ESKATOLOGI DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi
Oleh :
MAYA DWI RAHAYU PUTRI 4516.017
PRODI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI
2020/1441 H
ABSTRAK
Maya Dwi Rahayu Putri, NIM 4516017, Eskatologi Dalam Perspektif Al- Ghazali, Skripsi Sarjana (S1) Prodi Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Bukittinggi, 2020. Pembimbing: Nelmaya, M.Ag.
Eskatologi adalah sebuah doktrin mengenai hal-hal terakhir seperti kematian, kebangkitan kembali, keabadian, akhir zaman, pengadilan, keadaan masa mendatang.
Berdasarkan latar belakang inilah penulis bermaksud untuk meneliti dan mengkaji pemikiran yang telah disampaikan oleh al-Ghazali dengan rumusan masalah yaitu: 1) Bagaimana Kebangkitan setelah Kematian menurut Al-Ghazali? 2) Bagaimana Kebangkitan Jasmani di Akhirat menurut Al-Ghazali? 3) Bagaimana pandangan Filsuf dalam Pemahaman Al-Ghazali tentang Kebangkitan setelah Kematian?
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), yang obyek penelitiannya adalah pandangan tokoh tentang eskatologi. Sedangkan pendekatan penelitiannya adalah deskriptif-analitik. Data diperoleh dari sumber- sumber karangan Al-Ghazali dan buku-buku, jurnal, al-Qur‟an dan Hadits serta pendapat para ulama terkait dengan tema.
Hasil penelitian diketahui bahwa al-Ghazali memunculkan pandangan yang berbeda dengan sebagian filsuf tersebut. Ia menguraikan penolakan para filsuf terhadap kebangkitan jasmani itu dalam kitabnya yang berjudul Tahafut al-Falasifah, tepatnya pada permasalahan yang dibahas.
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan dan Batasan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Kegunaan Penelitian... 9
E. Defenisi Operasional ... 9
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II LANDASAN TEORI A. Eskatologi ... 12
1. Pengertian Eskatologi... 12
2. Konsep-konsep Eskatologi Islam ... 16
3. Kehidupan Akhirat Menurut Ajaran Dasar Islam ... 19
B. Perspektif ... 25
1. Pengertian Perspektif ... 25
2. Sudut Pandang Perspektif ... 27
C. Al-Ghazali ... 29
1. Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan ... 29
2. Karya-karya Al-Ghazali ... 35
3. Pemikiran pada masa Al-Ghazali ... 39
D. Penelitian Relevan ... 42
BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 45
B. Pendekatan Penelitian ... 45
C. Sumber Data ... 46
D. Teknik Pengumpulan Data ... 47
E. Teknik Analisis Data ... 48 BAB IV
A. Kebangkitan setelah Kematian menurut Al-Ghazali... 50 B. Kebangkitan Jasmani di Akhirat menurut Al-Ghazali ... 57 C. Pandangan Filsuf dalam Pemahaman Al-Ghazali tentang Kebangkitan
Setelah Kematian ... 63 BAB V
A. Kesimpulan ... 68 B. Saran ... 69 DAFTAR KEPUSTAKAAN
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia dilahirkan dan dihadirkan di alam semesta ini bukan merupakan kehendaknya sendiri, namun karena kehendak Allah SWT. Manusia tidak pernah meminta sekaligus tak bisa memilih kapan dan dimana ia dilahirkan semuanya tanpa ada kecuali dari manusia. Manusia tak memiliki kemampuan untuk menentukan kelahiran sekaligus kematiaanya.
Misteri tentang kondisi pasca kematian adalah rahasia di atas rahasia, karena sampai saat ini misteri tersebut tidak pernah terungkap. Kematian adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri, ditolak atau bahkan dihindari oleh seluruh makhluk hidup. Bahkan menjadi pertanyaan besar, bagaimana nasib para “teroris”
yang mati meledakkan dirinya, apakah mereka langsung masuk surga atau mampir ke neraka? Karena sampai saat ini belum ada cerita manusia yang telah mati, kembali ke dunia lagi. Orang boleh percaya tidak adanya Tuhan, tapi mereka tidak bisa menolak jika mereka akan menemui kematian. Sekali lagi, kematian adalah rill, sedang akhirat adalah buah dari keimanan.
Kematian dalam pandangan para tokoh ulama, intelektual dan pakar sangat beragam. Sarte, tokoh Eksistensialis yang mengagungkan kebebasan manusia, terakhir ia mengatakan bahwa manusia tidak bebas dari kematian. Bagi Sarte,
kamatian adalah suatu yang absurd. Karena kenyataan maut tidak dapat dihindari, melainkan hanya bisa ditunggu kedatangannya. Maut adalah kepastian, yaitu nistanya kita sebagai eksistensi dengan kematian, eksistensi berakhir dan kita kembali ke esensi.
Adakah kehidupan pasca kematian? Kalau ada, seperti apakah? Ada empat cara dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, walau tentu saja, masing- masing memiliki banyak variasi. Kita dapat menganalisis empat cara untuk membayangkan pengalaman “sesudah kematian” itu dengan mengajukan dua pertanyaan: (1) Apakah kesadaran kita identitas diri kita berlanjut setelah kita meninggal? Dan (2) Apakah kita akan memperoleh tubuh baru setelah tubuh kita saat ini mati?1
Dalam literatur Filsafat Islam, Eskatologi menjadi salah satu wacana penting sebagai upaya penyingkapan refleksi metafisis atau dilema keTuhanan. Ide ini menempati posisi sentral dan signifikan di dalam Al-Qur‟an, bahkan merupakan salah satu tema-tema besar di dalamnya. Doktrin apapun yang dimunculkan oleh ayat Al- Qur‟an tidak bisa lepas dari wacana Eskatologi, untuk itu kepercayaan terhadap konsepsi-konsepsi tersebut menjadi pilar bagi tegaknya aqidah seorang Muslim.2
1 Stephen Palmquist, Pohon Filsafat, terj. Muhammad Shodiq, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 496
2 Musya Asy‟ari, Filsafat Islam: Sunah Nabi Dalam Berfikir, (Yogyakarta: LESFI, 2000). h.
252
Di dalam Islam ajaran pokok itu antara lain adalah rukun iman. Isi dari rukun iman tersebut adalah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al- Qur‟an surat Az- Zukhruf ayat 61
Artinya: Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.
Jadi, dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa bagi orang-orang yang meragukan hari kiamat hendaknya dia memikirkan dan mengambil kesimpulan dari kisah Nabi Isa a.s, bahwa dengan kisah Nabi Isa a.s tersebut manusia bisa mengambil hikmahnya dan tidak meragukan akan adanya hari kiamat karena hari kiamat masuk ke dalam rukun iman yang harus diyakini.
Landasan hukum di atas yang diambil dari Al-Qur‟an merupakan dalil yang menunjukkan bahwa hari kiamat merupakan keyakinan dasar yang diajarkan di dalam agama Islam dan masuk ke dalam cabang ilmu Ushuluddin.3 Melihat fenomena zaman modern yang serba canggih ini, dimana norma etika dan moral (akhlak) hanya merupakan kamuflase budaya. Islam pada posisi ini dihadapkan pada tentangan antara kebenaran dan tidak benar.
Persoalan Eskatologi merupakan suatu hal yang sangat mendalam bagi para filosof muslim. Di dalam disertasi Khalid al-Walid menegaskan bahwa eskatologi
3 Dedi Puji Iswanto, “Eskatologi dalam Prespektif Islam dan Protestan”, Jurnal Studi Agama- agama, Vol. 2, No. 1, 2016, h. 1
berasal dari kata escaton yang secara harfiah dimaknai doktrin tentang akhir, sebuah doktrin yang membahas tentang keyakinan yang berhubungan dengan kejadian- kejadian akhir hidup manusia seperti, kematian, hari kiamat, berakhirnya dunia, kebangkitan kembali, pangadilan akhir, surga-neraka dan lain sebagainya. Karenanya di dalam membicarakan persoalan eskatologi, persoalan mendasar yang juga menjadi pembicaraan adalah keberadaan ruh atau jiwa pada diri manusia dan bagaimana ruh atau jiwa dapat terus ada selama kematian terjadi.
Eskatologi dalam Al-Qur‟an adalah sebagai acuan pemahaman dan amalan yang dilakukan semasa di dunia, untuk menjalani kehidupan abadi kelak, sehingga seorang penganut agama Islam nantinya di pastikan akan mendapat kehidupan bahagia selama-lamanya di hari akhirat tersebut. Oleh sebab itu, orang Muslim dituntut untuk memiliki kebahagian ganda yakni bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. sesuatu hal yang berkenaan dengan surga dan azab neraka. Karena, surga dan neraka adalah tempat balasan bagi manusia atas semua hal yang telah diperbuatnya dikehidupan dunia. Pada saat itu tidak ada kedholiman dari Tuhan, melainkan manusia menerima balasan sesuai dengan yang diperbuatnya.4
Eskatologi ialah suatu ilmu yang menjelaskan tentang gambaran hari akhirat.
Ilmu ini menjelaskan akhir segala sesuatu, seperti kematian, kebangkitan dan penghitungan amal. Dengan kata lain eskatologi adalah ilmu yang menerangkan tentang keakhiratan. Menurut Eliade, eskatologi termasuk bagian dari agama dan
4 Rizki Supriatna, Eskatologi Mulla Sadra, Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Volume IV, Nomor 1, 2020 | h. 102
filsafat yang menguraikan secara runtut semua persoalan dan pengetahuan tentang akhir zaman, seperti kematian, alam kubur (barzakh), kehidupan surga dan neraka, hukuman bagi yang berdosa, pahala bagi yang berbuat baik, hari kebangkitan, pengadilan pada hari itu dan sebagainya.5
Dalam istilah Islam eskatologi dikenal dengan sebutan Ma‟ad, secara khusus al-Taftazani memaknai Ma‟ad. Merupakan sumber atau tempat, dan hakikat kebangkitan adalah kembalinya sesuatu kepada apa yang ada sebelumnya dan yang dimaksud ini adalah kembalinya keberadaan setelah kehancuran, atau kembalinya bagian-bagian tubuh kepada penyatuan setelah keterpisahan, kepada kehidupan setelah kematian, ruh kepada tubuh setelah terpisah, sedangkan kebangkitan ruhani murni sebagaimana pandangan filosof bermakna kembalinya ruh kepada asalnya yang non material dari keterikatan dengan tubuh material dan penggunaan alat-alat fisik atau keterlepasan terhadap kegelapan yang menyelimutinya.6
Orang yang mampu mengenali dirinya, akan mengenal Tuhannya, tahu akan posisi perhiasan dunia, serta menyadari urgensi kehidupan akhirat. Ia pun dapat menyaksikan dengan cahaya mata hatinya wajah permusuhan dunia terhadap akhirat.
Karena baginya telah terungkap secara pasti bahwa tiada kebahagiaan di akhirat,
5 Ahmad Suja‟i, Skripsi: “Eskatologi : Suatu Perbandingan Antara Al-Gazali dan Ibn Rusyd”, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2005), h. 1
6 Diki Senduka, Eskatologi Menurut Fazlurahman (Suatu Analisis Pemikiran Fazlurrahman), SkripsI: IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2016, h. 8
kecuali bagi siapa yang datang kepada Allah Swt. dengan ma‟rifat dan mencintai- Nya.7
Adanya kebangkitan ini atau kehidupan setelah kematian adalah suatu hal yang mesti diyakini oleh umat Muslim, karena keyakinan ini adalah salah satu prinsip keimanan. Tanpa keyakinan terhadap ma‟ad ini, maka gugurlah keimanan seseorang.
Hampir dalam setiap agama ada keyakinan terhadap kebangkitan terutama agama Islam. Keyakinan terhadap kebangkitan (ma‟ad) adalah hal yang sangat penting (esential). Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ja‟far Subhani, keyakinan terhadap ma‟ad adalah hal yang paling dasar dalam setiap Syari‟at, dan keyakinan tentang kebangkitan tidak hanya berada dalam Islam saja, tapi dalam setiap agama.Terutama agama-agama samawi sejak nabi Adam hingga Nabi Isa memiliki keyakinan terhadap kebangkitan (ma‟ad).8
Adanya kehidupan setelah kematian (ma‟ad) bagi beberapa kalangan filosof modern yang menganut paham materialisme adalah hal yang tidak mungkin, karena kehidupan manusia hanyan di dunia. Alam kematian itu tidak ada karena, menurut paham ini manusia terdiri dari susunan organ tubuh seperti badan, tulang-tulang, daging, otot, darah dan sebagainya. Maka, oleh sebab itu ketika manusia mati habislah manusia itu dan tidak akan ada yang tersisa kecuali sebuah tulang ekor dan tulang kering, selain dari yang itu semuanya habis.
7 Imam Al-Ghazali, Membersihkan Hati Dari Akhlak Tercela, terj. Moh. Syamsi Hasan, (Surabaya: Ampel Mulia, 2003), h. 66
8 Abdillah, Eskatologi: Kematian dan Kemenjadian Manusia, Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam: Volume 1, Nomor 1, 2016, h. 124
Adanya kebangkitan ini atau kehidupan setelah kematian adalah suatu hal yang mesti diyakini oleh umat Muslim, karena keyakinan ini adalah salah satu prinsip keimanan. Tanpa keyakinan terhadap Ma‟ad ini, maka gugurlah keimanan seseorang.
Hampir dalam setiap agama ada keyakinan terhadap kebangkitan terutama agama Islam. Keyakinan terhadap kebangkitan adalah hal yang sangat penting esential.9
Namun, ada juga yang berpendapat bahwa manusia akan mengalami reinkarnasi. Penolakan reinkarnasi di kemukakan agama barat dalam kitab-kitabnya, mengatakan bahwa “manusia ditakdirkan untuk mati satu kali dan setelah itu menghadapi penghakiman. Dengan demikian reinkarnasi itu sungguh tidak mungkin karena, mati itu satu kali dan takan pernah terjadi lagi. Pandangan reinkarnasi juga sangat di tentang keras oleh para filusuf dan teolog, seperti Mulla Sadra. Yang mengatakan reinkarnasi merupkan kekeliruan pemahaman yang dibawa para filusuf terdahulu maupun para nabi. Karena tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam, yaitu kematian merupakan akhir dari sebuah kehidupan namun kematian juga merupakan awal dari sebuah kehidupan.10
Gambaran umum tentang eskatologi dalam Islam yaitu “kenikmatan surga dan azab neraka. Surga dan neraka ini sering dinyatakan Al-Quran sebagai imbalam dan hukuman secara global, termasuk keridhaan dan kemurkaan Allah.11 Namun, ide pokok yang mendasari ajaran-ajaran al-Qur‟an mengenai akhirat adalah gambaran
9 Abdillah, Eskatologi, ..., h. 124
10 Rizki Supriatna, Eskatologi Mulla Sadra, Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Volume IV, Nomor 1, 2020 | h. 104
11 Diki Senduka, Eskatologi Menurut Fazlurahman (Suatu Analisis Pemikiran Fazlurrahman), h. 10
tentang kiamat ketika setiap manusia akan memperoleh kesadaran unik yang tak pernah dialami sebelumnya dari pebuatan baik dan buruknya. Pada saat ini manusia dihadapkan kepada apa yang telah dilakukannya, kemudian ia akan menerima ganjaran karena perbuatannya.
Lebih lanjut, Rahman menyebutkan bahwa pada umumnya manusia sangat tertarik pada kepentingan-kepentingan yang bersifat langsung (pragmatis terutama kepentingan-kepentingan untuk dirinya sendiri yang dangkal dan bersifat materi, sehingga ia tidak menghiraukan akhir kehidupan ini. Akibatnya manusia sering sekali melanggar norma-norma dan hukum moral.
Islam memerintahkan kepada setiap orang yang beragama Islam mampu menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangannya dengan penuh tanggung jawab. Orang yang memiliki kesadaran beragama secara matang dan tanggung jawab dengan keberagamaannya, akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan yang bisa mematangkan kepribadian serta kemampuan untuk menganalisa masalah-masalah.
B. Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah
Dalam penulisan ini peneliti memberi rumusan masalah yang akan di bahas yaitu:
a. Bagaimana Kebangkitan setelah Kematian menurut Al-Ghazali?
b. Bagaimana Kebangkitan Jasmani di Akhirat menurut Al-Ghazali ?
c. Bagaimana pandangan Filsuf dalam Pemahaman Al-Ghazali tentang Kebangkitan setelah Kematian?
2. Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis memberikan batasan masalah yaitu Eskatologi dalam perspektif Al-Ghazali tentang Kebangkitan Setelah Kematian.
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Kebangkitan setelah Kematian menurut Al-Ghazali.
2. Untuk mengetahui Kebangkitan Jasmani di Akhirat menurut Al-Ghazali.
3. Untuk mengetahui pandangan Filsuf dalam Pemahaman Al-Ghazali tentang Kebangkitan setelah Kematian.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Adapun hasil penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan yaitu sebagai berikut : 1. Untuk memperoleh gelar sarjana pada prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.
2. Untuk dijadikan rekomendasi materi khususnya pada materi eskatologi.
3. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai suatu informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai pemahaman ajaran eskatologi.
E. DEFINISI OPERASIONAL
Untuk memudahkan pembaca dan menghindari kekeliruan dalam memahami pembahasan judul penelitian ini, penulis menjelaskan beberapa istilah agar pemahaman dan pembahasannya dapat terarah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Eskatologi : Eskatologi berasal dari bahasa Yunani Echatos yang berarti terakhir dan logi yang berarti studi tentang adalah bagian dari teologi dan filsafat yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa pada masa depan dalam sejarah dunia atau nasib akhir dari seluruh umat manusia, yang biasanya dirujuk sebagai kiamat (akhir zaman).
Perspektif : Suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tertentu tentang bagaimana memahami fenomena untuk menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi yang dihadapi oleh manusia.12
Al-Ghazali : Salah seorang pemikir besar Islam yang dianugerahi gelar hujjat Al- Islam (bukti kebenaran Agama Islam) dan zayn ad-din (perhiasan agama).13
F. SISTEMATIK PEMBAHASAN
Agar lebih terarah penulisan proposal ini, maka penulis akan menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut :
12 Tuti Widiastuti, Perbandingan Perspektif Disiplin dan Tradisi dalam Kajian Komunikasi Antar Manusia, Komumka, Volume 10 Nomor 2, 2007,h. 95
13 Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 143
Bab I : Pendahuluan, pada bab ini penulis mencantumkan latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, sistematika penulisan. Isi pokok bab ini merupakan gambaran dari sejumlah pengantar ke dalam wacana yang akan dibahas, sedangkan uraian yang lebih rinci akan diuraikan pada bab-bab selanjutnya.
Bab II : Landasan Teori, pada bab ini berisi pengertian eskatologi, konsep-konsep eskatologi Islam, perspektif Al-Ghazali tentang Kebangkitan setelah Kematian, maka terlebih dahulu diuraikan bab ini tentang kebangkitan setelah kematian secara umum dan selanjutkan diuraikan tentang riwayat hidup, pendidikan, karya-karya Al-Ghazali.
BAB III : Metodologi Penelitian, pada bab ini berisikan jenis penelitian, pendekatan penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Eskatologi
1. Pengertian Eskatologi
Eskatologi berasal dari bahasa Yunani eschaton (hal-hal yang terakhir) dan logos (“pengetahuan”). Eskatologi merupakan doktrin Yahudi akhir dan Kristen awal mengenai hal-hal terakhir seperti kematian, kebangkitan kembali, keabadian, akhir zaman, pengadilan, keadaan masa mendatang dan, bagi kristianitas, kedatangan kembali Kristus (Parousia). Keyakinan-keyakinan yang bertolak belakang akan kebangkitan kembali dan keabadian terdapat dalam eskatologi Yahudi maupun Kristen.14
Dalam istilah Islam Eskatologi dikenal dengan sebutan Ma‟ad, secara khusus al- Taftazani memaknai Ma‟ad sebagai berikut:
”Merupakan sumber atau tempat, dan hakikat kebangkitan adalah kembalinya sesuatu kepada apa yang ada sebelumnya dan yang dimaksud ini adalah kembalinya keberadaan setelah kehancuran, atau kembalinya bagian-bagian tubuh kepada penyatuan setelah keterpisahan, kepada kehidupan setelah kematian, ruh kepada tubuh setelah terpisah, sedangkan kebangkitan ruhani murni sebagaimana pandangan
14 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), h.
para filosof bermakna kembalinya ruh kepada asalnya yang non material dari keterikatan dengan tubuh material dan penggunaan alat-alat fisik atau keterlapasan terhadap kegelapan yang menyelimutinya”. Dalam Islam, Eskatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan setelah mati dialam akhirat dan al-Qiyamah
“Pengadilan Terakhir”. Eskatologi sangat berhubungan dengan salah satu aqidah Islam, yatu meyakini adanya hari akhir, kematian kebangkitan, mahsyar, pengadilan akhir,surga, neraka, dan keputusan seluruh nasib umat manusia dan lainnya.
Eskatologi adalah ajaran teologi mengenai kehidupan sesudah mati. Eskatologi yang merupakan bagian dari agama dan filsafat berbicara secara teratur mengenai semua persoalan dan pengetahuan tentang akhir kehidupan manusia. Islam sebagai suatu agama membicarakan eskatologi, yang lazim disebut akhirat, lewat sumber dasarnya, yaitu Al-Qur‟an secara tegas meyakinkan manusia bahwa sesudah kehidupan di dunia terdapat kehidupan akhirat.
Eskatologi dalam pandangan para teolog adalah ilmu atau pengetahuan yang membahas tentang kebangkitan. Eskatologi merupakan bahasan dalam setiap agama, terutama agama-agama samawi.
Eskatologi dalam agama Islam adalah prinsip keimanan yakni percaya akan hari akhir, tanpa keyakinan terhadap hal ini, maka gugurlah keimanan seorang Muslim.
Pembahasan Eskatologi secara generik lebih ditujukan kepada realitas ataupun
peristiwa-peristiwa hari akhir kehidupan umat manusia, dan hal ini sesuai dengan firman Allah dalam ayat Al-Qur‟an yaitu surat Al-Isra: 49-5115
Artinya: Dan mereka berkata: "Apakah bila Kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah Kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?" Katakanlah: "Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu". Maka mereka akan bertanya:
"Siapa yang akan menghidupkan Kami kembali?" Katakanlah: "Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama". lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat",
Al Ghazali menegaskan bahwa Eskatologi adalah doktrin tentang Akhir, sebuah doktrin yang membahas tentang keyakinan, yaitu berhubungan dengan kejadiankejadian akhir hidup manusia seperti kematian, hari kiamat, berakhirnya dunia, kebangkitankembali, pengadilan akhir, surga dan neraka, dan lain sebagainya
15 Abdillah, Eskatologi: Kematian dan Kemenjadian Manusia, (Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam: Volume 1, Nomor 1, 2016), h. 126
Kajian mengenai eskatologi dapat mengajarkan pada manusia untuk meyakini kehidupan setelah mati.16
Terkait dengan konsep kematian, terdapat indikasi di dalam Al-Quran bahwa pengalaman dan wujud eksistensi manusia terdiri dari dua kematian dan dua kehidupan. Meyakinkan manusia mengenai segala sesuatu yang sifatnya teologis tidak hanya dilakukan dengan mengkaji kitab suci, melainkan bisa menggunakan naskah Melayu Klasik. Salah satunya Syair Ibarat dan Khabar Kiamat (SIKK).
Karena pada dasarnyadidalam kehidupan yang sekarang manusia harus berusaha keras agar dapat mencapai kesempurnaan, baik secara moral, spiritual maupun intelektual.
Ibnu Abbas Ra. berkata, “Di Hari Kebangkitan, bumi akan merentang seperti halnya rentangan kulit yang disamak; kapasitasnya akan meningkat dengan (jumlah) tertentu. Makhluk akan dikumpulkan dalam satu dataran-jin dalam (kelompok) mereka dan umat manusia dalam (kelompok) mereka. Ketika itu terjadi, langit dunia akan dirampas dari penduduknya, dan terbentanglah wajah bumi. Dan para penduduk langit ini sendiri dua kali jumlahnya dari seluruh penduduk bumi, baik jin dan manusia dari mereka.17
16 Novi Setyowati, “ESKATOLOGI ISLAM DALAM SYAIR IBARAT DAN KHABAR KIAMAT”, Jurnal SMaRT , Vol. 03, No. 02, (2017), h. 220
17 Al-Hafizh Ibn Katsir Dimasyqi, Wisata Alam Barzakh, (Jogjakarta: DIVA Press, 2008), h.
278
Abu Hurairah Ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Yang Pertama diseru pada hari Kebangkitan adalah Adam As. Dikatakan, „Ini adalah Bapakmu, Adam.‟ Nabi Saw. berkata, Tuhanku, aku di sini menjawab seruan-Mu, dengan perhatian dan tujuanku kepada Engkau (yaitu untuk menaati Engkau).‟ Tuhan kita berkata kepadanya, „Munculkan bagian api neraka dari anak cucu engkau.‟ Dia akan berkata, „Wahai Tuhanku, dan seberapa banyak?‟ Dia akan berkata, „Dari setiap 100 (orang), 99.” Abu Hurairah Ra. berkata, “Kami berkata, „Wahai Rasulullah, jika 99 (orang) diambil dari setiap 100 orang, maka apa yang engkau rasakan yang akan tersisa dari Kami?‟ Nabi Saw. menjawab, „Sesungguhnya umatku ada di antara umat- umat yang lain seperti sebuah rambut putih diatas lembu jantan warna hitam.” (HR.
Ahmad).18
2. Konsep-konsep Eskatologi Islam
Pembahasan mengenai kematian tampaknya tidak bisa semata-mata didekati oleh sebuah konsep/ranah rasional – ilmiah. Ada sebuah ungkapan menarik yang menyatakan “Dan akhirnya ada suatu teka-teki penuh dengan rasa kesakitan, yaitu teka-teki mati. Teka-teki itu tidak ada obatnya pada waktu ini, dan kiranya tidak akan ada obatnya di kelak kemudian hari.” (Sigmund Freud) bila hanya mengandalkan rasionalitas atau indrawi, akan “gagal” mengkonsepsikan kematian.
Dalam Islam gagasan eskatologi memainkan peran penting dalam sistem kepercayaan terkait hari akhirat (The Last Day), atau hari penghakiman (The Day of
18 Al-Hafizh Ibn Katsir Dimasyqi, Wisata..., h. 291
Judgment). Pesan mengenai hari akhirat bisa ditemukan dalam Al-Qur‟an dan Hadis yang dalam teologi Islam dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia. Hari Akhirat dimaknai sebagai saat kembalinya (ma‟ad) kaum beriman kepada Allah, saat yang tak terelakkan.
Hari Penghakiman mengusulkan pula bahwa proses sejarah akan terinterupsi sehingga umat manusia dapat kembali kepada Sang Pencipta untuk mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatan baiknya dan buruknya. Kaum Muslim, sebagaimana tersirat dalam iman eskatologisnya, akan dihakimi menurut penunaian aksi-aksi dan kewajiban-kewajibannya selama kehidupan di dunia.19
Dalam hal ini Al-Qur‟an, memiliki seperangkat argument untuk merespon pandangan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Namun, respon Al-Qur‟an ini tidaklah diperuntukkan bagi keseluruhan masyarakat arab jahiliyah. Sebab, melalui syair-syair ang masih terpelihara sampai kini. Ada indikasi kuat yang menunjukkan bahwa sebagian di antara mereka telah beriman kepada Allah dan menerima doktrin kebangkitan kembali.20
Jadi, yang menjadi sasaran Al-Qur‟an adalah mereka yang hanya benar-benar tidak mengakui doktrin akhir, atau yang dalam istilah Toshihiko izutsu yang menganut doktrin nihilism. Dengan demikian, sejak masa-masa awal Al-Qur‟an sebetulnya telah menunjukan berbagai argument untuk membungkam para
19 Justin L Wejak, “ESKATOLOGI ISLAM SHIA: ESKATOLOGI DUA DIMENSI”, Jurnal Ladalero, Vol. 17, No. 2, ( 2018), h. 207
20 Safaruddin, “Eskatologi”, Jurnal Al-Hikmah, h. 104
pengingkar dokrin akhir. Fazlur Rahman mengeksplorasi paling tidak, tiga argument dimaksud :
Pertama, bahwa Allah telah menciptakan bumi dan segala bentuk kehidupan yang jumlahnya tidak terhitung atau tidak diketahui, sehingga hal ini direnungkan, berarti Allah dapat pula menciptakan manusia yang baru dan kehidupan lain yang tidak pula diketahui. Kedua, sebagaimana menciptakan percikan api dari kayu-kayuan hijau (yang basah) Allah dapat pula membuat mati dan hidup secara bergantian, kelihatannya mustahil karena dihasilkan dari sesuatu yang berlawanan.
Hal ini, terbukti bahwa Allah menciptakan siang dan malam, silih berganti, seperti yang diperbuat-Nya terkait dengan kebangkitan dan kejatuhan bangsa-bangsa. Jika kedua fenomena tersebut adalah “alami” hingga tak perlu dipersoalkan, maka fenomena kebangkitan kembali dan penciptaan bentuk-bentuk kehidupan yang baru, harus pula dipandang sebagai kenyataan yang “Alami”. Ketiga, contoh yang khas yang diberikan Al-Qur‟an tentang fenomena tersebut, bumi yang menjadi subur di musim semi setelah ia „mati‟ di musim salju.
Rahman dalam hal ini telah melakukan eksplorasi yang berifat deskriptif-analitis.
Akan tetapi ini sebenarnya belum merangkum semua argument yang diajukan Al- Qur‟an. Disinilah Al-Ghazali melengkapinya. Al-Ghazali mempunayai tiga argument yang kiranya luput dari pantauan Rahman, yaitu :
Pertama, bahwasannya Al-Qur‟an menantang para pengingkar untuk memikirkan sesuatu yang kelihatan sangat mustahil tetapi bagi Allah sangat mudah diwujudkan.
Tantangan semacam ini sudah sering disampaikan melalui berbagai konteks, dan sealalu tebukti akan kebenarannya.
Kedua, kekuasaan Allah tidak dapat terelakan yaitu dengan mmampu membuat Ashhab al-kahf hidup selama ratusan tahun. Hal ini memberi kesan bahwa apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi.
Ketiga, mengembalikan sesuatu yang sudah sebelumnya sesuatu pada dasarnya tidaklah berbeda dengan memulai sesuatu untuk yang kedua kalinya.
Dengan demikian, ada proses saling melengkapi antara kedua tokoh dalam upaya- upaya menggali argumen-argumen Al-Qur‟an untuk menjelaskan eksistensi kehidupan akhirat. Jadi, penjelasan ini menyiratkan suatu konsep “sunnaatullah”
bahwa kematian dan kehidupan merupakan proses yang terjadi secara alami menurut kehendak-Nya. Jika demkian halnya, maka tentu kematian dan kehidupan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
3. Kehidupan Akhirat Menurut Ajaran Dasar Islam
Dalam menyebut hari sesudah kematian, Al-Qur‟an menggunakan banyak redaksi, diantaranya sebagai berikut:
1. Alam Barzakh
Tahap pertama setelah kematian disebut dengan alam barzakh atau alam kubur. Dalam tahap ini semua orang yang telah mati akan “hidup”dalam satu alam penantian datangnya kiamat. Tahap ini dimulai sejak seseorang meninggal dunia hingga hari kebangkitan. Hal ini di ungkapkan dalam Al-Mu‟minun: 99-100
Artinya: Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.
Barzakh berarti pemisah, dinding, dan pembatas. Kehidupan alam barzakh diartikan oleh para ahli tafsir sebagai kehidupan baru setelah manusia meninggal, yaitu kehidupan dalam alam kubur yang membatasi antara dunia dan akhirat.
Dengan kata lain, kehidupan ini adalah periode antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, yang memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
2. Hari Kiamat (Yaum al-Qiyamah)
Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala yang pertama.
Dengan peniupan sangkakala itu, alam raya dan dunia seisinya menjadi hancur, matahari di gulung, bulan terbelah, bintang-bintang pudar cahayanya dan gunung- gunung dihancurkan menjadi debu yang berterbangan bagaikan kapas. Itu semua merupakan kehancuran total. Dalam al-Qur‟an peristiwa itu disebut kiamat.
Dalam Yasin: 51-52 diungkapkan keadaan orang-orang kafir pada hari kiamat yang terkejut ketika dibangunkan (dibangkitkan) dari tempat tidurnya seperti berikut ini
Artinya: Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata,
“Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul-Nya.
Berdasarkan ayat di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa di alam barzakh manusia tidak atau belum mendapat balasan, baik berupa kenikmatan atau berupa siksa. Para ulama yang berpendapat demikian berargumentasi bahwa ayat di atas menginformasikan orang-orang kafir ketika itu merasa diri mereka tidur dan terhentak bangun dengan tiupan sangkakala.
3. Hari Kebangkitan (Yaum Al-Ba‟as)
Hari kebangkitan (yaum al-ba‟as) ditandai dengan peniupan sangkakala yang kedua. Jika dengan peniupan sangkakala yang pertama manusia dan seluruh alam raya hancurdan binasa, dengan peniupan sangkakala yang kedua manusia bangkit dari kubur mereka.
Cara bangkit dan keluarnya manusia dari kubur diungkapkan dalam Qaf: 41- 44
Artinya: Dan dengarkanlah (seruan) pada hari (ketika) penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari (ketika) mereka mendengar suara dahsyat yang sebenarnya. Itulah hari keluar (dari kubur). Sungguh, Kami yang menghidupkan dan mematikan dan kepada Kami tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari (ketika) bumi terbelah, mereka keluar dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.
4. Hari Berkumpul (Yaum Al-Hasyr)
Setelah dibangkitkan, seluruh manusia digiring dan dikumpulkan ke Mahsyar (tempat berkumpul). Diungkapkan dalam Al-Ma‟arij: 8-14
Artinya: Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung- gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan). Dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. Orang-orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menembus (dirinya) dari azab hari dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.
5. Hari Pengadilan Ilahi (Yaum Al-Hisab)
Setelah manusia berkumpul di Mahsyar diadakanlah suatu Pengadilan Agung yang dilakukan oleh Tuhan untuk menghitung (menghisab) amal perbuatan yang telah dilakukan oleh setiap manusia di muka bumi. Saat berlangsung perhitungan amal itu biasa disebut yaum al-hisab (hari perhitungan).
Pada hari perhitungan itu semua makhluk secara sendiri-sendiri menghadap Tuhan untuk ditimbang amal perbuatannya secara teliti dan penuh kecermatan.
Diungkapkan dalam QS Maryam: 93-95
Artinya: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri-sendiri.
Proses pengadilan Ilahi (Mahkamah Tuhan) itu meliputi beberapa tahap.
Tahap pertama, Tuhan bertanya kepada setiap makhluk-Nya. Tahap kedua, penerimaan catatan amal perbuatan yang telah ditulis oleh malaikat. Tahap ketiga, kesaksian anggota tubuh manusia.21
6. Yaumul Mizan
Hari penimbangan amal manusia. Firman Allah dalam surat al-Anbiya:87
Artinya: Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap:
“Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.
7. Yaumul Jaza
Hari pembalasan perbuatan manusia baik itu perbuatan baik dan buruknya manusia selama di dunia. Firman Allah dalam QS al-Mu‟min:17
21 Ahmad Taufiq, Negeri Akhirat Konsep Eskatologi Nuruddin Ar-Raniri, (Solo: PT Serangkai Pustaka Mandiri, 2003), h. 19-33
Artinya: Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.
Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.
B. PERSPEKTIF 1. Pengertian Perspektif
Inggris: perspective, dari Latin perspicere (melihat melalui sesuatu, melihat dengan jelas, menyelami, mengerti) dari per (melalui) dan specere (melihat).
Beberapa Pengertian
a. Sudut pandang dari mana sesuatu dilihat.
b. Presuposisi-presuposisi dasar yang secara sadar atau tidak sadar diandaikan, yang memungkinkan tercapainya suatu kesimpulan atau diadakannya suatu analisis.
c. Gambaran tentang apa yang mungkin atau apa yang bermakna dalam proses menyusun dan memecahkan suatu masalah.22
Perspektif menurut para ahli:
a. Martono, perspektif adalah suatu cara pandang terhadap suatu masalh yang terjadi, atau sudut pandang tertentu yang digunakan dalam melihat suatu fenomena.
b. Ardianto dan Q-Anees, perspektif adalah cara pandang atau sudut pandang kita terhadap sesuatu.
22 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), h.
Pengertian perspektif atau sudut pandang yang sebenarnya dapat diartikan sebagai cara seseorang dalam menilai sesuatu yang bisa dipaparkan baik secara lisan maupun tulisan. Hampir setiap hari orang-orang selalu mengungkapkan perspektif dan sudut pandang mereka mengenai berbagai macam hal. Sebagai contoh, orang yang selalu memberikan sudut pandangnya mengenai sesuatu melalui media sosial, dengan cara memperbaharui statusnya hingga mengomentari status teman atau saudaranya. Itu merupakan salah satu contoh yang terjadi dalam keseharian dimana sudut pandang seseorang dituangkan dalam sebuah tulisan.23
Perspektif merupakan sudut pandang atau cara pandang kita terhadap sesuatu.
Cara memandang yang kita gunakan dalam mengamati kenyataan untuk menentukan pengetahuan yang kita peroleh. Perspektif berdasarkan pada konteks komunikasi menekankan bahwa manusia aktif memilih dan mengubah aturan-aturan yang menyangkut kehidupannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik individu-individu yang berinteraksi harus menggunakan aturan-aturan dalam menggunakan lambang-lambang. Bukan hanya aturan mengenai lambang itu sendiri, tetapi juga harus ada aturan atau kesepakatan dalam hal berbicara, bagaimana bersikap sopan santun atau sebaliknya, bagaimana harus menyapa dan sebagainya, agar tidak terjadi konflik atau kekacauan. Perspektif ini memiliki dua ciri utama:
1). Aturan pada dasarnya merefleksikan fungsi-fungsi perilaku dan kognitif yang kompleks dari kehidupan manusia.
23 https://www.defenisimenurutparaahli.com/pengertian-perspektif-atau-sudut-pandang/, diakses 06 Juli 2020.
2). Aturan menunjukan sifat-sifat dari keberaturan yang berbeda dari keberaturan sebab akibat.
Para ahli penganut aliran evolusi mengemukakan bahwa dalam mengamati tingkah laku manusia, perspektif ini menunjuk tujuh unsur di mana masing-masing mempunyai penekananyang berbeda dalam pengamatannya, diantaranya:
a) Memfokuskan perhatiannya pada pengamatan tingkah laku sebagai aturan.
b) Mengamati tingkah laku yang menjadi kebiasaan.
c) Menitikberatkan perhatiannya pada aturan-aturan yang menentukan tingkah laku.
d) Mengamati aturan-aturan yang menyesuaikan diri dengan tingkah laku.
e) Memfokuskan pengamatannya pada aturan-aturan yang mengikuti tingkah laku.
f) Mengikuti aturan-aturan yang menerapkan tingkah laku.
g) Memfokuskan perhatiannya pada tingkah laku yang merefleksikan aturan.
2. Sudut pandang perspektif
Ada tiga jenis sudut pandang perspektif:
a. Perpektif mata burung
Jenis perspektif ini adalah cara pandang dengan melihat objek dari atas, sehingga dengan cara tersebut dapat mempermudah untuk menggambarkan sebuah ruangan, mulai dari bentuk, warna dan lainnya.
b. Perspektif mata manusia
Berbeda halnya dengan jenis perspektif yang pertama, perspektif ini menggunakan cara pandang dengan melihat sejajar objek yang dituju, sehingga dengan cara tersebut dapat mempermudah menggambarkan sebuah keadaan yang sebenarnya.
c. Perspektif mata cacing
Cara pandang ini dapat dilakukan dengan melihat objek dari bawah, sehingga dengan cara tersebut dapat menghasilkan sudut pandang yang berkesan dramatis.
Dari ketiga jenis pengertian perspektif di atas, bahwa setiap orang pasti punya cara tersendiri dalam melihat sebuah objek. Masing-masing cara pandang tersebut akan menghasilkan pendapat mengenai objek yang berbeda-beda pula. Perspektif seseorang juga dapat mempengaruhi perilaku hingga gaya hidup seseorang menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk. Sebagai contoh, masyarakat yang diberi pandangan tentang agama Islam adalah agama teroris dan orang muslim adalah orang yang anarkis, maka orang tersebut akan menjauhi dan memusuhi pemeluk Islam, begitu juga sebaliknya.
C. AL-GHAZALI
1. Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan
Al-Ghazali yang nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al- Ghazali, dilahirkan di Thus, salah satu kota di Khurasan (Persia) pada pertengahan
abad kelima Hijriyah (450 H/1058).24 Ia adalah salah seorang pemikir besar Islam yang dianugerahi gelar hujjat Al-Islam (bukti kebenaran Agama Islam) dan zayn ad- din (perhiasan agama).
Al-Ghazali meninggal di kota kelahirannya, Thus pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H (198 Desember 1111 M). Al-Ghazali pertama-tama belajar agama di kota Thus, kemudian meneruskan di kota Jurjan, dan akhirnya di Naisabur pada Imam Juwaini sampai yang terakhir ini wafat pada tahun 478 H/1058 M.
Ayah Al-Ghazali adalah seorang wara‟ yang hanya makan dari usaha tanganya sendiri. Pekerjaanya ialah sebagai pemintal dan penjual wol. Pada waktu-waktu senggangnya, menurut cerita, ia selalu mendatangi tokoh-tokoh agama dan para ahli fiqh di berbagai majelis khalawat mereka untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya.
Tampaknya tentang pribadi dan sifat-sifat ayah Al-Ghazali ini tidak banyak ditulis orang, kecuali sikap pengabdiannya yang mengagumkan terhadap para tokoh agama dan ilmu pengetajuan,
Sang ayah wafat keyika Al-Ghazali dan saudara kandungnya, Ahmad, masih dalam usia anak-anak. Ketika hendak wafat, sang ayah berwasiat kepada salah seorang teman dekatnya dari ahli sufi untuk mendidik dan membesarkan kedua anaknya tersebut. Ia berkata kepadanya “Saya sangat menyesal dulu tidak belajar.
Untuk itu, saya berharap agar keinginan itu terwujud pada kedua anak saya ini maka
24 Ahmad Badawi Thabanah, “Muqadimmah Al-Ghazali wa Ihya „Ulum Ad-Din” dalam Ihya‟
„Ulum Ad-Din, Juz I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 97
didiklah keduanya, dan pergunakanlah sedikit harta yang saya tinggalkan ini untuk mengurus keperluannya.”
Sang sufi itu memegang kuat wasiat yang diamanatkan kepadanya. Dia begitu serius memerhatikan kepentingan pendidikan dan moralitas kedua anak temannya ini, sampai peninggalan harta dari ayahnya habis. Ketika sang sufi merasa tidak mampu lagi membiayai kehidupan kedua anak itu, ia berkata kepada Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad, “Ketahuilah bahwa saya telah membiayai kalian sesuai dengan harta kalian berdua yang dititipkan kepada saya. Kalian tahu bahwa saya adalah orang miskin yang hidup mengasingkan diri hingga saya tidak mempunyai harta benda yang bisa dipergunakan untuk membiayai kalian berdua. Untuk itu, saya sarankan kalian berdua untuk pergi ke sekolah yang menyediakan beasiswa. Sebab, kalian berdua adalah orang yang menuntut ilmu. Semoga kalian berdua dapat berhasil sesuai denhan bekal yang kalian miliki.
Setelah belajar dari teman ayahnyaitu, Al-Ghazali melanjutkan pendidikannya ke salah satu sekolah agama di daerahnya, Thus. Di sini, ia belajar ilmu fiqh pada salah seorang ulama yang bernama Ahmad bin Muhammad Ar-Razakani Ath-Thusy.
Setelah itu, ia melanjutkan sekolahnya ke Jurjan untuk belajar kepada Al-Imam Al- Allamah Abu Nashr Al-Isma‟ily.
Di Jurjan, Al-Ghazali mulai menulisak ilmu-ilmu yang diajarkan oleh gurunya. Ia sendiri menulis suatu komentar tentang ilmu fiqh. Akan teapi, menurut sebuah cerita, di tempat ini, ia mengalami musibah. Semua barang yang dibawa oleh Al-Ghazali yang berisi buku-buku catatan dan tulisannya dirampas oleh para perampok,
meskipun pada akhirnya barang-barang tersebut dikembalikan setelah Al-Ghazali berusaha keras untuk memintanya kembali.
Kejadian tersebut mendorong Al-Ghazali untuk menghapal semua pelajaran yang diterimanya. Oleh karena itu, setelah sampai di Thus kembali, ia berkonsentrasi untuk menghapal semua yang pernah dipelajarinya selama kurang lebih tiga tahun.
Sehingga menurutnya, apabila kelak dirampok lagi sampai habis, dia tidak akan kehilangan ilmu yang dipelajarinya.
Akan tetapi, pengetahuan-pengetahuan yang ada di Thus, agaknya tidsk cukup memadai untuk Al-Ghazali. Untuk itu, ia kemudian pergi ke Nasaibur, salah satu dari sekian kota ilmu pengetahuan yang terkenal pada zamannya. Di sini, ia belajar ilmu- ilmu yang terpopuler pada saat itu, seperti belajar tentang mazhab-mazhab fiqh, ilmu kalam dan ushul, filsafat logika, dan ilmu-ilmu agama yang lainnya kepada Imam Al- Haramain Abu Al-Ma‟ali Al-Juwaini, seorang ahli teologi Asy‟ariyah paling terkenal pada masa itu dan profesor terpandang di Sekolah Tinggi Nidhamiyah di Naisabur.
Pada masa itu dan dalam tahun-tahun berikutnya, sebagai seorang mahasiswa, Al- Ghazali sangat mendambakan untuk mencari pengetahuan yang mutlak benar yakni pengetahuan yang pasti, yang tidak bisa salah dan tidak diragukan sedikitpun sehingga kepandaian dan keahliannya dalam berbagai ilmu dapat melebihi kawan- kawannya. Al-Ghazali belajar di Naisabur hingga Imam Al-Haramain wafat pada tahaun 478 H/1085 M.
Setelah Imam Al-Haramain wafat, Al-Ghazali meninggalkan Naisabur menuju Mu‟askar, untuk mengahdiri pertemuan atau majelis yang diadakan oleh Nidham Al-
Muluk, Perdana Menteri daulah Bani Saljuk. Di majelis tersebut,karena banyak berkumpul di dalamnya para ulama dan fuqaha‟, Al-Ghazali ingin berdiskusi dengan mereka. Di sana, ia dapat melebihi kemampuan lawan-lawannya dalam berdiskusi dan beragumentasi. Karena kemampuannya mengalahkan para ulama setempat dalam muhadharah, Al-Ghazali diterima dengan penuh kehormatan oleh Nidham Al-Muluk.
Begitu besar penghormatan itu, sehingga Nidham Al-Muluk memberikan kepercayaan kepada Al-Ghazali untuk mengelola madrasah Nidhamiyah di Baghdad.
Kemudian, Al-Ghazali pergi ke Baghdad untuk mengajar di madrasah Nidhamiyah itu pada tahun 484 H/1090 M. Di sana, ia melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga banyak penuntut ilmu memadati halaqahnya. Namanya kemudian menjadi terkenal di kawasan itu karena berbagai fatwa tentang masalah-masalah agama yang dikeluarkannya. Di samping mengajar, ia juga mulai menulis beberapa buku, diantaranya tentang fiqh dan ilmu kalam, serta kitab-kitab yang berisi sanggahan terhadap aliran Bathiniyah (salah satu aliran Syi‟ah), aliran Syi‟ah Isma‟illiyah, dan falsafah.
Setelah satu tahun berada di kota Baghdad, nama Al-Ghazali menjadi terkenal sampai ke Istana khilafah Abbasiyah. Khalifah Muqtadi bi Amrillah pada masa pemerintahannya (467-487 H/1074-1094 M) begitu tertarik kepadanya, sehingga pada tahun 485 H, ia mengutus Al-Ghazali untuk menemui permaisuru Raja Malik Syah dari bani Saljuk, yakni Terkanu Khatun, yang pada saatitu memegang kendali
kekuasaan pemerintahan di belakang layar untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi.25
Di Baghdad inilah, Al-Ghazali menikmati pangkat, kehormatan, harta dan kedudukan yang ia dambakan. Najibullah dalam Islamic Literature sebagaimana yang dikutip oleh Zainal Abidim mengatakan bahwa Al-Ghazali sebagai seorang imam atau pemuka agama, pada tahun 1085 M pernah diundang untuk datang ke Istana pemerintahan Malik Syah dari bani Saljuk oleh Perdana Menterinya yang gemar ilmu pengetahuan, Nidham Al-Muluk. Negarawan ini mengakui keahlian dan kemampuan ilmiah Al-Ghazali, sehingga pada tahun 1090 M, ia mengangkatnya menjadi guru besar dalam bidang hukum di Universitas Nidhamiyah di Baghdad, tempat ia mengajar selama empat tahun di sana sambil melanjutkan pekerjaanya, mengarang.
Akan tetapi, kemuliaan dan kedudukan yang ia peroleh di Baghdad tidak berlangsung lama akibat adanya beebagai peristiwa atau musibah yang menimpa, baik pemerintahan pusat (Baghdad) maaupun pemerintahan daulah bani Saljuk, diantaranya ialah:
a. Pada tahun 484 H/1092 M, tidak lama sesudah pertemuan Al-Ghazali dengan permaisuri raja bani Saljuk, suaminya, Raja Malik Syah yang terkenal adil dan bijaksana meninggal dunia.
b. Pada tahun yang sama (484 H/1092 M), Perdana Menteri Nidham Al-Muluk yang menjadi sahabat karib Al-Ghazali mati dibunuh oleh seorang pebunuh bayaran di daerah dekat Nahawand, Persi.
25 Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Al-Ghazali, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 40
c. Dua tahun kemudian, pada tahun 487 H/1094 M, wafat pula khalifah Abbasiyah, Muqtadi bi Amrillah.
Ketiga orang tersebut di atas, bagi Al-Ghazali, merupakan orang-orang yang selama ini dianggapnya banyak memberi peran kepada Al-Ghazali, bahkan sampai menjadikannya sebagai ulama yang terkanal.26
2. Karya-karya Al-Ghazali
Al-Ghazali adalah salah seorang ulama dan pemikir dalam dunia Islam yang sangat produktif dalam menulis. Dalam masa hidupnya baik ketika menjadi pembesar negara di Mu‟askar maupun ketika sebagai profesor di Baghdad, baik sewaktu skeptis di Naisabur maupun setelah berada dalam perjalanannya mencari kebenaran dari apa yang dimilikinya, dan sampai akhir hayatnya, Al-Ghazali terus berusaha menulis dan mengarang.
Jumlah kitab yang ditulis Al-Ghazali sampai sekarang belum disepakatisecara denitif oleh para penulis sejarahnya. Menurut Ahmad Daudy, penelitian paling akhir tentang jumlah buku yang dikarang oleh Al-Ghazali adalah yang dilakukan oleh Abdurahman Al-Badawi, yang hasilnya dikumpulkan dalam satu buku yang berjudul Muallafat Al-Ghazali.
Dalam buku tersebut, Abdurrahman mengklasifikasikan kitab-kitab yang ada hubungannya dengan karya Al-Ghazali dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok
26 Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 143-147
kitab yang dapat dipastikan sebagai karya Al-Ghazali yang terdiri atas 72 buah kitab.
Kedua, kelompok kitab yang diragukan sebagai karyanya yang asli terdiri atas 22 buah kitab. Ketiga, kelompok kitab yang dapat dipastikan bukan karyanya, terdiri atas 31 buah kitab.27 Kitab-kitab yang ditulis oleh Al-Ghazali tersebut meliputi berbagai bidang ilmu yang populer pada zamannya, di antaranya tentang tafsir Al-Qur‟an, ilmu kalam, ushul fiqh, fiqh, tasawuf, mantiq, falsafah, dan lain-lain.
Berbeda dengan pernyataan di atas, Badawi mengatakan jumlah karangan Al- Ghazali ada 47 buah. Nama-nama buku tersebut adalah:
1. Ihya Ulum Ad-din (membahas ilmu-ilmu agama),
2. Tahafut Al-Falasifah (menerangkan pendapat para filsuf ditinjau dari segi agama),
3. Al-Iqtishad fi Al-„Itiqad (inti ilmu ahli kalam),
4. Al-Munqidz min Adh-Dhalal (menerangkan tujuan dan rahasia-rahasia ilmu),
5. Jawahir Al-Qur‟an (rahasia-rahasia yang terkandung dalam Al-Qur‟an), 6. Mizan Al-„Amal (tentang falsafah keagamaan),
7. Al-Muqashid Al-Asna fi Ma‟ani Asma „illah Al-Husna (tentang arti nama- nama Tuhan),
8. FaishalAt-Tafriq Baina Al-Islam wa Al-Zindiqah (perbedaan antara Islam dan zindiq),
9. Al-qisthas Al- Mustaqim (jalan untuk mengatasi perselisihan pendapat),
27 Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 99
10. Al-Mustadhhiry,
11. Hujjat Al-Haq (dalil yang benar),
12. Mufahil Al-Khilaf fi Ushul Ad-Din (menjauhkan perselisihan dalam masalah ushul ad-din),
13. Kimiya As-Sa‟adah (menerangkansyubhat ahli ibadah), 14. Al-Basith (fiqh),
15. Al-Wasith (fiqh), 16. Al-Wajiz (fiqh),
17. Al-Khulasahah Al-Mukhtasharah (fiqh),
18. Yaqut At-ta‟wil fi Tafsir At-Tanzil (tafsir 40 jilid), 19. Al-Mustafa (ushul fiqh),
20. Al-Mankhul (ushul fiqh),
21. Al-Muntaha fi „ilmi Al-Jadal (cara-cara berdebat yang baik), 22. Mi‟yar Al-„Ilmu (tibangan ilmu),
23. Al-Maqashid (yang dituju),
24. Al-madnun bihi „ala Ghairi Ahlihi, 25. Misykat Al-anwar (pelajaran keagamaan), 26. Mahku An-Nadhar,
27. Asraru „ilmi Ad-Din (rahasia ilmu agama), 28. Minhaj Al-Abidin,
29. Ad-Darar Al-Fakhirah fi kasyfi „Ulum Al-Akhirah (tasawuf), 30. Al-Anis fi Al-Wahdah (tasawuf),
31. Al-Qurbah ila Allah „Azza wa Jalla (tasawuf), 32. Akhlaq Al-Abrar (tasawuf),
33. Bidayat Al-Hidayah (tasawuf),
34. Al-Arba „in fi Ushul Ad-Din (ushul ad-din),
35. Adz-Dzari‟ah ila Mahakim Asy-Syari‟ah (pintu ke pengadilan agama), 36. Al-Mabadi wa Al-Ghayat (permulaan san tujuan),
37. Talbisu Iblis (tipu daya iblis),
38. Nashihat Al-Muluk (nasihat bagi raja-raja),
39. Syifa „u Al- „Alil fi Al-Qiyas wa At-Talil (ushul fiqh), 40. Iljam Al-Awwam „an „ilmi Al-Kalam (ushul ad-din),
41. Al-Intishar lima fi Al- Ajnas min Al-Asrar (rahasia-rahasia alam), 42. Al- „Ulum Al-Laduniyah (ilmu laduni),
43. Ar-Risalah Al-Qudsiyah, 44. Isbat An-Nadhar,
45. Al-Ma‟akhidz (tempat pengambilan),
46. Al-Qaul Al-Jamil fi Ar-Raddi „Ala Man Ghayyara Al-Injil (perkataan yang baik bagi orang yang mengubah Injil),
47. Al- „Amali.28
Berbagai karya Imam Al-Ghazali yang multidisipliner tersebut,membuktikan pada kita bahwa Al-Ghazali merupakan pemikir kelas dunia yang amat berpengaruh, baik
28 Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam..., h. 151-154
bagi kalangan para tokoh ulama klasik maupun para intelektual modern dewasa ini.
Adapun pengaruhnya terhadap tokoh klasik, dapat terlihat misalnya pada: Jalaluddin Ar-Rumi, Syaikh Al-Asyraq, Ibnu Rusyd, dan Syaikh Waliyullah, yang dalam karya- karya mereka banyak mencerminkan gagasan rasional Al-Ghazali. Demikian juga, peran penyair utama Rusia, seperti: Attar, Rumi, Sa‟adu, Hafidz, dan „Iraqi. Karya- karya mereka sangat banyak diilhami oleh pemikiran Al-Ghazali yang menjadi penyebab berkembang luasnya aliran tasawuf ke wilayah Persia ini tecermin dalam berbagai bentuk puisi yang mengarahkan ke jalan yang benar.29
3. Pemikiran pada masa Al-Ghazali
Bahasan diskusi pada masa Al-Ghazali pada umumnya lebih disominasi dengan pemikiran kalam secara umum dengan argumen-argumen yang didominasi akal budi dan doktrin keagamaan yang ditopang rasio. Adapun latar belakang Al-Ghazali bergelu dalam pemikiran kalam, adalah mempertahankan akidah Ahlu As-Sunah dan melindungi dari Al-Bid‟ah. Menurutnya, ketika itu akidah Ahlu As-Sunah sedang dilanda krisis akibat serangan kelompok kaum Ahl Al-Bid‟ah.30
Ketika Al-Ghazali mendalami ilmu kalam, ia banyak melihat bahaya yang ditimbulkan dari perkembangan pemikiran ilmu kalam daripada manfaatnya. Ilmu ini lebih banyak mengeluarkan premis-premis yang mempersulit dan menyesatkan daripada menguraikannya secara jelas. Al-Ghazali menyatakan bahwa para teolog
29 Ateng Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), h. 471
30 Ateng Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum..., h. 466
tidak mampu mencapai pengetahuan yang hakiki apabila hanya menggunakan metode ilmu kalam saja, dikarenakan manusia sangat sulit untuk mengetahui Allah secara hakiki.
Al-Ghazali meninggalkan ilmu kalam dan pindah mengejar ilmu filsafat. Al- Ghazali banyak menentang kecenderungan para filosof pada masanya sehingga ia menentang keras terhadap mereka karena para filosof pada masa itu sangat membahayaka akidah. Untuk meluruskan mereka, Al-Ghazali mengarang buku Tahafut al-Falasifah. Adapun alasan yang mendorong lahirnya karya ilmiah tersebut adalah dampak munculnya kelompok-kelompok pemikir yang cenderung meninggalkan keyakinan syariat Islam dan mengabaikan dasar-dasar ritual dengan anggapan bahwa semua itu tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka.31
Al-Ghazali sebagai seorang ahli fikih adalah bermadzhabkan Syahiyah, dan sebagai seorang ulama kalam adalah bermadzhabkan Asy‟ariyah. Di samping penguasaannya terhadap ilmu-ilmu syariat, ia juga menguasai il u filsafat dan mantiq (ilmu logika), sehingga orang-orang yang mengkritisinya menganggap keilmuan Al- Ghazali dalam filsafat menyamai keilmuan para filsuf sendiri terhadapnya. Tak diragukan lagi, pemaparannya tentang aliran-aliran filsafat dalam kitabnya yang berjudul Maqasid, dan kritikannya terhadap para filsuf dalam kitab Tahafut,
31 Ateng Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum..., h. 466-467