• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEDIA MASSA SOSIALISASI DAN ALIENASI POL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEDIA MASSA SOSIALISASI DAN ALIENASI POL"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 MEDIA MASSA, SOSIALISASI, DAN ALIENASI POLITIK

DI INDONESIA

Disini Mahasiswa Harus Peka dan Memberi Dukungan Sosial untuk Bangsa

Disusun Oleh:

Ni Putu Putri Puspitaningrum NPM: 1306379012

Mahasiswi S1 Reguler Angkatan 2013

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

(2)

2 MEDIA MASSA, SOSIALISASI, DAN ALIENASI POLITIK

DI INDONESIA

Disini Mahasiswa Harus Peka dan Memberi Dukungan Sosial untuk Bangsa

Surbakti (dalam Bayo, 2009) menyebutkan bahwa perilaku politik diartikan sebagai kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan. Wujud konkret perilaku politik dapat dilihat dari sepuluh kali pemilihan umum legislatif (pileg) yang diadakan bangsa Indonesia sejak tahun 1955 hingga 2009 (Arianto, 2011). Namun, kabar buruknya adalah perilaku politik masyarakat Indonesia sedang terganggu oleh gejala alienasi politik. Kabar buruk selanjutnya adalah bahwa alienasi politik di Indonesia dapat dikatakan dalam kondisi parah dan sangat memerlukan perhatian kita semua.

Alienasi politik yang dimaksud disini yaitu gejala yang ketika rakyat mulai tidak mengerti, tidak percaya, tidak mampu berbuat untuk mengubah keadaan,

mulai apatis, dan semakin merasa asing dengan proses-proses politik (Muluk, 2010). Sederhananya, rakyat merasa asing dengan keadaan politik di negerinya sendiri dan hal ini berdampak pada perubahan sikap, lalu bergesernya perilaku politik ke arah yang negatif. Contoh yang terlihat seperti golput.

(3)

3 Golput atau tidak menggunakan hak pilih secara sengaja hanyalah satu dari perilaku politik yang timbul akibat gejala alienasi politik. Selanjutnya, masih ada perilaku-perilaku politik lainnya yang mengabarkan bahwa alienasi politik ini adalah hal penting untuk menjadi fokus perhatian yang memerlukan kepekaan untuk diselesaikan.

Yinger, Finifter (dalam Muluk, 2010) menyebutkan ciri-ciri pokok dari adanya alienasi politik, yaitu:

a. Pertama, mulai berkembang rasa ketidakberdayaan (powerlessness) dalam masyarakat. Hal ini mulai terlihat ketika timbul rasa ragu mengenai kemampuan berbuat sesuatu untuk mengubah realitas sosial.

b. Kedua, mulai dirasakan adanya suatu ketidakbermaknaan politik (political meaningless), dalam artian semua keputusan dan proses-proses politik menjadi sesuatu yang absurd dan makin sukar diramalkan.

c. Ketiga, semakin tidak jelasnya norma-norma politik yang kita anut (perceived

political normlessness).

(4)

4 apatis, dan tidak mau tahu dengan segala hal-hal yang menyangkut kepetingan politik bersama.

Apabila kita perhatikan ciri-ciri pokok tersebut, secara mudah dapat diobservasi sendiri dalam keseharian masyarakat Indonesia. Adanya jarak antara kegiatan politik di kalangan atas dengan politik dalam masyarakat di bawahnya semakin hari semakin kentara. Contohnya, sikap apatis ketika dibuat sebuah kebijakan politik, beberapa kalangan cenderung menerima tanpa mengkritisi kebijakan tersebut.

Gejala alienasi politik inilah yang menjadi fokus bahasan penulis selanjutnya. Tujuan dari penulisan esai ini adalah untuk memberikan gambaran gejala alienasi politik yang mewarnai perilaku politik masyarakat di Indonesia. Selanjutnya, dikaitkan dengan peran media massa dan proses sosialisasi yang dapat dijadikan senjata dalam mengembalikan perilaku politik di Indonesia agar sehat kembali.

