7 Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1 Shareholder Theory
Shareholder Theory menyatakan bahwa tanggung jawab yang paling mendasar dari direksi adalah bertindak untuk kepentingan meningkatkan nilai (value) dari pemegang saham. Teori shareholder berkaitan dengan maksimalisasi keuntungan finansial bagi pemegang saham (Tripathi & Tripathi, 2016). Sutedi (2011) mengungkapkan shareholder theory menjelaskan hubungan antara manajemen perusahaan dan pemegang saham ini, memiliki tujuan membantu manajemen perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan dan meminimalkan kerugian yang mungkin muncul bagi shareholder mereka. Dalam penciptaan nilai bagi perusahaan, manajemen perusahaan harus dapat mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki perusahaan, baik karyawan (human capital), aset fisik (physical capital) maupun structural capital. Apabila seluruh sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan baik maka akan menciptakan value added bagi perusahaan sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Segala tindakan tersebut dilakukan demi kepentingan pemegang saham. Dapat disimpulkan bahwa shareholder theory adalah upaya yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kekayaan para pemegang saham dan juga upaya untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu dari perusahaan.
Secara umum, shareholder theory mencakup gagasan bahwa tujuan utama dari kebohongan bisnis adalah untuk menghasilkan keuntungan dan meningkatkan kekayaan pemegang saham (Michael D. Pfarrer, 2010). Kebohongan bisnis yang dimaksudkan adalah upaya untuk membuat hasil laporan pertangungjawaban bisnis menjadi terlihat seolah-olah sudah baik di hadapan para pemegang saham.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat bahwa perusahaan dituntut untuk dapat meningkatkan kesejahteraan pemegang saham, selain itu perusahaan juga ingin memenuhi kepentingan-kepentingan tertentu dalam perusahaannya. Dengan begitu, sejalan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Michael D. Pfarrer (2010) bahwa perusahaan akan melakukan kebohongan bisnis demi memenuhi hal tersebut. Apabila kinerja yang dihasilkan oleh manajemen dalam perusahaan
8 Universitas Kristen Petra
kurang baik maka manajemen akan melakukan kebohongan bisnis. Kebohongan bisnis dapat dilakukan dengan cara melakukan manajemen laba, hal ini dilakukan agar kinerja yang dihasilkan perusahaan tetap terlihat baik. Sehingga, dengan dilakukannya manajemen laba perusahaan tetap seolah-olah dianggap bertanggungjawab terhadap kesejahteraan pemegang saham dan perusahaan tidak kehilangan kepercayaan dari para pemegang saham.
2.2 Definisi Variabel 2.2.1 Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan tindakan yang dilakukan manajemen dengan cara mengubah jumlah laba yang ada pada laporan keuangan karena kepentingan tertentu. Manajemen laba merupakan tindakan manajemen yang berupa campur tangan dalam proses penyusunan laporan keuangan dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraannya secara personel maupun untuk meningkatkan nilai perusahaan (Widyaningdyah, 2001). Fischer dan Rosenzweig (1995) menyatakan manajemen laba adalah tindakan manajer yang menaikkan (menurunkan) laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikan atau penurunan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang. Menurut Healy dan Wallen (1999) manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgement dalam laporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan, sehingga menyesatkan stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi.
Manajemen laba adalah pilihan manajemen terhadap kebijakan akuntansi atau tindakan nyata yang mempengaruhi laba untuk mencapai tujuan spesifik terkait laba yang dilaporkan (Scott, 2012). Kebijakan akuntansi meliputi pemilihan prinsip-prinsip, dasar-dasar, peraturan, prosedur, dan metode yang digunakan manajemen dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan dalam perusahaan. Kebijakan akuntansi biasanya disesuaikan dengan kondisi perusahaan dan tujuan-tujuan tertentu dari perusahaan. Contoh kebiajakan akuntansi dalam perusahaan misalnya, pemilihan metode pencatatan persedian dengan menggunakan FIFO, LIFO, atau Average Method. Manajemen laba melalui
9 Universitas Kristen Petra
aktivitas riil didefinisikan sebagai penyimpangan dari aktivitas operasi normal perusahaan yang dimotivasi oleh keinginan manajemen untuk memberikan pemahaman yang salah kepada pemangku kepentingan bahwa tujuan pelaporan keuangan tertentu telah dicapai melalui aktivitas operasi normal perusahaan (Roychowdhury, 2006). Contoh dari tindakan nyata manajemen yaitu apabila perusahaan menginginkan laba yang tinggi maka perusahaan dapat mengurangi adanya pemberian promosi, mengurangi R&D (Research and Development), dan mengurangi biaya iklan perusahaan agar beban perusahaan berkurang.
