Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
P U T U S A N
Nomor 1726 K/Pdt/2015
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata pada tingkat kasasi telah memutus sebagai berikut dalam perkara:
TITI SUARTIANI AGUSTINI, bertempat tinggal di Taman
Yunani, Jalan Majapahit III Nomor 1, Sentul City, Jawa Barat, dalam hal ini memberikan kuasa kepada Musdalifah, S.H, dan Erick T. Sitinjak, S.H. Para Advokat pada Kantor Hukum Musdalifah Abubakar Partnership (“MAP”) berkedudukan di Menara Bidakara 2 Lantai 3 (Cakra Group) Jalan Jenderal Gatot Subroto Kavling 71-73, Jakarta Selatan 12870, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 29 Agustus 2014;
Pemohon Kasasi dahulu Penggugat/Pembanding; L a w a n
PT PERDANA GAPURAPRIMA, TBK., berkedudukan di The
Belleza Shopping Arcade Permata Hijau Lantai 2, Jalan Arteri Supeno Nomor 34, Permata Hijau, Jakarta, yang diwakili oleh Ir. Arief Aryanto selaku Direktur PT Perdana Gapuraprima Tbk., dalam hal ini memberikan kuasa kepada Bernadette Holly Kristiani, S.H., dan kawan-kawan, Para Advokat dan Konsultan Hukum pada Kantor Hukum Atma & Associate, Advocate and Legal Consultans, yang beralamat di JDC Business Centre, Jakarta Design Centre 6th floor, Jalan Gatot Subroto Kavling 53 Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 20 September 2014;
Termohon Kasasi dahulu Tergugat/Terbanding; D a n:
1. Dr. GURUH TIRTAWIGUNA, Sp.B., bertempat tinggal di Jalan
Tomang Rawa Kepa XI Nomor 100, RT 003 RW 013, Kelurahan Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat;
2. PT BANK PERMATA TBK., Cabang Bogor, berkedudukan di
Jalan Kapten Muslihat 17 A Bogor, yang diwakili oleh Michael Alan Cove dan Bianto Surodjo, masing-masing selaku Direktur PT Bank Permata Tbk., dalam hal ini memberikan kuasa
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
kepada Donny Rustriyandi, S.H., dan kawan-kawan, Para Advokat pada Kantor Rustriyandi Raharjo Law Offices yang beralamat di Graha Binakarsa Lantai 4, Jalan HR. Rasuna Said Kavling C-18 Jakarta Selatan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 15 Oktober 2014;
Para Turut Termohon Kasasi dahulu Turut Tergugat I dan II/ Turut Terbanding I dan II;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Penggugat/Pembanding telah menggugat sekarang Termohon Kasasi dahulu Tergugat/Terbanding dan Para Turut Termohon Kasasi dahulu Turut Tergugat I dan II/Turut Terbanding I dan II di muka persidangan Pengadilan Negeri Bogor pada pokoknya atas dalil-dalil: 1. Bahwa pada tanggal 1 Februari 2009, Penggugat melakukan pemesanan
atas sebidang tanah beserta bangunan rumah di atasnya dari Tergugat, seluas 160 m2, yang terletak di Perumahan Bukit Cimanggu City Type Nusa Dua Blok E Nomor 3, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sereal, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat, dengan harga sebesar Rp953.600.000,00 (sembilan ratus lima puluh tiga juta enam ratus ribu rupiah) (selanjutnya disebut dengan “Tanah sengketa”), berdasarkan Surat Pesanan Rumah/Kavling Bukit Cimanggu City Nomor 00969 tanggal 1 Februari 2009 (Bukti P-1);
2. Bahwa terhadap Tanah sengketa tersebut, telah dilakukan pembayaran kepada Tergugat sebesar Rp191.600.000,00 (seratus sembilan puluh satu juta enam ratus ribu rupiah), dengan perincian sebagai berikut :
a. Tanggal 1 Februari 2009, pembayaran uang tanda jadi sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah);
b. Tanggal 14 Februari 2009, pembayaran angsuran sebesar Rp90.000.000,00 (sembilan puluh juta rupiah);
c. Tanggal 1 Maret 2009, pembayaran angsuran sebesar Rp91.600.000,00 (sembilan puluh satu juta enam ratus ribu rupiah); Sehingga sisa harga tanah sengketa yang harus dilunasi kepada Tergugat adalah sebesar Rp762.000.000,00 (tujuh ratus enam puluh dua juta rupiah);
3. Bahwa kemudian pada tanggal 27 Maret 2009, telah ditandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) antara Penggugat dengan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
Tergugat atas tanah sengketa tersebut berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Nomor 30/BCV/III/2009 tanggal 27 Maret 2009 (selanjutnya disebut dengan “PPJB”) (Bukti P-2);
4. Bahwa di dalam PPJB tersebut, disepakati bahwa pembayaran sisa harga tanah sengketa tersebut adalah sebesar Rp762.000.000,00 (tujuh ratus enam puluh dua juta rupiah) yang akan dilunasi menggunakan Fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR);
5. Bahwa pada tanggal 27 Maret 2009, untuk tujuan melunasi sisa harga tanah sengketa tersebut, Turut Tergugat I (dahulu suami dari Penggugat) mendapatkan Fasilitas Kredit Pemilikan Rumah dari Turut Tergugat II dengan pagu fasilitas sebesar Rp762.000.000,00 (tujuh ratus enam puluh dua juta rupiah), untuk jangka waktu fasilitas 60 (enam puluh) bulan, dengan angsuran per bulannya sebesar Rp17.730.408,00 (tujuh belas juta tujuh ratus tiga puluh ribu empat ratus delapan rupiah) (selanjutnya disebut dengan “Hutang KPR”), berdasarkan Persetujuan Permohonan Kredit Nomor Ref. 095/KPR/02013/09 tanggal 16 Maret 2009 (Bukti P-3) juncto Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan (Ketentuan Khusus) Nomor KPR/05010309/ N/BGR tanggal 27 Maret 2009 (Bukti P-4) juncto Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Perbankan (General Terms and Conditions On The Provision of Banking Facility) Nomor KPR/049/0309/ BGR. tanggal 27 Maret 2009 (Bukti P-5);
6. Bahwa sebagai jaminan terhadap pengembalian pinjaman uang atau hutang KPR yang diperoleh Turut Tergugat I dari Turut Tergugat II (vide “Poin 1.1 tentang Fasilitas” Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan (Ketentuan Khusus) Nomor KPR/05010309/N/BGR tanggal 27 Maret 2009), adalah tanah sengketa yang dibeli oleh Penggugat dari Tergugat, sebagaimana yang disebutkan dalam Poin 4.1.1 tentang Jaminan Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan (Ketentuan Khusus) Nomor KPR/05010309/N/BGR. tanggal 27 Maret 2009, yang menyebutkan, “Untuk menjamin pembayaran kembai fasilitas berdasarkan perjanjian dengan tunas dan penuh, dengan ini nasabah (Turut Tergugat I) memberikan jaminan kepada Bank (Turut Tergugat II) berupa : 4.1.1. Sebagian dari sebidang tanah seluas 160 meter persegi, setempat dikenal sebagai Perumahan Bukit Cimanggu City Type Nusa Dua Blok E Nomor 3, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sereal, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat, yang diperoleh Titi Suartiani Agustini (Penggugat), berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Nomor
