RENCANA KERJA DAN SYARAT
–
SYARAT (RKS)
PEKERJAAN PEMBANGUNAN PAGAR KANTOR,
HALAMAN DAN POS JAGA KANTOR
BAB XII
SPESIFIKASI TEKNIS
1. URAIAN UMUM 1.1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah : Pekerjaan Pembangunan Pagar Kantor dan Halaman Kantor Pengadilan Negeri Klas 1 A Kupang
1.2. Pelaksanaan pekerjaan harus mengacu pada : a. Rencana kerja dan syarat-syarat
b. Bestek, detail dan gambar kerja c. Risalah Aanwizjing
d. Keputusan Direksi lapangan
1.3. Apabila terjadi perbedaan teknis/ persepsi tentang pelaksanaan maka diharuskan berkonsultasi dan persetujuan pihak Direksi
1.4. Pemborong diharuskan menyerahkan contoh material/ bahan/ barang sebelum digunakan/ dipasang di lapangan
2. LINGKUP PEKERJAAN 2.1. Pekerjaan yang dilaksanakan meliputi
pengadaan material, tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan yang termasuk dalam kontrak 2.2. Lingkup pekerjaan adalah :
a. Pekerjaan Bangunan Standar a. Pekerjaan Persiapan b. Pekerjaan Struktur :
I. Struktur Lantai c. Pekerjaan Arsitektur
I. Pekerjaan Lantai Dasar II. Pekerjaan Lantai 2 (Dua) III. Pekerjaan Exterior
d. Pekerjaan Mekanikal dan Eletrikal I. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal II. Pekerjaan Plumbing dan Sanitary
3. SITUASI 3.1. Lokasi Pembangunan Gedung Kantor Pengadilan Negeri Kelas IA Kupang adalah :
Jalan Pala – Kota Kupang
a. Pembangunan Pagar Kantor dan Halaman, pos jaga Kantor Pengadilan Negeri Klas 1 A Kupang
3.3. Pada saat Aanwizjing lapangan lokasi akan ditunjukan pekerjaan yang akan dilaksanakan, Kontraktor wajib meneliti situasi Tapak, terutama keadaan tanah, sifat dan luasnya pekerjaan, dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi harga penawaran. untuk itu setiap rekanan diharuskan meneliti dengan seksama setiap detail bangunan rencana
3.4. Ukuran luas tersebut dalam pasal 1 ayat-ayat terdahulu dimaksudkan sebagai garis besar/ prinsip/ patokan pelaksanaan dan pegangan Kontraktor.
3.5. Kontraktor harus sudah memperhitungkan segala kondisi yang ada (Existing) di Tapak yang meliputi antara lain, pepohonan, saluran drainase, pipa, kabel dibawah tanah dan lain sebagainya yang dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
3.6. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan harus dilakukan pembongkaran ataupun pemindahan hal-hal tersebut diatas, maka Kontraktor diwajibkan memperbaiki kembali, atau menyelesaikan pekerjaan tersebut sebaik mungkin tanpa mengganggu system yang ada.
3.7. Didalam kasus ini Kontraktor tidak dapat
mengajukan “klaim” biaya pekerjaan tambah,
sebelum melakukan pemindahan/
pembongkaran segala sesuatu yang ada di lapangan, Kontraktor diwajibkan melaporkan dahulu ke Konsultan Pengawas/Direksi.
3.9. Lahan bangunan akan diserahkan kepada pemborong dengan kondisi seperti pada saat Aanwizjing lapangan, seluruh biaya yang dikeluarkan untuk meneliti dan meninjau lapangan adalah menjadi tanggung jawab sepenuhnya pihak rekanan. dalam cm (centi meter) untuk ukuran baja dalam mm atau inch
4.2. Permukaan atas lantai keramik (P + 0,00) adalah 100 cm dari tanah setelah ukuran tanah hasil timbunan, kecuali ditetapkan lain pada saat rapat penjelasan pekerjaan (sesuai gambar rencana)
4.3. Ukuran penduga dari Pipa dia 2” setinggi 100 cm dari muka tanah asli, yang dilakukan dengan cor beton untuk pondasinya. Ukuran penduga tersebut merupakan titik pikat tetap yang harus dibuat pemborong sesuai arahan Direksi.
4.4. Mengukur letak bangunan
Ketentuan letak bangunan harus dibawah arahan dan pengawasan pihak Direksi, pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur THEODOLITE dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan dalam pengukuran
4.5. Kontraktor harus menyediakan pembantu yang ahli dalam cara-cara mengukur, alat-alat penyipat datar (Theodolit, Waterpass), prisma silang pengukuran menurut kondisi dan situasi tanah bangunan, yang selalu berada di lapangan.
4.6. Perbedaan antara gambar Kerja Dokumen dengan keadaan di lapangan harus dilaporkan kepada Konsultan Pengawas/Direksi, selanjutnya Konsultan Pengawas/Direksi berkonsultasi dengan Konsultan Perencana.
4.7. Tidak dibenarkan Kontraktor mengambil tindakan tanpa sepengetahuan Konsultan Pengawas/ Direksi.
5. DIREKSI KEET/ LOS KERJA
5.1. Pada awal pelaksanaan pekerjaan tahap pertama berlangsung, pemborong telah menyiapkan bangunan sementara yang berfungsi sebagai kantor proyek dan atau los kerja yang dipergunakan sebagai operasional kantor dan tempat menyimpan barang/ material, peralatan maupun dapat digunakan sebagai los kerja bagi tempat tinggal sementara tenaga kerja
5.2. Bangunan sementara ini masih terus dapat difungsikan untuk pelaksanaan pekerjaan tahap III.
6. GAMBAR-GAMBAR DOKUMEN
6.1. Rencana Kerja dan syarat-syarat ini (RKS) dilampiri
a. Gambar Site Plan
b. Gambar Kerja Struktur ( SI ) c. Gambar Kerja Arsitektur ( AR )
7. PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN
a. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia atau Algemene Voorwarden voor de Uitvoering bij Aaneming vanoenbare Werken (AV) 1941.
b. Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitasi Teknik dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia.
c. Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
d. Peraturan Beton bertulang Indonesia NI – 2 PBI 1971.
e. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia NI 5 PKKI. f. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja
Indonesia PPBI 1984.
g. Peraturan Muatan Indonesia PMI.
h. Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia NI – PUBI 1970.
i. Peraturan Umum Listrik Indonesia PUIL 1979 dan Peraturan PLN setempat.
j. SK SNI No. T – 15 – 1991 – 03.
k. Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir Indonesia PUIPP.
l. Pedoman Plumbing Indonesia PPI 1979. m. Persyaratan Cat Indonesia NI – 4.
n. Peraturan Kapur Indonesia NI – 7.
o. Peraturan Semen Portland Indonesia NI – 8. p. Peraturan Bata merah sebagai bahan
bangunan NI – 10.
r. Untuk melaksanakan Pekerjaan ini, berlaku dan mengikat pula :
Gambar Kerja yang dibuat oleh Konsultan Perencana dan disahkan oleh Pemberi Tugas termasuk pula Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing) yang diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah disahkan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/Direksi.
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
Gambar dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (AANWIJZING).
Berita Acara Penunjukan.
Surat Keputusan Pemimpin Pelaksana tentang Penunjukan Kontraktor.
Surat Perintah Kerja (SPK).
Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas/Direksi dan Pemberi
8. PENJELASAN RKS DAN GAMBAR
8.1. Kontraktor wajib meneliti semua gambar kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS); termasuk tambahan dan perubahannya dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan yang dibantu Konsultan Pengawas/Direksi.
8.2. Ukuran.
Pada dasarnya semua ukuran utama yang tertera dalam Gambar Kerja meliputi :
As - As
Luar - Luar
Dalam - Dalam
8.3. Perbedaan Gambar.
a. Bila Gambar Kerja tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), maka yang mengikat/berlaku adalah Gambar.
b. Bila suatu Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain dalam satu disiplin kerja, maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang berlaku/mengikat.
c. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Struktur, maka yang berlaku/ mengikat adalah Gambar Kerja Arsitektur sepanjang tidak mengurangi segi Konstruksi
8.4. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing).
a. Gambar Detail Pelaksanaan atau Shop Drawing adalah Gambar Kerja yang wajib dibuat Kontraktor berdasarkan Gambar Kerja Dokumen yang telah disesuaikan dengan keadaan lapangan.
c. Dalam Shop Drawing ini harus dicantum Konsultan Pengawas/Direksi dan
digambarkan semua data yang
diperlukan termasuk pengajuan contoh jadi dari semua bahan, keterangan produk, cara pemasangan dan atau spesifikasi/ persyaratan khusus seuai dengan spesifikasi pabrik yang belum tercakup secara lengkap didalam
Gambar Kerja Dokumen maupun
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
d. Kontraktor wajib mengajukan Shop
Drawing kepada Konsultan
Pengawas/Direksi dan Konsultan
Perencana untuk mendapatkan
persetujuan tertulis bagi pelaksanaan.
e. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran yang tercantum didalam gambar Kerja
Dokumen tanpa sepengetahuan
Konsultan Pengawas/Direksi.
Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab Kontraktor, baik dari segi biaya maupun waktu pelaksanaan.
9. JADWAL
PELAKSANAAN
9.1 Sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat rencana kerja pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar Chart & S-Curve Bahan dan Tenaga dan mengkoordinasikan hasilnya kepada Konsultan Pengawas/Direksi, sehingga pelaksanaan pekerjaan terkendali dan tidak mengganggu kelancaran proyek secara keseluruhan dan kelancaran kegiatan di sekitar lokasi pekerjaan.
9.3. Rencana Kerja yang disetujui oleh Konsultan Pengawas/Direksi, akan disahkan oleh Pemberi Tugas.
9.4. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja rangkap 4 (empat) kepada Konsultan Pengawas/Direksi, 1 (satu) salinan Rencana Kerja harus ditempel pada bangsal Kontraktor di lapangan yang selaluy diikuti dengan grafik kemajuan pekerjaan/prestasi kerja.
9.5. Konsultan Pengawas/Direksi akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan Rencana Kerja tersebut.
10. KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN
10.1. Di lapangan pekerjaan, Kontraktor/Pemborong
„wajib‟ menunjuk seorang Kuasa Kontraktor atau biasa disebut „Pelaksana‟ yang cakap dan ahli
untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan mendapat kuasa penuh dari Kontraktor/Pemborong, berpendidikan minimal sarjana teknik sipil atau sederajat dengan pengalaman minimum 5 (lima) tahun, atau STM jurusan Bangunan dengan pengalaman minimum 10 (sepuluh) tahun.
10.2. Dengan adanya „Pelaksana‟ tidak berarti bahwa Kontraktor/Pemborong lepas tanggung jawab sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya.
10.3. Kontraktor/Pemborong wajib memberi tahu secara tertulis kepada Tim Pengelola Teknis Wilayah dan Konsultan Pengawas/Direksi, nama
dan jabatan „Pelaksana‟ untuk mendapat
persetujuan.
10.4. Bila dikemudian hari menurut Tim Pengelola Teknis Wilayah dan Konsultan Pengawas/Direksi bahwa
„Pelaksana‟ dianggap kurang mampu atau tidak
cukup cakap memimpin pekerjaan, maka akan diberitahukan kepada Kontraktor/Pemborong
10.5. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkan surat pemberitahuan, Kontraktor/Pemborong
harus sudah menunjuk „Pelaksana‟ yang baru
atau Kontraktor/Pemborong sendiri (penanggung jawab/Direktur Perusahaan) yang akan memimpin pelaksanaan pekerjaan.
11. TEMPAT TINGGAL (DOMISILI)
KONTRAKTOR
11.1. Untuk menjaga kemungkinan kerja diluar jam kerja apabila terjadi hal-hal yang mendesak, Kontraktor dan Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis alamat dan nomor telepon di lokasi kepada Tim Pengelola Teknis setempat dan Konsultan Pengawas/Direksi.
11.2. Kontraktor wajib memasukan identifikasi dan alamat Bengkel Kerja (Workshop) dan peralatan yang dimiliki dimana pekerjaan pemborongan akan dilaksanakan.
11.3. Alamat Kontraktor dan pelaksana diharapkan tidak berubah selama pekerjaan. Bila terjadi perubahan alamat Kontraktor dan Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis.
12. PENJAGA KEAMANAN LAPANGAN
12.1. Kontraktor diwajibkan menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang milik proyek, Konsultan Pengawas/Direksi dan milik Pihak Ketiga yang ada dilapangan.
12.2. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan
yang telah disetujui Konsultan
Pengawas/Direksi/Konsultan Perencanaan, baik yang telah dipasang maupun yang belum, adalah tanggung jawab Kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya pekerjaan tambah.
12.3. Apabila terjadi kebakaran, Kontraktor bertanggungjawab atas akibatnya, baik yang berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu Kontraktor diwajibkan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap ditempatkan yang akan ditetapkan kemudian oleh Konsultan Pengawas/Direksi.
13. JAMINAN DAN
KESELAMATAN KERJA
13.1. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan dilapangan, untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja dilapangan.
13.2. Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi semua petugas yang ada dibawah kekuasaan Kontraktor.
13.3. Kontraktor wajib menyediakan air bersih, Kamar Mandi dan WC yang layak dan bersih bagi semua petugas dan pekerja.
13.4. Tidak diperkenankan, membuat penginapan didalam lapangan pekerjaan untuk Pekerja, kecuali untuk penjaga keamanan.
13.5. Kontraktor Pelaksana Wajib Menjaga Keselamatan seluruh personil yang terlibat di dalamnya
13.6. Segala hal yang menyangkut jaminan social dan keselamatan para pekerja wajib diberikan oleh Kontraktor sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
14. ALAT-ALAT PELAKSANAAN
14.1 Semua alat-alat untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan oleh Kontraktor, sebelum pekerjaan fisik dimulai, dalam keadaan baik dan siap pakai, antara lain :
a. Beton molen yang akan ditentukan kemudian oleh Konsultan Pengawas/Direksi. b. Theodolit dan Waterpass yang telah diijinkan
oleh Konsultan Pengawas/Direksi.
c. Perlengkapan penerangan untuk kerja lembur.
d. Pompa air sesuai kebutuhan untuk system pengeringan, jika diperlukan.
e. Penggetar beton yang jumlah dan tipenya akan ditentukan kemudian oleh Konsultan Pengawas/Direksi.
f. Mesin Pemadat.
15. PEMERIKSAAN BAHAN DAN KOMPONEN JADI
15.1 Semua bahan dan material dan komponen jadi yang didatangkan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam buku RKS ini.
15.2. Konsultan Pengawas/Direksi berwenang menanyakan asal bahan/material dan komponen jadi, dan Kontraktor wajib memberi tahu.
15.3. Contoh bahan/material dan komponen jadi yang akan digunakan harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas/Direksi dan Konsultan
Perencana untuk mendapatkan “standard of appearance”. Paling lambat waktu penyerahan
contoh bahan adalah 2 (dua) minggu sebelum jadwal pelaksanaan. Keputusan bahan, jenis, warna, tekstur, dan produk yang dipilih; akan diinformasikan oleh Konsultan Pengawas/Direksi kepada Kontraktor selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari dari kalender setelah penyerahan contoh bahan tersebut.
15.4. Semua bahan/material dan komponen jadi harus disetujui secara tertulis oleh Konsultan Perencana/Konsultan Pengawas/Direksi sebelum dipasang.
15.5. Bahan/material dan komponen jadi yang telah didatangkan oleh Kontraktor dilapangan pekerjaan tetapi ditolak pemakaiannya oleh Konsultan Pengawas/Direksi harus segera dikeluarkan dari lapangan pekerjaan selambat-lambatnya dalam waktu 2x24 jam terhitung dari jam penolakan.
15.6. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan/material dan komponen jadi harus sesuai dengan persyaratan dari pabrik pembuat, dan atau sesuai dengan spesifikasi bahan tersebut.
16. PEMERIKSAAN HASIL PEKERJAAN
16.2. Sebelum memulai pekerjaan lanjutan yang apabila bagian pekerjaan ini telah selesai, akan tetapi belum diperiksa oleh Konsultan Pengawas/Direksi, Kontraktor diwajibkan meminta persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi. Baru apabila Konsultan Pengawas/Direksi telah menyetujui bagian pekerjaan tersebut, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya.
16.3. Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam dihitung dari jam diterimanya Surat Permohonan Pemeriksaan, maka Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang seharusnya diperiksa dianggap telah disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Hal ini dikecualikan bila Konsultan Pengawas/Direksi minta perpanjangan waktu.
7. PEKERJAAN TAMBAH KURANG DAN
PERSIAPAN PEKERJAAN
17.1. Pekerjaan Tambah Kurang.
a. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah kurang diberitahukan dengan tertulis atau ditulis dalam buku harian oleh Konsultan Pengawas/Direksi serta disetujui oleh Pemberi Tugas.
b. Pekerjaan tambah kurang hanya berlaku bila memang nyata-nyata ada perintah tertulis dari Konsultan Pengawas/Direksi atas persetujuan Pemberi Tugas.
c. Biaya pekerjaan Tambah Kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga satuan pekerjaan, yang dimasukan oleh Kontraktor sesuai AV 41 Artikel 50 dan 51 yang pembayarannya diperhitungkan bersama angsuran terakhir.
d. Untuk pekerjaan tambah yang harga satuannya tidak tercantum dalam harga
satuan yang dimasukan dalam
penawaran, maka harga satuannya akan ditentukan lebih lanjut oleh Konsultan Pengawas/Direksi bersama-sama Kontraktor dengan persetujuan Pemberi Tugas.
e. Adanya pekerjaan tambah tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab kelambatan penyerahan pekerjaan, tetapi Konsultan Pengawas/Direksi/Tim
Pengelola Teknis dapat
mempertimbangkan perpanjangan
17.2. Persiapan Pekerjaan a. Izin Bangunan
Izin Bangunan secara administrasi akan diurus oleh Pemberi Tugas dalam pelaksanaannya izin bangunan akan diurus oleh Kontraktor. Biaya izin bangunan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
b. Papan Reklame
Kontraktor tidak diperkenankan menempatkan papan reklame dalam bentuk apapun dalam lingkungan halaman tapak pekerjaan atau pada pagar halaman pekerjaan.
c. Papan nama Proyek
Kontraktor diwajibkan memasang Papan Nama Proyek sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
d. Ijin-ijin lain yang berkaitan dengan pelaksanaan, misalnya ijin pemakaian jalan, ijin lingkungan menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
18. PEKERJAAN PERSIAPAN
18.1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan penyediaan air dan daya listrik untuk bekerja.
b. Pekerjaan penyediaan alat pemadam kebakaran.
18.2. Pekerjaan Penyediaan air dan Daya Listrik untuk Bekerja.
a. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan membuat sumur pompa di tapak atau didatangkan dari luar tapak dan disediakan pula tempat penampungannya.
b. Air harus bersih bebas dari bau, bebas dari Lumpur, minyak dan bahan kimia lain yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas/Direksi.
c. Kontraktor harus membuat tempat penampungan air yang senantiasa terisi penuh untuk sarana kerja dengan kapasitas minimal 3,5 meter kubik, dibuat dari pasangan batako setengah batako dengan spesi 1 PC : 3 pasir dan diplester, atau dari drum-drum.
d. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan sementara PLN setempat
selama masa pembangunan
18.3. Pekerjaan Penyediaan air dan Daya Listrik untuk Bekerja.
e. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan membuat sumur pompa di tapak atau didatangkan dari luar tapak dan disediakan pula tempat penampungannya.
f. Air harus bersih bebas dari bau, bebas dari Lumpur, minyak dan bahan kimia lain yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas/Direksi.
g. Kontraktor harus membuat tempat penampungan air yang senantiasa terisi penuh untuk sarana kerja dengan kapasitas minimal 3,5 meter kubik, dibuat dari pasangan batako setengah batako dengan spesi 1 PC : 3 pasir dan diplester, atau dari drum-drum.
h. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan sementara PLN setempat
selama masa pembangunan
18.4. Pekerjaan Pembongkaran, Pembersihan dan Pengamanan Sebelum Pelaksanaan.
a. Pembongkaran dan Pembersihan.
b. Kontraktor harus membongkar
/membersihkan /memindahkan keluar dari tapak segala sesuatu yang tidak akan dipakai selama pembangunan yang mungkin akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan baik diatas maupun tertanam dalam tanah tapak, sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas/Direksi.
Pekerjaan bongkaran meliputi :
Pembongkaran Pagar Lama, Pos Jaga Lama dan Bangunan Exs Kantin dalam halaman gedung kantor Pengadilan Negeri Klas 1A Kupang
c. Hasil pembongkaran dan pembersihan harus dikeluarkan dari dalam tapak, sesuai dengan peraturan setempat.
d. Pengamanan
Kontraktor harus melindungi dan mengamankan dari segala kerusakan selama pelaksanaan pekerjaan terhadap segala sesuatu yang dinyatakan oleh Konsultan Pengawas/Direksi tidak boleh dibongkar, baik berupa bangunan, bagian dari bangunan, jaringan listrik, gas, saluran air minum, drainase, maupun pepohonan yang telah ada.
Dalam hal ini biaya adalah tanggung jawab Kontraktor, tidak dapat diajukan
sebagai “klaim” biaya pekerjaan tambah.
Apabila segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan mengganggu pelaksanaan pekerjaan, maka Kontraktor harus memindahkannya atas persetujuan Konsultan Pengawas/Direksi.
e. Biaya untuk pekerjaan pembongkaran,
pembersihan, pengamanan menjadi
tanggung jawab Kontraktor, tidak dapat
diajukan sebagai “klaim” biaya pekerjaan
tambah.
Benda-benda/ barang yang berada di atas lahan yang akan dibangun adalah milik pemberi tugas. Segala yang mengakibatkan kerugian yang terjadi sebagai akibat pelaksanaan pekerjaan adalah menjadi tangung jawab penuh pihak pelaksana.
19. PEMASANGAN BOWPLANK
19.1. Pasangan bouwplank dibuat untuk membantu
menentukan as-as/sumbu-sumbu dalam
perletakan bangunan, baik mengenai kesikuannya atau ukuran-ukuran lainnya.
19.2. Semua papan bouwplank menggunakan kayu kelas II/terentang, papan-papan harus lurus diserut rata, permukaan papan harus
“WATERPASS” DENGAN PIEL LANTAI + 0,00. Setiap
jarak 1,50 m; papan bouwplank diperkuat dengan patok kayu berukuran 6/10 cm atau dolken. Pada papan bouwplank ini harus di cat sumbu-sumbu yang diperlukan, dengan cat yang tidak luntur oleh pengaruh cuaca.
19.3. Jarak papan bouwplank minimal 2,00 m; dari garis bangunan terluar, untuk mencegah kelongsoran terhadap galian-galian tanah pondasi.
A. PEKERJAAN STRUKTUR DAN ARSITEKTUR
20. PEKERJAAN TANAH 20.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pelaksanaan galian dan urugan tanah serta urugan pasir dengan
penyelesaian dan pembentukan
galian/urugannya harus mengikuti kemiringan/ elevasi dan ukuran-ukuran sesuai gambar rencana, adapun pelaksanaannya sebagai berikut :
20.2.
Pekerjaan tanah halaman dan tanah untuk struktur
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pengupasan (stripping) dan perataan (grading) tanah pada daerah/area yang diatasnya akan didirikan bangunan, jalan dan perkerasan.
20.3.
Pekerjaan Penggalian
Pekerjaan ini meliputi penggalian tanah untuk :
Pondasi
Saluran Air Hujan
Dan lain-lain seperti tercantum dalam Gambar Kerja
20.4.
Galian tanah dilaksanakan untuk pembuatan lubang pondasi, lubang-lubang saluran dan pekerjaan-pekerjaan lain yang menurut kondisinya memerlukan adanya galian tanah. 20.5.
Galian tanah dilaksanakan setelah kontraktor
bersama-sama pengawas lapangan
menetapkan as-as + elevasi yang akan dilakukan galian pada papan bouwplank.
20.6.
Pekerjaan Pengurugan
Pekerjaan ini meliputi pengurugan dan pemadatan tanah untuk :
Penimbunan galian tanah dalam rangka pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Pengurugan tanah untuk peninggian lantai
20.7. Pekerjaan Pemadatan Pekerjaan ini meliputi ::
1.pekerjaan memadatkan kembali tanah yang selesai diurug dalam rangka pelaksanaan pekerjaan Konstruksi dan peninggian untuk pembentukan tanah/ peninggian lantai.
2.Pekerjaan Pemadatan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan peninggian untuk pembentukan tanah/ peninggian lantai. 3.Pekerjaan Pemadatan dalam rangka
pelaksanaan pekerjaan peninggian untuk muka/elevasi Pelataran Parkir/halaman kantor.
20.8. Pekerjaan Pembentukan Muka Tanah
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembentukan tanah dimana bangunan akan didirikan dan tanah disekitarnya sesuai dengan ketinggian atau kedalaman seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
20.9. Persyaratan Bahan a. Tanah
Tanah dari dalam tapak atau tanah dari luar tapak
Tanah untuk pengurugan, pemadatan, dan pembentukan muka tanah harus tanah asli bukan tanah humus, bebas dari kapur, bekas bongkaran, Lumpur maupun unsur-unsur lain yang dapat mengurangi kualitas pekerjaan.
c. Pekerjaan Penggalian
Tanah humus digali dan dipisahkan dari lapisan tanah dibawahnya. Pengupasan (stripping) dengan kedalaman rata-rata 10 cm dan akan digunakan sebagai lapisan penutup untuk urugan tanah subur/sekeliling bangunan atau ditempatkan langsung berdekatan fungsi tersebut.
