KARAKTERISTIK PASIEN SEPSIS DEWASA AKIBAT PNEUMONIA YANG MENGALAMI MORTALITAS DI RSUP
HAJI ADAM MALIK TAHUN 2013-2015
Oleh : LILY 130100142
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh:
Lily 130100142
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Karakteristik Pasien Sepsis Dewasa Akibat Pneumonia yang mmmm Mengalami Mortalitas di RSUP H. Adam Malik Tahun 2013- 2015
Nama : Lily
Nim : 130100142
Pembimbing I Pembimbing II
(dr. Wulan Fadinie, M.Ked(An), Sp.An) (Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K))
NIP: 198503062010122002 NIP: 196605241992031002
Penguji I Penguji II
(dr. Fasihah Irfani Fitri, M.Ked, Sp.S ) (dr. Donna Partogi, Sp.KK) NIP: 198307212008012007 NIP: 197201032005012001
Medan, 15 Desember 2016 Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
(Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K))
ABSTRAK
Sepsis merupakan sindrom respon inflamasi sistemik ( systemic inflammatory response syndrome/SIRS ). Terdapat 3 jenis sepsis berdasarkan tingkat keparahannya, yaitu sepsis, sepsis berat dan syok sepsis. Pada pasien pneumonia yang tidak ditangani dengan benar dapat dengan mudah mengalami sepsis. Sepsis dapat terjadi apabila kuman di parenkim paru menyebar melalui pembuluh darah dan menyebabkan reaksi inflamasi sistemik yang ditandai dengan 2 dari 4 kriteria SIRS. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Mortalitas pasien sepsis dewasa akibat pneumonia di RSUP Haji Adam Malik tahun 2013 – 2015.
Penelitian ini bersifat deskriptif. Sample penelitian ini diambil dengan cara total sampling dengan jumlah 135 sampel. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2016. Dalam penelitian ini dilakukan pencatatan rekam medis, dikelompokkan kemudian diolah dengan menggunakan komputer.
Penelitian ini menunjukkan mortalitas pasien sepsis akibat pneumonia terbanyak adalah pada laki- laki, yaitu sebanyak 81 orang (60,0%). Usia terbanyak pada kelompok umur >50 tahun yaitu sebanyak 77 orang (57,0%). Pasien yang meninggal <5 hari sebanyak 77 orang (57,0%). Terdapatnya angka pasien meninggal akibat syok sepsis lebih besar dari pada sepsis berat yaitu 83 orang (61,5%). Dan angka mortalitas terbesar pada penelitian ini yaitu di tahun 2013 yaitu 108 orang (80,0%).
Berdasarkan hasil penelitian, mortalitas pasien sepsis dewasa akibat pneumonia di ICU masih tinggi
Kata Kunci: mortalitas, pneumonia, sepsis
ABSTRACT
Sepsis is a systemic inflammatory response syndrome / SIRS. There are 3 types of sepsis by severity, sepsis, severe sepsis, and septic shock. Patients with pneumonia who did not treated properly can easily turn to sepsis. Sepsis can occur when the bacteria in lung parenchyma spread through the blood vessels and cause a systemic inflammatory reaction characterized by 2 of four SIRS criteria. This study aims to see the mortality of sepsis caused by pneumonia in adult patients in RSUP Haji Adam Malik on 2013-2015.
This is a descriptive study. The subjects of this study are obtained with total sampling of 135 observations. This study is conducted on August 2016. This study collects the data from medical records, grouped, and analyzes by the computer.
This study shows the mortality of patients sepsis caused by pneumonia.
Most of samples were male, 81 persons (60,0%). the highest age group by the age above 50 years, there were 77 persons (57,0%). Patient who died less than 5 days were 77 persons (57,0%). The number of patients who died caused by septic shock more than patients with severe sepsis, there are 83 persons (61,5%). And the highest mortality incident in this study occurred in 2013, trere were 108 persons (80,0%).
Based on this study, we found a high mortality incident of sepsis caused by pneumonia attended in the ICU.
Keyword: mortality, pneumonia, sepsis
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudul
“Mortalitas Pasien Sepsis Dewasa Akibat Pneumonia di RSUP Haji Adam Malik Tahun 2013-2015“. Skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, saya banyak mendapat dorongan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak dan akhirnya saya dapat menyelesikan karya tulis ilmiah ini dengan sempurna dan tepat pada waktu. Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian.
2. dr. Wulan Fadinie, M.Ked (An), Sp.An selaku Dosen Pembimbing 1 dan Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K) selaku Dosen Pembimbing 2, yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan dorongan untuk menyiapkan skripsi ini.
3. dr. Fasihah Irfani Fitri, M.Ked, Sp.S selaku Dosen Penguji 1 dan dr.
Donna Partogi, Sp.KK selaku Dosen Penguji 2, yang telah banyak memberikan komentar yang bermanfaat, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan lebih lengkap.
4. Rasa cinta dan terima kasih saya persembahkan kepada kedua orang tua saya, Jhon Dharma Libio dan Erlina Simanjuntak, beserta saudara saya, Budi, Fenni, Donna, Surya dan seluruh keluarga saya atas doa, perhatian dan dukungan sebagai bentuk kasih sayang kepada saya.
5. Pihak RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian ini.
6. Sahabat dan teman seperjuangan saya, Almira Dalimunthe, Kania Dareen Ulaya, Avie Hanindya Rambe, Vina Andita Harahap, Rahmat
Fadli, Thila dan Nehemia yang telah banyak membantu meluangkan waktu, pikiran dan tenaga mereka, serta dukungan dan doa selama masa perkuliahan.
