SENI LUKIS JEPANG PADA ZAMAN MUROMACHI MUROMACHI JIDAI NO NIHON NO KAIGA
KERTAS KARYA D
I S U S U N OLEH
LAMSER J. SIMANULLANG NIM : 132203010
PROGRAM STUDI D-III BAHASA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
SENI LUKIS JEPANG PADA ZAMAN MUROMACHI MUROMACHI JIDAI NO NIHON NO KAIGA
KERTAS KARYA
Kertas Karya ini diajukan kepada Panitia Ujian Program Pendidikan Non – Gelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu persyaratan ujian Diploma III dalam bidang studi Bahasa Jepang.
Dikerjakan
OLEH
LAMSER J. SIMANULLANG NIM : 132203010
Pembimbing Pembaca
Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum Drs. Amin Sihombing
NIP:19600919 198803 1 001 NIP. 19600403 199103 1 001
PROGRAM STUDI D-III BAHASA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
Disetujui oleh :
Program Diploma Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara Medan
Program Studi D-III Bahasa Jepang Ketua Program Studi
Zulnaidi, SS, M. Hum NIP: 1967080720051 1 001
Medan,...2016
PENGESAHAN Diterima Oleh :
Panitia Ujian Program Pendidikan Non-Gelar Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan,
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III dalam Bidang Studi Bahasa Jepang
Pada :
Tanggal :
Hari :
Program Diploma Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara Dekan,
Drs. Budi Agustono,M.S.
NIP: 19600805 198703 1 001 Panitia Ujian :
No. Nama Tanda Tangan
1. Zulnaidi, SS, M.Hum ( )
2. Drs. Eman Kusdiyana ( )
3. Drs. Amin Sihombing ( )
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Kasih Karunia – Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Kertas Karya ini, sebagai persyaratan untuk memenuhi ujian akhir Diploma III Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, dengan judul “ SENI LUKIS JEPANG PADA ZAMAN MUROMACHI ”.
Penulis menyampaikan banyak Terima Kasih kepada semua pihakyang telah Membantu Penulis dalam Menyelesaikan Kertas Karya ini, terutama kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda J. Simanullang dan Ibunda R. Munthe yang selalu mendoakan, memberikan perhatian dan dorongan semangat, baik moril maupun materil yang tidak ternilai harganya sehingga penulis dapat menyelesaikan Kertas Karya ini.
Pada kesempatan ini Penulis juga ingin mengucapkan Terima Kasih kepada:
1. Bapak Drs. Budi Agustono, M.S. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Zulnaidi, S.S, M.Hum. selaku Ketua Jurusan Program Studi Diploma III Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini.
4. Bapak Drs. Amin Sihombing selaku Dosen Pembaca yang telah memberikan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan kertas karya ini.
5. Seluruh Staf Pengajar Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing Penulis selam Perkuliahan.
6. Kakak Penulis Derpita Br. Manullang, Demsita Br. Manullang, Selvia Br.
Manullang, Romanti Br. Manullang, dan adik Penulis, Romiana Br. Manullang dan Larius Manullang, yang memberikan semangat dan doa sehingga Penulis dapat menyelesaikan Kertas Karya ini.
7. Teman – teman satu angkatan Penulis yang telah berjuang bersama- sama dalam menyelesaikan Kertas Karya ini: Daniel Lumban Tobing, Rahul Syah Putra Sihaloho dan Parlindungan Marbun, serta rekan – rekan Mahasiswa Jurusan Bahasa Jepang Stambuk ‘013’ yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu Penulis dalam banyak hal, sehingga Penulis dapat menyelesaikan Kertas Karya ini.
8. Teman – teman saya Parsaoran Sihotang, Ganda Tua Marbun, Panahatan Simanullang, Ebel Natanael Sijabat, Franssiskus Sinaga dan Superno Marbun, Kak Lellys Ofi, Bang Dedi Arma Silalahi, dan Bang Rimson Chandra Napitupulu yang telah banyak memberikan semangat dan doa, sehingga penulis dapat menyelesaikan Kertas Karya ini.
9. Semua pihak yang terkait yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan Kertas Karya ini.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah disajikan dalam Kertas Karya ini masih jauh dari sempurna, baik segi penyajian kalimat, penguraian materi, dan pembahasan masalah. Untuk itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan Kertas Karya ini.
Medan, 21 Juli 2016
Lamser J. Simanullang Nim : 132203010
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI ... i
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Alasan Pemilihan Judul ... 1
1.2 Tujuan Penulisan ... 2
1.3 Pembatasan Masalah ... 3
1.4 Metode penulisan ... 3
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG SENI LUKIS JEPANG PADA ZAMAN MUROMACHI ... 5
2.1 Sejarah Zaman Muromachi ... 5
2.2 Sejarah Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi ... 8
2.3 Jenis – Jenis Kesenian Pada Zaman Muromachi ... 12
BAB III SENI LUKIS JEPANG PADA ZAMAN MUROMACHI ... 14
3.1 Gaya Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi ... 14
3.2 Teknik Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi... 17
3.3 Tokoh – Tokoh Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi ... 18
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 21
4.1 Kesimpulan ... 21
4.2 Saran ... 21 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul
Jepang adalah sebuah bangsa yang menyimpan keunikan pada hal kebudayaan. Kebudayaan Jepang dipengaruhi oleh karakteristik geografis negaranya serta mempunyai pengaruh timbal – balik dengan karakteristik rakyatnya. Bangsa Jepang umumnya dikenal sebagai bangsa yang mampu menarik manfaat dari hasil budidaya bangsa lain, tanpa mengorbankan kepribadianya sendiri.
