ANALISIS BIAYA, KUANTITAS DAN LABA (COST VOLUME PROFIT
ANALYSIS – CVP ANALYSIS) – LANJUTAN*
PEMAHAMAN CVP ANALYSIS
CVP Analysis yaitu suatu analisa yang menggambarkan hubungan antara variabel biaya, volume (produksi atau penjualan) dan laba atau rugi serta seberapa besar perubahan variabel biaya, volume dan harga jual yang berdampak terhadap laba perusahaan. Oleh karena itu, analisa CVP merupakan suatu alat yang berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan. CVP analysis menjadi bagian dalam strategi biaya perusahaan yang sangat penting diperhatikan pada saat perusahaan merancang bisnis maupun saat menjalankan operasional.
Pembahasan terkait dengan CVP mencakup :
a. Menentukan titik impas (break even point – BEP)
b. Memprediksi target penjualan dengan laba yang diharapkan (targeted sales
based on desired profit)
c. Menentukan tingkat aman (margin of safety – MOS)
d. Sensitifitas volume penjualan, biaya dan harga yang berdampak pada laba (operating leverage)
Selain itu pembahasan topik CVP analisis pun dapat dikembangkan melalui pembahasan atas: Shut Down Point (SDP); Price Indifferent Point (PIP) serta Cost Indiferrent
Point (CIP). Pembahasan CVP dengan membaca grafik juga merupakan hal penting yang
perlu dikuasai sebagai akuntan manajemen. Pengembangan topik tersebut akan menjadi pokok bahasan pada bab ini. Untuk membahami bab ini sebaiknya telah menguasai pembahasan CVP sebelumnya.
Mengingat kembali bahwa, laba perusahaan secara finansial dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a) Harga jual per satuan (price per unit) b) Volume penjualan
c) Biaya variabel per unit (Variable Cost/ unit)
d) Total biaya tetap (Fixed Cost)
e) Bauran produk (product mix – digunakan pada perhitungan atas multi produk)
Oleh karena itu peran akuntan manajemen perlu untuk mengetahui secara detail informasi di atas dan sebisa mungkin harus dapat mengendalikan faktor di atas dengan strategi yang tepat. Mengendalikan artinya, harus mampu melihat histori sebelumnya dan membuat prediksi ke depan.
Ada beberapa asumsi dasar di dalam analisa CVP (CVP assumptions), yaitu:
Biaya diklasifikasikan berdasarkan perilaku biaya yaitu menjadi fixed cost dan variable cost
Fixed cost secara total adalah tetap sampai titik kegiatan atau kapasitas
tertentu
Variable cost akan berubah secara proporsional dengan perubahan volume
atau tingkat kegiatan (penjualan atau produksi) Harga jual per unit adalah tetap
Perusahaan hanya menjual atau memproduksi 1 jenis produk saja, dan jika terdapat lebih dari 1 jenis produk maka bauran penjualan (sales mix) adalah tetap
Kapasitas yang dimiliki perusahaan tidak berubah
Tingkat efisiensi dan produktivitas perusahaan tidak berubah Manfaat dari penggunaan analisa CVP:
Membantu perusahaan untuk perencanaan laba
Menentukan tingkat penjualan minimum yang harus dicapai untuk memperoleh target laba tertentu
Mengetahui keadaan perusahaan secara finansial jangka pendek
Mengetahui dampak perubahan penjualan, biaya dan harga jual terhadap perusahaan
Menentukan harga jual untuk memperoleh laba tertentu
Menganalisa produk mana yang menguntungkan dalam arti produk mana yang perlu ditingkatkan dan mana yang perlu dihapuskan (product lines)
Membantu menetapkan kombinasi produk yang dihasilkan karena adanya keterbatasan produk untuk memperoleh laba tertentu
Membantu dalam pengambilan keputusan untuk melakukan perluasan usaha (marketing strategy)
Membantu dalam pengambilan keputusan untuk melanjutkan usaha atau menutup berdasarkan pertimbangan laba
FORMULA CVP ANALYSIS
Tabel 1 Formula CVP Analysis BEP (unit) 𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑃𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡 BEP (Rp) 𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜BEP (unit) X Price
Projected Sales (Unit) 𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝐷𝑒𝑠𝑖𝑟𝑒𝑑 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡
𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑃𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡
Target Sales (Rp) 𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝐷𝑒𝑠𝑖𝑟𝑒𝑑 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡
𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 ∗
Target Sales (unit) X Price
𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝐶𝑀𝑅 − %𝐸𝐵𝑇
*Contribution Margin Ratio (CMR) 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑃𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡
𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛
Margin Of Safety (MOS) 𝑃𝑟𝑜𝑗𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 (𝐴𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙)𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 − 𝐵𝐸𝑃
𝑃𝑟𝑜𝑗𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 (𝐴𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙)𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠
Titik Impas (Break Even Point-BEP) adalah tingkat penjualan atau produksi dimana perusahaan tidak memperoleh keuntungan atau kerugian. Atau dengan kata lain, laba atau rugi perusahaan sama dengan 0. BEP tercapai saat fixed cost sama dengan besarnya contribution margin.
Fungsi dari contribution margin:
a. Menutup fixed cost untuk mencapai BEP dan b. Menghasilkan laba setelah fixed cost tertutup
Target penjualan (projected sales) adalah besarnya penjualan yang harus dicapai baik secara kuantitas ataupun dalam satuan mata uang agar target laba dapat tercapai (desired profit).
Margin Aman (Margin of safety-MOS) menunjukan seberapa jauh tingkat penjualan aktual boleh menyimpang dari tingkat penjualan BEP agar perusahaan tidak menderita kerugian.
PENGGUNAAN CVP UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bagaimana CVP analysis ini berguna untuk menghitung berapa unit yang harus dijual untuk mencapai titik impas (BEP) atau mencapai laba yang diinginkan. Para manager juga dapat menggunakan analisa CVP ini untuk membantu untuk mengambil keputusan yaitu keputusan-keputusan yang strategis misalkan keputusan untuk menambah fitur atas produk yang sudah ada, dimana setiap pilihan keputusan tersebut akan berpengaruh terhadap harga jual, variable cost per unit, fixed costs, unit yang terjual serta operating income. CVP analysis dapat membantu para manager untuk membuat keputusan memproduksi produk dengan memperkirakan berapa laba yang akan dicapai dari alternatif keputusan.
Contoh 1:
Pada saat ini perusahaan menjual 40 unit produk deterjen dengan harga per unit Rp.20.000, biaya variabel per unit Rp.12.000 dan dengan total biaya tetap Rp.200.000. Saat ini perusahaan sedang mempertimbangkan untuk menambah biaya iklan sebesar Rp.50.000 dengan prediksi penjualan dapat meningkat 10% dari penjualan sebelumnya menjadi 44 unit. Keputusan apakah yang harus diambil oleh perusahaan?
Tabel 2 Analisis Keputusan Penjualan 40 unit (Rp) Penjualan 44 unit (Rp) Selisih Penjualan (40XRp.20.000; 44XRp.20.000) 800.000 880.000 80.000 Biaya variabel (40XRp.12.000; 44XRp.12.000) -480.000 -528.000 -48.000 Margin kontribusi 320.000 352.000 32.000 Biaya tetap -200.000 -250.000 -50.000 Laba operasional 120.000 102.000 -18.000
Dengan adanya penambahan biaya iklan yang menaikan penjualan sebesar 10% tidak dapat diambil karena akan menurunkan laba operasional.
ANALISIS SENSITIFITAS DAN KETIDAKPASTIAN
Yang dimaksud dengan analisa sensitivitas adalah suatu teknik “bagaimana jika (what if)” yang digunakan manajer untuk menguji bagaimana akibatnya jika prediksi data awal tidak tercapai atau jika asumsi yang mendasarinya berubah. Pada konteks CVP
operasi jika unit terjual 10% lebih rendah dibandingkan prediksi awal atau berapa laba operasi jika biaya variabel per unit meningkat sebesar 5%, dan contoh lainnya (perhatikan pada pembahasan CVP yang sebelumnya).
OPERATING LEVERAGE
Operating Leverage adalah kemampuan perusahaan menggunakan biaya operasi tetap untuk
memperbesar pengaruh volume penjualan terhadap laba sebelum bunga dan pajak (Earning
Before Interest and Tax -EBIT). Atau pengertian lain operating leverage adalah untuk
mengukur seberapa jauh perubahan tertentu dari volume penjualan yang berpengaruh pada EBIT.Besar kecilnya operating leverage dapat diukur dengan degree of operating
leverage (DOL).
