• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

BERITA DAERAH

KOTA TANGERANG SELATAN

No. 48, 2021 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.

Rencana Aksi Daerah Pengarasutamaan Gender Tahun 2021-2026.

PROVINSI BANTEN

PERATURAN WALI KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2021

TENTANG

RENCANA AKSI DAERAH PENGARASUTAMAAN GENDER TAHUN 2021-2026 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALI KOTA TANGERANG SELATAN,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengimplementasikan pelaksanaan strategi pengarustamaan gender secara lebih konkrit dan terarah untuk menjamin agar laki-laki dan perempuan memperoleh akses, partisipasi, mempunyai kontrol, dan memperoleh manfaat yang adil dari pembangunan dan berkontribusi pada terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender, diperlukan rencana aksi daerah;

b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 15 huruf k Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarasutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarasutamaan Gender di Daerah dan Pasal 10 huruf h Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarasutamaan Gender, perlu menyusun rencana aksi daerah pengarasutamaan gender;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Wali Kota tentang Rencana Aksi Daerah Pengarasutamaan Gender Tahun 2021-2026;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3277);

(2)

MEMUTUSKAN :

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4421);

4. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Provinsi Banten

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4935);

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarasutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarasutamaan Gender di Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 927);

7. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarasutamaan Gender (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 86);

8. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 6 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2021-2026 (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 124);

Menetapkan : PERATURAN WALI KOTA TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PENGARASUTAMAAN GENDER TAHUN 2021-2026.

(3)

3 BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Wali Kota ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.

2. Pemerintah Daerah adalah Wali Kota sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah otonom.

3. Wali Kota adalah Wali Kota Tangerang Selatan.

4. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Wali Kota dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

5. Gender adalah konsep yang mengacu pada pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat.

6. Pengarasutamaan Gender yang selanjutnya disebut PUG adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan Gender menjadi laki-laki dan perempuan.

7. Rencana Aksi Daerah PUG yang selanjutnya disingkat RAD PUG adalah dokumen yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan dalam pelaksanaan PUG.

8. Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender yang selanjutnya disingkat PPRG adalah instrumen untuk mengatasi adanya perbedaan atau kesenjangan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan bagi perempuan dan laki-laki dengan tujuan untuk mewujudkan anggaran yang lebih berkeadilan.

9. Focal Point PUG yang selanjutnya disebut Focal Point PUG adalah aparatur Perangkat Daerah yang mempunyai kemampuan untuk melakukan PUG di unit kerjanya masing- masing.

10. Kelompok Kerja PUG yang selanjutnya disebut Pokja PUG adalah wadah konsultasi bagi pelaksana dan penggerak PUG dari berbagai Perangkat Daerah.

11. Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan pemerintahan wajib yang berhak diperoleh setiap warga Negara secara minimal.

(4)

12. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals yang selanjutnya disingkat TPB adalah dokumen yang memuat tujuan dan sasaran global tahun 2016 sampai tahun 2030.

13. Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

14. Keadilan Gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki- laki dan perempuan.

15. Analisis Gender adalah proses analisis data Gender secara sistematis tentang kondisi laki-laki dan perempuan khususnya berkaitan dengan tingkat akses, partisipasi, kontrol dan perolehan manfaat dalam proses pembangunan untuk mengungkapkan akar permasalahan terjadinya ketimpangan kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab antara laki- laki dan perempuan.

16. Gender Analysis Pathway yang selanjutnya disingkat GAP adalah satu alat analisis Gender yang dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan lain pada tahun 2000 dan direkomendasikan penggunaannya dalam beberapa kebijakan yaitu digunakan untuk mengevaluasi program dan kegiatan yang belum responsif Gender.

17. Gender Budget Statement yang selanjutnya disingkat GBS adalah dokumen yang menginformasikan suatu output kegiatan telah responsif Gender atau sudah melalui analisis Gender dengan menggunakan GAP, dan telah dialokasikan dana untuk menangani permasalahan kesenjangan Gender

18. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 5 (lima) tahun.

19. Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahunan.

20. Rencana Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut Renja Perangkat Daerah adalah dokumen perencanaan Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.

(5)

5

21. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang selanjutnya disebut Bappeda adalah Perangkat Daerah yang memiliki tugas pokok melaksankan perencanaan pembangunan.

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2

Penyusunan RAD PUG Tahun 2021-2026 dimaksudkan sebagai upaya melaksanakan strategi pembangunan PUG dengan mengintegrasikan Gender menjadi satu kesatuan dimensi integral dengan visi dan misi pembangunan Daerah agar selaras dan sinkron sesuai kondisi dan karakter Daerah dan bersifat implementatif dan terukur.

Pasal 3

Penyusunan RAD PUG Tahun 2021-2026 bertujuan sebagai berikut:

a. sebagai panduan, arahan bagi Perangkat Daerah dalam menyusun kebijakan, program dan kegiatan dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi pembangunan yang responsif Gender;

b. mengefektifkan pelaksanaan strategi PUG secara lebih konkrit dan terarah untuk menjamin agar perempuan dan laki-laki memperoleh akses, partisipasi, mempunyai kontrol dan memperoleh manfaat yang adil dari pembangunan, serta berkontribusi pada terwujudnya keadilan dan kesetaraan Gender; dan

c. memperkuat sistem dan komitmen Perangkat Daerah dalam mengimplementasikan strategi PUG.

BAB III

RENCANA AKSI DAERAH PENGARASUTAMAAN GENDER Pasal 4

(1) RAD PUG Tahun 2021-2026 sebagai pencapaian pelaksanaan strategi PUG di Daerah.

(2) RAD PUG Tahun 2021-2026 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan berpedoman pada RJPMD, visi-misi, rencana strategis, kebijakan, program dan kegiatan Pemerintah Daerah yang terintegrasi pada setiap Perangkat Daerah.

(6)

BAB IV

SISTEMATIKA RENCANA AKSI DAERAH PENGARASUTAMAAN GENDER Pasal 5

(1) RAD PUG Tahun 2021-2026 ini disusun dengan sistematika meliputi:

a. Bab I Pendahuluan;

b. Bab II Kedudukan PUG dalam Peraturan Perundang-Undangan;

c. Bab III PUG dalam Siklus Pembangunan;

d. Bab IV Penguatan Kelembagaan;

e. Bab V Peran Serta Masyarakat;

f. Bab VI PUG dan Peraturan Perundang-Undangan Daerah;

g. Bab VII Analisa Kondisi;

h. Bab VIII RAD PUG; dan i. Bab IX Penutup.

(2) RAD PUG Tahun 2021-2026 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Wali Kota ini.

BAB V PELAKSANAAN

Pasal 6

Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana merupakan koordinator pelaksanaan PUG di Daerah.

Pasal 7

(1) Program dan kegiatan yang terkait dengan pelayanan, mendukung prioritas pembangunan Daerah, dan percepatan pencapaian SPM dan TPB harus memenuhi kriteria responsif Gender.

(2) Kriteria program dan kegiatan responsif Gender sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. program dan kegiatan yang dalam proses penyusunan dilakukan analisis Gender;

b. program dan kegiatan yang memiliki alokasi anggaran memadai dan menerapkan prinsip ekonomis, efisien, efektif, dan berkeadilan dalam penyusunan anggaranya; dan

c. program dan kegiatan responsif Gender ditandai dengan adanya GBS pada tahap penganggaranya.

(7)

7 BAB VI

PELAPORAN, PEMANTAUAN, DAN EVALUASI Pasal 8

(1) Lurah menyampaikan laporan pelaksanaan PUG di wilayahnya kepada Camat setiap 6 (enam) bulan sekali.

(2) Laporan pelaksanaan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat awal bulan Juli dan awal bulan Januari tahun berikutnya.

(3) Laporan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat paling kurang terdiri atas:

a. kegiatan PUG yang dilaksanakan;

b. sasaran kegiatan; dan

c. permasalahan yang dihadapi.