Menurut Suryohadiprojo ( 1982 : 192 – 193 ), rakyat Jepang pada dasarnya konservatif yaitu suatu bangsa yang pada dasarnya memelihara dan meneruskan nilai – nilainya sendiri. Tetapi dilain pihak, sifat rakyat Jepang menunjukkan naluri yang amat kuat untuk menjamin kelangsungan hidupnya karena itu ia didorong untuk menerima bahkan mengambil hal – hal baru dari luar, jika hal itu dianggap bermanfaat untuk kelangsungan hidupnya.
Kebudayaan maupun karya seni yang ada di Jepang dapat di lihat disetiap zamanya. Zaman di Jepang tidak bisa dibagi kedalam beberapa dinasti seperti di China, karena Jepang hanya mempunyai satu dinasti.
Zaman Jepang tersebut secara umum dibagi menjadi beberapa zaman yaitu: zaman Paleolitik, zaman Jomon ( 10.000 SM – 200 SM ), zaman Yayoi ( 200 SM – 250 M ), zaman Yamamoto ( 250 M – 710 M ), zaman Nara ( 710 M – 794 M ), zaman Heian ( 794 M – 1185 M ), zaman Kamakura ( 1192 – M – 1333 M ), zaman Muromachi ( 1338 M – 1568 M
), zaman Azuchi – Momoyama ( 1568 M – 1600 M ), zaman Edo ( 1603 M – 1867 M ), zaman Meiji ( 1868 M – 1912 M), zaman Taisho ( 1912 M – 1926 M ), zaman Showa ( 1926 M – 1989 M ), dan zaman Heisei ( 1989 M – sekarang ), (https://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Muromachi ).
Dari beberapa zaman tersebut ada zaman yang memiliki karya seni yang mengalami pencampuran dari luar Jepang dan bahkan mengambil karya seni tersebut secara utuh dan menjadi karya seni milik Jepang.
Diantara zaman tersebut yang paling menonjol terdapat pada seni lukis pada zaman Muromachi. Seni lukis yang di bawa oleh sekelompok pendeta Buddhisme Zen dari China dan mengenalkanya pada Jepang hingga akhirnya turut meningkatkan kebudayaan Jepang menjadi milik Jepang.
Berdasarkan penjelasan dan keterangan diatas, maka penulis berminat untuk membahasnya melalui kertas karya yang berjudul “ Seni Lukis Pada Zaman Muromachi ”.
1.1 Tujuan Penulisan
Penulisan kertas karya ini bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui jenis – jenis kesenian Jepang pada zaman Muromachi
2. Untuk mengetahui seni lukis Jepang pada Zaman Muromachi
3. Untuk mengetahui tokoh – tokoh seni lukis Jepang pada zaman Muromachi
4. Untuk menambah wawasan penulis dan pembaca mengenai kesenian Jepang pada zaman Muromachi.
1.3 Pembatasan Masalah
Dalam kertas karya yang berjudul seni lukis Jepang pada zaman Muromachi ini, ada beberapa pembahasan mengenai gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi, teknik – teknik seni lukis Jepang pada Zaman Muromachi dan tokoh – tokoh seni lukis pada zaman Muromachi.
Dan disini penulis akan menguraikan permasalahan tersebut, disertai dengan uraian singkat tentang sejarah zaman Muromachi dan sejarah kesenian Jepang pada zaman Muromachi.
1.2 Metode Penulisan
Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan.
Dalam melakukan penulisan kertas karya, sangat diperlukan metode – metode untuk menunjang keberhasilan tulisan yang akan disampaikan penulis kepada pembaca. Untuk itu, dalam melakukan penulisan kertas karya ini, penulis menggunakan metode deskriptif.
Menurut Nazir ( 2005 : 63 ) dalam buku Metode Penelitian, metode deskriptif merupakan metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis,
faktual dan akurat mengenai fakta – fakta, sifat – sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.
Nazir ( 2005 : 93 ) menyatakan bahwa studi kepustakaan atau studi literatur, selain mencari sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian, juga diperlukan untuk mengetahui sampai kemana ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang, sampai ke mana terdapat kesimpulan dan generalisasi yang pernah dibuat sehingga situasi yang diperlukan diperoleh.
Dari pendapat para ahli tersebut, dalam penulisan kertas karya ini, penulis menggunakan metode kepustakaan ( Library Research ) dengan mengumpulkan data dari berbagai literatur buku yang berhubungan dengan masalah yang di teliti.
BAB II
GAMBARAN UMUM TENTANG SENI LUKIS JEPANG PADA ZAMAN MUROMACHI
2.1 Sejarah Zaman Muromachi
Setelah Bakufu Kamakura roboh, pada tahun 1333 M kaisar Godaigo berkehendak memerintah secara de jure dan de facto. Perubahan dari pemerintahan Bakufu menjadi pemerintahan yang berpusat pada kaisar disebut dengan nama restorasi Kenmu. Restorasi tersebut hanya berlangsung sampai tahun 1336 M, karena pada tahun 1336 M Ashikaga Takauji yang sebelumnya membantu kaisar, berbalik menentang kaisar yang ingin memerintah sendiri. Ia menyerang Kyoto, Niita Kyoshida dan Kushonogi Masahige yang setia pada kaisar, gugur dalam pemberontakan tersebut, ( John Withney Hall & Toyoda Takesshi, 1977 : 3 – 7 ).
