Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

95 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN HABAIB TERHADAP PERNIKAHAN ANTARA

SYARIFAH DENGAN LAKI-LAKI NON-SYARIF

(Studi Pendapat Habaib Kabupaten Semarang)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

DISUSUN OLEH

YASIN

NIM : 212-11-010

JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM

FAKULTAS SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Dalammengajakkebaikan,

bersikapkeraslahkepadadirisendiridanlemahlembutlahkepada

orang

lain‟‟.

(KH. Ahmad MusthofaBisyri)

PERSEMBAHAN

(7)
(8)
(9)

ABSTRAK

Yasin. 2017. Pemikiran Habaib Terhadap Pernikahan Antara Syarifah Dengan Laki-laki Non Syarif (Studi Pendapat Habaib Kabupaten Semarang). Skripsi. Fakultas Syariah. Jurusan Hukum Keluarga Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Sukron Ma‟mun, S.HI., M.Si.

Kata Kunci: Pernikahan, habaib, syarifah, non syarif, kafa’ah.

Perkawinan merupakan salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada makhluk Allah, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.Semua yang diciptakan Allah adalah berpasang-pasangan.Islam mengatur manusia dalam hidup berjodoh-jodoh itu dengan melalui jenjang perkawinan yang ketentuannya dirumuskan dengan wujud aturan-aturan yang disebut hukum perkawinan dalam Islam.Diantara aturannya adalah seorang laki-laki harus sekufu dengan perempuan yang akan dinikahi. Dalam hal ini banyak ulama yang berbeda pendapat. Olehkarenaitu, perluadanya penelitian tentang pernikahan antara seorang laki-laki dan perempuan yang tidak sekufu. Pemikiran para habaib di kabupaten Semarang terhadap pernikahan syarifah dengan laki-laki non syarif perlu diteliti boleh dan tidaknya karena sampai sekarang masih menjadi problem.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research). Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam analisisnya, penulis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, adalah analisis yang menggunakan tolak ukur penilaian yang mengarah pada predikat.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mendeskripsikan apakah seorang syarifah boleh menikah dengan seorang laki-laki non syarif dengan mencari jawaban melalui pendapat para habaib yang berada di Kabupaten Semarang

(10)
(11)
(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pernikahan merupakan salah satu sunnatullah yang lazim berlaku pada makhluk-Nya, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Semua yang diciptakan Allah adalah berpasang-pasangan dan berjodoh-jodohan, sebagaimana berlaku pada makhluk yang paling sempurna, yakni manusia (Saebani, 2008:12). Dalam surat Az Zariyat ayat 49 disebutkan:

ِنْيَجْوَز اَنْقَلَخ ٍءْيَش ِّلُك ْنِمَو

َنْوُرَّكَذَت ْمُكَّلَعَل

„‟Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”2.

(13)

perorangan sangat dipengaruhi oleh kesejahteraan hidup keluarganya. Islam mengatur keluarga bukan secara garis besar, tetapi sampai terperinci, yang demikian ini menunjukan perhatian yang sangat besar dalam kesejahteraan keluarga.Keluarga terbentuk melalui perkawinan, karena itu perkawinan sangat dianjurkan oleh agama Islam bagi yang telah mempunyai kemampuan. Tujuan itu dinyatakan dalam Al Qur‟an maupun As Sunnah.

Melalui perkawinan syariat Islam tidak hanya ingin merealisir masalah duniawi dan kesejahteraan material belaka, akan tetapi ingin merealisir kesejahteraan dan rohani secara bersama-sama, serta ingin menjadikan perkawinan sebagai sarana untuk peningkatan dan perbaikan akhlak, membersihkan masyarakat dari perbuatan perbuatan tercela, menciptkaan dan membentuk tatanan masyarakat yang agamis. Perkawinan dapat dipandang sebagai kemaslahatan umum, sebab tanpa adanya perkawinan manusia akan menurunkan sifat kebinatangan dalam melampiaskan hawa nafsunya yang akan menimbulkan perselisihan dan permusuhan antar sesama (Rasyid, 1972:48).

(14)

karena itu, seorang mesti menentukan pilihan pasangan hidupnya itu secara hati-hati dan dilihat dari berbagai segi (Syarifudin, 2006:48).

Ada beberapa motivasi yang mendorong seorang laki-laki memilih seorang perempuan untuk menjadi pasangan hidupnya. Pokok diantaranya adalah karena kecantikan seorang wanita atau kegagahan laki-laki atau kesuburan keduanya dalam mengharapkan keturunan, karena kekayaannya, karena kebangsawanannya, dan keberagamannya. Diantara alasan yang banyak itu, maka yang paling utama dijadikan motivasi adalah karena keberagamaannya.

Seorang laki-laki yang shalih walaupun dari keturunan rendah berhak menikah dengan perempuan yang berderajat lebih tinggi.Laki-laki yang tidak memiliki kebesaran apapun berhak menikah dengan perempuan yang memiliki derajat dan kemasyhuran yang tinggi. Begitu pula laki-laki yang fakir sekalipun, ia berhak dan boleh menikah dengan perempuan yang kaya raya, asalkan laki-laki itu muslim dan menjauhkan diri dari meminta-minta serta tidak seorangpun dari pihak walinya menghalangi atau menuntut pembatalan. Selain itu, ada kerelaan dari wali yang mengakadkan dari pihak perempuan (Ghazali, 2003:98).

(15)

acara perkawinan umpamanya rukun dan syarat tidak boleh tertinggal, dalam arti perkawinan tidak sah bila keduanya tidak ada atau tidak lengkap. Keduanya mengandung arti yang berbeda dari segi bahwa rukun itu adalah suatu yang berada di dalam hakikat dan merupakan bagian dari unsur yang mewujudkannya, sedangkan syarat adalah sesuatu yang berada di luarnya dan tidak merupakan unsurnya (Syarifudin, 2006:59)

Pernikahan pun mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, Jumhur ulama sepakat bahwa rukun perkawinan terdiri atas:

1. Adanya calon suami dan istri yang akan melakukan perkawinan. 2. Adanya wali dari pihak calon pengantin wanita.

3. Adanya dua orang saksi.

4. Sighat akad nikah, yaitu ijab dankabul.

Sedangkan untuk syarat pernikahan secara garis besar ada tiga (Ghazali, 2003:49), yaitu :

1. Calon mempelai perempuan halal dikawin oleh laki-laki yang ingin menjadikannya istri.

2. Akad nikahnya dihadiri para saksi. 3. Mahar.

(16)

juga, dan bagi yang bukan sayyid agar tidak menikahi seorang syarifah. Al-Alamah Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husin al Masyhur seorang ulama yang juga merupakan dari kalangan Alawiyyin yang terkenal dengan kitabnya Bughyah Al-Mustarsyidin mengatakan : seorang Syarifah yang dipinang selain Sayyid (selain keturunan Rasul SAW) maka aku tidak melihat bahwa pernikahan itu diperbolehkan walaupun Syarifah dan walinya yang terdekat merestui. Ini dikarenakan nasab yang mulia tidak bisa diraih dan disamakan.

Bagi setiap kerabat yang dekat atau yang jauh dari keturunan Sayyidatina Fatimah Az-Zahrah r.a. adalah lebih berhak menikahi Syarifah dari pada yang lain. Padahal di dalam al-qur‟an telah dijelaskan

bahwa semua manusia adalah sama, yang membedakan hanya ketakwaannya. Seperti yang terdapat dalam firman Allah surat al Hujurat ayat 13 yang artinya :

Hai sekalian manusia sesungguhnya kami telah menciptakanmu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantaramu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk meniliti hal tersebut dengan judul :“Pemikiran Habaib Terhadap Pernikahan Antara

Syarifah Dengan Laki-Laki Non Syarif (Studi Pendapat Habaib

(17)

B. Penegasan Istilah

Habaib merupakan jamak dari kata Habib, sebutan/gelar habib di

kalangan Arab-Indonesia dinisbatkan secara khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah az-Zahra dan ali bin Abi Thalib (Zulkifli, 2011:41)

Panggilan Habib biasa digunakan untuk mereka yang dipandang sebagai tokoh agama yang secara geneologis dari keturunan sayyidina Hasan ataupun sayyidina Husein dipanggil dengan sebutan Habib (bentuk tunggal dari Habaib) (Baharun, 2013:33).

Syarifah adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada seorang wanita

yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW.melalui cucu beliau hasan bin ali dan Husain bin Ali, yang merupakan dua anak laki-laki dari Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Syarif secara bahasa berati Yang Mulia, secara harfiah berarti tuan dan menurut istilah dalam pembahasan ini adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad SAW melalui cucu beliau hasan bin ali dan Husain bin Ali, yang merupakan dua anak Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

(18)

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah tentang penelitian ini adalah:

1. Apa faktor yang melatarbelakangi pernikahan syarifah dengan laki-laki non syarif?

2. Bagaimana kondisi psikologi dan sosiologi syarifah pelaku pernikahan tersebut?

3. Bagaimana pendapat Habaib kabupaten Semarang mengenai pernikahan syarifah dengan laki-laki non syarif?.”

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dari penelitian ini adalah:

a. Mengetahui factor yang melatarbelakangi pernikahan syarifah dengan laki-laki non syarif.

b. Mengetahui kondisi psikologi dan sosiologi syarifah pelaku pernikahan tersebut

c. Mengetahui pendapat para habaib kabupaten Semarang mengenai pernikahan antara syarifah dengan laki-laki non syarif.

2. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini:

(19)

b. Bisa menjadi bahan pengetahuan bagi penulis tentang pendapat habaibkabupaten Semarang mengenai pernikahan antara syarifah dengan laki-laki non syarif.

c. Bermanfaat bagi dunia penelitian di lingkungan IAIN Salatiga. d. Dapat menjadi bahan bacaan bagi civitas akademika IAIN Salatiga,

baik untuk kepentingan akademik maupun untuk kepentingan pengayaan pengetahuan.

E. Telaah Pustaka

Fungsi dilakukannya telaah pustaka terhadap skripsi adalah untuk membedakan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan peneliti lain sebelumnya.

Kemudian untuk memahami judul sebuah skripsi perlu pendefinisian judul secara professional, agar dapat diketahui secara jelas dan untuk menghindari kesalahfahaman serta untuk membedakan kajian ini dengan kajian sebelumnya, maka perlu penulis sebutkan beberapa skripsi tentang pernikahan syarifah dengan laki laki non syarif, antara lain:

Pertama, Tesis yang dibuat oleh Irvan Maria Hussein mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program studi Agama dan Filsafat,Konsentrasi

Studi al Qur‟an dan Hadits, yang berjudul Kafa‟ah Syarifah Dalam

Perspektif Hadits. Di sana penulisnya membahas tentang studi kritik terhadap

(20)

Kedua, Dalam skripsi STAIN Purwokerto, Mohammad Zidni melakukan penelitian yang berjudul Konsep Kafa'ah Dalam Perkawinan Menurut Mazhab Hanafi Dan Mazhab Maliki. Bahwa menurut mazhab Maliki dan mazhab Hanafi kafa‟ah adalah bukan syarat sah dalam perkawinan akan tetapi sebuah pertimbangan dalam menentukan calon pasangannya.

Permasalahan pada penelitian ini bisa ditemukan di beberapa buku yang telah disebutkan di atas, akan tetapi yang menjadi perbedaan dalam skripsi

ini dengan penelitian sebelumnya adalah bagaimana pendapat para habaib yang ada di kabupaten Semarang mengenai pernikahan yang dilakukan antara syarifah dengan laki-laki non syarif, ditambah dengan informasi latar belakang terjadinya pernikahan dan kondisi psikologi dan sosiologi pelaku pernikahan tersebut.

F. Metode Penelitian

(21)

disimbolkan dalam perilaku masyarakat menurut perspektif masyarakat itu sendiri. Adapun Metode pendekatan dalam penelitian melalui pendekatan sebagai berikut:

Pendekatan historis atau sejarah adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latarbelakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. (Taufik, 1987: 105). Dengan pendekatan historis peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.(Nata, 2014: 47). Pendekatan historis yaitu sebuah pendekatan dengan melihat sejarah yang mendasari suatu hal tersebut terjadi dan melihat kondisi saat yang berbeda. Dalam hal ini penulis mencoba melacak sejarah kemunculan konsep kafa‟ah dalam perkawinan.

(22)

tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti (Lexi,2002: 9).

1. Kehadiran Peneliti

Penelitian dan pengumpulan data-data di Kabupaten Semarang ini dimulai pada tanggal bulan april 2017 sampai dengan selesai penelitian.Penulis melakukan wawancara langsung dengan habaib Kabupaten Semarang dan syarifah pelaku pernikahan dengan laki-laki non syarif.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini bertempat di Kabupaten Semarang. Adapun alasan pemilihan tempat ini adalah karena tempat tersebut merupakan salah satu daerah yang banyak dihuni oleh para habaib dan wilayahnya mudah dijangkau oleh peneliti.

3. Sumber Data

(23)

4. Teknik Pengumpulan Data

Prosedur yang diperoleh untuk mengumpulkan data adalah dari data primer, yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertama. Disamping data primer terdapat data sekunder yang sering kali juga diperlukan oleh peneliti (Sumadi, 2009:39). Data-data sekunder biasanya berupa bentuk-bentuk dokumen misalnya data mengenai keadaan demografis suatu daerah, foto-foto, video, surat-surat, laporan, peraturan, catatan harian, biografi, simbol, foto, dan data lainnya yang tersimpan. Langkah-langkahnya adalah dengan cara sebagai berikut:

a. Studi Pustaka

Studi Pustaka yaitu penelitian mencari dari bahan-bahan tertulis. Berupa catatan, buku-buku, surat kabar, foto-foto dan sebagainya. Buku-buku yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Pernikahan Terkaknat Karya Khudzaifah Al Jarjani, Fiqh Islam

karya H. Sulaiman Rasjid, Kitab Majmu‟ Syariah karya KH. Sholeh

Darat.

b. Wawancara (Interview)

(24)

Pihak-pihak yang diwawancarai adalah habaib, syaroif dan pelaku pernikahan tersebut.

c. Pengamatan (Observasi)

Dengan membuat kunjungan lapangan terhadap situs studi kasus, peneliti melakukan observasi langsung yaitu penulis dalam rangka memperoleh data dengan melihat dan mengamati secara langsung keadaan kehidupan para habaib guna memperoleh data yang menyakinkan dalam proses tersebut.

5. Metode Analisis Data

Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap dari lapangan, tahap berikutnya yang harus dilakukan adalah tahap analisa.Ini adalah tahap yang penting dan menentukan. Pada tahap inilah data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian. Disini imajinasi dan kreatifitas si peneliti diuji betul (Koentjaraningkrat, 2004:269).

Dalam penulisan ini, setelah data diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode induksi yaitu cara berfikir dari pernyataan yang bersifat khusus untuk ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum. 6. Pengecekan keabsahan data

(25)

memperoleh keabsahan temuan, penulis akan menggunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, ketekunan pengamatan, triangulasi (menggunakan beberapa sumber, metode, teori), pelacakan kesesuaian, kecukupan referensi dan pengecekan anggota (Lexy, 2011:327). Jadi temuan data tersebut bisa diketahui keabsahannya.

Untuk menggunakan teknik triangulasi dapat ditempuh dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan wawancara, membandingkan apa yang dikatakan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, membandingkan apa dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang masa, membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan. 7. Tahap-Tahap Penelitian

a. Penelitian Pendahuluan

Penulis mengkaji buku-buku yang berkaitan dengan hukum pernikahan islam dan konsep kafa‟ah.

b. Pengembangan Desain

Setelah penulis mengetahui banyak hal tentang pernikahan dan

konsep kafa‟ah, kemudian penulis turun ke lapangan untuk

(26)

G. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini disusun dalam beberapa bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

Bagian awal skripsi ini berisi Halaman Judul, Halaman Nota Pembimbing, Halaman Pengesahan, Halaman Motto, Halaman Persembahan, Kata Pengantar dan Daftar Isi.

Bab pertama mencakup pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab dua mencakup kajian kafa‟ah dalam perkawinan menurut tinjauan fiqh, dalam bab ini akan diungkap teori perkawinan yang bersumber dari Al

qur‟an, al hadits, kitab-kitab ulama klasik dan modern serta buku-buku yang

mengkaji seputar penjelasan yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Bab berisi tentang selayang pandang habaib di Indoneisa yang mencakup sejarah habaib di Arab dan sejarah persebaran habaib di Nusantara.

Bab empat berisi tentang faktor yang melatarbelakangi pernikahan syarifah dengan laki-laki non syarif, kondisi psikologis dan sosiologis pelaku pernikahan tersebut dan pendapat habaib kabupaten Semarang, dan analisa data.

(27)

BAB II

KAJIAN TENTANG PERNIKAHAN DAN KAFA’AH MENURUT ISLAM

A. Teori Pernikahan

1. Pengertian pernikahan secara umum

Secara Bahasa arti atau pengertian pernikahan adalah al-Jamru dan al-Dhommu yang artinya kumpul. Makna ini disinyalir berasal dari sebuah syair Arab: Wahai orang yang menikah, kesulitan bisa menjadi kemudahan, Allah memanjangkan umurmu untuk bisa berkumpul, yaitu kesulitan bila terbebas, dan kemudahan bila terlepas sisi kanannya." Maksud dari syair diatas adalah bahwa orang yang berusaha menyatukan antara hal yang sulit dan halyang mudah, sesungguhnya ia sedang melakukan sesuatu yang sulit untuk terjadi. Pengertian pernikahan secara maknawi, makna nikah (zawaj) bisa diartikan sebagai aqdu al-tazwiij yang artinya akad nikah. Nikah juga bisa diartikan dengan (wathu' al zawjah) bermakna menyetubuhi isteri, sebagaimana disebutkan oleh

beberapa ahli fiqih. Abu Ali al-Qalii berkata: Orang Arab membedakan penempatan kata akad dengan wath'u. Maka ketika mereka mengatakan 'Menikahkan si fulanah', mereka mengarahkan pada maksud aqdu al-tazwiij. Tapi bila mereka mengatakan 'Menikahi isterinya', maka

(28)

Sedangkan pengertian pernikahan menurut syara', pernikahan adalah akad serah terima antara laki-laki dan perempuan atau wanita dengan tujuan untuk saling memuaskan satu sama lainnya dan untuk membentuk sebuah bahtera rumah tangga yang sakinah serta masyarakat yang sejahtera. Para ahli fiqih berkata, zawaj atau nikah adalah akad yang secara keseluruhan di dalamnya mengandung kata: Inkaah atau tazwiij. Menurut pendapat Ibnu Qudamah pada umumnya akad nikah

adalah akad tazwij. Perkawinan menurut UU Perkawinan No.1 Tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut Bachtiar (2004), Definisi Perkawinan adalah pintu bagi bertemunya dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama, yang di dalamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan. Perkawinan itu merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam dari masing-masing pihak untuk hidup bergaul guna memelihara kelangsungan manusia di bumi.

(29)

Sekalipun makna perkawinan berbeda-beda, tetapi praktek-prakteknya perkawinan dihampir semua kebudayaan cenderung sama perkawinan menunujukkan pada suatu peristiwa saat sepasang calon suami-istri dipertemukan secara formal dihadapan ketua agama, para saksi, dan sejumlah hadirin untuk kemudian disahkan secara resmi dengan upacara dan ritual-ritual tertentu.

Sedangkan pernikahan menurut fiqh munakahat yaitu, Nikah atau ziwaj dalam bahasa Arab diartikan dengan kawin. Kalimat nikah atau

ziwaj diartikan dengan perkawinan. Abdurrahman Al-Jarizi dalam

kitabnya Al-Fiqh „Ala Madzahibil Arba‟ah menyebutkan ada tiga macam makna nikah. Pertama, menurut bahasa nikah adalah:

مَّضلاَو ُءْطَولْا َوُىَو

Bersenggama atau campur"

Kedua, makna Ushuli atau makna menurut syar‟i, yaitu nikah arti

hakikatnya adalah watha‟ (bersenggama), akad, musytarak atau

gabungan dari pengertian akad dan watha‟.

Dan yang ketiga, menurut para ahli fiqih.

Menurut golongan ulama Hanafiyyah, nikah adalah :

اًدْصَق ِةَعْ تُمْلا َكْلِم ُدْيِفُي ٌدْقَع ُوَّنَاِب ُحاَكِّنلا

“Nikah itu adalah akad yang memberi faidah kepemilikan untuk bersenang-senang dengan sengaja”

(30)

اَمُىاَنْعَم ْوَا ٍجْيِوْزَ ت ْوَا ٍحاَكْنٍا ِظْفَلِب ِءْطَوْلا َكْلِم ُنَّمَضَتَ ي ٌدْقَع ُوَّنَاِب ُحاَكٍّنلا

“Nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan watha‟ dengan akar lafadz nikah atau tazwij atau yang satu makna

dengan keduanya”

Menurut Malikiyah:

ٍةَنِّ يَ بِب اَهَ تَمْيِق ٍبِجْوُم ُرْ يَغ ٍةَّيِمَدَاِب َذُّذَلَّ تلا ِوِعْتُم ِدَّرَجُم ىَلَع ٌدْقَع ُوَّنَاٍب ُحاَكِّنلا

“Nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum semata

-mata untuk memperbolehkan watha‟, bersenang-senang dan menikmati

apa yang ada pada diri seorang wanita yang dinikahinya”

Sedangkan menurut golongan Hanabilah, mendefinisikan bahwa:

ِةَعَفْ نَم ىَلَع ٍجْيِوْزَ ت ْوَا ٍحاَكْنِا ِظْفَلِب ٌدْقَع َوُى

ِعاَتْمِتْسِْلْا

”Nikah adalah sebuah akad dengan menggunakan lafadz nikah atau tazwij guna memperbolehkan manfaat bersenang-senang dengan wanita

(31)

Indonesia nikah/ni·kah/n ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama: hidup sebagai suami istri tanpa - merupakan pelanggaran terhadap agama. Berdasarkan uraian diatas dapat dismplkan bahwa pernikahan adalah bersatunya antara laki-laki dan perempuan yang diikat dengan status pernikahan yang sesuai dengan ajaran agama dan undang-undang di Indonesia.

Berdasarkan berbagai definisi tentang perkawinan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri yang memiliki kekuatan hukum dan diakui secara sosial dengan tujuan membentuk keluarga sebagai kesatuan yang menjanjikan pelestarian kebudayaan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan inter-personal.

2. Rukun pernikahan

Rukun Nikah adalah bagian terpenting yang menjadi pilar dalam pernikahan dan itu wajib terpenuhi adanya.

Rukun perkawinan menurut Rasjid (2000 : 382) menyatakan bahwa rukun perkawinan yaitu :

a. Sighat (akad), yaitu perkataan dari pihak wali perempuan,seperti kata

wali,”saya nikahkan engkau dengan anak saya bernama..” Jawab

mempelai laki-laki, “Saya terima menikahi”.

(32)

b. Wali (wali si perempuan).

Keterangannya adalah sabda Nabi SAW yang artinya “barang siapa

diantara yang menikah tidak dengan izin walinya, maka

pernikahannya batal”.

c. Dua orang saksi

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya “tidak sah nikah kecuali

dengan wali dua saksi yang adil”.

d. Kerelaan kedua belah pihak atau tanpa paksaan. e. Ada mempelai yang akan menikah.

3. Syarat-syarat perkawinan

Syarat pernikahan adalah dasar sahnya bagi pernikahan. Apabila syarat-syaratnya terpenuhi maka perkawinan itu sah dan menimbulkan adanya segala hak dan kewajiban sebagai suami istri. Sedangkan yang dimaksud dengan syarat ialah syarat yang bertalian dengan rukun-rukun perkawinan, yaitu syarat-syarat bagi calon mempelai, wali, saksi, dan hijab qobul.

4. Tujuan pernikahan

Dasar tujuan nikah yaitu “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari

(33)

perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan

kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha

Mengetahui“ (Q.S. An-Nur 32).

Salah satu penafsiran ayat diatas adalah, hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.

Dalam pasal 1 UU No. 1/1974 adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan dalam KUHP perdata tidak ada satu pasal pun yang secara jelas-jelas mencantumkan mengenai tujuan perkawinan itu.Dalam pasal 3 Kompilasi Hukum Islam tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan berumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.Sedangkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata.

