• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI SISWA AUTIS : STUDI KASUS DI SMA GALUH HANDAYANI SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI SISWA AUTIS : STUDI KASUS DI SMA GALUH HANDAYANI SURABAYA."

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI SISWA AUTIS (STUDI KASUS DI SMA GALUH HANDAYANI SURABAYA)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Oleh

Hayyan Ahmad Ulul Albab NIM. F03213037

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)

vii

ABSTRAK

Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Siswa Autis (Studi Kasus di SMA Galuh Handayani Surabaya)

Oleh: Hayyan Ahmad Ulul Albab

Kata Kunci: Problematika Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam, dan Autis

Problematika atau Kendala pembelajaran adalah hambatan yang menjadikan pelaksanaan pembelajaran tidak efektif atau masalah, persoalan atau hal-hal yang menimbulkan masalah dalam pembelajaan yang belum bisa terpecahkan. Kendala-kendala dalam pembelajaran PAI dapat berasal dari guru, peserta didik, kepala sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana, materi, dan tujuan pembelajaran. Selain problem pembelajaran juga terdapat problem yang dimiliki oleh siswa autis, seperti problem kemampuan berkomunikasi, lemahnya kemampuan dalam berinteraksi sosial, problem prilaku dan kurang bisanya melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan disekitarnya.

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dalam mencari jawaban bagaimana proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani, apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis dan apa upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani.

(6)

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI SISWA AUTIS (STUDI KASUS DI SMA GALUH HANDAYANI SURABAYA)

Hayyan Ahmad Ulul Albab I

Pendidikan mempunyai tanggung jawab besar untuk mencerdaskan masyarakat bangsa ini. Tujuan pendidikan pada umumnya adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal sehingga dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Hal ini jelas tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional yang tertulis dalam pasal 5 ayat 1 dan 2 berbunyi; (ayat 1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, (ayat 2) warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental intelektual, dan sosial berhak mendapatkan pendidikan khusus. Anak autis merupakan anak yang berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan sosial. Isi yang telah disebutkan dalam Undang-Undang di atas menunjukan bahwa anak autis berhak mendapatkan hak yang sama untuk dapat memperoleh pendidikan.

(7)

Autisme atau juga disebut anak dengan kebutuhan khusus merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Anak autisme mempunyai masalah atau gangguan pada sensoris, pola bermain, perilaku dan emosi sehingga dalam dunia pendidikan, anak autisme atau anak dengan kebutuhan khusus ini juga berhak mendapatkan suatu layanan pendidikan yang layak dengan anak-anak normal lainnya.

Fakta di atas menunjukkan bahwa pendidikan untuk siswa autis masih membutuhkan banyak perhatian, baik dari segi kurikulum, pendidik, materi, dan evaluasinya. Pendidikan Agama Islam untuk anak autis dalam pembelajarannya harus dipersiapkan secara matang agar dalam proses pembelajarannya bisa maksimal dan membuahkan hasil. Supaya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bisa maksimal dan membuahkan hasil maka kita harus mengetahui problem yang terdapat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada remaja autis yaitu: Problem bisa berasal dari siswa, dari guru, kurangnya kreatifitas guru, tipe anak yang berbeda-beda, kesulitan dalam menjelaskan materi yang abstrak serta keterbatasan sarana yang ada di sekolah.

Berdasarkan rasionalitas dan realitas di atas, peneliti tertarik untuk meneliti fakta yang berkembang tentang problematika Pendidikan Agama Islam pada siswa autis dan solusinya. Peneliti mengambil judul penelitian sebagai berikut: problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya.

(8)

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan rancangan jenis penelitian studi kasus yang menggunakan metode deskriptif. Jenis data dalam kasus ini yaitu jenis kasus tunggal dan memakai dua sumber data, data langsung dan data skunder. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan angket. Metode analisis tesis ini dengan cara mereduksi data, penyajian data kemudian penarikan kesimpulan. Data dalam tesis ini divalidasi dengan cara pembandingan antara pengamatan dan wawancara, perbincangan orang dan pengetahuan pribadi, pandangan berbagai lapisan masyarakat dan membandingkan antara wawancara dan dokumen.

II

Dapat dipahami bahwa pengertian autis adalah sebutan kepada orang atau

nama dari sekelompok kelainan kebiasaan atau tingkah laku dengan ciri-ciri penyimpangan interaksi sosial, khususnya bahasa yang diucapkannya, kontak

mata, bahasa tubuh dan pendekatan sosial, terutama kekurangan hubungan sosial

dengan orang lain. Faktor yang menyebabkan autis sendiri masih belum jelas

benar dan bagaimana terjadinya gejala dari autisme ini, akan tetapi banyak pakar

dalam bidang ini telah sepakat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak

autisme adalah pada otak anak autisme dijumpai suatu kelainan.

Berikut beberapa penyebab autis, diantaranya: Pertama, faktor genetik,

kurang lebih dua puluh persen kasus autis itu disebabkan oleh faktor genetik.

Penyakit genetik ini sering dihubungkan dengan autis atau biasa disebut dengan

sindrom fragile-x karena penyakit ini ditandai dengan kerapuhan yang terjadi pada

ujung lengan kromosom x. Kedua, gangguan pada sistem saraf, banyak penelitian

yang melaporkan tentang anak autis yang memiliki kelainan pada struktur otaknya

dan kelainan yang paling sering terjadi yaitu pada otak kecil.

Anak autisme memiliki karakteristik atau ciriciri khusus antara lain: Selektif

berlebihan terhadap rangsang, Kurangnya motivasi untuk menjelajahi lingkungan

baru, Respon stimulasi diri sehingga mengganggu integrasi sosial, Respon unik

(9)

Problematika atau Kendala pembelajaran adalah hambatan yang menjadikan

pelaksanaan pembelajaran tidak efektif. Kendala disini juga meliputi

problem-problem yang sering dikeluhkan oleh peserta didik maupun guru selaku pelaksana

kurikulum. Kendala-kendala dalam pembelajaran PAI dapat berasal dari guru,

peserta didik, kepala sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana, dan sebagainya.

Robin L. Gabriels dalam bukunya menjelaskan tentang problem siswa autis yang akan dihadapi pada saat usia sekolah dan remaja. Beberapa permasalahnnya yaitu: Communication Abilities, Social Skills, Behavior Problems dan Adaptive

Living Skills.

Pendidikan Agama Islam adalah suatu ikhtiyar yang dilakukan oleh pendidik secara sadar, sistematis, dan pragmatis untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik agar mereka dapat hidup sesuai dengan ajaran agama Islam. Untuk itu, Pendidikan Agama Islam bukan hanya merupakan materi yang harus dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi dituntut setelah mendapatkan Pendidikan Agama Islam kelak untuk mempersiapkan peserta didik mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam.

III

Bertitik tolak pada hasil teori temuan peneliti dan dari hasil penelitian di sekolah inklusi SMA Galuh Handayani Surabaya, maka dapat disimpulkan:

(10)

siswa autis ini bisa dengan menggunakan guru pendamping atau yang biasa disebut dengan shadow teacher atau guru pendamping yang mana guru ini hanya diperuntukkan untuk siswa autis yang tergolong berat, karena dalam model pembelajaran kelas regular penuh atau kelas inklusi penuh ini tidak terdapat siswa autis yang tergolong berat maka untuk guru pendamping ini ditiadakan dan hanya cukup dipandu oleh guru mata pelajaran dan guru kelas.

