Analisis Perbandingan Kinerja Protokol
Routing Multi-Copy
Dan
Single-Copy
Berdasarkan Mobilitas Node Pada
Delay Tolerant Network
Faris Naufal Al Farros1, Rakhmadhany Primananda2, Primantara Hari Trisnawan3
Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: [email protected], 2[email protected], 3[email protected]
Abstrak
Delay Tolerant Network (DTN) menjadi solusi dari sulit bertukarnya informasi melalui jaringan internet yang kurang memadai. Penelitian sebelumnya mengenai DTN cenderung meneliti kinerja protokol
Multi-copy dan Single-copy satu jalur dan satu mobilitas. Maka dari itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui kinerja protokol Multi-copy, Single-copy dan 3 mobilitas node. Pengujian menggunakan 3 jenis ukuran pesan dan 3 jenis jumlah node dengan The One Simulator. Hasil penelitian menunjukkan nilai Delivery probability tertinggi berdasarkan ukuran pesan dan jumlah node yaitu routing ProPHet Map Based Movement dengan ukuran pesan 10 MB dengan nilai 0,1842%, routing ProPHet mobilitas
Shortest Path Map Based Movement jumlah node 50 dengan nilai 0,0396%. Untuk nilai Average latency
tertinggi berdasarkan ukuran pesan dan jumlah node, yaitu routing Epidemic (Multi-copy) dengan mobilitas node Map Based Movement ukuran pesan 45 MB dengan nilai 586,1909s, routing ProPHet
mobilitas Map Based Movement jumlah node 25 dengan nilai 737,4527s. Kemudian nilai Overhead ratio tertinggi berdasarkan ukuran pesan dan jumlah node yaitu routing First Contact mobilitas node
Map Based Movement ukuran pesan 45 MB dengan nilai 22,04%, routing ProPHet mobilitas node Map Based Movement jumlah node 10 dengan nilai 25,0909%.
Kata kunci: Delay tolerant network, multipath, multi-copy, single-copy
Abstract
Delay Tolerant Network (DTN) is the solution of the stiffness of transferring information through the weak of internet network. The previous research of DTN mostly focuses on the way the protocol performance of Multi-copy and Single-copy utilizing one way and one mobility. So that’s why the deepest research is needed to know the protocol performance of Multi-copy, Single-copy and 3 mobilities node. The test using 3 types of message size and 3 types of nodes with The One Simulator. The result of the research showing the highest value of Delivery probability with the message size is 10 MB with the percentage about 0,1842%, routing ProPHet mobility Shortes Path Map Based Movement with the number of node 50 with the percentage 0,0375%. The highest value of Average latency based on the message size and the number of node is routing epdemic (multicopy) with the node mobility Map Based Movement message size 45MB with the value 737,4527s. then the highest value of Overhead ratio based on the message size is routing First Contact mobility node Map Based Movement with the message size 45MB with the percentage 22,04%, routing ProPHet mobility node Map Based Movement the number of node is 10 with the value 25,0909%.
Keywords: Delay tolerant network, multipath, multi-copy, single-copy
1. PENDAHULUAN
Kebutuhan akan internet di zaman globalisasi ini sangatlah penting, untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Salah satu yang diperlukan untuk melakukan hal tersebut adalah dengan terhubung ke jaringan internet yang memadai. Namun ada beberapa daerah yang sulit ataupun tidak tercakup jaringan internet seperti halnya di kota, sehingga
komunikasi dan pertukaran informasi menjadi sulit dilakukan karena tingkat delay dan loss
yang tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut DTN (Delay Toleran Network) menjadi solusi dari permasalahan diatas, karena mampu menangani tingkat delay dan loss yang tinggi.
for Challenge Internets. Pada makalah tersebut Fall (2003) menyatakan bahwa DTN adalah arsitektur yang cocok digunakan pada jaringan yang terputus putus. Pada konsep arsitektur DTN ini terdapat beberapa routing protokol, seperti Maxprop, Direct Delivery, ProPHet,
ProPHetV2, Epidemic, First Contact.
Pada DTN terdapat berbagai macam mobilitas node, menurut Rizal (2017) dalam
penelitian yang berjudul “Analisis Kinerja
Protocol pada Arsitektur Delay Toleran Network Terhadap Beberapa Pola Pergerakan” terdapat
beberapa contoh mobilitas node, yakni mobilitas random, terjadwal dan terpola. Karena ketika mobilitas itu terjadi terus menerus untuk mengirimkan pesan, maka akan menghasilkan pola pergerakan yang nantinya akan berpengaruh pada kinerja routing.
Pengujian Hutajulu (2017) yang berjudul
“Perbandingan Kinerja Routing Multycopy dan Routing First contac dengan Stationary Relay Node pada Delay Toleran Network” penelitian
ini fokus membandingkan routing multi-copy
dan First Contact di jalur pendakian Gunung Semeru (single path) dengan menggunakan beberapa node yang menjadi stationary untuk membantu pengiriman data. Akan tetapi penilitian ini hanya memakai pergerakan
ShortestPathMapBasedMovement karena penelitian ini fokus pada penambahan node sebagai node pembantu node lain yang akan mengirimkan pesan.
Selanjutnya penelitian (Permatasari, 2017)
dengan judul “Analisis Kinerja Protokol Routing ProPHet, Epidemic, dan Spray and Wait”
menguji dengan menggunakan 3 jenis routing protocol yaitu ProPHet, Epidemic, dan Spay and Wait dan dengan menggunakan 5 node yang bergerak di peroleh bahwa protocol routing ProPHet memiliki hasil ratio overhead terendah sehingga pesan dapat terkirim dengan baik. Protocol routing Epidemic menurut Vahdat (2000) dapat menghasilkan delivery probabilistic tinggi, kemudian melihat pada penelitian selanjutnya (Massri et al, 2016) dengan judul Reference architecture and a Thorough yang menjelaskan bahwa pada
Routing protocol First Contact menghasilkan
Delivery Probability tinggi pada pengiriman pesan 10kb dan 100kb dari pada routingDirect Delivery.
Pada percobaan Hutajulu (2017), dijelaskan kelebihan yang dimiliki masing masing protokol, seperti protocol ProPHet yang sudah dijelaskan pada penelitian (Permatasari, 2017),
protokol Epidemic pada penelitian (Vahdat, 2000) dan protocol First Contact pada penelitian (Massri, et al, 2016 ). Dari kelebihan masing masing protocol tersebut dan pada penelitian
Permatasari (2017) dan hutajulu (2017) hanya menggunakan single path, diperlukan penelitian tentang kinerja routing multi-copy dan single-copy pada banyak jalur dengan stationary node pada source (sumber) dan destination (tujuan). Penelitian fokus pada analisis perbandingan kinerja protocol routing multi-copy dan single-copy dengan banyak jalur, dari source (sumber) menuju destination (tujuan) berdasarkan mobilitas node berbasis jalur (path).
Penilitian dilakukan menggunakan mobilitas node (Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement, Map Route Movement) yang berbasis jalur untuk di bandingakan kinerja pengiriman data yang diperoleh dari beberapa macam karekteristik uji, yaitu jumlah node dan ukuran pesan yang berbeda beda dalam tiap skenario dan menggunakan parameter uji Delivery Probability, Average Latency, dan Overhead Ratio dengan harapan akan di peroleh hasil dari kinerja pengiriman data dari routingmulti-copy
dan routing single-copy. Penelitian menggunakan OpenJump untuk membuat jalur yang dimisalkan sebagai daaerah yang mengalami sulit sinyal yang kemudian akan dimasukan kedalam The One Simulator,
sehingga dapat disperoleh dari hasil kinerja
routing protocol melalui simulator tersebut. jaringan DTN (Delay Toleran Network) merupakan arsitektur jaringan yang dapat menjadikan solusi bagi jaringan yang sering terputus putus dikarenakan mobilitas node yang senantiasa bergerak sehingga mengakibatkan
delay yang lama (Endah, 2014).
Menurut penelitian Fall, Delay Toleran Network merupakan arsitektur yang sesuai pada jaringan yang penuh dengan masalah seperti
delay yang lama, koneksi yang sering terputus dan tingkat eror yang tinggi. ROUTING PROPHET
2. PERSIAPAN SIMULASI
Untuk menganalisis kinerja protokol routing multicopy (ProPHet dan Epidemic) dan
singlecopy (First Contact) dengan banyak jalur (multipath) berdasarkan mobilitas node menggunakan beberapa macam karekteristik uji, yaitu jumlah node dan ukuran pesan yang berbeda beda dalam tiap skenario dan menggunakan parameter uji Delivery Probability, Average Latency, dan Overhead Ratio dengan harapan akan di peroleh hasil dari kinerja pengiriman data dari routingmulti-copy
dan routingsingle-copy. Protokol tersebut akan disimulasikan pada aplikasi The ONE Simulator. Pada Tabel 1, dijelaskan Skenario yang akan dikonfigurasi pada aplikasi The ONE Simulator
berdasarkan ukuran pesan dan masing masing skenario menggunakan 3 protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan menggunakan 3 mobilitas node (Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement, dan Map Route Movement).
Tabel 1 Parameter Simulasi Penelitian berdasarkan ukuran pesan
No. Skenario Penjelasan
1 Skenario 1
Jumlah Node 10, ukuran 10 MB, 3
routing protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan 3
routing protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan 3
routing protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan 3 mobilitas node (Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement, dan Map Route Movement )
Pada Tabel 2, dijelaskan Skenario yang akan dikonfigurasi pada aplikasi The ONE Simulator
berdasarkan jumlah node dan masing masing skenario menggunakan 3 protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan menggunakan 3 mobilitas node (Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement, dan Map Route Movement).
Tabel 2 Skenario Penelitian berdasarkan jumlah node
No. Skenario Penjelasan
1 Skenario 4
Jumlah Node 10, ukuran 30 MB, 3
routing protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan 3
routing protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan 3
routing protocol (ProPHet, Epidemic, dan First Contact) dan 3 mobilitas node (Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement, dan Map Route Movement)
2.1 Parameter Pengukuran Kinerja
Penulis akan membandingkan kinerja masing-masing protokol routing berdasarkan parameter pengukuran kinerja sebagai berikut. 1) Delivery Probability(%) : Rasio jumlah total
pesan yang sampai ke tujuan dengan jumlah paket yang dikirimkan.
2) Average Latency(s) : Rata-rata waktu yang di perlukan dari pesan itu sampai pada tujuan (Metho, A., & Chawla, M., 2013).
3) Overhead Ratio (%) : Perbandingan jumlah salinan pesan secara keseluruhan dengan jumlah pesan yang di buat(Metho, A., & Chawla, M., 2013).
3. PROSES SIMULASI
Proses sismulasi merupakan tahap lanjut setelah menentukan kofigurasi ukuran pesan, jumlah node, mobilitas node, dan protocol routing. Penelitian menggunakan The ONE Simulator yang merupakan aplikasi pendukung penelitian.
Untuk waktu simulasi setiap skenario berdasarkan ukuran pesan dan jumlah node yaitu selama 43200 detik atau samadengan 24 jam, dan dalam The ONE Simulator waktu 24 jam berjalan tidak sesuai dengan waktu yang sebenarnya, namun berjalan cepat, sehingga tidak menggu terlalu lama dalam satu kali proses
running . Waktu tunggu node 0 sampai 30 detik dengan buffer 50 MB. Untuk melakukan running
Gambar 1 Tampilan Running GUI The ONE Simulator
Gambar 1 merupakan tampilan GUI (Graphical User Interface) The ONE Simulator. Pada sisi kanan terdapat kotak kotak kecil yang merupakan tombol node. Di area layar berwarna putih berbentuk bulat adalah nama nama node dan garis yang saling terhuung merupakan jalur multipath dari simulasi.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah simulasi dilakukan berdasarkan skenario yang telah dibuat. Maka akan menghasilkan suatu report yang berisi data-data mengenai hasil dari simulasi yang telah dilakukan. Data tersebut akan diambil dan disajikan ke dalam grafik yang nantinya akan dilakukan analisis terhadap kinerja protokol
routing.
4.1 Analisis Kinerja Protokol Routing
Berdasarkan Ukuran Pesan
Hasil simulasi yang digunakan untuk menganalisis kinerja 3 protokol routing (ProPHet, Epidemic, First Contact) dengan menggunakan 3 mobilitas node (Shortest Path Map Movement, MapBasedMovement, Map Route Movement). pada bagian ini yaitu skenario berdasarkan ukuran pesan. Analisis akan dibagi ke dalam 3 bagian yaitu Delivery Probability, Latency Average, dan Overhead Ratio.
A. Analisis Delivery Probability
Berdasarkan Gambar 2, protokol routing ProPHet, Epidemic, dan First Contact seiring bertambahnya pesan, mengalami penurunan
Delivery Probability. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya jumlah buffer pada node menyebabkan kemungkinan pesan untuk tersampaikan menurun. Gambar 2 meski sama sama mengalami penurunan, namun ada perbedaan nilai yang disebabkan oleh berbeda bedanya mekanisme routing dan mobilitas node yang digunakan. Routing multiopy (ProPHet) dengan mobilitas node Map Based Movement
menjadi yang terbaik, dikarekana mekanisme
routing yang mempunyai kemungkinan node yang dapat mengirimkan pesan ke tujuan, dengan mekanisme mobilitas node yang
bergerak keseuruh jalur menyebabkan nilai lebih tinggi.
Gambar 2 Delivery Probability Skenario 1, 2, 3
B. Analisis Average Latency
Gambar 3 merupakan nilai Average Latency
berdasarkan bertambahnya ukuran pesan, routing ProPHet mobilitas Shortest Path Map Based Movement Map Based Movement
mengalami naik (ukuran 25 MB) kemudian turun (ukuran 45MB) disebabkan adanya kemungkinan pada saat pengiriman pesan berukuran 25 MB melewati banyak hop karena pengaruh mobilitas. Kemudian menurun dikarenakan adanya kemungkinan pesan yang terkirimkan dengan ukuran pesan 45 MB dan buffer terbatas menjadikan rata waktu untuk semua pesan terkrim menjadi sedikit. Mobilitas
Map Route Movement mengalami naik turun dikarenakan pengaruh dari tidak pastinya pergerakan node untuk mengirimkan pesan sehingga ada terkadang waktu rata rata pesan terkirim berfariasi.
tersampaikan sedikit namun ada kemungkinan hop yang dilalui saat itu banyak.
Nilai Average Latency Protokol routing First Contact disemua mobilitas mengalami penurunan dikarenakan mekanisme routing yang tidak melakukan replikasi pesan dengan seiring bertambahnya pesan, maka pesan akan sedikit terkirim dan menyebabkan waktu rata rata pesan terkirim sedikit. Namun mobilitas Map Route Movement mengalami kenaikan pada ukuran 45 MB dikarenakan adanya kemungkinan tipe mobilitas membuat pesan pada saat itu melewati banyak hop.
Gambar 3 Grafik Average Latency Skenario 1, 2, 3
C. Analisis Overhead Ratio
Gambar 4 merupakan nilai Overhead Ratio
berdasarkan ukuran pesan. Routing ProPHet
mobilitas Shortest Path Map Based Movement Map Based Movement bernilai grafik menurun, dikarenakan mekanisme routing dan mobilitas bergerak ke semuruh jalur ataupun menacari jalur terpendek untuk menuju ke tujuan, membuah seiring bertambahnya pesan maka ada kemungkinan relay yang terjadi sedikit, berbeda dengan mobilitas Map Route Movement yang harus mengirimkan pesan ke node lain jalur yang menyebabkan adanya beban pada jaringan.
Routing Epidemic cendurung mengalami penurunan pada ukuran pesan 25 MB dan naik pada ukuran pesan 45 MB (mobilitas Shortest Path Map Based Movement, dan Map Based Movement), dan pada mobilitas Map Route Movement mengalami kenaikan. Hal tersebut disebabkan skema routing epidemi yang terkadang memenuhi jaringan.
Routing First Contact enderung menalami kenaikan dikarenakan seiring bertambahnya ukuran pesan maka ada kemungkinan hop yang
dilalui lebih banyak sehingga megalami banyak drop karena buffer terbatas, meski ada yyang bernilai turun yang disebabkan oleh adanya kemungkinan hop yang dilalui sedikit dan drop dari pesan yang berada pada jaringan sedikit.
Gambar4 Grafik Overhead Ratio Skenario 1, 2, 3
4.2 Analisis Kinerja Protokol Routing
Berdasarkan Jumlah Node
A. Analisis Delivery Probability
Gambar 5 Delivery Probability Skenario 4, 5, 6
Berdasarkan Gambar 5, peningkatan nilai
buffer terbatas, salah satunya dapat menyebabkan banyak pesan yang di drop.
B. Analisis Average Latency
Berdasarkan Gambar 6, peningkatan nilai
Average Latency seiring bertambahnya jumlah node pada gambar 6 disebabkan oleh adanya kemungkinan routing dan mekanisme yang saat itu rata rata sering bertemunya antar node sehingga pesan yang diterima akan melewati banyak hop.
Penurunan nilai Average Latency seiring bertambahnya jumlah node rata-rata disebabkan oleh keunggulan dari routing dan mobilitas tersebut sehingga waktu rata-rata pesan untuk sampai ke tujuan menjadi sedikit. Seperti routing
ProPHet yang cenderung mempunyai hasil
Average Latency turun, walaupun ada mobilitas dari routing ProPHet yang naik, disebabkan oleh sulitnya node untuk bertemu dan menyamaikan pesan.
.
Gambar 6 Grafik Average Latency Skenario 4, 5, 6
C. Analisis Overhead Ratio
Berdasarkan Gambar 7, semua protokol
routing dan mobilitas mengalami peningkatan nilai Overhead Ratio seiring bertambahnya jumlah node, dikarenakan semakin bertambahnya jumlah node maka semakin banyak pesan yang beredar pada jaringan.
Protokol routing First Contact paling tinggi tingkat Overhead Ratio dengan jumlah node 50, dan protokol ProPHet mendapatkan hasil terendah untuk jumlah node 10.
Gambar 7 Grafik Overhead Ratio Skenario 4,5 ,6
4.3 Analisis Berdasarkan Mobilitas Node
Analisis Berdasarkan Mobilitas Node merupakan analisis protocol yang terbaik dan terburuk dari proses simulasi yang sudah di bahas di bab sebelumnya. Analisis berdasarkan mobilitas node mengggunakan parameter
Delivery Probability, Average Latency dan overheadratio untuk mengetahui routing protocol yang terbaik dan terburuk berdasarkan mobilitas node.
A. Analisis Delivery Probability
Tabel 3 kolom ukuran pesan, protocol routing ProPHet berdasarkan mobilitas Shortest Path Map Based Movement dan Map Based Movement mendapatkan hasil terbaik, protokol
routing Epidemic terbaik pada mobilitas Map Route Movement dan protocol routing First Contact mendapatkan yang terburuk dari ke 3 mobilitas node.
Kemudian di kolom jumlah node protocol routing ProPHet berdasarkan mobilitas Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement dan Map Route Movement
mendapatkan hasil terbaik, protocol routing First Contact mendapatkan yang terburuk dari ke 3 mobilitas node.
Tabel 3 Delivery Probability berdasarkan mobilitas node
Delivery Probability
Mobilitas Ukuran Pesan Jumlah Node
Terbaik Terbu ruk
Terbai k
Shortest
Berdasarkan Tabel 3, protokol routing multi-copy (ProPHet dan Epidemic) mengungguli protocol routing single-copy (First Contact). Dikarenakan mekanisme routing dari protokol multi-copy (yang melakukan salinan pesan) dapat menjadikan adanya kemungkinan banyak pesan terkirim di semua mobilitas, berdasarkan ukuran pesan atau jumlah node.
B. Analisis Average Latency
Tabel 4 kolom ukuran pesan, protocol
routing Epidemic berdasarkan mobilitas Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement dan Map Route Movement
mendapatkan hasil terbaik, dan protokol routing First Contact mendapatkan yang terburuk dari ke 3 mobilitas node.
Kemudian di kolom jumlah node protocol routing ProPHet berdasarkan mobilitas Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement dan Map Route Movement
mendapatkan hasil terbaik, protocol routing First Contact mendapatkan yang terburuk dari ke 3 mobilitas node.
Tabel 4 Average Latency berdasarkan mobilitas node
Average Latency
Mobilitas Ukuran Pesan Jumlah Node
Terbai
Berdasarkan Tabel 4, protokol routing multi-copy (ProPHet dan Epidemic) mengungguli protocol routing single-copy (First Contact). Dikarenakan mekanisme routing dari protocol multi-copy (yang melakukan salinan pesan) dapat menjadikan adanya kemungkinan waktu pesan yang sampai ketujuan bernilai kecil di semua mobilitas, berdasarkan ukuran pesan atau jumlah node. Sedangkan protokol routing
single-copy terdapat kemungkinan rata-rata waktu pesan sampai lama karena adanya kemungkinan pesan yang akan dikirmkan, terbawa node yang berlawanan arah.
C. Analisis Overhead Ratio
Pada Tabel 5 kolom ukuran pesan, protokol
routing ProPHet berdasarkan mobilitas Shortest Path Map Based Movement, Map Based Movement dan Map Route Movement
mendapatkan hasil terbaik, dan protokol routing Epidemic mendapatkan yang terburuk dari ke 3 mobilitas node.
Kemudian di kolom jumlah node protocol routing ProPHet berdasarkan mobilitas Shortest Path Map Based Movement, dan Map Route Movement mendapatkan hasil terbaik, protocol
routing First Contact berdasarkan mobilitas
Map Based Movement mendapatkan hasil terbaik.Protokol routing Epidemic mendapatkan yang terburuk dari ke 3 mobilitas node.
Tabel 5 Overhead Ratio berdasarkan mobilitas node
Overhead Ratio
Mobilitas Ukuran Pesan Jumlah Node
Terbaik Terbu protocol routing ProPHet mendapatkan hasil terbaik dikarenakan pesan yang beredar pada jaringan tidak banyak, sebab mekanisme routing
banyak di repliaksi. Protocol Epidemic
mendapatkan nilai terburuk dikarenakan mekanisme yang bersiafat flooding membuat banyaknya pesan yang berada pada setiap node yang bertemu pada jaringan.
Kemudian di kolom jumlah node protocol
routing ProPHet berdasarkan mobilitas Shortest Path Map Based Movement, dan Map Route Movement mendapatkan hasil terbaik dikarenakan memeng mekanispe pengiriman yang dapat mengetahui node yangvmemiliki tingkat pengiriman tinggi kenuju ke tujuan sehingga pesan tidak sembarangan dikirim ke node yang dilewatinya. Protokol routing First Contact mendapatkan nilai terbaik pada mobilitas node Map Based Movement
dikarenakan mekanisme pengiriman yang tidak mereplikasi pesan sehingga tidak membebani jaringan.
Protokol Epidemic mendapatkan hasil terburuk mobilitas Shortest Path Map Based Movement dan Map Based Movement
dikarenakan routing yang bertipe flooding dalam mekanisme pengiriman menyebabkan banyak pesan yang di replikasi, dan routing First Contact mendapatkan hasil yang buruk mobilitas
Map Route Movement dikarenakan adanya kemungkinan node saling bertemu dalam satu jalur, sehingga banyak pesan yang berada di jaringan disebabkan oleh node yang tidak dapat menyampaikan pesan kepada node lain dilain jalur.
5. KESIMPULAN
Delivery Probability yang paling optimal adalah pada routing ProPHet (multi-copy)
dengan mobilitas node Map Based Movement
ukuran pesan 10 MB dengan nilai 0,1842%.
Average Latency yang paling optimal pada
routing Epidemic (multi-copy) dengan mobilitas node Map Based Movement ukuran pesan 45 MB dengan nilai 586,1909s. Overhead Ratio yang paling optimal pada routing First Contact
dengan mobilitas node Map Based Movement
ukuran pesan 45 MB dengan nilai 22,04%.
Delivery Probability yang paling optimal pada routing ProPHet mobilitas Shortest Path Map Based Movement jumlah node 50 dengan nilai 0,0396%. Average Latency yang paling optimal pada routing ProPHet mobilitas Map Based Movement jumlah node 25 dengan nilai 737,4527s. Overhead Ratio yang paling optimal pada routing ProPHet mobilitas node Map
Based Movement jumlah node 10 dengan nilai 25,0909%.
6. SARAN
Pada penilitan selanjutnya mungkin dapat membandingkan kinerja protocol multi-copy dan
single-copy menggunakan jalur yang lebih banyak, kecepatan node yang berbeda, pengaturan buffer dan menggunakan beberapa pola pergerakan dengan parameter uji yang lainnya.
7. DAFTAR PUSTAKA
Fall, K. 2003. A Delay Tolerant Network Architecture For Challenged Internets,
SIGCOMM ’03, New York, NY, USA:
ACM 2003, p. 27-34.
Hutajulu, P., 2017. Perbandingan Kinerja Routing Multicopy Dan Routing First Contact Dengan Stationary Relay Node Pada Delay Toleran Network (DTN). Universitas Brawijaya, Malang Jawa Timur.
Mangrulkar, R., S., Atique, M. 2012.
Performance Evaluation of Delay Tolerant Routing Protocol by Variaton in BufferSize. IEEE Conf. Publication p. 674-678.
Massri, K. et al. 2016. Routing Protocols for Delay Tolerant Network: A Reference Architecture and a Thorough Quantitative Evaluation. Article at Journal of Sensor and Actuator Networks Vol.5 p.1-28.
Mehto, A., Chawla, M., 2013. Comparing Delay Tolerant Network Routing Protocols for Optimizing L-Copies in Spray and WaitRouting for Minimum Delay. Paper at Conferense on Advances in Communication and Control Systems 2013 (CAC2S 2013) p.239 – 244.
Patel, D., & Shah, R. 2015. A Survey on Improved PROPHET Routing Protocol in DTN. Article at International Research journal of Engineering and Tehnology(IRJET), Vol. 2 Issue 8, November 2015 p. 1237-1240.
Rizal, H., 2018. Analisis Kinerja Protocol Routing pada Arsitektur Delay Toleran Network Terhadap Beberapa Pola Pergerakan. Universitas Brawijaya, Malang Jawa Timur.