ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pankton pada budidaya udang windu yang dipupuk dengan pupuk organik telah dilakukan. Wadah yang digunakan adalah 6 petak tambak masing-masing ukuran luas 500 m2/petak yang ditebari tokolan udang windu (P. monodon) ukuran PL-30 dengan padat tebar 2 ekor/m2 (1.000 ekor/petak). Perlakuan yang dicobakan adalah penggunaan jenis pupuk organik yaitu perlakuan A = kotoran ayam, perlakuan B = kotoran sapi, dan perlakuan C = dedak padi halus. Peubah yang diamati meliputi komposisi jenis dan jumlah individu plankton, indeks keragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi plankton selama pemeliharaan udang windu. Parameter penunjang yang dilakukan adalah pengamatan kualitas air yang meliputi salinitas, suhu, oksigen terlarut, pH, BOT, PO4, NO2, NO3, setiap 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan tidak berpengaruh nyata (>0,05) terhadap jumlah jenis dan kelimpahan plankton. Jenis fitoplankton didominasi oleh Kelas Bacillariophyceae dan zooplankton didominasi oleh Kelas Crustacea. Genera fitoplankton yang memilki jumlah individu banyak antara lain Navicula, Nitzschia, dan Pleurosigma dari Kelas Bacillariophyceae, serta Oscillatoria dari kelas Cyanophyceae.
Sedangkan genera dari zooplankton yang memiliki individu paling banyak adalah Kopepoda dari Kelas Crustacea. Kisaran Indeks biologi plankton yang diperoleh selama penelitian masing-masing: indeks keragaman (1,199–1,362), indeks keseragaman (0,689–0,780), dan indeks dominansi (0,324–0,427).
KATA KUNCI: dinamika plankton, udang windu, pupuk organik, tambak PENDAHULUAN
Satu diantara upaya dalam peningkatan produksi udang dalam budidaya secara tradisional (ekstensif) di tambak adalah penyediaan makanan alami yang cukup dan berkesinambungan. Menurut Ranoemihardjo & Lantang (1985), keberhasilan pemeliharaan udang di tambak semi intensif dan ekstensif sangat ditentukan oleh ketersediaan makanan alami. Satu di antara usaha untuk peningkatan pakan alami di tambak adalah dengan cara pemupukan. Menurut Amin & Pantjara (2002), pemupukan dimaksudkan sebagai usaha pemberian nutrien ke dalam tanah atau di tambak dengan tujuan untuk meningkatkan daya dukung perairan guna menghasilkan makanan alami bagi mikroorganisme. Lebih lanjut ditegaskan oleh Huet (1978) bahwa pemupukan merupakan usaha untuk meningkatkan kesuburan perairan. Dengan menambah unsur hara secara periodik melalui pemupukan dalam jumlah tertentu ke dalam perairan akan merangsang pertumbuhan fitoplankton sehingga mempengaruhi kesuburan perairan.
Pupuk organik merupakan salah satu jenis pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah mengingat sifat pupuk organik yang sangat menonjol yaitu mengandung unsur hara makro dan mikro. Menurut Setyamidjaya (1986), pupuk organik merupakan pupuk yang digunakan untuk maksud memperbaiki struktur tanah, daya meresapkan air hujan, daya mengikat air, ketahanan terhadap erosi. Selanjutnya dikatakan bahwa terbentuknya humus, pupuk organik juga memperbaiki kehidupan biologi tanah dan mineral (unsur hara) dan hasil proses mineralisasi humus. Lebih lanjut Syarief (1985) mengemukakan bahwa pupuk organik memiliki kesanggupan melepaskan zat hara secara berangsur-angsur sesuai dengan tingkat perombakannya sehingga kelestarian zat hara dalam perairan dapat terjaga. Hasil penelitian Amin & Jompa (2009) pada penelitian penggunaan pupuk organik pada budidaya udang windu di tambak menunjukkan kotoran sapi lebih baik daripada jenis pupuk kotoran ayam dan dedak.