7. Kepada seluruh pihak yang telah membantu saya dalam mengerjakan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saya mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada semua untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Medan, 15 Desember 2016
Lily
(NIM : 130100142)
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR SINGKATAN ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.4.Manfaat Penelitian ... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Pneumonia ... 4
2.1.1. Definisi ... 4
2.1.2. Etiologi ... 4
2.1.3. Patogenesis ... 4
2.1.4. Klasifikasi ... 5
2.1.5. Faktor Resiko ... 7
2.1.6. Diagnosis ... 7
2.1.6.1. Gambaran Klinis ... 7
2.1.6.2. Pemeriksaan Penunjang ... 8
2.1.7. Penatalaksanaan ... 8
2.1.8. Komplikasi ... 9
2.2. Sepsis ... 10
2.2.1. Definisi ... 10
2.2.2. Etiologi ... 11
2.2.3. Patofisiologi ... 12
2.2.4. Diagnosis ... 13
2.2.4.1. Gejala Klinis ... 13
2.2.4.2. Pemeriksaan Laboratorium ... 14
2.2.5. Prognosis ... 15
BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP ... 16
1.1. Kerangka Teori... 16
1.2. Kerangka Konsep ... 16
BAB 4 METODE PENELITIAN ... 17
1.1. Jenis Penelitian ... 17
1.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 17
1.3. Populasi dan Sampel ... 17
4.3.1. Populasi ... 17
4.3.2. Sampel ... 17
4.3.3. Kriteria Inklusi ... 17
4.3.4. Kriteria Eksklusi... 17
4.3.5. Jumlah Sampel ... 18
1.4. Metode Pengumpulan Data ... 18
1.5. Pengolahan dan Analisa Data... 18
4.5.1. Pengolahan Data... 18
4.5.2. Analisa Data ... 18
1.6. Definisi Operasional... 19
1.7. Rancangan Penelitian ... 20
1.8. Etika Penelitian ... 20
BAB 5 METODE PENELITIAN ... 21
5.1. Hasil Penelitian ... 21
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 21
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Pasien ... 21
5.1.3. Deskripsi Berdasarkan Jenis Kelamin ... 21
5.1.4 Deskripsi Berdasarkan Usia ... 22
5.1.5. Deskripsi Berdasarkan Lama Perawatan ... 22
5.1.6. Deskripsi Berdasarkan Jenis Sepsis ... 23
5.1.7. Deskripsi Berdasarkan Angka Kejadian ... 23
5.2. Pembahasan ... 24
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 27
6.1. Kesimpulan ... 27
6.2. Saran ... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 28 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
2.1 Etiologi Pneumonia 4
2.2 Penyebab Umum Sepsis pada Orang Sehat 11 2.3 Penyebab Umum Sepsis pada Pasien yang Dirawat 11 2.4 Indikator Laboratorium Penderita Sepsis 14 2.5 Prognosis Mortality in Emergency Department of Sepsis 15
4.1. Rancangan Penelitian 20
5.1. Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin 21 5.2. Distribusi Berdasarkan Usia 22 5.3. Distribusi Berdasarkan Lama Perawatan 22 5.4. Distribusi Berdasarkan Jenis Sepsis 23 5.5. Distribusi Berdasarkan Angka Kejadian 24
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
3.1 Kerangka Teori 4
3.2 Kerangka konsep 11
DAFTAR SINGKATAN 1. ALI Acute Lung Injury
2. ARDS Acute Respiratory Distress Syndrome 3. AST Aspartate Aminotransferase
4. CD14 Cluster of differentiation 14 5. CNS Central Nervous system 6. CRP C- Reactive Protein
7. DIC Diffuse Intravascular Coagulation 8. E.Coli Escherichia Coli
9. FiO2
10. HIV Human Immunologic Virus Fraction of Inspired Oxygen
11. ICU Intensive Care Unit 12. IL Interleukin
13. LED Laju Endap Darah
14. MEDS Mortality in Emergency Department 15. MODS Multi Organ Dysfunction Syndrome
16. MRSA Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus 17. OH Hydroxyl Radicals
18. O2
19. PA Posterior Anterior Oksigen
20. PaCO2 21. PaO
Partial Pressure of Carbon Dioxide
2
22. PaWP Pulmonary Artery Wedge Pressure Partial Pressure of Oxygen
23. PRSP Penisillin Resistant of Streptococcus Pneumonia 24. PSSP Penicillin Sensitive Streptococcus Pneumonia 25. PT Prothrombin Time
26. PTT Partial Thrombine Time 27. RSUP Rumah Sakit Umum Pusat
28. SIRS Systemic Inflammatory Response Syndrome 29. TLR Toll Like Receptors
30. TNF Tumor Necrosis Factor
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2 Output SPSS
Lampiran 3 Surat Persetujuan Komisi Etik Tentang Pelaksanaan Penelitian Penelitian Kesehatan
Lampiran 4 Surat Izin Penelitian ke Instalasi Rekam Medik
Lampiran 5 Surat Izin Penelitian dari RSUP H.Adam Malik Medan Lampiran 6 Data Induk Penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sepsis merupakan masalah global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi.1 Penelitian epidemiologi sepsis di Amerika Serikat menyatakan insiden sepsis sebesar 3/1.000 populasi yang meningkat lebih dari 100 kali lipat berdasarkan umur. Angka perawatan sepsis berkisar antara 2 sampai 11% dari total rawatan di ICU.2
Angka kejadian sepsis di Inggris berkisar 16% dari total rawatan di ICU. Insiden sepsis di Australia sekitar 11/1.000 populasi. Angka kematian sepsis berkisar antara 25-80% diseluruh dunia tergantung beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, ras, penyakit penyerta, riwayat trauma paru akut, gagal ginjal dan jenis infeksinya yaitu nosokomial, polimikrobial sebagai penyebabnya.2
Kejadian pneumonia yang menyebabkan sepsis diakibatkan oleh terapi antibiotic yang kurang adekuat, penggunaan terapi tambahan seperti steroid atau protein C aktif juga dapat mencegah kondisi pasien ke arah yang lebih buruk. Selain itu, dengan mempersingkat penggunaan alat bantu pernafasan berupa ventilator mekanik dapat mencegah kolonisasi mikroorganisme komensal yang berubah menjadi patogen di rongga mulut.3
Infeksi yang terjadi pada parenkim paru yang disebabkan oleh beberapa organisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit disebut dengan pneumonia.
Hal ini akan mengakibatkan inflamasi pada parenkim paru dan akumulasi eksudat.
Penyebaran infeksi pada interstisial di sekitar alveoli akan mengakibatkan gangguan pertukaran gas yang disebabkan konsolidasi.4
Pneumonia merupakan penyebab kematian tertinggi ke-6 di Amerika Serikat dan penyebab utama kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi. Insiden tahunan: 5-11 kasus per 1.000 orang dewasa; 15-45% perlu dirawat di rumah sakit, dan 5-10% diobati di ICU. Mortalitas: 5-12% pada pasien yang dirawat di rumah sakit; 25-50% pada pasien ICU.4
Pada banyak kejadian pneumonia yang menyebabkan timbulnya tanda-tanda sepsis. Akibat dari lama pemasangan alat-alat invasif di ICU dan lamanya waktu perawatan di ICU merupakan masalah utama, karena diperkirakan hampir 10%
pasien yang dirawat di ICU mengalami tanda-tanda sepsis berat (severe sepsis).5 Pada penelitian yang dilakukan di RSUP dr. Kariadi Semarang tahun 2013, didapati sebesar 42% (53 pasien) yang mengalami sepsis akibat pneumonia. Dari angka tersebut ditemukan pasien meninggal 86,8% (46 pasien) dan pasien hidup 13.2% (7 pasien).
1.2 Perumusan Masalah
6
Berdasarkan uraian di atas, mengingat masih tingginya angka kejadian pneumonia dan sepsis di Indonesia, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik pasien sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas di RSUP Haji Adam Malik Tahun 2013-2015.
Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut: “ Bagaimanakah gambaran karakteristik pasien sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas di ICU RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2013- 2015”.
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik pasien sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas yang dirawat di ICU RSUP Haji Adam Malik Tahun 2013- 2015.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui angka kejadian pasien sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas berdasarkan jenis kelamin, usia, dan lama perawatan
b. Untuk mengetahui angka kejadian pasien sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas berdasarkan jenis sepsis.
c. Untuk mengetahui angka kejadian pasien sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas pada tahun 2013-2015
1.4 Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:
2. Bagi peneliti
Sebagai sarana dalam meningkatkan pengetahuan mengenai penyebab mortalitas pasien sepsis akibat pneumonia serta menambah pengalaman dalam pembuatan penelitian.
3. Bagi masyarakat
Untuk memberi wawasan kepada masyarakat sehingga masyarakat lebih menjaga kebersihan dan lebih menjaga kesehatan.
4. Bagi ilmu pengetahuan
Sebagai sarana penambah pengetahuan yang nantinya dapat diedukasikan kepada masyarakat, dokter/perawat di rumah sakit agar lebih menjaga higienitas.