Pasal 9

(1) Camat menyampaikan laporan pelaksanaan PUG di wilayahnya kepada Wali Kota setiap 6 (enam) bulan sekali.

(2) Laporan pelaksanaan PUG sebagaimana dimaksud ayat (1) disampaikan paling lambat pertengahan bulan Juli dan pertengahan bulan Januari tahun berikutnya.

(3) Laporan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat paling kurang terdiri atas:

a. kegiatan PUG yang dilaksanakan;

b. sasaran kegiatan; dan

c. permasalahan yang dihadapi.

Pasal 10

(1) Kepala Perangkat Daerah menyampaikan laporan pelaksanaan PUG kepada Wali Kota setiap 6 (enam) bulan sekali.

(2) Laporan pelaksanaan PUG sebagaimana dimaksud ayat (1) disampaikan paling lambat pertengahan bulan Juli dan pertengahan bulan Januari tahun berikutnya.

(3) Laporan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat paling kurang terdiri atas:

a. kegiatan PUG yang dilaksanakan;

b. sasaran kegiatan; dan

c. permasalahan yang dihadapi.

Pasal 11

(1) Wali Kota menyampaikan laporan pelaksanaan PUG kepada Gubernur setiap 6 (enam) bulan sekali.

(2) Laporan pelaksanaan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat akhir bulan Juli dan akhir bulan Januari tahun berikutnya.

(8)

(3) Laporan pelaksanaan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling kurang terdiri atas:

a. pelaksanaan program dan kegiatan;

b. instansi yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan;

c. sasaran kegiatan;

d. penggunaan anggaran yang bersumber dari APBD atau sumber lain;

e. permasalahan yang dihadapi; dan f. upaya yang telah dilakukan.

(4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi bahan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG.

Pasal 12

(1) Wali Kota melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan PUG di Daerah.

(2) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

a. secara umum dilaksanakan oleh Pokja PUG mencakup pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan PUG berdasarkan dokumen perencanaan Daerah; dan

b. secara teknis dilaksanakan oleh Kepala Perangkat Daerah secara berjenjang mencakup pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan PUG berdasarkan dokumen perencanaan Perangkat Daerah.

(3) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam bentuk antara lain:

a. penyebaran kuisioner;

b. kunjungan; dan c. diskusi.

(4) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sebelum diadakannya penyusunan program atau kegiatan tahun berikutnya.

(9)

9 Pasal 13

(1) Bappeda melakukan evaluasi secara makro terhadap pelaksanaan PUG berdasarkan RPJMD dan Renja Perangkat Daerah.

(2) Pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi, pusat studi wanita, atau lembaga swadaya masyarakat.

(3) Hasil evaluasi pelaksanaan PUG menjadi bahan masukan dalam penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan tahun mendatang.

BAB VII PEMBINAAN

Pasal 14

(1) Wali Kota melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan PUG yang meliputi:

a. penetapan panduan teknis pelaksanaan PUG skala Daerah, kecamatan, dan kelurahan;

b. penguatan kapasitas kelembagaan melalui pelatihan, konsultasi, advokasi, dan koordinasi;

c. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG di kelurahan dan pada Perangkat Daerah;

d. peningkatan kapasitas focal point dan pokja PUG; dan e. strategi pencapaian kinerja.

(2) Panduan teknis pelaksanaan PUG skala Daerah. kecamatan, dan kelurahan diatur dengan keputusan ketua Pokja PUG.

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 15

Pada saat Peraturan Wali Kota ini mulai berlaku, Peraturan Wali Kota Nomor 32 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Daerah Pengarasutamaan Gender (Berita Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2018 Nomor 32) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(10)
(11)

11 LAMPIRAN

PERATURAN WALI KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2021

TENTANG

RENCANA AKSI DAERAH PENGARUSUTAMAAN GENDER TAHUN 2021-2026

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

PUG merupakan salah satu strategi global dalam mempromosikan Kesetaraan Gender di berbagai negara di dunia. Kesetaraan Gender (Gender equality) adalah tujuan yang telah disepakati oleh pemerintah dan organisasi internasional. Kesetaraan Gender telah menjadi perjanjian dan komitmen internasional bagi pemerintahan di seluruh dunia.

PUG merupakan mandat yang telah disepakati oleh setiap negara dari Aksi Beijing Platform 1995 sebagai pendekatan strategis dalam mencapai Kesetaraan Gender dan pemberdayaan perempuan pada semua tingkatan pembangunan. Platform (janji) mengikat seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk melakukan kebijakan dan program pembangunan, termasuk entitas (lembaga) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), komunitas pembangunan internasional dan aktor lembaga masyarakat, untuk melakukan aksi.

Kesetaraan Gender ini merupakan salah satu tantangan terberat yang dihadapi dalam melaksanakan pembangunan yang tidak saja bertumpu pada produktivitas tetapi juga bertumpu pada manusia, agar hasil pembangunan tersebut dapat dinikmati dan atau dapat meningkatkan kesejahteraan hidup seluruh masyarakat, tak terkecuali rakyat miskin.

Undang Undang Dasar 1945 memberikan hak yang sama pada setiap warga negara Indonesia tanpa membedakan laki laki dan perempuan, kaya atau miskin, tua atau muda serta perbedaan predikat yang lain.

Pada konteks ini pemerintah berkomitmen untuk menempatkan perempuan dan anak beserta permasalahannya menjadi isu prioritas nasional, komitmen tersebut antara lain dapat dilihat dari Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All forms of Discrimination Againts Women), Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarasutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarasutamaan Gender di Daerah.

(12)

Meskipun pembangunan hakekatnya ditujukan pada seluruh penduduk Indonesia tanpa membedakan jenis kelamin, namun dalam kenyataannya antara laki-laki dan perempuan masih terjadi ketimpangan, baik berkaitan dengan kesempatan untuk berperan serta dalam pembangunan maupun berkaitan dengan kesempatan untuk dapat menikmati hasil pembangunan.

Data terkini di Kota Tangerang Selatan menunjukkan bahwa kesenjangan Gender di berbagai bidang pembangunan masih relatif tinggi di Indonesia, selain itu kelembagaan PUG juga belum efektif. Meskipun capaian Indeks Pembangunan Gender dan Indeks Pemberdayaan Gender Tangerang Selatan pada tahun 2020 mencapai 93,58 dan 73,85. Lebih tinggi dari Indeks Pembangunan Gender Indonesia 91,06.

Kemudian Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di di Kota Tangerang Selatan berada di bawah rata-rata yaitu 62,46% lebih rendah 1,99 dibandingkan dengan TPAK Provinsi Banten yang berada di angka 64,48%.

Kekerasan terhadap perempuan (KtP) terus meningkat dengan spektrum yang semakin beragam. Perempuan juga rentan mengalami kekerasan dalam situasi darurat dan bencana. Perempuan juga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). perkembangan teknologi juga membuka peluang terjadinya kasus kekerasan berbasis Gender online (KBGO) yang sebagian besar korbannya adalah perempuan.

Ketimpangan nyata misalnya di bidang Pendidikan dimana akses Pendidikan terhadap perempuan tidak sebanding dengan laki-laki dengan dimana anak laki-laki lebih diutamakan akses pendidikannya dibanding perempuan.

Dibidang kesehatan, ketimpangan ini tampak misalnya pada kematian ibu melahirkan yang tergolong tinggi, kerentanan perempuan terhadap HIV/AIDS yang tidak hanya disebabkan faktor biologis tetapi juga sosial budaya dan ekonomi serta miningkatnya gizi buruk yang melanda ibu dan balita. Dibidang ekonomi keterlibatan perempuan memang makin meningkat namun dibidang ketenagakerjaan partisipasi perempuan belum optimal karena masih cenderung rendahnya tingkat pendidikan dan masih terbatasnya lapangan keja bagi perempuan.