Keberadaan plankton di tambak di samping berfungsi sebagai pakan udang dapat pula berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Menurut Dawes (1981), salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai DINAMIKA PLANKTON PADA BUDIDAYA UDANG WINDU (
Penaeus monodon
FABRICIUS)YANG MENGGUNAKAN JENIS PUPUK ORGANIK DI TAMBAK
Machluddin Amin
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129 Maros 90512, Sulawesi Selatan E-mail: [email protected]
pakan di perairan. Oleh karena itu, kehadiran plankton di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak. Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologinya.
Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons tehadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al., 1984). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan jenis pupuk organik pada budidaya udang windu (Penaeus monodon Fabricius) terhadap komposisi dan kelimpahan jenis, keragaman plankton di tambak.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan selama 120 hari mulai bulan Maret sampai dengan Juli 2009 menggunakan tambak ukuran luas 500 m2 sebanyak 6 petak. Hewan uji yang digunakan adalah udang windu (P.
monodon) ukuran PL-30 dengan padat tebar 2 ekor/m2. Sebelum penebaran organisme uji dilakukan persiapan masing-masing tambak meliputi pengeringan dan pengolahan dasar tambak, perbaikan pematang tambak, pemberantasan hama dengan saponin sebanyak 1,25 kg/ha (25 kg/ha), pengapuran dengan kapur pertanian sebanyak 16 kg/petak (320 kg/ha), kapur dolomit 100 kg/petak (2.000 kg/
ha), pemupukan anorganik masing-masing pupuk urea 7,5 kg/petak (150 kg/ha), SP36 3,75 kg/petak (75 kg/ha). Pemupukan susulan dilakukan setiap 2 minggu dengan pupuk urea dan SP36 masing- masing dengan dosis 5% dari pupuk susulan.
Perlakuan yang dicobakan adalah penggunaan berbagai jenis pupuk organik pada pemeliharaan udang windu di tambak yaitu perlakuan A = kotoran ayam, perlakuan B = kotoran sapi dan perlakuan C = dedak padi masing-masing dengan dosis 100 kg/petak (2.000 kg/ha). Masing-masing perlakuan diulang 2 kali. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Peubah yang diamati adalah jenis dan kelimpahan plankton setiap 2 minggu dengan menyaring dan memadatkan contoh air tambak sebanyak 100 L menjadi 100 mL dengan menggunakan plankton net ukuran mesh size 60 mikron (No. 25). Identifikasi plankton dilakukan sampai tingkat genera dengan bantuan buku Newell & Newell (1977) dan Yamaji (1976). Kelimpahan plankton dalam contoh air selanjutnya dihitung di bawah mikroskop dengan menggunakan alat Bantu SRC (Sedgwick rafter counter cell) dengan modifikasi rumus APHA (1979).
di mana:
N =Kelimpahan fitoplankton (ind./L) T =Jumlah kotak dalam SRC (1.000) L =Luas kotak dalam satu lapang pandang P =Jumlah fitoplankton yang teramati p =Jumlah kotak SRC yang diamati V =Volume air dalam botol sampel v =Volume air dalam dalam kotak SRC W =Volume tambak air yang tersaring
Indeks keragaman fitoplankton dihitung berdasarkan berdasarkan rumus Shannon-Wiever sebagai berikut (Wilhm & Dorris, 1968 dalam Masson, 1981):
di mana:
H’ =indeks keanekaragaman Shannon-Wiever pi =ni/N
ni =jumlah individu jenis ke-i N =jumlah seluruh individu
W x 1 v x V p x P L N = T
∑
== n
1 i
pi ln pi - H'
Indeks Keseragaman dihitung sebagai berikut (Odum, 1971):
di mana:
E =indeks keseragaman H’ =indeks keragaman H’ maks =ln S
S =jumlah spesies
Indeks dominansi dihitung berdasarkan Indeks Simpson in Legendre & Legendre (1983) sebagai berikut:
di mana:
C =indeks dominansi Simpson ni =jumlah individu jenis ke-1 N =jumlah total individu
Kualitas air diamati meliputi parameter suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut, dan alkalinitas dilakukan secara in situ, sedangkan parameter nitrat, nitrit, fosfat, dan bahan organik dianalisis di laboratorium.