Dalam membicarakan perilaku politik tentu saja tidak lepas dari

perbincangan mengenai sikap politik karena dengan suatu sikap tertentu dapat diperkirakan tindakan apa yang akan dilakukan berkenaan dengan objek yang tertentu. Dengan demikian sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi baru merupakan kecenderungan atau pre-disposisi. Sikap tersebut dapat terbentuk melalui tiga hal, yaitu aspek kognisi, afeksi, dan konatif. Sikap politik ini pun dipengaruhi oleh gambaran-gambaran keberlangsungan dunia politik di Indonesia. Hal yang sering ditampilkan di depan rakyat adalah pertandingan politik untuk memperebutkan kekuasaan.

(5)

5 kebijakan publik dengan dalih “pemerintah saja melanggar”. Muluk (2010) menyebutkan bahwa sikap dan perilaku itu dapat berarti cerminan rasa lelah, rasa ketidakberartian (meaningless), ketidakmenentuan (normlessness), dan rasa keterasingan (isolation).

Dalam ilmu psikologi politik gejala yang dirasakan seperti ada jarak yang sangat lebar antara proses politik yang terjadi di tingkat elit politik dengan perilaku politis di bawahnya disebut sebagai keterasingan politik atau alienasi politik. Secara lebih operatif, Yinger (dalam Muluk, 2010) mendefinisikan alienasi politik sebagai suatu bentuk kehilangan keterhubungan (loss of a

relationship), kehilangan rasa partisipatif (loss of participation), dan kehilangan kemampuan mengendalikan (loss of control) dalam kaitannya dengan proses sosial politik.

Muluk (2010) menyebutkan bahwa ada beberapa bahaya yang timbul ketika gejala alienasi politik ini sudah mewabah di Indonesia, yaitu:

a. Sukarnya mendorong partisipasi politik yang lebih tinggi dan konstruktif. Penelitian Templeton menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara

alienasi politik dan tingkat partisipasi politik. Kondisi alienasi politik yang tinggi cenderung mengakibatkan proses penarikan diri (withdrawal) terhadap aktivitas politik nasional.

b. Meningkatnya ketidakpercayaan politik (political un trust).

c. Dukungan terhadap keberlanjutan (political support & political sustainability) bisa terancam. Tentunya ketiadaan dukungan terhadap keberlanjutan suatu sistem politik suatu negara merupakan problem yang serius, itu sama artinya dengan bubar-nya sistem politik suatu negara.

Bahaya-bahaya tersebut sudah dapat terlihat pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku individu dalam ranah politik itu sendiri. Lalu? Bagaimana cara mereduksi bahkan meniadakan gejala alienasi politik ini agar perilaku politik menjadi sehat kembali?

(6)

6 salah satu aspek dari perilaku secara umum karena disamping perilaku politik masih ada perilaku yang lain seperti perilaku ekonomi, perilaku kultural, perilaku keagamaan, perilaku sosial dan sebagainya (Bayo, 2009). Perilaku politik ini pun dipengaruhi oleh beberapa hal. Dua diantaranya yang akan dibahas disini adalah media massa yang memberi efek kognitif dan proses sosialisasi yang memberi efek afektif serta konatif. Dua hal ini bisa jadi membentuk alienasi politik dan bisa jadi mereduksi gejala keterasingan tersebut. Tinggal pilihan mana yang ingin diwujudkan dan pilihan mana yang ingin disudahi.

Pada prinsipnya segala interaksi antara pemerintah dan masyarakat, antar lembaga pemerintah dan antara kelompok dan individu dalam masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksanaan dan penegakan keputusan politik merupakan perilaku politik (Bayo, 2009). Perlu ditekankan bahwa, bukan hanya dalam pemilu saja perilaku politik itu terwujud karena perilaku politik mewujud dalam berbagai macam bentuk. Newton & Van Deth (dalam Bayo, 2009) menyebutkan bahwa membaca surat kabar, perbincangan mengenai topik-topik politik serta bergabung dengan voluntary organization yang tidak memainkan

peran politis pun merupakan bagian dari perilaku politik. Secara umum, Bayo (2009) menjelaskan anekaragam bentuk perilaku politik dapat dibedakan kedalam dua jenis:

a. Conventional Political Behavioral.

Aktivas voting, membaca surat kabar, menyaksikan berita di televisi, berdiskusi tentang tema-tema politik, bergabung dengan political group (voluntary organization, partai politik, atau new social movement), terlibat sebagai badan penasihat dalam public services, menghadiri rapat, menghadiri demonstrasi, membangun jaringan dengan media maupun public official, menyumbangkan uang, menjadi volunteer dalam kegiatan politik, mendirikan political office, maupun bekerja di political office adalah merupakan bentuk dari perilaku politik yang konvensional.

b. Unconventional Political Behavioral.

(7)

7 tertentu, protes, civil disobedience, melanggar aturan untuk suatu alasan politis, dan kekerasan politik.

Seperti yang telah dibicarakan di atas bahwa dalam konteks masyarakat yang majemuk atau plural, perilaku politik individu akan sangat dipengaruhi oleh produksi faktor-faktor sosial, ekonomi, psikologi, sejarah, politik, budaya maupun geo-politik dimana individu dalam suatu masyarakat tersebut berada (Bayo, 2009). Nampak bahwa perilaku politik individu bukan saja melulu diputuskan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan politis namun juga sangat dipengaruhi oleh faktor faktor yang bersifat non-politis. Di samping itu, faktor kesadaran politik dan kepercayaan terhadap sistem politik juga seringkali menjadi pertimbangan seseorang dalam menentukan pilihan politiknya.

Pendekatan psikologis dalam mengkaji perilaku politik dikembangkan di Amerika Serikat melalui Survey Research Centre Michigan University, dan dipelopori oleh August Campbell. pendekatan ini mencoba menjelaskan aspek psikologis seseorang yang memberikan pengaruh kepadanya didalam menentukan

pilihan politik seseorang. Bayo (2009) menjelaskan bahwa sikap ini juga bukan merupakan suatu proses yang instan, melainkan melalui proses sosialisasi yang panjang Sedangkan kondisi psikologis itu sendiri merupakan produksi dari proses sosialisasi. Lebih jauh, pendekatan ini juga menempatkan pengaruh signifikan dari dalam diri pemilih yakni peta kognisi tentang realitas sosial politik (bagaimana pemilih memiliki gambaran mengenai dunia politik di sekitarnya) (Bayo, 2009).

(8)

8 Sarwono dan Meinarno (2009) menjelaskan bahwa dalam perilaku individu itu sendiri, ada tiga komponen dasar, yakni (a) Komponen kognisi (konseptual) yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan dan keyakinan terhadap obyek sikap. (b) Komponen perasaan (emosional) yang berkaitan dengan perasaan suka atau tidak suka terhadap obyek sikap. (c) Komponen konasi (perilaku), merupakan kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek sikap. Komponen-komponen tersebut saling berinteraksi dan membentuk perilaku individu. Komponen-komponen inilah yang selanjutnya dapat menjadikan media massa dan proses sosialisasi dapat mempengaruhi perilaku politik masyarakat Indonesia dan gejala alienasi politik seperti yang disebutkan di atas. Media masa dan proses sosialisasi dapat membentuk alienasi dan dapat juga mereduksi alienasi.

Merujuk pada ketiga komponen yang membentuk sikap seseorang tersebut, ketiga komponen tersebut juga dipengaruhi oleh media massa (Atmosukarto, 1999).

a. Komponen kognisi

Efek kognitif adalah efek pertama yang dirasakan seseorang setelah

terkena terpaan media massa. Efek ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

Pertama, ambiguity resolution yaitu adanya ketidakjelasan yang berkembang dalam masyarakat. Media pada satu saat justru dapat menambah ambiguitas tersebut sehingga mendorong khalayaknya memerlukan informasi lebih banyak. Pada saat seperti ini, medialah yang paling berperan mendefinisikan situasi dalam masyarakat. Apabila media dapat menyejikan berita dengan cara yang benar dan tidak ambigu, maka alienasi politik itu dapat dicegah.

(9)

9 Ketiga, expansion of belief system, yaitu informasi yang diperoleh memungkinkan perluasan wawasann teruatama dalam hal kepercayaan serta politik. Berkat informasi yang diperoleh kepercayaannya dimungkinkan bertambah atau dapat sebaliknya.