Kaisar kalah dan mundur ke Yoshino di Nara dan mendirikan istana disana. Sementara itu di Kyoto telah diangkat kaisar baru. Karena itu pada tahun 1336 M – 1392 M ada dua orang Tenno. Tenno yang di utara Kyoto ( Tenno Komyo ) dan Tenno yang diselatan Yoshino ( Tenno Godaigo ). Tenno yang di utara mendirikan istana Hokucho ( istana utara ) dan Tenno yang dari selatan mendirijan istana Nancho ( istana selatan ).
Sehingga pada rentang waktu tersebut dikenal juga dengan zaman Nanbokucho ( zaman istana di utara dan selatan ). Tahun 1338 M, Tenno Komyo mengangkat Ashikaga Takauji sebagai Seiitai Shogun dan mendirikan Bakufudi Kamakura ( ada juga yang menyebut zaman ini sebagai zaman Ashikaga ). Takauji menjalankan pemerintahan, dirinya
menjadi kepala samurai, sedangkan adiknya yang bernama Ashikaga Tadayoshi menjadi kepala administrasi pemerintahan.
Pemerintahan tersebut ternyata menimbulkan konflik internal dalam keshogunan. Kono no Moranao beserta pendukungnya yang anti – Tadayoshi berhadapan dengan kelompok pro – Tadayoshi. Takauji yang semulanya besikap netral akhirnya memihak Moronao. Tadayoshi dipaksa mengundurkan diri dari jabatanya dan dijadikan Biksu. Putra Takauji yang bernama Yoshiakaria menggantikan Tadayoshi sebagai kepala pemerintahan. Setelah Tadayoshi mengundurkan diri, putra angkatnya yang bernama Ashikaga Tadafuyu melarikan diri ke Kyushu dan memberontak terhadap Shogun.
Pada tahun 1350 M, ketika Takauji memimpin ekspedisi untuk menghabisi Tadafuyu, Tadayoshi melarikan diri dari Kyoto bergabung dengan istana selatan. Pasukan Tadayoshi menjadi semakin kuat, sehingga Yoshiakira melariukan diri dari Kyoto karena kalah perang. Pasukan Takauji juga kalah melawan pasukan Tadayoshi. Tahun 1351 M, Takauji berdamai dengan Tadayoshi dengan syarat Ko no Moranao dan Ko no Morouji dijadikan biksu. Tadayoshi kembali menjadi sebagai pembantu Yoshiakira. Takauji dan Yoshiakir memiliki rencana untuk menghabisi Tadayoshi dan Tadafuyu. Namun Tadayoshi lebih dulu melarikan dir. Di tahun 1351 M juga Tadayoshi tertangkap.
Kemudian pihak istana selatan yang dipimpin pangeran Muneyoshi, Nitta Yoshioli, Nitta Yoshimune, dan Hojo Tokiyuki menyerang pasukan Takauji. Tahun 1354 M, pihak istana selatan untuk
sementara berhasil menduduki Kyoto. Tapi tahun 1355 M, berhasil direbut kembali oleh pihak istana utara. Tahun 392 M Shogun generasi ke- 3 yaitu Ashikaga Yoshimitsu ( cucu Ashikaga Takauji ) memindahkan Bakufu dari kamakura ke Muromachi, dan mendirikan Bakufu Muromachi. Maka mulai tahun 1392 M – 1573 M disebut zaman Muromachi. Tahun 1392 M Ashikaga Yoshimitsu yang mengundurkan diri tetapi masih tetap memerintah. Ashikaga Yoshimitsu yang mengundurjan diri ke Kitayama ( dekat Kyoto ) mendirikan Paviliun emas ( Kinkaku ).
Setelah Yoshimitsu meninggal tahun 1408 M, timbul kekacauan dalam pemerintahan. Terjadi percampuran Kuge ( golongan bangsawan ) dan Buke ( golongan militer ) yang berlanjut pula dengan budayanya, golongan Kuge kalah dari golongan Buke sehingga golongan Kuge jatuh miskin. Di ibukota Kyoto, Bakufu berkuasa tetapi kekuasaanya tidak mendapat penghargaan dari Daimyo. Bakufu tidak mampu mengatasi kekacauan pemerintahan yang disebabkan oleh daimyo – daimyo yang saling berperang untuk memperluas daerah dan lingkungan serta kekuasaanya. Meskipun pemerintahan dalam negeri sedang kacau, tetapi perdagangan baik di dalam maupun luar negeri mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Bahkan pada tahun 1543 M Jepang membuka hubungan dagan dengan portugis. Pada tahun 1549 M Franciscus Xaverius memasukkan agama Kristen ke Jepang. Selain agama, tembakau, dan senjata api juga masuk ke Jepang. Pada masa pemerintahan Ashikaga Yoshimasa ( Shogun generasi ke- 8 ), pemerintahan semakin kacau. Dia mendirikan Paviliun
perak ( Ginkaku ) di Higashiyama. Untuk membiayai pembangunan paviliun tersebut harus ditarik pajak yang besar dari rakyat. Rakyat pun mengadakan pemberontakan. Puncak kekacaun trjadi pada perang Onin ( Onin no ran ) yang berlangsung 11 tahun ( 1467 M – 1477 M ).
Perang itu disebabkan oleh perselisihan dua orang pemimpin militer yaitu Yamanaka Sozen dan Hosokawa Katsumoto. Perang tersebut merupakan suatu tanda dari permulaan pergolakan mati – matian yang baru dapat di akhiri pada tahun 1615 M. Masa peperangan selama 100 tahun lebih tersebut sebagai Sengoku Jidai ( zaman negara – negara berperang ). Bakufu Muromachi jatuh setelah Oda Nobunaga berhasil merampas Kyoto,( https://id.wikipedia.org/wiki/zaman Muromachi ).
