• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN DAN METODE PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN DAN METODE PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PEDOMAN DAN METODE

PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) INDONESIA JAKARTA 2020 M./1441 H.

(3)

Judul Buku:

PEDOMAN DAN METODE

PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

Penanggung Jawab: KH. Munzir Tamam, MA.

Tim Penyusun:

Baharuddin Abd. Rahman Ahmad Mustaghfirin Harry Pribadi Garfes

Edisi Revisi

Cetakan: Maret 2020

Penerbit:

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) INDONESIA JAKARTA Jl. I Gusti Ngurah Rai, No. 39 B, Bulak Klender, Jakarta Timur, 13470.

Telp. 021-86615393. Faks. 021-86614375 Web-site : www.staiindojkt.ac.id

(4)

SAMBUTAN

Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Indonesia Jakarta

Assalāmu ‘Alaikum wa Raḥmatullā wa Barakātuh.

Puji serta syukur yang tak terhingga kita panjatkan kehadirat Allāh SWT. Ṣalawat serta salam, semoga tercurah keharibaan baginda Rasulullāh SAW., para keluarga, ṣaḥābat, tābi‘īn dan pengikut-pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, āmīn allāhumma āmīn …

Tujuan ideal pendidikan dalam Islam adalah untuk mencetak individu Muslim yang sempurna (to produce a perfect and universal man)yang tidak hanya pakar dalam disiplin ilmu tertentu yang ditekuni dan menjadi pengkhususannya, tetapi juga mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu keislaman yang lain, khususnya ilmu-ilmu farḍ ‘ain (the religious sciences).

Tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa tantangan intelektual Muslim masa kini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi intelektual Muslim beberapa abad sebelumnya. Intelektual Muslim masa lampau dihadapkan dengan problematika keilmuan luar sebagai akibat dari adanya interaksi dan persinggungan peradaban Islam dengan peradaban Yunani kala itu. Intelektual Muslim masa kini, di samping berhadapan dengan problematika di atas --melalui Barat yang notabenenya sekular, juga berhadapan dengan problematika keilmuan Muslim yang notabenenya telah kehilangan jati diri, kehilangan adab (the lost of adāb), dan jauh dari kata mumpuni secara intelektual dan spiritual.

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Indonesia Jakarta, sebagai mikrokosmos “Universitas Islam” (

ةيملاسإلا ةعمالجا

), berusaha secara maksimal

(5)

melalui berbagai program kerjanya untuk merealisasikan misi ideal Universitas Islam tersebut. Karena hanya dengan realisasi tersebut, problematika keilmuan intelektual Muslim kontemporer dapat tereleminir.

Mencetak intelektual Muslim yang mumpuni dan kompeten meniscayakan adanya gagasan-gagasan brillian dari para pakar yang dengannya misi pencetakan dapat terealisasi, baik bersifat konseptual maupun praktikal. Berdirinya Pusat Matrikulasi, Institut AISIS, dan Lembaga Tahsin STAI Indonesia Jakarta, menyebut sebahagiannya, adalah di antara upaya pengembangan dan peningkatan mutu di lingkungan STAI Indonesia Jakarta dan merupakan upaya-upaya awal yang mempioneri munculnya lembaga-lembaga pendukung lainnya (supporting system).

Intelektual Muslim sebagaimana definisinya adalah intelektual yang menguasai atau memiliki landasan tradisi keilmuan Islam: Memahami Islam dari islam, iman hingga ihsan; memahami al-Qur’ān dan al-Ḥadīts sebagai landasan dan pijakan utama; memahami ‘ilm al-Kalām (hubungannya dengan Allāh, Ṣifāt dan Asmānya); memahami Taṣawwuf-metafisika; dan selanjutnya menguasai ilmu-ilmu alat, termasuk ilmu bahasa Arab dan literaturnya.

Sebagai kelayakan, intelektual Muslim harus membuktikan diri melalui berbagai penelitian yang dilakukannya yang dituangkan dalam “bahasa buku” atau karya tulis ilmiah. Oleh karenanya, mudah-mudahan dengan diterbitkannya buku pedoman ini dapat membantu melahirkan intelektual Muslim, khususnya, di lingkungan STAI Indonesia Jakarta.

Wassalām ‘Alaikum wa Raḥmatullā wa Barakātuh. Jakarta, Maret 2020

Ketua STAI Indonesia Jakarta, KH. Munzir Tamam, MA

(6)

KATA PENGANTAR

Dari mana saya harus memulai? Adalah pertanyaan yang seringkali muncul pada saat seseorang hendak melakukan suatu pekerjaan.

Begitu juga halnya dengan menulis suatu karya, khususnya karya tulis ilmiah. Pertanyaan yang berupa ungkapan kebingungan sudah pasti akan muncul daripada mulainya: Apakah memulai dari menentukan judul, ataukah harus memulai dari mengumpulkan data & literatur dan seterusnya.

Untuk mendapatkan sebuah inspirasi, umumnya, penulis melihat, membaca dan mencermati karya tulis seniornya. Akan tetapi, penguasaan dasar-dasar metode penelitian dan cara penulisan dengan bahasa yang benar dan baku serta penguasaan teknik-teknik penulisan adalah hal yang sangat vital dan mendukung terealisasinya sebuah karya tulis.

Buku yang ada di tangan anda ini membahas secara khusus namun praktis metode penulisan karya ilmiah skripsi semoga dapat membantu anda untuk meraih kesuksesan, āmīn allāhhumma āmīn....

Jakarta, Maret 2020

(7)

DAFTAR ISI Hal SAMPUL ... SAMBUTAN ... KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI... I. Berfikir Ilmiah ... A. Berpikir Deduktif... B. Berpikir Induktif ... C. Berpikir Ilmiah ... II. Memulai Penulisan ... III. Struktur dan Sistematika ... IV. Proposal Penelitian ...

(8)

I

BERPIKIR ILMIAH

Karya ilmiah ditulis dan disusun secara sistematis menurut aturan atau kaidah-kaidah tertentu berdasarkan hasil dari berpikir ilmiah. Ini berarti bahwa tidak semua karya tulis dinamakan karya ilmiah, sebab tidak semua proses berpikir adalah berpikir ilmiah. Secara umum dapat dibedakan dua pola berpikir, yakni berpikir deduktif dan berpikir induktif.

A. Berpikir Deduktif

Berpikir deduktif atau berpikir rasional merupakan sebagian dari berpikir ilmiah. Logika deduktif yang dipergunakan dalam berpikir rasional merupakan salah satu unsur dari metode logiko-hipotetiko-verifikatif atau metode ilmiah. Dalam logika deduktif, menarik suatu kesimpulan dimulai dari pernyataan umum menuju pernyataan-pernyataan khusus dengan menggunakan penalaran atau rasio (berpikir rasional).

Hasil atau produk berpikir deduktif dapat digunakan untuk menyusun hipotesis, yakni jawaban sementara yang kebenarannya masih perlu diuji atau dibuktikan melalui proses keilmuan selanjutnya. Perhatikan contoh berikut: Setiap benda padat jika dipanaskan akan memuai : pernyataan umum Besi, seng adalah benda padat : fakta-fakta khusus Besi dan seng jika dipanaskan akan memuai : kesimpulan

Proses penarikan kesimpulan seperti dalam contoh di atas dinamakan logika deduktif. Pertanyaan atau masalah yang timbul dari pernyataan tersebut adalah: apabila besi dan seng dipanaskan pada temperature yang sama, manakah yang lebih cepat proses pemuaiannya?

(9)

Dari pertanyaan tersebut dapat diturunkan sejumalah hipotesis, misalnya:

1) Tidak terdapat perbedaan kecepatan memuai antara besi dengan seng apabila keduanya dipanaskan pada temperature yang sama. 2) Jika keduanya dipanaskan pada temperature yang sama, seng lebih

cepat pemuaiannya dibandingkan dengan besi.

3) Jika keduanya dipanaskan pada temperatur yang sama, besi lebih cepat pemuaiannya dibandingkan dengan seng.

Di antara ketiga hipotesis di atas, hipotesis manakah yang paling benar? Salah satu cara untuk membuktikannya bisa dengan mengkaji teori yang berkenaan dengan konsep-konsep pemuaian dalam ilmu fisika. Dengan kata lain, menggunakan argumentasi teoritis melalui penalaran, tidak menggunakan bukti-bukti secara empiris.