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
30/BCV/I/I/2009 tanggal 27 Maret 2009, yang dibuat di bawah tangan bermaterai cukup, meliputi bangunan dan turutan-turutannya yang berdiri di atas bidang tanah tersebut di atas, ... yang akan akan dibebankan dengan Hak Tanggungan”;
7. Bahwa terhadap hutang KPR dimaksud, telah dilakukan pembayaran angsuran kepada Turut Tergugat II selama 24 (dua puluh empat) bulan dengan total pembayaran sebesar Rp425.649.792,00 (empat ratus dua puluh lima juta enam ratus empat puluh sembilan ribu tujuh ratus sembilan puluh dua rupiah) (Bukti P-6) dan Penggugat telah tinggal dan menempati Tanah sengketa tersebut pada tahun 2009;
8. Bahwa pada awal tahun 2011, rumah tangga Penggugat dengan Turut Tergugat I mengalami permasalahan dan pada tanggal 22 November 2011 perkawinan antara Penggugat dan Turut Tergugat I telah berakhir karena perceraian, berdasarkan Putusan Pengadilan Agama Tangerang Nomor 517/Pdt.G/2011/PA Tng. tanggal 8 November 2011 (Bukti P-7) juncto Akta Cerai Nomor 11/AC/2012/PA Tng. tanggal 22 November 2011 (Bukti P-8). Bahwa permasalahan rumah tangga antara Penggugat dan Turut Tergugat I telah mengakibatkan pembayaran angsuran Hutang KPR oleh Turut Tergugat I (dahulu suami dari Penggugat) terhenti sejak bulan Mei tahun 2011;
9. Bahwa terkait dengan permasalahan rumah tangga antara Penggugat dan Turut Tergugat I tersebut, Penggugat telah memberitahukannya kepada Turut Tergugat II melalui Surat Pemberitahuan Ref. Nomor TSA/1609/11/AS tanggal 16 September 2011 (Bukti P-9);
10. Bahwa akibat terhentinya pembayaran terhadap angsuran hutang KPR dan guna membahas penyelesaian permasalahan tunggakan pembayaran angsuran hutang KPR dimaksud, pada tanggal 28 Desember 2011, bertempat di Kantor PT Bank Permata, Tbk. Cabang Bintaro, Penggugat didampingi oleh Kuasa Hukumnya melakukan pertemuan dengan Turut Tergugat II yang diwakili oleh Bagian KPR Collection PT Bank Permata, Tbk. Cabang Bintaro yaitu Bapak Hendri dan Bapak Hafiz. Bahwa dalam pertemuan tersebut, pada intinya Turut Tergugat II menyampaikan bahwa Turut Tergugat I tidak melakukan kewajiban pembayaran angsuran terhadap Hutang KPR, sehingga pembayaran angsuran hutang KPR telah mengalami penunggakan terhitung sejak bulan Mei 2011 dan jumlah tunggakan hutang KPR sampai dengan bulan Desember 2011 adalah sebesar Rp559.192.620,00 (Iima ratus lima puluh sembilan juta seratus
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
sembilan puluh dua ribu enam ratus dua puluh rupiah) dan di dalam pertemuan tersebut, Turut Tergugat II juga menyampaikan kepada Penggugat bahwa Turut Tergugat I tidak dapat dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya;
Bahwa dalam pertemuan tersebut Penggugat juga menyampaikan itikad baik dan keinginannya untuk melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas, tetapi dalam pertemuan tersebut Turut Tergugat II menyarankan Penggugat untuk bertemu langsung dengan bagian legal dan KPR Collection PT Bank Permata, Tbk. Kantor Pusat yaitu Ibu Nurhayati, guna membicarakan tindak lanjut penyelesaian permasalahan tunggakan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut; 11. Bahwa menindaklanjuti pertemuan antara Penggugat dengan Turut
Tergugat II sebagaimana tersebut di atas, Penggugat melalui Kuasa Hukumnya melakukan beberapa kali pertemuan dengan Turut Tergugat II, terakhir pertemuan pada tanggal 24 Januari 2012, bertempat di Kantor Pusat Turut Tergugat II, Penggugat didampingi oleh Kuasa Hukumnya kembali melakukan pertemuan dengan Turut Tergugat II diwakili oleh Bagian Legal dan KPR Collection PT Bank Permata, Tbk. Kantor Pusat yaitu Ibu Nurhayati, guna membicarakan tindak lanjut penyelesaian permasalahan tunggakan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut; Bahwa dalam pertemuan tersebut, Penggugat secara langsung menyampaikan itikad baik dan keinginannya untuk melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas, adapun hasil dari pertemuan tersebut, pada intinya Turut Tergugat II tidak mengijinkan Penggugat untuk melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut, karena menurut Turut Tergugat II bahwa pembayaran angsuran hutang KPR yang telah tertunggak selama lebih dari 3 (tiga) bulan sudah tidak dapat lagi dilakukan pembayaran atas tunggakan angsuran hutang KPR maupun melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas, oleh karena itu Turut Tergugat II akan mengajukan klaim buyback hutang KPR tersebut kepada Tergugat. Sehingga hasil dari pertemuan tersebut tidak tercapai suatu kesepakatan mengenai penyelesaian permasalahan tunggakan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut; 12. Bahwa menindaklanjuti pertemuan antara Penggugat dengan Turut
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
Tergugat II yang diadakan pada tanggal 24 Januari 2012 tersebut di atas, pada tanggal 30 Januari 2012, Penggugat mengirim Surat Pemberitahuan Ref. Nomor TSA/3001/12/AS tanggal 30 Januari 2012 (Bukti P-10) kepada Turut Tergugat II, yang pada intinya Penggugat tetap menyampaikan itikad baik dan keinginannya untuk melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas dan memohon kepada Turut Tergugat II agar dapat segera memberikan perincian jumlah hutang yang harus dilunasi oleh Penggugat kepada Turut Tergugat II atas hutang KPR tersebut, sekaligus Turut Tergugat II dapat mengeluarkan Surat Perintah yang ditujukan kepada Penggugat, yang pada intinya meminta Penggugat untuk melakukan pembayaran pelunasan atas hutang KPR tersebut;
13. Bahwa menanggapi Surat Penggugat tanggal 30 Januari 2012 tersebut di atas, Turut Tergugat II mengirimkan Surat Nomor 0402/SK/RMG/ CCR/II/2012 tanggal 22 Februari 2012 Perihal: Jawaban Surat (Bukti P-ll), yang pada pokoknya menyampaikan bahwa pihak yang tercatat sebagai debitur dari Turut Tergugat II adalah Turut Tergugat I, sehingga Penggugat tidak dapat melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas;
Bahwa Turut Tergugat II didalam surat jawabannya juga melampirkan Surat Pernyataan tanggal 7 Februari 2012 yang dibuat oleh Turut Tergugat I (“Surat Pernyataan”) (Bukti P-12), yang pada pokoknya menyatakan bahwa Turut Tergugat I siap untuk bertanggung jawab dan akan menyelesaikan kewajibannya kepada Turut Tergugat II;
14. Bahwa pada tanggal 27 Februari 2012, Penggugat membalas Surat Turut Tergugat II tanggal 22 Februari 2012 tersebut di atas, melalui Surat Tanggapan Ref. Nomor TSA/2702/12/AS tanggal 27 Februari 2012, (Bukti P-13) yang pada pokoknya Penggugat menyatakan keberatan terhadap kebijakan dari Turut Tergugat II yang masih memberikan kesempatan kepada Turut Tergugat I untuk melanjutkan pembayaran angsuran maupun pelunasan terhadap hutang KPR dimaksud;
Bahwa menurut Penggugat, Surat Pernyataan yang dibuat oleh Turut Tergugat I jelas tidak dapat menjamin bahwa Turut Tergugat I akan menyelesaikan kewajibannya sebagaimana yang diutarakannya di dalam Surat Pernyataan tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa Turut Tergugat I baru menyatakan akan melaksanakan kewajibannya bukan dikarenakan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
inisiatif Turut Tergugat I sendiri, tetapi dikarenakan Penggugat yang meminta kepada Turut Tergugat II untuk mengirimkan surat pemberitahuan kepada Turut Tergugat I perihal kejelasan mengenai pembayaran angsuran hutang KPR yang telah tertunggak selama beberapa bulan;
Bahwa Penggugat juga menyatakan keberatan terhadap kebijakan Turut Tergugat II terkait dengan Surat Pernyataan yang dibuat oleh Turut Tergugat I, karena Turut Tergugat II sama sekali tidak memberikan batas waktu tenggang waktu yang jelas kepada Turut Tergugat I untuk melaksanakan kewajibannya tersebut dan kebijakan Turut Tergugat II yang berubah-ubah dan tidak objektif didalam memberikan penyelesaian permasalahan tunggakan pembayaran angsuran hutang KPR, serta Turut Tergugat II menggunakan Surat Pernyataan yang dibuat oleh Turut Tergugat I, padahal sudah jelas bahwa Turut Tergugat I tidak memiliki itikad baik dan dengan sengaja tidak melaksanakan kewajibannya agar pembayaran angsuran hutang KPR menjadi terhenti atau gagal bayar (“Kredit Macet”), sehingga pada akhirnya tercapai suatu keadaan yang merugikan hak-hak dan kepentingan Penggugat;
Bahwa kemudian sampai dengan gugatan wanprestasi ini didaftarkan, Turut Tergugat I tidak juga melaksanakan kewajibannya terhadap Turut Tergugat II sebagaimana yang diutarakan di dalam Surat Pernyataan tersebut, sehingga pada akhirnya mengakibatkan pembayaran angsuran Hutang KPR menjadi terhenti atau gagal bayar (“Kredit Macet”);
15. Bahwa pada tanggal 10 Mei 2012 bertempat di kantor Tergugat, Penggugat melakukan pertemuan dengan Tergugat yang diwakili oleh Ibu Hilda dan dalam pertemuan tersebut Penggugat dan Tergugat membahas mengenai jalan keluar/solusi penyelesaian yang dapat ditempuh guna menyelesaikan tunggakan pembayaran angsuran maupun pelunasan terhadap hutang KPR dimaksud;
Bahwa hasil dari pertemuan tersebut, pada intinya adalah Tergugat memberitahukan kepada Penggugat bahwa Tergugat akan mengajukan klaim buyback terhadap hutang KPR tersebut;
16. Bahwa menindaklanjuti pertemuan antara Penggugat dengan Tergugat pada tanggal 10 Mei 2012 tersebut di atas, pada tanggal 28 Juni 2012, Penggugat mengirimkan Surat Ref. Nomor TSA/2806/12/3/AS tanggal 28 Juni 2012 Perihal: Mohon Penjelasan & Tindak Lanjut yang ditujukan kepada Tergugat (Bukti P-14), yang pada pokoknya menyampaikan bahwa
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
Penggugat tetap beritikad baik dan berkeinginan untuk melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas guna menyelesaikan permasalahan tersebut;
17. Bahwa Penggugat, diwakili oleh Kuasa Hukumnya telah menyampaikan beberapa kali Surat Teguran (somasi) kepada Turut Tergugat II, terakhir pada tanggal 25 Oktober 2012, Penggugat mengirimkan Surat Somasi Ref. Nomor TSA/2510/12/AS-ETS tanggal 25 Oktober 2012 (Bukti P-15) kepada Turut Tergugat II, yang pada pokoknya mengingatkan kembali bahwa Penggugat telah menunjukkan itikad baiknya untuk menyelesaikan tunggakan pembayaran angsuran maupun pelunasan terhadap hutang KPR dimaksud dan meminta Turut Tergugat II untuk mengijinkan Penggugat menggantikan Turut Tergugat I dalam melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas;
18. Bahwa menjawab Surat Teguran (somasi) Penggugat tanggal 25 Oktober 2012 tersebut di atas, Turut Tergugat II mengirimkan Surat Nomor 1682/SK/RMG/CCR/II/2012 tanggal 2 November 2012 Perihal: Jawaban atas Surat Nomor TSA/2510/12/AS-ETS tanggal 25 Oktober 2012 (Bukti P-16), yang pada pokoknya menyatakan bahwa hutang KPR atas nama Turut Tergugat I berdasarkan Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan (Ketentuan Khusus) Nomor KPR/05010309/N/BGR tanggal 27 Maret 2009 dan Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Perbankan (General Terms and Conditions On The Provision of Banking Facility) Nomor KPR/049/0309/BGR tanggal 27 Maret 2009 telah dilakukan proses buyback pihak Tergugat;
19. Bahwa kemudian Penggugat melalui Kuasa Hukumnya telah menyampaikan Surat Mohon Penjelasan Ref. Nomor TSA/2311/2012/11/ AS-ETS tanggal 23 November 2012 (Bukti P-17) ditujukan kepada Tergugat, yang pada pokoknya meminta penjelasan terhadap informasi yang didapat oleh Penggugat terkait proses buyback terhadap hutang KPR dimaksud berdasarkan Surat Nomor 1682/SK/RMG/CCR/III 2012 tanggal 02 November 2012 (Bukti P-16) yang dikirim oleh Turut Tergugat II kepada Penggugat dan Penggugat juga menyampaikan bahwa Penggugat tetap beritikad baik untuk melakukan pembayaran terhadap tunggakan angsuran Hutang KPR dan melanjutkan pembayaran angsuran hutang KPR tersebut hingga lunas;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
