BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian di SDN 1 Kabila Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango, peneliti melakukan observasi awal guna mengetahui lebih jelas tentang keadaan umum lokasi penelitian.Kegiatan observasi awal lebih difokuskan untuk berbagai hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan penelitian. Berdasarkan pengamatan peneliti sejak pelaksanaan PPL II selama 3 bulan hingga penelitian ini, diperoleh hasil sebagai berikut :
4.1.1.1 Sejarah Berdirinya SDN 1 Kabila
SDN 1 Kabila merupakan salah satu sekolah yang ada di wilayah Kecamatan Kabila, yang dipimpin oleh ibu Ulfa Miolo. SDN 1 Kabila terletak di Jalan Sawah Besar, Kelurahan Oluhuta, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Sekolah ini didirikan pada tahun 1976 dengan nama SDN Oluhuta. Seiring dengan berkembangnya zaman, bertambahnya jumlah penduduk dan pemekaran hampir disetiap daerah yang ada kabupaten Bone Bolango, sekolah ini mengalami perubahan nama pada tahun 2011 dan nama sekolah pun berubah menjadi SDN 1 Kabila. SDN 1 Kabila merupakan sekolah inklusi yakni terdapat beberapa siswa yang termasuk kategori anak berkebutuhan khusus sehingga perlu adanya perhatian lebih untuk siswa berkebutuhan khusus dalam proses belajar mengajar.
4.1.1.2Visi, Misi dan Tujuan Sekolah SDN 1 Kabila 1. Visi Sekolah
Menghasilkan siswa yang berkualitas, terampil, berwawasan lingkungan serta berakhlak mulia.
2. Misi Sekolah
1. Meningkatkan propesional tenaga pendidikan sekolah 2. Melengkapi sarana dan prasarana
3. Menjalin kerja sama erat dengan masyarakat sekolah 4. Mengaktifkan kegiatan ekstrakurikuler.
3. Tujuan Sekolah
1. Menyiapkan siswa lulusan yang berkualitas sehingga mampu melanjitkan ke pendidikan yang lebih tinggi
2. Membimbing siswa hingga mampu mandiri serta siap menciptakan lapangan pekerjaan di tengah masyarakat.
3. Membimbing serta membina siswa untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia serta berkepribadian yang luhur.
4. Membina siswa agar dapat meningkatkan prestasi belajar hinggga dapat berkompetisi di tingkat kabupaten, profinsi, maupun di tingkat Nasional
5. Membina siswa agar menjadi manusia yang memiliki iaman dan taqwa serta diterima di lingkungan Masyarakat.
4.1.1.3 Struktur Organisasi SDN 1 Kabila
Dalam melaksanakan dan menertibkan kegiatan pembelajaran di SDN 1 Kabila, maka di bentuklah personil pelaksana kegiatan yang dikenal dengan struktur organisasi. Adapun struktur organisasi tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Struktur Organisasi SDN 1 Kabila Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango Tahun Pelajaran 2012/2013
4.1.1.1 Keadaan Guru dan Siswa
Kepala Sekolah Ulfa Miolo ULFA MIOLO
Sekretaris Farida Walangadi S.Pd.I
Farida Walangadi, S.Pd.I
Wakil. Kep.Sek Rahmah Saleh S.Pd Rahmah Saleh, S.Pd Bendahara Elly Mustapa S.Pd Elly Mustapa, S.Pd G.Kelas V Rahmah Saleh, S.Pd G.Kelas VI Sony Sidiki, S.Pd G.Kelas IV Elly Mustapa, S.Pd G.Kelas III Mahmud Littie, S.Pd G.Kelas II Novita Tangahu, S.Pd G.Kelas I Laswi, A.Ma G.MP. Agama Farida Walangadi, S.Pd.I G.MP. Penjas Esta Ahmad Dama,
S.Pd G.MP. PKn/PS
Ferawaty Arsyad, A.Ma
Guru dan siswa merupakan unsur penting dalam pendidikan. Kedua unsur tersebut sangat menentukan keberhasilan dari keseluruhan proses pembelajaran. Adapun keadaan guru dan siswa di SDN 1 Kabila diuraikan dalam tabel berikut:
Tabel 2
Keadaan Guru SDN 1 Kabila Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango Tahun Pelajaran 2012/2013 No Nama/NIP KS/GK /GMP Kelas Pendidikan Terakhir Keterangan 1 Ulfa Miolo 19590916 198111 2 002 KS - SPG 1977 PNS 2 Elly Mustapa,S.Pd.Ind 19660526 199203 2 010 GK IV S1 2012 PNS 3 Rahmah Saleh,S.Pd 19750313 199808 2 001 GK VI A S1 2006 PNS 4 Mahmud Littie,S.Pd 19690314 199203 1 012 GK III S1 2009 PNS 5 Novita Tangahu,S.Pd 19851014200901 2 001 GK II S1 2007 PNS 6 Sony Sidiki,S.Pd. 19701010 200008 2 001 GK VI B S1 PNS
7 Esta Ahmad Dama 19700208 199403 2 008
GMP I - VI S1 2013 PNS
8 Farida Walangadi,S.Pd.I 19720715 200003 2 003
GMP I - VI S1 2004 PNS
9 Ferawati Arsyad.A.Ma GK V D2 2009 Honor
10 Laswi,A.Ma GK I D2 2010 Honor
Tabel 3
Keadaan Siswa SDN 1 Kabila Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango Tahun Pelajaran 2012/2013
Kelas Jumlah Jumlah Total Inklusi Keterangan Laki-laki Perempuan I 18 15 33 5 II 18 5 23 3 III 15 11 26 3 IV 10 22 32 - V 11 11 22 4 VI 24 19 43 12 Jumlah Total 179 27
4.1.1.5 Keadaan Sarana dan Prasarana
Keberadaan sarana prasarana pendidikan menjadi salah satu faktor pendukung dalam mencapai tujuan pelaksanaan pendidikan karena dapat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Tanpa adanya sarana prasarana pendidikan, proses belajar mengajar akan mengalami hambatan dan bahkan tidak akan terlaksana. Dengan kata lain, sarana prasarana adalah unsur penting dalam komponen pendidikan untuk mencapai keberhasilan proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
1. Keadaan Bangunan SDN 1 Kabila
SDN 1 Kabila berbentuk huruf U dan menghadap ke arah utara. Sekolah ini memiliki 13 ruangan, yang terdiri dari 7 ruangan belajar (ruang kelas 1-6), 1 ruangan PSB, 1 ruangan perpustakaan , 1 ruangan kepala sekolah, 1 ruangan dewan guru/tata usaha, 1 ruangan UKS/musholah, 1 ruangan inklusi dan 2 kamar mandi/WC, dan kantin sekolah.
SDN 1 Kabila memiliki halaman yang digunakan untuk melaksanakan upacara bendera, apel pagi dan olahraga.Halaman sekolah juga biasanya
digunakan untuk senam sebelum apel pagi setiap hari sabtu. Sekolah ini mempunyai pagar permanen dari depan sekolah sampai belakang. Pagar pintu masuk bagian depan dibuat dari beton.
2. Fasilitas Belajar
Di SDN 1 Kabila terdapat fasilitas belajar yang menunjang proses belajar-mengajar. Selain buku-buku pelajaran yaitu buku pegangan guru, buku pegangan siswa dan buku penunjang, ada juga perlengkapan lain yang terdapat di SDN 1 Kabila diantaranya : KIT IPA, peralatan SEQIP, Torso, peta, pias kata, alat musik dan media-media pembelajaran yang ada di setiap kelas.
4.1.2 Deskripsi Hasil Temuan Penelitian
Untuk mengetahui kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal di SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango, dalam penelitian ini peneliti melakukan pengumpulan data sesuai dengan metode yang digunakan yakni wawancara, tes dan dokumentasi. Untuk mengetahui kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal peneliti menggunakan tes hasil belajar siswa yang diperoleh dari guru kelas. Temuan umum diuraikan berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi sedangkan temuan khusus berdasarkan tes hasil belajar siswa.
4.1.2.1 Temuan Umum
Adapun secara umum peneliti menemukan melalui dokumentasi dan hasil wawancara guru dan siswa bahwa kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal berbeda-beda karena ada perbedaan persepsi guru
menjelaskan materi dan pengalaman belajar siswa. Berikut uraian hasil wawancara guru dan siswa SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango.