B. Berpikir Induktif

Proses berpikir induktif adalah kebalikan dari berpikir deduktif, yakni pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan atau fakta-fakta khusus menuju pada kesimpulan yang bersifat umum, tetapi dari fakta atau data khusus berdasarkan pengamatan di lapangan atau pengalaman empiris. Data dan fakta hasil pengamatan empiris disusun, diolah, dikaji untuk kemudian ditarik maknanya dalam bentuk pernyataan atau kesimpulan yang bersifat umum.

Menarik kesimpulan umum dari data khusus berdasarkan pengamatan empiris tidak menggunakan rasio atau penalaran, tetapi menggeneralisasikan fakta melalui statistika. Misalnya, untuk mengetahui selera warga Sunter Hijau terhadap jenis air minum galongan yang disukainya, dipilih beberapa jenis merek, misalnya, aqua, vit dan oasis. Pertanyaan yang diajukan adalah:

(10)

jenis air minum galongan dengan merek manakah yang paling disukai warga Sunter Hijau? Apakah merek aqua, vit ataukah oasis? Hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Warga Sunter Hijau lebih menyukai air minum galongan dengan merek aqua daripada vit.

2) Warga Sunter Hijau lebih menyukai air minum galongan dengan merek vit daripada oasis.

3) Warga Sunter Hijau lebih menyukai air minum galongan dengan merek oasis daripada aqua.

4) Warga Sunter Hijau lebih menyukai air minum galongan dengan merek aqua daripada oasis.

5) Dan seterusnya berdasarkan kemungkinan lainnya.

Untuk menguji manakah hipotesis yang paling betul, kita tidak mungkin mengkaji teori atau argumentasi teoretis, tetapi perlu pengamatan langsung di beberapa toko yang menjual air minum galongan dengan merek-merek yang tersebut. Pengamatan ini dapat dilakukan beberapa kali, misalnya 3 kali dalam 1 bulan, dengan meminta data penjualan dari sejumlah toko tersebut. Pada akhirnya dicari rata-rata jumlah penjualan untuk ketiga merek air galongan tersebut, dihitung deviasi standarnya, lalu diuji perbedaan-perbedaan jumlah penjualan tersebut melalui cara-cara yang lazim digunakan dalam statistika.

Hasil yang diperoleh dari pengujian tersebut adalah kesimpulan umum mengenai minat warga Sunter Hijau terhadap jenis merek air yang disukainya di antara tiga merek air galongan tersebut di atas. Kesimpulan tersebut semata-mata hanya didasarkan atas hasil analisis data tanpa didukung oleh penalaran teoritis.

(11)

Mempelajari teori, konsep, prinsip, postulat, hukum yang ada dalam khazanah ilmu pengetahuan.

Mempelajari atau mengamati gejala, peristiwa, kejadian di lapangan.

Rumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan problematik.

Tetapkan juga variable yang ada atau terkandung dalam pertanyaan tersebut.

Identifikasi kemungkinan-kemungkinan jawaban dari setiap pertanyaan tersebut dengan melakukan analisis teori-teori, prinsip, hukum dari ilmu pengetahuan yang menunjang tema permasalahan tersebut.

Dari setiap kemungkinan jawaban yang ditemukan dan atas pertimbangan rasional kita setelah mengkaji teori, hukum, prinsip keilmuan, tetapkan

kemungkinan mana yang paling mendekati jawabannya. Rumuskanlah

kemungkinan ini sebagai hipotesis penelitian. C. Berpikir Ilmiah

Befikir ilmiah menggabungkan berpikir deduktif dengan berpikir induktif. Hipotesis diturunkan dari teori, kemudian diuji melalui verifikasi data secara empiris. Dengan demikian terjadi siklus berpikir.

Berpikir rasional menghasilkan hipotesis, kemudian kebenaran hipotesis mengalami pengujian secara empiris. Pengujian tersebut adalah dengan jalan mengumpulkan dan menganalisis data yang relevan untuk menarik kesimpulan apakah hipotesis itu benar atau tidak. Hipotesis yang ternyata didukung oleh fakta empiris dikukuhkan sebagai jawaban yang definitif. Metode ini menuntun kita kepada cara-cara berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang bersifat ilmiah. Dengan perkataan lain, merupakan metode ilmiah.

Berpikir ilmiah yang menghasilkan metode ilmiah menempuh langkah-langkah sebagaimana yang dapat dilihat dalam kerangka berikut:

Proses identifikasi masalah

(12)

Rencanakan data apa yang harus diperoleh untuk menguji hipotesis

tersebut, dari mana data itu diperoleh dan bagaimana cara

memperolehnya.

Setelah ditemukan gambaran masalah, teori dan hipotesis, dan verifikasi data di lapangan, buatlah usulan penelitian untuk diajukan kepada pihak yang berwenang untuk meminta petunjuk dan atau pengesahannya.

Setelah instrumen (alat pengumpul data) disetujui oleh pihak yang berwenang melalui uji coba, dan telah diperoleh izin penelitian, peneliti turun ke lapangan untuk melakukan pengumpulan data.

Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah, dianalisis, kemudian hipotesis diuji, hasilnya disimpulkan, dibahas secara teoretis, berikan saran lebih lanjut.

Tulislah langkah-langkah di atas dalam satu sistematika rangkaian kegiatan penelitian.

Keterangan:

1) Langkah 1 adalah proses identifikasi masalah yang dapat dilakukan melalui cara berpikir deduksi, yakni dengan analisis teoretis, dan atau induksi, yakni dimulai dari pengamatan empiris. Melalui proses berpikir tersebut kita temukan masalah.

2) Langkah 2 adalah Merumuskan masalah yang telah diidentifikasi, yakni mengajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian untuk dicari jawabannya. Pertanyaan yang diajukan hendaknya problematik dalam pengertian mengandung banyak kemungkinan jawabannya.

3) Langkah 3 adalah deduksi teori yang berkenaan dengan masalah untuk mengajukan hipotesis (langkah 4). Dengan demikian hipotesis dihasilkan dari teori, bukan dari pengamatan empiris. 1

1 Hipotesis adalah jawaban sementara dari pertanyaan pertanyaan penelitian yang telah diajukan di atas. Hipotesis lazimnya diungkapkan dalam bentuk pernyataan (declarative sentence), tidak boleh dalam bentuk pertanyaan. Hipotesis berfungsi sebagai tuntunan dan pegangan/jawaban sementara yang masih harus diuji kebenarannya di dalam kenyataan (empirical verification), percobaan (experimentation) atau praktek (implementation). Dalam menetapkan jawaban, hipotesis yang diajukan hendaknya diturunkan dari kajian teoretis melalui penalaran deduktif.

Ada 2 tipe hipotesis: (1) hipotesis kerja/penelitian (alternative hypothesis ) dilambangkan dengan H1, yakni asumsi-asumsi (assumption or predictions) atau pernyataan

(13)

4) Langkah 5 adalah verifikasi data atau metodologi, artinya mengumpulkan data secara empiris kemudian mengolah dan menganalisis data untuk menguji benar tidaknya hipotesis. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya melalui data yang diperoleh secara empiris, pada dasarnya adalah jawaban definitif dari pertanyaan yang diajukan. Apabila proses pengujian hipotesis tersebut dilakukan berulang-ulang dan ternyata kebenarannya selalu ditunjukkan melalui fakta atau data empiris, maka hipotesis tersebut telah menjadi tesis.

5) Langkah 6 adalah menyusun usulan penelitian.

6) Langkah 7 adalah persiapan penelitian, terutama penyusunan instrument untuk memperoleh data dan izin mengadakan penelitian.

7) Langkah 8 adalah menganalisis data, menguji hipotesis, menarik kesimpulan hasil analisis data (menentukan jawaban-jawaban definitif dari setiap masalah yang diajukan atas dasar pembuktian atau pengujian secara empiris untuk setiap hipotesis), mengadakan pembahasan hasil pengujian hipotesis, dan memikirkan saran-saran atas dasar hasil penelitian.