5. Bagi institut terkait
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan informasi dalam menyusun kebijakan dan strategi program kesehatan terutama yang berhubungan dengan penyakit sepsis yang diakibatkan pneumonia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai jaringan paru-paru yang bisa diklasifikasikan sebagai radang infeksi dan non-infeksi. Penyebab faktor infeksi bisa karena bakteri, virus, mikroplasma dan protozoa. Pneumonia non-infeksi bisa terjadi karena usia tua, merokok, sistem imun yang lemah dan penyakit kronis seperti jantung dan diabetes.7
Jaringan paru-paru terdiri dari kantong-kantong kecil yang disebut alveoli, dimana ia terisi dengan udara pada individu yang sehat. Ketika seseorang individu memiliki pneumonia, alveolinya akan terisi dengan pus dan cairan yang mengakibatkan kesakitan saat bernafas dan membatasi asupan oksigen.8
2.1.2 Etiologi
Tabel 2.1. Etiologi pneumonia Infeksi Bakteri
4
Infeksi Atipikal Infeksi Jamur Streptococcus
Pneumoniae
Haemophillus influenza Klebsiella pneumonia Pseudomonas aeruginosa Gram-negative (E.Coli)
Mycoplasma pneumonia
Legionella pneumophillia Coxiella burnetii
Clamydia psittaci
Aspergillus Histoplasmosis Candida Nocardia
Infeksi Virus Infeksi Protozoa Penyebab Lain Influenza
Coxsackie Adenovirus
Sinsitial respiratori
Pneumocytis carinii Toksoplasmosis Amebiasis
Aspirasi
Pneumonia lipoid Bronkiektasis Fibrosis kistik
Jeremy, P.T. At a Glance Sistem Respirasi. Paru – paru sistem respirasi. Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga Medical Series. 2008. p.76-7.
2.1.3 Patogenesis
Dalam keadaan sehat, pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di paru merupakan akibat ketidakseimbangan antara daya
tahan tubuh, mikroorganisme dan lingkungan, sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan menimbulkan penyakit.9
Resiko infeksi di paru sangan tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk sampai dan merusak permukaan epitel saluran nafas. Ada beberapa cara mikroorganisme mencapai permukaaan: 1. Inokulasi langsung; 2.
Penyebaran melalui pembuluh darah; 3 Inhalasi bahan aerosol; 4. Kolonisasi dipermukaan mukosa.9
Dari keempat cara tersebut diatas yang terbanyak adalah secara kolonisasi.
Secara inhalasi terjadi pada infeksi virus, mikroorganisme atipikal, mikrobakterial atau jamur. Kebanyakan bekteri dengan ukuran 0,5-2,0 m melalui udara dapat mencapai bronkus terminal atau alveol dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi kolonisasi pada saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi ke saluran napas bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan permulaan infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Sekresi orofaring mengandung konsentrasi bakteri yang tinggi 10 8-10/ml, sehingga aspirasi dari sebagian kecil sekret (0,001-1,1ml) dapat memberikan titer inoculum bakteri yang tinggi dan terjadi pneumonia.9
2.1.4 Klasifikasi
Klasifikasi pneumonia berdasarkan letak terjadinya11: 1. Community-Acquired Pneumonia
Pneumonia komunitas merupakan salah satu penyakit infeksius ini sering disebabkan oleh bakteri Steptococccus pneumonia (Penicillin sensitive and resistant strains), Haemophillus influenza dan Moraxella catarrhalis (all strains penicillin resistant). Ketiga bakteri tersebut dijumpai hampir 85% kasus CAP.
CAP biasanya menular karena masuk melalui inhalasi atau aspirasi organisme patogen ke segmen paru atau lobus paru-paru. Pada pemeriksaan fisik sputum yang purulent merupakan karakteristik penyebab dari tipikal bakteri, jarang terjadi mengenai lobus atau segmen paru. Tetapi apabila terjadi konsodilatasi akan terjadi peningkatan taktil fremitus, nafas bronkial. Angka kesakitan dan kematian infeksi CAP tertinggi pada lanjut usia dan pasien dengan imunokompromis. Resiko
kematian akan meningkat pada CAP apabila ditemukan faktor kormobid berupa peningkatan respiratory rate, hipotensi, demam, multilobar involvement, anemia dan hipoksia.12
2. Hospital-Acquired Pneumonia
Berdasarkan American Thoracic Sosiety (ATS), pneumonia nosokomial didefenisikan sebagai pneumonia yang muncul setelah lebih dari 48 jam dirawat di rumah sakit tanpa pemberian intubasi endotrakeal. Terjadinya pneumonia nosokomial akibat ketidakseimbangan pertahanan paru dan kemampuan kolonisasi bakteri sehingga menginvasi traktus respiratorius bagian bawah.
Bakteri yang berperan adalah: Pseudomonas Aeruginosa, Klebsiella sp, Staphilococcus Aureus, Streptococcus Pneumoniae. ATS membagi pneumonia nosokomial menjadi early onset (muncul selama 4 hari perawatan di rumah sakit) dan late onset (muncul lebih dari 5 hari perawatan di rumah sakit). Pada early onset pneumonia memiliki prognosis baik dibandingkan late onset pneumonia nosokomial; hal ini dipengaruhi pada multidrug-resistant organism sehingga mempengaruhi peningkatan mortalitas.12
3. Ventilator- Acquied Pneumonia
Pneumonia berhubungan dengan ventilator merupakan pneumonia yang terjadi setelah 48-72 jam atau lebih setelah intubasi trakea. Ventilator adalah alat yang dimasukkan melalui mulut atau hidung, atau melalui lubang di depan leher.
Infeksi dapat muncul jika bekteri masuk melalui lubang intubasi dan masuk ke paru-paru.13
Berdasarkan bakteri penyebab ;
A .Pneumonia bakterial / tipikal : dapat terjadi pada semua usia. Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka, misalnya Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza; B.
Pneumonia atipikal : disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia ; C.
Pneumonia virus ; D. Pneumonia jamur : sering merupakan infeksi sekunder.
Predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised).14
Berdasarkan predileksi infeksi ;
A. Pneumonia lobaris : sering pada pneumania bakterial, jarang pada bayi dan orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya : pada aspirasi benda asing atau proses keganasan
B. Bronkopneumonia: ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru.
Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua.
Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus di pneumonia interstisial.14
2.1.5 Faktor Risiko
Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan risiko pneumonia antara lain usia > 65 tahun; dan usia < 5 tahun, penyakit kronik (misalnya ginjal, dan paru), diabetes mellitus, imunosupresi (misalnya obat-obatan, HIV), ketergantungan alkohol, aspirasi, penyakit virus yang baru terjadi (misalnya influenza), malnutrisi, setelah operasi, lingkungan, pekerjaan. 4,10
2.1.6 Diagnosis
2.1.6.1 Gambaran Klinis:
a. Anamnesis
Gambaran klinis biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat melebihi 40ºC, batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.14
b. Pemeriksaan fisik
Temuan pemeriksaan fisik dada tergantung dari luas lesi di paru. Pada inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas, pada palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi.14
2.1.6.2 Pemeriksaan penunjang
1. Gambaran radiologis
Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosis. Gambaran radiologis dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan "air bronchogram", penyebab bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti. Foto toraks saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah diagnosis etiologi, misalnya gambaran pneumonia lobaris tersering disebabkan oleh Steptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumoniae sering menunjukkan konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan meskipun dapat mengenai beberapa lobus.14
2. Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leukosit, biasanya lebih dari 10.000/ul kadang-kadang mencapai 30.000/ul, dan pada hitungan jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta terjadi peningkatan LED.
