[TYPE THE COMPANY NAME]
KEBIJAKAN PUBLIK
Translated by: Wahyono Saputro
[Type the author name] [Pick the date]
Bab ini mendiskusikan pelatihan bagi pembuat kebijakan dengan pemusatan pada tema yang tidak tepat dilihat secara politis, namanya
BAB 4
PELATIHAN BAGI PEMBUAT KEBIJAKAN
Bab ini mendiskusikan pelatihan bagi pembuat kebijakan dengan pemusatan
pada tema yang tidak tepat secara politis, namanya pelatihan pelaku
pembuat aturan tentang pemikiran kebijakan besar. Namun analisis dan
rekomendasi akan diterapkan bersama sejumlah perbaikan terhadap semua
jenis dan tingkat pembuat kebijakan.
Pentingnya pembuat aturan dan mutunya telah disadari secara luas,
namun kebutuhan dan kemungkinan untuk memperbaikinya tidak hanya
diabaikan bahkan tabu. Jika pembuat aturan ingin memiliki kinerja utama
yang baik, hal ini mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Bagaimanapun hal
tersebut cukup untuk mengamati pemerintahan beserta para pemimpinnya
dalam bertindak untuk mencapai kesimpulan yang bahkan pembuat aturan
terbaik sekalipun gagal untuk mengatasi secara memadai dengan
pilihan-pilihan teramat penting yang dilakukan secara meningkat. Dan hanya sedikit
terdapat pelaku pembuat aturan yang berkualitas, terlalu banyak membuat
kesalahan yang menyedihkan dalam kekeliruan pembiayaan yang secara
terus-menerus meningkat disebabkan pertumbuhan pembentukan kekuatan
dimasa mendatang terhadap tindakan manusia. Bagaimanapun langkah
untuk memperbaiki kinerja pada tingkatan tertinggi terhadap pelaku
Kinerja pelaku pembuat aturan tergantung pada sebuah rangkaian
variabel intrinsik dan ekstrinsik. Kualitas yang dituntut memiliki dimensi
ganda, mulai dari karakter moral berketerampilan secara politis. Cara untuk
memperbaikinya dapat beragam, mulai dari memperbaiki sistem
pengelolaan di mana mereka menjalankan secara keseluruhan usaha untuk
memperbaiki karakter mereka, yaitu merangsang kepintaran emosi mereka
(Goleman, Goyatzis dan McKee 2000), dan menata ulang sistem pembinaan.
Bagaimanapun pemberian bantuan secara kelembagaan lebih dahulu
dilakukan dibanding revolusi kepemimpinan, dimana kualitas lain sangat
penting, pelatihan kebijakan besar mungkin seringkali menjadi sebuah
pendekatan efektif yang berbiaya sangat mahal.
Kinerja pelaku pembuat aturan yang harus dipenuhi dan kepentingan
mereka yang relatif tergantung pada situasi. Bagaimanapun, fungsi utama
semua pelaku pembuat aturan adalah memenuhi peran utama dan sangat
penting dalam pembuatan keputusan dan dalam kemahiran dalam kebijakan
besar yang khusus.
Keputusan yang terkait dengan kepemerintahan dapat dibagi ke dalam
keputusan yang relatif rutin terkait dengan isu-isu terkini, yang tidak
diharapkan membuat banyak perbedaan dan apa yang penulis sebut
“kebijakan besar” yang tertuju pada dampak yang masif di masa
mendatang. Kebijakan besar terdiri atas kombinasi beragam dari pilihan
kritis tunggal dan strategi jangka panjang. Pilihan kriitis diilustrasikan
dengan menjatuhkan bom di Jepang, menyetujui proyek infrastruktur yang
besar, atau bergabung dengan Uni Eropa. Strategi jangka panjang termasuk
pemberian prioritas kepada para pemuda dalam layanan kesehatan umum,
usaha untuk mempromosikan demokrasi di Timur Tengah dan dukungan
untuk menjadi masyarakat pembelajar.
Kebanyakan kebijakan membutuhkan perbaikan. Bagaimanapun,
kebijakan besar menggunakan lebih banyak pengaruh dimasa mendatang
dan lebih rumit. Bagaimanapun, sebuah tugas prioritas untuk meningkatkan
kualitas keahlian kebijakan besar para pelaku pembuat aturan.
Melakukannya tergantung pada ketersediaan pengetahuan yang dapat
mengefektifkan pelatihan kebijakan besar para pelaku pembuat aturan dapat
menjadi dasarnya. Pernyataan mendasar dari bab ini adalah pengetahuan
tertentu telah tersedia, sebagainnya telah tersedia dan sebagian lain masih
berbentuk acak yang dapat diproses ulang. Proposisi ini akan didukung
dengan penyajian sebuah prototipe kurikulum inti bagi pelatihan kebijakan
besar para pelaku pembuat aturan bersama dengan rujukan terpilih untuk
menghubungkan pengetahuan dan sejumlah komentar pada pelatihan dasar.
1. Kurikulum Inti
Tujuan kurikulum inti adalah setara dalam hal isi untuk sebuah
model kapasitas kognisi yang disukai pada seorang pelaku pembuat
aturan yang berkualitas tinggi dalam peran ahli kebijakan besarnya.
Hal tersebut mencakup duapuluh poin yang berkaitan erat dan
tema dan judul yang tumpang tindih sebagiannya, disajikan secara
ringkas bersama dengan rujukan pilihan seperti disebut dan diulas
dalam pengajaran tambahan dan mentor pada apa yang telah
Bentuk khusus kebijakan besar terkait dengan pendirian lembaga
dan perubahan struktural. Kembali pada pandangan klasik
mengenai pelaku pembuat aturan sebagai pemberi hukum,
menggugah kembali sejumlah lembaga dan membangun yang baru
merupakan bentuk bantuan yang utama dari kebijakan besar.
Ilustrasi meliputi penetapan perundangan, membangun struktur
pengelolaan baru seperti Uni Eropa, perubahan tatakelola dunia,
dan membangun ekonomi pasar. Melalui pelatihan, bentuk
kebijakan besar ini akan ditangani dengan memerhatikan terhadap
pentingnya lembaga dan rancangan kelembagaan dalam tema yang
beragam.
1.1. Pemisahan Politik dan Kebijakan
Pertamakali yang paling penting adalah kapasitas untuk
membuat jernih analitik perbedaan antara kebijakan dan
politik. Keduanya sangat terkait erat bahkan sering tumpang
tindih dan sebagiannya malah tidak dapat dipisahkan bahkan
secara analisis. Ketiadaan perbedaan istilah politik dan
kebijakan dalam kebanyakan bahasa selain bahasa Inggris
merefleksikan kesulitan dalam perbedaan tersebut. Lebih jauh
politik demokrasi modern seringkali mendorong para pembuat
aturan dalam mengarahkan kaitan kebijakan terhadap politik
dan pemasaran, ketika para pembuat aturan memberikan
prioritas kepada peniupan balon ke arah gelombang masa
depan. Tetapi kualitas kebijakan besar tergantung pada
kebijakan dan politik dan memberikan prioritas untuk
pemenuhan kebijakan sebelum membuat kesepakatan yang
tak terelakkan dengan realitas politik. Pelatihan akan
menjernihkan dan menekankan perbedaan tersebut.
Bagaimanapun, kemungkinan yang terkait dengan politik
harus tidak dilalaikan. Sebuah kebijakan besar yang tidak
dapat diimplementasikan dalam sebuah masa depan yang tak
dapat diduga yang dikarenakan kekurangan dukungan politik
utama atau sumber penting lainnya bukanlah sebuah hal
yang menjadi pilihan, meski keahlian adalah sebagai
kebijakan yang sesuai harus diwujudkan ketika keadaan
berubah merupakan sebuah hal yang seringkali disarankan.
Bagaimanapun juga, kemungkinan yang terkait dengan politik
dan cara untuk meningkatkannya harus disertakan dalam
kurikulum dalam konteks percobaan pengerjaan secara luas
dan penjelasan tambahan sumberdaya kebijakan secara
keseluruhan, namun tanpa harus menjadi bagian substansi
dari mobilisasi kekuatan dan pemasaran politik..
Di sini, pelatihan menjadi yakin mengarah pada sebuah
kesulitan. Para peserta akan berharap mendiskusikan politik
dan pemasaran. Tidak terdapat kekurangan literatur yang
baik terkait dengan pemasaran kebijakan dalam konteks
politiknya yang dapat dirujuk. Memiliki mentor yang
mengetahui politik dan yang mendemonstrasikan
dikacaukan oleh kurikulum utamanya, akan banyak
membantu.
