• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Pada penelitian ini penulis akan menjelaskan tindakan pemerintah Jepang dalam kebijakan anti-bullying sebagai upaya penanganan ijime yang dilihat dari perspektif keamanan manusia. Perspektif keamanan manusia penting digunakan dalam penanganan ijime di Jepang karena perspektif ini menjadi konsep yang memiliki fokus terhadap ancaman-ancaman yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang tidak lagi melihat keamanan dari sebuah negara namun melihat dari kelangsungan hidup manusia. Salah satu contoh ancaman tersebut adalah ijime.

Ijime merupakan suatu istilah yang menggambarkan perilaku bullying di Jepang. Ijime ini banyak terjadi khususnya di kalangan pelajar. Hal ini dapat dilihat dari data statistik yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan Jepang yang menunjukan bahwa angka bunuh diri murid sekolah atas di Jepang mengalami peningkatan hingga 30%.1 Bahkan kasus ijime yang dilaporkan di Jepang pada tahun 2011 mencapai angka 70.000 kasus.2 Data tersebut belum termasuk dengan kasus-kasus ijime yang tidak dilaporkan dan ditutupi baik oleh pihak sekolah maupun keluarga. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi pelajar untuk mendapatkan ilmu justru kini menjadi tempat yang menakutkan karena perilaku bullying.

Sejak tahun 1980, kasus bullying menjadi salah satu masalah sosial di Jepang. Di tahun ini banyak sekali artikel dan laporan serta buku-buku yang fokus terhadap permasalahan bullying diterbitkan. 1985-1998 menjadi tahun dimana lebih dari 1200 makalah dan lebih dari 400 buku mengenai topik ini diterbitkan.3 Seiring

1Bullying in Japan, nobullying.com (daring), <http://nobullying.com/bullying-in-japan/>,

diakses pada 27 Desember 2015.

2Bullying in Japan, nobullying.com (daring), <http://nobullying.com/bullying-in-japan/>,

diakses pada 27 Desember 2015.

3

T.Naito, ‘Bullying and Ijime in Japanese Schools-A Sociocultural Perspective’, dalam F. Denmark (ed.), Violence in Schools, Springer, New York, 2005, p. 169.

(2)

dengan banyaknya penulis yang fokus terhadap permasalahan ini, di tahun 1986 terjadi suatu kasus bullying di sekolah SMA yang terletak di Tokyo. Seorang siswa berumur 13 tahun melakukan bunuh diri dengan menggantungkan diri karena merasa putus asa, sebelum meninggal korban meninggalkan catatan jika korban telah di bully oleh teman-temannya di sekolah.

Pada bulan Oktober 2011 seorang anak berumur 13 tahun bunuh diri dengan loncat dari lantai 14 sebuah gedung di wilayah Otsu.4 Orang tua dari anak ini menduga jika bullying menjadi salah satu faktor utama atas kematian anaknya tersebut. Oleh karena itu, keluarga korban mengajukan tuntutan terhadap pemerintah Kota Otsu yang dianggap menyembunyikan kasus penindasan serta tiga orang siswa yang diduga sebagai pelaku penindasan. Selama hampir satu setengah tahun, pemerintah Kota Otsu menyangkal bahwa kasus bunuh diri tersebut disebabkan oleh penindasan. Baru pada bulan Februari 2013, mengakui bahwa penindasan menjadi penyebab utama kasus bunuh diri yang terjadi pada Oktober 2011.

Di tahun 2015, kasus ijime kembali terjadi dimana seorang anak berumur 13 tahun melakukan bunuh diri dengan melompat dan menabrakan diri ke kereta di Yahaba, Prefektur Iwate.5 Ayah dari anak ini mengatakan jika sebelum melakukan bunuh diri, korban meninggalkan catatan yang mengatakan jika korban memiliki masalah di sekolah karena menjadi korban penindasan sejak akhir bulan April. Kasus Otsu dan Iwate hanyalah dua dari sekian banyak kasus penindasan yang terjadi di Jepang. Banyaknya kasus ijime yang terjadi di kalangan pelajar Jepang mengharuskan pemerintah untuk memberikan perhatian lebih dan mengatasi permasalahan ini dengan segera.

Perilaku ijime di sekolah Jepang menjadi penting untuk dilihat melalui perspektif keamanan manusia, karena semakin hari semakin parah dan telah

4Admin, ‘Bullying caused boy’s suicide, Otsu admits’, Japantimes.co.jp (daring), 5

Februari 2013, < http://www.japantimes.co.jp/news/2013/02/05/national/social-issues/bullying-caused-boys-suicide-otsu-admits/#.VhxfEEaFkXJ>, diakses pada 26 Oktober 2015.