Berdasarkan berbagai definisi tentang perkawinan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri yang memiliki kekuatan hukum dan diakui secara sosial dengan tujuan membentuk keluarga sebagai kesatuan yang menjanjikan pelestarian kebudayaan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan inter-personal.

(34)

pasal 1 Undang-Undang perkawinan tahun 1974 tersebut diatas dengan jelas disebutkan, bahwa tujuan perkawinan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Walgito (2000), masalah pernikahan adalah hal yang tidak mudah, karena kebahagiaan adalah bersifat relatif dan subyektif. Subyektif karena kebahagiaan bagi seseorang belum tentu berlaku bagi orang lain, relatif karena sesuatu hal yang pada suatu waktu dapat menimbulkan kebahagiaan dan belum tentu diwaktu yang juga dapat menimbulkan kebahagiaan. Masdar Helmy (dalam Bachtiar, 2004) mengemukakan bahwa tujuan perkawinan selain memenuhi kebutuhan hidup jasmani dan rohani manusia, juga membentuk keluarga dan memelihara serta meneruskan keturunan di dunia, mencegah perzinahan, agar tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa bagi yang bersangkutan, ketentraman keluarga dan masyarakat. Menurut Soemijati (dalam bachtiar, 2004) tujuan perkawinan adalah untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan keluarga bahagia dengan dasar cinta dan kasih sayang, memperoleh keturunan yang sah dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh hukum.

5. Perbedaan tujuan perkawinan UU Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI

Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 mendefenisikan perkawinan yaitu

(35)

wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah

tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Berdasarkan UU Perkawinan tersebut, dapat diartikan bahwa tujuan perkawinan menurut UU tersebut adalah untuk mencapai bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. Arti bahagia sebenarnya bukan konsep fikih (Hukum Islam). Hal ini sejalan dengan defenisi Sayuti Thalib yaitu perkawinan adalah perjanjian kokoh dan suci antara seorang perempuan dan laki-laki sebagai suami istri untuk membentuk rumah tangga yang bahagia, kasih mengasihi, tentram dan kekal. Sedangkan defenisi kekal itu diambil dari ajaran Katolik Roma, yang mengartikan perkawinan itu adalah sehidup semati. Namun bisa juga diartikan bahwa perkawinan itu harus ada kesetian antara pasangan suami dan istri.

Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) tujuan perkawinan dijelaskan pada pasal 3 KHI yaitu ” Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga sakinah, mawaddah dan wa rahmah. ” Artinya tujuan perkawinan sesuai dengan konsep Hukum Islam. Perbedaan KHI dan UU Nomor 1 Tahun 1974 juga tampak pada penerapan sahnya perkawinan. Pasal 2 UU Nomor 1 Tahun 1974

menjelaskan ” Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum

(36)

adalah sah menurut UU Perkawinan.Hal ini berbeda menurut pasal 4

KHI yaitu ” perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum

Islam sesuai dengan pasal 2 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang

perkawinan”. Artinya KHI lebih menekankan perkawinan dalam konsep

hukum Islam, namun tetap didasarkan pada UU Nomor 1 Tahun 1974. Menurut Marzuki Wahid, di dalam CLD KHI ada beberapa hal yang mereka tawarkan yakni sebagai berikut:

a. Pernikahan bukan ibadah, tetapi akad sosial kemanusiaan

(Mu‟amalah)

b. Pencatatan perkawinan oleh Pemerintah adalah rukun perkawinan c. Perempuan bisa menikahkan sendiri dan menjadi wali nikah d. Mahar bisa diberikan oleh calon suami dan calon istri e. Poligami dilarang

f. Perkawinan dengan pembatasan waktu boleh dilakukan g. Perkawinan antaragama dibolehkan

h. Istri memiliki hak talak dan rujuk

i. Hak dan kewajiban suami dan istri setara

B. Tujuan Pernikahan untuk Sakinah (Ketenangan)

(37)

seseorang yang melangsungkan pernikahan berkeinginan memiliki keluarga yang tenang dan tentram. Dalam Tafsirnya Al-Alusi mengatakan bahwa sakinah adalah merasa cenderung kepada pasangan. Kecenderungan ini merupakan satu hal yang wajar karena seseorang pasti akan merasa cenderung terhadap dirinya. Apabila kecenderungan ini disalurkan sesuai dengan aturan Islam maka yang tercapai adalah ketenangan dan ketentraman, karena makna lain dari sakinah adalah ketenangan. Ketenangan dan ketentraman ini yang menjadi salah satu dari tujuan pernikahan atau perkawinan. Karena pernikahan adalah sarana efektif untuk menjaga kesucian hati agar terhindar dari perzinahan.

C. Tujuan Pernikahan untuk Mencapai Mawadah dan Rahmah

Tujuan pernikahan yang selanjutnya adalah untuk memperoleh keluarga yang mawadah dan rahmah. Tujuan pernikahan Mawadah yaitu untuk memiliki keluarga yang di dalamnya terdapat rasa cinta, berkaitan dengan hal-hal yang bersifat jasmaniah. Tujuan pernikahan Rahmah yaitu untuk memperoleh keluarga yang di dalamnya terdapat rasa kasih sayang, yakni yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat kerohanian.

Mengenai pengertian mawaddah menurut Imam Ibnu Katsir ialah al mahabbah (rasa cinta) sedangkan ar rahmah adalah ar-ra‟fah (kasih sayang).

Mawaddah adalah makna kinayah dari nikah yaitu jima‟ sebagai konsekuensi

(38)

dari keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil suatu pernikahan. Ada juga yang mengatakan bahwa mawaddah hanya berlaku bagi orang yang masih muda sedangkan untuk ar-rahmah bagi orang yang sudah tua.

Implementasi dari tujuan pernikahan mawaddah wa rahmah ini adalah sikap saling menjaga, saling melindungi, saling membantu, saling memahami hak dan kewajiban masing-masing. Pernikahan adalah lambang dari kehormatan dan kemuliaan. Fungsi pernikahan diibaratkan seperti fungsi pakaian, karena salah satu fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Aurat sendiri bermakna sesuatu yang memalukan, karena memalukan maka wajib untuk ditutup. Dengan demikian seharusnya dalam hubungan suami istri, satu sama lainnya harus saling menutupi kekurangan pasangannya dan saling membantu untuk mempersembahkan yang terbaik.

(http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan-tujuan-pernikahanperkawinan.html)

D. Undang-undang Penikahan Yang Berlaku Di Indonesia

(39)

hukum pernikahaan di dalam fikih islam, namun dalam pembuatannya telah di cermati secara mendalam sehingga tidak bertentangan dengan hokum islam.

Untuk kelancaran pelaksanaan undang-undang perkawinan tersebut pemerintah telah mengeluarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia No .9 tahun 1975. Peraturan pemerintah tersebut terdiri atas 10 bab dan 49 pasal yang ditetapkan di Jakarta pada April 1975. Dengan adanya undang-undang perkawinan No. 1 Tahun 1974 dan peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975, diharapkan masalah-masalah yang berhubungan dengan perkawinan di Indonesia akan dapat teratasi. Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan terdiri dari 14 Bab dan terbagi dalam 67 pasal. Isi masing - masing bab itu secara garis besarnya sebagai berikut : 1. Bab I Dasar Perkawinan

Berisi ketentuan mengenai

a. Pengertian dan tujuan perkawinan b. Sahnya perkawinan

c. Pencatat perkawinan

d. Asas monogami dalam perkawinan 2. Bab II Syarat- syarat Perkawinan

(40)

c. Pengecualian persetujuan kedua calon mempelai dan izin kedua orang tua

d. Batas umur perkawinan e. Larangan kawin

f. Jangka waktu tunggu

g. Tata cara pelaksanaan perkawinan 3. Bab III Pencegahan Perkawinan

Berisi tentang:

a. Pencegahan perkawinan b. Penolakan perkawinan 4. Bab IV Batalnya Perkawinan

Berisi ketentuan tentang dapat dibatalkannya suatu perkawinan, pihak yang dapat mengajukan pembatalan dan ketentuan-ketentuan lain yang berkenan dengan perkawinan.

5. Bab V Perjanjian Perkawinan

Berisi ketentuan tentang dapat diadakannya perjanjian tertulis pada waktu atau sebelum perkawinan oleh kedua belah pihak , atas

persetujuan bersama, dan mengenai pengesahan, mulai berlakunya , serta kemungkinan perubahan perjanjian tersebut.

6. Bab VI Hak dan Kewajiban Suami Istri

(41)

7. Bab VII Harta Benda dalam Perkawinan

Berisi ketentuan tentang harta benda bawaan masing-masing. 8. Bab VIII Putusnya Perkawinan dan Akibatnya

Berisi ketentuan putusnya perkawinan dan sebab-sebabnya. 9. Bab IX Kedudukan Anak

Berisi ketentuan tentang kedudukan anak yang sah dan anak yang dilahirkan di luar pernikahan.

10. Bab X Hak dan Kewajiban Antara Orangtua dan Anak

Berisi ketentuan tentang hak dan kewajiban orang tua serta hak dan kewajiban anak .

11. Bab XI Perwalian

Berisi ketentuan mengenai perwalian bagi anak yang belum mencapai umur 18 tahun dan tidak berada di bawah kekuasaan orang tuanya.

12. Bab XII Ketentuan-ketentuan Lain 13. Bab XIII Ketentuan peralihan 14. Bab XVI Ketentuan Penutup

E. Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia

Kompilasi hukum di Indonesia berarti „Buku Kumpulan-kumpulan

hukum islam”. Usaha untuk mengadakan kompilasi hukum islam telah

(42)

Intruksi Pemerintah RI No. 1 tahun 1991 dan ditindaklanjuti dengan keputusan Mentri Agama No. 154 tahun 1991. Kompilasi hukum islam di

Indonesia telah menjadi semacam “fikih keindonesiaan” yang diperlukan

sebagai pedoman dalam bidang hukum material bagi para hakim di lingkungan peradilan agama, sehingga terjamin adanya kesatuan dan kepastian hukum. Kompilasi itu terdiri atas tiga buku yaitu : .

1. Buku I tentang Perkawinan 2. Buku II tentang Kewarisan 3. Buku III tentang Pewakafan

Dalam buku I terdapat 19 bab dan 170 pasal, dan setiap pasalnya diuraikan secara jelas menurut keperluan hukum.

Bab-bab tersebut yaitu :

BAB I : Ketentuan Umum (1 pasal)

BAB II : Dasar-dasar Perkawinan (19 pasal) BAB III : Pemenangan (3 pasal)

BAB IV : Rukun dan Syarat Perkawinan (16 pasal) BAB V : Mahar (9 pasal)

BAB VI : Larangan Perkawinan (7 pasal) BAB VII : Perjanjian Perkawinan (8 pasal) BAB VIII : Kawin Hamil (2 pasal)

(43)

BAB XI : Batalnya Perkawinan (7 pasal)

BAB XII : Hak dan kewajiban suami istri (8 pasal) BAB XIII : Harta kekayaan dalam perkawinan ( 12 pasal) BAB XIV : Pemeliharaan anak ( 9 pasal)

BAB XV : Perwalian(6 pasal)

BAB XVI : Putusnya perkawinan (36 pasal) BAB XVII : Akibat putus perkawinan (14 pasal) BAB XVIII : Rujuk (7 pasal)

BAB XIX : Masa berkabung (1 pasal)

Setiap pasal dari bab-bab tersebut telah di jelaskan menurut keperluan hukumnya. Misalnya, kamu dapat menyimak aturan pencatatan perkawinan dan cara perceraian yang ditulis dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, yaitu :

a. Pencatat perkawinan

Pencatat perkawinan diatur dalam pasal-pasal seperti berikut ini : Pasal 4

(44)

1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat.

2) Pencatatan perkawinan tersebut apada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikahsebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No.22 Tahun 1946 dan Undang-Undang-undang No.32 Tahun 1954. Pasal 6

1) Untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan dibawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah.

2) Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan Hukum.

Pasal 7

Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh

Pegawai Pencatat Nikah. Pasal 15

(45)

(2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapati izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4) dan (5) UU No.1 Tahun 1974.

F. Kafa’ah / Kufu (kesetaraan)

1. Pengertian Kafa‟ah

Kafa‟ah berasal dari bahasa Arab dari kata (ءىفك ) , berarti sama atau setara. Kata ini merupakan kata yang terpakai dalam bahasa Arab dan terdapat dalam Al-Qur‟an dengan arti “sama” atau setara. Contoh dalam

Al-Qur‟an adalah dalam surat Al-Ikhlas ayat 4 :

ُدَحَأ اًوُفُك ۥُوَّل نُكَي مَلَو

yang berarti “ dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya”.

Dalam istilah fikih, “sejodoh” disebut “kafa‟ah” , artinya ialah

sama, serupa, seimbang, atau serasi. Menurut H. Abd. Rahman Ghazali,

kafa‟ah atau kufu‟, menurut bahasa, artinya “setaraf, seimbang, atau

keserasian/kesesuaian, serupa, sederajat atau sebanding” .

(46)

Jadi, tekanan dalam hal kafa‟ah adalah keseimbangan, keharmonisan, dan keserasian, terutama dalam hal agama, yaitu akhlak dan ibadah. Sebab, kalau kafa‟ah diartikan persamaan dalam hal harta atau kebangsawanan, maka akan berarti terbentuknya kasta, sedangkan manusia di sisi Allah SWT. adalah sama. Hanya ketaqwaannyalah yang membedakannya.

Dalam Kitab Majmu‟ Syariah al Kafiyah Lil „awan karya KH Sholeh

Darat Semarang secara bahasa kafa‟ah artinya kesepadanan/kesamaan.

Sedangkan secara istilah adalah kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kelebihan dan kekurangan, dan kafa‟ah ini menajdi pertimbangan dalam pernikahan namun bukan menjadi bagian syarat sahnya dalam pernikahan.

Kesetaraan dalam pernikahan antara laki-laki dan perempuan meliputi lima hal, yaitu :

a. Terhindar dari bentuk aib nikah, misalnya salah satu pihak terkena penyakit, gila, dll.

b. Merdeka atau bukan hamba sahaya.

c. Bernasab mulya maksudnya yaitu laki-laki non arab yang memiliki nasab mulya menikah dengan perempuan arab yang bernasab mulya itu tidak sekufu.

d. Adil dan terjaga agamanya artinya yaitu seorang laki-laki ahli

(47)

e. Baik pekerjaannya maksudnya adalah seorang laki-laki yang bekerja

sebagai tukang sapu tidak sekufu‟ menikah dengan perempuan yang

sebagai saudagar.

Kufu‟ tidak menjadi syarat bagi pernikahan. Tetapi jika tidak dengan keridhaan masing-masing,yang lain boleh mem-fasakh-kan pernikahan itu dengan alasan tidak kufu‟. Kufu‟ itu adalah hak perempuan dan walinya, keduanya boleh melanggarnya dengan keridaan bersama.

Firman Allah SWT dalam Surah Al Hujurat: 13 yang artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang

laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertakwadi antara kamu. Sesungguhnya

AllahMaha Mengetahui lagi Maha Mengenal‟.

Sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Tidakada kelebihan orang arab atas orang yang bukan arab, demikian pula sebaliknya, dan tidak pula orang putih atas orang hitm dan sebaliknya, tetapi kelebihan yang

satu dari yang lain hanyalah dengan takwa” (Riwayat Ashabus sunan)

Dari dasar diatas menurut pendapat yang lebih kuat ditinjau dari alasannya kufu itu hanya berlaku mengenai keagamaan, baik mengenal pokok agama seperti Islam dan bukan islam maupun kesempurnaannya, misalnya orang yang baik tidak sederajat dengan orang yang jahat atau orang yang tidak taat.

Kafa‟ah juga berarti serupa, seimbang atau serasi. Kafa‟ah dalam pernikahan, maksudnya keseimbangan dan keserasian antara calon istri

(48)

melangsungkan pernikahan. Sayyid Sabiq mengartikan kafa‟ah dengan

spadan, sebanding dan sederajat yakni laki-laki sebanding dalam tingkat

sosial dan sederajat dalam tingkat sosial, akhlak dan kekayaan. Tidak

diragukan lagi bahwa kedudukan calon mempelai laki-laki dengan calon

mempelai wanita sebanding, merupakan faktor yang menentukan dalam

kehidupan rumah tangga.Untuk terciptanya sebuah rumah tangga yang

sakinah, mawadah dan rahmah, Islam menganjurkan agar ada

keseimbangan dan keserasian, kesepadanan dan kesebandingan antara

kedua calon suami istri tersebut. Tetapi hal ini bukanlah merupakan satu

hal yang mutlak, melainkan satu hal yang harus diperhatikan untuk

mencapai tujuan pernikahan yang bahagia dan abadi.

Kafa‟ah diatur dalam pasal 61 KHI dalam membicarakan pencegahan perkawinan, dan yang diakui sebagai kriteria kafaah itu adalah apa yang telah menjadi kesepakatan ulama yaitu kualitas

ke-beragamaan. Pasal 61 berbunyi: “Tidak se-kufu tidak dapat dijadikan

alasan untuk mencegah perkawinan, kecuali tidak se-kufu karena perbedaan agama atau ikhtilafu al-dien.

(49)

anak Khalifah Bani Hasyim. Walau seorang Muslim yang sangat Fasiq,

asalkan tidak berzina ia adalah kufu‟ untuk wanita Islam yang fasiq, asal

bukan perempuan berzina.

Perbedaan ulama‟ tentang hukumkafa‟ah dan pelaksanaannya

berefek domino pada kontradiksi mengenai kedudukan kafa‟ah dalam

pernikahan sendiri, ditinjau dari sisi keabsahan nikah. Ulama‟ terbagi

menjadi 2 poros dalam menanggapi kedudukan kafa‟ah dalam pernikahan. Jumhur ulama‟ termasuk Malikiyah, Syafiiyah, Hanafiyah, dan satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat bahwa kafa‟ah itu tidak termasuk syarat pernikahan sehingga pernikahan antara orang yang tidak se-kufu akan tetap dianggap memilki legalitas hukum (sah, baca).

Kafa‟ahdipandang hanya merupakan segi afdholiyah saja. Pijakan dalil mereka merujuk pada ayat “Inna akromakum „inda Allahi atqookum. Bertolak nbelakang dengan pendapat yang pertama, salah satu riwayat dari Imam Ahmad malah mengatakan bahwakafa‟ah itu termasuk syarat perkawinan. Ini berarti bahwa pernikahan yang dilakukan oleh kedua mempelai yang tidak se-kufu masih dianggap belum sah. Mereka bertendensius dengan potongan hadis riwayat oleh al-Dar Quthny yang

dianggap lemah oleh kebanyakan ulama‟.

Hadis itu berbunyi, “La tankihu al-nisa illa min al-akfaa‟, wala

(50)

dipandang dari sifat istiqomah dan budi pekertinya saja.Kafa‟ah bukan karena nasab atau keturunan, bukan pekerjaan atau kekayaan. Seorang lelaki shaleh yang tidak bernasab boleh kawin dengan perempuan yang bernasab, pengusaha kecil boleh kawin dengan pengusaha besar, orang hina boleh saja menikahi perempuan terhormat, seorang lelaki miskin boleh kawin dengan perempuan yang kaya raya asalkan muslimah. Seorang wali tidak boleh menolaknya dan tidak berhak memintakan cerai meskipun laki-laki tadi tidak sama kedudukannya dengan kedudukan wali yang menikahkan, apabila perkawinannya dilaksanakan dengan persetujuan si perempuan.

Begitu pula halnya dengan ulama Hanafiyah, Hanabilah dan

Syafi‟iah.. Mereka mengakui adanya kafa‟ah dengan dasar-dasar yang

akan kami sampaikan nanti meskipun kafa‟ah masih dalam ruang lingkup keutamaan, bukan merupakan salah satu syarat yang menentukan keabsahan nikah.

(51)

Dengan demikian kafa‟ah hukumnya adalah dianjurkan, seperti dalam

hadits Abu Hurairah yang dijadikan dasar tentang Kafa‟ah, yaitu:

ُةَأْرَملا ُحَكْنُ ت :لاق ملسو ويلع ةللا ىلص ىبنلا نع ونع للها ىضر ةريرى ىبأ نعو

. َكاَدَي ْتَبِرَت ِنْيِّدلا ِتاَذِب ْرَفْظاَف ,اَهِنْيِدِلَو ,اَهِلاَمَجِلَو ,اَهِبَسَحِلَو ,اَهِلاَمِل:ٍعَبْرَلأ

.ةعبسلا ةيقب عم ويلع قفتم

Artinya:“Wanita itu dikawini karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah yang

beragama, semoga akan selamatlah hidupmu”.

Secara mafhum hadits ini berlaku pula untuk wanita yang memilih calon suami. Dan khusus tentang calon suami ditegaskan lagi oleh hadits At-Turmudzy riwayat Abu Hatim Al Mudzanny:

يذمرتلا هاور .اْوُحِكْنَاَف ُوَقُلُخَو ُوَنْ يِد َنْوَضْرَ ت ْنَم ْمُكاَتَااَذِا

Artinya:“Bila datang kepadamu (hai wali), seorang laki-laki yang

sesuai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah anakmu kepadanya”.

Para ulama‟ berbeda persepsi dalam menentukan kriteria yang

digunakan dalam kafa‟ah:

a. Menurut ulama Hanafiyah, yang menjadi dasar kafa‟ah adalah: 1) Nasab, yaitu keturunan atau kebangsaan. Orang Arab adalah

kufu‟ antara satu dengan lainnya. Begitu pula halnya dengan

(52)

bukan Arab tidak sekufu‟ dengan perempuan Arab. Orang Arab

tetapi bukan dari golongan Quraisy, tidak sekufu‟ dengan/ bagi

perempuan Quraisy lainnya.

2) Islam, yaitu silsilah kerabatnya banyak yang memeluk agama islam. Dengan Islam maka orang kufu‟ dengan yang lain. Ini berlaku bagi orang-orang bukan Arab. Adapun di kalangan

bangsa Arab tidak berlaku. Sebab mereka ini merasa sekufu‟

dengan ketinggian nasab, dan mereka merasa tidak akan berharga dengan Islam, Adapun diluar bangsa Arab yaitu para bekas budak dan bangsa-bangsa lain, mereka merasa dirinya terangkat menjadi orang Islam. Karena itu jika perempuan Muslimah yang ayah dan neneknya beragama Islam, tidak kufu‟ dengan laki-laki Muslim yang atah dan neneknya tidak beragama Islam.

(53)

pekerjaan tidak terhormat di suatu tempat tapi itu terhormat di tempat yang lain.

4) Kemerdekaan dirinya. Jadi budak laki-laki tidak kufu‟ dengan perempuan merdeka. Budak laki-laki yang sudah merdeka tidak

kufu‟ dengan perempuan yang merdeka dari asal. Laki-laki yang

salah seorang neneknya pernah menjadi budak tidak kufu‟ dengan perempuan yang neneknya tak pernah ada yang jadi budak. Sebab perempuan merdeka bila dikawin dengan laki-laki budak dianggap tercela. Begitu pula bila dikawin oleh laki-laki yang salah seorang neneknya pernah menjadi budak.

5) Diyanah, yaitu kualitas keberagamaan dalam islam. Abu Yusuf berpendapat: seseorang laki-laki yag ayahnya sudah dalam

kufu‟dengan perempuan yang ayah dan neneknya Islam. Karena

untuk mengenal laki-laki cukup hanya dikenal ayahnya saja.

6) Golongan Syafi‟i berkata bahwa kemampuan laki-laki fakir

dalam membelanjai isterinya adalah di bawah ukuran laki-laki kaya. Sebagian lain berpendapat bahwa kekayaan itu tidak dapat jadi ukuran kufu‟ karena kekayaan itu sifatnya timbul tenggelam, dan bagi perempuan yang berbudi luhur tidaklah mementingkan kekayaan.

(54)

2) Terbebas dari cacat fisik. Salah satu syarat kufu‟ ialah selamat dari cacat. Bagi laki-laki yang mempunyai cacat jasmani yang menyolok, ia tidak kufu‟ dengan perempuan yang sehat dan normal. Jika cacatnya tidak begitu menonjol, tetapi kurang disenangi secarapandangan lahiriyah, seperti: buta, tangan buntung dan lain-lain.

c. Menurut ulama Syafi‟iyah, yang menjadi dasar kafa‟ah adalah: 1) Nasab, tidaklah dinamakan sekufu‟ pernikahan orang

bangsawan Arab dan rakyat jelata atau sebaliknya.

2) Diyanah, tidaklah sekufu‟ namanya, bila orang Islam menikah

dengan orang yang bukan Islam.

3) Kemerdekaan dirinya, tidaklah sekufu‟ bagi mereka yang

merdeka yang menikah dengan budak. 4) Hirfah.

d. Menurut ulama Hanabilah yang menjadi dasar kafa‟ah adalah: 1) Diyanah

2) Hirfah. 3) Kekayaan

4) Kemerdekaan diri 5) Nasab

Mayoritas Ulama sepakat menempatkan dien atau diyanah

(55)

-Sajadah: 18, “Afaman kana mu‟minan kaman kana faasiqon la yastawuun” dan ayat yang menerangkan mengenai kadar kemuliaan seseorang hanyalah ditinjau dari sisi ketaqwaannya.

2. Tujuan pemberlakuan Kafa‟ah

Dari beberapa hadits yang menjadi dasar hukum kafa‟ah di atas dapat difahami bahwa tujuan utama kafa‟ah ketentraman dan kelanggengan sebuah rumah tangga. Karena jika rumah tangga didasari dengan kesamaan persepsi, kekesuaian pandangan, dan saling pengertian, maka niscaya rumahtangga itu akan tentram, bahagia dan selalu dinaungi rahmat Allah swt. Namun sebaliknya, jika rumah tangga sama sekali tidak didasari dengan kecocokan antar pasangan, maka kemelut dan permasalahan yang kelak akan selalu dihadapi. Kebahagiaan adalah istilah umum yang selalu diidam-idamkan oleh tiap pasangan dalam kehidupan mereka, namun itu semua harus diawali dengan kafa‟ah, kesesuaian, kecocokan dan kesinambungan antar pasangan, sehingga segala hal yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik, tanpa dibumbui dengan perbedaan yang besar diantara kedua insan. (https://halaqahb3.wordpress.com)

(56)

tidak jauh berbeda tentunya tidak terlalu sulit untuk saling menyesuaikan diri dan lebih menjamin keberlangsungan kehidupan rumah tangga.Namun kafa'ah bukanlah termasuk syarat sahnya suatu pernikahan, dalam arti akad nikah tetap sah meskipun kedua mempelai tidak sekufu apabila memang ridho, sebab kafa'ah adalah hak yang diberikan kepada seorang wanita dan walinya, dan mereka diperbolehkan menggugurkan hak itu dengan melangsungkan suatu pernikahan antara pasangan yang tidak sekufu, apabila wanita tersebut dan walinya ridho/setuju.

(57)

insya allah ibadah yang kita jalankan akan senantiasa mendapatkan curahan pahala dari Allah swt

(58)

SELAYANG PANDANG KEMUNCULAN HABAIB

A. Sejarah Kemunculan Habaib di Jazirah Arab

Menurut Muhammad bin Ahmad al-Syatri dalam kitabnya Adwar al-Tarikh al-Hadrami, bangsa Arab terbagi menjadi tiga golongan :al-Ba‟idah

yaitu bangsa Arab terdahulu dan kabar berita tentang mereka telah terputus karena sudah terlalu lama, al-‟Aribah yaitu orang-orang Arab Yaman keturunan Qahthan, al-Musta‟ribah yaitu keturunan Nabi Ismail as (Adnaniyah). Karena golongan yang pertama sudah tidak ada lagi maka para ahli sejarah hanya mengkaji golongan yang kedua dan ketiga, yaitu bani Qahthan dan bani Ismail. Bani Ismail as adalah keturunan dari Nabi Ismail as anak Nabi Ibrahim as yang mula-mula berdiam di kota Ur yang merupakan kota di Babylonia. Nabi Ibrahim as meninggalkan kota Ur dan berpindah ke Palestina. Setelah Nabi Ibrahim as mempunyai anak dari Siti Hajar yang bernama Ismail as, mereka pindah ke Hijaz tepatnya di Wadi Mekkah.

Nabi Ismail as mempunyai putera sebanyak dua belas orang, masing-masing mempunyai keturunan. Tetapi kemudian keturunan mereka terputus, hanya keturunan Adnan-lah yang berkembang biak, sebab itu bani Ismail ini dinamai juga bani Adnan. Sedangkan Bani Qahthan menurunkan suku Tajib dan Sodaf. Bani Qahthan berasal dari Mesopotamia dan kemudian pindah ke

negeri Yaman. Penduduk asli Yaman adalah kaum „Ad yang kepada mereka

(59)

angin yang amat keras. Kaum „Ad yang dibinasakan ini disebut kaum „Ad

pertama, sedangkan kaum „Ad yang masih mengikuti Nabi Hud as disebut

kaum „Ad kedua.

Sesudah Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah di Mekkah, jadilah kota Mekkah itu kota yang paling masyhur di tanah Hijaz, dan berdatanganlah orang dari segenap penjuru jazirah Arab ke Mekkah untuk naik haji dan ziarah ke Baitullah. Karena itu lama kelamaan kota Mekkah menjadi pusat perniagaan. Pertama kali kota Mekkah dipegang oleh bani Adnan, karena itu

bani Adnanlah yang memelihara dan menjaga Ka‟bah. Sesudah runtuhnya

kerajaan Sabaiah, maka berpindahlah satu suku yang bernama Khuza‟ah dari Yaman ke Mekkah dan mereka merampas kota Mekkah dari tangan bani Adnan. Dengan demikian berpindahlah penjagaan Baitullah dari bani Adnan

kepada bani Khuza‟ah. Di kemudian hari, dari suku Quraisy terdapat seorang

pemimpin yang kuat dan cerdas, namanya Qushai. Qushai ini beruntung

dapat merebut kunci Ka‟bah dari bani Khuza‟ah dan kemudian mengusir bani

Khuza‟ah itu dari Mekkah. Maka jatuhlah kembali kekuasaan di Mekkah ke

tangan bani Adnan.

(60)

muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hasyim. Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya Allah telah memilih Isma‟il dari anak keturunan Ibrahim,

memilih Kinanah dari anak keturunan Isma‟il, memilih Quraisy dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan

memilihku dari keturunan Bani Hasyim. “.(H.R. Muslim dan at-Turmudzy).

Dari al-‟Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, Rasulullah saw bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan

sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”. (Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).

Dari keturunan inilah Allah swt telah menerbitkan cahaya cemerlang, menerangi semesta alam, dikarenakan agama Islam yang dibawa keturunan Adnan kepada masyarakat Hadramaut yang berasal dari keturunan Qahthan. Diantara keturunan Adnan yang berada di Hadramaut adalah kaum Alawiyin, sebelumnya mereka menetap di Basrah, Iraq. Tokoh pertama golongan Alawi di Hadramaut adalah Ahmad bin Isa yang dijuluki al-Muhajir.

(61)

mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat. Rakyat mengharapkan salah satu keturunan Rasulullah dapat memimpin mereka. Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan di Bagdad dan menetap di Hadramaut. Imam Ahmad bin Isa keadaannya sama dengan para sesepuhnya. Beliau seorang

„alim, „amil (mengamalkan ilmunya), hidup bersih dan wara‟ (pantang bergelimang dalam soal keduniaan). Di Iraq beliau hidup terhormat dan disegani, mempunyai kedudukan terpandang dan mempunyai kekayaan cukup banyak. Mereka hijrah ke Hadramaut bukan karena dimusuhi atau dikejar-kejar tetapi mereka lebih mementingkan keselamatan aqidah keluarga dan pengikutnya. Mereka hijrah dari Basrah ke Hadramaut mengikuti kakeknya Rasulullah saw hijrah dari Makkah ke Madinah.

Mengenai hijrahnya Imam Ahmad Al-Muhajir ke Hadramaut, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalah al-Muawanah mengatakan : Al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin

al-Imam Ja‟far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid‟ah, pengobralan

hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negaranya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.

Ketika beliau berangkat hijrah dari Iraq ke Hijaz pada tahun 317 H beliau ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin „Ali

(62)

dikenal dengan nama Ubaidillah. Turut serta dalam hijrah itu cucu beliau yang bernama Ismail bin Abdullah yang dijuluki dengan Bashriy. Turut pula dua anak lelaki dari paman beliau dan orang-orang yang bukan dari kerabat dekatnya. Mereka merupakan rombongan yang terdiri dari 70 orang. Imam al-Muhajir membawa sebagian dari harta kekayaannya dan beberapa ekor unta ternaknya. Sedangkan putera-puteranya yang lain ditinggalkan menetap di Iraq.

Tibalah Imam al-Muhajir di Madinah al-Munawwarah dan tinggal di sana selama satu tahun. Pada tahun itulah kaum Qaramithah memasuki kota Makkah dan menguasainya. Mereka meletakkan pedang di al-Hajij dan memindahkan Hajarul-Aswad dari tempatnya ke tempat lain yang dirahasiakan. Pada tahun berikutnya al-Muhajir berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dari Makkah beliau menuju Asir lalu ke Yaman. Di Yaman beliau meninggalkan anak pamannya yang bernama Sayyid Muhammad bin Sulaiman, datuk kaum Sayyid al-Ahdal.

(63)

al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang mempunyai faham Khawarij dengan dalil dan argumentasi.

Maka masuklah Imam al-Muhajir ke Hadramaut. Ia bersikap lemah

lembut dalam da‟wahnya dan menempuh cara yang halus dan mengeluarkan

hartanya. Maka banyak orang-orang Khawarij yang datang kepadanya dan taubat di tangannya setelah mereka berusaha menentang dan mencacinya. Ia juga menolong qabilah al-Masyaikh al-Afif. Dan bergabung juga dengannya qabilah Kindah dan Madij. Mereka meninggalkan madzhab Ibadhiy dan bercampur dengan orang-orang yang datang dari Iraq.

Kaum Khawarij tidak mengakui atau mengingkari Imam al-Muhajir berasal dari keturunan Nabi Muhammad saw. Untuk memantapkan kepastian nasabnya sebagai keturunan Rasulullah saw, sayyid Ali bin Muhammad bin Alwi berangkat ke Iraq. Di sanalah ia beroleh kesaksian lebih dari seratus orang terpercaya dari mereka yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji. Kesaksian mereka yang mantap ini lebih dimantapkan lagi di Makkah dan beroleh kesaksian dari rombongan haji Hadramaut sendiri. Dalam upacara kesaksian itu hadir beberapa orang kaum Khawarij, lalu mereka ini menyampaikan berita tentang kesaksian itu ke Hadramaut.

(64)

341hijriyah. Kedua, Nasabah Abu Hasan Najmuddin Ali bin Abi al-Ghonaim Muhammad bin Ali al-Amiri al-Bashri, wafat tahun 443. Di antara kitabnya adalah al-Majdi wa al-Mabsuth wa al-Musajjar. Ketiga, al-Allamah

Muhammad bin Ja‟far al-Ubaidili dalam kitabnya Tahdzib al-Ansab, wafat

tahun 435 hijriyah. Keempat, al-Allamah al-Yamani Abu al-Abbas al-Syarajji dalam kitabnya Thabaqat al-Khawash Ahl al-Shidqi wa al-Ikhlas. Di dalamnya disebutkan mengenai hijrahnya Saadah keluarga al-Ahdal dan Bani Qudaimi, disebutkan awal pertama mereka tinggal di daerah Wadi Saham, Wadi Surdud, dan Hadramaut.

Dan terdapat pula dari beberapa ulama nasab yang mempunyai catatan-catatan ringkas mengenai nasab keturunan Rasulullah yang mulia ialah al-Imam al-Nasabah al-Murtadho al-Zubaidi dan al-Nasabah Ibnu Anbah pengarang kitab Umdah al-Thalib. Selain mereka banyak pula yang mengadakan penelitian tentang nasab keturunan Rasulullah saw yang mulia, hasilnya mereka mendapatkan kebenaran yang tidak diragukan lagi,

sebagaimana hukum syar‟i yang telah menjelaskan masalah interaksi sosial

dan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan keberadaan mereka dalam bentuk dalil-dalil yang kuat yang menjelaskan kemuliaan nasab mereka, serta kepemimpinan mereka di wilayah Arab, Hindi, Turki, Afrika Timur, Asia, semuanya merupakan dalil yang kuat tentang keberadaan mereka.

(65)

Ibnu Abi al-Hissan, Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu Samuroh, Ibnu Kabban, Bamahramah, Ibnu Fahd, Ibnu Aqilah, al-Marwani al-Tarimi, dan lainnya

sebagaimana dijelaskan oleh Sayid Dhiya‟ Shahab dalam bukunya „al-Imam

al-Muhajir‟. Terakhir, nasab keturunan Rasulullah saw dibahas oleh Sayid

Abdullah bin Hasan Bilfaqih dalam kitab Tafnid al-Maza‟im, Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad dalam kitab al-Qaul al-Fashlu dan al-Syamil fi Tarikh Hadramut, Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah al-Saqqaf dalam kitab

Badhoi‟ al-Tabut.

Dengan demikian mantaplah sudah pengakuan masyarakat luas mengenai keutamaan para kaum ahlul-bait sebagai keturunan Rasulullah saw melalui puteri beliau Siti Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib. Rasulullah

saw bersabda : „Setiap putra ibu akan bergabung nasabnya kepada

ashabahnya (pihak ayah), kecuali anak-anak Fathimah, Akulah wali mereka

dan akulah ashabah mereka‟. Al-allamah Yusuf bin Ismail al-Nabhany dalam

bukunya Riyadhul Jannah mengatakan : „Kaum Sayyid Baalawi oleh umat Muhammad saw sepanjang zaman dan di semua negeri telah diakui bulat sebagai ahlul-bait nubuwah yang sah, baik ditilik dari sudut keturunan maupun kekerabatan, dan mereka itu adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu pengetahuan agamanya, paling banyak keutamaannya dan paling tinggi

budi pekertinya‟.

(66)

hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut dan mendapat tiga orang putera yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Dalam tahun-tahun terakhir abad ke 6 H keturunan Ismail (salah satu keturunannya ialah Syekh Salim Bin Bashriy) dan Jadid (salah satu keturunannya ialah al-Imam Abi Jadid Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Jadid) punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal dengan kaum Sayyid Alawiyin.

B. Penyebaran Habaib di Wilayah Nusantara

Kita dapat menyaksikan bahwa sekarang anak cucu dan keturunan Imam Ahmad bin Isa menyebar di berbagai pelosok Hadramaut, dan di daerah pesisir lautan Hindia, seperti Asia Tenggara, India dan Afrika Timur. Para

da‟i dan ulama-ulama mereka mempunyai peranan yang besar di tanah air

mereka yang baru. Karena itu para penguasa, sultan, dan penduduk-penduduknya memuliakan mereka karena karya mereka yang baik dan agung.

Para sayyid Alawiyin menyebarkan da‟wah Islamiyah di Asia Tenggara

melalui dua tahap, pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India. Di antara yang hijrah ke India adalah seorang alim

syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota „Kanur‟ dan menikahi anak

(67)

Lalu syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia hijrah atas permintaan kakeknya syarif Syeikh bin Abdullah Alaydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi gelar

„Azhamat Khan‟. Dari keluarga inilah asal keturunan penyebar Islam di Jawa

yang disebut dengan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan perjalanannya ke Indonesia, yaitu daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh. Menurut Prof. Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Filipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini.

Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa sayid al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa sayid Bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus.

(68)

mereka jadi ulama. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assaqaf, Alkaf, Bafaqih, Alaydrus, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Al-Haddad, Bin Smith, Bin Syahab, Qadri, Jamalullail, Assiry, Aidid, Jufri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Basyaiban, Ba‟abud, Al-Zahir, Bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan almarhum sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar.

Semuanya adalah dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Ahmad bin Isa al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa Muhajir bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja‟far al-Shaddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib. As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rasulullah saw.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...