2.2 Sejarah Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi
Seni dalam masyarakat Jepang sangat sekat dengan alam. Oleh karenanya banyak karya seni lukis masyarakat Jepang yang bertemakan alam. Seni rupa kontemporer Jepang memiliki watak yang khas. Kekhasan ini tidak lain bersumber pada ajaran Buddhisme Zen. Sebagai sebuah ajaran tentu saja bersifat dogmatis. Buddhisme Zen telah berakar kuat dalam kebuadayaan Jepang. Dalam setiap ekspresi hidupnya, misalnya dalam gaya pakaian tradisional, arsitektur, olahraga, ekonomi, kesenian dan sebagainya, hampir dapat dikatakan spiritual Buddhisme Zen menjadi landasan normatifnya.
Sebenarnya kalau diruntut secara historis, pengaruh Buddhisme Zen dalam berbagai aspek seni dan budaya tampak sebelum terwujudnya
pemerintahan Ashikaga di Kyoto. Pemerintahan Ashikaga itu muncul ketika kekaisaran terpecah dua menjadi dinasti Utara dan Dinasti Selatan pada abad 14. Setelah itu, seni Buddhisme Zen mendominasi berbagai aspek kebudayaan Jepang. Kebudayaan Buddhisme Zen mengalami penghalusan, dalam arti memperlihatkan ketajaman warna religiusnya baru dimulai pada periode berikutnya, yaitu pada periode Muromachi pada abad ke- 15 hingga ke- 16. Dua produk budaya yang mencerminkan zaman ini adalah karya sastra pendeta Buddha Buddhisme Zen ( Gozang Bungaku ) dan lukisan yang memiliki corak dan teknik khusus lukisan timur ( Suiboku-ga ).
Lukisan klasik peninggalan Muromachi ini merupakan lukisan berdasarkan pemikiran “ sumi ni goshikiari “ – yaitu lukisan yang terdiri dari satu warna yang dengan tebal tipisnya goresan sumi atau tinta Jepang, mengungkapkan perasaan, mengagungkan keagungan alam. Alam ditangkap dengan perasaan amat puitis. Sebuah lukisan bernafas Buddhisme Zen bersifat khas, ekspresif, dan sugesif. Buddhisme Zen berbeda dari sekte – sekte Buddha lainya. Sekte ini menitikberatkan ajaranya pada cara hidup yang benar aturanya atau disiplin dan melatih diri. Seni Dinasti Sung dan Yuan, yang dibawa oleh pendeta Buddhisme Zen ke Jepang besama agama, lebih berorientasi ke arah apresiasi dan pemahaman daripada pemujaan. Seni yang berpadu dengan Buddhisme Zen ini mudah diterima oleh kebudayaan prajurit ( Hugo Munsterbeg, 1957: 107 ).
Dalam kesenian, ajaran Buddhisme Zen memiliki prinsip atau norma keindahan yang dijunjung tinggi. Untuk menggambarkan seni Keindahan Buddhisme Zen sebenarnya dapat dilihat di taman kuil Ryoanji. Alam yang maha luas di perkecil dalam ruang yang terbatas dan dicoba diungkapkan kembali alam itu secara simbolis. Batu karang, pohon, dan pasir yang ditata sedemikian rupa, rasanya memberikan ruang batin pada penikmatan tenang, anggun, halus, dan perasaan pilu. Semuanya terasa mediatif san intuitif. Ditaman inilah konon para pendeta Zen bermeditasi menyerap segala kenikmatan inderawi, yang pada akhirnya akan sampai pada kenikmatan yang bersifat immaterial ( katarsis ).
Sementara itu, pada tahap sejarah Jepang sampai zaman mutakhir sekarang, ajaran Buddhisme Zen menjadi pusat nilai – nilai normatif yang di junjung tinggi. Aktualisasi ajaran Buddhisme Zen terutama yang bersangkut paut dengan pengekspresian karya seni, telah memberiksn citra estetis yang kuat pada karya perupa kontemporer. Proses modernisasi itu, pada giliranya mempertemukan spirit kebudayaan tradisional yang didasarkan pada Buddhisme Zen mempertemukan spirit kebudayaan tradisional yang di dasarkan pada Buddhisme Zen dengan kebudayaan barat yang material dan rasional. Proses pertemuan dua kebudayaan yang memiliki sifat bertolak belakang itu pada awalnya menimbulkan ketegangan – ketegangan dalam meletakkan strategi kebudayaan.
Ketegangan ini sangat dirasakan dalam berbagai dimensi kebudayaan, termasuk seni rupanya.
Seni rupa Jepang klasik yang telah berakar lama dalam kebudayaan visual Jepang, agaknya tidak mudah larut begitu saja dalam menghadapi pengaruh Barat. Bahkan ajaran yang telah menyatu dalam gerak tradisi bangsa Jepang, proses asimilasi itu justru menimbulkan bentukan budaya visual baru yang lebih elegan. Dasar – dasar bentul ekspresi budaya baru kemudian termanifestasi dalam artefak – artefak klasik, secara kontinyu terus direspon sampai zaman sekarang. Artinya penampilan penampilan karya seni rupa klasik yang di jiwai spiritual Buddhisme Zen dijadikan sumber inspirasi dan konsep estetik oleh sejumlah perupa kontemporer Jepang dalam karya mereka.