(11)

(12)

xi

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

TRANSLITERASI ... v

MOTTO ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

PERSEMBAHAN ... x

DAFTAR ISI ... xi

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 18

C. Tujuan Penelitian ... 19

D. Kegunaan Penelitian ... 19

E. Kerangka Konseptual ... 20

F. Penelitian Terdahulu ... 25

(13)

xii

BAB II : KAJIAN TEORITIK

A. Tinjauan Tentang Autis ... 29

1. Pengertian Autis ... 29

2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Autis ... 32

3. Gejala-Gejala Autis ... 34

4. Perlunya Perhatian Khusus bagi Siswa Autis ... 40

B. Tinjauan tentang Problematika Pembelajaran Remaja Autis ... 46

1. Problematika Pembelajaran ... 46

2. Problematika Remaja Autis ... 69

C. Tinjauan tentang Pendidikan Agama Islam ... 76

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 76

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 80

3. Fungsi Pendidikan Agama Islam ... 85

4. Pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi Peserta Didik ... 88

BAB III : METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 92

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 93

2. Jenis dan Sumber Data ... 95

3. Metode Pengumpulan Data ... 97

4. Metode Analisis Data ... 102

(14)

xiii

BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Profil SMA Galuh Handayani Surabaya ... 104

1. Letak Geografis SMA Galuh Handayani Surabaya ... 104

2. Sejarah Berdirinya SMA Inklusif Galuh Handayani Surabaya ... 106

3. Visi dan Misi SMA Galuh Handayani Surabaya ... 107

4. Keadaan guru SMA Galuh Handayani Surabaya ... 107

5. Keadaan siswa SMA Galuh Handayani Surabaya ... 109

6. Sarana dan Prasarana di SMA Galuh Handayani Surabaya ... 109

B. Proses Pembelajaran PAI bagi Siwa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya (SMA GHS) ... 111

1. Proses Manajemen Kelas di SMA Galuh Handayani ... 111

2. Shadow Teacher atau Guru Pendamping di SMA Galuh Handayani Surabaya ... 114

3. Kegiatan Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 117

4. Materi Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 119

5. Strategi Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 120

6. Penilaian Pembelajaran di SMA Galuh Handayani ... 123

C. Problematika yang Dihadapi oleh Guru dalam Pembelajaran PAI bagi Siswa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya ... 125

1. Problem Materi... 125

2. Problem Prilaku ... 127

3. Problem Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ... 129

(15)

xiv

5. Problem Motivasi ... 131

D. Upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika Pembelajaran PAI bagi siswa Autis di SMA Galuh Handayani ... 133

1. Solusi Problem Materi ... 133

2. Solusi Problem Prilaku ... 135

3. Solusi Problem Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ... 137

4. Solusi Problem Konsentrasi ... 146

5. Solusi Problem Motivasi ... 152

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 154

B. Saran ... 157

DAFTAR PUSTAKA ... 158

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan mempunyai tanggung jawab besar untuk mencerdaskan

masyarakat bangsa ini. Tujuan pendidikan pada umumnya adalah

menyediakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk

mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal sehingga dapat

mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan

pribadinya dan kebutuhan masyarakat.1 Dalam UU No. 20 tahun 2003

disebutkan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi

warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.2

Hal ini jelas tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem

Pendidikan Nasional yang tertulis dalam pasal 5 ayat 1 dan 2 berbunyi; (ayat

1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh

pendidikan yang bermutu, (ayat 2) warga negara yang memiliki kelainan

fisik, emosional, mental intelektual, dan sosial berhak mendapatkan

pendidikan khusus. Anak autis merupakan anak yang berkebutuhan khusus

yang memiliki kelainan sosial. Isi yang telah disebutkan dalam

1

Utami Munandar, Kreatifitas dan Keberbakatan (Jakarta: Gramedia, 2002), 14.

2 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

(17)

2

Undang di atas menunjukan bahwa anak autis berhak mendapatkan hak yang

sama untuk dapat memperoleh pendidikan.3

Berikut ini beberapa fakta permasalahan yang akan dihadapi oleh

remaja autis. Masa remaja merupakan masa transisi antara anak-anak menjadi

orang tua. Pada masa ini, remaja seringkali menghadapi konflik, baik konflik

dalam diri sendiri maupun konflik dengan lingkungan seperti orangtua,

sekolah dan teman-temannya. Pada anak autis, konflik yang dihadapi saat

remaja bisa lebih pelik lagi karena memiliki hambatan dalam

mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya. Beberapa faktor penyebabnya

adalah karena mulai menyukai lawan jenis, memasuki masa puber dan muncul

dorongan seksual tapi tidak tahu cara menyampaikan atau mengatasinya. Tak

hanya itu, anak-anak autis di sekolah juga seringkali dijauhi oleh

teman-temannya padahal mereka juga ingin diajak main bersama. Bahkan, banyak

anak autis yang menjadi korban bullying oleh teman-teman sekolahnya.

Kondisi ini membuat remaja autis rentan mengalami depresi. Masa remaja

selalu punya masalah. Namun jika orangtua dan anak sudah terbangun

komunikasi yang baik sejak awal, biasanya gangguan anak autis yang dialami

saat remaja tidak terlalu mengkhawatirkan," kata Adriana S. Giananjar,

psikolog sekaligus pendiri sekolah khsuus anak autis 'Mandiga' dan dosen

Psikologi di Universitas Indonesia dalam acara Cares for Autism yang

3

(18)

3

diselenggarakan London School of Public Relation di Taman Menteng,

Jakarta.4

Selain itu permasalahan yang dihadapi oleh anak autis dalam usia

remaja yang mungkin dimulai 10-15 tahun yang ditandai dengan

permasalahan seputar Kemandirian, Identitas diri (perubahan fisik, hormon

dan sebagainya), Pergaulan sosial, Pendidikan seks, dan Tuntutan akademis

yang semakin tinggi.

Dan di usia 15 hingga 20 tahun, orang tua dari anak penyandang autis

mulai disibukkan dengan persiapan masa depan bagi anak terutama mengenai

kemandirian anak dari segi fisik, sosial maupun nafkah hidup (lapangan

kerja). Di usia ini, anak mulai semakin sadar bahwa dirinya berbeda dengan

teman-teman sebayanya. Norma-norma sosial tentang apa yang boleh

dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, juga merupakan salah satu isu

yang kuat terutama dari segi pendidikan seks.5

Upaya untuk memahami dan mengatasi masalah-masalahh siswa

autis di sekolah, tidak mungkin melihat permasalahan secara terpisah. Setiap

aspek saling berkaitan, dan biasanya saling tumpang tindih menjadi sebab

dan atau akibat. Seperti: gangguan perilaku umumnya disebabkan oleh

gangguan perkembangan neurologis, tapi bisa juga karena masalah frustrasi

dalam berkomunikasi. Pendidikan bagi anak autis, idealnya diberikan dalam

4

Putro Agus Harnowo, “Anak Autis Lebih Pelik dan Berat Hadapi Masa Remaja”, dalam http ://health.detik.com/read/2012/04/15/100023/1892704/763/anak – autis – lebih – pelik - dan-berat-hadapi-masa-remaja yang diterbitkan pada Minggu 15 April 2012 jam 10.00 WIB (05 Januari 2015).