Keempat, value clarification, yaitu klarifikasi nilai-nilai yang dianut. Misalnya terjadi ketika media meliput pertentangan dalam politik. Efek positifnya adalah khalayak termotivasi untuk refleksi diri. Namun, apabila cara penyajiannya terlalu ekstrem dapat menciptakan phobia politik bagi khalayak umum.

b. Komponen perasaan (emosional) adalah efek-efek yang berkaitan dengan perasaan atau tanggapan-tanggapan emosional.

Pertama, desensitization, yaitu kehilangan sensitifitas. Bentuk dari efek ini adalah hilangnya kepekaan seseorang terhadap orang lain, termasuk

hilangnya kepekaan terhadap situasi politik.

Kedua, fear and anxiety. Contoh nyata terkait politik adalah ketika seseorang mendengar kecurangan-kecurangan dalam politik, ia menjadi takut menggunakan hak pilihnya dalam pemilu dan memilih tidak andil dalam apapun saat proses pemilihan.

Ketiga, Morale and alienation, yaitu segala gambaran yang ditunjukkan dalam media massa akan dianggap khalayak sebagai nilai-nilai yang harus dianut dalam keseharian. Selanjutnya, akan menimbulkan perasaan kebersamaan atau malah antipati kepada orang lain. Mereka yang se-ras, se-gender, atau satu profesi akan semakin erat atau malah makin renggang hubungannya dengan orang lain (alienasi).

(10)

10 Pertama, activation, yaitu media massa pun dapat membentuk suatu perilaku. Hal ini terjadi ketika masyarakat mendapat jawaban dari setiap keraguan yang muncul. Contohnya, ketika disiarkan tentang kebijakan politik reklamasi Tanjung Benoa, masyarakat mulai mebentuk gerakan-gerakan tolak reklamasi.

Kedua, deactivation. Sebaliknya, media massa juga dapat menghentikan suatu perilaku tertentu karena mendapat jawaban dari keraguan yang sempat muncul. Contohnya, seseorang yang tidak jadi memberikan hak suaranya karena setelah menonton televisi menganggap bahwa calonnya tidak layak untuk diberikan suara.

Terpaan media massa menunjukkan seberapa besarnya pengenaan khalayak terhadap media massa (Atmosukarto, 1999). Media massa, dalam hal ini televisi dipercaya memiliki kekuatan yang luar biasa mampu men”duduk”kan audiensnya dan keep on watching selama berjam-jam. Rochimah (2009) menyebutkan bahwa

media berperan sebagai pembawa informasi/ stimuli yang selanjutnya ditransformasikan kepada khalayak; dan beberapa bagian dari proses transformasi sebagian besar berkaitan dengan informasi pemilihan umum. Secara spesifik, orang yang mempunyai orientasi berbeda akan memberikan perhatian yang juga berbeda terhadap informasi-informasi tentang politik dari media massa.

Namun, media massa saja tidak cukup dalam mempengaruhi perilaku politik seseorang karena media harus berkolaborasi dengan proses sosialisasi. Mengapa?

(11)

11 Sosialisasi didefinisikan sebagai proses dimana masing-masing individu mempelajari serta menetapkan perannya sebagai anggota sistem kemasyarakatan (Atmosukarto, 1999). Proses ini termasuk juga proses dimana anggota mengenal ekspetansi atau harapan serta mempelajari tingkah laku, pengetahuan serta kemampuan yang dibutuhkan untuk memenuhi harapan dari masyarakat sekitar. Sosialisasi sendiri berlangsung melalui proses interaksi. George McCall dan J.L. Simmons (dalam Atmosukarto, 1999) menjelaskan bahwa interaksi berlangsung bersama dengan proses rekrutmen, sosialisasi, inovasi, dan kontrol atau mengubah sistem sosial. Sosialisasi menyangkut proses yang panjang serta menyangkut berbagai pihak, termasuk sosialisasi politik itu sendiri, seperti pemerintah, keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.

Dari berbagai sumber sosialisasi inilah, khalayak mendapat informasi politik, mulai dari ragam perilaku politik, baik secara formal maupun perilaku yang seharusnya (Atmosukarto, 1999). Masing-masing agen sosialisasi memiliki kekuatan pengaruh yang berbeda-beda. Dalam situasi tertentu kekuatan dan pengaruh agen keluarga yang paling besar, di lain kondisi bisa jadi pengaruh

media massa yang lebih besar.