Pengaruh Buddhisme Zen yang begitu kuat pada akhirnya memberi kharakter terhadap seni rupa Jepang esoterik. Sifat ini begitu terasa kental, karena Buddhisme Zen dijadikan sumber normatif dalam mengekspresikan hasrat estetik manusia Jepang. Pembentukan kebudayaan yang dilandasi spiritualitas Buddhisme Zen merupakan tahapan historis dimana Jepang dalam periode kebudayaan Buddha. Pada periode ini seluruh aspek kebudayaan, di dalamnya ternasuk seni rupa, mengalami ‘ pen – jepang – an’, yang kemudian membentuk struktur sebagai kebudayaan klasik.
Proses ‘pen – jepang –an’ itu sebenarnya sudah mulai terjadi sejak periode Heian, sebagai pelanjutan periode Nara, berlangsung selama empat abad, yaitu mulai pembentukan ibu kota Heian ( Kyoto sekarang ) tahun 794 sampai jatuhnya keluarga Taira tahun 1185. Pada masa kurang lebih empat abad ini proses asimilasi berlangsung sangat gencar sampai akhirnya membentuk identitas budaya baru, yang memiliki ke khasan.
Artinya, pengaruh yang datang dari China, India, dan Korea, selama periode itu ‘dibentuk kembali’ sesuai dengan kosmologi manusia Jepang.
Buddhisme Zen selama zaman Muromachi memberikan kontribusi yang besar pada zaman ini. Imam – imam Budhisme Zen berindak sebagai penasehat untuk Shogun dalam hal negara serta agama. Imam –imam Buddhisme Zen sering dikirim ke China, mereka tidak hanya bertugas untuk urusan agama dan budaya, tetapi juga diplomasi dan perdagangan . hal ini menimbulkan konsekuensi besar, karena diantara hal yang di impor Jepang dari buku – buku, lukisan dan tekstil, banyak hal lain yag di ekspor dari Jepang ke China dan siapapun yang dikendalikan perdagangan ini pada akhirnya akan mampu mempengaruhi budaya. Arti penting zaman ini dalam sejarah budaya Jepang yang terbaik di ilustrasikan oleh fakta bahwa bahwa banyak konsep dan cita – cita yang diperkenalakan selama zaman Muromachi dari Sung dan Yuan China adalah saat ini dipandang sebagai khas Jepang oleh Jepang sendiri serta oleh banyak orang asing.
2.3 Jenis – Jenis Kesenian Pada Zaman Muromachi
Pada zaman Muromachi, pengaruh Buddhisme Zen sangat berpengaruh dalam seni dan budaya. Hal ini terdapat dalam berbagai jenis kesenian pada zaman tersebut yang dibawa oleh Buddhisme Zen dari China. Beberapa jenis – jenis kesenian pada zaman Muromachi misalnya:
ikebana ( seni merangkai bunga ), origami ( seni melipat kertas ) yang dibawa oleh seorang Biksu Buddha bernama Doncho yang berasal dari Goguryeo ( semenanjung Korea ) datang ke Jepang, kemudian seni ini
berkembang hingga sekarang. Kowakami (seni tari ) pada zaman Muromachi yang terbentuk setelah adanya Noh, Chanoyu ( upacara minum teh ) yang awalnya berasal dari China dan menjadi sangat populer di zaman Muromachi (https://id.wikipedia.org/wiki/Ukiyo-e ).
Dan seni lukis yang awalnya dikenal Jepang hanya berupa garis sederhana, yang terdapat pada tembikar pada zaman Jomon dan lonceng perunggu ( dotaku ). Tetapi sejak diperkenalkan sistem tulisan China ( Kanji ), yang di impor dari China oleh Buddhisme Zen, Jepang mulai meniru gaya melukis orang China. Banyak sekali pengaruh seni lukis China ditemukan dalam seni lukis Jepang sperti yang paling terkenal adalah lukisan Sumi – e, dalam bahasa Chinanya Shui mo hua dan dalam bahasa Jepangnya Suiboku, Ukiyo – e dan Yamato – e dan lain – lain.
Sampai dengan zaman modern ini orang Jepang menulis menggunakan pena juga menulis dengan kuas. Keakraban orang Jepang dengan kuas juga membuat mereka sangat sensitif terhadap nilai – nilai dan estetika lukisan.
BAB III
SENI LUKIS JEPANG PADA ZAMAN MUROMACHI 3.1 Gaya Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi
Gaya seni lukis China pada zaman Sung disebut sumi – e atau di Jepang di sebut suiboku, sudah diperkenalkan pada zaman Kamakura, tetapi pada zaman Muromachi, pengaruh ini mengubah seluruh tradisi seni. Pada awalnya semua ekspresi ini dianggap sebagai ekspresi dari Buddhisme Zen, dan sebagian pelukis suiboku pada awalnya adalah Biksu Zen bukan seniman profesional. Gaya seni lukis dari Biksu Zen sangat dekat dengan pelukis almarhum Sung Much’i atau Jepang memanggilnya Mokkei, dan karena itu dikenal sebagai Much’i kedua. Contoh ciri khas karyanya terdapat pada potret Biksu Hotei yang mengembara yang melambangkan kehidupan riang yang telah menemukan kedamaian dalam mempelajari Buddhisme Zen ( Hugo Munsterberg: 110 ).