8) Langkah 9 adalah membuat sistematika penulisan atau laporan hasil penelitian sesuatu dengan aturan penulisan dan sistematika yang berlaku. Semua langkah yang dijelaskan di atas harus dipenuhi dalam proses bepikir ilmiah. Berpikir rasional untuk menurunkan hipotesis, dilanjutkan dengan berpikir secara empiris untuk membuktikan kebenaran hipotesis, adalah tonggak utama dalam berpikir ilmiah. Wujud operasional dari metode berpikir ilmiah ini adalah penelitan ilmiah.

yang menunjukkan adanya hubungan antar 2 atau lebih variable, dan (2) hipotesis Nol/statistik (nul hypothesis) dilambangkan dengan H0 menunjukkan tidak adanya hubungan/kaitan antar variable. Contoh Hipotesis dalam penelitian peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Al-Kenaniyyah, Jakarta adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis Kerja “Ada peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Al-Kenaniyyah, Jakarta.”

2. Hipotesis Nol “Tidak ada peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah TsanawiyahAl-Kenaniyyah, Jakarta.”

(14)

II

MEMULAI PENULISAN

Berikut adalah beberapa petunjuk praktis bagi mahasiswa yang akan menulis karya tulis ilmiah Skripsi:

1. Pilih tema penulisan atau penelitian karya ilmiah dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

a. Asas kemudahan (feasible), artinya mahasiswa memilih tema pembahasan yang “memungkinkan” untuk diselesaikan. Contoh dengan mengambil tema dari mata kuliah yang paling dikuasai. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa tidak mengalami kesulitan dalam mengkaji teori, prinsip, postulat atau hukum yang ada dalam bidang studi atau mata kuliah tersebut.

b. Asas kemanfaatan, artinya mahasiswa memilih tema pembahasan sesuai dengan profesinya kelak. Contoh: jika mahasiswa tersebut akan berprofesi sebagai guru, maka ia sebaiknya memilih tema pembahasan yang berkenaan dengan profesi keguruan, misalnya, tentang peran guru, metode pembelajaran, dan lain sebagainya. Atau jika akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi (S2), maka ada baiknya memilih tema pembahasan yang penelitiannya dapat dilanjutkan pada jenjang S2.

c. Asas kebaruan (novelty), artinya mahasiswa memilih tema pembahasan kebaruan atau belum diteliti sepenuhnya oleh peneliti sebelumnya sehingga memberi kontribusi, baik bagi khazanah keilmuan maupun bagi kehidupan.

(15)

2. Apabila anda telah memilih tema penelitian, buatlah outline usulan penelitian yang anda tuangkan dalam proposal penelitian untuk kemudian disidangkan oleh Tim Karya Tulis Ilmiah (TKTI) STAI Indonesia Jakarta dalam sidang proposal mahasiswa.

3. Datanglah ke perpustakaan untuk mencari bahan-bahan penulisan, terutama dalam mengkaji landasan teori atau kerangka berfikir sebagai dasar menurunkan hipotesis. Beberapa konsep, prinsip yang dikemukakan para penulis buku perlu dicatat secara rapih (penulis buku, judul buku, penerbit, tempat terbit, dan halaman kutipan), sebagaimana yang telah diaturbaku dalam Pedoman dan Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah, yang diterbitkan oleh STAI Indonesia Jakarta.

4. Dahulukan menulis konsep bab kesatu dan bab ketiga, yaitu bab pengajuan masalah penelitan dan bab metodologi penelitian/studi objek penelitian. Bab-bab ini tidak banyak menuntut kajian teroretis dan tidak akan mengalami kesulitan sepanjang permasalahan penelitian ada dalam konteks ilmu yang anda pelajari. Penulisan bab kedua bisa dimulai setelah kedua bab di atas selesai. Bab kedua ini mengkaji landasan teroretis untuk menurunkan hipotesis sehingga memerlukann konsentrasi dan usaha yang tinggi. Banyak membaca literatur yang menunjang permasalahan penelitian adalah syarat mutlak untuk menulis bab ini. Hendaknya diperhatikan bahwa isi penulisan karya ilmiah, khususnya bab kedua, bukan kumpulan dari kutipan pendapat para ahli, melainkan yang utama adalah kerangka berpikir penulis sendiri. Pendapat para ahli diperlukan sebagai landasan atau pendukung pendapat penulis.

(16)

5. Sambil menunggu pengesahan instrument penelitian dari pembimbing, ada baiknya anda memulai menulis kerangka bab keempat. Untuk penelitian dengan model kualitatif, mulailah menstrukturisasi dan mensistematisasi jawaban-jawaban terhadap perumusan-perumusan masalah. Dan untuk penelitian kuantitatif mulailah membuat tabel-tabel untuk pengolahan data, langkah-langkah analisis data, kalimat-kalimat baku untuk menafsirkan data dan hasil analisis data. Selanjutnya, buatlah rangkuman penelitian sebagai isi bab kelima. Hal tersebut akan memudahkan dan mempercepat penulisan, manakala data telah diperoleh dari lapangan. 6. Penulisan karya ilmiah bisa selesai pada waktunya apabila penulis menyediakan waktu khusus untuk penulisan disertai disiplin diri dalam menulis. Biasakan mempunyai jadwal khusu untuk penulisan, dan jadwal tersebut dilaksanakan sebagaimana mestinya. Rasa malas biasanya merupakan penyakit khusus yang melanda para mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah. Jika dibiarkan, karya tersebut tak akan pernah terealisasi. Janganlah sepenuhnya bergantung kepada pembimbing. Tananmkan pada diri anda bahwa dengan selesainya karya tulis tersebut, ujian sudah di ambang pintu, yang berarti kesarjanaan anda telah menanti.

(17)

III

STRUKTUR & SISTEMATIKA

Berikut adalah struktur dan sistematika penulisan karya tulis ilmiah skripsi: BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar belakang masalah (kualitatif & kuantitatif)

Latar belakang masalah, menjelaskan dasar pemikiran penulis, mengapa dan bagaimana sehingga penulis memilih judul atau tema penulisan. Pertanyaan ‘mengapa’ tentu berkenaan dengan alasan-alasan rasional maupun alasan empirs pentingnya topik atau tema tersebut diteliti. Misalnya dikaitkan dengan kepentingan ilmu, kepentingan profesi, atau kepentingan pembangunan pada umumnya. Hanya saja jangan terlalu berlebihan. Apabila penelitian hanya mengambil tema pokok, misalnya, ‘kekuasaan dalam hubungannya dengan tugas dan tanggung jawab pimpinan,’ tidak perlu dikaitkan degan GBHN atau UUD 45, sebab sangat jauh dan sifatnya mengada-ada.

Pertanyaan ‘bagaimana’ berkenaan dengan proses yang ditempuh peneliti sehingga menemukan topik atau tema penulisan. Tema atau topik dapat diangkat dari kajian teoretis (deduksi) atau bisa pula dari kajian gejala atau peristiwa empiris di lapangan (induksi). Hal ini bisa diangkat untuk menjelaskan proses tersebut. Akhiri uraian latar belakang dengan menyatakan: … atas dasar itu penulis mengambil tema penelitian dengan judul …

B. Identifikasi masalah (kualitatif & kuantitatif)

Identifikasi masalah, menjelaskan aspek-aspek masalah yang bisa muncul dari tema atau judul yang telah dipilih. Ajukan saja permasalahan

(18)

sebanyak-banyaknya, yang mungkin timbul untuk diteliti. Dari sekian banyak kemungkinan, tentukan permasalahan manakah yang akan dijadikan inti penelitian dengna memberikan argumentasinya, mengapa masalah itu yang dipilih (pembatasan masalah).Alasan bisa ditinjau dari kepentingan peneliti, kepentingan ilmu, kepentingan profesi, dan lain-lain. Setelah itu, rumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang bersumber dari permasalahan yang telah dipilih (perumusan masalah). Nyatakan pula variable-variabel yang terkandung dalam rumusan pertanyaan tersebut, mana variable bebasnya, mana variable terikatnya (khusus penelitian quantitatif).