Terdapat banyak definisi mengenai manajemen laba namun, definisi- definisi tersebut memiliki kesamaan dan saling berhubungan antara definisi yang satu dengan definisi yang lainnya. Dari beberapa kesamaan itu dapat terlihat bahwa manajemen laba merupakan aktivitas manajerial untuk “mempengaruhi”
laporan keuangan baik dengan cara memanipulasi data atau informasi keuangan perusahaan maupun dengan cara pemilihan metode akuntansi yang diterima dalam prinsip akuntansi umum, yang pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh keuntungan perusahaan (Aditama dan Purwaningsih, 2014).
2.2.1.2 Pengukuran Manajemen Laba
Pengukuran manajemen laba dapat dilakukan dengan banyak metode.
Metode-metode yang dapat digunakan dalam mengukur manajemen laba diantaranya adalah The Healy Model, The De Anggelo Model, The Jones Model, The Modified Jones Model. Manajemen laba dalam penelitian ini diukur menggunakan The Modified Jones Model dengan The Cross-Sectional Models . Menurut penelitian (Dechow, Sloan, & Sweeney, Detecting Earnings Management, 1995) menggungkapkan bahwa modified jones merupakan model paling baik untuk menguji manajemen laba. The Cross-Sectional Models merupakan pengujian data menggunakan beberapa perusahaan pada sektor industri yang sama dengan membandingkan beberapa tahun yang berbeda.
Penelitian ini ingin melihat bagaimana perusahaan melakukan manajemen laba dengan memilih kebijakan akuntansi tertentu. Kebijakan akuntansi berhubungan dengan angka-angka akrual yang mudah dirubah, sehingga penelitian ini memilih The Modified Jones Model untuk mendeteksi manajemen laba yang ada pada perusahaan yang diteliti. Penelitian ini menggunakan modified Jones model untuk
10 Universitas Kristen Petra
mengukur manajemen laba karena lebih akurat dalam mendeteksi dan menjelaskan komponen-komponen akrual yang dikelola manajemen, yakni beban, pendapatan dan margin dibandingkan model lainnya (Dechow, 1995).
Praktik manajemen laba dalam penelitian ini diproksikan dengan nilai discretionary accrual (DA). Dalam bukunya Sulistyanto (2008) mengungkapkan sejauh ini model berbasis akrual yang diterima secara umum sebagai model yang memberikan hasil paling kuat dalam mendeteksi manajemen laba. Alasannya, model empiris ini sejalan dengan akuntansi berbasis akrual yang selama ini banyak dipergunakan di dunia usaha. Model Akuntansi ini merupakan pencatatan yang membuat munculnya komponen akrual yang mudah untuk dipermainkan besar kecilnya (Sulistyanto, 2008). Model yang digunakan untuk menghitung DA adalah sebagai berikut:
DAit = TAit - NDAit Rumus 2.1 Rumus Discretionary Accrual
Keterangan:
DAit = Discretionary accrual perusahaan i pada tahun t TAit = Total akrual perusahaan i pada tahun t
NDAit = Non Discretionary accrual pada perusahaan i pada tahun t
Jika perusahaan tidak melakukan manajemen laba, maka total akrual perushaan i pada tahun t adalah sama dengan non discretionary accrual (TAt = NDAt). Jika nilai discretionary accrual, DAit tidak sama dengan nol (DAit ≠ 0) mengindikasi adanya manajemen laba atau rekayasa laba (Yuanita, 2006). Nilai total akrual akan dinilai dengan menggunakan rumus:
𝑇𝐴𝑖𝑡 =𝑁𝐼𝑖𝑡𝐴−𝐶𝐹𝑂𝑖𝑡
𝑖𝑡−1
Rumus 2.2 Rumus Total Accrual Keterangan:
TAit = Total akrual perusahaan i pada tahun t
NIit = Laba bersih (net income) perusahaan pada tahun t
CFOit = Kas dari operasi (cash flow from operation) perusahaan i pada tahun t
Ait-1 = Total aktiva perusahaan i pada waktu t-1
11 Universitas Kristen Petra
Dari model persamaan diatas maka dapat dilihat bahwa total akrual terdiri dari non discretionary accrual dan discretionary accrual. Dengan demikian, non discretionary acrual diukur dengan menggunakan model:
NDAit = α1(1/Ait-1) + β1(∆REFt/Ait-1 - ∆RECt/Ait-1) + β2(PPEt/Ait-1) Rumus 2.3 Rumus Non Discretionary Accrual
Keterangan:
NDAit = Estimasi non discretionary accrual perusahaan i pada tahun t 𝛼1𝛽1𝛽2 = Parameter perusahaan spesifik
Ait-1 = Total aktiva perusahaan i pada tahun t-1
∆REFt = Perubahan pendapatan perusahaan i dalam tahun t
∆RECt = Perubahan piutang perusaahaan i dalam tahun t PPEt = Saldo aktiva tetap perusahaan i pada tahun t 2.2.2 Beban Pajak Penghasilan
Beban pajak penghasilan adalah beban terakhir yang dilaporkan setelah laba sebelum pajak. PSAK 46 (Revisi 2010) mengungkapkan definisi beban pajak penghasilan adalah jumlah agregat pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam menentukan laba atau rugi suatu perusahaan. PSAK 46 (Revisi 2010) juga menyatakan bahwa beban pajak penghasilan itu mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan pajak penghasilan entitas.
