AGAMA DAN NEGARA
oleh: Jappy M Pellokila
Era refomasi -yang di tandai dengan runtuhnya rezim
Soeharto- diharapkan membawa perubahan dalam hidup dan
kehidupan bangsa Indonesia. Akan tetapi perubahan tersebut,
masih jauh dari harapan. Rakyat dan bangsa Indonesia masih
merangkak dengan pelan menuju perubahan.
Salah satu dampak reformasi adalah adanya kebebasan
dalam mengeluarkan pendapat, dan mengeluarkan unek-unek
dan keingi-nan hati, yang kadang kala menyakitkan pihak lain.
Kebebasan yang ada –pada alam reformasi ini- ternyata menjadi
kebebasan yang tanpa batas, dan cenderung anomali, tidak
mengenal aturan dan hukum, bahkan melanggar norma-norma
yang berlaku dalam masyarakat, dan sekaligus membuat orang
lain terluka dan teriris.
Hal itu nampak dari segolongan masyarakat –tanpa peduli
dengan perasaan umat beragama- dengan lantang menawarkan
–dan terus menerus berteriak melalui media massa- bahwa jika
negara Indonesia diatur sesuai dengan salah satu ajaran agama,
maka seluruh rakyat akan mencapai damai sejahtera, kemajuan,
demokrasi, perbaikan, perubahan, serta adil dan makmur, dan
lain-lain. Teriakan-teriakan seperti ini sah-sah saja, tetapi harus
disampaikan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak
dalam masyarakat.
Lalu bagaimana peranan agama yang dianutnya, apakah bisa
juga membawa umat mencapai hal yang sama dengan teriakan
tadi?
Agaknya, kita, umat beragama, perlu merenung ulang konsep
hubungan Agama dan Negara atau Negara dan Agama. Oleh sebab itu,
sebagai warga negara, perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh
hubungan antara Agama dan Negara atau Negara dan Agama. Ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh warga gereja sebagai umat
beragama dan warga negara dalam menyikapi konsep hubungan Agama
dan Negara, yaitu:
Negara dalam Agama-agama
Menunjuk pada konsep atau pandangan tentang negara dalam
agama-agama. Misalnya, arti dan hakekat negara menurut
pandangan agama Kristen, Islam, Katolik, Hindu, Buddha, dan
lain-lain. Dalam konteks ini, tokoh-tokoh agama menyampaikan
dan menunjukkan kepada penganutnya pandangan mereka
mengenai negara, serta tugas dan tanggungjawab sebagai warga
negara menurut ajaran agamanya. Sekaligus memperhatikan
“pemisahan” antara Negara dan Agama, walaupun obyek
pelayanannya sama yaitu manusia, rakyat yang ada dalam
negara.
Dalam konsep ini, Institusi Agama dan Negara yang berada
dalam satu lokasi atau konteks kehidupan namun keduanya tidak
saling mencampuri. Agama diciptakan untuk menghantar
manusia mencapai hidup dan kehidupan masa depan
eskhatologis, hidup setelah kehidupan sekarang, yang tidak lagi
di batasi dimensi. Sedangkan negara diciptakan agar ada
sosialisasi, mengem-bangkan serta membangun sarana-sarana
penunjang hidup dan kehidupan sesuai dengan kemampuan.
Agama-agama dalam Negara
Menunjuk pada adanya agama-agama dalam satu negara.
Artinya, pada satu negara ada banyak agama, namun mereka
diberi hak dan kebebasan yang sama untuk melayani
pemeluknya, melakukan ibadah, mengembangkan agamanya,
dan juga membangun sarana ibadahnya. Di dalamnya termasuk
negara tidak mementing-kan, mengutamakan, memperhatikan
salah satu agama sambil mengesampingkan yang lain. Akan
tetapi, negara memberi kesempatan yang sama kepada
agama-agama untuk pelayanan dan kesaksian kepada umatnya serta
masyarakat dan bangsa secara luas. Negara dan Agama saling
membantu, menolong, dan kerjasama untuk mensejahterahkan
masyarakat. Negara menjadi fasilitator dalam kebebasan
beragama dan toleransi antar umat beragama. Bahkan ada
kesempatan bagi tokoh-tokoh agama untuk menegur pemimpin
negara jika mereka melakukan penyimpangan, ketidakjujuran,
ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan hal-hal lain yang
menyakiti rakyat.
Agama Negara
Artinya, ada salah satu agama atau hanya ada satu agama yang diakui
oleh negara, sebagai Agama Negara secara resmi. Agama-agama di luar
agama resmi atau agama negara tersebut, tidak diakui keberadaannya.
Pada konteks ini, Negara hanya memberikan fasilitas kepada agama
tersebut, serta kemudahan-kemudahan tertentu bagi penganutnya. Dan
jika ada agama lain dalam negara tersebut, maka akan mengalami
penghambatan, larangan, tekanan dan berbagai kesulitan lainnya.
hidup serta melakukan penghambatan dan penindasan terhadap
Agama-agama yang lain dan umatnya. Pemimpin-pemimpin
Agama Negara pun tidak perlu terlalu melelahkan diri dengan
mengem-bangkan misi dan visi Agama, karena seluruh rakyat
mau tidak mau memeluk Agama Negara. Karena orang menjadi
beragama karena memang harus beragama berdasarkan
undang-undang dan pengakuan Negara terhadap satu Agama
saja.
Negara Agama
Artinya, semua tatanan hidup dan kehidupan dalam negara harus sesuai
dengan hukum-hukum atau ajaran-ajaran agama yang diakui negara.
Undang-undang dan peraturan negara serta keputusan dan kebijakan
negara di dasari ajaran-ajaran agama dan teks dan pandangan serta ajaran
Kitab Suci. Para pengelola negara atau pemerintah harus tunduk kepada
pandangan-pandangan atau ajaran agama jika mau mengambil suatu
keputusan atau kebijakan dalam menjalankan tugasnya, termasuk dalam
peraturan dan undang-undang, keputusan-keputusan lokal, wilayah,
maupun nasional.
Dalam Negara Agama, akan terjadi semacam “pemaksaan”
terhadap rakyat agar memeluk Agama Negara. Para penganut
agama yang “tidak diakui sebagai agama negara” harus menjadi
pemeluk Agama Negara. Hal ini terjadi karena negara tidak
mengakui eksistensi agama-agama lain. Dan juga akan terjadi,
orang menjadi beragama hanya karena ingin diakui sebagai
warga negara, memperoleh kedudukan, jabatan, keuntungan
materi, dan lain-lain, bukan karena kesadaran pribadinya serta
panggilan Ilahi dan keinginan untuk berhubungan dengan Yang
Ilahi.
Bagaimana yang baik?
mencermati sampai jauh mana konsep hubungan Agama dan Negara yang
ditawarkan dan dituntut oleh sebagian anak bangsa. Sebagai bagian dari
bangsa yang besar, tentu ada kerinduan agar terjadi perubahan-perubahan
kearah kemajuan pada semua aspek hidup dan kehidupan.
Dan juga, sebagai anak bangsa yang terlahir di republik ini, harus
menyadari bahwa untuk mencapai Indonesia Baru, tidak harus
merubah semua tatanan hidup dan kehidupan serta
keanekaragamanan agama mejadi satu agama melalui Agama
Negara maupun Negara Agama, karena agama telah ada
sebelum terbentuk-nya Negara kesatuan RI. Agama-agama
dalam Negara RI merupakan kekayaan dan kekuatan untuk
mencapai kebersamaan sebagai bangsa yang besar kearah
kemajuan dalam semua aspek.
Bagi rakyat dan bangsa Indonesia agaknya yang terbaik adalah
memahami pandangan agamanya mengenai agama, serta
melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang
baik sesuai dengan pemahaman imanya. Dan dengan demikan
warga gereja harus terus menerus berupaya untuk
mengembangkan esksistensi Agama-agama dalam Negara,
sambil berusaha meniadakan idea-idea serta konsep-konsep
Negara Agama dan Agama Negara.
Agama dan Negara
Kamis, 02 Juli 2009 13:49
Agama di negeri ini diposisikan pada tempat yang sangat strategis. Sekalipun disebutkan bahwa Indonesia bukan sebagai negara yang berdasarkan agama, tetapi pemerintah memberikan perhatian yang sedemikian luas dan besar terhadap kehidupan beragama. Sejak lahir, pemerintah negeri ini menunjuk satu departemen tersendiri yang bertugas melakukan pembinaan dan pelayanan terhadap semua agama yang ada, yaitu Departemen Agama.
Pemerintah juga memberikan anggaran melalui APBN sebagaimana pada departemen lainnya. Dahulu, pada masa orde baru, Departemen Agama dikenal sebagai instansi pemerintah yang paling cekak anggarannya. Kantor-kantor instansi pemerintah, termasuk lembaga pendidikan yang berada di bawah departemen ini dikenal tampak sederhana dan bahkan tampak kusam, karena kekurangan anggaran. Tetapi akhir-akhir ini sudah menampakkan wajah yang cukup cerah. Anggaran Departemen Agama, masuk kategori
Tugas Departemen Agama, sebagaimana nama yang disandangnya adalah melakukan pembinaan dan pelayanan kehidupan umat beragama. Tugas ini cakupannya jika dirinci cukup luas, mulai dari merumuskan kebijakan nasional di bidang keagamaan, melaksanaan pembinaan dan pelayanan, termasuk pembinaan kerukunan umat beragama. Yang tampak menonjol, dalam membina umat beragama selain melalui tempat-tempat ibadah, adalah melalui pendidikan agama.
Dalam melaksanakan kebijakannya, Departemen Agama memiliki beberapa direktorat jendral sesuai dengan jenis tugas dan agama yang hidup dan berkembang di Indonesia. Sementara ini, ada dirjen pendidikan Islam, dirjen haji, dirjen pembinaan masyarakat Islam, dirjen pembinaan agama kristen Kantholik, dirjen pembinaan agama kristen protestan, dirjen pembinaan agama Hidndu, dirjen agama budha. Agama Kong Hu Cu, sementara masih berada di bawah Sekretaris Jendral Departemen Agama. Sebagaimana disinggung di muka, masing-masing agama mengelola lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh tanah air, mulai dari pendidikan yang bersifat formal, maupun yang bersifat non formal dan informal. Pendidikan yang bersifat formal misalnya, masing-masing agama memiliki lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Di antaranya ada yang berstatus negeri dan sebagian lainnya, bahkan justru yang lebih banyak jumlahnya, berstatus swasta.
Semula lembaga pendidikan formal yang berada di bawah pembinaan departemen agama hanya bersifat pendidikan kedinasan, yaitu lembaga pendidikan yang dimasudkan untuk mencukupi kebutuhan tenaga yang diperlukan oleh departemennya sendiri, sehingga bidang-bidang yang dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan instansi itu. Akan tetapi akhir-akhir ini, lembaga pendidikan yang berada di bawah departemen agama, ternyata berkembang lebih luas lagi melampaui wilayahnya semula, hingga akhirnya orientasinya menjadi sama dengan lembaga pendidikan yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional.
Dengan mengelola pendidikan hingga dalam jumlah yang besar ini, maka Departemen Agama mendapatkan anggaran yang cukup besar. Menurut catatan, departemen agama mengelola lembaga pendidikan tidak kurang dari 20 % dari keseluruhan jumlah lembaga pendidikan yang ada di tanah air ini. Anggaran itu, selain digunakan untuk membiayai operasional pembinaan keagamaan masing-masing agama, dialokasikan untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan di masing-masing direktorat jendral pembinaan agama yang
berbeda-beda itu.
masuk pada relung-relung kehidupan bernegara. Lebih dari itu, di wilayah yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, kantor-kantor pemerintah termasuk lembaga pendidikan, disediakan tempat ibadah. Setiap kantor pemerintah dilengkapi masjid, termasuk juga sekolah-sekolah pemerintah dan juga perguruan tinggi atau universitas. Lebih dari itu, pelaksanaan ritual agama pun mendapatkan perhatian dan pelayanan dari pemerintah. Seperti misalnya penyelenggaraan ibadah haji, puasa di bulan ramadhan, pemerintah ambil bagian dalam penentuan awal dan akhir bulan ramadhan. Demikian pula pada peringatan hari besar keagamaan, semua agama, dijadikan sebagai hari libur nasional. Lebih dari itu, simbol keagamaan misalnya mulai dari yang paling sederhana, bahwa hampir setiap pejabat pemerintah tatkala memulai pidato memberikan nuansa agama, misalnya mengucapkan salam dan memuji Tuhan, dengan menggunakan cara Islam bagi pejabat muslim, dan begitu pula bagi agama lainnya Ayat-ayat suci al Qur’an banyak disitir atau dijadikan referensi dalam berbagai pidato oleh para pejabat pemerintah.
Memang dalam beberapa hal, ada sementara pihak menuntut lebih dari itu. Misalnya, agar hukum Islam dijadikan sebagai dasar hukum positif. Usulan ini selain didasarkan atas pertimbangan bahwa kaum muslimin merupakan mayoritas penduduk negeri ini, juga dijamin bahwa jika usulan itu disetujui maka pemeluk agama lain tetap akan terlindungi. Hal itu sangat dimungkinkan, kerena hukum Islam sesungguhnya akan melindungi siapapun, termasuk bagi mereka yang memeluk agama lain. Begitu pula, muncul isu di wilayah yang mayoritas masyarakatnya beragama nasrani, mengajukan tuntutan serupa. Aspirasi tersebut sampai saat ini belum mendapatkan respon. Keinginan itu agaknya sulit dipenuhi atas dasar pandangan bahwa negeri ini bukan berdasar agama, melainkan Pancasila dan UUD 1945. Agama tidak dijadikan sebagai dasar mengatur negara, tetapi agama diposisikan sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Namun nilai-nilai universal agama, seperti keadilan, kejujuran, saling menghormati sesama, kasih sayang, kebersamaan, bermusyawarah, dan lain-lain dijadikan sebagai sumber atau ruh dalam menyusun berbagai aturan, pedoman, dan bahkan undang-undang negara.
semua kegiatan bermasyarakat dan bernegara.
Akhirnya, saya membayangkan jika proses hubungan agama dan negara di negeri ini terus berkembang sebagaimana yang berjalan selama ini, maka Indonesia tidak saja akan menjadi negara yang paling besar berpenduduk muslim, tetapi lebih dari itu, juga sekaligus sebagai model ideal hubungan antara agama dan negara bagi masyarakat yang berdemokrasi. Dalam suasana seperti itu, maka penyebaran, misi, atau dakwah masing-masing agama, dalam suasana yang terbuka, akan menawarkan atau mengedepankan kualitas kehidupan yang didasari oleh nilai-nilai masing-masing agama, dan bukan selainnya itu. Orang mengenali keunggulan dan keluhuran suatu agama, bukan saja berdasar pada tataran kekuatan doktrin dari kitab suci masing-masing, melainkan juga dari kualitas kehidupan secara menyeluruh yang berhasil ditampilkan oleh masing-masing pemeluk agama yang berbeda-beda itu. Sehingga kemudian yang terjadi, adalah mereka akan berlomba-lomba dalam menampilkan kualitas kehidupan dan bukan justru saling mengingkari keberadaannya dan atau merendahkan. Wallahu a’lam.
Meredefinisi Hubungan Agama dan
Negara
April 18, 2008 at 7:29 pm (Menjadi Indonesia)
MEREDEFINISI HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA
Masdar F. Mas’udi
Seperti diketahui, dinamika hubungan agama dan negara telah menjadi faktor kunci dalam sejarah peradaban/kebiadaban umat manusia. Di samping dapat melahirkan kemajuan besar, hubungan antara keduanya juga telah menimbulkan malapetaka besar. Tidak ada bedanya, baik ketika negara bertahta di atas agama (pra abad pertengahan), ketika negara di bawah agama (di abad pertengahan) atau ketika negara terpisah dari agama (pasca abad pertengahan, atau di abad modern sekarang ini).
Pola hubungan ronde pertama dan kedua sudah lewat. Bahwa masih ada sisa sisa masa lalu, dalam urusan apa pun termasuk hubungan negara agama, bisa terjadi. Tapi, sekurang kurangnya secara teori, kini kita telah merasa cocok di ronde ketiga, ronde sekular, di mana agama dan negara harus terpisah, dengan wilayah jurisdiksinya masing masing. Agama untuk urusan pribadi, negara untuk urusan publik.
Sejauh ini kita beranggapan hubungan sekularistik untuk agama negara merupakan opsi yang terbaik. Dalam pola hubungan ini, agama tidak lagi bisa memperalat negara untuk melakukan kedzaliman atas nama Tuhan; demikian pula negara tidak lagi bisa
memperalat agama untuk kepentingan penguasa.
bisa benar, Timur bisa salah; tapi juga bisa sebaliknya. “Kebaikan bukan soal Barat atau di Timur, melainkan soal ketakwaan” (Q: Al Baqarah/176).
Tapi memang, sejak gagasan sekularisme ini didakwahkan ke Timur, umat Islam menjadi terbelah antara yang menerima dan yang menolak. Yang menolak umumnya karena kecurigaan terhadap apa saja yang datang dari Barat. Tanpa mencoba mengerti kesulitan masyarakat Barat sendiri selama bera¬bad abad dalam menata hubungan agama negara, mereka mencurigai sekularisme sebagai gagasan untuk memarjinalkan Islam dari kehidupan nyata.
Sementara itu, kelompok yang menerima berargumen bahwa seperti umumnya agama, Islam pun terbatas jangkaunnya pada urusan pribadi. Jika ia ditarik ke ruang publik (negara) akan membawa petaka seperti yang pernah terjadi di Barat. Sekularisme adalah pilihan terbaik jika kita ingin membiarkan negara dan agama dalam kewajarannya. Biarlah mereka mengurus tugasnya masing-masing; agama di wilayah privat, negara untuk wilayah publik.
***
Mencoba memahami konteks sekularisme di Barat dan konteks Islam di Timur mungkin dapat membantu kita keluar dari cara pikir dokotomis yang naif. Pertama, dalam konteks Barat sekularisme adalah modus penyelesaian konflik antara otoritas lembaga negara di satu pihak versus otoritas lembaga agama dalam tubuh Gereja di lain pihak. Dalam Islam, otoritas keagamaan seperti gereja, lebih lebih gereja abad per¬tengahan yang monolitik dan sentralistik, tidak diketemukan.
Bukan tidak ada otoritas sama sekali, akan tetapi dalam mainstream Islam otoritas itu terdesentrali¬sasi sedemikian rupa pada pribadi pribadi tokoh (ulama) atau pada organisasi-organisasi keagamaan yang satu sama lain bisa berbeda fatwa atau bahkan saling menolak. Oleh sebab itu tidak pernah bisa dikatakan bahwa ada satu masa dalam sejarah Islam dimana negara (sultan) sepenuhnya berhadapan dengan otoritas agama (ulama); Juga tidak pernah terjadi sebaliknya, otoritas agama sepenuhnya ditaklukkan oleh otoritas negara.
Kedua, dalam konteks Barat abad pertengahan, sekularisme yang berkonotasi
menghukum otoritas agama dan mengurungnya di ruang privat, memang beralasan. Pada waktu itu, agama (baca: Gere¬ja) telah menjadi instrumen dominatif bagi elite politik maupun ekonomi untuk mempertahankan previlagenya. Pada saat yang sama, agama telah kehilangan watak profetiknya sebagai pembela masyarakat, khususnya petani dan buruh yang tertindas.
Jujur saja, dosa-dosa agama (gereja) yang terjadi di Barat tersebut juga terdapat dalam Islam. Akan tetapi ada beberapa hal penting yang membedakan. Dalam Islam, seperti dikatakan di atas, tidak ada otoritas tunggal yang telah memainkan dosa dosa itu secara utuh dan terpusat. Pada saat seba¬gian ulama Islam berkolusi dengan penguasa,
ada yang sekadar apatis (uzlah) dari politik kekuasaan, sebagian terus melancarkan kritik, bahkan beberapa dengan tinda¬kan, gerakan.
Ketiga, dalam konteks kelahiran negara modern, ada juga fakta yang tidak boleh dilupakan. Di Barat negara modern lahir dari atau bebarengan dengan gerakan pemakzulan terhadap otoritas agama (gereja). Di Timur, di dunia Islam termasuk
Indone¬sia, negara modern lahir justru dari semangat heroisme keagamaan (kesyahidan) untuk memerdekaan bangsanya dari tirani penjajahan, yang nota bene adalah Barat. Itulah sebabnya hubungan agama negara dalam abad modern di Timur umumnya dan di dunia Islam khususnya, tidak bisa begitu saja diacukan kepada pengalaman Barat dan dipecahkan dengan resep Barat, sekularisme itu. Tapi jangan salah. Dengan mengatakan begitu bukan berarti sekularisme musti kita tolak mentah dan kita kembali ke
teokratisme, seperti usul kaum revivalis-fundamentalis. Kita tahu bahwa dalam teokratisme, secara formal negara ditaklukkan pada kepentingan agama, padahal kenyataannya ia ditaklukkan pada kepentingan elitenya belaka.
Dengan demikian, mematrik negara hanya dalam kolom sekularis atau teokratis, kiranya terlalu menyederhanakan masalah. Lebih-lebih dalam konteks Islam, hubungan agama negara terlalu komopleks untuk dilihat secara hitam putih begitu saja. Disamping karena faktor kesejarahan yang berbeda dengan Barat, dalam konteks ajaran (normatif)
mengkotakkan agama hanya pada ruang privat dan negara pada urusan publik juga mengandung mafsadah tersendiri.
Bahkan di Barat pun sekularisme yang secara ketat memenjarakan agama di ruang privat sudah dikritik. Sikap cuci tangan agama terhadap derita kemanusiaan yang terjadi di ruang publik akibat kesewenang-wenangan negara (state) secara moral jelas tidak dapat dipertanggungjawabkan. Telah muncul opsi baru yang oleh Jose Casanova disebut deprivatisasi agama. Gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin maupun Political Theology di Eropa bagaimana pun merupakan refleksi dari kritik tersebut.
***
Jika di Barat sendiri sekularisme mulai dipersoalkan, maka bagaimana dalam Islam? Dari struktur internal ajaran Islam kita bisa membuat pemilahan beberapa tingkatan yang berimplikasi pada pola hubungan agama-negara yang berbeda.
Pertama, ajaran yang bersifat privat, semisal soal keyakinan (akidah) kepada Allah, malaikat, takdir dan hari akhir. Keyaki¬nan keyakinan seperti ini adalah perkara yang benar benar pribadi; apa yang diyakini sesama muslim tentang Tuhan atau hari akhir, misalnya, tidak mungkin bisa diseragamkan antara satu orang dengan yang lain. Dalam hal ini negara bukan saja tidak punya kewenangan untuk mengintervensi, bahkan tidak punya kemampuan apa pun untuk menjangkaunya.
hukum agama tentang keluarga (al ahwal al syahsiyat). Dengan dalih apa pun, negara tidak borhak mengerahkan polisi untuk, misalnya, memaksa seseorang menjalankan salat atau puasa. Bahkan intervensi negara atau pemerintah yang selama ini terjadi dalam urusan penyeragaman hari raya atau soal keabsahan suatu perni¬kahan, adalah salah kaprah yang perlu segera diakhiri.
Ketiga, ajaran keagaman (Islam) yang bersifat publik, misalnya ajaran ajaran Islam tentang muamalat (etika perdata), jinayat (pidana) dan siyasah (etika mengelola kekuasaan dan kekayaan negara). Pada tingkat ajaran kategori inilah terbuka proses pengkayaan (enrichment) dan substansiasi hukum agama terhadap hukum negara. Tidak bisa dikatakan bahwa dalam negara kebangsaan hukum agama haram ikut
memperkaya bangunan hukum publik dari negara yang bersangkutan. Jangankah hukum agama yang dianut oleh masyarakat di negeri itu; hukum warisan penjajah yang telah memeras kita ratusan tahun dan kita usir dengan darah para syuhada pun bisa diusung menjadi hukum di negeri kita.
Akan tetapi kita semua harus menyadari bahwa sesuci dan sekuat apa pun tawaran-tawaran hukum (syariat) keagamaan tersebut tidak dapat diberlakukan begitu saja sebagai hukum positif. Dalam konteks negara kebangsaan hukum agama, termasuk yang dianut oleh mayoritas sekalipun, baru merupakan bahan mentah (row material) seperti halnya hukum adat (adat manapun) atau hukum hukum yang dicomot dari bangsa lain.
Untuk bisa menjadi bagian dari hukum publik, maka hukum-hukum tersbut harus memenuhi dua syarat. Pertama, syarat substansial menyangkut isi hukum yang harus beroreintasi pada kepentingan publik, bukan hanya kepentingan kelompok tertentu. Kedua, syarat prosedural artinya hukum itu dapat meyakinkan nalar publik untuk
diterima melalui prosedur penetapan hukum secara demokratis yang juga disepakati oleh publik. Hukum apapun yang memenuhi kedua syarat ini berhak mengisi bangunan hukum positif dan perundang-undangan suatau negara. Tidak terkecuali hukum yang berbasis agama.
Bahkan untuk negara modern yang kini telah menjadi semakin repressif, koruptif, ekploitatif dan tidak perduli dengan nasib masyarakat lemah, maka kontribusi agama-agama dengan kekayaan nilai-nilai etik dan moralnya sangatlah diperlukan. Kita butuh sekali kontribusi etika sosial Kristiani dengan basis kasih-nya terutama bagi mereka yang terpinggirkan. Kita butuh sentuhan etika Hinduisme dengan semangat ahimsa (non-violence)-nya; etika Budhis dengan etos kesederhanaannya; dan etika Islam dengan spirit keadilan-nya. Juga dari agama-agama lain