• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Makassar, 30 Juni Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Makassar, 30 Juni Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar"

Copied!
151
0
0

Teks penuh

(1)

(2)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 i KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, atas rahmat dan hidayahNya sehingga penyusunan Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 ini dapat terselesaikan dengan baik.

Profil Kesehatan Kota Makassar disusun setiap tahunnya guna memberikan gambaran situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kota Makassar sekaligus sebagai tolak ukur dalam melakukan evaluasi terhadap hasil pembangunan kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan Standar Pelayanan Minimal di bidang kesehatan.

Profil Kesehatan ini memuat berbagai data dan informasi hasil pelaksanaan kegiatan selama satu tahun dari berbagai program di lingkup Dinas Kesehatan beserta lintas sektor terkait. Secara umum Profil Kesehatan ini menyajikan data kesehatan yang terpilah menurut jenis kelamin. Tersedia data kesehatan yang responsif gender guna mengidentifikasi kondisi, kebutuhan dan persoalan gender terkait akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dalam implementasi pembangunan bidang kesehatan.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan buku Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 ini masih terdapat berbagai kekurangan. Kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya konstruktif diharapkan guna kesempurnaan Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 ini.

Terima Kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kami haturkan kepada segenap pihak yang telah membantu dalam penyusunan Buku Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013, semoga dapat memberi manfaat bagi kita semua dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Makassar, 30 Juni 2014 Kepala Dinas Kesehatan

Kota Makassar

dr. Hj. A. Naisyah T. Azikin,M.Kes Pangkat : Pembina Utama Muda

NIP : 19601014 198902 2 001

(3)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 ii

DAFTAR ISI

Hal

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I. PENDAHULUAN... 1

BAB II. GAMBARAN UMUM ... 6

A. KEADAAN PENDUDUK ... 7

1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk ... 7

2. Persebaran dan Kepadatan Penduduk ... 8

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin ... 11

B. KEADAAN EKONOMI ... 12

C. TINGKAT PENDIDIKAN ... 14

BAB III. SITUASI DERAJAT KESEHATAN ... 16

A. Angka Kematian/Mortaliyt Rate ... 17

B. Indeks Pembangunan Manusia ... 25

C. Status Gizi………..……….. 27

D. Angka Kesakitan ... 32

BAB IV. SITUASI UPAYA KESEHATAN ... 51

A. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak ... 51

B. Perbaikan Gizi Masyarakat ... 58

C. Pelayanan Imunisasi.………..………. 62

D. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat ... 65

E. Indikator Kinerja Standar Pelayanan Minimal……… 66

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN ... 67

(4)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 iii

A. Sarana Kesehatan ... 67

B. Tempat-Tempat Umum ... 72

C. Tenaga Kesehatan ... 73

D. Pembiayaan Kesehatan ... 76

BAB VI PENUTUP ... 79

(5)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 iv DAFTAR TABEL

Tabel Hal

1. II.1 Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2011-2013 ... 7 2. II.2 Jumlah Penduduk Kota Makassar dirinci menurut Kecamatan Tahun

2011-2013 ... 9 3. II.3 Kepadatan Penduduk Kota Makassar per Kecamatan Tahun 2013 ... 10 4. II.4 Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di

Kota Makassar Tahun 2013 ... 12 5. II.5 Perkembangan PDRB Kota Makassar dan Sulawesi Selatan Atas Dasar

Harga Berlaku Tahun 2008-2012 ... 13 6. II.6 Perkembangan dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Makassar Tahun

2008-2012 ... 14 7. II.7 Penduduk 10 tahun ke atas menurut jenjang pendidikan tertinggi yang

ditamatkan di Kota Makassar Tahun 2009 ... 15 8. III.1 10 (Sepuluh) Penyebab Utama Kematian di Kota Makassar

Tahun 2013 ... 19 9. III.2 Jumlah Kematian Ibu Maternal di Wilayah Puskesmas Kota Makassar

Tahun 2013 ... 24 10. III.3 Status Gizi Balita per Kecamatan di Kota Makassar Tahun 2013 ... . 31 11. III.4 Status Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita di Kota Makassar Tahun

2011-2013 ... 32 12. III.5 Pola 10 Penyakit Utama di Kota Makassar Tahun 2013 ... 33 13. III.6 Penderita Kasus Baru TB Paru dan yang diobati menurut sarana

Pelayanan Kesehatan di Kota Makassar Tahun 2013 ... 34 14. III.7 Jumlah Penderita Diare Menurut Kecamatan di Kota Makassar Tahun

2011-2013 ... 40 15. V.1 Keadaan Sarana Kesehatan di Kota Makassar Tahun 2013 ... 69 16. V.2 Realisasi Dana Selain APBD di Kota Makassar Tahun 2013 ... 78

(6)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 v DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

1. II.1 Jumlah Penduduk Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 8

2. III.1 Jumlah Kematian dan Angka Kematian Kasar di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 18

3. III.2 Angka Kematian Bayi di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 20

4. III.3 Angka Kematian Balita di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 22

5. III.4 Angka Kematian Ibu di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 25

6. III.5 Usia Harapan Hidup Ibu di Kota Makassar Tahun 2013 ... 26

7. III.6 Persentase Bayi dengan BBLR di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 28

8. III.7 Persentase Bayi dengan Status Gizi di Kota Makassar Tahun 2011-2013 29

9. III.8 Kasus Baru HIV-AIDS di Kota Makassar Tahun 2010 -2012 ... 36

10. III.9 Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia Balita di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 37

11. III.10 Jumlah Kasus Baru Penderita Kusta (PB + MB) di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 39

12. III.11 Jumlah Kasus Penderita dan Kematian Akibat Diare di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... ... 41

13. III.12 Imunisasi Campak di Kota Makassar Tahun 2011-2013... ... 43

14. III.13 Kasus AFP (Non Polio) di Kota Makassar tahun 2011-2013 ... 45

15. III.14 Jumlah Kasus dan Kematian Akibat DBD di Kota Makassar Tahun 2011 - 2013... ... 48

16. III.15 Jumlah Suspect Flu Burung dan Kematian akibat Flu Burung Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 50

17. IV.1 Cakupan Pelayanan Ibu Hamil K1 dan K4 di Kota Makassar Tahun 2011- 2013... 53

18. IV.2 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan atau Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan di Kota Makassar Tahun 2011-2013 .... 55

(7)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 vi 19. IV.3 Cakupan Pemberian Tablet Fe 1 dan Fe 3 Kota Makassar Tahun 2011-2013

………. 59 20. IV.4 Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Anak Balita (12-59 bulan)

di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... ... 60 21. IV.5 Cakupan Pemberian ASI Ekslusif pada Bayi (0-6 bulan) di Kota Makassar

Tahun 2011-2013 ………. ... 61 22. IV.6 Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap di Kota Makassar tahun 2011-2013…. 64 23. IV.7 Cakupan Imunisasi TT2 + pada Ibu Hamil Kota Makassar Tahun 2011-2013