1.2. Klarifikasi Nilai dan Pengaturan Tujuan
Kebijakan besar merupakan dasar nilai, arah tujuan dan
mencari tujuan. Jika nilai-nilai merupakan hal yang dangkal
dan serupa slogan, dan tujuan merupakan hal yang
disalahartikan maka kemudian akan menjadi hal yang tidak
produktif. Karenanya, pentingnya perbaikan klarifikasi nilai
dan perencanaan tujuan. Bagaimanapun, pemilihan nilai
merupakan sebuah proses subjektif yang dipercaya oleh
norma-norma dasar demokrasi terhadap pelaku politik
terpilih, tema untuk mengesahkan tinjauan dan adakalanya
mengesampingkan pihak publik. Memperbaiki pemilihan nilai
mereka dan perencanan tujuan tidak harus mengabaikan hak
prerogasi dan tugas untuk membuat penguatan pemilihan
nilai, namun lebih dimaksudkan untuk membantu mereka
dalam mengklarifikasi nilai-nilai mereka dan menggerakkan
ke arah tujuan mereka.
Kemunculan problem moral yang serius ini terkait pelatihan
para pembuat aturan yang buruk akan akan membuat mereka
lebih efektif dalam melakukan keburukan. Bagaimanapun
para mentor membuthkan sebuah kode profesional yang perlu
dilatihkan. Pemberian paparan tentang demokrasi Barat, hal
ini bukanlah sebuah problem yang gawat meski seseorang
Isu-isu yang relevan untuk ditangani dalam pelatihan
kebijakan besar menyertakan, sebagai contoh:
A. Tensi moral dan politik antara nilai-nilai acuan dan
keinginan publik sebagai tindakan yang menentang
peningkatan nilai-nilai yang dipegang oleh para pembuat
aturan setelah mempertimbangkan secara penuh dan
pencarian jiwa, dipandang sebagai hal yang normatif dan
perbaikan kenyataan politik (termasuk isu-isu yang
menyentuh persoalan tentang seberapa jauh usaha
mendidik publik ke arah nilai-nilai luhur menjadi bagian
dari misinya).
B. Pilihan tragis antara penyesuaian kebutuhan saat ini
sebagai lawan dari usaha untuk memelihara generasi
mendatang, termasuk mengatasi cacat kelainan demokrasi
generasi mendatang dan bukan melakukan pungutan
suara meski berat terdampak oleh keputusan yang dibuat
saat ini.
C. Hubungan antara tujuan baik moral, aturan berbasis
pendidikan nilai-nilai (termasuk pendekatan rejim dan
kontruksionisme).
D. Melayani individu sebagai nilai luhur dengan sendirinya
sebagai lawan mengikutsertakan perkembangan yang baik.
E. Kontradiksi moral dan psikologi, antara keyakinan yang
kuat dalam memilah nilai dan mengetahui bahwa
keadaan yang melingkupi seseorang individu, seperti
periode, budaya, dan keluarga dalam suasana dimana
seseorang dilahirkan.
F. Kaitan, tekanan antara pandangan terhadap nilai sebagai
fakta sosial, budaya dan keyakinan mereka dan antara
usaha untuk mengangkat sebuah pendirian yang kaku dan
perilaku terhadap perhatian klinis di satu sisi dan berusaha
secara terus menerus untuk mewujudkan nilai terhadap
orang yang memiliki komitmen yang baik di sisi lain.
G. Memasukkan pandangan nilai-nilai yang labil yang
cenderung ke arah masa depan, termasuk menyediakan
pilihan terbuka bagi generasi mendatang untuk
menerapkan nilai apapun yang mereka miliki sebagai
lawan bagi usaha antisipasi untuk memperkuat nilai-nilai
yang telah ada dalam mengahadapi perubahan.
H. Dilema antara penjernihan nilai dan prioritas tujuan
dimana sebuah keputusan dipaparkan sebagai usaha
memperbaiki koalisi dan mobilisasi dukungan dengan tetap
menjaga nilai dari tujuan yang kurang jelas dan kabur.
I. Peningkatan status dilema yang gawat antara tantangan
keinginan kenegaraan seseorang dan memasukan
pandangan kebaikan kemanusiaan sebagai hal yang
menyeluruh.
J. Problematika penerapan nilai keadilan dan prioritas tujuan
K. Pada tingkat yang berbeda, namun pada akhirnya berakhir
pada posisi dilema individu antara penyelesaian misi
seseorang dan peningkatan nilai-nilai pada satu sisi dan
kepedulian terhadap karir seseorang di sisi lain.
Tema-tema tertentu diambil disertai bantuan serangkaian
klarifikasi nilai yang luas dan pendekatan alasan moral.
Contoh-contoh sebaiknya meliputi hal sebagai berikut:
- Dialog Sokratis, akan membantu dalam mengklarifikasi
nilai diri.
- Memilih bingkai normatif dasar, memfasilitasi perbedaan
antara motif dan kecenderungan di satu sisi dan nilai di sisi
lain.
- Penjelasan yang rinci akan sering mengabaikan dimensi
nilai dan tujuan, seperti pilihan dalam lintasan waktu, sikap
terhadap resiko yang timbul dan kelenturan sebaga tujuan.
- Wacana filosofis menempatkan tugas pengelompokkan,
klarifikasi nilai (seperti dalam disiplin filsafat politik) dan
menyajikan cara membantu dalam penentuan nilai-nilai.
- Kontradiksi antara nilai logis dan sikap perilaku.
- Pengujian yang peka untuk mengidentifikasi dan klarifikasi
nilai pilihan-pilihan nilai pentingnya prioritas tujuan dalam
konteks pilihan khusus.
- Paket konsep yang disediakan oleh pengadilan dan filsafat
konflik nilai, termasuk penggunaan aturan-aturan
keputusan.
- Wacana tentang situasi penentuan nilai problem khusus
seperti baik dan buruk dan pilihan yang tragis.
- Gagasan ekonomi yang mensejahterakan dan menonjolkan
teori untuk bahan pertimbangan nilai, seperti teori optimal
Pareto dan teori panah yang saling berlawanan.
- Pembagunan nilai dan pengelompokan tujuan serta hirarki.
- Alokasi biaya untuk pencapaian tujuan dan metode
ekonomi mikro untuk bahan pertimbangan keuntungan
biaya nilai alternatif dan gabungan tujuan.
- Klarifikasi kritis terhadap nilai-nilai penting tinggi yang
substasi dalam banyak ruang kebijakan besar, seperti hak
asasi manusia dan keajiban, kesetaraan , mengurangi
kemiskinan, nilai-nilai lingkungan hak-hak hewan,
kejujuran, komunitas, peperangan dan seterusnya.
Pelatihan klarifikasi nilai dan perencanaan tujuan meruppakan
hal yang sangat diingini dalam konteks isi dan saling bertukar
dengan pembuat keputusan senior tentunya. Keberatan akan
perkataan tentang bagaimana berfikir tentang nilai dan tujuan
dapat diatasi dengan fokus pada membantu para peserta
untuk membuat penilaian mereka sendiri, tanpa ada
keinginan untuk mengatakan pada mereka apa nilai-nilai dari
diri mereka yang seharusnya ada. Dan juga sangat
pengadilan dan khususnya, teks literatur dengan
mendiskusikan isu-isu etis yang muncul di antara mereka
(Nussbaum 1995).
1.3. Menghadapi Masa Depan Secara Kreatif
Kebijakan-kebijakan besar merupakan instrumen yang
diarahkan pada bagaimana menggunakan konteks serangan
yang ditunjukkan oleh Plato pada ungkapan sipembuat
pernyataan- “menghadapi masa depan” dengan cara
menggabungkan materi dan proses yang berlawanan saat ini
secara kreatif ke arah penciptaan masa depan yang lebih
baik. Lebih khusus, kebijakan besar yang berusaha
mengurangi kemungkinan masa depan yang buruk, untuk
meningkatkan kemunggkinan masa depan yang baik, seperti
yang mereka gambarkan dan perubahan evaluasi seiring
waktu dan untuk meningkatkan kemampuan mengatasi hal
yang tak nampak dan hal yang tak memungkinkan.