C.Tujuan umum dan kegunaan penelitian (kualitatif & kuantitatif) Tujuan umum dan kegunaan penelitian, menjelaskan tujuan umum penelitian yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan mengenai makna yang terkandung dalam permasalahan atau tema pokok penelitian. Misalnya: “… penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai hubungan kekuasaan seorang pimpinan dengan tugas dan tanggung jawabnya.” Setelah itu berikan penjelasan mengenai kegunaan penelitian tersebut, yakni menjelaskan nilai guna hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian.

D. Penelusuran Ilmiah (kualitatif & kuantitatif)

Penelusuran Ilmiah, berisi tentang lima (5) penelitian atau karya ilmiah terdahulu dan sejenis yang dipilih oleh peneliti, baik berupa buku, jurnal, skripsi, tesis, maupun disertasi. Penelitian-penelitian tersebut, hasilnya masing-masing dideskripsikan secara singkat. Penulis mengakhiri penelusuran ilmiah dengan menunjukkan keunikan atau perbedaan penelitian-penelitian yang dimaksud dengan penelitian-penelitian yang sedang dilakukannya.

(19)

E. Metode Penelitian

Untuk penelitian kualitatatif, metode penelitian diletakkan pada Bab I, Sub-bab E. Metode Penelitian. Akan tetapi, pada penelitian dengan model kuantitatif, metode penelitian distrukturisasi pada Bab III dengan judul Metodologi Penelitian.

Metode Penelitian atau teknik pelaksanaan penelitian, berisi metode & sumber-sumber yang digunakan (primer maupun sekunder), dan teknik analisis data. Berbagai macam metode penelitian di antaranya:

1. Historis. Metode ini digunakan apabila peneliti bermaksud mengungkapkan peristiwa atau kejadian pada masa lampau. Studi documenter adalah contoh dari metode ini. Keabsahan metode ini ditentukan oleh sumber datanya dan keakuratan dalam membuat interpretasi data sesuai dengan makna yang terkandung di dalamnya.

2. Deskriptif. Metode ini digunakan apabila bertujuan untuk mendekripsikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang ada pada masa sekarang. Termasuk dalam metode ini adalah studi kasus, survey, studi pengembangan, studi korelasi. Metode penelitian deskriptif bisa mendeskripsikan satu variable atau lebih dari satu variable penelitian. Masalah penelitian yang tepat dikaji melalui metode ini biasanya berkenaan dengan bagaimana kondisi, proses, karakteristik, hasil dari suatu variable. Misalnya terhadap variable kepemimpinan bisa diteliti masalah-masalah yang berkenaan dengan:

Bagaimana bentuk atau tipe kepemimpinan?

Bagaiman cara dan proses kepemimpinan itu dilaksanakan? Apakah ciri-ciri yang menonjol dari kepemimpinan demokratis? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kepemimpinan?

Adakah perbedaan gaya kepemimpinan ditinjau dari, misalnya, tingkat pendidikan pemimpinnya?

Bagaimana hasil kepemimpinan ditinjau dari, misalnya, produktifitas kelompok?

Adakah hubungan antara gaya atau tipe kepemimpinan dengan, misalnya, efisiensi kerja, partisipasi sosial, suasana kerja?

Hasil dan kesimpulan dari penelitian deskriptif pada umumnya hanya mendekripsikan konsep dan variable yang diteliti, mendeskripsikan perbedaan konsep dan variable, menghubungkan variable yang satu dengan yang lainnya.

(20)

3. Ex post facto (sesudah fakta) atau causal comparative. Metode ini lebih ditujukan untuk melihat dan mengkaji hubungan antara dua variable atau lebih, di mana variable yang dikaji telah terjadi sebelumnya melalui perlakuan orang lain. Dalam penelitian ini, peneliti tidak perlu melakukan manipulasi atau perlakuan terhadap variable bebas, sebab manipulasi telah terjadi oleh orang lain sebelum penelitian dilakukan.

4. Eksperimental. Seperti halnya pada metode ex post facto, metode eksperimen mengkaji hubungan dua variable atau lebih. Perbedaannya terletak dalam hal variable bebas. Dalam eksperimen peneliti harus melakukan manipulasi atau perlakuan terhadap variable bebas, melakukan pengukuran sendiri terhadap variable bebas dan terikat, misalnya penelitian mengenai pengaruh metode diskusi terhadap kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Bila menggunakan metode eksperimen, maka si peneliti harus memperkenalkan metode diskusi, kemudian mengukur hasilnya melalui kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

5. Kuasi eksperimental.

6. Content analysis. Metode ini biasanya digunakan dalam penelitian komunikasi. Namun demikian ia dapat digunakan untuk penelitian yang bersifat normatif. Penelitian mengenai teks al-Qur’an dan pemikiran ulama di dalam berbagai kitab fiqh dapat menggunakan metode ini. Isi teks al-Qur’an atau pemikiran ulama tersebut, dapat dianalisis dengan menggunakan kaidah bahasa atau kaidah-kaidah lain yang telah dikenal, seperti kaidah-kaidah mantiq, ushul, dan fiqh.

7. Evaluasi. Metode ini digunakan di bidang pendidikan dan penyuluhan, untuk penelitian terhadap suatu pencapaian prestasi atau program tertentu. Misalnya, program pengajaran, program pendidikan, program penyuluhan, dan program pembangunan. Metode terbagi ke dalam evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. a. Evaluasi formatif digunakan untuk melakukan penilaian tentang faktor-faktor

pendukung dan faktor-faktor penghambat terhadap pelaksanaan suatu program. b. Evaluasi sumatif digunakan untuk melakukan penilaian mengenai pencapaian

tujuan suatu program yang dirinci dalam target, kriteria, indicator, dan ukuran yang telah ditetapkan dalam perencanaan program.

Pilihan yang tepat atas salah satu meotde ini sangat tergantung pada maksud dan tujuan penelitian. Jadi bila tujuan penelitian itu, misalnya, adalah untuk mendiskripsikan dan menganilisis peristiwa-peristiwa masa lampau, maka sangatlah tepat menggunakan metode historis.

(21)

F. Sistematika Penulisan (kualitatif & kuantitatif)

Sistematika Penulisan, adalah gambaran utuh isi skripsi dari pendahuluan sampai kesimpulan. Dalam mengurai sistematika penulisan hendaknya diurai keterkaitan antara satu bab dengan bab yang lainnya, hal mana mencerminkan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Diagram

ALUR PIKIR PENYUSUNAN BAB I

Menjelaskan apa dan mengapa tema/topic/judul tersebut dipilih serta bagaimana tema/topic/judul dilakukan.

Latar belakang masalah

Kemungkinan-kemungkinan masalah yang timbul dari tema/topik/judul:

1. Masalah I 2. Masalah II 3. Masalah III 4. Dan seterusnya. Identifikasi masalah

Ruang lingkup atau Pembatasan masalah

Menetapkan / memilih masalah dari kemungkinan yang ada disertai argumentasinya.

Mengembangkan / mengajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang bersumber dari masalah yang telah dipilih.

PENGAJUAN MASALAH

Merumuskan tujuan umum penelitian yang konsisten dengan masalah pokok penelitian serta kegunaan penelitian.

Tujuan umum dan kegunaan penelitian Perumusan masalah

Sistematika penulisan Memaparkan sistematika wajah panggung karya ilmiah model penelitian kualitatif atau kuantitatif.

(22)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Uraian bab ini adalah menjelaskan secara teoretis variable-variabel penelitian serta hubungan antar variabel, untuk selanjutnya menurunkan hipotesis. Sebagai contoh, penelitian mengenai “hubungan kekuasaan dengan tugas dan tanggung jawab pimpinan.” Landasan teorinya diurutkan sebagai berikut:

(1) Kekuasaan pimpinan

Berikan uraian teoretis mengenai kekuasaan pimpinan dengan dukungan pendapat para ahli.

(2) Tugas dan tanggung jawab pimpinan

Berikan uraian teoretis mengenai tugas dan tanggung jawab pimpinan, sertakan pula pendapat para ahli. Aspek yang dibahas, baik dalam butir 1 maupun butir 2, berisi indikator-indikator yang nantinya menjadi isi kuesioner.

(3) Hubungan kekuasaan dengan tugas dan tanggung jawab

Berisi keterkaitan antara kekuasaan dengan tugas dan tanggung jawab pimpinan ditinjau dari kajian teoretis.