5

(19)

4

bentuk sekelompok penanganan untuk membantu mereka mengatasi

kebutuhan khususnya. Di Amerika Serikat, banyak bentuk-bentuk pendidikan

tersedia, antara lain : a) Individual therapy, antara lain melalui penanganan di

tempat terapi atau di rumah (home-based therapy dan kemudian

homeschooling). Melalui penanganan one-on-one, anak belajar berbagai

konsep dasar dan belajar mengembangkan sikap mengikuti aturan yang ia

perlukan untuk berbaur dimasyarakat. b) Designated Autistic Classes.

Kelompok ini diperuntukkan untuk sekelompok anak yang semuanya autis,

belajar bersama-sama mengikuti jenis instruksi yang khas. Anak-anak ini

berada dalam kelompok yang kecil (1 - 3 anak). c) Ability Grouped Classes.

Anak-anak yang sudah dapat sudah ada respons terhadap pujian, dan ada

minat terhadap alat permainan; memerlukan jenis lingkungan yang

menyediakan teman sebaya yang secara sosial lebih baik meski juga memiliki

masalah perkembangan bahasa. d) Social Skills Development and Mixed

Disability Classes. Kelas ini terdiri atas anak dengan kebutuhan khusus,

tetapi tidak hanya anak autis. Biasanya anak autis berespons dengan baik bila

dikelompokkan dengan anak-anak Down Syndrome yang cenderung memiliki

ciri hyper-social (ketertarikan berlebihan untuk membina hubungan sosial

dengan orang lain). Ciri ini membuat mereka cenderung bertahan,

memerintah, dan berlari-lari di sekitar anak autis sekedar untuk mendapatkan

respons. Hal ini baik sekali bagi si anak autis.6

6

(20)

5

Karakteristik anak menurut pandangan beberapa ahli dalam bidang

pendidikan dan psikologi memandang periode usia anak-anak merupakan

periode yang penting yang perlu mendapat penanganan sedini mungkin.

Maria Montessori berpendapat bahwa usia 3 - 6 tahun sebagai periode

sensitive atau masa peka yaitu suatu periode di mana suatu fungsi tertentu

perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya.

Misalnya masa peka untuk berbicara.7

Kartini Kartono juga mengemukakan bahwa ciri khas anak masa

kanak-kanak adalah sebagai berikut: (1) bersifat egosentris naif, (2)

mempunyai relasi sosial dengan benda-benda dan manusia yang sifatnya

sederhana dan primitif, (3) kesatuan jasmani dan rohani yang hampir-hampir

tidak terpisahkan sebagai satu totalitas, dan (4) sikap hidup yang fisiognomis.

Kartini Kartono menjelaskan bahwa seorang anak yang egosentris

memandang dunia luar dari pandangannya sendiri, sesuai dengan pengetahuan

dan pemahamannya sendiri. Relasi sosial yang primitif merupakan akibat dari

sifat egosentris yang naïf tersebut. Anak hanya memiliki minat terhadap

benda-benda dan peristiwa yang sesuai dengan daya fantasinya. Dengan kata

lain anak membangun dunianya dengan khayalan dan keinginannya. Kesatuan

jasmani dan rohani yang tidak terpisahkan, maksudnya adalah anak belum

dapat membedakan dunia batiniah dengan lahiriah. Anak bersikap

fisiognomis terhadap dunianya, artinya secara langsung anak memberikan

atribut pada setiap penghayatannya. Anak tidak bisa membedakan benda

7

(21)

6

hidup dengan benda mati. Setiap benda dianggapnya berjiwa seperti dirinya,

oleh karena itu anak sering bercakap-cakap dengan bonekanya, dengan

kucing, dengan kelinci dan sebagainya.8

Pertumbuhan fisik anak usia 4-5 masih memerlukan aktivitas yang

banyak. Kebutuhan anak untuk melakukan berbagai aktivitas sangat

diperlukan, baik untuk pengembangan otot-otot kecil maupun otot-otot

besar.

Aspek intelektual perkembangannya diawali dengan perkembangan

kemampuan mengamati, melihat hubungan dan memecahkan masalah

sederhana. Kemudian berkembang ke arah pemahaman dan pemecahan

masalah yang lebih rumit. Aspek ini berkembang pesat pada masa anak mulai

masuk sekolah dasar (usia 6-7 tahun).

Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak (usia 3-5

tahun). Anak senang bermain bersama teman sebayanya. Hubungan

persebayaan ini berjalan terus dan agak pesat terjadi pada masa sekolah (usia

11-12 tahun). Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak berlangsung

melalui hubungan antar teman dalam berbagai bentuk permainan.9

Perkembangan remaja merupakan suatu perubahan karakter dari masa

anak-anak menuju pada era kedewasaan. Pribadi yang tumbuh pada masa

remaja ini disebut sebagai storm dan stess atau badai dan topan dalam

kehidupan perasaan dan emosi remaja awal dilanda pergolakan, sehingga

selalu mengalami perubahan dalam perbuatannya, dalam mengerjakan

8

Kartini Kartono, Psikologi Anak (Bandung: Alumni, 1987), 113.

9

(22)

7

sesuatu, misalnya belajar mula-mula bergairah dan tiba-tiba jadi enggan,

malas.

Masa remaja sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam

sikap dan prilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik.

Ada lima perubahan yang sama yang hampir bersifat universal. Peratama,

meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan

fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh, minat, dan peran

yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan yang nantinya akan

menimbulkan masalah baru. Ketiga, dengan perubahan minat dan pola prilaku

maka nilai-nilai juga berubah, apa yang pada masa kanak-kanak dianggap

penting sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi. Keempat,

sebagian besar remaja bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan, mereka

menginginkan dan menuntut kebiasaan tetapi mereka sering takut

bertanggung jawab akan akibatnya.10

Perkembangan Psikologis pada masa remaja yang merupakan masa

transisi dari periode anak ke dewasa menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:

Pertama, pemekaran diri sendiri (extension of the self) yang ditandai dengan

kemampuan seorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian

dari diri sendiri juga, seperti mencintai orang lain dan alam sekitarnya.

Kedua, kemampuan untuk melihat diri sendiri secara obyektif (self

objectivication) ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai wawasan

tentang diri sendiri (self insight) dan kemampuan untuk menangkap humor

10

(23)

8

(sense of humor) terrmasuk yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran

humor. Ketiga, memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life).

Ia tahu kedudukannnya dalam masyarakat, ia paham bagaimana seharusnya ia

bertingkah laku dalam kedudukan tersebut. Dan ia berusaha mencari jalannya

sendiri menuju sasaran yang ia tetapkan sendiri. Orang seperti ini tidak lagi

mudah terpengaruh dan pendapatnya serta sikap-sikapnya cukup jelas dan

tegas.

Dari berbagai karakter dan ciri-ciri psikologis remaja tadi, satu hal

yang paling menonjol dari seorang remaja adalah adanya konsep sikap yang

egois sebagai wujud perkembangan berpikir dan bersikap dalam

memperjuangkan kemandirian sikap (the strike of autonomy). Dari konsep ini

maka seringkali perilaku remaja sering menunjukkan sikap-sikap kritis dan

berlawanan dengan perilaku orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitarnya.11

Autisme atau juga disebut anak dengan kebutuhan khusus merupakan

suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi,

interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Anak autisme mempunyai masalah

atau gangguan pada sensoris, pola bermain, perilaku dan emosi sehingga

dalam dunia pendidikan, anak autisme atau anak dengan kebutuhan khusus

ini juga berhak mendapatkan suatu layanan pendidikan yang layak dengan

anak-anak normal lainnya.

Penyebab autis sampai sekarang belum dapat ditentukan secara pasti.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa terlalu banyak vaksin hepatitis B

11

(24)

9

yang bisa mengakibatkan anak mengidap penyakit autis hal ini dikarenakan

vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal. Perdebatan yang terjadi

akhir-akhir ini berkisaran pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan

oleh vaksin anak. Namun beberapa ahlijuga melakukan penelitian dan

menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan.

Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika menyatakan bahwa korelasi antara

autis dan cacat lahir bisa mengakibatkan kerusakan jaringan otak dan itu

dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin.12

Secara umum ada beberapa gejala autism yang akan tampak semakin

jelas saat anak mencapai usia 3 tahun, yaitu: pertama, gangguan dalam

komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat berbicara. Kedua,

gangguan dalam interaksi sosial seperti menghindari kontak mata. Ketiga,

gangguan pada bidang prilaku yang terlihat dan adanya prilaku yang

berlebihan “excessive” dan kekurangan “deficient” seperti pandangan mata

kosong. Keempat, gangguan pada bidang perasaan atau emosi seperti tertawa

atau marah-marah sendri tanpa sebab.13

Anak dengan gangguan perkembangan sejak lahir dikenal dengan

autism. Maston mengemukakan bahwa autis merupakan gangguan

perkembangan pervasive, yaitu gangguan perkembangan organik dan bersifat

12

Huzaemah, Kenali Autisme Sejak Dini (Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2010), 18-19.

13

(25)

10

berat yang menyebabkan anak mengalami kelainan dalam aspek sosial,

bahasa dan kecerdasan.14

Penyandang autisma seakan-akan hidup di dunianya sendiri, istilah

autisma baru diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner. Anak autisma

adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang antara lain

mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan

orang lain.15

Kelainan pada aspek sosial menunjukkan kegagalan dalam membina

hubungan interpersonal, yang ditandai dengan kurangnya respon atau minat

pada orang lain atau pada anak-anak yang ada di sekitarnya, asyik dengan diri

sendiri, perhatianya tertuju pada satu objek yang dimainkanya, dan tidak

peduli dengan kejadian-kejadian di sekitarnya. Anak autisma juga kurang

mampu melakukan kontak mata dengan ibu dan ayahnya. Jika dia dipanggil

seolah-olah tidak mendengarkan, bila anak diajak bicara seringkali dia tidak

menatap orang yang mengajak bicara. Dan kurang mampu menunjukkan

eksperi wajah yang wajar seperti tertawa atau tersenyum ketika digelitik atau

diajak bermain oleh orang lain.16

Slamet Santosa menyatakan bahwa : autis adalah suatu sindroma

gangguan perkembangan anak yang sangat kompleks dan berat dengan

14

Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutugan Khusus (Jakarta: Alfabeta 2006), 42.

15

Y. Handojo, Autisma Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar Anak Normal Autis dan Perilaku Lain (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2003), 11.

16

(26)

11

penyebab yang sangat bervariasi serta gejala klinik yang biasanya muncul

pada tiga tahun pertama dari kehidupan anak tersebut.17

Ada beberapa permasalahan yang dialami oleh anak autis yaitu: Anak

autis memiliki hambatan kualitatif dalam interaksi sosial artinya bahwa anak

autistic memiliki hambatan dalam kualitas berinteraksi dengan individu di

sekitar lingkungannya, seperti anak-anak autis sering terlihat menarik diri,

acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri, menunjukkan perilaku yang

tidak hangat, tidak ada kontak mata dengan orang lain dan bagi mereka yang

keterlekatannya terhadap orang tua tinggi, anak akan merasa cemas apabila

ditinggalkan oleh orang tuanya.

Lorna Wing menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah

pada anak autis yaitu:18

1. Masalah dalam memahami lingkungan (problem in understanding the

world)

a. Respon terhadap suara yang tidak biasa (unusually responses to

sounds). Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung

mengabaikan suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada

yang menjatuhkan benda di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat

tertarik pada beberapa suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak

autis yang sangat tergangu oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan

menutup telinganya.

17

Slamet Santosa, Psikologi Klinis (Jakarta : UI Press, 2003), 66.

18

(27)

12

b. Sulit dalam memahami pembicaraan (dificulties in understanding

speech). Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaraan

memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar

peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang

usia lima tahun banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam

memahami pembicaraan.

c. Kesulitan ketika bercakap-cakap (difiltuties when talking). Beberpa

anak autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk

mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata

yang diucapkan orang lain, mereka memiliki kesulitan dalam

mempergunakan kata sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata

secara fleksibel atau mengungkapkan ide.

d. Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (poor pronunciation and

voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam

membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan

dengan kata-kata yang hampir sama, memiliki kesulitan untuk

mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka biasanya memiliki

kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness) suara.

e. Masalah dalam memahami benda yang dilihat (problems in

understanding things that are seen). Beberapa anak autis sangat

sensitif terhadap cahaya yang sangat terang, seperti cahaya lampu

kamera (blitz), anak autis mengenali orang atau benda dengan

(28)

13

f. Masalah dalam pemahaman gerak isarat (problem in understanding

gesturs). Anak autis memiliki masalah dalam menggunakan bahasa

komunikasi; seperti gerakan isarat, gerakan tubuh, ekspresi wajah.

g. Indra peraba, perasa dan pembau (the senses of touch, taste and

smell). Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya melalui indera

peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak sensitif

terhadap dingin dan sakit.

h. Gerakan tubuh yang tidak biasa (unusually bodily movement). Ada

gerakan-gerakan yang dilakukan anak autis yang tidak biasa dilakukan

oleh anak-anak yang normal seperti mengepak-ngepakan tangannya,

meloncat-loncat, dan menyeringai.

i. Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih (clumsiness in skilled

movements). Beberapa anak autis, ketika berjalan nampak anggun,

mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya

lebih kaku dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam

keseimbangan dan biasanya mereka tidak menikmati memanjat.

Mereka sangat kurang dalam koordinasi dalam berjalan dan berlari

atau sebaliknya.

2. Masalah gangguan perilaku dan emosi (dificult behaviour and emotional

problems).

a. Sikap menyendiri dan menarik diri (aloofness and withdrawal).

Banyak anak autis yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada.

(29)

14

mendengar ketika ada orang yang berbicara padanya, ekspresi

mukanya kosong.

b. Menentang perubahan (resistance to change). Banyak anak autis yang

menuntut pengulangan rutinitas yang sama. Beberapa anak autis

memiliki rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi

sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang panjang.

c. Ketakutan khusus (special fears). Anak-anak autis tidak menyadari

bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami

kemungkinan konsekuensinya.

d. Prilaku yang memalukan secara sosial (socially embarrassing

behaviour). Pemahaman anak autis terhadap kata-kata terbatas dan

secara umum tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara

yang kurang dapat diterima secara sosial. anak-anak autis tidak malu

untuk berteriak di tempat umum atau berteriak dengan keras di

senjang jalan.

e. Ketidakmampuan untuk bermain (inability to play). Banyak anak

autis bermain dengan air, pasir atau lumpur selam berjam-jam.