Untuk menentukan diagnosis etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi. Kultur darah dapat positif pada 20- 25% penderita yang tidak diobati. Analisis gas darah menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.14
2.1.7. Penatalaksanaan
Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif. Pemberian antibiotik pada penderita pneumonia sebaiknya berdasarkan data mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya, akan tetapi karena beberapa alasan yaitu; 1. Penyakit yang berat dapat mengancam jiwa; 2. Bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab pneumonia; 3. Hasil pembiakan bakteri memerlukan waktu.14
Maka pada penderita pneumonia dapat diberikan terapi secara empiris.
Secara umum pemilihan antibiotik berdasarkan bakteri penyebab pneumonia dapat dilihat sebagai berikut:
PenisilinSensitiveStreptococcus pneumonia (PSSP); 1. Golongan penisilin;
2. Makrolid. Penisilin Resisten Streptococcus Pneumonia (PRSP); 1. Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat jalan); 2. Sefotaksim, seftriakson dosis tinggi; 3.
Marolid baru dosis tinggi.: 4. Flourokuinolon respirasi. Pseudomonas aeruginosa;
1. Aminoglikosid; 2. Seftazidim, Sefoperason, Sefepim; 3. Tikarsilin, Piperasilin;
4. Karbapenem: Meropenem, Imipenem; 5. Siprofloksasin, Levofloksasin.
Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA); 1. Vankomisin; 2.
Teikoplanin; 3. Linezolid. Haemophilus influenzae; 1. Azitromisin; 2.
Sefalosporin gen.2 atau 3; 3. Fluorokuinolon respirasi. Legionella; 1. Makrolid;
2. Fluorokuinolon; 3. Rifampicin. Mycoplasma pneumonia; 1. Doksisiklin; 2.
Makrolid. 3. Fluorokuinolon. Clamydia pneumonia; 1. Doksisikin; 2. Makrolid.14
2.1.8. Komplikasi
Terdapat beberapa komplikasi dari pneumonia yaitu: 14
• Efusi Pleura
Pada pneumonia infeksi parenkim paru akan menyebabkan aktivasi makrofag alveolar yang akan mengeluarkan sitokin inflamasi yang merangsang peningkatan permeabilitas vaskular. Permeabilitas vascular yang meningkat menyebabkan cairan kaya protein keluar dari vaskular menuju interstisial sehingga dapat menyebabkan effusi pleura eksudat.15
• Abses paru
Abses paru adalah nekrosis jaringan pulmoner dan pembentukan kavitas yang berisi debris nekrotik atau cairan yang disebabkan infeksi bakteri. Pembantukan abses kadang-kadang disebut sebagai nekrosis pada pneumonia. Kegagalan untung mengenali dan mengobati abses paru berakibat prognosa yang buruk.16
• Sepsis
Sepsis dapat terjadi apabila kuman di parenkim paru menyebar melalui pembuluh darah dan menyebabkan reaksi inflamasi sistemik yang ditandai dengan 2 dari 4 kriteria yaitu: demam ( suku tubuh > 38o C) atau (hipotermia) lebih kecil dari 36oC, takipnea (laju pernafasan lebih besar dari 24 x per menit), takikardi ( denyut
jantung lebih dari 90x/menit), dan leukositosis ( lebih besar dari 12.000/L) atau leukopenia ( >4.000/L) atau neutrophil batang >10%. 17
2.2. Sepsis 2.2.1. Definisi
Sepsis merupakan respon sistemik pejamu terhadap infeksi dimana patogen atau toksin dilepaskan ke dalam sirkulasi darah sehingga terjadi aktivasi proses inflamasi. Berbagai definisi sepsis telah diajukan, namun definisi yang saat ini digunakan di klinik adalah definisi yang ditetapakan dalam konsensus American Collage of Chest Physician and Society of Critical Care Medicine yang mendefinisikan sepsis, sindroma respon inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome / SIRS), sepsis berat, dan syok/ renjatan septik.18
Sindroma respons inflamasi sistemik (SIRS: Systemic Inflammatory Response Syndrome). Respon tubuh terhadap inflamasi sistemik mencakup 2 atau lebih keadaan berikut:18
Suhu >39oC atau <36oC
Frekuensi jantung >90kali/menit
Frekuensi nafas >20 kali/menit atau PaCO2<32mmHg
Leukosit darah >12.000/mm3, <4.000/mm3 atau batang >10%
Sepsis
Keadaan klinis berkaitan dengan infeksi dengan manifestasi SIRS.
Sepsis berat
Sepsis yang disertai dengan disfungsi organ, hipoperfusi atau hipotensi termasuk asidosis laktat, oliguria, dan penurunan kesadaran.
Renjatan septik
Sepsis dengan hipotensi meskipun telah diberikan resusitasi cairan secara adekuat atau memerlukan vasopressor untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi organ.
2.2.2. Etiologi
Merupakan respon terhadap setiap kelas mikroorganisme. Dari hasil kultur darah ditemukan bakteri dan jamur 20-40% kasus dari sepsis. Bakteri gram negatif dan gram positif merupakan 70% dari penyebab infeksi sepsis berat dan sisanya jamur atau gabungan beberapa mikroorganisme. Pada pasien yang kultur darahnya negatif, penyebab infeksi tersebut biasanya diperiksa dengan menggunakan kultur lainnya atau pemeriksaan mikroskopis.19 Penelitian terbaru mengkonfirmasi bahwa infeksi dengan sumber lokasi saluran pernapasan dan urogenital adalah penyebab paling umum dari sepsis.20
Tabel 2.2. Penyebab Umum Sepsis pada Orang Sehat21
Sumber lokasi Mikroorganisme
Kulit Staphylococcus aureus dan gram positif
bentuk cocci lainnya
Saluran kemih Eschericia coli dan gram negatif bentuk batang lainnya
Saluran pernafasan Streptococcus pneumonia
Usus dan kantung empedu Enterococcus faecalis, E.coli dan gram negatif bentuk batang lainnya,
Organ pelvis Bacteroides fragilis, Neissseria
gonorrheaanaerob
Kumar P, Clark M. Infectious disease, tropical medicine and sexually-transmitted infection. In: Finch RG, Irving WL, Moss P, Anderson J. Kumar and Clark’s Clinical Medicine. 8th ed; USA.Saunders Elsevier. 2012. p. 334-6.
Tabel 2.3.Penyebab Umum Sepsis pada Pasien yang Dirawat21
Masalah klinis Mikroorganisme
Pemasanagan kateter Escherichia coli, Klebsiella spp., Proteus spp.,
Serratia spp., pseudomonas spp Penggunaan iv kateter Staphylococcus aureus, Staph.epidermidis,
Klebsiella spp.,Pseudomonas spp., Candida albicans
Setelah operasi:
Wound infection Staph. aureus, E. coli, anaerobes(tergantung lokasinya)
Deep infection Tergantung lokasi anatominya
Luka bakar coccus gram-positif, Pseudomonas spp., Candida albicans Pasien immunocompromised, semua mikroorganisme diatas
Kumar P, Clark M. Infectious disease, tropical medicine and sexually-transmitted infection. In: Finch RG, Irving WL, Moss P, Anderson J. Kumar and Clark’s Clinical Medicine. 8th ed; USA.Saunders Elsevier. 2012. p. 334-6.