1. Hasil wawancara guru kelas IV, V dan VI SDN 1 Kabila
Wawancara yang dilakukan pada guru kelas IV, V dan VI dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 15 Mei 2013, Kamis 16 Mei 2013 dan Rabu 22 Mei 2013 bertempat di masing-masing kelas.
Pertanyaan pertama yang diajukan peneliti kepada guru adalah bagaimana guru menjelaskan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal ?
“Menurut ibu EM yang merupakan guru kelas IV, bahwa dalam mengajarkan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal yaitu guru terlebih dahulu menjelaskan tentang pecahan biasa. Kemudian dari pemahaman siswa tentang pecahan biasa, guru menjelaskan kembali bahwa hasil bagi dari pecahan biasa yaitu pembilang dibagi penyebut pada pecahan biasa merupakan desimal atau pecahan desimal.”
“Jawaban yang hampir sama peneliti peroleh dari ibu yang merupakan guru kelas V, bahwa dalam mengajarkan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal sama halnya dengan ibu EM yaitu guru memberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai pecahan biasa. Namun menurut ibu FA penjelasan dilanjutkan dengan menyamakan penyebut kedua pecahan dengan bentuk yang dianggap mudah, yaitu disamakan menjadi bentuk pecahan persepuluhan, perseratusan dan perseribuan. Menurut beliau dengan cara seperti itu siswa akan lebih mudah memahami cara mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.”
“Jawaban selanjutnya yang peneliti peroleh berbeda dengan ibu EM namun hampir sama dengan jawaban ibu FA. Jawaban ini diberikan oleh ibu SS yang merupakan guru kelas VI. Dalam mengajarkan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, guru langsung saja menjelaskan bahwa untuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, pecahan biasa diubah penyebutnya menjadi penyebut kelipatan sepuluh, seratus, dan seribu dan seterusnya. Dengan begitu siswa akan lebih mudah memahami materi tersebut.
Dari ketiga jawaban yang telah diperoleh, nampak jelas bahwa dalam mengajarkan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal guru terlebih dahulu menjelaskan mengenai pecahan biasa. Kemudian dilanjutkan dengan pemahaman bahwa hasil bagi pembilang dan penyebut pada pecahan biasa merupakan pecahan desimal. Sehingga untuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal yaitu dengan cara membagi pembilang dengan penyebut atau mengubah penyebut pada pecahan biasa menjadi pecahan berpenyebut kelipatan sepuluh atau persepuluhan, perseratusan, dan perseribuan.
Pertanyaan kedua yang diajukan peneliti, bagaimana sikap guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa terhadap materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal ?
“Menurut ibu EM dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa pada materi ini, guru menjelaskan materi secara berulang-ulang. Selain itu, guru juga memberikan contoh-contoh yang mudah dipahami oleh siswa sebagai latihan dan dilanjutkan dengan pemberian latihan-latihan soal mandiri dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.”
“Menurut ibu FA dalam mengatasi kesulitan beliau menjelaskan kembali materi secara berulang-ulang kali meskipun telah dijelaskan sebelumnya, dilanjutkan dengan memberikan contoh-contoh yang mudah dipahami oleh siswa sebagai latihan dan dilanjutkan dengan pemberian latihan-latihan soal mandiri dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.”
“Berbeda dengan jawaban guru kelas IV dan kelas V, ibu SS mengatakan bahwa dalam mengatasi masalah yang dihadapi siswa pada materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, beliau mengelompokkan siswa yang belum paham dengan siswa yang sudah memahami materi tersebut dengan bimbingan guru. Dengan begitu selain berinteraksi dengan guru, siswa yang belum mampu dapat juga bertanya kepada teman yang sudah paham karena tidak semua siswa memiliki
keberanian untuk bertanya sekalipun menghadapi kesulitan dalam materi pelajaran.”
Pertanyaan ketiga, berapa lama waktu yang diperlukan guru dalam memberikan pemahaman pada siswa tentang materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal ?
