• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberculo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberculo"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

TUBERKOLOSIS PARU

DI INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)

RUMAH SAKIT BALADHIKA HUSADA (DKT) JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN KOMPREHENSIF

Oleh

Istna Abidah Mardiyah NIM 152310101070

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER

(2)
(3)
(4)

BAB 1. KONSEP DASAR PENYAKIT

1.1 Anatomi Fisiologi Paru 1.1.1 Anatomi Paru

Paru-paru terletak pada rongga dada yang ujungnya berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru terbagi menjadi dua yaitu, paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi beberapa subbagian menjadi sekitar sepuluh unit terkecil yang disebut bronchopulmonary segments. Paru-paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut mediastinum (Sherwood, 2001).

Bagian paru paru terdiri dari beberapa organ sebagai berikut : 1. Trakea

Trakea atau tenggorokan merupakan bagian paru-paru yang berfungsi menghubungkan larynk dengan bronkus. Trakea pada manusia teridiri dari jaringan tulang rawan yang dilapisi oleh sel bersilia. Silia yang terdapat pada trakea ini berguna untuk menyaring udara yang akan masuk ke dalam paru-paru.

2. Bronkus

(5)

bagian kanan. Bronkus bagian sebelah kanan bentuknya lebih lebar, pendek serta lebih lurus, sedangkan bronkus bagian sebelah kiri memiliki ukuran lebih besar yang panjangnya sekitar 5cm. Jika dilihat dari asalnya bronkus dibagi menjadi dua, yaitu bronkus premier dan bronkus sekunder.

3. Bronkiolus

Bronkiolus merupakan bagian dari percabangan saluran udara dari bronkus. Letaknya tepat di ujung bronkus. Bronkiolus mempunyai diameter kurang lebih 1mm atau bisa lebih kecil. Bronkiolus berfungsi untuk menghantarkan udara dari bronkus masuk menuju ke alveoli serta juga sebagai pengontrol jumlah udara yang akan nantinya akan di distribusikan melalui paru-paru oleh konstriksi dan dilatasi

4. Alveolus

Alveolus merupakan kantung kecil yang terletak di dalam paru-paru yang memungkinkan oksigen dan karbondioksida untuk bisa bergerak di antara paru-paru dan aliran darah. Di dalam tubuh manusia terdapat kurang lebih hampir 300 juta alveoli untuk menyerap oksigen yang berasal dari udara. Alveolus berfungsi untuk pertukaran karbon dioksida (CO2) dengan oksigen (O2).

5. Pleura

Pleura adalah selaput yang fungsinya membungkus paru-paru serta melindungi paru-paru dari gesekan-gesekan yang ada selama proses terjadinya respirasi. Ada dua lapisan pada Pleura paru-paru manusia diantarnya adalah:

a. Pleura visceral adalah bagian dalam yang membungkus langsung paru b. Pleura parietal adalah pleura bagian luar yang menempel di rongga dada. 1.1.2 Fisiologi Paru

(6)

karbondioksida (Mc. Ardle, 2006). Terdapat empat mekanisme kerja paru-paru, antara lain sebagai berikut :

a. Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara alveoli dan atmosfer

b. Difusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah

c. Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan tubuh d. Pengaturan ventilasi (Guyton, 2007).

1.2 Definisi Penyakit

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang biasanya menyerang organ parenkim paru (Brunner & Suddarth, 2002). Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang paru-paru biasanya ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular dari penderita kepada orang lain (Santa, dkk, 2009).

Menurut Depkes (2007) Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

Tuberkulosis (TB) paru adalah infeksi pada paru-paru dan kadang pada struktur-struktur disekitarnya, yang disebabkan oleh Mycrobacterium tuberculosis (Saputra, 2010). Sedangkan menurut Rubenstein, dkk (2007), Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri berbentuk batang yang tahan asam-alkohol (acid-alcohol-fast bacillus/AAFB) Mycrobacterium tuberkulosis terutama mengenai paru, kelenjar getah bening, dan usus.

TB paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis suatu basil yang tahan asam yang menyerang parenkim paru atau bagian lain dari tubuh manusia melalui droplet (bersin, batuk dan berbicara) yang dapat menyerang lewat udara dari penderita ke orang lain.

1.3 Epidemiologi

(7)

pada tahun 2012 diperkirakan terdapat 450.000 orang yang menderita TB MDR dan 170.000 diantaranya meninggal dunia.

Di Indonesia berpeluang mengalami penurunan angka kesakitan dan kematian akibat TB menjadi setengahnya di tahun 2015 apabila dibandingkan dengan data tahun 1990. Angka prevalensi TB pada tahun1990 sebesar 443 per 100.000 penduduk, pada tahun 2015 ditargetkan menjadi 280 per 100.000 penduduk. Berdasarkan hasil survei prevalensi TB tahun 2013, prevalesi TB Paru smear positif per 100.000 penduduk umur 15 tahun ke atas sebesar 257. Secara umum angka notifikasi kasus BTA positif baru da semua kasus dari tahun ke tahun di Indonesia mengalami peningkatan. Angka notifikasi kasus (case notification rate/ CNR) pada tahun 2015 untuk semua kasus sebesar 117 per 100.000 penduduk (Depkes RI., 2016).

1.4 Etiologi

Penyebab tuberkulosis adalah bakteri mycrobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um (Amin dan Asril, 2007). Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri yang bersifat aerob sehingga sebagian besar kuman menyerang jaringan yang memiliki konsentrasi tinggi oksigen seperti paru-paru. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA).

