• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN METODE GUIDED DISCOVERY DAN METODE BEHAVIOR MODIFICATION PADA SUB POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII SMP BUDISATRYA MEDAN TAHUN AJARAN 2013/2014.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN METODE GUIDED DISCOVERY DAN METODE BEHAVIOR MODIFICATION PADA SUB POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII SMP BUDISATRYA MEDAN TAHUN AJARAN 2013/2014."

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PE RBE DAAN HAS I L BELAJAR MATE MAT I KA SISWA YANG DIAJAR DENGAN METODE GUIDED DISCOVERY DAN METODE

BEHAVIOR MODIFICATION PADA SUB POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII SMP BUDISATRYA

MEDAN TAHUN AJARAN 2013/2014

Oleh: Wilda Sitorus NIM. 4103111082

Program Studi Pendidikan Matematika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah,

berkat dan hidayahNya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

Skripsi ini berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar

dengan Metode Guided Discovery dan Metode Behavior Modification pada Sub Pokok Bahasan Lingkaran di Kelas VIII SMP Budisatrya Medan Tahuna Ajaran 2013/2014”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan matematika, Fakultas Matematika

dan Ilmu Pengetahua Alam Universitas Negeri Medan.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis telah mendapat bantuan dari

berbagai pihak, oleh sebab itu sudah sewajarnya apabila penulis mengucapkan

terima kasih kepada Bapak Drs. J. Ambarita, M.Pd selaku Dosen Pembimbing

Skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan saran guna

kesempurnaan skripsi ini, Drs. W.L. Sihombing, M.Pd, Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd,

dan Drs. KMS. Amin Fauzi, M.Pd, selaku Dosen Penguji yang telah memberikan

saran mulai dari perencanaan penelitian sampai selesainya penyusunan skripsi ini,

Bapak Drs. Zul Amry, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Akademik dan kepada

seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staf pegawai jurusan Matematika Fakultas Ilmu

Pengetahuan Alam dan Matematika Universitas Negeri Medan.

Ucapan terima kasih juga kepada Bapak Rektor Unimed Prof. Dr. Ibnu

Hajar, M.Si beserta seluruh Pembantu Rektor sebagai pimpinan UNIMED, Bapak

Prof. Drs. Motlan, M.Sc, Ph.D selaku Dekan FMIPA UNIMED beserta Pembantu

Dekan I, II, dan III di lingkungan UNIMED, Bapak Drs. Syafari, M.Pd selaku

Ketua Jurrusan Matematika, Bapak Drs. Zul Amry, M.Si selaku Ketua Program

Studi Jurusan MAtematika dan Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si selaku Sekretaris

Jurusan Matematika.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Arsyad

Sopian, SH selaku Wakil Kepala Sekola yang telah memberikan izin kepada

penulis untuk melaksanakan penelitian di sekolah SMP Budisatrya Medan.

Ucapan terima kasih juga kepada Ibu Marlia, S.Pd selaku guru bidang studi

(3)

v

Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda Abdul

Hamid Sitorus dan Ibunda Lamsaria Doloksaribu, orangtua penulis yang selalu

memberikan motivasi dan do’a demi keberhasilan penulis hingga skripsi ini

selesai. Semoga Allah memberikan kebaikan dunia dan akhirat kepada Ayah dan

Ibunda, Aamiin. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada abangku tersayang

Jerry Sitorus, Irfan Sitorus, Ashari Sitorus dan adikku tersayang Hendra Sitorus

yang selalu memberikan dukungan dan doa.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada sahabat-sahabat

terbaik penulis (Siti Nurbaya, Ulfa Zulvani, Yayat Widya Armitha, Yuli Ragelia,

Sundut, Trio, dan Rizal), sahabat-sahabat di UKM Pers Mahasiswa Kreatif

Unimed, keluarga besar Meranti 26 (Rina dan Ria), teman-teman seperjuangan

Mat Dik C 2010, dan teman-teman PPLT SMP Karya Serdang L.Pakam dan

seluruh pihak yang tidak bisa penulis tuliskan namanya satu per satu yang telah

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam menyelesaikan

skripsi ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi

maupun bahasa, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Kiranya skripsi ini

bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu pendidikan matematika.