20. Bahwa menanggapi Surat Penggugat tanggal 23 November 2012 tersebut di atas, Tergugat mengirimkan Surat Penjelasan Nomor 003/Dok/ PGP.BCV/I/2013 tanggal 15 Januari 2013 (Bukti P-18), yang pada pokoknya memberikan penjelasan bahwa Tergugat telah melakukan buyback melalui subrogasi terhadap tunggakan angsuran hutang KPR atas Tanah sengketa dengan Turut Tergugat II berdasarkan Akta Subrogasi Nomor 194 tanggal 30 Oktober 2012 yang dibuat di hadapan Notaris Fatimah Rista Kusuma, S.H., M.Kn., Notaris di Bogor (“selanjutnya disebut dengan subrogasi”);
21. Bahwa dengan telah dilakukannya subrogasi sebagaimana dimaksud tersebut di atas, maka segala hak dan kepentingan, tuntutan dan tagihan serta agunan yang dipegang oleh Turut Tergugat II sehubungan dengan hutang KPR yang diberikan Turut Tergugat II kepada Turut Tergugat I telah beralih kepada Tergugat;
22. Bahwa walaupun telah dilakukan subrogasi, Penggugat tetap menyampaikan itikad baik dan keinginannya kepada Tergugat untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran hutang KPR yang telah di subrogasi kepada Tergugat. Hal ini dikarenakan berdasarkan Pasal 1 PPJB jelas disebutkan bahwa Penggugat adalah pembeli atas tanah sengketa tersebut;
23. Bahwa Tergugat tetap tidak memiliki itikad baik untuk memberikan penyelesaian yang konkret kepada Penggugat dengan tidak mengijinkan Penggugat untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran hutang KPR yang telah disubrogasi oleh Tergugat tanpa memberikan alasan yang jelas pada Penggugat, sehingga sampai dengan saat ini pembayaran terhadap sisa angsuran hutang KPR yang telah disubrogasi oleh Tergugat tersebut masih tertunggak;
24. Bahwa Penggugat sangat kecewa dengan tindakan Tergugat yang tidak beritikad baik untuk memperlakukan atau melayani Penggugat secara benar dan jujur terkait dengan permasalahan pelunasan atas sisa angsuran hutang KPR yang telah disubrogasi oleh Tergugat tersebut dan cenderung sengaja hanya mengulur-ulur waktu saja, sehingga pada tanggal 25 Februari 2013, Penggugat melalui Kuasa Hukumnya telah mengirimkan Surat Teguran somasi) kepada Tergugat berdasarkan Surat Ref. Nomor TSA/2502/13/ETS-MA tanggal 25 Februari 2013, Perihal: Somasi (Bukti P-19);
25. Bahwa pada tanggal 1 Maret 2013, Tergugat mengirimkan Surat Nomor
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
007/007/PGP.BCV/II/2013 Perihal: Tanggapan Somasi kepada Penggugat (Bukti P-20), yang pada pokoknya Tergugat menyampaikan bahwa Penggugat tidak memiliki hak atas pelunasan terhadap sisa angsuran hutang KPR tersebut;
26. Bahwa Penggugat keberatan dan menolak tindakan Tergugat yang menyatakan bahwa Penggugat tidak memiliki hak untuk melakukan pembayaran/pelunasan terhadap sisa angsuran hutang KPR yang telah disubrogasi oleh Tergugat untuk pembayaran pelunasan harga tanah sengketa tersebut karena berdasarkan Pasal 1 PPJB menyebutkan bahwa: “Pihak pertama (Tergugat) dengan ini mengikat diri dan untuk kemudian pada waktunya untuk menjual dan menyerahkan kepada pihak kedua (Penggugat) yang menerangkan dengan ini mengikat diri sekarang dan untuk kemudian pada waktunya, untuk membeli dan menerima penyerahan dari pihak pertama (Tergugat) sebidang tanah berikut bangunan rumah yang ada/sedang akan didirikan di atas tanah tersebut..”, Bahwa mengacu pada ketentuan tersebut, maka hubungan hukum antara Penggugat dengan Tergugat adalah selaku pembeli dan penjual terhadap...jual beli atas tanah sengketa tersebut;
Jual beli, adalah suatu perjanjian konsensail artinya, ia sudah dilahirkan sebagai perjanjian yang sah (mengikat atau mempunyai kekuatan hukum) pada detik tercapainya sepakat antara penjual dan pembeli mengenai unsur-unsur yang pokok (essentialia) yaitu barang dan harga, biarpun jual beli itu mengenai barang yang tak bergerak. Sifat konsensuil jual beli ini ditegaskan dalam Pasal 1458 KUHPerdata yang berbunyi, “Jual beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak sewaktu mereka telah mencapai sepakat tentang barang dan harga, meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar.” (R. Soebekti, 1998, Hukum Perjanjian, Jakarta, Intermasa, hal 79-80);
Dan sebagaimana sifat perjanjian yang terbuka, kedua belah pihak dapat memperjanjikan sendiri tentang cara-cara melakukan pembayaran maupun cara penyerahannya. Mereka bebas menentukan sendiri sesuai yang diinginkan sehingga ketentuan yang ada dalam undang-undang hanya berlaku apabila pihak tidak menentukan lain;
Bahwa konstruksi hukum yang terjadi antara Penggugat dan Tergugat adalah telah terjadi kesepakatan jual beli antara Penggugat dengan Tergugat dimana Penggugat sepakat untuk membeli Tanah sengketa tersebut dari Tergugat selaku Penjual atas Tanah sengketa tersebut
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
dengan harga Rp953.600.000,00 (sembilan ratus lima puluh tiga juta enam ratus ribu rupiah). Oleh karena itu, Jual Beli atas Tanah sengketa antara Penggugat dan Tergugat telah terjadi dan sah menurut hukum; Bahwa berdasarkan Pasal 1338 ayat 1 KUHPerdata, menyebutkan bahwa “Semua Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”, bahwa oleh karena itu Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk menyatakan bahwa Perjanjian Pengikatan Jual Beli Nomor 30/BCV/III/2009 tanggal 27 Maret 2009 yang dibuat serta ditandatangani oleh Penggugat dengan Tergugat adalah sah dan mengikat secara hukum;
27. Bahwa terhadap pembayaran atas harga Tanah sengketa tersebut, Penggugat sebagai pembeli yang beritikad baik telah melakukan pembayaran (bahkan sebelum penandatanganan PPJB tanggal 27 Maret 2009) sebagaimana yang Penggugat uraikan di dalam poin 2 Gugatan ini, yaitu sebesar Rp191.600.000,00 (seratus sembilan puluh satu juta enam ratus ribu rupiah). Bahwa kemudian antara Penggugat dengan Tergugat telah sepakat bahwa terhadap pembayaran atas sisa harga atas Tanah sengketa tersebut yakni sebesar Rp762.000.000,00 (tujuh ratus enam puluh dua juta rupiah) akan dibayarkan melalui Fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (Hutang KPR). Sehingga sebagai pembeli yang beritikad baik, maka Penggugat melalui Turut Tergugat I (yang pada saat itu suami dari Penggugat) mengajukan Fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (Hutang KPR) kepada Turut Tergugat II. Bahwa oleh karena itu, Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk menyatakan bahwa Penggugat adalah pembeli yang beritikad baik dan harus dilindungi menurut hukum;
28. Bahwa kemudian sebagaimana yang telah Penggugat uraikan di dalam pain 5 Gugatan ini, Turut Tergugat I (yang pada saat itu adalah Suami dari Penggugat) mendapatkan Hutang KPR dari Turut Tergugat II untuk pembayaran sisa harga atas Tanah sengketa tersebut;
Bahwa menurut Pasal 1 Angka 11 Undang-Undang Namor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Namor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.” Bahwa apabila dikaitkan dengan pengertian Kredit di atas, maka Hutang KPR yang diperoleh Turut
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
Tergugat I merupakan pinjaman berupa uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, yang digunakan aleh Turut Tergugat I untuk melakukan pelunasan terhadap sisa harga atas Tanah sengketa tersebut, yang mana pinjaman yang diberikan aleh Turut Tergugat II tersebut akan dikembalikan oleh Turut Tergugat I melalui pembayaran setelah jangka waktu tertentu;
Bahwa dengan Hutang KPR yang diperoleh Turut Tergugat I dari Turut Tergugat II tersebut, maka yang terjadi menurut hukum adalah sisa harga atas Jual Beli Tanah sengketa antara Penggugat (pada saat itu adalah isteri dari Turut Tergugat I) dengan Tergugat berdasarkan PPJB. yaitu sebesar Rp762.000.000,00 (tujuh ratus enam puluh dua juta rupiah) telah dibayar lunas kepada Tergugat dengan menggunakan pinjaman (“Hutang KPR”) berupa uang yang diperoleh Turut Tergugat I dari Turut Tergugat II; 29. Bahwa dengan telah lunasnya harga Jual Beli Tanah sengketa antara
Penggugat dengan Tergugat, maka seharusnya proses selanjutnya yang wajib dilakukan adalah penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) antara Penggugat dengan Tergugat dihadapan Pejabat Akta Tanah (PPAT) dan untuk kemudian dilanjutkan dengan proses penerbitan dan penyerahan Sertifikat atas Tanah sengketa tersebut atas nama Penggugat beserta surat-surat kepemilikan lainnya atas Tanah sengketa tersebut, hal tersebut sesuai dengan ketentuan di dalam Pasal 13 PPJB yang menyebutkan bahwa : “Apabila Pihak Kedua (Penggugat) sudah melaksanakan kewajiban seluruh pembayaran dalam Pasal 2 dan 3 perjanjian ini serta melunasi seluruh biaya administrasi dan biaya-biaya lainnya kepada Pihak Pertama (Tergugat), maka Pihak Pertama (Tergugat) dan Pihak Kedua (Penggugat) wajib menandatangani Akta Jual Beli dihadapan Pejabat Akta Tanah (PPAT) ...;
Bahwa tetapi kenyataannya sampai dengan didaftarkannya Gugatan ini, antara Penggugat dengan Tergugat tidak pernah melakukan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) atas Tanah sengketa tersebut dihadapan Pejabat Akta Tanah (PPAT) dan untuk kemudian dilanjutkan dengan proses penerbitan dan penyerahan Sertifikat atas Tanah sengketa tersebut atas nama Penggugat beserta surat-surat kepemilikan lainnya atas Tanah sengketa tersebut kepada Penggugat;
Bahwa sebagaimana yang telah diuraikan Penggugat di dalam poin 6 Gugatan ini, yang dijadikan jaminan atas Hutang KPR adalah Tanah sengketa yang akan dibebankan Hak Tanggungan. Bahwa terhadap suatu
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
jaminan yang dibebankan Hak Tanggungan terhadap suatu hutang tertentu haruslah berupa Hak Milik dan jaminan tersebut merupakan milik pemegang hak atas tanah (vide Pasal 4 ayat 1 dan ayat 4 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan). Sehingga kepemilikan atas Tanah sengketa tersebut telah diakui oleh Turut Tergugat II sebagai milik Penggugat (vide Poin 4.1.1 tentang Jaminan Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan (Ketentuan Khusus) Nomor KPR/05010309/N/BGR tanggal 27 Maret 2009). Untuk itu, Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk menyatakan Tanah sengketa tersebut adalah sah milik Penggugat;
30. Bahwa sebagaimana Penggugat telah uraikan di dalam pain 29 Gugatan ini, sampai dengan didaftarkannya Gugatan ini, antara Penggugat dengan Tergugat tidak pernah melakukan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) atas Tanah sengketa tersebut dihadapan Pejabat Akta Tanah (PPAT) dan untuk kemudian dilanjutkan dengan proses penerbitan dan penyerahan Sertifikat atas Tanah sengketa tersebut atas nama Penggugat beserta surat-surat kepemilikan lainnya atas Tanah sengketa tersebut kepada Penggugat. Bahwa tindakan yang dilakukan aleh Tergugat tersebut telah melanggar ketentuan Pasal 13 PPJB dan jelas membuktikan bahwa Tergugat telah melakukan wanprestasi karena Penggugat telah melakukan seluruh pembayaran terhadap harga atas Jual Beli Tanah sengketa (Iunas) kepada Tergugat, namun Tergugat tidak melaksanakan kewajibannya yaitu tidak melakukan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) antara Penggugat dengan Tergugat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT);
Bahwa menurut Pasal 1234 KUHPerdata “tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu. Prof. Dr. Ahmadi Miru, S.H., M.S., dan Sakka Pati, S.H., M.H., (Hukum Perikatan Penjelasan Makna Pasal 1233 sampai 1456 BW, Rajawali Pres, Jakarta 2009 hal...), terhadap pasal ini dijelaskan “berdasarkan tiga cara pelaksanaan kewajiban tersebut dengan sendirinya dapat diketahui bahwa wujud prestasi dapat berupa:
a. Barang; b. Jasa;
c. Tidak berbuat sesuatu.