Mycobacterium tuberculosis rentan atau cepat mati terhadap paparan sinar matahari langsung, namun dapat bertahan hidup sampai beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini bisa mengalami dorman atau inaktif (tertidur lama) selama beberapa tahun. Penyebaran mycobacterium tuberculosis yaitu melalui droplet nukles, kemudian dihirup oleh manusia melalui udara dan menginfeksi organ tubuh terutama paru-paru. Diperkirakan, satu orang menderita TB paru BTA positif yang tidak diobati akan menulari 10-15 orang setiap tahunnya. (Depkes RI, 2002; Aditama, 2002).

1.5 Klasifikasi

(8)

1. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena : b. Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.

c. Tuberkulosis Ekstra Paru

Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

1. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis pada TB Paru a. Tuberkulosis paru BTA positif

1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.

2) satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.

3) Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan kultur atau biakan kuman TB positif.

4) satu atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

b. Tuberkulosis paru BTA negatif

Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: 1) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif. 2) Foto toraks normal tidak menunjukkan gambaran tuberkulosis. 3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

4) Ditentukan atau dipertimbangkan oleh dokter untuk diberi pengobatan.

2. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit

(9)

gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan umum pasien buruk.

b. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:

1) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.

2) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat kelamin.

3. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu :

a. Kasus Baru

Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).

b. Kasus Kambuh (relaps)

Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).

c. Kasus setelah putus berobat (default)

Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

1.6 Patofisiologi/Patologi

(10)

Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.Daya penularan seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Faktor yang kemungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Virus masuk melalui saluran pernapasan dan berada pada alveolus. Basil ini langsung membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit memfagosit bakteri namun tidak membunuh, sesudah hari-hari pertama leukosit diganti dengan makrofag. Alveoli yang terserang mengalami konsolidasi. Makrofag yang mengadakan infiltrasi bersatu menjadi sel tuberkel epiteloid. Jaringan mengalami nekrosis keseosa dan jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa dan membentuk jaringan parut kolagenosa, Respon radang lainnya adalah pelepasan bahan tuberkel ke trakeobronkiale sehingga menyebabkan penumpukan sekret. Tuberkulosis sekunder muncul bila kuman yang dorman aktif kembali dikarenakan imunitas yang menurun (Price dan Lorraine, 2007; Amin dan Asril, 2007).

1.7 Manifestasi Klinis

Menurut Alsagaff dan Mukty (2006) tanda dan gejala tuberkulosis dibagi atas 2 (dua) golongan yaitu gejala sistemik dan gejala respiratorik.

a. Gejala Sistemik adalah: 1) Badan Panas

Panas badan merupakan gejala pertama dari tuberkulosis paru, sering kali panas badan sedikit meningkat pada siang maupun sore hari. Panas badan meningkat atau menjadi lebih tinggi bila proses berkembang menjadi progresif sehingga penderita merasakan badannya hangat atau muka terasa panas.

(11)

Menggigil dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat, tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat.

3) Keringat Malam

Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk penyakit tuberkulosis paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut, kecuali pada orang-orang dengan vasomotor labil, keringat malam dapat timbul lebih dini. Nausea, takikardi dan sakit kepala timbul bila ada panas.

4) Malaise

Karena tuberkulosis bersifat radang menahun, maka dapat terjadi rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan makin kurus, sakit kepala, mudah lelah.

b. Gejala Respiratorik 1) Batuk

Batuk baru timbul apabila proses penyakit telah melibatkan bronchus. Batuk mula-mula terjadi oleh karena iritasi bronchus, selanjutnya akibat adanya peradangan pada bronchus, batuk akan menjadi produktif. Batuk produktif ini berguna untuk membuang produk-produk ekskresi peradangan. Dahak dapat bersifat mukoid atau purulen.

2) Sekret

Suatu bahan yang keluar dari paru sifatnya mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi mukopurulen/kuning atau kuning hujau sampai purulen dan kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi pengejuan dan perlunakan.

3) Nyeri Dada

Gejala ini timbul apabila sistem persyarafan yang terdapat di pleura terkena, gejala ini dapat bersifat lokal atau pleuritik.

4) Ronchi

(12)

1.8 Pemeriksaan Penunjang

1. Anamnesis pada pemeriksaan fisik

2. Laboratorium darah rutin ( LED normal atau meningkat,limfositosis) 3. Foto thoraks PA dan lateral.gambaran foto toraks yang menunjang

diagnosis TB, yaitu :

a. Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah.

b. Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular) c. Adanya kavitas, tunggal atau ganda

d. Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru e. Adanya klasifikasi

f. Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian g. Bayangan milier

4. Pemeriksaan sputum BTA

pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru, namun pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30-70 persen pasien TB yang dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini

5. Tes PAP (peroksidase anti peroksidase)

merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staning untuk menentukan adanyan IgG spesifik terhadap basil TB

6. Tes mantoux / tuberkulin

7. Teknik polymerase chain reaction

deteksi DNA kuman secara spesifik melalui aplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam spesimen. Juga dapat mendeteksi adanya retensi

8. Becton Dickinson Diagnostik Instrumen System (BACTEC)

deteksi grouth index berdasarkan CO2 yang di hasilkan dari metabolisme asam lemak oleh M. Tuberculosis

(13)

deteksi respon humoral memakai antigen-antibody yang terjadi. Pelaksanaannya rumit dan antibody dapat menetap dalam waktu lama sehingga menimbulkan masalah

1.9 Penatalaksanaan

Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan tambahan. Obat utama yang dipakai dalam terapi Tuberculosis Paru antara lain sebagai berikut :

1.9.1 Rifampisin

Rifampisin ; 10 mg/ kg BB, maksima l 600mg 2-3X/ minggu atau (BB > 60 kg : 600 mg, BB 40-60 kg : 450 mg, BB < 40 kg : 300 mg, Dosis intermiten 600 mg / kali)

Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat, air mata, air liur. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak berbahaya. Hal ini harus diberitahukan kepada penderita agar dimengerti dan tidak perlu khawatir.

Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan simtomatik ialah :

a. Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang

b. Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah kadang kadang diare

c. Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan 1.9.2 Isoniazid (INH)

Dosis yang diberikan untuk obat INH adalah 5 mg/kg BB, maksimal 300mg, 10 mg /kg BB 3 X seminggu, 15 mg/kg BB 2 X semingggu atau (300 mg/ hari untuk dewasa. lntermiten : 600 mg / kali).

(14)

Efek samping berat dapat berupa hepatitis yang dapat timbul pada kurang lebih 0,5% penderita. Bila terjadi hepatitis imbas obat atau ikterik, hentikan OAT dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada keadaan khusus.

1.9.3 Pirazinamid

Obat ini digunakan pada saat fase intensif 25 mg/kg BB, 35 mg/kg BB 3 X semingggu, 50 mg /kg BB 2 X semingggu atau : BB > 60 kg : 1500 mg, BB 40-60 kg : 1 000 mg, BB < 40 kg : 750 mg

Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus). Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan kadangkadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout, hal ini kemungkinan disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat. Kadang-kadang terjadi reaksi demam, mual, kemerahan dan reaksi kulit yang lain. 1.9.4 Streptomisin

Pada obat streptomisin ini di berikan dosis 15mg/kgBB atau (BB >60kg : 1000mg, BB 40 - 60 kg : 750 mg, BB < 40 kg : sesuai BB). Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur penderita.

1.9.5 Etambutol

Untuk obat ini diberikan fase intensif dengan dosis 20mg /kg BB, fase lanjutan 15 mg/kg BB, 30mg/kg BB 3X seminggu, 45 mg/kg BB 2 X seminggu atau : (BB >60kg : 1500 mg, BB 40 -60 kg : 1000 mg, BB < 40 kg : 750 mg, Dosis intermiten 40 mg/ kgBB/ kali).

(15)

1.10 Pathway

(16)

TUBERKOLOSIS PARU

2.1 Pengkajian

Tujuan dari pengkajian atau anamnesa merupakan kumpulan informasi subyektif yang diperoleh dari apa yang dipaparkan oleh pasien terkait dengan masalah kesehatan yang menyebabkan pasien melakukan kunjungan ke pelayanan kesehatan (Niman, 2013). Identitas pasien yang perlu untuk dikaji meliputi:

a. Meliputi nama dan alamat

b. Jenis kelamin : TB paru bisa terjadi pada pria dan wanita

c. Umur: paling sering menyerang orang yang berusia antara 15 – 35 tahun. d. Pekerjaan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara tingkat

pendapatan, jenis pekerjaan 2.1.1 Pengkajian Riwayat Keperawatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang:

pengkajian ini dilakukan untuk mendukung keluhan utama. Lakukan pertanyaan yang bersifat ringkas sehingga jawaban yang diberikan klien hanya kata “ya” atau “tidak” atau hanya dengan anggukan kepala atau gelengan.

b. Riwayat Kesehatan Sebelumnya:

pengkajian yang mendukung adalah mengkaji apakah sebelumnya klien pernah menderita TB paru atau penyakit lain yang memperberat TB Paru.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga:

secara patologi TB Paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga lainnya sebagai faktor predisposisi penularan di dalam rumah.

d. Riwayat Tumbuh Kembang:

(17)

e. Riwayat Sosial Ekonomi:

Apakah pasien suka berkumpul dengan orang-orang yang likungan atau tempat tinggalnya padat dan kumuh karena kebanyakan orang yang terkena TB Paru berasal dari likungan atau tempat tinggalnya padat dan kumuh itu.

f. Riwayat Psikologi:

Bagaimana pasien menghadapi penyakitnya saat ini apakah pasien dapat menerima, ada tekanan psikologis berhubungan dengan sakitnya itu. Kita kaji tingkah laku dan kepribadian, karena pada pasien dengan TB Paru dimungkinkan terjadi perubahan tingkah laku seperti halnya berhubungan dengan aib dan rasa malu dan juga ada rasa kekhawatiran akan dikucilkan dari keluarga dan lingkungan akibat penyakitnya sehingga dapat mengakibatkan orang tersebut menjauhkan diri dari semua orang. 1.1.2 Pengkajian Berdasarkan NANDA

a. Domain Promosi Kesehatan

1) Arti sehat dan sakit bagi pasien.

2) Pengetahuan status kesehatan pasien saat ini.

3) Perlindungan terhadap kesehatan: program skrining, kunjungan ke pusat pelayanan kesehatan, diet, latihan dn olahraga, manajemen stress, faktor ekonomi.

4) Pemeriksan diri sendiri: riwayat medis keluarga, pengobatan yang sudah dilakukan.

5) Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan. 6) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan. b. Domain Nutrisi

1) Kebiasaan jumlah makanan.

2) Jenis dan jumlah (makanan dan minuman)

3) Pola makan 3 hari terakhir/ 24 jam terakhir, porsi yang dihabiskan, nafsu makan.