2.2.3. Patofisiologi
Perjalanan terjadinya sepsis sangat kompleks, hasil dari bakteri/ toksin yang berada dalam darah memicu pengeluaran sitokin. Sitokin bertanggung jawab sebagai observasi klinis dari bakterimia pada pasien, karena sitokinin akan dikeluarkan pada saat proses terjadinya sepsis.22
Respon host terhadap sepsis berdasarkan mekanisme imunitas bawaan dan imunitas adaptif. Imunitas bawaan berupa sel fagosit, neutrophil dan makrofag dimana fungsinya sebagai sel yang memakan dan menghilangkan segala jenis patogen atau benda asing, imunitas adaptif berupa imunitas spesifik terhadap patogen tertentu yang memiliki memori mencegah infeksi berulang.23
Mikroorganisme bakteri negatif memiliki endotoksin yang dapat dilepaskan ke dalam plasma yaitu lipopolisakarida dan eksotoksin pada gram positif.23 Kemudian imunitas bawaan akan berperan dalam inisiasi reaksi imunoinflamasi. Lipopolisakarida yang berikatan dengan protein plasma selanjutnya akan berikatan dengan reseptor CD14 yang berada di makrofag dan endotel. Sehingga dimulailah sinyal intraseluler melalui mekanisme reseptor spesifik (Toll Like Receptor (TLR)).23
Sel makrofag ini dapat mengenali endoteksin bakteri gram negatif berupa Pathogen Associated Mollecular Patterns sehingga makrofag mengeluarkan sitokin berupa TNF-α.23
Setelah respon inflamasi berupa Tumor Necrosis Factor (TNF-α), interleukin 1 (IL-1), histamin, komplemen dan radikal bebas dipicu, pembuluh darah endotel akan mengarahkan elemen seluler leukosit menuju lokasi infeksi.
Sitokin proinflamasi dan neutrophil yang disekresikan di endothel pembuluh darah dianggap memicu apoptosis (kematian sel terprogram) dan aktifitas neutrofil menyebabkan kerusakan kaskade sehingga terbentuk radikal bebas O2&
OH di dalam sel endotel. Sehingga dari interaksi endotel-leukosit menghasilkan cedera jaringan dari tingkat sel maupun jaringan.23
2.2.4. Diagnosis
Tindakan tes diagnostik pada pasien dengan sindrom sepsis atau dicurigai sindrom sepsis memiliki dua tujuan. Tes diagnostik digunakan untuk mengidentifikasi jenis dan lokasi infeksi dan juga menentukan tingkat keparahan infeksi untuk membantu dalam memfokuskan terapi.20
2.2.4.1. Gejala Klinis
Gejala klinis sepsis biasanya tidak spesifik, biasanya didahului oleh tanda- tanda sepsis non spesifik meliputi demam, menggigil, dan gejala konstitutif seperti lelah, malaise, gelisah dan kebingungan. Tempat infeksi yang paling sering adalah paru, traktus digestifus, traktus urinarius, kulit, jaringan lunak, dan saraf pusat. Sumber infeksi merupakan determinan penting untuk terjadinya berat dan tidaknya gejala sepsis. Gejala sepsis tersebut akan menjadi lebih berat pada pasien usia lanjut, penderita diabetes, kanker, gagal organ utama, dan pesien dengan granulosiopenia.24
Yang sering diikuti oleh MODS (Multi Organ Disfunction Syndrome) sampai dengan terjadinya syok sepsik. Tanda-tanda MODS dengan terjadinya komplikasi 1. Sindroma distress pernafasan ALI (Acute Lung Injury) tampak pada 60%-70% pasien dengan severe sepsis. Hal ini ditandai dengan adanya infiltrat paru pada rontgen tanpa adanya gagal jantung kiri (PaWP < 18 mmHg). Adanya kegagalan dalam pertukaran gas paru yang ditandai rasio PaO2/FiO2 <300 untuk ALI atau <200 untuk ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) . Tingkat keparahan ALI/ARDS menentukan ventilasi mekanik.
Ventilasi mekanik akan memulihkan pertukaran gas paru dan mengurangi kebutuhan metabolik. Efek merugikan sebaiknya dihindarkan dengan Protective Ventilatory Strategies; 2. Disfungsi sistem saraf. Jika sumber infeksi diluar CNS, gangguan neurologik dapat dianggap sebagai ensefalopati septik. Beberapa kondisi lainnya dapat menambah efek sekunder seperti hipoksemia, gangguan
metabolik, elektrolit, dan hipoperfusi serebral selama keadaan syok. Gejal dapat bervariasi mulai dari agitasi, bingung, delirium, dan koma. Walaupun tidak terlihat defisit neurologi tetapi dapat terjadi mioklonus dan kejang. Gangguan CNS berat memerlukan proteksi jalan napas dan support ventilasi; 3. Gagal jantung; 4. Kematian.24
2.2.4.2. Pemeriksaan Laboratorium25
Pada pasien sepsis juga dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosis. Pada tabel dibawah dijelaskan hal-hal yang menjadi indikator laboratorium pada penderita sepsis.
Tabel 2.4 Indikator Laboratorium Penderita Sepsis Pemeriksaan
Laboratorium
Temuan Uraian
Hitung Trombosit
Trombosit atau Trombositopenia
Peningkatan jumlah di awal
menunjukkan
respon akut dan penurunan jumlah trombosit
menunjukkan DIC Kaskade
Koagulasi
Defisiensi protein C,Defisiensi,
Antitrombin
Defisiensi D- dimer Pemanjangan PT, PTT
Abnormalitas dapat diamati
sebelum kegagalan organ dan tanpa pendarahan Kreatinin Peningkatan kreatinin indikasi gagal ginjal akut Asam laktat As.laktat >4 mmol/L
(36mg/dl)
Hipoksia jaringan Enzim Hati Peningkatanalkaline
phosphatase, AST,
Gagal hepatoselular akut disebabkan
hipoperfusi
Serum fosfat Hipofosfatemia Berhubungan dengan level cytokin proinflammatory C-Reaktif
Protein (CRP)
Meningkat Respon fase akut
Procalcitonin Meningkat Membedakan SIRS dengan atau tanpa infeksi
LaRosa, S. P., Sepsis. In: Gordon, S. Current Clinical Medicine. 2nd ed: Saunders Elsevier. Philadelphia. 2010. p.720-5.