Mereka tidak dapat bermain pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam

bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam

(30)

15

Robin L. Gabriels dalam bukunya menjelaskan tentang problem siswa

autis yang akan dihadapi pada saat usia sekolah dan remaja. Beberapa

permasalahnnya yaitu19

1. Communication Abilities

Mengajari siswa autis untuk berkomunikasi sangatlah berdampak

besar pada dalam dirinya. Siswa autis dimungkinkan ada yang kurang

dalam memahami bahasa dan ada yang sangat cepat dalam

mengembangkan bahasa yang diajarkan oleh gurunya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sigman dan Ruskin, mereka

membagi anak autis dalam 2 grup (pertama grup umur 3 tahun 11 bulan,

grup kedua 12 tahun 10 bulan). Grup pertama masih bisa berkomunikasi

dalam 18 bulan dari umurnya dan grup kedua masih bisa berkomunikasi

setelah umur 8-9 tahun. Dan dalam penelitiannya pada autis berumur

18-39 tahun mereka mendiagnosis bahwa mereka masih kesulitan dan lemah

pada saat berkomunikasi dan masalah ini akan terus berlanjut sampai

remaja.

2. Social Skills

Lemahnya kemampuan remaja autis dalam berinteraksi sosial

mempunyai dampak yang sangat beragam seperti kurangnya kualitas

berinteraksi dengan sesama temannya dan kelemahan ini kedepannya

akan berdampak pada kemampuannya untuk bisa mencapai dan

mendapatkan informasi tambahan dalam kehidupan sosialnya.

19

(31)

16

Kurangnya kemampuan bersosialisasi ini berdampak pada remaja

autis tentang kurang bisanya bersikap bijaksana dengan sesama,

rendahnya sifat sosial dan rendahnya respot remaja autis terhadap sesama.

3. Behavior Problems

Problem-problem yang dilakukan oleh remaja autis meliputi sifat

marah, merusak sesuatu, dan agresif kepada dirinya maupun orang lain.

Sifat-sifat di atas ini mempunyai beberapa rintangan yang akan dialami

oleh penghuni rumah, sekolah, dan grup belajar.

Problem tingkah laku remaja autis ini bisa menjadi sumber yang

sangat signifikan terhadap perilaku stress yang dihadapi oleh keluarga

autis, pengasuh anak, guru autis dan kesetresan ini akan menjadi luas

seiring dengan bertambahnya umur, kekuatan, dan besar anak autis.

4. Adaptive Living Skills

Ada beberapa fakta yang terdapat pada beberapa remaja autis yaitu

terdapatnya kemampuan penyesuaian diri pada remaja autis untuk

menolak atau tidak adanya sifat adaptasi sama sekali pada diri remaja

autis.

Kurangnya kemajuan dalam beradaptasi ini bisa memperburuk

keadaannya. Oleh karena itu, anggota keluarga autis harus membantu dan

mendukung guna untuk memaksimalkan dan menyeimbangkan antara

sifat bebas dan ketergantungan yang dihadapi oleh remaja autis.

Pendidikan inklusif merupakan sebuah sistem pendidikan yang

(32)

17

tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Pendidikan

inklusif juga merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang

memberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki kelainan dan

memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti

pendidikan atau pembelajaran dalam suatu lingkungan pendidikan secara

bersama-sama peserta didik pada umumnya. Di samping itu pendidikan

inklussif juga melibatkan orang tua dalam berbagai kesempatan kegiatan

pendidikan terutama dalam proses perencanaan, dalam proses belajar

mengajar dan pada saat proses pembelajaran guru di kelas yang dipusatkan

pada siswanya.20

Fakta di atas menunjukkan bahwa pendidikan untuk siswa autis

masih membutuhkan banyak perhatian, baik dari segi kurikulum, pendidik,

materi, dan evaluasinya. Pendidikan Agama Islam untuk anak autis dalam

pembelajarannya harus dipersiapkan secara matang agar dalam proses

pembelajarannya bisa maksimal dan membuahkan hasil.

Supaya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bisa

maksimal dan membuahkan hasil maka kita harus mengetahui problem yang

terdapat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada remaja autis

yaitu: Problem bisa berasal dari siswa, dari guru, kurangnya kreatifitas guru,

tipe anak yang berbeda-beda, kesulitan dalam menjelaskan materi yang

abstrak serta keterbatasan sarana yang ada di sekolah.

20

(33)

18

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada siswa autis memerlukan

beberapa hal yang perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan keadaan peserta

didik. Oleh karena itu, masing-masing komponen tidak boleh berjalan secara

terpisah, tetapi harus berjalan secara beriringan, sehingga diperlukan

pengelolaan pengajaran yang baik yang telah dipertimbangkan dan dirancang

secara sistematis. Hal ini merupakan sebagian dari solusi untuk mengurangi

dan mengatasi segala problematika yang melanda dunia pendidikan, terutama

dunia pendidikan bagi anak autis yang membutuhkan perhatian khusus.

Berdasarkan rasionalitas dan realitas di atas, peneliti tertarik untuk

meneliti fakta yang berkembang tentang problematika Pendidikan Agama

Islam pada siswa autis dan solusinya. Peneliti mengambil judul penelitian

sebagai berikut: problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi

siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya.

B. Rumusan Masalah

Dari paparan latar belakang masalah di atas, maka fokus penelitian

ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa

autis di SMA Galuh Handayani ?

2. Apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran

Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani ?

3. Apa upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi

problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di

(34)

19

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus masalah yang telah disebutkan di atas, maka

penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mendiskripsikan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi

siswa autis di SMA Galuh Handayani.

2. Mengidentifikasi apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam

pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh

Handayani.

3. Menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi

problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di

SMA Galuh Handayani.

D. Kegunaan Penelitian

Selain beberapa tujuan di atas, penelitian ini diharapkan memiliki

kegunaan sebagai berikut:

1. Secara akademis, Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu karya

akademik yang dapat melengkapi literartur yang menjelaskan tentang

siswa autis melalui judul problematika pembelajaran Pendidikan Agama

Islam bagi siswa autis (studi kasus di SMA Galuh Handayani Surabaya).

2. Secara teoritis, Data-data yang dihasilkan dan dikumpulkan dalam

penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan inklusi

khususnya bagi SMA Galuh Handayani serta dapat digunakan sebagai

(35)

20

saja yang berperan aktif dalam dunia Pendidikan Agama Islam siswa

inklusi.

E. Kerangka Konseptual

1. Pendidikan Agama Islam

Sebelum melangkah lebih jauh lagi tentang pembahasan

Pendidikan Agama Islam, maka penulis akan memaparkan beberapa

definisi pendidikan antara lain :

Pendidikan secara garis besar menurut UU RI No. 2 tahun 1989,

Bab I pasal 1 yaitu “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan

peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan

bagi peranannya di masa yang akan datang”.21

Menurut pendapatnya Amin, bahwasannya Pendidikan adalah suatu

usaha sadar dan teratur serta sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang

yang bertanggung jawab, untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat

dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. Dengan kata lain bahwa

pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak,

dalam pertumbuhan jasmani maupun rohani untuk mencapai tingkat

dewasa.22

Adapun pengertian pendidikan menurut Oemar Hamalik yakni

“Suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu

menguasai diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan

demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang

21

Depdikbud, Sistem Pendidikan Nasional, UU RI No. 2 Th. 1989 (Jakarta: PT. Armas Duta Jaya, 1989), 20.

22

(36)

21

memungkinkannya untuk berfungsi secara adekwat dalam kehidupan masyarakat”.23

Adapun pengertian Pendidikan Agama Islam secara garis besar

akan dikemukakan oleh beberapa ahli di bawah ini:

Menurut Arifin dalam buku Filsafat Pendidikan Islam menyatakan

bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha mengubah tingkah laku

individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya

dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan yang

dilandasi dengan nilai-nilai Islami.24

Dari pendapatnya Ahmad D. Marimba, Pendidikan Agama Islam

adalah “Bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama

Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut Islam”.25

Sedangkan menurut Zakiah Daradjat dkk, pengertian Pendidikan

Agama Islam adalah “Pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama

Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar

nantinya, setelah selesai dari pendidikan mereka dapat memahami,

menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah

diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu

sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan

hidup di dunia dan di akhirat kelak”.26

23

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 3.

24

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 14.

25

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung,: Al-Ma'arif, 1989), 23.

26

(37)

22

Pendidikan Agama Islam memiliki pengertian bahwa Pendidikan

Agama Islam dipandang dari sudut yang berbeda-beda. Perbedaan sudut

pandang disebabkan adanya pemahaman tertentu yang disesuaikan dengan

ruang lingkup yang menjadi pokok ajarannya, walaupun pada dasarnya

ada kesamaan pengertian yang mendasar. Hal ini sesuai dengan apa yang

telah diungkapkan oleh Muhaimin bahwa, Pendidikan Agama Islam

adalah: “Suatu usaha membelajarkan peserta didik agar dapat belajar, mau

belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama Islam, baik

untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang benar

maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan”.27

Bardasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat dimengerti

bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu ikhtiyar yang dilakukan oleh

pendidik secara sadar, sistematis, dan pragmatis untuk membimbing dan

mengarahkan peserta didik agar mereka dapat hidup sesuai dengan ajaran

agama Islam. Untuk itu, Pendidikan Agama Islam bukan hanya merupakan

materi yang harus dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi dituntut setelah

mendapatkan Pendidikan Agama Islam kelak untuk mempersiapkan

peserta didik mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari

berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam.

2. Autis

Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia modern, “autismetik”

yaitu terganggu jika berhubungan dengan orang lain. “autisme” yaitu

27

(38)

23

gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat

berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan

keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu.28

Dari pendapat Y. Handojo, pengertian autisme berasal dari kata

“Auto” yang berarti sendiri, yaitu anak yang menyandang autisme

seakan-akan hidup di dunianya sendiri.29

Adapun menurut David Smith, “autismem” adalah suatu kelainan

ketidakmampuan interaksi komunikasi dan sosial.30

Menurut Badrut Tamam, anak autisme adalah anak yang dalam

proses pertumbuhan dan perkembangannya secara signifikan (bermakna)

mengalami kelainan atau penyimpangan, kelainan itu bisa terjadi pada

fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional.31

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pengertian

autisme adalah nama dari sekelompok kelainan kebiasaan atau tingkah

laku dengan ciri-ciri penyimpangan interaksi sosial, khususnya bahasa

yang diucapkannya, kontak mata, bahasa tubuh dan pendekatan sosial,

terutama kekurangan hubungan sosial dengan orang lain.

3. SMA Galuh Handayani

Sekolah Galuh Handayani berdiri pada tahun pelajaran 1995-1996.

Pada awalnya, Sekolah Galuh Handayani fokus dalam penyelenggaraan

pendidikan formal tingkat SD yang pada saat itu mengkhususkan diri pada

28

Tim bahasa PAH, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern (Surabaya: CV. Pustaka Agung Harapan, 2003), 59.

29

Handojo, Autisma, 12.

30

J. David Smith, Inklusi Sekolah Ramah Untuk Semua (Bandung: Nuansa, 2006), 150.

31

(39)

24

penanganan anak Lambat belajar (Slow Learner) kategori IQ 80-99. Anak dengan kategori Slow Learner seringkali menghadapi problema belajar

serius, terkait denga kondisi mentalitasnya. Tatkala berada di sekolah

umum mereka termaginalisasi, sementara ketika bersekolah di Sekolah

Luar Biasa (SLB) juga mengalami kendala.

Akibatnya anak-anak dengan kategori ini sulit terserap secara normal

dalam setiap jenis sekolah. Wajar jika kemudian banyak dari mereka

mengalami kesulitan belajar, maupun kesulitan beradaptasi sehingga harus

pindah sekolah. Sekolah Galuh Handayani terinspirasi dari problema anak

Slow Learner tersebut. Pada awal berdirinya, kebanyakan siswa

merupakan siswa pindahan dari SD negeri/swasta di Surabaya. Kemudian

pada tahun pelajaran 1996-1997 menyelenggarakan pendidikan TK dan

pada tahun pelajaran 1997-1998 menyelenggaran pendidikan formal

tingkat SMP, dan selanjutnya pada tahun pelajaran 2001-2002

menyelenggarakan pendidikan formal tingkat SMA. Saat sekarang sedang

merancang program Postschool Transtition.

SMA Galuh Handayani merupakan sekolah untuk anak

berkebutuhan khusus terletak di Jl. Manyar Sambongan 87-89 Surabaya

Jawa Timur.

Visi sekolah galuh handayani yaitu Turut serta berpartisipasi

membangun negara melalui pendidikan bagi generasi penerus bangsa

tanpa diskriminasi guna meningkatkan derajat kemuliaan manusia yang

(40)

25

Misi sekolah galuh handayani yaitu Meningkatkan ketaqwaan

kepada Tuhan Yang Maha Esa, Meningkat kecerdasan dan kemampuan

siswa, Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan agar siswa

mandiri, Memberikan layanan dan kegiatan bagi kesehatan jasmani dan

rohani siswa, Memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan

siswa, Memberikan layanan pendidikan yang ramah dan penuh kasih

sayang serta suritauladan dalam kehidupan sehari-hari dan Turut

membantu menekan angka putus sekolah serta mensukseskan program

wajib belajar.

F. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelusuran terhadap penelitian-penelitian yang telah

ada, penulis menemukan beberapa karya ilmiah yang berkaitan dengan

penelitian ini yaitu

Tesis M.K. Syarif Hidayatulloh, mahasiswa pascasarjana Prodi

Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

tahun 2008 yang berjudul Pendidikan Inklusi Dan Efektifitasnya Dalam

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Berkebutuhan Khusus Di

Sekolah Dasar Negeri Inklusi Klampis-Ngasem I Surabaya. Penelitian ini

memfokuskan pada pembelajaran pendidika agama Islam yang diberikan

kepada anak berkebutuhan khusus. Tesis ini membahas tentang konsep

pembelajaran PAI menjadi beberapa kelas, yaitu kelas reguler (inklusi penuh),

kelas pendampingan, kelas remidi, kelas praklasikal, dan kelas khusus.

(41)

26

yang disesuaikan dengan kondisi dan tingkat kebutuhan Anak Berkebutuhan

Khusus (ABK) dan keefektifitasan pembelajaran PAI disini ditinjau dalam

tiga aspek, yaitu: input, proses dan output.

