8
II. LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Penyusunan skripsi ini mengambil penelitian sebelumnya termasuk jurnal- jurnal yang berhubungan dengan penelitian ini, antara lain:
Ommani (2011) melakukan penelitian yang berjudul “Strengths, weaknesses, opportunities and threats (SWOT) analysis for farming system businesses management: Case of wheat farmers of Shadervan District, Shoushtar Township, Iran”. Penelitian ini menyebutkan bahwa Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT) analisis menunjukkan kerangka kerja untuk membantu para peneliti atau perencana untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan tujuan bisnis, dan untuk lebih mengidentifikasi strategi untuk mencapainya. Dengan demikian, analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi strategi untuk pembangunan pertanian, terutama dalam sistem pertanian, dan mereka membantu para peneliti atau perencana untuk mengelola dan memprioritaskan mereka untuk mencapai ketahanan pangan..
Berdasarkan hasil SWOT, strategi untuk manajemen sistem pertanian yang diprioritaskan dan termasuk: pengembangan peluang miskin lokal pasar dan infrastruktur, penanaman tanaman dengan nilai ekonomi tinggi, pengembangan dukungan pemerintah, menyiapkan rencana strategis untuk pengembangan pertanian organik, mengingat kualitas tanaman, mengingat indeks keberlanjutan pertanian, menggunakan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan pengembangan program penyuluhan berdasarkan kebutuhan.
Elise dan Liang (2012) melakukan penelitian dengan judul
“Cassava sector development in Cameroon: Production and marketing factors affecting price”. Penelitian ini menggunakan alat analisis data analisis regresi multivariat pada data lapangan. Berdasarkan permasalahan tersebut dilakukan analisis faktor produksi dan pemasaran yaitu daerah budidaya, bahan tanam, kelompok tani, akses pasar, dan harga. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan pasokan akses
jalan menuju pasar diperbaiki serta alat transportasi yang ada juga harus ditingkatkan. Selain itu, memperbaiki saluran distribusi bahan tanam dengan gudang penyimpanan.
Setyowati (2012) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis potensi agroindustri olahan singkong di Kabupaten Bojonegoro”. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan menggunakan data primer berupa potensi data agroindustri dan data faktor-faktor strategis agroindustri terkemuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis MPE, agroindustri singkong yang tersebar di 15 kecamatan. Berdasarkan analisis Borda menunjukkan bahwa olahan agroindustri singkong menempati urutan keempat di Bojonegoro. Strategi pengembangan agroindustri singkong meliputi: Peningkatan volume dan diversifikasi produk olahan singkong, meningkatkan kualitas produk berdasarkan kualitas produk, inovasi kemasan, pelatihan pasca panen dan keamanan produk, menjaga kontinuitas bahan baku melalui kerjasama dengan kelompok tani, pengenalan mesin pengering sesuai dengan kebutuhan pengraji
Khoirunnisa’ (2013) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pemetaan dan Strategi Pengembangan Agroindustri Abon Sapi di Surakarta”. Penelitian ini menggunakan metode alat analisis data identifikasi potensi tingkat kecamatan dengan Metode Perbandingan Eksponensial, identifikasi potensi tingkat kabupaten dengan Metode Borda, perumusan strategi pengembangan dengan analisis SWOT serta identifikasi Value Chain Map pada agroindustri abon sapi di Kota Surakarta. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan dan perumusan strategi pengembangan yang tepat terhadap agroindustri abon sapi di Kota Surakarta yang akan mengurai berbagai potensi dan strategi pengembangan baik dari sisi kewilayahan, pemasaran, maupun diversifikasi produk hilir. Berdasarkan analisis yang dilakukan agroindustri abon sapi menempati peringkat kedua di Kota Surakarta. Strategi yang diterapkan untuk agroindustri abon sapi yaitu meningkatkan akses permodalan, menjalin kemitraan dengan stakeholder dan pengembangan wilayah sentra abon sapi di Kota Surakarta.
Putuarta (2013) melakukan penelitian yang berjudul “Pemetaan dan Strategi Pengembangan Agroindustri Jamu Instan di Kabupaten Karanganyar”. Penelitian ini menggunakan metode analisis data meliputi pemetaan, identifikasi potensi tingkat kecamatan dengan Metode Perbandingan Eksponensial, identifikasi potensi tingkat kabupaten dengan Metode Borda, perumusan strategi pengembangan dengan analisis SWOT serta identifikasi Value Chain Map pada agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Hasil dari penelitian menunjukkan sebaran agoindustri jamu instan terdapat di 8 kecamatan dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Karanganyar. Melalui Metode Borda, agroindustri jamu instan menempati peringkat ke-2 agroindustri unggulan di Kabupaten Karanganyar.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan menghasilkan alternatif strategi pengembangan untuk meningkatkan pemasaran produk, memperkuat kelembagaan, penguatan modal, dan meningkatkan kemampuan SDM.
Phelipe, et al. (2015) yang berjudul “Analysis of the operational performance of brazilian airport terminals : A multicriteria approach with De Borda-AHP integration”. Penelitian ini menggunakan 2 multikriteria alternatif keputusan yaitu Borda dan Analytic Hierarchy Process (AHP) yang diterapkan pada database dari laporan kinerja Departemen Penerbangan Sipil Brazil, terdiri dari evaluasi yang didapat dari 18.062 responden mengenai 15 terminal bandara. 12 terminal bandara yang dianalisis dalam penelitian ini mempertimbangkan 8 kriteria evaluasi. Pada tingkat pertama, metode AHP digunakan untuk menetapkan bobot untuk kriteria. Pada tingkat kedua, metode De Borda diaplikasikan untuk peringkat alternatif. Metode yang diusulkan menghasilkan peringkat final alternatif yang sangat berbeda dari yang disajikan dalam laporan Departemen Penerbangan Sipil.
Tabel 4. Penelitian Terdahulu Nama
Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Ahmad Reza
Ommani (2011)
Strengths, weaknesses, opportunities and threats (SWOT) analysis for farming system businesses
management: Case of wheat farmers of Shadervan District, Shoushtar Township, Iran
Mengidentifikasi dan memprioritaskan tujuan bisnis dan
mengindentifikasi strategi untuk manajemen bisnis
IFE EFE matrix, SWOT matrix, QSP matrix
Elise Stephanie Meyo Mvodo dan Dapeng Liang (2012)
Cassava sector development in Cameroon:
Production and marketing factors affecting price
Menganalisis faktor produksi dan pemasaran yang mempengaruhi harga pasar singkong di Kamerun
Alat analisis regresi
multivariate pada data lapangan
Nuning Setyowati (2012)
Analisis potensi agroindustri olahan singkong di Kabupaten
Bojonegoro
Memetakan potensi agroindustri olahan singkong dan merumuskan strategi pengembangan agroindustri singkong
Metode Perbandingan Eksponensial (MPE), metode borda, SWOT Khirunnisa’
Anindita Putra Perdana (2013)
Analisis Pemetaan dan Strategi Pengembangan Agroindustri Abon Sapi di Surakarta
1. Mengetahui peta agroindustri abon sapi di Surakarta
2. Mengetahui posisi agroindustri abon sapi dalam perekonomian di Surakarta
3. Menganalisis alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam mengembangkan agroindustri abon sapi di Kota Surakarta 4. Menganalisis peta rantai agroindustri abon sapi di Kota Surakarta
Pengambilan sampel purposive, Deskriptif
analitis, Perbandingan Eksponensial, Borda, SWOT, Value chain map
Ananda Pemetaan dan 1. Mengidentifikasi peta Metode
Putuarta (2013)
Strategi Pengembangan Agroindustri Jamu Instan di
Kabupaten Karanganyar
(sebaran) agroindustri jamu instan di
kabupaten Karanganyar.
2. Mengidentifikasi potensi agroindustri jamu instan pada tingkat kecamatan di Kabupaten Karanganyar menggunakan
pendekatan Metode Perbandingan Eksponensial.
3. Mengidentifikasi potensi agroindustri jamu instan di
Kabupaten Karanganyar menggunakan
pendekatan Metode Borda.
4. Merumuskan strategi pengembangan
agroindustri jamu instan di Kabupaten
Karanganyar.
5. Mengidentifikasi peta rantai nilai (value chain map) agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar.
Perbandingan Eksponensial, Metode Borda, SWOT, Value Chain Map.
Phelipe Medeiros da Rocha, et al.
(2015)
Analysis of the operational
performance of brazilian airport terminals : A multicriteria approach with De Borda-AHP integration
Melakukan analisis komparatif kinerja operasional terminal bandara Brasil utama melalui pendekatan multikriteria non kompensasi.
Analitycal Hierarchy
Process (AHP), Metode Borda
Sumber: Penelitian terdahulu
B. Tinjauan Pustaka 1. Agroindustri
Pengertian agroindustri dapat diartikan dua hal, yaitu pertama, agroindustri adalah industri yang usaha utamanya dari produk pertanian.
Studi agroindustri pada konteks ini adalah menekankan pada food processing management dalam suatu perusahaan produk olahan yang
bahan bakunya adalah produk pertanian. Suatu industri yang menggunakan bahan baku dari pertanian dengan jumlah minimal 20% dari jumlah bahan baku yang digunakan adalah disebut agroindustri. Arti yang kedua adalah bahwa agroindustri itu diartikan sebagai suatu tahapan pembangunan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian, tetapi sebelum tahapan pembangunan tersebut mencapai tahapan pembangunan industri (Soekartawi, 2000).
Menurut Austin (1992), agroindustri hasil pertanian mampu memberikan sumbangan yang sangat nyata bagi pembangunan di kebanyakan negara berkembang karena adanya empat alasan yaitu, pertama, agroindustri hasil pertanian adalah pintu untuk sektor pertanian.
Agroindustri melakukan transformasi bahan mentah dari pertanian termasuk transformasi produk subsisten menjadi produk akhir untuk konsumen. Hal ini berarti bahwa suatu negara tidak dapat sepenuhnya menggunakan sumber daya agronomis tanpa pengembangan agroindustri.
Disatu sisi, permintaan terhadap jasa pengolahan akan meningkat sejalan dengan peningkatan produksi pertanian. Sisi lain, agroindustri tidak hanya bersifat reaktif tetapi juga menimbulkan permintaan ke belakang, yaitu peningkatan permintaan jumlah dan ragam produksi pertanian. Akibat dari permintaan ke belakang ini adalah petani terdorong untuk mengadopsi teknologi baru agar produktivitas meningkat akibat selanjutnya produksi pertanian dan pendapatan petani meningkat dan memperluas pengembangan prasarana (jalan, listrik, dan lain-lain). Kedua, agroindustri hasil pertanian sebagai dasar sektor manufaktur. Transformasi penting lainnya dalam agroindustri kemudian terjadi karena permintaan terhadap makanan olahan semakin beragam seiring dengan pendapatan masyarakat dan urbanisasi yang meningkat. Indikator penting lainnya tentang pentingnya agroindustri dalam sektor manufaktur adalah kemampuan menciptakan kesempatan kerja. Pada negara Amerika Serikat misalnya, sementara usaha tani hanya melibatkan 2 persen dari angkatan kerja, agroindustri melibatkan 27 persen dari angkatan kerja. Ketiga, agroindustri
pengolahan hasil pertanian menghasilkan komoditas ekspor penting.
Produk agroindustri, termasuk produk dari proses sederhana seperti pengeringan, mendominasi ekspor kebanyakan negara berkembang sehingga menambah perolehan devisa. Nilai tambah produk agroindustri cenderung lebih tinggi dari nilai tambah produk manufaktur lainnya yang diekspor karena produk manufaktur lainnya sering tergantung pada komponen impor. Keempat, agroindustri pangan merupakan sumber penting nutrisi.
Pendekatan agroindustri ini akan membawa impli- kasi yang sangat jauh, tidak saja pada pengembangan usaha-usaha agro industri itu sendiri, akan tetapi juga pada pembaharuan yang diperlukan dalam kelembagaan pertanian/ pedesaan, refor- masi peran pemerintah, dan keterpaduan administrasi pembangunan. Pelaku utama sistem agro industri adalah dunia usaha, petani/nelayan, dan badan-badan usaha, seperti koperasi, BUMN, dan perusahaan swasta. Pemerintah seyog- yanya lebih berfungsi sebagai pembimbing, pengarah, pembina, dan yang menciptakan iklim usaha yang kondusif. Dalam mengembangkan usaha- usaha agro bisnis, perlu diberikan perhatian khusus kepada aspek-aspek pengembangan kawasan yang sesuai dengan agro ekosistem dan peluang pasar, skala usaha, dan keterkaitan secara terpadu antar subsistem dari sistem agro industri. Sistem agro industri itu sendiri terdiri dari empat peranan Agroindustri dalam Pemulihan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi komponen kegiatan utama. Yakni (1) penyediaan sarana produksi; (2) proses produksi/menghasilkan produk perta- nian; (3) pengolahan hasil (agro industri) dan (4) pemasaran hasil. Keempat komponen kegiatan tersebut haruslah saling berhubungan dan saling berkait erat, serta didukung oleh industri-industri (industri rumah tangga, tradisionil, semi modern, hingga industri modern) dan jasa-jasa penunjang di dalam kerangka transformasi ekonomi pertanian/pedesaan (Amalia, 2006).
Dalam upaya mencapai keberhasilan tujuan pembangunan wilayah saat ini, secara umum kita dihadapkan pada banyak tantangan yang sangat berbeda sifatnya dibandingkan pada masa-masa yang lalu.
Tantangan pertama berkaitan dengan kondisi eksternal seperti perkembangan internasional yang berhubungan dengan liberalisasi arus investasi dan perdagangan global. Sedangkan yang kedua bersifat internal, yaitu yang berkaitan dengan perubahan kondisi makro maupun mikro dalam negeri. Tantangan internal disini dapat meliputi transformasi struktur ekonomi, masalah migrasi spasial dan sektoral, ketahanan pangan, masalah ketersediaan lahan pertanian, masalah investasi dan permodalan, masalah iptek, SDM, lingkungan dan masih banyak lagi (Andri, 2006).
Integrasi antara konsep agroindustri dan pembangunan wilayah menjadi penting keterkaitannya dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi, penyediaan dana dan investasi, teknologi, serta dukungan sistem tataniaga dan perdagangan yang efektif. Pengembangan agroindustri pada dasarnya diharapkan selain memacu pertumbuhan tingkat ekonomi, juga sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan petani. Untuk mengaktualisasikan secara optimal strategi tersebut di atas, Perumusan perencanaan pembangunan pertanian, perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan ketersediaan teknologi tepat guna. Sehingga alokasi sumberdaya dan dana yang terbatas dapat menghasilkan output yang optimal, yang pada gilirannya akan berdampak positif terhadap pembangunan wilayah. Di samping nilai tambah produksi wilayah akan meningkat, industrialisasi juga akan mencegah berkembangnya pengangguran terdidik, dan mendorong mereka untuk tetap bekerja dan berpartisipasi dalam pembangunan daerahnya, sebagai pusat-pusatpertumbuhan (Andri, 2006).
Kegiatan agroindustri merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian. Efek agroindustri mampu mentransformasikan produk primer ke produk olahan sekaligus budaya
kerja bernilai tambah rendah menjadi budaya kerja industrial modern yang menciptakan nilai tambah tinggi (Suryana, 2005).
2. Olahan Ubi Kayu
Ubi kayu termasuk tanaman pangan yang sudah lama dibudidayakan secara tradisional di Indonesia dan sudah dikenal luas di masyarakat. Ubi kayu (Mannihot esculenta crantz) memiliki beberapa kegunaan, antara lain sebagai bahan pangan, juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Berdasarkan kajian-kajian ilmiah, ubi kayu dianggap memiliki fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Saat ini banyak dipopulerkan bahan pangan yang mempunyai fungsi fisiologis tertentu di dalam tubuh, misalnya untuk antioksidan, menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, dan lain-lain. Ubi kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pangan fungsional, karena memiliki skopoletin yang merupakan salah satu komponen bioaktif yang dapat mempunyai fungsi fisiologis bagi kesehatan (Herlina, 2014).
Ubi kayu yang langsung dipasarkan setelah panen dan dikonsumsi langsung tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu nilai gizinya masih rendah dan daya tahan serta umur dari ubi kayu tersebut tidak lama.
Untuk meningkatkan nilai gizi ubi kayu, dilakukan pengolahan dan modifikasi pada ubi kayu. Proses modifikasi ubi kayu dibagi menjadi dua tipe pengolahan yaitu modifikasi yang masih tradisional dan modifikasi ubi kayu yang sifatnya sudah modern (Franco et al., 2012).