Pemeriksaan penunjang yang digunakan foto toraks, pemeriksaan dengan prosedur radiografi dan radioisotop lain sesuai dengan dugaan sumber infeksi primer.27
2.2.5. Prognosis
Dokter harus mengidentifikasi tingkat keparahan penyakit pada pasien dengan infeksi dan memulai resusitasi agresif bagi pasien dengan potensi tinggi untuk menjadi kritis. Meskipun pasien telah memenuhi kriteria SIRS, ini sendiri hanya mampu memberikan sedikit prediksi dalam menentukan tingkat keparahan penyakit dan mortalitas. Angka Mortality in Emergency Department of Sepsis (MEDS) telah membuat skor sebagai metode untuk mengelompokkan resiko mortalitas pasien dengan sepsis. Skor total dapat digunakan untuk menilai risiko kematian. Jadi, semakin besar jumlah faktor risiko semakin besar kemungkinan pasien meninggal selama di ICU.20
BAB III
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
3.1. Kerangka Teori
Pneumonia
Sindroma respons inflamasi sistemik
Sepsis berat Renjatan septik
Mortalitas
Gambar 1. Kerangka Teori
3.2. Kerangka konsep
Karakteristik pasien sepsis Jumlah pasien
akibat pneumonia di ruang ICU meninggal
Gambar 2. Kerangka Konsep Sepsis
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif dengan satu kali pengamatan pada rentang waktu tertentu didapatkan data karakteristik pasien sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas yang di rawat di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan Tahun 2013 – 2015.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik Medan. Waktu penelitian ini dimulai dari bulan Agustus sampai Oktober 2016.
4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita sepsis dewasa akibat pneumonia yang mengalami mortalitas di ICU Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
4.3.2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah data rekam medis pasien sepsis dewasa yang memiliki riwayat terkena pneumonia yang mengalami mortalitas dan tercatat pada rekam medik.
4.3.3. Kriteria inklusi
Seluruh pasien dewasa yang telah di diagnosa oleh dokter terkena sepsis dengan riwayat pneumonia yang mengalami mortalitas dan tercatat pada rekam medik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.
4.3.4. Kriteria eksklusi
Pasien yang tidak memiliki data yang lengkap.
4.3.5. Jumlah Sampel
Penelitian ini bersifat deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan metode Total Sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi yang memenuhi kriteria inklusi.
4.4. Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data rekam medis penderita sepsis akibat pneumonia di RSUP Haji Adam Malik Medan periode 2013-2015.
4.5. Pengolahan dan Analisa Data 4.5.1. Pengolahan data
Pengolahan data yang telah terkumpul dilakukan dengan menggunakan program komputer untuk melakukan analisis data. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah pengeditan, yaitu memeriksa kelengkapan identitas serta data responden.
Selanjutnya proses pengkodean, yaitu pemberian kode atau angka tertentu dari hasil yang didapat guna mempermudah tabulasi dan analisis. Tahap ketiga adalah pemasukan data, yaitu memasukkan data ke program SPSS. Tahap berikutnya merupakan pembersihan, yaitu memeriksa kembali data yang telah dimasukkan untuk mencegah terjadinya kesalahan.Tahap terakhir merupakan penyimpanan data yang telah diolah dan dianalisa.
4.5.2. Analisa data
Data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis secara univariat, yaitu menganalisa variabel penelitian satu demi satu untuk mendapatkan gambaran proporsi dari seluruh variabel dependent yang diteliti. Semua data yang diperoleh akan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
4.6.Definisi Operasional
a) Penderita pneumonia adalah pasien dewasa yang dirawat di RSUP HAM Medan periode 2013-2015 yang berujung pada sepsis berdasarkan diagnosa dokter, seperti yang tertulis pada kartu status.
Cara ukur : observasi Alat ukur : rekam medis Skala pengukuran : nominal
b) Jenis sepsis adalah tingkat keparahan sepsis yang diakibatkan pneumonia Cara ukur : observasi
Alat ukur : rekam medis Skala pengukuran : ordinal
Hasil pengukuran : sepsis, sepsis berat, ranjatan septik
c) Mortalitas adalah angka rata- rata kematian pada penderita sepsis akibat pneumonia
Cara ukur : observasi Alat ukur : rekam medis Skala pengukuran : nominal
Hasil pengukuran : hidup atau meninggal
d) Jenis kelamin adalah petanda gender seseorang yaitu laki-laki dan perempuan
Cara ukur : observasi Alat ukur : rekam medis Skala pengukuran : nominal
Hasil pengukuran : perempuan atau laki-laki
e) Usia adalah umur pasien yang menederita sepsis dewasa akibat pneumonia yaitu 18 tahun keatas.
Cara ukur : observasi Alat ukur : rekam medis Skala pengukuran : interval
Hasil pengukuran : 18-29 tahun, 30-50 tahun, < 50 tahun.
f) Lama Perawatan adalah waktu yang dijalani pasien di RS sampai mengalami mortalitas
Cara ukur : observasi Alat ukur : rekam medis Skala pengukuran : interval
Hasil pengukuran : 1-5 hari, 6-20 hari, >20 hari.
4.7. Rancangan Penelitian Tabel 4.1. Rancangan penelitian
No. Keterangan Maret
-Mei Juni Juli- Agust
Sept-
Nov Des 1 Penelusuran kepustakaan
2 Pembacaan proposal penelitian 3 Pengumpulan data
4 Pengolahan data
5 Pembacaan hasil penelitian
4.8. Etika Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan memintakan ethical clearance dari komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Penggunaan rekam medik akan dimintakan izin kepada Direktur SDM & Pendidikan RSUP H.
Adam Malik Medan, sedangkan identitas pasien akan dirahasiakan dan tidak akan dipublikasi.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Departemen Paru dan Penyakit Dalam RSUP H.
Adam Malik yang terletak di jalan Bunga Lau No. 17, Kemenangan Tani, Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia.
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Pasien
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan 135 data rekam medis periode 2013-2015 yang memenuhi kriteria inklusi serta tidak termasuk ke dalam kriteria eksklusi. Karakteristik yang diamati pada penderita adalah jenis kelamin, usia, lama perawatan dan derajat sepsis.
5.1.3. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin pada Penderita Sepsis akibat Pneumonia di RSUP HAM Medan.
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Penderita Sepsis akibat Pneumonia Menurut Jenis Kelamin.
Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
Jenis kelamin Laki – laki
Perempuan Total
81 54 135
60,0 40,0 100
Berdasarkan Tabel 5.1. diatas diketahui bahwa jenis kelamin yang paling banyak terkena sepsis akibat pneumonia yang berakhir pada mortalitas adalah laki – laki, yaitu sebanyak 81 orang (60,0%).
5.1.4. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Usia pada Penderita Sepsis akibat Pneumonia di RSUP HAM Medan.
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Penderita Sepsis akibat Pneumonia Menurut Usia.
Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
Usia
- 18-29 - 30-50 - >50 Total
19 39 77 135
14,1 28,9 57,0 100
Berdasarkan Tabel 5.2. diatas diketahui bahwa usia yang paling banyak terkena sepsis akibat pneumonia yang berakhir pada mortalitas adalah pada usia diatas 50 tahun, yaitu sebanyak 77 orang (57,0%).
5.1.5. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Lama Perawatan pada Penderita Sepsis akibat Pneumonia di RSUP HAM Medan.
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Penderita Sepsis akibat Pneumonia Menurut Lama Perawatan.
Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
Lama Perawatan (hari)
- 1-5 86 63,7
- 6– 20 - > 20 Total
42 7 135
31,1 5,2 100
Berdasarkan Tabel 5.3. diatas diketahui bahwa lama perawatan pasien sepsis akibat pneumonia yang berakhir pada mortalitas yang tersering adalah pada perawatan 1 – 5 hari, yaitu sebanyak 86 orang (63,7%).
5.1.6. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Jenis sepsis pada Pasien Sepsis akibat Pneumonia di RSUP HAM Medan.
Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Penderita Sepsis akibat Pneumonia Menurut Jenis Sepsis.
Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
Derajat Sepsis - Sepsis Berat - Sepsis Syok Total
52 83 135
38,5 61,5 100
Berdasarkan Tabel 5.4. diatas diketahui bahwa jenis sepsis yang terbanyak mengakibatkan mortalitas pada pasien sepsis akibat pneumonia adalah sepsis syok yaitu sebanyak 83 orang (61,5%).
5.1.7. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Angka Kejadian Penderita Sepsis akibat Pneumonia di RSUP HAM Medan.
Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Penderita Sepsis akibat Pneumonia Menurut Angka Kejadian.
Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
Tahun - 2013 - 2014 - 2015 Total
108 21 6 135
80,0 15,6 4,4 100
Berdasarkan Tabel 5.5. diatas diketahui bahwa angka terbanyak penderita sepsis akibat pneumonia yaitu pada tahun 2013 yaitu sebanyak 108 orang (80,0%).
5.2. Pembahasan
Sepsis merupakan masalah global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi.1 Penelitian epidemiologi sepsis di Amerika Serikat menyatakan insiden sepsis sebesar 3/1.000 populasi yang meningkat lebih dari 100 kali lipat berdasarkan umur.2
Kejadian pneumonia yang menyebabkan sepsis diakibatkan oleh terapi antibiotic yang kurang adekuat, penggunaan terapi tambahan seperti steroid atau protein C aktif juga dapat mencegah kondisi pasien ke arah yang lebih buruk. Selain itu, dengan mempersingkat penggunaan alat bantu pernafasan berupa ventilator mekanik dapat mencegah kolonisasi mikroorganisme komensal yang berubah menjadi patogen di rongga mulut.3
Penderita sepsis akibat pneumonia yang berujung pada mortalitas yang tercatat di RSUP H. Adam Malik selama tahun 2013 -2015 adalah sebanyak 135
penderita. Jumlah penderita menurun dibandingkan dengan kejadian tahun 2012 dengan jumlah 240 kasus di RSUP H. Adam Malik Medan.
Jenis Kelamin
Dari hasil penelitian terhadap rentan usia pasien yang mengalami mortalitas, angka kejadian tertinggi yaitu pada laki- laki yaitu berjumlah 81 orang (60%) dibandingkan perempuan yaitu 54 orang (40,0).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Immanuel Wiraatmaja. Penelitian tersebut dilakukan di ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada bulan Agustus 2013 – Januari 2014, yang menyatakan bahwa mortalitas pasien sepsis akibat pneumonia terbanyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Pada penelitian tersebut, dari sebanyak 50 pasien, terdapat 30 pasien berjenis kelamin laki – laki (60%).27
Usia
Pada penelitian ini dijumpai bahwa angka kejadian terbanyak pada kelompok usia
>50 tahun yaitu 77 orang (57,0%). Pada kelompok usia 30-50 tahun terdapat 39 orang (28,9%) dan pada kelompok usia 18-29 tahun terdapat 19 orang (14,1%).
Hasil ini sesuai dengan penelitian Rheza,dkk yang melakukan penelitian di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Desember 2014 – November 2015. Dari 35 sampel terdapat 21 pasien dengan usia >50 tahun (60,0%) , dan 14 pasien <50 tahun (40,0%). 28
Lama Perawatan
Pada penelitian ini dijumpai bahwa angka kejadian mortalitas pada pasien terbanyak yaitu pada perawatan 1-5 hari yaitu sebanyak 86 orang (63,7%). Angka mortalitas pada pasien yang dirawat 6-20 hari sebanyak 42 orang (31,1%) dan pada pasien yang dirawat > 20 hari sebanyak 7 orang (5,2%).
Hal ini sesuai dengan penelitian Rheza,dkk yang melakukan penelitian di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Desember 2014 – November
2015. Dari 23 kasus kematian, terdapat 22 pasien yang mengalami kematian pada 1-5 hari perawatan (95,6%) dan pada perawatan lebih dari 5 hari terdapat 1 pasien (4,4%).28
Jenis Sepsis
Dari seluruh pasien sepsis akibat pneumonia, yang terbanyak menyebabkan mortalitas adalah syok sepsis yaitu 83 orang (61,5%). Pada pasien yang menderita sepsis berat terdapat 52 orang (38,5%).
Hal ini sesuai dengan penelitian Emanuel Rivers dkk, penelitian ini dilakukan pada 288 pasien.. pada penelitian tersebut didapati hasil sebanyak (54,7 %) pasien mengalami syok sepsis dan sebanyak 45,3 % pasien mengalami sepsis berat.29
Jumlah Penderita per Tahun
Dari hasil penelitian ini, didapati penderita sepsis akibat pneumonia yang mengalami mortalitas yang terbanyak terdapat pada tahun 2013 yaitu 108 orang (80,0%), pada tahun 2014 terdapat 21 orang (15,6%) dan pada tahun 2015 terdapat 6 orang (4,4%).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kaukonen dkk. Hasil penelitian tersebut didapati hasil menurunnya angka mortalitas setiap tahunnya.
Didapati angka mortalitas pada tahun 2000 – 2013 telah menurun sebanyak 17,8%.30
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian terhadap 135 sampel penderita sepsis akibat pneumonia berdasarkan data rekam medis mengenai mortalitas penderita sepsis akibat pneumonia yang dirawat di Unit Perawatan Intensif RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2013 – 2015 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penelitian di dapat bahwa mayoritas jenis kelamin subjek penelitian adalah kelompok laki – laki yaitu sebanyak 81 orang (60,0%).
2. Berdasarkan hasil penelitian di dapat bahwa mayoritas umur subjek penelitian adalah kelompok umur > 50 tahun yaitu sebanyak 77 orang (57,0%).
3. Berdasarkan hasil penelitian di dapat bahwa rentang waktu tersering pasien mengalami mortalitas adalah pasien yang dirawat 1-5 hari yaitu sebanyak 86 orang (63,7%).
4. Berdasarkan hasil penelitian di dapat bahwa penderita sepsis terbanyak yang mengalami mortalitas adalah sepsis syok yaitu sebanyak 83 orang (61,5%).
5. Berdasarkan hasil penelitian di dapat bahwa pasien sepsis akibat pneumonia terbanyak yang mengalami mortalitas terdapat pada tahun 2013 yaitu sebanyak 108 orang (80%).
6.2. Saran
Adapun saran dalam penelitian ini, yaitu:
1. Untuk RSUP Haji Adam Malik Medan, untuk mempertahankan penatalaksanaan pasien sepsis akibat pneumonia.
2. Untuk peneliti lain, disarankan untuk meneliti dengan karakteristik yang berbeda dan melakukan penelitian di rumah sakit lainnya, untuk melihat perbandingan angkat mortalitas sepsis akibat pneumonia.
3. Untuk masyarakat, agar lebih waspada terhadap tingginya angka mortalitas akibat sepsis yang ditimbulkan sebagai komplikasi dari pneumonia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Wong HR, Nowak JE, Standage SW, Oliveira CF, Sepsis. Dalam:
Fuhrman B.P, Zimmerman J.J, Carcillo J.A, penyunting. Pediatric critical care. 4th ed. Philadelphia: Elsevier;2011. p. 1413-29.