(13)

13

Dibidang politik meskipun pemerintah telah memberikan himbauan untuk meningkatkan keterwakilan perempuan di lembaga Legislatif, Eksekutif, Yudikatif kiprah perempuan masih sangat rendah.

Dibidang sosial budaya dengan budaya patriaki dan stereotype bias Gender masih sangat melekat dalam kehidupan sosial masyarakat menimbulkan beragam diskriminasi terhadap perempuan.

Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami apabila ketidaksetaraan Gender merupakan salah satu persoalan yang begitu mendasar dalam pembangunan, oleh karena itu Pemerintah Daerah Kota Tangerang Selatan memasukkan PUG ke dalam salah satu Strategi Pembangunan, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarasutamaan Gender.

Peraturan tersebut mengamanatkan pembuatan RAD PUG yang berisi apa yang harus dilakukan oleh siapa dengan cara bagaimana, dan output/outcomenya apa sehingga strategi PUG benar-benar dapat diimplementasikan dalam rangka mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG).

RAD PUG diperlukan karena akan memberikan acuan/arahan kepada setiap stakeholders dalam melaksanakan strategi PUG untuk mencapai (KKG) dengan lebih fokus, efisien, efektif, sistematik, terukur dan berkelanjutan sehingga dapat mendorong mempercepat tersusunnya kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang responsif Gender sehingga Pemerintah Daerah dapat mendukung kelancaran perencanaan, pelaksanaan dan monev PUG secara optimal dalam pembangunan menuju terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) di Kota Tangerang Selatan.

(14)

1.2. DASAR HUKUM

Dasar Hukum penyusunan menyusun RAD PUG Tahun 2021-2026 adalah sebagai berikut:

1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3277);

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4421);

4. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarasutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarasutamaan Gender di Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 927);

7. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarasutamaan Gender (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 86);

(15)

15

1.3. TUJUAN PENYUSUNAN

Tujuan penyusunan RAD PUG Tahun 2021-2026 adalah:

a. Merumuskan isu Gender dan isu strategis Gender di Kota Tangerang Selatan.

b. Merumuskan kebijakan, strategi, program dan kegiatan responsif Gender yang dapat diintegrasikan pada dokumen perencanaan penganggaran baik RPJMD maupun RKPD.

c. Merumuskan panduan dan arahan dalam upaya penyelenggaraan pengarustamaan Gender dalam pembangunan daerah di Kota Tangerang Selatan.

1.4. TARGET PENYUSUNAN

RAD penyusunan PUG Kota Tangerang Selatan disusun untuk mencapai target sasaran:

a. Mendorong implementasi perundang-undangan yang berperspektif Gender.

b. Memperkuat jaringan kelembagaan pengarustamaan Gender termasuk keterpaduan program dan kegiatan.

c. Memperkuat komitmen penganggaran yang responsif Gender di Perangkat Daerah.

d. Peningkatan kemampuan mengintegrasikan isu strategis Gender dalam program/ kegiatan di Perangkat Daerah.

e. Pelaksanaan PUG dalam pembangunan sesuai dengan perencanaan dan penganggaran yang responsif Gender di Perangkat Daerah.

1.5. KEGUNAAN

Kegunaan RAD PUG Kota Tangerang Selatan adalah menjadi pedoman bagi seluruh Perangkat Daerah, Non Pemerintah di Kota Tangerang Selatan dalam mengimplementasikan PUG sehingga lebih fokus, terukur, efisien, sistematis dan berkelanjutan dalam proses penyusunan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah yang responsif Gender.

8. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 6 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2021-2026 (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 124).

(16)

1.6. SASARAN PENYUSUNAN

Sasaran dari penyusunan RAD PUG Tahun 2021-2026 adalah:

a. Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Pejabat Administrasi, Pejabat Pengawas, Pelaksanadan Pejabat Fungsional.

b. DPRD Kota Tangerang Selatan.

c. Kelompok masyarakat diantaranya tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, karang taruna dan sebagainya yang berdomisili di Kota Tangerang Selatan.

1.7. PROSES PENYUSUNAN

Proses menyusunan RAD PUG Tahun 2021-2026, adalah:

a. Membentuk tim penyusun RAD PUG dengan melibatkan pihak ketiga yaitu Konsutan

b. Pengumpulan data baik primer maupun sekunder.

c. Memvalidasi dan verifikasi data yang sudah terkumpulkan

d. Menganalisis data dan mengkaji isu-isu strategis di Kota Tangerang Selatan.

e. Membuat Rancangan RAD PUG di Kota Tangerang Selatan.

f. Penyusunan dan Finalisasi RAD PUG di Kota Tangerang Selatan.

1.8. IMPLEMANTASI

Strategi PUG diimplementasikan pada seluruh tahap pembangunan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan monitoring pembangunan. Implementasi pada tahap perencanaan pembangunan melalui:

a. Bappeda menyusun tolok ukur dan indikator kinerja;

b. Adanya komitmen dalam menggoalkan anggaran;

c. Implementasi PUG pada tahap pelaksanaan pembangunan adalah memastikan fungsi managemen pelaksanaan pembangunan yang responsif Gender (Koordinasi, Sinkronisasi, Sinergistis, Bimbingan Teknis dan Supervisi dilakukan oleh penerima mandat).

d. Tidak ada kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan program yang responsif Gender ditinjau dari aspek akses, partisipasi, kontrol dan manfaat.

(17)

17

Implementasi tahapan monitoring dan evaluasi PUG dalam pembangunan adalah:

1. Sektor/lembaga melaporkan tentang pelaksanaan pembangunan yang responsif Gender (LAKIP) sesuai PP No.8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;

2. BPPKB melakukan analisis format LAKIP sesuai PP No.8/2006 melaporkannya kepada Sektor/Lembaga sebagai feedback dan kepada Bupati sebagai bentuk akuntabilitas

3. Membuat tambahan format LAKIP baru sesuai tolok ukur/indikator kinerja yang responsif Gender.

1.9. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan RAD PUG Kota Tangerang Selatan meliputi seluruh perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan daerah di Kota Tangerang Selatan, disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Pendahuluan membahas tentang Latar Belakang, Tujuan Penyusunan, Target Penyusunan, Kegunaan, Sasaran Penyusunan, Proses Penyusunan, Implementasi, dan Sistematika Pembahasan.

Bab II Kedudukan PUG dalam Peraturan Perundang-Undangan

Kedudukan PUGmembahas tentang Kedudukan dalam Peraturan Perundang-undangan, dan Kedudukan dalam Rencana Strategis Daerah.

Bab III PUG dalam Siklus Pembangunan

PUG dan Siklus Pembangunan Daerah membahas tentang Siklus Pembangunan Daerah, Metode Analisis Gender, dan PUG sebagai strategi dalam Pembangunan Daerah.

Bab IV Penguatan Kelembagaan

Penguatan Kelembagaan membahas tentang Penguatan Kelembagaan Melalui Peraturan Perundang-undangan, dan Penguatan Kelembagaan PUG Melalui Kebijakan Anggaran.

Bab V Penguatan Peran Serta Masyarakat

Penguatan Peran Serta Masyarakat membahas tentang Penguatan Peran Serta Masyarakat Terhadap Pengarusutamaan Gender, dan PUG Sebagai Strategi Alternatif.

(18)

Bab VI PUG dan Peraturan Perundang-Undangan Daerah

PUG dan Peraturan Perundang-Undangan Daerah membahas tentang Dasar Peraturan Perundang-Undangan PUG di Daerah, dan Pelaksanaan PUG di Daerah.

Bab VII Analisa Kondisi

Analisis Kondisi membahas tentang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial, dan Sektor Publik.

Bab VIII RAD PUG

Matrik Rencana Aksi Daerah PUG membahas tentang Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Strategi.

Bab IX Penutup

Penutup membahas tentang Kesimpulan dan Rekomendasi.

(19)

19

BAB II

KEDUDUKAN PUG DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH

2.1. KEDUDUKAN PUG DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI DAERAH

Pelaksanaan PUG di daerah didasarkan pada Intruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarasutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, dan Permendagri Nomor 67 tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarustamaan Gender di Daerah.

Kedua peraturan ini pada pokoknya mengatur mekanisme dan proses pengintegrasian Gender dalam perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan nasional dan pembangunan daerah. Kedua bahwa pelembagaan PUG yang meliputi pelembagaan PUG dalam dokumen perencanaan jangka panjang (20 tahun), menengah (5 tahun) dan pendek (1 tahun). Berdasarkan ketentuan tersebut diharapkan semua elemen penyelenggara Negara dapat melaksanakan PUG pada berbagai bidang pembangunan. Dengan demikian PUG menjadi cross cutting issues di daerah yang harus direspon dalam proses penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

Kedudukan PUG dalam perundang-undangan daerah berkaitan dengan kelembagaan PUG, perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah, dan berbagai regulasi penyelenggaraan pengarustamaan Gender. Kelembagaan PUG mengarah pada upaya percepatan pencapaian kesetaraan dan keadilan Gender melalui berbagai lembaga yang ada di daerah seperti Kelompok Kerja (Pokja PUG), Tim Teknis Pokja PUG dan Focal point PUG. Pada perencanaan pembangunan, pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif Gender yang dituangkan dalam RJPMD, Rencana Strategis Perangkat Daerah, RKPD, dan Renja Perangkat Daerah.

(20)

Pedoman pelaksanaan PUG di daerah yaitu:

a. Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarasutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional dan

b. Permendagri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pengarasutamaan Genderdi Daerah yangdi perbaharui denganPermendagri Nomor 67 Tahun 2011 tentang perubahan Permendagri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan PUGdi Daerah.

c. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarusutamaan Gender.

Pada ketiga peraturan tersebut terdapat amanat dalam proses perencanaan pembangunan yaitu:

a. Integrasi isu Gender dalam proses pembangunan dimulai dari tahap perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi.

b. Internalisasi PUG dalam dokumen perencanaan jangka panjang (20 tahun), menengah (5 tahun) dan pendek (1 tahun) serta pelembagaan pengelolaan PUG Berdasarkan ketentuan tersebut diharapkan semua elemen penyelenggara Negara melaksanakan PUG pada berbagai bidang pembangunan. PUG menjadi cross cutting issues di daerah yang harus direspon dalam proses penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

Kelembagaan PUG mengarah pada upaya percepatan pencapaian kesetaraan dan keadilan Gender melalui berbagai lembaga yang ada di daerah seperti Kelompok Kerja (Pokja PUG), Tim Teknis Pokja PUG dan Focal Point PUG.

Pemerintah Daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif Gender yang dituangkan dalam RPJMD, Rencana Strategis Perangkat Daerah, dan Rencana Kerja Perangkat Daerah. Perencanaan responsif Gender adalah perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan Gender melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki (Permendagri 15 tahun 2008 jo Permendagri 67 tahun 2011).

(21)

21

Regulasi penyelenggaraan PUG adalah Peraturan Daerah, Peraturan Wali Kota, Surat Keputusan Wali Kota, maupun surat edaran penting yang ditujukan bagi percepatan pencapaian kesetaraan dan keadilan Gender. Pelaksanaan PUG di Kota Tangerang Selatan harus didukung dengan berbagai regulasi daerah, baik berupa Peraturan Daerah maupun Peraturan Wali Kota sehingga mampu mengikat semua pihak untuk mendukung penyelenggaraan PUG di Kota Tangerang Selatan.

Dalam upaya percepatan pelembagaan PUG maka disusun penetapan program, kegiatan dan anggaran yang responsif Gender Kota Tangerang Selatan yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Badan Perencanan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor:

027/Kep-0529/Bappeda/xi/2017.

Hal ini tentu saja merespon sebagaimana tercantum dalam Permendagri 15 tahun 2008 jo Permendagri 67 tahun 2011 yaitu:

a. Mempromosikan dan memfasilitasi PUG kepada masing-masing Perangkat Daerah;

b. Melaksanakan sosialisasi dan advokasi PUG kepada camat, kepala desa, dan lurah;

c. Menyusun program kerja setiap tahun;

d. Mendorong terwujudnya Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender;

e. Menyusun rencana kerja POKJA PUG setiap tahun;

f. Bertanggung jawab kepada Wali Kota melalui wakil bupati/Wali Kota;

g. Merumuskan rekomendasi kebijakan kepada bupati/Wali Kota;

h. Menyusun profil Gender kabupaten/kota;

i. Melakukan pemantauan pelaksanaan PUG di masing-masing instansi;

j. Menetapkan tim teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran Daerah;

(22)

k. Menyusun RAD PUG dikabupaten/kota; dan

l. Mendorong dilaksanakannya pemilihan dan penetapan Focal di masing-masing Perangkat Daerah. Dalam rangka mempercepat pelaksanaan PUG pada tingkat Perangkat Daerah dibentuk Focal Point Perangkat Daerah, sayangnya hingga kini belum seluruh Perangkat Daerah di Kota Tangerang Selatan memiliki Focal Point.

Pembentukan Focal Point ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Perangkat Daerah. Focal Point terdiri dari pejabat dan/atau staf yang membidangi tugas Pemberdayaan Perempuan dan Perwakilan tiap bidang yang ada. Adapun tugas dari Focal Point yaitu:

a. Mempromosikan PUG pada unit kerja;

b. Memfasilitasi penyusunan rencana kerja dan penganggaran Perangkat Daerah yang responsif Gender

c. Melaksanakan pelatihan, sosialisasi, advokasi PUG kepadaseluruh pejabat dan staf di lingkungan Perangkat Daerah

d. Melaporkan pelaksanaan pug kepada pimpinan Perangkat Daerah e. Mendorong pelaksanaan analisis Gender terhadap kebijakan,

program, dan kegiatanpada unit kerja; dan

f. Memfasilitasi penyusunan data Gender pada masing-masing Perangkat Daerah. Pemerintah Kota Tangerang Selatan memiliki tugas dan tanggungjawab mencapai kesetaraan dan keadilan Gender. Hal ini merupakan bukti RPJMD Kota Tangerang Selatan telah ada upaya responsif terhadap pencapaian kesetaraan dan keadilan Gender.

Pada tahap pelaporan monitoring dan evaluasi, Wali Kota Tangerang Selatan mempersiapkan laporan pelaksanaan PUG kepada Gubernur secara berkala setiap 6 (enam) bulan. Selain itu, melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG pada setiap Perangkat Daerah. Melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan PUG yang meliputi: (1) penetapan panduan teknis pelaksanaan PUG skala Kota Tangerang Selatan, Kecamatan dan Kelurahan; (2) penguatan kapasitas kelembagaan melalui pelatihan, konsultasi, advokasi, dan koordinasi; (3) pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG di Kelurahan dan pada Perangkat Daerah; (4) peningkatan kapasitas focal point dan Pokja PUG; dan (5) strategi pencapaian kinerja.

(23)

23

2.2. KEDUDUKAN PUG DALAM RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Kedudukan PUG dalam Dokumen RKPD merupakan arusutama dalam setiap arah kebijakan, strategi, program dan kegiatan. PUG akan menjadi jiwa dalam dokumen RKPD yang menjadi pedoman dalam penyusunan RAPBD untuk ditetapkan menjadi APBD. RAPBD disusundengan mendasarkan pada Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) seluruh Perangkat Daerah. APBD ini kemudian akan dijabarkan menjadi Daftar Penetapan Anggaran (DPA) Perangkat Daerah.

Dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan tahunan, Perangkat Daerah perlu melakukan analisis Gender, sehingga dapat diketahui permasalahan kesenjangan Gender menyangkut akses, kontrol, partisipasi dan manfaat yang diperoleh penduduk perempuan dan laki-laki, dan menentukan rencana aksi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan tersebut. Pengintegrasian PUG dalam pembangunan tahunan harus dimulai sejak penyusunan RKPD.

