• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia NPI trw0308b

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia NPI trw0308b"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

LAPO

NERA

INDO

Realisa

ORA

ACA

ONES

si Triwu

N

PEM

SIA

ulan III 2

MBAY

008

YARA

AN

Edisi P Novem

(2)

Alamat Redaksi : Biro Neraca Pembayaran

Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia

Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 16 Jl. M.H. Thamrin No. 2

Jakarta 10350

(3)

LAPORAN

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA

Realisasi Triwulan III 2008

(4)
(5)

RINGKASAN ……… 1

PERKEMBANGAN NPI TRIWULAN III 2008 DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA ……… 3

TRANSAKSI BERJALAN ……… 7

1. Neraca Perdagangan Nonmigas ……… 7

1.1. Ekspor Nonmigas ……… 7

1.2. Impor Nonmigas ……… 13

2. Neraca Perdagangan Migas ……… 16

2.1. Minyak ……… 16

2.2. Gas ……… 18

3. Neraca Jasa ……… 19

4. Neraca Pendapatan ……… 21

5. Transfer Berjalan ……… 22

TRANSAKSI MODAL dan FINANSIAL ……… 25

1. Transaksi Modal ……… 25

2. Transaksi Finansial ……… 25

2.1. Sektor Publik ……… 26

2.2. Sektor Swasta ……… 30

CADANGAN DEVISA ……… 35

INDIKATOR SUSTAINABILITAS EKSTERNAL ……… 37

BOKS : Fenomena Defisit Transaksi Berjalan ……… 41

LAMPIRAN ……… 43

(6)

DAFTAR TABEL

Hal Hal

Tabel.1 Perkembangan NPI & Beberapa Indikator Ekonomi

Pada Triwulan III 2008

5 Tabel.14 Nilai Impor Baja dari Beberapa Negara Asal Utama

15

Tabel.2 Nilai Ekspor CPO ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

8 Tabel.15 Nilai Impor Kapas dari Beberapa Negara Asal

Utama

15

Tabel.3 Nilai Ekspor TPT ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

9 Tabel.16 Nilai Impor Alat-alat Telekomunikasi dari

Beberapa Negara Asal Utama

15

Tabel.4 Nilai Ekspor Elektronik ke Beberapa Negara

Tujuan Utama

9 Tabel.17 Nilai Impor Hydrocarbon dari Beberapa Negara

Asal Utama

16

Tabel.5 Nilai Ekspor Produk Kimia ke Beberapa Negara

Tujuan Utama

10 Tabel.18 Nilai Impor Bahan Baku Baja dari Beberapa Negara Asal Utama

16

Tabel.6 Nilai Ekspor Batubara ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

10 Tabel.19 Perkembangan Ekspor dan Impor Minyak 16

Tabel.7 Nilai Ekspor Karet ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

11 Tabel.20 Demand dan Supply Minyak Dunia 17

Tabel.8 Nilai Ekspor Mesin & Mekanik ke Beberapa Negara

Tujuan Utama

12 Tabel.21 Ekspor LNG, LPG dan Natural Gas 18

Tabel.9 Nilai Ekspor Timah ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

12 Tabel.22 Cadangan Gas Indonesia 19

Tabel.10 Nilai Ekspor Udang ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

12 Tabel.23 Implied Yield/Interest Rate 22

Tabel.11 Share Impor yang Dipengaruhi Komponen

Permintaan Akhir

14 Tabel.24 Perkembangan Hibah Non Investasi 23

Tabel.12 Nilai Impor Barang Konsumsi dari Beberapa

Negara Asal Utama

14 Tabel.25 Perkembangan HIbah Investasi 25

Tabel.13 Nilai Impor Pupuk dari Beberapa Negara Asal

Utama

15 Tabel.26 Indikator Sustainabilitas Eksternal 37

DAFTAR GRAFIK

Hal Hal

Grafik.1 Transaksi Berjalan 7 Grafik.10 Volume Ekspor Karet ke Beberapa Negara

Tujuan Utama

11

Grafik.2 Neraca Perdagangan Nonmigas 7 Grafik.11 Harga Udang Dunia 12

Grafik.3 Nilai Ekspor Nonmigas 8 Grafik.12 Volume Ekspor Udang ke Beberapa Negara

Tujuan Utama

13

Grafik.4 Harga CPO Dunia 8 Grafik.13 Pangsa Impor Nonmigas Menurut Negara Asal 13

Grafik.5 Volume Ekspor CPO ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

9 Grafik.14 Perkembangan Nilai Impor Nonmigas 13

Grafik.6 Volume Ekspor TPT ke Beberapa Negara Tujuan

Utama

9 Grafik.15 Perkembangan Harga Minyak 18

Grafik.7 Harga Batubara Dunia 10 Grafik.16 Produksi Minyak dan Konsumsi BBM 18

Grafik.8 Volume Ekspor batubara ke beberapa Negara Tujuan Utama

10 Grafik.17 Perkembangan Neraca Jasa 19

(7)

Grafik.19 Perkembangan Neraca Pendapatan 21 Grafik.30 Perkembangan Posisi Pinjaman per Negara

Kreditor Utama

29

Grafik.20 Perkembangan Worker’s Remittances 23 Grafik.31 Perkembangan Posisi Pinjaman Menurut Jenis

Valuta Utama

29

Grafik.21 Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial Per

Jenis Investasi

25 Grafik.32 Perkembangan Posisi Utang Luar Negeri

Pemerintah

30

Grafik.22 Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial Per Sektor

26 Grafik.33 Perkembangan Transaksi Finansial Sektor Swasta

30

Grafik.23 Perkembangan Transaksi Finansial Sektor Publik 26 Grafik.34 Perkembangan Direct Investment di Indonesia 30

Grafik.24 BI Rate dan Fed Rate 27 Grafik.35 Arus Masuk FDI Migas 30

Grafik.25 Perkembangan Kepemilikan SUN dan SBI oleh Asing

27 Grafik.36 Penyertaan Modal 31

Grafik.26 Perkembangan Penarikan dan Pembayaran

Pinjaman Pemerintah

27 Grafik.37 Perkembangan Transaksi Saham oleh Asing di BEI dan IHSG

32

Grafik.27 Perkembangan Penarikan Pinjaman Program 28 Grafik.38 Perkembangan Surat Berharga Hutang Swasta 32

Grafik.28 Perkembangan Penarikan Pinjaman Proyek 28 Grafik.39 Perkembangan Penarikan Pinjaman Swasta 33

Grafik.29 Perkembangan Posisi ULN Berdasarkan Jenis

Pinjaman

(8)
(9)

Kinerja transaksi berjalan pada triwulan III 2008 mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Perbaikan ini tercermin pada mengecilnya defisit transaksi berjalan, yaitu dari sekitar USD1,2 miliar pada triwulan II

2008 menjadi sekitar USD0,6 miliar pada triwulan III 2008. Defisit pada transaksi berjalan tersebut dapat diimbangi

oleh surplus pada transaksi modal dan keuangan yang mencapai USD0,5 miliar sehingga secara keseluruhan Neraca

Pembayaran Indonesia (NPI) hanya mengalami defisit kurang dari USD0,1 miliar atau tepatnya USD89 juta. Sejalan

dengan defisit NPI, jumlah cadangan devisa pada akhir triwulan III 2008 turun menjadi USD57,1 miliar. Meskipun

demikian, jumlah cadangan devisa tersebut masih berada pada posisi yang relatif aman, yaitu setara dengan

kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 4,4 bulan.

Di antara komponen-komponen utama transaksi berjalan, perbaikan yang paling signifikan terjadi pada

neraca perdagangan minyak dan gas serta neraca pendapatan. Neraca perdagangan gas mencatat kenaikan surplus,

karena didukung oleh kenaikan volume ekspor gas yang signifikan. Sementara itu, defisit neraca perdagangan

minyak mengecil karena, sesuai dengan status Indonesia sebagai net oil importer, dampak penurunan harga minyak

terhadap penurunan nilai ekspor minyak lebih kecil daripada dampaknya terhadap penurunan nilai impor minyak.

Selain itu, penurunan harga minyak juga menjadi salah satu faktor yang memperkecil defisit neraca pendapatan

melalui dampaknya terhadap penurunan keuntungan yang dibayarkan kepada kontraktor migas asing.

Di tengah krisis keuangan global, transaksi modal dan keuangan pada triwulan III 2008 masih mampu

mencatat surplus sekitar USD0,5 miliar, meskipun tidak sebesar surplus pada triwulan sebelumnya. Memburuknya

kondisi pasar keuangan global telah mendorong arus keluar modal portofolio dalam bentuk pelepasan SBI, SUN,

dan saham oleh investor asing. Namun, perkembangan tersebut tidak sampai membuat transaksi modal dan

keuangan menjadi defisit karena dalam periode yang sama terjadi kenaikan penarikan utang luar negeri swasta dan

penurunan pembayaran pokok utang luar negeri pemerintah dalam jumlah yang signifikan. Kenaikan penarikan

utang luar negeri swasta itu diperkirakan tidak terlepas dari masih kuatnya kinerja perekonomian domestik pada

triwulan III 2008.

(10)
(11)

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2008 mencatat defisit sekitar USD89 juta. Defisit

tersebut dipengaruhi oleh transaksi berjalan yang mencatat defisit sekitar USD0,6 miliar, lebih besar daripada

surplus transaksi modal dan keuangan yang mencapai sekitar USD0,5 miliar. Meskipun transaksi berjalan pada

triwulan laporan mencatat defisit, namun dibandingkan triwulan II 2008, defisit tersebut mengalami penurunan.

Perbaikan kinerja dimaksud terutama bersumber dari meningkatnya surplus neraca perdagangan migas dan

menurunnya defisit transaksi pendapatan. Kenaikan surplus neraca perdagangan migas tersebut dapat

mengimbangi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas. Berbeda dengan kinerja pada transaksi berjalan,

transaksi modal dan finansial mencatat penurunan surplus bila dibandingkan triwulan sebelumnya (USD2,6 miliar).

Penurunan surplus tersebut terutama disebabkan oleh arus keluar modal portofolio asing dalam bentuk penjualan

SBI, SUN, dan saham terkait dengan kondisi pasar keuangan global yang memburuk. Sejalan dengan

perkembangan di atas, jumlah cadangan devisa pada akhir periode turun menjadi USD57,1 miliar1)

atau setara

kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 4,4 bulan.

Perkembangan neraca pembayaran Indonesia selama triwulan III 2008 tidak lepas dari beberapa faktor

fundamental baik dalam dan luar negeri. Adapun faktor-faktor utama yang mempengaruhi perkembangan

tersebut antara lain:

ƒ Pertumbuhan ekonomi di beberapa negara mitra dagang utama, seperti Amerika, Jepang, Uni Eropa, Singapura,

bahkan Cina pada Tw. III-2008 mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya sejalan dengan dampak

krisis global yang terjadi. Di tengah pelemahan ekonomi di negara-negara maju, tekanan inflasi masih

mengancam ekonomi negara tersebut meskipun sudah mulai menunjukkan kecenderungan yang mereda.

Dengan perkembangan tersebut, beberapa bank sentral sudah mulai menurunkan suku bunganya guna

menahan laju perlambatan ekonomi akibat krisis.

ƒ Harga-harga beberapa komoditas ekspor nonmigas, seperti CPO, batubara, dan tembaga, di pasar dunia mulai

mengalami penurunan sejak bulan September yang didorong oleh melemahnya permintaan dunia khususnya

dari negara-negara maju terkait krisis keuangan global. Pergerakan harga CPO dan batubara cenderung

mengikuti pergerakan harga minyak dunia yang terus menurun.

ƒ Setelah harga minyak meningkat tajam dan bertahan selama satu semester, pada Tw. III-2008, rata-rata harga

minyak OPEC sedikit turun menjadi USD113,4/bl dari USD117,6/bl pada triwulan sebelumnya. Penurunan harga

mulai terjadi pada akhir bulan Juli dan terus menurun secara tajam di bulan September hingga berada di bawah

USD100/bl. Turunnya harga minyak tersebut disebabkan oleh kekhawatiran terhadap penurunan permintaan

minyak akibat krisis global yang terjadi saat ini yang berdampak pada melemahnya pertumbuhan ekonomi di

negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Selain itu, pengaruh nilai tukar USD terhadap

PERKEMBANGAN NPI TRIWULAN III 2008 DAN

(12)

dalam menginvestasikan dananya. Berbeda dengan harga minyak yang cenderung mengalami penurunan,

harga gas (LNG) justru mengalami kenaikan yaitu dari USD13,7/MBTU di triwulan II menjadi USD14,3/MBTU

pada periode laporan. Perbedaan arah pergerakan harga minyak dan gas tersebut ditengarai sebagai akibat dari

kontrak pengiriman gas yang sudah disepakati pada periode sebelumnya.

ƒ Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan selama Tw. III-2008 atau tumbuh 6,1%, lebih rendah

dari 6,4% pada triwulan II. Meskipun melambat, pertumbuhan ekonomi pada level tersebut masih cukup tinggi

di saat ekonomi dunia mengalami pelemahan lebih dalam. Pertumbuhan ekonomi triwulan III didukung oleh

pertumbuhan konsumsi 6,7% (pangsa 64,1%) terutama sektor pemerintah tumbuh 16,9%, investasi 10,1%

(pangsa 24,4%), dan masih tingginya kinerja ekspor neto 25,9% (pangsa 9,6%).

ƒ Laju inflasi Indonesia pada periode laporan tercatat sebesar 12,1%, lebih tinggi dibandingkan triwulan

sebelumnya (11,0%). Kendati harga minyak dunia sudah mengalami penurunan, dampaknya belum terlalu

signifikan terhadap inflasi Indonesia. Selain itu, masih relatif tingginya harga barang impor (imported inflation)

turut mempengaruhi laju inflasi selama periode laporan. Di sisi nilai tukar, Rupiah bergerak pada kisaran yang

stabil di level Rp9.219 per USD dari sebelumnya Rp 9.264. Walaupun demikian, demi menjaga tekanan inflasi ke

depan, Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI Rate sebanyak 3 kali (sebesar 75bps) dari akhir Tw.II-2008

sebesar 8,5% menjadi 9,25%. Pada gilirannya, perkembangan suku bunga tersebut mempengaruhi selisih suku

bunga domestik tetap tinggi dibandingkan suku bunga internasional yang sudah mulai menurun.

ƒ Produksi minyak Indonesia selama Tw. III-2008 mencapai 0,982 juta barel per hari (bph), relatif sama

dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,981 juta bph. Sementara itu, konsumsi BBM di Tw.III-2008

mencapai 100,8 juta barel, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 99,0 juta barel. Kebutuhan BBM yang

meningkat ditengarai terkait dengan kebutuhan lebaran yang jatuh pada awal bulan Oktober. Pada periode

laporan, volume ekspor gas (LNG) mengalami kenaikan dari 252,6MBTU di triwulan II menjadi 259,3MBTU pada

triwulan III. Demikian juga volume ekspor natural gas meningkat dari 77,6MBTU menjadi 83,6MBTU pada

(13)

Tabel 1

Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia dan Beberapa Indikator Ekonomi Pada Triwulan III 2008

2008 2008 2008

Tw.I Tw.II Tw.III

- Amerika Serikat 2.0 1.0 2.8 -0.5

- Jepang 1.9 1.4 0.7 -0.5

- Uni Eropa 2.1 2.1 1.4 0.6

- Singapura 7.0 6.9 2.3 -0.6

- Cina 11.9 10.6 10.4 9.9

- Minyak Mentah OPEC (USD/barel) 69 93 118 113

- Batu bara (USD/metric ton) 66 114 139 163

- Tembaga (USD/metric ton) 7,118 7,796 8,443 7,680

- CPO (USD/ton) 780 1,156 1,198 928

- Karet (cent USD/kg) 248 293 312 329

- Amerika Serikat (Fed Fund Rate) 5.0 2.9 2.0 2.0

- Jepang (Uncollateral Call Rate) 0.5 0.5 0.5 0.5

- Uni Eropa (MRO) 3.9 4.0 4.0 4.3

- Singapura (Interbank rate, 3 bulan) 2.7 1.5 1.3 1.4

- Cina 6.8 7.5 7.5 7.4

- Amerika Serikat 4.1 4.0 4.9 4.9

- Jepang 0.7 1.2 2.0 2.1

- Uni Eropa 3.1 3.6 4.0 3.6

- Singapura 4.4 6.7 7.5 6.7

- Cina 4.8 8.3 7.1 4.6

PDB (y.o.y, %) 6.3 6.3 6.4 6.1 Inflasi IHK (y.o.y, %) 6.6 7.1 11.0 12.1 Nilai tukar 1) (Rp/USD) 9,136 9,260 9,264 9,219

Harga rata-rata ekspor minyak mentah (US$/bbl) 70.1 93.4 119.3 113.4

Produksi Minyak (juta barel per hari) 0.952 0.977 0.981 0.982 Konsumsi BBM (juta barel) 382.8 95.4 99.0 100.8

Ekspor gas (LNG) (mbtu) 1,079.8 283.6 252.6 259.3

Harga rata-rata ekspor gas (LNG) (US$/mbtu) 9.0 11.6 13.7 14.3

BI Rate 1) (%) 8.60 8.00 8.25 9.00

(juta USD)

- Transaksi Berjalan 10,347 2,601 -1,241 -564

- Transaksi Modal & Finansial 3,466 -1,623 2,599 509

- Total 13,814 978 1,359 -55

- Net Errors & Omissions -1,099 54 -35 -34

- Overall Balance 12,715 1,032 1,324 -89

- Cadangan Devisa 56,920 58,987 59,453 57,108

KOMPONEN 2007

INDIKATOR EKONOMI DUNIA

Pertumbuhan Ekonomi (%)

Harga Komoditi Dunia

Suku Bunga Internasional (%)

Inflasi (%)

INDIKATOR EKONOMI DOMESTIK

(14)
(15)

Transaksi berjalan pada Tw. III-2008 relatif

membaik dibandingkan periode triwulan sebelumnya.

Perbaikan tersebut disumbangkan oleh perbaikan

neraca perdagangan migas yang dapat menutupi

pelemahan neraca perdagangan nonmigas dan

mengecilnya defisit neraca pendapatan. Meningkatnya

ekspor LNG dan menurunnya impor minyak telah

menyebabkan neraca perdagangan migas membaik.

Sementara tingginya permintaan impor nonmigas yang

melebihi pertumbuhan ekspor nonmigas telah

menyebabkan surplus neraca perdagangan nonmigas

menurun. Di sisi lain, penurunan defisit neraca

pendapatan terkait dengan menurunnya bagian

keuntungan kontraktor migas seiring dengan

menurunnya harga minyak. Sementara itu, meskipun

tidak signifikan, neraca jasa mengalami penurunan

defisit, sedangkan neraca transfer berjalan mengalami

kenaikan surplus.

1. Neraca Perdagangan Nonmigas

Neraca perdagangan nonmigas pada Tw. III-2008

mencatat surplus sebesar USD3,8 miliar, lebih rendah

kuatnya permintaan domestik yang telah mendorong

akselerasi pertumbuhan impor nonmigas sehingga

tumbuh dua kali lebih cepat (44,6% y.o.y) dibanding

pertumbuhan ekspor nonmigas (22,4% y.o.y).

1.1 Ekspor Nonmigas

Di tengah krisis global yang tengah melanda

hampir seluruh negara, pertumbuhan tahunan ekspor

nonmigas masih belum terpengaruh dan masih cukup

tinggi (22,4%) dibandingkan triwulan sebelumnya

(18,9%). Pertumbuhan ini ditopang oleh harga produk

ekspor (unit price) yang masih meningkat sebesar

22,8%, sedangkan secara volume menurun sebesar

0,3%. Kenaikan pertumbuhan harga tersebut terutama

didorong oleh kenaikan harga komoditas pertanian

sebesar 26,5% (pangsa 15%) dan produk manufaktur

sebesar 40,7% (pangsa 61,4%).

Beberapa komoditas ekspor utama yang harganya

mengalami kenaikan tajam antara lain Crude Palm Oil

(CPO), TPT, produk elektronik, produk kimia

(sektor manufaktur); batubara (sektor

-5,000 -3,000 -1,000 1,000 3,000 5,000 7,000 9,000

Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3

2006 2007* 2008

juta USD Transaksi BerjalanGrafik 1

Services Income Trade Balance Current Trans. Current Account

1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000

3,000 8,000 13,000 18,000 23,000 28,000 33,000

Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3

2006 2007* 2008

juta USD juta USD Grafik 2

Neraca Perdagangan Nonmigas

Ekspor Impor

Neraca Perdagangan Nonmigas

(16)

mulai terlihat pada September 2008 tetapi belum

berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor pada

triwulan III 2008.

Crude Palm Oil (CPO)

Ekspor CPO pada Tw. III-2008 sebesar USD2,2

miliar atau tumbuh 36,8% (y.o.y), lebih rendah dari

pertumbuhan triwulan sebelumnya (87%). Tingginya

harga CPO di triwulan ini yang mencapai USD928/Mton

mampu menutupi penurunan volume ekspor yang

mencapai 10,6%.

Penurunan volume ekspor CPO terkait dengan

besarnya pajak ekspor (PE) yang ditetapkan oleh

pemerintah. Pada bulan Juli 2008, PE CPO ditetapkan

sebesar 20% sehingga eksportir mengurangi kegiatan

ekspor meskipun harga CPO pada waktu itu tinggi.

Namun ketika PE CPO kembali turun menjadi 10% di

bulan Agustus dan 7,5% di bulan September, eksportir

kembali memperbanyak volume ekspor meskipun harga

CPO sudah turun.

Tabel 2

Nilai Ekspor CPO ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Selain tingginya angka pajak ekspor yang

ditetapkan pemerintah, penurunan ekspor CPO juga

disebabkan oleh turunnya ekspor CPO ke Uni Eropa

akibat pembeli di Eropa menerapkan sertifikasi

Rountable Sustainable For Palm Oil (RSPO) sejak bulan

Januari 2008. Sebagai dampaknya, para importir dari

Eropa hanya akan membeli CPO yang mempunyai

sertifikat RSPO. Sebagai informasi, RSPO adalah

sertifikat yang membuktikan bahwa pengusaha sawit

mengelola kebun secara ramah lingkungan. Hal ini

membuat eksportir Indonesia sulit untuk menembus

pasar Eropa karena syarat penjualan semakin ketat

sementara pengusaha sawit di Indonesia sebagian besar

belum menerapkan metode produksi yang sesuai

dengan standar dalam RSPO.

1000 3000 5000 7000 9000 11000 13000 15000 17000 19000

Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3

2006 2007* 2008

Grafik 3 Nilai Ekspor Non Migas

Pertanian Pertambangan Industri Juta USD 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

USD/MTon Grafik 4

Harga CPO Dunia

Periode

Negara Tujuan Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

India 481 29.3 897 39.9

Uni Eropa 217 13.2 261 11.6

Afrika 137 8.4 230 10.2

Cina 226 13.8 143 6.4

Lainnya 578 35.3 717 31.9

Total 1,639 100 2,248 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

0 200 400 600 800 1,000 1,200

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

ribu Ton

Grafik 5

Volume Ekspor CPO ke Beberapa Negara Tujuan Utama

(17)

Tekstil dan Produk Tekstil (TPT)

Ekspor TPT pada Tw.III-2008 sebesar USD2,9 miliar

atau tumbuh 7,1% (y.o.y), lebih tinggi dari triwulan

sebelumnya (6,8%). Ekspor TPT terbesar masih

ditujukan ke negara Amerika Serikat yang mencapai

USD1,1 miliar (pangsa 37,5%).

Tabel 3

Nilai Ekspor TPT ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Meskipun sedang mengalami resesi, ekspor TPT ke

Amerika Serikat pada triwulan laporan masih

mengalami pertumbuhan, baik secara nilai maupun

volume. Meskipun ke depan diperkirakan akan tumbuh

stagnan, ekspor TPT masih memiliki peluang yang

cukup baik mengingat komoditas TPT merupakan salah

satu kebutuhan primer sehingga masih tetap

dibutuhkan. Selain itu, komoditas TPT Indonesia

memiliki keunggulan kualitas dibandingkan dengan

komoditas dari Cina. Pesaing utama komoditas TPT

Indonesia lainnya adalah India yang juga merupakan

salah satu produsen TPT.

Elektronik

Ekspor elektronik pada Tw. III-2008 sebesar USD2,5

miliar atau tumbuh 14,9% (y.o.y), lebih tinggi dari

triwulan sebelumnya (13,6%). Ekspor elektronik

terbesar ditujukan ke Singapura yang mencapai

USD748 juta (pangsa 30,3%), diikuti oleh Jepang

sebesar USD341 juta (13,8%). Produk-produk yang

banyak diekspor antara lain alat elektronik untuk bisnis

dan industri, media penyimpan elektronik selain hard

disk, printer dan monitor. Tumbuhnya ekspor

elektronik Indonesia didukung oleh tingginya harga

barang-barang elektronik di pasar internasional,

sedangkan dari sisi volume, ekspor produk elektronik

mengalami penurunan sebesar 3,1%. Tidak adanya

pengembangan teknologi baru yang memberikan nilai

tambah yang lebih tinggi terhadap industri elektronik

Indonesia ditengarai mengakibatkan menurunnya

volume ekspor produk elektronik Indonesia.

Tabel 4

Nilai Ekspor Elektronik ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Terkait dengan krisis global yang terjadi saat ini,

Gabungan Elektronika Indonesia (Gabel)

memperkirakan bahwa dampak krisis finansial di

Amerika Serikat belum terlihat pengaruhnya terhadap

ekspor elektronika pada triwulan III 2008, karena nilai

ekspor produk elektronik Indonesia ke AS tidak terlalu

besar. Amerika Serikat merupakan negara tujuan utama

ekspor elektronik ketiga setelah Singapura dan Jepang. Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Amerika Serikat 996 37.4 1,071 37.5

Uni Eropa 469 17.6 505 17.7

Jepang 130 4.9 142 5.0

Lainnya 1,067 40.1 1,140 39.9

Total 2,662 100 2,858 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

0 20 40 60 80 100 120

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

ribu Ton Volume Ekspor TPT ke Beberapa Negara Tujuan UtamaGrafik 6

Amerika Uni Eropa Jepang

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Singapura 664 30.9 748 30.2

Jepang 313 14.6 341 13.8

Amerika Serikat 210 9.8 288 11.6

Uni Eropa 218 10.1 248 10.0

Lainnya 744 34.6 850 34.3

Total 2,149 100 2,475 100

(18)

Produk Kimia

Ekspor produk kimia pada Tw. III-2008 sebesar

USD2,0 miliar atau tumbuh 15,1%, lebih tinggi dari

triwulan sebelumnya (12,6%). Pertumbuhan ini

didukung oleh relatif tingginya harga produk kimia di

pasar internasional, sementara dari sisi volume

mengalami penurunan ekspor yang cukup besar

mencapai 45,1% karena menurunnya permintaan.

Penurunan permintaan impor produk kimia terbesar

berasal dari Jepang dan Malaysia yang turun

masing-masing sebesar 32,1% dan 11,2%. Meskipun

permintaan dari Malaysia turun, namun pangsa ekspor

ke negara tersebut masih menjadi yang terbesar (9,9%)

dengan nilai ekspor mencapai USD193 juta, diikuti oleh

Uni Eropa (9%) dengan nilai sebesar USD175 juta.

Tabel 5

Nilai Ekspor Kimia ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Batubara

Ekspor batubara pada Tw.III-2008 sebesar USD2,9

miliar atau tumbuh 66,8% (y.o.y) lebih tinggi dari

triwulan sebelumnya (55,6%). Pertumbuhan ini

ditopang oleh harga batubara di pasar internasional

yang mencapai USD162,8/Mton lebih tinggi dari

periode sebelumnya (USD138,7/Mton).

Tingginya harga batubara di pasar internasional

didorong oleh besarnya permintaan dari Cina untuk

memenuhi kebutuhan industri baja dan pembangkit

listrik yang cukup besar di negara tersebut. Meskipun

sekitar 13% cadangan batubara dunia berada di Cina,

namun besarnya kebutuhan batubara dari sektor

industri dan pembangkit menyebabkan Cina harus

melakukan impor.

Tabel 6

Nilai Ekspor Batubara ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Sementara dari sisi volume, ekspor batubara

Indonesia mengalami penurunan tipis, sebesar 1,2%,

akibat turunnya permintaan batubara dari Jepang dan

Korea Selatan. Di samping turunnya permintaan

batubara dari negara tujuan utama ekspor, adanya

penghentian sementara ekspor batubara terhadap 6

produsen batubara pada bulan Juli 2008 turut

mengurangi volume ekspor batubara. Penghentian

sementara kegiatan ekspor tersebut yang dilakukan

oleh pemerintah terkait dengan harga ekspor yang

dianggap terlalu murah.

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

USD/MTon

Grafik 7 Harga Batubara Dunia

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Jepang 377 21.6 616 21.1

Taiwan 246 14.1 462 15.8

Korea Selatan 250 14.3 339 11.6

India 148 8.5 311 10.6

China 125 7.2 256 8.8

Lainnya 602 34.4 938 32.1

Total 1,748 100 2,922 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

ribu Ton

Grafik 8

Volume Ekspor Batubara ke Beberapa Negara Tujuan Utama

(19)

Produsen batubara yang mengalami penghentian

ekspor antara lain Perusahaan Daerah Baramarta

dengan kapasitas ekspor per tahun sebesar 4 juta ton,

Tanjung Alam Jaya (1,6 juta ton), Antang Gunung

Meratus (1,5 juta ton), Sumber Kurnia Buana (1,5 juta

ton), PT. Kadya Caraka Mulia (0,5 juta ton) dan PT.

Bangun Buana Persada (0,4 juta ton).

Karet

Ekspor karet pada Tw. III-2008 sebesar USD1,9

miliar atau tumbuh 42%, lebih tinggi dari triwulan

sebelumnya (29,2%). Pertumbuhan yang cukup tinggi

ini lebih disebabkan oleh tingginya harga karet dunia,

sedangkan dari sisi volume ekspor pertumbuhannya

hanya sebesar 1,4%.

Tabel 7

Nilai Ekspor Karet Ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Harga karet di pasar internasional mencapai

USD329,1cent/kg, naik dari periode sebelumnya sebesar

USD311,7cent/kg. Dalam perkembangannya, harga

karet mencapai puncaknya di triwulan laporan pada

bulan Juli 2008 dengan harga harian komposit/daily

composite price (DCP) mencapai USD325,74 cent/kg.

Tingginya harga karet dipicu oleh terbatasnya pasokan

karet dari negara produsen dan tingginya permintaan

karet dari Cina. Sementara itu, pasokan karet dari

Indonesia juga menurun pada bulan Juli 2008 akibat

musim gugur daun yang terjadi di daerah selatan

katulistiwa yang pada gilirannya menyebabkan pohon

sulit untuk menghasilkan getah karet.

Di sisi permintaan, kebutuhan karet dari Cina

tumbuh sebesar 10,7% melebihi pertumbuhan

permintaan dari AS (6,4%). Dengan demikian, Cina

berpotensi menjadi negara tujuan utama ekspor karet

Indonesia menggantikan AS yang memiliki pangsa

ekspor terbesar (23,6%). Lebih lanjut, nilai ekspor karet

ke Cina pada triwulan ini sebesar USD335 juta sedikit di

bawah nilai ekspor ke AS yang mencapai USD442 juta.

Di samping beberapa komoditas yang didorong

oleh kenaikan harga, terdapat beberapa komoditas

yang secara volume meningkat tajam, antara lain mesin

& mekanik (sektor manufaktur); timah (sektor

pertambangan) dan udang (sektor pertanian).

Ketiga komoditas tersebut tidak terpengaruh oleh krisis

finansial global yang terjadi, sehingga masih dapat

mendukung nilai ekspor nonmigas pada Tw. III-2008. Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Amerika Serikat 280 21.2 442 23.5

Cina 199 15.1 335 17.8

Jepang 223 16.9 329 17.5

Uni Eropa 124 9.4 147 7.8

Singapura 152 11.5 109 5.8

Lainnya 341 25.9 515 27.4

Total 1,319 100 1,877 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

0 50 100 150 200 250 300 350

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

c/kg Grafik 9

Harga Karet Dunia

-20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 2006 2007 2008 ribu Ton

Grafik 10

Volume Ekspor Karet ke Beberapa Negara Tujuan Utama

(20)

Mesin & mekanik

Ekspor mesin & mekanik pada Tw. III-2008 sebesar

USD2,5 miliar atau tumbuh 49,7%, lebih tinggi dari

triwulan sebelumnya (26,8%). Pertumbuhan ekspor

tersebut didukung oleh tingginya permintaan dari

negara Singapura dan Malaysia yang permintaannya

masing-masing tumbuh sebesar 66% dan 50,5%.

Mesin-mesin yang banyak diekspor ke negara-negara

tersebut mencakup kendaraan bermotor, mesin khusus

untuk industri tertentu, dan peralatan transportasi

lainnya. Permintaan mesin & mekanik dari Singapura

yang merupakan negara dengan pangsa ekspor

terbesar (23,8%) sejalan dengan semakin

berkembangnya industri di negara tersebut. Nilai ekspor

ke negara itu mencapai USD597 juta, dikuti kemudian

oleh Jepang dan Malaysia masing-masing sebesar

USD286 juta dan USD258 juta.

Tabel 8

NIlai Ekspor Mesin & Mekanik ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Timah

Ekspor timah pada Tw. III-2008 sebesar USD791

juta atau tumbuh sebesar 67,2%, lebih rendah dari

triwulan sebelumnya (158,8%). Perlambatan ekspor

timah terkait dengan penurunan harga komoditas

timah yang pada triwulan ini turun menjadi

USD2.051cent/kg dari periode sebelumnya sebesar

USD2.265cent/kg.

Tabel 9

Nilai Ekspor Timah ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Sementara dari sisi volume, pertumbuhan

permintaan yang tinggi mencapai 108,9% terutama

berasal dari Taiwan (tumbuh 350%), sedangkan pangsa

ekspor terbesar ditujukan ke Singapura (86,8%) dengan

nilai ekspor mencapai USD684 juta.

Udang

Ekspor udang pada Tw. III-2008 sebesar USD224

juta atau tumbuh 6%, lebih rendah dari triwulan

sebelumnya (11,3%). Melambatnya ekspor udang

disebabkan oleh harga udang yang turun menjadi

USD1.048 cent/kg dari USD1.109 cent/kg pada triwulan

sebelumnya, sementara volume ekspor mengalami

peningkatan sekitar 3,8%.

Tabel 10

NIlai Ekspor Udang ke Beberapa Negara Tujuan Utama Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Singapura 307 18.3 597 23.7

Jepang 203 12.1 286 11.4

Malaysia 123 7.3 258 10.3

Thailand 140 8.4 219 8.7

Uni Eropa 177 10.6 193 7.7

Lainnya 725 43.3 961 38.2

Total 1,675 100 2,514 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Singapura 407 86.2 684 86.5

Malaysia 18 3.8 51 6.4

Taiwan 2 0.4 13 1.6

Jepang 12 2.5 11 1.4

Lainnya 33 7.0 32 4.0

Total 472 100 791 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Amerika Serikat 83 39.3 96 42.9

Jepang 75 35.5 78 34.8

Uni Eropa 37 17.5 32 14.3

Cina 1 0.5 4 1.8

Hongkong 4 1.9 2 0.9

Lainnya 11 5.2 12 5.4

Total 211 100 224 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

850 900 950 1,000 1,050 1,100 1,150

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

c/kg Grafik 11

(21)

Di sisi permintaan, volume ekspor ke negara tujuan

utama ekspor, AS dan Jepang, masih tumbuh positif,

masing–masing sebesar 19,9% dan 4,6%. Selain

didorong oleh naiknya permintaan, ekspor udang ke

Jepang juga dipicu oleh adanya pembebasan bea masuk

bagi 51 produk perikanan Indonesia yang dimulai pada

awal Juli 2008. Beberapa produk perikanan yang

mendapat pembebasan bea masuk, antara lain udang,

lobster, kaki kodok, mutiara dan ikan hias. Di samping

pembebasan bea masuk produk perikanan oleh Jepang,

hambatan ekspor produk perikanan yang dilakukan

oleh Uni Eropa juga telah dicabut sejak Juli 2008. Uni

Eropa sendiri merupakan negara tujuan utama ekspor

udang setelah AS dan Jepang dengan pangsa sebesar

14,3%.

1.2 Impor Nonmigas

Pertumbuhan impor nonmigas pada Tw.III-2008

yang masih tinggi (44,6%) terkait dengan pertumbuhan

ekonomi domestik yang masih cukup tinggi dan

meningkatnya permintaan impor bahan baku untuk

kebutuhan ekspor. Kenaikan impor tertinggi terutama

berasal dari Cina (73,6%) sehingga menempatkan Cina

sebagai negara asal impor utama di Indonesia (pangsa

16,5%), menggeser Jepang dengan pangsa 13%.

Meskipun demikian, impor dari Jepang masih tumbuh

cukup signifikan (46,3%).

Pertumbuhan impor yang tinggi terutama terjadi

pada barang modal (66,8%), diikuti oleh bahan baku

(40,4%) dan barang konsumsi (34,8%). Tingginya

impor barang modal dan bahan baku sejalan dengan

besarnya kebutuhan industri untuk memenuhi konsumsi

domestik ataupun ekspor.

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

ribu Ton

Grafik 12

Volume Ekspor Udang ke Beberapa Negara Tujuan Utama

Amerika Serikat Jepang

0 5 10 15 20 25

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

Grafik 13

Pangsa Impor Nonmigas Menurut Negara Asal

Sg Jpn RRC USA Tha Kor

(%)

0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000

0 4,000 8,000 12,000 16,000 20,000 24,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2006 2007 2008

Juta USD

juta USD Grafik 14

Nilai Impor Nonmigas

(22)

Tabel 11

Pangsa Impor dalam Memenuhi Permintaan Akhir Berdasarkan Jenis Industri

Berdasarkan analisis input-output tahun 2005,

sebagian besar dari impor tersebut digunakan oleh

berbagai industri untuk memproduksi barang-barang

untuk keperluan konsumsi rumah tangga (44%) dan

pembentukan modal tetap bruto (31%).2

Di sisi lain, impor barang konsumsi terbesar adalah

barang-barang konsumsi semi-durable serta kendaraan

bermotor. Barang-barang konsumsi tersebut terutama

berasal dari Cina dan Thailand. Hal ini sesuai dengan

kondisi di pasar domestik dimana banyak

barang-barang konsumsi impor dari Cina dengan harga yang

relatif murah meskipun kualitas dan pelayanan pasca

pembelian masih kurang memadai.

Tabel 12

Nilai Impor Barang Konsumsi dari Beberapa Negara Asal Utama

2Catatan Riset Direktorat Riset dan Kebijakan Moneter, dalam rangka

Rakor NPI Tw.III-2008.

Sementara itu, impor kendaraan bermotor roda

empat banyak berasal dari Thailand sejalan dengan

mulai dijadikannya negara ini sebagai basis produksi

kendaraan oleh para produsen mobil, seperti Honda

dan Toyota.

Komoditas impor yang terkait dengan tingginya

permintaan domestik, baik untuk konsumsi maupun

sebagai bahan baku produksi, adalah pupuk (HS31) dan

baja (HS72). Impor pupuk pada Tw. III-2008 mencapai

USD715 juta atau tumbuh 263,8% terutama berasal

dari negara Kanada, Afrika dan Rusia. Tingginya angka

impor tersebut merupakan dampak dari pembebasan

impor pupuk yang diberikan pemerintah kepada para

pengusaha untuk mengimpor sesuai dengan

kebutuhan. Hal ini didorong oleh masih tingginya

ketergantungan pasar domestik terhadap pupuk impor

dan masih adanya kendala dalam distribusi yang

menimbulkan kelangkaan pupuk di berbagai daerah.

Menurut Asosiasi Niaga Pupuk Indonesia (ANPI), setiap

tahun 80% kebutuhan pupuk di Indonesia, kecuali

 

No. Sektor

Pengeluaran Konsumsi Rumah

Tangga (%)

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (%)

Pembentukan Modal Tetap

Bruto (%)

Perubahan Inventori (%)

Ekspor Barang dan Jasa (%)

1 Industri Pengilangan minyak bumi 12.21 14.73 5.67 2.73 7.52

2 Industri kimia 10.62 12.88 5.95 19.60 19.07

3 Industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik 9.70 5.04 32.12 29.08 13.49

4 Industri alat pengangkutan dan perbaikannya 9.05 5.39 11.19 4.99 5.13

5 Industri pengolahan dan pengawetan makanan 2.97 0.13 0.01 0.80 0.06

6 Industri tekstil, pakaian dan kulit 2.79 0.21 0.16 1.16 0.60

7 Industri gula 2.65 0.15 0.02 0.54 0.15

8 Industri kertas, barang dari kertas dan karton 2.49 4.14 0.51 4.05 2.62

9 Industri makanan lainnya 1.99 0.37 0.03 0.13 0.17

10 Industri barang karet dan plastik 1.85 0.87 0.98 1.45 0.85

11 Industri minyak dan lemak 1.58 0.01 0.00 0.32 0.04

12 Industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun 1.42 1.37 1.08 1.39 0.95

13 Industri pupuk dan pestisida 1.36 0.39 0.03 0.24 0.39

14 Industri dasar besi dan baja 1.34 2.13 12.42 7.31 2.75

15 Industri barang dari logam 1.17 1.22 7.95 3.37 1.02

44.2 5.5 30.7 2.1 17.5

Share terhadap Total Kebutuhan Impor

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Cina 456 21.6 892 32.8

Thailand 346 16.4 463 17.0

Singapura 148 7.0 166 6.1

Korea Selatan 106 5.0 166 6.1

Lainnya 1,052 49.9 1,033 38.0

Total 2,108 100 2,720 100

(23)

urea, diimpor dari negara lain baik berupa bahan baku

maupun produk jadi. Jenis pupuk yang diimpor antara

lain Kalium Chlorida (KCL), Ammonia Sulfat (ZA) dan

SP3.

Tabel 13

Nilai Impor Pupuk dari Beberapa Negara Asal Utama

Impor baja pada Tw. III-2008 sebesar USD2,3 miliar atau tumbuh 91,4%. Tingginya impor baja disebabkan

oleh kenaikan konsumsi di sektor otomotif, elektronik,

konstruksi dan galangan kapal yang membutuhkan baja

sekitar 7,5 juta ton per tahun, sementara industri

domestik hanya mampu berproduksi sebesar 4-4,5 juta

ton. Baja yang diimpor terutama berasal dari Jepang

(pangsa 18%), Cina (14,5%) dan Australia (7,5%).

Tabel 14

Nilai Impor Baja dari Beberapa Negara Asal Utama

Salah satu Komoditas impor yang terkait dengan

pemenuhan kebutuhan untuk ekspor adalah impor

kapas (HS52) yang merupakan bahan baku bagi industri

tekstil domestik. Impor kapas pada Tw. III-2008 sebesar

USD455 juta atau tumbuh 5,2%, jauh lebih rendah dari

triwulan sebelumnya (40,7%). Melambatnya impor

kapas ini sejalan dengan penurunan volume ekspor TPT

akibat terjadinya krisis finansial global. Impor kapas

terutama berasal dari AS (pangsa 28,5%) dan Cina

(14,3%), sementara pasokan kapas dalam negeri hanya

Terbatasnya pasokan antara lain akibat dari

produktivitas kapas yang rendah (500 kg/ha).

Tabel 15

Nilai Impor Kapas dari Beberapa Negara Asal Utama

Impor alat-alat telekomunikasi (SITC 764) pada

triwulan III 2008 tumbuh sebesar 97,0% mencapai

USD2,2miliar. Peningkatan impor peralatan

telekomunikasi ini sejalan dengan kenaikan kebutuhan

investasi dalam rangka pengembangan jaringan

telekomunikasi, diantaranya adalah program

pembangunan 1000 tower (BTS). Selain itu, pesatnya

perkembangan industri telekomunikasi turut

menyumbang tingginya permintaan alat-alat tersebut.

Peralatan telekomunikasi yang diimpor antara lain

berupa peralatan transmisi, peralatan lainnya untuk

Digital Line System, peralatan penerima, sambungan

telepon & peralatan terkait, kabel komunikasi dan

peralatan telekomunikasi lainnya. Sebagian besar

peralatan ini diimpor dari Cina, Singapura dan

Hongkong.

Tabel 16

Nilai Impor Alat-alat Telekomunikasi dari Beberapa Negara Asal Utama

Impor Hydrocabon (SITC 511) pada triwulan III

sebesar USD829 juta atau tumbuh 75,8%. Tingginya

impor bahan kimia ini terkait dengan ketergantungan

industri kimia terhadap pasokan bahan baku dari luar

negeri. Industri yang menggunakan hydrocarbon Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Kanada 26 13.3 191 26.7

Afrika 7 3.6 125 17.5

Rusia 31 15.8 108 15.1

Lainnya 132 67.3 291 40.7

Total 196 100.0 715 100.0

Tw. III-2007 Tw. III-2008

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Jepang 205 17.2 411 18.0

Cina 209 17.5 331 14.5

Australia 50 4.2 171 7.5

Lainnya 729 61.1 1,370 60.0

Total 1,193 100.0 2,283 100.0

Lainnya -73 -146.0 -1,290 -754.4

Total 2,108 100 2,865 100

Tw. III-2007 Tw. III-2008

Periode

Negara Tujuan Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Amerika Serikat 121 28.0 129 28.4

Cina 66 15.3 65 14.3

Afrika 51 11.8 54 11.9

Lainnya 194 44.9 207 45.5

Total 432 100.0 455 100.0

Tw. III-2007 Tw. III-2008

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

China 218 19.4 741 33.6

Singapura 263 23.5 265 12.0

Hongkong 103 9.2 207 9.4

Lainnya 537 47.9 993 45.0

Total 1,120 100.0 2,206 100.0

(24)

sebagai bahan baku antara lain industri pupuk, industri

cat dan industri kimia lainnya. Bahan baku kimia ini

banyak diimpor dari India, Malaysia dan Thailand.

Tabel 17

Nilai Impor Hydrocabon dari Beberapa Negara Asal Utama

Impor flat rolled product not clad (SITC 673) yang

merupakan bahan baku bagi industri baja pada Tw.

III-2008 sebesar USD659 juta atau tumbuh 189,6%.

Pertumbuhan impor bahan baku baja ini untuk

memenuhi tingginya permintaan baja yang berasal dari

sektor transportasi (kendaraan bermotor),

telekomunikasi (proyek pembangunan 1000 tower),

dan properti. Selain itu, program konversi minyak tanah

ke gas elpiji yang membutuhkan tabung baja juga

memicu peningkatan permintaan komoditas tersebut di

dalam negeri.

Sementara itu, Gabungan Industri Pengerjaan

Mesin dan Logam (Gamma) menyatakan bahwa

lonjakan impor baja terkait dengan realisasi

kesepakatan kerja sama ekonomi (economic partnership

agreement/EPA) antara Indonesia dan Jepang yang

mulai diberlakukan pada 1 Juli 2008. Dalam

kesepakatan tersebut, produk baja Jepang yang masuk

ke Indonesia tidak dikenakan bea masuk (BM). Selain

Jepang, impor baja berasal dari Cina dan Korea Selatan.

Tabel 18

Nilai Impor Bahan Baku Baja dari Beberapa Negara Asal Utama

2. Neraca Perdagangan Migas

Selama periode laporan, neraca minyak dan gas

mencatat surplus sebesar USD2,0 miliar, lebih tinggi

dibandingkan dengan surplus yang terjadi pada periode

Tw.II-2008 (USD1,3 miliar). Peningkatan surplus

tersebut bersumber dari menurunnya defisit neraca

perdagangan minyak dan meningkatnya surplus neraca

gas. Di sisi neraca perdagangan minyak, turunnya harga

minyak menjadi faktor utama yang menyebabkan defisit

neraca perdagangan minyak lebih rendah daripada

periode sebelumnya. Sementara di sisi gas, peningkatan

volume ekspor gas mampu mendorong peningkatan

surplus neraca perdagangan gas.

2.1 Minyak

Neraca perdagangan minyak pada Tw.III-2008

mengalami defisit sebesar USD2,8 miliar, lebih rendah

dibanding triwulan sebelumnya (defisit USD3,1 miliar).

Menurunnya harga minyak, setelah sempat mencapai

level tertinggi pada bulan Juli, menjadi faktor penyebab

lebih rendahnya defisit neraca perdagangan minyak

tersebut, karena dampak penurunan harga terhadap

penurunan nilai impor minyak lebih besar daripada

dampaknya terhadap penurunan ekspor minyak.

Tabel 19

Perkembangan Ekspor dan Impor Minyak

Sumber: PT. Pertamina & BP. Migas, data diolah

Dari sisi ekspor, selama triwulan laporan tercatat

ekspor minyak sebesar USD4,4 miliar atau menurun

sebesar 11,5% dibandingkan triwulan sebelumnya Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

China 50 10.6 139 16.8

Singapura 14 3.0 75 9.0

Hongkong 38 8.1 61 7.4

Lainnya 370 78.4 554 66.8

Total 472 100.0 829 100.0

Tw. III-2007 Tw. III-2008

Periode

Negara Asal Nilai (juta USD) Share (%) Nilai (juta USD) Share (%)

Jepang 98 33.1 215 32.6

Cina 54 18.2 130 19.7

Korea Selatan 37 12.5 96 14.6

Lainnya 107 36.1 218 33.1

Total 296 100.0 659 100.0

Tw. III-2007 Tw. III-2008

Rincian

Volume Nilai Harga Volume Nilai Harga (mbbl) (jt USD) (USD/bbl) (mbbl) (jt USD) (USD/bbl)

Ekspor (fob) 41.9 4,999 37.8 4,422

Minyak Mentah 32.1 3,821 119.3 28.0 3,160 113.4 Produk Kilang 9.8 1,178 108.8 9.8 1,262 4.0

Impor (c&f) 64.9 8,798 60.8 7,745

Minyak Mentah 25.8 3,134 113.8 22.9 2,763 107.5 Produk Kilang 39.1 5,664 129.9 37.9 4,982 120.3

Neraca Perdagangan Minyak -3,799 -3,323

TW.II TW.III

(25)

(USD5,0 miliar). Penurunan tersebut bersumber dari

menurunnya nilai ekspor minyak mentah, sementara

nilai ekspor produk (non BBM) masih meningkat.

Volume ekspor selama periode laporan yang lebih

rendah dibandingkan periode sebelumnya menjadi

salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan nilai

ekspor minyak mentah. Di samping itu, penurunan

harga minyak di pasar internasional juga berdampak

pada lebih turunnya nilai ekspor minyak.

Ekspor minyak mentah Indonesia terutama ditujukan

ke negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Cina

dan Australia. Dari sekitar 42 jenis minyak mentah

domestik yang di ekspor, volume terbesar adalah jenis

minyak SLC, Duri, Senipah dan Belanak. Sementara itu,

ekspor produk kilang (non BBM), terutama dalam

bentuk LSWR, NAPTHA, PTA, Green coke, Slack Wax,

ditujukan terutama ke negara Jepang, Singapura dan

Korea Selatan.

Dari sisi impor, nilai impor minyak pada Tw.III-2008

mencapai USD7,2 miliar, juga lebih rendah

dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai

USD8,1 miliar. Penurunan nilai impor tersebut antara

lain dipengaruhi oleh turunnya harga minyak dunia

setelah sempat mencapai level tertinggi pada bulan Juli

(USD139,9/barrel). Secara rata-rata, harga minyak

selama periode laporan sebesar USD113/barrel atau

lebih rendah dibandingkan harga pada triwulan

sebelumnya yang tercatat USD119/barrel.

Volume impor minyak mentah selama Tw.III-2008

mengalami penurunan sebesar 11,4% menjadi 22,9

juta barel dibandingkan periode sebelumnya sebesar

25,8 juta barel. Penurunan impor dimaksud terkait

dengan meningkatnya intake minyak mentah produksi

domestik ke kilang sehingga berdampak pada

penurunan ekspor minyak mentah yang terjadi pada

periode yang sama.

Lebih lanjut, impor minyak mentah Indonesia

ALC (Arab Light Crude). Jenis minyak tersebut

digunakan untuk kebutuhan kilang Cilacap yang

memproduksi sekitar 30% dari total produksi BBM

dalam negeri.

Sementara itu, impor produk BBM juga mengalami

penurunan dari sebelumnya sebesar 39,1 juta barel

menjadi sebesar 37,9 juta barel (turun 3,2%). Lebih

rendahnya impor produk BBM di tengah kebutuhan

konsumsi BBM yang meningkat, ditengarai terkait

dengan meningkatkan optimalisasi kinerja kilang. Impor

BBM yang digunakan untuk mendukung kebutuhan

konsumsi dalam negeri tersebut, terutama berasal dari

Singapura, seperti gasoline, avtur, fuel oil dan kerosene.

Turunnya harga ekspor minyak mentah Indonesia

selama triwulan laporan sejalan dengan perkembangan

rata-rata harga minyak mentah basket OPEC dan WTI

yang masing-masing sebesar USD113,5 dan USD112,0

per barel. Pergerakan harga minyak yang berbeda arah

dibandingkan triwulan sebelumnya tersebut, antara lain

dipengaruhi oleh krisis global yang diperkirakan

menyebabkan melemahnya permintaan dunia. Selain

itu, OPEC sebagai organisasi negara pengekspor minyak

belum merencanakan untuk menurunkan kapasitas

produksinya.

Tabel 20

Demand dan Supply Minyak Dunia

QI QII Q III

North America 25.5 24.8 24.5 24.0

China 7.6 8.0 8.2 8.1

Western Europe 15.3 15.2 14.9 15.3

Others 37.5 38.8 37.8 37.9

85.9 86.7 85.4 85.3

Oil Supply

Non OPEC 53.6 54.2 54.4 53.5

OPEC 31.0 32.1 32.1 32.4

84.6 86.3 86.5 85.9

Total Supply

-1.3 -0.4 1.1 0.6

BALANCE Total Demand Oil Demand

(26)

Sementara itu, produksi minyak mentah Indonesia

selama Tw III-2008 relatif sama dengan rata-rata

produksi pada Tw.II-2008. Pada periode laporan,

rata-rata produksi minyak mencapai 0,982 juta barel per hari

(bph), sementara rata-rata produksi periode sebelumnya

sebesar 0,981 juta bph. Produksi minyak tersebut

didukung oleh adanya produksi dari beberapa lapangan

yang dikelola oleh KPS seperti JOB Pertamina-Petrochina

(Jatim), PT. Chevron (Riau), Conoco Philips (Grisik,

Sumsel), PT. Medco (Sumsel), PT. Vico (Kaltim), PT.

Petrochina (Jambi), PT. Conoco (South Natuna), BP

West Java (Block A) dan PT. Chevron (Kaltim). Produksi

yang dapat dipertahankan pada level yang relatif sama

tersebut mencerminkan adanya kenaikan produksi, baik

dari sumur baru maupun optimalisasi sumur lama yang

dapat mengimbangi natural declining sumur-sumur tua.

Konsumsi BBM selama laporan sedikit mengalami

peningkatan bila dibandingkan dengan konsumsi

periode sebelumnya. Peningkatan volume konsumsi

BBM di triwulan III sebesar 101 juta barel (triwulan

sebelumnya sebesar 99 juta barel) tidak dikuti oleh

peningkatan volume impor produk (BBM). Hal ini

ditengarai oleh adanya penambahan produksi BBM hasil

kilang seperti yang tercermin dari penurunan volume

ekspor minyak mentah pada periode yang sama.

2.2. Gas

Neraca perdagangan gas selama Tw. III-2008

mencatat kenaikan surplus menjadi USD4,8 miliar dari

periode Tw II-2008 yang mencapai USD4,4 miliar. Lebih

besarnya surplus selama kurun Juli – September 2008

dimaksud, lebih didorong oleh bertambahnya volume

ekspor gas (terutama LNG). Selain didorong oleh

volume ekspor, peningkatan ekspor gas juga

dipengaruhi oleh naiknya harga gas.

Tabel 21

Ekspor LNG, LPG dan Natural Gas

Sumber: BP. Migas, data diolah

Peningkatan volume ekspor gas pada Tw.III-2008

disumbang oleh naiknya ekspor LNG dan gas alam yang

masing-masing meningkat sebesar 7 MBTU dan 6

MBTU menjadi 259 MBTU dan 84 MBTU. Lebih

tingginya volume ekspor dimaksud, antara lain

30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140

04 05 06 0708* J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S

2007 2008 USD/bbl Perkembangan Harga MinyakGrafik 15

SLC Harga Ekspor WTI OPEC

Sumber: OPEC, Ditjen Migas, Bank Indonesia

20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 0.800 0.900 1.000 1.100 1.200

Jan Jun Dec Jun Dec Jun J F MAM J J A S

2005 2006 2007 2008

juta barel/bln Juta bph

Grafik 16

Produksi Minyak dan Konsumsi BBM

Oil Production Konsumsi (RHS)

Tw. II Tw. III

LNG

Volume (mmbtu) 253 259

Nilai ( juta USD) 3,462 3,699

Harga (USD/mmbtu) 13.7 14.3

LPG

Volume (000 metric ton) 35

-Nilai ( juta USD) 28

-Harga (USD/MTon) 802

-Natural Gas

Volume (mmbtu) 78 84

Nilai ( juta USD) 978 1,164

Harga (USD/mmbtu) 12.6 13.9

Neraca Perdagangan Gas

Ekspor (juta USD) 4,468 4,863

Impor (juta USD) 34 82

Net (juta USD) 4,434 4,781

(27)

dipengaruhi oleh besarnya produksi gas selama kurun

waktu laporan guna menutupi kekurangan pengiriman

periode sebelumnya. Berdasarkan nilai kontrak yang

telah disetujui, ekspor LNG dan gas alam terutama

ditujukan untuk negara Jepang, Korea Selatan dan

Taiwan.

Kenaikan volume ekspor gas turut mempengaruhi

nilai ekspor sehingga menambah surplus neraca

perdagangan gas. Nilai ekspor gas mengalami

peningkatan dari periode sebelumnya sebesar USD396

juta menjadi USD4,9 miliar yang ditopang oleh naiknya

nilai ekspor LNG sebesar 6,9% (setara USD237 juta) dan

gas alam sebesar 19,1% (setara USD 186 juta).

Sementara itu, pada periode laporan tidak terdapat

ekspor LPG terkait dengan kebijakan pemerintah untuk

menghentikan ekspor LPG guna pemenuhan kebutuhan

domestik dalam rangka konversi energi dari minyak

tanah ke LPG.

Hingga saat ini terdapat cadangan gas bumi di

Indonesia sekitar 170,1 TSCF (triliun standar cubic feet)

dengan komposisi 112,5 TCSF merupakan cadangan

terbukti dan 57,7 TCSF adalah cadangan potensial. Bila

dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2007,

cadangan gas bumi di tahun 2008 mengalami

peningkatan.

Tabel 22

Cadangan Gas Indonesia

(billion cubic feet)

Sumber: Ditjen Migas

Neraca Jasa

Defisit neraca jasa pada Tw. III-2008 mencapai

USD3,6 miliar, relatif masih sama dengan angka pada

periode triwulan sebelumnya. Penyumbang terbesar

kenaikan penerimaan devisa yang lebih besar daripada

triwulan sebelumnya.

Jasa transportasi pada triwulan III mencatat defisit

yang relatif sama dengan triwulan sebelumnya, yaitu

sekitar USD3,0 miliar. Angka defisit tersebut terutama

berasal dari jasa angkutan barang (freight), khususnya

nonmigas, yang sedikit naik dari USD2,1 miliar menjadi

USD2,2 miliar seiring dengan meningkatnya volume

impor barang. Sementara itu, defisit jasa angkutan

barang migas menurun dari USD0,7 miliar menjadi

USD0,6 miliar, sejalan dengan penurunan volume impor

minyak. Tingginya defisit jasa transportasi tersebut

terkait dengan dominasi armada asing dalam

pengangkutan barang impor. Pemberdayaan industri

pelayaran nasional dalam mendukung perdagangan

internasional melalui kewajiban semua pengiriman

komoditas nasional dengan menggunakan armada

domestik masih sulit untuk diterapkan.

Di sektor pariwisata, selama Tw. III-2008 mencatat

surplus sebesar USD0,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan

periode sebelumnya (USD0,3 miliar). Surplus tersebut

disebabkan oleh meningkatnya jumlah wisman yang

berkunjung ke Indonesia (inbound) dari 1,6 juta orang

menjadi 1,7 juta orang, atau tumbuh sekitar 11,4%

(q.t.q). Peningkatan kunjungan wisman tersebut

mendorong penerimaan devisa jasa travel dari USD1,5

miliar menjadi USD1,6 miliar.

Tahun

Cadangan

Terbukti 91 91 97 94 106 113 Potensial 87 98 89 93 59 58

Total 178 188 186 187 165 170

2006 2007 2008 2003 2004 2005

-4000 -3500 -3000 -2500 -2000 -1500 -1000 -500 0 500 1000

Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 2006 2007 2008

Grafik 17 Perkembangan Neraca Jasa

(28)

Malaysia (11%), Jepang (10%), Australia (8%), Cina

(5%) dan Korea Selatan (4%. Jepang dan Australia

termasuk negara utama asal wisman yang tumbuh

cukup tinggi, masing-masing sekitar 29% dan 25%

(q.t.q). Sementara wisman dari Arab Saudi, meskipun

pangsanya masih relatif rendah, tumbuh signifikan

hingga mencapai 80% (q.t.q).

Tujuan utama wisman berkunjung ke Indonesia

adalah Bali dengan pangsa 41%, diikuti Jakarta (28%)

dan Batam (18%). Dengan adanya beberapa kegiatan

terkait Visit Indonesian Year 2008, pariwisata Bali

sepanjang triwulan ketiga tumbuh sekitar 15% (q.t.q).

Negara asal wisman terbanyak yang berkunjung ke Bali

adalah Jepang (pangsa 19%), Australia (17%), Taiwan

(6%), dan Cina (5%). Jepang dan Australia kembali

menjadi dua negara utama asal wisman ke Bali yang

pertumbuhannya meningkat cukup signifikan, yaitu

masing-masing 39% dan 30% (q.t.q). Dampak

pencabutan travel warning dari AS pada triwulan II

2008 masih memberikan persepsi positif pada

kunjungan wisman dari negara lain, khususnya Eropa.

Wisman Eropa yang berkunjung ke Bali terutama

berasal dari Inggris, Perancis, Belanda dan Rusia dengan

rata-rata pertumbuhan sekitar 34% (q.t.q). Dampak

positif lain seperti windfall profit kenaikan harga minyak

pada negara-negara Timur Tengah juga terlihat dari

kenaikan kunjungan wisman asal Arab Saudi dan

Bahrain ke Bali yang meningkat lebih dari dua kali lipat

dibandingkan periode triwulan II 2008.

Secara kumulatif (Januari-September), jumlah

wisman telah mencapai 4,6 juta orang atau meningkat

12,2% (y.o.y) dibanding jumlah wisman pada periode

yang sama tahun 2007 sebanyak 4,1 juta orang.

Berarti setelah tiga triwulan berlalu, baru 2/3 dari target

kunjungan wisman 2008 sebanyak 7 juta orang yang

berhasil dicapai. Kendala utama yang menghadang

program tahun kunjungan wisata 2008 menurut

Pemerintah antara lain transportasi, promosi dan

masalah travel warning ke Indonesia yang masih

diterapkan oleh beberapa negara. Maskapai

penerbangan dalam negeri belum sepenuhnya mampu

menjangkau kebutuhan angkutan ke daerah-daerah

tujuan wisata. Sementara promosi masih dilakukan

secara terbatas meskipun sudah ada peningkatan

anggaran pariwisata. Partisipasi pemerintah daerah

dinilai masih belum optimal dalam berpromosi dan

mengelola obyek wisata daerah. Untuk mengejar

peningkatan wisman sampai akhir tahun, pemerintah

telah menerapkan injury time strategy seperti fokus

pada promosi di pasar Singapura, Malaysia, Tiongkok

dan Australia. Sementara untuk menyiasati dampak

krisis keuangan global, Pemerintah sedang menggenjot

kunjungan wisman dari wilayah perbatasan di Riau,

Entikong, Papua, berupa 411 paket wisata bersama

Garuda Indonesia di empat destinasi tersebut.

Berbeda dengan kunjungan wisman yang masih

tumbuh cukup tinggi, selama triwulan III, jumlah WNI

pergi ke luar negeri mencapai 1,4 juta orang, atau

hanya tumbuh sekitar 2,0% dari triwulan sebelumnya.

Sementara pengeluaran devisa terkait dengan

perjalanan WNI ke luar negeri tersebut mencapai

USD1,2 miliar relatif masih sama dengan triwulan

sebelumnya. Negara tetangga di ASEAN masih

menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan nusantara

(wisnus), yaitu Singapura (pangsa 44%), Malaysia

(25%) dan Thailand (4%). Sedangkan Australia (6%)

dan Amerika (4%) adalah negara tujuan utama

kunjungan wisnus di luar ASEAN.

-600 -400 -200 0 200 400 600 800 -600 -500 -400 -300 -200 -100 0 100 200 300 400 500 600 700

J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S

2006 2007 2008

juta USD

Grafik 18 Perkembangan Jasa Travel

(29)

Jasa bisnis lainnya pada Tw. III-2008 mencatat defisit

USD0,4 miliar relatif sama dengan triwulan sebelumnya.

Jasa bisnis lainnya terdiri dari jasa perdagangan

(merchanting), jasa sewa (operational leasing) dan

berbagai jasa keahlian (profesional) seperti jasa

konsultan hukum, jasa akuntansi, jasa arsitektur,

rekayasa dan teknik, jasa riset dan pengembangan, dan

lainnya. Negara berkembang, termasuk Indonesia,

pada umumnya lebih banyak menggunakan jasa

tersebut dari bukan penduduk (non resident) sehingga

nilainya selalu defisit. Demikian juga dengan jasa-jasa

lain (konstruksi, asuransi, keuangan, komputer &

informasi, royalti & lisensi, serta personal, budaya &

rekreasi) semuanya mencatat defisit. Sebagian besar

jasa-jasa tersebut mencatat defisit yang relatif menurun

sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang

mengalami perlambatan sehingga mengurangi impor

jasa selama triwulan III.

Di antara jasa lainnya, hanya jasa komunikasi dan

jasa pemerintah yang mencatat surplus. Sampai saat ini

transaksi incoming jasa komunikasi yang mencakup jasa

telekomunikasi dan pos & kurir masih lebih besar

daripada transaksi outgoing. Selama periode laporan,

jasa komunikasi mencatat surplus neto sebesar USD76

juta, menurun dari pada triwulan sebelumnya (USD115

juta). Demikian juga, penerimaan devisa dari

pembelanjaan kedutaan/perwakilan negara asing

berupa belanja pegawai, barang, pemeliharaan, dan

belanja perjalanan, masih lebih besar dibandingkan

pembiayaan kedutaan/perwakilan Indonesia di luar

negeri. Selama periode laporan jasa pemerintah

mencapai neto surplus USD61 juta, relatif sama dengan

angka pada triwulan sebelumnya (USD65 juta).

4. Neraca Pendapatan

Defisit neraca pendapatan (income) pada Tw.

III-2008 mencatat USD4,2 miliar, lebih rendah dari defisit

USD4,5 miliar pada triwulan sebelumnya. Defisit neraca

pendapatan mencerminkan bahwa kewajiban

penduduk kepada bukan penduduk lebih besar

daripada tagihan/aset penduduk kepada bukan

penduduk. Penurunan defisit tersebut berasal dari

berkurangnya pendapatan investasi langsung (Direct

Investment) terutama profit transfer perusahaan migas

yang menurun dari USD2,1 miliar menjadi USD1,9

miliar. Turunnya harga minyak telah mengurangi bagian

dari keuntungan penjualan migas yang menjadi hak

kontraktor asing.

Selain itu penurunan defisit neraca pendapatan

juga disumbangkan oleh menurunnya repatriasi hasil

keuntungan perusahaan PMA nonmigas ke luar negeri

mencapai USD0,9 miliar, sedikit lebih rendah dari

periode sebelumnya (USD10,0 miliar). Krisis keuangan

global ditengarai turut memberi dampak pada

penurunan kinerja perusahaan yang pada gilirannya

mengurangi tingkat keuntungan yang menjadi bagian

pemegang saham asing.

-5,000 -4,000 -3,000 -2,000 -1,000 0 1,000

Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 2006 2007 2008

Grafik 19

Perkembangan Neraca Pendapatan

Investment Income Direct Investment Income Portfolio Investment Income Other Investment Income

(30)

Secara keseluruhan, penurunan pendapatan

investasi langsung (Direct Investment) juga tercermin

dari profitabilitas perusahaan PMA di Indonesia (Foreign

Direct Investment) yang sedikit menurun menjadi

18,3% dari 18,7% pada triwulan sebelumnya.

Tabel 23

Implied Yield/Interest Rate

Di sisi lain, defisit pendapatan neto dari investasi

portofolio meningkat menjadi USD0,9 miliar dari

triwulan sebelumnya (defisit USD0,3 miliar).

Peningkatan defisit tersebut terkait dengan

meningkatnya pembayaran deviden atas surat berharga

saham yang dimiliki asing menjadi USD0,7 miliar dari

sebelumnya USD0,3 miliar. Sementara itu, pendapatan

neto investasi dari surat berharga utang mencapai

defisit USD0,3 miliar, sedikit meningkat dari periode

sebelumnya (defisit USD0,1 miliar). Peningkatan defisit

pendapatan investasi portofolio tersebut seiring dengan

kenaikan persentase imbal hasil investasi surat berharga

penduduk milik asing di dalam negeri dari 5,1%

menjadi 5,6%, lebih tinggi daripada kenaikan imbal

hasil investasi surat berharga asing milik penduduk di

luar negeri dari 3,3% menjadi 3,6%.

Sementara itu, pendapatan investasi lainnya

mencatat defisit USD0,3 miliar, lebih rendah

dibandingkan triwulan sebelumnya (defisit USD0,9

miliar). Hal itu terutama akibat meningkatnya

pembayaran bunga utang luar negeri khususnya sektor

swasta akibat kenaikan posisi utang luar negeri

meskipun rata-rata bunga utang sedikit menurun

menjadi 3,0% dari 3,1% pada triwulan sebelumnya.

5. Transfer Berjalan

Transfer berjalan pada Tw. III-2008 mencatat

surplus sebesar USD1,4 miliar, relatif tidak berbeda

dibandingkan triwulan sebelumnya. Penerimaan

terbesar masih tetap disumbangkan oleh workers’

remittances (WR)-TKI sebesar USD1,7 miliar, sedikit

lebih rendah daripada periode sebelumnya. Kondisi

pelemahan ekonomi dunia pada akhir triwulan III

diperkirakan mulai memberi dampak pada penerimaan

WR- TKI tersebut khususnya pada akhir triwulan

laporan. Sementara itu, outflows WR-TKA (Tenaga

Kerja Asing) pada periode laporan mencapai USD0,3

miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan

sebelumnya. Hal itu ditengarai sebagai dampak mulai

melemahnya pertumbuhan ekonomi domestik.

Penempatan TKI selama triwulan ketiga mencapai

sekitar 162 ribu orang, menurun 3,2% dibandingkan

167 ribu orang pada triwulan kedua. Dengan

penempatan sebesar itu, posisi (stok) TKI yang bekerja

di luar negeri sampai dengan akhir triwulan III mencapai

sekitar 4,3 juta orang. Dari jumlah tersebut sebagian

besar, sekitar 2,1 juta orang bekerja di Malaysia, 1,4

juta orang bekerja di Arab Saudi dan sekitar 0,8 juta

orang bekerja di beberapa negara seperti Taiwan, Korea

Selatan, Hongkong serta Singapura. TKI yang bekerja di

Malaysia sebagian besar TKI formal (70%) yang bekerja

di sektor perkebunan dan properti. Sebaliknya,

penempatan TKI di Arab Saudi hampir seluruhnya TKI

informal (97%) yang bekerja sebagai pembantu rumah

tangga.

Adapun negara penyumbang terbesar WR-TKI

selama triwulan laporan adalah Malaysia USD619 juta

(pangsa 37%), Arab Saudi USD562 juta (34%),

Hongkong USD144 juta (7%), dan Taiwan USD97 juta

(6%). Meskipun Malaysia masih menjadi negara utama

penyumbang Workers’ remittances (pengiriman uang

TKI), namun sejak bulan Agustus 2008 mengalami

Implied

Interest Rate  (%)*

Gambar

Grafik  20 Tabel 24 Perkembangan Workers' Remittances
Tabel 25 Perkembangan Hibah Investasi
Grafik 22Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial per
Grafik  24BI rate dan Fed rate
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan per kapita penduduk Bangka Belitung baik atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan pada triwulan I 2009 masing-masing tercatat sebesar Rp3,91 juta dan

Dari sisi permintaan, masih relatif lemahnya daya beli masyarakat pada Triwulan II 2009 dibandingkan dengan Triwulan yang sama tahun sebelumnya menjadi penyebab turunnya

Pada triwulan laporan, kinerja sektor pertambangan Kalimantan Selatan diperkirakan tumbuh sebesar 6,04% (yoy), lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan di triwulan sebelumnya

Laju inflasi tahunan Kota Palangka Raya dan Sampit pada triwulan III-2010. tercatat masing-masing sebesar 9,11% dan 7,59% meningkat

Pada sisi permintaan , pertumbuhan Sulawesi Selatan triwulan II-2010 diperkirakan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode sebelumnya.. Pada sisi

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sumsel Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 pada triwulan ini diproyeksikan sebesar Rp15,1 triliun, lebih tinggi dibandingkan

Akselerasi pertumbuhan investasi mulai terjadi sejak triwulan III-2007 dan pada triwulan IV-2007 investasi diprakirakan akan tumbuh sebesar 9,7% (y-o-y), lebih tinggi bila

Laju pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) yaitu: nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulan ini dibandingkan dengan nilai PDRB triwulan yang sama tahun sebelumnya pada