Proses yang digunakan dalam modifikasi ubi kayu secara tradisional tidak rumit dan sederhana. Modifikasi tradisional dapat di lakukan pada skala industri kecil bahkan rumahan karena peralatan yang digunakan masih sederhana dan simpel. Umumnya metode yang dipakai adalah proses pengeringan menggunakan sinar matahari, pencucian, pengupasan yang dilakukan manual dan fermentasi sederhana.
(Odebode, 2008).
Hasil produk modifikasi ubi kayu yang masih bersifat tradisional beserta kajian penelitian terdahulu diantaranya adalah gaplek, tiwul, sago wafers, kibabu, fufu, gari, lafun, manicuera, tepung ubi kayu, onggok, tepung ubi kayu terfermentasi, dan tapioka. (Muchlis et al., 2013).
Modifikasi ubi kayu secara modern memakai teknologi tinggi dan mencakup modifikasi ubi kayu secara fisik, kimia atau mikro biologi.
Proses modifikasi modern diterapkan pada industri skala besar. Efisiensi jumlah produk yang dihasilkan juga tinggi tidak seperti proses pengolahan tradisional. Beberapa penelitian terdahulu produk modifikasi ubi kayu secara modern adalah sebagai berikut pullulan, xanthan, poliol, sorbitol, mannitol, maltitol, xylitol, glukosa, dekstrosa, fruktosa, lysine, asam sitrat, monosodium glutamat, maltodekstrin, dan maltosa. Produk olahan tersebut memiliki aplikasi penggunaan yang luas (Shuren, 2001).
Dari beberapa produk olahan ubi kayu di atas, baik modifikasi ubi kayu secara tradisional maupun modern tujuannya adalah meningkatkan nilai gizi dan nilai jual ubi kayu. Peningkatan nilai gizi khususnya protein pada proses modifikasi ubi kayu tradisional tidak signifikan dan belumlah maksimal. Hal ini terjadi karena kurang efisien dan terlalu sederhananya proses modifikasi secara tradisional tersebut. Sementara modifikasi ubi kayu secara modern mempunyai nilai efisiensi dan peningkatan gizi yang tinggi namun proses yang dipakai terlalu rumit dan kompleks. Modifikasi modern hanya cocok untuk industri skala besar. Untuk itu diperlukan metode yang dapat meningkatkan nilai gizi khususnya protein serta pengaruhnya pada sifat psikokimia pada ubi kayu yang penerapannya mudah dan mempunyai peningkatan nilai protein yang maksimal (Mark and Chavarriaga, 2005)
Berbagai macam olahan ubi kayu dapat disusun dalam suatu pohon industri ubi kayu seperti berikut
Gambar 1. Pohon Industri Ubi Kayu (Novedtri, 2010)
Umbi Batang Daun
Kulit
Ubi Kayu
Aran Kreasi Papan
Farmasi Pakan Pangan Daging
Fermentasi Pati Hasil Olahan Keripik
Pakan Ternak
Opak Opak Renginang
Lidah
Mie Yeye
3. Pemetaan
Pemetaan bisnis pada dasarnya merupakan peta yang menggambarkan keberadaan suatu bisnis, sehingga peta potensi bisnis dapat diartikan sebagai gambaran potensi dari suatu unit bisnis dalam suatu bisnis yang lebih besar (portofolio bisnis) ataupun gambaran potensi bisnis di antara bisnis yang lain, maupun gambaran peta potensi usaha dalam suatu wilayah. Selaras dengan pemahaman pemetaan bisnis, maka terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan pemetaan potensi bisnis, di antaranya adalah SWOT analisis, SOAR analisis, Metode Borda, LQ (Location Question), I-O (Input-Output) dan IS (Indeks Spesialisasi) dan lain-lain. Selain itu praktek pemetaan potensi suatu wilayah juga menuntut hasil yang dapat menunjukkan produk komoditas unggulan di daerah yang bersangkutan. Berdasarkan hasil analisis potensi daerah tersebut dapat diharapkan diketahui bisnis atau usaha yang akan dikembangkan di daerah yang bersangkutan. Pada penentuan komoditas unggulan suatu daerah biasanya dilakukan analisis per sektor, dapat ditetapkan melalui pendekatan metode deskriptif dengan mengidentifikasi potensi dan kendala dalam pengembangan masing- masing komoditas di setiap kecamatan. Data potensi, peluang, dan kendala pengembangan masing-masing komoditas diperoleh dari data sekunder dari berbagai dinas terkait selama beberapa tahun terakhir untuk selanjutnya dilakukan analisis secara kuantitatif maupun kualitatif (Irianto, 2012).
Identifikasi potensi bisnis dalam hal ini adalah agroindustri menurut Setyowati (2012) yaitu, identifikasi sebaran agroindustri dan mengidentifikasi posisi/peringkat agroindustri dibanding agroindustri lain di tingkat kecamatan. Survei menggunakan kuesioner terstruktur yang diadopsi dari Bank Indonesia (2010) dalam Harisudin et al. (2011) dengan kriteria: Jumlah unit usaha/rumah tangga pelaku agroindustri, jangkauan pemasaran produk, ketersediaan bahan baku/sarana produksi dan kontribusi agroindustri terhadap perekonomian daerah.
4. Metode Perbandingan Eksponensial
Metode Perbandingan Eksponensial merupakan salah satu metode untuk menentukan urutan prioritas alternatif keputusan dengan menggunakan kriteria jamak. Metode ini digunakan untuk membantu individu dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan rancang bangun model yang telah terdifinisi dengan baik pada tahapan proses.
Penggunaan Metode Perbandingan Eksponensial dimulai dengan menyusun alternatif-alternatif keputusan yang akan dipilih, menentukan kriteria atau perbandingan kriteria keputusan yang penting untuk dievaluasi, menentukan tingkat kepentingan dari setiap kriteria keputusan atau pertimbangan kriteria, melakukan penilaian terhadap semua alternatif pada setiap kriteria, menghitung skor atau total nilai setiap alternatif dan menentukan urutan prioritas keputusan didasarkan pada skor atau nilai total masing-masing alternatif. Formulasi dalam perhitungan skor setiap alternatif metode ini adalah sebagai berikut:
Keterangan:
TNi = total nilai alternatif ke (i)
RKij = derajat kepentingan relatif kriteria ke-j pada pilihan keputusan i TKKj = derajat kepentingan kriteria keputusan ke-j, TKK > 0; bulat i = 1,2,3…n; n= jumlah pilihan keputusan
m = jumlah kriteria keputusan.
Metode Perbandingan Eksponensial mempunyai keuntungan dalam mengurangi bias yang mungkin terjadi dalam analisis. Penggunaan fungsi eksponensial dalam menghitung skor atau total nilai setiap alternatif mengakibatkan skor atau total nilai yang dihasilkan untuk setiap alternattif keputusan akan relatif berbeda secara nyata sehingga urutan prioritas alternatif keputusan akan lebih nyata (Marimin, 2004).
Total Nilai (TNi) = 𝑚𝑗−1(𝑅𝐾𝑖𝑗)𝑇𝐾𝐾𝑗
5. Metode Borda
Metode Borda adalah metode yang dipakai untuk menetapkan urutan peringkat. Metode Borda digunakan untuk menetapkan urutan peringkat menurut preferensi pengambil keputusan. Dengan menggunakan metode ini dimungkinkan adanya pembedaan pada posisi ke berapa tingkat kesukaan terhadap suatu alternatif sehingga dalam penetapan urutan peringkat akan lebih teliti. Kandidat dengan posisi peringkat atas diberi nilai lebih tinggi dengan kandidat pada posisi berikutnya dalam suatu perbandingan berpasangan (Marimin, 2004). Sedangkan kandidat yang memiliki posisi berikutnya diberikan nilai yang lebih rendah daripada nilai kandidat posisi teraras. Pada kasus pemungutan suara, Metode Borda digunakan dengan mengalikan total suara suatu kandidat dengan pengalinya yaitu skor nilai yang diberikan berdasarkan posisi ke berapa kandidat tersebut. Formulasi perhitungan nilai Borda setiap kandidat tersebut adalah sebagai berikut:
Penentuan peringkat dengan menggunakan metode Borda dapat dilakukan dengan mudah melalui pengalian nilai suatu kandidat dengan nilai rangking sesuai dengan posisi kandidat tersebut.
6. Pengembangan Agroindustri
Pengembangan agroindustri adalah pembangunan agroindusttri yang mendasarkan diri pada konsep ”berkelanjutan”, dimana agroindustri yang dimaksudkan adalah dibangun dan dikembangkan dengan memperhatikan aspek-aspek manajemen konservasi sumber daya alam.
Semua teknologi yang digunakan serta kelembagaan yang terlihat dalam proses pembangunan tersebut diarahkan memenuhi kepentingan manusia masa sekarang maupun masa mendatang. Jadi teknologi yang digunakan sesuai daya dukung sumber daya alam, tidak ada degradasi alam, tidak ada
Nilai Borda A = Nilai kadidat A * Nilai ranking kandidat A
degradasi lingkungan, secara ekonomi menguntungkan dan secara sosial diterima oleh masyarakat (Soekartawi, 2000).
Strategi pengembangan agroindustri yang dapat ditempuh harus disesuaikan dengan karakteristik dan permasalahan agroindustri yang bersangkutan. Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri adalah sifat produk pertanian yang mudah rusak dan bulky sehingga diperlukan teknologi pengemasan dan transportasi yang mampu mengatasi masalah tersebut, sebagian besar produk pertanianbersifat musiman dan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim sehingga aspek kontinuitas produksi agroindustri menjadi tidak terjamin, kualitas produk pertanian dan agroindustri yang dihasilkan pada umumnya masih rendah sehingga mengalami kesulitan dalam persaingan pasar baik didalam negeri maupun di pasar internasional dan sebagian besar industri berskala kecil dengan teknologi yang rendah. (Gusti, 2011) 7. Strategi
Strategi adalah bakal tindakan yang menuntut keputusan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan yang banyak untuk merealisasikannya. Disamping itu, strategi juga mempengaruhi kehidupan organisasi dalam jangka panjang, paling tidak selama lima tahun. Oleh karena itu, sifat strategi adalah berorientasi ke masa depan. Strategi mempunyai fungsi multifungsional atau multidimensional dan dalam perumusannya perlu mempertimbangkan faktor-faktor internal maupun eksternal yang dihadapi perusahaan (David, 2011)
Tujuan pengembangan strategi dan taktik adalah agar perusahaan mampu bersaing dalam setiap keadaan, terutama pada saat kondisi ekonomi dan politik yang kurang menguntungkan. Untuk itu perusahaan harus memiliki strategi bersaing. Menurut Porter (1993) “Strategy is about competitive position, about differentiating yourself in the eyes of the customer, about adding value through a mix of activities different from those used by competitors”. Tujuan akhir strategi bersaing adalah untuk menanggulangi kekuatan lingkungan demi kepentingan perusahaan.