Mokuan menggambarkan dia sebagai seorang tokoh dengan kaki pendek, perut telanjang, dan karung menggantung di tongkat yang di bawa di bahunya. Lukisan tersebut hanya berupa garis kuat namun sensitif, garis hitam yang samar menggambarkan garmen. Ciri khas gambar ini adalah latarbelakang yang dibiarkan kosong, dan sutra yang hampam mempertinggi kekuatan yang sederhana, menggambarkan sosok kecil yang ekspresif. Gaya seni lukis China yang di impor Jepang oleh Buddhisme Zen ini sangat berpengaruh bagi seni pada zaman Muromachi. Lukisan lainya pada zaman Muromachi ini yang sangat penting adalah lukisan pertapa Buddha, yaitu arahat, atau rakan. Lukisan kumpulan orang suci
menjadi sangat populer, jumlahnya adalah limaratus orang yang dilukis dalam satu set kakemono. Gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi juga dapat di lihat pada karya Muto Shui pada tahun 1349, yang pernah menjadi salah satu murid dari master Zen. Gambar in sangat menyentuh, menafsirkan orang suci sedemikian rupa bahwa kepribadian mereka yang unik berdiri jelas di hadapan kita.
Gaya ini sangat realistis, menghilangkan semua yang sangat esensial, sang seniman memberikan gambaran kesederhanaan dan kekuatan yang sangat luar biasa. Terutama pada penanganan jubah, dimana garis yang kuat, linear dan lebih detail, sederhana menandai kontur dan lipatan pakaian, tetapi pada gambar kepala, sangat berbeda yaitu latarbelakang dibiarkan kosong, tetapi menjadi pusat perhatian. Wajah lebih agak individual, mata mereka dibuat tertutup dengan keriput dan mulut di sudut – sudut menjadi sangat bergerak, dan keseluruhan menunjukkan adanya, pria agak melankolis dalam kepekaan spiritual yang besar.
Perkembangan gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi dapat dilihat dalam sumi – e, dengan pemandangan alam, yang dari tampaknya dilukis oleh biksu Zen yaitu Josetsu yang kemudian disempurnakan oleh Shubun, yang adalah dari kuil yang sama. Lukisan itu tentang seorang manusia yang menangkap ikan lele dengan labu. Subjek ini khas Buddhisme Zen, yang menunjukkan bahwa itu akan sulit mengungkapkan kebenaran hakiki dalam kata menangkap ikan dengan labu. Gaya lukisan, dengan warna – warna yang sifatnya halus, sarana
ekonomi, dan sarana dari ruang yang dalam dan misterius. Gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi juga dapat dilihat pada karya pelukis Shubun dari Jepang yang mengikuti gaya China abad ketiga belas, melukis tentang seorang pertapa di sebuah pondok kecil di kaki gunung merenungkan keagungan dan keindahan alam yang di pengaruhi dengan paenteisme dari Buddhisme Zen. Sosok pertapa yang digambarkan yang menemukan dirinya yang sebenarnya, kabut dalam lukisan menghilangkan setengah dari gambar, dan separuh lainya curam, dan tebing yang terjal membayangi ke angkasa, menjadikan lukisan ini sangat imajinatif.
Gaya seni lukis Jepang yang di pengaruhi oleh Buddhisme Zen memberikan ciri khas yaitu dengan lansekap alam yang menggambarkan ke indahan alam dan keagungan sang pencipta. Salah satu lukisan yang mengambarkan zaman ini terdapat pada sebuah lukisan yang dipengaruhi oleh Buddhisme Zen yaitu lukisan puncak yang muncul seperti bayangan dari kejahuan, dan ada beberapa atap kecil dari perahu nelayan di tengah danau, dan di depan sebuah jembatan ada dua tokoh kecil. Air meleleh ke kabut dan kabut meleleh keangkasa dan diruang berawan ini berdiri dua pinus – pinus besar yang mendominasi gambar.
Di belakang gambar yang samar – samar terlihat ada pondok pertapa dengan gambar kecil, menjadikan lukisan terlihat sangat terampil.
Gaya seni lukis yang sangat melatarbelakangi pemandangan alam Jepang terdapat pada karya Sesshu yang di lukis pada tahun 1486 ketika ia berusia 66 tahun, menggambarkan musim berubah yang di mulai dengan pemandangan musim semi dan berakhir dengan musim dingin. Gaya seni
lukis dengan garis tebal, kuat menandai kuntur pohon – pohon dan batu – batu, dan ranting gundul dengan garis ekspresif, hitam dan berat, seimbang dengan area lorong langit dan bukit – bukit, dan beberapa arsiran dibiarkan hampir kosong. Bagungan ditandai dengan beberapa goresan cepat, dan ditengah – tengah ada seorang tokoh, dengan enam garis, terlihat memanjat tangga yang menghilang di balik bukit. Lukisan dengan panjang 50 kaki ini yang dibuat pada kakemono, merupakan karya yang paling terkenal di zaman ini.
3.2 Teknik Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi
Jepang pada mulanya yang hanya mengenal satu teknik seni lukis yaitu teknik ukiyo – e ( cukil kayu ), selain untuk menggambar lukisan asli dengan kuas, juga digunakan untuk menggandakan lukisan pemandangan, keadaan alam dan kehidupan sehari – hari di dalam masyarakat. Kemudian teknik seni lukis Jepang pada zaman Muromachi mengalami pertumbuhan yang dipengaruhi oleh teknik seni lukis China yang di bawa dan diperkenalkan ke Jepang oleh Buddhisme Zen dari China, menjadikan bahan pertimbangan bagi orang – orang Jepang untuk mempelajari cara ataupun teknik seni lukis China ini. Masyarakat Jepang yang pandai meniru membuat karya dengan gaya yang sama dan teknik yang digunakan erat hubunganya dengan Buddhisme Zen
Lukisan melibatkan teknik mendalam yang mirip dengan kaligrafi tiongkok, dilakukan dengan kuas yang di celupkan kedalam tinta. Selain itu teknik seni lukis yang ada pada zaman ini adalah teknik memercik
tinta. Tinta yang dicampur dengan pigmen mineral tanah digunakan untuk menunjukkan pengaruh cahaya pada subjek, tetapi untuk menyampaikan informasi tentang subjek. Selain itu, teknik seni lukis yang dikenal pada zaman ini adalah teknik yang di impor Jepang dari China, teknik ini dikenal dengan teknik kuas yang juga dikenal sebagai teknik menulis kaligrafi China (https://id.wikipedia.org/wiki/Ukiyo-e ).