Sementara titik kritis dalam perencanaan yang responsif Gender yaitu pada saat penyusunan RKA dan DPA Perangkat Daerah.

Hal ini karena dalam kedua dokumen tersebut telah menyebutkan kelompok sasaran suatu kegiatan, dimana sudah harus memperhatikan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan Gender.

(24)

BAB III

PUG DAN SIKLUS PEMBANGUNAN DAERAH

3.1. PUG DALAM SIKLUS PEMBANGUNAN DI DAERAH

PUG di daerah yang selanjutnya disebut PUG adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan Gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan di daerah.

PUG dilakukan dilakukan untuk mewujudkan kesetaraan Gender, yaitu kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan (kesetaraan Gender), dan juga keadilan Gender, yaitu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan.

Siklus pembangunan daerah dimulai dari tahap perencanaan pembangunan daerah, implementasi pembangunan daerah, evaluasi dan pelaporan pembangunan daerah. Dalam perencanaan pembangunan daerah PUG diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.

Integrasi PUG dalam perencanaan pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan menurut Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, terdapat empat tahapan dalam siklus perencanaan pembangunan nasional, yaitu (1) penyusunan rencana; (2) penetapan rencana; (3) pengendalian pelaksanaan rencana; dan (4) evaluasi pelaksanaan rencana. Pada tingkat daerah, perencanaan pembangunan daerah juga disusun

(25)

melalui empat tahapan dalam siklus perencanaan pembangunan daerah.

Dokumen perencanaan pembangunan daerah disusun secara berjangka, dokumen perencanaan pembangunan untuk kurun waktu 20 tahun disebut Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), dokumen perencanaan pembangunan untuk kurun waktu 5 tahun disebut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dan dokumen perencanaan tahunan disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), RKPD menjadi dasar dalam penyusunan RAPBD dan Penetapan APBD.

PUG dalam Permendagri Nomor 15 tahun 2008 jo Permendagri Nomor 67 tahun 2011, merupakan strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan Gender menjadi satu dimensi integral mulai perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan serta program pembangunan nasional. Penyelenggaraan PUG di daerah dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Kesetaraan Gender dapat dicapai dengan mengurangi kesenjangan antara penduduk laki-laki dan perempuan dalam mengakses dan mengontrol sumber daya, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan proses pembangunan, serta mendapatkan manfaat dari kebijakan dan program pembangunan. Upaya yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah yakni dalam meningkatkan perlindungan bagi perempuan dari berbagai tindak kekerasan, meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan, meningkatkan kapasitas kelembagaan PUG dan kelembagaan perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan.

PUG dilaksanakan melalui langkah-langkah analisis Gender serta Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tentang pengarus utamaan Gender pada instansi dan lembaga pemerintah di tingkat Pusat dan Daerah. Tahap perencanaan, pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif

(26)

Gender yang dituangkan dalam RPJMD, RKPD, Renstra Perangkat Daerah, dan Renja Perangkat Daerah.

Perencanaan responsif Gender adalah perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan Gender, yang dilakukan melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki (Permendagri 15 tahun 2008). Pengintegrasian PUG juga mencakup proses penganggaran pembangunan daerah, yaitu pada tahap penyusunan RAPBD berdasarkan RKA-Perangkat Daerah dan penetapan APBD yang selanjutnya dirinci dalam rincian APBD.

Gambar 3.1 Perincian PUG dalam penganggaran dan perencanaan pembangunan daerah

(27)

3.2. METODE ANALISIS GENDER

Perencanaan dan penganggaran pembangunan yang responsif Gender harus melalui proses analisis Gender menggunakan metode Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analisys Pathway/GAP), dan Gender Budget Statement (GBS). GAP dan GBS digunakan untuk menganalisis isu Gender yang berkembang, merumuskan tujuan, menyusun kegiatan yang responsif Gender, menyusun indikator capaian, dan menentukan target kinerja atas rumusan kegiatan rensponsif Gender.

Perumusan isu Gender sampai dengan penentuan indikator capaian dan penetapan target kinerja dengan analisis GAP dan GBS dilakukan menggunakan data pilah Gender (data menurut jenis kelamin). Data pilah Gender penting untuk mengetahui sejauh mana kesenjangan akses, kontrol, partisipasidan peran antara laki-laki dengan perempuan.

GAP merupakan salah satu alat analisis Gender yang dikembangkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang dapat digunakan untuk membantu para perencana memasukan PUG dalam perencanaan kebijakan, program, proyek, dan atau kegiatan pembangunan.

Perencana dapat mengidentifikasikan kesenjangan dan permasalahan

Gender serta sekaligus menyusun rencana

kebijakan/program/proyek/kegiatan yang ditujukan untuk memperkecil atau menghapus kesenjangan Gender dengan menggunakan GAP.

Berdasarkan buku pedoman teknis perencanaan dan penganggaran responsif Gender bagi daerah yang dikeluarkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan tahun 2010, metode GAP meliputi 9 (sembilan) langkah yaitu:

(28)

a. Pilih Kebijakan/Program/Kegiatan yang akan dianalisa

1. Memilih kebijakan/program/kegiatan yang hendak dianalisis.

2. Menuliskantujuankebijakan/program/kegiatan.

b. Menyajikan Data Pembuka Wawasan.

1. Menyajikan data pembuka wawasan yang terpilah menurut jenis kelamin.

2. Data terpilah ini bisa berupa data statistik yang kuantitatif atau yang kualitatif, misalnya hasil survei, hasil FGD, review pustaka, hasil kajian, hasil pengamatan, atau hasil intervensi kebijakan/program/kegiatan yang sedang dilakukan.

c. Mengenali Faktor Kesenjangan Gender

Menemukan dan mengetahui ada tidaknya faktor kesenjangan Gender yaitu Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat (APKM).

d. Menemukan Sebab Kesenjangan Internal

Temukan isu Gender di internal lembaga. Misalnya terkait dengan produk hukum, kebijakan, pemahaman Gender yang masih kurang diantara pengambil keputusan dalam internal lembaga.

e. Menemukan Sebab Kesenjangan Eksternal

Temukan isu Gender di eksternal lembaga. Misalnya apakah budaya patriakhi, Gender stereotype (laki-laki yang selalu dianggap sebagai kepala keluarga).

f. Reformulasi Tujuan

Merumuska kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan supaya responsif Gender.

g. Rencana Aksi.

1. Menetapkan rencana aksi.

2. Rencana aksi diharapkan mengatasi kesenjangan Gender yang teridentifikasi pada langkah 3, 4 dan 5.

h. Data Dasar.

Menetapkan data dasar yang dipilih untuk mengukur kemajuan (progress). Data yang dimaksud diambil dari data pembuka

(29)

wawasan yang telah diungkapkan pada langkah 2 yang terkait dengan tujuan kegiatan dan ouput kegiatan.

i. Indikator Gender

Menetapkan indikator Gender sebagai pengukuran hasil melalui ukuran kuantitatif maupun kualitatif.

Selanjutnya dalam pelaksanaan pembangunan PUG juga terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pembangunan di setiap Perangkat Daerah yang mengampu urusan-urusan yang dilimpahkan pusat kepada daerah. Dalam pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan manusia secara langsung maupun tidak harus memperhatikan akses kontrol, partisipasi dan peran antara perempuan dan laki-laki.

Apalagi kegiatan-kegiatan yang langsung mengarah pada penyelesaian kesenjangan antara laki-laki dan perempuan harus secara efektif dapat mengurangi kesenjangan antara laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya.

Tahap pelaksanaan pembangunan daerah PUG tetap harus menjadi

“jiwa” setiap kegiatan yang dilaksanakan. Dalam pelaksanaan pembangunan di Kota Tangerang Selatan PUG harus mengendalikan kegiatan-kegiatan pembangunan supaya tetap memperhatikan kesetaraan Gender. Bappeda melakukan pemantauan pelaksanaan PUG di masing-masing instansi agar PUG berjalan dengan optimal.