(4) Hasil penelitian yang relevan

Menjelaskan temuan-temuan penelitian sebelumnya yang relevan dengan hubungan antara kekuasaan dengan tugas dan tanggung jawab pimpinan (jika ada). jika tidak ada, tidak perlu diada-adakan. (5) Kerangka berpikir

Menjelaskan keterkaitan variable kekuasaan dengan tugas dan tanggung jawab dalam suatu diagram tertentu sehingga nampak jelas bahwa tugas dan tanggung jawab pimpinan betul-betul merupakan pencerminan kekuasaan pimpinan, di samping oleh aspek-aspek lain di luar kekuasaan.

(23)

(6) Hipotesis

Menjelaskan implikasi dari kerangka berpikir tersebut dalam bentuk dugaan jawaban permasalahan penelitian. Misalnya: atas dasar uraian teoretis dan kerangka berpikir di atas, dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Terdapat hubungan positif yang berarti antara kekuasaan dengan tugas dan tanggung jawab pimpinan.

Diagram

ALUR PIKIR PENYUSUNAN BAB II

1. Pembahasan teori

Pembahasan teoritis mengenai variable penelitian, baik variable bebas maupun variable terikat.

3. Pengajuan Hipotesis

Atas dasar kerangka pikir di atas, rumuskan hipotesis penelitian baik secara verbal maupun secara statistik/simbol (notasinya) serta kriteria pengujiannya.

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2. Kerangka pemikiran

Nyatakan/konsepsikan hubungan antara variable (bebas dan terikat) berdasarkan teori postulat, asumsi yang ada. Susun suatu model/diagram yang menyatakan alur hubungan variable di atas.

(24)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN & STUDI OBJEK PENELITIAN A.Penelitian kualitatif

Untuk penelitian kualitatif, bab ini berisi studi objek penelitian (studi biografi, konsep-konsep dari tokoh / lembaga yang diteliti).

B.Penelitian kuantitatif

Untuk penelitian kuantitatif, bab ini berisi Metodologi Penelitian yang meliputi:

1. Tujuan khusus penelitian

Tujuan khusus penelitian, menyatakan tujuan penelitian secara operasional. Tujuan khusus mengacu kepada pertanyaan-pertanyaan penelitian. Contoh: ingin memperoleh data mengenai:

(1) Unsur-unsur kekuasaan seorang pimpinan (2) Jenis tugas dan tanggung jawab pimpinan

(3) Hubungan antara kekuasaan dengan tugas dan tanggung jawab pimpinan

(4) Faktor-faktor yang dominan terhadap kekuasaan pimpinan 2. Metode penelitian

Metode penelitian menjelaskan metode apa yang digunakan dalam proses pengumpulan data, misalnya, metode deskriptif atau ex post fakto, dan alasan-alasan mengapa metode tersebut digunakan (lihat macam dan jenis-jenis metode penelitian pada bagian bagian E. Metode Penelitian)

3. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian, menjelaskan teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data di lapangan, misalnya, kuesioner, tes, observasi, studi dokumentasi. Jelaskan pula aspek-aspek apa yang akan diungkap melalui

(25)

instrumen tersebut dan persyaratan pengujian instrumen. Lebih bagus apabila disertakan layout atau kisi-kisi instrumen

4. Sampel penelitian

Sampel penelitian, menjelaskan teknik penarikan sampel yang digunakan serta bagaimana prosedurnya, berapa banyak responden yang diteliti, sertakan table responden.

Cara pengambilan sample bermacam-macam tergantung jenis penelitian yang dilakukan. Namun, secara garis besar, teknik pengambilan sample terdiri dari dua kelas besar yaitu:2

Pertama Probablity Sampling (random sampling) yang meliputi:

• Sample Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

• Sample Acak Sistematis (Systematik Random Sampling)

• Sampel Acak Berstrata (Stratified Random Sampling)

• Sampel Acak beradasar Area (ClusterSampling)

• Sample Acak Bertingkat (MultiStageSampling)

Kedua Non Probablity Sampling (non random sampling) yang meliputi:

Sample tidak Acak berdasar pada Tujuan (Purposive Sampling) dilakukan berdasar pada tujuan penelitian

Sampel Tanpa Sengaja (Accidental Sampling) dilakukan untuk jenis kasus langka yang sampelnya sulit didapatkan

Sampel berQuota (Quota Sampling) dilakukan jika jumlah sample terbatas sehingga sample diambil sesuai dengan jumlah populasinya (keseluruhan populasi menjadi sample)

Sampel Bola Salju (Snowball Sampling) dilakukan berdasar wawancara atau korespondensi

Sample Jenuh dilakukan apabila anggota populasinya kurang dari 30 objek. Teknik pengambilan samplenya adalah semua anggota populasi.

5. Teknik analisis data

Teknik analisis data, menjelaskan cara menganalisis data, yakni statistik mana yang akan digunakan: statistik deskriptif mana dan untuk apa,

2 Untuk lebih detail penjelasannya sila rujuk

(26)

statistik analitik mana dan untuk apa. Kemukakan rumus yang digunakan dan bagaimana langkah-langkahnya. Perhatikan diagram alur pikir penyusunan Bab III di bawah:

Diagram

ALUR PIKIR PENYUSUNAN BAB III

1. Tujuan khusus penelitian Menyatakan tujuan penelitian secara operasional.

2. Objek penelitian

METODOLOGI PENELITIAN

Menjelaskan secara singkat variable-variabel penelitian: mana variable bebas dan mana variable terikat.

3. Variabel penelitian

4. Metode penelitian

Menjelaskan metode apa yang digunakan dalam penelitian dan alasannya, misalnya metode deskriptif, historis, eksploratif, analitis, eksperimental atau perbandingan.

5. Populasi dan sampel

6. Teknik pengumpulan data

Menjelaskan obyek/barang/wilayah yang hendak diteliti.

Menjelaskan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data di perpustakaan dan di lapangan berupa: kuesioner, interview, observasi, atau dokumentasi.

Menjelaskan teknik penarikan sample yang digunakan serta prosedurnya, berapa banyak responden yang diteliti. Sertakan table responden.

8. Hipotesis statistik

Menyatakan keadaan parameter yang akan diuji melalui statistik sample.

7. Teknik analisis data

Menjelaskan cara menganalisis data, yakni statistik mana yang akan digunakan: statistik deskriptif atau analitik dan untuk apa. Kemukakan rumus yang digunakan dan bagaimana langkah-langkahnya

(27)

BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Variable yang diteliti

Variable yang diteliti, menjelaskan secara singkat variable-variabel penelitian, mana variable bebas dan mana variable terikat.

B. Deskripsi hasil analisis data

Deskripsi hasil analisis data, menjelaskan hasil-hasil analisis data terhadap variable yang diteliti. Artinya, hasil pengukuran terhadap variable dinyatakan dan dilukiskan. Misalnya proporsi jawaban responden dalam bentuk persen, atau nilai rata-rata, modus, median, simpangan baku, varian, dari setiap variable yang diukur. Table dan grafik hasil pengukuran variable dapat dibuat oleh peneliti untuk memudahkan para pembaca mempelajari temuan penelitian. Berikan interpretasi terhadap hasil-hasil tersebut. Table dan grafik bisa juga ditempatkan di lampiran.

C. Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis, menjelaskan hasil perhitungan analisis data dan membandingkannya dengan kriteria pengujian hipotesis, untuk kemudian menarik kesimpulan, apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak.

D. Pembahasan hasil

Pembahasan hasil, artinya memberikan argumentasi teoretis terhadap hasil pengujian hipotesis. Misalnya, apabila hipotesis penelitian ditolak atau tidak terbukti, berikan alasan mengapa tidak terbukti. Mungkin dalam hal proses pengumpulan data, kurang sahih, atau mungkin pula analisis data kurang cermat, atau memang teori yang mendasari hipotesis tidak relevan penerapannya dalam situasi dan kondisi di daerah penelitian. Peneliti jangan tergesa-gesa menyalahkan teori. Jika sebaliknya, yakni hipotesis diterima,

(28)

berarti teori cocok dengan realita. Diterima atau ditolaknya hipotesis bisa dijadikan dasar untuk mengajukan saran-saran dalam bab terakhir.