……… 65 24. V.1 Jumlah Puskesmas di Kota Makassar Tahun 2011-2013 ... 68 25. V.2 Posyandu Menurut Strata di Kota Makassar Tahun 2013 ... 71 26. V.3 Proporsi Tenaga Kesehatan Menurut Jenisnya di Kota Makassar Tahun

2013 ... ... 74

(8)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 vii DAFTAR LAMPIRAN

TABEL LAMPIRAN :

1. Luas wilayah, jumlah desa/kelurahan, jumlah penduduk, jumlah rumah tangga, dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan

2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

3. Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Melek Huruf dan Ijazah Tertinggi yang diperoleh Menurut Jenis Kelamin

4. Jumlah Kelahiran Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

5. Jumlah Kematian Neonatal, Bayi dan Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

6. Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Umur, Kecamatan dan Puskesmas

7. Kasus Baru TB BTA+, Seluruh Kasus TB, Kasus TB pada Anak dan Case Notification Rate (CNR) Per 100.000 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

8. Jumlah Kasus dan Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA + Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

9. Angka Kesembuhan dan Pengobatan Lengkap TB Paru BTA+ serta Keberhasilan Pengobatan Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

10. Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas 11. Jumlah Kasus Baru HIV, AIDS dan Syphilis Menurut Jenis Kelamin

12. Persentase Donor Darah Diskrining Terhadap HIV Menurut Jenis Kelamin 13. Kasus Diare yang Ditangani Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas 14. Jumlah Kasus Baru Kusta Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

15. Kasus Baru Kusta 0-14 tahun dan Cacat Tingkat 2 Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

16. Jumlah Kasus dan Angka Prevalensi Penyakit Kusta Menurut Tipe/Jenis, Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

17. Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat (Release From Treatment/RFT) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

18. Jumlah Kasus AFP (Non Polio) Menurut Kecamatan dan Puskesmas

(9)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 viii 19. Jumlah Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis

Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

20. Jumlah Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

21. Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

22. Kesakitan dan Kematian Akibat Malaria Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

23. Penderita Filariasis Ditangani Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

24. Cakupan Pengukuran Tekanan Darah Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

25. Cakupan Pemerikasaan Obesitas Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas 26. Cakupan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Metode IVA dan Kanker Payudara

dengan Pemeriksaan Klinis (CBE) Menurut Kecamatan dan Puskesmas

27. Jumlah Penderita dan Kematian pada KLB Menurut Jenis Kejadian Luar Biasa (KLB) 28. Kejadian Luar Biasa (KLB) di Desa/ Kelurahan yang ditangani <24 Jam

29. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan ditolong oleh Tenaga Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut Kecamatan dan Puskesmas

30. Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Menurut Kecamatan dan Puskesmas 31. Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Wanita Usia Subur Menurut Kecamatan dan

Puskesmas

32. Jumlah Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet FE1 dan FE3 Menurut Kecamatan dan Puskesmas

33. Jumlah dan Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan dan Komplikasi Neonatal Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

34. Proporsi Peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi, Kecamatan dan Puskesmas 35. Proporsi Peserta KB Baru Menurut Jenis Kontrasepsi, Kecamatan dan Puskesmas 36. Jumlah Peserta KB Baru dan KB Aktif Menurut Kecamatan dan Puskesmas

37. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

38. Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

(10)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 ix 39. Jumlah Bayi yang diberi Asi Eksklusif Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan

Puskesmas

40. Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas 41. Cakupan Desa/ Kelurahan UCI Menurut Kecamatan dan Puskesmas

42. Cakupan Imunisasi DPT, HB dan Campak pada Bayi Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

43. Cakupan Imunisasi BCG dan Polio Pada Bayi Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

44. Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Bayi, Anak Balita dan Ibu Nifas Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

45. Jumlah Anak 0-23 Bulan Ditimbang Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas 46. Cakupan Pelayanan Anak Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas 47. Jumlah Balita ditimbang Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

48. Cakupan Kasusu Balita Gizi Buruk yang mendapat Perawatan Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

49. Cakupan Pelayanan Kesehatan (Penjaringan) Siswa SD & Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

50. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Menurut Kecamatan dan Puskesmas

51. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Anak SD dan Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

52. Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

53. Jumlah Kegiatan Promosi Kesehatan

54. Cakupan Jaminan Kesehatan Menurut Jenis Jaminan dan Jenis Kelamin

55. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap dan Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan

56. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit 57. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit

58. Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (Ber-PHBS) Menurut Kecamatan dan Puskesmas

59. Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan dan Puskesmas

(11)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 x 60. Penduduk dengan Akses Berkelanjutan Terhadap Air Minum Berkualitas (Layak)

Menurut Kecamatan dan Puskesmas

61. Persentase Kualitas Air Minum di Penyelenggara Air Minum yang Memenuhi Syarat Kesehatan

62. Penduduk dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi yang Layak (Jamban Sehat) Menurut Jenis Jamban, Kecamatan dan Puskesmas

63. Desa yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

64. Persentase Tempat-Tempat Umum Memenuhi Syarat Kesehatan Menurut Kecamatan dan Puskesmas

65. Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Menurut Status Higiene Sanitasi 66. Tempat Pengelolaan Makanan Dibina dan Diuji Petik

67. Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin 68. Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan

69. Persentase Sarana Kesehatan (Rumah Sakit) dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat (Gadar) Level I

70. Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan dan Puskesmas

71. Jumlah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Menurut Kecamatan 72. Jumlah Desa Siaga Menurut Kecamatan

73. Jumlah Tenaga Medis di Fasilitas Kesehatan

74. Jumlah Tenaga Keperawatan di Fasilitas Kesehatan 75. Jumlah Tenaga Kefaramasian Fasilitas Kesehatan

76. Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan di Fasilitas Kesehatan 77. Jumlah Tenaga Gizi di Fasilitas Kesehatan

78. Jumlah Tenaga Teknisi Medis di Fasilitas Kesehatan

79. Jumlah Tenaga Teknisi Medis dan Fisioterapis di Fasilitas Kesehatan 80. Jumlah Tenaga Kesehatan Lain di Fasilitas Kesehatan

81. Jumlah Tenaga Non-Kesehatan di Fasilitas Kesehatan 82. Anggaran Kesehatan

(12)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 1 BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia) dan keluarga miskin.

Pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui peningkatan : 1) Upaya kesehatan, 2) Pembiayaan kesehatan, 3) Sumber daya manusia kesehatan, 4) Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, 5) Manajemen dan informasi kesehatan, dan 6) Pemberdayaan masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan dengan memperhatikan dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta globalisasi dan demokratisasi dengan semangat kemitraan dan kerjasama lintas sektoral. Penekanan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif.

Pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan, yaitu setiap kebijakan publik selalu memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan.

Upaya pemerintah untuk terus memperluas cakupan pembangunan kesehatan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, harus disertai upaya mendorong kemandirian individu, keluarga dan masyarakat untuk sehat. Salah satu tanggung jawab Pemerintah Kota Makassar adalah menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang berkualitas dan bermutu, merata dan terjangkau oleh

(13)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 2 setiap individu, keluarga serta masyarakat , dan membangun kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan privat sektor.

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 ini disusun dalam rangka evaluasi terhadap pencapaian pembangunan kesehatan tahun 2013 dengan mengacu kepada Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta Millenium Development Goal’s (MDG’s). Dalam penyusunan profil kesehatan tahun 2013 ini, menyajikan bentuk data terpilah menurut jenis kelamin. Bentuk data terpilah ini berbentuk kuantitatif maupun kualitatif. Pengarusutamaan gender (PUG) adalah salah satu strategi pembangunan yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender melalui pengintegrasian permasalahan, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki harus dimasukkan ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program, proyek dan kegiatan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Data terpilah menurut jenis kelamin atau yang sering disebut data gender sangat penting artinya dalam setiap penyusunan perencanaan kebijakan/program/kegiatan pembangunan.

Dalam setiap terbitan Profil Kesehatan Kota Makassar memuat berbagai data kesehatan antara lain : Data Mortalitas/ angka kematian dan Morbiditas/ angka kesakitan, cakupan indikator-indikator pelayanan kesehatan serta data pendukung lain yang berhubungan dengan masalah- masalah kesehatan, seperti : Data Kependudukan, Tingkat Pendidikan, Rasio Beban Tanggungan, dan lain-lain. Data-Data tersebut dianalisis lebih lanjut dan dipresentasikan dalam bentuk tabel, grafik dan data kualitatif.

2. Dasar Penyusunan

Profil Kesehatan Kota Makassar adalah gambaran situasi kesehatan yang diterbitkan setahun sekali. Penyusunannya berlandaskan

(14)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 3 pada dikeluarkannya beberapa Peraturan Perundangan, serta Peraturan perundangan Kesehatan antara lain :

- Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.

- Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah.

- Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025

- Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

- Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 837/MENKES/VII/2007 Tentang Pengembangan SIKNAS Online Sistem Informasi Kesehatan Nasional - Instruksi Presiden RI Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan

Gender dalam Pembangunan Nasional

- Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan

- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 741/MENKES/PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.

3. Sistematika Penyusunan

Penyajian Informasi yang terdapat di dalam Profil Kesehatan Tahun 2013 disusun dengan sistematika penyajian sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan

Menyajikan tentang Latar Belakang, Maksud dan Tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013.

Bab II : Gambaran Umum

Menyajikan gambaran Kota Makassar secara umum dilihat dari Kondisi Geografis Wilayah Kota Makassar, keadaan penduduknya meliputi jumlah dan pertumbuhan penduduk,

(15)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 4 persebaran penduduk dan Kepadatan penduduk Kota Makassar tahun 2013.

Bab II ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lain yang bersama- sama dengan kesehatan menentukan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), antara lain faktor-faktor kependudukan, kondisi ekonomi, serta tingkat pendidikan di Kota Makassar.

Bab III : Situasi Derajat Kesehatan

Bab ini berisi uraian tentang berbagai indikator derajat kesehatan, yang mencakup tentang angka kematian, indeks pembangunan manusia termasuk angka harapan hidup, angka kesakitan dan status gizi masyarakat.

Bab IV : Situasi Upaya Kesehatan

Bab ini menguraikan tentang program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), perbaikan gizi masyarakat, imunisasi, pengendalian penyakit, , pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kefarmasian dan alat kesehatan.

Upaya pelayanan dalam kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya.

Bab V : Situasi Sumber Daya Kesehatan

Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2013. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan sarana/fasilitas kesehatan, saranan produksi/distribusi obat

(16)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 5 dan perbekalan kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan.

Bab VI : Penutup

Bab ini menyajikan kesimpulan beberapa hal penting sehubungan dengan pelaksanaan program kesehatan sepanjang tahun 2013 yang dituangkan kedalam Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013, termasuk peluang dan tantangan penyusunannya serta harapan-harapan demi suksesnya Program Kesehatan Kota Makassar dalam mewujudkan Visi ” Makassar Sehat Menuju Kota Dunia” serta Misi ” Mewujudkan Warga Kota Yang Sehat”

۞۞

(17)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 6 BAB II

GAMBARAN UMUM

Kota Makassar sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Selatan juga merupakan pintu gerbang dan pusat perdagangan Kawasan Timur Indonesia. Secara geografis Kota Makassar terletak di Pesisir Pantai Barat bagian Selatan Sulawesi Selatan, pada titik koordinat 119°24’17’38” Bujur Timur dan 5°8’6’19” Lintang Selatan.

Secara administratif Kota Makassar mempunyai batas-batas wilayah yaitu Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa, Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Maros, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Topografi pada umumnya berupa daerah pantai.

Letak ketinggian Kota Makassar berkisar 0,5 – 10 meter dari permukaan laut.

Kota Makassar memiliki luas wilayah 175,77 km2 yang terbagi ke dalam 14 Kecamatan dan 143 Kelurahan. Selain memiliki wilayah daratan, Kota Makassar juga memiliki wilayah kepulauan yang dapat dilihat sepanjang garis pantai Kota Makassar. Adapun pulau-pulau di wilayahnya merupakan bagian dari dua Kecamatan yaitu Kecamatan Ujung Pandang dan Ujung Tanah. Pulau-pulau ini merupakan gugusan pulau-pulau karang sebanyak 12 pulau, bagian dari gugusan pulau-pulau Sangkarang atau disebut juga Pulau-pulau Pabbiring atau lebih dikenal dengan nama Kepulauan Spermonde. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Lanjukang (terjauh), Pulau Langkai, Pulau Lumu-lumu, Pulau Bone Tambung, Pulau Kodingareng, Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, Pulau Kodingareng Keke, Pulau Samalona, Pulau Lae-Lae, Pulau Gusung dan Pulau Kayangan (terdekat).

(18)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 7 A. KEADAAN PENDUDUK

Masalah utama kependudukan di Indonesia pada dasarnya meliputi tiga hal pokok yaitu jumlah penduduk yang besar, persebaran penduduk yang kurang merata serta komposisi penduduk yang kurang menguntungkan dimana proporsi penduduk berusia muda masih relatif tinggi yang berimplikasi pada Rasio Beban Tanggungan (RBT).

1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk Kota Makassar Tahun 2013 tercatat sebesar 1.369.606 jiwa (BPS Kota Makassar). Namun untuk penentuan sasaran program kesehatan masih menggunakan jumlah penduduk tahun sebelumnya dikarenakan data penduduk terbaru dari BPS Kota Makassar dirilis pada pertengahan tahun sementara penentuan sasaran ditetapkan di awal tahun. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk Kota Makassar dimungkinkan akibat terjadinya arus urbanisasi karena faktor ekonomi, melanjutkan pendidikan, disamping karena daerah ini merupakan pusat pemerintahan dan pusat perdagangan di Kawasan Timur Indonesia.

Adapun jumlah penduduk Kota Makassar dari tahun 2011 – 2013 dapat dilihat pada Tabel II.1.

Tabel II.1

Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Makassar Tahun 2011-2013

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makassar Tahun Jumlah Penduduk

Kota Makassar Laju Pertumbuhan 2011

2012 2013

1.352.136 1.352.136 1.369.606

1,65 1,65 1,78

(19)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 8 Gambar II.1

Jumlah Penduduk Kota Makassar Tahun 2011-2013

2. Persebaran dan Kepadatan Penduduk Persebaran Penduduk

Penduduk Kota Makassar pada tahun 2013 sebesar 1.369.606 jiwa yang tersebar di 14 kecamatan. Namun persebaran tersebut tidak merata, hal tersebut disebabkan karena konsentrasi penduduk berbeda pada tiap kecamatan, serta kebijakan pemerintah tentang penetapan lokasi pembangunan rumah pemukiman penduduk dan lokasi untuk pengembangan kawasan industri. Penyebaran penduduk Kota Makassar dirinci menurut kecamatan, menunjukkan bahwa penduduk masih terkonsentrasi diwilayah kecamatan Biringkanaya, yaitu sebanyak 177.116 atau sekitar 12,93 persen dari total penduduk, disusul kecamatan Tamalate sebanyak 176.947 jiwa (12,92 persen). Kecamatan Rappocini sebanyak 154.184 jiwa (11,26 persen), dan yang terendah adalah kecamatan Ujung Pandang sebanyak 27.201 jiwa (1,99 persen).

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 8

1.340.0001.345.0001.350.0001.355.0001.360.0001.365.0001.370.000 2011

2012 2013

1.352.136 1.352.136

1.369.606

JUMLAH PENDUDUK

(20)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 9 Adapun jumlah penduduk Kota Makassar per wilayah kecamatan dapat dilihat pada tabel II.2 berikut :

Tabel II.2

Jumlah Penduduk Kota Makassar Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2011 - 2013

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makassar

Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk Kota Makassar per kecamatan tidak merata.

Dengan jumlah penduduk sebesar 1.369.606 jiwa dan luas wilayah 175,77 km² didapatkan angka Kepadatan Penduduk (Density) Kota Makassar sebesar 7.792 jiwa/km2. Ditinjau dari kepadatan penduduk, kecamatan Makassar adalah terpadat yaitu 32.550 jiwa per km persegi, disusul kecamatan Mariso (31.057 jiwa per km persegi), kecamatan Mamajang (26.298 jiwa per km persegi). Sedangkan kecamatan Tamalanrea merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk

No. Kecamatan JUMLAH PENDUDUK

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013

1 Ujung Tanah 47.133 47.133 47.129

2 Tallo 135.574 135.574 134.783

3 Bontoala 54.714 54.714 54.515

4 Wajo 29.639 29.639 29.630

5 Ujung Pandang 27.160 27.160 27.201

6 Makassar 82.478 82.478 82.027

7 Mamajang 59.560 59.560 59.170

8 Mariso 56.408 56.408 56.524

9 Tamalate 172.504 172.504 176.947

10 Rappocini 152.531 152.531 154.184

11 Panakkukang 142.729 142.729 142.308

12 Manggala 118.191 118.191 122.838

13 Biringkanaya 169.340 169.340 177.116

14 Tamalanrea 104.175 104.175 105.234

J u m l a h 1.352.136 1.352.136 1.369.606

(21)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 10 terendah yaitu sekitar 3.305 jiwa per km persegi, kemudian kecamatan Biringkanaya (3.673 jiwa per km persegi), Manggala (5.089 jiwa per km persegi), kecamatan Ujung Tanah (7.934 jiwa per km persegi), kecamatan Panakukang (8.347 jiwa per km persegi). Kepadatan penduduk Kota Makassar per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel II.3

Kepadatan Penduduk Kota Makassar per Kecamatan Tahun 2013

NO KECAMATAN PERSENTASE

PENDUDUK JUMLAH

KELURAHAN LUAS WIL.

(km²) KEPADATAN PENDUDUK /km²

1 Ujung Tanah 3,44 12 5.94 7.934

2 Tallo 9,84 15 5.83 23.119

3 Bontoala 3,98 12 2.1 25.960

4 Wajo 2,16 8 1.99 14.889

5 Ujung Pandang 1,99 10 2.63 10.343

6 Makassar 5,99 14 2.52 32.550

7 Mamajang 4,32 13 2.25 26.298

8 Mariso 4,13 9 1.82 31.057

9 Tamalate 12,92 10 20.21 8.755

10 Rappocini 11,26 10 9.23 16.705

11 Panakkukang 10,39 11 17.05 8.347

12 Manggala 8,97 6 24.14 5.089

13 Biringkanaya 12,93 7 48.22 3.673

14 Tamalanrea 7,68 6 31.84 3.305

M A K A S S A R 100,00 143 175.77 7.792

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makassar

(22)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 11 3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis

Kelamin

Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur

Komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat menggambarkan tinggi/rendahnya tingkat kelahiran. Selain itu komposisi penduduk juga mencerminkan Rasio Beban Tanggungan (Dependency Ratio) yaitu perbandingan antara penduduk umur non produktif (umur 0 – 14 tahun + umur 65 tahun keatas) dengan penduduk produktif (umur 15 – 64 tahun). Tingginya Dependency Ratio mencerminkan besarnya beban tanggungan pemerintah secara ekonomi di wilayahnya.

Rasio Beban Tanggungan untuk Kota Makassar tahun 2013 sebesar 45,68 %, dengan penduduk sebesar 1.369.606 jiwa yang terdiri dari 940.130 jiwa penduduk usia produktif (15-64 tahun), 383522 jiwa penduduk anak-anak dan remaja (usia 0-14 tahun), 45.955 jiwa penduduk lanjut usia ( 65+ Tahun). Dependency Ratio yaitu sekitar 97,67 persen yang berarti setiap 100 penduduk wanita terdapat 98 penduduk laki-laki. Hal ini memberi gambaran terhadap besarnya beban tanggungan ekonomi dalam masyarakat.

Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Secara keseluruhan, komposisi penduduk Kota Makassar menurut jenis kelamin, hampir seimbang yaitu rasio penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 97,67 %. Berikut ini digambarkan komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin di Kota Makassar tahun 2013.

(23)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 12 Tabel II. 4

Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Makassar Tahun 2013

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makassar

B. KEADAAN EKONOMI (Produk Domestik Bruto)

Kondisi perekonomian suatu daerah sangat tergantung pada potensi dan sumber daya yang dimiliki serta kemampuan daerah yang bersangkutan untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, berbagai kebijakan, langkah dan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar untuk meningkatkan perekonomian daerah ini.

Untuk mengetahui sejauh mana hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan diperlukan suatu ukuran yang bersifat kuantitatif.

NO KELOMPOK UMUR (Tahun)

JUMLAH PENDUDUK

LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

1 0-4 67.935 63.298 131.232

2 5-9 67.561 63.149 130.710

3 10-14 62.596 58.984 121.580

4 15-19 70.102 75.101 145.203

5 20-24 84.499 88.384 172.883

6 25-29 66.424 67.118 133.542

7 30-34 55.286 57.206 112.492

8 35-39 48.946 50.639 99.585

9 40-44 42.539 45.968 88.507

10 45-49 33.671 35.613 69.284

11 50-54 26.110 25.799 51.909

12 55-59 18.832 19.105 37.937

13 60-64 13.176 15.612 28.788

14 65 + 19.070 26.885 45.955

J U M L A H 676.744 692.862 1.369.606

(24)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 13 Salah satu dari ukuran yang dimaksud adalah statistik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB ) atau biasa disebut Pendapatan Regional.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan ekonomi suatu daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dalam satu tahun di wilayah tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS Kota Makassar, hasil perhitungan PDRB tahun 2012, nilai PDRB Kota Makassar atas dasar harga berlaku telah mencapai Rp 50.702,40 miliar rupiah. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2012, nilainya sebesar Rp 19.582,06 miliar rupiah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel II.5 berikut :

Tabel II. 5

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku, Sulawesi Selatan dan Kota Makassar (Dalam Juta Rupiah) Tahun 2008-2012

TAHUN PDRB SUL-SEL ( Juta Rp )

PDRB KOTA MAKASSAR

( Juta Rp )

% PDRB MAKASSAR THDP PDRB SUL-SEL

2008 2009 2010 2011 2012

85.143.191,27 99.904.658,31 117.862.210

137.389,88 159.154,03

26.068.221,49 31,263.651,65 37.007.452 43.428,149 50.702,40

30,62 31,29 31,40 32,33 31,86

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makassar

(25)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 14 Tabel II.6

Perkembangan dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Makassar Tahun 2008- 2012

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makassar

C. TINGKAT PENDIDIKAN

Indikator pokok kualitas pendidikan formal. Khusus untuk Kota Makassar pada Tahun 2009 persentase penduduk yang telah menempuh pendidikan setingkat sarjana (D-IV/S-1/S-2/S-3) sebesar 67.428 laki-laki dan sebesar 63.019 perempuan atau sebesar 15,44 % dari keseluruhan jumlah penduduk usia sekolah dengan range usia 5-24 tahun yang ada di Kota Makassar.

Gambaran yang ditonjolkan memang dibatasi pada aspek-aspek kependudukan, perekonomian dan pendidikan, bersama-sama dengan kesehatan menentukan besar/kecilnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) baik untuk Provinsi Sulawesi Selatan maupun Indonesia. Sebagaimana diketahui IPM Indonesia pada tahun 1990 adalah 63 dan pada tahun 1996 naik menjadi 68.

Namun demikian keadaan krisis menyebabkan IPM Indonesia pada tahun 1999 turun menjadi 64. Angka tersebut lalu menempatkan Indonesia pada peringkat ke-109 diantara 180 negara di dunia. Hal ini Tahun PDRB adh

Berlaku (Juta Rp)

Perkembangan (persen)

PDRB adh Konstan (Juta Rp)

Pertumbuhan Ekonomi (Persen)

2008 2009 2010 2011 2012

26.068.221,49 31.263.651,65 37.007.451,94 43.428.149,82 50.702.400,57

25,06 19,93 18,37 17,35 16,75

13.561.827,18 14.798.187,68 16.252.451,43 17.820.697,97 19.582.060,39

10,52 9,20 9,83 9,65 9,88

(26)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 15 berarti Indonesia berada di bawah peringkat Malaysia dan Thailand apalagi Singapura. Sementara IPM untuk Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2001 sebesar 69,5 dengan IPM tertinggi adalah di Kota Makassar dan terendah di Kabupaten Jeneponto.

Adapun gambaran penduduk Kota Makassar usia 10 Tahun keatas berdasarkan jenis kelamin dan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan menurut jenis kelamin Tahun 2009 digambarkan sebagai berikut :

Tabel II. 7

Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kelamin &

Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Kota Makassar Tahun 2009

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makasssar

۞۞۞

P E N D I D I K A N Laki-laki Perempuan

Jml % Jml %

Tidak/Belum Pernah Sekolah Belum/Tidak Tamat SD SD

SLTP SMU/SMK

AK/DIPLOMA (D-I/D-II/D-III) UNIVERSITAS( D-IV/S-1/S-2/S-3)

11.925 61.482 88.094 77.203 163.067 10.267 67.428

2,49 12,82 18,37 16,10 34,01 2,14 14,06

23.916 77.130 108.379 85.389 163.074 18.705 63.019

4,43 14,29 20,08 15,82 30,22 3,47 11,68

(27)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 16 BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Derajat kesehatan masyarakat dinilai dengan menggunakan beberapa indikator yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematian), status gizi dan morbiditas (kesakitan). Derajat kesehatan masyarakat yang digambarkan dalam bab ini yaitu melalui Angka Mortalitas ; terdiri atas Angka Kematian Bayi(AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), Indeks Pembangunan Manusia termasuk angka harapan hidup, Angka Morbiditas ; angka kesakitan beberapa penyakit balita dan dewasa.

Gambaran tentang derajat kesehatan berisi uraian tentang indikator -indikator kualitas hidup, mortalitas, morbiditas dan status gizi, yaitu :

1. Kualitas hidup antara lain dilihat dari indikator Angka Harapan Hidup Waktu Lahir.

2. Mortalitas dilihat dari indikator-indikator Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per 1.000 anak balita, dan Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 Kelahiran Hidup.

3. Morbiditas dilihat dari indikator-indikator Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 penduduk, Angka Kesakitan Malaria per 1.000 penduduk, Persentase Kesembuhan TB Paru, Persentase Penderita HIV/AIDS terhadap penduduk beresiko dan Angka "Acute Flacid Paralysis" (AFP) pada anak usia < 15 tahun per 100.000 anak.

4. Status Gizi dilihat dari indikator-indikator persentase balita dengan gizi buruk dan persentase kecamatan bebas rawan gizi.

(28)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 17 A. ANGKA KEMATIAN/MORTALITY RATE

Mortalitas adalah kejadian kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya.

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survei dan penelitian.

Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode terakhir akan diuraikan di bawah ini.

a. Angka Kematian Kasar (AKK) / Crude Death Rate (CDR)

Data kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui survei, karena sebagian besar kematian terjadi di masyarakat bukan pada fasilitas pelayanan kesehatan (merupakan community based data), sedangkan data kematian di fasilitas pelayanan kesehatan hanya memperlihatkan kasus rujukan jadi bukan merupakan representasi dari semua kasus kematian yang terjadi di suatu wilayah (facilitate based data). Angka kematian di Indonesia berasal dari berbagai sumber, yaitu Sensus Penduduk, Surkesnas/Susenas dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang kesemuanya ditujukan untuk mendapatkan data yang berbasis bukti (Evidence Based).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang P2PL Dinkes Kota Makassar, jumlah kematian untuk semua golongan umur yang terjadi pada tahun 2013 sebanyak 3.229 kematian dari 1.352.136 jiwa meningkat dibanding tahun 2012 sebanyak 3034 kematian dari 1.352.136 jiwa, tahun 2011 jumlah kematian sebanyak 3.136 kematian dari 1.352.136 jiwa penduduk, menurun dari jumlah kematian yang terjadi sepanjang tahun 2010 untuk semua golongan umur sebanyak

(29)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 18 2.932 dari total 1.339.374 jumlah penduduk kota Makassar. Ini berarti pada tahun 2013 dari 1.000 penduduk Kota Makassar terjadi 2 kematian

(AKK = 2,3 per 1.000 penduduk).

tahun 2011 s/d 2013 dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar III. 1

Jumlah Kematian dan Angka Kematian Kasar Di Kota Makassar Tahun 2011 – 2013

Adapun 10 (sepuluh) jenis penyakit penyebab utama kematian di Kota Makassar tahun 2013 dapat dilihat pada tabel berikut :

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500

2011

2012

2013

3.136 3.034 3.229

2,3

2,2 2,3

Jumlah Kematian AKK (Angka Kematian Kasar)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 18

(30)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 19 Tabel III. 1

10 Jenis Penyakit Penyebab Utama Kematian Di Kota Makassar Tahun 2013

No. JENIS PENYAKIT J U M L A H

1 Asthma 705

2 Jantung 469

3 Hipertensi 445

4 Diabetes Mellitus 217

5 Maag 205

6 Broncho Pneumonia 159

7 Ginjal 140

8 Lever 118

9 Prematur 98

10 Stroke 96

Sumber : Bidang Bina P2PL Dinkes Kota Makassar

b. Angka Kematian Bayi (AKB)/Infant Mortality Rate (IMR)

Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi usia 0 tahun dari setiap 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat dikatakan juga sebagai probabilitas bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Angka kematian bayi merupakan indikator yang terkait langsung dengan target kelangsungan hidup bayi dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan termasuk pemeliharaan kesehatannya. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pencegahan dan pemberantasan berbagai penyakit penyebab kematian akan tercermin secara jelas dengan menurunnya tingkat AKB. Dengan demikian angka kematian bayi merupakan tolak ukur yang sensitif dari semua upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan.

Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia telah turun sebesar 44 persen selama 18 tahun terakhir, dari 57 kematian per 1.000 kelahiran hidup di periode 1990-1994 ke 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup di periode 2008-2012. Angka ini masih jauh dari target MDG’S (23/1.000

(31)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 20 KH) kalau dilihat dari potensi untuk menurunkan AKB masih on track walaupun diperlukan sumber daya manusia yang kompeten.

Angka kematian menurut hasil survei demografi dan kesehatan 2012 menjelaskan mengalami penurunan meski tak berbeda jauh dengan hasil SDKI 2007, yaitu masing-masing 32 dan 34 kematian per 1.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Bayi di Kota Makassar mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 sebesar 6,71 per 1000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi sebanyak 165 kematian bayi dari 24.576 jumlah kelahiran hidup (AKB = 6,71 /1000 KH). Tahun 2012 sebesar 6,78 per 1.000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi sebanyak 163 kematian bayi dari 24.034 jumlah kelahiran hidup (AKB = 6,78/1000 KH). Pada tahun 2011 terdapat 179 kasus kematian bayi dari jumlah kelahiran hidup 26.129, sehingga diperoleh AKB sebesar 6,9 per 1.000 kelahiran hidup (AKB=6,9 / 1000 KH). Angka kematian bayi selama 3 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar III. 2 Angka Kematian Bayi

Di Kota Makassar Tahun 2011 – 2013

Sumber : Bidang Bina Kesmas Dinkes Kota Makassar

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 20

6,9

6,78

6,71 6,6

6,65 6,7 6,75 6,8 6,85 6,9 6,95

2011 2012 2013

TAHUN A

K B

(32)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 21 Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga kesehatan yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk mengubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB. Penurunan angka kematian bayi (AKB) di Kota Makassar terjadi karena dukungan lintas program seperti program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, program perbaikan gizi masyarakat dan pelayanan imunisasi yang semakin baik serta dukungan lintas sektor terkait.

Adapun beberapa kegiatan yang dilaksanakan terkait penurunan angka kematian bayi (AKB) yaitu pengembangan media promosi dan informasi kesehatan, pembinaan posyandu, pembinaan kelurahan siaga (MODS) serta pemberian makanan tambahan penanggulangan ibu hamil kurang energy kronik (Bumil KEK).

c. Angka Kematian Balita (AKABA)/Child Mortality Rate (CMR) Angka Kematian Balita (1 - 4 tahun) adalah jumlah kematian anak umur 1 - 4 tahun per 1.000 anak balita. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti status gizi, sanitasi, penyakit menular dan tidak menular serta kecelakaan. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial dalam arti besar dan tingkat kematian penduduk. Besarnya tingkat kematian balita menunjukkan tingkat permasalahan kesehatan yang dihadapi masyarakat .

Berdasarkan data SDKI 2012 (periode 5 tahun terakhir sebelum survei), gambaran perkembangan AKABA sejak tahun 1991 sampai tahun 2012 memperlihatkan kecenderungan penurunan cukup tajam yaitu dari 97 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 40 per 1.000 kelahiran

(33)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 22 hidup, dimana target MDG’S 2015 yaitu 32 per 1.000 kelahiran hidup.

Berbagai faktor dapat menyebabkan penurunan AKABA diantaranya dukungan peningkatan akses pelayanan kesehatan meliputi peningkatan akses balita terhadap pelayanan kesehatan dan peningkatan cakupan imunisasi dasar.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Bina P2PL Dinas Kesehatan Kota Makassar Angka Kematian Balita di Kota Makassar pada tahun 2011 sebesar 2,7 per 1.000 kelahiran hidup dimana tercatat 71 kematian balita dari 26.129 kelahiran hidup. Pada tahun 2012 jumlah kematian balita menurun yaitu sebanyak 43 balita dari 24.034 kelahiran hidup sehingga diperoleh Angka Kematian Balita sebesar 1,79 per 1.000 kelahiran hidup dan meningkat pada tahun 2013 yaitu sebanyak 82 balita dari 24.576 kelahiran hidup sehingga diperoleh Angka Kematian Balita sebesar 3,34 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita selama 3 tahun dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar III. 3 Angka Kematian Balita

Di Kota Makassar Tahun 2011– 2013

Sumber : Bidang Bina Kesmas Dinkes Kota Makassar

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 22

2,71

1,79

3,34

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4

2011 2012 2013

A K A B A

TAHUN

(34)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 23 d. Angka Kematian Ibu (AKI)/ Maternal Mortality Rate (MMR)

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah jumlah wanita yang meninggal mulai dari saat hamil hingga 6 minggu setelah persalinan per 100.000 persalinan. Angka kematian ibu merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millennium (Millenium Development Goals) tujuan kelima yaitu meningkatkan kesehatan ibu.

Adapun target pencapaian Millenium Development Goals (MDG’S) yaitu AKI di Indonesia menjadi 102/100.000 KH pada 2015, dan untuk itu upaya terobosan yang efektif dan berkesinambungan harus terus dilakukan. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.

Di Kota Makassar, AKI maternal mengalami fluktuasi selama 3 tahun terakhir yaitu pada tahun 2013 meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 16,27 per 100.000 kelahiran hidup (AKI : 16,27/100.000 KH) dibanding tahun 2012 yaitu sebesar 8,32 per 100.000 kelahiran hidup (AKI : 8,32/100.000 KH). Tahun 2011 sebesar 11,48 per 100.000 kelahiran hidup, (AKI = 11,48/100.000 KH). Angka ini didapatkan dari hasil formulasi data yang dilaporkan serta hasil pencatatan unit-unit pelayanan kesehatan yang direkap dan dilaporkan oleh Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Makassar dimana untuk tahun 2013 tercatat 4 kasus kematian Ibu Maternal dari 24.576 kelahiran hidup yang disebabkan perdarahan post partum dan eklampsia. Adapun kasus kematian maternal tersebut terjadi di wilayah kerja Puskesmas yang disajikan dalam tabel berikut.

(35)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 24 Tabel III. 2

Jumlah Kematian Ibu Maternal di Wilayah Puskesmas Kota Makassar Tahun 2013

PUSKESMAS JUMLAH KEMATIAN IBU

Minasa Upa Tamamaung

Makkasau Sudiang Raya

J u m l a h

1 1 1 1

4

Sumber : Bidang Bina Kesmas Dinkes Kota Makassar

Beberapa program dan kegiatan yang mendukung penurunan AKI antara lain melalui pelatihan dan sosialisasi PMTCT (Prevention Mother To Child Transmission), sosialisasi dan pembinaan persalinan yang aman dan IMD (Inisisasi Menyusui Dini) bagi kader, sosialisasi kesehatan reproduksi, pembinaan kader GSI (Gerakan Sayang Ibu) dan Anak serta kegiatan pertemuan audit maternal perinatal. Dalam upaya peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak juga telah dilakukan langkah untuk memecahkan berbagai masalah terkait diantaranya kerjasama melakukan pendampingan kegiatan kinerja USAID. Pendampingan ini difokuskan pada bagaimana persalinan aman, IMD dan ASI ekslusif dilaksanakan terhadap penguatan pada katalisator aktif masyarakat.

Berikut ini dapat dilihat grafik Angka Kematian Ibu di Kota Makassar selama 3 tahun terakhir.

(36)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 25 Gambar III. 4

Angka Kematian Ibu

Di Kota Makassar Tahun 2011– 2013

Sumber : Bidang Bina Kesmas Dinkes Kota Makassar

B. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua Negara di seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah Negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terkebelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

UMUR HARAPAN HIDUP/LIFE EXPECTANCY

Usia Harapan Hidup (UHH) bermanfaat untuk mengetahui berapa lama orang dapat hidup sejak dari usia tertentu. Jika usia harapan hidup tinggi, menunjukkan tingkat taraf hidup suatu Negara juga tinggi begitupun sebaliknya.

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 25

11,48

8,32

16,27

0 5 10 15 20

2011 2012 2013

A K I

TAHUN

(37)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 26 Usia Harapan Hidup (UHH) Kota Makassar tahun 2013 sudah mencapai target (73,7) yaitu 74,05 tahun (BPS, 2013), angka ini meningkat dibanding tahun 2012 yaitu 73,86 tahun. Sasaran ini didukung oleh program upaya kesehatan masyarakat dengan kegiatan pembinaan kesehatan olahraga bagi lansia. Selain itu juga dilakukan pembinaan kelompok USILA Sehat di masing-masing wilayah kerja puskesmas, adapun jumlah kelompok USILA tahun 2013 adalah sebanyak 446 kelompok. Peningkatan Usia Harapan Hidup juga didukung oleh kebijakan pemberian pelayanan Kesehatan Gratis melalui Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) yang merupakan program nasional dan Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) yang merupakan program unggulan pemerintah Kota Makassar yang menjamin setiap penduduk Kota Makassar bisa mengakses unit-unit pelayanan kesehatan dan mendapatkan pelayanan gratis baik dari tingkat pustu, puskesmas, maupun rumah sakit. Berikut ini dapat dilihat Usia Harapan Hidup di Kota Makasssar selama 3 tahun terakhir :

Gambar III. 5 Usia Harapan Hidup di Kota Makassar Tahun 2013

Sumber : BPS Kota Makassar 73,86

73,86

74,05

73,7 73,7 73,7

73,5 73,6 73,7 73,8 73,9 74 74,1

2011 2012 2013

U H H

Capaian Target

(38)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 27 C. STATUS GIZI

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak.

Status gizi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum, karena disamping sebagai faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil dan ibu menyusui.

Adapun indikator-indikator yang sangat berperan menentukan status gizi khususnya di Kota Makassar dapat diuraikan sebagai berikut : a. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram merupakan salah satu faktor utama yang amat berpengaruh terhadap kematian bayi baik kematian perinatal maupun neonatal). BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di Kota Makassar masih banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, jumlah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mengalami peningkatan selama 3 tahun terakhir yaitu tahun 2013 sebanyak 611 dari 24.576 bayi lahir hidup atau sekitar 2,48% meningkat dari tahun 2012 sebanyak 473 dari 24.034 bayi lahir hidup atau sekitar 1,96%, meningkat dibandingkan tahun 2011 sebanyak 186 dari 26.129 bayi lahir hidup atau sekitar 0,71 %. Persentase Bayi BBLR selama tiga tahun terakhir, dapat dilihat pada gambar berikut :

(39)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 28 Gambar III. 6

Persentase Bayi dengan BBLR di Kota Makassar Tahun 2011 – 2013

Sumber : Bidang Bina Kesmas Dinkes Kota Makassar

b. Status Gizi Balita & Kecamatan Bebas Rawan Gizi

Status gizi Balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Body Mass Index (BMI) atau yang dikenal dengan Index Berat Badan adalah salah satu teknik yang digunakan dalam penilaian status gizi Balita. Untuk memperoleh nilai BMI dilakukan dengan pengukuran tubuh(BB, TB) atau anthropometri untuk dibandingkan dengan umur, misalnya : BB/U atau TB/U. Angka yang paling sering digunakan adalah indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U). Adapun hasil perhitungan yang diperoleh dikategorikan ke dalam 4 kelompok yaitu : gizi lebih (z-score > +2 SD);

gizi baik (z-score –2 SD sampai +2 SD); gizi kurang (z-score < -2 SD sampai –3 SD); dan gizi buruk (z-score < -3SD).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Bina Kesehatan Masyarakat status gizi balita untuk Gizi Buruk pada tahun 2013 berjumlah 2.111 (2,66 % dari jumlah balita) menurun dari tahun 2012 berjumlah 2.251 (2,77 % dari jumlah balita). Tahun 2011 dengan jumlah

0,71

1,96

2,48

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3

2011 2012 2013

TAHUN B

B L R

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 28

(40)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 29 1.966 (2,82 % dari jumlah balita) . Sementara untuk jumlah kasus gizi buruk tahun 2013 sebanyak 50 kasus dan keseluruhan tertangani.

Adapun status Gizi Kurang yang dilaporkan selama 3 tahun terakhir terus mengalami penurunan yakni pada tahun 2011 berjumlah 9.408 balita (13,5 %) menurun pada tahun 2012 berjumlah 9.413 balita (11,59 %) dan tahun 2013 sebanyak 7.718 balita (9,73%).

Persentase status gizi balita selama tiga tahun terakhir, dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar III. 7

Persentase Bayi dengan Status Gizi di Kota Makassar Tahun 2011 – 2013

Sumber : Bidang Bina Kesmas Dinkes Kota Makassar

Untuk memenuhi kebutuhan gizi balita di Kota Makassar, Pemerintah Kota Makassar melalui program perbaikan gizi tahun 2013 melakukan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan Penyuluhan dan Pemulihan (PMT Penyuluhan dan PMT Pemulihan). Program Pemberian

Makanan Tambahan Penyuluhan (PMT Penyuluhan) berupa pemberian kacang hijau , santan serta gula merah di 979 posyandu se- Kota Makassar.

0 5 10 15

2011 2012

2013

2,82 2,77

2,66 13,52

11,59

9,73

GIZI BURUK GIZI KURANG

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 29

(41)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 30 Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT Pemulihan) terdiri atas PMT Gizi Kurang dan PMT Gizi Buruk. PMT Gizi Kurang diberikan untuk 4.500 anak berupa pemberian telur selama 100 hari.

PMT Gizi Buruk diberikan untuk 50 anak gizi buruk berupa pemberian paket makanan selama 100 hari.

Program perbaikan gizi di Kota Makassar dilakukan melalui upaya penanggulangan gizi masyarakat dan upaya peningkatan gizi masyarakat. Adapun upaya penanggulangan gizi masyarakat meliputi berbagai upaya antara lain Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), penanggulangan Kurang Vitamin A, penanggulangan Anemia Gizi (AGB) serta usaha peningkatan status gizi anak sekolah melalui gerakan Anak Makassar Sehat dan Cerdas (AMSC) serta program Nutrition Improvement Throught Community Empowerment (NICE). Sementara upaya peningkatan gizi masyarakat dilakukan melalui pemasyarakatan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) dan pengembangan Jaringan Informasi Pangan dan Gizi (JIPG).

Program NICE adalah suatu upaya terobosan untuk mengatasi masalah gizi. Upaya yang dikembangkan adalah model perbaikan gizi melalui pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Adapun kegiatan yang dilaksanakan diantaranya : kegiatan Paket Gizi Masyarakat (PGM) yang dilaksanakan oleh kelompok gizi

masyarakat (KGM) di 64 kelurahan NICE berdasarkan hasil MMD ( Musyawarah Masyarakat Desa) antara lain : kelas ibu hamil, kelas Ibu

Menyusui, kelas ibu balita, kelas BGM (Bawah Garis Merah), kelas 2T ( 2 bulan berturut-turut tidak naik badannya atau tetap), kelas gizi kurang dan gizi buruk, penyuluhan dan pembinaan keluarga sadar gizi (Kadarzi), demo masak, pos gizi, penyuluhan gizi seimbang, pembinaan sanitasi dan hygiene di sekolah serta penyuluhan dan pembinaan warung sekolah.

Adapun status gizi pada bayi/balita tampak pada cakupan pemberian ASI ekslusif selama 3 tahun terakhir, yaitu : tahun 2011

(42)

Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2013 31 (8.996 bayi ASI ekslusif dari 12.778 bayi 0-6 bulan ) atau 70,40 % menurun di tahun 2012 sebanyak 8.469 atau sekitar 63,7% dari 13.300 bayi berumur 0-6 bulan dan meningkat pada tahun 2013 sebanyak 8.950 atau sekitar 67,79 % dari 13.203 bayi umur 0-6 bulan.

Data mengenai jumlah Status Gizi Balita pada tahun 2013 menurut kecamatan di Kota Makassar disajikan dalam tabel berikut ini

Tabel III. 3

Status Gizi Balita per Kecamatan Di Kota Makassar Tahun 2013

Kecamatan Gizi Buruk Gizi Kurang

Jumlah % Jumlah %

Mariso 36 1,26 571 20,06

Mamajang 21 0,82 286 11,23

Tamalate 340 3,55 1021 10,68

Rappocini 167 2,76 757 12,53

Makassar 172 2,83 415 6,82

Ujung Pandang 26 1,72 76 5,02

Wajo 8 0,59 117 8,66

Bontoala 76 2,61 362 12,45

Ujung Tanah 110 3,38 307 9,44

T a l l o 485 4,69 1123 10,86

Panakukang 338 3,42 756 7,64

Manggala 47 0,93 219 4,33

Biringkanaya 210 1,66 1206 9,54

Tamalanrea 75 1,41 502 9,46

TOTAL 2.111 2,66 7.718 9,73

Sumber : Bidang Bina Kesmas Dinkes Kota Makassar

Referensi

Dokumen terkait

Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Cabang Pembantu Mayjen Sungkono Surabaya yang sudah memberikan data-data dan informasi tentang Kredit Pemilikan Rumah

penilaian belum begitu detail seperti yang dirumuskan dalam kurikulum 2013, dalam penilain sikap yang saya lakukan baru menilai sikap mereka dengan guru sedangkan sikap

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Tidur Larut Malam

Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan studi agar dapat menjawab pertanyaan penelitian mengenai penerimaan masyarakat terhadap program relokasi permukiman kumuh serta

Tujuan praktikum tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum proses ekstraksi rimpang kencur dengan pengaruh variasi jumlah pelarut, suhu ekstraksi, refluk ratio,

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai adalah untuk mengetahui proses mengasah kemampuan berpikir kreatif dan rasa ingin tahu melalui

Selaras dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Lenawan (2009), yang menyatakan bahwa pada kepadatan yang rendah larva ikan gurami mampu memanfaatkan ruang

Bahasa Minangkabau atau dalam bahasa asal, Baso Minang adalah sebuah bahasa Austronesia yang digunakan oleh kaum Minangkabau di Sumatra Barat, di barat Riau, Negeri