PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL
ANIMASI FILM PENDEK “PARALYZED”
Vincent
Jalan Jend.A.Yani no 57D, Pekanbaru, Riau, 28114 08992183030, [email protected] Frans Santoso, S.Sn, M.Des. ; Aris Darisman, S.Sn
ABSTRAK
TUJUAN PENELITIAN, adalah membuat animasi pendek yang bisa memberitahukan kepada orang
bahaya dari bergadang, dan juga memberikan informasi tentang bagaimana itu fenomena ketindihan
METODE PERANCANGAN ANALISIS, yang digunakan adalah analisis literatur buku dan
perpustakaan, observasi lapangan, internet, dan studi visual
HASIL YANG DICAPAI, Sebuah film animasi pendek berjudul "Paralyzed" sebagai hasil karya tugas
akhir.
SIMPULAN, sebuah film animasi horror yang dibuat untuk menghimbau masyarakat terutama
mahasiswa untuk menghindari kebiasaan bergadang dan lebih menjaga kesehatan mereka.
Kata Kunci : bahaya, ketindihan, horror
ABSTRACT
THE PURPOSE OF RESEARCH is to make a short film which can inform people the risk of staying up
late, and also to inform people about what is 'Sleep Paralysis'
THE METHOD OF STUDY conducted by the authors is to do research through the books and literature
analysis, field observation, internet and visual study
THE RESULTS ACHIEVED is a short film titled "Paralyzed"as final project
CONCLUSION , a horror animation that was made in order to inspire people, especially college students
to avoid staying up late and to mind their own health
PENDAHULUAN
Manusia seringkali memaksakan diri untuk beraktivitas melebihi batas kemampuan fisik nya, baik ketika bermain, belajar, maupun bekerja. Rasa lelah yang menumpuk bisa mempengaruhi kesehatan dan membebani pikiran. Sehingga pada waktu tidur pun, rasa lelah itu tidak hilang begitu saja sehingga mempengaruhi kita di waktu tidur. Salah satu dampaknya adalah fenomena yang sering kita sebut dengan "Ketindihan" (Sleep Paralysis).
Sleep Paralysis adalah keadaan dimana kita sadar , namun kita tidak bisa menggerakkan badan dan mengeluarkan suara , terkadang disertai dengan penampakan. Penampakan ini diakibatkan oleh kondisi dimana otak kita sudah masuk ke alam mimpi , namun fisik kita masih setengah tertidur. Tetapi banyak juga orang yang mehubungkan fenomena ini dengan hantu atau makhluk halus. Berbagai macam teori sudah dikeluarkan , baik dari sisi ilmiah , maupun dari sisi paranormal. Berdasarkan fenomena ini dan pengalaman pribadi, penulis terinspirasi untuk membuat short animation ber-genre horror yang berdasarkan dari fenomena ketindihan tersebut. Hal ini sehubung dengan ketertarikan penulis pada tema horror dan juga menurunnya kualitas film horror di Indonesia yang sekarang sebagian besar malah menjadi ajang untuk mengumbar keseksian atau hal tak pantas lainnya. Karena itu penulis memilih tema ini dengan harapan bisa memperbaiki kualitas film horror Indonesia dan juga memberi pesan moral bagi penontonnya.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipakai oleh penulis adalah pengumpulan data dari literature buku, literatur internet, serta video referensi. Berikut ini adalah hasil analisa penulis dari sumber-sumber data yang telah dikumpulkan.
1. Data Umum
Metode penelitian yang dipakai oleh penulis adalah pengumpulan data dari analisis literatur buku dan perpustakaan, observasi lapangan, internet, dan studi visual. Berikut ini adalah hasil analisa penulis dari sumber-sumber data yang telah dikumpulkan.
1. Data Umum
1.1 Animasi
Kata animasi berasal dari bahasa latin yaitu animare , yang berarti membuat sesuatu menjadi hidup atau memberi sesuatu nafas. Kita bisa mengambil mimpi kita yang paling kekanakan atau dunia teraneh dalam imajinasi kita dan membuatnya hidup. Di dunia animasi kita merekonstruksi ulang kenyataan.
Ruang dan waktu merupakan elemen penting dalam animasi. Hukum fisika tak berlaku. Di animasi , penonton menerima data dengan cepat. Para penonton bisa menerima info dalam hanya beberapa frame. Timing juga merupakan elemen penting dalam animasi , begitu juga untuk di animasi komedi. Segalanya dilebih-lebihkan hingga batas ekstrim dalam pembuatan animasi.
1.2 Jenis-Jenis Film
Ragam jenis film yang sering kita sebut sebagai genre, status, atau identitas film. Dimana jenis film dipengaruhi oleh tema cerita seperti apa yang menjadi ide utama suatu film. Adapun jenis-jenis yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Film jenis drama adalah film yang mengangkat tema seputar kehidupan yang terjadi secara umum, bisa berupa kehidupan dalam keluarga, percintaan, lingkungan sosial, dan lain-lain. Konfliknya pun biasanya tidak terlalu rumit. Umumnya, jenis film drama selalu kental dengan unsur-unsur cinta. Sampai saat ini, film drama menduduki peringkat sebagai film yang sering diproduksi.
2. Film Horror
Film horror mengangkat tema seputar hal-hal supranatural, metafisika, kematian dan hal-hal gaib.
3. Film Kolosal
Film ini merupakan jenis film yang paling banyak menghabiskan biaya produksi dan melibatkan pemain dalam jumlah besar. Biasanya tema yang diangkat berhubungan dengan peperangan besar-besaran atau pertikaian suatu negara.
4.Film Romantis
Film romantis biasanya dapat juga dikategorikan ke dalam film drama. Namun karena unsur percintaan nya yang kental, film ini memiliki genre tersendiri.
5.Film Thriller
Film thriller memiliki alur yang sangat kompleks, serta ceritanya yang dipenuhi oleh teka-teki. Biasanya tema yang diangkat seputar kelainan psikologi tokoh-tokohnya, pembunuh berdarah dingin, atau peristiwa yang terjadi akibat adanya eksperiman berbahaya.
6.Film Komedi
Film yang kental dengan unsur jenaka sudah pasti termasuk ke dalam film komedi. Alur ceritanya teratur dan ringan, sehingga dapat dijadikan tontonan yang menghibur.
7.Film Fantasi
Film fantasi adalah film yang dibuat berdasarkan imajinasi yang mengada-ngada dan di luar dari akal manusia.
8.Film Laga
Film laga merupakan film yang mayoritas berisi adegan perkelahian antar tokoh-tokohnya.
1.3 Film Fiksi dan Non-Fiksi
Genre atau jenis film itu dapat dibagi dan dilihat dari bebagai aspek: isi, penonton, pemeran, serta durasinya. Dilihat dari isinya, film dibedakan menjadi:
1.
Film Non Fiksi
Sebagai contoh, untuk film non fiksi adalah film dokumenter yang menjelaskan tentang dokumentasi sebuah kejadian alam, flora, fauna
maupun manusia. Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas
dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai jenis aliran dari film documenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam jenis dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuan-tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Dalam jenis film dokudrama, realita tetap menjadi pegangan.
2.
Film Fiksi
Sedangkan untuk kelompok fiksi, dalam dunia perfileman kita mengenal jenis-jenis film yang berupa drama, suspense atau action, science fiction, horror dan Film Musikal. Jenis-Jenis Genre di Film fiksi adalah:
• Action • Petualangan • Komedi • Kejahatan / gangster • Drama • Epik / sejarah • Horror • Musik • Sci-fi • Perang • Barat
1.4 Film Pendek
Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak negara seperti Jerman, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan juga Indonesia, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang atau sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau sekelompok orang yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
1.5 Film Horror
Film horror adalah genre yang bertujuan untuk menciptakan rasa takut, panik, dan was-was terhadap para penontonnya. Seringkali konten dari film bergenre ini meresahkan dan mengandalkan penggambaran dari mimpi buruk serta ketakutan terbesar dari para penonton untuk menakuti mereka. Film horror banyak memasukkan unsur kekerasan dan sadisme ke dalam ceritanya. Dan genre ini biasanya bertumpang tindih dengan genre lain, seperti Fantasi, Thriller, dan Sci-Fi.
Berdasarkan hasil penelitian, fenomena ini disebut sebagai "sleep paralysis" , dimana seseorang berada dalam proses antara tertidur atau terbangun , menemukan dirinya dalam kondisi terjaga, namun dia tidak bisa bergerak maupun berbicara. Sang penderita biasa akan merasakan beban yang berat di bagian dada atau badan , dan rasa sesak. Biasanya, dia akan melihat sosok bayangan atau sosok yang samar-samar mendatangi dirinya dan akan membuat sang penderita menjadi sangat ketakutan.
Fenomena ini akan berlangsung selama beberapa detik sampai dengan beberapa menit , hingga sang penderita terlepas secara tiba-tiba dan bisa bergerak kembali seperti biasa. Para peneliti memahami bahwa fenomena ini diakibatkan karena terganggunya pola tidur sang penderita, dimana akan tampak mata sang penderita mengalami REM (Rapid Eye Movement) yang membuat sang penderita tidak bisa bertindak diluar dari mimpinya, hal ini berlangsung di saat sang penderita sadar bahwa dirinya sedang terbangun.
1.7 Fenomena Ketindihan secara Spiritual
Fenomena ini terjadi ketika jiwa kita, yang juga sebagai pembalut mimpi kita, tidak mengalami sinkronisasi dengan tubuh fisik secara harmonis. Hal ini biasa terjadi diantara kondisi setengah tertidur dan setengah terbangun. Teka-teki tentang fenomena ketindihan (sleep paralysis) adalah bagaimana fenomena ini menyebabkan kegagalan dalam mengumpulkan kesadaran yang terjadi secara alami. Fungsi alami itu kita dapatkan sejak lahir. Kita tidur dan terbangun dikarenakan fungsi yang berlaku secara alami pada tubuh kita. Disaat ini kita tidak seharusnya berfungsi. Karena itu ketika kita setengah terbangun dan kita tidak bisa mencapai kondisi terbangun secara total, kita menjadi kebingungan karena proses bangun dari tidur yang biasanya berfungi secara alami pada tubuh kita mengalami kegagalan.
Beberapa dari kita sudah dipengaruhi fenomena ini sejak masa kecil. Beberapa mengalaminya sesekali. Dan ada beberapa orang yang tidak pernah merasakannya dan berpikir jika mitos tentang fenomena ini hanyalah imajinasi belaka.
Ketindihan adalah suatu fenomena yang benar-benar ada. Fenomena ini sulit dipahami oleh kita, karena kita terlahir melalui proses alami yang berada diluar kendali kita, namun kita bergantung kepada proses itu.
2. Data Karakter
2.1 Mahasiswa
Untuk karakter utama, saya mengambil karakter seorang mahasiswa. Karena dalam cerita saya, sang karakter utama terkena fenomena ketindihan dikarenakan pola tidur yang buruk. Ketindihan hanya akan terjadi jika seseorang sedang dalam kondisi sangat kelelahan. Dan para mahasiswa terutama mahasiswa jurusan DKV seringkali menghabiskan waktunya bergadang menyelesaikan tugas mereka.
2.2 Bayangan
Bayangan yang muncul dan menghantui pikiran sang mahasiswa. Saya mengambil rupa ini karena biasanya pada saat seseorang sedang dalam kondisi ketindihan, mereka akan melihat bayangan hitam samar-samar yang menghantui mereka.
HASIL DAN BAHASAN
Berikut Berikut ini adalah hasil dari analisa dan pembahasan mengenai visual yang dihasilkan untuk film animasi pendek:
1. Strategi Visual
1.1 Visual Style
Style Visual yang digunakan dalam film "Paralyzed" ini lebih mengarah ke arah Semi-Realis seperti beberapa animasi Pixar. Mood yang digunakan akan bersifar gelap dan kebiru-biruan untuk menambahkan kesan suram dan dingin. Contoh mood warna yang akan digunakan adalah seperti pada animasi Tim Burton "The Corpse Bride".
1.2 Motion Style
Untuk motion style, penulis mengambil sebagian dari 12 prinsip animasi, dengan meninggalkan beberapa prinsip seperti Exaggeration, karena film animasi pendek ini lebih ke arah semi-realis. Salah satu referensinya adalah dari film animasi Russian Nightmare.
1.3 Visualisasi Karakter
1. Mahasiswa
Karakter mahsiswa ini memiliki sikap yang cuek dan pemalas, dia seringkali menghabiskan waktunya bergadang untuk bermain game. Badannya kurus , dan rambutnya tidak terawat. Dalam animasi ini, dia menggunakan kaos dan celana pendek yang biasa digunakan untuk tidur.
Karakter ini adalah wujud ketakutan yang dilahirkan dari alam bawah sadar sang mahasiswa. Wujudnya seperti menyerupai manusia namun terlihat samar-samar.
Gambar 02. Visual 3D Bayangan
2. Hasil Visual
Gambar 03. Poster
Untuk desain poster, penulis memberikan gambar sang Mahasiswa yang sedang ketakutan terpantul di layar monitor. Mood yang digunakan berwarna kebiruan untuk memberikan kesan suram.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Film animasi ini menceritakan tentang seorang mahasiswa yang terkena fenomena Sleep Paralysis. Sleep Paralysis atau yang biasa dikenal dengan sebutan ketindihan merupakan suatu fenomena dimana orang tiba-tiba terbangun, tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan. Dan biasanya fenomena ini diiringi dengan penampakan sosok bayangan hitam. Dalam film pendek ini sang karakter bergadang dan berusaha tidur ketika ia teringat akan kencan dengan pacarnya. Tiba-tiba ia terbangun dalam kondisi terkena Sleep Paralysis. Ia pun mulai mendapat gangguan dari sang bayangan misterius yang masuk ke kamarnya.
Saya memilih animasi pendek dengan tema ini agar masyarakat bisa mengetahui bagaimana itu sebenarnya Sleep Paralysis. Dan dengan harapan agar para masyarakat, terutama mahasiswa agar mau lebih menjaga kesehatan mereka dan menghapus kebiasaan bergadang yang tidak baik bagi tubuh. Karena alasan itulah penulis memilih tema ini sebagai materi tugas akhir.
Saran
Jumlah pengerjaan dan waktu pematangan konsep membutuhkan waktu yang relatif lama. Namun waktu yang tersedia terlalu pendek. Karena itu, ada baiknya jika pada semester 7, mahasiswa diberikan waktu untuk mempersiapkan konsep. Dan baru pada semester 8, mahasiswa bisa memaksimalkan waktu untuk menyempurnakan eksekusi konsep yang sudah dimatangkan terlebih dahulu.
REFERENSI
Sumber BukuAdler, Shelley R. (2011). Sleep Paralysis Night-Mares, Nocebos and Mind-Body Connection. (1st edition). Rutgers Univ Pr
Beloved, M. (2012). Sleep Paralysis. (7th Edition). USA: Pembrone Pines
Trihanondo, D., S.Ds., M.Ds. (2014). Teknik dan Komposisi Fotografi/Sinematografi
Wright, Jean A. (2005). Introduction to Animation dalam Kaufman, Debra. (ed.) Animation Writing and Development, pg.1. Oxford: Elsevier
Sumber Web
Ardiyansah, ST. (2010). 12 Prinsip Animasi. 2014. dari dkv.binus.ac.id Damayanti, R. (2012). Teori Warna. 2014. dari http://11018rika.blogspot.com Johnson, M. (2011). Horror Genre. 2014. dari https://thescriptlab.com
Nugroho, Adhi P. (2013). Jenis-Jenis Film. 2014. dari http://adhitoge.wordpress.com Putri, D. (2013). Film Fiksi dan Non-Fiksi. 2014. dari http://www.idseducat-ion.com Sutphin, J. (2011). Pixar Story Masterclass. 2014. dari http://www.third-helix.com
Vincent lahir di kota Pekanbaru, 25 Juli 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Desain Komunikasi Visual Animasi pada 2014.