Sebagai salah satu beban entitas, pajak penghasilan dikenakan dan dihitung berdasarkan penghasilan yang telah diakui entitas. Beban pajak penghasilan merupakan beban yang harus dibayar oleh wajib pajak (pemilik usaha) kepada pemerintah. Jumlah beban pajak penghasilan biasanya dihitung dari jumlah laba yang dihasilkan oleh perusahaan, semakin tinggi laba yang dihasilkan perusahaan maka beban pajak penghasilan yang harus dibayarkan juga akan tinggi. Menurut Yunita (2006) Yang dimaksud dengan beban pajak penghasilan yaitu yang menjadi tanggungan perusahaan dalam satu tahun, yang dihitung berdasarkan pada laba bersih perusahaan sebelum pajak penghasilan. Beban pajak penghasilan dalam suatu perusahaan dianggap sebagai beban yang harus dibayar oleh perusahaan, dimana beban tersebut dapat mengurangi laba bersih yang dapat diperoleh oleh perusahaan. Beban pajak penghasilan perusahaan dapat dilihat dalam laporan laba rugi perusahaan.
12 Universitas Kristen Petra
2.2.2.1 Pengukuran Beban Pajak Penghasilan
Variabel beban pajak penghasilan diukur dengan rasio antara beban pajak penghasilan yang menjadi tanggungan perusahaan dibagi dengan total aktiva Yuanita (2006). Beban pajak yang menjadi tanggungan perushaan diperoleh dari beban pajak kini tahun sebelumnya di jumlahkan dengan beban pajak tangguhan tahun sebelumnya. Pengukuran beban pajak penghasilan dirumuskan sebagai berikut:
Beban Pajak Penghasilan = (Beban Pajak Kini+Beban Pajak Tangguhan)t-1 / Total Assetst-1
Rumus 2.4 Rumus Beban Pajak Penghasilan 2.2.3 Size (Ukuran Perusahaan)
Size merupakan penilaian terhadap ukuran perusahaan, size perusahaan dapat dilihat atau dihitung dengan mempertimbangkan beberapa hal dan juga dapat dihitung dengan menggunakan beberpa metode pengukuran yang sudah ada.
Firm size adalah variabel yang menggambarkan besar kecilnya perusahaan (Aryani, 2011). Guenther (1994) mengungkapkan bahwa perusahaan besar lebih sensitif dalam mengelolah biaya politik dalam perushaaan. Putra dan Paulinda (2013) menyatakan biaya politik muncul dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen. Perusahaan besar memiliki basis investor yang lebih besar, sehingga mendapat tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan pelaporan keuangan yang kredibel. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa besar atau kecilnya suatu perusahaan dapat dilihat dari jumlah laba (profit) yang dihasilkan oleh suatu perushaan.
Perusahaan dengan profit yang tinggi dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki size besar, begitu pula sebaliknya.