Medan, Juni 2014

Penulis,

Wilda Sitorus

(4)

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN METODE GUIDED DISCOVERY DAN METODE BEHAVIOR

MODIFICATION PADA SUB POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII SMP BUDISATRYA MEDAN

TAHUN AJARAN 2013/2014 Wilda Sitorus (4103111082)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode guided discovery lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode behavior modification pada sub pokok bahasan lingkaran di kelas VIII SMP Budisatrya Medan T.A. 2013/2014.

Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan memberikan perlakuan pada kelompok sampel penelitian kemudian diberikan posttest. Populasi dalam peneltian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Budisatrya Medan Tahun Ajaran 2013/2014. Sedangkan sampel dalam penelitian ini terdiri dari 2 kelas masing-masing 37 orang siswa pada kelas VIII-1 sebagai kelas eksperiman I dan kelas VIII-2 sebagai kelas eksperimen II.

Instrumen yang digunakan adalah tes. Hasil uji reliabilitas diperoleh rhitung postest adalah 0,85 dengan rtabel = 0,396 diperoleh postest secara

keseluruhan reliabel. Uji validitas pada 25 item soal dengan rtabel = 0,396

diperoleh 20 item soal. Dari hasil uji coba, diambil 20 soal postest untuk digunakan pada penelitian.

Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen I adalah 82,97 dan pada kelas eksperimen II adalah 75,135. Dari perhitungan uji normalitas data postest diperoleh Lhitung < Ltabel

(0,1136 < 0,1457) dan data postest kelas eksperimen II diperoleh Lhitung < Ltabel

(0,1285 < 0,1457). Sehingga disimpulkan bahwa kedua kelas berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Dari perhitungan uji homogenitas data diperoleh Fhitung

= 1,27 dan Ftabel = 1,74 sehingga dapat disimpulkan kedua sampel berasal dari

populasi yang homogeny.

Dari hasil analisis data postest dengan menggunakan uji-t pada taraf α = 0,05 diperoleh thitung > ttabel yaitu 3,89 > 1,668, maka H0 ditolak dan Ha diterima,

(5)

vi

1.2.Identifikasi Masalah 5

1.3.Batasan Masalah 6

1.4.Rumusan Masalah 6

1.5.Tujuan Penelitian 6

1.6.Manfaat Penelitian 7

1.7.Definisi Operasional 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9

2.1. Kerangka Teoritis 9

2.1.1. Pengertian Belajar 9

2.1.2. Hasil Belajar 10

2.1.3. Tes Hasil Belajar 13 2.1.4. Metode Pembelajaran 15 2.1.5. Metode Behavior Modification 17 2.1.5.1. Pengertian Metode Behavior Modification 17 2.1.5.2. Tahapan Metode Behavior Modification 20 2.1.5.3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Behavior Modification 22 2.1.6. Metode Guided Discovery 23

2.1.6.1. Belajar Penemuan 23

2.1.6.2. Pengertian Metode Guided Discovery 26 2.1.6.3. Tahapan Metode Guided Discovery 28 2.1.6.4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Guided Discovery 30 2.1.7. Perbedaan Metode Guided Discovery dan Behavior Modifcation 33

2.1.8. Materi Lingkaran 35

2.2. Kerangka Konseptual 41

2.3. Hipotesis Penelitian 42

BAB III METODE PENELITIAN 44

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 44 3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 44

3.2.1. Populasi Penelitian 44

(6)