Untuk memperkenalkan sebuah metafora yang berbeda,
dalam kebijakan besar keahlian pembuat aturan digambarkan
sebagai komposer dan konduktor (pemimpin orkes),
bersamaan penyusunan terdapat lebih banyak kesulitan,
keaslian, personal, dan hal yang penting dari memimpin
orkes, bagaimanapun hal penting berikutnya adalah
merealisasikan komposisinya, memberinya penafsiran yang
Metapora lahir melalui seorang pembuat aturan adalah
sangat berbeda dari seorang pencipta lagu yang bekerja
dalam sebuah organisasi dan menciptakan dan memimpin
dalam kesatuan sebaik persaingan dan juga konflik dengan
rekanan, penasehat, organisasi dan masyarakat. Kebebasan
inovasi dinikmati oleh seorang komposer besar yang dibuat
untuk dirinya sendiri diperbesar oleh penataan jarak yang
banyak daripada ruang ciptaan yang dipaksa terbuka untuk
para pembuat aturan. Dan lagipula, penciptaan merupakan
inti keahlian kebijakan besar
1.4. Bentang Waktu
Kebijkan besar mengarah pada dampak jangka panjang. Tapi
pernyataan umum ini meletakkan kekhususan agar dapat
membantu para pelaku pembuat aturan untuk mengambil
batas waktu yang disukai yang diselaraskan dengan fitur
ruang kebijakan yang berbeda-beda. Empat kriteria yang
relevan ialah:
A. Pilihan nilai-nilai yang mendukung cenderung relatif
penting dalam memberikan nilai bijak dalam hasil pada
poin yang beragam di masa depan. Dengan cara hati-hati
diambil untuk menghindari kesalahan seperti pengurangan
hasil yang terjadi dalam aliran waktu, seakan-akan
B. Siklus hidup ruang kebijakan yang relevan dan waktu yang
diperlukan untuk sebuah keputusan guna memeroleh
dampak utamanya.
C. Dapat diperkirkirakan, dengan kondisi ketidakpastian dan
ketertolakan, biasanya meningkat bersamaan panjangnya
bentang waktu.
D. Siklus individu dan politik, untuk menjamin waktu yang
memadai untuk kebijakan besar untuk memiliki sebuah
dampak yang penuh arti.
Bagi kebanyakan kebijakan-kebijakan besar, dampak
menengah dan jangka panjang harus diarahkan pada kisaran
waktu sekitar lima tahunan untuk banyak generasi. Siklus
kebanyakan kebijakan besar ini biasanya memiliki rentang
waktu yang sama. Namun diperkirakan akan menurun dengan
cepat, dengan harapan lima tahun mendatang dan menjadi
lebih meningkatkan ketidakpastian dan besarnya
kemungkinan terjadinya penolakan. Dan siklus individu dan
politik dalam rentang demokrasi antara empat sampai lima
tahunan.
Ini merupakan kontradiksi antara nilai jangka panjang dan
siklus penerapan di satu sisi dan hal yang tidak dapat
diperkirakan, politik jangka pendek dan siklus individu di sisi
lain yang mengganti penyebab utama kerapuhan kebijakan
besar. Pengalaman yang tak pasti, seperti yang akan
daya politik dan struktur pemerintahan memfasilitasi
kelangsungan kebijakan. Namun kehadiran dilema merupakan
hal yang serius, seringkali ketidakpastiannya sangat signifikan
terhadap kebijakan besar dan membuatnya menjadi kurang
menarik bagi para pelaku pembuat aturan.
Pelatihan dapat menyingkap permasalahan ini, meskipun
saran penanganan dan mengkhususkan cara menangani,
seperti bentang waktu, berfase ganda yang dibagi ke dalam
interval lima tahun sebagai batas maksimal dan dalam
banyak kasus dapuluh lima tahun, kemungkinan lain
peningkatan kelangsungan kebijakan antara pemerintah
dengan membangun kesepakatan dan pelembagaan
kebijakan besar.
Sejumlah pengalaman dan gagasan tersedia dalam literatur
dalam mengatasi perencanaan dan strategi.
1.5. Pemikiran dalam Bingkai Sejarah
Alasan utama keahlian kebijakan besar merupakan sebuah
campurtangan beragam proses waktu untuk mencapai atau
memeroleh dampak yang diingini di masa mendatang,
tuntutan ini, hal pertama dari segalanya yaitu berfikir dalam
bingkai sejarah dengan menekankan pada sejarah secara luas
dan mendalam. Persyaratannya adalah pemetaan proses
secara evolusi masa lalu sebagai aspek yang dilibatkan ke
dalam masa depan, perancangan ruang kebijakan dimana
mencegah dan memeroleh kebaikan, mengidentifikasi
pengembangan untuk masa depan dan menunjukkan dengan
cepat aturan pengendalian tertentu yang dapat dipengaruhi
oleh tindakan pemerintah yang disengaja, hati-hati dan
demikian akan melayani sebagai instrumen kebijakan.
Semua ini harus dilihat dari sudut pandang keseluruhan
sejarah manusia. Sebagiannya dibentuk oleh penggabung
dinamika yang mengubah secara tidak lurus di antara
kebutuhan, kecocokan, perpindahan dan peristiwa acak,
seperti dipengaruhi oleh kesengajaan manusia atau
campurtangan yang tidak diketahui.
Rumusan ini mengungkap secara penuh dimensi keahlian
kebijakan yang congkak dan bahaya yang tidak diingini dan
hasil buruk bahkan ketika pilihan didasarkan pada
pengetahuan terbaik sekalipun dan kualitas kognisi tinggi
yang pernah diraih oleh manusia. Bagaimanapun, hal tersebut
sekedar kepastian yang mendekati yang mana proses-proses
kesejarahan berlangsung yang mungkin akan menghasilkan
sesuatu yang buruk dan juga merupakan bencana besar di
masa depan dan harapan bahwa pertimbangan
kepemerintahan yang baik, selektif dan pertimbangan
campurtangan bersama proses sejarah secara cermat
memiliki sebuah kesempatan baik untuk menghindari
hal baik yang dapat memperbaiki keahlian kebijakan besar
dan penerapannya.
Tujuan tinjauan proses sejarah dan perkiraan pada hal yang
potensial untuk menjadi lebih baik dalam kebijakan besar
maupun hal yang bersifat mendasar untuk pelatihan. Fokus
perhatian termasuk:
A. Ketergantungan semua pilihan pada asumsi dugaan yang
terkait hubungan penyebab anatara apa yang telah
dilakukan dan apa yang akan terjadi di masa mendatang
B. Keduanya baik keraguan maupun alam yang kompleks
seperti asumsi, mensyaratkan pada level individu dan
emosional sebuah penilaian yang baik akan keraguan yang
dikombinasikan dengan keputusan dan pada level proses
kognisi banyak pengalaman yang tidak pasti sebagai
perlambangan dalam persepsi mengenai pilihan sebagai
pertaruhanteka-teki yang akan didiskusikan nanti.
C. Perintah moral dan politik nyata untuk mencari landasan
kemungkinan yang terbaik bagi kebijakan besar dalam
konteks kepercayaan/menggantungkan nasib pada
pengetahuan yang menonjol apapun akan dibuat tersedia,
pertimbangan yang serius, pengemukaan alasan yang
optimal dan proses-proses pilihan.
Para peserta harus disediakan sekurangnya sebuah jendela ke
arah berfikir dalam bingkai sejarah dan syarat membaca
terapan. Sebuah langkah awal adalah menyadarkan mereka
terhadap bahaya akan penerapan sejarah terhadap isu-isu
kekinian, sebagaimana pertama kali ditunjukkan oleh Nietzhe.
Hal ini termasuk kepercayaan yang keliru dalam
menganalogikan hal terkait sejarah dan perasaan yang
mendalam pada pendirian-pendirian yang bersifat permukaan
tanpa berusaha memahami penyertaannya dalam proses
yang mendalam.
Sejumlah tulisan kelasik melakukan usaha pada keterampilan
dasar dalam studi sejarah, seperti diilustrasikan oleh sebuah
perenungan Machiavelli dan karya perang Peloponnesian oleh
Thucydides. Karya tersebut juga perlu menjadi rujukan, yang
dituntut kepada para peserta untuk dibaca, dan jika mungkin
harus dilakukan sebelum kegiatan pelatihan dimulai, satu
atau dua buku yang menyediakan sebuah pandangan baru
sejarah jangka panjang, satu atau dua teks yang menyajikan
dinamika sejarah dan satu atau dua buah buku tentang
filsafat sejarah dan historiografi. Lebih realistik lagi ketika
pemenuhan bacaan maksimum membatasi pada demonstrasi
pemikiran dalam bingkai sejarah dan melatihnya dengan
menerapkan pemilihan ruang kebijakan besar.
1.6. Memahami Realitas
Memahami realita yang ada di antara masa lalu dan masa
mendatang merupakan puncak hal yang terpenting ketika
dunia dalam wawasan para pelaku pembuat aturan sebagai
sesuatu yang lebih baik bagi realita dan dinamikanya
bagaimanapun sebuah tugas pelatihan yang utama.
Hal tersebut di atas mungkin sejalan bagi manusia untuk
mengambil sebuah pandangan darimana saja. Tetapi
kecenderungan kesalahan membaca realita karena budaya
dan ketidaktahuan yang bersifat individu dan motivasi yang
tidak rasional dapat diatasi dan para peserta dapat dibantu
untuk keluar dari kotak atau bingkai salah arah yang
menyimpangkan persepsi mereka terhadap dunia.