Sisa tanah humus harus diambil dan dibuang keluar halaman. Pembuangan dan
pengangkutan adalah menjadi
tanggungjawab Kontraktor. Biaya apapun untuk pembuangan dan pengangkutan dianggap sudah termasuk dalam seluruh kontrak.
Semua penggalian harus dikerjakan sesuai dengan panjang, kedalaman, kemiringan dan lingkungan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan seperti dinyatakan dalam gambar.
Persetujuan terhadap tempat pengambilan tanah untuk memenuhi keperluan pengurugan seluruhnya harus dari kualitas yang sama dan hanya dapat dipakai jika ada persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi terlebih dahulu.
Galian tanah dilaksanakan untuk semua galian pondasi dan semua pasangan lainnya di bawah tanah seperti : rollag atau sloof dan lainnya harus dilakukan sesuai rencana gambar.
20.10 Persyaratan Pelaksanaan
a. Selama pelaksanaan pekerjaan dan masa pemeliharaan, Kontraktor harus mengadakan tindakan pencegahan, baik terhadap gebangan atau arus air yang dapat menyebabkan terjadinya erosi. Pencegahan ini termasuk pembuatan tanggul-tanggul, parit-parit sementara, sumur-sumur penampung, pompa air dan tindakan yang dapat diterapkan guna
mencegah penundaan pekerjaan
termasuk pencegahan terhadap
masuknya air hujan atau air dari daerah sekitarnya dan sebagainya.
b. Pekerjaan tanah halaman dan tanah untuk struktur
Pekerjaan pengupasan lapisan tanah bagian teratas :
Pada prinsipnya, lapisan humus harus dibuang 10 cm
Tanah hasil kupasan ini hanya boleh untuk mengurug daerah-daerah yang rendah yang tidak akan didirikan bangunan diatasnya. c. Bila kondisi tanah sangat jelek atau labil,
maka lapisan teratas ini harus digali sampai kedalaman tertentu atau sampai lapisan tanah keras dan harus diganti atau diurug dengan tanah yang baik atau sirtu (pasir dan batu gunung).
d. Galian tanah tidak boleh melebihi kedalaman yang ditentukan dan bila ini terjadi pengurugan harus kembali dilakukan dengan pasangan atau beton tanpa biaya tambahan dari Pemberi Tugas.
e. Pada bagian-bagian galian yang dianggap mudah longsor, Kontraktor harus mengadakan tindakan pencegahan
dengan memasang papan-papan
f. Pengeringan tempat kerja
Tempat kerja terutama galian pondasi harus dalam keadaan bebas air, untuk itu Kontraktor harus mengadakan alat-alat pengering dengan keadaan siap pakai dengan daya dan jumlah yang dapat menjamin kelancaran pekerjaan.
g. Apabila dasar tanah galian untuk pondasi diperlukan daya dukung lebih baik, maka dasar galian harus dipadatkan/ditumbuk. h. Kelebihan kedalaman galian tanah akibat
hal-hal tertentu, kontraktor harus melaksanakan penimbunan kembali serta dipadatkan sesuai dengan persyaratan, akibat hal ini tidak dilakukan biaya tambahan.
i. Hasil akhir pekerjaan galian tanah pondasi harus selalu diperiksa dahulu oleh direksi/ pengawas lapangan.
20.11 Pekerjaan urugan tanah dan pemadatan meliputi :
a. Urugan tanah dilaksanakan pada lubang-lubang sisa pondasi, peninggian tanah untuk nol lantai dan pada bagian-bagian pekerjaan yang kondisinya mengharuskan adanya pekerjaan urugan tanah.
b. Tanah urugan harus berbutir, bersih dari humus, sampah atau kotoran lainnya, bila terlalu basah harus dihamparkan dahulu hingga kering, dan bila terlalu kering harus dengan air sesuai persyaratan.
d. Urugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan tidak melebihi 20 cm, dan setiap lapis harus dipadatkan dengan hand compactor atau tandem roller atau steel wheel power rollers. Rollers yang digunakan maksimum 5 ton kecuali atas persetujuan Konsultan Pengawas/Direksi digunakan peralatan yang lebih kecil guna mencegah kerusakan struktur yang sudah ada.
e. Tanah urug yang terlalu kering harus dibasahi dengan sprinkler yang diikuti dengan mesin penggilas dibelakangnya, atau dengan cara lain yang diusulkan Konsultan Pengawas/Direksi.
f. Urugan pada lereng harus dilakukan
dengan membuat “bertangga” pada
lereng tersebut untuk memberikan kaitan yang kokoh terhadap tanah urugan. Urugan kembali lubang pondasi hanya boleh dilaksanakan seijin Konsultan Pengawas/Direksi setelah dilakukan pemeriksaan pondasi.
g. Setiap tanah urugan harus dibersihkan dari tunas tumbuh-tumbuhan dan segala macam sampah atau kotoran. Tanah urugan harus dari jenis berbutir (tanah lading atau berpasir) dan tidak terlalu basah.
h. Urugan tanah harus dipadatkan dengan mesin pemadat (compactor) dan tidak dibenarkan hanya menggunakan timbres i. Urugan tanah untuk meninggikan atau
untuk memperbaiki permukaan akan ditentukan oleh Konsultan Pengawas/ Direksi menurut ketinggian, lebar dan kedalaman yang diperlukan.
k. Urugan pasir harus dilaksanakan di bawah semua lantai dan di bawah rabat sesuai gambar kerja.
l. Pekerjaan pembentukan tanah :
Muka tanah dimana akan didirikan
bangunan diatasnya harus
dibentuk dengan rata menurut garis-garis dan ketinggian yang telah ditentukan di dalam Gambar Kerja.
Muka tanah dimana bangunan akan berdiri diatasnya harus dibentuk dengan rata.
20.12 Urugan pasir
a. Urugan pasir harus dilaksanakan pada bagian-bagian dasar/bawah pasangan pondasi telapak / foot palet sesuai gambar
b. Ketebalan urugan pasir ditentukan Tebal 10 cm untuk dibawah pondasi
c. Ketebalan ukuran pasir tersebut, adalah ketebalan padat dengan cara ditimbris sambil disiram air.
d. Pasir urug yang digunakan harus bersih dari kotoran-kotoran/humus-humus.
21. PEKERJAAN
PASANGAN PONDASI
21.1. Pekerjaan pasangan ini dilaksanakan pada :
a. b.
Pasangan pondasi batu karang Pasangan Tembok
21.2. Bahan yang digunakan, pada dasarnya semua jenis bahan yang dugunakan dalam pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan NI-10 dan PUBI 1970 (NI-3), diantaranya :
a. PC/semen : digunakan satu jenis semen sekualitas TIGA RODA atau yang memenuhi persyaratan dalam peraturan Portland Cement Indonesia NI-8 atau ASTM C-150 Type I Atau Standard Inggris BS-12. b. Pasir pasang : digunakan pasir yang
c. Batu belah/batu karang : digunakan batuan keras, bersih, tidak keropos dan mempunyai permukaan yang kasar.
d. Air : digunakan air yang bersih, tawar dan
tidak mengandung bahan yang
merugikan pasangan, seperti asam alkali, atau bahan organik lainnya.
21.3. Pemakaian jenis adukan :
Didalam mengatur perbandingan campuran yang sempurna, kontraktor harus menggunakan dolak-dolak pengatur campuran bahan, terbuat dari papan berukuran 40x40x20 cm. Campuran adukan yang digunakan antara lain :
Tabel jenis adukan 60 cm dibawah permukaan sloof.
1. M2 1 pc : 3 pc 2. Lapisan plester beton pada kolom, sloof, ring balk dan pembalokan yang permukaannya akan tampak.
3. Pasangan batu kedap air.
1. Semua pasangan pondasi batu karang yang bukan kedap air.
2. M2 1 pc : 5 pc 2. Semua pasangan dinding dan plesteran bata merah bukan kedap air.
3. Pasangan ubin/tegel semua ruangan.
4. Lantai kerja dibawah pasangan keramik
4. Pasangan batu kosong, tanpa
adukan
Sebagian dasar dari bagian pondasi batu karang setebal 15 cm.
21.4 Cara pelaksanaan :
a. Pasangan batu karang :
1). Dilaksanakan pada pasangan pondasi atau pekerjaan lain yang dinyatakan memakai pasangan batu karang.
2). Batu karang sebelum dipasang harus bersih dari segala kotoran.
4). Tinggi pasangan batu karang tidak
boleh lebih dari 0,50 m‟ pada setiap
harinya.
5). Bagian pasangan batu karang harus diplester ciprat sesuai dengan jenis adukan yang dipakai pasangan. 6). Proses pengeringan pasangan harus
dibantu dengan siraman air.
7). Selama pasangan batu karang belum secara utuh selesai (persekian meter), lobang pondasi tidak dibenarkan diurug.
22. PEKERJAAN BETON 22.1 Pekerjaan Beton ini dilaksanakan pada : a.
b. c. d.
Pekerjaan Kolom Praktis dan kolom pagar Pekerjaan Balok
Pekerjaan ringbalk Pekerjaan Plat lantai
22.2 Bahan yang digunakan, pada dasarnya semua jenis bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan diantaranya :
Semen Portland
a. PC/semen : digunakan satu jenis semen sekualitas TIGA RODA atau yang memenuhi persyaratan dalam peraturan Portland Cement Indonesia NI-8 atau ASTM C-150 Type I Atau Standard Inggris BS-12. b. Semen yang telah mengeras sebagian /
seluruhnya,tidak diperkenankan untuk digunakan.
c. Tempat penyimpanan semen harus diusahakan sedemikian rupa sehingga semen bebas dari kelembapan
d. Konsultan pengawas dapat memeriksa semen yang disimpan dalam gudang
pada setiap waktu sebelum
e. Jika semen yang dinyatakan tidak memuaskan tersebut telah dipergunakan untuk beton, maka Konsultan Pengawas dapat memerintahkan untuk dibongkar, beton tersebut dan diganti dengan memakai semen yang telah disetujui atas beban kontraktor.
f. Pasir Beton harus terdiri dari pasir dengan butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan – bahan organis,Lumpur dan lain sebagainya,serta memenuhi komposisi butir dan kekerasan seperti yang tercantum dalam NI – 2 PBI 1971.
g. Koral yang digunakan harus bersih dan bermutu baik serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai persyaratan yang tercantum dalam NI-2 PBI 1971 ,koral yang digunakan ukuran 2/3 cm
h. Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak ,asam,garam alkalis serta bahan-bahan organis/bahan lain yang dapat merusak beton.
i. Apabila dipandang pertlu Pengawas dapat meminta kepada pemborong supaya air yang dipakai diperiksa dilaboratorium pemerisaan bahan yang resmi atas biaya pemborong.
Baja Tulangan
b. Konsultan Pengawas berhak meminta kepada kontraktor,surat keterangan tentang pengujian oleh pabrik dari semua baja tulangan beton yang disediakan untuk persetujuan konsultan pengawas sesuai dengan persyaratan mutu untuk setiap bagian konstruksi seperti tercantum dalam gambar rencana
c. Baja tulangan Beton harus bersih dari lapisan minyak/lemak dan bebas dari cacat-cacat seperti serpih-serpih,karat dan zat kimia lainnya yang dapat mengurangi/merusak daya lekat antara baja tulangan dengan beton.
d. Ukuran diameter baja tulangan harus sesuai dengan gambar rencana dan tidak diperkenankan adanya toleransi bentuk ukuran.diameter besi ulir adalah diameter dalam.
e. Ukuran baja tulangan tersebut harus sesuai dalam Gambar Kerja, penggantian dengan diameter lain harus dengan persetujuan tertulis dari Direksi. Segala biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulangan terhadap yang digambar sejauh bukan kesalahan Gambar Kerja adalah tanggung jawab Kontraktor.
f. Semua baja tulangan harus disimpan pada tempat yang bebas lembab, disesuaikan diameter serta asal pembelian. Semua baja tulangan harus dilindungi terhadap semua macam kotoran dan lemak serta sejauh mungkin dilindungi terhadap karat.
Bahan campuran tambahan (Additives)
b. Bahan tambahan yang mempercepat pengerasan awal (initial set) tidak boleh dipakai. Sedangkan untuk beton kedap air di bawah tanah (hydrostatic pressure) tidak boleh bahan kedap air yang mengandung garam stearate.
c. Bahan campuran tambahan beton harus sesuai dengan iklim tropis dan memenuhi AS 1978 & ASTM C 494 Type B dan Type D sekaligus sebagai pengurang air adukan dan penunda pengerasan awal.
d. Semua Admixture yang akan digunakan, ditentukan berdasarkan hasil pekerjaan benda uji / contoh-contoh yang dibuat dan telah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas / Direksi.
e. Untuk penyambungan kembali akibat terhentinya suatu pengecoran beton dipakai bahan perekat CALBOND sebelum dicor dengan beton baru, serta permukaannya harus dikasarkan.
Jumlah pemakaian untuk 1 m2 adalah 0,3 liter calbond dicampur dengan larutan semen/PC sekitar 25% nya dengan cara ditaburkan.
Bekisting
a. Bekisting dibuat dari panel multiplex 12 mm atau papan borneo tenal minimal 2 cm dengan rangka penguat penyokong dan penyangga dibuat dari kayu borneo 5/7, 5/10 secukupnya, sehingga mampu mendapatkan kekuatan dan kekakuan mendukung beton sampai selesai proses ikatan beton. Untuk kolom struktur dipakai papan borneo tebal 3/20.
b. Steger cetakan / Bekisting dipakai kayu sehingga menghasilkan bidang yang rata dan halus.
Komposisi campuran beton
Beton dibentuk dari semen Portland/PC, pasir, kerikil, batu pecah, air seperti yang ditentukan; semuanya dicampur dalam perbandingan yang sesuai dan diolah sebaik-baiknya sehingg sampai didapat kekentalan yang tepat.
Komposisi campuran beton dibuat dengan perbandingan volume dengan multibeton berdasarkan mix disain sebagai berikut :
Macam Perbandingan Penggunaan
C1 1 PC : 3 PS : 5 KR
Untuk pekerjaan beton tumbuk, rabat dan lantai kerja.
C2 1 PC : 2 PS : 3 KR
Untuk pekerjaan beton bertulang : sirip beton kolom praktis dan ring balk dan listplank beton
Untuk pekerjaan beton bertulang : sloof, kolom, balok, plat lantai, tangga beton.
22.4 Perrsyaratan Pelaksanaan Pekerjaan Beton Kelas dan Mutu Beton
a. Kelas dan Mutu dari beton harus sesuai dengan standard Beton Indonesia NI-2 , PBI-1971
b. Kriteria untuk menentukan mutu beton adalah persyaratan bahwa hasil pengujian benda-benda uji harus
memberikan „BK‟(kekuatan tekan beton
kareteristik) yang lebih besar dari yang ditentukan.
Komposisi Campuran Beton
a. Beton harus dibentuk dari semen Portland,pasir,kerikil,dan air seperti yang ditentukan sebelumnya.
Bahan beton dicampur dalam
b. Untuk mendapatkan mutu beton yang
sesuai dengan yang
disyaratkan/ditentukan dalam spesipikasi ini,harus dipakai “campuran yang direncanakan”(MIX DESIGNED)
c. Ukuran maxsimal dari Agregat kasar dalam beton untuk bagian-bagian dari pekerjaan tidak boleh melampaui ukuran yang ditetapkan dalam persyaratan bahan beton,
d. Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk berbagai mutu,harus ditetapkan dari waktu ke waktu selama berjalannya pekerjaan,demikian juga pemeriksaan terhadap agregat dan beton yang dihasilkan.
e. Perbandingan campuran dan factor air semen yang tepat akan ditetapkan atas dasar beton yang dihasilkan yang
mempunyai kepadatan yang
tepat,keawetan dan kekuatan yang dikehendaki.
f. Kekentalan (Konsistensi) adukan beton untuk bagian-bagian konstruksi beton,harus disesuaiukan dengan jenis konstruksi yang bersangkutan,cara pengangkutan adukan beton dan cara pemadatannya.Kekentalan adukan beton antara lain ditentukan oleh faktor air semen.
g. Agar dihasilkan suatu konstruksi beton
yang sesuai dengan yang
Faktor air semen untuk kolom balok, plat lantai, tangga, dinding beton, dan listplank /parapet maksimum 0,60
Faktor air semen untuk konstruksi plat atap, dan tempat-tempat basah lainnya maksimum 0,55.
h. Untuk lebih mempermudah dalam pengerjaan beton,dan dapat dihasilkan suatu mutu sesuai dengan yang direncanakan,maka untuk konstruksi beton dengan factor air semen maksimum 0,55 harus memakai Plasticizer sebagai bahan additive. Pemakaian merk dari bahan additive tersebut harus mendapat persetujuan dari konsultan pengawas/ direksi.
i. Pengujian beton akan dilakukan oleh konsultan pengawas pekerjaan atas biaya kontraktor pelaksana. Perbandingan campuran beton jika dipandang perlu harus diubah untuk tujuan penghematan yang dikehendaki, workability, kepadatan, kekedapan, atau kekuatan. dan kontraktor tidak berhak atas claim yang disebabkan perubahan yang demikian.