HASIL DAN BAHASAN
Komposisi dan Kelimpahan Plankton
Hasil pengamatan komposisi jenis dan kelimpahan individu plankton tertera pada Tabel 1 dan Lampiran 1. Pada Lampiran 1 Fitoplankton terdiri atas 5 kelas yaitu Kelas, Bacillariphyceae, Dinophyceae, Cyanophyceae, Chrysophyceae, dan Ciliata. Sedangkan zooplankton terdiri 2 kelas yaitu Crustacea dan Rotatoria.
Fitoplankton dari Kelas Bacillariophyceae memiliki jumlah genera yang paling banyak yaitu 8 genera, menyusul Kelas Dinophyceae 5 genera, Kelas Cyanophyceae 4 genera serta Kelas Ciliata dan Chrysophyceae masing-masing 1 genera. Dominansi Kelas Bacillariophyceae di tambak juga diperoleh (Amin & Mansyur, 2007; Amin, 2009). Tingginya jumlah jenis dan kelimpahan individu dari Kelas Bacillariophyceae karena memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk berkembang dan beradaptasi
H'maks
E = H'
2
N
C ni⎟
⎠
⎜ ⎞
⎝ Σ⎛
=
Tabel 1. Jumlah Jenis, kelimpahan, indeks keragaman, keseragaman, dan dominansi plankton
A B C
Jumlah jenis (genera) plankton 17 15 15
Fitoplankton 14 12 13
Zooplankton 3 3 2
Kelimpahan (ind./L) plankton 740 1048 542
Fitoplankton 616 856 364
Zooplankton 124 192 178
Indeks keragaman (H’) 1,199 1,24 1,362
Indeks keseragaman (E) 0,746 0,689 0,78
Indeks dominansi (D) 0,427 0,392 0,324
Parameter plankton Perlakuan
dengan lingkungan tambak dibanding dengan kelas lainnya. Menurut Sachlan (1982), fitoplankton dari Kelas Bacillariophyceae ini bersifat kosmopolit dan cepat berkembang. Beberapa genera fitoplankton yang memilki jumlah individu yang banyak antara lain Navicula, Nitzschia, dan Pleurosigma dari Kelas Bacillariophyceae, serta Oscillatoria dari kelas Cyanophyceae.
Zooplankton yang didapatkan selama penelitian pada Lampiran 1 diwakili oleh 2 kelas yaitu Kelas Crustacea dan Rotatoria yang masing-masing memiliki 2 dan 1 genera. Genera dari zooplank- ton yang memiliki individu paling banyak adalah Kopepoda dari Kelas Crustacea.
Jumlah jenis plankton yang diperoleh pada perlakuan A adalah 17 genera terdiri dari fitoplankton 14 genera dan zooplankton. 3 genera, perlakuan B, 15 genera terdiri 12 fitoplankton dan 3 zoop- lankton, dan perlakuan C, 15 genera terdiri atas 13 genera fitoplankton dan 2 zooplankton (Tabel 1 dan Lampiran 1). Rataan kelimpahan individu plankton selama penelitian pada perlakuan A = 740 ind./L, terdiri atas fitoplankton 616 ind./L dan zooplankton 124 ind./L, perlakuan B = 1048 ind./L terdiri fitoplankton 856 ind./L dan zooplankton 192 ind./L, perlakuan C = 542 ind./L terdiri atas fitoplankton 364 ind./L dan zooplankton 178 ind./L.
Hasil uji statistik menunjukkan perlakuan jenis pupuk organik berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap jumlah jenis dan kelimpahan individu plankton. Gambar 1 menunjukkan pola pertumbuhan plankton selama penelitian memperlihatkan bentuk yang relatif sama pada setiap waktu sampling.
Indeks Biologi Plankton
Nilai indeks biologi plankton yang diperoleh selama penelitian disajikan pada Tabel 1. Indeks biologi yang dianalisis dalam penelitian ini terdiri atas indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi (D) jenis plankton. Indeks biologi ini berfungsi untuk mengevaluasi komunitas plankton antara perlakuan. Rataan nilai indeks keragaman yang didapatkan pada perlakuan A = 1,199, perlakuan B = 1,240 dan perlakuan C = 1,362. Berdasarkan nilai Stirn (1981) menunjukkan bahwa secara umum komunitas plankton pada ketiga perlakuan ini adalah dalam keadaan moderat atau sedang. Namun Basmi (2000) menyatakan bahwa komunitas sedang atau moderat adalah kondisi komunitas yang mudah berubah yakni hanya dengan mengalami pengaruh lingkungan yang relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tambak dengan pemberian 3 jenis pupuk organik yaitu kotoran ayam, kotoran sapi, dan dedak dengan meningkat sedikit saja komunitas pollutannya, maka akan terjadi perubahan struktur komunitas yang ekstrim yang mengarah kepada indeks keragaman yang yang tidak stabil.
Indeks keseragaman plankton untuk semua perlakuan tertera pada Tabel 1 masing-masing perlakuan A dengan nilai 0,746, perlakuan B degan nilai 0,689 dan perlakuan C dengan nilai 0,780.
Gambar 1. Pertumbuhan plankton selama penelitian
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
Aw al 2 4 6 8 10
Waktu (m inggu)
Kelimpahan (ind./L)
A B C
Berdasarkan nilai ini menunjukkan bahwa komunitas plankton pada kedua perlakuan dalam keadaan stabil, di mana jumlah individu antar genera yang ada adalah sama (Lind, 1979). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi habitat tambak penelitian dengan jenis pupuk organik pada tambak udang windu dihuni oleh jenis plankton yang relatif serasi untuk pertumbuhan dan perkembangan masing-masing genera.
Kisaran indeks dominansi plankton yang diperoleh selama penelitian yaitu perlakuan A = 0,427;
perlakuan B = 0,392; dan perlakuan C = 0,324 (Tabel 1). Ketiga perlakuan memiliki nilai indeks dominansi mendekati angka 0. Penggunaan kotoran ayam, kotoran sapi, dan dedak sebagai pupuk organik tidak terdapat jumlah individu dari satu jenis plankton secara ekstrim dominan dalam populasi.
Hal ini menunjukkan bahwa ketiga perlakuan jenis pupuk organik yang dicobakan pada tambak tidak mengakibatkan terjadinya dominansi plankton. Menurut Basmi (2000), nilai indeks dominansi yang mendekati angka 0 menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas dalam keadaan stabil, kondisi lingkungan cukup prima, dan tidak terjadi tekanan ekologis terhadap biota di habitatnya.
Kualitas Air Media Budidaya
Kualitas air mempunyai peranan penting karena merupakan salah satu faktor pendukung untuk pertumbuhan dan reproduksi plankton suatu perairan. Hasil pengamatan kualitas air selama penelitian disajikan pada Tabel 2. Kisaran suhu air yang teramati pada perlakuan A, B, dan C masing-masing
28,9°C–30,1°C; 28,3°C–30,1°C; dan 28,1°C–31,0°C. Menurut Effendi (2000), kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton adalah 20°C–30°C. Kisaran pH air pada ketiga perlakuan yaitu 7,5–
8,5 masih layak untuk pertumbuhan fitoplankton sesuai yang dikemukakan oleh Boyd (1990) bahwa kebanyakan perairan alami adalah pH 5–10 dengan frekuensi 6,5–9,0. Selanjutnya kisaran hasil pengamatan salinitas pada ketiga perlakuan masing-masing yaitu 38–45, 39–45, dan 38–42. Menurut Sachlan (1982), bahwa nilai salinitas di atas 20 ppt memungkinkan fitoplankton dapat bertahan hidup, memperbanyak diri dan dapat aktif melakukan proses fotosintesis.
Konsentrasi nitrat yang diperoleh pada perlakuan A adalah 0,0056–0,2429 mg/L; dan perlakuan B adalah 0,0015–0,2199 mg/L; dan perlakuan C 0,0141–0,3286 mg/L. Menurut Mackenthum (1969), untuk pertumbuhan fitoplankton memerlukan kandungan nitrat 0,9–3,5 mg/L. Rendahnya kandungan nitrat terutama pada perlakuan B diduga karena telah dimanfaatkan oleh fitoplankton yang memiliki kandungan fitoplankton yang tinggi dibanding perlakuan A. Hasil pengukuran fosfat pada perlakuan A 0,0182–0,4380 mg/L; perlakuan B 0,0192–0,3859 mg/L; dan perlakuan C 0,0386–1,0307 mg/L.
Menurut Bruno et al. (1979) dalam Wijaya et al. (1994) bahwa pertumbuhan optimal fitoplankton dibutuhkan kandungan ortofosfat 0,27–5,51 mg/L. Kandungan fosfat yang rendah pada ketiga perlakuan ini diduga telah dimanfatkan oleh fitoplankton sebagai unsur hara yang diperlukan untuk
A B C
Suhu air (oC) 28,9-31,1 28,3-31,3 25,7-31,0
pH 7,5-8,5 7,3-8,5 7,5-8,5
O2 (mg/L) 3,0-5,9 2,9-6,4 1,6-5,9
Salinitas (ppt) 16-45 15-45 16-44
Akalinitas (mg/L) 86,4-194,4 73,44-207,36 95,04-207,36
BOT (mg/L) 15,75-42,79 22,82-45,49 24,76-42,79
Fosfat (mg/L) 0,0182-0,4380 0,0192-0,3859 0,0386-1,0307
Nitrat (mg/L) 0,0056-0,2429 0,0150-0,2119 0,0141-0,3286
Amonia (mg/L) <0,0014-1,9006 0,004-1,8339 0,0014-1,328
Nitrit (mg/L) 0,0008-0,3029 0,0008-0,1483 0,0011-0,1532
Fe (mg/L) 0,0056-0,229 0,0115-0,203 0,0062-0,306
Perlakuan Parameter Air
Tabel 2. Kualitas air tambak percobaan selama penelitian
perkembangannya. Kandungan BOT ketiga perlakuan masing-masing perlakuan A = 15,75–42,79 mg/L; perlakuan B = 22,82–45,49 mg/L; dan perlakuan C = 24,76–42,79 mg/L. Kandungan amonia ketiga perlakuan adalah perlakuan A = 0,0014–1,9006 mg/L; perlakuan B = 0,0040–1,8339 mg/L;
dan perlakuan C = 0,0014–1,3280 mg/L. Kandungan nitrit perlakuan A = 0,0008–0,3029; perlakuan B = 0,0008–0,1483 mg/L; dan perlakuan C = 0,0011–0,1532 mg/L.
KESIMPULAN
1. Jumlah individu dan jenis, indeks keragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi plank- ton relatif tidak berbeda dari ketiga perlakuan selama penelitian.
2. Komposisi fitoplankton yang diperoleh didominasi oleh Kelas Bacillariophyceae dan zooplankton didominasi oleh Kelas Crustacea.
3. Jenis fitoplankton yang memiliki jumlah individu relatif banyak adalah Navicula, Nitzschia, dan Pleurosigma, sedangkan dari jenis zooplankton adalah Copepoda.
DAFTAR ACUAN
Amin, M. & Pantjara, B. 2002. Penggunaan berbagai pupuk organik terhadap kelimpahan plankton pada bak terkontrol. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Tepat Guna Berorientasi Agribisnis Untuk Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Pertanian Wilayah. Balitbang Pertanian, hlm:
263–269.
Amin, M. & Mansyur, A. 2007. Pengaruh sistem pengelolaan air pada budidaya udang vanamei (Litopenaeus vannamei) terhadap komposisi dan kelimpahan fitoplankton di tambak. Prosiding Akuakultur Indonesia, MAI. Surabaya, hlm. 280–286.
Amin, M. 2009. Komposisi dan kelimpahan plankton pada budidaya udang vanamei (Litopenaeus vannamei) dengan waktu pemupukan susulan berbeda. Prosiding Seminar Nasional Kelautan. Univer- sitas Hang Tuah, V(2): 305–310.
Amin, M. & Jompa, H. 2009. Penggunaan Jenis Pupuk organik pada budidaya udang windu (Penaeus monodon Fabricius) di tambak, 6 hlm. (Belum dipublikasikan)
APHA (American Public Health Association). 1979. Standard method for examination of water and waste water. Fourteenth Ed. APHA-AWWA-WPVC Published. Washington D.C.
Basmi, H.J. 2000. Planktonologi: Sebagai indikator kualitas perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu kelauan, Institut Pertanian Bogor. Bogor, 60 hlm.
Boyd, C.E. 1990. Water quality in pond of aquaculture. Alabama: Alabama Aquacultural Experiment Station, Auburn University.
Dawes, C.J., 1981. Marine Botany. A Wiley Interscience Publ., 628 pp.
Effendie, M.I. 1979. Metode biologi perikanan. Cetakan Pertama. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Huet, M. 1978. Texbook of fish culture: Breeding and cultivation of fish. Fishing Press, Inc. Cueson City, Philippines, 436 pp.
Legendre, L. & Legendre, P. 1983. Numerical ecology. elsiver scientific. Publ. Co. New York.
Lind, O.T. 1979. Handbook of common method in limnology. CV. Mosby Company. St. Lois.
Mackenthum, K.M. 1969. The Practice of Water Pollution Biology. United States Departemen of Inte- rior. Federal Water Pollution Control Administration Devision of Technical Support.
Masson, C.V. 1981. Biology of water pollution. Longman Scientific and Technical Longman Singapore Publisher Ptc. Ltd. Singapore.
Newell, G.E. & Newell, R.C. 1977. Marine plankton a practical guide 5 th. edition. Hutchinson of London, 244 pp.
Odum, E.P. 1971. Fundamenal ecology. Third Edition. W.B. Saunders, Co. Philadelphia. London.
Ranoemihardjo, B.S. & Lantang. 1985. Pupuk dan teknik pemupukan tambak. Pedoman Budidaya Tambak. Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta, hlm. 185–207.
Reynolds, C.S., Tundisi, J.G., & Hino, K. 1984. Observation on a metalimnetic phytoplankton popula- tion in a stably stratified tropical lake. Arch. Hydrobiol.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. correspondence course centre. Direkorat Jenderal Perikanan,
Departemen Pertanian. Jakarta.
Setyamidjaya, D.M. 1986. Pupuk dan pemupukan. Penerbit CV Simplex. Jakarta.
Stirn, J. 1981. Manual methods in aquatic environment research . Part 8. Ecological Assessment of Pollution Effects. FAO, Rome, 70 pp.
Syarif, E.S. 1985. Kesuburan dan pemupukan tanah Pertanian. Penerbit Pustaka Buana. Bandung.
Widjaya, F., Suwingnyo, S., Yulianda, F., & Effendi, H. 1994. Komposisi jenis, kelimpahan dan penyebaran plankton laut di Teluk Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.
Yamaji, I. 1976. Illustration of the marine plankton of Japan. Hoikusha Publishing Co. Ltd.
Lampiran 1. Jenis dan rataan kelimpahan individu (ind./L) plankton selama penelitian
A B C
Fitoplankton
Kelas Bacillariophyceae
1. Navicula 390 288 3
2. Nitzschia 30 370 65
3. Pleurosigma 28 131 63
4. Amphora 20 19 18
5. Biddulphia 7 12 20
6. Coscinodiscus - 3 2
7. Chaetoceros - 5 1
Kelas Dinophyceae
8. Peridinium 3 14 8
9. Protoperidinium 10 - -
10. Massartia 1
11. Ceratium 3
12. Protocentrum 1 - -
Kelas Cyanophyceae
13. Oscillatoria 62 56 177
14. Anabaena 45 13 2
15. Gomphospaeria 8 - -
16. Calothrix - 3 1
Kelas Chrysophyceae
17. Uroglenopsis 10 - -
Kelas Ciliata
18. Tintinopsis 1 2 1
Zooplankton Kelas Krustacea
1. Kopepoda 70 136 127
2. Naupli kopepoda 4 6 -
Kelas Rotatoria
3. Brachionus 50 50 51
Perlakuan Jenis (Genera)