PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI SISWA AUTIS (STUDI KASUS DI SMA GALUH HANDAYANI SURABAYA)
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Oleh
Hayyan Ahmad Ulul Albab NIM. F03213037
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
vii
ABSTRAK
Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Siswa Autis (Studi Kasus di SMA Galuh Handayani Surabaya)
Oleh: Hayyan Ahmad Ulul Albab
Kata Kunci: Problematika Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam, dan Autis
Problematika atau Kendala pembelajaran adalah hambatan yang menjadikan pelaksanaan pembelajaran tidak efektif atau masalah, persoalan atau hal-hal yang menimbulkan masalah dalam pembelajaan yang belum bisa terpecahkan. Kendala-kendala dalam pembelajaran PAI dapat berasal dari guru, peserta didik, kepala sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana, materi, dan tujuan pembelajaran. Selain problem pembelajaran juga terdapat problem yang dimiliki oleh siswa autis, seperti problem kemampuan berkomunikasi, lemahnya kemampuan dalam berinteraksi sosial, problem prilaku dan kurang bisanya melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan disekitarnya.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dalam mencari jawaban bagaimana proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani, apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis dan apa upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani.
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI SISWA AUTIS (STUDI KASUS DI SMA GALUH HANDAYANI SURABAYA)
Hayyan Ahmad Ulul Albab I
Pendidikan mempunyai tanggung jawab besar untuk mencerdaskan masyarakat bangsa ini. Tujuan pendidikan pada umumnya adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal sehingga dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Hal ini jelas tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional yang tertulis dalam pasal 5 ayat 1 dan 2 berbunyi; (ayat 1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, (ayat 2) warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental intelektual, dan sosial berhak mendapatkan pendidikan khusus. Anak autis merupakan anak yang berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan sosial. Isi yang telah disebutkan dalam Undang-Undang di atas menunjukan bahwa anak autis berhak mendapatkan hak yang sama untuk dapat memperoleh pendidikan.
Autisme atau juga disebut anak dengan kebutuhan khusus merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Anak autisme mempunyai masalah atau gangguan pada sensoris, pola bermain, perilaku dan emosi sehingga dalam dunia pendidikan, anak autisme atau anak dengan kebutuhan khusus ini juga berhak mendapatkan suatu layanan pendidikan yang layak dengan anak-anak normal lainnya.
Fakta di atas menunjukkan bahwa pendidikan untuk siswa autis masih membutuhkan banyak perhatian, baik dari segi kurikulum, pendidik, materi, dan evaluasinya. Pendidikan Agama Islam untuk anak autis dalam pembelajarannya harus dipersiapkan secara matang agar dalam proses pembelajarannya bisa maksimal dan membuahkan hasil. Supaya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bisa maksimal dan membuahkan hasil maka kita harus mengetahui problem yang terdapat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada remaja autis yaitu: Problem bisa berasal dari siswa, dari guru, kurangnya kreatifitas guru, tipe anak yang berbeda-beda, kesulitan dalam menjelaskan materi yang abstrak serta keterbatasan sarana yang ada di sekolah.
Berdasarkan rasionalitas dan realitas di atas, peneliti tertarik untuk meneliti fakta yang berkembang tentang problematika Pendidikan Agama Islam pada siswa autis dan solusinya. Peneliti mengambil judul penelitian sebagai berikut: problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan rancangan jenis penelitian studi kasus yang menggunakan metode deskriptif. Jenis data dalam kasus ini yaitu jenis kasus tunggal dan memakai dua sumber data, data langsung dan data skunder. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan angket. Metode analisis tesis ini dengan cara mereduksi data, penyajian data kemudian penarikan kesimpulan. Data dalam tesis ini divalidasi dengan cara pembandingan antara pengamatan dan wawancara, perbincangan orang dan pengetahuan pribadi, pandangan berbagai lapisan masyarakat dan membandingkan antara wawancara dan dokumen.
II
Dapat dipahami bahwa pengertian autis adalah sebutan kepada orang atau
nama dari sekelompok kelainan kebiasaan atau tingkah laku dengan ciri-ciri penyimpangan interaksi sosial, khususnya bahasa yang diucapkannya, kontak
mata, bahasa tubuh dan pendekatan sosial, terutama kekurangan hubungan sosial
dengan orang lain. Faktor yang menyebabkan autis sendiri masih belum jelas
benar dan bagaimana terjadinya gejala dari autisme ini, akan tetapi banyak pakar
dalam bidang ini telah sepakat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak
autisme adalah pada otak anak autisme dijumpai suatu kelainan.
Berikut beberapa penyebab autis, diantaranya: Pertama, faktor genetik,
kurang lebih dua puluh persen kasus autis itu disebabkan oleh faktor genetik.
Penyakit genetik ini sering dihubungkan dengan autis atau biasa disebut dengan
sindrom fragile-x karena penyakit ini ditandai dengan kerapuhan yang terjadi pada
ujung lengan kromosom x. Kedua, gangguan pada sistem saraf, banyak penelitian
yang melaporkan tentang anak autis yang memiliki kelainan pada struktur otaknya
dan kelainan yang paling sering terjadi yaitu pada otak kecil.
Anak autisme memiliki karakteristik atau ciriciri khusus antara lain: Selektif
berlebihan terhadap rangsang, Kurangnya motivasi untuk menjelajahi lingkungan
baru, Respon stimulasi diri sehingga mengganggu integrasi sosial, Respon unik
Problematika atau Kendala pembelajaran adalah hambatan yang menjadikan
pelaksanaan pembelajaran tidak efektif. Kendala disini juga meliputi
problem-problem yang sering dikeluhkan oleh peserta didik maupun guru selaku pelaksana
kurikulum. Kendala-kendala dalam pembelajaran PAI dapat berasal dari guru,
peserta didik, kepala sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana, dan sebagainya.
Robin L. Gabriels dalam bukunya menjelaskan tentang problem siswa autis yang akan dihadapi pada saat usia sekolah dan remaja. Beberapa permasalahnnya yaitu: Communication Abilities, Social Skills, Behavior Problems dan Adaptive
Living Skills.
Pendidikan Agama Islam adalah suatu ikhtiyar yang dilakukan oleh pendidik secara sadar, sistematis, dan pragmatis untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik agar mereka dapat hidup sesuai dengan ajaran agama Islam. Untuk itu, Pendidikan Agama Islam bukan hanya merupakan materi yang harus dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi dituntut setelah mendapatkan Pendidikan Agama Islam kelak untuk mempersiapkan peserta didik mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam.