22.5 Pengujian Konsistensi Beton dan Benda-benda Uji Beton
a. Banyaknya air yang dipakai untuk beton harus diatur menurut keperluan untuk menjamin beton dengan konsistensi yang baik dan untuk menyesuaikan variasi kandungan lembab atau gradasi dari agregat waktu masuk dalam mesin pengaduk (Mixer).
Penambahan air untuk mencairkan kembali beton padat hasil pengadukan yang terlalu yang terlalu lama atau yang menjadi kering sebelum dipasang sama sekali tidak diperkenankan.
c. Nilai Slump dari beton(pengujian kerucut slump),tidak boleh kurang dari 8 cm dan tidak melampaui 12 cm,untuk segala beton yang dipergunakan.
d. Semua pengujian harus sesuai dengan NI-2 , PBI – 1971.Konsultan Pengawas berhak untuk menuntut nilai Slump yang lebih kecil bila hal tersebut dapat dilaksanakan dan akan menghasilkan beton berkualitas lebih tinggi atau alas an penghematan.
e. Kekuatan tekan beton harus ditetapkan oleh konsultan pengawas melalui pengujian biasa dengan kubus ukuran 15x15cm,dibuat dan diuji sesuai dengan NI-2 PBI 1971
Kontraktor pelaksana harus menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk mengerjakan contoh-contoh pemeriksaan yang representative.
22.6 Baja Tulangan
a. Baja tulangan beton harus
dibengkok/dibentuk dengan teliti sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang tertera pada gambar –gambar konstruksi Semua batang harus dibengkokan dalam keadaan dingin,pemanasan dari besi beton hanya dapat diperkenankan bila seluruh cara pengerjaan disetujui oleh konsultan pengawas
c. Jarak bersih terkecil antara batang yang pararel apabila tidak ditentukan dalam gambar rencana, minimal harus 1,2 kali ukuran terbesar dari agregat kasar dan harus memberikan kesempatan masuknya alat penggetar beton.
d. Pada dasarnya jumlah luas tulangan harus sesuai dengan gambar rencana dan perhitungan,apabila dipakai dimensi tulangan yang berbeda dengan gambar,maka yang menentukan adalah luas tulangan, dalam hal ini kontraktor diwajibkan meminta persetujuan terlebih dahulu dari konsultan pengawas.
22.7 Selimut Beton
Penempatan besi beton di dalam cetakan tidak boleh menyinggung dinding atau dasar cetakan,serta harus mempunyai jarak tetap untuk setiap bagian – bagian konstruksi.
Apabila tidak ditentukan di dalam gambar rencana, maka tebal selimut beton untuk satu sisi pada masing-masing konstruksi adalah sebgai berikut :
a. Balok Sloof = 4,00 cm b. Kolom = 3,00 cm c. Balok = 2,50 cm d. Pelat Dak Beton = 1,50 cm
Sambungan Baja Tulangan
Jika diperlukan untuk menyambung tulangan pada tempat-tempat lain dari yang ditunjukan pada gambar – gambar, bentuk dari sambungan harus disetujui oleh konsultan pengawas. Overlap pada sambungan-sambungan tulangan harus minimal 40 kali diameter batang yang dipakai/ digunakan, kecuali jika ditetapkan dalam secara pasti di dalam gambar rencana dan harus mendapat persetujuan konsultan pengawas.
Kontraktor harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang mempunyai ketelitian cukup untuk menetapkan dan mengawasi jumlah dari masing-masing bahan beton.
Perlengkapan-perlengkapan tersebut dan pengerjaannya selalu harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.
Mengaduk
a. Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk dalam mesin pengaduk beton yaitu “ Batch Mixer”. Konsultan pengawas berwenang untuk menambah waktu pengadukan jika pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal untuk mendapatkan hasil adukan dengan susunan kekentalan dan warna yang merata dalam komposisi dan konsistensi dari adukan ke adukan,kecuali bila diminta adanya perubahan dalam komposisi atau konsistensi.
Air harus dituang lebih dahulu selama pekerjaan penyerpurnaan.
b. Tidak diperkenankan melakukan pengadukan beton yang berlebih-lebihan
(lamanya) yang membutuhkan
penambahan air untuk mendapatkan konsistensi beton yang dikehendaki.
Messin pengaduk yang memproduksi hasil yang tidak memuaskan harus diganti. Mesin pengaduk tidak boleh dipakai melebihi dari kapasitas yang telah ditentukan
Suhu beton sewaktu dituang tidak boleh lebih dari 32o C dan tidak kurang dari 4,50 C.
Bila suhu dari Beton yang dituang berada antara 270 C dan 320 C, beton harus diaduk ditempat pekerjaan untuk kemudian langsung dicor.
Bila beton dicor pada waktu iklim sedemikian rupa,sehingga suhu dari beton melebihi 320 C, sebagai yang ditetapkan oleh konsultan pengawas, kontraktor harus mengambil langkah – langkah yang efektif, upamanya mendinginkan agregat, mencampur dengan es dan mengecor pada waktu malam hari bila perlu, untuk mempertahankan suhu beton, waktu dicor pada suhu dibawah 320 C.
22.10 Rencana Cetakan
Cetakan harus sesuai dengan bentuk, dan ukuran yang ditentukan dalam gambar rencana.
Bahan yang dipergunakan harus mendapatkan persetujuan dari konsultan pengawas sebelum pembuatan cetakan dimulai.
Sewaktu-waktu Konsultan pengawas dapat mengafkir sesuatu bagian dari bentuk yang tidak dapat diterima dalam segi apapun dan kontraktor harus dengan segera mengambil bentuk yang diafkir dan menggantinya atas biaya sendiri.
Konstruksi Cetakan
b. Sebelum beton dicor,permukaan dari cetakan-cetakan harus diminyaki dengan minyak yang biasa diperdagangkan untuk maksud itu yang mencegah secara efektif lekatnya beton pada cetakan dan memudahkan dalam pembongkaran cetakan beton.
Penggunaan minyak cetakan harus hati-hati untuk mencegah kontak dengan besi beton yang mengakibatkan kurangnya daya lekat.
c. Penyangga cetakan (steiger) harus bertumpu pada pondasi yang baik dan kuat sehingga tidak akan ada kemungkinan penurunan cetakan selama pelaksanaan.
22.11 Pengangkutan Beton
Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus sedemikian rupa sehingga beton dengan komposisi dan kekentalan yang diinginkan dapat dibawa ke tempat pekerjaan,tanpa adanya pemisahan dan kehilangan bahan yang menyebabkan perubahan nilai slump.
Pengecoran
b. Segera sebelum pengecoran beton dimulai ,semua permukaan pada tempat pengecoran beton (cetakan) harus bersih dari air yang tergenang, reruntuhan atau bahan lepas.
Permukaan bekisting dengan bahan-bahan yang menyerap pada tempat-tempat yang akan dicor harus dibasahi dengan merata sehingga kelembaban/air dari beton yang baru dicor tidak akan diserap.
c. Pengecoran beton tidak boleh dijatuhkan lebih dari 2 meter,semua penuangan beton harus selalu lapis-perlapis horizontal dan tebalnya tidak lebih dari 50 cm. Konsultan pengawas berhak untuk mengurangi tebal tersebut apabila pengecoran dengan tebal 50 cm, tidak dapat memenuhi spesifikasi ini.
d. Pengecoran beton tidak diperkenankan selama hujan deras berlangsung sehingga spesikasi mortar terpisah dari agregat kasar.
Selama hujan,air semen atau spesi tidak boleh dihamparkan pada construction joint dan air semen atau spesi yang terhampar harus dibuang sebelum pekerjaan dilanjutkan.
e. Setiap lapisan beton harus dipadatkan sampai sepadat mungkin ,sehingga bebas dari kantong-kantong kerikil, dan menutup rapat-rapat semua permukaan dari cetakan dan matrial yang diletakan
Dalam pemadatan setiap lapisan dari beton,kepala alat penggetar (Vibrator)
harus dapat menembus dan
f. Beton boleh dicor hanya waktu Konsultan pengawas pekerjaan atau wakilnya yang ditunjuk serta staf kontraktor yang setaraf ada di tempat kerja, dan persiapan betul-betul telah memadai.
22.12 Waktu Dan Cara-cara Pembukaan Cetakan a. Waktu dan cara pembukaan dan
pemindahan cetakan harus mengikuti petunjuk konsultan pengawas, pekerjaan ini harus dikerjakan hati-hati untuk menghindari kerusakan pada beton.
Beton yang masih muda/ lunak tidak di izinkan untuk dibebani,segera setelah cetakan – cetakan dibuka, permukaan beton harus diperiksa dengan teliti dan permukaan yang tidak beraturan harus segera diperbaiki sampai disetujui konsultan pengawas.
b. Umumnya diperlukan waktu minimum dua (2) hari sebelum cetakan-cetakan dibuka untuk dinding-dinding yang tidak bermuatan dan cetakan – cetakan samping lainnya,tujuh (7) hari untuk dinding-dinding pemikul dan saluran-saluran, 21 hari untuk balok-balok,plat lantai, plat atap, tangga dan kolom.
Walaupun demikian sebagai pedoman dalam keadaan cuaca normal adalah sebagai berikut:
Struktur Pengerasan normal:
Kolom dan Dinding 4 hari Pelat lantai/atap 28 hari Balok 28 hari
22.13 Perawatan ( Curing )
b. Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar matahari yang langsung minimal selama 3 hari sesudah pengecoran. perlindungan semacam itu dilakukan dengan menutupi permukaan beton dengan deklit/karung bekas yang dibasahi dan harus dilaksanakan segera setelah pengecoran dilaksanakan.
c. Perawatan beton setelah tiga (3) hari, yaitu dengan melakukan penggenangan dengan air terus menerus pada permukaan beton paling sedikit selama 14 hari
22.14 Perlindungan
Perbaikan Permukaan Beton
a. Jika sesudah pembukaan cetakan ada permukaan beton yang tidak sesuai dengan yang direncanakan, atau tidak tercetak menurut gambar atau diluar garis permukaan, atau ternyata ada permukaan yang rusak, hal itu dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi ini dan harus dibuang dan diganti oleh kontraktor atas bebannya sendiri.
Kecuali bila konsultan pengawas memberikan izinnya untuk menambal tempat yang rusak,dalam hal mana penambalan harus dikerjakan seperti yang telah tercantum dalm pasal-pasal berikut.
b. Kerusakan yang memerlukan
c. Jika menurut Konsultan pengawas, hal-hal tidak sempurna pada bagian bangunan yang akan terlihat jika dengan penambalan saja akan menghasilkan sebidang dinding yang tidak memuaskan kelihatannya ,kontraktor wajib untuk menutupi seluruh dinding (dengan spesi Plesteran 1pc : 3ps) dengan ketebalan yang tidak melebihi 1cm, demikian juga pada dinding yang berbatasan (yang bersambungan) sesuai dengan instruksi dari konsultan pengawas.
Perlu diperhatikan untuk permukaan yang datar batas tolleransi kelurusan (Pencekungan/pencembungan) bidang tidak boleh melebihi dari L/1000 untuk semua komponen.
23. PEKERJAAN DINDING DAN PLESTERAN
23.1 Yang termasuk Lingkup Pekerjaan Dinding dan Plesteran Meliputi :
a. Pasangan dinding bata merah
b. Plesteran dan Acian dinding bata merah c. Dinding Granit Tile untuk Kolom Pagar
50x50 cm dan Batu Candi untuk kolom pagar 40 x 40 cm
23.2 Persyaratan Bahan :
a. Bata merah bermutu baik, dengan pengepresan menggunakan mesin pres dan bebas dari cacat dan retak minimum telah menjadi dua (2) bagian, produk
local dan memenuhi standar “Persyaratan
Bahan-bahan PUBB 1970”
b. Pasir dari kualitas baik, bersih dan bebas dari Lumpur, bahan organis, batu-batuan harus diayak. Khusus untuk pekerjaan plesteran pasir harus dicuci terlebih dahulu.
d. Keramik dinding yang digunakan harus
bermutu baik standard SNI setaraf “
Platinum” Dan Bercorak, (untuk dinding km/wc), sedangkan untuk dinding penebalan bagian exterior memakai keramik Granit Tile sekualitas “Indogress” Produk dalam negeri, sebelum dipasang di dinding keramik harus direndam dulu dalam air supaya keramik lebih rekat dengan campuran adukan dinding
e. Hal lain yang diperlukan ditentukan oleh Direksi.
23.3 Adukan dan Campuran
a. Adukan Trasraam perbandingan 1pc : 3ps, dilaksanakan untuk :
- Semua pasangan bata merah yang masuk dalam tanah
- 20 cm di atas lantai pada semua dinding
- Pasangan batu/bata merah sisi saluran, bak control, serta tempat lain yang diperlukan sesuai gambar rencana
- Plesteran dinding bata merah yang masuk kedalam tanah seluruhnya pasangan trasraam, plint plesteran, aferking permukaan beton dan plesteran seluruh pasangan bata merah perbandingan 1pc : 3ps
b. Adukan perbandingan 1pc : 5ps dilaksanakan untuk :
- Pasangan dinding batu/bata merah dan plesteran yang bukan trasraam seperti tercantum di atas
23.4 Pelaksanaan Pekerjaan
a. Pekerjaan pasangan dinding batu/batako harus terkontrol waterpast baik arah vertical maupun horizontal.
Pada setiap 8 baris bata merah harus dipasang angker besi dan kolom, Pelaksanaan pasangan dinding bata merah/batu tidak boleh melibihi ketinggian 2 m setiap hari. sebelum dipasangkan batu/bata merah terlebih dahulu dibasahi air dengan cara direndam.
b. Sebelum dinding bata merah dipleter siar harus dikorek sedalam 1cm untuk mendapatkan ikatan yang lebih baik. kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan bidang plestran stabil dan kemudian diperhalus dengan acian semen.
c. Pasangan bata merah yang selesai harus terus menerus dibasahi selama 14 hari, untuk dinding septictank harus dihindarkan adanya rembesan air tanah dari sisi luar, untuk itu plesteran trasraam dilakukan pada kedua sisi luar dalam.
d. Untuk finishing beton expose, sebelum diperhalus/aferking permukaan beton perlu dikasarkan/pahat dulu kemudian disiram Portland cement untuk mendapatkan ikatan yang baik
e. Keramik/Granit yang akan ditempel harus sudah diseleksi dengan baik sehingga bentuk dan warna masing-masing keramik sama tidak ada bagian yang retak, pecah-pecah, sudut atau tepi atau cacat lainnya serta telah disetujui secara tertulis dari Konsultan Pengawas.
g. Pada pasangan dinding trasraam diatas lantai, sampai ketinggian 30cm. plesteran dilaksanakan dengan adukan 1pc : 2ps dan dibuat lebih masuk sedalam 1cm untuk kemudian dihaluskan/diaci dengan adukan semen kemudian di finishing dengan cat minyak
h. Pada pasangan dinding Keramik dipasang dengan campuran 1pc : 2ps terisi penuh dengan jarak yang rapat dan neut diisi dengan semen warna sesuai dengan warna keramik yang ditentukan.
Keramik yang akan dipasang terlebih dahulu diseleksi kondisi permukaan, sudut dan pinggiran yang lurus dan halus.
i. Pasangan dinding bata merah dipasang dengan campuran 1pc : 2ps terisi penuh dengan jarak yang rapat dan neut diisi dengan semen warna gelap, pasangan harus mempunyai jarak yang sama dan tekstur, bentuk yang rapih.
24 PEKERJAAN KUSEN PINTU ,
JENDELA DAN KACA 24.1.
Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini meliputi :
a. Pekerjaan pintu dan jendela alumunium (kusen, rangka pintu)
b. Dan lain-lain seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
24.2 Persyaratan Umum
a. Semua pekerjaan metal/alumunium disini harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam pasal Pekerjaan Metal di Buku RKS ini.
c. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, Kontraktor harus memperhatikan pula
uraian dalam pasal Pekerjaan
Perlengkapan Pintu, Jendela, Bovenlicht di Buku RKS ini
24.3 Persyaratan Bahan
a. Bahan Kusen alumunium harus memenuhi persyaratan tebal dan lebar yang disyaratkan yaitu dengan tebal min 2,5
mm lebar 4” type color anodize. setara INDAL
b. Daun Pintu Double Teakwood 4 mm
Rangka Pintu Panel Teakwood terbuat dari kayu press open dengan kualitas baik dan diserut halus
c. Seluruh sambungan kayu pada Rangka daun pintu, harus menyudut, rapih dan bagian sudut kayu diprofil halus ,sesuai gambar rencana.
d. Seluruh sambungan Alumunium pada kusen dan daun Pintu, jendela, harus menyudut, rapih, sesuai gambar rencana. e. Semua bahan kusen Alumunium mengacu
pada persyaratan Pekerjaan logam/Metal pada buku ini
24.4. Persyaratan Teknis
a. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan meneliti gambar dan kondisi lapangan serta membuat gambar Shop Drawing
b. Tipe Pintu/Jendela atau dinding partisi yang terpasang harus sesuai daftar tipe yang tertera dalam Gambar dengan memperhatikan ukuran-ukuran, Bentuk Profil, Material, Detail Arah Bukaan dan lain-lain, dengan petunjuk sebagai berikut :
Disyaratkan dipasang angker/fisher pada kusen pintu, jendela dan bovenlicht.