Tesis Riya Nuryana, mahasiswa pascasarjana prodi ilmu keislaman

konsentrasi pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Surabaya tahun 2010 yang berjudul Menggali Nilai-Nilai Islami Dalam

Manajemen Pendidikan Inklusi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Abk) Di

Sdn Babatan V Surabaya. Penelitian ini memfokuskan pada pembinaan

nilai-nilai Islami untuk anak berkebutuhan khusus. Tesis ini membahas tentang

pembinaan tenaga kependidikan proram inklusi yang mengandung nilai

Amanah (tanggung jawab), Keadilan, Rela berkorban, Mengamalkan ilmu,

Kejujuran, Tolong-menolong (kerjasama) dalam kebaikan, Keikhlasan dalam

mendidik, dan Berikhtiar. Dalam pengembangan pembelajaran PAI terdapat

nilai-nilai Islami yang dapat diambil, yaitu Amanah (tanggung jawab) dan

keadilan, Saling mengasihi, menyayangi dan menghargai, Tidak

menggunakan paksaan dalam mengajar, Tolong-menolong (kerjasama) dalam

kebaikan, Sabar dan ikhlas dalam mendidik, dan Menguasai kemarahan dan

memaafkan sesama manusia.

Tesis Zumrotul Mashfiyah, mahasiswi pascasarjana prodi Pendidikan

Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tahun 2013

yang berjudul Implementasi Pembelajaran al-Qur’an pada anak Autis Melalui

(42)

27

ini membahas tentang proses pembelajaran al Qur’an melalui media visual

pada anak autis di pendidikan khusus negeri Seduri.

Desertasi Zumratul Mukaffah, mahasiswi program doktor prodi

pendidikan Agam Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

tahun 2012 dengan judul Pendidikan Akhlak Multikulural (Studi Kasus di

Sekolah Dasar Inklusif Galuh Handayaini). Desertasi ini memaparkan tentang

pendidikan akhlak multicultural yang diselenggarakan di SD Inklusif Galuh

Handayani dan model dalam pendidikan akhlak multikultural ini didesain

melalui perencanaan, pelaksanaan dan Evaluasi. Dalam penelitian ini juga

menjelaskan tentang kurikulum formal yang didesain dengan empat model,

yaitu duplikasi, modifikasi, substitusi dan omisi.

Tesis Muliatul Maghfiroh, mahasiswi pascasarjana konsentrasi

penididikan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tahun

2013 yang berjudul Pengembangan Kurikulum Model DMSO (Duplikasi

Modifikasi, Substitusi dan Omisi) dan Implementasinya dalam Pembelajaran

PAI di SMP Galuh Handayani (Penyelenggara Pendidikan Inklusif).

Penelitian ini menitik beratkan pada pedoman pengembangan kurikulum

dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi yaitu dengan menggunakan model

kurikulum DMSO dan adanya keterkaitan dengan pengembangan nilai-nilai

(43)

28

G. Sistematika Pembahasan

Laporan hasi penelitian ini akan menggunakan sistematika sebagai

berikut:

Bab I: Pendahuluan, berisi latar belakang mengenai Pendidikan

Agama Islam siswa autis. Sehingga dalam latar belakang ini akan bisa dilihat

secara spesifik guna untuk memberikan panduan yang mengarahkan

penelitian secara logis dan sitematis.

Bab II: Landasan Teori teori yang berkaitan dengan permasalahan

yang terdapat dalam tesis ini yaitu Tinjauan tentang Autis, Tinjauan tentang

Problematika Pembelajaran Remaja Autis dan Tinjauan tentang Pendidikan

Agama Islam.

Bab III: Metode penelitian.

Bab IV: Temuan Penelitian, dalam temuan penelitian ini akan

membahas tentang proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa

autis, apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran

Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis dan upaya-upaya yang dilakukan

oleh guru untuk mengatasi problematika pembelajaran Pendidikan Agama

Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya.

BAB V: Penutup, dalam pembahasan ini penulis akan gambarkan

(44)

154 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka tesis ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Proses Pembelajaran PAI bagi Siswa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya (SMA GHS)

Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam di SMA Galuh Handayani Surabaya yaitu menggunakan model pembelajaran kelas regular penuh atau inklusi penuh. Model pembelajaran kelas ini ditujukan kepada anak berkebutuhan khusus atau anak autis yang belajar bersama dengan anak tanpa berkebutuhan khusus sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama. Pembelajaran dengan model seperti ini dilakukan oleh dua orang guru, guru pertama yaitu guru mata pelajaran dan guru kedua yaitu guru kelas, kedua guru ini saling membantu satu sama lain. Untuk pendampingan siswa autis ini bisa dengan menggunakan guru pendamping atau yang biasa disebut dengan shadow teacher atau guru pendamping yang mana guru ini hanya diperuntukkan untuk siswa

autis yang tergolong berat, karena dalam model pembelajaran kelas regular

penuh atau kelas inklusi penuh ini tidak terdapat siswa autis yang

tergolong berat maka untuk guru pendamping ini ditiadakan dan hanya

(45)

155

2. Problematika yang Dihadapi oleh Guru dalam Pembelajaran PAI bagi Siswa Autis di SMA Galuh Handayani Surabaya

(46)

156

sungguh-sungguh tentang apa yang telah diajarkan guru Pendidikan Agama Islam.

3. Upaya-upaya yang Dilakukan oleh Guru untuk Mengatasi Problematika Pembelajaran PAI bagi siswa Autis di SMA Galuh Handayani

Upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa autis di SMA Galuh Handayani Surabaya yaitu pertama tentang solusi problem materi, guru

menyederhanakan materi pembelajaran PAI yang terdapat di buku

pelajaran kemudian ditulis ulang di papan tulis oleh guru dengan

bahasanya sendiri yang mana bahasa itu hasil dari rangkuman atau

kesimpulan dari materi pelajaran PAI sehingga para siswa bisa lebih

mudah untuk memahami apa yang akan dijelaskan oleh gurunya saat

semua siswa telah selesai menulis. Kedua solusi problem prilaku, guru lebih banyak melakukan kegiatan membimbing dengan pendekatan

interaksi antara siswa dan guru sehingga guru PAI bisa mengidentifikasi

apa saja kekurangan yang dihadapi oleh siswa autis. Ketiga solusi problem

(47)

157

siswa autis itu seperti siswa normal pada umumnya dengan menerima semua kekurangannya sehingga dengan kekurangannya itu para guru bisa membimbing siswa autis ke arah yang lebih baik.

B. Saran

Menurut hasil yang penulis peroleh dalam penelitian ini, maka penulis

akan memberikan saran sebagai berikut :

1. Kepada kepala sekolah SMA Galuh Handayani Surabaya, agar lebih

meningkatkan bimbingan yang dilakukan oleh psikolog atau terapis seperti

terapi edukatif, konsentrasi dan komunikasi, selain itu psikolog juga bisa

memberi terapi yang khusus berkenaan dengan praktek pembelajaran

Pendidikan Agama Islam karena untuk terapi yang berhubungan khusus

dengan Pendidikan Agama Islam belum ada.

2. Kepada guru Pendidikan Agama Islam, diharapkan dapat menambah alat

peraga dan praktik yang digunakan dalam pembelajaran dan juga

memperbaiki proses pembuatan perangkat pembelajaran yang kesemuanya

harus sudah disiapkan sebelum pelajaran dimulai lebih-lebih sebelum

(48)

158

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbayati, Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta, 1991.

Ainurrahman, Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabet, 2010.

Ali, Hamdani, Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang, 1987.

Amin, Pengantar Ilmu Pendidikan. Pasuruan: Garuda Buana Indah, 1992.

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1993.

Arifin, Zaenal, Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2010.

Arikuntono, Suharsimi, Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada, 2001.

Arikuntono, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

PT Rineka Cipta, 2010.

Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran. Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada, 2007.

Asnawir, Basyirudin Usman. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

B, Siegel, The World of the Autistic Child. New York: Oxford University Press, 1996.

Budiman, Melly, Gangguan Perkembangan pada Anak. Jakarta: Yayasan Autism Indonesia, 1997.

Daradjat, Zakiah, dkk, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2000.

Daradjat, Zakiah,dkk. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi

Aksara, 2008.

Delphie, Bandi, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Refika

Aditama, 2006.

Depdikbud, Sistem Pendidikan Nasional, UU RI No. 2 Th. 1989. Jakarta: PT.

(49)

159

Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya,

2012.

Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Manajemen dan

Pembelajaran Sekolah Inklusif. Jakarta: Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional, 2010.

Faisal, Sanapiah, Format-Format Penelitian Sosial Dasar dan Aplikasi. Jakarta:

PT Raja Grafindo Persada, 1995.

Gabriels, Robin L. dan Dina E. Hill, Growing Up with Autis; Working with

School-Age Children and Adolescent. New York: The Guliford Press, 2007.

Gafar, Irfan Abdul dan Muhammad Jamil, Re-Formulasi Rancangan

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2003.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research. Yogyakarta: UGM Press, 2000.

Hadis, Abdul, Pendidikan Anak Berkebutugan Khusus. Jakarta: Alfabeta 2006.

Halgin, Richard P., Autism from Theoritical Underestanding to Educational

Interventation. London: Whure Publisher Ltd, 1998.

Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Handojo, Y., Autisma Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar

Anak Normal Autis dan Perilaku Lain. Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2003.

Harnowo, Putro Agus, “Anak Autis Lebih Pelik dan Berat Hadapi Masa

Remaja”, dalam http ://health. Detik .com /read/ 2012 /04 /15 /100023 /1892704

/763/anak – autis – lebih – pelik - dan-berat-hadapi-masa-remaja yang diterbitkan

pada Minggu 15 April 2012 jam 10.00 WIB (05 Januari 2015).

Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan, Terj. Istiwidayanti dan

Soedjarwo. Jakarta: Erlangga, tth.

Hurlock, Elizabeth. B., Child Development. New York: Mc. Graw Hill, Inc,

1978.

(50)

160

Idrus, Muhammad, Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Erlangga, 2009.

Kartono, Kartini, Psikologi Anak. Bandung: Alumni, 1987.

Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.

Majid, Abdul, Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2013.

Maliki, Zainuddin, Narasi Agung. Surabaya: Lembaga Agama dan Masyarakat,

2003.

Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

2005.

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara,

1999.

Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung,: Al-Ma'arif, 1989.

Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosda

Karya, 2009.

Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Citra Media, 1996.

Muhaimin, Paradigma Pengertian Pendidikan Islam. Bandung: PT.Remaja

Rosdakarya, 2004.

Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

Rosdakarya, 2008.

Nahlawi (al), Abdurrahman, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam.

Bandung: CV. Diponegoro, 1992.

(51)

161

Pamoedji, Gayatri, 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme. Jakarta:

Yayasan MPATI Masyarakat Peduli Autis Indonesia, 2010.

Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktek. Bandung: Remadja Karya, 1985.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Riya>d}, Sa’ad, Al- T{ifl al-Tawh}idy: Asra>r al-T{ifl al-Dha>tawy> wa kayfa Nataa<’mal Maa’hu. Mesir: Da>r al-Qahirah lilja>mia>’t, 2008.

Rosyada, Dede, Paradigama Pendidikan Demokratis. Jakarta: Prenada Media,

2004.

Rustamadji, Bugi dan Sri Sudaryati, Suka Duka Orang Tua Penyandang Autis.

Yogyakarta: Kosudgama Press, 2008.

Safaria, Trianto, Autisme. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005.

Salim, Agus dan Ali Formen, Pengantar Berfikir Kualitatif Teori dan Pradigma

Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Salim, Agus, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana, 2009.

Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008.

Santosa, Slamet, Psikologi Klinis. Jakarta : UI Press, 2003.

Sarwono, Sarlito Wirawan, Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindopersada.

Smith, J. David, Inklusi Sekolah Ramah Untuk Semua. Bandung: Nuansa, 2006.

Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja

(52)

162

Sunu, Christopeh, Unlocking Autism. Yogyakarta : Lintang terbit, 2012.

Tamam, Badrut, Pelita Jukbil Untuk Anak Autis. Jawa Pos: 28 Pebruari, 2008.

Tim bahasa PAH, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Surabaya: CV.

Pustaka Agung Harapan, 2003.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara, 2003.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003.

Utami Munandar, Kreatifitas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia, 2002.

UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 tentang, Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5

ayat 2.

Wall, Kate, Autism and Early Years Practice. London: Sage Publications LTD,

2010.

Wardhani, Yurike Fauzia, dkk, Autisme Terapi Medis Alternatif. Jakarta:

Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2009.

Wing, Lorna, Autistik Children a Guide for Parents and Professionals. New

Jersey: The Chitadel Press, 1974.

Wood, Derek dkk, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Yogyakarta: Kata Hati,

2005.

Yin, Robert K, Studi Kasus Desain dan Metode, Terj. M. Djauzi Mudzakir.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006.

Yusuf, Syamsu dan Nani M. Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:

Raja Grafindo Persada, 2012.

Zaini, Syahminan, Dasar Konsepsi Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam. Jakarta:

Referensi

Dokumen terkait

Ada beberapa strategi yang diterapkan guru PAI dalam meningkatkan religiusitas siswa di SMA Negeri Yogyakarta, antara lain : Meningkatkan profesionalisme guru PAI,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan guru PAI dalam mengatasi kesulitan belajar membaca al- Qur’an dan kesulitan yang

Penilaian terhadap Kompetensi Sosial Guru PAI SMA/SMK di Kabupaten Sukabumi yang dilakukan oleh Responden (Pengawas Guru PAI, Kepala Sekolah dan teman Sejawat)

Adapun upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi masalah kenakalan siswa di SMA Avicenna Mojongapit Jombang pertama bersifat preventif (pencegahan) yaitu dengan memberikan

Upaya yang dilakukan oleh guru PAI dan Kepala Sekolah dalam mengatasi kenakalan siswa adalah dengan memberikan keteladanan, memberikan pendidikan agama,

J udul Penelitian : POLA KOMUNIKASI ANTARA GURU DENGAN SISWA SD PENYANDANG DOWN SYNDROM DALAM MENINGKATKAN PRESTASI AKADEMIK DI SEKOLAH INKLUSIF GALUH

Sedangkan teori dari Handayani (2020:17), upaya yang dapat digunakan untuk mengatasi problematika pembelajaran online yaitu dengan meningkatkan interaksi antara guru

Dengan menggunakan kurikulum 2013 sebagai patokan utama kurikulum yang digunakan di SMP Inklusif Galuh Handayani, maka menurut penuturan guru PAI disana bahwa mulai silabus sampai RPS