• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH FAKTOR KELUARGA TERHADAP PERILA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH FAKTOR KELUARGA TERHADAP PERILA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan

Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa anak-anak

dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai dari usia 12 atau 13 tahun dan

berakhir pada usia akhir belasan atau awal dua puluh tahun (Papalia, 2008).

Dalam periode perkembangan masa ini, individu akan mengalami perubahan baik

dari segi fisik, kognitif maupun psikososial. Masa ini dikatakan juga sebagai masa

yang paling kritis bagi perkembangan pada tahap-tahap kehidupan selanjutnya.

Masa ini biasanya ditandai dengan banyaknya eksperimentasi dan keterlibatan

dengan kegiatan baru yang dilakukan oleh remaja. Akan tetapi beragam kegiatan

yang dilakukan oleh remaja kebanyakan adalah kegiatan yang berisiko, seperti

penyalahgunaan obat-obat terlarang, alkoholisme, dan kekerasan, sampai dengan

penularan HIV/AIDS di kalangan usia muda melalui seks bebas.

Berdasarkan Sensus Penduduk dari BPS pada tahun 2010, jumlah remaja

usia 10-24 tahun sekitar 64 juta atau 27.6% dari jumlah penduduk sebanyak

237.6 juta jiwa. Sedangkan data survei kesehatan reproduksi remaja Indonesia

yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

menyebutkan sebanyak 5.912 wanita di umur 15-19 tahun secara nasional pernah

melakukan hubungan seksual dan pria di usia yang sama berjumlah 6.578, atau

3,7 persen pernah melakukan hubungan seks. Kondisi ini tentu saja meresahkan

khususnya bagi orang tua, sehinga sangat penting bagi anggota keluarga untuk

mengenali dan menghilangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas

(2)

Permasalahan seksual remaja memang merupakan isu penelitian global,

karena meskipun secara biologis remaja matang dan mampu bereproduksi namun

perilaku seksual di kalangan remaja dapat mengakibatkan beragam konsekuensi

negatif jangka panjang. Jika remaja melakukan seks berisiko maka kemungkinan

mereka akan mengalami kehamilan. Kondisi ini menuntut mereka untuk segera

mengambil keputusan dan tentu saja hal tersebut adalah sangat sulit baginya, yaitu

apakah melanjutkan kehamilan dan menjadi orang tua atau segera mengakhiri

kehamilan dengan melakukan aborsi. Selain itu remaja yang melakukan seks

berisiko juga cenderung mengarah pada tertularnya penyakit menular seksual

termasuk HIV/AIDS. Selain dari sisi kesehatan seperti yang telah disebutkan tadi

perilaku seks pada remaja juga dapat mengganggu kegiatan sekolah, seperti hasil

penelitian Hindin dan Michelle (dalam Wang’eri 2013) yang menemukan bahwa

aktivitas seksual terkait dengan kurangnya keterlibatan remaja dalam kegiatan

akademik.

Kondisi tersebut sebenarnya tidak akan terjadi apabila remaja dipersiapkan

untuk menghadapi masa transisi perkembangan ini. Namun realita yang terjadi

adalah masyarakat kita khususnya mereka yang berpredikat sebagai orang tua

masih menganggab tabu untuk membicarakan tentang seks dengan anaknya yang

tergolong remaja. Padahal di usia ini mereka membutuhkan bimbingan terkait

dengan berkembanganya hormon pertumbuhan yang membuat mereka matang

secara fisik. Cara yang ditempuh kebanyakan remaja adalah mencari informasi

(3)

didapatkan akurat, bahkan kadangkala mereka malah terjebak pada keinginan

untuk mencoba karena mereka kurang atau bahkan tidak mendapatkan informasi

yang lengkap. Sajian internet misalnya, begitu banyak laman yang menyajikan

tampilan pornografi yang gampang sekali di buka bahkan diunduh. Selain itu

keluarga saat ini biasanya terdiri dari pasangan pekerja, artinya baik suami

maupun istri bekerja. Kondisi ini semakin membuka jalan bagi remaja untuk

mendapatkan kebebasan dalam mencari info di luar bahkan hingga mencoba

untuk melakukan karena kesibukan orang tua sehingga tidak bisa mengontrol

tingkah laku anaknya.

Beberapa penelitian mengemukakan bahwa terdapat beberapa prediktor

signifikan inisiasi seksual pada remaja yaitu fungsi keluarga , struktur keluarga,

dan self-efficacy. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa pendapatan orang

tua dan status sosial ekonomi merupakan prediktor signifikan inisiasi seksual pada

remaja. Tingginya status sosial ekonomi secara khusus dikaitkan dengan

penundaan inisiasi seksual pada remaja. Selain itu penelitian juga menemukan

hasil bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara keluarga dengan

orang tua tunggal dengan inisiasi seksual pada remaja. Gadis remaja yang tinggal

bersama dengan orang tua lengkap dan remaja laki-laki yang memiliki ibu

berpendidikan tinggi diperoleh hasil bahwa mereka masih bisa mengendalikan diri

untuk tidak melakukan aktivitas seksual (Kao & Carter, 2013)

Dalam penelitian lain dijelaskan bahwa kualitas hubungan keluarga

memiliki implikasi bagi kesehatan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

(4)

tingkat kepatuhan pada remaja. Sedangkan komunikasi yang baik dalam keluarga

berhubungan dengan penundaan aktivitas seksual pada remaja. (Aspy., Vesely.,

Oman., Rodine., Marshall., Fluhr., McLeroy., 2006)

Leigh and Andrews (2005) mengatakan bahwa karakteristik keluarga dan

intra familial atau kekerabatan misalnya struktur keluarga, komunikasi dalam

keluarga, dan persepsi remaja terhadap kontrol orang tua merupakan faktor utama

yang mempengaruhi perilaku seks remaja.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk mengangkat tema

tentang keluarga dalam kajian penelitian ini untuk mengetahui apakah keluarga

memiliki pengaruh terhadap aktivitas seksual di kalangan remaja. Oleh karena itu

peneliti mengangkat judul pengaruh faktor keluarga terhadap perilaku seksual

remaja.

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan

faktor keluarga terhadap perilaku seksual remaja.

Metodologi

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor keluarga

terhadap aktivitas seksual remaja.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keluarga dan aktivitas

(5)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor keluarga. Adapun indikator dari

faktor keluarga ini adalah terdiri dari status sosial ekonomi orang tua, struktur

keluarga dan kontrol orang tua.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku seksual remaja. Adapun

indikatornya adalah : Hubungan romantis, memegang tangan, mencium,

berkunjung ke tempat wisata, melihat tayangan pornografi, bercumbu dan

berhubungan seks.

Subjek Penelitian

Pada penelitian ini yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian adalah

remaja dengan batasan usia 12-21 tahun dan pernah atau sedang berpacaran.

Penelitian akan diselenggarakan di wilayah seputar malang raya.

Strategi Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan skala yang terbagi menjadi 2 skala yaitu skala faktor

keluarga dan skala perilaku seksual remaja.

Prosedur Analisis dan Interpretasi Data

Analisa data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah

menggunakan analisis statistik dengan bantuan program SPSS 21 untuk

menjelaskan frekuensi dari indikator variabel keluarga serta analisi statistik

(6)

Pembahasan

Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan maka diperoleh gambaran

atau deskripsi subjek penelitian yaitu; total jumlah subjek penelitian adalah 143

orang yang terdiri 59 laki-laki dan 84 perempuan. Usia subyek berkisar mulai 12

hingga 22 tahun, namun rata-rata usia subjek adalah 17 tahun dengan jumlah total

subjek 49 orang. Status subjek yang masih pacaran hingga saat ini ada 74 orang

dan sisanya tidak lagi berpacaran namun mereka pernah berpacaran. Durasi

pertemuan mereka dengan pacarnya berkisan antara 1-24 jam per minggu. Usia

subjek ketika pertamakali pacaran berkisar antara 10 – 19 tahun dan kebanyakan

mereka memulai di usia 14-15 tahun. Untuk perilaku seksual diperoleh gambaran

yaitu dari 143 subjek ada 67 subjek penelitian yang tergolong perilaku seksualnya

tinggi dan sisanya yaitu sebanyak 76 anak perilaku seksualnya masih tergolong

rendah. Untuk memudahkan pembaca memahami, maka peneliti mendeskripsikan

(7)

Tabel 1 : Deskripsi Demografi Subjek Penelitian

c. Rp. 1.100.000 – Rp. 2.000.000 35 24,5

(8)

Untuk deskripsi perilaku seksual subjek diperoleh data penelitian sebagai berikut

2. Menelpon pacar kapanpun jika mau 17 11,9% 19 13.3% 60 42% 47 32,9% 3. Bertengkar sebentar jika ada sedikit

masalah tentang hubungan kami 21 14,7% 34 23,8% 55 38,5% 33 23,1% 4. Bertengkar hebat tentang hubungan

kami 8 5,6% 25 17,5% 38 26,6% 72 50,3%

5. Menatap mata pacar dengan

seksama jika kami berbicara 20 14% 35 24,5% 48 33,6% 40 28% 6. Mengungkapkan perasaan sayang

kepada pacar

30 21 33 23,1% 46 32,2% 34 23,8%

7. Menyentuh jari atau tangan pacar 20 14% 35 24,5% 48 33,6% 40 28% 8. Berpegangan tangan dengan pacar 25 17,5% 33 23,1% 51 35,7% 34 23,8% 9. Berjalan dan bergandengan tangan

dengan pacar 16 8,2% 27 18,9% 51 35,7% 49 34,3%

10. Duduk berdampingan dan berduaan

saja dengan pacar 18 12,6% 36 25,2% 51 35% 39 27,3%

11. Duduk berdampingan dan saling

13. Merangkul/dirangkul pinggul dan

tubuh pacar dirapatkan 6 4,2% 10 7% 39 27,3% 88 61,5%

14. Mencium/dicium kening oleh pacar 12 8,4% 13 9,1% 45 31,5% 73 51% 15. Mencium/dicium pipi oleh pacar 13 9,1% 16 11,2% 35 24,5% 79 55,2% 16. Berciuman bibir dengan pacar 5 3,5% 14 9,8% 28 19,6% 96 67,1% 17. Saling berpelukan erat dengan pacar 3 2,1% 18 12,6% 36 25,2% 86 60,1% 18. Berciuman bibir sambil berpelukan

dengan pacar 3 2,1% 13 9,1% 28 19,6% 99 69,2%

19. Pergi ke tempat wisata berdua 12 8,4% 18 12,6% 49 34,3% 64 44,8% 20. Pergi ke pantai berdua 6 4,2% 9 9,1% 33 23,1% 94 65,7% 21. Menonton bioskop berdua 4 2,8% 5 9,1% 25 17,5% 109 76,2% 22. Menonton video pornografi di internet

26. Mencium/dicium payudara 0 0 2 1,4% 3 2,1% 138 96,5%

27. Menempelkan/ditempelkan alat

kelamin ada pembatas 0 0 1 0,7% 4 2,8% 138 96,5%

28. Menggesek-gesekkan alat kelamin

ada pembatas 0 0 2 1.4% 1 0,7% 140 97,9%

29. Menempelkan/ditempelkan alat

kelamin tanpa pembatas 0 0 1 0,7% 3 2,1% 139 97,2%

(9)

Untuk uji korelasi dilakukan secara parsial dari variabel bebas, hal ini

dikarenakan nilai dari skala tidak sama oleh karena itu dilakukan uji korelasi satu

persatu. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa status

sosial ekonomi memiliki nilai t hitung 1,976 lebih besar dibandingkan t tabel yaitu

1,655. Ini berarti bahwa hipotesis peneliti diterima sehingga bisa disimpulkan

bahwa status sosial ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku

seksual remaja. Untuk struktur keluarga peneliti masih membagi menjadi

pendidikan ayah dan ibu yang akan dihitung secara terpisah dan juga status

pernikahan orang tua. Hasil analisis korelasi antara pendidikan ayah dengan

perilaku seks remaja menunjukkan nilai t hitung sebesar 1,013. Nilai ini lebih

kecil dibandingkan dengan t tabel yaitu 1,655 maka dapat disimpulkan bahwa

pendidikan ayah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku seksual

remaja. Begitupula pada pendidikan ibu diperoleh nilai t hitung yang lebih kecil

dibandingkan t tabel yaitu 1,182 < 1,655, ini berarti bahwa pendidikan ibu juga

tidak berpengaruh secara signifikan terhada perilaku seksual remaja. Untuk status

pernikahan diperoleh nilai t hitung sebesar 1,000. Nilai ini lebih kecil

dibandingkan dengan t hitung yaitu 1,655, hal ini berarti bahwa status pernikahan

orang tua tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku seksual remaja.

Analisis untuk kontrol orang tua baik dari ayah maupun dari ibu keduanya

memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku seksual pada remaja. Hal

ini karena nilai t hitung pada keduanya lebih tinggi dibanding t tabel. Pada kontrol

ayah diperoleh nilai t hitung sebesar 2,049 dan pada kontrol ibu 2,787 dimana

(10)

Diskusi

Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa kontrol orang tua dan

status sosial ekonomi orang tua memberikan pengaruh yang signifikan terhadap

perilaku seksual remaja dibandingkan dengan status pernikahan dan pendidikan

orang tua. Kontrol orang tua yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah

meliputi adanya aturan yang diterapkan, komunikasi yang baik dan relasi yang

harmonis. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Aspy dkk (2006)

yang menunjukkan hasil bahwa komunikasi yang baik dalam keluarga

berhubungan dengan penundaan aktivitas seksual pada remaja. Selain itu

penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Leigh dan Andrews (2005) yang

mengatakan bahwa karakteristik keluarga dan intra familial atau kekerabatan

misalnya struktur keluarga, komunikasi dalam keluarga, dan persepsi remaja

terhadap kontrol orang tua merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku

seks remaja. Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya kontrol orang tua

terhadap perilaku seksual remaja.

Remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiousity)

cenderung ingin berpetualang menjelajah segala sesuatu dan mencoba segala

sesuatu yang belum pernah dialaminya. Selain didorong juga oleh keinginan

menjadi seperti orang dewasa menyebabkan remaja ingin mencoba melakukan apa

yang sering dilakukan orang dewasa termasuk yang berkaitan dengan masalah

seksualitas (Azwar A, 2000). Tanpa adanya kontrol dari orang tua, remaja tidak

(11)

kesenangan sesaat dan berpikir menjadi remaja yang modern dengan mencoba

melakukan kegiatan seks. Kondisi inilah yang menyebabkan banyaknya terjadi

perilaku seksual beresiko pada remaja.

Kondisi sosioekonomi keluarga juga memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap aktivitas seksual remaja. Kondisi ini lebih karena individu

yang berasal dari keluarga dengan kondisi sosioekonomi sedang dan tinggi

memiliki layanan atau fasilitas yang lebih dibandingkan dengan individu dari

keluarga dengan sosioekonomi rendah. Mereka memiliki gadget-gadget baru

dengan fitur internet dan sosial media yang memudahkan mereka untuk

mendapatkan berbagai informasi dan menjalin hubungan sosial secara lebih luas.

Mereka juga memiliki uang saku yang cukup sehingga memiliki cukup pulsa

untuk melakukan aktivitas yang berkaitan dengan gadget mereka. Kondisi ini

tidak berlaku bagi remaja dari keluarga dengan sosioekonomi rendah, meraka

hanya memiliki telepon genggam versi lama. Selain itu kondisi sosioekonomi juga

membuat penampilan mereka menjadi berbeda. Mereka tampak lebih menarik

dengan dandanan yang sedikit lebih berani baik dari sisi pakaian maupun

kosmetik, sehingga mereka lebih dini dalam berpacaran. Kondisi inilah yang

membuat mereka cenderung melakukan aktivitas seksual pranikah.

Dalam penelitian ini ternyata juga menunjukkan hasil yang lain yaitu

bahwa status pernikahan dan pendidikan orangtua tidak memberikan pengaruh

yang signifikan terhadap perilaku seksual remaja. Hal ini tidak sesuai dengan hasil

penelitian yang telah dilakukan oleh Kao dan Carter (2013) yang menunjukkan

(12)

tunggal dengan inisiasi seksual pada remaja. Gadis remaja yang tinggal bersama

dengan orang tua lengkap dan remaja laki-laki yang memiliki ibu berpendidikan

tinggi diperoleh hasil bahwa mereka masih bisa mengendalikan diri untuk tidak

melakukan aktivitas seksual. Namun tidak dalam penelitian ini, beberapa subjek

memiliki orang tua dengan pendidikan tinggi namun juga menunjukkan perilaku

seksual yang tinggi pula. Mereka yang masih punya orang tua lengkap dan mereka

yang hanya tinggal dengan salah satu orang tua baik ayah saja atau ibu saja

beberapa juga menunjukkan perilaku seksual yang tinggi. Hal ini terjadi bisa

dikarenakan oleh beberapa faktor, bisa jadi karena jumlah subjek yang terlalu

sedikit, atau juga bisa dikarenakan homogenitas dari subjek penelitian, karena

hampir sebagian subjek penelitian berasal dari kabupaten. Beberapa subjek yang

berasal dari kabupaten menunjukkan bahwa pendidikan orangtuanya rendah

namun perilaku seksual remaja rendah juga. Ini menunjukkan berarti ada faktor

lain yang berpengaruh terhadap kontrol seksual remaja, misalnya ketaatan

terhadap agama yang bukan menjadi variabel dalam penelitian ini.

Implikasi dan Saran

Implikasi dalam penelitian ini adalah bahwa status sosial ekonomi dan

kontrol orang tua memiliki pengaruh yang signifkan terhadap aktivitas sosial

remaja, namun tidak berlaku untuk status pernikahan dan pendidikan orang tua.

Oleh karena itu diharapkan kepada orang tua agar memberikan uang saku yang

(13)

diberikan kepada remaja. Kontrol yang dimaksudkan di sini bukan yang bersifat

mengikat namun kontrol yang disertai dengan hubungan yang harmonis dan

komunikasi yang baik, sehingga aktivitas remaja tetap terpantau dan terhindar dari

(14)

Daftar Pustaka

Aspy., C.B., Vesely., S.K., Oman., R.F., Rodine, S., Marshall., L.D., Fluhr., F., McLeroy., K. (2006). Youth-Parent Communication and Youth Sexual Behavior: Implications for Physicians. Journal of family Madicine. 38(7):500-4.)

Azwar, A. (2000). Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia (Adolescent Reproductive Health in Indonesia) unpublished paper presented at the : National Congress of Epidemiology IX in Jakarta

Cardwell, J.D. (2012). The Relationship Between ReligiousCommitmen and Premarital Sexual Permisivness: A Five Dimensional Analysis. Journal of Sosiological Analysis. Vol. 30, No. 2, pp. 72-80

Kao., T S.A and Winifred., W., A. (2013). Family Influences on Adolescent Sexual Activity and Alcohol Use. The Open Family Studies Journal, 5, 10-18

Leigh., W.A., and Andrews., L.A. (2002). Family Influence On Sexual Behavior: What We Know About African American Teens. The Joint Center for Political and Economic StudiesWashington DC

Papalia, Old, Feldman. (2008) Human Development (terjemahan). Jakarta : Kencana.

Referensi

Dokumen terkait

Secara teoritis atau keilmuan, diharapkan hasil penilitian ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi dalam bidang studi komunikasi dan jurnalistik, serta

polymyxa dengan dosis yang berbeda pada pakan memberikan pengaruh yang sama terhadap aktivitas fagositosis atau kemampuan sel respon imun non spesifik pada udang

satu biota yang dapat digunakan untuk uji toksisitas adalah ikan, dengan syarat harus. mempunyai kepekaan tinggi, memenuhi syarat umur, berat, dan panjang,

In this chapter, we have seen the different types of sources from which data can be loaded into Splunk.. We discussed in detail how to get data using the Files &amp; Directories

Pasien Hipertensi Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.. Deskripsi Karakteristik Penderita, Lama Dirawat

[r]

[r]

Panti Pelayanan Sosial Wanita Wanodyatama Surakarta menjadi salah satu bentuk kepedulian untuk mengubah Wanita Tuna Susila yang melanggar norma di masyarakat