Apabila kedua hal tersebut dipadukan, cara pelaksanaan masing-masing wujud prestasi tersebut adalah sebagai berikut :
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
d. Barang dilakukan dengan cara menyerahkan;
e. Jasa (tenaga atau keahlian) dilakukan dengan cara berbuat sesuatu; f. Tidak berbuat sesuatu dengan cara tidak berbuat sesuatu;
Dan menurut Prof. Subekti (Hukum Perjanjian, Intermasa, 1998, hal. 45) menjelaskan wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) dapat berupa 4 (empat) macam:
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;
b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;
c. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat;
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dtilakukannya. Karena wanprestasi (kelalaian) mempunyai akibat-akibat yang begitu penting, maka harus ditetapkan lebih dahulu apakah si berutang melakuan wanprestasi atau lalai;
Bahwa aleh karena harga atas Jual Beli Tanah sengketa tersebut telah dibayar lunas kepada Tergugat dan berdasarkan ketentuan Pasal 13 PPJB proses selanjutnya yang wajib dilakukan adalah penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) antara Penggugat dengan Tergugat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan untuk kemudian dilanjutkan dengan proses penerbitan dan penyerahan Sertifikat atas Tanah sengketa tersebut atas nama Penggugat beserta surat-surat kepemilikan lainnya atas Tanah sengketa tersebut, namun ternyata Tergugat tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 13 PPJB tersebut, hal ini telah menunjukkan bahwa prestasi dari Tergugat yakni untuk berbuat sesuatu tidak dapat dilaksanakan dengan baik sebagaimana yang telah dijanjikannya;
31. Bahwa selain itu, Tergugat juga telah melakukan suatu perbuatan Wanprestasi karena kesalahan. Yang dimaksud dengan Wanprestasi karena kesalahan adalah akibat dari sikap debitar yang acuh tak acuh, atau debitor tidak melakukan usaha yang dapat diharapkan dari seorang debitor, namun justru memilih tidak melakukan suatu perbuatan atau mengambil sikap diam (tidak bertindak);
Bahwa Penggugat baik secara lisan maupun tulisan selalu menyampaikan kepada Tergugat bahwa berdasarkan PPJB, Penggugat memiliki itikad baik selaku Pembeli atas Tanah sengketa untuk melanjutkan pembayaran terhadap sisa angsuran Hutang KPR Turut Tergugat I kepada Turut Tergugat II yang telah dilakukan Subrogasi oleh Tergugat. Bahwa dengan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
telah dilakukannya Subrogasi, maka kedudukan hukum Tergugat di satu sisi adalah selaku Penjual atas Tanah sengketa dan di sisi lain adalah selaku Kreditur atas Hutang KPR tersebut karena Subrogasi;
Bahwa Penggugat juga telah memberitahukan kepada Turut Tergugat II dan Tergugat bahwa Turut Tergugat I tidak lagi memiliki keinginan untuk melakukan pembayaran atas Hutang KPR tersebut sehingga dapat mengakibatkan pembayaran atas Hutang KPR tersebut terhenti atau Kredit Macet, yang mana keadaan tersebut dapat menimbulkan akibat hukum yang akan merugikan kepentingan dan hak-hak Penggugat selaku Pembeli dan Pemilik sah atas Tanah sengketa yang dijadikan jaminan atas Hutang KPR;
Bahwa terhadap keadaan tersebut, Penggugat selaku Pemilik atas Tanah sengketa baik sebelum maupun sesudah dilakukannya Subrogasi juga telah memberitahukan kepada Tergugat mengenai itikad baik dan keinginan dari Penggugat untuk melanjutkan pembayaran atas terhadap sisa angsuran Hutang KPR yang telah dilakukan Subrogasi oleh Tergugat tersebut. Tetapi Tergugat tidak memperdulikan keinginan dan itikad baik dari Penggugat tersebut, bahkan Tergugat mengatakan bahwa Penggugat tidak memiliki hak untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran Hutang KPR tersebut;
Bahwa perbuatan Tergugat yang menyatakan bahwa Penggugat tidak memiliki hak untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran Hutang KPR tersebut, telah jelas bahwa Tergugat tidak memperdulikan kepentingan hukum Penggugat selaku Pembeli yang beritikad baik dan Pemilik sah atas Tanah sengketa, dan jelas membuktikan bahwa Tergugat tidak memiliki itikad baik dalam melaksanakan Perjanjian yang dibuat antara Penggugat dengan Tergugat in casu PPJB yang dibuat antara Penggugat dengan Tergugat. Perbuatan Tergugat tersebut telah melanggar ketentuan Pasal 1338 ayat 3 KUHPerdata, yang menyebutkan bahwa : “Suatu Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”;
Bahwa perbuatan Tergugat sebagaimana tersebut di atas, telah jelas menunjukkan bahwa Tergugat telah melakukan perbuatan wanprestasi, sehingga jelas Tergugat telah cidera janji terhadap PPJB yang telah dibuat dan ditandatangani antara Penggugat selaku Pembeli dan Tergugat selaku Penjual atas Tanah sengketa tersebut;
Bahwa terhadap perbuatan Wanprestasi yang dilakukan oleh Tergugat tersebut, Penggugat juga telah mengirimkan Surat Teguran (Somasi)
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
kepada Tergugat, namun Tergugat tidak juga menunjukkan itikad baik untuk melaksanakan kewajibannya, untuk itu Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk menyatakan Tergugat telah Wanprestasi (vide Pasal 1238 KUHPerdata);
32. Bahwa dikarenakan Tergugat telah melakukan Wanprestasi, maka Penggugat sebagai pihak yang terhadapnya perikatan tidak dipenuhi, dapat memaksa pihak lain untuk memenuhi persetujuan (vide Pasal 1267 KUHPerdata). Bahwa Penggugat telah melunasi harga atas Jual Beli Tanah sengketa tersebut kepada Tergugat dan Penggugat juga adalah Pemilik sah atas Tanah sengketa, namun sampai dengan Gugatan ini didaftarkan antara Penggugat dengan Tergugat tidak pernah melakukan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) serta Tergugat tidak pernah menyerahkan surat-surat kepemilikan atas Tanah sengketa atau setidak-tidaknya memperlihatkan surat-surat kepemilikan atas Tanah sengketa tersebut kepada Penggugat, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 1475 dan Pasal 1482 KUHPerdata, Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk menghukum Tergugat menandatangani Akta Jual Beli (AJB) dengan Penggugat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan menyerahkan Tanah sengketa beserta surat-surat kepemilikan atas Tanah sengketa tersebut kepada Penggugat;
33. Bahwa sebagaimana Penggugat telah uraikan di atas, mengenai telah terbukti secara nyata bahwa Turut Tergugat I dengan sengaja telah tidak melaksanakan kewajibannya melakukan pembayaran angsuran Hutang KPR (vide Surat Pernyataan yang dibuat oleh Turut Tergugat I yang telah ternyata Turut Tergugat I tidak melaksanakannya), sehingga terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR tersebut telah dilakukan Subrogasi oleh Tergugat. Bahwa dengan telah dilakukannya Subrogasi, maka telah membuktikan bahwa Turut Tergugat I sudah tidak memiliki itikad baik untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran Hutang KPR tersebut dan sekaligus membuktikan juga bahwa Turut Tergugat I sudah tidak memiliki keinginan untuk memiliki Tanah sengketa tersebut;
34. Bahwa pada saat Hutang KPR diperoleh Turut Tergugat I dari Turut Tergugat II, status hukum Penggugat pada saat itu masih terikat perkawinan dengan Turut Tergugat I, sehingga Penggugat juga memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan pembayaran terhadap Hutang KPR. Namun oleh karena terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR yang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
diperoleh Turut Tergugat I dari Turut Tergugat II yang telah diambil alih oleh Tergugat karena Subrogasi, maka hubungan hukum yang terjadi adalah dikarenakan Penggugat memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR, maka Penggugat juga berhak untuk menggantikan Turut Tergugat I sebagai Debitur atas Hutang KPR, sehingga Penggugat memiliki hak dan
kewajiban untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR kepada Tergugat selaku Kreditur atas Hutang KPR karena Subrogasi dan oleh karena itu terhadap sisa angsuran Hutang KPR atas pembayaran Tanah sengketa adalah merupakan hutang piutang antara Penggugat dan Tergugat;
35. Bahwa dikarenakan Turut Tergugat I sudah tidak memiliki itikad baik untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran Hutang KPR dan Turut Tergugat I juga sudah tidak memiliki keinginan untuk memiliki Tanah sengketa tersebut, dan juga bahwa oleh karena Penggugat selalu
menyampaikan dan menyatakan bahwa Penggugat memiliki keinginan dan itikad baik untuk melanjutkan pembayaran terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR tersebut dikarenakan Penggugat juga memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR, dan sesuai kedudukan hukum Penggugat selaku Pembeli yang beritikad baik dan Pemilik yang sah atas Tanah sengketa tersebut berdasarkan Pasal 1 PPJB yang dibuat antara Penggugat dan Tergugat,
maka Penggugat mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini untuk menyatakan bahwa terhadap sisa angsuran Hutang KPR atas pembayaran Tanah sengketa sebesar Rp559.192.620,00 (Iima ratus lima puluh sembilan juta seratus sembilan puluh dua ribu enam ratus dua puluh rupiah) adalah merupakan hutang piutang antara Penggugat dan Tergugat;
36. Bahwa oleh karena Penggugat adalah pembeli yang beritikad baik dan berhak untuk melakukan pembayaran terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR yang diperoleh Turut Tergugat I dari Turut Tergugat II yang telah diambil alih oleh Tergugat karena Subrogasi tersebut, maka Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk menghukum Tergugat untuk menerima pembayaran dari Penggugat terhadap sisa angsuran atas Hutang KPR dengan pembayaran secara angsuran selama 36 (tiga puluh enam) bulan yaitu sebesar Rp559.192.620,00 dibagi 36 bulan = Rp15.533.129,00 setiap bulannya hingga lunas;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
37. Bahwa seperti yang telah Penggugat uraikan tersebut di atas, bahwa sebelum pembayaran angsuran atas Hutang KPR terhenti, Penggugat melalui Turut Tergugat I (dahulu suami Penggugat) telah melakukan pembayaran terhadap harga Tanah sengketa yaitu :
- Pembayaran Uang Muka, Angsuran I dan Angsuran II kepada Tergugat sebesar Rp191.600.000,00 (seratus sembilan puluh satu juta enam ratus ribu rupiah);
- Pembayaran Angsuran Hutang KPR kepada Turut Tergugat II sebesar Rp425.649.792,00 (empat ratus dua puluh lima juta enam ratus empat puluh sembilan ribu tujuh ratus sembilan puluh dua rupiah);
Total pembayaran harga Tanah sengketa: Rp191.600.000,00 + Rp425.649.792,00 = Rp617.249.792,00;
Bahwa Penggugat adalah Ibu dari 3 (tiga) orang anak (hasil dari perkawinan Penggugat dan Turut Tergugat I), berkeinginan untuk memiliki dan menetap di Tanah sengketa tersebut bersama dengan anak-anak sebagai tempat tinggal untuk merawat dan membesarkan anak-anak sampai anak-anak beranjak dewasa. Bahwa sebagai bentuk itikad baik dari keinginan Penggugat tersebut, Penggugat akan memberikan kompensasi kepada Turut Tergugat I sebesar 50% (Iima puluh perseratus) dari total jumlah pembayaran harga Tanah sengketa yang telah dibayarkan oleh Turut Tergugat I yaitu sebesar 50% (Iima puluh perseratus) x Rp617.249.792,00 = Rp308.624.896,00. Untuk itu, maka Penggugat mohon kepada Majelis Hakim menetapkan Penggugat untuk membayar uang kompensasi kepada Turut Tergugat I sebesar Rp308.624.896,00 (tiga ratus delapan juta enam ratus dua puluh empat ribu delapan ratus sembilan puluh enam rupiah);
Bahwa berdasarkan alasan-alasan yang telah Penggugat uraikan di atas, maka Penggugat mohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bogor untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut:
Dalam Pokok Perkara Primair:
1. Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Nomor 30/BCV/III/2009 tanggal 27 Maret 2009 yang dibuat serta ditandatangani oleh Penggugat dengan Tergugat adalah sah dan mengikat secara hukum;
3. Menyatakan bahwa Penggugat adalah pembeli yang beritikad baik dan harus dilindungi menurut hukum;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
4. Menyatakan sebidang tanah beserta bangunan rumah di atasnya seluas 160 m2 yang terletak di Perumahan Bukit Cimanggu City Type Nusa Dua Blok E Nomor 3, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sereal, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat (“Tanah sengketa”) adalah sah milik Penggugat; 5. Menyatakan Tergugat telah melakukan wanprestasi;