3.3. Variabel Penelitian 44 3.4. Jenis dan Desain Penelitian 45

3.5. Prosedur Penelitian 46

3.6. Instrumen Pengumpulan Data 48

3.6.1. Tes 48

3.7. Uji Instrumen Penelitian 48

3.7.1. Validitas Tes 48

3.7.2. Reabilitas Tes 50

3.7.3. Taraf Kesukaran 51

3.7.4. Daya Beda Soal 52

3.8. Teknik Analisis Data 53

3.8.1. Uji Normalitas 54

3.8.2. Uji Homogenitas 55

3.8.3. Uji Beda 56

3.8.4. Uji Hipotesis 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 59

4.1. Deskripsi Data Hasil Penelitian 60

4.2. Uji Persyaratan Data 61

4.2.1. Uji Normalitas 61

4.2.2. Uji Homogenitas 61

4.3. Uji Beda 62

4.4. Uji Hipotesis 63

4.5. Pembahasan Hasil Penelitian 64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 68

5.1. Kesimpulan 68

5.2. Saran 68

(7)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Hasil Pengukuran 38

Tabel 3.1. Desain Penelitian Two Group 45

Tabel 3.2 Kriteria penilaian observasi 54

Tabel 4.1 Data Skor Postest 60

Tabel 4.2 Ringkasan Normalitas Uji Postest dengan Liliefors 61

Tabel 4.3 Ringkasan Homogenitas Data Postest 62

Tabel 4.4 Ringkasan Uji Beda Data Postest 62

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Unsur-unsur Lingkaran 35

Gambar 2.2. Sudut Pusat 37

Gambar 2.3. Sudut Keliling 37

Gambar 2.4. Luas Lingkaran 40

(9)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I (Kelas Kontrol) 72

Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II (Kelas Kontrol) 78

Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I (Kelas Eksperimen) 85

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II (Kelas Eksperimen) 90

Lampiran 5. Soal Postest 96

Lampiran 6. Jawaban Postest 101

Lampiran 7. Kisi-kisi Tes 102

Lampiran 8. Tabel Persiapan Menghitung Validitas Postest 103

Lampiran 9. Perhitungan Validitas Tes 105

Lampiran 10. Tabel Persiapan Menghitung Reliabilitas Postest 107

Lampiran 11. Perhitungan Reliabilitas Tes 110

Lampiran 12. Tabel Persiapan Menghitung Tingkat Kesukaran Postest 111

Lampiran 13. Perhitungan Tingkat Kesukaran Tes 113

Lampiran 14. Tabel Persiapan Menghitung Daya Pembeda Postest 115

Lampiran 15. Perhitungan Daya Pembeda Tes 117

Lampiran 16. Tabulasi Data Postest Kelas 119

Lampiran 17. Data Hasil Belajar Siswa 124

Lampiran 18. Perhitungan Rata-rata, Varians, dan Standart Deviasi 126

Lampiran 19. Perhitungan Uji Normalitas Data 128

Lampiran 20. Perhitungan Uji Homogenitas Data 131

Lampiran 21. Perhitungan Uji Beda 133

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha untuk menumbuh kembangkan potensi SDM

melalui kegiatan pembelajaran. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional

Nomor 20 Tahun 2002 (UU Sisdiknas, 2005), menyebutkan tujuan pendidikan

nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia

seutuhnya yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan

berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani

dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab

kemasyarakatan dan kebangsaan.

Memasuki abad ke-21 (dalam Trianto, 2009 : 4), system pendidikan

nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas

sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global. Upaya yang

tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan

satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogyanya berfungsi sebagai alat unuk

membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan. Untuk mencapai

tujuan pendidikan nasional pemerintah telah menyelenggarakan

perbaikan-perbaikan peningkatan mutu pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang. Namun

fakta dilapangan belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di

sekolah dengan presentase jam pelajaran yang paling banyak dibanding dengan

mata pelajaran yang lainnya. Namun, matematika termasuk pelajaran yang tidak

disukai banyak siswa. Ketakutan-ketakutan dari siswa tidak hanya disebabkan

oleh siswa itu sendiri, melainkan kurangnya kemampuan guru dalam menciptakan

situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada matematika. Proses belajar

mengajar matematika yang baik adalah guru harus mampu menerapkan suasana

yang dapat membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada, sehingga

(11)

2

lebih bermakna jika anak “mengalaminya” dengan apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya”.

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, dibutuhkan proses

pembelajaran yang salah satunya adalah pembelajaran matematika. Soedjadi

(2000:6) menyatakan bahwa:

“Agar siswa dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, maka diperlukan wahana yang dapat digambarkan sebagai kendaraan. Dengan demikian pembelajaran matematika adalah kegiatan pendidikan yang menggunakan matematika sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.”

Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah (Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang

standar isi) dikatakan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada

semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik

dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta

kemampuan bekerjasama. Kemampuan ini dapat dikembangkan melalui kegiatan

pembelajaran matematika karena tujuan pembelajaran matematika di sekolah

menurut Depdiknas (dalam Hudojo, 2010:1) adalah: “1) melatih cara berpikir dan

bernalar dalam menarik kesimpulan, 2) mengembangkan aktivitas kreatif yang

melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran

divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta

mencoba-coba, 3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, dan 4)

mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan mengkomunikasikan

gagasan.”

Berdasarkan pengamatan peneliti ketika mengikuti PPL (Program

Pengalaman Lapangan) yaitu hasil belajar siswa masih rendah dalam

pembelajaran matematika. Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar

matematika siswa adalah pemilihan metode mengajar yang kurang tepat. Siswa

terbiasa menghafal rumus sehingga tidak percaya diri dan sulit menyelesaikan

permasalahan yang menyangkut matematika. Ketidakpercayaan diri siswa

(12)

soal daripada siswa itu sendiri sehingga perubahan-perubahan tingkah laku

pembelajaran siswa sama sekali kurang atau pasif.

Pengamatan tersebut juga sejalan dengan hasil observasi yang dilakukan

peneliti di SMP Budisatrya pada tanggal 25 Januari 2014. Observasi dimulai

dengan mengamati siswa kelas VIII SMP Budisatry ketika mengikuti pelajaran

matematika di kelas. Peneliti melihat bahwa masih banyak siswa yang mengalami

kesulitan dalam memecahkan permasalahan matematika. Hal ini terjadi akibat

kebanyakan siswa hanya menghapal rumus bukan memahami konsep. Sehingga

ketika diberikan soal yang berbeda dengan contoh, siswa menjadi bingung

menghubungkan antara rumus yang dihapal dengan soal-soal yang diberikan.

Alasan lain yang diamati oleh peneliti yang menyebabkan siswa kurang dalam

menyelesaikan soal-soal adalah rasa kurang percaya diri dalam menyelesaikan

soal-soal, dan masih banyak siswa yang kurang konsentrasi ketika pembelajaran

berlangsung di kelas. Hal ini adalah alasan mengapa hasil belajar siswa di kelas

VIII SMP Budisatrya masih rendah.

Untuk itu, adapun usaha yang harus dilakukan untuk memperbaiki atau

meningkatkan hasil belajar matematika tersebut adalah dengan meningkatkan

kompetensi guru dalam memilih metode pembelajaran. Sebaiknya metode

pembelajaran yang dipilih adalah yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa

dalam proses pembelajaran karena sampai sekarang ini masih banyak siswa yang

mengeluh bahkan menjadikan matematika sebagai momok yang menakutkan.

Sehingga mereka menjadi malas untuk lebih mendalami lagi pelajaran

matematika. Kebanyakan dari siswa mempunyai kesulitan dalam memahami

konsep karena siswa tidak dibiarkan untuk menyelesaikan atau membuktikan

suatu konsep yang diberikan. Hal ini membuat siswa cenderung kurang aktif yang

menyebabkan perbuatan-perbuatan atau tingkah laku dari siswa kurang terampil

dalam penyelesaian soal. Tanpa disadari pemahaman konsep ini dapat

(13)

4

Berkaitan dengan uraian tersebut maka perlu dipikirkan cara dan strategi

untuk mengatasi permasalahan di atas. Salah satu metode mengajar yang

diterapkan dalam belajar matematika adalah metode guided discovery (penemuan

terbimbing). Guided discovery (penemuan terbimbing) adalah pelaksanaan

discovery dengan arahan dari guru. Menurut Hanafiah dan Suhana (2009:77)

pelaksanaan ini dimulai dari pertanyaan inti, guru mengajukan berbagai

pertanyaan yang melacak, dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik ke titik

kesimpulan yang diharapkan. Selanjutnya siswa melakukan percobaan untuk

membuktikan pendapat yang dikemukakannya.

Khulthau (dalam Afriati, 2011) mengemukakan bahwa Metode guided

discovery adalah sebuah pendekatan pembelajaran dimana siswa menemukan dan

menggunakan sumber informasi yang beragam dan ide-ide untuk meningkatkan

pemahaman tentang suatu masalah, topik atau isu. Siswa didorong untuk belajar

sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep

dan prinsip-prinsip.. selain itu dalam pembelajaran penemuan siswa juga belajar

pemecahan masalah secara mandiri dan keterampilan-keterampilan berfikir,

karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi.

Dengan menggunakan metode guided discovery ini, menantang peserta

didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran.

Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin

pengajaran yang demokratis, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak

melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah

atas bimbingan guru.

Metode yang lain yang dapat diterapkan dalam belajar matematika adalah

metode behavior modification. Behavior modification secara umum dapat

didefinisikan sebagai hampir segala tindakan yang bertujuan mengubah perilaku.

Thorndike (dalam Hamzah, 2007:7) mengatakan bahwa metode behavior

(14)

stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respons

(yang juga bisa berupa pikiran, perasaan atau gerakan).

Menurut teori behavioristik (dalam Budiningsih, 2012:20), belajar adalah

perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan

respon. Dengan kata lain, metode behavior modification dalam pembelajaran akan

membentuk perubahan pada siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah

laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.

Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan

tingkah lakunya. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian,.

Walaupun sudah giat berusaha, dan guru sudah mengajarkan dengan tekun,

namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian,

maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukkan perubahan

perilaku sebagai hasil belajar dengan metode behavior modification.

Mempelajari Lingkaran bukan hanya kemampuan menemukan kebenaran

jawaban akhir dan mutlak tetapi juga untuk memperoleh ketangkasan dan

keterampilan. Harus diperlukan suatu keaktifan siswa dengan mengerjakan sendiri

dan memecahkan masalah sendiri dari suatu konsep yang diberikan. Kedua

metode mengajar di atas cocok diterapkan pada sub pokok bahasan Lingkaran.

Namun, diantara kedua metode tersebut, ada salah satu metode yang lebih baik

diterapkan. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan

judul “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar Dengan Metode Behavior Modification Dan Metode Guided Discovery pada Sub Pokok Bahasan Lingkaran Di Kelas VIII SMP SBudisatrya Medan Tahun Ajaran 2013/2014”.

1.2Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat

diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

(15)

6

2. Siswa di SMP Budisatrya Medan mengalami kesulitan dalam

menyelesaikan soal lingkaran.

3. Siswa tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

4. Penerapan metode pembelajaran yang kurang sesuai dengan materi

pelajaran.

5. Siswa kurang memahami konsep materi pelajaran lingkaran.

1.3Batasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah dan keterbatasan peneliti, maka

masalah yang disebutkan dalam identifikasi masalah di atas dibatasi pada

Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Metode Behavior

Modification dan Metode Guided Discovery pada Sub Pokok Bahasan Lingkaran

Bagi Siswa Kelas VIII di SMP Budisatrya Medan T.A 2013/2014.

1.4Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang masalah dan

batasan masalah maka rumusan masalah dala penelitian ini adalah : Apakah hasil

belajar matematika siswa yang diajar dengan metode guided discovery lebih tinggi

dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode

behavior modification pada sub pokok nahasan lingkaran di kelas VIII SMP

Budisatrya Medan T.A. 2013/2014?

1.5Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan

metode guided discovery lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar

matematika siswa yang diajar dengan metode behavior modification pada sub

(16)

1.6Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi guru: Sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model

pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil pembelajaran matematika

siswa.

2. Bagi siswa: Sebagai pengalaman belajar dan memberikan variasi metode

pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar matematika siswa dalam

memahami dan menguasai konsep demi mencapai prestasi yang lebih baik

3. Bagi sekolah: Sebagai bahan pertimbangan untuk melengkapi sarana dan

prasarana belajar dalam peningkatan mutu proses pembelajaran

matematika.

4. Bagi peneliti: Sebagai bahan masukan dan bekal ilmu pengetahuan bagi

peneliti dalam mengajar matematika dimasa yang akan datang.

1.7Defenisi Operasional

Penelitian ini berjudul Perbedaan Hasil Belajar antara Metode Behavior

Modification dengan Metode Guided Discovery pada Sub Pokok Bahasan

Lingkaran Bagi Siswa Kelas VIII di SMP Budisatrya Medan T.A 2013/2014.

Untuk menghindari kesalahpahaman penelitian ini memberi batasan definisi

operasional sebagai berikut :

1. Metode guided discovery adalah suatu prosedur pembelajaran yang

menekankan pada prosedur belajar siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Pada

penelitian ini, metode guided discovery digunakan pada siswa kelompok

eksperimen satu.

2. Metode behavior modification adalah suatu prosedur pembelajaran yang

menekankan pada proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya

interaksi antara stimulus dengan respons yang menyebabkan siswa

mempunyai pengalaman baru. Pada penelitian ini, metode behavior

(17)

8

3. Hasil belajar adalah keluaran (yang berupa perubahan tingkah laku dari tidak

tahu menjadi tahu, dari buruk menjadi baik). Hasil belajar sebagai objek

penilaian pada hakekatnya memiliki penguasaan siswa terhadap tujuan –

tujuan instruksional. Hasil belajar dalam bentuk nilai (skor) dengan

(18)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis data, mkaa

diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Secara statistik dengan menggunakan uji-t disimpulkan bahwa hasil belajar

matematika siswa yang diajar dengan metode guided discovery lebih tinggi

dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode

behavior modification pada sub pokok bahasan lingkaran di kelas VIII SMP

Budisatrya Medan Tahun Ajaran 2013/2014. Hal ini dibuktikan dari hasil

pengujian hipotesis dimana thitung > ttabel (3,89 > 1,668).

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah :

1. Kepada guru khususnya guru matematika dapat menggunakan metode guided

discovery sebagai salah satu alternatif pembelajaran dalam upaya

meningkatkan hasil belajar matematika siswa dalam proses pembelajaran

sehingga siswa lebih mudah dan mampu dengan sendirinya memahami dan

mempelajari materi yang diajarkan.

2. Kepada pengelola pendidikan disarankan unuk memberikan kesempatan yang

lebih luas kepada guru untuk melakukan perubahan-perubahan kegiatan

pembelajaran dalam usaha meningkatkan hasil belajar matematika serta

menyediakan sarana pendidikan yang menunjang dalam proses pembelajaran

khususnya dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

3. Kepada peneliti yang berminat melakukan penelitian sejenis agar melakukan

penelitian yang lebih sempurna, seperti melakukan di populasi yang lebih

(19)

69

metode guided discovery. Serta lebih memperhatikan alokasi waktu yang ada

agar seluruh tahapan-tahapan pembelajara dapat diajarkan dengan baik

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Budiningsih, Asri C. 2012. Belajar dan pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga

Disxon, Wilfrid J dan Massey, Frank J. 1991. Pengantar Analisis Statistik. Jakarta: Gaja Mada University Press

Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

M, Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Pustaka

Macmillan, Donald L. 1973. Behavior Modification in Education. New York: The Macmillan Company

Mosston, Muska. 1972. Teaching: From Command to Discovery. California: Wadsworth Publishing Company

Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Sanjaya, Wina. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia

Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung : Tarsito

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Suprijono, Agus. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

(21)

71

Sobel, Max A. dan Evan M. Maletsky. 2003. Mengajar Matematika. Jakarta : Erlangga

Gambar

Tabel 2.1. Hasil Pengukuran
Gambar 2.1. Unsur-unsur Lingkaran

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran tipe kooperatif NHT dengan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning lebih tinggi daripada hasil

Hasil belajar kimia siswa yang diajar dengan menerapkan model pembelajaran guided discovery based learning memberikan hasil yang lebih baik dengan nilai pretest 35,235

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan penalaran siswa yang diajar dengan metode discovery learning lebih baik daripada metode ekspositori

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dengan alat peraga lebih tinggi

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis perbedaan rata-rata hasil belajar antara siswa kelas IV sekolah dasar yang diajar menggunakan model Guided Discovery Learning

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis perbedaan rata-rata hasil belajar antara siswa kelas IV sekolah dasar yang diajar menggunakan model Guided Discovery Learning

Skripsi dengan judul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery Learning dengan Media Kartu Pintar terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas X Matematika Ilmu