Bappeda beserta tim teknis Perangkat Daerah terkait dan Focal point menjadi garda terdepan dalam mengawal PUG dalam pembangunan daerah.

Keadilan dan kesetaraan Gender merupakan tujuan utama dalam evaluasi terhadap kinerja Perangkat Daerah dan evaluasi dokumen perencanaan,sehingga dapat diketahui apakah hasil kinerja Perangkat Daerah dan perencanaan sudah responsif Gender atau belum. Dalam tahap ini integrasi perencanaan penganggaran pada tahap integrasi dalam dokumen RPJMD tersirat dalam Misi 8, kebijakan daerah,tujuan dan program/kegiatan. Secara khusus Renstra dan Renja DPMP3AKB

(30)

memuat amanah-amanah yang harus diemban mencapai Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG).

Secara umum RPJMD tahun 2021-2026 telah mencerminkan pencapaian misi Wali Kota dalam pengarusutamaan Gender.

Kedudukan PUG dalam Rencana Pembangunan Daerah 5 Tahun (RPJMD) Kedudukan PUG ke dalam RPJMD diwujudkan dalam penggambaran kondisi, strategi, arah kebijakan, program dan kegiatan yang selalu memperhatikan akses, kontrol, partisipasi dan peran laki- laki dan perempuan secara seimbang.

Perhatian terhadap akses, kontrol, partisipasi dan peran laki-laki dan perempuan dalam setiap aspek dalam RPJMD diwujudkan dalam setiap aspek dalam perencanaan jangka menengah daerah tersebut.

Penyusunan perencanaan yang mengintegrasikan PUG selalu didasarkan pada data pilah. Pada setiap penyajian kondisi dan prediksi selalu memperhatikan data pilah Gender dan issue Gender yang berkembang berkaitan dengan kondisi data yang ada. Pengintegrasian pengarusutaman Gender melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah merupakan langkah strategis dalam proses PUG di daerah.

Hal ini karena RPJMD akan dijadikan acuan dalam menyusun rencana strategis Perangkat Daerah, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

dan Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah. Dalam RPJMD 21

20 -2026 secara umum sudah memperhatikan kesetaraan dan keadilan Gender, terutama dalam perumusan misi ke-1, yaitu Meningkatkan kualitas pembangunan berbasis Gender, yang memiliki arti kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan (akses) dan memafaatkan berbagai pelayanan publik, serta kesetaraan dalam berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan perlu terus dikembangkan. Disamping itu perlu adanya jaminan dan penghargaan yang tinggi padahak asasi manusia. ujuan pembangunan yang dijabarkan dari misi ke-8 yaitu Mengurangi ketimpangan Gender;

(31)

penguatan kelembagaan dan pemberdayaan perempuan dan menjunjung tinggi HAM.

Adapun sasarannya yaitu (1) Meningkatnya indeks pembangunan Gender (IPG); (2) Meningkatnya indeks pemberdayaan Gender (IDG); (3) Meningkatnya kesadaran hukum oleh masyarakat; (4) Meningkatnya pemahaman terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) oleh aparat; (5) Terwujudnya peningkatan sumberdaya manusia dan kualitas hidup perempuan dan perlindungan anak yang kompetitif dan memiliki kompetensi; (6) Terwujudnya masyarakat yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan Gender dalam penerapansegala aspek kehidupan. Misi, tujuan dan sasaran tersebut akan menjadi modal awal untuk perencanaan pembangunan tahunan, yaitu RKPD dan Renja Perangkat Daerah yang lebih responsif Gender.

3.3. PUG SEBAGAI STRATEGI DALAM PEMBANGUNAN

PUG adalah strategi pembangunan untuk mencapai adanya kesetaraan dan keadilan Gender (KKG) melalui pengintegrasian pengalaman, kebutuhan, aspirasi perempuan dan laki-laki kedalam berbagai kebijakan dan program mulai dari tahap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pemantauan. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang pelaksanaan PUG dalam pembangunan, mengintruksikan kepada seluruh Menteri dan Kepala Lembaga non Kementerian (K/L), Lembaga tinggi negara, Kapolri, Panglima TNI, para Gubernur dan para Bupati/Wali Kota seluruh indonesia untuk melaksanakan PUG dalam pembangunan.

Dalam Perpres Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, menegaskan bahwa PUGmerupakan stretagi lintas bidang dalam pembangunan selain Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan Pemerintahan yang baik (good governance). Dengan mengacu kepada Inpres 9 Tahun 2000, dan Perpres 18 tahun 2020 tersebut diatas maka jelas pengarusuatamaan Gender merupakan kewajiban bagi seluruh

(32)

Menteri/Kepala Non Kementerian dan juga para Gubernur dan Bupati/Wali Kota seluruh Indonesia untuk menerapkan strategi PUG dalam pembangunan sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

PUG sebagai strategi pembangunan telah diamanatkan dalam Inpres nomor 9 tahun 2000, dan dipertegas dalam perpres nomor 18 tahun 2020 tentang RPJMN tahun 2020-2024. Dalam menetapkan prioritas pembangunan pemberdayaan perempuan di Indonesia maka dalam RPJMN 2020-2024 ditetapkan 4 (empat) pengarustamaan (mainstreaming) sebagai bentuk pembangunan inovatif dan adaptif, sehingga dapat menjadi katalis pembangunan untuk menuju masyarakat sejahtera dan berkeadilan. Sebagaimana diuaraiakan di RPJMN tahun 2020-2024 keempat mainstreaming menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan sektor dan wilayah, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan memastikan pelaksanaannya secara inklusif.

Selain mempercepat pencapaian target-target dari fokus pembangunan, PUG juga bertujuan untuk memberikan akses pembangunan yang merata dan adil dengan meningkatkan efisiensi tata kelola dan juga adaptabilitas terhadap faktor eksternal lingkungan.

Keempat pengarusutamaan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan generasi masa depan, dengan mengedepankan kesejahteraan tiga dimensi (sosial, ekonomi dan lingkungan).

Pembangunan berkelanjutan pada dasarnya merupakan alat dan sarana untuk mencapai agenda pembangunan nasional yang mensyaratkan partisipasi dan kolaborasi semua pihak.

Pembangunan berkelanjutan mencakup 17 (tujuh belas) tujuan, yang saling terkait termasuk: kerentanan bencana dan perubahan iklim, serta tata kelola pemerintahan yang baik.

(33)

RPJMN 2020-2024 telah mengarusutamakan 118 target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

2. Gender

PUG merupakan strategi untuk mengintegrasikan perspektif Gender ke dalam pembangunan, mulai dari penyusunan kebijakan, perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi.

PUG bertujuan untuk mewujudkan kesetaraan Gender sehingga mampu menciptakan pembangunan yang lebih adil dan merata bagi seluruh penduduk Indonesia.

Kesetaraan Gender dapat dicapai dengan mengurangi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam mengakses dan mengontrol sumber daya, berpartisipasi di seluruh proses pembangunan dan pengambilan keputusan, serta memperoleh manfaat dari pembangunan

3. Modal Sosial dan Budaya

Pengarusutamaan modal sosial budaya merupakan internalisasi nilai dan pendayagunaan kekayaan budaya untuk mendukung seluruh proses pembangunan. Pengetahuan tradisional (local knowledge), kearifan local (local wisdom), pranata sosial di masyarakat sebagai penjelmaan nilai-nilai sosial budaya komunitas harus menjadi pertimbangan dalam proses perencanaan serta penyusunan kebijakan dan program pembangunan nasional.

Pengarusutamaan sosial-budaya bertujuan dan berorientasi pada penghargaan atas khazanah budaya masyarakat, sekaligus upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan bangsa

4. Transformasi Digital

Pengarustamaan transformasi digital merupakan upaya untuk mengoptimalkan peranan teknologi digital dalam meningkatkan daya saing bangsa dan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Strategi pengarustamaan

(34)

transformasi digital terdiri dari aspek pemantapan ekosistem (supply), pemanfaatan (demand) dan pengelolaan big data.

RPJMN 2020-2024 menetapkan bahwa kesetaraan Gender, pemberdayaan, dan perlindungan perempuan menjadi faktor penting untuk memastikan keterlibatan perempuan secara bermakna di dalam pembangunan.

Karenanya arah dan kebijakan strategis RPJMN 2020-2024 diarahkan kepada dua hal penting yaitu (1) Peningkatan kesetaraan Gender dan pemberdayaan perempuan, mencakup: (a) penguatan kebijakan dan regulasi, (b) percepatan pelaksanaan PUG di kementerian/ lembaga, pemerintah provinsi/kabupaten/kota, dan pemerintah desa melalui penguatan pelembagaan PUG dan penguatan perencanaan dan penganggaran yang responsif Gender (PPRG), (c) peningkatan pengetahuan dan pemahaman individu baik perempuan maupun laki-laki, keluarga, komunitas, lembaga masyarakat, media massa, dan dunia usaha; d) peningkatan peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan, terutama dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, tenaga kerja, serta politik, jabatan publik, dan pengambilan keputusan; dan e) peningkatan jejaring dan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, media massa, dunia usaha, dan lembaga masyarakat.

Kemudian (2) Peningkatan perlindungan perempuan, termasuk pekerja migran dari kekerasan dan TPPO, mencakup: a) penguatan kebijakan dan regulasi pencegahan, penanganan, rehabilitasi, pemulangan, dan reintegrasi; b) peningkatan pengetahuan dan pemahaman individu baik perempuan maupun laki-laki, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya tentang KtP dan TPPO; c) peningkatan kapasitas aparat penegak hukum dan penyelenggara pemerintahan tentang KtP dan TPPO; d) penguatan kelembagaan perlindungan perempuan dari tindak kekerasan melalui peningkatan kapasitas SDM penyedia layanan,

(35)

koordinasi antarunit penyedia layanan, penguatan data dan informasi, serta pengawasan; e) pengembangan sistem data terpadu KtP dan TPPO; f) pengembangan sistem layanan terpadu penanganan KtP dan TPPO; g) penguatan jejaring dan kerja sama antara pemerintah (pusat dan daerah), komunitas, media massa, dunia usaha dan lembaga bantuan hukum; dan h) pengembangan inovasi dalam upaya pencegahan KtP dan TPPO.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), menjabarkan kedalam “Three End Plus” yaitu: Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak; Akhiri perdagangan Manusia; Akhiri kesenjangan ekonomi; Akhiri ketertinggalan perempuan dalam politik.

(36)

BAB IV

PENGUATAN KELEMBAGAAN

4.1. PENGUATAN KELEMBAGAAN MELALUI PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN

Pelaksanaan PUG dalam pembangunan pada dasarnya dimulai sejak Intruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan PUG dalam pembangunan. Selanjutnya dalam Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 dinyatakan bahwa PUG merupakan salah satu arus utama yang harus dilaksanakan dalam pembangunan disamping pengarusutamaan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Kemudian juga diperkuat dalam Peraturan Presiden Nomor 18 tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024 ditetapkan 4 (empat) pengarustamaan (mainstreaming) yaitu (1) tujuan pembangunan berkelanjutan, (2) Gender, (3) modal sosial dan budaya (4) transfprmasi digital.

Keempatnya sebagai bentuk pembangunan inovatif dan adaptif, sehingga dapat menjadi katalis pembangunan untuk menuju masyarakat sejahtera dan berkeadilan. Kemudian dipertegas dalam arah dan kebijakan strategis RPJMN 2020-2024 diarahkan kepada dua hal penting terkait PUG yaitu (1) Peningkatan kesetaraan Gender dan pemberdayaan perempuan, (2) Peningkatan perlindungan perempuan, termasuk pekerja migran dari kekerasan dan TPPO.

Selain itu saat ini dalam agenda pembangunan peningkatan sumberdaya manusia yang berkualitas dan berdaya saing saat ini telah disusun Rancangan Undnag-Undang (RUU) Kesetaraan Gender. Saat pemerintah juga telah menyusun Revisi Perpres tentang Strategi Nasional Percepatan Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender.

(37)

Dalam rangka percepatan pelaksanaan PUG baik di pusat maupun di daerah Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) antara empat menteri yaitu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas No.270/M.PPN /II/2012, Menteri Keuangan dengan No, SE.33/MK.02/2012, Menteri Dalam Negeri No.

050/4370A/SJ dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 46/MPP-PA/II/2012 tentang Strategi Nasional Percepatan PUG(PUG) melalui Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender. Peraturan tersebut menjadi dasar dalam menyusun perencanaan dan penganggaran yang responsif Gender (PPRG) dan merupakan strategi percepatan pelaksanaan PUG baik dipusat maupun di daerah.

Sedangkan pelaksanaan PUG di daerah telah diamanatkan dalam Permendagri No. 15 tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan PUG di daerah, namum dalam Permendagri tersebut lebih fokus kepada pengaturan sistim perencanaan daerah yang responsif Gender, sedangkan pengaturan tentang sistim penganggaran dengan menggunakian instrumen analisis Gender dan Gender budget statement (pernyataan anggaran Gender) belum diatur. Untuk hal tersebut Kementerian Dalam Negeri telah mengeluarkan Permendagri No. 67 Tahun 2011 sebagai perubahan dari Permendagri No. 15 tahun 2008.

Permendagri tersebut telah mengatur sistim kelembagaan PUG di daerah dan juga mengatur sistim perencanaan dan penganggaran dengan menggunakan instrumen Analisis Gender dengan menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) dan Pernyataan Anggaran Gender/Gender Budget Statement (PAG/GBS).

Untuk mencapai palaksanaan PUG sebagaimana termaksud dalam Inpres 9 tahun 2000, Perpres 18/2020, SEB empat menteri, dan Permendagri 67 Tahun 2011 tersebut diatas PUG telah mengamanatkan kepada pemerintah provinsi, dan kabupaten/kota memperhatikan hal-hal sebegai berikut:

(38)

1. Pemerintah provinsi berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan berperspektif Gender yang dituangkan dalam RPJMD, Renstra Perangkat Daerah, dan Renja Perangkat Daerah (pasal 4 ayat (1)). Penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan berperspektif Gender sebagaimana pada ayat (1) dilakukan melalui analisis Gender (ayat (2) pasal 4).

Analisis Gender dapat menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) atau analisis Gender lainnya.

2. Pasal 5A menjelaskan bahwa hasil analisis Gender sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (3) dituangkan dalam penyusunan Gender Budget Statement/Pernyataan Anggaran Gender (GBS/PAG).

Hasil analisis Gender yang terdapat dalam GBS/PAG menjadi dasar Perangkat Daerah dalam menyusun kerangka acuan kegiatan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan dokumen RKA/DPA Perangkat Daerah.

3. Dalam permendagri dijelaskan tiga lembaga/unit baik di Provinsi maupun di Kab/Kota yaitu: POKJA Provinsi dan Kabupaten Kota (pasal 9 dan 14), Tim Teknis Provisi dan Kabupaten/kota (pasal 11 dan 16), RAD PUG di Provinsi dan Kabupaten/kota (pasal 11 ayat (2) dan pasal 16 ayat (2)), Focal point PUG di setiap Perangkat Daerah di Provinsi dan Kabupaten/Kota (pasal 17 ayat (1) dan (2);

4. Menteri Dalam negeri melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) melakukan pembinaan umum terhadap pelaksanaan PUG di provinsi (pasal 23), Pemberian pedoman dan panduan, Penguatan kapasitas, dan kapasitas tim teknis ,dan POKJA Provinsi serta Pemantauan dan evaluasi.

