• Tidak ada hasil yang ditemukan

III Tindak Lanjut Rekomendasi DPRD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "III Tindak Lanjut Rekomendasi DPRD"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

3.3 Tindak Lanjut Rekomendasi DPRD

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2019 tentang Laporan dan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2019, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Tengah telah menyampaikan Keputusan DPRD Provinsi Jawa Tengah Nomor: 19 Tahun 2021 tentang Rekomendasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Tengah atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Tengah Akhir Tahun Anggaran 2020 kepada Gubernur Jawa Tengah. Selanjutnya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan berbagai tindakan dan langkah strategis guna menindaklanjuti rekomendasi dimaksud.

Rekomendasi yang diberikan DPRD Provinsi Jawa Tengah tersebut, terdiri dari Rekomendasi Umum dan Rekomendasi Khusus/Urusan. Adapun secara rinci adalah sebagai berikut:

3.3.1 Rekomendasi Umum

A. Dokumen LKPJ dapat menggambarkan capaian kinerja dibandingkan dengan akhir RPJMD 2022.

Dalam dokumen LKPJ Tahun Anggaran 2021 pada Bab III telah tertuang substansi terkait bagaimana tingkat ketercapaian kinerja tahunan terhadap target kinerja akhir RPJMD meliputi:

1. Kinerja Tujuan dan Sasaran Daerah 2. Kinerja IKU Perangkat Daerah 3. Kinerja program setiap urusan

Uraian tingkat ketercapaian terhadap akhir RPJMD untuk kinerja Tujuan dan Sasaran Daerah, serta IKU Perangkat Daerah dijabarkan dalam Bab III Prolog, sedangkan kinerja program dijabarkan dalam Bab III pada setiap urusan.

B. Apresiasi atas Upaya dan kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam penangangan pandemic Covid 19. Untuk itu dalam LKPJ TA 2021 agar dimuat mulai dari perencanaan kebijakannya, hingga realisasi anggaran dana refocusing pada aspek Penanganan Kesehatan, Penanganan Dampak Ekonomi/Jaring Pengaman Ekonomi dan Penyediaan Social Safety Net/Jaring Pengaman Sosial, dan dana yang telah dikeluarkan agar seluruhnya terlaporkan dalam LKPJ.

Dalam dokumen LKPJ TA 2021 telah ditambahkan penjelasan yang lebih

rinci terkait arah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, perencanaan

kebijakan hingga realisasi anggaran dana refocusing pada aspek Penanganan

Kesehatan, Penanganan Dampak Ekonomi/Jaring Pengaman Ekonomi dan

(2)

Penyediaan Sosial Safety Net/Jaring Pengaman Sosial beserta alokasi anggaran dan realisasinya (pada subbab belanja daerah).

Dalam Bab II diuraikan penggunaan alokasi anggaran BTT (Belanja Tidak Terduga) sebesar Rp73.832.100.000,- yang digunakan untuk Bantuan Sosial masyarakat yang terdampak Pandemi Covid 19, dan pada Bab III pada masing- masing Urusan ditambahakan uraian Kebijakan Penanganan Covid-19 di Jawa Tengah, khusus OPD yang memiliki tugas dalam penanganan Covid-19, sedangkan Uraian penanganan Pandemi Covid 19 dilaporkan dan dibahas secara khusus dalam suplemen dokumen LKPJ Gubernur Tahun 2021.

C. Dalam laporan LKPJ TA 2020, disampaikan bahwa sebagian besar indikator tercapai, meskipun ada refocusing anggaran sebesar Rp.1.814.243.841.000,-. Untuk itu ke depan agar ada kajian guna mempertajam penggunaan anggaran refocusing tepat sasaran.

Sebagai tindak lanjut PMK Nomor: 17/PMK.07/2021 penggunaan anggaran APBD TA 2021 difokuskan untuk pendanaan dukungan pemulihan ekonomi daerah serta dukungan pendanaan belanja kesehatan yang dikonsentrasikan untuk penanganan Covid 19, dukungan vaksinasi dan insentif tenaga kesehatan serta belanja prioritas lainnya. Refocusing anggaran TA 2021 dilakukan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta telah sesuai dengan ketentuan terkait pengelolaan anggaran refocusing.

D. Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi sektor perekonomian penyumbang PDRB mana saja yang sangat terpuruk, terpuruk dan normal, sehingga kebijakan Pemerintah Daerah akan lebih tepat sasaran untuk menyelamatkan sektor yang sangat terpuruk, pemulihan sektor yang terpuruk dan akselerasi sektor yang masih normal, agar pemulihan perekonomian segera recovery dan bangkit kembali.

Pandemi Covid-19 menyebabkan perekonomian Jawa Tengah terpuruk.

Pada Tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mengalami kontraksi - 2,65%. Sektor yang mengalami penurunan cukup besar yaitu sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar -33,15%, Jasa Lainnya -8,01%, serta Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum terkontraksi -7,98%. Jika dilihat dari struktur perekonomian Jawa Tengah dimana sektor Industri Pengolahan menyumbang 34,52% perekonomian Jawa Tengah juga mengalami kontraksi sebesar -3,74%.

Hasil identifikasi sektor perekonomian Jawa Tengah yang terdampak pandemi Covid 19, adalah sebagai berikut :

1. Sektor Sangat Terpuruk

a. Transportasi dan Pergudangan

b. Jasa Lainnya

(3)

c. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum d. Jasa Perusahaan

e. Perdagangan Besar dan Eceran 2. Sektor Terpuruk

a. Konstruksi;

b. Industri Pengolahan;

c. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial;

d. Pertambangan dan Penggalian;

e. Jasa Pendidikan;

f. Real Estate.

3. Sektor Normal

a. Pengadaan Listrik dan Gas;

b. Jasa Keuangan dan Asuransi;

c. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah;

d. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan;

e. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial;

f. Informasi dan Komunikasi.

Merujuk pada data yang ada, direncanakan untuk memberikan stimulan utamanya pada sektor-sektor yang mempunyai “ multiplier effect ” terpanjang serta kondisinya relatif mudah untuk bangkit kembali. Adapun sektor tersebut diantaranya Penyediaan Akomodasi, Makan dan Minum, Industri Pengolahan, Transportasi dan Pergudangan serta Perdagangan Besar dan Eceran.

Mendasarkan pada hasil pelaksanaan kegiatan tahun 2020 telah dilakukan intervensi pada sektor-sektor tersebut dan lebih lanjut terkait kinerja upaya pemulihan dapat dilihat dari perkembangan nilai pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2021 yaitu 5,66%. Pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh 85,43%. Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 20,70% dan Jasa Perusahaan tumbuh 14,35%. Sementara itu sektor Industri Pengolahan tumbuh 2,94% dan Perdagangan Besar dan Eceran tumbuh 12,68%.

Strategi pemulihan dampak pandemi Covid-19 tersebut telah tercantum

dalam RKPD 2021 Perubahan dan RKPD 2022. Dimana dalam RKPD 2021

Perubahan pemulihan ekonomi diutamakan untuk sektor industri, perdagangan

dan pariwisata yaitu pembinaan dan pendamingan bagi IKM agar bisa beradaptasi

dengan teknologi karena terbatasnya mobilitas, kemudahan pembiayaan bagi IKM

yaitu dengan kemudahan Kredit Usaha Rakyat, pemulihan sektor pariwisata secara

bertahap dengan fokus pada wisatawan nusantara serta adaptasi destinasi wisata

terhadap pandemi, serta peningkatan permintaan ekspor. Pada tahun 2022

diharapkan keadaan perekonomian Jawa Tengah telah berangsur pulih, sektor-

sektor yang sebelumnya mengalami kontraksi menunjukan perbaikan akibat dari

percepatan vaksinasi sehingga mobilitas ekonomi tinggi.

(4)

Adapun tindak lanjut dalam upaya pemulihan ekonomi terutama pada sektor-sektor yang mengalami kontraksi sebagai berikut:

1. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Pariwisata)

a. BLT bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif terdampak pandemi Covid- 19;

b. Peningkatan kualitas desa wisata dan pengembangan desa lainnya sebagai eco socio tourism berbasis masyarakat dan lingkungan;

c. Peningkatan sarana prasarana destinasi wisata dan ekonomi kreatif;

d. Mendorong, mendukung dan memadukan pengembangan destinasi prioritas di Jateng termasuk KSPN Borobudur-Yogyakarta, Solo-Sangiran, DPP Nusakambangan-Baturaden, Semarang-Karimunjawa, Borobudur-Dieng, Tegal-Pekalongan dan Rembang-Blora;

e. Program peningkatan daya tarik destinasi pariwisata;

f. Program pemasaran pariwisata;

g. Program pengembangan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif.

2. Industri Pengolahan (Perindustrian)

a. Pelatihan SDM ndustri Tekstil dan alas kaki serta bimtek dan pendampingan wirausaha baru;

b. Memperkuat sinergitas dan jejaring kerjasama antar stakeholder melalui link and match industri hulu dan hilir, peningkatan kapabilitas dan kompetensi SDM industri melalui SKKNI, penguatan daya saing industri dengan fasiltiasi sertifikasi halal, SNI, HACCP, GMP dan bantuan sarana produksi serta peningkatan akses pasar, penyediaan informasi industri berbasis tekonologi informasi (SIIDa Jateng);

c. Optimalisasi peran material center logam di kabupaten Tegal untuk membantu menyelesaikan permasalahan pemenuhan bahan baku logam;

d. Bantuan hibah fasilitasi IKM bidang industri non agro;

e. Kajian rantai pasok insutri tekstil untuk memetakan dan melihat potensi substitusi impor dan kemampuan industri penyedia bahan baku tekstil;

f. Fasiltiasi pendampingan SIINAS kepada kab/kota;

g. Fasilitasi pendampingan dan monitoring IOMKI untuk menjamin aktivitas sektor esensial selama masa pandemi covid-19 sehingga mengurangi resiko PHK;

h. Fasilitasi bantuan bahan baku industri agro bagi 1.750 IKM;

i. Bantuan material bagi industri logam di klaten (392,387 jt).

3. Perdagangan Besar dan Eceran (Perdagangan)

a. Kemudahan layanan dibidang ekspor melalui penerbitan SKA secara one day service, sistem Affixed Signature and Stamp (ASnS), e-form D, e-form AK, e-form E dan Rex System untuk ekspor ke Uni Eropa, dan Australia;

b. Workshop pengamanan Perdagangan (Safeguard);

(5)

c. Sosialisasi kebijakan ekspor dan impor bahan baku produk ekspor;

d. Merekomendasikan 20 perusahaan kepada pemerintah pusat agar difasilitasi terkait dengan sertifikasi keamanan pangan (HACCP dan ISO), Sertifikasi Kekayaan Intelektual;

e. Kerjasama dengan kementerian perdagangan dan mengadalan workshop pentingnya sertifikasi halal untuk ekspor, bimtek pendampingan sertifikasi merek dan desain industry;

f. Kerjasama dengan BBPPEI Kemendag tentang bimtek ekspor dan pemanfaatan Free Trad Agreement, bimtek ekspor bagi eksportir pemula;

g. Kerjasama dengan FTA Center melaksanakan Pra Export Coaching program untuk mempersiapkan dan mencari peserta potensial untuk difasilitasi pendampingan ECP 2022;

h. Promosi dagang dalam dan luar negeri melalui pameran TEI, dan pameran dalam negeri;

i. Melakukan Business Matching dengan perwakilan perdagangan indonesia dan calon buyer di malaysia dan negara lainnya, kegaitan perluasan networking promosi dan kerjasama melalui Business Matching;

j. Bimtek manajemen ekspor, forum pendampingan ekspor;

k. Dibukanya FTA Center.

E. Mendorong pemerintah daerah untuk optimalisasi dan percepatan kelancaran pelayanan vaksinasi bagi penyelenggara pemerintahan dan seluruh masyarakat Jawa Tengah utamanya terkait dengan rencana kebijakan pertemuan tatap muka pada sekolah. Terus menerapkan secara ketat kewajiban penerapan protokol kesehatan pada semua aktivitas pemerintah daerah dan masyarakat yang berpotensi besar terjadi penularan Covid-19. Peningkatan pelayanan kesehatan, kapasitas dan kualitas layanan Rumah Sakit.

1. Di urusan kesehatan, dalam rangka optimalisasi dan percepatan kelancaran pelayanan vaksinasi di Jawa Tengah dan upaya Peningkatan pelayanan kesehatan, kapasitas dan kualitas layanan Rumah Sakit telah dilakukan di UPT/Balai Kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan 7 RSUD/RSJD Provinsi Jawa Tengah, yaitu antara lain :

a. Melaksanakan sentra-sentra vaksin bersama mitra, TNI, POLRI, organisasi swasta, Perguruan Tinggi, UPT vertikal; dan RSUD/RSJD Provinsi Jawa Tengah

b. Melaksanakan vaksinasi masal di Gedung-gedung pemerintahan, GOR, mall, 7 RSUD/RSJD Jawa Tengah, MAJT, dan sentra vaksin Grhadhika.

c. Mendekatkan pelayanan vaksinasi ke desa2 dengan melibatkan lintas sektor

dan pihak swasta, untuk menjangkau masyarakat yang belum vaksinasi dan

membantu proses edukasi/sosialisasi vaksinasi;

(6)

d. Mendekatkan Pelayanan vaksinasi dengan menggunakan mobile vaccine yang bekerjasama dengan lintas sektor dan swasta;

e. Melibatkan semua bidan swasta dalam pelayanan vaksinasi covid;

f. Pelayanan dari rumah ke rumah yang dilaksanakan bidan bersama kader;

g. Mengoptimalkan Peran Balkesmas UPT Dinas Kesehatan Provinsi untuk membantu percepatan di wilayah kerjanya masing-masing;

h. Pengadaan (pemenuhan) alat kesehatan untuk mendukung pelaksanaan dan percepatan vaksin;

i. Peningkatan layanan kesehatan, kapasitas dan kualitas layanan rumah sakit j. Pengembangan rekam medik elektronik;

k. Inovasi untuk mempermudah pelayanan : pendaftaran online, SIAP;

l. Pelaksanaan promosi/pemberian informasi dan edukasi kesehatan baik internal kepada pasien, keluarga, dan karyawan maupun eksternal (masyarakat) tentang pentingnya PHBS untuk mencegah penularan covid- 19, melalui audio sentral, TV kabel, video, banner dan spanduk, leaflet, flyer dan lembar balik, live streaming (radio, tv, media sosial, podcast, dsb).

2. Di urusan pendidikan, pemerintah mulai menerapkan kebijakan Pertemuan Tatap Muka pada proses belajar mengajar di sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut, telah dikeluarkan berapa ketentuan di Bidang Pendidikan sebagai berikut :

a. Adanya kebijakan dengan mengizinkan dana BOS dan BOP untuk pemenuhan sarana protokol Kesehatan di sekolah;

b. Menyusun pedoman pembelajaran jarak jauh, dan pedoman PTM;

c. Melakukan simulasi dan uji coba PTM pada beberapa Satuan Pendidik secara bertahap dengan melibatkan semua stakeholder terkait dan Gugus Covid.

d. Memperluas cakupan dan sasaran PTM sesuai kondisi kedaruratan;

e. Memastikan guru dan tendik telah memperoleh vaksinasi;

f. Mendorong pemenuhan model pembelajaran yg terintegrasi dengan dukungan TIK.

3. Di urusan perhubungan, pemerintah menetapkan Protokol Kesehatan dan pembatasan kegiatan masyarakat sektor transportasi guna pencegahan dan penularan Covid-19 di Sarana dan Prasarana Perhubungan baik di armada BRT Trans Jateng maupun di Terminal Type B di Jawa Tengah, dengan Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 443.5/0000430 tanggal 8 Januari 2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Sektor Transportasi Darat dalam rangka mendukung Pengendalian Penyebaran Covid-19 di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu dilakukan monitoring Pembatasan Kegiatan Masyarakat sektor transportasi di wilayah Balai PSPP se-Jawa Tengah.

4. Di urusan penegakan disiplin protokol kesehatan, telah dilaksanakan

operasi gabungan penegakan terhadap disiplin penerapan protokol kesehatan

se Jawa Tengah oleh Satpol PP Provinsi Jawa Tengah dengan melibatkan unsur

(7)

dari TNI, Polri, Linmas serta Satpol PP Kabupaten/Kota, diharapkan mampu mendorong pemerintah daerah dalam rangka mencegah dan/atau meminimalisir terjadinya lonjakan penularan Covid-19 di Jawa Tengah.

a. Sejak Tahun 2020, operasi gabungan penegakan terhadap disiplin penerapan protokol kesehatan telah dilakukan sebanyak 181 kali di seluruh kabupaten/kotas se Jawa Tengah, mulai Bulan September 2020. Disamping itu telah dilakukan sosialisasi, edukasi, pembinaan, pengawasan dan penindakan) dan melaporkan setiap hari pelaksanaan kegiatan melalui website: corona.jatengprov.go.id dan penyuluhan di beberapa SMA/SMK tentang penerapan Protokol Kesehatan melalui kegiatan Satpol PP Go To School.

b. Pada TA 2021, Operasi gabungan penegakan protokol kesehatan telah dilakukan sebanyak 135 kali di seluruh Kab/Kota se Jawa Tengah mulai bulan Agustus s.d November 2021. Kegiatan tersebut dilaksanakan ditempat yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Bagi masyarakat yang melanggar diberikan sanksi teguran, administrasi dan denda sesuai dengan kebijakan masing-masing daerah. Pelaporan harian pelaksanaan kegiatan operasi melalui website : ppkm.satpolpp.jatengprov.go.id

c. Satpol PP Prov. Jateng juga mengambil sample di beberapa SMA/SMK di Jawa Tengah terkait penerapan protokol kesehatan dalam proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mengadakan dialog interaktif dengan peserta Satpol PP, Dinas Pendidikan Kab/Kota dan OPD Prov. Jateng dengan agenda: “Sinergitas Pengawasan PTM SMA/SMK di Jawa Tengah”

d. Satpol PP Prov. Jateng melakukan kegiatan Satpol PP Go To School ke beberapa SMK (Negeri/Swasta) melalui daring tentang sosialisasi pentingnya vaksinasi Covid-19 dan penerapan protokol kesehatan dengan melibatkan Anggota DPRD Prov. Jateng dan Dinas Kesehatan Prov. Jateng, Peserta : Kepala sekolah, Guru/karyawan dan Siswa.

F. Mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengoptimalkan kinerjanya agar mendapatkan anggaran yang bersumber dari Dana Insentif Daerah (DID). Sesuai amanat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyaluran Dan Penggunaan Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dan Dana Insentif Daerah Tahun Anggaran 2020 digunakan dalam rangka penanggulangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Terkait hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyelenggarakan rapat koordinasi bersama SKPD terkait dan Pemerintah Kabupatan/Kota, dengan menghadirkan Narasumber dari Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu RI.

Tujuan pemberian DID oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah adalah

untuk memberikan insentif/penghargaan kepada daerah atas kinerja pemerintah

daerah dalam perbaikan/pencapaian kinerja di bidang tata kelola keuangan

daerah, pelayanan umum pemerintahan, pelayanan dasar publik dan

(8)

kesejahteraan masyarakat. Adapun penilaiannya berdasarkan penilaian kinerja tahun sebelumnya dan kinerja tahun berjalan dengan memperhatikan kiriteria klaster fiscal daerah. Ada 3 kriteria penilaian kinerja yaitu:

1. Pemerintah daerah yang memiliki nilai kinerja di atas passing grade, atas penilaian peningkatan kinerja 2 tahun terakhir dan capaian kinerja tahun terakhir yang dihitung per klaster, yaitu

a. Kemandirian Daerah;

b. Angka Partisipasi Murni;

c. Peta Mutu Pendidikan;

d. Imunisasi lengkap;

e. Persalinan di faskes;

f. Akses sanitasi layak;

g. Pengelolaan air minum;

h. Tingkat Pengangguran Terbuka;

i. Penurunan Penduduk Miskin j. IPM;

k. EPPD;

l. SAKIP;

m. Pengelolaan Lingkungan Hidup n. Indeks Pencegahan Korupsi

2. Pemerintah daerah yang mendapatkan penghargaan/diusulkan dari Kementerian/Lembaga Negara:

a. Inovasi dan Penghargaan Pembangunan Daerah;

b. Kinerja PTSP dan PPB;

c. Pengendalian Inflasi Daerah.

3. Pemerintah daerah yang mendapatkan skor minimal 95 untuk penilaian atas interkoneksi SIKD yang meliputi registrasi, status koneksi agen SIKD, dan penyampaian data.

Dengan mengetahui indikator-indikator kinerja yang menjadi substansi penilaian, maka SKPD pengampu kinerja terkait perlu didukung secara intens dan sinergi mulai dari perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan kegiatan, sehingga akan menghasilkan kinerja daerah yang optimal, dapat dirasakan masyarakat dan mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Pusat yaitu dengan pemberian alokasi anggaran DID.

Pada TA. 2021 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menerima alokasi

DID sebesar Rp68.710.605.000,-. Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor

19/PMK.07/2020 Tanggal 16 Maret 2020, seluruhnya digunakan untuk

penanggulangan Covid 19, yaitu bidang Kesehatan sebesar Rp20.613.182.000,-

dan bidang Perlindungan Sosial sebesar Rp48.097.423.000.-.

(9)

G. Mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan dan mengakselerasi pemulihan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

1. Perumusan program dan kegiatan Perangkat Daerah yang berorientasi untuk penanggulangan kemiskinan dan mengurangi Tingkat Pengangguran Terbuka di Jawa Tengah.

a. Program kegiatan perangkat daerah untuk akselerasi pemulihan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan penganggulangan pengangguran terbuka meliputi integrasi perlindungan sosial dan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga prioritas, kewirausahaan, vokasi, perluasan kesempatan kerja, pengembangan potensi wilayah (pertanian dll) antara lain melalui :

- Mengurangi beban pengeluaran;

- Pemberdayaan untuk peningkatan pendapatan sesuai potensi dan sumber daya;

- Mengintensifkan pendampingan pada rumah tangga miskin.

b. Untuk mengurangi Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Tengah dan mendorong penciptaan lapangan kerja TA 2021 antara lain :

- Program pelatihan Kerja dan Produktivitas Tenaga kerja, diantaranya Pencari kerja yang mengikuti pelatihan kerja di bidang industri 220 orang, pelatihan di bidang pertanian 96 orang, pelatihan bidang jasa 160 orang, pelatihan untuk CPMI : 40 orang, Peserta Magang Dalam Negeri 150 orang , Peserta Magang Luar Negeri 150 orang, Sertifikasi Kompetensi untuk 300 orang, pelaku usaha yang mengikuti kegiatan peningkatan produktivitas (5S, TQC/TQM , SS) 115 orang tenaga kerja yang mengikuti pelatihan produktivitas 375 orang pelaku usaha yang dilakukan pemasaran tools produktivitas (dipasarkan kepada pelaku usaha) 140 orang.

- Program Penempatan Tenaga Kerja, diantaranya Calon Tenaga Kerja AKAD mengikuti OPP AKAD 125 orang; masyarakat yang berpartisipasi dalam pengurangan perusahaan dilakukan Job Canvassing dan analisis jabatan 40 persh; masyarakat memperoleh informasi peluang, mekanisme dan prosedur kerja 2300 orang; penempatan tenaga kerja melalui Bursa Kerja Online dan Job Fair 800 orang, TKI Purna dan tenaga kerja khusus (disabilitas, lansia, kel rentan) mengikuti kgt pengembangan sektor informal (Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia Purna Penempatan 40 orang) pengangguran melalui kegiatan Padat Karya 120 orang peserta yang mengikuti pembekalan/pemberdayaan dan pengembangan kewirausahaan 780 orang.

2. Meningkatkan kemampuan konsumsi masyarakat dengan memperluas bantuan

sosial yang tepat sasaran dan penciptaan lapangan kerja .

(10)

a. Strategi pemulihan ekonomi Jawa Tengah dalam RKPD 2021 Perubahan dan RKPD 2022 dilakukan dengan cara meningkatkan daya beli masyarakat dengan perluasan pemberian bantuan sosial; Melakukan pembinaan dan pendampingan dalam adaptasi teknologi dan digitalisasi baik dalam hal pelayanan maupun penjualan produk UMKM; memberikan kemudahan pembiayaan serta fleksibilitas program pembiayaan bagi usaha dan Industri kecil menengah dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat) agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristiknya, yaitu melalui program-program sebagai berikut:

1) Bantuan Sertifikasi Halal;

2) Pemberian Sembako Murah;

3) Fasilitasi Kelembagaan Koperasi Pondok Pesantren;

4) Bankeu Desa Wisata;

5) Perluasan kerja masyarakat miskin;

6) Pelatihan kerja industri;

7) Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja;

8) Penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.

Secara lebih detail akan diuraikan dalam Bab III sesuai dengan masing- masing urusan.

b. Guna memperluas bantuan sosial yang tepat sasaran guna meningkatkan kempuan konsumsi masyarakat, dilakukan dengan :

1) Memperluas sasaran penerima bantuan sosial seperti KJS dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar, pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), termasuk jumlah KPM Penerima program PKH;

2) Bantuan sosial diberikan melalui Bansos KJS bagi 12.764 orang;

3) Monitoring dan Evaluasi sasaran penerima Bansos;

4) Meningkatkan kapasitas pendamping dalam pelaksanaan pendampingan bagi KPM.

c. Peningkatan komsumsi masyarakat petani dilakukan melalui kegiatan Optimaiisasi Pemanfaatan Pekarangan (OPP) yang difokuskan pada kelompok afinitas yang terdampak Covid-19 dan kelompok di daerah rawan pangan. Pada tahun 2021 telah diberikan bantuan/fasilitasi kelompok OPP sejumlah 130 Kelompok. Dan selanjutnya akan terus ditingkatkan jumlah kelompok penerima bantuan.

d. Untuk penciptaan lapangan kerja dengan dan kegiatan yang mendorong penciptaan lapangan kerja dari Disnakertrans Prov. Jateng, melalui : 1) Program pelatihan Kerja dan Produktivitas Tenaga kerja, diantaranya

Pencari kerja yang mengikuti pelatihan kerja di bidang industri 220

orang, pelatihan di bidang pertanian 96 orang, pelatihan bidang jasa 160

orang, pelatihan untuk CPMI : 40 orang, Peserta Magang Dalam Negeri

150 orang , Peserta Magang Luar Negeri 150 orang, Sertifikasi

Kompetensi untuk 300 orang, pelaku usaha yang mengikuti kegiatan

peningkatan produktivitas (5S, TQC/TQM , SS) 115 orang tenaga kerja

yang mengikuti pelatihan produktivitas 375 orang pelaku usaha yang

(11)

dilakukan pemasaran tools produktivitas (dipasarkan kepada pelaku usaha) 140 orang.

2) Program Penempatan Tenaga Kerja, diantaranya Calon Tenaga Kerja AKAD mengikuti OPP AKAD 125 orang; masyarakat yang berpartisipasi dalam pengurangan perusahaan dilakukan Job Canvassing dan analisis jabatan 40 persh; masyarakat memperoleh informasi peluang, mekanisme dan prosedur kerja 2300 orang; penempatan tenaga kerja melalui Bursa Kerja Online dan Job Fair 800 orang, TKI Purna dan tenaga kerja khusus (disabilitas, lansia, kel rentan) mengikuti kgt pengembangan sektor informal (Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia Purna Penempatan 40 orang) pengangguran melalui kegiatan Padat Karya 120 orang peserta yang mengikuti pembekalan/ pemberdayaan dan pengembangan kewirausahaan 780 orang.

3. Mempercepat realisasi konsumsi pemerintah dengan belanja APBD dengan mengutamakan sumber daya dan produk lokal agar produksi barang dan jasa masyarakat bergerak kembali.

a. Menggerakkan ekonomi masyarakat dengan megutamakan sumber daya dan produk local yang sempat terpuruk / terdampak pandemic Covid 19 dengan mendorong SKPD untuk berbelanja barang pemerintah dengan memprioritaskan industri mikro, kecil dan menengah dengan:

1) Mendorong pelaku usaha ekonomi mikro untuk mendaftar dan memanfaatkan aplikasi Mbizmarket (Blangkon) dalam setiap transaksi dengan Pemerintah. Per 30 Juni 2021 pada aplikasi Blangkon sudah terdaftar 241 Badan Usaha dan 338 Non Badan Usaha dengan total upload produk sebanyak 7.845 produk

2) Mendorong SKPD untuk berbelanja barang pemerintah dengan memprioritaskan produksi usaha mikro, kecil dan menengah. Hal ini diperkuat dengan diterbitkannya Surat Edaran Sekretaris Daerah Nomor 965/1108 tanggal 15 April 2021 tentang Pengadaan Langsung Secara Elektronik dan Penggunaan Belanja Langsung Toko Online (Blangkon) Jawa Tengah.

3) Tercatat transaksi belanja SKPD di sistem Blangkon per tanggal 30 Juni 2021 sebesar Rp. 728.330.406,-

4) Mendorong SKPD untuk melakukan pembelian barang pemerintah yang mempunyai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) lebih tinggi dari komponen luar negeri serta mendorong pembentukan Tim Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) di Jawa Tengah sebagai tindak lanjut SE Menteri Perindustrian No. 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri.

b. Percepatan konsumsi pemerintah dengan belanja APBD sesuai dengan Surat

Edaaran Pj. Sekretaris Daerah Jawa Tengah Nomor 500/0007067 tanggal 7

Mei 2021 tentang Percepatan Belanja APBD Tahun 2021. Sesuai dengan

amanat UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelibatan UMKM dalam Proses

(12)

Pengadaan Barang/Jasa, saat ini telah dilakukan pelatihan bagi 300 UMKM sektor makanan dan minuman. Saat ini, terdapat 116 UMKM yang aktif mengikuti proses pengadaan barang/jasa melalui aplikasi Blankon Jateng.

Pada tahun 2021 telah dilakukan sosialisasi pengadaan barang/jasa melalui Ruang Digital Online (RONDI) dalam rangka penyiapan UMKM sebanyak 300 UMKM bidang makanan dan minuman.

Sampai dengan tanggal 24 Juni 2021, telah terjadi 375 transaksi senilai Rp648.657.758.- melalui aplikasi SiBlangkon yang melibatkan UMKM dalam proses pengadaan barang/jasa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Tahun 2022 direncakan kegiatan yang mendukung percepatan realisasi konsumsi pemerintah dengan belanja APBD sebagai berikut:

a. Melakukan UKM Virtual Expo yang akan dilakukan beberapa sesi dengan produk yang akan dilakukan penjualan berbeda-beda. Dan produk Koperasi dan UMKM sebelum diikutkan UKM Virtual Expo akan dilakukan kurasi terlebih dahulu.

b. Keterlibatan UMKM dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah melalui Pelatihan Rondi kerjasama dengan Biro APBJ Prov. Jateng.

c. Bimbingan Teknis Pengembangan Kemasan Produk UMKM.

d. Kerjasama dengan Bank Indonesia untuk metode pembayaran melalui QRIS ( Quick Response Code Indonesian Standart ) sehingga pembayaran lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya melalui sosialisasi.

e. Rintisan kerjasama dengan OJK melalui Platform UMKM-Mu dan Telkomsel Platform 99% usahaku.

4. Melindungi sektor pertanian, perikanan, perkebunan untuk menjaga ketahanan dan keamanan pangan.

a. Untuk mendukung dan menjaga ketahanan dan keamanan pangan, dari sektor Pertanian dan Perkebunan telah dilakukan :

1) penggunaan benih padi bermutu dan bersertifikat seluas 4000 ha;

2) penggunaan benih jagung hibrida seluas 3200 ha;

3) integrated farming system jagung hibrida seluas 300 ha;

4) penggunaan pupuk organik untuk menambah kualitas lahan pertanian dan meningkatkan kualitas produksi;

5) penggunaan benih kacang hijau bermutu dan bersertifikat seluas 500 ha;

6) Fasilitasi bantuan kegiatan kawasan bawang merah, bawang putih, cabai, kentang, sayuran polybag, jahe, kencur, melati, sedap malam, anggrek, pisang, manggis dan manga;

7) Peningkatan produksi produktivitas tebu dengan penanaman dan intensifikasi tebu melalui kegiatan :

- Penyediaan Prasarana dan Sarana Pertanian (APBD) : Rawat ratoon

tebu seluas 1.500 ha;

(13)

- Pengembangan Tanaman semusim (APBN): Bongkar ratoon tebu seluas 2.678 ha dan Rawat ratoon tebu seluas 4.150 ha.

b. Untuk mendukung dan menjaga ketahanan dan keamanan pangan dari sektor Perikanan dan Kelautan dilaksanakan melalui :

Program Pengelolaan Perikanan Tangkap, yaitu :

1) Kegiatan Pengelolaan Penangkapan Ikan di Wilayah Laut Sampai Dengan 12 Mil melalui :

a) Bantuan alat penangkapan ikan ramah lingkungan diperuntukan kelompok nelayan kecil dengan rincian sebagai berikut :

 Bantuan Jaring Gillnet untuk 13 kelompok;

 Bantuan Alat Tangkap Bubu Kotak untuk 14 kelompok;

 Bantuan Jaring dan Mesin untuk 4 kelompok;

 Bantuan Rumah Ikan untuk 9 Kelompok;

 Bantuan Mesin Tempel untuk 9 Kelompok.

b) Program perlindungan kepada 20.000 Nelayan dengan premi sebesar @175.000. Nelayan Calon Penerima Bantuan Asuransi Nelayan Jawa Tengah adalah orang yang mata pencahariannya melakukan kegiatan penangkapan ikan.

c) Program Bantuan Operasional Penangkapan Ikan kepada 8.572 Nelayan berupa BBM Solar dan Premium.

2) Kegiatan Penetapan Lokasi Pembangunan serta Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Provinsi di 11 Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP).

Program Pengelolaan Perikanan Budidaya, yaitu : Kegiatan Pengelolaan Pembudidayaan Ikan di Laut melalui :

Bantuan Sarana dan Prasarana Budidaya Ikan yang diperuntukan untuk pembudidaya dengan rincian sebagai berikut :

a) Bantuan Sarpras Budidaya untuk 64 Kelompok;

b) Pengelolaan Irigasi Tambak untuk 4 Kelompok;

c) Bantuan Sarpras Minapadi untuk 3 Kelompok (33 Ha);

d) Pengembangan Kawasan Nila Salin untuk 9 Kelompok.

Program Pengelolaan Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, yaitu Pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau- pulau kecil, melalui : 1) Bantuan Sarana dan Prasarana Petambak Garam yang diperuntukan

untuk Petambak Garam dengan rincian sebagai berikut :

a) Bantuan Saluran Tersier untuk Irigasi Tambak Garam untuk 4 Kelompok;

b) Pembangunan Rumah Tunnel untuk 6 Kelompok;

c) Pembangunan Gudang Garam untuk 7 Kelompok;

d) Geosiolator untuk 7 Kelompok.

(14)

2) Bantuan Sarana dan Prasarana Perempuan dan Taruna Pesisir yang diperuntukan untuk bagi Petambak Garam dengan rincian sebagai berikut:

a) Bantuan Peralatan Usaha Perempuan Pesisir untuk 11 Kelompok b) Bantuan Peralatan Usaha Taruna Pesisir untuk 3 Kelompok

c. Untuk mendukung dan menjaga ketahanan dan keamanan pangan dari sektor Ketahanan Pangan dicapai melalui pemberdayaan masyarakat di daerah rawan pangan melalui kegiatan Desa Mandiri Pangan. Sedangkan keamanan pangan di Jawa Tengah dijaga melalui kegiatan pengawasan pangan segar asal tumbuhan sebekum peredaran (pre market) dan di peredaran (post market), sertifikasi pangan segar asal tumbuhan dan pengujian mutu pangan. Selain itu dilakukan koordinasi antar sector melalui Jejaring Keamanan Pangan Daerah (JKPD). Pada TA. 2021 telah terbentuk Desa Mandiri Pangan 40 Desa, dilakukan pengawasan terhadap 200 sampel, fasilitasi Sertifikasi Pangan sebanyak 63 sertifikat dan 10 kelompok serta pengujian terhadap 40 sampel.

5. Membangkitkan kembali pertumbuhan sektor Industri melalui Peningkatan mutu dan kualitas produk unggulan daerah, serta Peningkatan daya saing mutu, desain dan kemasan produk IKM.

a. Dalam upaya pemulihan pada sektor industri melalui peningkatan mutu dan kualitas produk unggulan daerah. Dalam dokumen perencanaan RKPD 2021 Perubahan dan RKPD 2022 terdapat beberapa strategi diantaranya yaitu melakukan Digitalisasi ekonomi dan keuangan, khusususnya UMKM, sektor pertanian, ekonomi kreatif dan pariwisata; pameran virtual UMKM;

Serta peningkatan daya saing mutu, desain dan kemasan produk IKM melalui:

- pelatihan peningkatan kualitas kemasan produk IKM;

- pelatihan animasi bagi startup digital;

- inkubasi bisnis startup digital Jawa Tengah.

Kegiatan dalam upaya pemulihan sektor industri melalui peningkatan mutu dan kualitas produk tahun 2021 sebagai berikut:

- Inkubasi bisnis startup digital;

- Pelatihan animasi startup digital;

- Fasilitasi bimbingan dan sertifikasi SNI/Sistem Manajemen Mutu/Lingkungan bagi pelaku usaha.

b. Produk IKM didorong untuk dapat meningkat dan memiliki daya saing, dan

kemasan produk lebih menarik dan memiliki nilai jual lebih, melalui

kegiatan Pelatihan Pengembangan Kemasan Produk IKM sebanyak 60

orang, Memberikan Fasilitasi kemasan produk kepada IKM sebanyak 220

orang serta Melakukan sosialisasi tentang kemasan produk kepada IKM,

(15)

komunitas, dan masyarakat melalui layanan mobil keliling dan media sosial.

H. Mendorong peningkatan tata kelola keuangan dan aset daerah serta optimalisasi penerimaan pendapatan asli daerah melalui:

1. Melakukan rapat koordinasi belanja daerah antara DPRD dengan Pemerintah Daerah sebelum dilakukan pembahasan RKPD, guna untuk melihat besaran anggaran yang dialokasikan untuk belanja daerah sesuai terget.

Telah dilaksanakan Rapat Komisi sebagai bentuk koordinasi pembahasan antara DPRD Provinsi Jawa Tengah dengan Pemerintah Daerah pada proses penyusunan Rancangan Akhir RKPD. Pelaksanaan Dialog Interaktif dalam bentuk Rapat Komisi tersebut merupakan bagian dari ketentuan dari Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2017 tentang Sistem Perencanaan dan Penganggaran Terpadu, sehingga dalam menentukan target dan capaian kinerja sesuai kesepakatan Pemerintah Daerah dan DPRD.

2. Perlunya optimalisasi terhadap penagihan piutang pajak dan retribusi daerah, sehingga tidak menganggu neraca keuangan daerah.

Saldo piutang Tahun 2020 yang telah diaudit oleh BPK, adalah sejumlah Rp.2.049.759.279.013,-. Adapun yang telah dilakukan dalam optimalisasi

penagihan piutang pajak di Tahun 2020 adalah sebagai berikut :

a. Layanan prioritas dengan pendataan dan penagihan kendaraan milik pemerintah daerah telah dilakukan dengan jumlah obyek 1.800 dengan potensi Rp.639.820.790,- dan telah dibayar sejumlah Rp. 345.456.175,- (778 obyek)

b. Layanan prioritas dengan pendataan dan penagihan terhadap wajib pajak yang memiliki jumlah obyek banyak atau yang memiliki nilai pajak besar sebanyak 3.232 obyek dengan potensi Rp. 10.215.933.540,- telah dibayar sejumlah Rp. 33.781.210.955,- (1.185 obyek)

c. Layanan prioritas kepada perusahaan yang memiliki banyak tenaga kerja, sebanyak 623 obyek dengan potensi Rp. 1.174.867.790,- telah dibayar sebesar Rp. 1.174.867.790,-

Sedangkan optimalisasi kegiatan penagihan piutang pajak pada Tahun 2021 yang dilakukan adalah:

a. Pendataan dan Koordinasi kendaraan milik pemerintah daerah kabupaten/

kota (KBM Plat merah).

b. Pendataan tunggakan pajak baik milik perorangan maupun Badan usaha yang memiliki jumlah obyek banyak atau nilai PKB besar.

c. Pendataan Perusahaan yang banyak memiliki tenaga kerja

Oleh karena masih adanya Pandemi Covid 19 dan pemberlakukan status

PPKM di Jawa Tengah, maka kegiatan door to door (D2D) baru bisa

dilaksanakan mulai bulan Oktober 202, dengan hasil sebagai berikut:

(16)

Jumlah SPKPPKB

Jumlah Pembayaran

SPKPPKB Nominal Realisasi Pembayaran Piutang PKB 60.285 lembar 33.534 lembar Rp.50. 635.842.303,-

Sedangkan optimalisasi terhadap Retribusi Daerah dilakukan dengan pengajuan perubahan tarif retribusi Daerah untuk OPD yang melayani dan melakukan pemungutan retribusi, pemantauan atas potensi retribusi baru dan melakukan intensifikasi retribusi yang sudah dipungut.

3. Optimalisasi penagihan pajak melalui Kerjasama antara pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Desa, kepolisian, TNI, Ormas, OKP dan dunia usaha.

Optimalisasi penagihan pajak pada tahun 2021 dilakukan melalui kerjasama dengan Bumdes, PKK, Kwarda dan Bhabinkamtibmas. Sedangkan kanal pembayaran telah diperluas yaitu dapat melalui BNI, Bank Jateng, Bank Mandiri, PT POS, Indomart, Alfamart, Tokopedia, dan Gopay.

4. Evaluasi dan rasionalisasi terhadap besaran alokasi belanja untuk kegiatan- kegiatan yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat; terutama kegiatan seperti penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor, kegiatan rapat koodinasi dan konsultasi, kegiatan pengadaan pakaian dinas.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan evaluasi dan efisiensi terhadap kegiatan-kegiatan yang tidak berkaitan langsung masyarakat dengan tetap memperhatikan prioritas kegiatan dan protokol kesehatan yang ketat sehingga tata kelola keuangan dan asset daerah serta penerimaan pendapatan asli daerah dapat berjalan optimal.

Rasionalisasi Tahun 2021 dilakukan sebagai tindak lanjut PMK Nomor 17/PMK.07/2021 difokuskan untuk pendanaan dukungan pemulihan ekonomi daerah serta dukungan pendanaan belanja kesehatan dan belanja prioritas lainnya.

5. Meningkatkan investasi daerah, menjaga tingkat kosumsi masyarakat, serta menjaga kondisi ekspor dan impor. Terus berupaya untuk meningkatkan infrastruktur pendukung agar aksebilitas dan kelancaran aktivitas ekonomi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.

a. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk menyelenggarakan pelayanan perijinan dan kemudahan berusaha sesuai dengan kewenangan daerah provinsi dalam rangka meningkatkan realisasi investasi di Jawa Tengah, a.l. melalui:

● Penetapan pemberian fasilitas/intensif di bidang penanaman modal yang menjadi kewenangan daerah provinsi

● Pembuatan peta potensi investasi provinsi

● Penyelenggaraan promosi penanaman modal yang menjadi kewenangan

daerah provinsi

(17)

● Pengendalian pelaksanaan penanaman modal yang menjadi kewenangan daerah provinsi

b. Untuk meningkatkan ekspor Jawa Tengah, perluasan negara tujuan ekspor, menumbuhkan eksportir baru, serta meningkatkan promosi produk ekspor Jawa Tengah, yaitu dengan :

1) Bimbingan Teknis ekspor bagi eksportir pemula yang dilaksanakan pada 16 – 18 November 2021. Bekerjasama dengan BBPPEI Kemendag dalam memberi pelatihan kepada 30 pelaku usaha orientasi dan potensial ekspor.

2) Pra Export Coaching Program yaitu program pendampingan sebanyak 7 tahapan (+ 7 bulan) untuk memunculkan calon-calon eksportir dan mempersiapkan peserta potensial bagi Export Coaching Program Tahun 2022.

3) Export Coaching Program merupakan pendampingan sebanyak 8 tahapan (+ 8 bulan) kepada 30 pelaku usaha orientasi dan potensial ekspor agar dapat melakukan ekspor secara mandiri. Program ini merupakan kerjasama dengan BBPPEI Kemendag.

4) Perluasan Networking Promosi dan Kerjasama melalui Business Matching dengan Korea Selatan pada bulan November dengan sasaran 10 pelaku usaha Jawa Tengah.

c. Dalam rangka meningkatkan infrastruktur pendukung agar aksesibilitas dan kelancaran aktivitas ekonomi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, telah dilakukan optimalisasi penanganan jalan dan jembatan serta Bangunan Gedung, yaitu dengan :

1) Pelebaran Jalan Menuju Standart lebar menjadi 7 meter dengan konstruksi beton maupun aspal,

2) mengoptimalkan anggaran DAK Bidang Jalan dan Program Hibah Jalan Daerah untuk mendukung pengembangan Kawasan Strategis Pariwasata Nasional Borobudur-Dieng.

3) program pemeliharaan rutin jalan dan jembatan menjaga kondisi permukaan baik pada jalan provinsi di Jawa Tengah

6. Adanya pandemi Covid-19 tentu akan menganggu Pendapatan daerah. Untuk itu mendorong peran BUMD yang ada di Jawa Tengah untuk meningkatkan PAD semaksimal mungkin.

Kondisi BUMD Jawa Tengah setiap tahun menunjukkan trend yang positif.

Hal ini dapat ditunjukkan dengan :

a. Rata-rata tingkat pengembalian deviden terhadap modal disetor (ROI) per tahun dalam kurun waktu tahun 2017-2020 adalah sebesar 14,81%.

b. Disamping memberikan keuntungan berupa deviden/PAD, BUMD juga memberikan multiplier effect antara lain berupa lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

c. Deviden yang disetorkan ke Kas Daerah Pemprov Jateng 4 tahun terakhir

dari Rp.371,11 milyar di tahun 2017, menjadi Rp 459,62 milyar di tahun

(18)

2018 dan Rp 512,70 milyar di tahun 2019 serta Rp 530,09 milyar pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 12,84% per tahun, jauh lebih tinggi dari tingkat suku bunga bank, sehingga investasi ini menguntungkan secara finansial.

d. Kinerja Tahun 2021 berdasarkan atas kinerja Tahun 2020, sampai dengan tanggal 22 Oktober 2021 dari target deviden TA. 2021 sebesar Rp.518,523,468,000,- telah terealisasi dan disetor ke Kas Daerah sebesar Rp.492,295,580,685,- atau 94,94% dan kekuranganya akan dipenuhi pada Triwulan IV Tahun 2021.

e. Adapun target deviden pada Tahun 2022 sebesar Rp.557.044.264.000, Upaya pencapaian target adalah disamping optimalisasi bisnis eksisting antara lain dengan peningkatan pangsa pasar, diversifikasi bisnis, pengembangan SDM, optimalisasi aset idle, penguatan IT, dan digital marketing.

f. Guna menjaga konsistensi pertumbuhan dan perkembangan BUMD, secara periodik dilakukan:

 Evaluasi terhadap kinerja BUMD termasuk dalam pengusulan tambahan penyertaan modal berdasarkan bisnis plan,

 Upaya perbaikan kinerja BUMD dengan pelaksanaan audit due diligence oleh pihak independent terhadap PT SPJT dan PD CMJT diharapkan dengan adanya audit dimkasud dapat dijadikan dasar dalam melakukan langkah-langkah revitalisasi BUMD untuk mengoptimal kinerjanya.

 Untuk BUMD Keuangan didorong untuk optimalisasi Teknologi Informasi guna implementasi digitalisasi marketingdalam rangka penetrasi pangsa pasar dan upaya untuk meningkatkan branding perusahaan.

7. Optimalisasi pengelolan asset daerah yang dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, yang di kelola langsung dalam satu intansi.

a. Dalam Peraturan Pemerintah No.18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Pengelolaan Aset masuk dalam Fungsi Penunjang Urusan Pemerintah di Bidang Keuangan. Dalam ketentuan Pasal 73 PP.18 /2016, Untuk Urusan Pemerintahan Bidang Pertanian, PU dan Tata Ruang serta Penunjang Keuangan dapat dibentuk 2 Dinas apabila scoringnya melebihi 975 dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendapatkan score 1000 Untuk hal tersebut, sehingga unsur Penunjang Keuangan dibentuk 2 Badan yaitu : Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dan Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah. Sehubungan hal tersebut, apabila Aset akan dikelola menjadi OPD tersendiri, maka tidak memungkinkan dari sisi regulasi.

Pada tahun 2021, telah dilakukan:

 Evaluasi fungsi pengelolaan asset yang tidak bisa optimal;

 Koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri, untuk mengkonsultasikan kemungkinan dibentuknya OPD tersendiri untuk pengelolaan asset.

Selanjutnya pada Tahun 2022 akan dilakukan restrukturisasi unit kerja

pengelola aset apabila dinilai tidak optimal dari sisi kelembagaan.

(19)

b. Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui optimalisasi Aset Daerah, telah dilakukan perbaikan, pengamanan fisik dan administrasi, promosi serta melakukan kerjasama dengan pihak ketiga dalam pemberdayaan aset daerah tanpa mengesampingkan penggunaan utama aset sebagai pendukung pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu berupaya memaksimalkan keberadaan BMD memiliki daya tarik, rasa aman dan perlindungan hukum terhadap pihak ketiga dalam melakukan kerjasama pemanfaatan yang hasilnya merupakan optimalisasi pendapatan daerah.

I. Mendorong peningkatan tata kelola pemerintahan sebagai upaya perwujudan pelaksanaan Reformasi Birokrasi (Birokrasi Bersih dan Akuntabel; Birokrasi yang Efektif dan Efisien, dan Birokrasi yang memiliki Pelayanan Publik Berkualitas melalui:

1. Optimalisasi penyusunan LKPJ Perangkat Daerah setiap tahun, dengan penekanan pada analisis terhadap capaian kinerja serta rencana aksi/tindak lanjut tahun berikutnya, cascading dan peta proses bisnis Perangkat daerah, sehingga terlihat keterkaitan perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi penyelenggaraan pemerintahan yang berkinerja.

Penyusunan LKPJ TA 2021 telah sesuai dengan cascading yang tertuang pada dokumen perencanaan atau RKPD, sedangkan terkait analisis terhadap capaian kinerja serta rencana aksi/tindak lanjut tahun berikutnya, secara rinci tersaji pada masing-masing urusan dalam Bab III Sub Bagian Kinerja Urusan Pemerintahan Daerah.

2. Peningkatan kualitas keterangan hasil keluaran berbasis outcome dan impact dari setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh setiap Perangkat Daerah pada setiap urusan.

Dalam dokumen LKPJ TA 2021 sudah ditambahkan keterangan hasil keluaran kegiatan berbasis outcome pada setiap program, sedang impactnya disajikan secara makro dalam pengantar setiap urusan yang mendukung impact atas kinerja daerah terkait.

3. Perumusan kebijakan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat untuk mencapai indeks kepuasan masyarakat yang lebih baik. Penyelenggaraan keterbukaan informasi publik, dan penyediaan data dan informasi penyelenggaraan pemerintahan yang valid dan up to date pada website pemerintah daerah/perangkat daerah.

a. Penyelenggaraan keterbukaan informasi publik, penyediaan data dan

informasi penyelenggara pemerintahan di Provinsi Jawa Tengah, telah

terintegrasi dalam Sistem Informasi Pelayanan Publik (SIPP) tertampung

dalam SIPP KemenPANRB, dimana didalamnya menyediakan informasi

pelayanan publik secara menyeluruh, memberikan kemudahan dan

kecepatan dalam memperoleh informasi pelayanan publik dan menjamin

keakuratan informasi pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Perangkat

Daerah Provinsi Jawa Tengah. Sehingga bertujuan terwujudnya

(20)

keterpaduan informasi pelayanan penyelenggara pelayanan publik mulai dari tingkat Pusat hingga Daerah.

Selanjutnya adalah pendampingan dan pembinaan terhadap Perangkat Daerah untuk mendorong secara aktif kepada Unit Penyelenggara Pelayanan Publik (UPP) dalam memberikan informasi pelayanan yang diberikan serta melakukan evaluasi terhadap penilaian kinerja penyelenggara layanan publik di lingkup Pemerintah Prov. Jateng.

Pendampingan dan pembinaan terhadap Perangkat Daerah untuk mendorong secara aktif kepada Unit Penyelenggara Pelayanan Publik (UPP) dalam memberikan informasi pelayanan yang diberikan serta melakukan evaluasi terhadap penilaian kinerja penyelenggara layanan publik di lingkup Pemerintah Prov. Jateng.

b. Survei Kepuasan memang selalu akan berubah tergantung pada kondisi responden dan layanan yang diberikan. Tahun 2021 survei terkendala karena pandemi Covid 19, sehingga penyebaran angket dimodifikasi dengan menggunakan form elektronik. Sesuai dengan regulasi pengukuran indeks kepuasan harus rutin dilakukan minimal setahun dua kali, sehingga pada tahun 2021 survei IKM diagendakan setahun dua kali dengan jumlah responden yang ditingkatkan.

4. Optimalisasi dan Pengembangan karir ASN dengan merit system dengan metode penelusuran kader potensial/talent scouting, serta perencanaan diklat berjenjang serta optimalisasi kompetensi ASN, melalui :

a. Talent scouting untuk pengisian Jabatan Administrator dan Pengawas, mulai tahun 2020 talent scouting dilakukan juga untuk pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama yang semula melalui seleksi terbuka.

Penilaian Kompetensi ASN menggunakan CAT Psikometri bertujuan unutk mengetahui pontensi dan kompetensi PNS sebagai dasar dalam pengembangan karier PNS.

1) Pengisian Jabatan Kosong dari hasil talent pool sejumlah 174 jabatan berdasarkan jumlah pejabat yang pensiun pada tahun 2021, hal ini sebagai bentuk pengembangan karir PNS.

2) Pemetaan kompetensi ASN melalui CAT Psikometri untuk melengkapi data profil bagi pengembangan karir ASN. Pada tahun 2021 di targetkan 700 PNS yang dilakukan penilain kompetensi.

b. Dalam era discruption, kompetensi ASN diarahkan untuk dapat menguasai pemanfaatan teknologi yang lebih baik dalam mendukung pelaksanaan tugas sehari-hari, seiring berkembangnya pemanfaatan sistem informasi berbasis on line system di pemerintahan atau e-government .

1) Peningkatan kualitas aparatur dilaksanakan melalui kegiatan

Pengembangan Kompetensi ASN melalui penyelenggaran pendidikan

dan pelatihan dengan alokasi APBD Prov. Jateng dan BIP (Kab/Kota)

Provinsi Jateng :

(21)

a) Pengembangan Kompetensi Teknis (Umum, Inti & Pilihan) dengan target peserta 1.895 orang, terealisasi 2.342 orang ( Provinsi : 1.722 orang, Kab/Kota : 449 orang dan Non ASN 171 orang).

b) Pengembangan Kompetensi Fungsional (Pembentukan, Penjenjangan & Kompetensi Teknis Jabfung) dengan target peserta 1.052 orang, terealisasi 907 orang ( Provinsi : 417 org, Kab/Kota : 490 org dan K/L : 0 org ).

c) Pengembangan Kompetensi Manajerial, meliputi :

 Diklat Kepemimpinan, dengan target 519 org dan realisasi 1.362 org (Prov.: 497 org & Kab/Kota : 798 org dan K/L 67 org ).

 Diklat Pimpinan Daerah, dengan target 280 org dan realisasinya 1.619 org (Prov.: 587 org & Kab/Kota : 969 org dan K/L 63 org ).

 Prajab/Latsar CPNS dengan target 3.240 org dan dapat dilaksanakan/realisasi 3.239 org ( Prov. : 799 org dan Kab/Kota:

2.440 org ).

2) Fasilitasi pengembangan kompetensi ASN bagi Kab/Kota, antara lain:

a) Perencanaan pengembangan kompetensi melalui aplikasi sebagai data Rancang Bangun Program Pelatihan.

b) Perencanaan Pengembangan Kompetensi oleh BPSDMD Provinsi Jawa Tengah dilakukan identifikasi usulan diklat melalui Sistem aplikasi Si Jari On AKD.

c) Usulan dilakukan oleh masing-masing PNS Kab/Kota untuk mendapatkan pengembangan kompetensi sesuai dengan kebutuhan organisasi.

3) Hasil rekapitulasi usulan pengembangan kompetensi ASN yang dipergunakan untuk dasar perencanaan 2022 adalah sbb:

a) Jumlah usulan dari PNS Provinsi :

 Pelatihan Teknis : 883 usulan;

 Pelatihan Fungsional : 692 usulan;

 Pelatihan Manajerial : 476 usulan.

b) Jumlah usulan dari PNS Kab./Kota :

 Pelatihan Teknis : 39.637 usulan;

 Pelatihan Fungsional : 18.136 usulan;

Pelatihan Manajerial : 6.573 usulan

 Data selengkapnya dapat dilihat melalui Sistem Aplikasi Si Jari On AKD : https://akd.bpsdmd.jatengprov.go.id/

4) Monev pengembangan kompetensi baik pra maupun pasca penyelenggaraan pengembangan.

a) Evaluasi Diklat :

Target : 88 Angkatan

(22)

Realisasi : 269 Angkatan b) Evaluasi Pasca :

Target : 57 Dokumen Realisasi : 57 Dokumen

5) Pelaksanaan Pengembangan Aparatur selama Tahun 2021

a) Perencanaan diklat oleh masing-masing OPD sesuai alokasi di BPSDMD Prov. Jateng melalui aplikasi Sijari on AKD

b) BPSDMD Prov. Jateng tetap melakukan pengembangan kompetensi dengan strategi dalam proses belajar mengajar menggunakan sistem e-learning , Webinar dan daring, pada beberapa kegiatan antara lain:

 Keg. Pengembangan Kompetensi Manajerial dengan target 519 org, alokasi dana Rp.2.840.476.000

 Latsar CPNS ; target : 3.240 peserta, alokasi: Rp. 5.050.690.000,

 Pengembangan Kompetensi Pimpinan Daerah, target : 280 org – alokasi Rp. 167.330.000,-

 Pengembangan Kompetensi Teknis (Umum, Inti & Pilihan) dengan target peserta 1.895 orang, alokasi: Rp. 2.305.637.000,

 Pengembangan Kompetensi Fungsional (Pembentukan, Penjenjangan & Kompetensi Teknis Jabfung) dengan target peserta 1.052 orang, alokasi: Rp. 2.276.756.000

5. Mencantumkan dan menjabarkan seluruh data setiap capaian dari target indikator kinerja yang melibatkan kabupaten/kota, khususnya pelaksanaan bantuan keuangan.

Indikator kinerja pembangunan daerah yang didukung dengan APBD Kab/Kota dan APBD Provinsi melalui bankeu kab/kota dan bankeu pada pemerintah desa adalah sebagai berikut :

a. Pertumbuhan Ekonomi

1) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Kab/Kota : a) Bantuan Sarpras :

Terselenggaranya upaya peningkatan jalan berupa pembangunan

prasarana jalan/jembatan dan bangunan pelengkap jalan (talud jalan,

drainase jalan dan trotoar) di 143 lokasi kegiatan; Terbangunnya

prasarana SDA (bendung, embung, normalisasi sungai, pompa dan

rumah pompa) di 10 lokasi kegiatan; Terbangunnya Sarpras

Perhubungan (APILL, Perlintasan KA, LPJU, Keselataman Jalan) di 10

lokasi kegiatan; Terbangunnya Sarpras penunjang pariwisata di 4

lokasi kegiatan; Terbangunnya Sarpras pertanian (Jaringan Irigasi)

sebanyak 14 lokasi kegiatan.

(23)

b) Bantuan TMMD :

Terbangunnya pelebaran jalan sepanjang 2.290 meter; pengaspalan jalan sepanjang 5.901 meter; betonisasi jalan desa sepanjang 45.679 m; pavingisasi jalan desa sepanjang 612 meter; terbangunnya jalan makadam sepanjang 11.529 meter; perbaikan jembatan sepanjang 467 meter; pembangunan jembatan baru sepanjang 108 meter;

pembangunan bronjong kawat penahan banjir sepanjang 24 meter;

drainase jalan sepanjang 3.046 meter; talud jalan sepanjang 5.724 meter; plat beton sebanyak 35 unit, pembangunan gorong-gorong sebanyak 27 lokasi;

2) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa :

a) Peningkatan Sarpras pedesaan di 6.960 titik, yang tersebar di 4.800 desa berupa pembangunan atau rehabilitasi : jalan desa /jembatan desa /jalan usaha tani/ jalan produksi/ bangunan pelengkap jalan berupa talud/sender jalan/drainase/gorong gorong sebanyak 4.537 titik kegiatan tersebar di 2.783 desa, sarana penghasil energy baru terbarukan/energy mandiri berupa penerangan jalan umum dengan sollar cell sebanyak 16 kegiatan tersebar di 16 desa; dan kegiatan rehabilitasi sarana prasarana gedung/kantor desa sebanyak 69 titik kegiatan tersebar di 69 desa.

b) Pembangunan atau rehabilitasi: pasar desa dan/ atau kios desa sebanyak 19 titik kegiatan tersebar di 19 desa, tempat pelelangan ikan/pemancingan ikan/tambatan perahu sebanyak 1 titik kegiatan di 1 desa, dan lumbung pangan desa 1 titik kegiatan di 1 desa..

c) Bantuan penyertaan modal Badan Usaha Milik (BUM) Desa Bersama di 53 desa yang melakukan kerjasama antar desa, mengembangkan produk unggulan kawasan, dan membangun 14 kawasan perdesaan yang berada di 12 kabupaten di Jawa Tengah.

d) Bantuan keuangan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat penyertaan modal BUMDes sejumlah Rp75.280.000.000,00 bagi 3.764 desa dengan nilai bantuan Rp.20.000.000,00 per desa,

e) Bantuan Pengembangan Desa Wisata, untuk kegiatan pembangunan/

rehabilitasi fasilitas umum untuk kebutuhan wisatawan sebanyak 269 kegiatan di 269 desa yang tersebar di 29 wilayah kabupaten. Alokasi bantuan ini dibagi dalam 3 kriteria yaitu Desa Wisata Pemula, sebanyak 255 desa dengan nilai bantuan Rp100.000.000,00 per desa;

Desa Wisata Madya, sebanyak 5 Desa dengan nilai bantuan

Rp500.000.000,00 per desa; dan Desa Wisata Maju, sebanyak 4 desa

dengan nilai bantuan Rp1.000.000.000,00 per desa.

(24)

b. Angka Kemiskinan :

1) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Kab/Kota, melalui Bantuan TMMD: pemugaran/perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 194 unit.

2) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa: peningkatan kualitas RTLH sejumlah 11.292 unit RTLH milik keluarga miskin di 3.764 desa miskin di 29 kabupaten.

c. Nilai Tukar Petani

1) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Kab/Kota:

Terbangunnya prasarana Sumber Daya Air (bendung, embung, normalisasi sungai) di 10 lokasi kegiatan. dan Terbangunnya Sarpras pertanian (Jaringan Irigasi) sebanyak 14 lokasi kegiatan;

2) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa:

Pembangunan embung desa sebanyak 15 titik kegiatan tersebar di 15 desa, sarana prasarana lingkungan desa sebanyak 65 titik di 49 desa, jaringan irigasi tingkat usaha tani (JITUT)/jaringan irigasi desa (JIDES) sebanyak 549 titik kegiatan tersebar di 434 desa.

d. IPM

1) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Kab/Kota

a) Bantuan TMMD : Terbangunnya Tempat ibadah sebanyak 24 unit;

terbangunnya 1 sekolah; Pembangunan POS Kampling sebanyak 14 unit. dan terbangunnya 1 unit sekolah.

b) Bantuan Sarpras :Terbangunnya Sarpras olahraga/kebudayaan di 2 lokasi kegiatan; dan Tercukupinya Sarpras kesehatan (Alkes) di 2 RSUD/lokasi kegiatan.

c) Bantuan pendidikan : Rehab Ruang Kelas Rusak SD sebanyak 50 kegiatan di 13 Kabupaten / Kota; Rehab Ruang Kelas Rusak SMP sebanyak 45 kegiatan di 11 kabupaten; Pembangunan Ruang Perpustakaan SD sebanyak 4 kegiatan di 2 kabupaten; Pembangunan Ruang Perpustakaan SMP sebanyak 2 kegiatan di 1 Kabupaten;

Pengadaan Buku Perpustakaan SD sebanyak 70 kegiatan di 3 kabupaten; Pengadaan Alat TIK Pembelajaran SD sebanyak 194 kegiatan di 2 kabupaten; dan Pengadaan Alat Laboratorium Komputer SMP sebanyak 160 kegiatan di 6 Kabupaten / Kota; serta Manajemen pendataan pendidikan di 18 Kabupaten / Kota.

2) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa :

a) Pada bidang pendidikan, alokasi bantuan keuangan sejumlah

Rp1.600.000.000,00 digunakan untuk membiayai kegiatan pengadaan

sarana prasarana perpustakaan desa sebanyak 30 titik kegiatan

(25)

tersebar di 30 desa dan sarana prasarana taman bacaan sebanyak 3 titik kegiatan tersebar di 3 desa

b) Bantuan keuangan peningkatan sarana prasarana perdesaan bidang sosial budaya sejumlah Rp4.504.000.000,00 digunakan untuk membiayai 32 titik kegiatan pembangunan atau rehabilitasi penyediaan sarana kesenian yang tersebar di 27 desa.

e. IKLH

1) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Kab/Kota:

a) Bantuan TMMD : Terbangunnya jamban/MCK sebanyak 96 unit;

pembangunan sanitasi 20 unit; Terbangunnya lapangan olahraga sebanyak 4 unit dan tempat cuci tangan 5 unit

b) Bantuan Sarpras : Terbangunnya prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) dan kawasan permukiman di 16 lokasi kegiatan; Terbangunnya IPAL komunal/terpadu di 3 lokasi kegiatan;

serta Terbangunnya ruang terbuka hijau/taman kota di 2 lokasi kegiatan;

2) Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa: Terbangunnya sarana prasarana air bersih berupa pembuatan sumur bor, pembuatan bak penampungan air bersih serta pipaniasi air bersih sebanyak 94 titik kegiatan tersebar di 89 desa.

6. Mencantumkan data Silpa tahun berjalan beserta rincianya dalam Laporan LKPJ, agar dapat dilihat secara jelas dan terukur.

SILPA merupakan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, yaitu selisih surplus/

defisit dengan pembiayaan netto. Dengan demikian di Tahun Anggaran 2020 dari anggaran penerimaan pembiayaan melalui penggunaan SILPA sebesar Rp1.119.157.447.000,- terealisasi Rp1.119.157.446.700,-

Dari penjelasan pada Bab II LKPJ, pada point Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) sudah teridentifikasi bahwa SiLPA Tahun Anggaran 2020 sejumlah Rp800.443.975.607,- (unaudited) terdiri dari:

a. Kas pada RKUD Rp362.643.956.586,-

b. Kas pada bendahara pengeluaran yang belum disetor Rp18.040.000,- c. Kas pada bendahara penerimaan yang belum disetor Rp69.358.000,00;

d. Kas pada BLUD 7 RSD Rp437.712.621.021,00.

Sedangkan SiLPA Tahun Anggaran 2021 secara rinci tercantum dalam dokumen LKPJ Gubernur Jawa Tengah TA 2021 Bab II point Sisa Lebih Perhitungan Anggaran.

7. Mencantumkan catatan secara rinci kegiatan strategis yang gagal dilaksanakan

dalam Dokumen LKPJ. Selain dari catatan dampak pandemi Covid-19.

(26)

Kegiatan strategis APBD/APBN tahun 2020 yang tidak selesai dilaksanakan dan tidak dilaksanakan adalah sebagai berikut :

a. Pada APBD Tahun 2020, kegiatan strategis yang tidak selesai dilaksanakan tersebar di 6 Perangkat Daerah. Total anggaran kegiatan dimaksud sebesar Rp. 25, 06 miliar hanya terealisasi Rp. 20,97 miliar (83,68%) dengan rata-rata realisasi fisik 89,05%. Kendala permasalahannya antara lain :

1) Metode pembinaan atlet PPLOP semua sentralisasi (terpusat) menjadi desentralisasi per Kab/Kota;

2) Penyusunan AMDAL Rumah Sakit Provinsi, yaitu : RS Kanker di Magelang dan RSIA di Pekalongan belum mendapatkan rekomendasi AMDAL dan RKL RPL dari Komisi Penilai AMDAL Provinsi;

3) Calon penerima bantuan kegiatan tidak memenuhi kriteria, sudah pernah menerima bantuan dan ada yang menolak bantuan.

Sedangkan untuk kegiatan strategis APBD yang tidak dilaksanakan tersebar di 12 Perangkat Daerah, dengan anggaran total Rp 32,39 miliar.

Kendala permasalahan antara lain :

1) Gagal lelang dan untuk lelang ulang waktu tidak mencukupi (Pengadaan peralatan Studio Visual untu ruang Paripurna DPRD);

2) Penghentian proses PBJ untuk kegiatan yang bersumber dana transfer (DAK Fisik) oleh Kemenkeu melalui Surat Nomor : S-247/MK.07/2020 Tgl 27 Maret 2020 dan Surat Nomor : S-267/PK/2020 Tgl 29 Juni 2020;

3) Belanja barang yang diserahkan ke masyarakat untuk pertanaman yang sudah tidak diperlukan lagi (pengadaan Pupuk KNO3).

b. Kegiatan strategis bersumber APBN Tahun 2020 yang tidak dilaksanakan tersebar di 3 Perangkat Daerah dengan total anggaran Rp. 3,64 miliar Kendala permasalahan antara lain :

1) Gagal lelang dan apabila dilakukan lelang waktu penyelesaian pekerjaan tidak cukup;

2) Adanya kebijakan rasionalisasi anggaran oleh Kementerian pemberi dan Dekonsentrasi;

3) Tidak adanya pemberangkatan Jamaah Haji (Kegiatan Embarkasi dan Debarkasi Haji)

Untuk mencegah terjadinya kegiatan yang tidak selesai dilaksanakan atau tidak dilaksanakan, maka pada Tahun Anggaran 2021 telah dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Mengintensifkan Koordinasi dan Fasilitasi secara periodik dan berkelanjutan dengan Perangkat Daearh yang terdapat kendala permasalahan dalam pelaksanaan kegiatannya.;

b. Pemantauan secara berkala dan sewaktu-waktu pelaksanaan kegiatan/sub

kegiatan /agenda / paket (SSK) Perangkat Daerah.

(27)

Namun demikian masih terdapat kegiatan strategis yang bersumber dari APBD/APBN yang tidak selesai dilaksanakan atau tidak dilaksanakan secara rinci tersaji dalam Bab II.

8. Optimalisasi penyelenggaran pemerintahan berbasis elektronik untuk

meningkatkan capaian indikator LAKIP dengan Langkah mengintegrasikan e-sakip dengan e-planning, SIPD, e-monev.

Dalam rangka optimalisasi penyelenggaraan pemerintahan berbasis elektronik, telah dilakukan integrasi dalam aplikasi Government Resources Management System (GRMS) mulai dari e-planning, e-budgeting, e-SHB, e-project planning, e-penatausahaan, e-controlling APBD dan e-controlling kinerja, e-Sakip dan e-Monev.

Aplikasi e-Sakip saat ini sudah terintegrasi dalam aplikasi terpadu GRMS dan telah diimplementasikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, namun sistem aplikasi e-sakip masih terus diperbaharui menyesuaikan dengan regulasi terbaru.

Selanjutnya pada Tahun 2022 direncanakan akan dilakukan pengintegrasian dengan SKP Online (Sinita) dan E-Controlling untuk mengukur kinerja individu yang dikaitkan dengan pemberian tunjangan berbasis kinerja.

9. Penguatan peran penelitian dan pengembangan sehingga perencanaan kebijakan pembangunan daerah dapat berbasis riset (research-based policy).

Dalam rangka penguatan peran penelitian dan pengembangan untuk mendukung perencanaan pembangunan daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah menerbitkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Rencana Induk Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018-2023. Tujuan disusunnya Rencana Induk Kelitbangan (RIK) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018-2023 adalah untuk memberikan masukan dalam penyusunan dokumen perencanaan jangka menengah (RPJMD), sehingga mampu mengakomodir kebutuhan program kelitbangan dalam mendukung pembangunan Provinsi Jawa Tengah. RIK juga berfungsi sebagai panduan dalam melaksanakan kegiatan kelitbangan di Jawa Tengah bagi institusi pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat dan pelaku lain, dalam rangka mendukung pencapaian pembangunan daerah Jawa Tengah.

Kegiatan penelitian pada tahun 2021 untuk mendukung pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19, diantaranya :

a. Penelitian Implementasi Protokol Kesehatan Covid-19 dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Jawa Tengah, dalam rangka efektivitas pencegahan dan penanganan dari aspek kesehatan di berbagai sektor privat dan publik.

b. Strategi Pengelolaan Limbah Infeksius Rumah Tangga Saat Pandemi Covid-

19 di Jawa Tengah, dalam rangka mencegah atau meminimalisir

pencemaran lingkungan dan penularan penyalit.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan berlakunya Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk

Melakukan koordinasi dengan Kanwil Ditjen Pajak atau Kantor Pelayanan Pajak di wilayah kerjanya untuk mengkonsultasikan permasalahan terkait kewajiban perpajakan Bendahara

Salah satu upaya yang dilakukan dalam peningkatan pelayanan publik yang berorientasi Wliayah Birokrasi Bersih Melayani adalah dengan melakukan Survei Indeks Persepsi Anti

Dalam dalam rangka mengantisipasi keadaan di lapangan berkaitan dengan pemungutan retribusi pelayanan persampahan/kebersihan, dipandang perlu untuk melakukan Perubahan

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu dilakukan perubahan tarif Retribusi Jasa Umum Untuk Jenis Retribusi Pengendalian Menara

Peraturan Daerah suatu pembentukan di dalam peraturan perundang- undangan Penetapan tarif yang ada pada Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa

Dalam rangka memberikan kepastian hukum bagi Pemerintah Daerah untuk melakukan pemungutan retribusi atas pelayanan persampahan/kebersihan, maka perlu dibentuk

Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan, mengurangi indeks, tingkat penggunaan jasa dan tarif ini