Media massa pun turut serta dalam menanamkan nilai-nilai atau perilaku tertentu, termasuk perilaku politik dan alienasi politik itu sendiri. Namun, patut diingat bahwa pengaruh media massa jarang sekali terjadi secara langsung, terutama ketika agen sosialisasi lain ikut serta mempengaruhi khalayak tersebut melalui komunikasi interpersonalnya (Atmosukarto, 1999). Dalam bidang politik sendiri, contohnya adalah ketika seorang remaja dihadapkan pada informasi serta pandangan-pandangan politik tertentu, yang akan turut dikomentari serta dinilai oleh keluarga atau kawan-kawannya. Sosialisasi menjadi hal utama yang mempengaruhi sikap terhadap pandangan tersebut dan media massa adalah faktor penambah yang akan akan banyak bergerak pada efek kognitif. Sehingga dua hal ini menjadi rekomendasi penulis untuk dijadikan media dalam mereduksi alienasi politik itu sendiri.

(12)

12 Indonesia. Hal ini dapat dimulai oleh mahasiswa, terutama mahasiswa psikologi yang belajar mengenai psikologi sosial. Mengapa?

Alienasi politik dapat terbentuk oleh media massa dan sosialisasi, di sisi lain, alienasi politik ini juga dapat disudahi dengan kekuatan dua faktor itu. Aspek kognitif, afektif, dan konatif yang membentuk sikap masyarakat dalam berpolitik dapat dipengaruhi oleh media massa dan sosialisasi. Satu hal yang diperlukan lebih lanjut adalah pikiran yang kritis dan kreativitas. Hal inilah yang menjadi nilai plus dari mahasiswa itu sendiri, terutama mahasiswa psikologi yang erat dengan pemahaman mengenai perilaku manusia.

Melalui media massa, mahasiswa dapat menuliskan hal-hal yang perlu dan masih bisa diperbaiki sehingga rakyat yakin bahwa pilihannya memiliki andil besar dalam pengembangan bangsa ini. Selanjutnya, melalui sosialisasi. Seperti yang telah dilakukan Kastrat BEM Psikologi dan instansi lainnya dalam memupuk semangat untuk menggunakan hak pilih, hal ini pula yang perlu diterapkan di lingkungan luar kampus karena masyarakat, terutama yang kalangan bawah, masih haus dukungan sosial dalam berperilaku politik yang seharusnya.

Tayangan di media massa masih cenderung memberikan gambaran bobroknya perpolitikan kita sedangkan motivasi untuk berbuat dan memperbaiki itulah yang sebenarnya diperlukan. Jangan sampai alienasi politik itu berkembang lebih jauh menjadi learned helplessness of politic dimana rakyat bukan hanya punya jarak dengan politik, tetapi sudah sampai pasrah menerima segala kebijakan yang ada. Tentu saja ini bukan lagi menjadi negara demokrasi, bukan juga negara liberal, melainkan negara patung, yang bentuknya dibuat dan kayunya rela saja dibentuk semaunya oleh pemahat, yaitu aktor politik di tingkat atas.

Suntikan-suntikam ini yang diperlukan oleh masyarakat. Dukungan sosial menjadi satu hal yang dapat meredakan kehausan masyarakat akan motivasi untuk berperilaku politik. Dukungan itu dapat disalurkan melalui media massa dan sosialisasi. Lahey (dalam Dianah, 2011) mendefinisikan dukungan sosial sebagai the role played by friends and relatives providing advice, assistance, and

(13)

13 Cohen dan Willis (dalam Dianah 2011) mengemukakan empat jenis dukungan sosial, yaitu:

a. Esteem Support atau dukungan penghargaan, yaitu adanya informasi diri dimana individu tetap merasa dihargai dan diakui kemampuannya serta tetap diterima walau sedang mengalami keadaan yang tidak menyenangkan. Hal ini seperti suntikan motivasi yang dapat disalurkan oleh mahasiswa kepada rakyat bahwa masih ada rakyat adalah sebuah potensi dengan kemampuan besar dalam menyusun arah politik negara ini.

b. Informational Support, yaitu adanya informasi tentang strategi terbaik menghadapi suatu kejadian yang tidak menyenangkan. Tentu saja rakyat tidak hanya butuh tahu kriminalitas terkait politik di Indonesia, rakyat juga perlu dibuka pikirannya tentang strategi untuk menghadapi segala hal buruk dalam dunia politik itu. Hal ini juga dapat disalurkan melalui tulisan di media massa. c. Social Companionship, yaitu adanya aktivitas sosial dalam hubungan sosial

yang menyenangkan sehingga seseorang dapat mengalami penurunan stress melalui afiliasi dengan orang lain. Hal ini dapat disalurkan oleh mahasiswa

melalui sosialisasi kepada masyakarakat luas.

d. Instrumental Support, yaitu dukungan sosial yang lebih bersifat material/finansial. Ini dapat digunakan misalnya ketika proses pemilu, seperti TPS yang nyaman dan lain-lain.

Segala bentuk dukungan sosial di atas dapat digunakan mahasiswa dengan memanfaatkan kekuatan media massa dan proses sosialisasi. Sehingga, dukungan-dukungan tersebut dapat menyentuh aspek kognitif, afektif, dan konatif dari masyarakat itu sendiri. Ketika dukungan sosial terkait perilaku politik tersebut datang dari mahasiswa, maka rakyat seakan memiliki harapan yang cerah karena generasi muda terlihat peduli kepada negara dan rakyat di dalamnya. Dukungan sosial ini pun termasuk bentuk perilaku politik yang mempengaruhi perilaku politik lainnya dan tentu saja dimaksudkan untuk mereduksi adanya alienasi politik di Indonesia.

(14)
(15)

15 DAFTAR PUSTAKA

Arianto, Bismar. (2011). Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Memilih dalam Pemilu. Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, 1, 51−60. Diunduh dari

http://fisip.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2012/03/JURNAL-ILMU-PEMERINTAHAN-BARU-KOREKSI-last_57_66.pdf

Atmosukarto, I. I. (1999). Skripsi Efek Media Kongnitif, Afektif, dan Konatif karena Pengaruh Terpaan Media Massa dan Sosialisasi. Depok: Universitas Indonesia.

Bayo, L. N. (2009). Memahami Political Behavior: Sebuah Pengantar. Jurnal Komunikator, 1, 23−40. Diunduh dari http://www.umy.ac.id/fakultas-ilmu-sosial-ilmu-politik/wp-content/uploads/2011/07/pensil.pdf

Dianah, Amalia. (2011). Dukungan Sosial dan Konsep Diri Pekerja Anak. Diunduh dari

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/47296/I11adi.pdf?seq uence=1

Muluk, Hamdi. (2010). Mozaik Psikologi Politik Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Rochimah, T. H. N. (2009). Pentingnya Memahami Perilaku Politik dalam Political Marketing. Jurnal Komunikator, 1, 1−22. Diunduh dari

http://www.umy.ac.id/fakultas-ilmu-sosial-ilmu-politik/wp-content/uploads/2011/07/pensil.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sosialisasi komunikasi politik melalui media massa Pasangan Mochtar Mohammad-Rahmat Effendi dalam Pilkada Walikota Bekasi Periode

Dalam hal ini pejabat atau pemerintah dapat memanfaatkan media massa sebagai alat politik untuk menimbulkan opini baru di masyarakat sehingga kepentingan pemerintah

Dalam konteks ini, sekalipun melakukan pengutipan langsung ( direct quotation ) atau menjadikan seorang komunikator politik sebagai sumber berita, media

Digunakannya media massa sebagai instrumen untuk mengkomunikasikan ide, pesan, dan program kerja politik adalah karena kenyataan bahwa media dapat dipakai untuk menyampaikan

Dampak negatif yang ditimbulkan media massa beraneka ragam, diantaranya terjadinya perilaku menyimpang dari norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya

Berdasarkan beberapa gejala yang telah disebutkan di atas, maka media massa dengan landasan etis ordo amoris sepatutnya dapat meningkatkan hubungan interpersonal maupun

Komunikasi politik merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari budaya politik dan sosialisasi politik. Bila kita berbicara tentang budaya politik dan

Dengan kata lain, tidak ada campur tangan lain (termasuk penyelenggara media massa, dan kekuatan politik dan ekonomi), yang dapat memanipulasi warga masyarakat untuk tujuan yang