5. Anggota POKJA dikenal dua peran: Peran Penggerak (driver) dan Peran pelayanan (services). Lembaga Driver atau penggerak terdiri dari Bappeda, Badan PP&KB atau sejenisnya, Badan Keuangan Provinsi atau sejenisnya, dan Inspektorat Provinsi; Bappeda sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap koordinasi dalam penyusunan perencanaan; Badan PP&KB sebagai penggerak dan

(39)

bertanggung jaswab terhadap bantuan teknis substansi PUG dan penyediaan data terpilah; Badan Keuangan provinsi bertanggung jawab terhadap dalam melakukan koordinasi dan supervisi penganggaran; sedangkan Inspektorat bertanggung jawab terhadap pelaksanaan supervisi, monitoring dan evaluasi kegiatan.

Sedangkan unit-unit lembaga pelayanan (services) yaitu Perangkat Daerah bertanggung jawab terhadap penyusunan kegiatan yang responsif Gender dengan menggunakan anlisis Gender dan pembuatan Gender Budget Statement/Pernyataan Anggaran Responsif Gender (GBS/PAG) yang dapat langsung berkaitan dengan sasaran inti yaitu masyarakat, dan

6. Koordinasi dan sinkronisasi PUG dan PPRG paling utama ada pada lembaga penggerak (driver) yang menggerakkan POKJA;

4.2. PENGUATAN KELEMBAGAAN MELALUI KEBIJAKAN ANGGARAN PUG adalah proses untuk menjamin perempuan dan laki-laki mempunyai akses dan kontrol terhadap sumber daya, mendapat manfaat dan terlibat dalam pengambilan keputusan yang sama dalam proses pembangunan. Hal tersebut merupakan strategi untuk mengurangi kesenjangan Gender dan mencapai kesetaraan Gender dengan mengintegrasikan Gender menjadi satu demensi integral dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan disuatu wilayah. Pelaksanaan PUG dalam pembangunan merupakan strategi untuk memastikan perempuan dan laki-laki mempunyai akses yang sama terhadap sumber daya, dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, memiliki kesempatan dan peluang yang sama dalam melakukan kontrol, serta memperoleh manfaat yang sama terhadap pembangunan.

Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) merupakan serangkaian cara dan pendekatan untuk mengintegrasikan perspektif Gender di dalam proses perencanaan dan penganggaran. Perencanaan yang responsif Gender adalah perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan Gender, yang dilakukan melalui pengintegrasian

(40)

pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki. PPRG merupakan perencanaan yang disusun dengan mempertimbangkan empat aspek yaitu : akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang dilakukan secara setara antara perempuan dan laki-laki. PPRG harus mempertimbangkan aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki baik dalam proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi program kegiatan.

a. Tujuan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG):

Penyusunan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender mempunyai tujuan, yaitu:

1. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pengambil keputusan tentang pentingnya isu Gender dalam kebijakan pembangunan dan mempercepat terwujudnya keadilan dan kesetaran Gender.

2. Memberikan manfaat yang adil bagi kesejahteraan laki-laki dan perempuan, termasuk anak laki-laki dan anak perempuan dari penggunaan belanja/pengeluaran pembangunan.

3. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran, serta membangun transparansi anggaran dan akuntabilitas Pemerintah Daerah.

4. Membantu mengurangi kesenjangan Gender dan menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan dalam pembangunan.

5. Meningkatkan partisipasi masyarakat, baik laki-laki dan perempuan dalam penyusunan perencanaan anggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.

6. Menjamin agar kebutuhan dan aspirasi laki-laki dan perempuan dari berbagai kelompok sosial (berdasarkan jenis kelamin, usia, ras, suku, dan lokasi) dapat diakomodasikan ke dalam belanja/

pengeluaran.

(41)

b. Prasyarat Terwujudnya PUG 1. Komitmen

Terwujudnya PUG di Kota Tangerang Selatan adanya komitmen bersama stakeholder dan masyarakat sehingga penguatan kelambagaan PUG.

2. Kebijakan

Adanya kebijakan yang berpihak pada PUG di Kota Tangerang Selatan sebagaimana peraturan daerah Nomor 02 Tahun 2018 tentang Pengarusutamaan Gender.

3. Kelembagaan

PUG di Kota Tangerang Selatan dapat terwujud dengan ada penguatan kelembagaan antar stakeholder (antar Perangkat Daerah/lembaga terkait).

4. Sumber Daya Manusia dan Anggaran

Piningkatan Sumber Daya Manusia dan alokasi anggaran yang cukup khusus untuk PUG.

5. Alat Analis Gender

PUG di Kota Tangerang Selatan perlunya adanya analisis Gender yang kuat sehingga dapat membantu pelaksanaan PUG secara tepat.

6. Data Gender

PUG di Kota Tangerang Selatan perlu adanya update data Gender setiap tahun sekali.

7. Partisipasi Masyarakat

Peran serta masyarakat dalam mewujudkan PUG di Kota Tangerang Selatan.

Dalam mewujudkan penguatan kelmbagaan PUG di Kota Tangerang Selatan perlu adanya: 1). Advokasi dan Fasilitasi PUG Bagi Perempuan Fasilitasi pengembangan pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan (P2TP2), 2). Peningkatan kapasitas dan jaringan kelembagaan pemberdayaan perempuan dan 3). Evaluasi pelaksanaan PUG Pengembangan sistem informasi Gender dan Anak.

(42)

Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam upaya penguatan kelembagaan PUG hendaknya melakukan revitalisasi Pokja setiap tahunnya, pertama dari sisi legalitasnya, kedua dari sisi keanggotaan, peran dan fungsi termasuk target-target capaian PUG. Hal ini perlu menjadi agenda tahunan mengingat bahwa SK Pokja dan Focal point hanya berlaku satu tahun selain itu juga sebagai antisipasi adanya perubahan keanggotaan yang diakibatkan terjadinya pergeseran para pejabat di lingkungan provinsi. Revitalisasi kelembagaan PUG juga dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebijakan terbaru dan dinamika perkembangan masyarakat. Provinsi perlu aktif mendorong penguatan kelembagaan PUG khususnya lembaga penggerak PUG Kota Tangerang Selatan seperti Bappeda, DPMP3AKB. Badan Keuangan serta Inspektorat agar PUG dapat berjalan dan terlaksana dengan baik di Kota Tangerang Selatan.

Gambar

Gambar 3.1 Perincian PUG dalam penganggaran dan perencanaan  pembangunan daerah
Tabel 7.3 Kepadatan Penduduk Kota Tangerang Selatan Tahun 2020
Tabel 7.4. Komposisi penduduk Kota Tangerang Selatan berdasarkan jenis  kelaminnya
Tabel 7.5. Capaian IPM Kota Tangerang Selatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian jika kegiatan ini memerlukan Belanja Honorarium ASN, Belanja Honorarium Non ASN, Belanja Perjalanan Dinas, Belanja Narasumber/Tenaga Ahli ASN/Non ASN,

(2) Kepala seksi ketenteraman dan ketertiban umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara administratif dan teknis ketentraman dan ketertiban umum

Insentif adalah penghargaan berupa uang tambahan penghasilan yang diberikan Pemerintah Kota Tangerang Selatan kepada Guru Ngaji, Marbot Masjid, Amil Jenazah,

(2) Berita Acara Hasil Pemilihan Ketua RT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari

Prosedur akuntansi BLUD RSU tidak berbeda dengan prosedur akuntansi entitas akuntansi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Walikota tentang Sistem Akuntansi

(2) Sistem pengelolaan air limbah tidak sesuai dengan standar teknis yang berlaku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kondisi dimana pengelolaan air

Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) dicatat dengan biaya perolehan. Biaya perolehan pada konstruksi yang dikerjakan secara swakelola adalah seluruh biaya langsung dan

(3) Dalam hal Penyelenggaraan Reklame tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka Walikota melalui Tim Penertiban Reklame berwenang