2. Marik VE, Varon J. The management of sepsis. In: Irwin RS, Rippe JM, eds. Irwin and rippe’s intensive care medicine. 6th ed. Philadelphia:
Lippincot Williams & Wilkins; 2008.p.1856-69.
3. Mongardon N, Max A. Epidemiology and outcome of severe pneumococcal pneumonia admitted to intensive care unit : multicenter study.2012; 16(4) R :155.
4. Jeremy, P.T. At a Glance Sistem Respirasi. Paru – paru sistem respirasi.
Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga Medical Series. 2008. p.76-7.
5. Dick A, Liu H, Zwanzinger J, Perencevich E. Long-term Survival and Healthcare Ultilazation Outcomes Atributable to Sepsis and Pneumonia.
BMC Health Services Research, 2012. 12:432.
6. Rahmawati AF, Angka Kejadian Pneumonia pada Pasien Sepsis di ICU RSUP dr. Kariadi Semarang tahun 2013, Karya tulis ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro 2014.
7. Dock E, Boskey E. Atypical Pneumonia, Healthline. Medical Reviewed.
2015.Available from:
http://www.healthline.com/health/atypical-pneumonia#Overview1.
Accessed 26 June 2016.
8. United Nations Children’s Fund & World Health Organization, Pneumonia The Forgotten Killer of Children. Background on Pneumonia.
2006. p. 6.
9. Priyanti,Z,S. Konsensus Pneumonia. Bagian Pulmonologi FK UI. 2016.
Available from:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/Xsip/konsensus-pneumonia/pneumonia.htm Accessed at April 13th 2016
10. Misnadirly. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia Pada Anak Balita, Orang Dewasa, Usia Lanjut. Jakarta: Pustaka Popular Obor. 2008.p. 55-8.
11. Mardjanis S. Pneumonia. In : Raharjo N, Supriyatno B, Setyanto D (eds).
Buku Ajar Respiratologi Anak. Edisi I. Jakarta : Badan Penerbit IDAI.
2008. p.16-21.
12. Burke CA. Community Acquired Pneumonia. 2013
Availablehfromj:http://emedicine.medscape.com/article/234240-overview#a1 Accessed 26 June 2016.
13. Djojodibroto RD. Penyakit Infeksi pada Parenkim Paru. Dalam: Perdan TIM, Susanto D. Respirologi (Respiratory Medicine). Edisi 1. Jakarta.
2009. p. 136.
14. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2011.
15. Bradley, E. Burton, J. Jones, R.L. Atlas of Pathophysiology, 3rd Edition.
USA. Lippincott Williams & Wilkins. 2010. p. 232-3
16. Kamangar,N; Pulmonary and Critical Care Medicine, background of lung abscess .
Availablevfroms:http://emedicine.medscape.com/article/299425-overview#a0101 Accessed at April 13th 2016
17. Fauci, A,S. Kasper. D. L. Harrison’s principles of Internal Medicine.Section 7; Infectious Diseases. 16th ed. New York. McGraw- Hill. 2005. p. 445-79
18. Chen, K., and Pohan, H.T., Penatalaksanaan Syok Septik. Dalam : Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S., eds.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing, 2009.
p.252-6.
19. Munford, R.S., Severe Sepsis and Septic Shock. In: Fauci S.L, Braunwald, L. Kasper. L.D. eds. Harrison,s Principles of Internal Medicine. 17th ed.
USA: Mc Graw Hill, 2008 p.1695-702.
20. Shapiro, N.I., Zimmer, G.D., and Barkin, A.Z., Sepsis Syndromes. In:
Marx et al., ed. Rosen’s Emergency Medicine Concepts and Clinical Practice. 7th ed. Philadelphia. Mosby Elsevier, 2010. p.1869-79.
21. Kumar P, Clark M. Infectious disease, tropical medicine and sexually- transmitted infection. In: Finch RG, Irving WL, Moss P, Anderson J.
Kumar and Clark’s Clinical Medicine. 8th ed; USA.Saunders Elsevier.
2012. p. 334-6.
22. Cunha BA, Practice essentials. In Bronze MS. Bacterial sepsis. 2016 Available from: http://emedicine.medscape.com/article/234587-overview Accessed 26 June 2016.
23. Siner JM. Sepsis Defenitions, Epidemiology, Etiology and Pathogenesis.
Critical Care Severe Sepsis and Septic Shock. Chest American college of chest physicians 2009. Vol.23:2-6.
24. Peters, S.G., Critical Care Medicine. In: Habermann, T.M., and Ghosh, A.K., eds. Mayo Clinic Internal Medicine Concise Textbook. Canada:
2008. p. 129-46.
25. LaRosa, S. P., Sepsis. In: Gordon, S. Current Clinical Medicine. 2nd ed:
Saunders Elsevier. Philadelphia. 2010. p.720-5.
26. Ferri, F.F. Septicemia. Ferri’s Clinical Advisor : 5 Books in 1: 1st ed.
Elsevier Mosby, 2013 p.924-5.
27. Wiraatmaja I, CO2 Gap Sebagai Prediktor Tingkat Mortalitas Pasien Sepsis Berat di Intensive Care Unit. Jurnal Anastesi Perioperatif 2014. Vol (3). p. 194-9.
28. Tambajong RN, Lalenoh DC, Kumaat L. Profil penderita sepsis di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Desember 2014 – November 2015. Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.
29. Rivers E, Nguyen B, Havstad S, et al. Early Goal-Directed Theraphy in Trearment of Severe Sepsis and Septic Shock. p.1368-1377. 2011.
30. Kaukonen KM, Bailey M, Pilcher D, Cooper DJ, Bellomo R. Systemic inflammatory response syndrome criteria in defining severe sepsis. The New England Journal of Medicine 2015. 372(17):1629-38.
LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Lily
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat dan Tanggal Lahir : Medan, 13 Juni 1995 Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Komp. Bumi Seroja Permai Blok E No. 51 Medan Nomor Telepon : 081260407609
Email : [email protected] Riwayat Pendidikan :
1. TK Yayasan Pendidikan Harapan Medan 2000-2001 2. SD Yayasan Pendidikan Harapan 1 Medan 2001-2007 3. SMP Yayasan Pendidikan Harapan 1 Medan 2007-2010 4. SMA Yayasan Pendidikan Harapan 1 Medan 2010-2013 5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2013- sekarang Riwayat Pelatihan :
1. Peserta PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) FK USU 2013 2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU 2013
LAMPIRAN 2
Output SPSS
A. Deskripsi Karakteristik Responden
usia
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid <30 19 14.1 14.1 14.1
30-50 39 28.9 28.9 43.0
50> 77 57.0 57.0 100.0
Total 135 100.0 100.0
jeniskelamin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid laki-laki 81 60.0 60.0 60.0
perempuan 54 40.0 40.0 100.0
Total 135 100.0 100.0
derajatsepsis
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid berat 52 38.5 38.5 38.5
syok 83 61.5 61.5 100.0
Total 135 100.0 100.0
lamadirawat
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 1-5 86 63.7 63.7 63.7
6-20 42 31.1 31.1 94.8
>20 7 5.2 5.2 100.0
Total 135 100.0 100.0
tahun
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 13 108 80.0 80.0 80.0
14 21 15.6 15.6 95.6
15 6 4.4 4.4 100.0
Total 135 100.0 100.0
LAMPIRAN 3
LAMPIRAN 4
LAMPIRAN 5