Jumlah angker/fisher minimal 2 (dua) buah untuk kusen jendela dan bovenlicht, minimal 3 (tiga) buah untuk kusen pintu dan masing-masing kusen terluar. Ukuran dan jarak penempatan sesuai dengan Gambar Kerja atau petunjuk Konsultan Pengawas/Direksi.
Disyaratkan pula dibuat alur air pada sisi sebelah luar kusen pada dua batang kusen vertical dan sebuah batang kusen bagian bawah ; untuk kusen pintu, jendela, maupun bovenlicht.
Sambungan-sambungan
pertemuan dan sudut harus benar-benar tegak lurus, kokoh dan tidak dapat digerak-gerakkan, serta pengerjaannya harus rapi. sesuai gambar kerja atau petunjuk konsultan pengawas/Direksi
d. Pekerjaan Kusen Pintu ,Jendela Alumunium dan Kaca :
Bentuk profil yang dipakai untuk kusen, Frame pintu dan jendela adalah
Pembuatan kusen alumunium harus dipesan/dilakukan oleh Pabrik pembuat berdasarkan detail-detail standard.
Kusen alumunium sebelum
dipasang, terlebih dahulu telah dicat Pabrik/tidak luntur, kemudian dilindungi agar tak rusak.
Pemasangan kaca harus
sedemikian rupa sehingga tidak akan pecah pada waktu
mengembang. Kaca harus
e. Setiap bagian dari pekerjan ini yang buruk, tidak memenuhi persyaratan seperti yang tertulis dalam Buku ini maupun tidak sesuai dengan Gambar Kerja, ketidak cocokan, kesalahan maupun kekurangan lain akibat kelalaian dan ketidak telitian Kontraktor dalam Gambar Pelelangan; dan atau perbaikan finish yang tidak memuaskan akan ditolak dan harus diganti hingga disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Perbaikan, Perubahan, dan Penggantian harus dilaksanakan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat di klaim sebagai
pekerjaan tambah, maupun
penambahan waktu.
f. Perubahan bahan/material karena alas an tertentu harus diajukan kepada Konsultan Pengawas/Direksi untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis.
Semua perubahan yang disetujui dapat dilaksanakan tanpa adanya biaya tambahan yang mempengaruhi kontrak,
kecuali untuk perubahan yang
mengakibatkan pekerjaan kurang akan diperhitungkan sebagai Pekerjaan Kurang. g. Semua pekerjaan yang telah dikerjakan dan atau telah terpasang harus segera dilindungi terhadap pengaruh cuaca dengan cara yang memenuhi syarat.
Bahan Kayu
a. Sebelum pelaksanaan kayu disimpan dan dikumpulkan pada tempat yang tertutup dari cahaya lansung/hujan dan mempunyai sirkulasi udara yang baik dengan alas yang cukup tinggi/tidak bersentuhan langsung dengan tanah.
c. Pelaksanaan Sambungan seperti klos, baut plat penggantung, angkur, dynabolt, sekrup, paku dan lem perekat harus rapi dan sempurna. Diusahakan agar permukaan yang tampak harus bersih /tidak kotor.
d. Pendempulan dan perapihan permukaan kayu harus rata ,halus dan kering. Setelah pendempulan dilaksanakan maka digosok dengan ampelas sesuai keperluannya agar permukaan kayu halus dan rapi,serta pori-pori kayu tertutupi dempul, terutama pada bagian kayu halus seperti kusen, daun pintu,j endela dan lainnya yang memerlukan kerapihan.
e. Seluruh kayu yang digunakan harus lurus dan tanpa cacat/mata kayu/retak.
f. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan meneliti gambar dan kondisi lapangan serta membuat gambar Shop Drawing.
g. Tipe Pintu/Jendela atau dinding partisi yang terpasang harus sesuai daftar tipe yang tertera dalam Gambar dengan memperhatikan ukuran-ukuran, Bentuk Profil, Material, Detail Arah Bukaan dan lain-lain, dengan petunjuk sebagai berikut h. Semua ukuran dan bentuk kusen maupun
daun pintu, jendela, bovenlicht yang tercantum dalam gambar kerja adalah ukuran jadi
i. Disyaratkan dipasang angker/fisher pada kusen pintu, jendela dan bovenlicht.
j. Disyaratkan pula dibuat alur air pada sisi sebelah luar kusen pada dua batang kusen vertical dan sebuah batang kusen bagian bawah ; untuk kusen pintu, jendela, maupun bovenlicht.
k. Sambungan-sambungan pertemuan dan sudut harus benar-benar tegak lurus, kokoh dan tidak dapat digerak-gerakkan, serta pengerjaannya harus rapi.sesuai gambar kerja atau petunjuk konsultan pengawas/Direksi.
l. Setiap bagian dari pekerjan ini yang buruk, tidak memenuhi persyaratan seperti yang tertulis dalam Buku ini maupun tidak sesuai dengan Gambar Kerja, ketidak cocokan, kesalahan maupun kekurangan lain akibat kelalaian dan ketidak telitian Kontraktor dalam Gambar Pelelangan; dan atau perbaikan finish yang tidak memuaskan akan ditolak dan harus diganti hingga disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Perbaikan, Perubahan, dan Penggantian harus dilaksanakan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat di klaim sebagai pekerjaan tambah, maupun penambahan waktu.
25. PEKERJAAN KUNCI,ALAT-ALAT PENGGANTUNG DAN KACA
25.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi : pengadaan dan pemasangan semua bahan perlengkapan pintu dan jendela seperti : Kunci, Engsel, Sloot, dan hardware lainnya yang dipergunakan di dalam pekerjaan ini :
a. Pekerjaan pintu dan jendela rangka alumunium
b. Dan lain-lain seperti yang tercantum dalam Gambar Kerja
25.2. Persyaratan Bahan
b. Kontraktor wajib mengajukan contoh bahan untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi.
c. Pemilihan hardware pintu dan jendela disesuaikan dengan jenis bahan pintu. d. Engsel
Pintu alumunium
untuk pintu rangka alumunium dipakai Ball Bearing setaraf Stanley, panjang 8,9 cm, lebar 7,6 cm, pemakaian dua buah tiap daun pintu.
Jendela alumunium
Dipakai system engsel geser ayun, yang merangkap berfungsi sebagai hak angin dan sloot.
Bahan baja difinish galvanis dipasang pada atas dan bawah 1/3 lebar daun jendela. Produk tipe KANAR. Pemakaian dua buah (satu pasang) tiap daun jendela e. Kunci dan Slot
Pintu alumunium digunakan Kunci dua
slagh setara “SES”
Pintu Alumunium Entrence (pintu double) digunakan kunci standard “DORMAN” Gagang/Handle pintu utama dan entarnce samping menggunakan merk
setara “YALE”, type PH 300-6
f. Semua pintu harus dipasang sloot, untuk pintu satu daun dipasang satu buah sloot pada bagian pinggir, sedangkan untuk pintu dua buah daun dipakai sloot tanam besar atas bawah dari bahan steel di Galvanisir atau Stainless Steel.
25.3. Persyaratan Teknis
25.4. Persyaratan Pelaksanaan
a. Kontraktor wajib membuat Shop Drawing
(Gambar Detail Pelaksanaan)
berdasarkan keadaan di lapangan dan standard-standard fabrikasi.
b. Shop Drawing harus disetujui dahulu oleh Konsultan Pengawas/Direksi.
c. Engsel
Pemasangan engsel pintu 30 cm dari permukaan atas dan bawah pintu.
Pemasangan engsel Whitco Stay (gesek) adalah dipasang atas dan bawah yang pada posisi 1/3 lebar jendela atau sesuai spesifikasi dari Pabrik.
25.5. Pekerjaan Kaca
Jenis yang digunakan adalah Kaca Polos dengan ketebalan sesuai dengan yang tercantum pada gambar rencana yaitu: a. Untuk Daun Pintu kaca Utama
Kaca Jenis TEMPERED tebal 12 mm, dan logo di Etsa atau seperti tercantum dalam gambar kerja.
Kaca Bening polos untuk Semua jendela /bouvenlight dan Pintu kaca tebal 5 mm, atau seperti tercantum dalam gambar rencana
Pekerjaan Cermin
Untuk semua cermin dalam Toilet seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
25.6. Persyaratan Bahan
Semua kaca yang dipakai harus memenuhi standard SII 0189-78. Semua cermin harus sesuai dengan NI-3.