BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sendawa yang sering
ditemukan dalam praktik sehari-hari. Bila pada dispepsia tidak ditemukan adanya kelainan organik yang mendasari atau dapat menjelaskan keluhan dispepsia, maka
dispepsia ini disebut dispepsia fungsional.1 Dispepsia fungsional (DF) adalah suatu sindroma klinis yang didefinisikan sebagai gejala kronik atau rekuren dari abdomen atas tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi oleh alat diagnostik
konvensional.2Dilaporkan angka prevalensi terjadinya dispepsia fungsional cukup tinggi. Berdasarkan studi epidemiologi yang berbeda, angka prevalensi berkisar antara 5% hingga 25%.3
Johnson dan kawan-kawan pada survei berdasar-populasi di Norwegia menemukan angka prevalensi seumur hidup dari dispepsia fungsional sebesar
23% pada pria dan 18% pada perempuan. Pada suatu studi terhadap para pekerja di Amerika Serikat, angka prevalensi dispepsia fungsional adalah 29%. Dalam studi di Taiwan, angka prevalensi dispepsia fungsional berdasarkan kriteria
ROME I dan ROME II 24% dan 12%, berturut-turut.4 Penelitian yang dilakukan oleh Zagari dankawan-kawan melaporkan bahwa dari 156 pasien dengan
penelitian ini didapatkan bahwa status pekerjaan yang tidak bekerja, telah
bercerai, perokok dan irritable bowel syndrome memiliki hubungan dengan dispepsia fungsional.5
Patogenesis dispepsia fungsional (DF), suatu kondisi yang lazim di Asia, tetap kompleks dan multifaktorial. Mekanisme patofisiologi yang diduga terlibat dalam DF termasuk keterlambatan pengosongan lambung, hendaya masuknya
makanan ke lambung, hipersensitivitas distensi lambung, infeksi Helicobacter Pylori, perubahan respons terhadap lemak duodenal atau asam, pergerakan yang
tidak normal dari duodenojejunal, atau disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun mekanisme ini telah terurai sebagian, penyebab yang mendasari atau patogenesis DF tetaplah tidak jelas.6
Hubungan antara ansietas dan dispepsia fungsional telah digambarkan pada beberapa studi, meskipun peran pasti variabel psikososial dalam dispepsia fungsional tetaplah belum dimengerti. Telah ditemukan bahwa ansietas lebih
lazim ditemukan pada pasien dengan dispepsia fungsional dibandingkan dengan subjek kontrol yang sehat. Beberapa studi klinis memperlihatkan bahwa 87%
pasien dengan DF, dibandingkan dengan 25% pasien dengan dispepsia organik, memiliki diagnosis psikiatrik. Gangguan ansietas dilaporkan merupakan gejala paling umum pada 34% pasien DF.7Beberapa studi berbasis-populasi telah
mendemonstrasikan adanya proporsi yang lebih tinggi dari komorbiditas psikologik pada dewasa dengan dispepsia fungsional dibandingkan dengan
Pada penelitian yang dilakukan oleh Haag dan kawan-kawan, secara
keseluruhan ditemukan bahwa ansietas secara signifikan lebih tinggi pada DF dibandingkan kontrol yang sehat.8Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Mahadeva dan Goh, dari 884 orang pasien yang berobat ke rumah sakit di Kuala Lumpur ditemukan 472 (56.3%) diantaranya menderita dispepsia fungsional dan terdapat proporsi yang tinggi dari ansietas sedang/berat pada pasien dispepsia
fungsional.6 Menurut Aro dan kawan-kawan, ansietas mayor (Hospital Anxiety and Depression scala score lebih besar atau sama dengan 11) berhubungan
dengan dispepsia fungsional (OR. 2.56; 95% CI, 1.06-6.19).4 Penelitian yang dilakukan terhadap 139 pasien yang mengalami dispepsia fungsional oleh Oudenhove menemukan bahwa 33% pasien datang dengan kemungkinan secara
klinis terdapat ansietas yang relevan.2
Melihat tingginya angka kejadian dispepsia fungsional dan prevalensi ansietas yang menyertainya maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
yang bertujuan mengetahui gambaran simtom ansietas pada pasien dengan dispepsia fungsional yang berobat ke poliklinik Ilmu Penyakit Dalam RSUP. H.
Adam Malik Medan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale.
I.2. Rumusan masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
Berapa proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia
Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP). H. Adam
Malik Medan dan Rumah Sakit Umum (RSU) dr. Pirngadi kota Medan.
I.3. Tujuan penelitian
a. Tujuan umum : Untuk mengetahui proporsi tingkat keparahan simtom
ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU dr. Pirngadi kota Medan dengan
menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale.
b. Tujuan khusus : Untuk mengetahui distribusi tingkat keparahan simtom
ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU.dr. Pirngadi kota Medan berdasarkan
karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan).
I.4. Manfaat penelitian
a. Dapat diperoleh gambaran mengenai proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H.
Adam Malik Medan dan RSU.dr. Pirngadi kota Medan.
b. Dengan diperolehnya proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada
mengantisipasi dan melakukan penanganan yang diperlukan sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berlanjut untuk penelitian