6. Menghukum Tergugat untuk menandatangani Akta Jual Beli (AJB) dengan Penggugat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan menyerahkan Tanah sengketa beserta surat-surat kepemilikan atas Tanah sengketa tersebut kepada Penggugat;
7. Menyatakan sisa angsuran Hutang KPR atas pembayaran Tanah sengketa sebesar Rp559.192.620,00 (Iima ratus lima puluh sembilan juta seratus sembilan puluh dua ribu enam ratus dua puluh rupiah) adalah merupakan hutang piutang antara Penggugat dan Tergugat;
8. Menghukum Tergugat untuk menerima pembayaran dari Penggugat terhadap sisa angsuran Hutang KPR dengan pembayaran secara angsuran selama 36 bulan yaitu sebesar Rp15.533.129,00 setiap bulannya hingga lunas;
9. Menetapkan Penggugat untuk membayar uang kompensasi kepada Turut Tergugat I sebesar Rp308.624.896,00 (tiga ratus delapan juta enam ratus dua puluh empat ribu delapan ratus sembilan puluh enam rupiah);
10. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul; Subsidair:
Atau apabila Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bogor berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat mengajukan eksepsi absolut yang pada pokoknya sebagai berikut:
A. Status dan Hubungan Hukum diantara Penggugat dan Turut Tergugat I Pada Saat Pembelian Objek Sengketa dengan Tergugat adalah sebagai Suami lstri (sesuai dengan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. PP Nomor 9 Tahun 1975);
1. Bahwa pada faktanya Gugatan Penggugat adalah Gugatan Wanprestasi dengan objek sengketa (objectum litis) berupa tanah dan bangunan seluas 160 m2 yang terletak di Perumahan Bukit Cimanggu City Type Nusa Dua Blok E Nomor 3, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Bogor yang dibeli secara kredit oleh Penggugat bersama-sama dengan Turut Tergugat I selaku suami istri yang mana fasilitas kredit dari Turut Tergugat II yang dipergunakan untuk pembayaran objek
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
sengketa a quo adalah atas nama Turut Tergugat I berdasarkan Persetujuan Permohonan Kredit Nomor Ref 095/KPR/02013/09 tanggal 16 Maret 2009 jo. Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan Nomor KPR/050/0309/ N/BGR tanggal 27 Maret 2009 dan Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Perbankan (General Terms and Conditions On The Provision of Banking Facility) Nomor KPR/ 049/0309/BGR tanggal 27 Maret 2009;
2. Bahwa pada faktanya status hukum dari Penggugat dan Turut Tergugat I pada saat pemesanan objek sengketa a quo yaitu tanggal 01 Februari 2009 sampai dengan tanggal 01 Maret 2009 yaitu pada saat pembayaran angsuran kepada Tergugat adalah sebagai suami istri yang sah;
3. Bahwa pada faktanya untuk melunasi sisa kredit pembayaran objek sengketa a quo maka Penggugat dan Tergugat I mendapatkan fasilitas kredit dari Turut Tergugat II sebesar Rp762.000.000,00 (tujuh ratus enam puluh dua juta rupiah) yang akhirnya kredit tersebut macet karena adanya proses perceraian diantara Penggugat dengan Turut Tergugat I sesuai dalil dalam gugatan a quo pada posita angka (8), (9), (10) gugatan Penggugat;
4. Bahwa pada faktanya pada saat proses pencairan kredit dari Turut Tergugat II pun status Penggugat dengan Turut Tergugat I adalah masih sebagai suami istri yang sah sehingga sudah terbukti apabila objek sengketa a quo adalah Harta Bersama Perkawinan berdasarkan dasar hukum dibawah ini:
- Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”;
- Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.”;
- Pasal 2 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.”;
- Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, “Harta Benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.”
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 21 dari 46 hal. Put. Nomor 1726 K/Pdt/2015
B. Objek Sengketa Merupakan Harta Bersama Perkawinan (Gono Gini) antara Penggugat dengan Turut Tergugat I Sehingga Merupakan Kewenangan Pengadilan Agama untuk Mengadili;
Bahwa pada faktanya Amar Putusan Gugatan dari Penggugat dengan Nomor Register 44/PDT.G/2013/PN.BGR tanggal 22 April 2013 adalah sebagai berikut:
1. Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Nomor 30/BCV/III/2009 tanggal 27 Maret 2009 yang dibuat serta ditandatangani oleh Penggugat dengan Tergugat adalah sah dan mengikat secara hukum;
3. Menyatakan bahwa Penggugat adalah pembeli yang beritikad baik dan harus dilindungi menurut hukum;
4. Menyatakan sebidang tanah beserta bangunan rumah di atasnya seluas 160 m2 yang terletak di Perumahan Bukit Citnanggu City Type Nusa Dua Blok E Nomor 3, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareai, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat (“Tanah sengketa”) adalah sah milik Penggugat;
5. Menyatakan Tergugat telah melakukan wanprestasi;
6. Menghukum Tergugat untuk menandatangani Akta Jual Beli (AJB) dengan Penggugat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan menyerahkan, tanah sengketa beserta surat-surat kepemilikan atas Tanah sengketa tersebut kepada Penggugat;
7. Menyatakan sisa angsuran Hutang KPR atas pembayaran Tanah sengketa sebesar Rp559.192.620,00 (lima ratus lima puluh sembilan juta seratus sembilan puluh dua enam ratus dua puluh rupiah) adalah merupakan Hutang Piutang antara Penggugat dengan Tergugat;
8. Menghukum Tergugat untuk menerima pembayaran dari Penggugat terhadap sisa angsuran hutang KPR dengan pembayaran secara angsuran selama 36 bulan yaitu sebesar Rp15.533.129,00 setiap bulannya hingga lunas;
9. Menetapkan Penggugat untuk membayar uang kompensasi kepada Turut Tergugat I sebesar Rp308.624.896 (tiga ratus delapan puluh juta enam ratus dua puluh empat ribu delapan ratus sembilan puluh enam rupiah);
10. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul; Majelis Hakim yang Mulia bahwa pada faktanya berdasarkan amar putusan Nomor (4) yang terdapat dalam Petitum Gugatan a quo sudah jelas
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]