“Menurut ibu EM guru kelas IV, diperlukan waktu 2 kali pertemuan atau 4 x 35 menit sama dengan empat jam pelajaran untuk memberikan pemahaman pada materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal karena tingkat pemahaman siswa terhadap materi ini masih sangat kurang. Dan apabila dalam waktu yang telah ditentukan masih sebagian besar siswa yang belum mengerti, guru akan mengambil tindak lanjut dengan memberikan pengajaran remedial diluar jam pelajaran sekolah.” “Menurut ibu FA guru kelas V, diperlukan waktu 1 kali pertemuan atau 2 x 35 menit sama dengan dua jam pelajaran. Namun pada pertemuan selanjutnya guru masih mengingatkan kembali materi yang telah diajarkan sebelumnya dan apabila masih ada yang belum mengerti atau lupa guru mengambil sedikit waktu makimal satu jam pelajaran untuk mengulang kembali materi. Dan akan diberikan remedial diluar jam pelajaran sekolah apabila sebagian besar siswa masih tetap belum mengerti.”
“Sedangkan menurut ibu SS diperlukan waktu 2 kali pertemuan atau 4 x 35 menit sama dengan 2 jam pelajaran untuk memberikan pemahaman pada siswa. Hal ini disebabkan materi ini sudah berulang bagi siswa kelas VI karena materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal sudah pernah dipelajari saat mereka masih duduk di kelas IV.”
Pertanyaan keempat yang ajukan kepada guru yang juga merupakan pertanyaan terakhir, bagaimana pendapat ibu mengenai kemampuan mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal pada siswa di kelas ? Pertanyaan ini guna mengetahui kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menurut guru kelas masing-masing.
“Menurut ibu EM guru kelas IV, kemampuan mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal pada siswa di kelas IV berbeda-beda. Dari 32
siswa kelas IV, kurang lebih setengah dari yang sudah mampu mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, selebihnya masih kurang mampu tetapi bisa menyelesaikan kendalanya hanya lambat dalam mengerjakan soal.”
“Menurut ibu FA guru kelas V, sudah sebagian besar siswa yang mampu mengerjakan soal latihan diberikan. Siswa yang belum hanya sebagian kecil yang tergolong anak berkebutuhan khusus karena kemampuan mereka yang lambat dalam menerima materi pelajaran”
“Menurut ibu SS guru kelas VI, masih ada satu atau dua orang yang belum paham dengan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal yaitu siswa yang lambat belajar. Di kelas VI terdapat beberapa siswa yang masih tergolong anak berkebutuhan khusus. sehingga menjadi kendala beliau dalam menentukan bahwa seluruh siswa kelas VI sudah mampu dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
Dari jawaban informan yang telah diuraikan oleh guru kelas tinggi yaitu kelas IV, V dan VI mengenai kemampuan mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas IV, V dan VI mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal berbeda-beda.
2. Hasil Wawancara Siswa Kelas IV, V dan VI SDN 1 Kabila
Selain guru sebagai informan dalam penelitian, peneliti juga melakukan wawancara pada siswa selaku subjek penelitian. Wawancara dilakukan pada hari rabu, 15 Mei 2013, kamis 16 Mei 2013, rabu 22 Mei dan kamis 23 Mei 2013.
Pertanyaan pertama, kesulitan apa yang kalian hadapi saat menerima materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal ?
“Jawaban siswa kelas IV, mereka menghadapi kesulitan dalam materi ini. Kesulitan yang dihadapi adalah membagi, karena pembilang pada pecahan biasa dibagi dengan penyebutnya untuk mengubah pecahan biasa tersebut menjadi pecahan desimal.”
“Lain halnya dengan jawaban siswa kelas V, menurut sebagian besar siswa kelas V, mereka tidak menghadapi kesulitan pada materi ini namun masih ada beberapa juga yang menghadapi kesulitan yaitu pada proses perkalian. Karena di kelas V, mereka diajarkan mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal melalui perkalian bilangan menjadi kelipatan sepuluh.” “Sedangkan jawaban siswa-siswa kelas VI, mereka tidak mengalami kesulitan pada materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal karena menurut mereka bahwa materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal sangat mudah. Hal ini karena mereka telah menemui materi mengubah pecahan dari kelas IV dan V sehingga saat di kelas VI mereka sudah tahu meskipun masih kurang paham.”
Beragamnya jawaban yang diberikan oleh siswa-siswa kelas IV, V dan VI disebabkan oleh perbedaan persepsi guru dalam menjelaskan materi dan pengalaman belajar siswa. Siswa kelas IV mengalami kesulitan membagi karena guru mengajarkan bahwa untuk mendapatkan pecahan desimal hanya dengan cara membagi dan materi ini masih baru bagi siswa kelas IV. Sedangkan pada siswa kelas V mengalami kesulitan pada perkalian karena guru menjelaskan bahwa untuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, pecahan biasa harus diubah penyebutnya menjadi kelipatan sepuluh dengan cara mengalikan penyebut dan pembilang pecahan dengan bilangan yang sama yang dapat menghasilkan bilangan kelipatan sepuluh. Setelah pecahan biasa menjadi pecahan yang berpenyebut sepuluh, seratus atau seribu, maka pecahan tersebut dapat dengan mudah diubah menjadi pecahan desimal. Sehingga operasi perkalian yang sangat menonjol pada siswa kelas V. Dan bagi siswa kelas VI materi ini mudah karena sudah pernah dipelajari saat mereka masih kelas IV dan V.
Selain sikap guru dalam mengatasi kesulitan siswa menjadi salah satu pertanyaan wawancara pada guru, peneliti juga menanyakan sikap siswa melalui
pertanyaan kedua pada siswa, apabila kalian belum mengerti materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, apa yang kalian lakukan ?
“Menurut siswa kelas IV, V dan VI jika mereka belum mengerti materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, mereka bertanya kepada guru dan teman yang sudah lebih dulu mengerti melalui diskusi kecil antar siswa sebangku hingga sekelas tentang cara pengerjaan dari materi yang sedang diajarkan.
Pertanyaan ketiga pada siswa, apakah setelah pembelajaran selesai kalian dapat mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal ?
“Menurut siswa kelas IV, V dan VI, mereka sudah bisa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Namun masih ada juga beberapa siswa yang mengatakan bahwa mereka masih belum bisa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal karena materinya sulit. Seperti yang dikatakan salah seorang siswa kelas IV yang bernama Rini Yuliana Bachsal, “saya tidak bisa karena soalnya susah.”
Berdasarkan jawaban yang diberikan salah seorang siswa mengenai materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal bahwa materi ini bukanlah materi yang mudah untuk dipahami karena menggunakan beberapa keterampilan berhitung yaitu keterampilan menghitung perkalian dan pembagian. Jadi apabila siswa tidak menghafal perkalian dan tidak mengerti pembagian maka itu menjadi salah satu kesulitan dalam menyelesaikan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
Selain bertanya kepada guru mengenai kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, peneliti juga bertanya kepada siswa kelas IV, V dan VI sebagai pertanyaan terakhir yaitu bagaimana pendapatmu mengenai kemampuanmu mengerjakan soal tentang mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal setelah mendengarkan penjelasan guru ?
“Menurut beberapa siswa kelas IV, mereka sudah mampu mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Namun ada beberapa lagi yang mengatakan bahwa mereka belum mampu karena kesulitan dalam membagi dan menurutnya materinya sulit.”
“Menurut salah seorang siswa kelas V yang bernama NIl, saya tidak mengerti karena soalnya susah dimengerti. Lain halnya dengan jawaban YR, saya bisa karena telah mndengarkan penjelasan guru.”
“Menurut seluruh siswa kelas VI, mereka dapat mengerjakan soal yang diberikan karena menurut mereka materinya tidak sulit apalagi sudah memperhatikan penjelasan guru sebelumnya.”
Selain wawancara peneliti juga menggunakan dokumen berupa RPP dan silabus yang digunakan guru pada materi pecahan. Berdasarkan RPP yang ada, indikator RPP kelas IV yaitu mengenal arti pecahan dan menghitung pecahan sebagai operasi pembagian. Indikator RPP di kelas V yaitu mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal dan sebaliknya. Dan indikator kelas VI yaitu mengubah suatu pecahan menjadi pecahan lain yang sesuai.
Berdasarkan dokumen yang ada, diperoleh informasi bahwa kelas IV belum menerima materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Sesuai dengan indikator dalam silabus dan RPP, materi pecahan yang diajarkan di kelas IV yaitu mengenal arti pecahan dan menghitung pecahan sebagai operasi pembagian.
Dalam wawancara bersama guru kelas IV, ibu EM menjawab sudah ada materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal karena dalam menjelaskan arti pecahan khususnya pecahan desimal guru menjelaskan terlebih dahulu mengenai pecahan biasa kemudian melalui operasi pembagian pada pecahan biasa yakni pembilang dibagi penyebut diperoleh pecahan desimal.
Sehingga menurut guru kelas IV hal tersebut termasuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
4.1.2.2 Temuan Khusus
Berdasarkan temuan umum dari hasil wawancara, peneliti memperoleh secara khusus kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal melalui tes hasil belajar siswa. Kemampuan siswa dikategorikan menjadi tiga, yaitu mampu, kurang mampu dan tidak mampu. Kategori siswa dilihat dari perolehan skor pada hasil belajar. Apabila mendapat skor sempurna termasuk dalam kategori mampu, mendapat skor tetapi tidak sempurna disebut kurang mampu sedangkan tidak mendapat skor atau nol disebut tidak mampu.
Dari hasil analisis tersebut, selanjutnya peneliti akan mendesripsikan kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal di SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango, sebagai berikut:
1. Kemampuan siswa kelas IV SDN 1 Kabila Kabupaten Bone Bolango Berdasarkan tes hasil belajar yang diperoleh, terdapat 20 lembar hasil belajar siswa kelas IV dari 32 jumlah siswa yang peneliti peroleh dari guru kelas tentang materi pecahan dengan indikator arti pecahan dan menghitung pecahan sebagai operasi pembagian sehingga hasil yang dapat peneliti uraikan yaitu hasil belajar dari 20 siswa yang ada.
Pada soal no 1, terdapat 20 siswa atau 62% yang memperoleh skor dari 32 jumlah siswa, yang terdiri dari 20 siswa mampu menjawab dengan benar. Sehingga dapat dikatakan bahwa 19 siswa mampu dan 1 siswa kurang mampu mengerjakan soal no 1.
Pada soal no 2, terdapat 11 siswa atau 34% yang memperoleh skor dari 32 jumlah siswa, terdiri dari 11 siswa mampu menjawab dengan benar. Sehingga dapat dikatakan bahwa 11 siswa mampu dan 9 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 2.
Pada soal no 3, terdapat 17 siswa atau 53% yang memperoleh skor dari 32 jumlah siswa, yang terdiri dari 17 siswa mampu menjawab dengan benar. Sehingga dapat dikatakan bahwa 17 siswa mampu dan 3 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 3.
Pada soal no 4, terdapat 17 siswa atau 53% yang memperoleh skor dari 32 jumlah siswa, yang terdiri dari 17 siswa mampu menjawab dengan benar. Sehingga dapat dikatakan bahwa 17 siswa mampu dan 3 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 4.
Berdasarkan tes hasil belajar tersebut, diketahui bahwa 20 siswa dari 32 jumlah siswa kelas IV terdapat 17 siswa yang memperoleh nilai tuntas dengan kategori mampu dan 3 siswa memperoleh nilai tidak tuntas dengan kategori kurang mampu dan tidak mampu mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal atau membagi pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
2. Kemampuan siswa kelas V SDN 1 Kabila Kabupaten Bone Bolango
Berdasarkan tes hasil belajar yang diperoleh, terdapat 19 siswa kelas V yang hadir saat guru memberikan tes tentang materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal sehingga hanya 19 siswa dari 22 jumlah siswa yang dapat peneliti uraikan.
Pada soal no 1, terdapat 10 siswa atau 45,45% yang memperoleh skor dari 22 jumlah siswa, yang terdiri dari 9 siswa mampu, 1 siswa kurang mampu dan 9 siswa tidak mampu. Sehingga dapat dikatakan bahwa 9 siswa mampu, 1 siswa kurang mampu dan 9 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 1.
Pada soal no 2, terdapat 11 siswa atau 50% yang memperoleh skor dari 22 jumlah siswa, terdiri dari 9 siswa mampu, 2 siswa kurang mampu dan 8 siswa tidak mampu. Sehingga dapat dikatakan bahwa 9 siswa mampu, 2 siswa kurang mampu dan 8 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 2.
Pada soal no 3, terdapat 14 siswa atau 63,63% yang memperoleh skor dari 22 jumlah siswa, yang terdiri dari 14 siswa kurang mampu karena belum dapat menentukan hasil dengan benar dan 5 siswa tidak mampu. Sehingga dapat dikatakan bahwa 14 siswa kurang mampu dan 5 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 3.
Pada soal no 4, terdapat 13 siswa atau 59,09% yang memperoleh skor dari 22 jumlah siswa, yang terdiri dari 11 siswa mampu, 2 siswa kurang mampu dan 6 siswa tidak mampu. Sehingga dapat dikatakan bahwa 11 siswa mampu, 2 siswa kurang mamapu dan 6 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 4.
Pada soal no 5, terdapat 11 siswa atau 50% yang memperoleh skor dari 22 jumlah siswa, yang terdiri dari 10 siswa mampu, 1 siswa kurang mampu dan 8 siswa tidak mampu. Sehingga dapat dikatakan bahwa 10 siswa mampu, 1 kurang mampu dan 8 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 5.
Berdasarkan tes hasil belajar tersebut, dapat diketahui bahwa 19 siswa dari 22 jumlah siswa kelas V terdapat 10 siswa yang memperoleh nilai tuntas dengan
kategori mampu dan 9 siswa memperoleh nilai tidak tuntas dengan kategori kurang mampu dan tidak mampu dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
3. Kemampuan siswa kelas VI SDN 1 Kabila Kabupaten Bone Bolango Terdapat 23 lembar hasil belajar siswa kelas VI tentang materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal dari 25 jumlah siswa yang ada. Sehingga hasil yang dapat peneliti uraikan yaitu hasil belajar dari 23 siswa yang ada.
Pada soal no 1, terdapat 23 siswa atau 92% yang memperoleh skor, yang terdiri dari 23 siswa mampu menjawab dengan benar. Sehingga dapat dikatakan bahwa 23 siswa mampu mengerjakan soal no 1.
Pada soal no 2, terdapat 23 siswa atau 92% yang memperoleh skor, yang terdiri dari 23 siswa mampu menjawab dengan benar. Sehingga dapat dikatakan bahwa 23 siswa mampu mengerjakan soal no 2.
Pada soal no 3, terdapat 23 siswa atau 92% yang memperoleh skor, yang terdiri dari 12 siswa mampu dan 11 kurang mampu. Sehingga dapat dikatakan bahwa 12 siswa mampu dan 11 siswa kurang mampu mengerjakan soal no 3.
Pada soal no 4, terdapat 23 siswa atau 54,54% yang memperoleh skor, yang terdiri dari 22 siswa mampu dan 1 siswa kurang mampu. Sehingga dapat dikatakan bahwa 22 siswa mampu da 1 siswa tidak mampu mengerjakan soal no 4.
Pada soal no 5, terdapat 23 siswa atau 50% yang memperoleh skor, yang terdiri dari 11 siswa mampu dan 12 siswa kurang mampu. Sehingga dapat
dikatakan bahwa 11 siswa mampu dan 12 siswa kurang mampu mengerjakan soal no 5.
Berdasarkan tes hasil belajar tersebut, dapat diketahui bahwa 23 siswa dari 25 jumlah siswa kelas VI terdapat 23 siswa atau seluruh siswa hadir saat tes evaluasi diberikan memperoleh nilai tuntas dengan kategori mampu dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Dari beberapa pengertian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, kemampuan adalah kecakapan atau potensi seseorang untuk menguasai keahlian dalam melakukan atau mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan seseorang. Sedangkan siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Sehingga tidak dapat disangkal bahwa siswa memiliki kemampuan yang berbeda yang dapat dikelompokkan pada siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Jadi dalam penelitian ini, kemampuan siswa didefinisikan sebagai kesanggupan siswa dalam menyelesaikan soal matematika tentang materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Hal ini berarti bila seseorang terampil dengan benar menyelesaikan suatu soal matematika maka orang tersebut
memiliki
kemampuan dalam menyelesaikan soal.
Sesuai dengan hasil penelitian dalam kajian penelitian yang relevan khususnya materi pecahan diketahui bahwa materi ini cukup sulit bagi siswa dibuktikan dengan hasil kajian penelitian yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I belum mencapai standar ketuntasan sehingga perlu dilanjutkan pada siklus selanjutnya. Sehingga hal ini menjadi rujukan peneliti dalam melakukan penelitian.
Hasil temuan penelitian yang telah diperoleh mengenai deskripsi kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal di SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango adalah sebagai berikut:
Berdasarkan hasil wawancara guru kelas IV, V dan VI bahwa kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal secara klasikal berbeda-beda. Untuk setiap tingkatan kelas memiliki kesulitan masing-masing sesuai dengan cara pengerjaan yang digunakan yakni berdasarkan persepsi guru dan pengalaman belajar siswa. Sedangkan dalam setiap kelas, kesulitan terdapat dalam diri siswa masing-masing karena kesulitan dalam operasi perkalian maupun pembagian.
Hasil wawancara siswa juga menunjukkan bahwa setelah pembelajaran tentang materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, belum semua siswa mampu mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal hal ini dibuktikan melalui tes hasil belajar yang peneliti peroleh dari guru kelas.
Untuk siswa kelas IV SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango terdapat 20 lembar hasil belajar siswa kelas IV dari 32 jumlah siswa yang peneliti peroleh dari guru kelas tentang materi pecahan dengan indikator arti pecahan dan menghitung pecahan sebagai operasi pembagian sehingga hasil yang dapat peneliti uraikan yaitu hasil belajar dari 20 siswa yang ada. Sehingga diketahui bahwa 20 siswa dari 32 jumlah siswa kelas IV terdapat 17 siswa yang memperoleh nilai tuntas dengan kategori mampu dan 3 siswa memperoleh nilai tidak tuntas dengan kategori kurang mampu dan tidak mampu mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal atau membagi pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
Untuk siswa kelas V SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango terdapat 19 siswa kelas V yang hadir saat guru memberikan tes tentang materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal dengan indikator mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal dan sebaliknya. Sehingga diketahui bahwa 19 siswa dari 22 jumlah siswa kelas V terdapat 10 siswa yang memperoleh nilai tuntas dengan kategori mampu dan dan 9 siswa memperoleh nilai tidak tuntas dengan kategori kurang mampu dan tidak mampu dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
Untuk siswa kelas VI SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango terdapat 23 lembar hasil belajar siswa kelas VI tentang materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal dengan indikator mengubah suatu pecahan ke bentuk pecahan lain. Sehingga diketahui bahwa 23 siswa dari 25 jumlah siswa kelas VI terdapat 23 siswa atau seluruh siswa hadir saat tes evaluasi diberikan memperoleh
nilai tuntas dengan kategori mampu dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
Berdasarkan tes hasil belajar, siswa kelas V dan VI mengalami kesulitan dalam menyamakan penyebut menjadi pecahan berpenyebut sepuluh, seratus dan seterusnya. Siswa kelas IV sulit dalam melakukan pembagian langsung khususnya menentukan hasil baginya.
Selain wawancara dan tes hasil belajar peneliti juga melihat dokumen yang berhubungan dengan kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan silabus, peneliti memperoleh infomasi bahwa materi pecahan dengan indikator mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal belum ada di kelas IV tetapi masih pada indikator mengenal arti pecahan dan menghitung pecahan sebagai operasi pembagian. Namun dalam mengenal arti pecahan guru kelas menjelaskan bahwa pecahan desimal merupakan pembagian dari pecahan biasa sehingga dalam menentukan pecahan desimal digunakan operasi pembagian sama halnya dengan mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal.
Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa kemampuan siswa mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal di SDN 1 Kabila kabupaten Bone Bolango beda setiap kelas karena kemampuan siswa yang berbeda-beda yang dikelompokkan pada siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sehingga dikategorikan menjadi mampu, kurang mampu dan tidak mampu.