Teknik kuas yang ditekankan memberikan defenisi dan keindahan lukisan, dan menggambarkan luar dan dalam subjek. Pencampuran teknik seni lukis Jepang dengan teknik seni lukis China mengahasilkan karya yang khas pada zaman ini. Perbedaan hasil yang didapat terlihat pada elemen dekoratif yang lebih realistis. Karya seni lukis yang memakai teknik ini terdapat pada gambaran kecil tentang danau dan badai. Sapuan kuas yang kuat dimana pelukis memberikan angin kencang – menyapu pohon – pohon, dan perahu bergelinding memberikan perasaan indah dari badai.
3.3 Tokoh – Tokoh Seni Lukis Pada Zaman Muromachi
Para zaman Muromachi seni lukis berkembang sangat pesat dari zaman sebelumnya. Ketertarikan seni lukis ini cukup menarik perhatian karena kelahiran tokoh – tokoh terkenal dalam seni lukis Jepang ada pada zaman ini. Pada zaman Muromachi, awalnya lukisan tinta yang diperkenalkan oleh Buddhime Zen dan para biarawan di kuil Kyoto dari Shokoku – ji. Sesshu, seorang pelukis yang mengenalkan seni lukis China.
Salah satu karya Sesshu yang paling berhasil, menggambarkan empat
musim Jepang. Sebagian seniman dari sekolah Kano dan sekolah Ami, mengadopsi gaya dan tema ini, tetapi lebih memperkenalkan efek dekoratif yang telah berlanjut sampai sekarang. Tokoh – tokoh seni lukis Jepang yang penting pada zaman Muromachi meliputi:
1. Mokuan Rein, ( lahir abad ke – 13, dan meninggal pada tahun 1343 ).Dia juga seorang imam Buddhisme Zen, dan salah satu tokoh seni lukis Jepang yang pertama memperkenalkan gaya tinta monokromik China. Mokuan dihormati baik di China, dimana dia disebut reinkarnasi dai Mu – chi. Lukisan asli dari Mokuan adalah potret Hotei ( dewa keberuntungan ).
2. Taiko Josetsu ( 1405-1496 ), adalah pelukis Jepang di periode Muromachi abad ke 15. Dia seorang imigran China dan dikenal sebagai
“ bapak pelukis tinta Jepang ”. Yang dikenal dari lukisanya adalah yang berjudul “ menangkap ikan dengan labu ”.
3. Shubun ( lahir abad ke – 14 di provinsi Omi, Jepang – meninggal 1444, di Kyoto ). Merupakan tokoh dalam perkembangan seni lukis tinta monokromatik ( suiboku – ga ) di Jepang. Shubun menjadi pelukis profesional di Jepang, pada tahun 1403 ia pergi ke Korea. Setelah kembali, dia menjadi biro direktur pengadilan, dan menggunakan statusnya untuk mempromosikan lukisan tinta monokromatik.
4. Sesshu, nama asli Oda, juga disebut, Unkoku, atau Bikeisai ( lahir tahun 1420 di Akahama provinsi Bitchui, Jepang – meninggal 26 Agustus 1506, di dekat Masuda provinsi Iwami ). Dia melukis pemandangan,
gambar Buddha Zen, dan layar dihiasi dengan burung, bunga, dan hewan. Ciri khasnya terdapat pada kekuatan konsepsinya.
5. Kano Masanobu, ( lahir pada tahun 1434 - meninggal 1530 Kyoto, Jepang ), merupakan kepala pelukis ke shogunan Ashikaga ( keluarga penguasa militer yang memerintah Jepang pada tahun 1338 – 1573 ).
Lukisan Masanobu terinspirasi dari pelukis Shubun dan karyanya yang masih ada adalah “ The Sage Chou Mao – shu di Lotus Pond ” ( Nakamura Collection, Tokyo ) dan lukisan biara shinju, Kyoto.
6. Kano Motonobu, ( lahir 28 Agustus 1947 – meninggal 5 november 1559, di Kyoto ), merupakan guru seni lukis Jepang zaman Muromachi.
Seperti ayahnya, Masanobu, yang pertama dari pelukis Kano, Motonobu mewariskan gaya tinta lukisan China yang terinspirasi dari monokromatik ( suiboku, “ air – tinta – lukisan ” ). Sebagai seniman berbakat, Motonobu unggul dalam lanskap, angka, dan gambar bunga dan burung.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Setelah pemaparan mengenai seni lukis Jepang pada Zaman Muromachi, maka di dapat kesimpulan sebagai berikut.
1. Gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi yaitu gaya seni lukis yang memiliki spiritual Buddhisme Zen.
2. Teknik seni lukis Jepang pada zaman muromachi yang awalnya hanya mengenal teknik cukil kayu ( uki yo-e ), kemudian mengenal teknik kuas yang di impor dari China dan perkenalkan oleh Buddhisme Zen.
3. Tokoh – tokoh seni lukis Jepang pada zaman Muromachi adalah Mokuan Rein, Taiko Josestu, Shubun, Sesshu, Kano Masanobu, dan Kano Motonobu. Diantara tokoh – tokoh seni lukis tersebut, yang paling terkenal adalah Taiko Josetsu yang di juluki sebagai “ Bapak Pelukis Tinta Jepang ”, dengan karyanya yang berjudul “ Menangkap Ikan Dengan Labu ”.
4.1 Saran
Seni lukis Jepang pada zaman Muromachi dapat menjadi bahan pertimbangan terhadap pemeliharan kesenian yang ada di daerah maupun di negara kita. Dan masih banyak hal – hal unik tentang Jepang yang bermanfaat untuk di pelajari. Oleh karena itu kita harus banyak membaca buku tentang Jepang
DAFTARA PUSTAKA
Hall, John Withney dan Takeshi, Toyoda. 1977. Japan In The Muromachi Age. London: University
Munsterberg, Hugo. 1957. The Arts Of The Ancient Medieval. U.S.A: New York
Nazir, Moh. 1998. Metode Penelitian. Bogor. Dahlia Indonesia
Paine, Robert Treat dan Soper, Alexander. 1995. The Art And Architecture Of Japan. Penguin Books. New York.
Suryohadiprojo. 1982. Manusia Dan Masyarakat Jepang Dalam Perjuangan Hidup. Universitas Indonesia & Pustaka Bradjaguna https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Jepang
https://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Muromachi https://id.wikipedia.org/wiki/Ukiyo-e
LAMPIRAN
Gambar 1. Lukisan pohon siprus karya Kano Motonobu
Gambar 2. Musim dingin karya Sesshu
Gambar 3. Buddha Huike mengulurkan tanganya kepada Bodhidarma ( Karya Sesshu )
Gambar 4. Lukisan mewakili pandangan mata burung yang realistis ( Karya Sesshu )
Gambar 5. Lukisan empat musim ( karya Shubun )
Gambar 6. Biksu Hotei yang periang ( Karya Kano Masanobu )
ABSTRAK
Jepang adalah negara yang memiliki keunikan terhadap kebudayaan. Kebudayaan maupun karya seni Jepang tersebut, dapat di lihat pada setiap zaman di Jepang. Zaman Jepang secara umum dibagi menjadi beberapa zaman yaitu: zaman Paleolitikum, zaman Jomon, zaman Yayoi, zaman Yamamoto, zaman Nara, zaman Heian, zaman Kamakura, zaman Muromachi, zaman Momoyama, zaman Edo, zaman Meiji, Zaman Taisho, zaman Showa, dan zaman Hesei - sekarang. Diantara beberapa zaman tersebut, zaman yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni lukis Jepang terdapat pada zaman Muromachi. Oleh karena itu, penulis tertarik membahas seni lukis Jepang, yang di beri judul Seni Lukis Jepang Pada Zaman Muromachi. Ada beberapa permasalahan yang di bahas tentang Seni lukis Jepang pada zaman Muromachi yaitu: gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi, teknik seni lukis Jepang pada Zaman Muromachi dan tokoh – tokoh seni lukis pada zaman Muromachi.
Dalam penulisan kertas karya ini, penulis menggunakan metode kepustakaan dengan mengumpulkan data dari buku – buku yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.
Seni lukis Jepang pada zaman Muromachi dipengaruhi oleh Buddhisme Zen, sebagai suatu ajaran tentu bersifat dogmatis. Oleh karena itu, gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi adalah bertemakan alam, kedekatan terhadap alam yang sesuai dengan ajaran Buddhisme Zen. Gaya seni lukis Jepang pada zaman Muromachi juga sangat realistis dan imajinatif. Salah satu gaya seni lukis Jepang yang pemandangan alam terdapat pada karya Sesshu yang di lukis pada satu set kakemono pada tahun 1486 ketika ia berusia 66 tahun, menggambarkan musim berubah yang di mulai dengan pemandangan musim semi dan berakhir dengan musim dingin. Gaya seni lukis dengan garis tebal, kuat menandai kuntur pohon – pohon dan batu – batu, dan ranting gundul dengan garis ekspresif, hitam dan berat, seimbang dengan area lorong langit dan bukit – bukit, dan beberapa arsiran dibiarkan hampir kosong. Lukisan tersebut adalah salah satu karya yang bertemakan alam yang sangat realistis dan imajinatif.
Pada zaman Muromachi, ada beberapa teknik – teknik seni lukis yang di impor Jepang dari China. Teknik seni lukis tersebut dikenal dengan “ teknik memercik tinta dan teknik teknik kuas kayu ( Ukiyo – e )”. Tinta yang dicampur dengan pigmen mineral tanah digunakan untuk menunjukkan pengaruh cahaya pada subjek, dan untuk menyampaikan informasi tentang subjek. Teknik kuas yang ditekankan memberikan defenisi dan keindahan lukisan, dan
menggambarkan luar dan dalam subjek.
Ketertarikan terhadap Seni lukis pada zaman Muromachi, melahirkan tokoh – tokoh seni lukis Jepang seperti: Mokuan Rein, Taiko Josestu, Shubun, Sesshu, Kano Masanobu, dan Kano Motonobu. Diantara tokoh – tokoh seni lukis tersebut, yang paling terkenal adalah Taiko Josetsu yang di juluki sebagai “ Bapak Pelukis Tinta Jepang ”, dengan karyanya yang berjudul “ Menangkap Ikan Dengan Labu ”.