5Admin, ‘Iwate Boy tried to reach out about bullying woes before suicide’,

japantimes.co.jp (daring), 9 Juli 2015,

< http://www.japantimes.co.jp/news/2015/07/09/national/social-issues/iwate-boy-13-apparently-tried-reach-vain-bullying-troubles-suicide/#.VhxEm0aFkXJ>, diakses pada 26 Oktober 2015.

(3)

menelan banyak korban yang rata-rata berusia 13-15 tahun. Bullying sendiri dapat melemahkan kemampuan kognisi dan afeksi pihak-pihak yang terlibat. Secara perlahan-lahan bullying ini akan menggerogoti kecerdasan intelektual dan emosi korban.6 Bagi korban, bullying dapat memperburuk prestasi akademiknya seperti sulit berkonsentrasi dan jarang hadir di kelas lalu memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah dan menarik diri dari lingkungan sosial (hikikomori) karena takut serta merasa tidak nyaman karena korban telah di isolasi oleh teman sekelasnya.

Mereka pun mengalami kekerasan fisik yang membuat mereka cidera seperti luka dan memar. Bahkan banyak diantara korban yang gelap mata dan memilih bunuh diri untuk menyudahi penderitaannya. Fenomena ijime yang menjadi permasalahan sosial di Jepang memiliki dampak yang luas karena dapat mengancam fisik pelajar di Jepang. Dimana menurut UNDP dalam konsepsinya pada tahun 1994, keamanan manusia didefinisikan secara umum sebagai ‘freedom

from fear’ dan ‘freedom from want’.7

1.2Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan menjadi fokus pembahasan dalam tulisan ini adalah:

Bagaimana upaya penanganan ijime oleh pemerintah Jepang dilihat dari perspektif keamanan manusia?

1.3Landasan Konseptual

1.3.1Klarifikasi Definisi Bullying dalam Konteks Jepang

6 T. Firawati, ‘Virus Bullying’, Media Indonesia (daring), 11 April 2011, <

<http://ftp.unpad.ac.id/koran/mediaindonesia/2011-04-11/mediaindonesia_2011-04-11_026.pdf>, diakses pada 29 maret 2016.

7

S.Tadjbakhsh, Human Security: Concepts and Implications, Routledge, New York, 2007, p. 5.

(4)

Bullying merupakan perilaku negatif yang sengaja dilakukan untuk mengancam atau membuat individu lain merasa tidak nyaman dengan melakukan penyerangan terhadap fisik, psikologi seseorang, bahkan melakukan keduanya.8 Perilaku bullying kini semakin marak terjadi di sekolah. Di Jepang perilaku bullying terkenal dengan istilah ijime. Ijime merupakan suatu jenis perilaku agresif yang dilakukan oleh seseorang yang memegang posisi dominan dalam proses interaksi kelompok dengan disengaja atau tindakan kolektif yang menyebabkan penderitaan mental dan atau fisik terhadap individu dalam suatu kelompok.9

Memang tidak dipungkiri jika masalah penindasan tidak hanya terjadi di Jepang saja, namun di Jepang penindasan dengan istilah ijime memiliki perbedaan dari penindasan yang biasa terjadi di negara-negara lain karena selalu berbentuk kolektif.10 Untuk menganalisis lebih jauh mengenai permasalahan ini dan menjawab pertanyaan penelitian mengenai penanganan ijime oleh Pemerintah Jepang dilihat dari perspektif keamanan manusia, penulis akan menggunakan suatu teori yaitu konsep keamanan manusia.

1.3.1Keamanan Manusia

Setelah perang dingin berakhir, fokus keamanan dunia mulai bergeser yang tadinya kepada keamanan negara kini menuju pada keamanan manusia atau individu. Keamanan manusia atau individu ini mulai berkembang menjadi isu penting dalam hubungan internasional terutama sejak awal tahun 1990-an. Hal ini disebabkan oleh munculnya Human Development Report pada tahun 1994 oleh UNDP. Laporan yang dibuat ini mengkritisi konsep keamanan yang selama ini dianut oleh dunia internasional. Menurut laporan ini, konsep keamanan yang ada pada saat itu dianggap terlalu sempit karena

8 Spadoni College of Education Biddle Center for Teaching and Learning, Bullying,

Coastal Caroline University, 2007, pp. 1-2.

9 M. Taki, Ijime Bullying: Characteristic, Causality, and Intervention, National Institue for

Educational Policy Research, Kobe, 2003, pp. 1-4.

10

S. Yoneyama, Japanese High School: Silence and Resistance, Routledge, London, 1999, pp. 164-166.

(5)

hanya sebatas kepentingan wilayah, atau serangan dari pihak luar yang mengakibatkan perang dan hanya menyangkut kepentingan nasional suatu negara terhadap serangan nuklir.11

Konsep keamanan pada masa itu sangatlah fokus terhadap negara dibandingkan dengan manusia. Sementara pada kenyataannya manusia menjadi tokoh utama yang paling menderita karena hidup dalam berbagai bentuk ancaman. Hal ini kemudian memunculkan sebuah pemikiran tentang pentingnya manusia untuk bertahan hidup. Bertahan hidup yang dimaksudkan adalah bagaimana manusia dapat melangsungkan hidupnya dengan benar tanpa adanya ancaman. Bagi kebanyakan manusia rasa tidak aman bukanlah muncul akibat peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain seperti serangan nuklir, tetapi rasa tidak aman lebih banyak muncul dari kehidupan sehari-hari. Ancaman dalam kehidupan sehari-hari ini bahkan lebih banyak menelan korban dibandingkan dengan manusia yang gugur di dalam medan perang. Parahnya lagi ancaman dalam kehidupan sehari-hari seringnya menimpa anak-anak dan wanita yang tergolong sebagai individu yang lebih lemah.

Dalam Human Development Report tahun 1994, keamanan manusia ini digambarkan sebagai ‘freedom from fear’ dan ‘freedom from want’. CHS mendefinisikan keamanan manusia sebagai perlindungan dasar kebebasan manusia, dan melindungi manusia dari situasi yang mengancam.12 Terdapat tujuh elemen yang menjadi dasar dari keamanan manusia salah satunya adalah keamanan pribadi (personal security).13 Keamanan pribadi menjelaskan jika keamanan seseorang terhadap fisiknya sangatlah penting. Terdapat beberapa ancaman yang datang secara tak terduga seperti kekerasan. Kehidupan manusia semakin terancam oleh kekerasan yang muncul secara tak terduga, dan dapat mengganggu kelangsungan hidup seseorang.

11 UNDP, Human Development Report 1994, Oxford University Press, New York, 1994. P.

22.

12

L. J. Shepherd, Critical Approaches To Security, Routledge, New York, 2013, pp. 24-36.

(6)

Padahal menurut Kenneth Neal Waltz kelangsungan hidup manusia menjadi prasyarat untuk mencapai setiap tujuan yang dimiliki oleh sebuah negara.14 Para peneliti hubungan internasional pun melihat jika permasalahan keamanan dan kelangsungan hidup manusia menjadi salah satu aspek yang penting bagi suatu negara dalam sistem internasional yang anarki. Dengan adanya keamanan fisik, manusia dapat mencegah segala bentuk serangan atau ancaman seperti kekerasan yang akan datang kepada dirinya. Sehingga manusia dapat mengurangi potensi kerusakan atau cidera yang dapat ditimbulkan jika terjadi penyerangan terhadap seseorang.

Jika melihat konsep ini tentunya anak yang menjadi korban ijime di Jepang merasa terancam dan merasa tidak aman khusunya di lingkungan sekolah. Dengan melihat realita banyaknya korban ijime yang menderita kekerasan fisik dan mental, belum lagi mereka yang melakukan bunuh diri untuk menyudahi penderitaan yang dirasakan, seperti kasus Otsu yang terjadi pada 2011 lalu. Konsep ini akan digunakan untuk menganalisis upaya penanganan ijime di Jepang. Dengan konsep ini akan terlihat upaya penanganan seperti apa yang mencerminkan keamanan manusia khusunya keamanan pribadi seseorang dalam penelitian ini konteksnya adalah pelajar.

1.4Argumen Utama

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, argumen utama yang diajukan adalah bahwa penanganan ijime oleh pemerintah Jepang dengan mengeluarkan kebijakan anti-bullying pada tahun 2013 telah mencerminkan perspektif keamanan manusia khususnya terkait dengan konsep freedom from fear dan konsep dasar keamanan manusia sebagai prevented orientation. Ini karena di dalam kebijakan pemerintah Jepang bertindak dengan melakukan upaya pencegahan dalam menangani ijime dengan meminta segala pihak yang terlibat seperti sekolah, guru, orang tua dan masyarakat untuk melaporkan kasus ijime

14

L. M. Herrington, ‘Review- Ontological Security in International Relations’, e-ir.info (daring), 27 Juli 2013, < http://www.e-ir.info/2013/07/27/review-ontological-security-in-international-relations/>, diakses pada 08 Desember 2015.

(7)

kepada MEXT atau Pemerintah Daerah dan memberikan sistem konseling kepada pelajar sebagai upaya agar pelajar terhindar dari rasa takut akibat perilaku ijime yang marak di sekolah Jepang. Penanganan ijime melalui kebijakan ini jika dilihat dari konsep keamanan manusia menunjukan adanya tanggung jawab dari negara melalui pemerintah yang memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada rakyatnya dimana dalam konteks ini adalah pelajar yang merasa terancam akibat perilaku ijime yang memberikan kerusakan fisik dan mental bagi pelajar di Jepang.

1.5Metodologi Penelitian

Dalam skripsi ini, penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif dimana penulis akan menekankan pada studi literatur untuk mendukung argumen-argumennya sehingga dapat menjawab rumusan masalah yang telah diajukan. Penulis akan selektif dalam memilih sumber referensi dan tidak lupa untuk membandingkan berbagai sumber guna mendukung argumen dalam penelitian ini sehingga tercipta penelitian yang komprehensif dan terpercaya. Penelitian ini nantinya akan bersifat deskriptif dan menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah berdasarkan kondisi realitas secara kompleks dan rinci.

Pertama, penulis akan mengumpulkan data kualitatif mengenai sistem sosial-budaya dan pendidikan Jepang, karakter ijime dan efek fatal ijime, lalu menjelaskan secara detail ijime di kalangan pelajar Jepang dan kasus Otsu yang merupakan kasus ijime di era kontemporer Jepang.

Kedua, penulis akan mengumpulkan data mengenai penanganan ijime yang dilakukan oleh pemerintah Jepang, dan mengaitkan tindakan di dalam penanganan ijime dengan konsep yang ada pada perspektif keamanan manusia. Setelah seluruh data terkumpul, penulis akan menggunakan dan mengelaborasikan data yang ada dengan analis yang akan penulis buat sehingga nantinya data tersebut dapat mendukung argumen utama yang telah penulis buat.

(8)

1.6Sistematika Penulisan

Penelitian yang berjudul ‘Menangani Ijime dengan Menggunakan Pendekatan Keamanan Manusia’ akan dibagi menjadi 4 Bab.

Pada BAB I akan disajikan pendahuluan penelitian yang terdiri dari 6 sub bab yaitu, latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, landasan konseptual, argumen utama, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

Pada BAB II akan menguraikan sistem sosial-budaya dan pendidikan Jepang yang memengaruhi perilaku ijime, karakter ijime dan efek fatal ijime, serta ijime di kalangan pelajar dan kasus Otsu di Jepang.

Pada BAB III akan menjelaskan mengenai upaya penanganan ijime oleh pemerintah Jepang, dan akan menjawab rumusan masalah mengenai penanganan ijime oleh pemerintah Jepang yang dilihat dari perspektif keamanan manusia.

Lalu pada BAB IV adalah penutup. Pada bab ini penulis akan menyimpulkan hasil penelitian secara keseluruhan.

Referensi

Dokumen terkait

artikel yang sesuai materi ajar Observasi  Mengamati pelaksanaan diskusi dengan menggunakan lembar observasi yang memuat:  Kejelasan dan kedalaman informasi yg diperoleh

Jika sebelum adanya sistem pendukung kreatifitas rata-rata ide yang dihasilkan setiap sesi pertemuan R&amp;D adalah 5 ide, maka kini untuk setiap pertemuan R&amp;D

KAITAN GLASGOW COMA SCORE AWAL DAN JARAK WAKTU SETELAH CEDERA KEPALA SAMPAI DILAKUKAN OPERASI PADA PASIEN PERDARAHAN SUBDURAL AKUT DENGAN GLASGOW OUTCOME SCALE.. PENELITI

Hasil dari penelitian ini adalah terumuskan 5 strategi dan kebijakan IS/IT yang sebaiknya diterapkan di FIT Tel-U berdasarkan pertimbangan 3 hal, pertama kebutuhan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu analisis kekuatan mekanik komposit berpenguat serat kulit batang pohon waru dapat disimpulkan bahwa, Setelah

Ringkasnya, meskipun struktur kristal serbuk ferit hasil sintesis telah sama dengan produk komersial, namun sifat-sifat magnetik magnet yang dihasilkan masih belum dapat

Berdasarkan komposisi patotipe Xoo pada pertanaman MH 2014/2015, rekomendasi perbaikan teknologi pengendalian penyakit HDB pada periode tanam awal dan pertengahan yaitu menanam

Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai kasus tersebut dengan menggunakan piranti lunak BREEZE Incident Analyst Software untuk mengetahui seberapa jauh