• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melampaui Tenaga Dalam Untuk Hidup Berkesadaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Melampaui Tenaga Dalam Untuk Hidup Berkesadaran"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

MELAMPAUI TENAGA DALAM UNTUK HIDUP BERKESADARAN

Sumber: Free Ebook from Agung Webe, “Melampaui tenaga dalam”, http://sakraindonesia.com

Karena sudah 5 tahun buku ini terbit dalam bentuk cetak, maka saya berkeinginan untuk ‘sharing’ kepada lebih banyak orang lagi yang belum bisa menikmati buku tersebut ( karena sudah tidak dicetak lagi ), untuk itu saya terbitkan dalam bentuk elektronik yaitu Ebook. Edisi Ebook ini adalah versi pertama dari tulisan saya yang belum di revisi di penerbit. Buku ini saya tulis bukan bertujuan untuk PROFIT, seperti tujuan penulisan awal buku tersebut dalam bentuk cetak yang juga tidak bertujuan untuk PROFIT. Tujuan saya adalah sharing kepada lebih banyak orang dan berusaha memberikanmanfaat yang cerdas dan memberdayakan. Salam cerdas Indonesia!

DAFTAR ISI

1. Ah! Tenaga Dalam

2. Yogya, 1986

3. Pendekar

4. Pecahnya perguruan

5. Jakarta, 1993

6. Jenuh, Rileks, Pasrah

7. Rahasia Demo

8. Tidak puas

9. Dengan teori fisika

10.Jurus dan gerakan Yoga

11.Apa lagi?

12.Konsentrasi, proyeksi pikiran dan ego 13.Kesehatan

(2)

15.Cakra dan jurus tenaga dalam 16.Kundalini dan bangkitnya tenaga dalam

17.Melampaui konsentrasi

18.Katarsis

19.Pendekar sejati

20.Hidup sadar dengan melampaui tenaga dalam 21.Biografi

1. AH ! TENAGA DALAM !

Saya akan mulai dengan kata " tenaga dalam". Ah! Terus terang tenaga dalam merupakan kata yang menarik bagi warga Nusantara ini. Tidak asing lagi, bahkan sebagian orang pernah merasakan, menurut mereka, apa dan bagaimana tenaga dalam itu. Juga kalau kita melihat hal-hal yang sedikit fantastis dan di luar nalar, mudah distempel sebagai tenaga dalam. Membingungkan. Namun demikian adanya, tenaga dalam bagi masyarakat kita mungkin sudah menjadi bagian dari tradisi budaya Nusantara. Ya, tradisi budaya yang dipunyai Nusantara. Tidak jelas betul kapan tenaga dalam mulai ada di negeri ini, namun saya yakin, tenaga dalam merupakan warisan yang telah lama mengakar dalam budaya Nusantara. Walaupun ya, gerakan yang ada dan pola pernafasannya mirip dengan Yoga. Namun, tenaga dalam adalah asli berciri Nusantara. Kalau yoga yang di temukan oleh para Yogi di India mempunyai berbagai gerakan pembersihan melalui nafas yang terkenal dengan istilah Kriya, maka budaya Nusantara mempunyai gerakan pembersihan melalui gerakan dan nafas yang kita kenal dengan nama tenaga dalam. Saat ini kita tidak akan membicarakan tenaga dalam

(3)

yang umum dikenal, yaitu konsentrasi dan pemunculan kekuatan super, yang berasal dari energi pikiran kita. Kita akan melihat tenaga dalam dari sisi yang lain. Sisi yang menyejukkan, yang melembutkan, yang dapat membuat jiwa kita berevolusi, yang dapat mengantarkan kita kepada "rasa sejati" diri kita. Yang dapat membuat kita mendengarkan suara nurani yang berbisik sangat lembut itu, dan menjadikan kita manusia penuh cinta. Melihat tenaga dalam dari sisi yang lain, sebenarnya bukan juga. Inilah tujuan utama dari latihan tenaga dalam di Nusantara pada awalnya. Yaitu untuk "pembersihan". Pembersihan dari sampah-sampah pikiran bawah sadar manusia. Sampah pikiran itu merupakan debu penghalang dari cermin hati, sehingga kita tidak dapat berkaca darinya.. Dan latihan Tenaga Dalam yang dimaknai untuk pembersihan atau katarsis dapat mengembangkan rasa dalam diri, dapat

menumbuhkan Kasih.

Hanya saja, sekarang tenaga dalam sudah mengalami distorsi makna yang jauh sekali. Latihan konsentrasi dan penguatan kekuatan pikiran justru akan menebalkan debu dan sampah dari cermin hati tersebut. Jarang ada yang memahami makna awal ini, malah banyak yang menyimpangkan dari makna pembersihan ini. Hasilnya? Bisa kita lihat. Membanggakan kekuatan yang dimiliki. Mengembangkan konsentrasi sehingga merasa bisa melihat ke depan, mendengar jauh, ataupun melempar orang dari jauh. Semua itu akan membawa ego kita semakin besar. Dan akan membuat jiwa kita semakin keras. Jiwa yang keras, tidak akan menerima kelembutan, tidak akan memancarkan Kasih. Dan pertarungan serta perkelahian tidak terhindarkan. Apalagi kalau kita melihat demo tenaga dalam yang

(4)

ada, seperti mementalkan orang, membuat bola lampu pijar yang dijatuhkan tidak pecah, mengangkat orang dengan jari, mematahkan pompa air dari besi, dan lainnya.

Hal yang pada mulanya hanya digunakan sebagai pertunjukan atau hiburan, atau bisa juga dikatakan sebagai gula-gula, pemanis. Sekarang hal tersebut dijadikan tujuan seseorang untuk mempelajari tenaga dalam. Bahkan kesehatan juga ditawarkan dalam tenaga dalam, yang mana kesehatanpun sebenarnya adalah efek samping dari tenaga dalam, bukan hasilnya. Hal-hal seperti demo yang seakan-akan menggunakan kekuatan adikodrati, kelihatan fantastis dan tidak masuk akal, sebenarnya sangat masuk akal sekali. Sangat rasional dan mudah sekali dilakukan. Hanya saja hal itu dibungkus sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan seolah-olah dilakukan dengan kekuatan yang tak tampak. Dan ironisnya, orang akan lebih tertarik dengan demo-demo tersebut, dengan efek kesehatan yang muncul dari latihannya, bukan dengan apa yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan dengan apa yang dinamakan "bangkitnya" tenaga dalam. Lebih celakanya lagi, sekarang ada yang ikut-ikutan menggunakan istilah Cakra dan Kundalini (terutama karena semakin populernya penggunaan istilahistilah ini di tanah air). Bukan karena mereka benar-benar paham dengan apa yang dinamakan Kundalini dan Cakra, namun karena istilah tersebut dapat mendongkrak popularitas suatu perguruan. Mencampur-adukkan istilah Kundalini dan Cakra dalam tenaga dalam sungguh sangat membingungkan. Mungkin ada orang yang masih bingung, sehingga mereka mencari teman untuk bingung! Tenaga dalam

(5)

sebenarnya sudah didesain, sudah dirancang untuk komunitas Nusantara, sesuai dengan adat budaya dan kebutuhan pada jaman atau waktu itu. Tidak dapat dipungkiri atau disangkal kalau gerakan-gerakan dan pola pernafasannya yang ada berasal dari Yoga. Hanya saja, oleh seorang yang ahli Yoga, (saya yakin bahwasannya pencetus latihan tenaga dalam dengan jurus ini mengenal Yoga secara dalam) kemudian menyesuaikan menurut kebutuhan setempat. Lalu terjadilah asimilasi, dan kemudian terkenal dengan nama tenaga dalam. Asimilasi itu sangat dibutuhkan. Di mana suatu ajaran yang diperlukan di suatu tempat akan disesuaikan dengan budaya yang ada. Seperti Islam di tanah Jawa yang kemudian diasimilasikan dengan wayang oleh Sunan Kali Jaga. Lalu meditasi setelah bersinggungan dengan Jepang muncullah Zen, kalau bersinggungan dengan Cina muncullah Tao. Kemudian oleh seorang Guru Spiritual, Osho, meditasi yang diusung ke Amerika untuk konsumsi barat disesuaikan dengan kebutuhan barat dan muncullah Active Meditation. Juga seorang Yogi yang pada jamannya mengajarkan meditasi di Barat, Maharisi Mahesh Yogi, kemudian memunculkan Transcendental Meditation.

Marilah kita coba memaknai kembali tenaga dalam dan membuka sudutsudut kelembutan tenaga dalam. Sedikit demi sedikit melampaui anak tangga konsentrasi dalam tenaga dalam sehingga dapat mencapai jurus tertinggi yang terkenal dengan Jurus Diam, ketika Konsentrasi dan gerakan terlampaui. Pelampauan tenaga dalam, saat sampah-sampah bawah sadar terbuang, akan membuat tubuh kita nyaman, pikiran tenang. Otomatis kesehatan akan kita dapatkan dengan lancarnya peredaran darah kita.

(6)

Kalau pikiran tenang, rasa kita berkembang dan tubuh akan semakin peka terhadap alam, sehingga akan merasakan sensasi-sensasi alam yang sangat alami. Getaran listrik tubuh akan terasa kalau kita peka. Saya mengajak untuk menjadi "Pendekar" di atas Pendekar. Menjadi Pendekar sejati. Kalau latihan-latihan tenaga dalam dijadikan sebagai wahana katarsis atau pembersihan, kemudian kita mendapatkan Jurus Diam, saat itu dapat dikatakan kalau "tenaga dalam" kita sudah 'bangkit'. Dan 'jalur' tenaga dalam kita sudah 'terbuka' Pendekar di atas Pendekar, seorang Pendekar sejati, bukan yang bisa makan beling, bukan bisa mematahkan besi, bukan bisa mementalkan orang atau

mematahkan dragon.

Seorang Pendekar sejati adalah seorang manusia yang lembut, penuh kasih dan memancarkan kenyamanan bagi sekitarnya. Bukan seorang yang bisa meramal atau mencari barang hilang, atau tahu sebelum terjadinya suatu peristiwa. Walaupun dia tahu itu semua, dia memilih untuk diam dari pada membicarakannya kepada orang lain. Karena dia sudah menjadi seorang Pendekar sejati. Pendekar sejati yang menguasai jurus tertinggi, jurus diam, akan sangat manusiawi, akan selaras dengan alam. Akan minum di saat haus, dan akan makan di saat lapar. Kita akan mulai masuk tenaga dalam sebagai pemahaman TRANSCENDENTAL, pemahaman yang mengantar untuk melampaui latihan tenaga dalam. Sebelumnya, saya akan kembali ditahun 1986, saat pertama saya mengenal tenaga dalam, tenaga dalam yang sudah terdistorsi sebagai latihan-latihan kekuatan pikiran. Dari sana, semoga kita bisa melihat tenaga dalam dengan prespektif yang lain. Untuk perjalanan

(7)

spiritual kita, untuk melaju menuju stasiun jiwa atau maqam kita yang lebih tinggi. Menuju kepada penyatuan, menuju kepada diam. Dan menjadi pendekar di atas pendekar. Setelah itu memang tidak ada yang harus kita lakukan, karena kita mencapai dalam kepasrahan atas kehendak Yang Maha Tunggal, yang berbisik lewat hati dengan suara yang sangat lembut.

YOGYA, 1 9 8 6

Saya baru duduk di bangku SMP waktu itu. Gejolak ingin tahu semakin besar terhadap apa yang selama ini menjadi teka-teki buat saya. Kakek saya, sekarang Almarhum, waktu saya masih SD sering bercerita tentang apa yang dinamakannya kekuatan pikiran, magnetisme katanya. Beliau katakan bahwa konsentrasi dapat membuat pikiran semakin kuat. Tenaga yang dihasilkan bisa dahsyat. Konon, kata tetangga-tetangga saya, kakek termasuk salah satu orang yang disegani, karena dianggap mempunyai kekuatan lebih. Namun kalau kami sedang berbincang, (waktu itu selalu dilakukan pada waktu sore hari, di warung klontong milik kakek), saya selalu minta kepada kakek untuk menunjukkan kekuatan itu seperti apa. Kakek hanya selalu bilang, kalau itu semua tidak ada gunanya. Yang penting katanya, sopo gawe nganggo, sopo nandur ngunduh, "siapa berbuat bakal menuai akibatnya". Saya selalu tidak puas dengan jawaban semacam itu.

(8)

Sekali waktu, kakek memberikan suatu pola nafas yang katanya bisa menguatkan energi pikiran kita. Namun kakek tidak memberikan bagaimana menggunakannya. Karena saya penasaran, ya saya melakukan juga. Pola itu adalah waktu menarik nafas pelan sambil mengatakan dalam hati, aku menghirup kekuatan alam. Lalu tahan nafas sebentar sambil mengatakan kekuatan alam sudah ada dalam diriku. Kemudian buang nafas pelan sambil bilang kekuatan alam bisa saya gunakan semauku. Hal itu saya lakukan sejak kelas 4 SD, tanpa tahu untuk apa. Sekali waktu, saat menutup mata dan melakukan pola nafas itu, saya melihat cahaya warna-warni menyilaukan yang saya tidak tahu. Kakek hanya bilang, tidak apa-apa, lanjutkan. Kembali saya tidak puas dengan jawaban semacam itu. Atau paling tidak saya belum memahami maksud kakek waktu itu.

Masuk SMP, ayah saya sudah memberikan kebebasan untuk mengikuti kegiatan di luar sekolah yang saya senangi. Saya langsung bilang kalau ingin masuk di salah satu perguruan tenaga dalam. Ayah sempat tidak setuju karena menganggap umur saya masih belum cukup untuk mempelajari Tenaga Dalam. Tetapi kakek meyakinkan ayah kalau saya tidak apa-apa bila mengikuti kegiatan seperti itu. Akhirnya bersama teman-teman, masuklah saya di satu perguruan Tenaga Dalam di Yogyakarta. Hari pertama latihan, deg-degan juga, apa yang akan saya pelajari nanti. Apakah akan sama seperti apa yang saya bayangkan? Hari pertama itu, sebelumnya saya dan teman-teman

(9)

diberikan demo dari para senior yang bisa mementalkan orang. Wah, langsung terbayang di benak saya bahwa nanti saya juga pasti bisa melakukan hal semacam itu. Kemudian saya disuruh untuk melakukan gerakan putaran yang berputar melawan jarum jam. Disuruh berputar sebanyak-banyaknya. Tidak diberikan penjelasan untuk apa manfaatnya, saya langsung melakukannya, walupun hasilnya pusing dan muntah-muntah. Latihan kedua masih disuruh memutar. Katanya untuk melatih keseimbangan. Kali ini sudah tidak pusing dan muntah. Malah ada rasa yang enak waktu melakukannya. Sulit diungkapkan. Saat itu saya tidak tahu. Dan anehnya, saya malah kangen untuk melakukan jurus berputar itu.

Semenjak latihan, saya jadi jarang ngobrol dengan kakek. Kakek juga kelihatannya tidak menunjukkan untuk mengajak ngobrol seperti dulu. Dulu kakek bisa cerita panjang lebar tentang magnetisme. Setelah saya latihan, beliau hanya selalu mengulang-ulang kalimat, kalau pikiran anteng, kita akan menjadi orang sakti. Anteng itu sama dengan tenang, diam. Waktu itu saya mengacuhkan kata kakek. Karena saya anggap hanya sebagai pepatah biasa. Saya juga ingat kalau setelah itu kakek selalu bercerita tentang Krishnamurti, seorang tokoh spiritual yang kakek kagumi. Karena waktu itu saya tidak tertarik, maka saya banyak tidak menanggapi kakek kalau lagi cerita tentang Krishnamurti. Sebenarnya banyak yang kakek ceritakan tentang Krishnamurti dan ajarannya. Menyesal juga sekarang, mengapa dulu tidak belajar

(10)

banyak tentang yang satu ini. Kakek sekarang sudah almarhum, dan sekarang tentunya sudah tidak bisa mendengarkan beliau bercerita tentang Krishnamurti lagi.

Selama saya latihan tenaga dalam, beberapa kata kakek selalu terpatri di hati saya, yaitu mengenai Karma. Siapa berbuat pasti menuai akibatnya. Juga kakek pernah mengatakan tentang ilmu "kasunyatan". Tadinya saya menganggap ilmu ini adalah ilmu adikodrati, tidak tahunya hanya pemahaman tentang hidup. Jadi waktu itu saya anggap hanya sebagai angin lalu saja. Namun yang selalu saya ingat adalah pemahaman bahwa hari ini yang penting. Kakek mengatakan bahwa masa depan ada pada hari ini. Dan masa lalu sudah lewat. Kita sedang menikmati buah masa lalu pada hari ini. Saya tidak paham waktu itu. Yang menarik bagi saya saat itu adalah mementalkan orang. Saya nantinya baru paham tentang kasunyatan ini setelah saya bertemu dengan seorang Guru, seorang Mursyid di kemudian tahun, yang membuka wawasan dan cara pandang saya tentang kehidupan, yang membimbing untuk berjalan ke dalam diri, juga melihat sisi lain tentang tenaga dalam ini. Kembali kepada latihan tenaga dalam, Jurus dasar yang saya dapatkan adalah sepuluh gerakan. Dengan pola nafas dasar ditahan di perut. Nanti akan kita selami distorsi yang terjadi dalam pola pernafasannya, sekarang kita selami sesuai dengan kejadian yang ada.

(11)

Tahun itu istilah Cakra dan Kundalini belum populer walaupun sudah ada yang menggunakannya. Istilah itu baru populer setelah dekade 90-an. Tahun itu, istilahnya adalah 'pembukaan jalur tenaga dalam'. Setelah hapal melakukan gerakan sepuluh jurus dengan pola nafasnya, barulah seseorang 'dibuka' jalur tenaga dalamnya. Kalau sekarang, yang lagi populer adalah Attunement Reiki. Attunenment dan 'buka jalur tenaga dalam', sebenarnya fenomena yang sama. Hanya saja karena istilahnya berbeda, maka orang akan penasaran dengan istilah asing tersebut. Bahkan pembukaan 'jalur Cakra' - pun mempunyai makna yang kurang lebih sama dengan itu. Setelah 'pembukaan jalur' itu, barulah bisa menggunakan apa yang dinamakan tenaga dalam . Saat itu juga, saya bisa mementalkan orang. Dikeroyok rame-rame terpental semua. Saya bangga. Saya merasa hebat. Percaya diri saya bertambah. Juga semakin merasakan sensasi dalam badan ini. Ada getaran, ada rasa panas, ada rasa kesemutan. Semuanya membuat saya exited.

Ada satu pengalaman yang aneh dan tak terlupakan. Saya naik sepeda berangkat ke sekolah, pagi hari. Waktu di perempatan jalan, saya berhenti agak maju dari garis polisi. Tiba-tiba pengendara motor yang melaju dari kanan menabrak saya. Sepeda saya oleng tapi tidak sempat jatuh, sementara motor itu jatuh. Pengendara motor rupanya tidak mau selesai sampai di situ saja. Kelihatannya dia marah. Orangnya lebih besar dari saya. Pakai seragam SMA, sementara saya SMP. Dia mendatangi saya dan memegang krah baju saya. Genggaman tangannya mulai diluncurkan untuk meninju kepala saya. Dan, kejadian yang tidak pernah saya duga terjadi. Sebelum tangan itu menyentuh saya, orang itu sudah terpental terkapar di aspal jalan. Saya bingung. Apa yang terjadi? Inikah tenaga dalam?

(12)

Saya tidak yakin dengan ini semua. Mungkinkah latihan saya yang singkat bisa menghasilkan hal seperti ini? Kemudian banyak orang-orang mengerubungi saya, saya dikira cidera. Salah satunya kemudian membetulkan sepeda saya dan menyuruh saya cepat-cepat pergi dari tempat itu. Dengan cepat-cepat saya melaju ke sekolahan. Di sekolahan saya cerita sama teman-teman. Akhirnya banyak yang tertarik untuk ikut latihan tenaga dalam. Di perguruan, hal itu juga menjadi bahasan yang menarik. Seorang senior saya di perguruan mengatakan mustahil kalau hanya latihan yang relatif sebentar ini bisa menimbulkan tenaga yang besar pada peristiwa tersebut. Dia mengatakan pasti saya pernah latihan sesuatu sebelumnya. Saya tidak tahu. Dan saya juga tidak yakin, apakah ini karena pola nafas yang pernah saya latih yang diberikan oleh Kakek?

Beberapa bulan kemudian, latihan pola nafasnya sudah berubah, yaitu dikeluarkan lewat hidung dengan hentakan keras. Seperti orang membuang ingus. Itu dikenal dengan nama jurus Kasaran. Di sana kemudian dilatih untuk mematahkan besi pompa dragon dan memecahkan ujung minuman botol. Asyik juga. Saya menikmatinya waktu itu. Namun yang saya rasakan, rasa ingin mencoba apa yang dinamakan ilmu itu semakin terasa. Setiap ada konflik dengan seseorang yang maju adalah rasa ingin menantang. Saat itu saya sempat membuat tidur seorang guru sekolah yang kami benci. Dia bisa tidur ngorok di dalam kelas. Geli juga waktu itu. Kemudian meningkat lagi dengan halusan, yaitu pola nafas yang dihirup halus pelan dan dikeluarkan halus pelan. Kadang kami sampai terengah-engah melakukannya. Keringat mengucur

(13)

deras dan badan menjadi panas. Kemudian ada gerakan gabungan atau kawinan, yaitu gabungan pola nafas keras dan halus. Juga ada gabungan gerak atau jurus yang digabungkan menjadi beberapa gerakan. Jadi satu rangkaian gerak. Kalau dilihat sangat indah. Itulah seninya. Maka ada yang menamakannya juga Seni

Tenaga Dalam. Pada waktu nama tenaga dalam mulai tercemar jelek, yaitu dekade 90-an, kemudian banyak perguruan yang mengganti namanya menjadi Seni Pernafasan, Seni Nafas, dan sebagainya. Hal itu sebenarnya tidak perlu dilakukan. Yang perlu adalah membenahi makna tenaga dalam sehingga tidak disalah-tafsirkan dan dipersepsikan buruk oleh masyarakat. Mengembalikan makna tenaga dalam pada awalnya. Kalau-pun diganti dengan nama seni pernafasan, namun makna yang diajarkan masih tetap untuk konsentrasi menguatkan kekuatan pikiran, hasilnya sama saja. Memperbesar ego manusia. Setelah hampir satu setengah tahun latihan, mulailah ujian untuk gerakan khusus yang latihannya beralih malam hari. Tadinya sore hari jam 16.oo. Saya mengikutinya, dan lulus. Boleh mengikuti latihan malam hari. Latihannya sekarang jam 19.00 Latihan malam hari pada awalnnya hanya memandang lilin selama 30 menit, tidak boleh berkedip. Mata perih dan mengeluarkan air mata. Pola nafasnya menghirup pelan sekali dan mengeluarkan pelan sekali. Perintahnya hanya konsentrasi pada lilin. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Mungkin para pelatih waktu itu juga tidak tahu makna dari memandang lilin sehingga tidak bisa menjelaskannya. Bahkan mungkin guru utamanya juga tidak tahu? Kemudian kami mulai

(14)

belajar berbagai macam demo-demo tenaga dalam yang biasa dilakukan untuk pertunjukan. Seperti berjalan di atas api, mengangkat orang dengan koran, tarik tambang dengan benang jahit, dan lain-lain.

Sampai saya lulus SMP dan masuk SMA, berbagai demo telah saya kuasai. Gerak dan gabungan jurus serta gabungan beberapa pola pernafasan terus dilatih. Rasa tidak puas terhadap apa yang saya dapatkan semakin lebih. Ada yang kurang. Tapi saya tidak tahu apa. Saya kemudian mencari teman dari lain perguruan untuk mencoba seberapa besar tenaga saya. Kadang saya menang dan bangga. Kadang saya kalah dan lebih giat lagi untuk latihan. Suatu kejar-mengejar yang tidak putus-putus. Saya tak sadar bahwa sudah masuk dalam mata rantai pemuasan ego. Tahun kelima saya latihan, kemudian ada ujian untuk "kependekaran". Yaitu akan memperoleh jurus-jurus khusus dan pamungkas, serta berhak untuk mengajar. Saya mengikutinya dan lulus. Latihan kependekaran sebenarnya banyak diamnya, semacam meditasi pada waktu itu. Namun masih berkonsentrasi. Walaupun duduk diam, memejamkan mata, konsentrasi pada satu titik tetap dijalankan. Visualisasi terhadap cahaya yang masuk lewat ubun-ubun kemudian masuk melewati dada dan seluruh tubuh.

Ada satu jurus yang dinamakan "gerak naluri" waktu itu. Yaitu saya disuruh untuk bergerak mengikuti kata hati. Apapun gerakan yang muncul ya diikuti. Ada yang bergerak tidak karuan. Ada yang menari lembut. Ada yang tertawa, menangis, pokoknya macam-macam. Waktu itu, hal itu dinamakan gerak naluri karena dengan gerakan itu kita bisa melakukan gerakan jurus orang lain yang tidak kita kenal, atau gerakan yang

(15)

kita anggap waktu itu dapat dari alam lain. Setelah melakukan latihan itu, rasanya plong sekali. Bisa teriak, bisa jungkir balik, bisa loncat-loncat, bisa nendang sesuka hati. Kita bisa bergerak sesuka kita. Tetapi yang menjadi titik inti latihan itu adalah bagaimana kita mengambil gerakan yang belum kita ketahui, dan kita bisa bergerak walaupun kita belum pernah belajar gerakan tersebut. Lalu acara inti dalam jenjang itu adalah 'pembangkitan inti' tenaga dalam. Kami semua duduk melingkar, tengah malam. Lalu dibalut kain putih melingkar. Si Guru besar kemudian memegang kepala masing-masing. Setelah itu, diajarkannyalah jurus diam. Yaitu berdiri diam dengan tangan menyilang di dada. Badan benar-benar diam, namun pikiran tetap memvisualisasikan tentang adanya cahaya putih yang menyelimuti kita. Kami semua dikatakan 'telah bangkit' inti tenaga dalamnya. Dan berhak untuk memberikan latihan tenaga dalam bagi yang mau mempelajari. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu, mungkin juga teman-teman saya waktu itu. Yang dikatakan bangkit intinya itu seperti apa. Yang kami rasakan saat itu memang suatu sensasi getaran yang merambat sepanjang tulang punggung. Namun kok tidak ada sesuatu kejadian yang lebih dalam tubuh ini. Saya kira kalau kemudian bisa mengeluarkan asap

atau terbang paling tidak.

PENDEKAR

Setelah menjadi Pendekar, apa hebatnya? Toh, tetap juga butuh tidur dan makan nasi. Tetap juga naik sepeda kalau mau ke sekolah. Tetap juga harus ujian untuk lulus. Pendekar hanyalah suatu jenjang. Jenjang yang dalam perguruan tenaga dalam seseorang berhak

(16)

belajar untuk mendalaminya lebih dalam lagi. Tentunya sesuai kapasitas gurunya. Celakanya kalau gurunya hanya tahu dari sisi jurus dan gerak, tanpa tahu makna dan simbolnya, filosofinya, dan apa tujuannya, sudah barang tentu muridnya juga hanya jadi burung Beo. Murid hanya akan dipuaskan oleh sensasi yang dirasakan di tubuhnya, oleh pengalaman-pengalaman pikirannya, oleh demo-demo yang bisa dilakukannya. Menyedihkan. Jenjang pendekar dari satu perguruan dengan lain perguruan berbeda. Kalau seorang guru memang mempersiapkan seorang murid yang diharapkan siap untuk menerima inti ajarannya, sudah barang tentu latihan-latihan sebelumnya adalah latihan persiapan untuk jenjang yang berikutnya. Bukan sekedar latihan jurus saja.

Menurut asal katanya, pendekar terdiri dari dua asal kata. Pende atau pandai, dan Kar dari karya atau berkarya. Jadi Pendekar adalah seorang yang pandai berkarya. Berkarya untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Namun, dalam jenjang tenaga dalam, pendekar adalah identik dengan kesaktian dan kelebihan yang tidak dipunyai oleh yuniornya. Saya juga demikian. Menjadi pendekar adalah idola para yunior waktu itu. Bayangan saya adalah mereka yang bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Pokoknya, pendekar adalah sakti mandraguna, ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo, tidak mempan senjata tajam dan senapan. Walaupun sebenarnya, sebelum menjadi pendekar sudah menyatakan di bawah sumpah: 1. Takwa kepada Tuhan YME 2. Berbakti kepada masyarakat 3. Tidak mencari permusuhan, tapi mencari kawan 4. Mengembangkan sikap cinta kasih.

(17)

Sumpah yang indah, sumpah yang bisa menggalang persatuan dan kesatuan. Namun kelihatannya sumpah itu hanya menjadi sekedar slogan saja. Seperti para wakil rakyat yang bersumpah sebelum menduduki jabatannya. Sumpah hanya menjadi service bibir saja. Setelah itu tetap saja korupsi, tetap saja menipu dan mengelabui rakyat. Apa yang salah? Bayangkan saja. Sampai saat ini, yang terdaftar di Ikatan Pencak Silat Indonesia sudah lebih dari seratus perguruan. Belum lagi yang tidak terdaftar, yang hanya berupa yayasan. Kalau saja, mereka sudah menelorkan lebih dari seribu pendekar. Dan pendekar-pendekar itu benar-benar menghayati sumpahnya, kemudian menerjemahkan dalam kehidupan sehari-hari lewat lapangan kerjanya, betapa nyamannya lingkungan kita ini. Namun apa yang terjadi. Tidak kita pungkiri, banyak para pendekar yang menjadi satuan pengaman, menggunakan kependekarannya untuk menekan orang lain, demi uang. Saya punya seorang teman yang masih berlatih tenaga dalam. Dia selalu bilang kepada saya, kalau dia berlatih dari dulu, mungkin sekarang sudah jadi pendekar, dan dia sudah bisa menguasai berbagai ilmu yang dalam benaknya amat sakti.

Saya sedih dengan pandangan seperti itu. Masih banyak orang yang beranggapan demikian. Menjadi pendekar adalah sakti. Apalagi didukung oleh beberapa sinetron kita yang memvisualisasikan kesaktian dan kanuragan. Komplit sudah angan-angan dari masyarakat kita. Juga ada seorang teman, yang berambisi sekali belajar tenaga dalam. Katanya, karena lingkungannya banyak preman jadi dia harus bisa mengimbangi orang -orang sekitarnya dengan belajar kanuragan. Teman saya tidak sadar dengan hal itu. Dia melakukan suatu kejar-kejaran yang tidak putus-putus.

(18)

Yang satu kuat, yang lain kalah. Yang kalah akan belajar lagi, kemudian bisa mengalahkan yang tadinya kuat. Lalu yang kalah akan belajar lagi. Begitu seterusnya yang akan menjadi lingkaran yang tidak akan pernah putus. Mengapa hal itu harus terjadi. Di mana sumpah untuk mengembangkan cinta kasih? Namun demikianlah anggapan kebanyakan orang. Tenaga Dalam adalah olah kanuragan untuk memperoleh kesaktian. Untuk membuat mempunyai kekuatan lebih. Apa benar demikian? Saya yakin, seseorang yang sudah mencapai kependekaran, tentunya dengan asumsi pendekar yang benar-benar menghayatinya, tahu akan arti tenaga dalam. Sayangnya, beberapa orang akan membungkus arti itu untuk mencari anggota. Lalu tenaga dalam memang dimunculkan sebagai olah kesaktian semata-mata untuk profit, untuk uang. Untuk mengembangkan jaringan yayasannya yang tentunya membawa keuntungan bagi beberapa orang tersebut.

Dalam latihan kependekaran, sebenarnya banyak yang harus dijabarkan untuk pengertian pemula, supaya mereka juga tahu arti sesungguhnya dari predikat pendekar. Kita tahu bahwa tenaga dalam bisa mementalkan orang yang menyerang dirinya. Dengan syarat bahwa si penyerang terpancing emosinya. Dalam keadaan seperti itu, orang yang menyerang tidak akan bisa menyentuh bahkan terpental beberapa meter. Dalam tataran Pendekar, kalau seorang pendekar diserang dan si penyerang terpental, atau diserang dengan senjata tajam dan tidak luka, semua hal itu akan dikatakan bahwa dia gagal melakoni ilmunya. Lho anehkan? Diserang mental, di bacok tidak apa-apa, kok malah di katagorikan gagal. Ya, hal itu termasuk bahwa seorang pendekar belum bisa

(19)

melakukan ilmu secara benar. Ada suatu pengertian yang kelihatannya bertolak belakang dengan seseorang yang baru belajar tenaga dalam. Apabila masuk pertama kali, ia akan menilai bahwa dirinya berhasil apabila sudah bisa mementalkan orang.

Seorang pendekar harusnya tidak akan mementalkan orang. Yang harus dihayati oleh seorang pendekar adalah, ilmu dia harusnya sudah bisa mengubah niat seseorang. Apabila orang akan menyerang, belum sampai menyerang orang akan mengurungkan niatnya, lebih bagus lagi kalau kemudian menjadi kawan. Apabila ada permusuhan, kemudian dia datang, permusuhan itu akan menjadi silaturrahmi yang menyenangkan. Indah bukan? seharusnya hal inipun sudah dimasyarakatkan sejak di tingkat dasar. Tapi kenyataannya tidak. Masalahnya kembali kepada uang dan besarnya perguruan. Kalau dari awal tidak ada mementalkan orang, tidak ada adu tenaga, ya tidak ada muridnya, tidak berkembang perguruannya, tidak profit. Namun kalau latihan mementalkan orang selalu dijadikan maskot penarik, kita bisa lihat hasilnya. Orang akan mengklaim dirinya serba bisa, bisa menyembuhkan, bisa ini bisa itu. Walaupun kadang dia bersembunyi di balik nama Tuhan, mengatas namakan Tuhan, tapi ego itu tetap tidak bisa disembunyikan. Kenyataannya ya masih cari uang juga. Walaupun kata bayar diganti dengan Mahar!

Untuk menghayati ilmu pendekar yang tepat tidaklah mudah. Ya, tentunya hal itu tercipta kalau seseorang mempunyai rasa Kasih yang besar. Bukan ego yang besar. Dan para pendekar kita masih memupuk ego ini dalam setiap latihannya. Memupuk ego dalam setiap latihan dan tidak disadari oleh mereka. Dalam latihan,

(20)

selalu ada yang namanya adu tenaga. Lalu ada yang kalah dan ada yang menang. Yang menang akan bangga, dan cenderung akan mencoba ilmunya kepada orang lain. Yang kalah akan meningkatkan latihan lagi dan di kemudian hari akan mencoba menantang lagi. Dalam suatu latihan, kami sedang mempraktekkan ilmu yang namanya Pantek. Kalau ilmu ini dilakukan, orang akan bertingkah seperti apa yang diharapkan. Teman saya mencobanya. Tiba-tiba dia mengeram seperti harimau. Teman saya berubah tingkahnya seperti harimau. Dia mencakar, meloncat dan menyerang. Tenaganya menjadi kuat. Empat orang tidak bisa memeganginya. Lalu satu persatu kami menyerangnya secara gantian. Bangga sekali waktu itu. Dan sekarangpun masih ada beberapa perguruan yang masih menawarkan ilmu semacam itu. Kadang mereka membungkusnya dengan nama ilmu Khodam, ilmu Harimau Putih, dan sebagainya. Aneh. Sudah menjadi manusia, malah ingin menjadi binatang. Hal itu tidak disadari oleh para pendekarnya. Banyak yang kemudian bangga bisa menjadi harimau, monyet, ular. Mereka tidak sadar sudah menurunkan derajadnya sendiri. Sadar tidak sih kalau kita ini manusia yang punya potensi untuk berkembang dan berevolusi secara spiritual? Kok malah turun menjadi binatang. Seorang Pendekar tidak akan mengklaim dirinya pendekar, seperti iklan di majalah-majalah kita. Meng-iklankan bisa ini dan bisa itu. Tidak! Pendekar adalah manusia sejati. Yang tadinya orang biasa sekarang menjadi manusia. Dia akan berkarya. Pandai berkarya. Berkarya tanpa pamrih. (Nanti kita bahas dalam Pendekar Sejati). Munculnya ego dalam diri pendekar, setidaknya mereka yang mengaku pendekar adalah karena latihan konsentrasi yang menguatkan pikiran

(21)

dia. Karena terlalu kuat energi pikirannya, dia akan mencari pembenaran dari setiap tindakan yang dia lakukan. Tidak akan terbuka terhadap orang lain yang memang lebih dari dia. Ada satu latihan yang sebenarnya kalau dimaknai secara tepat hasilnya sangat bagus sekali. Yaitu satu jurus yang bernama Mahdi. Dimana dalam setiap langkahnya, kita akan mengucapkan afirmasi TIDAK ADA DAYA UPAYA DAN KEKUATAN KECUALI DARI TUHAN. Indah sekali bukan? Namun kenyataannya afirmasi itu tidak terlalu dihayati sehingga yang tercipta adalah proyeksi dari jurus itu, yaitu dapat untuk berhubungan dengan apa yang dianggap roh-roh orang yang sudah meninggal. Sebenarnya banyak sekali distorsi yang terjadi dalam latihan-latihan ini, disaat hal pemanis dan gula-gula sudah jadi hidangan utama. Distorsi itu akan kita selami dalam bab berikutnya, dan kita berusaha mengembalikan kepada makna yang terkandung, makna awal dari latihan Tenaga Dalam.

Waktu itu sedang terjadi perkelahian antar sekolah. Seorang teman yang sudah masuk dalam latihan kependekaran terlibat di dalamnya. Namun apa yang terjadi. Dia datang ke rumah saya dalam keadaan babak belur. Mukanya biru kena tonjok. Dia bingung, kok bisa ya kena serangan seperti ini? Sesungguhnya hal itu bukan sekali terjadi. Pernah juga seorang teman matanya biru kena tinju gara-gara salah paham. Banyak lagi yang lainnya. Tapi hal itu tidak pernah diekspose. Tidak pernah diceritakan keluar. Banyak sekali orang yang sudah latihan tenaga dalam dan masih kena pukul, ha ha ha... Hal itu terjadi karena pemaknaan yang kurang. tenaga dalam hanya dipahami sebagai latihan untuk mementalkan orang. Ada juga yang tiap hari selalu memberi energi di

(22)

sekeliling kandang ayamnya, supaya tidak dicuri. Atau kalau dicuri malingnya akan terpental. Hasilnya? Dia sendiri bingung, kok masih ada saja pencuri yang bisa mengambi ayamnya. Di mana salahnya, begitu pikirnya. Dan kejadian serupa begitu banyak yang dialami oleh teman yang lain. Sehingga tidak sedikit pula yang kecewa dengan latihan yang dia geluti selama ini. Kok tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya? Kalau hal-hal seperti ini sudah dijelaskan sebelumnya, tenaga dalam itu apa, maknanya apa, tujuannya apa, hasil yang akan dicapai apa, seseorang yang akan belajar tentunya akan tahu dengan tepat apa yang sedang dia pelajari. Tidak menjanjikan seseuatu yang hanya bisa dilakukan dalam demonstrasi saja. Ya, kebanyakan hal-hal seperti mementalkan orang, bikin energi dan sebagainya itu hanya berhasil dalam demonstrasi. Atau kalau sedang adu tenaga dengan sesama orang yang latihan.

Bayangkan kalau tidak ada iming-iming semacam itu. Kalau kita berlatih dan kemudian diberitahu kalau tidak akan sakti, akan biasa-biasa saja. Kalau sakit ya ke dokter dulu. Tidak semua penyakit bisa diobati dengan tenaga dalam. Kalau sakitnya pegel linu, kurang semangat, dan sejenis darah tidak lancar, penyakit yang timbul karena stress, itu akan tertolong dengan tenaga dalam. Akan tertolong, bukan berarti selesai. Hanya menimbulkan interval sehat. Hal itu karena pemaknaan yang kurang. Apabila hal itu dilakukan suatu perguruan, mungkin hanya beberapa gelintir saja orang yang mau belajar. Bahkan mungkin tidak ada. Tapi, kalaupun ada pemanis, ada gula-gula, ya semestinya ditekankan kalau itu hanya pemanis. Kalau tidak, hal semacam itu akan sangat memerosotkan kesadaran seseorang. Sudah bukan saatnya lagi untuk

(23)

bermain dengan peman-ispemanis itu. Masyarakat kita sudah cukup belajar dari hal-hal semacam itu lama sekali. Sudah saatnya untuk meningkat. Untuk berjalan lebih jauh ke depan. Untuk melampaui tenaga dalam. Melampaui adalah memberikan makna lebih dalam. (Nanti akan kita selami dalam bab Melampaui Tenaga Dalam).

Ada iklan di majalah yang menyatakan bahwa si A adalah pendekar dari daerah ini, ahli dalam hal pengobatan dan ilmu ini dan itu. Kalau memang pendekar, tidak perlu mencari pengakuan. Tidak usah iklan supaya dikenal. Tujuannya apa kalau bukan uang. Kalau mau cari uang kerja yang benar. Jangan membodohi masyarakat dengan tipuan santet, dengan penyembuhan segala macam penyakit, dengan bisa berhubungan dengan jin dan segala macam. Sadar tidak sadar, latihan-latihan yang memupuk ego ini akan semakin menciptakan generasi pendekar yang tidak sadar. Akhirnya banyak pendekar yang merasa

bisa, bukan bisa merasa.

Terlihat jelas beberapa perguruan, bahkan saya katakan semua perguruan mengalami perpecahan. Alasannya karena beda paham. Yah, keakuan yang besar menyebabkan dirinya merasa lebih mampu untuk mendirikan perguruan baru dengan segala kelebihannya. Sampah dalam diri mereka belum dikeluarkan, belum dihabiskan sehingga mereka melakukan tindakan Katarsis dengan mendirikan perguruan baru. Ya, bawah sadar atau mereka penuh sampah tak berguna yang berisi obsesi-obsesi terpendam. Perguruan baru itu sebenarnya lahan pembersihan bagi dia, namun orang yang belajar akhirnya menjadi kebagian sampah-sampah mereka.

(24)

Mereka secara tak sengaja menjadikan muridnya sebagai tong sampah dirinya. Begitu seterusnya hingga generasi yang terus memecahkan diri.

Pendekar harusnya berkarya tanpa pamrih. Tanpa pamrih ketenaran, pamrih uang, pamrih besarnya suatu perguruan. Karyanya adalah kemakmuran. Bukan kebesaran perguruan yang menjadikannya imporium baru. Aneh, kalau banyak pendekar sakti di negeri ini, toh masih banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia terjadi tanpa ujung pangkal penyelesaian. Mengapa tidak saja disantet para wakil rakyat yang korup, mengapa tidak mengirim hujan teluh kepada para pejabat? Mengapa pembobol bank yang bersembunyi tidak ketemu-ketemu. Akhirnya banyak yang berdalih dengan alasan macam-macam. Bersembunyi di balik topeng kependekaran. Ego yang besar dengan pikiran yang sangat kuat menyebabkan perguruanperguruan menjadi pecah tanpa membawa makna awal yang sangat indah, makna yang menghaluskan hati, mengembangkan rasa. Yang ada adalah takar-menakar kekuatan dan iklan kesaktian serta tawaran kesehatan.

PECAHNYA PERGURUAN

Para murid tenaga dalam yang sudah mencapai kependekaran akhirnya banyak yang memisahkan diri dari induknya. Bukan karena ingin mengembangkan visi dari induknya, tetapi karena sudah merasa mampu dan merasa lebih dari yang lainnya. Terbukti akhirnya dengan munculnya berbagai nama perguruan dewasa ini. Sekali lagi, hal itu semata karena ego, keakuan yang merasa telah lebih. Kita akan mencermati

(25)

perkembangan sekian banyak nama perguruan tenaga dalam yang ada. Tetapi ada pula yang berdalih bahwa hal itu wajar saja terjadi karena telah mendapatkan ilmu baru yang memang harus dikembangkan. Boleh-boleh saja, tolak ukurnya hanya satu. Apabila pendirian perguruan itu karena ingin mendapat nama, pengakuan, uang dan orientasi materi, bukan karena untuk berbagi rasa, untuk membuka suatu kesadaran baru, untuk meningkatkan kesadaran, jelas hal itu karena keakuan yang tinggi. Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk menyehatkan masyarakat. Lihat saja, apabila dengan apa yang dikatakan sehat itu menambah kesadaran, tidak malah memerosotkannya dengan tambahan ilusi tentang 'sehat'. Ilusi tentang 'sehat', adalah apa yang dianggap bisa menyelesaikan segala macam penyakit. Bisa saja, seseorang melakukan tindakan untuk mencegah timbulnya berbagai macam penyakit dalam dirinya. Namun apabila dilihat dengan latihan konsentrasi semacam itu, tidak menyelesaikannya.

Latihan-latihan konsentrasi yang dilakukan akan menguatkan lapisan energi dalam diri seseorang. Apabila penyakitnya berada dalam tubuh yang lebih dalam, yaitu lapisan mental ataupun spiritual, ia tidak akan muncul dalam tataran fisik karena terhalang oleh lapisan energi atau pikiran yang kuat. Dan hal itu bukan berarti selesai. Hal itu hanya memberi interval sehat, menunda saja. Kesehatan yang dihasilkan tidak bersifat holistik, menyeluruh. Padahal, makna tenaga dalam adalah memberikan kesehatan secara holistik, terpadu, meyeluruh, sebagai makna yang sebenarbenarnya. Tentang kesehatan akan kita selami dalam bab berikutnya.

(26)

Tahun 1990, saya bertemu dengan Eyang Atmo Wasi (Beliau kakek dari isteri saya. Tahun 1990 saya masih pacaran, jadi beliau kakek dari pacar saya), seorang kakek yang merupakan salah satu penasehat, yang dituakan dalam dunia tenaga dalam di Yogyakarta. Beliau termasuk di dalam orang pertama yang mengusung tenaga dalam di Yogya setelah pertama muncul dari daerah Jawa Barat. Setelah di Yogya ini, tenaga dalam berkembang pesat dan mengalami beberapa kali perpecahan sampai jumlahnya yang sangat banyak dewasa ini. Dengan berganti nama, mengganti beberapa jurus, ganti motto, ganti visi, dan merambah di kota-kota sekeliling Jawa, akhirnya sampai juga ke Ibu Kota, Jakarta. Beliau mengatakan, pada mulanya hanya ada satu nama, satu perguruan. Seorang yang dihormati karena telah mengembangkan tenaga dalam dengan cirinya yang mempunyai 10 gerak, (walaupun sekarang ada yang dipadatkan menjadi 4 atau 5). Beliau adalah Bapak Andadinata. Tahun 1930 beliau mulai mengembangkan tenaga dalam dari daerah Cicalengka yang kemudian jurus-jurusnya sampai sekarang mewarnai hampir seluruh perguruan tenaga dalam di Indonesia. Berarti sekali perjuangan beliau untuk mengembangkan tenaga dalam yang beliau olah untuk konsumsi masyarakat Nusantara. Beliau begitu memahami masalah masyarakat dan apa yang dibutuhkannya pada waktu itu. Pada waktu negara masih belum aman dari penjajahan, pada waktu masyarakat kita masih bergerilya melawan penjajah, kemudian terus pada masa pasca kemerdekaan. Kebutuhan dan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat waktu itu beliau

(27)

salurkan melalui gerakan yang tertuang dalam 10 jurus tenaga dalam.

Salam hormat kepada beliau, Bapak Andadinata. Seandainya beliau masih ada, pasti beliau akan berjuang lagi untuk mengembalikan tenaga dalam sesuai makna awalnya. Beliau pasti akan menyesuaikan sesuai jamannya, sesuai kebutuhannya. Namun tidak menghilangkan ciri Nusantaranya. Di Yogya, pada waktu itu ada satu nama, yang diusung langsung dari Cicalengka, ML. Berkembangnya ML lalu mencetak sekian banyak orang yang telah dipercayai untuk mengembangkannya. Lalu berkembang lagi menjadi PS. PS ini kemudian mencoba merambah keluar sampai Jakarta dan kota lainnya. Lalu PS berkembang lagi menjadi SP. Di SP sempat terjadi sedikit pengembangan paham yang akhirnya muncul MP. Pada masa sebelum 1986, tenaga dalam juga dimaksudkan untuk syiar Islam. Maka anggotanya dikhususkan yang beragama Islam. Karena setiap jurusnya akan disisipi dzikir. Kemudian ada yang bertanya, kalau orang non Islam belajar dan tanpa dzikirnya, hanya jurus atau gerak dan nafas, apa bisa berhasil? Kemudian ada yang bereksperimen untuk itu, dan berhasil. Muncullah nama SN. SN adalah tenaga dalam universal pertama yang berkembang pesat. Sejak itu, tenaga dalam sudah tidak berbau ekslusive Islam lagi. Dari PS tadi mucul lagi SLB. Kemudian SLB

berkembang menjadi PD.

Sejak berkembang di Ibu kota, SN menjadi beranak lagi dengan nama SNI. PS yang sejak semula masih untuk syiar islam, berkembang di Sulawesi dan Sumatera. Akhirnya muncul lagi dari SN berkembang menjadi SPK, lalu jadi KS. Sejak berbagai nama yang

(28)

pecah itu masing-masing telah menelorkan orang-orang yang dipercaya untuk mendapatkan rahasianya. Namun terlihat bahwa orang-orang itu kemudian mendirikan nama-nama baru yang sekarang sudah tidak terhitung lagi. Ada yang hanya kecil, tidak terdaftar. Ada juga yang mengatakan bahwa ia mendirikan perguruan karena dapat bimbingan dari mimpi. Tapi kalau dilihat, gerakkannya ya itu-itu saja. Pola nafasnya ya itu juga. Ia hanya akan meyakinkan saja, membentuk opini baru tentang apa yang dikatakan ilmunya itu.

Menginjak tahun 2000 banyak yang menggabungkan dengan sains modern, maka muncul juga istilah Metafisika, Cybernetic, atau Elektrophysic untuk perguruannya. Sekali lagi, kalau dicermati pola nafas dari semua itu masih bersumber dari tenaga dalam konvensional. Konsentrasinya masih dengan generator listrik tubuh yang berada di sekitar pusar. Sebelum tahun 1985, Tenaga Dalam dipopulerkan dengan adanya mementalkan orang, dibacok tidak apa-apa. Lalu setelah tahun 1986, terutama di atas tahun 1988, tenaga dalam berkembang dengan motto kesehatan. Perguruan yang ada sudah membicarakan tentang kesehatan yang didapat dengan latihan tenaga dalam. Nama perguruannya juga sudah banyak yang diganti. Dari Perguruan Tenaga Dalam (PTD) ada yang menjadi Perguruan Tenaga Inti, lalu menjadi Beladiri Tenaga Dalam (BTD). Kemudian dengan mengusung kesehatan itu lalu nama tenaga dalam berubah menjadi Seni Pernafasan. Begitu marak nama seni pernafasan ini. Ada yang bernama seni nafas, olah nafas. Perubahan nama itu untuk menjadikan beda dengan yang dulu. Hanya namanya yang beda, intinya sama, masih konsentrasi juga. Gerakkannya sama, pola nafasnya

(29)

sama. Kemudian sejak masuknya aliran Prana ke Indonesia, tenaga dalam banyak yang menghubungkan dan membicarakan Prana untuk latihannya. Lalu untuk lebih menarik lagi, ada yang menggantinya dengan istilah Bio Energi.

Prana adalah Energi vital manusia, energi hidup. Lalu Bio adalah Hidup, maka Bio Energi adalah Energi Hidup. Sama saja, sami mawon. Namun seorang teman tetap ngotot bahwa Prana tidak sama dengan Bio Energi. Hanya beda bahasa mas, satu sanskerta dan satunya Inggris. Hanya untuk kelihatan beda maka mereka memberi nama beda. It's oke, beda tidak apa-apa. Kesehatan masih menjadi penarik bagi latihan tenaga dalam. Walaupun sebenarnya tidak semua penyakit sembuh dengan latihan ini. Penyakit non-infeksi akan tertolong. Tetapi penyakit non-infeksi malah akan berbahaya bila latihan tenaga dalam. Penyakit infeksi seperti usus buntu, liver, perlu istirahat yang banyak (bed rest). Apabila latihan tenaga dalam yang banyak mengeluarkan energi maka infeksinya akan bertambah. Namun hal ini tidak pernah diungkap lebih dalam.

Maraknya istilah Cakra, Kundalini dan Yoga di atas tahun 90, turut mempengaruhi dunia tenaga dalam. Banyak yang kemudian mencampur-adukkan antara Cakra dan tenaga dalam, sehingga ada yang mendirikan aliran Inti Cakra. Ada pula Tenaga Dalam Kundalini Indonesia. Entah bagaimana mereka sampai bisa mencampur itu semua. Pengertian Cakra dan Kundalini di kalangan praktisi tenaga dalam terus terang sungguh sangat kacau. Dengan mencampur istilah Cakra atau Kundalini dengan tenaga dalam itu sudah sangat merusak arti dari Cakra ataupun tenaga

(30)

dalam itu sendiri. Namun karena ada nilai profit dengan nama tersebut maka beberapa oknum memakainya dengan maksud agar dapat mendatangkan keuntungan dalam perguruannya. Kalau dilihat dari perpecahan yang terjadi, pergantian nama berujung pada pemaksaan untuk mencampur aliran yang sebenarnya sudah mempunyai kedudukannya masing-masing,- hal yang sebenarnya merupakan tindakan pemuasan ego. Kalau akan belajar titik-titik tubuh manusia, ya belajar ilmu akupunkur. Lalu akupunkur digabungkan dengan tenaga dalam. Titik akupunkur itu dianggap Cakra. Sensasi listrik tubuh di punggung dikatakan Kundalini. Kacau !.

Berbagai pihak yang sebenarnya memegang kunci dalam pertumbuhan tenaga dalam, yaitu para guru besar, para pelatih inti, malah ikut untuk meramaikan kekacauan itu. Belum tahu Cakra dan Kundalini, atau hanya tahu sedikit, lalu ikut berbicara tentang hal itu dalam tenaga dalam. Teman saya, sekarang seorang guru salah satu perguruan pernafasan. Mengatakan kalau dalam latihannya, bisa memegang Kundalini, mengikatnya lalu menariknya supaya seseorang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Yang lebih hebat lagi, dia bisa membuka dan menutup Cakra seperti membuka dan menutup buku. Bahkan, Kundalini dalam diri seseorang bisa dia bangkitkan dengan ditandai adanya rasa panas di punggung. Bahkan, dalam perkembangan sekarang ini, karena istilah "meditasi" sedang digandrungi, maka dunia tenaga dalam juga menggunakannya. Berbagai perguruan Seni Pernafasan yang mempunyai dasar tenaga dalam mulai menawarkan meditasi sebagai salah satu pelajarannya. Meditasi yang menggunakan konsentrasi. Bingung juga. Meditasi adalah menyadari setiap tarikan nafas.

(31)

Sementara yang ada di tenaga dalam adalah konsentrasi terhadap nafas. Dari perjalanan perkembangan dunia tenaga dalam kita bisa melihat tentang pergantian nama, dari tenaga dalam ke seni pernafasan, juga pengembangan misi dari kanuragan ditambah kesehatan. Masuknya istilah-istilah cakra, kundalini dan meditasi yang dimaknai sangat kacau oleh beberapa praktisi tenaga dalam. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi.

Latihan apapun sebenarnya tidak menjadi soal, jalan apapun tidak masalah. Toh semua jalan akan bermuara sama, menuju Tuhan. Hanya saja apakah latihan yang kita jalankan itu mengembangkan kasih atau tidak? Apakah bila latihan tenaga dalam dijalankan, seseorang akan mempunyai hati bersih dan saling menyayangi? Kalau ya, teruskan. Kalau tidak, hentikan! Hati bersih dan saling menyayangi dengan latihan pengembangan kekuatan seperti selama ini, bagaimana mungkin? Ya, maka dari itu, tidak perlu lagi adanya perpecahan perguruan. Tidak perlu lagi ada yang merasa lebih untuk mendirikan perguruan baru. Yang dibutuhkan adalah bagaimana menjadikan tenaga dalam sebagai wahana pembersihan sampah emosi dari seseorang. Silahkan dirikan nama baru. Silahkan dirikan perguruan baru. Tapi jangan lupa dengan sejarahmu, dengan gurumu. Hal sebenarnya yang penting dilakukan adalah membentuk manusia baru. Bukan namanya, bukan perguruannya, bukan yayasannya, namun benar-benar seorang manusia baru yang penuh cinta kasih.

(32)

Saya mulai meninggalkan Yogya untuk bekerja di Jakarta pada tahun 1993. Saya jauh dari teman-teman yang hampir setiap malam berdiskusi dan berlatih tenaga dalam. Saya dan beberapa teman waktu itu juga sempat mendirikan tenaga dalam Rasa Sejati yang sekarang sudah bubar. Beberapa dari diskusi kami ada yang menghasilkan pemahaman baru, juga pertanyaan-pertanyaan baru seputar tenaga dalam. Yang jadi menggelitik kami waktu itu, karena kami belum bekerja, seorang teman bertanya, "kalau sudah bisa mementalkan orang dan matahin besi, bisa diterima kerja di bank tidak ya?" Kami semua tertawa dengan sindirannya itu. Tapi betul juga. Kami mulai berpikir. Apa yang kami lakukan ini sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan kami atau tidak. Dengan kesibukan baru sebagai karyawan baru, tentunya banyak menyita waktu saya untuk lebih serius dengan pekerjaan baru ini.

Beberapa bulan hampir tidak pernah untuk berpikir tentang tenaga dalam. Namun hal itu banyak memberikan waktu bagi saya untuk merenungi setiap langkah yang sebelumnya pernah saya lakukan. Benar juga apa yang dikatakan teman saya dulu, sekarang dalam pekerjaan saya, saya tidak perlu mementalkan orang, matahin besi. Lalu kalau demikian, untuk apa sebenarnya latihan tenaga dalam itu bagi orang kerja seperti ini? Kesehatan? Itulah yang ditawarkan latihan-latihan dewasa ini. Tapi bisakah kita sehat dengan latihan-latihan itu. Kalau olah nafasnya disertai gerakan yang mengeluarkan keringat, pagi harinya ya pasti badan akan segar. Tidak gampang loyo. Sebenarnya masalah kesehatan tidak selesai sampai di situ saja. Penyebab sakitnya belum ketemu. Kalau penyakit itu ditimbulkan oleh pikiran, dan

(33)

latihan-latihan itu hanya menjadi pelarian supaya ada kegiatan sehingga tidak memikirkan suatu masalah, masalah itu akan menumpuk dan menjadi sampah dalam diri. Lama kelamaan akan menjadi seperti timbunan yang siap meledak. Tinggal tunggu waktu. Kita hanya menunda masalah yang ada. Kita sedang menyulut bom waktu. Baru setahun saya kerja, pada suatu pagi badan saya rasanya tidak enak sekali. Seperti gejala masuk angin. Kadang muntah dan keluar keringat dingin. Saya pikir, karena kurang olah raga. Setahun ini memang saya jarang untuk menggerakkan badan. Kemudian timbul dalam benak saya untuk kembali melakukan gerakan jurus tenaga dalam. Siapa tahu badan akan kembali fit lagi. Benar juga, dalam empat hari badan saya mulai segar, dan bisa masuk kerja lagi. Seminggu kemudian, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya kembali muntah-muntah dan sampai tidak bisa berdiri. Muka pucat sekali. Badan lemas tidak bisa apa-apa, tetapi belum pingsan. Langsung saya menuju klinik untuk diperiksa darah. Saat itu juga, dokter mengatakan bahwa saya harus dirawat inap! Fungsi hati saya tidak normal. Kata orang kena penyakit kuning, atau hepatitis A. Lalu menurut USG, hati saya mengalami pembengkakan. Saya harus istirahat total di tempat tidur di rumah sakit sampai sembuh total. Di RS ST. CAROLUS Jakarta, saya sempat dirawat seminggu lamanya. Karena tidak betah, saya minta untuk pulang ke Yogya dan dirawat di sana. Sebenarnya pihak rumah sakit tidak mengijinkan, tapi saya memaksanya. Alhasil saya bisa pindah ke Yogya meskipun harus naik kereta api, sendirian!

Kata dokter di Yogya, ini terjadi karena kerja yang terlalu diforsir. Tubuh butuh istirahat yang cukup.

(34)

Benar juga, waktu pertama ada tanda-tanda itu, saya malah melakukan latihan yang memaksa untuk mengeluarkan keringat. Latihan berat sebetulnya. Dan itu ternyata malah memperburuk keadaan saya. Sudah hampir sebulan saya di rumah sakit. Orang tua juga mulai khawatir, mengingat sakit saya yang menurut dokter belum ada perbaikan. Lalu dengan tanpa sepengetahuan dokter, mulailah mencari penyembuhan alternatif. Dari mulai pijat syaraf, jamu, japa mantra, tenaga batin dan paranormal yang didatangi ibu saya di pegunungan Wonosari, semuanya tidak membantu sedikitpun. Teman-teman dari praktisi tenaga dalam juga mencobanya, tapi tidak berhasil. Saya kemudian mencoba melakukan sendiri untuk menyembuhkan penyakit saya. Hasilnya buruk sekali. Malam itu saya malah masuk dalam masa kritis. Suhu badan saya meningkat di atas 40 drajad. Saya mulai tidak sadarkan diri. Tidak bisa apa-apa. Sesaat yang bisa saya dengarkan hanya keluarga saya, Ibu saya, Bapak, tiga adik saya dan pacar saya (sekarang isteri saya), semuanya menangis. Saya mendengar itu. Tapi saya tidak tahu yang mereka tangisi itu apa.

Entah sudah berapa lama saya tidak sadarkan diri. Menurut mereka saya pingsan karena suhu badan saya yang tinggi, yang sebelumnya saya juga sempat mengigau katanya. Kemudian saya mulai bisa membuka mata, dan mereka bilang Alhamdulillah. Saya masih lemas. Saya lihat kakek saya sudah duduk di samping saya, masih meletakkan kedua telapak tangannya di atas perut saya. Ya, sebelumnya kakek tidak melakukan itu pada waktu awal-awal saya masuk rumah sakit. Mengapa? Kenapa kakek tidak melakukan penyembuhan kepada cucunya ini. Saya kemudian bertanya padanya, "Kenapa tidak dari dulu saya

(35)

disembuhin kek?" "Kakek tidak menyembuhkan kamu, kakek hanya membantu kamu melewati masa kritis ini. Yang bisa menyembuhkan kamu hanya dirimu sendiri. Kamu belum sembuh. Tergantung kamu sekarang. Tidak ada yang bisa membantumu. Pasrahkan semua pada Yang di Atas." Saya diam. Mencoba mengerti apa yang diucapkannya. Setelah itu, yang sebelumnya saya sangat khawatir dengan hilangnya pekerjaan saya, saya mulai bisa rileks. Kalau dengan lamanya saya sakit ini saya kemudian dikeluarkan dari pekerjaan ya sudah. Status saya memang masih belum karyawan tetap, masih dalam masa ikatan dinas. Dan sekarang saya sakit selama hampir empat bulan. Saya kemudian bisa menikmati sakit saya. Benar-benar menikmatinya. Sering ketemu dengan dokter malah menambah pengetahuan saya tentang penyakit dan cara kerja tubuh ini. Dan semua itu semakin menambah rasa "nyaman" saya dalam menjalani sakit ini.

Akhir bulan keempat, dokter menyatakan pembengkakan di liver saya sudah mulai menurun.. Belum sembuh total, saya masih harus banyak istirahat. (Sebagai catatan, saya dirawat inap di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogya selama satu bulan dan masa kritis saya terjadi setelah tiga hari pulang dari rumah sakit). Banyak waktu lagi di rumah menyebabkan saya kembali bisa ngobrol dengan kakek. Banyak yang beliau sampaikan. Tetapi yang selalu ditekankan adalah bahwa sesuatu yang menimpa kita adalah hasil perbuatan kita sendiri. Berarti penyakit saya juga hasil perbuatan saya? Saya belum mengerti dengan hal ini. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Beliau mengatakan saya akan mengerti kalau saya diam. Tentu saja bukan diamnya fisik ini. Saat itu saya baru mengerti bahwa latihan tenaga dalam tidak bisa

(36)

menyembuhkan penyakit infeksi. Terbukti dengan diri saya. Infeksi hati yang saya derita menjadi semakin parah setelah saya melakukan latihan gerak beberapa hari, yang harusnya saya istirahat total. Mulai saat itu juga saya bertanya dalam diri saya, apa ada yang salah dalam latihan tenaga dalam. Yang salah yang mana, metode atau cara saya menghayatinya? Dalam satu obrolan dengan kakek, beliau mengatakan tidak ada yang salah. Semua latihan itu adalah proses yang tidak pernah berhenti. Hanya saja saya belum melebur di dalamnya. Belum mengerti makna yang harus saya pelajari dari setiap latihan itu. Kelak dalam beberapa tahun kemudian saya baru bertemu dengan seorang Guru. Beliau yang memberikan pemahaman dan cara pendang baru untuk kehidupan ini, sehingga saya bisa melampaui latihan tenaga dalam, memberi makna secara Transcendental. Lewat beliau juga akhirnya saya menemukan pemahaman antara tenaga dalam dan Yoga, latihan pola nafasnya yang merupakan pembersihan dan asimilasi dari Kriya.

Kembali kepada keadaan saya di Yogya, Sudah genap enam bulan saya sakit. Lama memang. Dan keadaan saya sudah mulai membaik. Dokter mengatakan saya sudah diijinkan untuk kembali ke Jakarta. Namun jangan kerja terlalu berat dulu. Mungkin butuh dua bulan lagi katanya. Atas keputusan dokter itu kemudian saya kembali ke Jakarta. Di Jakarta, dokter perusahaan memberi saya waktu untuk istirahat dua bulan lagi. Tetapi saya disuruh untuk mencoba bekerja dengan tidak mengikat. Kalau letih ya istirahat atau pulang. Demikian saya mencoba untuk mengikuti kata dokter sampai dua bulan. Total saya sakit dan tidak masuk kerja adalah delapan bulan. Waktu yang lama untuk seorang pegawai yang baru dalam ikatan dinas.

(37)

Tetapi Puji Tuhan, saya kemudian tidak menghadapi persoalan dengan bagian personalia dalam meneruskan jenjang karier saya. Tubuh saya sakit. Demikan pikir saya setelah beberapa bulan berselang. Mengapa ini terjadi? Bukankah latihan tenaga dalam yang saya lakukan, ataupun kemampuan saya untuk menyembuhkan seharusnya bisa menanggulanginya? Apa yang salah? Kemudian teringat kata Kakek, ya mungkin semua ini ada hikmahnya. Tetapi apa? Banyak pertanyaan berkecamuk dalam diri yang tidak terjawab. Tidak mungkin latihan saya selama ini tidak berguna. Tetapi untuk kasus seperti ini mengapa tidak bisa? Kemudian perlahan-lahan saya merasa tidak butuh lagi latihan-latihan itu. Saya bingung juga, tidak butuh atau tidak ingin melakukan latihan. Yang jelas dengan pengalaman-pengalaman yang lalu, saya jenuh. Benar, saya jenuh. Saat itu saya mencapai titik jenuh.

Akhirnya saya hidup apa adanya. Maksud saya, pandangan saya terhadap sesuatu tidak dilatarbelakangi pendangan tenaga dalam. Kalau dulu, setiap berada di suatu tempat saya pasti akan merasakan apakah tempat ini 'berenergi' baik atau jelek. Kemudian kalau ketemu orang akan mencoba merasakan tenaga orang tersebut. Lalu akan mencoba apakah suatu tempat ada makhluk halusnya apa tidak. Sekarang dengan kejenuhan saya, saya hidup apa adanya. Saya bena-rbenar melupakan hal-hal itu semua. Dan, saya ternyata merasakan rileks. Plong! Tidak ada yang mengejar terhadap pikiran-pikiran saya. Saya rileks dengan keadaan tanpa mengetahui ini... JENUH, RILEKS, PASRAH Keadaan tanpa mengetahui. Ya, dulu saya tahu tentang tenaga dalam dalam perspektif saya waktu itu. Saya tahu apa yang

(38)

saya tahu. Kemudian kejenuhan menuntun saya untuk berada dalam keadaan tidak berbuat apa-apa. Tidak berbuat apa-apa karena saya bingung. Bingung untuk apa sebenarnya saya belajar ini semua. Dan sekarang, saya diam. Saya teringat juga kata Eyang Atmo Wasi bahwa sebenarnya jurus diam itu tidak bisa diajarkan. Ia akan datang sendiri. Jurus Diam bukan berbentuk jurus. Tetapi suatu keadaan. Latihan-latihan tenaga dalam sebelumnya hanya membantu proses terjadinya Diam ini. Sebenarnya banyak juga yang mengalami keadaan seperti saya. Latihan dengan giat, lalu bisa melakukan apa saja. Kemudian jenuh dengan latihan-latihan itu, akhirnya ya pasrah. Tidak menggunakan latihan lagi. Saya yakin banyak yang mengalaminya. Tetapi mereka memilih tidak bicara. Dan juga mungkin tidak ada kesempatan bicara, untuk sharing, berbagi rasa tentang pengalamannya.

Saya, dengan segala keterbatasan saya, memulai untuk mengajak anda semua untuk jenuh, untuk bingung, untuk masuk dalam keadaan tanpa mengetahui, dalam kepasrahan. Keadaan waktu itu menyenangkan, dan sekarang juga menyenangkan. Tidak usah berpikir apakah tempat ini energinya baik atau buruk. Kalau ketemu orang tidak peduli apakah dia punya energi lebih atau tidak. Sangat rileks. Dan saat itulah saya mulai mengalir bersama alam. Kalau lapar ya makan, kalau haus ya minum. Suatu saat saya ketemu dengan orang yang mengaku belajar ilmu dari Jawa Barat. Dia bersikukuh, sangat yakin sekali kalau saya bisa tenaga dalam. Katanya, dia bisa merasakannya. Kemudian dia meminta saya untuk menyerangnya. Saya tidak mau, karena saya katakan padanya kalau saya tidak bisa apa-apa. Tetapi dia menganggap saya berbohong. Kemudian dia bilang,

(39)

kalau saya tidak mau mencobanya, dia yang akan mencoba saya. Saya bilang silakan. Saya benar-benar pasrah untuk tidak menggunakan apa yang pernah saya bisa. Ternyata, sebelum dia menyerang saya, dia menyalami saya. Dia berkata bahwa ilmu saya tidak bisa dia "tembus". Saya bingung, saya tidak melakukan apa-apa kok dibilang begitu. Saya katakan padanya bahwa saya benar-benar tidak punya apa-apa, saya tidak melakukan apa-apa. Saat itu dia berkata, justru dengan kepasrahan itu ilmu sejati muncul. Wah saya tambah bingung lagi saat itu. Masak kepasrahan bisa memunculkan ilmu. Kalau bisa ya ilmu pasrah itu tadi, ha ha ha.... Untuk teman saya, Yunus, salam hormat saya untukmu.

Suatu sore, teman saya mengantar seorang bapak yang dalam keadaan lemas karena katanya sakit usus buntu. Saya bilang, mengapa tidak dioperasi. Bapak itu bilang takut operasi dan tidak ada biaya. Teman saya bilang supaya saya mau menolong bapak itu. Saya katakan bahwa saya tidak bisa apa-apa. Tetapi bapak itu juga bilang bahwa dia yakin saya bisa melakukannya. Apa yang harus saya lakukan? Saya bingung. Dulu waktu saya sakit liver saya tidak bisa berbuat apa-apa, sekarang malah ada orang yang datang ke rumah saya. Saya masuk ke kamar sebentar untuk berdoa, apa yang harus saya lakukan. Seperti mendapat insight, kemudian saya katakan pada bapak itu bahwa saya hanya mengajak kepada bapak untuk menuju dalam keadaan pasrah. Penyembuhan datangnya dari Tuhan. Bapak itu mengatakan,"saya pasrah apa yang akan Pak Agung lakukan". Sebenarnya tidak ada yang saya lakukan. Kami bertemu sebanyak 10 kali, tiap malam. Bapak itu saya ajak berdoa bersama, kemudian saya menempelkan

(40)

tangan pada perutnya. Tanpa konsentrasi untuk menyalurkan tenaga. Itu saja. Lambat laun, bapak itu kelihatan bergairah, tenaganya mulai pulih. Lalu dengan tiba-tiba setelah sepuluh hari itu, saya ketemu bapak itu sudah main bola. Katanya, puji Tuhan, dia sudah sembuh. Kata dokternya juga sudah tidak perlu operasi.

Saya juga baru menyadari sebuah proses. Proses perjalanan. Memang perjalanan itu dimulai dari rasa jenuh. Benar-benar jenuh. Kemudian dengan tidak sadar, yang akhirnya saya menyadari bahwa saat itu saya tidak sadar melampaui rasa jenuh saya. Kejenuhan yang membawa saya dalam rasa rileks. Yang membawa saya dalam keadaan tanpa mengetahui. Yang ternyata, dengan keadaan itu, saya bisa berpikir jernih, menilai tanpa menghakimi, tanpa latar belakang pengetahuan tenaga dalam. Kepasrahan yang memang menjadi dasar bagi apa saja, yang membawa saya bisa menikmati rasa sehat. Dan, kejenuhan itupula yang membawa saya bertemu

dengan guru saya.

Walaupun banyak yang mengharap macam-macam dari beliau. Beliau hanya mengajak untuk sadar setiap waktu, pasrah setiap waktu. Karena dengan pasrah itu, kata beliau, kita terhubung dengan akal universal. Dengan energi alam. Dan sesuatu akan terjadi pada diri. Tentunya bukan kesaktian, tetapi peningkatan kesadaran. Perjalanan ke dalam diri! Saya juga baru mengerti, mengapa justru pada saat saya pasrah, teman saya Yunus mengatakan saya punya ilmu. Dan seorang Bapak sembuh pada saat saya juga pasrah tidak bisa menyembuhkan dia. Walaupun para praktisi tenaga dalam akan mengatakan kalau mereka juga

(41)

bisa melakukan penyembuhan dengan konsentrasi. Entah itu konsentrasi dengan warna, dengan titik-titik tubuh, dengan penyapuan energi pasien, dengan air garam. Ya, kekuatan pikiran bisa memperbaiki kerusakan fungsi tubuh. Ingat, kekuatan pikiran akan membantu itu semua. Kekuatan pikiran itu akan pindah kepada fungsi yang rusak. Kekuatan itu akan pindah di sana. Selama kekuatan pikiran itu di sana, fungsi akan membaik. Tetapi sampai kapan?

Kekuatan pikiran ada batasnya. Penyembuhan yang permanen datang dari diri sendiri, bukan dari kekuatan pikiran orang lain. Tidak disadari, orang yang disembuhkan dengan konsentrasi, dengan pemindahan kekuatan pikiran seperti itu, akan sakit lagi dalam jangka waktu yang bermacammacam. Mungkin beberapa bulan, beberapa tahun. Tergantung kekuatan pikiran si penyembuh. Sekali lagi, itu bukan penyembuhan holistik, terpadu. Hanya memberi interval sehat. Lewat kepasrahan, kita diajak untuk menyayangi diri sendiri. Mengenal sinyal-sinyal badan, kebutuhannya. Kalau capek ya istirahat, kalau kurang air ya minum. Jurus Diam adalah kepasrahan. Pasrah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Tetapi sadar dalam melakukan sesuatu dan hanya bersandar kepada Tuhan. Justru di sanalah kekuatan alam bekerja. Kekuatan alam yang gratis sebenarnya dapat kita akses dengan mudah. Tidak perlu beaya, tidak perlu ada pembukaan 'jalur' khusus tubuh. Tidak perlu membangkitkan sesuatu. Yang perlu dibangkitkan ya kesadaran kita untuk pasrah itu. Sebenarnya hanya dibutuhkan swicth on ke pasrah. Setelah itu kekuatan alam akan mengalir sendiri. Tentunya kalau ingin peredaran darah kita lancar ya kita tetap butuh gerak badan untuk melancarkannya. Makanya ada gerakan

(42)

Yoga, dan ada gerakan Tenaga Dalam ini. Ada metode penyembuhan Reiki yang dasarnya kepasrahan juga. Padahal itulah makna dari tenaga dalam secara transcendental.

Di Indonesia, Reiki jadi macam-macam. Yang semula dengan dasar kepasrahan, jadi tercampur dengan konsentrasi. Ada yang berbaur dengan titik tubuh, dengan warna, bahkan konsentrasi dengan hawa panas atau dingin yang dihasilkan. Reiki yang tidak pasrah, sudah bukan Reiki lagi. Tenaga dalam yang tidak pasrah juga bukan tenaga dalam lagi. Jelas, kalau kita katakan tenaga dalam, bukan tenaga dalam seperti dewasa ini. Tenaga dalam berarti tenaga yang ada di dalam. Apa itu, ya batin kita. Bukan berarti batin akan mengeluarkan tenaga hebat dan sakti. Tetapi akan mengeluarkan suara yang sanggup kita dengar. Dan itu terjadi dalam kondisi pasrah, hening. Zen! Dengan semangat kepasrahan, akhirnya saya harus melampaui bentuk segala macam demo tenaga dalam yang kadang banyak mengelabui penonton. Saya harus jujur, saya tidak mau masyarakat tetap menjadi lahan penipuan oknum yang berdalih menunjukkan ilmunya, sekedar mencari untung pribadi. Nanti kita akan sedikit menguak tentang demo tenaga dalam. Bagaimana hal itu dilakukan dan atas dasar apa. Bukan untuk menelanjangi sesuatu, namun harapan saya semoga kita jadi semakin sadar dengan apa sebenarnya tenaga dalam itu. Kemudian kalau demo itu dilakukan ya atas dasar prinsip pertunjukan hiburan yang tanpa mengikut sertakan tenaga dalam. Memang hal itu terjadi karena rumus-rumus yang sederhana saja.

Referensi

Dokumen terkait

Murid diterangkan oleh guru berkenaan bentuk tenaga dan perbezaan bentuk dan sumber tenaga1. Murid membuat kesimpulan tajuk pelajaran

Murid diminta menyatakan bentuk perubahan tenaga pada setiap gambar elektrik atau situasi yang dinyatakan1. Murid berbincang dengan guru soalan kbat

______ murid dapat mencapai objektif yang ditetapkan dan ______ murid yang tidak mencapai objektif akan diberi bimbingan khas dalam sesi akan datang.

Berdasarkan hal di atas maka pemenuhan kebutuhan tenaga perawat tidak bisa dalam waktu yang singkat, sehingga dalam perencanaanya harus memperhatikan visi dari rumah sakit dan

Puslitbang tek MIRA mengembangkan penggunaan gas hasil gasifikasi batubara yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada pem-bangkit listrik tenaga diesel, penggunaan dua

Apakah usulan Sejalan dengan Rancangan Awal RKPD; Untuk Mencapai Visi dan Misi; Sesuai Dengan Pergub APBD; Apakah Sesuai Dengan Arah Kebijakan Daerah; Mencapai Sasaran daerah;

Jika dilihat dari penjelasan diatas, tentunya hal ini sejalan dengan visi misi Cikal yang ingin supaya murid-murid dapat mengembangkan dirinya secara seimbang dan tidak hanya

Modul 1.3 tentang visi guru penggerak yaitu untuk mencapai pembelajaran yang berpihak pada murid diperlukan perencanaan dan pengelolaan program yang berdampak pada murid dengan