Degree of Operating Leverage = Contribution margin Operating Income
Atau DOL = %▲EBIT %▲Sales
Contoh 2:
Tabel 3
Opsi Dalam Operating Leverage Opsi 1 (dalam ribuan rupiah) Opsi 2 (dalam ribuan rupiah) Opsi 3 (dalam ribuan rupiah) CM per unit 80 50 30 Total CM (40 unit) 3.200 2.000 1.200 -/- FC 2.000 800 0 Operating Income 1.200 1.200 1.200 DOL 2,67 1,67 1,00
Pada opsi 1, perubahan % penjualan dan contribution margin akan menghasilkan DOL sebesar 2,67 kali dari operating income, pada opsi 2 sebesar 1,67 kali dan pada opsi 3 hanya sebesar 1 kali.
Apabila sales naik 50% atau dari 40 unit menjadi 60 unit, maka pada opsi 1 operating
income akan naik sebesar 2,67 X 50% = 133% dari laba sebelumnya yang sebesar
Rp.1.200.000 menjadi Rp.2.800.000. pada opsi 2, operating income akan naik sebesar 1,67 X 50% = 83% dari laba sebelumnya yaitu yang sebesar Rp.1.200.000 menjadi Rp.2.200.000 sedangkan pada opsi 3, operating income akan naik sebesar 1 X 50% = 50% dari laba sebelumnya yaitu dari Rp.1.200.000 menjadi Rp.1.800.000.
EFEK DARI BAURAN PENJUALAN TERHADAP LABA OPERASIONAL
Bauran penjualan (sales mix) merupakan kombinasi penjualan dari berbagai produk perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan yang optimal. Laba perusahaan akan lebih besar jika produk-produk yang ‘high-margin’ merupakan bagian yang terbesar dari total penjualan tersebut.
SALES MIX & BREAK EVEN POINT ANALYSIS
Perhitungan BEP akan lebih kompleks jika perusahaan menjual beberapa produk. Hal ini dikarenakan setiap produk mempunyai harga jual yang berbeda, biaya yang berbeda dan CM yang berbeda pula. Dalam menghitung BEP, kondisi dimana perusahaan menjual beberapa produk maka diasumsikan bahwa sales mix produk tersebut adalah tetap. Oleh karena itu, jika manajemen perusahaan memperkirakan akan adanya perubahan sales mix perlu dipertimbangkan juga dalam perhitungan BEP.
Sales mix dapat dinyatakan dalam bentuk: Sales mix dalam unit penjualan
Contoh 3:
PT RAYA memproduksi dan menjual 3 jenis produk dengan data penjualan selama tahun 2018 sebagai berikut :
Produk Unit penjualan Harga Jual/unit VC/unit A 21.000 unit Rp. 40.000 Rp.24.000 B 31.500 unit 50.000 32.500 C 17.500 unit 35.000 24.500
Total fixed cost selama tahun 2018 adalah sebesar Rp.696.150.000, dimana Rp.431.200.000 merupakan fixed Selling General and Administrative (SGA). Diketahui 45% dari total fixed cost merupakan sunk cost.
Hitunglah BEP (rupiah dan unit) untuk masing-masing produk apabila sales mix dinyatakan dalam unit dan dalam % volume penjualan!
Sales mix dalam unit penjualan Penyelesaian:
1. Menghitung average contribution margin yaitu unit penjualan dikalikan dengan CM masing-masing unit.
2. Menghitung BEP secara total total = Total Fixed Cost
Average CM
3. Menghitung BEP masing - masing yaitu = BEP total X sales mix masing - masing.
Bauran (mix) dalam unit penjualan
Produk Unit penjualan/mix CM/unit Average CM
A 21.000 unit Rp. 16.000 336.000.000 B 31.500 unit 17.500 551.250.000 C 17.500 unit 10.500 183.750.000 70.000 unit 1.071.000.000
BEP secara total = 696.150.000 (unit) 1.071.000.000
BEP secara total = 0.65 unit
BEP unit masing-masing:
A = 0,65 unit X 21.000 = 13.650 unit B = 0,65 unit X 31.500 = 20.475 unit C = 0,65 unit X 17.500 = 11.375 unit Total 45.500 unit Bukti perhitungan: Contribution margin: A = 13.650 unit X Rp. 16.000 = 218.400.000 B = 20.475 unit X Rp. 17.500 = 358.312.500 C = 11.375 unit X Rp. 10.500 = 119.437.500 Total CM = 696.150.000 -/- FC = 696.150.000 BEP 0
Sales mix dalam % volume penjualan Penyelesaian:
1. Menghitung average contribution margin yaitu sales mix dikalikan dengan CM masing-masing unit.
2. Menghitung BEP secara total total = Total Fixed Cost
Average CM
Bauran (mix) dalam % penjualan
Produk Unit penjualan Mix % CM/unit Average CM/u A 21.000 unit 30% Rp. 16.000 Rp.4.800 B 31.500 unit 45% 17.500 7.875 C 17.500 unit 25% 10.500 2.625 70.000 unit 100% 15.300
BEP secara total = 696.150.000 (unit) 15.300
BEP secara total = 45.500 unit
BEP unit masing-masing:
A = 45.500 unit X 30% = 13.650 unit B = 45.500 unit X 45% = 20.475 unit C = 45.500 unit X 25% = 11.375 unit Total 45.500 unit Bukti perhitungan: Contribution margin : A = 13.650 unit X Rp. 16.000 = 218.400.000 B = 20.475 unit X Rp. 17.500 = 358.312.500 C = 11.375 unit X Rp. 10.500 = 119.437.500 Total CM = 696.150.000 -/- FC = 696.150.000 BEP 0 PROJECTED SALES
Perhatikan contoh 3 untuk mengembangkan pertanyaan di contoh 4. Contoh 4:
Berapa unit yang harus dijual oleh perusahaan untuk mencapai laba bersih setelah pajak (Earning After Tax- EAT) sebesar Rp. 142.290.000. Asumsi tax rate sebesar 40%.
Earning Before Tax (EBT) = (1−𝑡𝑎𝑥 𝑟𝑎𝑡𝑒)𝐸𝐴𝑇
EBT = 142.290.000(1−40% =Rp.237.150.000
Projected sales (total) = 𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡+𝐸𝐵𝑇𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑀𝑈
Projected sales (total) = 696.150.000+237.150.00015.300
Projected sales (total) = 61.000 unit
Projected Sales masing-masing unit adalah :
A = 61.000 unit X 30% = 18.300 unit B = 61.000 unit X 45% = 27.450 unit C = 61.000 unit X 25% = 15.250 unit Total = 61.000 unit
BEBERAPA COST DRIVER PADA CVP ANALYSIS
Seperti yang telah dibahas di atas dimana diasumsikan jumlah dari unit output adalah hanya menggunakan 1 revenue driver dan 1 cost driver. Dengan CVP, kita dapat menganalisa dengan menggunakan multiple cost driver.
Contoh 5:
Perusahaan menjual software seharga $200/paket, dan selama periode telah menjual 40 paket kepada 15 pelanggan. Harga pokok per paket software adalah sebesar $120, dan perusahaan juga mengeluarkan biaya persiapan dokumen (termasuk invoice) sebesar $10 per pelanggan. Fixed cost sebesar $ 2.000.
Dengan demikian operating income dapat dihitung sebagai berikut:
Sales (40 paket X $200) $8.000 -/- variable cost of sales (40 package X $120) $4.800 -/- cost of preparing doc (15 customer X $10) $150
Contribution margin $3.050
-/- Fixed cost $2.000 Operating income $1.050
Apabila menjual 40 package kepada 40 pelanggan, maka:
Sales (40 package X $200) $8.000 -/- variable cost of sales (40 package X $120) $4.800 -/- cost of preparing doc (40 customer X $10) $400 Contribution margin $2.800 -/- Fixed cost $2.000
Operating income $ 800
CVP ANALYSIS PADA SEKTOR JASA DAN ORGANISASI NIRLABA
Analisa CVP biasanya difokuskan pada perusahaan dagang saja, namun analisa CVP ini dapat juga digunakan untuk perusahaan industri, perusahaan jasa dan organisasi nirlaba (nonprofit). Untuk perusahaan jasa dan organisasi nirlaba, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana untuk menentukan output. Di bawah ini contoh daripada output untuk perusahaan jasa dan organisasi nirlaba
Contoh industry usaha Output
Airlines passenger miles
Hotel/motels room nights occupied
Hospitals patient days
Universities student credit hours
Contoh 6:
Suatu organisasi nirlaba (panti werda) memperkirakan akan mendapatkan sumbangan dari semua pihak sebesar Rp.900.000.000 per tahun. Biaya operasional bersifat variabel yang dibutuhkan untuk masing-masing 1 penghuni adalah sebesar Rp.5.000.000 per tahun. Organisasi ini membutuhkan juga biaya tetap seperti biaya sewa, administrasi, utilitas, administrasi dan sebagainya sebesar Rp.270.000.000 per tahun. Hitunglah berapa penghuni yang dapat ditampung oleh panti werda tersebut sehingga total sumbangan tersebut dapat menutupi semua biaya usahanya (break even
point)!
Penyelesaian :
Revenue = Rp.900.000.000 VC/unit = Rp. 5.000.000
FC = Rp.270.000.000
Projected sales (unit) X CM/unit = Fixed cost + desired profit PS (unit) X CM/unit = Rp.270.000.000 + 0
Contribution margin = Rp.270.000.000
Revenue – VC/unit X PS (unit) = Rp.270.000.000 PS (unit)= 𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒−270.000.000𝑉𝐶/𝑢𝑛𝑖𝑡
PS (unit)= 900.000.000−270.000.0005.000.000 = 126 orang
SUNK COST, SHUT DOWN POINT (SDP) dan Price Indifference Point (PIP)
Sunk cost umumnya adalah biaya yang bersifat non cash expenses karena merupakan
pengalokasikan/ pembebanan biaya atas investasi di awal contoh: biaya depresiasi.
Shut down point adalah penjualan minimum yang harus dicapai agar perusahaan dapat
membayar biaya yang bersifat tunai (cash expenses). Apabila nilai yang dicapai perusahaan berada di bawah SDP, maka perusahaan akan mengalami masalah keuangan (arus kas). Perusahaan yang melakukan penjualan barang atau jasa di bawah BEP mungkin saja masih dapat bertahan lebih lama. Meskipun mengalami kerugian namun belum tentu mengalami kesulitan keuangan. Namun perusahaan yang menjual di bawah SDP otomatis akan mengalami masalah keuangan secara jangka pendek.
Price Indifference adalah titik dimana perusahaan akan mendapatkan laba yang sama
meskipun terjadi perubahan harga.
Contoh 7:
BIOSKOP KEMBAR menginformasikan bahwa harga jual per lembar tiket untuk film ZOMBIE adalah Rp.50.000. Dalam setiap kali pemutaran film terdapat biaya royalti yang harus dibayarkan Rp.2.500/ tiket. Biaya cetak tiket dihitung per lembar Rp.300 sudah termasuk biaya pelayanan per lembar tiket Rp.200. Biaya tetap mencakup depresiasi, layanan kebersihan dan alokasi utilitas bersama Rp. 188.800.000 per bulan. Dalam 1 teater dapat menampung 100 penonton dan dalam 1 hari film tersebut diputar 3 kali yaitu pukul 12.00; 15.00 dan 18.00. tingkat keterisian setiap harinya secara rata – rata 60%. Tingkat tarif pajak penghasilan (income tax rate) 25%. Jumlah hari dalam 1 bulan adalah 30 hari.
a. Tentukan jumlah minimal pengunjung secara total dalam 1 bulan untuk film tersebut agar bioskop tidak menderita kerugian atau mendapatkan keuntungan! b. Apakah bioskop tersebut memperoleh laba atau menderita rugi pada bulan
tersebut berdasarkan informasi di atas? c. Tentukan MOS!
d. Jika bioskop berharap adanya laba sebesar Rp.106.200.000 setelah pajak untuk film tersebut dalam pemutarannya 1 bulan, maka berapa tiket harus terjual? Apakah hal ini dapat tercapai? Jelaskan!
e. Jika terdapat peningkatan penjualan sebesar 20% maka tentukan peningkatan laba setelah pajak! (gunakan konsep operating leverage)
f. Jika besarnya sunk cost 40% dari fixed cost tentukan besarnya shut down point
(SDP)!
g. Jika perusahaan menurunkan harga sebesar Rp.5.000 untuk meningkatkan penjualan aktual menjadi 6.000 tiket. Apakah kebijakan ini dapat diambil?
Diketahui: Harga jual(price) Rp.50.000 Variable cost: Ticket Rp. 300 Royalty Rp.2.500 Rp. 2.800 Fixed cost: Rp. 188.800.000 Tax rate 25%
a. BEP = 𝐶𝑀 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 188.800.00047.200 = 4.000 tiket
b. Analisis laba atau rugi
Projected sales (unit) = 𝐹𝐶+𝑑𝑒𝑠𝑖𝑟𝑒𝑑 𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡𝐶𝑀/ 𝑢𝑛𝑖𝑡
5.400 tiket* = 188.800.000 + 𝑑𝑒𝑠𝑖𝑟𝑒𝑑 𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡(50.000−2.800)
Desired profit(loss) = 66.080.000 (operating income – Earning before tax) Earning After Tax (EAT) = 66.080.000 X (1-25%) = 49.560.000
Dari informasi di atas, maka bioskop masih mendapat keuntungan setelah pajak Rp.49.560.000
*) 3 kali pemutaran X 100 kursi X 60% x 30 hari = 5.400 tiket
c. MOS = 𝐴𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑠𝑎𝑙𝑒𝑠 (𝑢𝑛𝑖𝑡)−𝐵𝐸𝑃 (𝑢𝑛𝑖𝑡)𝐴𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑠𝑎𝑙𝑒𝑠 (𝑢𝑛𝑖𝑡) = 5.400−4.0005.400 = 26%
Artinya selisih penjualan dengan BEP telah mencapai 26% dari penjualan.
d. EAT = Rp.106.200.000 maka: EBT = 106.200.0000.75 = Rp.141.600.000
Projected sales (unit)= 𝐹𝐶+𝑑𝑒𝑠𝑖𝑟𝑒𝑑 𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡𝐶𝑀 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 =188.800.000+141.600.00047.200 = 7.000 tiket
Jika untuk mencapai laba tersebut diperlukan penjualan 7.000 tiket, maka potensi tercapai masih memungkinkan karena jumlah tiket maksimal yang dapat dijual adalah 9.000 tiket (30 hari x 3 penayangan x 100 penonton); namun melihat data bahwa keterisian secara rata – rata 60%, maka perlu strategi untuk memaksimalkan penjualan
e. Operating leverage = 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒𝐶𝑀 =𝑅𝑝.47.200 𝑋 5.400 𝑡𝑖𝑘𝑒𝑡𝑅𝑝.66.080.000 = 3.86 DOL = % 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑙𝑒𝑠% 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝐸𝐵𝑇
%kenaikan EBT (operating income) = DOL x % kenaikan sales = 3.86 X 20% = 77.2% Besarnya EBT = Rp.66.080.000 X 1.772 = Rp.117.093.760 Pembuktian: Sales (5.400 X 1.2 X 50.000) = 324.000.000 VC (5.400 X 1.2 X 2.800) = (18.144.000) CM = 305.856.000 FC = (188.800.000) Operating income = 117.056.000
f. Jika besarnya sunk cost 40% dari fixed cost, maka shut down point: SDP = 𝐹𝐶 𝑋 (1−𝑠𝑢𝑛𝑘 𝑐𝑜𝑠𝑡)𝐶𝑀 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 = 188.800.000 𝑋 0.647.200 = 2.400 tiket
Artinya apabila penjualan mencapai kurang dari 2.400 tiket bioskop akan mengalami kerugian karena tidak dapat menutupi biaya tetap yang bersifat tunai (cash expenses)
Sunk cost umumnya adalah biaya yang bersifat non cash expenses karena
merupakan pengalokasikan/ pembebanan biaya atas investasi di awal contoh: biaya depresiasi.
Shut down point adalah penjualan minimum yang harus dicapai agar perusahaan
dapat membayar biaya yang bersifat tunai (cash expenses). Apabila nilai yang dicapai perusahaan berada di bawah SDP, maka perusahaan akan mengalami masalah keuangan (arus kas).
Tiket yang terjual hanya 6.000 tiket, lebih kecil dari PIP, maka kebijakan ditolak/ tidak layak diambil karena akan menurunkan laba Rp.1.645.800 {(6.039 – 6.000)XRp.42.200} Pembuktian : Sales (6.000 45.000) = 270.000.000 VC (6.000 X 2.800) = (16.800.000) CM = 253.200.000 FC = (188.800.000) Operating income = 64.400.000
Selisih penurunan Rp.1.680.000 (dalam perhitungan di atas 1.645.800 karena pembulatan)
SOAL 1 (SALES MIX)
Biro perjalanan wisata “Dunia Lestari” menjual paket tour adventure yaitu 3 days – 6 days dan 12 days. Di bawah ini adalah informasi harga jual dan
variable cost untuk masing – masing produk:
3 days 6 days 12 days
Price/ trip 75.000 140.000 250.000
Variable cost/trip:
Food 15.000 30.000 60.000
Supplies 9.000 18.000 36.000
Packaging orientation 36.000 42.000 49.000
Fixed cost dalam satu tahun:
Depreciation atas canoe, sleeping bags, tenda dan peralatan lain Rp.13.000.000
Depresiasi atas peralatan kantor Rp.9.000.000 Biaya tetap lainnya Rp.7.000.000
Biaya penjualan dan pemasaran Rp.31.000.000
Biro perjalanan Dunia Lestari mempunyai data penjualan selama 5 tahun terakhir dan diperoleh informasi bahwa 45% merupakan penjualan atas paket 3 days; 30% penjualan atas 6 days dan sisanya untuk penjualan 12 days. Tahun lalu penjualan mencapai 1.500 trips dimana penjualan kotor mencapai Rp.207.375.000 dan mendapatkan laba bersih setelah pajak Rp.12.000.000. Pimpinan perusahaan tidak puas atas hasil pencapaian tahun lalu. Maka manajemen menetapkan target baru yaitu 20% penjualan atas paket 3 days; 40% untuk 6 days dan 40% untuk 12 days. Selain itu harga jual paket disesuaikan masing masing menjadi Rp.75.000; Rp.120.000 dan Rp.225.000. Alterntif lain perusahaan tidak menurunkan harga jual, namun membuat brosur dan membayar jasa sosial media sebesar Rp.15.000.000 per tahun.
Petunjuk soal:
a. Hitunglah CM per produk dengan harga yang baru
b. Hitunglah BEP untuk masing – masing produk apabila yang diambil adalah kebijakan harga yang diturunkan
c. Hitung BEP apabila tidak mengambil langkah penurunan harga, namun menggunakan alternatif lain
d. Alternatif mana yang baik digunakan perusahaan?
SOAL 2 (SALES MIX)
Teater JAKARTA RAYA menyelenggarakan pentas drama selama 3 bulan dari Januari sampai dengan Maret 2020. Data penyelenggaraan tersebut sebagai berikut:
Pertunjukan Banyak pertunjukan VC/pertunjukan (Rp) Alokasi FC/bulan (Rp) Drama P 6 kali 12.400.000 48.200.000 Drama Q 14 kali 42.010.000 96.550.000 Drama R 8 kali 15.300.000 63.400.000 Drama S 12 kali 24.300.000 74.450.000
Kapasitas tempat duduk setiap pertunjukan adalah 1.600 kursi dengan komposisi kelas VIP 200 kursi, kelas 1 540 kursi dan kelas festival 860 kursi. Berdasarkan survey dan proyeksi, khusus pertunjukan drama Q semua tempat duduk terisi penuh. Sedangkan untuk pertunjukan lain, tiket VIP akan terjual maksimal 90%, kelas 1 maksimal 75 % dan kelas festival maksimal 80%.
Harga tiket kelas VIP Rp.75.000; kelas 1 Rp.50.000 dan kelas festival Rp.30.000. Disamping itu dikeluarkan biaya tetap bersama (common fixed cost) selama 3 bulan Rp.181.640.000. Komposisi sales mix perusahaan berdasarkan banyaknya pertunjukan.
Petunjuk Soal:
a. Apabila pihak penyelenggara akan tetap mengadakan 40 kali pertunjukan sesuai rencana, berapa dana minimal yang harus diperoleh dari pihak sponsor agar penyelenggara tidak mengalami kerugian
b. Hitung jumlah pertunjukan minimal secara keseluruhan dan masing – masing jenis pertunjukan agar panitia tidak mengalami kerugian
c. Berapa kali jumlah pertunjukan yang harus diselenggarakan agar panitia dapat memperoleh laba sebelum pajak Rp.96.510.000?
SOAL 3 (SALES MIX)
PT KRAKATAU menghasilkan 2 jenis produk yaitu HIKARU dan HIKADA. Informasi yang relevan tentang penjualan kedua produk selama bulan September 2019 adalah sebagai berikut:
HIKARU HIKADA
Unit penjualan 4.000 unit 2.500 unit
Penjualan (Rp.) 48.000.000 45.000.000
Variable cost (Rp.) 38.000.000 15.000.000
Fixed cost (Rp.) 6.000.000 14.000.000
EBT 4.000.000 16.000.000
EAT 2.400.000 9.600.000
Komposisi penjualan (sales mix) didasarkan atas unit penjualan Petunjuk Soal:
Apabila semua variabel terkecuali sales mix diharapkan akan tetap sama selama bulan Oktober 2019, berapa sales mix seharusnya untuk mencapai laba setelah pajak Rp.14.952.000?
SOAL 4 (COMPREHENSIVE PROBLEM)
PT Harta Karun memproduksi dan menjual produk pengharum ruangan Higine dengan harga per unit Rp.90.000. Biaya produksi variabel per unit adalah prime cost Rp.33.700. Selama tahun 2020, perusahaan menyusun proyeksi penjualan dimana tingkat penjualan tersebut perusahaan akan memperoleh laba setelah pajak sebesar 8% dari penjualan atau sebesar Rp.72.000.000. Margin of Safety ratio yang diperoleh pada tingkat proyeksi ini adalah 20%. Perusahaan membayar komisi penjualan sebesar 5% dari harga jual, dan variable SGA lainnya adalah Rp.4.000 per unit. Fixed SGA setahun adalah Rp.129.600.000 atau 45% dari
total fixed cost. Dari total fixed cost, 80% merupakan out of pocket cost. Tax rate 40% dan dividend rate 35%.
Petunjuk Soal:
a. Hitunglah tarif variable MO per unit
b. Hitung tingkat harga yang diproyeksikan selama tahun 2020
c. Hitung pada tingkat penjualan berapa perusahaan akan mencapai BEP
d. Apabila penjualan sebenarnya lebih tinggi 15% dari yang diproyeksikan, bagaimana pengaruhnya terhadap laba (dengan menggunakan konsep DOL) e. Hitung pada tingkat penjualan berapa perusahaan harus mengambil keputusan
menghentikan usahanya?
f. Apabila perusahaan mencapai laba ditahan sebesar Rp.71.604.000; berapa penjualan yang harus dicapai?
g. Apabila perusahaan sedang mempertimbangkan untuk menurunkan harga penjualan menjadi Rp.80.000 dan diharapkan penjualan akan meningkat
menjadi 13.200 unit dan untuk itu perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk iklan sebesar Rp.4.000.000; apakah keputusan untuk perubahan harga tersebut dapat diterima atau tidak?
SOAL 5 (COMPREHENSIVE PROBLEM)
PT GAJAH MADA menghasilkan produk bedak kecantikan MUSTIKA. Beberapa informasi yang relavan sebagai berikut: bahan baku langsung Rp.4.800 per unit; Upah tenaga kerja langsung Rp.3.000 per unit; biaya overhead bersifat variabel Rp.2.700 per unit; Biaya overhead bersifat tetap Rp.2.150 per unit.
Variable operating expense mencapai 8% dari total variable manufacturing cost
sedangkan fixed operating expense berjumlah Rp.23.930.000. Setiap unit diestimasi mampu menyumbang sebesar 40% dari penjualan yang digunakan untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba. Apabila produksi melebihi 18.000 unit akan terjadi penambahan biaya tetap sebesar Rp.2.500.000, untuk setiap kenaikan produksi sebanyak 1.000 unit. Pada tahun yang lalu perusahaan berhasil menjual sebanyak 12.800 unit dengan memperoleh laba sebelum pajak 15% dari penjualan. Tarif pajak 20% dan sunk cost 30%.
a. Bagaimana keadaan perusahaan jika penjualan hanya mencapai 9.000 unit? (gunakan pendekatan MOS)
b. Hitung tingkat kegiatan yang direncanakan
c. Jika penjualan di tahun yang akan datang meningkat sebesar 2.560 unit dibandingkan tahun sebelumnya, berapakah penambahan laba atau rugi yang diperoleh? (gunakan pendekatan DOL)
d. Berapakah volume penjualan yang harus dicapai jika perusahaan menghendaki laba bersih sebesar Rp.67.360.000
e. Jika tingkat penjualan yang dicapai adalah 6.000 unit, apakah perusahaan akan menghentikan usahanya
f. Berapakah MOS Ratio yang diperoleh jika perusahaan menghendaki laba sebelum pajak Rp.67.360.000
g. Apabila untuk periode yang akan datang, harga dinaikan 10% dari tahun sebelumnya dan biaya variable meningkat pula 8%, berapa unit yang harus dijual untuk memperoleh laba yang sama seperti tahun sebelumnya
h. Untuk meningkatkan penjualan pada periode yang akan datang perusahaan bermaksud menurunkan harga jual sebesar 10% serta sekaligus meningkatkan anggaran biaya promosi sebesar Rp.20.000.000 dan apabla usulan ini dilaksanakan penjualan diperkirakan dapat meningkat 60%. Apakah usulan ini dapat dilaksanakan dan bagaimana dampaknya pada laba dan rugi perusahaan?