III
Bertitik tolak pada hasil teori temuan peneliti dan dari hasil penelitian di sekolah inklusi SMA Galuh Handayani Surabaya, maka dapat disimpulkan:
siswa autis ini bisa dengan menggunakan guru pendamping atau yang biasa disebut dengan shadow teacher atau guru pendamping yang mana guru ini hanya diperuntukkan untuk siswa autis yang tergolong berat, karena dalam model pembelajaran kelas regular penuh atau kelas inklusi penuh ini tidak terdapat siswa autis yang tergolong berat maka untuk guru pendamping ini ditiadakan dan hanya cukup dipandu oleh guru mata pelajaran dan guru kelas.
xi
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv
TRANSLITERASI ... v
MOTTO ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
PERSEMBAHAN ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 18
C. Tujuan Penelitian ... 19
D. Kegunaan Penelitian ... 19
E. Kerangka Konseptual ... 20
F. Penelitian Terdahulu ... 25
xii
BAB II : KAJIAN TEORITIK
A. Tinjauan Tentang Autis ... 29
1. Pengertian Autis ... 29
2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Autis ... 32
3. Gejala-Gejala Autis ... 34
4. Perlunya Perhatian Khusus bagi Siswa Autis ... 40
B. Tinjauan tentang Problematika Pembelajaran Remaja Autis ... 46
1. Problematika Pembelajaran ... 46
2. Problematika Remaja Autis ... 69
C. Tinjauan tentang Pendidikan Agama Islam ... 76
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 76
2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 80
3. Fungsi Pendidikan Agama Islam ... 85
4. Pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi Peserta Didik ... 88
BAB III : METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 92
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 93
2. Jenis dan Sumber Data ... 95
3. Metode Pengumpulan Data ... 97
4. Metode Analisis Data ... 102
xiii
BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Profil SMA Galuh Handayani Surabaya ... 104
1. Letak Geografis SMA Galuh Handayani Surabaya ... 104
2. Sejarah Berdirinya SMA Inklusif Galuh Handayani Surabaya ... 106
3. Visi dan Misi SMA Galuh Handayani Surabaya ... 107
4. Keadaan guru SMA Galuh Handayani Surabaya ... 107
5. Keadaan siswa SMA Galuh Handayani Surabaya ... 109
6. Sarana dan Prasarana di SMA Galuh Handayani Surabaya ... 109
B. Proses Pembelajaran PAI bagi Siwa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya (SMA GHS) ... 111
1. Proses Manajemen Kelas di SMA Galuh Handayani ... 111
2. Shadow Teacher atau Guru Pendamping di SMA Galuh Handayani Surabaya ... 114
3. Kegiatan Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 117
4. Materi Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 119
5. Strategi Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 120
6. Penilaian Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 123
C. Problematika yang Dihadapi oleh Guru dalam Pembelajaran PAI bagi Siswa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya ... 125
1. Problem Materi... 125
2. Problem Prilaku ... 127
3. Problem Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ... 129
xiv
5. Problem Motivasi ... 131
D. Upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika Pembelajaran PAI bagi siswa Autis di SMA Galuh Handayani ... 133
1. Solusi Problem Materi ... 133
2. Solusi Problem Prilaku ... 135
3. Solusi Problem Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ... 137
4. Solusi Problem Konsentrasi ... 146
5. Solusi Problem Motivasi ... 152
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 154
B. Saran ... 157
DAFTAR PUSTAKA ... 158
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan mempunyai tanggung jawab besar untuk mencerdaskan
masyarakat bangsa ini. Tujuan pendidikan pada umumnya adalah
menyediakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk
mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal sehingga dapat
mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan
pribadinya dan kebutuhan masyarakat.1 Dalam UU No. 20 tahun 2003
disebutkan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.2
Hal ini jelas tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional yang tertulis dalam pasal 5 ayat 1 dan 2 berbunyi; (ayat
1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu, (ayat 2) warga negara yang memiliki kelainan
fisik, emosional, mental intelektual, dan sosial berhak mendapatkan
pendidikan khusus. Anak autis merupakan anak yang berkebutuhan khusus
yang memiliki kelainan sosial. Isi yang telah disebutkan dalam
1
Utami Munandar, Kreatifitas dan Keberbakatan (Jakarta: Gramedia, 2002), 14.
2 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
2
Undang di atas menunjukan bahwa anak autis berhak mendapatkan hak yang
sama untuk dapat memperoleh pendidikan.3
Berikut ini beberapa fakta permasalahan yang akan dihadapi oleh
remaja autis. Masa remaja merupakan masa transisi antara anak-anak menjadi
orang tua. Pada masa ini, remaja seringkali menghadapi konflik, baik konflik
dalam diri sendiri maupun konflik dengan lingkungan seperti orangtua,
sekolah dan teman-temannya. Pada anak autis, konflik yang dihadapi saat
remaja bisa lebih pelik lagi karena memiliki hambatan dalam
mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya. Beberapa faktor penyebabnya
adalah karena mulai menyukai lawan jenis, memasuki masa puber dan muncul
dorongan seksual tapi tidak tahu cara menyampaikan atau mengatasinya. Tak
hanya itu, anak-anak autis di sekolah juga seringkali dijauhi oleh
teman-temannya padahal mereka juga ingin diajak main bersama. Bahkan, banyak
anak autis yang menjadi korban bullying oleh teman-teman sekolahnya.
Kondisi ini membuat remaja autis rentan mengalami depresi. Masa remaja
selalu punya masalah. Namun jika orangtua dan anak sudah terbangun
komunikasi yang baik sejak awal, biasanya gangguan anak autis yang dialami
saat remaja tidak terlalu mengkhawatirkan," kata Adriana S. Giananjar,
psikolog sekaligus pendiri sekolah khsuus anak autis 'Mandiga' dan dosen
Psikologi di Universitas Indonesia dalam acara Cares for Autism yang
3
3
diselenggarakan London School of Public Relation di Taman Menteng,
Jakarta.4
Selain itu permasalahan yang dihadapi oleh anak autis dalam usia
remaja yang mungkin dimulai 10-15 tahun yang ditandai dengan
permasalahan seputar Kemandirian, Identitas diri (perubahan fisik, hormon
dan sebagainya), Pergaulan sosial, Pendidikan seks, dan Tuntutan akademis
yang semakin tinggi.
Dan di usia 15 hingga 20 tahun, orang tua dari anak penyandang autis
mulai disibukkan dengan persiapan masa depan bagi anak terutama mengenai
kemandirian anak dari segi fisik, sosial maupun nafkah hidup (lapangan
kerja). Di usia ini, anak mulai semakin sadar bahwa dirinya berbeda dengan
teman-teman sebayanya. Norma-norma sosial tentang apa yang boleh
dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, juga merupakan salah satu isu
yang kuat terutama dari segi pendidikan seks.5
Upaya untuk memahami dan mengatasi masalah-masalahh siswa
autis di sekolah, tidak mungkin melihat permasalahan secara terpisah. Setiap
aspek saling berkaitan, dan biasanya saling tumpang tindih menjadi sebab
dan atau akibat. Seperti: gangguan perilaku umumnya disebabkan oleh
gangguan perkembangan neurologis, tapi bisa juga karena masalah frustrasi
dalam berkomunikasi. Pendidikan bagi anak autis, idealnya diberikan dalam
4
Putro Agus Harnowo, “Anak Autis Lebih Pelik dan Berat Hadapi Masa Remaja”, dalam http ://health.detik.com/read/2012/04/15/100023/1892704/763/anak – autis – lebih – pelik - dan-berat-hadapi-masa-remaja yang diterbitkan pada Minggu 15 April 2012 jam 10.00 WIB (05 Januari 2015).
5
4
bentuk sekelompok penanganan untuk membantu mereka mengatasi
kebutuhan khususnya. Di Amerika Serikat, banyak bentuk-bentuk pendidikan
tersedia, antara lain : a) Individual therapy, antara lain melalui penanganan di
tempat terapi atau di rumah (home-based therapy dan kemudian
homeschooling). Melalui penanganan one-on-one, anak belajar berbagai
konsep dasar dan belajar mengembangkan sikap mengikuti aturan yang ia
perlukan untuk berbaur dimasyarakat. b) Designated Autistic Classes.
Kelompok ini diperuntukkan untuk sekelompok anak yang semuanya autis,
belajar bersama-sama mengikuti jenis instruksi yang khas. Anak-anak ini
berada dalam kelompok yang kecil (1 - 3 anak). c) Ability Grouped Classes.
Anak-anak yang sudah dapat sudah ada respons terhadap pujian, dan ada
minat terhadap alat permainan; memerlukan jenis lingkungan yang
menyediakan teman sebaya yang secara sosial lebih baik meski juga memiliki
masalah perkembangan bahasa. d) Social Skills Development and Mixed
Disability Classes. Kelas ini terdiri atas anak dengan kebutuhan khusus,
tetapi tidak hanya anak autis. Biasanya anak autis berespons dengan baik bila
dikelompokkan dengan anak-anak Down Syndrome yang cenderung memiliki
ciri hyper-social (ketertarikan berlebihan untuk membina hubungan sosial
dengan orang lain). Ciri ini membuat mereka cenderung bertahan,
memerintah, dan berlari-lari di sekitar anak autis sekedar untuk mendapatkan
respons. Hal ini baik sekali bagi si anak autis.6
6
5
Karakteristik anak menurut pandangan beberapa ahli dalam bidang
pendidikan dan psikologi memandang periode usia anak-anak merupakan
periode yang penting yang perlu mendapat penanganan sedini mungkin.
Maria Montessori berpendapat bahwa usia 3 - 6 tahun sebagai periode
sensitive atau masa peka yaitu suatu periode di mana suatu fungsi tertentu
perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya.
Misalnya masa peka untuk berbicara.7
Kartini Kartono juga mengemukakan bahwa ciri khas anak masa
kanak-kanak adalah sebagai berikut: (1) bersifat egosentris naif, (2)
mempunyai relasi sosial dengan benda-benda dan manusia yang sifatnya
sederhana dan primitif, (3) kesatuan jasmani dan rohani yang hampir-hampir
tidak terpisahkan sebagai satu totalitas, dan (4) sikap hidup yang fisiognomis.
Kartini Kartono menjelaskan bahwa seorang anak yang egosentris
memandang dunia luar dari pandangannya sendiri, sesuai dengan pengetahuan
dan pemahamannya sendiri. Relasi sosial yang primitif merupakan akibat dari
sifat egosentris yang naïf tersebut. Anak hanya memiliki minat terhadap
benda-benda dan peristiwa yang sesuai dengan daya fantasinya. Dengan kata
lain anak membangun dunianya dengan khayalan dan keinginannya. Kesatuan
jasmani dan rohani yang tidak terpisahkan, maksudnya adalah anak belum
dapat membedakan dunia batiniah dengan lahiriah. Anak bersikap
fisiognomis terhadap dunianya, artinya secara langsung anak memberikan
atribut pada setiap penghayatannya. Anak tidak bisa membedakan benda
7
6
hidup dengan benda mati. Setiap benda dianggapnya berjiwa seperti dirinya,
oleh karena itu anak sering bercakap-cakap dengan bonekanya, dengan
kucing, dengan kelinci dan sebagainya.8
Pertumbuhan fisik anak usia 4-5 masih memerlukan aktivitas yang
banyak. Kebutuhan anak untuk melakukan berbagai aktivitas sangat
diperlukan, baik untuk pengembangan otot-otot kecil maupun otot-otot
besar.
Aspek intelektual perkembangannya diawali dengan perkembangan
kemampuan mengamati, melihat hubungan dan memecahkan masalah
sederhana. Kemudian berkembang ke arah pemahaman dan pemecahan
masalah yang lebih rumit. Aspek ini berkembang pesat pada masa anak mulai
masuk sekolah dasar (usia 6-7 tahun).
Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak (usia 3-5
tahun). Anak senang bermain bersama teman sebayanya. Hubungan
persebayaan ini berjalan terus dan agak pesat terjadi pada masa sekolah (usia
11-12 tahun). Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak berlangsung
melalui hubungan antar teman dalam berbagai bentuk permainan.9
Perkembangan remaja merupakan suatu perubahan karakter dari masa
anak-anak menuju pada era kedewasaan. Pribadi yang tumbuh pada masa
remaja ini disebut sebagai storm dan stess atau badai dan topan dalam
kehidupan perasaan dan emosi remaja awal dilanda pergolakan, sehingga
selalu mengalami perubahan dalam perbuatannya, dalam mengerjakan
8
Kartini Kartono, Psikologi Anak (Bandung: Alumni, 1987), 113.
9
7
sesuatu, misalnya belajar mula-mula bergairah dan tiba-tiba jadi enggan,
malas.
Masa remaja sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam
sikap dan prilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik.
Ada lima perubahan yang sama yang hampir bersifat universal. Peratama,
meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan
fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh, minat, dan peran
yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan yang nantinya akan
menimbulkan masalah baru. Ketiga, dengan perubahan minat dan pola prilaku
maka nilai-nilai juga berubah, apa yang pada masa kanak-kanak dianggap
penting sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi. Keempat,
sebagian besar remaja bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan, mereka
menginginkan dan menuntut kebiasaan tetapi mereka sering takut
bertanggung jawab akan akibatnya.10
Perkembangan Psikologis pada masa remaja yang merupakan masa
transisi dari periode anak ke dewasa menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:
Pertama, pemekaran diri sendiri (extension of the self) yang ditandai dengan
kemampuan seorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian
dari diri sendiri juga, seperti mencintai orang lain dan alam sekitarnya.
Kedua, kemampuan untuk melihat diri sendiri secara obyektif (self
objectivication) ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai wawasan
tentang diri sendiri (self insight) dan kemampuan untuk menangkap humor
10
8
(sense of humor) terrmasuk yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran
humor. Ketiga, memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life).
Ia tahu kedudukannnya dalam masyarakat, ia paham bagaimana seharusnya ia
bertingkah laku dalam kedudukan tersebut. Dan ia berusaha mencari jalannya
sendiri menuju sasaran yang ia tetapkan sendiri. Orang seperti ini tidak lagi
mudah terpengaruh dan pendapatnya serta sikap-sikapnya cukup jelas dan
tegas.
Dari berbagai karakter dan ciri-ciri psikologis remaja tadi, satu hal
yang paling menonjol dari seorang remaja adalah adanya konsep sikap yang
egois sebagai wujud perkembangan berpikir dan bersikap dalam
memperjuangkan kemandirian sikap (the strike of autonomy). Dari konsep ini
maka seringkali perilaku remaja sering menunjukkan sikap-sikap kritis dan
berlawanan dengan perilaku orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitarnya.11
Autisme atau juga disebut anak dengan kebutuhan khusus merupakan
suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi,
interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Anak autisme mempunyai masalah
atau gangguan pada sensoris, pola bermain, perilaku dan emosi sehingga
dalam dunia pendidikan, anak autisme atau anak dengan kebutuhan khusus
ini juga berhak mendapatkan suatu layanan pendidikan yang layak dengan
anak-anak normal lainnya.
Penyebab autis sampai sekarang belum dapat ditentukan secara pasti.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa terlalu banyak vaksin hepatitis B
11
9
yang bisa mengakibatkan anak mengidap penyakit autis hal ini dikarenakan
vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal. Perdebatan yang terjadi
akhir-akhir ini berkisaran pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan
oleh vaksin anak. Namun beberapa ahlijuga melakukan penelitian dan
menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan.
Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika menyatakan bahwa korelasi antara
autis dan cacat lahir bisa mengakibatkan kerusakan jaringan otak dan itu
dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin.12
Secara umum ada beberapa gejala autism yang akan tampak semakin
jelas saat anak mencapai usia 3 tahun, yaitu: pertama, gangguan dalam
komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat berbicara. Kedua,
gangguan dalam interaksi sosial seperti menghindari kontak mata. Ketiga,
gangguan pada bidang prilaku yang terlihat dan adanya prilaku yang
berlebihan “excessive” dan kekurangan “deficient” seperti pandangan mata
kosong. Keempat, gangguan pada bidang perasaan atau emosi seperti tertawa
atau marah-marah sendri tanpa sebab.13
Anak dengan gangguan perkembangan sejak lahir dikenal dengan
autism. Maston mengemukakan bahwa autis merupakan gangguan
perkembangan pervasive, yaitu gangguan perkembangan organik dan bersifat
12
Huzaemah, Kenali Autisme Sejak Dini (Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2010), 18-19.
13
10
berat yang menyebabkan anak mengalami kelainan dalam aspek sosial,
bahasa dan kecerdasan.14
Penyandang autisma seakan-akan hidup di dunianya sendiri, istilah
autisma baru diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner. Anak autisma
adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang antara lain
mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan
orang lain.15
Kelainan pada aspek sosial menunjukkan kegagalan dalam membina
hubungan interpersonal, yang ditandai dengan kurangnya respon atau minat
pada orang lain atau pada anak-anak yang ada di sekitarnya, asyik dengan diri
sendiri, perhatianya tertuju pada satu objek yang dimainkanya, dan tidak
peduli dengan kejadian-kejadian di sekitarnya. Anak autisma juga kurang
mampu melakukan kontak mata dengan ibu dan ayahnya. Jika dia dipanggil
seolah-olah tidak mendengarkan, bila anak diajak bicara seringkali dia tidak
menatap orang yang mengajak bicara. Dan kurang mampu menunjukkan
eksperi wajah yang wajar seperti tertawa atau tersenyum ketika digelitik atau
diajak bermain oleh orang lain.16
Slamet Santosa menyatakan bahwa : autis adalah suatu sindroma
gangguan perkembangan anak yang sangat kompleks dan berat dengan
14
Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutugan Khusus (Jakarta: Alfabeta 2006), 42.
15
Y. Handojo, Autisma Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar Anak Normal Autis dan Perilaku Lain (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2003), 11.
16
11
penyebab yang sangat bervariasi serta gejala klinik yang biasanya muncul
pada tiga tahun pertama dari kehidupan anak tersebut.17
Ada beberapa permasalahan yang dialami oleh anak autis yaitu: Anak
autis memiliki hambatan kualitatif dalam interaksi sosial artinya bahwa anak
autistic memiliki hambatan dalam kualitas berinteraksi dengan individu di
sekitar lingkungannya, seperti anak-anak autis sering terlihat menarik diri,
acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri, menunjukkan perilaku yang
tidak hangat, tidak ada kontak mata dengan orang lain dan bagi mereka yang
keterlekatannya terhadap orang tua tinggi, anak akan merasa cemas apabila
ditinggalkan oleh orang tuanya.
Lorna Wing menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah
pada anak autis yaitu:18
1. Masalah dalam memahami lingkungan (problem in understanding the
world)
a. Respon terhadap suara yang tidak biasa (unusually responses to
sounds). Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung
mengabaikan suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada
yang menjatuhkan benda di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat
tertarik pada beberapa suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak
autis yang sangat tergangu oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan
menutup telinganya.
17
Slamet Santosa, Psikologi Klinis (Jakarta : UI Press, 2003), 66.
18
12
b. Sulit dalam memahami pembicaraan (dificulties in understanding
speech). Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaraan
memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar
peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang
usia lima tahun banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam
memahami pembicaraan.
c. Kesulitan ketika bercakap-cakap (difiltuties when talking). Beberpa
anak autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk
mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata
yang diucapkan orang lain, mereka memiliki kesulitan dalam
mempergunakan kata sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata
secara fleksibel atau mengungkapkan ide.
d. Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (poor pronunciation and
voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam
membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan
dengan kata-kata yang hampir sama, memiliki kesulitan untuk
mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka biasanya memiliki
kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness) suara.
e. Masalah dalam memahami benda yang dilihat (problems in
understanding things that are seen). Beberapa anak autis sangat
sensitif terhadap cahaya yang sangat terang, seperti cahaya lampu
kamera (blitz), anak autis mengenali orang atau benda dengan
13
f. Masalah dalam pemahaman gerak isarat (problem in understanding
gesturs). Anak autis memiliki masalah dalam menggunakan bahasa
komunikasi; seperti gerakan isarat, gerakan tubuh, ekspresi wajah.
g. Indra peraba, perasa dan pembau (the senses of touch, taste and
smell). Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya melalui indera
peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak sensitif
terhadap dingin dan sakit.
h. Gerakan tubuh yang tidak biasa (unusually bodily movement). Ada
gerakan-gerakan yang dilakukan anak autis yang tidak biasa dilakukan
oleh anak-anak yang normal seperti mengepak-ngepakan tangannya,
meloncat-loncat, dan menyeringai.
i. Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih (clumsiness in skilled
movements). Beberapa anak autis, ketika berjalan nampak anggun,
mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya
lebih kaku dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam
keseimbangan dan biasanya mereka tidak menikmati memanjat.
Mereka sangat kurang dalam koordinasi dalam berjalan dan berlari
atau sebaliknya.
2. Masalah gangguan perilaku dan emosi (dificult behaviour and emotional
problems).
a. Sikap menyendiri dan menarik diri (aloofness and withdrawal).
Banyak anak autis yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada.
14
mendengar ketika ada orang yang berbicara padanya, ekspresi
mukanya kosong.
b. Menentang perubahan (resistance to change). Banyak anak autis yang
menuntut pengulangan rutinitas yang sama. Beberapa anak autis
memiliki rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi
sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang panjang.
c. Ketakutan khusus (special fears). Anak-anak autis tidak menyadari
bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami
kemungkinan konsekuensinya.
d. Prilaku yang memalukan secara sosial (socially embarrassing
behaviour). Pemahaman anak autis terhadap kata-kata terbatas dan
secara umum tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara
yang kurang dapat diterima secara sosial. anak-anak autis tidak malu
untuk berteriak di tempat umum atau berteriak dengan keras di
senjang jalan.
e. Ketidakmampuan untuk bermain (inability to play). Banyak anak
autis bermain dengan air, pasir atau lumpur selam berjam-jam.
Mereka tidak dapat bermain pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam
bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam
15
Robin L. Gabriels dalam bukunya menjelaskan tentang problem siswa
autis yang akan dihadapi pada saat usia sekolah dan remaja. Beberapa
permasalahnnya yaitu19
1. Communication Abilities
Mengajari siswa autis untuk berkomunikasi sangatlah berdampak
besar pada dalam dirinya. Siswa autis dimungkinkan ada yang kurang
dalam memahami bahasa dan ada yang sangat cepat dalam
mengembangkan bahasa yang diajarkan oleh gurunya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sigman dan Ruskin, mereka
membagi anak autis dalam 2 grup (pertama grup umur 3 tahun 11 bulan,
grup kedua 12 tahun 10 bulan). Grup pertama masih bisa berkomunikasi
dalam 18 bulan dari umurnya dan grup kedua masih bisa berkomunikasi
setelah umur 8-9 tahun. Dan dalam penelitiannya pada autis berumur
18-39 tahun mereka mendiagnosis bahwa mereka masih kesulitan dan lemah
pada saat berkomunikasi dan masalah ini akan terus berlanjut sampai
remaja.
2. Social Skills
Lemahnya kemampuan remaja autis dalam berinteraksi sosial
mempunyai dampak yang sangat beragam seperti kurangnya kualitas
berinteraksi dengan sesama temannya dan kelemahan ini kedepannya
akan berdampak pada kemampuannya untuk bisa mencapai dan
mendapatkan informasi tambahan dalam kehidupan sosialnya.
19
16
Kurangnya kemampuan bersosialisasi ini berdampak pada remaja
autis tentang kurang bisanya bersikap bijaksana dengan sesama,
rendahnya sifat sosial dan rendahnya respot remaja autis terhadap sesama.
3. Behavior Problems
Problem-problem yang dilakukan oleh remaja autis meliputi sifat
marah, merusak sesuatu, dan agresif kepada dirinya maupun orang lain.
Sifat-sifat di atas ini mempunyai beberapa rintangan yang akan dialami
oleh penghuni rumah, sekolah, dan grup belajar.
Problem tingkah laku remaja autis ini bisa menjadi sumber yang
sangat signifikan terhadap perilaku stress yang dihadapi oleh keluarga
autis, pengasuh anak, guru autis dan kesetresan ini akan menjadi luas
seiring dengan bertambahnya umur, kekuatan, dan besar anak autis.
4. Adaptive Living Skills
Ada beberapa fakta yang terdapat pada beberapa remaja autis yaitu
terdapatnya kemampuan penyesuaian diri pada remaja autis untuk
menolak atau tidak adanya sifat adaptasi sama sekali pada diri remaja
autis.
Kurangnya kemajuan dalam beradaptasi ini bisa memperburuk
keadaannya. Oleh karena itu, anggota keluarga autis harus membantu dan
mendukung guna untuk memaksimalkan dan menyeimbangkan antara
sifat bebas dan ketergantungan yang dihadapi oleh remaja autis.
Pendidikan inklusif merupakan sebuah sistem pendidikan yang
17
tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Pendidikan
inklusif juga merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki kelainan dan
memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti
pendidikan atau pembelajaran dalam suatu lingkungan pendidikan secara
bersama-sama peserta didik pada umumnya. Di samping itu pendidikan
inklussif juga melibatkan orang tua dalam berbagai kesempatan kegiatan
pendidikan terutama dalam proses perencanaan, dalam proses belajar
mengajar dan pada saat proses pembelajaran guru di kelas yang dipusatkan
pada siswanya.20
Fakta di atas menunjukkan bahwa pendidikan untuk siswa autis
masih membutuhkan banyak perhatian, baik dari segi kurikulum, pendidik,
materi, dan evaluasinya. Pendidikan Agama Islam untuk anak autis dalam
pembelajarannya harus dipersiapkan secara matang agar dalam proses
pembelajarannya bisa maksimal dan membuahkan hasil.
Supaya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bisa
maksimal dan membuahkan hasil maka kita harus mengetahui problem yang
terdapat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada remaja autis
yaitu: Problem bisa berasal dari siswa, dari guru, kurangnya kreatifitas guru,
tipe anak yang berbeda-beda, kesulitan dalam menjelaskan materi yang
abstrak serta keterbatasan sarana yang ada di sekolah.
20
18
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada siswa autis memerlukan
beberapa hal yang perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan keadaan peserta
didik. Oleh karena itu, masing-masing komponen tidak boleh berjalan secara
terpisah, tetapi harus berjalan secara beriringan, sehingga diperlukan
pengelolaan pengajaran yang baik yang telah dipertimbangkan dan dirancang
secara sistematis. Hal ini merupakan sebagian dari solusi untuk mengurangi
dan mengatasi segala problematika yang melanda dunia pendidikan, terutama
dunia pendidikan bagi anak autis yang membutuhkan perhatian khusus.
Berdasarkan rasionalitas dan realitas di atas, peneliti tertarik untuk
meneliti fakta yang berkembang tentang problematika Pendidikan Agama
Islam pada siswa autis dan solusinya. Peneliti mengambil judul penelitian
sebagai berikut: problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi
siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya.
B. Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang masalah di atas, maka fokus penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa
autis di SMA Galuh Handayani ?
2. Apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani ?
3. Apa upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi
problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di
19
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus masalah yang telah disebutkan di atas, maka
penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mendiskripsikan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi
siswa autis di SMA Galuh Handayani.
2. Mengidentifikasi apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh
Handayani.
3. Menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi
problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di
SMA Galuh Handayani.
D. Kegunaan Penelitian
Selain beberapa tujuan di atas, penelitian ini diharapkan memiliki
kegunaan sebagai berikut:
1. Secara akademis, Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu karya
akademik yang dapat melengkapi literartur yang menjelaskan tentang
siswa autis melalui judul problematika pembelajaran Pendidikan Agama
Islam bagi siswa autis (studi kasus di SMA Galuh Handayani Surabaya).
2. Secara teoritis, Data-data yang dihasilkan dan dikumpulkan dalam
penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan inklusi
khususnya bagi SMA Galuh Handayani serta dapat digunakan sebagai
20
saja yang berperan aktif dalam dunia Pendidikan Agama Islam siswa
inklusi.
E. Kerangka Konseptual
1. Pendidikan Agama Islam
Sebelum melangkah lebih jauh lagi tentang pembahasan
Pendidikan Agama Islam, maka penulis akan memaparkan beberapa
definisi pendidikan antara lain :
Pendidikan secara garis besar menurut UU RI No. 2 tahun 1989,
Bab I pasal 1 yaitu “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan
bagi peranannya di masa yang akan datang”.21
Menurut pendapatnya Amin, bahwasannya Pendidikan adalah suatu
usaha sadar dan teratur serta sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang
yang bertanggung jawab, untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat
dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. Dengan kata lain bahwa
pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak,
dalam pertumbuhan jasmani maupun rohani untuk mencapai tingkat
dewasa.22
Adapun pengertian pendidikan menurut Oemar Hamalik yakni
“Suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu
menguasai diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan
demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang
21
Depdikbud, Sistem Pendidikan Nasional, UU RI No. 2 Th. 1989 (Jakarta: PT. Armas Duta Jaya, 1989), 20.
22
21
memungkinkannya untuk berfungsi secara adekwat dalam kehidupan masyarakat”.23
Adapun pengertian Pendidikan Agama Islam secara garis besar
akan dikemukakan oleh beberapa ahli di bawah ini:
Menurut Arifin dalam buku Filsafat Pendidikan Islam menyatakan
bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha mengubah tingkah laku
individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya
dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan yang
dilandasi dengan nilai-nilai Islami.24
Dari pendapatnya Ahmad D. Marimba, Pendidikan Agama Islam
adalah “Bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama
Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut Islam”.25
Sedangkan menurut Zakiah Daradjat dkk, pengertian Pendidikan
Agama Islam adalah “Pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama
Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar
nantinya, setelah selesai dari pendidikan mereka dapat memahami,
menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah
diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu
sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan
hidup di dunia dan di akhirat kelak”.26
23
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 3.
24
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 14.
25
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung,: Al-Ma'arif, 1989), 23.
26
22
Pendidikan Agama Islam memiliki pengertian bahwa Pendidikan
Agama Islam dipandang dari sudut yang berbeda-beda. Perbedaan sudut
pandang disebabkan adanya pemahaman tertentu yang disesuaikan dengan
ruang lingkup yang menjadi pokok ajarannya, walaupun pada dasarnya
ada kesamaan pengertian yang mendasar. Hal ini sesuai dengan apa yang
telah diungkapkan oleh Muhaimin bahwa, Pendidikan Agama Islam
adalah: “Suatu usaha membelajarkan peserta didik agar dapat belajar, mau
belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama Islam, baik
untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang benar
maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan”.27
Bardasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat dimengerti
bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu ikhtiyar yang dilakukan oleh
pendidik secara sadar, sistematis, dan pragmatis untuk membimbing dan
mengarahkan peserta didik agar mereka dapat hidup sesuai dengan ajaran
agama Islam. Untuk itu, Pendidikan Agama Islam bukan hanya merupakan
materi yang harus dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi dituntut setelah
mendapatkan Pendidikan Agama Islam kelak untuk mempersiapkan
peserta didik mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari
berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam.
2. Autis
Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia modern, “autismetik”
yaitu terganggu jika berhubungan dengan orang lain. “autisme” yaitu
27
23
gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat
berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan
keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu.28
Dari pendapat Y. Handojo, pengertian autisme berasal dari kata
“Auto” yang berarti sendiri, yaitu anak yang menyandang autisme
seakan-akan hidup di dunianya sendiri.29
Adapun menurut David Smith, “autismem” adalah suatu kelainan
ketidakmampuan interaksi komunikasi dan sosial.30
Menurut Badrut Tamam, anak autisme adalah anak yang dalam
proses pertumbuhan dan perkembangannya secara signifikan (bermakna)
mengalami kelainan atau penyimpangan, kelainan itu bisa terjadi pada
fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional.31
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pengertian
autisme adalah nama dari sekelompok kelainan kebiasaan atau tingkah
laku dengan ciri-ciri penyimpangan interaksi sosial, khususnya bahasa
yang diucapkannya, kontak mata, bahasa tubuh dan pendekatan sosial,
terutama kekurangan hubungan sosial dengan orang lain.
3. SMA Galuh Handayani
Sekolah Galuh Handayani berdiri pada tahun pelajaran 1995-1996.
Pada awalnya, Sekolah Galuh Handayani fokus dalam penyelenggaraan
pendidikan formal tingkat SD yang pada saat itu mengkhususkan diri pada
28
Tim bahasa PAH, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern (Surabaya: CV. Pustaka Agung Harapan, 2003), 59.
29
Handojo, Autisma, 12.
30
J. David Smith, Inklusi Sekolah Ramah Untuk Semua (Bandung: Nuansa, 2006), 150.
31
24
penanganan anak Lambat belajar (Slow Learner) kategori IQ 80-99. Anak dengan kategori Slow Learner seringkali menghadapi problema belajar
serius, terkait denga kondisi mentalitasnya. Tatkala berada di sekolah
umum mereka termaginalisasi, sementara ketika bersekolah di Sekolah
Luar Biasa (SLB) juga mengalami kendala.
Akibatnya anak-anak dengan kategori ini sulit terserap secara normal
dalam setiap jenis sekolah. Wajar jika kemudian banyak dari mereka
mengalami kesulitan belajar, maupun kesulitan beradaptasi sehingga harus
pindah sekolah. Sekolah Galuh Handayani terinspirasi dari problema anak
Slow Learner tersebut. Pada awal berdirinya, kebanyakan siswa
merupakan siswa pindahan dari SD negeri/swasta di Surabaya. Kemudian
pada tahun pelajaran 1996-1997 menyelenggarakan pendidikan TK dan
pada tahun pelajaran 1997-1998 menyelenggaran pendidikan formal
tingkat SMP, dan selanjutnya pada tahun pelajaran 2001-2002
menyelenggarakan pendidikan formal tingkat SMA. Saat sekarang sedang
merancang program Postschool Transtition.
SMA Galuh Handayani merupakan sekolah untuk anak
berkebutuhan khusus terletak di Jl. Manyar Sambongan 87-89 Surabaya
Jawa Timur.
Visi sekolah galuh handayani yaitu Turut serta berpartisipasi
membangun negara melalui pendidikan bagi generasi penerus bangsa
tanpa diskriminasi guna meningkatkan derajat kemuliaan manusia yang
25
Misi sekolah galuh handayani yaitu Meningkatkan ketaqwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, Meningkat kecerdasan dan kemampuan
siswa, Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan agar siswa
mandiri, Memberikan layanan dan kegiatan bagi kesehatan jasmani dan
rohani siswa, Memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan
siswa, Memberikan layanan pendidikan yang ramah dan penuh kasih
sayang serta suritauladan dalam kehidupan sehari-hari dan Turut
membantu menekan angka putus sekolah serta mensukseskan program
wajib belajar.
F. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran terhadap penelitian-penelitian yang telah
ada, penulis menemukan beberapa karya ilmiah yang berkaitan dengan
penelitian ini yaitu
Tesis M.K. Syarif Hidayatulloh, mahasiswa pascasarjana Prodi
Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
tahun 2008 yang berjudul Pendidikan Inklusi Dan Efektifitasnya Dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Berkebutuhan Khusus Di
Sekolah Dasar Negeri Inklusi Klampis-Ngasem I Surabaya. Penelitian ini
memfokuskan pada pembelajaran pendidika agama Islam yang diberikan
kepada anak berkebutuhan khusus. Tesis ini membahas tentang konsep
pembelajaran PAI menjadi beberapa kelas, yaitu kelas reguler (inklusi penuh),
kelas pendampingan, kelas remidi, kelas praklasikal, dan kelas khusus.
26
yang disesuaikan dengan kondisi dan tingkat kebutuhan Anak Berkebutuhan
Khusus (ABK) dan keefektifitasan pembelajaran PAI disini ditinjau dalam
tiga aspek, yaitu: input, proses dan output.
Tesis Riya Nuryana, mahasiswa pascasarjana prodi ilmu keislaman
konsentrasi pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya tahun 2010 yang berjudul Menggali Nilai-Nilai Islami Dalam
Manajemen Pendidikan Inklusi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Abk) Di
Sdn Babatan V Surabaya. Penelitian ini memfokuskan pada pembinaan
nilai-nilai Islami untuk anak berkebutuhan khusus. Tesis ini membahas tentang
pembinaan tenaga kependidikan proram inklusi yang mengandung nilai
Amanah (tanggung jawab), Keadilan, Rela berkorban, Mengamalkan ilmu,
Kejujuran, Tolong-menolong (kerjasama) dalam kebaikan, Keikhlasan dalam
mendidik, dan Berikhtiar. Dalam pengembangan pembelajaran PAI terdapat
nilai-nilai Islami yang dapat diambil, yaitu Amanah (tanggung jawab) dan
keadilan, Saling mengasihi, menyayangi dan menghargai, Tidak
menggunakan paksaan dalam mengajar, Tolong-menolong (kerjasama) dalam
kebaikan, Sabar dan ikhlas dalam mendidik, dan Menguasai kemarahan dan
memaafkan sesama manusia.
Tesis Zumrotul Mashfiyah, mahasiswi pascasarjana prodi Pendidikan
Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tahun 2013
yang berjudul Implementasi Pembelajaran al-Qur’an pada anak Autis Melalui
27
ini membahas tentang proses pembelajaran al Qur’an melalui media visual
pada anak autis di pendidikan khusus negeri Seduri.
Desertasi Zumratul Mukaffah, mahasiswi program doktor prodi
pendidikan Agam Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
tahun 2012 dengan judul Pendidikan Akhlak Multikulural (Studi Kasus di
Sekolah Dasar Inklusif Galuh Handayaini). Desertasi ini memaparkan tentang
pendidikan akhlak multicultural yang diselenggarakan di SD Inklusif Galuh
Handayani dan model dalam pendidikan akhlak multikultural ini didesain
melalui perencanaan, pelaksanaan dan Evaluasi. Dalam penelitian ini juga
menjelaskan tentang kurikulum formal yang didesain dengan empat model,
yaitu duplikasi, modifikasi, substitusi dan omisi.
Tesis Muliatul Maghfiroh, mahasiswi pascasarjana konsentrasi
penididikan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tahun
2013 yang berjudul Pengembangan Kurikulum Model DMSO (Duplikasi
Modifikasi, Substitusi dan Omisi) dan Implementasinya dalam Pembelajaran
PAI di SMP Galuh Handayani (Penyelenggara Pendidikan Inklusif).
Penelitian ini menitik beratkan pada pedoman pengembangan kurikulum
dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi yaitu dengan menggunakan model
kurikulum DMSO dan adanya keterkaitan dengan pengembangan nilai-nilai
28
G. Sistematika Pembahasan
Laporan hasi penelitian ini akan menggunakan sistematika sebagai
berikut:
Bab I: Pendahuluan, berisi latar belakang mengenai Pendidikan
Agama Islam siswa autis. Sehingga dalam latar belakang ini akan bisa dilihat
secara spesifik guna untuk memberikan panduan yang mengarahkan
penelitian secara logis dan sitematis.
Bab II: Landasan Teori teori yang berkaitan dengan permasalahan
yang terdapat dalam tesis ini yaitu Tinjauan tentang Autis, Tinjauan tentang
Problematika Pembelajaran Remaja Autis dan Tinjauan tentang Pendidikan
Agama Islam.
Bab III: Metode penelitian.
Bab IV: Temuan Penelitian, dalam temuan penelitian ini akan
membahas tentang proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa
autis, apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis dan upaya-upaya yang dilakukan
oleh guru untuk mengatasi problematika pembelajaran Pendidikan Agama
Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya.
BAB V: Penutup, dalam pembahasan ini penulis akan gambarkan
154 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka tesis ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Proses Pembelajaran PAI bagi Siswa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya (SMA GHS)
Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam di SMA Galuh Handayani Surabaya yaitu menggunakan model pembelajaran kelas regular penuh atau inklusi penuh. Model pembelajaran kelas ini ditujukan kepada anak berkebutuhan khusus atau anak autis yang belajar bersama dengan anak tanpa berkebutuhan khusus sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama. Pembelajaran dengan model seperti ini dilakukan oleh dua orang guru, guru pertama yaitu guru mata pelajaran dan guru kedua yaitu guru kelas, kedua guru ini saling membantu satu sama lain. Untuk pendampingan siswa autis ini bisa dengan menggunakan guru pendamping atau yang biasa disebut dengan shadow teacher atau guru pendamping yang mana guru ini hanya diperuntukkan untuk siswa
autis yang tergolong berat, karena dalam model pembelajaran kelas regular
penuh atau kelas inklusi penuh ini tidak terdapat siswa autis yang
tergolong berat maka untuk guru pendamping ini ditiadakan dan hanya
155
2. Problematika yang Dihadapi oleh Guru dalam Pembelajaran PAI bagi Siswa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya
156
sungguh-sungguh tentang apa yang telah diajarkan guru Pendidikan Agama Islam.
3. Upaya-upaya yang Dilakukan oleh Guru untuk Mengatasi Problematika Pembelajaran PAI bagi siswa Autis di SMA Galuh Handayani
Upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya yaitu pertama tentang solusi problem materi, guru
menyederhanakan materi pembelajaran PAI yang terdapat di buku
pelajaran kemudian ditulis ulang di papan tulis oleh guru dengan
bahasanya sendiri yang mana bahasa itu hasil dari rangkuman atau
kesimpulan dari materi pelajaran PAI sehingga para siswa bisa lebih
mudah untuk memahami apa yang akan dijelaskan oleh gurunya saat
semua siswa telah selesai menulis. Kedua solusi problem prilaku, guru lebih banyak melakukan kegiatan membimbing dengan pendekatan
interaksi antara siswa dan guru sehingga guru PAI bisa mengidentifikasi
apa saja kekurangan yang dihadapi oleh siswa autis. Ketiga solusi problem
157
siswa autis itu seperti siswa normal pada umumnya dengan menerima semua kekurangannya sehingga dengan kekurangannya itu para guru bisa membimbing siswa autis ke arah yang lebih baik.
B. Saran
Menurut hasil yang penulis peroleh dalam penelitian ini, maka penulis
akan memberikan saran sebagai berikut :
1. Kepada kepala sekolah SMA Galuh Handayani Surabaya, agar lebih
meningkatkan bimbingan yang dilakukan oleh psikolog atau terapis seperti
terapi edukatif, konsentrasi dan komunikasi, selain itu psikolog juga bisa
memberi terapi yang khusus berkenaan dengan praktek pembelajaran
Pendidikan Agama Islam karena untuk terapi yang berhubungan khusus
dengan Pendidikan Agama Islam belum ada.
2. Kepada guru Pendidikan Agama Islam, diharapkan dapat menambah alat
peraga dan praktik yang digunakan dalam pembelajaran dan juga
memperbaiki proses pembuatan perangkat pembelajaran yang kesemuanya
harus sudah disiapkan sebelum pelajaran dimulai lebih-lebih sebelum
158
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbayati, Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta, 1991.
Ainurrahman, Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabet, 2010.
Ali, Hamdani, Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang, 1987.
Amin, Pengantar Ilmu Pendidikan. Pasuruan: Garuda Buana Indah, 1992.
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1993.
Arifin, Zaenal, Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2010.
Arikuntono, Suharsimi, Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2001.
Arikuntono, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
PT Rineka Cipta, 2010.
Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran. Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada, 2007.
Asnawir, Basyirudin Usman. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
B, Siegel, The World of the Autistic Child. New York: Oxford University Press, 1996.
Budiman, Melly, Gangguan Perkembangan pada Anak. Jakarta: Yayasan Autism Indonesia, 1997.
Daradjat, Zakiah, dkk, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Daradjat, Zakiah,dkk. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi
Aksara, 2008.
Delphie, Bandi, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Refika
Aditama, 2006.
Depdikbud, Sistem Pendidikan Nasional, UU RI No. 2 Th. 1989. Jakarta: PT.
159
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya,
2012.
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Manajemen dan
Pembelajaran Sekolah Inklusif. Jakarta: Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional, 2010.
Faisal, Sanapiah, Format-Format Penelitian Sosial Dasar dan Aplikasi. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 1995.
Gabriels, Robin L. dan Dina E. Hill, Growing Up with Autis; Working with
School-Age Children and Adolescent. New York: The Guliford Press, 2007.
Gafar, Irfan Abdul dan Muhammad Jamil, Re-Formulasi Rancangan
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2003.
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research. Yogyakarta: UGM Press, 2000.
Hadis, Abdul, Pendidikan Anak Berkebutugan Khusus. Jakarta: Alfabeta 2006.
Halgin, Richard P., Autism from Theoritical Underestanding to Educational
Interventation. London: Whure Publisher Ltd, 1998.
Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Handojo, Y., Autisma Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar
Anak Normal Autis dan Perilaku Lain. Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2003.
Harnowo, Putro Agus, “Anak Autis Lebih Pelik dan Berat Hadapi Masa
Remaja”, dalam http ://health. Detik .com /read/ 2012 /04 /15 /100023 /1892704
/763/anak – autis – lebih – pelik - dan-berat-hadapi-masa-remaja yang diterbitkan
pada Minggu 15 April 2012 jam 10.00 WIB (05 Januari 2015).
Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan, Terj. Istiwidayanti dan
Soedjarwo. Jakarta: Erlangga, tth.
Hurlock, Elizabeth. B., Child Development. New York: Mc. Graw Hill, Inc,
1978.
160
Idrus, Muhammad, Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Erlangga, 2009.
Kartono, Kartini, Psikologi Anak. Bandung: Alumni, 1987.
Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.
Majid, Abdul, Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2013.
Maliki, Zainuddin, Narasi Agung. Surabaya: Lembaga Agama dan Masyarakat,
2003.
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2005.
Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara,
1999.
Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung,: Al-Ma'arif, 1989.
Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosda
Karya, 2009.
Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Citra Media, 1996.
Muhaimin, Paradigma Pengertian Pendidikan Islam. Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya, 2004.
Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2008.
Nahlawi (al), Abdurrahman, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam.
Bandung: CV. Diponegoro, 1992.
161
Pamoedji, Gayatri, 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme. Jakarta:
Yayasan MPATI Masyarakat Peduli Autis Indonesia, 2010.
Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktek. Bandung: Remadja Karya, 1985.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Riya>d}, Sa’ad, Al- T{ifl al-Tawh}idy: Asra>r al-T{ifl al-Dha>tawy> wa kayfa Nataa<’mal Maa’hu. Mesir: Da>r al-Qahirah lilja>mia>’t, 2008.
Rosyada, Dede, Paradigama Pendidikan Demokratis. Jakarta: Prenada Media,
2004.
Rustamadji, Bugi dan Sri Sudaryati, Suka Duka Orang Tua Penyandang Autis.
Yogyakarta: Kosudgama Press, 2008.
Safaria, Trianto, Autisme. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005.
Salim, Agus dan Ali Formen, Pengantar Berfikir Kualitatif Teori dan Pradigma
Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Salim, Agus, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana, 2009.
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008.
Santosa, Slamet, Psikologi Klinis. Jakarta : UI Press, 2003.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindopersada.
Smith, J. David, Inklusi Sekolah Ramah Untuk Semua. Bandung: Nuansa, 2006.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja
162
Sunu, Christopeh, Unlocking Autism. Yogyakarta : Lintang terbit, 2012.
Tamam, Badrut, Pelita Jukbil Untuk Anak Autis. Jawa Pos: 28 Pebruari, 2008.
Tim bahasa PAH, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Surabaya: CV.
Pustaka Agung Harapan, 2003.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara, 2003.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003.
Utami Munandar, Kreatifitas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia, 2002.
UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 tentang, Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5
ayat 2.
Wall, Kate, Autism and Early Years Practice. London: Sage Publications LTD,
2010.
Wardhani, Yurike Fauzia, dkk, Autisme Terapi Medis Alternatif. Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2009.
Wing, Lorna, Autistik Children a Guide for Parents and Professionals. New
Jersey: The Chitadel Press, 1974.
Wood, Derek dkk, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Yogyakarta: Kata Hati,
2005.
Yin, Robert K, Studi Kasus Desain dan Metode, Terj. M. Djauzi Mudzakir.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006.
Yusuf, Syamsu dan Nani M. Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2012.
Zaini, Syahminan, Dasar Konsepsi Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam. Jakarta: