village One Product – OvOP). Pendekatan OvOP ini digunakan untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan kualitas produk UMKM spesifik, sekaligus mengurangi tingkat kemiskinan.
Selain itu, kemampuan yang diharapkan adalah mampu membaca peluang pasar untuk memperluas akses pasar seluas- luasnya ke pasar ekspor non tradisional (emerging market) seperti afrika, eropa timur, eropa tengah, dan amerika Latin dengan mengandalkan produk bernilai tambah berbasis kreativitas dan inovasi. Pemerintah saat ini, sedang mengembangkan industri kreatif menjadi sektor strategis berdaya saing global yang mampu berperan lebih besar dalam memacu pertumbuhan ekonomi, sekaligus penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor. Sekalipun masih relatif kecil dibandingkan kinerja ekspor ke pasar tradisional, namun kinerja ekspor ke negara- negara non tradisional memiliki potensi pertumbuhan yang lumayan. namun, perlu juga mengantisipasi para pesaing baru dari berbagai negara, termasuk China yang juga ikut meramaikan persaingan dengan melakukan upaya penetrasi menyasar ke pasar ekspor non tradisional.
Kurangnya pengetahuan perdagangan dan pemasaran ekspor sebagian kalangan eksportir mengenai potensi pasar non
tradisional termasuk aspek legal hukum di pasar tujuan ekspor, telah menjadikan sikap pesimistis dan kurang berminatnya untuk menjadikan kawasan pasar non tradisional sebagai pasar tujuan.
Sektor pendidikan dan media dinilai berperan penting dalam upaya lebih mempromosikan potensi tersebut. demikian juga, upaya berkelanjutan peningkatan capacity building dalam bentuk pendidikan, pelatihan, dan pengembangan serta kemampuan teknologi informasi. Strategi perdagangan dan pemasaran ekspor yang memadai diharapkan dapat menembus pasar global, baik pasar tradisional maupun non-tradisional. Berdasarkan teori product life cycle, komoditas ekspor yang telah mencapai usia dewasa di pasar ekspor tradisional dapat pula diekspor ke pasar ekspor non-tradisional yang penetrasi produknya masih sangat kecil.
II. Membangun Aksesibilitas
Bali sebagai suatu destinasi pariwisata yang cukup dikenal hingga ke mancanegara, telah terbukti membawa banyak devisa melalui invisible export. ada banyak hubungan saling menguntungkan, antara pariwisata dan perdagangan. Semakin banyak kunjungan wisatawan ke suatu destinasi pariwisata, semakin meningkat pula pendapatan destinasi tersebut.
Keuntungan tersebut, bersumber dari akomodasi, atraksi wisata, kuliner, angkutan wisata, produk kerajinan, termasuk produk- produk agraris lainnya. Selain itu, Bali juga banyak menghasilkan produk unggulan berorientasi ekspor. Produk Bali lebih mudah untuk dipasarkan ke luar negeri, karena kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dapat berpeluang bagi mereka untuk dapat melakukan negosiasi langsung guna membeli produk berkeunggulan kompetitif untuk kemudian dijual kembali ke negaranya.
Peluang tersebut dapat diperoleh dari berbagai event dengan memanfaatkan sarana promosi yang paling mudah, murah, dan cepat, yakni word of mouth terhadap produk-
produk lokal berorientasi ekspor. dengan demikian, maka tidak mengherankan jika produk kerajinan yang merupakan salah satu produk andalan Bali, mendominasi seluruh kegiatan ekspor produk kerajinan dari Indonesia. Bali, bukan mengandalkan hanya pada sektor pariwisata saja, melainkan juga kekayaan alam seperti perikanan dan udang yang menjadi andalan ekspor dari Bali dan komoditas agraris yang telah berhasil di ekspor ke manca negara. termasuk juga perabotan, tanaman hias, pakaian jadi, barang rajutan, barang hasil anyaman, barang dari kulit, di mana volume ekspornya selalu meningkat setiap tahunnya.
Mengakses pasar ekspor non tradisional bukan berarti tanpa tantangan. Kerjasama perdagangan dengan pasar ekspor non tradisional terkendala oleh belum adanya kerjasama dengan perbankan lokal yang akan menangani masalah pembayaran ekspor dan impor, serta terkendala transportasi. Sekalipun demikian, pemerintah perlu segera melakukan reorientasi pasar ekspor dengan membangun sinergi antar-stakeholder. Potensi pasar ekspor non tradisional merupakan alternatif penyelamatan kinerja ekspor dari Bali. Kinerja ekspor Bali dalam setahun terakhir ini sudah mulai mengalami penurunan, di mana sejak kuartal I-2014, setelah sebelumnya kinerja ekspor terus mengalami peningkatan sekalipun masih kecil pasca krisis global.
Kondisi perekonomian global yang hingga kini masih diliputi ketidakpastian menjadi salah satu penyebab turunnya kinerja ekspor, selain karena belum membaiknya harga komoditas dan produk ekspor Bali di pasar internasional.
tantangan lainnya adalah daya saing industri tampaknya belum mampu bersaing di pasar ekspor, karena masih dibebani tingginya biaya produksi. Adanya inefisiensi pada perekonomian, serta kelemahan infrastruktur, logistik dan biaya transportasi yang mahal, daya saing, harga dan waktu penyerahan, saluran distribusi di pasar tujuan ekspor, serta birokrasi yang berbelit- belit mengakibatkan biaya operasional tinggi yang membuat penurunan kinerja. Satu-satunya faktor yang menjadi keunggulan
hanyalah keberadaan tenaga kerja yang murah dalam jumlah banyak, namun produktivitasnya tergolong rendah di kawasan asia tenggara. Belum lagi, saat ini masih saja ada gejolak buruh terkait dengan upah minimum.
tantangan terberat produk ekspor Bali, juga disebabkan faktor di dalam negeri, diantaranya pembenahan sektor pendukung industri dan pertanian seperti kesiapan energi, kualitas tenaga kerja, sistem perbankan baik dari segi suku bunga pinjaman maupun jumlahnya, agar dapat mendorong pertumbuhan kinerja produk ekspor. Selanjutnya, perlu memperbaiki sistem logistik nasional yang memungkinkan pergerakan barang, modal atau investasi, dan tenaga kerja agar semakin efisien di berbagai sektor. Kemudian, peningkatan pengawasan di batas perdagangan Indonesia sehingga dapat menghalau serbuan produk illegal. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah peningkatan pengamanan pasar diantaranya dengan penerapan Standar nasional Indonesia (SnI) yang didukung kesiapan, baik infrastruktur maupun sumberdaya manusia yang kompeten.
demikian juga, perlu bantuan berupa program pembinaan dan peningkatan mutu produk dalam negeri berbasis kreativitas dan inovasi, yang dapat mengungguli kualitas produk luar negeri.
III. Peningkatan Daya Saing Melalui Kreativitas dan Inovasi Perdagangan luar negeri pada era globalisasi merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dielakkan, karena tanpa itu suatu negara tidak akan mampu untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Perdagangan luar negeri berbasis daya saing merupakan suatu sarana dan stimulator penting bagi pertumbuhan ekonomi.
Konsep daya saing yang biasanya diaplikasikan para eksportir adalah berbasis pada dua perspektif ekonomi, yakni perspektif ekonomi makro dan ekonomi mikro. Pada perspektif ekonomi makro, kegiatan ekspor memungkinkan eksportir memperoleh keunggulan absolut yang dapat meningkatkan ekonomi nasional menjadi lebih baik. Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar
cadangan valuta asing, menyediakan lapangan kerja, serta menciptakan backward dan forward linkages yang pada gilirannya dapat meningkatkan standar hidup. Kemudian, berdasarkan perspektif ekonomi mikro, kegiatan ekspor memungkinkan eksportir memperoleh keunggulan bersaing.
Pengembangan teori Keunggulan absolut dari adam Smith mengemukakan bahwa setiap negara akan melakukan spesialisasi berdasarkan prinsip lebih efisien daripada negara lainnya. Sementara itu, teori Keunggulam Komparatif dari Mill yang kemudian dikembangkan oleh david Ricardo mengemukakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Kemudian, teori yang lebih modern tentang perdagangan internasional menurut Hecksher dan Ohlin yang disempurnakan oleh Samuelson adalah berbasis pada faktor proporsi yang mengasumsikan bahwa perbedaan dalam opportunity cost suatu negara dengan negara lain karena adanya perbedaan faktor produksi yang dimiliki. teori ini menyatakan bahwa suatu negara akan mengekspor barang-barang yang lebih intensif dalam faktor-faktor yang berlebihan. Selanjutnya, teori Keunggulam Kompetitif yang diprakarsai oleh Michael Porter menyatakan bahwa tersedianya peranan sumberdaya dan melihat lebih jauh yang mempengaruhi daya saing pada produk ekspor yang berbeda.
Peningkatan daya saing produk ekspor dapat tercapai apabila selalu berpikir dan bertindak kreatif secara berkelanjutan untuk melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang lama namun dilakukan dengan metode yang baru dalam menghadapi peluang. Kreativitas (daya cipta) memiliki kemampuan untuk mengembangkan ide baru dari ide-ide terdahulu, baik terhadap suatu produk maupun proses yang bermanfaat, benar, tepat, dan bernilai. Memahami kreativitas akan memberikan dasar yang kuat untuk menciptakan sesuatu yang baru (to create or to innovate). Kreativitas merupakan suatu topik yang relevan tidak
hanya bagi pelaku ekspor yang baru memulai, melainkan juga bagi pelaku ekspor yang sudah berpengalaman.
Inovasi diartikan sebagai proses atau hasil pengembangan ide, praktik, atau objek yang dianggap baru, bisa berupa produk baru, pelayanan baru, atau metode baru oleh seseorang atau unit pengguna lainnya. Penciptaan iklim inovasi dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam memanfaatkan peluang. Kreativitas dan inovasi berbasis pendekatan partisipatif masyarakat setempat menjadi unsur terpenting dalam meningkatkan daya saing. Inovasi dibedakan berdasarkan atas dasar kebutuhan untuk mencapainya. Untuk memperoleh penemuan baru dibutuhkan kreativitas, sedangkan inovasi diperoleh melalui perencanaan yang didorong oleh pergeseran pasar berupa penyempurnaan produk, produksi, dan distribusi. Untuk menghadapi era globalisasi, diperlukan suatu kreativitas dan inovasi yang baru untuk mengembangkan suatu ide yang cemerlang. dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa inovasi berdampak positif terhadap kinerja produk ekspor. Inovasi, baik dalam bentuk produk, proses produksi, maupun pemasaran, dapat meningkatkan kecenderungan yang lebih besar untuk diterima di pasar tujuan ekspor. negara pengekspor produk inovatif yang memiliki daya tembus ke pasar tujuan ekspor dapat memperoleh keunggulan sebagai perintis (first-mover advantage).
Inovasi menjadi sangat penting karena terdapat beberapa alasan, diantaranya teknologi berubah sangat cepat seiring adanya produk baru, proses baru, layanan baru, dan ini dapat memotivasi untuk bersaing untuk sukses. Selain itu, yang harus dilakukan adalah menyesuaikan diri dengan inovasi teknologi baru. di samping itu, efek perubahan lingkungan terhadap siklus hidup produk semakin pendek, yang artinya bahwa produk atau layanan lama harus digantikan dengan yang baru dalam waktu cepat, dan ini bisa terjadi karena ada pemikiran kreatif yang menimbulkan inovasi.
Konsumen saat ini lebih pintar dan menuntut pemenuhan kebutuhan dengan harapan lebih tinggi. Harapan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut biasanya dalam hal kualitas, pembaruan, dan harga. Oleh karena itu, keahlian berinovasi dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan konsumen sekaligus mempertahankan konsumen sebagai pelanggan. Berdasarkan fenomena pasar dan teknologi yang berubah sangat cepat, ide yang bagus dapat semakin mudah ditiru, dan ini membutuhkan metode penggunaan produk, proses yang baru dan lebih baik, serta layanan yang lebih cepat secara kontinyu. Inovasi dapat menghasilkan pertumbuhan lebih cepat, meningkatkan pangsa pasar, dan menciptakan posisi korporat yang lebih baik.
III. Strategi Peningkatan Kinerja Produk Ekspor
Pasar non tradisional sesungguhnya merupakan peluang yang masih dapat memberikan harapan, namun sekaligus juga menjadi tantangan bagi industri. Potensi pasar ekspor non tradisional dinilai cukup besar untuk mampu menyelamatkan kinerja ekspor. Kinerja ekspor merupakan sebagai cerminan tingkat keberhasilan suatu usaha. Untuk mengatasi turunnya kinerja ekspor sebagai akibat tekanan dari pasar di negara-negara tradisional, berbagai strategi perlu dijalankan pemerintah, mulai dari mendorong peningkatan nilai tambah (added value) sehingga ekspor Indonesia tidak melulu didominasi oleh barang mentah, melainkan sampai dengan mencari negara tujuan ekspor baru yang potensial, yang belum digarap secara serius. Selama ini, terlalu fokus menggarap pasar ekspor tradisional, padahal pasar ekspor non tradisional juga memiliki potensi. Sepanjang tahun 2014, tercatat nilai ekspor 10 komoditas utama Bali ke negara- negara tradisional turun sebesar 4,58%, sementara itu impor juga mengalami penurunan sebesar 15,08%. Ini menunjukkan kinerja ekspor mengalami peningkatan melebihi impor Bali,
Saat ini, kontribusi ekspor ke pasar ekspor tradisional memang masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasar non
0
tradisional. namun, dengan kondisi negara-negara tradisional yang masih dalam resesi, dan semakin menguatnya kinerja perekonomian negara non tradisional maka semakin optimistis ekspor ke pasar ekspor non tradisional akan tumbuh semakin kuat.
negara-negara tersebut menjadi sebagai pasar yang potensial karena bisa dijadikan basis untuk mendistribusikan produk ke negara-negara afrika, eropa timur, eropa tengah, dan amerika Latin. Untuk itu, segera memetakan masing-masing pasar non tradisional secara akurat, mengidentifikasi permasalahan secara jelas, dan menyusun strategi yang tepat untuk meningkatkan penguatan daya saing ekspor. Penguatan daya saing internasional meliputi isu domestik yang meliputi pembenahan infrastruktur dan energi, pemberian insentif terhadap pajak dan non pajak lainnya, perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga dengan jumlah besar, pembenahan sistem logistik, perbaikan pelayanan publik, penyederhanaan peraturan, dan peningkatan kapasitas ketenagakerjaan. Untuk penguatan kinerja produk ekspor dapat dilakukan melalui pengoptimalan peluang pasar non tradisional, penguatan peran perwakilan luar negeri, promosi pariwisata perdagangan dan investasi, penanggulangan masalah dan kasus ekspor, dan upaya serius mendukung pembiayaan ekspor.
IV. Simpulan
Saat ini kontribusi produk ekspor ke pasar ekspor tradisional memang masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor ke pasar ekspor non tradisional. namun, dengan kondisi negara-negara tradisional yang masih dalam resesi, dan semakin menguatnya kinerja perekonomian negara non tradisional, menjadi cukup optimis mengakses ke pasar ekspor non tradisional sehingga dapat membantu untuk meningkatkan kinerja produk ekspor. dengan demikian, maka perlu upaya mendukung saling menguntungkan berbasis kreativitas dan inovasi para pemangku kepentingan (stakeholder) dengan mengutamakan kepentingan
bersama. di samping itu, perlu terobosan untuk mengembangkan produk ekspor berbasis input lokal agar bisa mengefisienkan penggunaan devisa yang berorientasi pertumbuhan interen untuk mendorong pertumbuhan ekspor (internally generated export hypothesis). dengan demikian, dalam jangka panjang pendekatan pemberdayaan dan pengembangan sumberdaya ekonomi (resources based strategy), sesuai ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah maka diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah (added value) sumberdaya ekonomi, sekaligus menciptakan kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat sehingga dapat berimplikasi positif terhadap kemakmuran masyarakat.
Berdasarkan simpulan tersebut maka direkomendasikan kepada pemerintah untuk segera menggali pemikiran dan pandangan dari berbagai kalangan, baik pemerintah sendiri, akademisi, peneliti, pelaku eksportir, maupun media terkait untuk menyusun strategi jitu dalam meningkatkan kinerja produk ekspor. Selanjutnya, direkomendasikan juga untuk memanfaatkan platform perjanjian kerjasama secara optimal dengan negara-negara pasar non tradisional, baik secara bilateral maupun multilateral, termasuk menggerakkan secara langsung pelaku eksportir yang ada, melalui berbagai kebijakan fiskal dan moneter serta penyediaan infrastruktur yang benar-benar dapat merangsang tumbuhnya kegiatan investasi dan perdagangan.
Program kerja sama tersebut dapat dijadikan sebagai pintu masuk (gateway) untuk penetrasi di pasar non tradisional, sekaligus menjadi penghubung (hub) untuk menjangkau negara-negara disekitarnya sehingga biaya distribusi menjadi lebih efisien.
Daftar Pustaka
Anonim, 2014. Berita Resmi Statistik: Perkembangan Ekspor dan Impor, Periode Juli 2011 sampai dengan Juli 2014.
denpasar: BPS Provinsi Bali
anonim. 2009. Peran Kreatif dan Inovatif. http://study microfinance.blogspot.com/11/ optimalisasi-customer- based-di=bri-yang. htm1008
dirjen Pen Kementerian Perdagangan R.I. 2013. Warta Ekspor:
Peluang dan Tantangan Ekspor ke Negara-negara Non Tradisional. Remarkable Indonesia
Griffin Ricky W., 2006. Bisnis Internasional, Jilid 1 dan 2 (Ed. 4), Jakarta: Indeks
Hadiyati, ernani. 2011. Kreativitas dan Inovasi Berpengaruh Terhadap Kewiusahaan Usaha Kecil. Malang: Fakultas ekonomi Universitas Gajayana.
Keegen, Warren J. 1999. Global Marketing Management, Sixth edition. new york Prentice Hall.
Pohan, Hazairini. 2005. Keberlanjutan Strategi Pemanfaatan Peluang Pasar-pasar Non Tradisional di Kawasan Eropa Tengah dan Timur. departemen Luar negeri R.I.
Porter, Michael. e. 1990. The Competitive Advantage of Nation.
London. the Macmillan Press Ltd.
Makmur dan thahier, Rohana. 2012. Inovasi & Kreativitas Manusia dalam Administrasi dan Manajemen. Bandung : Aditama
Maryanti, Sri. 2011. Gerakan One Village One Product (OVOP):
Gerakan Satu Nagari Satu Produk. Jakarta : download tanggal 28 Juli 2017.