(18)

6) Faktor pencernaan: nafsu makan, ketidaknyamanan, rasa dan bau, gigi, mukosa mulut, mual atau muntah, pembatasan makanan, alergi makanan.

7) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (berat badan saat ini dan SMRS)

c. Domain Eliminasi dan Pertukaran

1) Kebiasaan pola buang air kecil: frekuensi, jumlah (cc), wana, bau, nyeri, mokturia, kemampuan menontrol BAK, adanya perubahan lain.

2) Kebiasaan pola buang air besar: frekuensi, jumlah (cc), warna, bau, nyeri, mokturia, kemampuan mengontrol BAK, adanya perubhana lain.

3) Keyakinan budaya dan kesehatan.

4) Kemampuan perawatan diri: ke kamar mandi, kebersihan diri. 5) Penggunaan bantuan untuk ekskresi

6) Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (abdmen, genetalia, rectum, prostat)

d. Domain Aktivitas / Istirahat

1) Aktivitas kehidupan sehari-hari

2) Olahraga: tipe, frekuensi, durasi, da inetensitas. 3) Aktivitas menyenangkan

4) Keyakinan tentang latihan dan olahraga

5) Kemampuan untuk merawat diri sendiri (berpakaian, mandi, makan, kamar mandi)

6) Mandiri, bergantung atau perlu bantuan. 7) Penggunaan alat bantu (kruk, kaki tiga)

8) Data pemeriksaan fisik (pernapasan, kardiovaskular, muskoloskeletal, neurologi)

(19)

10) Penggunaan alat mempermudah tidur (obat-obatan) 11) Jadwal istirahat dan relaksasi

12) Gejala gangguan pola tidur

13) Faktor yang berhubungan (nyeri, suhu, proses penuaan dll) 14) Data pemeriksaan fisik (lesu, kantung mata, keadaan umum,

mengantuk)

e. Domain Persepsi / Kognisi

1) Gambaran tentang indra khusus (penglihatan, penciuman, pendengar, perasa, peraba)

2) Penggunaan ketidaknyaman nyeri (pengkajian nyeri secara komprehensif)

3) Keyakinan budaya terhadap nyeri

4) Tingkat pengetahuan klien terhadap nyeri dan pengetahuan untuk mengontrol dan mengatasi nyeri

5) Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (neurologis, ketidaknyamanan)

f. Domain Persepsi Diri

1) Keadan sosial: pekerjaan, situasi keluarga, kelompok sosial. 2) Identitas Personal: penjelasan tentang diri sendiri, kekuatan dan

kelemahan yang dimiliki

3) Keadaan fisik, segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh (yang disukai dan tidak)

4) Harga diri: perasaan mengenai diri sendiri.

5) Ancaman terhadap konsep diri (sakit, perubahan peran). 6) Riwayat berhubungan denan masalah fisik dan tau psikologi. 7) Data meneriksaan fisik yang berkaitan (mengurung diri, murung,

gidak mau berintaksi) g. Domain Hubungan Peran

1) Gambaran tentang peran berkaitan degan keluarga, teman, kerja 2) Kepuasan/ ketidak puasaan menjalankan peran

(20)

4) Petingnya keluarga

5) Struktur dan dukungan keluarga

6) Proses pengambilan keputusan keluarga 7) Pola membesarkan anak

8) Hubungan dengan orang lain 9) Orang terdekat dengan klien

10) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan h. Domain seksualitas

1) Masalah atau perhatian seksual

2) Menstruasi, jumlah anak, jumlah suami/istri

3) Gambaran perilaku seksual (perilaku seksual yang aman, peukan, sentuhan, dll)

4) Pengetahuan yang berhubungan dengan seksualitas dan reprosuksi

5) Efek terhadap kesehatan

6) Riwayat yang berhubungan dengan masalah fisik dan psikologi 7) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (KU, genetalia, payudara,

rektum)

i. Domain Koping / Toleransi Stress

1) Sifat pencetus stress yang dirasakan baru-baru ini 2) Tingkat stress yang dirasakan

3) Gambaran respons umum dan khusus terhadap stress

4) Strategi mengatsai stress yang biasa digunakan dan keefektifannya.

5) Strategi koping yang biasa digunakan

6) Pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress 7) Hubungan antara manajemen stress dengan keluarga. j. Domain Prinsip Hidup

1) Latar belakang budaya/ etnik

(21)

3) Tujuan kehidupan bagi pasien 4) Pentingnya agama/ spiritualitas

5) Dmapak masalah kesehatan terhadap spiritualitas

6) Keyakinan dalam budaya (mitos, kepercayaan, larangan, adat) yang dpat mempengaruhi kesehatan

k. Domain Keamanan / Perlindungan 1) Infeksi

2) Cedera fisik 3) Perilaku kekerasan 4) Bahaya lingkungan 5) Proses pertahanan tubuh 6) Temoregulasi

l. Domain Kenyamanan

1) Berisikan Kenyamanan fisik, lingkungan dan sosial pasien m. Domain Pertumbuhan / Perkembangan

1) Berisi tentang pertumbuhan dan perkembangan klien 2.1.3 Pemeriksaan Fisik

1. Keadaaan umum

Keadaan umum pada klien dengan TB Paru dapat dilakukan secara selintas pandang dengan menilai keadaan fisik tiap bagian tubuh. Selain itu, perlu dinilai secara umum tentang kesadaran klien yang terdiri dari compos mentis, apatis, somnolen, sopo, soporokoma, atau koma. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan TB Paru biasanya di dapatkan peningkatan suhu tubuh secara signifikan, frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak nafas, denyut nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernafasan dan tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya penyakit seperti hipertensi.

2. Pemeriksaan fisik

(22)

B6 (Bone) serta pemeriksaan yang fokus pada B2 dengan pemeriksaan menyeluruh sistem pernafasan.

Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )

1. B1 (Breathing) : pemeriksaan fisik pada klien TB Paru merupakan pemeriksaan fokus yang terdiri atas inspeksi, palpasi,perkusi dan auskultasi.

Inspeksi

Bentuk dada dan gerakan pernafasan. Sekilas pandang klien dengan TB Paru biasanya tampak kurus sehingga terlihat adanya penurunan proporsi diameter bentuk dada antero-posterior dibandingkan proporsi diameter lateral. Apabila ada penyulit dari Tb Paru seperti adanya efusi pleura yang masif, maka terlihat adanya ketidaksimetrisan rongga dada, pelebaran intercostal space (ICS) pada sisi yang sakit. TB Paru yang disertai etelektasis paru membuat bentuk dada menjadi tidak simetris, yang membuat penderitanya mengalami penyempitan intercostal space (ICS) pada sisi yang sakit.

Palpasi

Palpasi trakhea. Adanya pergeseran trakhea menunjukan-meskipun tetapi tidak spesifik-penyakit dari lobus atau paru. Pada TB Paru yang disertai adanya efusi pleura masif dan pneumothoraks akan mendorong posisi trakhea kearah berlawanan dari sisi sakit.

Gerakan dinding thoraks anterior/ekskrusi pernafasan. TB Paru tanpa komplikasi pada saat dilakukanpalpasi, gerakan dada saat bernafas biasanya normal dan seimbang antara kiri dan kanan.

Getaran suara (fremitus vokal). Getaran yang terasa ketika perawat meletakkan tangannya di dada klien saat klien berbicara adalah bunyi yang dibangkitkan oleh penjalaran dalam laring arah distal sepanjang pohon bronkhial untuk membuat dinding dada dalam gerakan resonan, terutama pada bunyi konsonan.

(23)

Pada klien dengan TB Paru minimal tanpa komplikasi, biasanya akan didapatkan bunyi resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada klien TB Paru yang disertai komplikasi seperti efusi pleura akan didapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sakit sesuai banyaknya akumulasi cairan di rongga pleura.

Auskultasi

Pada klien dengan TB paru didapatkan bunyi nafas tambahan (ronkhi) pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksaan untuk mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana didapatkan adanya ronkhi. Bunyi yang terdengar melalui stetoskop ketika klien berbicara disebut sebagai resonan vokal.

2. B2 (Blood) : pada klien dengan TB paru pengkajian yang didapat meliputi :

Inspeksi : inspeksi tentang adanya parut dan keluhan kelemahan fisik

Palpasi : denyut nadi perifer melemah

Perkusi : batas jantung mengalami pergeseran pada TB Paru dengan efusi pleura masif mendorong ke sisi sehat.

Auskultasi : tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak didapatkan.

3. B3 (Brain) : kesadaran biasanya compos mentis, ditemukan adanya sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat. Pada pengkajian objektif, klien tampak dengan wajah mringis, menangis,merintih, meregang, dan menggeliat. Saat dilakukan pengkajian pada mata, biasanya didapatkan adanya konjungtiva anemis pada TB Paru dengan hemoptoe masif dan kronis, dan sklera ikterik pada TB paru dengan gangguan fungsi hati.

(24)

diinformasikan agar terbiasa dengan urine yang berwarna jingga pekat dan berbau yang menandakan fungsi ginjal masih normal sebagai ekskresi karena meminum OBAT terutama rifampisin.

5. B5 (Bowel) : klien biasanya mengalami mual,muntah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.

6. B6 (Bone) : aktivitas sehari-hari berkurang banyak pada klien dengan TB Paru. Gejala yang muncul antara lain kelemahan, kelelahan,

3. Radiologi TB paru militer a. TB paru militer akut

b. TB paru militer subakut (kronis) 4. Pemeriksaan Laboratorium

2.1.5 Analisa Data

Tabel 2.1 Konsep Analisa Data

No Data Masalah Etiologi Paraf

1.

DO :

1. pasien tampak batuk 2. suara terdengar serak DS :

1. pasien mengatakan batuk berdahak

2. pasien mengatakan dahak tidak bisa keluar.

3. Pasien mengatakan sesak

(25)

nafas

4. Auskultasi paru : Terdengar suara ronkhi pada paru kanan

2.

1. pasien mengatakan nyeri pada dada saat batuk. 2. Pengkajian nyeri P: batuk

menetap Q: menusuk R: dada, S: 5, T: timbul kadang-kadang saat batuk.

Nyeri akut Nyeri akut

Agen cedera

3. Makan tampak tidak habis 1 porsi

(26)

DS :

1. Pasien mengatakan nafsu makan menurun

2. Pasien mengeluh mual 3. Pasien mengatakan badan

terasa lemas

4. DO:

1. Pasien sering batuk di depan orang lain tanpa menutup mulut.

2. BTA positif DS:

1. Pasien mengatakan sering kontak dengan orang lain 2. Pasien mengatakan bahwa

saat batuk di depan orang lain tidak menutup mulut 3. Membuang dahak pada

plastik yang diikat dan dibuang ketempat sampah

(27)

hidung DS:

1. klien mengatakan nafasnya terasa sesak

2. Klien mengeluh susah tidur. 3. Klien mengatakan anaknya

batuk-batuk , berdahak.

Pola pernafasan abnormal.

6.

DO :

1. Kantong mata bawah hitam. 2. Konjungtiva anemis.

3. Pasien tampak lemas.

4. Pasien sering terbangun pada malam hari.

DS :

1. Pasien mengatakan tidak dapat tidur nyenyak dan sering terbangun karena batuk.

2. Pasien tidur ± 6-7 jam sehari dan tidur siang ± 1-2 jam

Gangguan pola

(28)

nafas

3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia terhadap gangguan kesehatan atau proses kehidupan, atau kerentanan respons dari seorang individu, keluarga, kelompok, atau komunitas (Herdman, 2015). Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan TB Paru, yaitu:

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakheal/faringeal.

2. Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan menurunnya ekspresi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura. 3. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan kerusakan membran

alveolar-kapiler.

4. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan keletihan, anoreksia, dispnea, peningkatan metabolisme tubuh.

5. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan adanya batuk, sesak nafas, dan nyeri dada.

6. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah)

7. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas) dan prognosis penyakit yang belum jelas.

(29)

3.3 Intervensi

Tabel 3.2 Konsep Intervensi Keperawatan Diagnosa :

Domain 11 : Keamanan/perlindungan. Kelas 2. Cedera fisik (00031)

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

Definisi: ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran nafas untuk mempertahankan jalan nafas.

NOC

Kriteria Hasil :

Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam masalah ketidakefektifan bersihahan jalan nafas dapat teratasi.

(0410) status pernafasan : kepatenan jalan nafas

Definisi : saluran trakeobronkial yang terbuka dan lancar untuk pertukaran gas.

1. Frekuensi pernafasan dari skala 1(deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

2. kedalaman inspirasi dari skala 1(deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

3. Kemampuan untuk mengeluarkan sekret dari skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal)

ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal) NIC

(3160) penghisapan lendir pada jalan nafas

Definisi : membuang sekret dengan memasukkan kateter suksion kedalam mulut, nasofaring atau trakhea pasien

1. Lakukan tindakan cuci tangan.

2. Lakukan tindakan pencegahan umum.

(30)

4. Tentukan perlunya suktion mulut atau trakhea.

5. Aukultasi suara nafas sebelum dan setelah tindakan suction.

6. Aspirasi nasopharingeal dengan kanul suction sesuai dengan kebutuhan 7. Berikan sedatif sebagaimana mestinya.

8. Masukan nasopharingeal airway untuk melakukan suction nasotracheal sesuai kebutuhan

9. Instruksikan pada pasien untuk menarik nafas dalam sebelum dilakukan suction nasotracheal dan gunakan oksigen sesuiai kebutuhan.

Diagnosa :

Domain 4: Aktivitas/ Istirahat

Kelas 4. Respons Kardiovaskuler/ Pulmonal (00032) Ketidakefektifan pola nafas.

Definisi: Inspirasi dan/ atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi adekuat. NOC

Kriteria Hasil :

setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam masalah ketidakefektifan pola nafas dapat teratasi.

(0403) status pernafasan : ventilasi.

Definisi : keluar masuknya udara dari dan kedalam paru.

1. Frekuensi pernafasan dari sekala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

2. Irama pernafasan dari sekala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

3. Kedalaman inspirasi dari sekala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

NIC

(31)

Definisi: fasilitas kepatenan jalan nafas.

1. Buka jalan nafas dengan teknik chin lift atau jaw thrust sebagai mana mestinya.

2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.

3. Identifikasi kebutuhan aktual/potensial pasien untuk memasukkan alat membuka jalan nafas.

4. Masukkan alat (NPA) atau (OPA) sebagaimana mestinya. 5. Lakukan fisioterapi dada sebagaimana mestinya.

Diagnosa :

Domain 3: Eliminasi dan pertukaran

Kelas 4. Fungsi respirasi (00030) Gangguan pertukaran gas

Definisi: kelebihan atau defisit oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolar-kapiler

NOC

Kriteria Hasil:

Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam gangguan pertukaran gas kembali normal.

(0402) status pernafasan : pertukaran gas Definisi:

pertukaran karbondioksida dan oksigen di alveoli untuk mempertahankan konsentrasi darah arteri.

1. Tekanan parsial oksigen didarah arteri dari skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal).

2. Tekanan parsial karbondioksida didarah arteri dari skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal).

(32)

4. Saturasi oksigen dari skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal).

NIC

(3140) Manajemen jalan nafas

Definsi: fasilitas kepatenan jalan nafas. Aktivitas-aktivitas:

1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

2. Motivasi pasien untuk bernafas pelan, dalam, berputar, dan batuk 3. Posisikan untuk meringankan sesak nafas

4. Monitor status pernafasan dan oksigenasi sebagaimana mestinya. Diagnosa :

Domain 2: Nutrisi

Kelas 1. Makan (00002) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

Definisi: asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik. NOC

Kriteria Hasil:

Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam intake nutrisi klien terpenuhi. (1009) status nutrisi : asupan nutrisi.

Definisi:

asupan gizi untuk memenuhi kebutuhan - kebutuhan metabolik

1. Asupan protein dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4 (sebagian besar adekuat)

2. Asupan lemak dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4 (sebagian besar adekuat)

3. Asupan karbohidrat dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4 (sebagian besar adekuat)

(33)

5. Asupan mineral dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4 (sebagian besar adekuat)

6. Asupan zat besi dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4 (sebagian besar adekuat)

7. Asupan kalsium dari skala 1 (tidak adekuat)ditingkatkan menjadi skala 4 (sebagian besar adekuat)

NIC

(1100) manajemen nutrisi

Definisi: menyediakan dan meningkatkan intake nurisi yang seimbang. akvifitas-aktivitas:

1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan gizi

2. Identifikasi adanya elergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien. 3. Tentukan apa yang menjadi prefensi makanan bagi pasien.

4. Instruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi.

5. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi.

6. Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan yang lebih sehat.

Diagnosa :

Domain 4: aktivitas/istirahat

Kelas 1. Tidur/istirahat (000198) Gangguan pola tidur

Definisi: interupsi jumlah waktu dan kualitas tidur akibat faktor eksternal. NOC

Kriteria Hasil:

Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam masalah gangguan pola tidur dapat teratasi.

(0003) istirahat

(34)

1. Pola istirahat dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi skala 5 (tidak terganggu)

2. kualitas istirahat dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi skala 5 (tidak terganggu)

3. beristirahat secara fisik dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi skala 5 (tidak terganggu)

4. beristirahat secara mental dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi skala 5 (tidak terganggu)

NIC

(1850) peningkatan tidur

Definisi: memfasilitasi tidur/siklus bangun teratur. Aktivitas-aktivitas:

1. tentukan pola tidur pasien

2. jelaskan pentingnya tidur yang cukup selama penyakit dan lain-lain 3. monitor pola tidur pasien dan catat kondisi fisik.

4. Sesuaikan lingkungan untuk meningkatkan tidur.

5. Mulai/terapkan langkah-langkah kenyamanan seperti pijat,pemberian posisi dan sentuhan efektif.

6. Bantu meningkatkan jumlah jam tidur.

7. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai teknik untuk meningkatkan tidur.

Diagnosa :

Domain 4: aktifitas/istirahat

Kelas 4. Respon kardiovaskular/pulmonal (00092) Intoleran aktivitas Definisi: ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan.

NOC

Kriteria Hasil:

Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi aktifitas tercapai.

(35)

Definisi: tindakan individu dalam mengelola energi untuk memulai dan mempertahankan aktivitas.

1. Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat dari skala 1 (tidak pernah menunjukan) ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)

2. Menyadari keterbatasan energi dari skala 1 (tidak pernah menunjukan) ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)

3. Menggunakan teknik konservasi energi dari skala 1(tidak pernah menunjukan) ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)

4. Mengatur aktivitas untuk konservasi energi dari skala 1(tidak pernah menunjukan) ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)

NIC

(4310) terapi aktivitas

Definisi: peresepan terkait dengan menggunakan bantuan aktivitas fisik, kognisi, sosial dan spiritual untuk meningkatkan frekuensi dan durasi aktivitas kelompok.

1. Pertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui aktivitas spesifik.

2. Pertimbangkan komitmen klien untuk meningkatkan frekuensi dan jarak aktifitas.

3. Bantu klien untuk tetap fokus pada kekuatan (yang dimilikinya) dibandingkan dengan kelemahan (yang dimilikinya)

4. Dorong aktivitas kreatif yang tepat.

5. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang diinginkan.

6. Bantu klien dan keluarga untuk mengidentifikasi kelemahan dalam level aktivitas tertentu.

7. Sarankan metode-metode untuk meningkatkan aktivitas fisik yang tepat. 8. Bantu klien dan keluarga memantau perkembangan klien terhadap

(36)

Domain 9 : koping/toleransi stres Kelas 2. Respons koping (00147) Ansietas Kematian

Definisi: perasaan tidak nyaman atau gelisah yang samar atau yang ditimbulkan oleh persepsi tentang ancaman nyata atau imajinasi terhadap eksistensi seseorang.

NOC

Kriteria Hasil:

Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam klien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan.

Ansietas

Definisi: perasaan tidak nyaman atau gelisah yang samar yang ditimbulkan oleh persepsi ancaman nyawa atau imajinasi terhadap eksistensi seseorang.

1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

2. Klien mampu mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk mengontrol cemas.

3. Postur tubuh, dan tingkat aktivitas menunjukan berkurangnya kecemasan. NIC

(5820) pengurangan kecemasan

Definisi: mengurangi tekanan, kekuatan, firasat, maupun ketidaknyamanan terkait dengan sumber-sumber bahaya yang tidak teridentifikasi.

Aktivitas-aktivitas:

1. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap prilaku klien.

3. Berada di sisi klien untuk meningkatkan rasa aman dan mengurangi ketakutan

4. Dorong keluarga untuk mendampingi klien dengan cara yang tepat. 5. Dengarkan klien

(37)

Diagnosa : Domain 5:

Persepsi/kognisi Kelas 4. Kognisi (00126) defisiensi pengetahuan

Definisi: ketidaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu.

NOC

Kriteria Hasil:

Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam klien mampu melaksanakan apa yang telah diinformasikan.

(1803) pengetahuan : proses penyakit

Definisi: tingkat pemahaman yang disampaikan tentang proses penyakit tertentu dan komplikasinya.

1. Karakter spesifik penyakit dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)

2. Faktor-faktor penyebab dan faktor yang berkontribusi dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)

3. Faktor resiko dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)

4. Tanda dan gejala dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)

5. Proses perjalanan penyakit biasanya dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)

6. Strategi untuk meminimalkan

Perkembangan penyakit dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)

NIC

(5602) pengajaran: proses penyakit

Definisi: membantu pasien untuk memahami informasi yang berhubungan dengan proses penyakit secara spesifik.