2.2.3.1 Pengukuran Size
Firm Size dihitung dengan menggunakan (Wardhani, 2007;
Tesfamariam,2014; Dewi dan Ulupui, 2014; Harnovinsah dan Lisya, 2014) : 𝐿𝑜𝑔 (Total Aset)
Rumus 2.5 Rumus Size
13 Universitas Kristen Petra
2.2.4 Leverage
Leverage merupakan jumlah utang saham perusahaan yang digunakan untuk membiayai atau membeli aset-aset yang dalam perusahan. financial leverage adalah ukuran risiko keuangan, yang mengacu pada pembiayaan sebagian dari aset perusahaan, dengan harapan meningkatkan return ke pemegang saham (Tesfamariam, 2014). Menurut Agustia (2013) rasio laverage menggambarkan sumber dana operasi yang digunakan oleh perusahaan, rasio laverage juga menunjukan risiko yang dihadapi perusahaan. Semakin besar resiko yang yang dihadapi oleh perusahaan maka ketidakpastian untuk menghasilkan laba di masa depan juga akan makin meningkat (Agustia, 2013). Tesfamariam (2014) juga mengatakan bahwa financial leverage adalah ukuran risiko keuangan, yang mengacu pada pembiayaan sebagian dari aset perusahaan, dengan harapan meningkatkan return ke pemegang saham. Apabila tingkat hutang atau rasio leverage perusahaan tinggi hal ini menunjukan bahwa perusahaan memiliki banyak tuntutan untuk memberikan hasil kinerja terbaiknya guna memenuhi setiap perjanjian hutang yang telah disepakati sebelumnya kepada pemberi pinjaman dan juga kepada para pemegang saham.
2.2.4.1 Pengukuran Leverage
Penggunaan variabel leverage ini bertujuan untuk membuktikan bahwa sumber pendanaan perusahaan jangka panjang mempunyai pengaruh terhadap perilaku praktik manajemen laba oleh perusahaan. Leverage dihitung dengan menggunakan (Wardhani, 2007; Tesfamariam, 2014; Ferri & Jones, 1979) :
Laverage = total debt / total asset Rumus 2.6 Rumus Leverage
2.3 Hubungan antar Variabel
2.3.1 Pengaruh Beban Pajak Penghasilan Terhadap Manajemen Laba (Earning Management)
Berdasarkan penjelasan sebelumnya penelitian ini menggunakan shareholder theory. Sesuai dengan definisi dan pengertian dari shareholder theory yang menyatakan bahwa tanggung jawab yang paling mendasar dari direksi
14 Universitas Kristen Petra
adalah bertindak untuk kepentingan meningkatkan nilai (value) dari pemegang saham. Perusahaan dituntut untuk selalu memberikan hasil kinerja terbaiknya kepada para pemegang saham. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan profit atau laba yang tinggi sebagai hasil dari kinerja perusahaan kepada para pemegang saham. Namun, profit atau laba yang dihasilkan perusahaan masih harus dikurangkan dengan beban yang harus dibayar oleh perusahaan. Beban pajak penghasilan dianggap sebagai beban dalam perusahaan yang dapat mengurangi jumlah laba bersih yang akan diperoleh oleh perusahaan.
Beban pajak penghasilan akan mengurangi besarnya laba perusahaan karena perusahaan harus membayar kewajiban beban pajak dari penghasilan yang diperoleh dalam perusahaannya. Penelitian ini ingin melihat bahwa dengan adanya beban yang harus dibayar perusahaan tetap ingin memiliki laba yang tinggi sehingga perusahaan akan melakukan manajemen laba untuk meningkatan labanya.
Yuanita (2006) dalam jurnalnya mengungkapkan bahwa uji F membuktikan bahwa beban pajak penghasilan, ukuan perusahaan, laverage, dan return on asset (ROA) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap praktik manajemen laba. Artinya, beban pajak penghasilan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap adanya praktik manajemen laba dalam suatu perusahaan.
Berdasarkan penjelasan diatas dan setelah melihat hasil dari penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa, beban pajak penghasilan memiliki pengaruh terhadap adanya praktik manajemen laba untuk meningkatkan labanya. Atas dasar penjelasan diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 : beban pajak penghasilan tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap aktivitas manajemen laba (earning management) pada tahun berjalan.
2.3.2 Pengaruh Firm Size pada tahun berjalan terhadap Manajemen Laba (Earning Management)
Perusahaan dengan size yang besar cenderung akan lebih di minati oleh para investor atau pemegang saham karena perusahaan yang berukuran besar dianggap akan mampu mengelolah dana investasi dari para investor. Perusahaan
15 Universitas Kristen Petra
dengan ukran besar akan menghasilkan laba yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang lebih kecil, sehingga para investor akan lebih berharap banyak pada saat menanamkan modalnya kepada perusahaan dengan ukuran yang besar.
Berkaitan dengan shareholder theory perusahaan dengan ukuran besar akan lebih dituntut untuk memberikan hasil kinerja terbaiknya demi kepentingan dan kesejahteraan para pemegang sahamnya. Berdasarkan penjelasan tersebut perusahaan akan berusaha untuk terus memberikan kinerja dan hasil yang terbaik kepada para pemegang sahamnya. Perusahaan yang berukuran besar memiliki basis pemegang kepentingan yang lebih luas, sehingga berbagai kebijakan perusahaan besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan perusahaan kecil (Nuryaman, 2009).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan beberapa peneliti menyatakan bahwa perusahan yang memiliki ukuran yang besar cenderung melakukan manajemen terhadap labanya. Perusahaan cenderung manaikan dan menurunkan labanya demi kepentingan tertentu bagi keuntungan perusahaan. Moses dalam Nuryaman (2008) mengemukakan bahwa perusahaan-perusahaan yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar untuk melakukan perataan laba (salah satu bentuk manajemen laba) dibandingkan dengan perusahaan kecil, karena memiliki biaya politik lebih besar. Penelitian ini ingin melihat bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba dalam upaya mengubah atau memanipulasi nilai laba yang ada demi kepentingan perusahaan.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan Tiearya dan Yuyetta (2012) membuktikan bahwa ukuran perusahaan (firm zise) dapat memberikan bukti empiris berpengaruh terhadap manajemen laba. Dewi dan Ulupi (2014) memberikan hasil bahwa variabel zise yang digunakan dalam penelitiannya menunjukkan pengaruh positif terhadap manajemen laba, dimana size mencerminkan bahwa semakin besarnya perusahaan semakin besar motivasi untuk melakukan tindakan manajemen laba. Penelitian lain yang dilakukan oleh Putra dan Paulinda (2013) mengungkapkan bahwa ukuran perusahaan (size) berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Semakin tingginya manajemen laba mencerminkan semakin tinggi kekuatan perusahaan dalam persaingan pasar, sehingga diharapkan perusahaan membuat isu positif, perbaikan manajemen
16 Universitas Kristen Petra
perusahaan yang membuat investor tertarik melakukan investasi dalam rangka meningkatkan modal dan pada akhirnya berimplikasi terhadap naikknya manajemen laba perusahaan (Putra dan Paulinda, 2013).
Berdasarkan penjelasan dan setelah mengetahui hasil penelitian sebelumnya dapat dilihat bahwa firm size memiliki pengaruh terhadap terjadinya praktek manajemen laba dalam suatu perusahaan. Atas dasar penjelasan diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Firm Zise berpengaruh positif terhadap manajemen laba (earning management).
2.3.3 Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba (Earning Management)
Tingginya rasio laverage suatu perushaan menunjukan tingginya nilai hutang dalam perusahaan. Perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi akan memiliki risiko yang tinggi pula karena perusahaan memiliki banyak perjanjian hutang dengan pemberi pinjaman. Tingginya rasio laverage suatu perushaan menunjukan tingginya nilai hutang dalam perusahaan Perusahaan harus memberikan kinerja terbaiknya agar tidak dianggap melakukan pelanggaran terhadap perjanjian hutangnya dengan para pemberi pinjaman. Dengan demikian, perusahaan yang memiliki rasio leverage yang tinggi, akan cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk menaikan laba untuk menghindari pelanggaran perjanjian hutangnya kepada para pemberi hutang. Perusahaan juga ingin membuat laba tetap terlihat baik agar tidak kehilangan kepercayaan dari pemegang sahamnya. Penelitian ini ingin melihat apakah tingkat leverage yang tinggi dapat berpengrauh terhadap keputusan perusahaan untuk melakukan manajemen laba.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Agustia (2013) mengungkapkan bahwa variabel leverage memiliki hubungan positif terhadap manajemen laba. Agustia (2013) menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya akan cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk manajemen laba. Defond dan Jiambalvo (1994) menyatakan dalam
17 Universitas Kristen Petra
penelitiaannya menemukan bahwa manager dari perusahaan yang nyaris melanggar perjanjian kredit, cenderung memilih metoda yang dapat meningkatkan laba, untuk meminimalkan kerugian akibat pelanggaran perjanjian kreditnya.
Berdasarkan penjelasan dan hasil penelitian terdahulu kita dapat melihat bahwa leverage yang tinggi dapat berpengaruh terhadap terjadinya praktek manajemen laba dalam suatu perusahaan. Atas dasar penjelasan diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba (earning management).