Diagram

ALUR PIKIR PENYUSUNAN BAB IV

1. Deskripsi data / hasil penelitian

Menyatakan besaran variable penelitian yang diperoleh melalui perhitungan (hasil analisis data) misalnya, rata-rata, median, modus, standar deviasi, varians, grafik/table, dan lain-lain

2. Pengujian hipotesis

Memberikan argumentasi teoritis terhadap hasil pengujian mengapa hipotesis penelitian diterima atau ditolak, beri alasan/jelaskan penerimaan atau penolakan hipotesis tersebut. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis dapat dijadikan dasar untuk mengajukan saran-saran dalam bab terakhir penelitian

4. Keterbatasan penelitian

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Pembahasan hasil Pengujian/penelitian

Mengungkapkan keterbatasn penelitian yang diakibatkan oleh faktor kemampuan peneliti (human nature), waktu dan objek penelitian yang tidak terjangkau, oleh karenanya, demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan atau kepentingan yang bersifat praktikal (masyarakat/umum), perlu dilakukan penyempurnaan oleh peneliti selanjutnya. Nyatakan perhitungan hasil pengujian hipotesis lalu simpulkan apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak berdasarkan criteria pengujian yang telah ditetapkan.

(29)

BAB V PENUTUP

Kesimpulan penelitian menyatakan temuan-temuan penelitian, baik secara deskriptif (hasil pengukuran variable) maupun secara analitis (berkenaan dengan hasil pengujian hipotesis), yakni hipotesis mana yang terbukti dan apa maknanya. Jelaskan pula implikasi apa yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini, baik bagi kepentingan ilmu, kepentingan profesi, ataupun bagi kepentingan pemecahan masalah.

Saran berisi gagasan-gagasan atau pemikiran atas dasar hasil penelitian, saran untuk memperbaiki atau meningkatkan makna suatu variable dari berbagai sudut yang berkepentingan dengan variable tersebut. Akhiri saran yang berkenaan dengan penelitian lebih lanjut sehubungan dengan hasil penelitian tersebut. Kualitas saran bukan pada banyaknya saran yang diajukan, melainkan pada bobot saran dan maknanya dilihat dari hasil penelitian.

Daftar pustaka, berisi buku atau karya ilmiah lain yang digunakan sebagai penunjang penulisan karya ilmiah, baik yang dikutip secara langsung maupun tidak langsung.

(30)

Diagram

ALUR PIKIR PENYUSUNAN BAB V

1. Kesimpulan

Menyatakan secara singkat besaran variable dan hipotesis penelitian yang telah teruji kebenarannya, serta argumentasi singkat mengapa hipotesis tertentu ditolak

2. Implikasi

Memberikan argumentasi teoritis terhadap hasil pengujian mengapa hipotesis penelitian diterima atau ditolak, beri alasan/jelaskan penerimaan atau penolakan hipotesis tersebut. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis dapat dijadikan dasar untuk mengajukan saran-saran dalam bab terakhir/penutup penelitian

PENUTUP

3. Saran

Menyatakan/menaraik implikasi hasil dari keimpulan penelitian.

(31)

IV

PROPOSAL PENELITIAN

Proposal penelitian (research proposal) pada hakikatnya adalah rancangan yang menggambarkan apa yang hendak diteliti dan bagaimana penelitian itu akan dilaksanakan. Ia dibuat oleh peneliti yang akan menyusun karya ilmiah (skripsi, tesis, atau disertasi) dalam rangka penyelesaian studinya. Proposal penelitian dibuat lebih luas dan lebih dalam. Ketajaman merumuskan masalah dan hipotesis yang diturunkan dari teori pengetahuan ilmiah, serta ketepatan dalam memilih metodologi penelitian, dapat dibaca dari proposal penelitian. Demikian juga alur-alur berpikir yang dituangkan dalam proposal penelitian dapat dilihat dari sistematika dan konsistensi unsur-unsur penelitian.

Berikut adalah unsur-unsur yang harus ada dalam proposal penelitian: 1. Untuk penelitian kualitatif meliputi BAB I yang terdiri dari: A. Latar Belakang Masalah, B. Perumusan Masalah, C. Pembatasan Masalah, D. Tujuan Penelitian, E. Penelusuran Ilmiah, F. Kegunaan Penelitian, G. Metode Penelitian, dan H. Sistematika Penulisan. 2. Untuk penelitian kuantitatif meliputi BAB I dan BAB III yang

terdiri dari: A. Latar Belakang Masalah, B. Perumusan Masalah, C. Pembatasan Masalah, D. Tujuan Penelitian, E. Penelusuran Ilmiah, F. Kegunaan Penelitian, dan G. Sistematika Penulisan (BAB I) dan Metodologi Penelitian (BAB III).

(32)

Contoh Proposal Penelitian

1. Judul:

Hubungan Program Matrikulasi dengan Prestasi Akademik Mahasiswa STAI Indonesia Jakarta.

2. Latar Belakang

Berhasil-tidaknya suatu perguruan tinggi, diantaranya dilihat dari kualitas dan kuantitas lulusannya. Kualitas lulusan artinya kadar atau derajat prestasi yang dicapainya, misalnya indeks prestasi kumulatif (IPK) atau yudisium ujian akhir (sarjana) di samping kemampuan dan kecakapan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab profesinya setelah bekerja di kemudian hari. Sedangkan kuantitas lulusan adalah jumlah lulusan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi setiap tahunnya yang biasa dinyatakan dalam angka efisiensi, yakni rasio mahasiswa yang diterima dan diluluskan atau dihasilkan pada tahun yang sama. Tinggi-rendahnya angka efisiensi menunjukkan produktifitas perguruan tinggi, sehingga makin tinggi angka efisiensi, makin produktif perguruan tinggi yang bersangkutan.

Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia (STAIINDO) Jakarta melaksanakan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Dalam sistem ini, masa studi mahasiswa untuk mencapai gelar sarjana ditempuh selama empat tahun dan paling lama tujuh tahun. Beban studi sampai mahasiswa mencapai gelar sarjana adalah sebanyak 144—160 SKS. Bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik, waktu, biaya, tenaga dan sarana yang memadai, beban studi tersebut dapat diselesaikan tepat waktu, yakni empat tahun.

Data empiris lulusan STAIINDO Jakarta menunjukkan adanya sejumlah lulusan yang tidak dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. Hal ini dimungkinkan adanya faktor-faktor yang tidak menunjang penyelesaian studi tepat waktu di kalangan mahasiswa. Oleh sebab itu, perlu diusahakan berbagai langkah dan kegiatan proses pendidikan yang dapat mendorong mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat pada waktunya, dan bahkan dengan prestasi-prestasi yang membanggakan.

(33)

Bertujuan mengatasi hal tersebut, STAIINDO Jakarta sejak tahun 2012 telah mendirikan sebuah badan yang dikenal sebagai “Pusat Matrikulasi STAIINDO (PMS).” Misinya adalah peningkatan kualitas dan prestasi akademik mahasiswa. Untuk merealisasikan misinya, PMS telah mencanangkan berbagai program kerja, di antaranya:

Pertama: Penguatan Ilmu-ilmu Alat, misalnya, bahasa Inggris dan Arab, logika (mantiq), teknik penulisan dan metodologi penelitian. Dengan cara demikian, mahasiswa diarahakan untuk melakukan kajian khazanah keilmuan langsung kepada sumbernya (original sources), serta menelusuri sumber kedua (secondary sources) hanya sebagai pembanding “pemahaman.” Selanjutnya, hasil telaahan khazanah keilmuan tersebut “diolah” menjadi sebuah karya argumentatif dan berciri keilmiahan.

Kedua: Pengembangan Kejuruan. Program ini dimaksudkan untuk melakukan pendalaman terhadap mata kuliah-mata kuliah yang erat kaitannya dengan bidang atau program studi yang ditekuni oleh mahasiswa.

Ketiga: Peningkatan Potensi Akademik (pembekalan) Mahasiswa melalui program tahsin al-Qur’an wa al-‘ibadah. Program pembekalan ini, pada nantinya, diharapkan berguna bukan hanya terhadap pribadi dan individu mahasiswa, tetapi juga memiliki nilai sumbangsi dan aspek pengabdian kepada lingkungan dan masyarakat.

Dari ketiga program ini, hanya program pertama dan kedua (mata kuliah-mata kuliah yang tercakup di dalamnya) akan diberlakukan sistem SKS, sedangkan mata kuliah-mata kuliah yang termasuk dalam kategori program ketiga, tidak diberlakukan SKS (non SKS).

Adapun teknik pelaksanaan atau sistem kerja dari ketiga program ini dalah:

a. Penguatan ilmu-ilmu alat, yakni mata kuliah-mata kuliah yang tercakup di dalamnya akan dijadwalkan pada semester awal (semester satu), yaitu, sebelum mahasiswa mengikuti perkuliahan atau mengambil mata mata kuliah lainnya (mata

(34)

kuliah-mata kuliah pokok yang ditawarkan oleh prodi atau jurusan), baik itu mata kuliah-mata kuliah kelompok MPK, MKK, MKB,MPB maupun MBB.

b. Pengembangan kejuruan, yakni mata kuliah-mata kuliah yang tercakup di dalamnya akan dijadwalkan bersamaan dengan mata kuliah-mata kuliah pokok yang ditawarkan oleh prodi atau jurusan), seperti, mata kuliah-mata kuliah kelompok MPK, MKK, MKB, MPB dan MBB.

c. Peningkatan potensi akademik (pembekalan) mahasiswa, yakni mata kuliah-mata kuliah yang tercakup di dalamnya akan dijadwalkan pada semester akhir mahasiswa, setelah mata kuliah-mata kuliah pokok yang ditawarkan oleh prodi atau jurusan, baik yang tergolong ke dalam kelompok MPK, MKK, MKB, MPB maupun MBB, diselesaikan.

3. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Penyelesaian studi tepat waktu di kalangan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia (STAIINDO) Jakarta merupakan prestasi tersendiri di samping IPK yang dicapainya. Prestasi tersebut disebabkan oleh adanya dua faktor: internal dan external. Faktor internal artinya faktor yang ada dalam diri mahasiswa itu sendiri, yaitu kemampuan intelektual atau potensi akademik yang dimilikinya. Faktor external artinya faktor yang bersumber dari institusi pendidikan, yaitu fasilitas-fasilitas pendidikan yang tersedia untuk mahasiswa. Salah satu di antara fasilitas tersebut adalah Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta. Dalam studi ini, hanya Pusat Matrikulasi yang menjadi fokus bahasan. Ia dijadikan sebagai dasar kajian dalam merumuskan masalah penelitian. Atas dasar itu dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:

a. Sejauh mana Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta memberi pengaruh terhadap penyelesaian studi tepat waktu di kalangan mahasiswa?

b. Sejauh mana program-program matrikulasi STAIINDO Jakarta dapat meningkatkan kualitas dan prestasi akademik mahasiswa? c. Program matrikulasi manakah yang paling menunjang

(35)

d. Adakah perbedaan diantara ketiga program matrikulasi STAIINDO Jakarta tersebut dalam peningkatan kualitas dan prestasi akademik mahasiswa?

4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sejalan dengan permasalahan di atas, tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penyelesaian studi tepat waktu serta prestasi akademik yang dicapai oleh mahasiswa. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai:

a. Peran Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta dalam penyelesaian studi tepat waktu di kalangan mahasiswa.

b. Peran program-program matrikulasi STAIINDO Jakarta dalam peningkatan kualitas dan prestasi akademik mahasiswa.

c. Program matrikulasi STAIINDO Jakarta yang paling menunjang penyelesaian studi mahasiswa tepat pada waktunya.

d. Perbedaan program-program matrikulasi STAIINDO Jakarta dalam peningkatan kualitas dan potensi akademik mahasiswa. Hasil studi ini diharapkan mempunyai manfaat, baik bagi para mahasiswa maupun bagi pimpinan STAIINDO Jakarta dalam menentukan kebijakan pelaksanaan pendidikan di STAIINDO Jakarta. Kebijakan tersebut terutama dalam:

a. Pilihan program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa,

b. Pelayanan akademik serta administrative bagi para mahasiswa, c. Fasilitas belajar yang harus disediakan untuk para mahasiswa, dan d. Bantuan belajar seperti penasihat akademik, bimbingan skripsi,

dan lain-lain.

Sedangkan bagi para mahasiswa, hasil studi ini diharapkan menjadi bahan dalam meningkatkan usahanya menuju penyelesaian studi tepat waktu dengan prestasi akademik yang membanggakan.

(36)

5. Tinjauan Pustaka (kerangka berpikir/landasan teori)

Menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang mahasiswa apabila mampu menyelesaikan studinya tepat waktu, yaitu empat tahun, terlebih lagi apabila penyelesaian tersebut diraihnya dengan prestasi yang gemilang (cum laude). Kemampuan mahasiswa, yang melingkupi minat, sikap, motivasi dan keterampilan, sudah barang tentu tidak dapat berdiri dengan sendirinya. Artinya, ada faktor-faktor penentu yang mendorong atau berdiri di balik keberhasilan tersebut, misalnya fasilitas-fasilitas pendidikan yang tersedia dan diprogram khusus untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam mengembangkan mutu dan kualitas pendidikannya.

Untuk kepentingan penelitian ini, faktor fasilitas pendidikan yang akan menjadi pembahasan adalah Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta yang terfokus kepada 3 program: (1) Penguatan Ilmu-ilmu Alat, (2) Pengembangan Kejuruan, dan (3) tahsin al-Qur’an wa al-‘ibadah. Jadi faktor, penguatan ilmu-ilmu alat, pengembangan kejuruan dan tahsin al-Qur’an wa al-ibadah merupakan variable-variabel yang dominan terhadap penyelesaian studi tepat waktu dan pencapaian prestasi akademik para mahasiswa.

Berikut ini dikemukakan pandangan para ahli mengenai kedua faktor tersebut di atas:

a. Benyamin Bloom mengemukakan adanya 3 variabel utama dalam teori belajar, yaitu: (1) karakteristik individu, (2) kualitas pengajaran, dan (3) hasil belajar.3

b. Carol menunjukkan bahwa ada 5 faktor yang menentukan keberhasilan belajar, yaitu: (1) bakat, (2) waktu yang tersedia, (3) waktu yang dibutuhkan, (4) kualitas pengajaran, dan (5) kemampuan individu.4

c. Richard Clark menunjukkan bahwa prestasi belajar ditentukan oleh kemampuan individu dan lingkungan pendidikan.5

3 Benyamin Bloom, Human Characteristics and School learning, (New York: McGraw Hill Book Company, 1976), 21.

4 Gene Lucas at al., Exploring Teaching Alternatives, (Mineapolis: Bergers Publishers Company, 1977), 16.

5 Richard Clark, Calvin Bovy, Cognitive Prescriptive Theory and Psychoeducational Design, (California: University of California, 1981), 12.

(37)

Penelusuran dan telaah pustaka atas Matrikulasi secara khusus dan intensif belum memungkinkan, mengingat keterbatasan literatur yang tersedia. Akan tetapi, hasil survey menunjukkan adanya agregasi perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi-perguruan tinggi pavorit, untuk menubuhkan badan Matrikulasi. Dan bahkan badan tersebut ada yang dikelola secara terpisah dari induknya, seperti Pusat Matrikulasi International Islamic Universit Malaysia. Hal ini membuktikan pentingnya badan tersebut dalam meningkatkan kualitas dan prestasi akademik mahasiswa.

Lebih lanjut, tulisan saudara Baharuddin mengenai hal tersebut pada Raker STAIINDO Jakarta tahun 2011, khususnya program-program Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta, kiranya dapat membantu. Dalam tulisan tersebut, Baharuddin membagi program matrikulasi ke dalam tiga kelompok kluster, yaitu:

1) Kluster Bahasa. Kluster ini terdiri dari mata kuliah bahasa Inggris dan Bahasa Arab yang pelaksanaannya masing-masing didesign secara berperingkat, yaitu (1), elementaray class (ibtida’i), (2) intermediary (sanawi), dan (3) advance (‘ali).

2) Kluster Studi Islam. kluster ini terdiri dari mata-kuliah-mata kuliah pilihan khusus, diantranya:

a. Agama Islam (religion of Islam), b. Islamisasi Ilmu

c. Filsafat Ilmu dan Logika (mantiq), d. Teknik Penulisan Karya Ilmiah,

e. Metodologi Penelitian (research methodology), f. Tafsir-hadis Pendidikan,

g. Tafsir-hadis Ahkam

h. Tafsir-hadis Komunikasi dan Da’wah. i. Tafsir-hadis Ekonomi Islam

3) Kluster Pemantapan dan Pembekalan. Kluster ini terdiri dari mata kuliah-mata kuliah tambahan, di antaranya:

a. Tahsin al-Qur’an b. Tahsin al-Ibadah c. Al-Akhlaq wa al-Adab. d. Tradisi Sunni

(38)

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari design Program matrikulasi STAINDO Jakarta ini, tak lain dan tak bukan, adalah peningkatan kualitas dan prestasi akademik. Dengan kemampuan bahasa (MK bahasa Inggris dan Arab) yang dimiliki, seorang mahasiswa akan dapat menelusuri dan menelaah karya-karya dan khazanah ilmu langsung kepada sumber aslinya; dan dengan data ( MK tafsir-hadis) yang telah diperoleh dalam telaah tersebut ia akan dapat menyusunnya dalam bentuk sebuah karya ilmiah (MK teknik penulisan dan metodologi penelitian) dengan pendekatan yang sistematik, argumentatif dan saintifik (MK Filsafat Ilmu dan Logika); dan karya ilmiah yang dihasilkan tersebut sarat dengan nilai-nilai ajaran Islam dan keilmuan Islam (MK Agama Islam dan Islamisasi Ilmu). Mahasiswa yang telah berhasil dalam “gemblengan” dengan berbagai ilmu yang sifatnya konseptual, juga dibekali dengan ilmu-ilmu terapan yang aplikatif, sehingga diharapkan akan kembali ke tengah-tengah masyarakat untuk sebuah pengabdian kepada masyarakat (MK Tahsin al-Qur’an, Tahsin al-‘Ibadah, serta Akhlaq wa al-Adab dan Tradisi Sunni).6

Di samping itu, badan-badan yang memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan badan matrikulasi dapat menjadi galian dan sumber informasi, seperti Lembaga Bahasa, Lembaga I’dadi (kelas persiapan prakuliah) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyaraakt (LP2M)yang ada di setiap lingkungan institusi pendidikan tinggi.

Dari pendapat-pendapat di atas, cukup kuat untuk diterima bahwa keberhasilan dalam proses belajar (lulus tepat waktu dan IPK tinggi) sangat erat kaitannya dengan faktor eksternal yaitu lingkungan pendidikan yang dalam hal ini Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta. Faktor eksternal tersebut memberi pengaruh dan dorongan yang kuat terhadap faktor internal, yaitu kemampuan dan bakat yang dapat diukur melalui motivasi belajar yang ditunjukkan oleh mahasiswa selama studi di STAIINDO Jakarta.

(39)

Dengan demikian, maka kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Atas dasar kerangka berpikir di atas diturunkan hipotesis sebagai berikut:

Terdapat hubungan antara Program Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta dengan Prestasi Akhir Mahasiswa

6. Metodologi penelitian

Penelitian ini mengungkapkan hubungan dua variable, yaitu variable prestasi akhir mahasiswa yang menyelesaikan studi secara tepat waktu dan variable yang diduga berpengaruh terhadap prestasi tersebut, yaitu fasilitas pendidikan yang dalam hal ini Pusat Matrikulasi. Pusat Matrikulasi ditempatkan sebagai variable bebas, sedangkan prestasi akademik mahasiswa ditempatkan sebagai variable terikat. Variable Pusat Matrikulasi meliputi program-program yang dijalankan oleh matrikulasi, sedangkan prestasi akademik akhir adalah IPK yang diraihnya selama studi di STAIINDO Jakarta yang dinyatakan dalam transkrip akademiknya. Mengingat variable tersebut telah terjadi sebelumnya tanpa melakukan perlakuan dari peneliti, maka dalam studi ini digunakan metode ex post facto dengan desain faktoria 1x1 seperti yang tampak dalam bagan berikut.

Desaign penelitian faktorial 1x1

Kemampuan dan Motivasi belajar di STAIINDO Jakarta Keberhasilan studi di STAIINDO Jakarta Prestasi akhir (IPK) Peningkatan kualitas Program Matrikulasi STAIINDO Jakarta:

1. Kluster bahsa Inggris dan Arab, 2. Kluster Studi Islam, dan 3. Kluster Pemantapan dan Pembekalan

Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta Prestasi akhir (IPK)

Sarjananya Y

Faktor yang berpengaruh Var. bebas

(40)

Dalam penelitian ini digunakan dua macam instrument, yakni kuesioner dan studi dokumenter. Kuestioner digunakan untuk mengungkapkan variable bebas khususnya program-program matrikulasi yang memberi pengaruh kuat terhadap kemajuan-kemajuan akademik yang dicapai oleh mahasiswa yang bersangkutan selama studi di STAIINDO Jakarta. Sedangkan studi dokumenter digunakan untuk memperoleh data mengenai IPK yang diraihnya selama studi di STAIINDO Jakarta. Data mengenai prestasi mahasiswa tersebut dapat diperoleh di BAAK STAIINDO Jakarta.

Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa yang telah lulus sarjana (alumni) STAIINDO Jakarta tahun 2012, khususnya bagi mahasiswa yang telah mengecap pendidikan atau program-program yang ditawarkan Pusat Matrikulasi STAIINDO Jakarta minimal selama 2 tahun sebelum tahun kelulusannya.

Pengolahan dan analisis data menggunakan teknik statistic, baik statistic deskriptif maupun statistik analitik. Statistik deskriptif digunakan untuk mendiskripsikan variable penelitian dalam bentuk persen, rata-rata, simpangan baku, bagan, grafik, dan lain-lain. Sedangkan statistik analitik digunakan untuk menguji hipotesis. Ada 2 teknik yang digunakan, yakni teknik korelasi untuk menguji hipotesis pertama, dan teknik anova untuk menguji hipotesis kedua. Semua pengujian menggunakan taraf nyata 0,05.

1. Jadwal waktu penelitian

Kegiatan penelitian Bulan ke

1 2 3 4 5

1. Persiapan penelitian (menyusun proposal, instrument, uji coba instrument, sampling, perizinan, latihan petugas dll.)

2. Pengumpulan data di lapangan 3. Pengolahan dan analisis data

4. Penulisan hasil penelitian termasuk diskusi-diskusi

(41)

Penelitian akan dilaksanakan selama lima bulan terhitung sejak ditanda-tanganinya jadwal waktu yang telah dibuat secara tentatif seperti di bawah ini:

Catatan: dalam hal tertentu waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk jadwal kegiatan

Referensi

Dokumen terkait

Bagian akhir karya ilmiah terdiri dari daftar pustaka, yang daftar referensinya memakai spasi tunggal dan idensi gantung (jarak antara referensi dengan spasi

Adapun tujuan mata kuliah karya tulis ilmiah adalah agar mahasiswa jurusan analis kesehatan memiliki kemampuan untuk menyusun proposal sesuai dengan kompetensi

• Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang..

Penyusunan kerangka konseptual didapatkan dari hasil sintesis dari proses berpikir deduktif (aplikasi teori) dan induktif (fakta yang ada, empiris), kemudian dengan

Memuat tentang semua sumber kepustakaan yang dipergunakan untuk keperluan penelitian. Pada halaman ini perlu dituliskan sumber tersebut dengan maksud aga para pembaca dapat

Penalaran induktif adalah suatu proses atau aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membuat suatu pernyataan yang bersifat umum (general)

Induktif & Deduktif pada Matematika • Di dalam matematika, proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan dikenal dengan istilah penalaran induktif • Teori, dalil, atau suatu

Lampiran 12: Contoh Persetujuan Ujian Kualifikasi Hasil Skripsi PERSETUJUAN UJIAN KUALIFIKASI HASIL SKRIPSI Dewan pembimbing penulisan skripsi Saudari Sri Wardiana Said, NIM: