KAJIAN EKONOMI REGIONAL
PROPINSI SULAWESI SELATAN
Kata Pengantar
Sebagaimana diketahui dengan diberlakukannya UU No. 23 Tahun 1999 tentang tujuan Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2004, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Lebih lanjut, tugas-tugas pokoknya adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi bank.
Sejalan dengan Undang-Undang tersebut, Kantor Bank Indonesia (KBI) di daerah
dalam era otonomi mempunyai peranan yang strategis, selain sebagai economic intelligence
dan research unit di wilayah kerjanya. Dalam kaitan dengan peran tersebut, KBI bertugas
untuk melakukan pengumpulan data dan informasi (antara lain melalui survei), dan melakukan pengkajian serta penelitian mengenai perkembangan ekonomi daerah secara terkini dan berkala.
Sejak tahun 2002 KBI Makassar telah melakukan Kajian terhadap Perkembangan Ekonomi Daerah secara triwulanan atau disingkat menjadi KER dengan cakupan daerah Sulawesi Selatan. Sejak ditetapkannya secara resmi pemisahan antara Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, maka sejak tahun 2007 ini materi kajian untuk masing-masing provinsi (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat) akan dipisahkan dan disampaikan dalam buku laporan yang terpisah. Adapun cakupan kajian (KER) tersebut adalah pada aspek makroekonomi, inflasi, moneter-perbankan-sistem pembayaran, keuangan daerah dan prospek ekonomi. Dalam perkembangannya, cakupan ini akan kami kembangkan terus sejalan dengan ketersediaan data ekonomi daerah yang kami peroleh.
Selanjutnya, informasi dan hasil kajian/riset tersebut akan disampaikan ke Kantor Pusat Bank Indonesia, sebagai masukan dalam formulasi kebijakan moneter. Disamping itu, hasil kajian tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi stakeholder Bank Indonesia di daerah antara lain: Pemerintah Daerah, DPRD, akademisi, pihak swasta dan kalangan masyarakat Iainnya.
Saran dan masukan dan semua pihak, sangat kami harapkan guna peningkatan kualitas laporan ini di masa mendatang. Perlu kami sampaikan pula penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu secara aktif dalam penyusunan laporan ini, dengan memberikan data dan informasi secara kontinyu, tepat waktu dan
reliable. Selanjutnya, kami nantikan kerjasama tersebut dapat terus berlangsung di masa
mendatang guna mendukung kesinambungan penyusunan laporan ini.
Makassar, Februari 2009 BANK INDONESIA MAKASSAR
Ttd.
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ~ iii
DAFTAR ISI ~ v
DAFTAR GRAFIK ~ vii
DAFTAR TABEL ~ viii
RINGKASAN EKSEKUTIF ~ 1
INDIKATOR EKONOMI PEKDA Trw. IV-2008 ~6
BAB 1 PERKEMBANGAN KONDISI MAKRO EKONOMI ~ 9
1.1. Permintaan Daerah ~ 10
a. Konsumsi ~ 10
b. Investasi ~ 13
c. Net Perdagangan Eksternal ~ 14
1.2. Penawaran Daerah (Sektoral) ~ 16
a. Sektor Pertanian ~ 17
b. Sektor Industri Pengolahan ~ 18
c. Sektor Perdagangan-Hotel-Restoran ~ 19
d. Sektor Jasa-jasa ~ 20
e. Sektor Angkutan dan Komunikasi ~ 21
f. Sektor Keuangan-Sewa-Jasa-Perusahaan ~ 23
g. Sektor Lainnya ~ 23
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI ~ 27
2.1. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang ~ 28
2.2. Inflasi Kota Lainnya di Sulawesi Selatan ~ 36
2.3. Inflasi Harga Konsumsen Pedesaan ~ 37
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN ~ 39
3.1. Perkembangan Moneter ~ 39
3.2. Perkembangan Bank Umum (Konvensional dan Syariah) ~ 40
3.2.1. Kelembagaan dan Aset ~ 40
3.2.2. DPK dan Kredit/Pembiayaan ~ 41
3.2.3. Intermediasi Bank Umum Konvensional ~ 46
3.2.4. Intermediasi Bank Umum Syariah ~ 47
3.3. Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/S) ~ 48
BAB 4 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ~ 51
4.1. Aliran Uang Kartal Masuk (Inflow) dan Keluar (Outflow) ~ 51
4.2. Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) ~ 52
4.3. Perkembangan Uang Palsu yang Ditemukan ~ 52
4.4. Perkembangan Kliring dan RTGS ~ 53
4.4.1. Perkembangan RTGS ~ 53
4.4.2. Perkembangan Kliring ~ 53
BAB 5 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ~ 55
5.1. Ketenagakerjaan ~ 55
5.1.1. Survei Angkatan Kerja ~ 55
5.1.2. Tenaga Kerja Indonesia ~ 58
5.2. Kesejahteraan ~ 58
5.2.1. Nilai Tukar Petani ~ 58
5.2.2. Survei ~ 59
BAB 6 PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH ~ 61
BAB 7 OUTLOOK KONDISI EKONOMI DAN INFLASI ~ 63
7.1. Outlook Kondisi Makroregional ~ 63
7.2. Outlook Inflasi ~ 65
Daftar Grafik
Grafik 1.1. Laju Pertumbuhan PDRB ~ 9
Grafik 1.2. Prompt Indikator Kinerja Konsumsi ~ 11
Grafik 1.3. Prompt Pertumbuhan Kinerja Investasi ~ 13
Grafik 1.4. Prompt Indikator Kinerja Ekspor Luar Negeri ~ 15
Grafik 1.5. Perkembangan Volume Impor Non Migas Sulawesi Selatan ~ 16
Grafik 1.6. Prompt Indikator Pertumbuhan Kinerja Sektor Pertanian ~ 18
Grafik 1.7. Prompt Indikator Pertumbuhan Kinerja Sektor Industri Pengolahan ~ 19
Grafik 1.8. Prompt Indikator Kinerja Sektor Perdagangan-Hotel-Restauran ~ 20
Grafik 1.9. Prompt Indikator Kinerja Sektor Jasa-jasa ~ 21
Grafik 1.10. Prompt Indikator Kinerja Subsektor Angkutan ~ 22
Grafik 1.11. Prompt Indikator Kinerja Sektor Keuangan-Sewa-Jasa Perusahaan ~ 23
Grafik 1.12. Prompt Indikator Kinerja Sektor Listrik-Gas-Air Bersih ~ 24
Grafik 1.13. Prompt Indikator Kinerja Sektor Pertambangan-Penggalian ~ 25
Grafik 1.14. Prompt Indikator Kinerja Sektor Bangunan ~ 26
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Sulawesi Selatan~ 27
Grafik 2.2. Harga CPO, Kedelai, Beras dan Jagung di Pasar Internasional ~ 29
Grafik 2.3. Perkembangan Inflasi Kelompok Bahan Makanan ~ 30
Grafik 2.4. Perkembangan Harga Beberapa Komoditi di Makassar ~ 30
Grafik 2.5. Perkembangan Inflasi Kelompok Makanan Jadi ~ 31
Grafik 2.6. Perkembangan Harga Beberapa Komoditi Makanan Jadi di Makassar Hasil
Survei Bank Indonesia ~ 31
Grafik 2.7. Perkembangan Inflasi Kelompok Sandang ~ 34
Grafik 2.8. Perkembangan Harga Emas ~ 33
Grafik 2.9. Perkembangan Inflasi Kelompok Perumahan ~ 33
Grafik 2.10. Perkembangan Inflasi Kelompok Kesehatan ~ 34
Grafik 2.11. Perkembangan Inflasi Kelompok Transportasi ~ 35
Grafik 2.12. Perkembangan Inflasi Kelompok Pendidikan ~ 35
Grafik 3.1. Uang Giral dan Uang Kuasi di Sulsel ~ 40
Grafik 3.2. Aset Bank Umum Sulsel Berdasarkan Kelompok Bank ~ 41
Grafik 3.3. Penghimpunan Dana dan Penyaluran Kredit/pembiayaan BU di Sulsel ~ 42
Grafik 3.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan BU Per Jenis Penggunaan di Sulsel ~ 42
Grafik 3.5. Pangsa Kredit/Pembiayaan Bank Umum Per Sektor Ekonomi di Sulsel
(November 2008) ~ 43
Grafik 3.6. Pertumbuhan Tahunan Kredit/Pembiayaan Per Sektor Ekonomi ~ 43
Grafik 3.7. Perkembangan NPLs Net dan Gross Bank Umum di Sulsel ~ 44
Grafik 3.8. Pangsa NPLs Per Sektor Ekonomi di Sulsel (November 2008) ~ 44
Grafik 3.9. Kredit/Pembiayaan Mikro, Kecil dan Menengah Bank Umum di Sulsel ~ 46
Grafik 3.10. Pangsa Kredit/Pembiayaan MKM BU Per Sektor Ekonomi di Sulsel ~ 46
Grafik 3.11. Perkembangan Bank Umum Syariah Sulawesi Selatan ~ 47
Grafik 3.12. Perkembangan Aset BPR/S Sulsel ~ 48
Grafik 4.1. Aliran Uang Kartal di Depo Kas KBI Makassar ~ 51
Grafik 4.2. Pemberian Tanda Tidak Berharga dan Inflow~ 52
Grafik 4.3. Proporsi Jumlah Lembar Uang Palsu Berdasarkan Pecahan Trw. IV-2008 ~ 52
Grafik 4.4. Transaksi Non Tunai via RTGS ~ 53
Grafik 5.1. Presentase Penduduk Usia 15+ yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan
Utama ~ 57
Grafik 5.2. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini ~ 60
Grafik 5.3. Indeks Penghasilan Saat Ini Dibandingkan 6 Bulan Lalu ~ 60
Grafik 6.1. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Sampai Dengan Triwulan
IV-2008 ~ 62
Grafik 7.1. Perkembangan Indeks Ekspektasi Konsumen dan Komponennya ~ 64
Daftar Tabel
Tabel 1.1. Perkembangan PDRB Riil : Permintaan Daerah (y.o.y) ~ 10
Tabel 1.2. Perkembangan PDRB Riil : Penawaran Daerah (y.o.y) ~ 17
Tabel 2.1. Inflasi Kelompok Barang dan Jasa (%, y.o.y) ~ 28
Tabel 2.2. Inflasi Per-Sub Kelompok Bahan Makanan ~ 28
Tabel 2.3. Inflasi Per-Sub Kelompok Makanan Jadi-Minuman-Rokok-Tembakau ~ 31
Tabel 2.4. Inflasi Per-Sub Kelompok Sandang ~ 32
Tabel 2.5. Inflasi Per-Sub Kelompok Perumahan-Air-Listrik-Bahan Bakar ~ 33
Tabel 2.6. Inflasi Per-Sub Kelompok Kesehatan ~ 34
Tabel 2.7. Inflasi Per-Sub Kelompok Transportasi-Komunikasi-Jasa Keuangan ~ 34
Tabel 2.8. Inflasi Per-Sub Kelompok Pendidikan-Rekreasi-Olahraga ~ 36
Tabel 2.9. Perbandingan Laju Kota di Sulsel Per Desember 2008 ~ 36
Tabel 2.10. Perbandingan Laju Inflasi Sulsel dan Pedesaan di Sulsel ~ 37 Tabel 2.11. Perbandingan Laju Inflasi Propinsi di Zona Sulampua ~ 38
Tabel 3.1. Perkembangan Kelembagaan Bankk Umum Sulawesi Selatan ~ 40
Tabel 3.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan dan DPK per DATI II di Sulsel ~ 46
Tabel 4.1. Perkembangan Temuan Uang Palsu di Wilker KBI Makssar Trw. IV-2008 ~ 52
Tabel 4.2. Perputaran Kliring dan Cek/BG Kosong ~ 54
Tabel 5.1. Penduduk Usia 15+ Menurut Kegiatan Utama ~ 55
Tabel 5.2. Penduduk Usia 15 Thn Keatas Menurut Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT), Setengah Pengangguran Terpaksa dan Setengah Pengangguran Sukarela ~ 56
Tabel 5.3. Penduduk Usia 15 Thn + yg Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama ~ 57
Tabel 5.4. Perkembangan Penyaluran Tenaga Kerja Indonesia Sulawesi Selatan ~ 58
Ringkasan Eksekutif
GAMBARAN UMUM
Perekonomian daerah Sulawesi Selatan (Sulsel) pada triwulan IV-2008 diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 4,83% (y.o.y), melambat apabila dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan triwulan sebelumnya sebesar 7,71% (y.o.y) maupun dengan triwulan yang sama tahun lalu (triwulan IV-2007) yang sebesar 11,19% (y.o.y).
Sementara dari sisi kestabilan harga, laju inflasi tahunan Sulsel tercatat sebesar 12,40% (y.o.y). Laju inflasi tersebut tercatat lebih tinggi dibanding baik dengan laju inflasi tahunan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 12,28% (y.o.y) maupun dengan laju inflasi nasional yang tercatat sebesar 11,06% (y.o.y).
Sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulsel, terjadi perlambatan pertumbuhan di sektor keuangan-sewa-jasa perusahaan (PDRB) terutama subsektor bank. Perlambatan pertumbuhan di subsektor bank ditandai dengan melambatnya pertumbuhan tahunan dana masyarakat yang dihimpun perbankan, penyaluran kredit/pembiayaan dan aset perbankan. Namun di sisi lain, kualitas kredit yang pada triwulan laporan terjadi penurunan jumlah kredit/pembiayaan bermasalah terhadap total kredit/pembiayaan perbankan Sulawesi Selatan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penurunan NPLs ini harus dicermati dengan seksama karena penurunannya diduga karena dampak dari perlambatan ekonomi dan tidak semata menggambarkan meningkatnya repayment capacity debitur.
Demikian pula terkait dengan sistem pembayaran, nilai transaksi pembayaran tunai pada triwulan laporan ini juga menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibanding nilai transaksi
pembayaran pada triwulan sebelumnya. Pada sistem pembayaran
non tunai, khususnya kliring juga menunjukkan terjadinya kegiatan transaksi yang mengalami penurunan. Sedangkan pembayaran non tunai via RTGS justru mengalami peningkatan.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) relatif cukup berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Meskipun tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan, namun tingkat kesejahteraan masyarakatnya, terutama di sektor pertanian, masih relatif belum mengalami perbaikan yang cukup signifikan. Struktur ketenagakerjaan di Sulsel selama 2 tahun terakhir relatif tidak mengalami perubahan, dengan sektor pertanian dan perdagangan yang masih merupakan mata pencaharian utama penduduknya.
Berdasarkan data keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah pada triwulan laporan. Anggaran pendapatan naik sebesar 5,37% sedangkan anggaran belanja meningkat 12,86%. Sampai dengan triwulan laporan, diperkirakan realisasi pendapatan
Laju inflasi tahunan di Sulsel tercatat sebesar
12,40% (y.o.y)
…..
sistem pembayaran tunai dan non tunai, kecuali RTGS, menunjukkan penurunan transaksi ….
Struktur ketenagakerjaan di Sulsel selama 2 tahun terakhir relatif tidak mengalami perubahan,
…….
….realisasi pendapatan telah mencapai di atas 100%. Sementara realisasi belanja diperkirakan sebesar 84,01% ...
Perekonomian daerah Sulawesi Selatan pada triwulan IV-2008
mengalami pertumbuhan sebesar 4,83% (y.o.y) ...
Perlambatan pertumbuhan perbankan ditandai dengan melambatnya pertumbuhan DPK, penyaluran
daerah telah mencapai di atas 100% yang didorong oleh realisasi ‘Pendapatan Asli Daerah’ yang telah mencapai 102,38%. Sedangkan realisasi belanja pemerintah baru mencapai 84,01%.
PERKEMBANGAN KONDISI MAKROEKONOMI
Dari sisi permintaan, laju pertumbuhan regional secara umum masih didukung oleh kinerja investasi yang tumbuh sebesar 19,10% (y.o.y) dengan sumbangan sebesar 3,43% terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel, meskipun pada triwulan laporan kinerja investasi tersebut mengalami perlambatan dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 26,35%. Pertumbuhan kinerja investasi, salah satunya didorong dengan adanya realisasi investasi di sektor industri pengolahan kayu dan industri lainnya.
Dari sisi penawaran (sektoral), hanya sektor jasa-jasa yang mengalami peningkatan pertumbuhan, sementara sektor ekonomi lainnya diperkirakan mengalami perlambatan dan bahkan sektor pertambangan diperkirakan mengalami kontraksi, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor bangunan/konstruksi. Penyumbangn terbesar diperkirakan masih terjadi di sektor perdagangan-hotel-restoran, diikuti oleh sektor jasa, jasa dan bangunan serta angkutan-komunikasi.
PERKEMBANGAN INFLASI
Laju inflasi tahunan di Sulsel tercatat sebesar 12,40% (y.o.y), sedikit lebih tinggi dibanding baik dengan laju inflasi tahunan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 12,28% (y.o.y) maupun dengan laju inflasi nasional yang tercatat sebesar 11,06% (y.o.y). Meski terjadi peningkatan konsumsi masyarakat sehubungan dengan adanya Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan libur panjang menjelang tahun baru, namun peningkatan tersebut tidak terlalu besar sehingga pertumbuhan laju inflasi meningkat relatif kecil. Hal tersebut tercermin pada konsumsi PDRB Sulsel yang pada triwulan laporan melambat menjadi 3,20% (y.o.y), sementara pada triwulan III-2008 tercatat sebesar 4,64% (y.o.y).
Laju inflasi Sulsel dihitung berdasarkan inflasi ke-empat kota di Sulsel, yaitu Makassar, Watampone, Pare-pare dan Palopo. Laju inflasi Sulsel tersebut didominasi sumbangan inflasi tahunan kota Makassar yang memberikan sumbangan sebesar 78% terhadap pembentukan inflasi tahunan Sulsel. Sementara sumbangan terendah masih diberikan oleh kota Watampone yaitu sebesar 6% dari inflasi Sulsel. Adapun laju inflasi tahunan kota Watampone tercatat sebesar 13,34% (y.o.y) pada triwulan laporan.
PERKEMBANGAN PERBANKAN
Pada triwulan IV-2008 (November), total aset perbankan tumbuh lebih kecil daripada triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, total aset perbankan mencapai Rp36,75 triliun atau turun menjadi 13,64% (y.o.y) dibandingkan triwulan yang sama tahun 2007. Kemudian, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum juga mengalami pertumbuhan yang cenderung lebih kecil
Berdasarkan inflasi ke-empat kota di Sulsel, yaitu Makassar, Watampone, Pare-Pare dan Palopo, didapatkan bahwa laju inflasi tahunan Sulsel tercatat sebesar 12,40%, lebih tinggi …...
Dari sisi sumbangan, penyumbang
pertumbuhan terbesar pada triwulan laporan masih disumbang oleh sektor
perdagangan-hotel-restoran …..
daripada triwulan sebelumnya, yaitu tumbuh 13,12% (y.o.y) atau sebesar Rp27,77 triliun. Sedangkan pertumbuhan DPK pada triwulan III-2008 tercatat sebesar 16,66% (y.o.y).
Tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan DPK bank umum di Sulsel yang tercatat mengalami perlambatan, kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh bank umum di wilayah Sulsel juga tercatat mengalami perlambatan. Atas dasar lokasi proyek, kredit/pembiayaan tumbuh sebesar 25,78% (y.o.y) dari Rp25,22 triliun pada November 2007 menjadi Rp31,72 triliun pada November 2008. ). Kondisi tersebut, memperlihatkan kondisi kredit/pembiayaan bank umum dan DPK sama-sama mengalami perlambatan. Namun LDR (Loan to Deposit Ratio) bank umum mengalami peningkatan, yaitu dari 107,87% pada November 2007 menjadi 114,23% pada November 2008. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan pertumbuhan DPK lebih kecil dari pada kredit/pembiayaan bank umum.
Berdasarkan kualitas kredit, petumbuhan kredit/pembiayaan bermasalah (NPLs) bank umum di wilayah Sulsel tercatat melambat menjadi 7,93% (y.o.y) dibandingkan posisi November 2007 yang sebesar 10,87 triliun. Penurunan pertumbuhan NPLs tersebut diperkirakan terjadi seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan juga penyaluran kredit di Sulsel pada triwulan laporan.
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Aliran uang kartal masuk (inflow) dan keluar (outflow), tercatat mengalami net inflow, yaitu sebesar Rp0,67 triliun, dengan nilai inflow sebesar Rp2,19 triliun, sedangkan nilai outflow sebesar Rp1,51 triliun. Sementara jumlah Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) mengalami penurunan menjadi sebesar Rp0,41 triliun, lebih rendah dibanding PTTB pada triwulan III-2008 (Rp0,54 triliun).
Jumlah temuan uang rupiah palsu mengalami peningkatan. Pada triwulan IV-2008, jumlah uang palsu yang ditemukan sebesar Rp12,6 juta, menurun menjadi Rp1,3 juta pada triwulan laporan.
Perkembangan transaksi transfer masuk via RTGS (incoming)
pada triwulan laporan mengalami peningkatan sebesar 22,09% (y.o.y) yaitu dari Rp11,96 triliun menjadi Rp14,60 triliun. Kondisi yang sama juga terjadi pada transaksi transfer keluar via RTGS
(outgoing) yang mengalami peningkatan sebesar 10,86% (y.o.y)
dengan nominal transaksi sebesar Rp9,23 triliun, sementara
pertumbuhan outgoing pada triwulan III-2008 sebesar -21,51%
(y.o.y) dengan nominal transaksi sebesar Rp7,79 triliun.
Selain BI-RTGS, penyelesaian non tunai untuk nilai transaksi transfer dana/transaksi kredit kurang dari Rp100 juta mengalami pertumbuhan yang lebih kecil dibanding triwulan III-2008. Nominal perputaran kliring pada triwulan laporan tercatat tumbuh sebesar 13,55% (y.o.y), yaitu dari Rp6,43 triliun pada triwulan IV-2007 menjadi Rp7,30 triliun. Pertumbuhan transaksi via kliring tersebut lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 30,03% (y.o.y).
Perkembangan transaksi transfer masuk dan keluar via RTGS pada triwulan laporan lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya ...
Kredit/pembiayaan mengalami perlambatan pertumbuhan tahunan.
PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Jumlah angkatan kerja di Sulsel selama Agustus 2007 – Agustus 2008 mengalami pertumbuhan sebesar 4,10% (y.o.y), sementara pada periode yang sama tahun 2007 tumbuh sebesar 2,25% (y.o.y). Pertumbuhan angkatan kerja tersebut, mampu menyerap jumlah angkatan kerja yang menganggur sebesar 60 ribu orang. Kondisi tersebut mengakibatkan TPT Sulsel mengalami perbaikan.
Persentase jumlah angkatan yang bekerja terhadap angkatan kerja juga mengalami peningkatan, yaitu dari 88,75% pada Agustus 2007 menjadi 90,96% pada Agustus 2008. Sementara angkatan kerja yang bekerja pada Agustus 2008 tumbuh sebesar 6,69% (y.o.y) sedangkan pada Agustus 2007 tumbuh sebesar 4,01% (y.o.y). Peningkatan tersebut diperkirakan didorong oleh penyerapan tenaga kerja di sektor jasa (2,80%), searah dengan sumbangan pertumbuhan sektor jasa pada perekonomian Sulsel yang mengalami peningkatan pertumbuhan. Selain sektor jasa, sektor ekonomi yang mendorong peningkatan tenaga kerja tersebut adalah sektor industri yang memberikan sumbangan peningkatan sebesar 1,23%.
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
Pada triwulan IV-2008 terjadi perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah. Anggaran pendapatan berubah menjadi sebesar Rp2,02 triliun, atau meningkat sebesar 5,37%, sementara anggaran belanja berubah menjadi Rp1,85 triliun atau meningkat sebesar 12,86%.
Hingga triwulan IV-2008, realisasi anggaran PAD diperkirakan telah mencapai lebih dari 100% dari target yang ditentukan, yang terutama disebabkan oleh realisasi ’Lain-lain PAD yang Sah’ diperkirakan mencapai 254,96% dari target yang ditetapkan. Sedangkan 2 komponen PAD, yaitu ‘Bagian Laba Hasil Daerah’ dan ‘Pendapatan Pajak dan Retribusi Daerah’ diperkirakan belum mencapai 100%.
Sementara itu, diperkirakan realisasi belanja daerah baru mencapai 84,01% atau sebesar Rp1,55 triliun. Secara normal, belanja pemerintah sampai dengan triwulan IV terealisasi sebesar 100% dari anggaran yang ditetapkan, maka terdapat deviasi sebesar 15,99% sementara pada triwulan III-2008 terjadi deviasi sebesar 14,01%. Perlambatan realisasi belanja pemerintah tersebut diperkirakan karena pengaruh tingkat inflasi sehingga terjadi penghematan belanja.
OUTLOOK KONDISI EKONOMI DAN
INFLASI
Dari sisi penawaran, pada triwulan I-2009 diperkirakan
sektor pertanian akan mengalami penurunan produksi, terutama pada subsektor tanaman bahan makanan (tabama) dan subsektor perikanan, sehubungan dengan kondisi cuaca yang diperkirakan masih kurang kondusif. Selain itu, relatif melemahnya permintaan ekspor komoditi Sulsel dan melemahnya tingkat harga di pasar
Jumlah angkatan kerja di Sulsel selama Agustus 2007- Agustus 2008 mengalami kenaikan, yang diikuti dengan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka ...
Hingga triwulan IV-2008, realisasi anggaran PAD diperkirakan telah
mencapai lebih dari 100% dari target yang
ditentukan ...
Untuk triwulan
internasional, khususnya komoditi hasil produksi sektor pertanian (misal CPO) dan pertambangan (misal nikel), relatif akan
memperlambat laju pertumbuhan ekspor. Dari sisi permintaan,
kinerja konsumsi diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan I-2009, sehubungan dengan adanya rencana stimulus pemerintah untuk mengatasi dampak krisis global. Selain itu, penurunan harga BBM yang terjadi pada akhir triwulan IV-2008, relatif akan mampu mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.
Perekonomian Sulsel pada triwulan mendatang, secara tahunan, diperkirakan akan lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (10,59%), namun sedikit tinggi dibanding pertumbuhan tahunan pada triwulan IV-2008 (4,83%). Laju inflasi pada triwulan I-2009 diperkirakan pada kisaran 5,1% ± 1% (y.o.y).
Dari tingkat kestabilan harga, pada triwulan mendatang, dorongan inflasi diperkirakan masih akan terjadi pada kelompok bahan makanan, terutama untuk komoditas beras, tepung terigu dan ikan. Faktor pendorong peninkatan inflasi diperkirakan karena faktor cuaca yang kurang kondusif sehingga mempengaruhi pasokan komoditas bahan makanan. Namun di sisi lain, terjadinya penurunan harga BBM tersebut diperkirakan akan mampu mengurangi tekanan terjadinya inflasi.
Akibat tekanan harga pada komoditas-komoditas tersebut di atas di atas maka diperkirakan laju inflasi akan cenderung mengalami perlambatan. Pada triwulan mendatang laju inflasi tahunan diperkirakan masih lebih tinggi dibandingkan laju inflasi triwulan I-2008 (7,96%), namun lebih rendah dibanding laju inflasi triwulan IV-2008 (12,40%). Laju inflasi pada triwulan I-2009 diperkirakan pada kisaran 10,2% ± 1% (y.o.y).
Laju inflasi secara tahunan pada triwulan I-2009 diperkirakan pada
kisaran 10,2% ± 1%
INDIKATOR EKONOMI DAN PERBANKAN TRIWULAN
PROPINSI SULAWESI SELATAN
LANJUTAN ... INDIKATOR EKONOMI DAN PERBANKAN TRIWULAN
PROPINSI SULAWESI SELATAN
Bab 1
Perkembangan Kondisi
Makroekonomi
Perekonomian daerah Sulawesi Selatan pada triwulan IV-2008 diperkirakan
mengalami pertumbuhan sebesar 4,83% (y.o.y), lebih rendah apabila dibandingkan dengan
pertumbuhan tahunan triwulan III-2008 yang sebesar 7,71% (y.o.y) maupun dengan triwulan
yang sama tahun lalu (triwulan IV-2007) yang sebesar 11,19% (y.o.y).
Dari sisi permintaan, laju pertumbuhan regional secara umum masih didukung oleh
pertumbuhan kinerja investasi yang diperkirakan sebesar 19,10% (y.o.y) dengan sumbangan
terhadap pertumbuhan sebesar 3,43%, meskipun pada triwulan laporan kinerja investasi
diperkirakan masih mengalami perlambatan dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat
tumbuh sebesar 26,35%. Pertumbuhan kinerja investasi tersebut, salah satunya didorong
dengan adanya realisasi investasi di sektor industri pengolahan kayu dan industri lainnya.
Grafik 1.1. Laju Pertumbuhan PDRB
(3) (2) (1) -1 2 3 4 5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
%
-2 4 6 8 10 12
% qtq
yoy
Dari sisi penawaran (sektoral), selain sektor jasa-jasa, semua sektor ekonomi
diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan. Pertumbuhan terendah diperkirakan
terjadi di sektor pertambangan-penggalian yang pada triwulan laporan terjadi kontraksi.
Sementara pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor bangunan/konstruksi. Penyumbangn
terbesar diperkirakan masih terjadi di sektor perdagangan-hotel-restoran, diikuti oleh sektor
1.1 Permintaan Daerah
Perlambatan kinerja perekonomian daerah pada triwulan IV-2008 tersebut, baik
dibanding pertumbuhan tahunan triwulan sebelumnya maupun secara triwulanan (q.t.q),
terjadi di semua kinerja komponen.
Tabel 1.1. Perkembangan PDRB Riil : Permintaan Daerah (y.o.y)
Trw III-07 Trw IV-07 Trw III-08 Trw IV-08 Trw III-07 Trw IV-07 Trw III-08 Trw IV-08
7.55 11.19 7.71 4.83 2.41 2.52 2.33 (0.22)
1. Konsumsi 3.68 2.29 6.53 4.58 2.06 2.13 2.47 0.26 a. Rumah Tangga 5.58 3.47 5.41 4.09 1.20 1.21 2.51 (0.06) b. Nirlaba 10.51 17.53 7.19 1.45 4.12 7.46 4.27 1.71 c. Pemerintah (3.18) (2.30) 10.75 6.49 5.37 5.39 2.27 1.34 2. Investasi 15.27 16.04 26.35 19.10 5.13 3.31 2.45 (2.62)
a. Pembentukan Modal 12.92 17.81 23.08 18.92 6.49 7.40 8.72 3.77 b. Perubahan Stok 86.99 (44.01) 86.56 31.83 (14.88) (72.25) (39.80) (80.39) 3. Ekspor - Impor (Net) 23.52 111.54 (14.47) (16.19) 0.49 3.78 0.96 1.69
a. Ekspor (0.02) 1.79 7.26 (9.08) (17.69) 7.01 (0.62) (9.29) b. Impor (6.09) (12.93) 14.63 (6.76) (22.45) 8.11 (1.02) (12.06)
7.55 11.19 7.71 4.83 2.41 2.52 2.33 (0.22)
1. Konsumsi 2.71 1.76 4.64 3.24 1.47 1.51 1.73 0.18 a. Rumah Tangga 3.16 2.05 3.01 2.25 0.68 0.67 1.36 (0.03) b. Nirlaba 0.06 0.11 0.04 0.01 0.03 0.05 0.03 0.01 c. Pemerintah (0.52) (0.40) 1.58 0.98 0.77 0.79 0.34 0.20 2. Investasi 2.54 2.76 4.70 3.43 0.89 0.59 0.51 (0.55)
a. Pembentukan Modal 2.08 2.98 3.91 3.35 1.06 1.25 1.59 0.73 b. Perubahan Stok 0.46 (0.22) 0.79 0.08 (0.16) (0.66) (1.07) (1.28) 3. Ekspor - Impor (Net) 2.30 6.67 (1.63) (1.84) 0.06 0.43 0.09 0.15
a. Ekspor (0.01) 0.90 3.22 (4.20) (9.76) 3.11 (0.28) (4.10) b. Impor (2.31) (5.76) 4.84 (2.36) (9.82) 2.68 (0.37) (4.25)
Sumber : BPS Sulbar Ket. : Angka Sementara
Pertumbuhan (%, y.o.y) Pertumbuhan (%, q.t.q) KOMPONEN
Sumbangan (%, y.o.y) Sumbangan (%, q.t.q)
KOMPONEN
a. Konsumsi
Pada triwulan laporan, kinerja konsumsi diperkirakan tumbuh sebesar 4,58% (y.o.y),
lebih rendah dibanding triwulan III-2008 (6,53%; y.o.y), namun lebih tinggi dibanding
triwulan IV-2007 (2,29%; y.o.y). Pertumbuhan kinerja konsumsi tersebut diperkirakan
didorong oleh kinerja konsumsi rumah tangga meski mengalami perlambatan pertumbuhan
apabila dibanding triwulan III-2008. Perlambatan kinerja konsumsi ini relatif disebabkan oleh
adanya tekanan harga secara umum yang cukup tinggi, sementara tingkat penghasilan
masyarakat relatif tidak mengalami perubahan (hasil survey konsumen Bank Indonesia
Makassar).
Kinerja konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sebesar 4,09% (y.o.y)
dengan sumbangan pertumbuhan sebesar 2,25% (y.o.y). Angka pertumbuhan tersebut lebih
rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III-2008 yang tercatat sebesar 5,41%
(y.o.y). Perlambatan pertumbuhan kinerja konsumsi tersebut diperkirakan karena
melemahnya konsumsi rumah tangga terhadap bahan makanan yang relatif dipicu karena
keterbatasan ketersediaan pasokan bahan makanan sehubungan dengan adanya pengaruh
Kondisi tersebut juga menekan laju pertumbuhan kinerja konsumsi pemerintah dan
konsumsi nirlaba. Kinerja konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 6,49%
(y.o.y), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III-2008 yang tumbuh sebesar
10,75% (y.o.y). Selain karena pengaruh tersebut di atas, perlambatan kinerja konsumsi
pemerintah ini diperkirakan karena adanya perlambatan realisasi belanja dari target yang
ditentukan. Sementara di konsumsi Nirlaba, dengan adanya tekanan harga relatif
menyebabkan terjadinya rasionalisasi konsumsinya yang diperkirakan karena adanya
keterbatasan anggaran operasional. Pada triwulan laporan, kinerja konsumsi nirlaba tumbuh
sebesar 1,45% (y.o.y), lebih rendah dibanding pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang
sebesar 7,19%. Beberapa prompt indikator terjadinya pertumbuhan kinerja konsumsi
tersebut di atas terlihat dari grafik sebagai berikut :
Grafik 1.2. Prompt Indikator Kinerja Konsumsi
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini
85
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini
Sumber : KBI Makassar Survei Konsumen
Indeks Penghasilan Saat Ini Dibandingkan 6 Bulan Yang Lalu
85
Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu
Sumber : KBI Makassar Survei Konsumen
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini
70
Ketersediaan lapangan kerja saat ini
Sumber : KBI Makassar Survei Konsumen
Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang Tahan Lama
60
2007 2008 2009
In
d
e
k
s
Ketepatan waktu pembelian (konsumsi) barang tahan lama
Sumber : KBI Makassar Survei Konsumen
Jumlah Kendaraan Non Niaga Yang Terdaftar
-Non Niaga (1-8)
Y.O.Y
Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Rumah Tangga
-2006 2007 2008
Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Sosial
-2006 2007 2008
Ju
Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Pemerintah
-2006 2007 2008
Ju
Gd Kantor Pemerintahan y.o.y
Survey Pedagang Eceran Perlengkapan Rumah Tangga
Perlengkapan Rumah Tangga
0
2006 2007 2008
R
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
Survey Pedagang Eceran Makanan dan Tembakau
Makanan & Tembakau
-2006 2007 2008
M
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
Survey Pedagang Eceran Pakaian dan Perlengkapannya
Pakaian & Perlengkapannya
0
2006 2007 2008
R
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
Perkembangan Kredit Konsumsi Bank Umum
2006 2007 2008
R
Pemakaian Air (M³) di Makassar
7.4 Pemakaian Air (M³)
Y.O.Y (PA)
Sumber : PDAM Mks
Pemasangan Saluran Air di Makassar
375 Pemasangan Saluran (SL)
Y.O.Y (SL)
b. Investasi
Meski terjadi penambahan investasi baru di wilayah Sulsel, pertumbuhan tahunan
kinerja investasi pada triwulan laporan diperkirakan lebih rendah dibanding pertumbuhan
tahunan pada triwulan III-2008. Pada triwulan IV-2008, kinerja investasi diperkirakan tumbuh
sebesar 19,10% (y.o.y) dengan sumbangan pertumbuhan sebesar 3,43% (y.o.y). Sementara
pertumbuhan pada triwulan III-2008 tercatat sebesar 26,35% (y.o.y) dengan sumbangan
pertumbuhan sebesar 4,70% (y.o.y). Perlambatan kinerja investasi tersebut diperkirakan
karena pengaruh krisis keuangan global yang cenderung mendorong perilaku pelaku usaha
untuk menunggu kepastian dampak dari krisis tersebut secara regional (Sulsel). Selain itu,
nilai tukar Rupiah yang cenderung melemah relatif menekan peningkatan volume impor
barang modal. Di sisi lain, tekanan harga dampak dari tekanan kenaikan BBM yang terjadi
pada pertengahan triwulan II-2008 relatif masih mempengaruhi kinerja investasi pada
triwulan laporan.
Beberapa prompt indikator yang relatif menunjukkan pertumbuhan kinerja investasi
di daerah adalah sebagai berikut :
Grafik 1.3. Prompt Pertumbuhan Kinerja Investasi
Volume Impor Barang Modal
-150%
Realisasi Pengadaan Semen
0
2005 2006 2007 2008
Ri
Jumlah Kendaraan Niaga Yang Terdaftar
10,000
Perkembangan Kredit Produktif Bank Umum
2006 2007 2008
Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Industri
-2006 2007 2008
Ju
Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis
-2006 2007 2008
Ju
Survey Pedagang Eceran Kendaraan & Suku Cadang
Kendaraan & Suku Cadang
0
2006 2007 2008
R
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
Survey Pedagang Eceran Bahan Konstruksi
Bahan Konstruksi
2006 2007 2008
R
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
c. Net Perdagangan Eksternal (Ekspor – Impor)
Secara nominal, kinerja perdagangan ke luar Sulsel diperkirakan masih mengalami
surplus, namun pada triwulan laporan diperkirakan masih mengalami kontraksi pertumbuhan
tahunan. Pada triwulan IV-2008, net perdagangan eksternal diperkirakan mengalami
kontraksi sebesar 16,19% (y.o.y) dengan sumbangan pertumbuhan sebesar -1,84%.
Kontraksi ini lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang juga tercatat mengalami
kontraksi sebesar 14,47% (y.o.y). Kontraksi pertumbuhan net perdagangan eksternal ini
yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi daerah mengalami perlambatan.
Kontraksi tersebut disumbangkan oleh kinerja perdagangan antar negara yang
diperkirakan kembali mengalami kontraksi sebesar 11,10% (y.o.y), sedangkan pada triwulan
sebelumnya juga mengalami kontraksi sebesar 16,28% (y.o.y). Kontraksi pertumbuhan
kinerja perdagangan antar negara tersebut relatif didorong oleh kontraksi pertumbuhan
ekspor ke luar negeri, yaitu sebesar 7,19% (y.o.y), meski kontraksi ini diperkirakan lebih baik
dibanding kontraksi pada triwulan III-2008 (-13,02%; y.o.y). Melemahnya pertumbuhan
ekspor antar negara tersebut diperkirakan karena melemahnya permintaan komoditas ekspor
Sulsel sebagai akibat terjadinya krisis keuangan global. Selain itu, akibat krisis tersebut
cenderung menyebabkan melemahnya tingkat harga beberapa komoditas di pasar
Sementara kinerja impor dari luar negeri justru mengalami pertumbuhan positif
sebesar 7,73% (y.o.y), lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang
tercatat sebesar 1,89% (y.o.y). Pertumbuhan kinerja impor antar negara tersebut
diperkirakan karena adanya peningkatan volume impor barang modal .
Sementara perdagangan antar propinsi secara nominal diperkirakan masih defisit,
namun mengalami perlambatan pertumbuhan tahunan seiring dengan melambatnya tingkat
konsumsi masyarakat dan tekanan harga secara umum. Pertumbuhan kinerja perdagangan
antar propinsi pada triwulan laporan diperkirakan kontraksi sebesar 5,53% (y.o.y), lebih
rendah dibanding kinerja pada triwulan sebelumnya yang kontraksi sebesar 17,43% (y.o.y).
Grafik 1.4. Prompt Indikator Kinerja Ekspor Luar Negeri
Volume Ekspor Non Migas Total
SULSEL
2006 2007 2008
Ri
Volume Ekspor Nikel
BIJIH LOGAM & SISA-SISA LOGAM
-2006 2007 2008
Ri
Volume Ekspor Ikan, Udang, Kerang dll
IKAN, UDANG, KERANG, DLL
-2006 2007 2008
R
Harga Nikel di Pasar Dunia
-2006 2007 2008
US$/Metric Ton
Sumber : Bloomberg
Volume Muat Barang Via Pelabuhan
0.0
2005 2006 2007 2008
Ri
Perkembangan Kredit Ekspor Bank Umum
2005 2006 2007 2008
Grafik 1.5. Perkembangan Volume Impor Non Migas Sulawesi Selatan
Volume Impor Non Migas Total
-60%
2006 2007 2008
0
Volume Impor Gandum
-60%
2006 2007 2008
0
04 - CEREAL & CEREAL PREPARATIONS y.o.y
Volume Bongkar Barang Via Pelabuhan
0.0
2005 2006 2007 2008
R
Harga Gandum di Pasar Dunia
-2006 2007 2008
$/Bushel
Sumber : Bloomberg
1.2 Penawaran Daerah (Sektoral)
Dari sisi penawaran, secara tahunan diperkirakan hanya sektor jasa-jasa yang
mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan
sebelumnya, sedangkan sektor-sektor lainnya tercatat mengalami perlambatan. Pertumbuhan
tertinggi diperkirakan masih terjadi di sektor bangunan (konstruksi) yaitu tercatat sebesar
15,20% (y.o.y), sedangkan pertumbuhan terendah terjadi di sektor
pertambangan-penggalian yang kembali mengalami kontraksi sebesar 2,17% (y.o.y).
Dari sisi sumbangan, penyumbang pertumbuhan terbesar pada triwulan laporan
diperkirakan masih diberikan oleh sektor perdagangan-hotel-restoran, meski tercatat
mengalami penurunan sumbangan dibandingkan sumbangan pada pertumbuhan tahunan
triwulan sebelumnya. Sementara sektor jasa-jasa, diperkirakan memberikan sumbangan
pertumbuhan tahunan yang lebih tinggi dibanding sumbangan pada triwulan sebelumnya.
Sedangkan sumbangan pertumbuhan tahunan oleh sektor ekonomi lainnya justru mengalami
Tabel 1.2. Perkembangan PDRB Riil : Penawaran Daerah
Secara triwulanan (q.t.q), pertumbuhan ekonomi daerah didorong oleh sektor
jasa-jasa, keuangan-persewaan-jasa perusahaan dan pertambangan-penggalian yang
masing-masing sektor memberikan sumbangan sebesar 0,43%, 0,32% dan 0,21%. Secara
keseluruhan pertumbuhan triwulanan Sulsel juga tercatat mengalami kontraksi yaitu sebesar
0,22% dari 2,33% pada triwulan lalu. Sementara dari sisi pertumbuhan, sektor
keuangan-persewaan-jasa perusahaan diperkirakan mengalami pertumbuhan triwulanan tertinggi yaitu
sebesar 5,12%, kemudian diikuti sektor jasa-jasa (3,93%), sektor bangunan (2,99%) dan
sektor pertambangan-penggalian (2,27%). Ke-empat sektor tersebut mengalami
pertumbuhan triwulanan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulanan pada
triwulan III-2008.
a. Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian diperkirakan mengalami perlambatan yaitu tumbuh sebesar
2,39% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,27%
(y.o.y). Diperkirakan perlambatan pertumbuhan tahunan sektor ini disebabkan karena adanya
penurunan kinerja subsektor tanaman bahan makanan (tabama) dan perikanan, yang
disebabkan oleh kondisi cuaca yang kurang kondusif, seperti tingginya curah hujan dan
gelombang laut, yang dalam beberapa kasus mengakibatkan bencana alam seperti banjir
yang melanda area persawahan. Penurunan kinerja di subsektor perikanan salah satunya
ekspor komoditi tersebut tercatat kontraksi sebesar 12,14% (y.o.y), sementara pada triwulan
sebelumnya tumbuh sebesar -8,71% (y.o.y). Sementara di subsektor tanaman bahan
makanan terjadi penurunan produksi dan luas panen seperti yang ditunjukkan pada grafik di
bawah ini.
Grafik 1.6. Prompt Indikator Pertumbuhan Kinerja Sektor Pertanian
Volume Ekspor Ikan, Udang, Kerang dll
IKAN, UDANG, KERANG, DLL
-2006 2007 2008
R
Kredit Sektor Pertanian Bank Umum - Sulsel
2005 2006 2007 2008
R
Jumlah Produksi Tanaman Bahan Makanan
0.0 Produksi Tabama
y.o.y
Smb : BPS Sulsel & Dinas Pertanian Sulsel
Luas Panen
Tanaman Bahan Makanan
0 Luas Panen Tabama
y.o.y
Smb : BPS Sulsel & Dinas Pertanian Sulsel
b. Sektor Industri Pengolahan
Perlambatan pertumbuhan diperkirakan juga terjadi di sektor industri pengolahan
yang pada triwulan laporan tercatat tumbuh sebesar 3,24% (y.o.y), lebih rendah
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,79% (y.o.y). Perlambatan
pertumbuhan sektor ini diperkirakan disebabkan oleh menurunnya produktifitas industri
pengolahan makanan-minuman yang relatif tinggi, meski terjadi peningkatan produksi di
industri pengolahan semen. Menurunnya produktifitas pada industri pengolahan
makanan-minuman diperkirakan karena faktor eksternal, yaitu terutama karena tingginya harga bahan
baku impor di pasar internasional (misal gandum) sementara di sisi lain nilai tukar Rupiah
pada triwulan laporan yang melemah dibanding US Dollar. Kondisi tersebut yang
menyebabkan volume impor bahan baku mengalami penurunan. Sedangkan peningkatan
yang terjadi pada industri pengolahan semen diperkirakan karena faktor musiman yaitu
Grafik 1.7. Prompt Indikator Pertumbuhan Kinerja Sektor Industri Pengolahan
Realisasi Pengadaan Semen di Sulsel
0
2005 2006 2007 2008
R
Realisasi Produksi Tepung Terigu di Sulsel
0
2005 2006 2007 2008
Ri
Kredit Sektor Industri Pengolahan Bank Umum - Sulsel
2006 2007 2008
R Industri pengolahan y.o.y
Volume Impor Gandum
-60%
2006 2007 2008
0
04 - CEREAL & CEREAL PREPARATIONS y.o.y
c. Sektor Perdagangan-Hotel-Restoran
Perlambatan pertumbuhan juga terjadi di sektor perdagangan-hotel-restoran yang
diperkirakan tumbuh sebesar 7,58% (y.o.y) dengan sumbangan terhadap total pertumbuhan
sebesar 1,17%. Sementara pertumbuhan tahunan pada triwulan III-2008 diperkirakan
sebesar 13,55% (y.o.y) dengan sumbangan sebesar 2,07%. Perlambatan pertumbuhan di
sektor ini diperkirakan karena melemahnya pertumbuhan subsektor perdagangan besar dan
eceran, yang pada triwulan laporan tumbuh sebesar 7,63%% (y.o.y), sementara subsektor
hotel dan restoran relatif stabil pertumbuhannya.
Perlambatan pertumbuhan kinerja subsektor perdagangan besar dan eceran relatif
diperkirakan karena melemahnya permintaan komoditas ekspor Sulsel sehubungan dengan
krisis global. Sementara secara internal di Sulsel, tekanan pertumbuhan subsektor ini relatif
disebabkan oleh melemahnya konsumsi masyarakat karena adanya peningkatan harga
barang secara umum.
Sementara perlambatan kinerja subsektor hotel dan restoran pada triwulan laporan
relatif disebabkan adanya kegiatan menyambut Natal dan Tahun Baru 2009, serta
meningkatnya penggunaan jasa hotel/restoran yang terkait dengan kegiatan
Grafik 1.8. Prompt Indikator Kinerja Sektor Perdagangan-Hotel-Restoran
Perkembangan Volume Ekspor-Impor
2006 2007 2008
-Arus Bongkar Muat Cargo Melalui Angkutan Udara
-2004 2005 2006 2007 2008
Ri
ARR DEP y.o.y
Lalu Lintas Cargo
q
Arus Bongkar Muat Melalui Angkutan Laut
0.0
2005 2006 2007 2008
Ri
Survey Pedagang Eceran Perlengkapan Rumah Tangga
Perlengkapan Rumah Tangga
0
2006 2007 2008
R
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
Survey Pedagang Eceran Pakaian dan Perlengkapannya
Pakaian & Perlengkapannya
0
2006 2007 2008
R
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
Kredit Sektor Perdagangan Bank Umum
2006 2007 2008
R
d. Sektor Jasa-jasa
Diperkirakan masih mengalami peningkatan pertumbuhan yaitu dari 5,52% (y.o.y)
pada triwulan III-2008 menjadi sebesar 7,38% (y.o.y) pada triwulan laporan dengan
sumbangan terhadap total pertumbuhan adalah sebesar 0,83%. Pendorong utama kinerja
sektor jasa-jasa adalah subsektor Jasa Pemerintahan Umum, yang diperkirakan terjadi
peningkatan konsumsi sehubungan dengan masa akhir tahun anggaran. Sementara di
subsektor swasta, pertumbuhannya relatif didorong oleh pertumbuhan kinerja jasa
Grafik 1.9. Prompt Indikator Kinerja Sektor Jasa-jasa
Konsumsi Listrik Sektor Sosial
-2006 2007 2008
Ju
Konsumsi Listrik Sektor Pemerintah
-2006 2007 2008
Ju
Gd Kantor Pemerintahan y.o.y
Konsumsi Listrik Umum (Penerangan Jalan Umum)
-2006 2007 2008
Ju
Penerangan Jln Umum y.o.y
Kredit Sektor Jasa Dunia Usaha Bank Umum - Sulsel
2006 2007 2008
R
Kredit Sektor Jasa Sosial Kemasyarakatan Bank Umum - Sulsel
2006 2007 2008
R Jasa Sosial Masyarakat y.o.y
e. Sektor Angkutan dan Komunikasi
Sektor angkutan dan komunikasi pada triwulan laporan diperkirakan masih
mengalami perlambatan pertumbuhan. Pada triwulan IV-2008, sektor ini diperkirakan
tumbuh sebesar 9,13% (y.o.y) dengan sumbangan terhadap PDRB daerah sebesar 0,74%
(y.o.y), sementara pertumbuhan pada triwulan III-2008 sebesar 13,21% (y.o.y) dengan
sumbangan terhadap PDRB daerah sebesar 1,05% (y.o.y). Perlambatan pertumbuhan sektor
ini diperkirakan didominasi oleh penurunan kinerja subsektor pengangkutan, yang relatif
disebabkan oleh faktor musiman dimana akan terjadi penurunan kinerja pasca bulan suci
Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang pada tahun 2008 jatuh pada akhir triwulan III-2008.
Sementara di sisi lain, dengan banyaknya hari libur pada triwulan IV-2008 relatif mendorong
Perlambatan juga diperkirakan terjadi di subsektor komunikasi, yang diperkirakan
karena terjadi perang tarif murah antar operator seluler yang mendorong terjadinya
peningkatan penggunaan seluler oleh masyarakat sehingga menyebabkan terjadinya
pertumbuhan kinerja subsektor komunikasi. Namun di sisi lain, terjadi efisiensi konsumsi
masyarakat terhadap pulsa seluler yang relatif menekan pertumbuhan kinerja subsektor
komunikasi.
Grafik 1.10. Prompt Indikator Kinerja Subsektor Angkutan
Lalu Lintas Penumpang Angkutan Udara
-2004 2005 2006 2007 2008
Ri
ARR DEP y.o.y
Lalu Lintas Penumpang
Lalu Lintas Pesawat Angkutan Udara
-2004 2005 2006 2007 2008
-20%
ARR DEP y.o.y
Lalu Lintas Pesawat
Jumlah Kendaraan Mikrolet Yang Terdaftar
-Lalu Lintas Penumpang Angkutan Laut
Jumlah Penumpang
2006 2007 2008
-100%
Perkembangan Kredit Sektor Angkutan Bank Umum
2006 2007 2008
R
Pengangkutan y.o.y
Survey Pedagang Eceran Kendaraan & Suku Cadang
Kendaraan & Suku Cadang
0
2006 2007 2008
R
f. Sektor Keuangan-Sewa-Jasa Perusahaan
Pada triwulan laporan diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan, yaitu dari
6,18% (y.o.y) pada triwulan III-2008 menjadi sebesar 4,98% (y.o.y). Perlambatan
pertumbuhan tersebut diperkirakan karena faktor peningkatan suku bunga kredit perbankan
yang mengalami peningkatan, sementara di sisi lain relatif terjadi penurunan produktifitas di
sektor riil. Kondisi ini relatif menyebabkan terjadinya penurunan kinerja subsektor perbankan,
yang ditandai dengan menurunnya Nilai Tambah Bruto Bank Umum di Sulsel. Selain
subsektor bank, subsektor sewa bangunan juga relatif terkena dampaknya, yaitu dengan
berkurangnya jumlah penyewa sehubungan dengan meningkatnya biaya sewa bangunan,
terutama sewa rumah. Namun di sisi lain, kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan
terjadinya pertumbuhan di subsektor lembaga keuangan non bank, yang relatif karena
pergeseran nasabah dari bank ke lembaga dimaksud. Kondisi tersebut tercermin dari
meningkatnya pertumbuhan pembiayaan lembaga tersebut.
Grafik 1.11. Prompt Indikator Kinerja Sektor Keuangan-Sewa-Jasa Perusahaan
Nilai Tambah Bruto Bank Umum
3 NTB Bank Umum
y.o.y
Pembiayaan Lemb. Keuangan Non Bank
55.7
2006 2007 2008
M
Sumber : Kanwil Pegadaian Sulsel
g. Sektor Lainnya
Sektor listrik-gas-air bersih, diperkirakan masih mengalami pertumbuhan, namun
dalam besaran yang lebih rendah dibanding pertumbuhan pada triwulan III-2008. Pada
triwulan laporan, sektor ini diperkirakan tumbuh sebesar 9,66% (y.o.y), sementara pada
triwulan III-2008 tumbuh sebesar 13,85% (y.o.y). Pertumbuhan sektor ini masih didominasi
oleh sumbangan subsektor listrik yaitu sebesar 0,09% (y.o.y) sedangkan sumbangan sektor
listrik-gas-air bersih terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel sebesar 0,10%(y.o.y).
Perlambatan pertumbuhan pada sektor ini diperkirakan karena adanya tekanan harga BBM
serta program penghematan listrik kepada masyarakat, sehingga cenderung terjadi
penghematan konsumsi listrik. Namun di sisi lain, pemasangan jaringan listrik baru yang
Di subsektor air bersih, diperkirakan juga terjadi perlambatan pertumbuhan tahunan
dibanding triwulan sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan pada triwulan laporan di
subsektor ini diperkirakan karena terjadi gangguan pada sarana dan prasarana penyediaan
fasilitas air bersih, terutama di Makassar.
Grafik 1.12. Prompt Indikator Kinerja Sektor Listrik-Gas-Air Bersih
Penjualan Listrik (Juta Kwh) di Sulsel
-2006 2007 2008
Ju
Total Pemakaian Listrik y.o.y
Pemakaian Air (M³) di Makassar
7.4 Pemakaian Air (M³)
Y.O.Y (PA)
Sumber : PDAM Mks
Survey Pedagang Eceran - Bahan Bakar
Bahan Bakar
2006 2007 2008
R
Sumber : KBI Makassar Survei Penjualan Eceran
Pemasangan Saluran Air di Makassar
375 Pemasangan Saluran (SL)
Y.O.Y (SL)
Sumber : PDAM Mks
Kredit Sektor Listrik-Gas-Air Bersih Bank Umum - Sulsel
2006 2007 2008
R
Sektor pertambangan-penggalian, diperkirakan masih mengalami kontraksi
pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding kontraksi pada triwulan III2008 yang sebesar
-1,35% (y.o.y). Kontraksi pertumbuhan sektor ini pada triwulan laporan diperkirakan sebesar
2,17% (y.o.y) dengan sumbangan terhadap PDRB daerah sebesar -0,22% (y.o.y).
Penyumbang terbesar kontraksi ini adalah masih subsektor pertambangan bukan migas
menurunnya produktifitas hasil tambang, terutama nikel. Penurunan produksi nikel tersebut
ditandai dengan menurunnya volume ekspor nikel Sulsel yang relatif karena penyesuaian
terhadap tingkat harga nikel di pasar dunia yang makin melemah/kurang menguntungkan.
Selain itu, sehubungan dengan terjadi kecenderungan melemahnya beberapa komoditi hasil
tambang di pasar dunia, maka tingkat risiko kredit di sektor ini relatif mengalami
peningkatan. Sehingga terjadi kecenderungan penurunan penyaluran kredit perbankan.
Grafik 1.13. Prompt Indikator Kinerja Sektor Pertambangan-Penggalian
Volume Ekspor Nikel
BIJIH LOGAM & SISA-SISA LOGAM
-2006 2007 2008
Ri
Perkembangan Harga Nikel di Pasar Dunia
-2006 2007 2008
US$/Metric Ton
Sumber : Bloomberg
Perkembangan Kredit Sektor Pertambangan-Penggalian
Bank Umum
2006 2007 2008
R
Pertambangan y.o.y
Sektor bangunan, diperkirakan masih mengalami pertumbuhan positif yang cukup
signifikan namun lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, sektor
ini diperkirakan tumbuh 15,02% (y.o.y) sedangkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya
sebesar 23,20% (y.o.y). Pertumbuhan positif pada sektor ini ditandai dengan meningkatnya
realisasi pengadaan semen di wilayah Sulsel yang mengalami peningkatan pada triwulan
IV-2008 dibanding triwulan IV-2007. Peningkatan dimaksud diperkirakan terkait dengan
percepatan pembangunan pada akhir tahun anggaran mengingat pada triwulan III-2008
terjadi perlambatan pembangunan. Sementara di sisi lain, diperkirakan terjadi tekanan
pertumbuhan karena relatif menurunnya daya beli masyarakat terutama terhadap sektor
properti sehubungan dengan meningkatnya tingkat suku bunga KPR (Kredit Perumahan
Grafik 1.14. Prompt Indikator Kinerja Sektor Bangunan
Realisasi Pengadaan Semen
0
2005 2006 2007 2008
Ri
Perkembangan Kredit Sektor Konstruksi Bank Umum
2006 2007 2008
R
Perkembangan Kredit Properti Bank Umum
2005 2006 2007 2008
R
Survey Pedagang Eceran Bahan Konstruksi
Bahan Konstruksi
2006 2007 2008
R
Bab 2
Perkembangan Inflasi
Perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulsel pada periode laporan dimaksud, secara
tidak langsung diduga telah menurunkan laju permintaan masyarakat sehingga relatif
mengurangi tekanan inflasi pada triwulan IV-2008. Peningkatan inflasi regional yang relatif
kecil, diduga berasal dari fluktuasi permintaan dan penawaran pada kelompok bahan
makanan dan makanan jadi.
Laju inflasi tahunan di Sulsel tercatat sebesar 12,40% (y.o.y), sedikit lebih tinggi
dibanding baik dengan laju inflasi tahunan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar
12,28% (y.o.y) maupun dengan laju inflasi nasional yang tercatat sebesar 11,06% (y.o.y).
Meski terjadi peningkatan konsumsi masyarakat sehubungan dengan adanya Hari Raya Idul
Adha, Natal dan libur panjang menjelang tahun baru, namun peningkatan tersebut tidak
terlalu besar sehingga pertumbuhan laju inflasi meningkat relatif kecil. Hal tersebut tercermin
pada konsumsi PDRB Sulsel yang pada triwulan laporan melambat menjadi 3,20% (y.o.y),
sementara pada triwulan III-2008 tercatat sebesar 4,64% (y.o.y).
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Sulawesi Selatan
‐2 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2003 2004 2005 2006 2007 2008
%
y.o.y ‐ Ss y.t.d ‐ Ss
y.o.y ‐ Nas
Sumber : BPS, diolah Posisi September 2008 :
y.o.y : 12,28%
y.t.d : 12,12% Nas
y.o.y : 12,14%
Laju inflasi tahunan tertinggi masih terjadi pada kelompok bahan makanan yang
tercatat sebesar 21,45% (y.o.y) atau mengalami peningkatan dibandingkan triwulan
sebelumnya yang tercatat sebesar 19,21% (y.o.y). Sedangkan laju inflasi tahunan terendah
masih terjadi pada kelompok pendidikan-rekreasi-olahraga yaitu sebesar 3,72% (y.o.y), yang
juga lebih tinggi dibanding laju inflasi tahunan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,40%
Berdasarkan tahun kalender, laju inflasi kumulatif sampai dengan akhir bulan
Desember 2008 akan sama dengan inflasi tahunan yaitu sebesar 12,40% (y.t.d). Angka ini
lebih tinggi dibandingkan laju inflasi kumulatif pada periode sama tahun 2007 yang tercatat
sebesar 5,71% (y.t.d). Tekanan harga kumulatif tertinggi masih terjadi di kelompok bahan
makanan yaitu sebesar 21,45% (y.t.d) sedangkan yang terendah juga masih terjadi pada
kelompok pendidikan-rekreasi-olahraga yang tercatat sebesar 3,72% (y.t.d).
Tabel 2.1. Inflasi Kelompok Barang dan Jasa (%, y.o.y)
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Bahan Makanan 16.96 20.83 20.69 16.07 14.52 10.53 16.84 11.27 14.75 20.25 19.21 21.45 Makanan J adi 11.44 13.52 11.74 5.72 4.98 3.28 3.75 4.03 8.14 7.62 14.10 14.51 P erumahan 10.16 10.66 10.4 3.26 2.89 2.55 2.45 3.01 3.85 8.40 11.91 11.13 S andang 7.2 8.85 6.06 4.79 5.49 3.38 6.37 9.29 12.42 11.13 11.89 11.32 Kes ehatan 5.48 5.71 5.92 3.33 2.85 2.71 4.08 4.39 5.30 7.11 8.97 11.11 P endidikan 8.31 9.15 13.49 13.12 12.99 12.12 8.5 8.25 8.28 5.90 3.40 3.72 Trans por 29.99 29.67 29.6 0.98 0.54 0.48 0.35 0.27 0.74 6.77 7.84 5.29 UMUM / TOTAL 15.23 16.85 16.52 7.21 6.68 5.11 6.98 5.71 7.96 11.94 12.28 12.40
S umber : BP S , diolah
2008
K E TE R ANGAN 2006 2007
2.1 Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang
Secara umum, inflasi tahunan pada triwulan laporan ini diperkirakan dipicu oleh
adanya kenaikan permintaan masyarakat sehubungan dengan konsumsi pada hari raya Idul
Adha, Natal dan libur panjang Tahun Baru. Sementara di sisi lain, kondisi tingkat harga di
pasar internasional pada triwulan IV-2008 mengalami koreksi serta adanya tindakan
pemerintah daerah dalam upaya mengantisipasi kesiapan pasokan barang terutama pasokan
bahan makanan, pada saat hari raya Idul Adha, Natal dan Tahun Baru, relatif mampu
meredam terjadinya peningkatan harga akibat meningkatnya permintaan masyarakat.
Sehingga laju inflasi tahunan daerah selama triwulan laporan relatif terkendali, meski laju
inflasi tahunan pada triwulan laporan lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya.
Berdasarkan laju inflasi tahunan dari setiap kelompok barang dan jasa pada triwulan IV-2008
di Makassar, secara berurutan dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah sebagai berikut:
Kelompok Bahan Makanan, pada
triwulan IV-2008 tercatat inflasinya sebesar
21,45% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan
triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar
19,21% (y.o.y). Ditinjau dari sub
kelompoknya, masing-masing sub kelompok
masih tercatat mengalami inflasi dan empat
sub kelompok tersebut mengalami inflasi
lebih rendah dibanding inflasi tahunan
Tabel 2.2. Inflasi Per-Sub Kelompok Bahan Makanan
III-2008 IV-2008 - P adi-padian, Umbi-umbian & Has ilnya 9.58 9.21 - Daging & Has il-has ilnya 27.23 24.24 - Ikan S egar 20.21 43.79 - Ikan Diawetkan 30.96 37.18 - T elur, S us u & Has il-has ilnya 16.15 9.93 - S ayur-s ayuran 10.81 28.49 - Kacang-kacangan 75.68 73.32 - B uah-buahan 15.11 17.60 - B umbu-bumbuan 15.90 (4.77) - L emak & Minyak 22.26 13.06 - B ahan Makanan L ainnya 3.66 8.01 Inflas i Kelompok 19.21 21.45 S umber : B P S diolah
triwulan sebelumnya. Perlambatan laju inflasi tahunan terbesar pada sub kelompok bahan
makanan terjadi pada sub kelompok telur, susu dan hasil-hasilnya, dengan laju inflasi sebesar
9,93% (y.o.y) sementara laju inflasi pada triwulan III-2008 sebesar 16,15% (y.o.y).
Sedangkan perlambatan lau inflasi tahunan terkecil terjadi pada sub kelompok
padi-padian,umbi-umbian dan hasilnya yaitu sebesar 9.21% (y.o.y) sementara pada triwulan
sebelumnya adalah 9.58% (y.o.y). Kemudian diikuti sub kelompok daging dan hasil-hasilnya,
yang melambat dari 27,23% (y.o.y) pada triwulan III-2008, menjadi 24,24% (y.o.y).
Di sisi lain, peningkatan laju inflasi yang paling besar terjadi pada sub kelompok ikan
segar, yang meningkat dari 20,21% (y.o.y) pada triwulan III-2008 menjadi 43,79% (y.o.y)
pada triwulan laporan. Kemudian diikuti oleh sub kelompok sayur-sayuran, ikan diawetkan
dan buah-buahan yang masing-masing menjadi 28,49% (y.o.y), 37,18% (y.o.y) dan 17,60%
(y.o.y). Peningkatan harga sub kelompok tersebut diakibatkan oleh terganggunya pasokan
karena faktor musim yang mengakibatkan cuaca buruk sehingga menyulitkan nelayan untuk
melaut dan juga menyebabkan terjadinya gagal panen.
Peningkatan laju inflasi sub kelompok ini sejalan dengan hasil Survei Pemantauan
Harga (SPH) dimana beberapa komoditi yang termasuk dalam kelompok ini mengalami
kenaikan harga, terutama pada komoditi jeruk dan sayur-sayuran.
Grafik 2.2. Harga CPO, Kedelai, Beras dan Jagung di Pasar Internasional Sawi Hijau
-20.0%
Disisi lain, perlambatan inflasi terjadi pada sub kelompok daging-hasil-hasilnya,
telur-susu-hasil-hasilnya, kacang-kacangan dan lemak-minyak. Kemudian pada sub kelompok
(y.o.y) pada triwulan laporan. Hal tersebut juga sejalan dengan hasil Survei Pemantauan
Harga (SPH ) yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
Penurunan harga minyak goreng, diperkirakan karena tingkat harga CPO di pasar
internasional pada triwulan laporan mengalami koreksi harga karena terjadi penurunan
permintaan sebagai akibat dari krisis keuangan global. Sedangkan untuk komoditi beras dan
bumbu-bumbuan relatif disebabkan karena melimpahnya pasokan di pasar regional
sehubungan dengan terjadinya panen komoditi dimaksud. Untuk kelompok
daging-dagingan, juga tercatat mengalami kecenderungan penurunan harga. Hal ini diduga karena
terjaganya kecukupan stock komoditas tersebut sehingga peningkatan permintaan tidak
tidak menyebabkan inflasi yang berlebihan pada sub komoditas ini.
Grafik 2.3. Perkembangan Inflasi Kelompok Bahan Makanan
6.50
2004 2005 2006 2007 2008
%
y.o.y y.t.d
Sumber : BPS, diolah
Grafik 2.4. Perkembangan Harga Beberapa Komoditi di Makassar Beras
Daging Sapi
-2.5%
Minyak Goreng
-10.0% Miny ak Goreng
Bawang Merah
-40.0%
Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2008
Kelompok Makanan Jadi-Minuman-Rokok-Tembakau, mengalami inflasi
tahunan sebesar 14,51% (y.o.y) pada triwulan laporan, sedikit lebih tinggi dibanding
triwulan sebelumnya yang sebesar 14,10% (y.o.y). Diperkirakan peningkatan tersebut
didorong oleh permintaan masyarakat akan makanan jadi terutama terkait dengan liburan
panjang menjelang tahun baru yang
membuat orang mengkonsumsi
komoditas makanan jadi pada saat pergi
berlibur. Hal tersebut ditandai dengan
peningkatan laju inflasi pada sub
kelompok minuman yang tidak
beralkohol yang cukup besar, yaitu
sebesar 7,83% (y.o.y) pada triwulan laporan, lebih tinggi dibanding laju inflasi pada triwulan
sebelumnya (4,60%; y.o.y). Namun terjadi perlambatan yang relatif kecil pada sub kelompok
lainya.
Disisi lain, akibat adanya libur panjang yang biasanya dijadikan acara keluarga,
mengakibatkan permintaan atas konsumsi komoditi yang termasuk dalam sub kelompok
tembakau dan minuman beralkohol mengalami penurunan. Sehingga mengakibatkan laju
inflasi sub kelompok ini mengalami perlambatan.
Grafik 2.5. Perkembangan Inflasi Kelompok Makanan Jadi
11.74
2004 2005 2006 2007 2008
%
y.o.y y.t.d
Sumber : BPS, diolah
Grafik 2.6. Perkembangan Harga Beberapa Komoditi Makanan Jadi di Makassar Hasil Survei Bank Indonesia
Ayam Goreng
-10.0% Aya m Goreng
Nasi
Tabel 2.3. Inflasi Per-Sub Kelompok Makanan Jadi-Minuman-Rokok-Tembakau
III-2008 IV-2008
- Makanan Jadi 17.92 17.91
- Minuman yg Tidak Beralkohol 4.60 7.83
- Tembakau & Minuman Beralkohol 10.96 9.95
Inflasi Kelompok 14.10 14.51
Sumber : BPS diolah
Kelompok Sandang pada periode laporan mengalami inflasi sebesar 11,32% (y.o.y),
lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (11,89%; y.o.y). Perlambatan pertumbuhan
laju inflasi tersebut dibentuk oleh perlambatan laju inflasi dihampir semua sub kelompok
sandang, kecuali pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya. Perlambatan laju
inflasi terbesar terjadi pada sub kelompok sandang wanita, yaitu sebesar 7,6% (y.o.y) pada
triwulan III-2008 menjadi 5,90% (y.o.y) pada triwulan laporan. Sedangkan peningkatan laju
inflasi hanya terjadi pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya yang pada
triwulan laporan tercatat sebesar 22,58% (y.o.y), sedangkan laju inflasi triwulan sebelumnya
sebesar 21,64% (y.o.y).
Terjadinya perlambatan laju inflasi pada sub kelompok pada sub kelompok sandang
laki-laki, wanita dan anak-anak diduga karena kecenderungan adanya diskon atau sale di
akhir tahun untuk menghasbiskan stock barang yang lama.
Grafik 2.7. Perkembangan Inflasi Kelompok Sandang
11.89
2004 2005 2006 2007 2008
%
y.o.y y.t.d
Sumber : BPS, diolah
Sedangkan pada sub kelompok
barang pribadi dan sandang lainnya
mengalami peningkatan laju inflasi tahunan
tersebut, diperkirakan karena masyarakat
Sulsel cenderung membeli perhiasan emas
untuk kemudian dipakai pada musim
perayaan hari besar. Selain itu, diperkirakan
pengaruh tingkat harga emas di pasar internasional yang cenderung naik maka pergerakan
harga pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya mengalami tekanan. Tabel 2.4. Inflasi Per-Sub Kelompok
Sandang
Sumber : BPS diolah
Grafik 2.8. Perkembangan Harga Emas
Pasar Internasional
-2006 2007 2008
$/Troy oz
Harg a E mas
Kelompok Perumahan-Air-Listrik-Gas-Bahan Bakar, tercatat mengalami
pertumbuhan laju inflasi sebesar 11,13% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan laju inflasi
triwulan sebelumnya yang tercatat 11,91% (y.o.y). Peningkatan laju inflasi hanya terjadi pada
sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga (11,62%; y.o.y). Sedangkan perlambatan
inflasi terbesar terjadi pada sub kelompok bahan bakar-penerangan-air (7,03,5%; y.o.y),
yang diperkirakan karena pengaruh penurunan harga BBM pada akhir triwulan IV-2008.
Alasan yang sama juga menyebabkan terjadinya perlambatan laju inflasi tahunan pada sub
kelompok biaya tempat tinggal.
Grafik 2.9. Perkembangan Inflasi Kelompok Perumahan
10.40
Sementara di sisi lain, terjadi
tekanan inflasi yang relatif disebabkan oleh
pengaruh tingkat harga internasional untuk
beberapa komoditi bahan bangunan,
seperti baja. Sehingga mendorong
terjadinya kenaikan harga komoditi di
subsektor biaya tempat tinggal, meski tidak
setinggi triwulan sebelumnya.
Tabel 2.5. Inflasi Per-Sub Kelompok Perumahan-Air-Listrik-Bhn Bakar
III-2008 IV-2008
Sumber : BPS diolah