Aturan atau lingkungan persaingan yang ada pada industri terdiri atas 5 kekuatan bersaing, yaitu masuknya pesaing baru, ancaman dari produk pengganti (substitusi), kekuatan penawaran (tawar-menawar) pembeli, kekuatan pertawaran pemasok, dan persaingan di antara pesaing- pesaing yang ada.
Gambar 2. Lima Kekuatan Strategis SCA Sumber: Aaker, 1998
Aaker (1998) menyatakan bahwa di dalam suatu strategi setidaknya terdapat empat faktor yang menjadi syarat terciptanya keunggulan bersaing yang berkelanjutan (SCA), yaitu basis persaingan (basic of competition), arena bersaing (where you compete), pesaing (whom you compete against), dan cara bersaing (how to complete). Secara umum Aaker mengidentifikasi lima kekuatan strategis SCA, yaitu diferensiasi (differentiation), biaya-rendah (low-cost), fokus, kepeloporan (preemption), dan sinergi (synergy). gambar 2 memperlihatkan kelima faktor pembentukan kekuatan strategis tersebut, yaitu diferensiasi berarti adanya keunikan atas produk yang dihasilkan perusahaan, yang dirasakan bernilai bagi pelanggan, biaya rendah merupakan kesanggupan perusahaan untuk mengerjakan dan berinvestasi dalam rangka mendukung terciptanya produk dengan harga rendah tapi menghasilkan keuntungan yang relatif tinggi, fokus adalah konsentrasi perusahaan pada satu segmen pasar atau bagian dari sebuah lini produk tertentu, kepeloporan adalah perusahaan mampu menciptakan “penghalang” bagi pesaing untum masuk kedalam segmen pasarnya,sinergi berarti kerjasama antar perusahaan dalam kelompok industri yang sama.
Diferensiasi
Biaya Rendah
Kekuatan
Fokus
Kepeloporan
Sinergis
8. Analisis SWOT
David (2011) mendefinisikan analisis SWOT adalah sebuah alat pencocokan yang penting guna membantu manajer dalam mengembangkan empat jenis strategi Stengths-Opportunities (SO), strategi Weaknesses-Opportunities (WO), strategi Strengths-Threats (ST) atau strategi Weaknesses-Threats (WT) yang disesuaikan dengan keadaan perusahaan. Sedangkan Rangkuti (2013) menjelaskan bahwa analisis SWOT adalah proses analisis faktor- faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi saat ini.
Analisis ini didasarkan pada logika yang berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan usaha untuk pengambilan keputusan strategi yang terbaik.
Analisis SWOT ini menganalisis adanya dua faktor lingkungan usaha, dimana lingkungan itu berupa :
a. Menurut (David, 2010) Lingkungan internal merupakan suatu kekuatan, suatu kondisi, suatu keadaan, suatu peristiwa yang saling berhubungan dimana organisasi/perusahaan mempunyai kemampuan untuk mengendalikannya. Mengidentifikasi serta mengevaluasi kekuatan dan kelemahan organisasional dalam wilayah-wilayah fungsional suatu bisnis merupakan sebuah aktivitas manajemen strategis yang esensial di antaranya aktivitas manajemen, pemasaran, keuangan, dan produksi suatu bisnis. Faktor internal yang diteliti pada penelitian ini adalah:
1) Penyedia Input
Penyedia input dalam hal ini mengenai distribusi bahan baku ubi kayu dari petani ubi kayu kepada pelaku agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri. Penyedia input ini menyangkut tentang kuantitas, kualitas dan harga bahan baku ubi kayu. Hal ini patut menjadi perhatian karena menurut Porter dalam David (2006) Produk pemasok bersifat unik atau terdiferensiasi, pemasok tidak bersaing dengan produk-produk lain dalam industri, pemasok
memiliki kemampuan untuk melakukan integrasi maju ke industri pembelinya, artinya pemasok melibatkan kepemilikan atau peningkatan kontrol atas industri.
2) Pelaku Agroindustri Olahan Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri Pelaku Agroindustri Olahan Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri Orang yang mengusahakan industri yang mengolah bahan baku berupa ubi kayu menjadi bahan pangan, seperti keripik singkong, gethuk, tape, dan lain-lain di Kabupaten Wonogiri. Pelaku Agroindustri Olahan Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri sebagai faktor internal yang nantinya akan memberikan informasi terkait manajemen, pemasaran produk, pengelolaan keuangan, dan proses produksi agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri karena menurut David (2010) mengidentifikasi serta mengevaluasi kekuatan dan kelemahan organisasional dalam wilayah-wilayah fungsional suatu bisnis merupakan sebuah aktivitas manajemen strategis yang esensial di antaranya aktivitas manajemen, pemasaran, dan produksi suatu bisnis.
3) Pemerintah
Menurut Tarigan (2002) penggunaan ruang wilayah dalam perencanaan wilayah harus ada campur tangan pemerintah melalui kebijakan pemerintah agar alokasi penggunaan ruang lebih efisien dan optimal. Penelitian ini akan membahas tentang peran pemerintah dalam pengembangan agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri. Nantinya akan diketahui peran pemerintah apakah sebagai pemberi kebijakan atau sebagai pemberi bantuan permodalan untuk mengembangkan agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri.
4) Lembaga Pemasaran
Lembaga pemasaran berfungsi menyalurkan produk dari pelaku agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri kepada konsumen seperti pedagang kecil yang berada di pasar tradisional
dan perlu untuk dianalisis karena semakin panjang saluran distribusi/pemasaran maka efisiensi pada saluran distribusi/pemasaran semakin tidak tercapai. Hal ini disebabkan biaya yang dikeluarkan makin tinggi dan keuntungan yang diambil oleh lembaga pemasaran akan makin banyak (Puspitawati dan Wardhani, 2013)
b. Menurut (David, 2010) lingkungan eksternal merupakan suatu kekuatan, suatu kondisi, suatu keadaan, suatu peristiwa yang saling berhubungan dimana organisasi/perusahaan tidak mempunyai kemampuan atau sedikit kemampuan untuk mengendalikan atau mempengaruhinya. Peluang dan ancaman eksternal menunjuk pada berbagai tren dan kejadian ekonomi, sosial, budaya, demografis, lingkungan hidup, politik, hukum, teknologi dan kompetitif yang dapat secara signifikan menguntungkan atau merugikan suatu organisasi di masa yang akan datang. Sebagian besar peluang dan ancaman berada di luar kendali suatu organisasi. Faktor eksternal yang diteliti pada penelitian ini adalah:
1) Konsumen
Konsumen dalam hal ini berarti pengguna produk yang diproduksi agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini menganalisis tentang potensi konsumen yang dapat dimanfaatkan melalui faktor internal yang dimiliki agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri sehingga konsumen menjadi tercukupi kebutuhannya karena menurut Kotler (1996) apabila konsumen terpuaskan, akan menjadi pelanggan sehingga mereka akan melakukan pembelian ulang dan mengatakan hal-hal yang baik tentang perusahaan kepada orang lain.
2) Agroindustri Olahan Ubi Kayu Pesaing
Agroindustri pesaing dalam penelitian ini mengenai agroindustri olahan ubi kayu selain dari agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri karena menurut Porter (1993)
pendatang baru dalam industri biasanya membawa kapasitas baru, sebagai usaha untuk mendapatkan keuntungan dan sumber daya penting dan agroindustri olahan ubi kayu yang sama seperti agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri tetapi berasal dari luar Kabupaten Wonogiri karena menurut Porter (1993) industri akan bersaing dengan industri produk pengganti dalam merebut pasar yang akan membatasi laba potensial industri. Produk pengganti muncul dalam bentuk berbeda, tetapi dapat memuaskan kebutuhan yang sama dari produk lain. Sehingga dalam penelitian ini dapat diketahui pengaruhnya terhadap pengembangan agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri.
3) Faktor Alam
Perusahaan juga harus mewaspadai ancaman dan peluang yang berhubungan dengan kecenderungan dalam lingkungan alam seperti kekurangan bahan baku, peningkatan biaya energi, peningkatan level polusi, dan perubahan peran pemerintah dalam perlindungan lingkungan hidup (Kotler, 2000). Faktor alam yang dimaksud dalam penelitian ini adalah faktor yang tak dapat diperkirakan seperti cuaca karena pada proses produksi membutuhkan cuaca yang panas. Sehingga apabila cuaca kurang mendukung akan mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan produksi olahan ubi kayu.\
4) Teknologi
Semakin berkembangnya zaman, maka semakin maju pula perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi dapat memberikan dampak positif bagi pelaku industri. Teknologi informasi yang mengarah ke sistem online akan membantu pelaku industri untuk menjangkau konsumen secara luas. Sedangkan teknologi produksi yang modern membantu pelaku industri untuk membuat produksi menjadi lebih efektif dan efisien.
Langkah-langkah penyusunan matriks SWOT menurut David (2010) :
a. Menentukan faktor-faktor peluang eksternal perusahaan b. Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal perusahaan c. Menentukan faktor-faktor kekuatan internal perusahaan d. Menentukan faktor-faktor kelemahan internal perusahaan
e. Menyesuaikan kekuatan internal perusahaan dengan peluang eksternal perusahaan untuk menghasilkan strategi SO yang tepat
f. Menyesuaikan kekuatan internal perusahaan dengan ancaman eksternal perusahaan untuk menghasilkan strategi ST yang tepat
C. Kerangka Pemikiran
Agroindustri merupakan sektor yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia mengingat agroindustri menggunakan bahan baku hasil pertanian untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
Berbagai agroindustri pengolahan ubi kayu di wilayah Kabupaten Wonogiri penting untuk diketahui melalui identifikasi agroindustri pengolahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri. Identifikasi potensi agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri dilakukan dengan menggunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) untuk mengidentifikasi sebaran dan potensi masing- masing agroindustri pengolahan ubi kayu di tingkat kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Sedangkan identifikasi potensi agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri dilakukan dengan menggunakan Metode Borda dengan input data yang diperoleh dari analisis Metode Perbandingan Eksponensial.
Metode Borda merupakan metode yang digunakan untuk menetapkan urutan peringkat, sehingga dalam analisis ini akan dapat diketahui posisi atau peringkat setiap agroindustri olahan ubi kayu dalam tingkat kabupaten di Kabupaten Wonogiri berdasarkan potensi yang dimiliki. Identifikasi ini dimaksudkan untuk mengetahui urutan peringkat agroindustri olahan ubi kayu berdasarkan potensinya dan agroindustri olahan ubi kayu manakah yang memiliki peringkat pertama dalam urutan tersebut di Kabupaten Wonogiri.
Identifikasi sebaran dan potensi agroindustri pengolahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri selanjutnya dapat dijadikan data sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan strategi pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri. Perumusan strategi pengembangan diawali dengan identifikasi faktor internal berupa kekuatan (Strenghts) dan kelemahan (Weaknesses) agroindustri pengolahan ubi kayu , serta faktor eksternal berupa peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats) dari luar agroindustri olahan ubi kayu . Faktor internal dan faktor eksternal yang diidentifikasi disesuaikan dengan unit analisis penelitian yaitu agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama dalam lingkup wilayah Kabupaten Wonogiri. Faktor-faktor yang termasuk dalam faktor internal antara lain input supply, agroindustry olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri, pemerintah dan lembaga pemasaran. Sedangkan faktor-faktor yang termasuk dalam faktor eksternal antara lain konsumen, agroindustri pesaing dan faktor alam.
Faktor internal dan faktor eksternal yang telah teridentifikasi, dianalisis dengan menggunakan matriks SWOT yang menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Analisis SWOT akan menghasilkan beberapa rumusan alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri.
Uraian dapat disusun dalam bagan kerangka berpikir dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
Identifikasi Potensi Agroindustri Olahan Ubi Kayu di Tingkat Kecamatan di Kabupaten Wonogiri (Pendekatan Metode Perbandingan Eksponensial)
Identifikasi Potensi Agroindustri Olahan Ubi Kayu di Tingkat Kabupaten di Kabupaten Wonogiri
(Pendekatan Metode Borda)
Urutan Peringkat Potensi Agroindustri Olahan Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri
Identifikasi Sebaran Agrondustri Olahan Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri
Agroindustri Olahan Ubi Kayu Peringkat Pertama di Kabupaten Wonogiri
Faktor Eksternal 1. Konsumen
2. Agroindustri Pesaing 3. Faktor Alam
4. Teknologi Faktor Internal
1. Penyedia Input 2. Agroindustri Olahan
Ubi kayu di Kabupaten Wonogiri
3. Pemerintah
4. Lembaga Pemasaran
Matriks SWOT
Alternatif Strategi Pengembangan Agroindustri Olahan Ubi Kayu Peringkat Pertama di Kabupaten Wonogiri
Peluang Ancaman
Kekuatan Kelemahan
Agrondustri Olahan Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri
Matriks IE
Gambar 3. Kerangka Berpikir Penelitian
D. Pembatasan Masalah
Agroindustri olahan ubi kayu yang menjadi objek penelitian ini adalah agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri yang menghasilkan produk pangan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2017.
E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. Agroindustri adalah industri yang mengolah hasil pertanian sebagai bahan baku atau produk akhir.
2. Agroindustri olahan ubi kayu adalah industri yang mengolah bahan baku berupa ubi kayu menjadi bahan pangan, seperti keripik singkong, gethuk, tape, dan lain-lain.
3. Identifikasi sebaran agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri adalah identifikasi yang dilakukan melalui survei langsung di seluruh kecamatan di Kabupaten Wonogiri untuk mengetahui keberadaan agroindustri olahan ubi kayu dan ragam produk olahan ubi kayu yang dihasilkan.
4. Identifikasi potensi agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri adalah identifikasi yang dilakukan untuk mengetahui potensi masing- masing agroindustri olahan ubi kayu di setiap kecamatan di Kabupaten Wonogiri.
5. Analisis Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) merupakan analisis yang digunakan untuk menentukan urutan prioritas alternatif keputusan dengan menggunakan beberapa kriteria. Melalui hasil analisis MPE dapat diketahui potensi masing-masing industri pengolahan ubi kayu di setiap kecamatan di Kabupaten Wonogiri.
6. Analisis Borda adalah analisis yang digunakan untuk menetapkan urutan peringkat. Melalui hasil analisis Borda dapat diketahui urutan peringkat potensi agroindustri olahan ubi kayu pada tingkat kabupaten di Kabupaten Wonogiri, dan agroindustri olahan ubi kayu manakah yang menempati peringkat pertama dalam urutan tersebut.
7. Faktor internal agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama merupakan faktor yang berasal dari dalam yang berkaitan dengan
agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri meliputi penyedia input, agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri, pemerintah, dan lembaga pemasaran.
8. Kekuatan adalah faktor internal agroindustri pengolahan ubi kayu peringkat pertama yang menjadi keunggulan bagi pelaksanaan pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri.
9. Kelemahan adalah faktor internal industri pengolahan ubi kayu peringkat pertama yang menjadi keterbatasan atau kekurangan bagi pelaksanaan pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri.
10. Faktor eksternal agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri merupakan faktor yang berasal dari luar yang berkaitan dengan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri, meliputi konsumen, agroindustri pesaing, faktor alam dan teknologi.
11. Peluang adalah faktor eksternal agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama yang bersifat menguntungkan bagi pelaksanaan pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri.
12. Ancaman adalah faktor eksternal agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama yang bersifat mengganggu pelaksanaan pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri.
13. Pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri adalah upaya perubahan secara positif pada agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri.
14. Strategi pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri merupakan cara mengendalikan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama dengan melihat faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan dalam menghadapi faktor eksternal berupa peluang dan ancaman yang dapat mempengaruhi pengembangan usaha agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri.
Serta melakukan perumusan alternatif strategi menggunakan matriks SWOT.
15. Matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) adalah matriks yang digunakan untuk menyusun alternatif strategi pengembangan agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri dengan mencocokkan faktor-faktor internal dan eksternal yang ada sehingga dihasilkan strategi SO (kekuatan-peluang), strategi WO (kelemahan-peluang), strategi ST (kekuatan-ancaman), dan strategi WT (kelemahan-ancaman).
16. Analisis SWOT adalah analisis situasi yang mencakup kondisi internal dan eksternal agroindustri olahan ubi kayu peringkat pertama di Kabupaten Wonogiri yang meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki agroindustri olahan ubi kayu serta peluang dan ancaman yang mempengaruhi pengembangan agroindustri olahan ubi kayu di Kabupaten Wonogiri.