commit to user 5
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Obat Tradisional a. DefinisiObat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Umumnya, pemanfaatan obat tradisional lebih diutamakan sebagai upaya preventif untuk menjaga kesehatan. Selain itu, ada pula yang menggunakannya untuk pengobatan suatu penyakit. (Anonim, 2009a).
b. Jenis Obat Tradisional
Berdasarkan keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.2411 tentang ketentuan pokok pengelompokan dan penandaan obat bahan alam Indonesia, obat tradisional dikelompokkan menjadi tiga, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.
1) Jamu (Empirical Based Herbal Medicine)
Jamu adalah obat tradisional yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut. Jamu disajikan secara tradisional dalam bentuk serbuk seduhan, pil, atau cairan. Umumnya, obat tradisional ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan
commit to user
6
leluhur. Satu jenis jamu disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya antara 5-10 macam, bahkan bisa lebih. Jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai uji klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Di samping klaim khasiat yang dibuktikan secara empiris, jamu juga harus memenuhi persyaratan keamanan dan standar mutu. Jamu yang telah digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.
2) Obat herbal terstandar (Standarized Based Herbal Medicine)
Merupakan obat tradisional yang disajikan dari hasil ekstraksi atau penyarian bahan alam, baik tanaman obat, binatang, maupun mineral. Dalam proses pembuatannya, dibutuhkan peralatan yang tidak sederhana dan lebih mahal daripada jamu. Tenaga kerjanya pun harus didukung oleh pengetahuan dan keterampilan membuat ekstrak. Obat herbal ini umumnya ditunjang oleh pembuktian ilmiah berupa penelitian praklinik. Penelitian ini meliputi standarisasi kandungan senyawa berkhasiat dalam bahan penyusun, standarisasi pembuatan ekstrak yang higienis, serta uji toksisitas akut maupun kronik.
Obat herbal terstandar adalah obat yang simpliasianya telah dilakukan standarisasi dan telah dilakukan uji praklinik. Standarisasi simplisia merupakan upaya menyeluruh dimulai dengan pemilihan lahan (unsur tanah) yang tepat untuk tumbuhan obat tertentu, budi daya
commit to user
7
yang baik sampai pasca panen (good agriculture practices). Setiap simplisia mengandung komponen yang kompleks. Untuk standarisasi bagi setiap simplisia maka perlu ditetapkan zat penanda (finger print) yang digunakan sebagai parameter (Sampurno, 2007).
3) Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine)
Merupakan obat tradisional yang dapat disejajarkan dengan obat modern. Proses pembuatannya telah terstandar dan ditunjang oleh bukti ilmiah sampai uji klinik pada manusia. Karena itu, dalam pembuatannya diperlukan peralatan berteknologi modern, tenaga ahli, dan biaya yang tidak sedikit.
Fitofarmaka adalah adalah obat herbal yang telah dilakukan uji klinik secara lengkap. Dengan uji klinik yang lengkap dan mengikuti prinsip-prinsip uji klinik yang baik, maka fitofarmaka dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan formal karena memiliki evidence base dan dukungan data ilmiah yang kuat (Sampurno, 2007).
c. Sumber Perolehan Obat Tradisional 1) Obat Tradisional Buatan Sendiri
Pada jaman dahulu nenek moyang kita mempunyai kemampuan untuk menyediakan ramuan obat tradisional untuk mengobati keluarga sendiri. Obat tradisional inilah yang kemudian menjadi akar pengembangan obat tradisional di Indonesia saat ini. Oleh pemerintah, cara tradisional ini selanjutnya dikembangkan dalam program taman obat keluarga (toga). Program toga lebih mengarah kepada self care
commit to user
8
untuk menjaga kesehatan anggota keluarga serta untuk menangani penyakit ringan. Sumber tanaman bisa disediakan oleh masyarakat sendiri baik secara individu, keluarga, maupun kolektif dalam suatu lingkungan masyarakat. Namun, bahan jamu yang umumnya merupakan bumbu dapur juga bisa dibeli dari pasar tradisional.
2) Obat Tradisional dari Pembuat Jamu (Herbalis) a) Jamu Gendong
Salah satu penyedia obat tradisional yang paling mudah ditemui adalah penjual jamu gendong. Jamu gendong tidak hanya populer di Pulau Jawa, tetapi dapat juga ditemui di berbagai pulau lain di Indonesia. Jamu yang disediakan dalam bentuk minuman itu sangat digemari masyarakat. Umumnya jamu gendong menjual kunyit asam, sinom, mengkudu, pahitan, beras kencur, cabe puyang, dan gepyokan. Namun, ada juga yang menyediakan jamu khusus sesuai pesanan, misalnya jamu bersalin dan jamu untuk mengobati keputihan. Dengan adanya industri jamu, kini penjual jamu gendong seringkali juga menyediakan jamu berupa serbuk yang dikonsumsi bersamaan dengan jamu gendong.
Keberadaan jamu tidak dapat dipisahkan dengan budaya lokal masyarakat. Adanya upaya untuk membuat atau meracik jamu terdorong oleh kebutuhan masyarakat setempat yang diimbangi dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah di lingkungan
commit to user
9
tersebut. Secara umum, bahwa minum jamu sudah menjadi budaya bagi orang Jawa, khususnya Jawa Tengah.
Pembuatan jamu gendong sebagai obat tradisional didasarkan pada pengalaman secara turun-temurun. Resep yang digunakan pun tidak secara khusus dipelajari, hanya berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan nenek moyang. Bahan-bahan jamu hampir sama semua berasal dari tumbuh-tumbuhan hanya komposisi yang berbeda dan variasi dari bahan yang bersifat sebagai bahan tambahan dan diolah secara tradisional dengan menggunakan peralatan yang sederhana.
b) Peracik Jamu
Selain jamu gendong, di pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah juga masih dijumpai peracik jamu tradisional. Bentuk jamu menyerupai jamu gendong, tetapi kegunaannya lebih khusus untuk keluhan kesehatan tertentu, misalnya untuk kesegaran, menghilangkan pegal dan linu, serta batuk. Peracik jamu tradisional seperti ini memang sudah semakin berkurang. Mungkin karena kalah bersaing dengan industri besar yang mampu menyediakan jamu dalam bentuk yang lebih praktis.
c) Obat Tradisional dari Tabib
Meskipun jumlahnya tidak banyak, tabib masih bisa dijumpai. Dalam praktek pengobatannya, tabib menyediakan ramuan yang berasal dari bahan alam lokal. Selain memberikan
commit to user
10
ramuan, para tabib umumnya juga mengombinasikan dengan teknik lain seperti metode supranatural. Ilmu ketabiban umumnya diperoleh dengan cara bekerja sambil belajar kepada tabib yang telah lama berpraktek. Di beberapa kota, telah dijumpai pendidikan atau kursus ketabiban yang dikelola dan diselenggarakan dengan baik oleh tabib tertentu.
d) Obat Tradisional dari Shinse
Shinse adalah pengobatan dati etnis Tionghoa yang mengobati pasien dengan menggunakan obat tradisional. Pengetahuan tentang pengobatan shinse berasal dari negara asal mereka yaitu Cina. Umumnya bahan-bahan yang digunakan berasal dari Cina. Namun, tidak jarang pula yang dicampur dengan bahan lokal yang sejenis dengan yang dijumpai di Cina. Obat tradisional Cina berkembang baik di Indonesia dan banyak diimpor. Tidak hanya memenuhi kebutuhan pasien etnis Cina, tetapi obat tradisional ini juga dikonsumsi oleh masyarakat pribumi. Obat tradisional cina mudah diperoleh di toko-toko obat cina yang menyediakan sediaan jadi dan menerima peracikan resep dari shinse. Dalam pengobatannya, shinse biasanya mengombinasikan ramuan dengan teknik pijatan, akupresur, atau akupuntur.
3) Obat Tradisional Buatan Industri
Berdasar modal yang harus dimiliki, Departemen Kesehatan membagi industri obat tradisional menjadi dua kelompok, yakni IKOT
commit to user
11
(Industri Kecil Obat Tradisional) dan IOT (Industri Obat Tradisional). Saat ini industri farmasi mulai tertarik untuk memproduksi obat tradisional dalam bentuk sediaan modern berupa herbal terstandar atau fitofarmaka seperti tablet dan kapsul (Handayani dan Suharmiati, 2012).
d. Bentuk Sedian Obat Tradisional
Obat tradisional tersedia dalam berbagai bentuk yang dapat diminum atau ditempelkan pada permukaan pada permukaan kulit. Tetapi tidak tersedia dalam bentuk suntikan atau aerosol. Dalam bentuk sediaan obat- obat tradisional ini dapat berbentuk serbuk yang menyerupai bentuk sediaan obat modern, kapsul, tablet, larutan, ataupun pil (Anonim, 1993). 1) Larutan
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka padat tadi terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Zat cair atau cairan biasanya ditimbang dalam botol yang digunakan sebagai wadah yang diberikan. Cara melarutkan zat cair ada dua cara yakni zat-zat yang agak sukar larut dilarutkan dengan pemanasan (Anief, 2000).
2) Serbuk
Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan. Pada pembuatan serbuk kasar, terutama serbuk nabati, digerus terlebih dahulu sampai derajat halus tertentu setelah itu dikeringkan pada suhu tidak lebih 50oC. Serbuk obat yang
commit to user
12
mengandung bagian yang mudah menguap dikeringkan dengan pertolongan bahan pengering yang cocok, setelah itu diserbuk dengan jalan digiling, ditumbuk dan digerus sampai diperoleh serbuk yang mempunyai derajat halus serbuk (Anief, 2000).
3) Tablet
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak, berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah. Contohnya yaitu tablet antalgin (Anief, 2002).
4) Pil
Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng mengandung satu atau lebih bahan obat. Berat pil berkisar antara 100 mg sampai 500 mg. Untuk membuat pil diperlukan zat tambahan seperti zat pengisi untuk memperbesar volume, zat pengikat dan pembasah dan bila perlu ditambah penyalut (Anief, 2002).
5) Kapsul
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat dari pati dan bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor paling kecil (5) sampai nomor paling besar (000), dan ada juga kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai
commit to user
13
usuran OE), yang memberikan kapasitas isi yang lebih besar tanpa peningkatan diameter. Contohnya kapsul pacekap (Anonim, 1995). e. Efek Samping Obat Tradisional
Pada prinsipnya, obat-obatan herbal memiliki potensi efek samping yang sama dengan obat-obatan sintetis atau konvensional. Tubuh kita tidak bisa membedakan antara pengobatan menggunakan herbal dengan pengobatan sintesis. Produk obat herbal merupakan bagian-bagian dari tumbuhan (misalnya akar, daun, kulit, dll) dan mengandung banyak senyawa kimia aktif. Senyawa ini, selain mempunyai khasiat penyembuhan juga dapat memiliki efek samping yang dapat merugikan (Gitawati dan Handayani, 2008).
Efek samping ini dapat terjadi dalam beberapa cara, misalnya keracunan, kontraindikasi dengan obat lain, dan lain-lain. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat-obatan herbal antara lain: 1) Keamanan obat herbal pada umumnya
2) Kandungan racun yang mungkin dikandung tanaman herbal yang digunakan
3) Efek yang merugikan pada organ tertentu, seperti sistem kardiovaskuler, sistem saraf, hati, ginjal dan kulit
4) Keamanan obat-obatan herbal untuk pengguna yang rentan, misalnya: anak-anak dan remaja, lansia, wanita selama kehamilan dan menyusui, pasien dengan kanker dan pasien bedah
commit to user
14
5) Interaksi yang mungkin terjadi di antara komponen obat herbal 6) Waktu penggunaan yang tepat
Pada obat, efek samping ini dapat terkait beberapa hal, antara lain: 1) Pemalsuan produk
2) Mutu produk yang rendah, karena kurang pengawasan produksi, dll. 3) Kontaminasi zat-zat asing dari luar
4) Masa pemakaian yang habis, kedaluarsa f. Kelebihan dan Kelemahan Obat Tradisional
1) Kelebihan Obat Tradisional
Dibandingkan obat-obat modern, memang OT/TO memiliki beberapa kelebihan, antara lain:
a) Efek samping OT relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat OT/TO akan bermanfaat dan aman jika digunakan dengan tepat, seperti:
(1) Kebenaran Bahan
Tanaman obat di Indonesia terdiri dari beragam spesies yang kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Kebenaran bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang diinginkan (Sastroamidjojo, 2001).
(2) Ketepatan Dosis
Tanaman obat, seperti halnya obat buatan pabrik memang tak bisa dikonsumsi sembarangan. Tetap ada dosis yang harus dipatuhi, seperti halnya resep dokter. Hal ini
commit to user
15
menepis anggapan bahwa obat tradisional tak memiliki efek samping. Anggapan bila obat tradisional aman dikonsumsi walaupun gejala sakit sudah hilang adalah keliru. Sampai batas-batas tertentu, mungkin benar. Akan tetapi bila sudah melampaui batas, justru membahayakan. Takaran yang tepat dalam penggunaan obat tradisional memang belum banyak didukung oleh data hasil penelitian. Peracikan secara tradisional menggunakan takaran sejumput, segenggam atau pun seruas yang sulit ditentukan ketepatannya. Penggunaan takaran yang lebih pasti dalam satuan gram dapat mengurangi kemungkinan terjadinya efek yang tidak diharapkan karena batas antara racun dan obat dalam bahan tradisional amatlah tipis. Dosis yang tepat membuat tanaman obat bisa menjadi obat, sedangkan jika berlebih bisa menjadi racun (Suarni, 2005).
(3) Ketepatan Waktu Penggunaan
Kunyit diketahui bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam ramuan jamu kunir asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang bulan (Sastroamidjojo S, 2001). Akan tetapi jika diminum pada awal masa kehamilan beresiko menyebabkan keguguran. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu penggunaan obat
commit to user
16
tradisional menentukan tercapai atau tidaknya efek yang diharapkan (Sari, 2006).
(4) Ketepatan Cara Penggunaan
Satu tanaman obat dapat memiliki banyak zat aktif yang berkhasiat di dalamnya. Masing-masing zat berkhasiat kemungkinan membutuhkan perlakuan yang berbeda dalam penggunaannya. Sebagai contoh adalah daun kecubung jika dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan digunakan sebagai obat asma. Tetapi jika diseduh dan diminum dapat menyebabkan keracunan/mabuk (Sastroamidjojo S, 2001). (5) Ketepatan Telaah Informasi
Perkembangan teknologi informasi saat ini mendorong derasnya arus informasi yang mudah untuk diakses. Informasi yang tidak didukung oleh pengetahuan dasar yang memadai dan telaah atau kajian yang cukup seringkali mendatangkan hal yang menyesatkan. Ketidaktahuan bisa menyebabkan obat tradisional berbalik menjadi bahan membahayakan. (Sastroamidjojo S, 2001).
(6) Ketepatan Pemilihan Obat untuk Indikasi Tertentu
Dalam satu jenis tanaman dapat ditemukan beberapa zat aktif yang berkhasiat dalam terapi. Rasio antara keberhasilan terapi dan efek samping yang timbul harus menjadi
commit to user
17
pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman obat yang akan digunakan dalam terapi (Sari, 2006).
b) Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat tradisional/komponen bioaktif tanaman obat
Dalam suatu ramuan obat tradisional umumnya terdiri dari beberapa jenis TO yang memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan kontra indikasi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki (Katno dan Pramono, 2010).
c) Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi Zat aktif pada tanaman obat umumnya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tanaman bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Efek tersebut adakalanya saling mendukung (seperti pada herba timi dan daun kumis kucing), tetapi ada juga yang seakan-akan saling berlawanan atau kontradiksi (seperti pada akar kelembak). Kenyataan seperti itu di satu sisi merupakan keunggulan produk obat alam / TO / OT, tetapi di sisi lain merupakan bumerang karena alasan yang tidak rasional untuk bisa diterima dalam pelayanan kesehatan formal (Katno dan Pramono, 2010).
commit to user
18
d) Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif
Penyakit metabolik adalah penyakit yang diakibatkan oleh adanya kelainan metabolisme didalam tubuh (misalnya metabolisme glukosa, lipid, dsb). Kebanyakan penyakit metabolik adalah penyakit genetik atau penyakit keturunan, meski sebagian di antaranya disebabkan makanan, racun, infeksi, dan sebagainya. Penyakit degeneratif adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh dari keadaan normal menjadi lebih buruk yang biasanya terjadi pada lansia.
Yang termasuk penyakit metabolik antara lain: diabetes (kecing manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal dan hepatitis; sedangkan penyakit degeneratif diantaranya: rematik (radang persendian), asma (sesak nafas), ulser (tukak lambung), haemorrhoid (ambaien/wasir) dan pikun (Lost of memory). Untuk menanggulangi penyakit tersebut diperlukan pemakain obat dalam waktu lama sehinga jika mengunakan obat modern dikawatirkan adanya efek samping yang terakumulasi dan dapat merugikan kesehatan. Oleh karena itu lebih sesuai bila menggunakan obat alam/OT, walaupun penggunaanya dalam waktu lama tetapi efek samping yang ditimbulkan relatif kecil sehingga dianggap lebih aman (Katno dan Pramono, 2010).
commit to user
19 2) Kelemahan Obat Tradisional
Disamping berbagai keuntungan, bahan obat alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional (termasuk dalam upaya agar bisa diterima pada pelayanan kesehatan formal). Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain: efek farmakologisnya yang lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme. Menyadari akan hal ini maka pada upaya pengembangan OT ditempuh berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan bentuk OT yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis; yaitu kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka. Akan tetapi untuk melaju sampai ke produk fitofarmaka, tentu melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji klinik) hingga bisa menjawab dan mengatasi berbagai kelemahan tersebut.
Efek farmakologis yang lemah dan lambat karena rendahnya kadar senyawa aktif dalam bahan obat alam serta kompleknya zat balast/senyawa banar yang umum terdapat pada tanaman. Hal ini bisa diupayakan dengan ekstrak terpurifikasi, yaitu suatu hasil ekstraksi selektif yang hanya menyari senyawa-senyawa yang berguna dan membatasi sekecil mungkin zat balast yang ikut tersari. Sedangkan standarisasi yang komplek karena terlalu banyaknya jenis komponen
commit to user
20
OT serta sebagian besar belum diketahui zat aktif masing-masing komponen secara pasti, jika memungkinkan digunakan produk ekstrak tunggal atau dibatasi jumlah komponennya tidak lebih dari 5 jenis TO. Disamping itu juga perlu diketahui tentang asal-usul bahan, termasuk kelengkapan data pendukung bahan yang digunakan; seperti umur tanaman yang dipanen, waktu panen, kondisi lingkungan tempat tumbuh tanaman (cuaca, jenis tanah, curah hujan, ketinggian tempat dll.) yang dianggap dapat memberikan solusi dalam upaya standarisasi TO dan OT. Demikian juga dengan sifat bahan baku yang higroskopis dan mudah terkontaminasi mikroba, perlu penanganan pascapanen yang benar dan tepat (seperti cara pencucian, pengeringan, sortasi, pengubahan bentuk, pengepakan serta penyimpanan) (Katno dan Pramono, 2010).
2. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo 2003). Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan lain sebagainya).
commit to user
21
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
3. Kuesioner
a. Pengertian Kuesioner
Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan.
b. Jenis Kuesioner
Berdasarkan jenis pertanyaannya, kuesioner dibedakan menjadi empat macam yaitu :
1) Pertanyaan tertutup
Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang telah disertai pilihan jawabannya. Responden hanya tinggal memilih salah satu jawaban yang tersedia, dan tidak diberi kesempatan memberikan jawaban lain. Pertanyaan tertutup dapat berupa pertanyaan pilihan ganda atau berupa skala.
2) Pertanyaan terbuka
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban bebas dari responden. Responden tidak diberi pilihan jawaban, tetapi responden menjawab pertanyaan sesuai dengan pendapatnya.
commit to user
22
3) Pertanyaan kombinasi tertutup dan terbuka
Pertanyaan kombinasi tertutup dan terbuka adalah pertanyaan yang telah disediakan jawabannya tetapi kemudian diberi pertanyaan terbuka, pada pertanyaan tersebut responden bebas memberikan jawaban.
4) Pertanyaan semi terbuka
Pertanyaan semi terbuka adalah pertanyaan yang disediakan pilihan jawabannya tetapi masih ada kemungkinan bagi responden untuk memberiakan tambahan jawaban (Singarimbun, 1989).
b. Merancang Kuesioner
1) Tetapkan informasi yang ingin diketahui
2) Tentukan jenis kuesioner dan metode administrasinya 3) Tentukan isi dari masing – masing pertanyaan
4) Tentukan banyaknya respon atas setiap pertanyaan
5) Tentukan kata-kata yang digunakan untuk setiap pertanyaan 6) Tentukan urutan pertanyaan
7) Tentukan karakteristik fisik kuesioner
8) Uji kembali langkah 1 sampai 7 dan lakukan perubahan jika perlu 9) Lakukan uji awal atas kuesioner dan lakukan perubahan jika perlu
(Hendri, 2009). c. Uji Validitas Kuesioner
Uji validitas kuesioner adalah prosedur untuk memastikan apakah kuesioner yang akan dipakai untuk mengukur variabel penelitian valid atau
commit to user
23
tidak. Kuesioner yang valid berarti kuesioner yang dipergunakan untuk mengumpulkan data itu valid. Valid berarti kuesioner tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Kuesionr ada yang sudah baku, karena telah teruji validitas dan reabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku. Jika kita menggunakan kuesioner yang sudah baku, tidak perlu dilakukan uji validitas lagi, sedangkan kuesioner yang belum baku perlu dilakukan uji validitas (Sugiyono, 2010).
Kuesioner yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Kuesioner yang valid harus mempunyai validitas internal atau rasional, bila kriteria yang ada dalam kuesioner secara rasional (teoritis) telah mencerminkan apa yang diukur, sedangkan kuesioner yang mempunyai validitas eksternal bila kriteria di dalam kuesioner disusun berdasarkan fakta-fakta empiris yang telah ada (eksternal).
Cara menguji validitas kuesioner :
1) Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur.
2) Melakukan uji coba kuesioner tersebut pada sejumlah responden, disarankan jumlah responden untuk uji coba minimal 30 responden. 3) Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban.
4) Menghitung korelasi antara masing – masing item dalam kuesioner dengan skor total, dengan menggunakan teknik korelasi product moment.
Suatu variabel (pertanyaan) dikatakan valid bila skor variabel tersebut berkorelasi secara signifikan dengan skor totalnya. Uji validitas
commit to user
24
yang digunakan adalah Korelasi Pearson product Moment, dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
: koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y : jumlah perkalian antara variabel X dan Y
: jumlah dari kuadrat nilai X
: jumlah dari kuadrat nilai Y
: jumlah nilai X kemudian dikuadratkan
: jumlah nilai Y kemudian dikuadratkan
Suatu variabel dikatakan valid bila r hitung (r pearson) ≥ r tabel dan suatu variabel dikatakan tidak valid bila r hitung (r pearson) < r tabel (Riyanto, 2010).
d. Uji Reabilitas Kuesioner
Reliabilitas/keterandalan ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tersebut tetap konsisten jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama. Untuk diketahui bahwa perhitungan/uji reliabilitas harus dilakukan hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki atau memenuhi uji validitas, jadi jika tidak memenuhi syarat uji validitas maka tidak perlu diteruskan untuk uji reliabilitas (Sugiyono, 2010)
commit to user
25
Pada uji reliabilitas ini teknik uji yang digunakan adalah uji
Cronbah’s Alpha, dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
: koefisien reliabilitas test
: cacah butir : varians skor butir : varians skor total
Suatu alat ukur dikatakan reliabel apabila nilai koefisien Cronbah’s
Alpha ≥ konstanta (0,6) dan dikatakan tidak reliabel apabila nilai koefisien Cronbah’s Alpha < konstanta (0,6) (Riyanto, 2010).
B. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan tinjauan kepustakaan dan landasan teori, maka kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :
Pengetahuan masyarakat Desa Kepuh tentang obat tradisional mengenai jenis, manfaat, efek samping, risiko, aturan penggunaan, bentuk sediaan, dll.
Masyarakat Desa Kepuh pengguna obat tradisional
Pengukuran pengetahuan masyarakat Desa Kepuh terhadap penggunaan obat tradisional.
commit to user
26
C. Keterangan Empirik
Menurut Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008, angka kesakitan penduduk secara nasional sebesar 33,24%, dari jumlah tersebut sebesar 65,59% memilih berobat sendiri dengan menggunakan obat-obatan modern dan tradisional (termasuk berobat di klinik tradisional), sisanya sebesar 34,41% memilih berobat jalan ke puskesmas, praktek dokter dan fasilitas kesehatan lainnya. Hal ini menunjukkan minat masyarakat terhadap pengobatan tradisional cukup tinggi (Anonim, 2009b).