Banyak hal yang diketahui pada faktor-faktor yang
menyelewengkan gambaran sosial, peta kognisi dan teori
rujukan para pelaku pembuat aturan. Juga terdapat sejumlah
pengetahuan yang cukup tersedia dalam kelulitan akan
perbaikan gambaran realitas melalui penyediaan informasi
baru. Literatur yang melimpah terkait kegagalan intelektual
dan penyimpangan dapat disajikan sebagai dasar yang kuat
bagi pelatihan. Temuan terkait kegagalan intelektual masa
kini yang dramatis seperti dalam kasus serangan teror di USA
dapat disajikan sebagai materi pelatihan yang istimewa untuk
membuka wawasan para pelaku pembuat kebijakan dengan
cara yang sangat membantu terhadap keahlian kebijakan
besar.
Dan hal yang sangat penting adalah pengayaan paket konsep
dan memeroses realitas. Jadi konsep kapasitas pukulan kedua,
sangat bernilai pada masanya, dan krusial dalam
menyediakan pemahaman realita strategi baru yang
dihasilkan oleh senjata nuklir. Bagaimanapun, penambahan
perbendaharaan konsep mental para pelaku pembuat aturan
seperti kekuatan halus, kemampuan yang tak nampak,
pertaruhan misterius seperti yang akan didiskusikan nanti,
sejarah sesungguhnya, percobaan pemikiran, wakil/mandat
jauh dan banyak hal lagi dapat membantu untuk memperbaiki
kesan mental terhadap realita mengenai cara memperbaiki
pemikiran kebijakan besar. Tetapi literatur yang terkait
tersebar ke sejumlah besar disiplin ilmu, mengilustrasikan
kebutuhan dalam dasar multidisiplin pengetahuan bagi
pelatihan kebijakan besar para pelaku pembuat aturan dan
ketergantungannya dengan mentor yang sangat
berpengalaman.
Adalah hal yang mudah untuk menyajikan kepada para pelaku
pembuat aturan deskripsi dan analisis terhadap aspek
penilaian tentang dunia. Mengangkat sebuah hal kritis namun
seringkali salah faham tentang dimensi untuk dapat
mengilustrasikan kebutuhan dan kemungkinan untuk tiba
pada pemahaman terdalam akan dapat cukup bermanfaat,
dengan tema globalisasi untuk menjadi contoh kasus. Namun
pelatihan kebijakan besar bagi para pelaku pembuat aturan
kerangka, teori, pendekatan, modal alasan, dan lainnya yang
akan berdiri tegak untuk menguji waktu dan dapat
diaplikasikan pada sebuah ragam perubahan situasi yang
luasbukan pengetahuan yang sekedar gambaran tunggal
yang pasti akan segera kadaluarsa.
Cukup berbeda merupakan sebuah pertanyaan apakah
seseorang harus memasukkan dalam program eksplorasi
fundamental, merupakan bagian realita yang sangat stabil,
seperti pada alam manusia dan kompetensi untuk
menjelaskannya dalam konteks intisari yang mendalam
sebagai bentuk perlawanan formasi sosial dan dunia iblis. Itu
merupakan gagasan yang baik untuk menggugah para
peserta mengenai sebuah permasalahan agar dapat
membuka wawasan mereka, mungkin dengan cara
menghadirkan pembicara tamu dan bacaan-bacan ringkas.
Namun hindari hal yang berlebihan dan banyak subjek materi
penting yang tidak terkait secara langsung dengan pemikiran
kebijakan besar seperti banyaknya hal penting yang harus
dihalau dari kebanyakan program pelatihan bagi para pelaku
pembuat aturan.
Pemahaman proses sejarah, menyertakan ketidakpastian
yang sejalan dan hal yang tidak dapat dijangkau merupakan
sebuah fondasi penting. Namun kebutuhan bagi keahlian
kebijakan penting secara langsung adalah perkiraan/tinjauan
masa depan, kemampuan untuk meninjau alternatif masa
depan dan kemungkinan konsekuensi dari campurtangan
berbeda bersamaan dengan proses sejarah- untuk
memutuskan apa yang akan dilakukan sekarang dan apa yang
direncanakan untuk dilakukan pada masa mendatang, subjek
tema untuk revisi tergantung pada pengembangan faktual.
Untuk meletakkannya ke dalam bentuk literatur yang
mungkin menyediakan wawasan (dan memahami realita)
kepada para peserta, tujuan tinjauan adalah mengurangi
penyesalan “bila sekiranya kita memiliki pengetahuan”,
sebagai pusat dalam tinjauan penafsiran seseorang terhadap
karya semisal Chekhov.
Bagaimanapun, ketergantungan pilihan pada tinjauan telah
diindikasikan, merupakan penyebab utama kerapuhan
kebijakan. Zaman kita merupakan sebuah perputusan dalam
kelangsungan sejarah bersama dengan banyak invarian.
Bagaimanapun hal tersebut sangat mungkin bahwa proses
sejarah masa depan, juga pada waktu yang dekat, akan
menjadi bagian secara radikal berbeda dari apa yang kita
ketahui dari masa lalu, dengan demikian dapat memahami
menyediakan pengetahuan yang mungkin memberi dampak
pada perbedaan kebijakan-kebijakan besar di masa
mendatang.
Masih terkait dengan sejumlah tinjauan yang dapat
dibenarkan adalah kemungkinan mengucapkan terimakasih
terhadap kestabilan yang relatif terhadap sejumlah struktur
sejarah utama, proses dan sejumlah pemahaman mengenai
perubahan. Hal inilah yang menjadi landasan dari empat
pendekatan pandangan utama:
A. Gabungan, antara fakta masa lalu dengan masa sekarang
dan dinamika yang diproyeksikan ke masa depan
B. Teori dan model kualitatif dan terkadang model kuantitatif
yang dijadikan dasar acuan dimana prediksi kondisional
dapat diperoleh dengan mengubah rujukan waktu.
C. Pengetahuan instuisi, apakah ia seorang profesional, orang
lokal atau seorang anak kecil, yang menyediakan
gambaran subjektif masa depan tentang pengetahuan
yang telah sama-sama diketahui dan mengerti pola,
keahlian dan memiliki pengalaman.
D. Imajinasi, apakah bersifat liar atau berdasar pada bentuk
instuisi yang beragam dan pengalaman.
Kesulitannya terdapat pada tiga hal pertama yang kerap
bergantung pada dimensi masa lalu, baik secara langsung
atau masih sebagai proses ke arah pembentukan teori
tidak jelas dan mungkin melibatkan dimensi masa lalu, namun
keabsahannya tidak dapat dievaluasi. Bagaimanapun,
mendasarkan kebijakan pada imajinasi yang memusatkan
pada kemungkinan masa depan (sebagai perbedaan dari hal
yang bersifat utopia yang menghadirkan masa depan ideal
yang relevan untuk menjernihkan nilai-nilai) adalah sebuah
kenekatan, bagaimanapun melakukan proses stimulasi
gambaran masa depan dari sejumlah para pemikir adalah hal
yang mungkin saja dilakukan.
Dalam konteks kedua dimensi, ontologi maupun epistemologi,
disebabkan kecocokan dan dunia mutasi proses pembentukan
masa depan dan keterbatasan pemahaman manusia terhadap
pemroses tertentu, masa depan harus dilihat sebagai
kekurang pastian oleh masa lalu yang besar. Dan kekurangan
masa depan adalah ditentukan oleh masa lalu yang makin
kecil dapat di perkirakan, baik karena sifat aslinya maupun
ketergantungan terhadap tinjauan, termasuk juga pandangan
struktur yang tinggi dan metode peramalan, pada masa lalu
dangan pengecualian hipotetis terhadap imajinasi yang liar,
dengan bahayanya yang banyak.
Kita tidak harus melebih-lebihkan pandangan tentang proses
pembentukan masa depan sebagai sesuatu kekacauan,
sebagaimana di dalamnya juga terdapat banyak
kesinambungan. Bagaimanapun, abad 21 akan ditandai
nyata, membuat masa depan menjadi bagian dari sesuatu
yang tidak dapat ditebak. Kesimpulannya adalah bahwa
tinjauan terbaik ada dalam bagian-bagian besar yang
meragukan sebagai dasar pilihan. Namun sebuah pilihan
sesuatu yang tidak dapat dihindari berdasarkan tinjauan,
bagaimanapun dibutuhan dalam menghadapi sikap skeptisme
(ragu). Hal tersebut sejalan dengan pandangan bahwa
kebijakan besar adalah sesuatu yang luas dalam dunia
mereka dan inti dari pertaruhan misterius. Hal ini merupakan
kesimpulan kritis bagi pelatihan para pelaku pembuat aturan.
Penjelasan megenai dunia harapan yang problematis tidaklah
sulit, kesemuanya lebih merupakan sebuah realita yang
menyediakan banyak ilustrasi yang mengejutkan. Namun
kewaspadaan harus diambil untuk menghindari sebuah
kesimpulan yang terlalu ekstrim, membuat para pelaku
pembuat aturan meragukan serata semua pandangan dan
memotivasi mereka untuk meyakini instuisi mereka sendiri
melebihi ramalan pakar profesional tentang alternatif masa
depan. Pandangan-pandangan yang terlalu kacau terhadap
masa depan juga akan menghasilkan kesembronoan dan
enggan untuk mengambil kebijakan jangka panjang ketika
benar-benar penting. Hal yang terburuk dari semua itu adalah
tindakan melarikan diri para pelaku pembuatan aturan dari
ketidakpastian menuju dugaan yang jauh dari keakuratan dan
untuk perintah mereka, percaya pada perbintangan dan
kebodohan yang serupa itu.
Bagaimanapun, kewaspadaan harus ditingkatkan untuk
mengimbangi kehadiran ketidakpastian dan kondisi yang
tidak dapat ditebak dengan penekanan pada banyak fitur
penting tentang realita dan dinamikanya yang selalu berada
dalam kaitan rentang waktu kebijakan, membuat persiapan
tinjauan secara cermat adalah sangat bermanfaat meski
sedikit meragukan.
Problem khusus diletakkan oleh keadaan di mana rasa
percaya diri lebih penting daripada tinjauan perkiraan, yaitu
situasi yang revolusioner ketika dipentingkannya kepercayaan
terhadap Tuhan atau sejarah berada di sisi seseorang, dengan
demikian dampak dari ramalan pemenuhan diri dapat
digerakkan untuk membuat hal-hal yang hampir mustahil
menjadi sedkit kurang mustahil meski masih tidak disukai.
Namun dalam kebanyakan situasi yang berlebihan rasa
percaya diri adalah keadaan yang sangat berbahaya, ramalan
yang realistis malahan dibutuhkan bersama kebijaksanaan
dan juga tentunya keraguan dan kebimbangan,
dikombinasikan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan.
Tidak ada kekhawatiran tentang literatur yang dapat dijadikan
rujukan yang dapat menungkap pendekatan ramalan sebaik
pemeriksaan kritis mengenai prediksi atau perkiraan (CIA
1.8. Perenungan, Merasakan dan Impian dalam Konteks Alternatif
Masa Depan dan Dorongannya
Pada inti kurikulum dan kesimpulan kebanyakannya berupa
pemikiran, penghayatan, imajinasi, impian, spekulasi, ramalan
dan perencanaan dalam konteks alternatif masa depan,
pasang-surut, visi yang realistis dan mimpi buruk, dan
sebagainya disertai pengarahannya dan instrumen kebijakan.
Para pelaku pembuat aturan perlu dilatih dan dibiasakan
untuk melatih seluruh fasilitas mental mereka untuk bermain
dan mempertimbangkan secara mendalam jalan alternatif ke
masa depan dan tindakan yang perlu mereka ambil, untuk
menelaah ulang rumusan kunci, untuk memperbaiki
kemungkinan terhadap hal yang diingini, mengurangi
kemungkinan terhadap hal-hal yang tidak diingini dan
menyanggupkan diri untuk menanggulangi sesuatu yang
tidak dapat ditebak yang pasti akan muncul.
Kesulitan yang sangat banyak dalam pelaksanaan dihasilkan
dengan rumusan spekulasi sejarah if-then (jika- kemudian)
yang hari ini disebut dengan sejarah yang sebenarnya/sejati
(Ferguson, 1997). Ambil sebuah perumpamaan yang relatif
sederhana, kita asumsikan bahwa Hitler telah telah terbunuh
pada tahun 1938. Adalah sangat mungkin bahwa kawanannya
tidak akan pernah ada dan bahwa Hitler akan dikenang
sebagai seorang Bismarck kedua. Namun apakah sejarah
Eropa, Yahudi dan dunia akan menjadi seperti sebuah
persoalan bagi spekulasi liar, dengan pemahaman tentang
proses sejarah yang tersedia menjadi sangat tidak memadai
bagi penyediaan perkiraan yang dapat menopang.
Ini sebuah kasus yang terkait dengan dimensi masa lalu,
ketika kita mengatahui banyak fakta. Semua yang terasa sulit
dipertimbangkan sebagai alternatif masa depan, yang
merupakan jenis sejarah sejati masa untuk menjawab
pertanyaan: Jika saya melakukan hal yang demikian lalu apa
masa depan yang akan mungkin terjadi? Atau pertanyaan
yang lebih jenius lagi: Jika saya melakukan hal yang demikian,
apa rentangan masa depan yang mungkin? Namun,
bagaimanapun kebimbangan dan sebagian spekulasi, ini
merupakan bahan di mana kebijakan besar yang tidak dapat
dihindari berpijak.
Perenungan, penghayatan dan impian dalam konteks
alternatif masa depan dan pemandunya sebagai pusat untuk
pembuatan kebijakan meliputi lima elemen:
A. Seperti diindikasikan, lingkaran pusat dimana semua
pilihan beredar adalah alternatif masa depan, merupakan
sebuah konsep pertamakali disusun oleh Bertrand de
Jouven (Jouvenel, 1967) dan ia sebut sebagai Kemampuan
masa depan. Wawasan para pembuat aturan harus
depan terhadap ruang kebijakan utama dan kesemuaannya
secara keselurahan, mempertimbangkan yang mana harus
dicegah dan yang mana perlu difasilitasai, mengidentifikasi
pengarah utama yang lebih jauh harus dicegah dan
realisasi dari alternatif masa depan yang beragam dan
memilih aturan pengarah yan dapat melayani sebagai
instrumen politik yang tergabung ke dalam kebijakan
besar, termasuk fihak lembaga.
B. Kebutuhan bukan hanya untuk pemikiran yang cermat dan
disiplin dalam konteks alternatif masa depan dan
pengarahnya, namun juga untuk melatih wawasan
keseluruhan seseorang. Membayangkan alternatif masa
depan, memimpikannya dan melakukan spekulasi
merupakan hal yang esensial untuk memasukan banyak
kretivitas yang dibutuhkan dan untuk menggerakkan
wawasan keseluruhan para pembuat aturan untuk bekerja
dalam konteks alternatif masa depan.
C. Membayangkan, memimpikan, melakukan spekulasi,
ramalan dan akhirnya perencanaan dan keahlian
pembuatan kebijakan besar mensyaratkan banyak
kerangka berfikir supaya tidak luput dalam rangkuman
pilihan, labirin ganda dari alternatif masa depan. Hal yang
sangat diingini namun seringkali menjadi kerangka berfikir
yang kritis adalah jatuh bangunnya sebuah negara,
aspek spekulasi sebagiannya menyediakan sebuah
landasan bagi sebuah pemikiran yang mendalam dan
menyeluruh pada alternatif masa depan.
D. Panduan kebijakan yang kongkrit dan langsung adalah visi
yang realistik dan sekaligus mimpi buruk. Ini semua
mengkhususkan gambaran sebuah rentang masa depan
dalam waktu dekat dan menengah untuk diperkirakan atau
untuk dicegah, untuk memeriksa kenyataan dan untuk
memeroleh darinya kebijakan, yang harus mereka
hubungkan dengann dinamika masa kini dengan rekayasa
dan panduan peta jalan.
Metode dan visi yang realistik untuk mengerjakannya dikenal
baik dalam dunia praktik dan literatur (Hamel dan Prahalad,
1994) bisnis. Pengalaman kemiliteran merupakan hal yang
relevan untuk pertimbangan kasus terburuk dan
kelemahannya. Sejumlah negara harus menyiapkan visi yang
realistik. Semua ini menyediakan landasan yang baik untuk
proses pelatihan.
Dan hal yang lebih sulit lagi adalah fasilitasi pemikiran dalam
konteks jatuh-bangun. Tulisan klasik milik Gibson, Toynbee
dan Sprengler adalah bagian stimulasi, namun pelatihan
harus secara kritis mendiskusikan literatur modern dan
menerapkannya untuk memilah domain kebijakan besar
(Kennedy 1987; Oslon 1982; Tainter 1988).
Tujuan penerapan pemikiran dalam bingkai sejarah,
perenungan dalam konteks alternatif masa depan dan
seterusnya dan alasan utama dari kebijakan besar adalah
untuk merancang, merencanakan dan mengimplementasikan
campurtangan bersamaan dengan proses sejarah untuk
mencoba dan menghadapi sebuah masa depan yang lebih
baik. Seperti campurtangan dengan proses sejarah, pada
level yang sangat mendasar, berdasarkan pada filsafat atau
teori sejarah dan realitas sebagai keseluruhan, yang
sebagaimana telah diuraikan- mempertimbangkan masa
depan sebagai diproduksi oleh dinamika perubahan yang
tidak lurus, menggabungkan antara (1) kebutuhan, karenanya
proses yang menentukan, apakah sesuatu yang sederhana
atau hal yang bersifat kemungkinan (mengambil bentuk
rantai Stochastic); (2) kecocokan/kesesuaian, karenanya
merupakan pengaturan awal tentang alternatif masa depan
tanpa penetuan awal kemungkinan-kemungkinan; (3) mutasi,
dan karenanya merupakan giliran yang radikal dan
perputusan dalam kesinambungan yang mengarahkan kepada
apa yang secara prospektif merupakan arahan yang tidak
dapat ditebak secara luas, sebagai hasil proses yang mungkin
atau tidak menjadi penentu awal atau penentu dari dalam
untuk ragam tingkatan; dan (4) dalam sebagian kasus
terjadinya tumpang tindih kategori tentang masa lalu, apa
merupakan peristiwa acak, seperti perilaku gabungan
gagasan dari seorang pembuat aturan yang bertenaga.
Pemberian sebuah gambaran proses sejarah, terdapat
cakupan menghadapi masa depan manusia untuk perluasan
dimana seorang agen manusia mengontrol sumberdaya
yang dapat berdampak pada penciptaan proses masa depan.
Seperti yang telah ditekankan, kekuatan membentuk masa
depan keputusan dan tindakan manusia disertakan oleh
pemerintah dan para pembuat keputusan, akan meningkat
dengan penataan/penempatan jarak/hal paling serius,
utamanya sebagai hasil dari ilmu dan teknologi.
Bagaimanapun, kesimpulan ini, harus dipertimbangkan dalam
latar potensi lebih besar bagi kebebasan manusia untuk
membentuk masa depan seperti yang ada di antara keinginan
dan nilai sebagai pengarah independen di satu sudut dan
fakta realitas yang sulit dihilangkan sebagai pembatas
keinginan bebas dan membentuk kemungkinan masa depan
di sudut lain. Sebuah pandangan idealis ekstrim terhadap
sejarah dan dunia manusia akan menjamin untuk secara
bebas memilih keinginan dan nilai manusia yang sangat
memengaruhi masa depan, saat sebuah pandangan
materialistis ekstrim akan menggerus eksistensi kebebasan
pilihan bebas manusia dan dampaknya pada masa depan.
Antara posisi ekstrim tertentu pandangan yang dikemukakan
manusia sebagaimana yang diputuskan secara sepihak oleh
pilihan bebas manusia dalam usaha memengaruhi masa
depan, namun mempertimbangkan pengaruh ini sebagai
dipaksa oleh keterbatasan dalam pilihan bebas dan peristiwa
sejarah dan prooses-proses yang melampaui pengaruh
manusia. Lebih jauh dan sangat penting yaitu terdapat dunia
yang berbeda antara dampak keseluruhan tindakan manusia
pada masa depan manusia dan dampak manusia di masa
depan yang akan bermanfaat dan lebih kurang sejalan
dengan apa yang menjadi tujuan oleh pilihan bebas secara
parsial. Banyak dari pertumbuhan dampak tindakan manusia
di masa mendatang tidak disengaja dan bahkan kurangnya
dampak sesuai dengan nilai-nilai pilihan secara bebas dan
tujuan agen manusia dinamai menurut ideologi yang diterima
untuk mengikutsertakan dalam pembentukan masa depan
seperti pengesahan pemerintahan dan para pembuat aturan.
Lebih jauh, tidak hanya banyak dampak yang tidak
dikehendaki tetapi juga mereka sendiri tidak diingini, bersama
sebuah peningkatan resiko secara cepat dampak yang sangat
buruk yang tidak dikehendaki yang dihasilkan dari
meningkatnya jarak pemisah antara peningkatan secara
cepat kekuatan manusia untuk memengaruhi masa depan
dan lebih kurang kapasitas manusia yang stabil untuk
melatih kekuatan ini untuk mencegah hal buruk dan
Pelebaran jarak antara tumbuhnya dampak kekuatan dan
mutu pembuatan kebijakan yang relatif stabil yang menguasai
tantangan utama terhadap pelatihan kebijakan besar para
pelaku pembuat aturan dan memasukkannya ke dalam semua
usaha yang mungkin memiliki signifikansi sejarah makro.
Bagaimanapun, aspek filosofis dari perspektif ini seharusnya
didiskusikan dengan para peserta sebagai dasar pemikiran
kebijakan besar yang serius. Ini secara bersamaan dengan
penjelasan tujuan pelatihan sebagai penyedia perspektif,
pemahaman, dan pendekatan dan bukan hal yang bersifat
teknis.
Pada tataran yang lebih teknis, tujuan utama pelatihan para
pelaku pembuat aturan dapat dirumuskan sebagai
pengembangan kemampuan mereka dalam menghadapi
masa depan menurut klarifikasi nilai mereka dan tujuan yang
menjadi prioritas, jauh sebagai legitimasi dalam norma-norma
konstitusi yang diterima. Sebuah elemen penting dari
kapasitas ini adalah pemahaman mereka terhadap potensi
juga sebagai pembatas kemampuan mereka untuk
memeroleh dampak yang diingin di masa depan, termasuk
banyaknya ketidakpastian pada apa yang menjadi pembatas
pilihan efektif mereka – seperti dibuktikan oleh banyak kasus
sejarah dari dampak yang sangat luas yang tidak diharapkan
efek yang secara rasional diharapakan serta harapan tidak
dapat terealisasikan.
Pelatihan para pelaku pembuat aturan harus melengkapi
mereka dengan sebuah pemahaman tentang hubungan yang
kompleks antara pembuatan kekuatan masa depan dan
dampak aktual mereka di masa depan. Lebih jauh para
peserta harus menyadari bahwa untuk menuju pada suatu
yang penuh, meskipun membatasi luasnya dampak mereka di
masa depan tergantung pada kapasitas pribadi mereka
termasuk kualitas pemikiran kebijakan besar mereka pada
argumentasi dimana pelatihan diarahkan.
Pemberian sebuah pemahaman khusus mengenai proses
sejarah, kerja yang efektif, untuk membentuk masa depan
melalui campur tangan dalam proses sejarah harus sejalan
dengan enam kondisi berikut:
A. Keinginan untuk membentuk masa depan
B. Sejumlah kutipan operasional apa yang merupakan
kebaikan atau keburukan masa depan.
C. Pemahaman yang memadai mengenai proses-proses
sejarah, dengan demikian kesempatan campur tangan
memiliki dampak yang lebih baik menjadi tinggi daripada
resiko hasil yang buruk.
D. Kemampuan untuk menerjemahkan pemahaman ke dalam
E. Sumber-sumber yang memadai baik aspek politik,
ekonomi, manusia dan sebagainya, untuk memeroleh
masa intervensi yang kritis dalam proses sejarah agar
memiliki sebuah dampak yang substansi pada diri mereka.
F. Mengimplementasikan kapasitas yang memadai untuk
menterjemahkan kebijakan ke dalam tindakan yang efektif
dan pengaplikasian sumberdaya secara efektif dan efisien.
Kebutuhan masa intervensi kritis, termasuk sering dilakukan,
namun tidak selalu menjadi kebijakan yang berskala luas,
penekanan pada aspek kebutuhan, dan semuanya yang
kelihatannya sering diabaikan dalam tataran teori maupun
praktik. Aspek politik dan aspek lain yang menekan
bersamaan dengan sumberdaya membatasi frekuensi hasil
dalam pembubaran keterbatasan sumberdaya terhadap
banyak kebijakan dengan hasil yang sering berada di ambang
masa kritis minimum tidak tercapai dan sebagai sebuah hasil
kebijakan tidak memiliki dampak seperti yang dikehendaki.
Sebab itu, kebutuhan untuk menyusun prioritas fokus pada
sumber-sumber mengenai sejumlah kebijakan besar yang
terbatas agar sesuai dengan perolehan masa intervensi yang
memadai, seiring dengan cara-cara yang dapat membuat hal
ini menjadi mungkin, seperti dengan cara alokasi nominal
sumber-sumber terbatas terhadap kebijakan lain sesuai
dampak yang banyak, saat berkonsenterasi pada kerja utama
dalam sejumlah kebijakan besar yang terbatas.
Ambang masa kritis bevariasi seiring kekakuan dan sifat
rapuh dari pemberian proses sejarah dan perluasan
kesempatan yang ditujukan dalam lintasan sejarah. Jadi,
dalam sejumlah kasus secara relatif intervensi minor dapat
bekerja sebagai sebuah poin penunjuk saat di sisi lain hanya
intervensi skala besar yang menyediakan sebuah kesempatan
untuk memeroleh dampak yang dikehendaki.
Kadangkala kondisi krisis menyediakan kesempatan unik
untuk memiliki dampak signifikan seiring masa intervensi
terbatas, seperti yang akan didiskusikan nanti. Bahkan
sebuah kasus yang dianggap lebih spesial adalah membuang
aspek kejutan yang terdapat dalam sejarah sebagai cara
untuk mencoba dan memeroleh dampak yang menonjol
dengan keterbatasan sumberdaya dengan menciptakan
sebuah penumpu dampak. Ilustrasinya meliputi devaluasi
yang mendadak dan serangan yang mengejutkan atau
kesepakatan.
Diskusi bersama situasi para peserta pelatihan ketika
membuang aspek kejutan pada sejarah adalah tindakan yang
dibenarkan meskipun hal tersebut sangat beresiko untuk
mencegah bahaya besar atau membantu diri sendiri
memanfaatkan celah kecil sebuah kesempatan, merupakan
kritis dengan proses sejarah. Hal gtersebut juga
mengilustrasikan sebuah jenis khusus pengambilan bentuk
kebijakan besar mengenai pilihan kritis dan menunjukkan
problem pengambilan resiko sebagai lawan yang menjadi
keijaksanaan bersama dengan pentingnya kreatifitas.
Hal krusial mengenai intervensi efektif dengan sejarah adalah
dugaan sebab dimana mereka didasarkan. Hal hal yang
dituntut adalah penunjukan secara terang dugaan tertentu,
pemeriksaan kritis terhadap keabsahan dan dasarnya dan
penegasan aspek kemungkinan kuantitatif dan kualitatif
mereka serta spekulasi dan perkiraan mereka.
Kesulitan khusus bagi kebanyakan peserta adalah usaha
untuk menyerap atau mengerti, sebagai hal khusus dari
pemahaman yang bersifat abstrak merupakan kesimpulan
yang tak dapat dihindari bahwa kebanyakan pembuat
keputusan praktis bergantung secara tak terhindarkan dalam
banyak dan perkiraan, dugaan, teori dan spekulasi hipotetis
yang cukup sering. Dan tidak kurang sulit adalah tuntutan
berfikir dalam konteks ketidakpastian kuantitaif dan kualitatif
dan keadaan yang tak mudah ditebak. Dan hal yang tersulit
dari semuanya adalah menerima dan bertindak merupakan
hal yang sederhana namun memukul kesimpulan bahwa
seluruh pilihan termasuk kebijakan besar dalam esensi dan
dunianya merupakan sebuah pertaruhan misterius, dengan
menghargai pertaruhan dengan sejarah yang krusial. Bahkan
sering dilakukan untuk pertaruhan besar dan juga amat
penting.
1.10. Kepuasan Pertaruhan yang Penuh Teka-Teki
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa arah kebijakan besar
berada dalam pertaruhan misterius yang sangat alami, dan
itulah pertaruhan tanpa peraturan yang baik yang
menghasilkan sesuatu yang sangat alami dimana di dalamnya
terdapat bagian besar unsur yang tidak jelas, tidak dapat
ditentukan dan tidak dapat diketahui kelanjutannya.
Bagaimanapun, untuk menekankan kembali sebuah poin yang
krusial yang menjadi pusat pelatihan kebijakan besar
pembuat aturan, sebuah tugas yang paling kritis mereka yaitu
ikut serta dalam pertaruhan yang penuh teka-teki, bahkan
untuk pertaruhan yang sangat besar. Mereka tidak perlu
menyelidiki aspek metodologi, psikologi dan filsafat dari
pertaruhan yang penuh teka-teki maupun
perbaikan-perbaikannya, namun mereka secara pasti perlu kesadaran
mengenai dimensi pilihan mereka yang penting ini,
permasalahannya dan harus terbiasa dengan cara-cara yang
digunakan untuk mengatasi- singkatnya, mereka butuh
kepuasan pertaruhan yang penuh teka-teki.
Kesimpulan ini secara intelektual tidak terbantahkan, namun
sangat sulit untuk menerima secara emosi dan merupakan hal
membahayakan menjelaskannya kepada para pembuat
keputusan yang memiliki toleransi yang rendah terhadap
sesuatu yang bersifat mendua, sebagaimana ia akan
menyebabkan kesembronoan, yang berwujud sebuah
pemahaman subjektif bersifat ilusi terhadap kepastian dan
menggantungkan nasib pada para ahli nujum dan para ahli
peramal.
Secara khusus tantangan-tantangannya adalah sebagai
berikut:
A. Membutuhkan pertimbangan nilai bauran resiko yang
dikehendaki, ketidakpastian kualitatif dan hal yang sukar
dimengerti,
B. Temuan dalam keputusan yang secara psikologi
mengindikasikan bahwa manusia berfikir dalam hal
ketidakpastian merupakan kecenderungan yang sangat
fatal,
C. Ketidaksarionalan sikap publik terhadap resiko,
membuatnya secara politik berbahaya bagi pelaku
pembuat aturan untuk menjelaskan dengan penuh
kejujuran dimensi pertaruhan kebijakan besar mereka yang
penuh teka-teki,
D. Kegagalan dan salah kaprah tentang intelijen keamanan
dan jenis estimasi lain serta pandangan yang disebabkan
mungkin tersedia yang dikombinasikan dengan pembacaan
yang tepat terhadap hal yang ambigu secara politis,
E. Situasi yang menjengkelkan dimana tingkat kecocokan
sangat rendah atau kemungkinan kecocokannya tidak
dapat diketahui namun potensi dampaknya sangat tinggi
dihadapi,
F. Ketersedian metode untuk memperbaiki pertaruhan yang
penuh teka-teki (dewar 2002; Dror 2002, ch.15) secara
parsial sangat berguna. Namun sejumlah lainnya
menyimpang dan sangat rumit, diharapkan dan sabian
bertentangan dengan instuisi. Juga, ketika hal utamanya
tidak berbentuk kuantitatif, akan tidak mudah untuk
menjelaskan kepada para pelaku pembuat aturan yang tak
terkira banyaknya (Paulos 1988).
Semua ini ditambah kesulitan-kesulitan yang diperburuk oleh
standar tujuan untuk mengatasi ketidakpastian dalam
kebanyakan analisis kebijakan dan literatur analisis resiko
yang juga keliru. Dalam hal khusus, rekomendasi untuk
mengandalkan pada aneka kemungkinan subjektif dengan
tidak mengurangi keperluan yang berubah-ubah untuk dapat
menghitung nilai dang diharapkan dan kemudian sampai pada
jawaban yang optimal yang keliru secara total. Kecuali bila
kasus ini seiring berjalan dengan proses sejarah dan dengan
dugaan yang merupakan sebuah bentuk fantasi ketika situasi
rumit dihadapi.
Dimensi pilihan yang dilakukan oleh para pembuat aturan
yang dianggap sebagai pertaruhan yang penuh teka-teki telah
difahami dengan baik oleh Machiavelli dalam meletakkan
hubungan antara peruntungan, kesempatan, kebijaksanaan
dan kebajikan di pusat rekomendasi keahliannya.
Pengetahuan yang bermanfaat tidak hadir. Laporan ilmiah
mengenai para pelaku pembuat aturan dan tulisan-tulisan
oleh para ahli sejarah yang menunjukan dengan jelas dimensi
praktik melempar dadu tentang keputusan yang menonjol
akan membantu membuat subjek lebih nyata dan cocok
untuk para pelaku pembuat aturan. Bagaimanapun, pelatihan
dapat melakukan bayak hal untuk memperbaiki kepuasan
pertaruhan yang penuh teka-teki, meski tema ini harus
dilaksanakan secara hati-hati.
Dengan demikian kesimpulan sementaranya adalah:
a. Para pelaku pembuat aturan harus dibuat benar-benar
sadar terhadap kedua dimensi keputusan mereka sebagai
pertaruhan yang penuh teka-teki dan terhadap
kemungkinan untuk memperbaikinya secara bersamaan
dengan kemustahilan akan kemungkinan tidak
menjadikannya sebagai dimensi pertaruhan yang penuh
b. Pelatihan terkait tema ini harus juga menyertakaan aspek
emosi, menekankan perlunya untuk menerima dan
toleransi terhadap sesuatu yang ambigu.
c. Menyajikan kecenderungan kekeliruan utama wawasan
manusia dalam memeroses ketidakpastian dan
menjelaskan ukuran balik akan dapat banyak membantu
d. Sejumlah rekomendasi praktis harus disajikan dan dilatih,
seperti tidak berfikir tentang isu-isu rumit dalam konteks
solusi namun perlakuan; pertimbangan hasil yang
diharapkan dari pilihan alternatif selalu yaitu pesimistis
dan optimistis; membaca opini para ahli yang
bertentangan tidak dalam pengertian seseorang menjadi
benar dan yang lain keliru, namun lebih sekedar sebagai
penunjukkan; lebih tepatnya menanyakan apa
selanjutnya? dan apa jika?; bekerja dengan dugaan yang
beragam; memeriksa pilihan untuk lebih sensitif terhadap
ketidakpastian; memberikan perhatian untuk kemungkinan
meskipun kecil, kecocokan dampak yang tinggi, secara
kreatif membayangkan peristiwa-peristiwa kejutan yang
mungkin dan mencari kelenturan.
e. Klarifikasi nilai dan pengaturan dimensi tujuan harus
diperluas untuk menyertakan pertimbangan pada bauran
yang beragam dari ketidakpastian yang banyak.
f. Kemungkinan dinamika dan peristiwa yang sulit difahami
mempersiapkan bagi mereka, membimbing untuk
mengatasi krisis sebagai cara yang utama untuk
meningkatkan pertaruhan yang penuh teka-teki.
g. Aspek publik dan politis dimensi keputusan pertaruhan
yang penuh teka-teki harus dipertimbangkan seiring
dengan dilema antara berbicara kebenaran dan
penunjukkan keyakinan akan diletakkan seterusnya secara
jelas meskipun luput dipertimbangkan oleh para peserta
pelatihan.
h. Kesulitan ditempati oleh dimensi pilihan pertaruhan yang
penuh teka-teki untuk dievaluasi oleh hasil, belajar dari
konsekuensi yang timbul dan menjadi pertimbangan oleh
publik untuk hal yang terjadi yang faktanya harus
dijelaskan dan penyingkapan implikasi praktis mereka.
1.11. Mengatasi Krisis
Cara tertinggi untuk mengatasi ketidakjelasan, ketidak
mungkinan dilihat dan hal sulit dimengerti adalah mengatasi
krisis. Bentuk-bentuk baru serangan teror melambangkan
kebutuhan untuk memperbaiki mengatasi krisis, namun krisis
juga dapat berbentuk bencana alam, kelesuan ekonomi,
kerusuhan sosial dan banyak lagi. Dalam banyak krisis para
pelaku pembuat aturan biasanya merupakan para pembuat
keputusan tertinggi, dengan tindakan atau kegagalan. Tapi
kecuali bila mereka memiliki latar belakang mengatasi krisis
melakukan peran utama nya dan dapat dengan mudah
melakukan banyak tindakan keliru.
Alasan utama untuk menjadi tidak siap adalah
kekurangsiapan oleh politikus senior untuk ambil bagian
dalam latihan mengatasi krisis sebagai hal penting untuk
menyiapkan diri sendiri untuk mengatasi krisis. Alasan formal
yang sering diajukan yaitu mereka tidak ingin mengulurkan
tangan mereka secara prematur, namun alasan yang
sesungguhnya adalah para pollitikus yang berpengalaman
tersebut tidak bersedia diuji. Dan hal yang lebih esensial lagi
dalam pelatihan adalah rasa kepekaan para pelaku pembuat
aturan akan kebutuhan untuk menyiapkan diri bagi usaha
mengatasi krisis, termasuk juga memperlakukan krisis secara
modern sebagai kesempatan untuk melakukan apa yang
dianggap mustahil
Para peserta pelatihan dapat dikenalkan cara mengatasi krisis
dengan latihan krisis panjang dan krisis yang singkat dihadapi
dengan hipotesis namun situasinya nampak nyata. Komputer
yang diperuntukkan untuk game dan simulasi akan dapat
membantu. Latihan mengatasi krisis bukan hanya penting
bagi diri mereka semdiri namun juga menyediakan
kesempatan untuk mengajukan dan mengerti tema pemikiran
kebijakan besar penting lain dalam menstimulasi cara yang
Terdapat cukup literatur yang tersedia terkait mengatasi
krisis, baik dalam kontek warga negara maupun keamanan,
teoritis maupun terapan (Rosenthal, Boin, dan Camfort 2001).
Contoh sejarah yang bagus dapat disajikan sebagai pengantar
yang membangkitkan minat (Frankel 2004; Lukacs 1999).
Sejumlah gagasan untuk mengatasi krisis dalam dunia bisnis
secara parsial dapat diterapkan, namun yang berhubungan
secara khusus adalah sejumlah buku yang fokus pada peran
kepemimpinan dalam krisis (Carrel 2004). Orang yang
berpengalaman dalam mengatasi krisis dapat membantu
seperti adanya kesempatan untuk mengunjungi unit
mengelolaan krisis dan demonstrasi khusus yang akan
dievaluasi nanti.
1.12. Pandangan Menyeluruh
Para pembuat aturan perlu mengambil pandangan
menyeluruh terhadap ruang kebijakan utama dan pandangan
agung kebijakan mereka secara keseluruhan, jadi untuk
menyusun prioritas pertimbangan yang baik bagi keahlian
kebijakan besar, memahami dampak silang dan mencoba
untuk mencapai sinergisme.
Kebutuhan akan pengelolaan yang menyeluruh akan
meningkatkan pemahaman, sekurangnya dalam teori, namun
kerangka terbaik untuk pemikiran kebijakan besar yang
tersebut adalah gagasan utama yang cukup jelas;
keseluruhan kinerja bukanlah sebuah fungsi tambahan dari
hasil keluaran komponen. Bagaimanapun, interaksi komponen
harus dipertimbangkan secara hati-hati yang demikian untuk
mencegah efek negatif dan memeroleh perbaikan sistem
secara keseluruhan. Implikasi utamanya juga akan menjadi
jelas, seperti tantangan sistem manajemen diri, kebutuhan
untuk memahami sistem secara keseluruhan dan manajemen
ketika manajemen diri tidak bekerja, pembiayaan sistem, dan
seterusnya- semuanya dalam kerangka waktu yang utama.
Keterhubungan secara khusus merupakan implikasi bagi misi
para pembuat aturan; mereka bagian dari keselruhan
kepemerintahan dan dalam perspektif sosial dan ketika
manajemen diri tidak bekerja pada rancang ulang sistem,
kekeliruan dan manajemen. Lebih njauh, hal tersebut terserah
pada mereka untuk mnejamin pengelolaan yang menyeluruh
dan untuk memeroleh bagi mereka sebuah perspektif sistem
keselruhan mengenai kebijakan besar utama sebagai sebuah
rencana yang interaktif.
Dalam subjek materi ini, perhatian harus juga diarahkan pada
penganggaran. Meski kebanyakan usaha untuk melakukannya
gagal, sebuah pelajaran penting dapat disarikan bagi
penggunaan inovasi terhadap perbaikan anggaran terkait
kebijakan sebagai sebuah instrumen untuk memeroleh
Pendekatan sistem dikembangan dengan baik dalam literatur
tertentu sebaik yang ditemukan dalam sejumlah praktik
pembuatan kebijakan. Penjelasan dan penunjukkan
prinsip-prinsipnya pada peserta yang berpengalaman tidak sulit,
namun benar-benar untuk membuat menyeluruh perspektif
sebuah bagian latihan pemikiran mereka, studi kasus dan
proyek melakukannya dengan baik.
Hal yang lebih sulit lagi adalah isu-isu mengenai sebuah
kebijakan besar seluruh negara yang berusaha untuk
menyusun sebuah kesatuan jalan bagi kebanyakan ruang
kebijakan. Ilustrasi termasuk menyediakan sebuah negara
untuk bergabung dalam Uni Eropa, pindah dari rezim komunis
dan ekonomi terpusat menuju ke arah rezim demokrasi dan
ekonomi pasar, memberi sebuah kehidupan atau perang yang
mematikan, dan sejumlah arah modernisasi secara
keseluruhan, seperti di Singapura. Pertanyaannya adalah jika
dan ketika memiliki sebuah kebijakan besar secara
keseluruhan itu tersedia, apakah pusat bagi pelatihan para
pembuat aturan di berbagai negara digunakan dengan cara
yang radikal namun bukan perubahan diri secara revolusi. Jika
jawabannya ya, banyak pelatihan kebijakan besar harus
merujuk pada keahlian seperti sebuah kebijakan besar
keseluruhan, dan perubahan bentuk dari ruang khusus