Aktivitas-aktivitas:

(38)

spesifik.

2. Review pengetahuan pasien mengenai kondisinya.

3. Jelaskan tanda dan gejala yang umum dari penyakit, sesuai kebutuhan. 4. Jelaskan mengenai proses penyakit, sesuai kebutuhan

5. Berikan informasi pada pasien mengenai kondisi, sesuai kebutuhan.

6. Berikan informasi kepada keluarga yang penting bagi pasien mengenai perkembangan pasien sesuai kebutuhan.

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, TY. (2005). Tuberkulosis Paru: Masalah dan penanggulangannya. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Alpers.

Alsagaff, H dan Mukty, A. (2006). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga University Press

Bulechek, G.M., Butcher, H., Dochterman, J.M. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). 6th Edition. Singapore: Elsevier. Terjemahan oleh Nurjannah, I.,Tumanggor,R.D. 2016. Nursing Intervention Classification (NIC). Edisi Indonesia Keenam. Yogyakarta: CV. Mocomedia.

Depkes RI. (2011). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2011. [Serial Online]

Diunduh dari

http://www.dokternida.rekansejawat.com/dokumen/DEPKES-Pedoman-Nasional-Penanggulangan-TBC-2011-Dokternida.com.pdf Diakses tanggal 12 Oktober 2017.

Departemen Kesehatan. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta

Depkes RI. 2006. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis. Jakarta:Depkes RI.

Depkes RI. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis. Jakarta:Depkes RI.

Doenges E Marilyn.1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta: EGC. Evelyn CP, 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta. Gramedia Guyton A.C. and J.E. Hall 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.

Jakarta: EGC. 74,76, 80-81, 244, 248, 606,636,1070,1340.

Hiswani. 2009. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat.

http://library.usu.ac.id/download/fkmhiswani-6.pdf 2009.

(40)

Moorhead, S., Johnson, M., L. Maas, M., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). 5th Edition. Singapore: Elsevier. Terjemahan oleh Nurjannah, I.,Tumanggor,R.D. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Edisi kelima. CV. Mocomedia.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika

NANDA International. (2015). Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi Edisi 10, 2015-2017. Jakarta : EGC.

Nugroho, AT. 2014. Kajian Asuhan Keperawatan Pada Tn. P dengan Gangguan Oksigenasi Tuberkulosis Paru di Ruang Isolasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. http://stikespku.com/digilib/files/disk1/2/stikes%20pku--ariyantitr-79-1-karyatu-h.pdf

Panji Utomo, Susan Hendriarini Mety, Agung Wibawanto.(2013). Pembedahan untuk Extensively Drug Resistant Tuberculosis (XDR TB) dengan Perhatian Pencegahan Transmisi kepada Petugas Kesehatan di RSUP Persahabatan. Jakarta. J Respir Indo Vol. 33, No. 2, April 2013. [Serial

Online] Diuduh dari

http://jurnalrespirologi.org/wp-content/uploads/2013/05/jri-2013-33-2-122-5.pdf Diakses tanggal 12 Oktober 2017.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI : Jakarta.

PPTI. 2011. Buku Saku TBC Bagi Masyarakat. Denpasar:PPTI.

Price & Wilson. 2012. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.

Jakarta : EGC.

Santa Manurung dkk, (2009). Gangguan Sistem Pernafasan Akibat Infeksi,CV.Trans Info Medika: Jakarta – timur.

Sudoyo, A.,dkk. (2007). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing, Jakarta.

Susan Martin Tucker.1998. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan, diagnosis, dan evaluasi. Ed5. Jakarta:EGC.

(41)

Smeltzer c Suzanne.2002. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah, Brunner and Suddarth’s, Ed8. Vol.1, Jakarta:EGC.

WHO. (2010). Multidrug and extensively drug-resistant TB (M/XDR-TB). 2010 Global Report On Surveillance And Response. ISBN 978 92 4 159919 1 [Serial On Line]

Diunduh dari

Gambar

Tabel 2.1 Konsep Analisa Data

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai wacana untuk studi kasus berikutnya dibidang kesehatan terutama mengenai Asuhan Keperawatan pada penderita Tuberkulosis Paru dengan masalah keperawatan defisiensi

Berat badan (lemak tubuh) cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, sedangkan sel-sel lemak mengandung sedikit air, sehingga komposisi air dalam tubuh lansia kurang dari

Latar Belakang: Tuberkulosis paru yang menginfeksi paru akan berlanjut menjadi infeksi kronis apabila tidak mendapat pengobatan yang adekuat sehingga menyebabkan terjadinya

Infeksi pada saluran pernafasan jauh lebih sering terjadi dibandingkan dengan infeksi pada system organ tubuh lain dan berkisar dari flu biasa dengan gejala-

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Tuberkulosis Paru yang perlu diperhatikan adalah memperhatikan jalan napas, pencegahan tahap penularan

12) Rheumatic myocarditis adalah gejala sisa yang umum pada demam reumatik. 13) Rickettsial myocarditis adalah mikarditis yang berhubungan dengan infeksi riketsia. 14) Toxic

2.4 Konsep Solusi TB Paru Salah satu solusi untuk membantu proses penyembuhan penderita dengan penyakit TB Paru dan mengurangi faktor resiko penyebaran penyakit adalah memberikan

Komplikasi Menurut Sani 2018, komplikasi yang dapat terjadi pada pasien tuberkulosis paru, adalah : a Efusi Pleura Akibat adanya penumpukan cairan eksudat dalam alveoli yang