KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN SENGON BUTO

Teks penuh

(1)

DAN TREMBESI (Samanea saman Merr.)

DI LAHAN PASCA TAMBANG BATUBARA

PT KITADIN, EMBALUT, KUTAI KARTANEGARA,

KALIMANTAN TIMUR

WEDA GELAR PANANJUNG

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

2

KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN BAWAH PADA

TEGAKAN SENGON BUTO (Enterolobium cyclocarpum Griseb.)

DAN TREMBESI (Samanea saman Merr.)

DI LAHAN PASCA TAMBANG BATUBARA

PT KITADIN, EMBALUT, KUTAI KARTANEGARA,

KALIMANTAN TIMUR

WEDA GELAR PANANJUNG

Skripsi

sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana kehutanan

pada

departemen silvikultur

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

Abstrak

WEDA GELAR PANANJUNG. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarppum Griseb.) dan Trembesi (Samanea saman Merr.) di Lahan Pasca Tambang Batubara PT Kitadin Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Di bawah bimbingan Iwan Hilwan dan Dadan Mulyana.

Kegiatan penambangan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, seperti yang telah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No 18 tahun 2008 mengenai Rencana Penutupan Tambang yang di dalamnya mewajibkan perusahaan pertambangan untuk melakukan kegiatan reklamasi pada setiap lubang bekas galiannya. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengkaji komposisi dan keanekaragaman jenis tumbuhan bawah terutama di areal revegetasi pasca tambang batubara PT Kitadin Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan selama empat bulan bertempat di areal revegetasi pada tegakan sengon buto dan trembesi tahun tanam 2006. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode anlisis vegetasi tumbuhan bawah, analisis data yang digunakan yaitu perhitungan INP dan analisis keanekaragaman tumbuhan bawah. Hasil menunjukkan bahwa pada tegakan sengon buto ditemukan 22 jenis tumbuhan bawah dari 19 famili, sedangkan pada tegakan trembesi ditemukan 17 jenis dari 13 famili. Kedua tegakan didominasi oleh jenis Paspalum conjugatum dan Solanum torvum. Tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto dan trembesi tergolong sedang, Kekayaan jenis tergolong rendah dengan Indeks Kekayaan Jenis (R1) pada tegakan sengon buto (2,56) dan pada tegakan trembesi (1,96). Kemerataan jenis tumbuhan bawah di bawah tegakan sengon buto dan trembesi tergolong tinggi karena keduanya memiliki nilai E > 0,6. Indeks Kesamaan jenis tumbuhan bawah antar tegakan sengon buto dan trembesi dapat dianggap sama karena nilai IS > 75%.

(4)

4

Abstrack

WEDA GELAR PANANJUNG. Diversity Species of Undergrowth at Stand Sengon Buto (Enterolobium cyclocarppum Griseb) and Trembesi (Samanea saman Merr.) In the Land of Coal Mine Closure PT Kitadin Embalut, Kutai Kartanegara, East Kalimantan. Under the guidance of Iwan Hilwan and Dadan Mulyana.

Mining activities have a negative impact on the environment, as the Minister of Energy and Mineral Resources Regulation No. 18 of 2008 regarding the Mine Closure Plan in which requires mining companies to conduct reclamation activities on any pit mine. The research was carried out aimed to assess the composition and diversity of plant species, especially in the areas under coal mine revegetation after PT Kitadin Embalut, Kutai Kartanegara, East Kalimantan. This research conducted on the revegetation area PT Kitadin of sengon buto and trembesi stand planted on the year of 2006 for four month period of observation. Data collection methods used was step undergrowth vegetation, and data analysis is the INP of undergrowth species and analysis of plant diversity. Results showed that the total species found in both stand is 24 species from 20 families which scattered in the stands of sengon buto as many as 22 species from 19 families and the trembesi stands as many as 17 species from 13 families. The most dominated species in both stands is Paspalum conjugatum and Solanum torvum. Diversity level of undergrowth plant under stands of sengon buto and trembesi classified as medium. Richness level of undergrowth plant species is relatively low with a value of Richness (R1) on the stands of sengon buto is 2.56 and richness on the trembesi stands is 1.96. Evenness of undergrowth species under sengon buto and trembesi stands is categorized high because both the values level (E) > 0.6. The similarity index of undergrowth in sengon buto and trembesi stands can be considered as the same because the value of the IS> 75% Keywords: diversity species, mine closure, undergrowth

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb.) dan Trembesi (Samanea saman Merr.) di Lahan Pasca Tambang Batubara PT Kitadin Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur adalah benar hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi.

Dengan ini saya melimphkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2013

Weda Gelar Pananjung E44080076

(6)

6

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Keanekaragaman Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium cylocarpum Griseb.) dan Trembesi (Samanea saman Merr.) di Lahan Pasca Tambang Batubara PT Kitadin Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

Nama Mahasiswa : Weda Gelar Pananjung

NIM : E44080076

Disetujui oleh

Dr. Ir. Iwan Hilwan, MS Dadan Mulyana, S.Hut., M.Si

Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof. Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS Ketua Departemen

(7)

Prakata

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2012 sampai Mei 2012 ini ialah tumbuhan bawah, dengan judul Keanekaragaman Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb.) dan Trembesi (Samanea saman Merr.) di Lahan Pasca Tambang Batubara PT Kitadin Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Iwan Hilwan, MS dan Bapak Dadan Mulyana, S.Hut., M.Si selaku pembimbing, Ibu Dr. Ir. Oemijati Rachmatsjah, MS selaku ketua sidang dan moderator seminar, Bapak Dr. Ir. Rachmad Hermawan, M.Sc.F selaku penguji pada sidang komprehensif, serta staff Tata Usaha Departemen Silvikultur yang telah banyak membantu dalam hal administratif bidang pendidikan. Di samping itu penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Krispani Firmansyah dan seluruh staff dari divisi QSE (Quality Safety Environtmen) dan PT Kitadin Embalut, Kalimantan Timur yang telah membantu selama pengumpulan data di lapangan. Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada nenek, bapak, alm mamah, kakak serta keluarga atas doa dan kasih sayangnya. Di samping itu ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada seluruh teman-teman seperjuangan Silvikultur angkatan 45, keluarga besar Fakultas Kehutanan IPB, Haridha, Nadia, dan Abi atas dukungannya.

Semoga skripsi ini bermanfaat

Bogor, Januari 2013

Weda Gelar Pananjung

(8)

8

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI viii

DAFTAR TABEL x DAFTAR GAMBAR x DAFTAR LAMPIRAN x PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan 2 Manfaat 2 TINJAUAN PUSTAKA

Revegetasi di Lahan Bekas Tambang 4

Tumbuhan Bawah 6

Trembesi (Samanea saman Merr.) 6

Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb.) 7

Keanekaragaman Jenis 8

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian 8

Alat dan Bahan Penelitian 8

Teknik Pengambilan Data 8

Analisis Vegetasi 8

Penutupan Tajuk 8

Tanah 9

Analisis Data 9

Indeks Nilai Penting (INP) 9

Indeks Dominansi (C) 10

Indeks Keanekaragaman (H’) 10

Indeks Kesamaan Komunitas (IS) 11

Indeks Kekayaan Jenis (R1) 11

Indeks Kemerataan Jenis (E) 12

KONDISI UMUM PENELITIAN

Lokasi Penelitian 13

Iklim 13

Rona Awal Vegetasi dan Satwa 14

Kondisi Tegakan 15

Kondisi Tanah 16

Geologi Umum 16

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil 17

Komposisi Jenis 17

(9)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

Kesamaan Komunitas (IS) Tumbuhan Bawah 18

Kondisi Naungan 19

Analisis Tanah 19

Pembahasan 20

Komposisi Jenis 20

Analisis Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Bawah 25

Indeks Dominasi 26

Potensi Jenis Tumbuhan Bawah 26

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 30

Saran 30

DAFTAR PUSTAKA 31

(10)

10

DAFTAR TABEL

1 Jenis vegetasi hutan alam sekunder di sekitar areal pertambangan

PT Kitadin 14

2 Jenis fauna di PT Kitadin 15

3 Lima jenis tumbuhan bawah paling dominan pada

tegakan sengon buto 17

4 Lima jenis tumbuhan bawah paling dominan pada

tegakan trembesi 18

5 Nilai indeks keanekaragaman, kemerataan, kesamaan dan

dominansi jenis 18

6 Hasil Analisis Tanah di lokasi penelitian 20

DAFTAR GAMBAR

1 Desain plot pengamatan di lapangan 9

2 Peta lokasi PT Kitadin, Embalut 13

3 Komposisi jenis 17

4 Kondisi naungan pada sengon buto dan trembei 19 5 Jenis tumbuhan bawah yang dominan di lokasi penelitian :

(a) P.conjugatum (b) S.torvum 23

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil perhitungan analisis vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan

sengon buto 36

2 Hasil perhitungan analisis vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan

trembesi 37

3 Hasil analisis tanah di lokasi penelitian 38

4 Potensi Jenis Tumbuhan Bawah 40

5 Jenis-jenis Tumbuhan Bawah yang ditemukan di lokasi penelitian 42 6. Riwayat hidup

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan batubara merupakan bagian dari kegiatan pembangunan ekonomi yang mendayagunakan sumber daya alam dan dapat menunjuang kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan Sumber daya ini harus dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Secara teknis kegiatan pertambangan batubara meliputi proses pembersihan lahan, pengambilan dan penimbunan top soil serta overbuden; penambangan bahan galian dan penimbunan kembali, sehingga memberikan dampak perubahan bentang alam yang jelas. Pelaksanaan pertambangan diharapkan dapat memberikan jaminan pengembangan dalam praktek rehabilitasi serta mengaplikasikan praktek berkelanjutan. Kegiatan pertambangan yang kurang tepat juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan berupa penurunan produksivitas tanah, pemadatan tanah, meningkatnya tingkat erosi dan sedimentasi, terjadinya gerakan tanah/longsoran, penurunan biodiversitas flora dan fauna serta perubahan iklim mikro (Darwo 2003). Oleh karena itu untuk meminimalkan dampak negatif setiap perusahaan tambang wajib melaksanakan kegiatan reklamasi dan rehabilitasi lahan.

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang Menteri Sumberdaya dan Mineral, dimana peraturan bertujuan untuk mengembalikan kondisi lahan seperti sesuai dengan peruntukannya, dengan mengacu pada dokumen AMDAL perusahaan (Kementerian ESDM 2008). Secara umum kegiatan pertambangan batubara yang dilakukan menggunakan metode penambangan terbuka (open pit mining). Penyelesaian dari kegiatan penambangan adalah menutup kembali lubang galian yang nantinya akan menjadi areal revegetasi. Kegiatan revegetasi bertujuan untuk perbaikan lahan yang telah rusah, sehingga terbentuknya hutan sekunder yang kondisinya ekosistemnya dapat mendekati ekosistem hutan primer.

Dalam suatu ekosistem hutan, masyarakat tumbuh-tumbuhan berhubungan erat satu sama lain dengan lingkungannya. Hubungan ini terlihat dengan adanya variasi dalam jumlah masing-masing jenis tumbuhan dan terbentuknya struktur masyarakat tumbuh-tumbuhan tersebut. Terbentuknya pola keanekaragaman dan

(12)

2

struktur spesies vegetasi hutan merupakan proses yang dinamis, erat hubungannya dengan kondisi lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Tumbuhan bawah adalah suatu tipe vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan, herba dan semak belukar. Dalam stratifikasi hutan hujan tropika, tumbuhan bawah menempati stratum D yakni lapisan perdu, semak dan lapisan tumbuhan penutup tanah pada stratum E (Soerianegara dan Indrawan 2008).

Keberadaan tumbuhan bawah di lantai hutan dapat berfungsi sebagai penahan pukulan air hujan dan aliran permukaan sehingga dapat meminimalkan bahaya erosi. Selain itu, tumbuhan bawah juga sering dijadikan sebagai indikator kesuburan tanah dan penghasil serasah dalam meningkatkan kesuburan tanah. Selain fungsi ekologi, beberapa jenis tumbuhan bawah telah diidentifikasi sebagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tumbuhan obat, dan sebagai sumber energi alternatif. Namun tidak jarang juga tumbuhan bawah dapat berperan sebagai gulma yang menghambat pertumbuhan permudaan pohon khususnya pada tanaman monokultur yang dibudidayakan (Soerianegara dan Indrawan 2008).

Penelitian mengenai tumbuhan bawah di lahan bekas tambang masih belum banyak dilakukan, hal ini dikarenakan masih kurangnya pemahaman pelaku tambang dalam hal revegetasi. Penelitian mengenai tumbuhan bawah ini dapat membatu mengumpulkan informasi jenis tumbuhan bawah dan kondisi lahan bekas tambang sesuai dengan peraturan pemerintah yang ada, oleh karena itu penelitian mengenai keanekaragaman jenis tumbuhan bawah di lahan bekas tambang ini dilakukan.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi dan tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan bawah di areal revegetasi, lahan pasca tambang batubara PT Kitadin Embalut, Kalimantan Timur.

1.3 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang indikator keberhasilan revegetasi lahan pasca tambang batubara khususnya di PT Kitadin Embalut, Kalimantan Timur.

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Revegetasi di Lahan Bekas Tambang

Setiadi (2006) menyatakan bahwa model revegetasi dalam rehabilitasi lahan yang terdegradasi terdiri dari beberapa model antara lain restorasi (memiliki aksentuasi pada fungsi proteksi dan konservasi serta bertujuan untuk kembali ke kondisi awal), reforestasi dan agroforestri. Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa aktivitas dalam kegiatan revegetasi meliputi beberapa hal yaitu seleksi dari tanaman lokal yang potensial, produksi bibit, penyiapan lahan, amendemen tanah, teknik penanaman, pemeliharaan, dan program monitoring. Revegetasi yang sukses tergantung pada pemilihan jenis tanaman yang adaptif, tumbuh sesuai dengan karakteristik tanah, iklim dan kegiatan pasca penambangan

Jenis tanaman yang cocok untuk tanah berbatu seperti herba, pohon dan rumput yang cepat tumbuh, sehingga dapat mengendalikan erosi tanah. Tumbuhan yang bersimbiosis dengan mikroorganisme tanah yang mampu memfiksasi nitrogen adalah salah satu jenis yang dapat dipilih dalam kegiatan revegetasi lahan pasca tambang, seperti jenis-jenis pada famili Fabaceae (Vogel 1987 dalam Setiawan 1993).

Revegetasi merupakan sebuah usaha kompleks yang meliputi banyak aspek, akan tetapi memiliki banyak keuntungan. Beberapa keuntungan yang didapat dari revegetasi antara lain: menjaga lahan terkena erosi dan aliran permukaan yang deras; menyediakan habitat bagi satwaliar; meningkatkan keanekaragaman tumbuhan jenis-jenis local, memperbaiki produktivitas dan kestabilan tanah, memperbaiki kondisi lingkungan secara biologis dan estetika, dan menyediakan tempat perlindungan bagi jenis-jenis lokal dan plasma nutfah (Setiadi 2006).

Revegetasi adalah usaha untuk memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pada lahan bekas penggunaan kawasan hutan. Setiadi (2006) menyatakan bahwa model revegetasi dalam rehabilitasi lahan yang terdegradasi terdiri dari beberapa model, yaitu restorasi (memiliki aksentuasi pada fungsi proteksi dan konservasi serta bertujuan untuk kembali ke kondisi awal), reforestrasi dan agroforestri.

(14)

4

Kendala utama dalam melakukan aktivitas revegetasi pada lahan-lahan terbuka pasca penambangan adalah kondisi lahannya yang tidak mendukung (marginal) bagi pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu diperlukan berbagai pendekatan pada beberapa hal, diantaranya terhadap pemilihan jenis pohon, penyediaan bibit tanaman, penanaman dan pemeliharaan tanaman (Setiadi 2011).

Tujuan dari revegetasi akan mencakup re-establishment komunitas tumbuhan asli secara berkelanjutan untuk menahan erosi dan aliran permukaan, perbaikan biodiversitas dan pemulihan estetika lanskap. Pemulihan lanskap secara langsung menguntungkan bagi lingkungan melalui perbaikan habitat satwa liar, biodiversitas, produktivitas tanah dan kualitas air.

Penilaian adalah pengamatan yang dilakukan secara periodik terhadap kegiatan reklamasi hutan untuk menjamin bahwa rencana kegiatan yang diusulkan, jadwal kegiatan, hasil yang diinginkan dan kegiatan lain yang diperlukan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan dijadikan dasar perpanjangan, pengembalian izin penggunaan kawasan hutan dan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan reklamasi hutan. Kriteria keberhasilan reklamasi hutan menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 60/Menhut-II/2009, yaitu penataan lahan, pengendalian erosi dan sedimentasi serta revegetasi atau penanaman pohon. Revegetasi atau penanaman pohon terdiri dari luas areal penanaman, persentase tumbuh tanaman, jumlah tanaman per hektar, komposisi jenis tanaman dan pertumbuhan atau kesehatan tanaman.

Setiadi (2006) menyebutkan beberapa faktor sebagai bahan evaluasi revegetasi, antara lain performa pertumbuhan dan kesesuaian jenis; kesinambungan dan tingkat pemenuhan kebutuhan diri oleh tanaman; peningkatan lingkungan mikro-habitat; pengurangan dampak terhadap lingkungan serta keuntungan bagi masyarakat sekitar. Evaluasi keberhasilan revegetasi adalah sebuah upaya untuk menjamin bahwa revegetasi tengah berjalan menuju arah yang diharapkan, yaitu kondisi asli sebelum terjadinya gangguan. Selain itu, hal ini juga merupakan sebuah mekanisme untuk menentukan keberhasilan revegetasi yang telah dilakukan, berdasarkan parameter silvikultur dan ekologis juga sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengikat bagi pelaksana kegiatan revegetasi, dalam hal ini perusahaan pertambangan.

(15)

2.2 Tumbuhan Bawah

Salah satu komponen dalam masyarakat tumbuh-tumbuhan adalah tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah dapat ditemui pada berbagai komunitas hutan baik heterogen maupun homogen, hutan alam maupun hutan tanaman, yang merupakan jenis-jenis yang tumbuhan secara liar. Masyarakat tumbuhan bawah ini hidup dan berkembangbiak secara alami dan selalu menjadi bagian dari komponen komunitas ekosistem hutan tersebut (Hardjosentono 1976).

Sebagai bagian dari suatu komunitas, tumbuhan bawah mempunyai korelasi yang nyata dengan tempat tumbuh (habitat) dalam hal penyebaran jenis, kerapatan, dan dominansinya (Soerianegara dan Indrawan 2008). Tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan selain permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan dan vegetasi semak belukar. Jenis-jenis pohon kecil (perdu), semak-semak, dan tumbuhan bawah serta liana perlu dipelajari juga karena merupakan indikator tempat tumbuh, merupakan pengganggu bagi pertumbuhan permudaan pohon-pohon penting, penting sebagai penutup tanah, dan penting dalam pencampuran serasah dan pembentukan bunga tanah (Soerianegara dan Indrawan 2008).

Pada lahan atau tegakan hutan tanaman, tumbuhan bawah seringkali dianggap sebagai gulma. Menurut Nazif dan Pratiwi (1991), gulma adalah tumbuhan yang mengganggu tanaman budidaya, hal ini disebabkan gulma memiliki kemampuan bersaing dengan tanaman pokok dalam hal unsur hara, cahaya, air dan tempat tumbuh. Selain itu juga tumbuhan bawah dapat berperan sebagai perantara dari hama penyakit dan juga dapat bersifat alelopati yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis bagi tanaman pokok.

2.3 Trembesi (Samanea saman Merr.)

Trembesi (Samanea saman Merr.) merupakan tanaman cepat tumbuh asal Amerika Tengah dan Amerika Selatan sebelah utara, yang telah diintroduksi oleh banyak negara tropis. Di Indonesia umumnya jenis ini dikenal dengan nama trembesi, dengan nama daerah seperti Kayu colok (Sulawesi Selatan), Ki hujan (Jawa Barat) dan Munggur (Jawa Tengah). Pohon trembesi mudah dikenali dari kanopinya yang berbentuk payung dengan diameter kanopi lebih besar dari tingginya. Karena bentuk kanopinya indah dan luas, trembesi cocok dipergunakan

(16)

6

sebagai tanaman pelindung di pinggir jalan besar, bandara atau taman-taman kota, sekaligus penyerap polutan dan karbon. Trembesi digunakan terutama sebagai pohon peneduh dan hiasan, antara lain di Istana Kepresidenan di Jakarta dan Bogor. Perum Perhutani menggunakan trembesi sebagai peneduh di tempat pengumpulan kayu.

Tanaman ini aslinya berasal dari Amerika tropis seperti Meksiko, Peru dan Brazil namun terbukti dapat tumbuh di berbagai daerah tropis dan subtropis. Spesies ini sudah tersebar di kisaran iklim yang luas, termasuk diantaranya equator dan monsoon yang memiliki curah hujan 600-3000 mm pada ketinggian 0-300 m dpl. Trembesi dapat bertahan pada daerah yang memiliki bulan kering 2-4 bulan, suhu 20o-38oC dimana suhu maksimal saat musim kering 24o-38oC dan suhu minimal saat musim basah 18o-20oC.

Dalam kondisi basah dimana hujan terdistribusi merata sepanjang tahun, trembesi dapat beradaptasi dalam kisaran tipe tanah dan pH yang luas. Tumbuh di berbagai jenis tanah dengan pH tanah sedikit asam hingga netral (6,0-7,4) meskipun disebutkan toleran hingga pH 8,5 dan minimal pH 4,7. Jenis ini memerlukan drainasi yang baik namun masih toleran terhadap tanah tergenang air dalam waktu pendek (Nuroniah dan Kosasih S 2010)

2.4 Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb.)

Jenis E.cyclocarpum Griseb., yang biasa dikenal dengan nama sengon buto termasuk famili Fabaceae, pohon yang memiliki tajuk rindang dan perakaran yang dalam sehingga jenis ini dapat berfungsi sebagai tanaman pionir untuk konservasi tanah dan air. Jenis ini toleran terhadap tanah berpasir dan salin (Djam’an 1996 dalam Maretina 2010). Pohon sengon buto termajuk jenis pohon cepat tumbuh (fast growing species), sehingga memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai tanaman industri maupun reboisasi.

Tempat tumbuh ideal untuk sengon buto yaitu pada ketinggian kurang dari 500 mdpl, iklim A dan B menurut Schmit dan Ferguson, pada pH tanah berkisar antara 5-7 dengan kondisi tanah gembur hingga padat. Kondisi tanah yang kurang baik, iklim yang kering dan ketinggian 32-1185 mdpl jenis sengon buto masih dapat tumbuh dengan baik.

Kebanyakan spesies tanaman yang termasuk dalam famili Leguminosae/ Fabaceae memiliki bintil akar. Bintil akar ini merupakan organ simbiosis yang

(17)

mampu melakukan fiksasi N di udara, sehingga tanaman mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan nitrogen dari hasil fiksasi tersebut (Islami dan Utomo 1995 dalam Maretina 2010).

2.5 Keanekaragaman Jenis

Keanekaragaman adalah suatu bentuk komunitas baik flora maupun fauna yang hidup di muka bumi. Keanekaragaman hayati harus dilihat dari tingkatan jenis, komunitas dan ekosistem, termasuk jutaan tumbuhan, hewan dan mikroorganisme di dalamnya Primack et al. (1998) dalam Yassir (2005).

McNoughton dan Wolf (1990) menyatakan bahwa keanekaragaman mengarah kepada keanekaragaman jenis yang terdiri atas dua komponen, yaitu jumlah jenis yang mengarah pada kekayaan jenis (richness species) dan kelimpahan jenis yang mengarah kepada kemerataan jenis (eveness species). Odum (1993) lebih mengarahkan kepada keanekaragaman jenis dengan menggunakan indeks kelimpahan jenis, yaitu suatu indeks tunggal yang mengkombinasikan antara kekayaan jenis dan kemerataan jenis.

Penggunaan Indeks Kekayaan Jenis pada penilaian keanekaragaman bertujuan untuk mengetahui jumlah jenis yang ditemukan pada suatu komunitas. Indeks kekayaan Jenis yang sering digunakan oleh para peneliti ekologi adalah Indeks Kekayaan Jenis Margalef (Odum 1993). Penilaian keanekaragaman jenis dengan menggunakan indeks kemerataan jenis, dapat digunakan sebagai petunjuk kemerataan dan kelimpahan individu di antara setiap komunitas. Melalui indeks ini pula dapat dilihat adanya gejala dominansi yang terjadi antara suatu jenis dalam suatu komunitas. Kombinasi antara indeks kekayaan jenis dan kemerataan jenis sering digunakan dalam sebuah indeks tunggal yang menggambarkan kelimpahan jenis suatu komunitas atau sering disebut indeks keanekaragaman jenis. Indeks keanekaragaman jenis yang paling sering digunakan oleh para peneliti ekologi yaitu dari Shannon-Wiener (Odum 1993).

(18)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari hingga Mei 2012. Pengambilan data lapangan bertempat di area revegetasi tegakan sengon buto dan trembesi tahun tanam 2006 milik PT Kitadin Embalut site, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dan analisis data bertempat di Lab Ekologi Hutan IPB.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah peta konsesi PT Kitadin, kompas, Global Positioning System (GPS), tambang/tali rafia, walking stick, pita meter, pita ukur, pita penanda, tally sheet, alat tulis, dan kamera digital.

3.3 Teknik Pengumpulan Data 3.3.1 Analisis Vegetasi

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode petak kuadrat pada tiap tegakan. Tegakan yang digunakan dalam pengamatan ini adalah tegakan sengon buto dan trembesi. Pada masing-masing tegakan dibuat 3 petak berukuran 20 m x 20 m dengan jarak antar petak 20 m, kemudian dalam setiap petak ini dibuat 5 plot contoh pangamatan seluas 2 m x 2 m yang diletakkan pada tiap pojok dan bagian tengah. Desain plot pengamatan dapat dilihat pada Gambar 1.

Data yang diambil pada petak 20 m x 20 m adalah data pohon meliputi jenis, diameter, dan tinggi pohon. Pada petak 2 m x 2 m data yang diambil adalah data tumbuhan bawah meliputi jenis, dan jumlah individu tiap jenisnya.

3.3.2 Penutupan Tajuk

Pengambilan data penutupan tajuk dilakukan secara kualitatif, dengan cara melakukan penilaian secara visual terhadap penutupan tajuk tiap tegakan. Tingkat penutupan tajuk dikelompokkan mejadi tiga kelas, yaitu besar (>75%), sedang (50–75%), dan rendah (<50%).

(19)

20 m

A

Keterangan : a,b,c,d,e : plot pengamatan 2 m x 2 m A & B : petak pengamatan 20 m x 20 m

Gambar 1 Desain Petak Pengamatan 3.3.3 Tanah

Data analisis tanah yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari perusahaan. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari Laporan Triwulan I Tahun 2012, data tanah telah diambil pada lokasi yang sama dengan lokasi penelitian pada tanggal 12 Januari 2012. Data tanah yang diamati meliputi sifat fisik dan kimia tanah.

3.4 Analisis Data

Untuk mengetahui gambaran tentang komposisi jenis dan data ekologi tumbuhan bawah, dilakukan perhitungan terhadap parameter yang meliputi Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Dominansi, Indeks Keanekaragaman Jenis, Indeks Kekayaan Jenis, Indeks Kemerataan jenis, dan indeks kesamaan komunitas. 3.4.1 Indeks Nilai Penting (INP)

Indeks Nilai Penting (INP) adalah parameter kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi (penguasaan) spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan 2008). INP merupakan penjumlahan dari nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR). Dalam penelitian ini nilai INP yang dihitung hanya pada tingkat tumbuhan bawah dengan rumus INP = KR + FR

Rumus yang digunakan dalam analisis data adalah sebagai berikut: a. Kerapatan (K) A e a c d b B e a c d b

(20)

10 b. Kerapatan Relatif (KR) c. Frekuensi (F) d. Frekuensi Relatif (FR) 3.4.2 Indeks Dominansi (C)

Nilai Indeks Dominansi menggambarkan pola dominansi jenis dalam suatu komunitas. Nilai indeks yang tertinggi adalah 1, yang menunjukkan bahwa tegakan tersebut dikuasai oleh satu jenis atau terpusat pada satu jenis. Jika beberapa jenis mendominansi secara bersama-sama maka indek dominansi akan mendekati nol atau rendah.

Untuk mengetahui indeks dominansi jenis digunakan rumus sebagai berikut (Misra 1980).

∑ ( )

Dimana : C = Indeks Dominansi ni = INP jenis i

N = total INP 3.4.3 Indeks Keanekaragaman Jenis (H’)

Indeks Keanekaragaman Jenis menggambarkan ciri tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologinya. Keanekaragaman jenis juga dapat digunakan guna menyatakan struktur komunitas dan stabilitas komunitas dalam suatu ekosistem. Keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan rumus Shanon Index of General Diversity (Soerianegara 2008).

∑ [ ]

Dimana : H' = Indeks Keanekaragaman Jenis ni = INP jenis i

(21)

N = Total INP

Nilai indeks keanekaragaman jenis dapat diklasifikassikan dalam beberapa tingkatan, yaitu : a. Rendah jika H' < 2

b. Sedang jika 2 ≤ H' < 3 c. Tinggi jika H' ≥ 3 3.4.4 Indeks Kesamaan Komunitas (IS)

Indeks Kesamaan Komunitas digunakan untuk mengetahui kesamaan relatif komposisi jenis dari dua komunitas yang dibandingkan (Magguran 1988). Untuk mengetahui Indeks Kesamaan Komunitas dapat digunakan rumus sebagai berikut :

Dimana : IS = Indeks kesamaan komunitas

w = Jumlah jenis yang sama antara komunitas a dan b a = Jumlah jenis yang terdapat pada komunitas a b = Jumlah jenis yang terdapat pada komunitas b

dalam penentuan antar dua komunitas yang berbeda, terdapat tiga kriteria yaitu :

a. Suatu komunitas dianggap sama sekali berbeda apabila nilai IS < 50% b. Dianggap mirip apabila nilai 50% < IS < 75%

c. Dianggap sama apabila nilai IS ≥ 75% 3.5.5 Indeks Kekayaan Jenis (R1)

Untuk mengetahui Indeks Kekayaan jenis digunakan rumus (Margallef 1998 ) yaitu :

Dimana: R1 = Indeks Kekayaan

S = Jumlah jenis yang ditemukan N = Jumlah total individu

Berdasarkan Magurran (1988), nilai R1 < 3,5 menunjukkan kekayaan jenis yang tergolong rendah, R1 = 3,5–5,0 menunjukkan kekayaan jenis tergolong sedang, sedangkan nilai R1 > 5,0 menunjukkan kekayaan jenis yang tergolong tinggi.

(22)

12

3.4.6 Indeks Kemerataan Jenis (E)

Rumus indeks kemerataan jenis yang secara umum digunakan oleh para ekologis adalah (Indriyanto 1988) :

Dimana : E = Indeks Kemerataan Jenis H' = Indeks Keanekaragaman Jenis S = Jumlah jenis

Berdasarkan Magurran (1988), besaran E < 0,3 menunjukkan kemerataan jenis rendah, E = 0,3 - 0,6 menunjukkan kemerataan jenis tergolong sedang dan E > 0,6 kemerataan jenis tergolong tinggi.

(23)

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian

Status kawasan PT Kitadin adalah Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK) yang secara administratif terletak di Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur dan secara geografis terletak pada koordinat 1170 5’00.0”– 1170 7’49,9” BT dan 00 18’00.0” ‒ 00 22’ 30,0” LS dengan topografi datar dan berbukit-bukit (Kitadin 2011). Peta Lokasi PT Kitadin Embalut disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Peta Lokasi PT Kitadin Embalut 4.2 Iklim

Wilayah PT Kitadin masuk kedalam Kecamatan Tenggarong Seberang yang merupakan daerah beriklim tropis, dengan suhu berkisar 270-350 C dengan kecepatan angin antara 7-8 km/jam. Kelembaban udara berkisar antara 91 – 92% dan curah hujan rata-rata perbulan 176,2 mm (Kitadin 2011).

(24)

14

4.3 Rona Awal Vegetasi dan Satwa

Vegetasi yang terdapat pada lokasi penambangan umumnya merupakan hutan sekunder. Tipe vegetasinya berupa hutan hujan tropis dataran rendah dengan pepohonan yang berdiameter mulai dari yang besar hingga kecil dan juga terdapat semak belukar. Jenis pepohonan yang tumbuh antara lain meranti, ulin, dan sengon secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Jenis-Jenis Tumbuhan pada Hutan Alam Sekunder di Sekitar Areal Pertambangan PT Kitadin

No Nama Lokal Nama Latin Famili

1 Anggrung Trema orientalis L. Blume Ulmaceae 2 Bayur Pterospermum javanicum Jungh Sterculiaceae 3 Jomok Artocarpus elasticus Reinw Moraceae 4 Kokang Cratoxylon ligustrinum Blume Clusiaceae 5

6

Laban Mahang

Vitex pubescens Vahl

Macaranga hypoleuca Reichb.f & Zoll

Verbenaceae Euphorbiaceae 7 Mbalut Macaranga recurvata Gage Euphorbiaceae

8 Singkil Premna corymbosa Rottl Verbenaceae

9 Terap Nauclea orientalis L. Rubiaceae

10 Tutup Homalanthus sp. Euphorbiaceae

11 Padi Oryza sativa L. Poaceae

12 Jagung Zea mays L. Poaceae

13 Singkong Manihot esculenta Crantz Euphorbiaceae

14 Akasia Acacia mangium Willd. Fabaceae

15 Alau Dacrydium beccarii Parl Podocarpaceae

16 Albizia Samanea sp. Fabaceae

17 Bolok Ficus lepicarpa Blume Moraceae

18 Jabon Anthocephalus cadamba Roxb. Miq. Rubiaceae 19 Jambu

Hutan

Euginia sp. Myrtaceae

20 Kapur Dryobalanops lanceolata Burck Dipterocarpaceae

21 Keruing Dipterocarpus sp. Dipterocarpaceae

22 Kayu Hitam Diospyros celebica Back. Ebenaceae

23 Laban Vitex pinnata Lamm. Verbenaceae

24 Nyatoh Palaquium spp. Sapotaceae

25 Pulai Alstonia scholaris R.Br Apocynaceae 26 Ulin Eusideroxylon zwageri Teysem &

Binnend

Lauraceae

27 Simpur Dillenia indica L. Dilleniaceae

28 Pelawan Tristania conferta R.Br Myrtaceae 29 Keledang Artocarpus lanceifolius Roxb. Moraceae 30 Mbalut

Besar

Macaranga gigantea Reichb.f & Zoll. Euphorbiaceae

(25)

Jenis fauna di wilayah konsesi pertambangan PT Kitadin terdiri dari 10 jenis mamalia, 5 jenis reptillia, dan 23 jenis aves, diantaranya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Jenis Fauna di PT Kitadin

No. Nama Lokal Nama Latin

A. Mamalia

1 Bajing Callosciurus notatus

2 Tupai Tupaia javanica

3 Tikus Rattus rattus

4 Kelelawar Pteropus vampyrus

5 Musang Paradoxurus hermaphroditus

6 Babi Hutan Sus scrofa

7 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis

B. Reptil

1 Biawak Varanus sp.

2 Kadal Lygosoma sp.

3 Kura-kura air tawar Chelydra serpentia

4 Ular sanca Python molurus

5 Ular hijau Trimeresurus albolabris

C. Burung

1 Burung gereja Passer montanus

2 Elang hitam Ictinaetus sp.

3 Walet Collocalia fuciphagus

4 Pipit padi Lonchura leucogastroides

5 Kapinis Hirundapus caudacutus

6 Ketilang Pycnonotus aurigaster

7 Tekukur Streptopelia chinensis

8 Punai Treron capelli

9 Pelatuk Dinopium javanense

Sumber : Dokumen ANDAL PT Kitadin 2003

4.4 Kondisi Tegakan

Areal revegetasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tegakan trembesi dan sengon buto yang berlokasi di seam 15 dan seam 9/10. Tegakan trembesi dan sengon buto ditanam pada tahun 2006 dengan menggunakan jarak tanam 4 m x 4 m. Blok tanam trembesi memiliki luas 1,41 ha, dan blok tanam sengon buto memiliki luas 1,21 ha. Rata-rata diameter setinggi dada tanaman sengon buto adalah 27 cm dengan tinggi total rata-rata adalah 17 m sedangkan diameter rata-rata pohon trembesi yaitu 24 cm dan tinggi total 16 m. Kegiatan penanaman di PT Kitadin biasanya dilakukan tiap tiga bulan sekali, dimana kegiatan penanaman ini mengikuti hasil kegiatan penutupan kembali lubang bekas galian.

(26)

16

Tanaman revegetasi diberikan perlindungan dari serangan hama dan tumbuhan bawah yang mengganggu hingga berumur satu tahun. Kegiatan perlindungan yang dilakukan berupa perawatan secara berkala guna mencegah gangguan dari hama, penyakit dan gulma. Setiap minggunya tanaman revegetasi dibersihkan dari gulma-gulma yang melilit sehingga merusak pertumbuhan tanaman, dan dibasmi dengan insektisida apabila terdapat hama yang menyerang tanaman.

4.5 Kondisi tanah

Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara sesuai dengan kondisi iklimnya yang tergolong dalam tipe iklim tropika humida pada umumnya tergolong tanah yang bereaksi asam dengan jenis tanah meliputi podsolik (ultisol), alluvial (entisol), gleisol (entisol), organosol (histosol), lithosol (entisol), latosol (ultisol), andosol (incepsol), regosol (entisol), renzina (mollisol) dan mediteran (inceptisol).

4.6

Geologi Umum

Area PT Kitadin Embalut merupakan daerah dengan ketinggian antara 50-100 m dari permukaan laut dan sebagian kecil merupakan dataran rendah atau rawa-rawa. Topografi secara umum di PT Kitadin memiliki kontur permukaan tanah yang relatif datar. Lokasi revegetasi merupakan hasil penutupan kembali lubang bekas tambang, sehingga kondisi permukaan tanah dibuat landai dengan kemiringan rata-rata 15%. Batuannya merupakan batuan sedimen yang terdiri atas perselingan antara batuan pasir, lanau, lumpur, serpih, batubara dan di beberapa tempat ditemukan silicified wood. Vegetasi yang tumbuh berupa pepohonan keras dan semakbelukar area hutan hujan tropis sekunder.

Struktur batuan di daerah ini terletak di antara sisi timur antiklin pulau Yupa dan sisi barat antiklin Embalut. Sinklin Embalut terletak di antara dua lipatan antiklin dan merupakan struktur yang utama, dimana sumbu antiklin terletak pada bagian barat dari Kawasan Pertambangan. Lapisan batubara pada lapisan barat sinklin Embalut mempunyai (strike) N200°E dengan kemiringan (dip) sebesar 16° ‒ 33° ke arah barat. Beberapa lapisan batubara yang dijumpai mempunyai penyebaran yang cukup baik dengan panjang penyebaran sejauh

(27)

500 ‒ 1500 meter dengan kedalaman hingga 500 meter dan ketebalan yang tidak tetap ( laporan triwulan PT Kitadin 2003).

(28)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

5.1.1 Komposisi Jenis Tumbuhan Bawah

Komposisi jenis tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) berumur 6 tahun terdiri dari 22 jenis tumbuhan bawah dari 19 famili, sedangkan hasil analisis vegetasi pada tegakan trembesi (Samanea saman) berumur 6 tahun ditemukan 17 jenis tumbuhan bawah dari 13 famili. Perbandingan jumlah jenis dan jumlah famili dalam bentuk histogram disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Komposisi jenis tumbuhan bawah di lokasi penelitian

Pada tegakan sengon buto terdapat lima jenis tumbuhan bawah yang dominan seperti yang tersaji pada Tabel 3. Jenis tumbuhan bawah yang paling dominan pada tegakan sengon buto adalah jenis jukut pahit (Paspalum conjugatum) dengan INP paling tinggi yaitu 90,51% dan jenis kodominannya adalah jenis terong-terongan (Solanum torvum) dengan INP 19,49%.

Tabel 3 Lima jenis tumbuhan bawah yang paling dominan pada tegakan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum)

No Nama Ilmiah Familli Jumlah Individu K (ind/ha) KR % F % FR % INP % 1 Paspalum conjugatum Poaceae 2.821 1.410.500 76,53 0,87 13,99 90,51 2 Solanum torvum Solanaceae 203 101.500 5,51 0,87 13,98 19,49 3 Piper aduncum Piperaceae 62 31.000 1,68 0,60 9,68 11,36 4 Cyperus rotundus Cyperaceae 154 77.000 4,18 0,33 5,38 9,55 5 Neyraudia reynaudiana Poaceae 71 35.500 1,93 0,33 5,38 7,30 0 5 10 15 20 25

Sengon Buto Trembesi

Jumlah jenis Jumlah Famili

(29)

Pada tegakan trembesi jenis tumbuhan bawah yang paling dominan sama dengan jenis tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto yaitu jenis jukut pahit (P.conjugatum) dengan INP 82,71%, dan jenis kodominannya adalah jenis terong-terongan (S.torvum) dangan INP 20,61%. Lima jenis tumbuhan bawah pada tegakan trembesi yang dominan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Lima Jenis Tumbuhan Bawah yang Paling Dominan pada Tegakan Trembesi (Samanea saman)

No Nama Ilmiah Familli Jumlah Individu K (ind/ha) KR % F % FR % INP % 1 Paspalum conjugatum Poaceae 2.421 1.210.500 70,21 0,93 12,50 82,71 2 Solanum torvum Solanaceae 249 124.500 7,22 1 13,39 20,61 3 Mikania micrantha Asteraceae 248 124.000 7,19 1 13,39 20,59 4 Cleome rutidosperma Cleomaceae 84 42.000 2,44 0,87 11,61 14,04 5 Pueraria javanica Fabaceae 62 31.000 1,80 0,73 9,82 11,62

5.1.2 Analisis Keanekaragaman Tumbuhan Bawah

Kekayaan jenis akan berbanding lurus dengan nilai keanekaragaman jenis. Sedangkan kemerataan jenis menunjukkan bagaimana kelimpahan jenis terdistribusi secara meratapada jumlah banyaknya individu yang ada. Tabel 5 menunjukkan bahwa pada tegakan sengon buto memiliki nilai keragaman 2,21 yang berarti lebih tinggi jika dibandingkan dengan tegakan trembesi dengan nilai 2,09.

Sama halnya dengan indeks Keanekaragaman Jenis (H’), indeks kekayaa jenis (R1) pada tegakan sengon buto lebih tinggi dibandingkan dengan tegakan trembesi. Akan tetepi tumbuhan bawah pada tegakan trembesi memiliki nilai Indeks Kemerataan Jenis lebih tinggi yaitu 0,74 dibandingkan dengan tegakan sengon buto dengan nilai 0,72.

Tabel 5 Indeks Keanekaragaman Jenis (H’), Indeks Kekayaan Jenis (R1), Indeks Kemerataan Jenis (E), dan Indeks Dominansi Jenis (C) Tumbuhan Bawah di Bawah Tegakan Sengon Buto dan Trembesi

Jenis H' R1 E C

Sengon Buto 2,21 2,56 0,72 0,23

(30)

20

5.1.3 Kesamaan Komunitas (IS) Tumbuhan Bawah

Indeks Kesamaan Komunitas (IS) menunjukkan komposisi jenis tumbuhan dari dua komunitas yang dibandingkan. Hasil analisis data diketahui nilai IS antar tegakan sengon buto dan trembesi adalah sebesar 82,05%. Dari nilai IS diketahui bahwa komunitas tumbuhan bawah di bawah tegakan sengon buto dan trembesi dapat dikatakan sama, karena nilai IS yang lebih besar dari 75%.

5.1.4 Kondisi Naungan

Kondisi naungan sangat memengaruhi masuknya cahaya matahari ke dalam tegakan. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi naungan tajuk pada tegakan trembesi lebih tertutup atau tergolong besar yaitu 85% dibandingkan dengan kondisi naungan pada tegakan sengon buto yang tergolong sedang dengan nilai 70%.

(a) (b)

Gambar 4 Kondisi naungan pada (a). sengon buto, (b). trembesi 5.1.5 Analisis Tanah

Analisis tanah telah dilakukan pada lokasi penelitian pada tanggal 12 Januari 2012, di Laboraorium Ilmu Tanah, Pusat Studi Reboisasi Hutan Tropis Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. Dari hasil analisis diketahui bahwa tanah di lokasi penelitian memiliki tekstur tanah liat berpasir dengan porositas 49,93 dan 53,02. Hasil analisis tanah disajikan pada Tabel 6 dan secara lengkap pada Lampiran 3.

(31)

Tabel 6 Hasil analisis tanah dilokasi penelitian

No Parameter Satuan Trembesi

(Seam 15) Sengon Buto (Seam 9/10) 0-30 30-60 0-30 30-60 A. Analisis Kimia 1 pH 3,80 (Sangat Masam) 4,30 (Sangat Masam) 6,20 (Agak Masam) 6,70 (Netral) 2 Ca Meq/100g 1,76 (Rendah) 1,68 (Rendah) 1,75 (Rendah) 1,80 (Rendah) 3 Mg Meq/100g 3,09 (Tinggi) 3,25 (Tingg) 3,09 (Tinggi) 3,05 (Tinggi) 4 Kejenuhan Al % 11,33 (Rendah) 2,39 (Sangat Rendah) 0,00 0,00 5 KTK Meq/100g 7,36 6,97 5,67 6,23 6 FeS2 % 0,20 1,25 0,37 0,36 B. Analisis Fisik 1 Porositas Total % 53,02 - 49,93 - 2 Water Permanentbility cm/jam 0,20 - 0,37 - 3 Bulkdensity g/cm3 1,21 - 1,29 -

Sumber : Laporan triwulan I tahun 2012 PT Kitadin

5.2 Pembahasan

5.2.1 Komposisi Jenis Tumbuhan Bawah

Komposisi jenis tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) umur 6 tahun terdiri atas 22 jenis dari 19 famili adapun pada tegakan trembesi (Samanea saman) ditemukan 17 jenis dari 13 famili. Total jumlah jenis yang ditemukan pada kedua lokasi sebanyak 24 jenis dari 19 famili. Jumlah jenis yang ditemukan pada tegakan sengon buto lebih banyak, hal ini disebabkan naungan pada sengon buto lebih terbuka sehingga cahaya yang masuk ke lantai tegakan lebih banyak dibandingkan dengan tegakan trembesi. Sinar matahari yang berlimpah akan memicu pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan bawah yang bersifat senang cahaya (intoleran).

Filter dan Hay (1998) dalam Setyawan (2006) menyatakan bahwa salah satu kondisi lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tumbuhan di bawah tegakan antara lain cahaya matahari atau naungan.

Dahlan (2011) menyatakah bahwa dari hasil penelitiannya penutupan tajuk atau naungan sangat memengaruhi pertumbuhan dan banyaknya jenis tumbuhan bawah. Tegakan sengon yang berumur lebih tua dengan tajuk yang lebih tertutup memiliki jumlah jenis tumbuhan bawah lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah

(32)

22

jenis tumbuhan bawah yang ada pada tegakan sengon muda yang tajuknya lebih terbuka.

Dari total 24 jenis tumbuhan bawah yang ditemukan, sebanyak 15 jenis selalu ditemukan pada kedua tegakan yang diamati, diantaranya jenis tumbuhan bawah berdaun lebar seperti babadotan (Ageratum conyzoides), terong-terongan (Solanum torvum), dan sereh-serehan (Piper aduncum). Selain dari jenis berdaun lebar ada pula jenis rumput-rumputannya seperti papaitan (Paspalum conjugatum), (Paspalum distichum) dan pepedangan (Neyraudia reynaudiana). Sementara jenis pakis-pakisan yang dijumpai adalah jenis pakis pedang (Nephrolepis biserrata).

Jenis-jenis tumbuhan bawah yang dijumpai pada kedua tegakan menunjukkan bahwa jenis-jenis tersebut memiliki tingkat toleransi yang lebar terhadap intensitas cahaya, yang dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tumbuhan bawah. Perbedaan intensitas cahaya pada tegakan sengon buto dan trembesi, masih dapat ditoleransi sehingga jenis-jenis tersebut tetap dijumpai pada kedua tegakan.

Perbedaan intensitas cahaya ini juga dapat menyebabkan adanya jenis-jenis tertentu yang hanya dijumpai pada salah satu tegakan saja. Seperti jenis-jenis ketepeng cina (Cassia alata), memerakan (Cyperus rotundus), cempaka hutan (Gardenia tubifera), harendong (Melastoma malabathricum), ulan betina (Merremia umbellata), dan meniran (Phyllantus sp.). Jenis-jenis tersebut hanya ditemukan pada tegakan sengon buto, sedangkan jenis paku-pakuan (Microlepis speluncae) hanya ditemukan pada tegakan trembesi. Hal ini terjadi karena jenis tersebut diduga merupakan jenis yang memiliki batas toleransi yang sempit terhadap intensitas cahaya, oleh karena itu terdapat jenis-jenis yang hanya ditemukan pada salah satu tegakan saja (Fitter dan Hay 1994).

Jenis C.alata merupakan salah satu jenis yang ditemukan pada tegakan sengon buto, sedangkan pada tegakan trembesi tidak ditemukan. C.alata merupakan jenis tumbuhan bawah yang tumbuh pada tepi sungai, tepi hutan hujan, tepi kolam, hutan terbuka, di daerah pedesaan, bahkan di daerah perkotaan. Jenis ini pun dapat tumbuh pada dataran rendah hinga 500 mdpl, dan jenis ini pun sangan sering ditemukan pada lahan-lahan terbuka (Damayanti 1999). Selain jenis C.alata salah satu jenis tumbuhan bawah yang ditemukan hanya pada tegakan

(33)

sengon buto adalah jenis M.malabathricum. Jenis ini dapat tumbuh pada tanah masam dan biasanya tumbuh padahutan terbuka dan daerah savana (Damayanti 1999).

Faktor lain adalah sifat fisik dan kimia tanah tanah. Tanah merupakan suatu media tumbuh bagi tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan 2008). Sebagai media tumbuh tanah juga berperan penyediaan unsur hara yang diperlukan bagi tumbuhan, sehingga memengaruhi kesuburan dan jenis yang dapat tumbuh di atasnya. Banyaknya kesamaan jenis pada tegakan sengon buto dan trembesi dapat disebabkan jenis-jenis yang ditemukan pada kedua tegakan tersebut memiliki tingkat toleransi terhadap tanah pasca tambang.

Dilihat dari Tabel 6 berdasarkan hasil analisis tanah menunjukkan bahwa pH tanah pada lokasi tegakan trembesi sangat rendah (sangat masam). Hardjowigeno (2003) menyatakan bahwa pH tanah yang sangat masam maka akan menyebabkan sulitnya unsur hara diserap tanaman. Hal ini karena adanya unsur-unsur beracun dan mengganggu perkembangan mikroorganisme. Jenis tumbuhan bawah yang ditemukan pada tegakan trembesi merupakan jenis-jenis yang memiliki sifat toleransi terhadap tanah asam, diantaranya adalah jenis P.conjugatum, P.javanica, P.distichum, dan N.reynaudia.

Jenis dominan pada suatu komunitas adalah jenis yang dapat beradaptasi dan memanfaatkan lingkungan yang ditempatinya secara efisien daripada jenis-jenis lainnya. Untuk mengetahui jenis-jenis-jenis-jenis dominan digunakan parameter Indeks Nilai Penting (INP), dimana jenis yang memiliki INP paling tinggi merupakan jenis yang paling dominan dalam suatu komunitas.

Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa pada tegakan sengon buto, jenis yang paling dominan adalah P.conjugatum (90,51%) yang berasal dari suku rumput-rumputan (Poaceae). Berturut-turut jenis yang dominan pada tegakan sengon buto adalah S.torvum (19,49%), P.aduncum (11,36%), C.rotundus (9,55%), dan N.reynaudiana (7,30%). Sedangkan pada tegakan trembesi jenis yang paling dominan adalah P.conjugatum (87,71%), S.torvum (20,61%), M.micrantha (20,59%), C.rutidosperma (14,04%), dan P.javanicum (11,61%). Tingginya nilai INP suatu jenis dipengaruhi oleh faktor kerapatan jenis per satuan luas dan nilai frekuensi ditemukannya suatu jenis dalam plot pengamatan.

(34)

24

Dari lima jenis dominan pada masing-masing tegakan, terdapat dua jenis dominan yang selalu dijumpai pada kedua tegakan, yaitu P.conjugatum dan S.torvum. Kedua jenis ini pada tegakan sengon buto berturut-turut memiliki nilai INP sebesar 90,51% dan 19,49%, sedangkan pada tegakan trembesi berturut-turut sebesar 87,71% dan 20,61%.

(a) (b)

Gambar 4 Jenis tumbuhan bawah yang dominan di lokasi penelitian: (a) P.conjugatum (b) S. torvum

Dominannya kedua jenis ini pada kedua tegakan membuktikan bahwa jenis P.conjugatum dan S.torvum memiliki tingkat tolerasi tinggi terhadap faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh, terutama naungan dan tanah. Nilai INP P.conjugatum yang lebih besar terdapat pada tegakan sengon buto karena pada tegakan tersebut, bukaan tajuk lebih besar menyebabkan cahaya matahari lebih mudah sampai hingga lantai tegakan. Berbeda halnya pada tegakan trembesi, nilai INP jenis P.conjugatum yang lebih rendah disebabkan oleh bentuk tajuk trembesi yag lebar dan berbentuk menyerupai payung sehingga jenis tumbuhan bawah lebih sedikit ditemui dari pada tegakan sengon buto. Selain dari bentuk tajuk, bentuk anak daun pun dapat memengaruhi masuknya cahaya matahari. Bentuk dan ukuran anak daun sengon buto lebih kecil dibandingkan dengan bentuk dan ukuran anak daun trembesi, sehingga tajuk pada pohon sengon buto tidak tertutup dengan baik seperti halanya pada tajuk pada pohon trembesi.

Species P.conjugatum salah satu jenis rumput-rumputan yang termasuk dalam famili Poaceae. Jenis ini berasal dari daerah tropis Amerika, dan di Indonesia hampir tersebar merata pada semua daerah. Jenis P.conjugatum biasanya hidup pada daerah yang tidak terlalu kering, hutan sekunder, pinggir jalan, di bawah tegakan, dan di tempat lembab yang masih terkena sinar matahari. Jenis ini pula dapat tumbuh pada tanah yang kurang nutrisi, kering dan yang

(35)

memiliki keasaman diatas rata-rata. Itu pula yang menyebabkan mengapa jenis P.conjugatum dapat tumbuh subur dan mendominansi pada kedua tegakan, dengan karakter tanah tambang yang cenderung miskin hara dan kering jenis ini masih dapat tumbuh dengan subur (Soerianegara dan Indrawan 2008).

Tingginya nilai INP pada jenis P.conjugatum selain dari pada daya adaptasi lingkungan yang tinggi juga dapat disebabkan dengan adanya penggembalaan liar ternak sapi pada areal revegetasi dan penggunaan pupuk kompos pada kegiatan penanamn. Dikarenakan adanya penggembalaan liar ternak sapi memungkinkan biji jenis P.conjugatum tersebar melalui kotoran sapi, sehingga jenis tersebut ditemukan paling banyak pada lokasi penelitian.

Jenis S.torvum atau sering disebut terong-terongan atau terung pipit adalah tumbuhan dari famili Solanaceae. Tumbuhan ini diduga berasal dari Amerika tropis dan Hindia Barat. Tumbuhan ini sekarang sudah tersebar hamper diseluruh bagian tropis di dunia. Pertumbuhan S.torvum membutuhkan curah hujan minimal 1000 mm per tahun dan mampu hidup pada ketinggian 2000 m . Jenis ini mampu beradaptasi terhadap tanah yang memiliki tingkat basa rendah (Soerianegara 2008)

Jenis dominan menunjukkan bahwa jenis tersebut merupakan jenis yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan, dengan kata lain jenis ini lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat hidupnya. Di dalam masyarakat hutan, sebagai akibat adanya persaingan, jenis-jenis tertentu lebih berkuasa daripada jenis lainnya. Secara umum INP yang tinggi mempunyai daya adaptasi, daya kompetisi dan kemampuan reproduksi yang lebih baik dibandingkan dengan tumbuhan lain dalam suatu areal tertentu (Soerianegara dan Indrawan 2008)

Hasil analisis tanah baik sifat fisik maupun sifat kimianya, diketahui bahwa tegakan trembesi memiliki pH tanah sebesar 3,80. Hal itu menandakan bahwa tanah tersebut sangat masam. Pada tegakan sengon buto pH tanah adalah 6,70 yang tergolong dalam pH netral. Dilihat dari hasil analisis pH tanah, tidak mengherankan pada tegakan sengon buto ditemukan lebih banyak jenis tumbuhan bawah dibandingkan jenis tumbuhan bawah pada tegakan trembesi. Jenis P.conjugatum merupakan salah satu jenis rumput yang mampu bertahan pada kondisi yang asam, sehingga jenis tersebut dapat tumbuh baik pada kedua tegakan tersebut.

(36)

26

Selain pH tanah, tanah pada tegakan trembesi memiliki kandungan kejenuhan Al sebesar 11,33% sedangkan pada tegakan sengon buto tidak ditemukan kandungan kejenuhan Al. Kejenuhan Al yang tinggi (> 60%) dapat menyebabkan keracunanan pada tumbuhan yang nantinya akan menganggu pertumbuhan tanaman yang tumbuh di permukaannya (Setiadi 2012)

5.2.2 Analisis Keanekaragaman Tumbuhan Bawah

Berdasarkan Magurran (1988) nilai R1 < 3,5 menunjukkan kekayaan jenis yang tergolong rendah, R1 3,5–5,0 menunjukkan kekayaan jenis tergolong sedang, dan R1 > 5,0 menunjukkan kekayaan jenis tergolong tinggi. Berdasarkan hal tersebut maka kekayaan jenis tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto dan trembesi tergolong rendah dengan Indeks Kekayaan Jenis (R1) pada tegakan sengon buto (2,56) dan pada tegakan trembesi (1,96). Perbedaan nilai Kekayaan jenis pada tegakan sengon buto dan trembesi dipengaruhi oleh jumlah jenis yang ditemukan yaitu pada tegakan sengon buto (22 jenis) dan trembesi (17 jenis).

Indeks Kemerataan Jenis (E), nilai yang ditunjukkan pada kedua tegakan tidak jauh berbeda. Nilai kemerataan jenis pada tegakan sengon buto sebesar 0,72 dan pada tegakan trembesi sebesar 0,74. Besaran nilai E < 0,3 menunjukkan kemerataan jenis rendah. E = 0,3–0,6 menunjukkan kemerataan jenis tergolong sedang, dan E > 0,6 maka kemerataan jenis tergolong tinggi (Magurran 1988). Berdasarkan klasifikasinya kemerataan jenis pada tegakan sengon buto dan trembesi tergolong tinggi karena keduanya memiliki nilai E > 0,6.

Hasil perhitungan tingkat keanekaragaman jenis Shannon menunjukkan bahwa tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto memiliki tingkat keanekaragaman yang lebih besar yaitu dengan nilai 2,21 dibandingkan pada tegakan trembesi dengan nilai 2,09. Nilai indeks keanekaragaman jenis menurut Magurran (1988) dapat diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan, yaitu: Jika nilai H’ < 2 maka nilai H’ tergolong rendah, jika nilai H’ = 2-3 maka tergolong sedang dan jika nilai H’ > 3 maka tergolong tinggi. Berdasarkan pengklasifikasiannya tingkat keanekaragaman jenis pada tegakan sengo buto dan trembesi tergolong sedang. Nilai indeks keanekaragaman tersebut menunjukkan bahwa kelimpahan jenis tumbuhan bawah pada sengon buto lebih besar dibandingkan pada tegakan trembesi.

(37)

Keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas cenderung akan rendah apabila secara fisik terkendali oleh manusia (Odum 1993). Kedua tegakan yang diamati merupakan tanaman homogen hasil budidaya manusia. Dilihat dari nilai keanekaragaman jenis, kedua tegakan memiliki nilai yang tidak jauh berbeda. Hal tersebut dapat disebabkan secara fisik lingkungannya terganggu akibat kegiatan penambangan. Kondisi demikian yang menyebabkan jenis yang ditemukan pada kedua tegakan hanya sedikit.

Menurut Istomo dan Kusmana (1997), jika nilai IS lebih kecil dari 75% maka dua komunitas yang dibandingkan dianggap berbeda, dan jika nilai IS ≥ 75% maka kedua komunitas yang dibandingkan dianggap sama. Hasil perhitungan Indeks Kesamaan Jenis (IS) pada kedua komunitas sengon buto dan trembesi, nilai IS yang diperoleh adalah 82,05%. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas tumbuhan bawah pada kedua tegakan dianggap sama. Kesamaan pada komunitas ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang sama, seperti cuaca, suhu, tanah dan ketinggian pada kedua tegakan. Jenis-jenis yang ditemukan pada kedua tegakan tersebut dapat membantu perbaikan stuktur tanah sehingga dapat membantu regenerasi pertumbuhan berikutnya.

5.2.3 Indeks Dominansi (C)

Indeks dominansi adalah suatu ukuran untuk memeriksa tingkat penguasaan suatu jenis dalam komunitas. Interpretasi dari nilai indeks dominansi seperti yang dinyatakan oleh Kusmana dan Istomo (1997) sebagai berikut:

(a). jika nilai Indeks Dominansi mendekati 1 atau tinggi, maka dominansi terpusat pada satu atau beberapa jenis, (b) jika nilai Indeks Dominansi mendekati 0 atau rendah, maka dominansi jenis dipusatkan pada banyak jenis.

Berdasarkan hasil perhitungan indeks dominansi tumbuhan bawah pada kedua tegakan menunjukkan bahwa nilai Indeks Dominansi (C) pada tegakan sengon buto yaitu 0,23 dan pada tegakan trembesi 0,21. Pada tegakan sengon buto maupun trembesi tidak ada nilai Indeks dominansi yang sama dengan atau mendekati satu, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Indeks Dominansi vegetasi di lokasi penelitian tergolong rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa jenis tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto dan trembesi menyebar pada banyak jenis.

(38)

28

5.2.4 Potensi Jenis Tumbuhan Bawah

Tumbuhan bawah memiliki banyak manfaat bagi lingkungan. Tumbuhan bawah juga dapat membantu menjaga agregat tanah agar tidak mudah lepas dan tererosi oleh air hujan maupun aliran permukaan. Tumbuhan bawah juga berfungsi sebagai penutup tanah yang menjaga kelembaban sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat. Proses dekomposisi yang cepat dapat menyediakan unsur hara untuk tanaman pokok. Disinilah siklus hara dapat berlangsung sempurna, guguran daun yang jatuh sebagai serasah akan dikembalikan lagi ke pohon dalam bentuk unsur hara yang sudah diuraikan oleh bakteri (Irwanto 2011). Tumbuhan bawah juga merupakan tempat berlindung yang baik bagi mamalia dan ikut pula menentukan iklim mikro yang cocok bagi serangga. Komunitas tumbuhan bawah dapat dipakai untuk menggambarkan keadaan tanah, tingkat kesuburan tanah di lapangan dapat dicirikan oleh jenis tumbuhan yang tumbuh secara dominan (Sutomo dan Undaharta 2005)

Di dalam Peraturan Menteri Kehutanan No 60 Tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Evaluasi Keberhasilan Reklamasi Lahan Pasca Tambang, tumbuhan bawah merupakan salah satu parameter penilaian pada aspek pengendalian erosi dan sedimentasi dalam kegiatan evaluasi keberhasilan revegetasi lahan pasca tambang, dimana apabila lebih besar dari sama dengan 80% luasan areal revegetsi sudah tertutup oleh cover crop maka dapat dianggap berhasil (Dephut 2009). Tumbuhan bawah merupakan vegetasi awal yang menjadi indikator tempat tumbuh yang kondusif bagi proses suksesi hutan (Barnes et al 1997 dalam Puspaningsih 2011). Berdasarkan hasil penelitian Puspaningsih (2011), tumbuhan bawah dalam monitoring tingkat keberhasilan reforestasi yang mengacu pada terbentuknya kembali struktur dan fungsi hutan klimaks (rona awal) karena tumbuhan bawah merupakan proses awal suksesi yang dapat menggambarkan keberhasilan reforestasi. Suksesi sekunder yang terjadi pada daerah hutan hujan yang diusahakan, lalu ditinggalkan, pertumbuhannya akan dimulai dengan vegetasi rumput dan semak kecil seperti yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu P.conjugatum, P.distichum, N.reynaudiana, A.conyzoides,dan C.rotundus. Semak-semak seperti P.aduncum, P.betle, dan S.torvum, kemudian nantinya akan disusul dengan tumbuhnya jenis pohon pionir seperti Macaranga, Vitex, Dillenia, dan Ficus. Hutan sekunder muda akan tumbuh

(39)

apabila keadaan lingkungan memungkinkan, seperti keadaan tanah yang tidak tererosi, sesudah 15 – 20 tahun dan 50 tahun, kemudian akan menjadi hutan sekunder tua yang berangsur-angsur akan mencapai klimaksnya yaitu hutan dataran randah (Irwanto 2009 dalam Puspaningsih 2011)

Tumbuhan bawah selain berfungsi sebagai tanaman penutup tanah beberapa dari jenis yang ditemukan pada penelitian ini dapat berpotensi sebagai pakan ternak, seperti jenis rumput P.conjugatum, dan A.conyzoides, Jenis ini memiliki kandungan protein berkisar antara 6-8% yang dibutuhkan oleh ternak tersebut (Utami 2009)

Jenis-jenis tumbuhan bawah lainnya yang berpotensi yang ditemukan di lokasi penelitian antara lain Pacing (Costus speciosus). Rimpangnya untuk peluruh dahak, pencegah kehamilan, obat raja singa dan kencing bernanah. Batangnya sebagai obat demam, cacar, dan untuk penyubur rambut. Rumput teki (Cyperus rotundus) dapat mengatasi gangguan sakit dada, sakit gigi, gangguan fungsi pencernaan, haid tidak teratur, sakit waktu haid, keputihan, dan menyuburkan kandungan. Pakis pedang (Nephrolepis bisserata) daunnya dapat dijadikan sayur (Dahlan 2011).

Selain bermanfaat beberapa jenis tumbuhan bawah dapat berperan sebagai gulma. Gulma adalah tumbuhan yang dapat menganggu dan menyaingi pada tanaman perkebunan dan tanaman pokok pada kegiatan revegetasi. Jenis tersebut diantaranya yang telah diketahui yaitu M.micranta. Jenis ini sangat merugikan bagi tanaman perkebunan, maupun bibit pohon yang baru ditanam pada kegiatan revegetasi, karena jenis tersebut mencari cahaya matahari dengan cara merambat dan menutupi tanaman lainnya, sehingga tanaman yang terlilit lama kelamaan akan kekurangan cahaya matahari dan oksigen sehingga lambat laun akan mati (SEAMEO BIOTROP 2012).

Selain bermanfaat sebagai tanaman obat, pakan ternak dan gulma beberapa jenis tumbuhan bawah yang ditemukan di lokasi penelitian merupakan tanaman jenis invasif. Jenis invasif yang ditemukan pada lokasi penelitaian diantaranya adalah jenis M.micranta, P.javanica, dan M.umbellata Invasive species adalah spesies yang bukan jenis asli tempat tersebut (hewan ataupun tumbuhan), yang secara luas memengaruhi habitat yang mereka invasi. Makna lain dari spesies invasif adalah Non Indigenous species atau spesies asing yang

(40)

30

menyebabkan habitat diinvasi dan dapat merugikan baik dari segi ekonomi maupun ekologis, Native and Non Native species yaitu spesies yang mengkoloni secara berat habitat tertentu, dan Widespread Non Indigenous Species yaitu adalah spesies yang mengekspansi suatu habitat (Kusmana 2010). Umumnya invasi terjadi karena suatu kompetisi. Setiap spesies selalu berkompetisi dengan spesies lain untuk mendapatkan sumber daya sebanyak-banyaknya sehingga salah satu caranya adalah dengan tumbuh dan berkembang biak secepat mungkin. Hal ini cukup mengeliminasi spesies asli dari kompetisi memperebutkan sumber daya. Selain dengan tumbuh dan berkembang dengan cepat, mereka juga melakukan interaksi yang kompleks dengan spesies asli.

(41)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Total jenis tumbuhan bawah yang ditemukan pada tegakan sengon buto dan trembesi adalah 24 jenis dari 20 famili yang tersebar pada tegakan sengon buto sebanyak 22 jenis dari19 famili, dan pada tegakan trembesi sebanyak 17 jenis dari 13 famili.

2. Tingkat keanekaragaman tumbuhan bawah pada tegakan sengon buto dan trembesi tergolong sedang, dimana nilai keanekaragaman pada tegakan sengon buto (2,21) lebih tinggi dibandingkan tegakan trembesi (2,09). 3. Jenis yang mendominasi tegakan sengon buto dan trembesi adalah jenis

P.conjugatum dengan INP (90,51 % dan 82,71%) dan jenis S.torvum dengan INP (19,49% dan 20,61%).

4. Tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan bawah dipengaruhi oleh faktor naungan dan kemasaman tanah.

6.2 Saran

1. Perlu adanya penelitian lanjutan terhadap pengaruh lingkungan lainnya selain penutupan tajuk dan tanah.

2. Jenis P.conjugatum dan S.torvum berpotensi untuk digunakan dalam pemilihan jenis tanaman penutup di tanah masam dan naungan yang tertutup, akan tetapi perlu adanya kajian lanjutan dalam teknis pembudidayaannya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :