KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayahNya sehingga modul pelatihan Sistem Informasi Geografis (SIG) Tahun 2016 yang dapat dimanfaatkan berbagai bidang profesi yang membutuhkan informasi geospasial seperti bidang pertanian, perkebunan, kehutanan dan laninnya selesai disusun. Shalawat dan Salam kepada Nabi Muhammad SAW atas teladan ahlak dan semangat dalam pengembangan ilmu pengetahuan kepada ummatnya.
Kegiatan ini secara nyata akan menambah kapasitas pengetahuan dan keterampilan aparat dinas-dinas terkait, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang menuntut kerja aparat pemerintahan yang mampu dan terampil di bidangnya. SIG merupakan alat bantu dalam mengelola data baik spasial maupun non spasial dan saat ini telah menjadi standar bagi pengelolaan data terpadu. Sebagai alat bantu, perkembangan SIG berjalan sangat cepat mengikuti perkembangan sistem pengelolaan data dan perkembangan perangkat keras pengolah data. Pelatihan ini memberikan kesempatan kepada para peserta dari berbagai bidang SKPD terkait untuk mengembangkan diri dengan mengikuti perkembangan keilmuan dan zaman yang cepat.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dekan Fakultas Teknologi Pertanian serta Ibu Ketua Prodi Teknik Pertanian Universitas Andalas atas kepercayaannya kepada kami dalam memberikan pelatihan dan kami berharap semoga dapat bermanfaat bagi siapa saja khususnya aparat Pemerintah di lingkup sektor pertanian atau yang terkait. Pelatihan ini didasarkan pada pengalaman pelaksanaan LP2B dimana perlu adanya keterampilan SIG pada staf di instansi pemerintahan khususnya dinas pertanian dan perkebunan.
Padang 14 Maret 2016
Unit Penelitian Paten Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas
Dr. Ir. Eri Gas Ekaputra,MS NIP 196212051993021001
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I. SISTEM DAN KONSEP SIG ... 1
1.1 Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 1
1.2 ArcGIS ESRI... 2
BAB II. PETA DAN DATA SPASIAL ... 6
2.1 Peta ... 6
2.1.1 Unsur – Unsur Peta ... 6
2.1.2 Jenis – Jenis Peta ... 8
2.2 Data Spasial ... 10
2.2.1 Format Data Spasial ... 10
2.2.2 Sumber Data Spasial... 12
2.2.3 Struktur Data Spasial ... 14
2.3 Sistem Proyeksi ... 15
BAB III. PENGENALAN ARCCATALOG DAN ARCMAP ... 18
3.1 ArcCatalog ... 18
3.1.1 Membuat Folder Connection ... 19
3.1.2 Membuat Shapefile ... 19
3.1.3 Mengganti Nama Shapefile ... 21
3.1.4 Merancang Geodatabase ... 22
3.1.5 Mengimport Data ke dalam Geodatabase ... 30
3.2 ArcMap ... 31
3.2.1 Bagian – Bagian ArcMAP ... 32
3.2.2 Memanggil Data ... 37
3.2.3 Bekerja dengan Table of Contents ... 38
3.2.4 Membuat Bookmarks... 43
BAB IV. GEOREFERENCING PADA ARCMAP ... 45
4.1 Pengerian Georeferencing ... 45
4.2 Georeferencing Toolbar ... 46
4.2.1 Georeferencing Items ... 46
4.2.2 Interactive Georeferencing Tools ... 47
4.2.4 Membuat Georeferen Berdasarkan Data GCP ... 51
BAB V. MEMBUAT DAN MERUBAH DATA SPASIAL ... 53
5.1 Digitasi Peta ... 53
5.1.1 Persiapan Digitasi ... 54
5.1.2 Digitasi Poligon ... 55
5.1.3 Mendigitasi dengan Autocomplete Polygon ... 57
5.1.4 Merubah Fitur Vertex ... 57
5.2 Input dari Data X dan Y ... 57
5.3 Input Data GPS ... 58
5.4 Merubah Data Spasial ... 59
5.4.1 Merubah Data Spasial ... 59
5.4.2 Editing Data Attribute ... 59
5.4.3 Delete Field ... 62
BAB VI. GEOPROCESSING PADA ARCMAP ... 63
6.1 Buffer ... 63 6.2 Clip ... 65 6.3 Intersect ... 67 6.4 Split ... 69 6.5 Union ... 71 6.6 Merge ... 73 6.7 Dissolve ... 75
BAB VII. TABEL DAN QUERY ... 78
7.1 Mengidentifikasi Feature ... 78
7.2 Mencari Feature Tertentu ... 79
7.3 Menambah Data ... 80
7.4 Select by Attribute ... 80
7.5 Calculate Geometry ... 82
7.6 Field Calculator. ... 83
7.7 Membuat Objek Grafik ... 84
BAB VIII.SPATIAL ANALYST (ArcToolbox) ... 86
8.1 Membuat Kontur ... 86
8.2 Pembuatan Daerah Aliran Sungai (DAS) ... 87
8.2.3 Compute Flow Direction ... 90
8.2.4 Compute Flow Accumulation... 90
8.2.5 Stream Order ... 92
8.2.6 Konversi data Stream to Feature ... 93
8.2.7 Batas DAS ... 93
8.2.8 Watershed ... 94
BAB IX. LAYOUT ... 96
9.1 Mengatur halaman layout ... 97
9.2 Proses Layout ... 99
9.2.1 Membuat Judul Peta ... 99
9.2.2 Membuat Text di Peta ... 99
9.2.3 Membuat Skala Peta ...100
9.2.4 Membuat Legenda ...101
9.2.5 Membuat Penunjuk Arah...103
9.2.6 Membuat Grid Koordinat ...103
9.2.7 Membuat Peta index...106
9.2.8 Menyimpan Peta ...106
BAB I.
SISTEM DAN KONSEP SIG
1.1 Sistem Informasi Geografis (SIG)Sistem informasi geografis / Geographic Information System (SIG/GIS) merupakan sebuah sistem atau teknologi berbasis komputer yang dibangun dengan tujuan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengolah dan menganalisis, serta menyajikan data dan informasi dari suatu objek atau fenomena yang berkaitan dengan letak atau keberadaannya di permukaan bumi (Ekadinata et al, 2008).
Aziz dan Pujiono (2006) menyatakan Sistem Informasi Geografis atau yang biasa disingkat dengan SIG ini juga digunakan sebagai alat untuk mengolah pemetaan lahan dan menganalisis segala kejadian yang ada dipermukaan bumi secara terkomputerisasi, kemudian mengintegrasikannya kedalam operasi basis data dan analisis statistik serta memadukannya dengan analisis geografis secara unik melalui pemetaan atau menggunakan peta.
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya (Hartoto G. M. E, et al, 2010).
Pada dasarnya SIG merupakan proses penggambaran kondisi real di permukaan bumi dengan tujuan untuk pengolahan data sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil sesuai dengan yang diinginkan. Keluaran dari proses tersebut dapat berupa peta 2 dimenasi, 3 dimensi, model, gambaran permukaan bumi 3 dimensi serta foto.
Sistem Informasi Geografis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem manual (analog), dan sistem otomatis (yang berbasis digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem Informasi Geografis manual biasanya menggabungkan beberapa data seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara, laporan statistik dan laporan survei lapangan. Kesemua data tersebut dikompilasi dan dianalisis secara manual dengan alat tanpa komputer. Sistem Informasi Geografis otomatis telah menggunakan
digital dapat berupa citra satelit atau foto udara digital serta foto udara yang terdigitasi.
Pada pengelolaan SIG perlu adanya sofware dalam memproses data spasial yang didapatkan, banyak sofware yang telah dikembangkan dalam pengelolaan SIG baik dan open sources maupun yang berbayar diantaranya : MapWindows, MapInfo, Global Mapper, ERDAS, ArcGIS, dll.
1.2 ArcGIS ESRI
ArcGIS merupakan salah satu software yang dikeluarkan oleh ESRI untuk pengelolaan data spasial baik untuk 2 dimensi dan 3 dimensi. ArcGIS menyediakan aplikasi yang dapat disesuaiakn dengan kebutuhan, pengembangan dalam penyempurnaan sofware terus dilakukan sehingga aplikasi ini menjadi lebih efektif dan efisien dalam memproses data. Pengaplikasiannya dapat diimplementasikan secara single user, maupun multi user hal ini sesuai dengan proyek yang akan dilakukan.
ArcGIS 10.x merupakan kumpulan produk - produk perangkat lunak SIG yang dapat digunakan untuk membangun suatu aplikasi SIG yang lengkap. ArcGIS 10.x terdiri dari empat kerangka utama:
a. ArcGIS Desktop : Merupakan integrasi dari sederetan aplikasi aplikasi SIG yang terdiri dari tiga produk perangkat lunak utama yang dibedakan menurut level kemampuannya: ArcView®, ArcEditorTM, dan ArcInfo®.
b. Server GIS : Merupakan kumpulan aplikasi ArcGIS yang berbasiskan server yang digunakan untuk membangun suatu sistem lintas departemen yang terintegrasi untuk koleksi, organisasi, visualisasi, pengelolaan, serta pendistribusian informasi geografis. Aplikasi ArcGIS berbasis server terdiri dari tiga produk: ArcIMS, ArcGIS Server, dan ArcGIS Image Server.
c. ESRI Developer Network (EDNSM) : Merupakan perangkat lunak yang menyediakan sistem yang lengkap untuk membangun aplikasi menggunakan ArcGIS. Inti dari pada EDN Developer Kit adalah ArcObjects, yaitu suatu library dari berbagai komponen-komponen perangkat lunak yang dapat digunakan untuk membangun suatu aplikasi.
d. Mobile GIS : Merupakan aplikasi ArcGIS yang difokuskan untuk keperluan mobile
ArcGIS Desktop merupakan platform dasar yang dapat digunakan untuk mengelola suatu proyek dan alur kerja SIG yang komplek serta dapat digunakan untuk membangun data, peta, model, serta aplikasi. ArcGIS Desktop memiliki tiga aplikasi yang dapat digunakan untuk pemetaan dan visualisasi yakni.
a. ArcMap : Aplikasi utama yang dapat digunakan pada ArcGIS Desktop untuk pemetaan, editing, analisis, dan manajemen data spasial. ArcMap digunakan untuk pemetaan dan visualisasi secara 2 dimensi.
b. ArcGlobe : Aplikasi yang digunakan untuk visualisasi 3 dimensi dari penggunaan data informasi geografis. Aplikasi ini di desain untuk pengolahan dengan menggunakan datasets yang besar dan pada tingkatan level detail yang tinggi. ArcGlobe tercakup dalam ekstensi ArcGIS 3D Analyst.
c. ArcScene : Aplikasi yang juga digunakan untuk visualisasi 3D, namun difokuskan pada area. Pada ArcScene kita dapat menampilkan permukaan bumi secara 3 Dimensi sehingga kita dapat melakukan navigasi, perancangan pada areal yang diinginkan. ArcScene juga tercakup dalam ekstensi ArcGIS 3D Analyst.
Sedangkan aplikasi lainnya yang berfungsi untuk mendukung ArcGIS yakni ArcCatalog dan ArcToolbox, dengan rincian sebagai berikut :
a. ArcCatalog : merupakan aplikasi yang berfungsi untuk mengatur dan mengelola berbagai macam data spasial yang digunakan pada pekerjaan SIG. Fungsi dari ArcCatalog berupa mencari data, mengorganisir, mendistribusikan, dan mendokumentasikan data-data SIG.
b. ArcToolBox : merupakan kumpulan fungsi-fungsi dan dan aplikasi yang menjadi tool / perangkat dalam melakukan berbagai macam analisis spasial.
ArcMap / Aplikasi ArcGIS yang digunakan yakni ArcGIS 10.x. Pada penggunaannya dalam kegiatan / projek, hampir setiap proyek terkait pekerjaan yang berhubungan dengan keruangan selalu menggunakan data spasial, seperti
perencanaan jalan, perencanaan tata ruang wilayah, pencetakan lahan sawah baru, perencanaan perkebunan, pemukiman / trasnmigrasi, pengelolaan sumber daya air, pemetaan potensi wilayah, dll. Tentunya harus didasarkan pada pemahaman terhadap SIG itu sendiri dan ditindaklanjuti dalam pengusaan software SIG khususnya ArcGIS, sehingga bahan ini hanya menjabarkan mengenai AcrMAP secara rinci.
BAB II. PETA DAN DATA SPASIAL
2.1 PetaPeta adalah gambaran/proyeksi dari sebagian permukaan bumi pada bidang datar atau kertas dengan skala tertentu dan juga dilengkapi simbol sebagai penjelas. Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal 2005). Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan pada tingkatan pembangunan.
Dewasa ini sudah dikenal adanya peta digital (Digital Map), yaitu peta yang berupa gambaran permukaan bumi yang diolah dengan bantuan media komputer. Biasanya peta digital ini dibuat dengan menggunakan software GIS (Geography
Information System). Ilmu yang mempelajari tentang peta dan pemetaan disebut
dengan kartografi dan orang yang ahli dalam bidang peta dan pemetaan disebut kartograf. Syarat yang haarus dimiliki oleh sebuah peta yakni :
a. Conform : bentuk peta yang di gambar harus sebangun dengan keadaan sebenarnya di lapangan.
b. Equidistance : jarak di peta dikalikan skalanya harus sama dengan jarak sebenarnya di lapangan.
c. Equivalent : daerah atau bidang yang digambar di peta setelah diperhitungkan dengan skalanya harus sama dengan keadaan sebenarnya.
2.1.1 Unsur – Unsur Peta
Pada pembuatan dan informasi peta, terdapat unsur-unsur atau komponen yang harus ada pada sebuah peta diantaranya :
a. Judul Peta: Memuat informasi maksud dan tujuan peta serta lokasi Misalnya : Peta Lereng Kecamatan Ampek Angkek.
b. Skala Peta: perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Skala pada peta dapat disajikan dengan angka atau grafik. Misalkan skala Peta 1 : 2500 Artinya 1 cm di kertas = 2500 cm di lapangan atau 1 cm = 25 m.
c. Tanda Orientasi / Mata Angin : Peta harus digambar dengan mempertimbangkan arah mata angin, tanda ini perlu diperhatikan untuk menghindari kekeliruan. Pada umumnya ketika peta dibaca, maka pembaca peta akan merasa seolah-olah dalam posisi berdiri menghadap ke arah Utara. Jadi arah mata angin di gambar peta adalah
sbb: Utara ada di bagian ATAS, Timur ada di bagian KANAN, Selatan ada di bagian BAWAH sedang Barat ada di bagian KIRI.
d. Legenda/Keterangan: Menerangkan simbol-simbol yang ada di dalam peta baik kenampakan alami atau buatan, agar pembaca lebih mudah memahami isi peta. Simbol – simbol disajikan sebagai bentuk/gambar, warna dll.
e. Garis Astronomi : Garis astronomi adalah khayal yang menggambarkan koordinat / lokasi dari peta. Garis astronomi ini terdiri dari garis lintang dan bujur. Garis astronomi mencerminkan letak absolut suatu tempat baik berupa sistem degree (derajat, menit, detik) atau UTM.
f. Insert : merupakan sebuah penjelasan daerah pada peta berupa peta kecil yang terdapat pada peta utama. Biasanya merupakan penggambaran
a
b
c
d
e
f
g
h
PETA
kawasan lebih luas dari peta yang digambarkan, sehingga pembaca dapat memahami lokasi dari peta tersebut.
g. Sumber Data dan Tahun : Sumber peta memberikan kepastian kepada pembaca bahwa data dan informasi yang disajikan dalam peta tersebut adalah benar – benar absah (akurat). Serta tahun pembuatan mengetahui kapan data tersebut diperoleh.
h. Pembuat Peta : Pembuat peta menginformasikan pembuat peta tersebut, baik berupa instansi, perorangan, dan perusahaan.
2.1.2 Jenis – Jenis Peta
Berdasarkan bentuk dari peta, peta dapat digolongkan berdasarkan tiga jenis yaitu:
a. Peta Timbul : peta jenis ini menggambarkan bentuk permukaan bumi yang sebenarnya, misalnya peta relief.
b. Peta Datar (peta biasa) : peta umumnya yang dibuat pada bidang datar, misalnya kertas, kain atau kanvas.
c. Peta Digital : peta digital adalah peta yang datanya terdapat pada suatu pita magnetik atau disket, sedangkan pengolahan dan penyajian datanya menggunakan komputer. Peta digital dapat ditayangkan melalui monitor komputer atau layar televisi. Peta digital ini hadir seiring perkembangan teknologi komputer dan perlatan digital lainnya.
Berdasarkan maksud dan tujuan pembuatan peta, maka data dan informasi yang ada di dalam peta dikelompokkan menjadi dua, yakni peta umum dan khusus (tematik) :
a. Peta Umum : merupakan peta yang menggambarkan permukaan bumi secara umum. Peta umum ini memuat semua penampakan yang terdapat di suatu daerah, baik kenampakan fisis (alam) maupun kenampakan sosial budaya. Kenampakan fisis misalnya sungai, gunung, laut, danau dan lainnya. Kenampakan sosial budaya misalnya jalan raya, jalan kereta api, pemukiman kota dan lainnya. Disebut peta umum karena peta ini bersifat umum sehingga dapat digunakan untuk umum dengan berbagi macam tujuan. Unsur-unsur yang disajikan tidak hanya satu atau dua jenis saja tetapi peta menyajikan semua unsur di muka bumi ini dengan
memperhitungkan skala yang umumnya sangat terbatas. Jenis – jenis peta umum yakni :
- Peta Topografi : merupakan peta yang menggambarkan bentuk relief (tinggi rendahnya permukaan bumi. Dalam peta topografi digunakan garis kontur (countur line) yaitu garis khayal yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama.
- Peta chartography (kartografi) : Merupakan peta yang menggambarkan sebagian permukaan bumi. misalnya peta yang hanya menggambarkan benua atau setengah bola bumi
- Peta Chorografi : Peta chorografi adalah peta yang menggambarkan seluruh atau sebagian permukaan bumi dengan skala yang lebih kecil antara 1 : 250.000 sampai 1:1.000.000 atau lebih. Peta chorografi menggambarkan daerah yang luas, misalnya propinsi, negara, benua bahkan dunia. Dalam peta chorografi digambarkan semua kenampakan yang ada pada suatu wilayah di antaranya pegunungan, gunung, sungai, danau, jalan raya, jalan kereta api, batas wilayah, kota, garis pantai, rawa dan lain-lain. Atlas adalah kumpulan dari peta chorografi yang dibuat dalam berbagai tata warna.
- Peta Indonesia : Peta ini menggambarkan wilayah Indonesia secara keseluruhan
- Peta dunia : Peta ini merupakan peta yang menggambarkan seluruh bagian permukaan bola bumi.
b. Peta Tematik : merupakan peta yang hanya menggambarkan satu atau dua kenampakan pada permukaan bumi yang ingin ditampilkan di peta yang menyajikan unsur/tema tertentu pada permukaan bumi sesuai dengan keperluan penggunaan peta tersebut. Data tematik yang disajikan dapat dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Contoh peta yang digolongkan sebagai peta tematik:
- Peta diagram : pada peta ini subyek tematik yang berelasi disajikan dalam bentuk diagram yang proporsional.
- Peta distribusi : pada peta ini menggunakan simbol titik untuk menyajikan suatu informasi yang spesifik dan memiliki kuantitas yang pasti.
- Peta isoline : pada peta ini menyajikan harga numerik untuk distribusi yang continue dalam bentuk garis yang terhubung pada suatu nilai yang sama.
Peta juga dibedakan berdasarkan skala peta itu sendiri. Berdasarkan skalanya peta dibagi menjadi 4 yakni :
a. Peta kadaster : yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 100 sampai dengan 1 : 5.000. Contoh: Peta hak milik tanah.
b. Peta skala besar : yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 5.000 sampai dengan 1: 250.000. Contoh: Peta topografi
c. Peta skala sedang : yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 250.000 sampai dengan 1 : 500.000. Contoh: Peta kabupaten per provinsi.
d. Peta skala kecil : yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 500.000 sampai dengan 1 : 1.000.000. Contoh: Peta Provinsi di Indonesia.
e. Peta geografi : yaitu peta yang memiliki skala lebih kecil dari 1 : 1.000.000. Contoh: Peta Indonesia dan peta dunia.
2.2 Data Spasial
Data spasial merupakan data keruangan yang berorientasi geografis, yakni memiliki koordinat tertentu sebagai dasar referensi, dan memiliki informasi keruangannya. Dua bagian penting yang membuat data spasial berbeda dari data lainnya yakni adanya informasi lokasi (spasial) dan Adanya informasi deskriptif (attribute).
a. Informasi lokasi (spasial): berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi.
b. Informasi deskriptif (atribut) : atau informasi non spasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya, contohnya : jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.
2.2.1 Format Data Spasial
Terdapat dua format dalam data spasial, yaitu format data raster dan format data vektor.
(x,y) untuk membangun objek spasialnya. Objek yang dibangun terbagi menjadi tiga bagian lagi yaitu berupa titik (point), garis (line) dan area (polygon) (Puntodewo et al., 2003).
(a) Data vektor titik merepresentasikan objek spasial yang tidak memiliki dimensi panjang/luas. Fitur spasial direpresentasikan dalam satu pasangan koordinat x,y. Contohnya stasiun curah hujan, titik ketinggian, observasi lapangan, titik-titik sampel, titik ground check point (GCP), titik koordinat lokasi, atau titik Branch mark; (b) Data garis merepresentasikan objek yang memiliki dimensi panjang namun tidak mempunyai dimensi area, misalnya jaringan jalan, pola aliran, garis kontur, data traking, sungai; Sedangkan (c) Data poligon merepresentasikan fitur spasial yang memiliki area (luas), contohnya adalah unit administrasi, unit tanah, zona penggunaan lahan, areal sawah, batas daerah, dan hamparan lahan.
Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basisdata batas-batas daerah.
b. Data Raster : Model data raster mempunyai struktur data yang tersusun dalam bentuk matriks atau piksel dian membentuk grid. Setiap piksel memiliki nilai tertentu dan memiliki atribut tersendiri, termasuk nilai koordinat yang unik. Tingkat keakurasian model ini sangat tergantung pada ukuran piksel atau biasa disebut dengan resolusi. Model data ini biasanya digunakan dalam remote sensing yang berbasiskan citra satelit maupun
airborne (pesawat terbang). Selain itu model ini digunakan pula dalam
Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya. Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya dan sangat tergantung pada kapasistas perangkat keras yang tersedia.
2.2.2 Sumber Data Spasial
Berdasarkan kedua jenis data diatas, sumber data spasial tersebut pada dasarnya didapatkan dari beberapa sumber antara lain :
a. Peta Analog (peta topografi, peta tanah, administrasi dan sebagainya) : yaitu peta dalam bentuk cetak. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya. Jika dijadikan input dalam pengolahan peta maka peta analog merupakan data raster, sehingga perlu dilakukan penyesuaian koordinat agar dapat dilakukan pengolahan sesuai dengan kebutuhan. Dalam tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dapat dikonversi menjadi peta digital dengan cara format
raster diubah menjadi format vektor melalui proses digitasi sehingga dapat
menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.
b. Data Sistem Penginderaan Jauh (citra satelit, foto-udara dan sebagainya) : merupakan sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala dan mencakup area tertentu. Dengan adanya bermacam-macam imagery satellite (citra satelit) kita dapat memperoleh gambaran permukaan bumi sesuai dengan skala dan kebutuhan data yang kita inginkan. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster. Salah satu kemajuan teknologi yakni adanya foto udara dengan menggunakan
drone. Jika dijadikan input dalam pengolahan peta maka data ini perlu
dilakukan penyesuaian koordinat agar dapat dilakukan pengolahan sesuai dengan kebutuhan.
c. Data Hasil Pengukuran Lapangan, data ini dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri, pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut, contohnya pengukuran dengan menggunakan total station, dengan mengetahui titik BMnya.
d. Data GPS (Global Positioning System) Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.
e. Data Tabular, Data tabular berupa informasi tabel dapat dijadikan input data pada SIG, seperti data tabel X,Y,Z dapat dijadikan informasi ketinggian tempat, selanjutnya data produksi pertanian pada satu areal kawasan dapat dijadikan data spasial.
2.2.3 Struktur Data Spasial
Struktur data yang digunakan dalam ArcGis perlu diketahui terlebih dahulu, agar tidak terjadi kesalahan baik dalam pembuatan, pemindahan, dan penghapusan data.
d. Project, merupakan rangkaian keseluruhan kegiatan dalam SIG, mulai dari proses input, proses, hingga layout. Pada ArcGIS file project disimpan dalam
e. Shapefile, merupakan komponen penyimpanan data vektor, dan file
shapefile terdiri dari beberapa kumpulan file yang terdiri dari **.shp
(penyimpanan informasi vektor geometris); **.shx (Shape index, penyimpanan indeks dari vektor geometris yang ada pada shp; **.dbf (menyimpan file berisikan informasi/data-data dalam bentuk tabular dari masing-masing shape dalam bentuk dBase III); terkadang terdapat file tambahan yakni **.prj (menyimpan informasi sistem koordinat dan proyeksi yang digunakan); **.sbn & **.sbx (spasial index dari masing-masing features.
f. Data Raster, memiliki format yang berbeda dari data vektor. Seperti **.tif, **.DEM, dll.
g. Data Geodatabase, merupakan sekumpulan data database relasional yang mencakup informasi geografis. Geodatabase memuat kelas/golongan
feature dan table. Kelas – kelas feature dapat diorganisasikan ke dalam set
data feature. Personal Geodatabase dapat dibuat untuk menyimpan serta mengolah data spasial. Memiliki format **.gdb.
2.3 Sistem Proyeksi
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di atas maupun di bawah permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara matematis). Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya (bumi), karena itu diperlukan penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.
Pada kenyataannya bumi berbentuk seperti bola (3 dimensi) dengan permukaan yang tidak beraturan. Untuk dapat menggambarkan keseluruhan permukaan bumi pada sebidang kertas (2D) maka kita memerlukan suatu upaya transformasi dari bentuk 3D ke bentuk 2D. Agar keseluruhan permukaan bumi dapat tergambar dengan proporsional maka diperlukan suatu perhitungan matematis yang tepat. Perhitungan itulah yang kemudian lebih dikenal dengan proyeksi, sistem koordinat serta datum. secara umum, terdapat 2 jenis sistem koordinat yang sering digunakan, yakni:
a. Sistem Lintang – Bujur (Latitude – Longitude) Pada sistem koordinat ini, bumi dibagi menjadi 360 bagian, tiap bagian bernilai 1o, dan titik nol derajat
juga merupakan garis bujur 0o yang membagi dua wilayah. Di atas khatulistiwa
sebagai wilayah utara dan dibawah khatulistiwa sebagai wilayah selatan. Dalam aplikasinya wilayah selatan akan diberi simbol (-) minus, sedangkan (+) untuk wilayah utara.
b. UTM (Universal Transver Mercator) Untuk UTM, bumi kemudian dibagi kedalam beberapa zona, antara 01 s/d 60 dengan satuan meter. Pada sistem koordinat bumi akan dibagi menjadi dua bagian, di atas khatulistiwa sebagai bagian utara dengan simbol (N) serta dibagian selatan khatulistiwa di beri simbol (S). Proyeksi UTM dibuat oleh US Army sekitar tahun 1940-an. Sejak saat itu proyeksi ini menjadi standar untuk pemetaan topografi. Wilayah Indonesia (90° – 144° BT dan 11° LS – 6° LU) terbagi dalam 9 zone UTM. Artinya, wilayah Indonesia dimulai dari zone 46 sampai zone 54 (meridian sentral 93° – 141° BT).
BAB III. PENGENALAN ARCCATALOG DAN ARCMAP
3.1 ArcCatalogArcCatalog adalah salah satu program dari ArcGIS yang bisa digunakan antara lain untuk menelusuri atau mencari data (browsing), mengorganisir (organizing), mendistribusikan (distributing) dan mendokumentasikan (documenting) suatu struktur data dalam ArcGIS. Untuk memulai ArcCatalog dapat dilakukan dengan mengklik Start All Programs ArcGIS ArcCatalog. Atau bisa pada ArcMap dengan mengklik ikon . Menu dan ikon yang ada pada ArcCatalog sangat sederhana dan tidak jauh berbeda dengan Windows Explorer.
Tampilan ArcCatalog terdiri atas 3 komponen utama, yaitu :
1. Menu Bar, dimana terdapat berbagai macam fungsi menu dan icon-icon yang cukup membantu dalam hal mengatur ataupun mengelola file-file peta.
2. Catalog Tree, merupakan kolom yang menampilkan cabang-cabang direktori, ataupun koneksi database dan server yang ada di sebuah computer.
3. Layar Tampilan, kolom ini juga terbagi tiga, yaitu Content untuk menampilkan
file-file yang ada dalam suatu directory; Preview untuk menampilkan
Catalog Tree
Menu Bar
gambar peta dari file tersebut; serta Description untuk menggambarkan informasi dari file.
3.1.1 Membuat Folder Connection
Untuk memudahkan dalam menjalankan dan membuka file di ArcMap, maka perlu dilakukan koneksi pada folder data (Folder Connection). Folder
Connection sama halnya dengan shortcut agar Pengguna dapat mengakses data
dengan mudah. Cara untuk mengakses data dalam ArcCatalog adalah sebagai berikut:
a. Kllik File Connect to Folder Atau langsung dengan mengklik ikon
b. Selanjutnya carilah lokasi folder yang akan di akses, Pada kesempatan kali ini (Pelatihan GIS 2016)
c. Selanjutnya akan didapatkan katalog yang menunjukkan turunan dari data tersebut dan dapat langsung digunakan.
3.1.2 Membuat Shapefile
Pada Latihan ini dibuat shape file yang akan kita gunakan pada pertemuan berikutnya. Diantarnya shapefile “sawah” berupa poligon, shape file “jaringan
jalan” berupa line, dan “Kelompok Tani” berupa titik. Adapun langkah yang akan dilakukan Yakni :
a. Klik lokasi folder dari shapefile pada Catalog Window. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat shapefile, salah satunya dengan mengklik kanan folder tersebut lalu New Shapefile..; Cara lainnya klik kanan pada tampilan Konten New Shapefile
b. Lalu akan muncul kotak dialog “Creat New Shapefile” Ganti Nama shapefile nya menjadi “sawah” (sesuai dengan keinginan). Selanjutnya pilih Features Type sesuai dengan jenis shape file.
c. Tentukan sistem koordinat yang akan dipakai dengan menekan ikon Edit..., sehingga akan muncul kotak dialog Spatial Reference Properties untuk menentukan sitem koordinat yang akan digunakan.
d. Pilihannya ada dua yakni Geographic Coordinate Sytems dan Projected Coordinate System.
e. Pada dikarenakan kawasan sumatera barat umumnya di zona 47S, maka dipilih Projected Coordinate System UTM WGS 1984 Southern Hemisphere WGS 1984 UTM Zones 47S, dan klik add.
f. Setelah kembali ke Spatial Reference Properties klik OK
g. Kita telah berhasil membuat data shapefile baru. Selanjutnya dibuat shapefile “jaringan_jalan” dan “Kelompok_Tani”
3.1.3 Mengganti Nama Shapefile
Jika ingin mengganti nama shapefile pada windows explorer, maka harus dilakukan dengan merubah keseluruhan file shapefile (.shp, .shx, .dbf, dll). Namun pada ArcCatalog dapat dilakukan dengan me-rename nama shapefile secara langsung. Adapun tahapannya yakni :
a. Buka folder tempat penyimpanan shapefile pada ArcCatalog.
b. Setelah menemukan shapefilenya, klik kanan pada shapefile tersebut lalu pilih Rename. Maka dengan demikian shapefile tersebut telah berubah
3.1.4 Merancang Geodatabase
Geodatabase merupakan database relasional yang mencakup informasi
geografis. Geodatabase memuat kelas kelas/golongan feature dan table. Kelas kelas feature dapat diorganisasikan ke dalam set data feature. Personal
Geodatabase dapat dibuat untuk menyimpan serta mengolah data spasial, di
dalam Personal Geodatabase terdapat :
a. Feature Dataset : Feature datasets dapat dibuat di dalam personal
geodatabase maupun ArcSDE geodatabase. Feature datasets berisi feature classes yang memiliki tingkatan serta sistem koordinat yang sama
b. Feature Class : Feature Class dapat menyimpan representasi kenampakan geografis seperti titik, garis, poligon, anotasi, data atribut serta banyak lagi. c. Table : Tabel berisi elemen-elemen data penyusun yang terletak di dalam
baris dan kolom. Tiap baris menyajikan data tunggal, record, atau feature, dan tiap kolom menyajikan field tunggal atau nilai atribut. Table dapat memuat atribut yang dapat digabungkan dalam datasets untuk penambahan informasi tentang data geografis.
d. Raster Catalog : Raster Catalog merupakan kumpulan dari raster datasets yang diorganisasikan dalam tabel. Record dalam table mendefinisikan
dataset raster tunggal yang tercakup dalam catalog. Namun ada kalanya
diperlukan atau diinginkan untuk menampilkan dataset raster yang bersinggungan atau saling overlap tanpa harus membuat mosaic yang berukuran besar. Catalog raster dirancang untuk menghindari pembuatan
mosaic.
e. Raster Dataset : Kumpulan dari satu atau lebih band dalam suatu data
raster
Adapun langkah dalam membangun Personal Geodatabase dapat dilakukan dengan tahapan – tahapan sebagai berikut :
a. Buka ArcCatalog
b. Klik pada katalog tree lokasi folder dari personal geodatabase.
c. Klik File New Personal Geodatabase atau dapat juga dengan klik kanan pada folder lokasi penyimpanan New Personal Geodatabase.
d. Setelah Personal Geodatabase anda terbentuk maka rubahlah namanya menjadi “SUMBAR” maka secara otomatis diikuti dengan .mdb. nantinya
Geodatabase ini berisikan Feature dataset “Data Dasar”, “Data Proses”, dan
“Data_Raster”
e. Selanjutnya kita membuat Features dataset yang merupakan kumpulan data yang memiliki suatu sitem koordinat yang sama, dengan cara klik kanan pada Personal Geodatabase (SUMBAR) New Feature Dataset.
f. Setelah itu maka akan muncul dialog New Feature Dataset yang akan anda buat dengan mengetik nama dari Feature tersebut lalu Next.
g. Selanjutnya anda harus mengisi sistem koordinat untuk data yang anda buat yakni Projected Coordinate System UTM WGS 1984 Southern Hemisphere WGS 1984 UTM Zones 47S lalu klik Next.
h. Selanjutnya diharuskan mengisi Vertical Coordinate Systems dimana ini merupakan data ketinggian tempat. Pada Pelatihan kali ini digunakan World WGS 1984, lalu klik Next, maka akan terlihat XY Tolerance, yakni toleransi ketika mengevaluasi hubungan setiap features.
i. Lalu Klik Finish. Setelah semua pengaturan selesai maka Feature Dataset telah dapat digunakan.
Untuk membuat geodatabase raster catalog dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a. Raster Catalog merupakan kumpulan data raster yang memiliki suatu sistem koordinat yang sama, dengan cara klik kanan pada Personal
Geodatabase (SUMBAR) New Raster Catalog. Selanjutnya akan tampil
jendela Create Raster Catalog.
b. Tamplate Raster Catalog dapat diisi jika kita memiliki tamplate yang telah ada untuk raster catalog. Isikan nama dari raster catalog sesuai dengan yang diinginkan (tidak boleh spasi). Pada latihan ini diisikan “Data_Raster”.
c. Untuk Coordinate System for Raster Column dan Coordinate System for Geometry Column diisikan dengan sistem koordinat yang akan digunakan
pada latihan ini digunakan WGS_1984_UTM_Zone_47S. Lalu Klik OK. Jika sukses ini ditandai adanya informasi di kanan bawah pada jendela windows.
Setelah Feature Dataset dan Raster Catalog selesai, maka langkah selanjutnya membuat Feature Class pada Feature Dataset. Feature Class ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil digitasi berupa data vektor yang akan kita lakukan. Adapun langkah-langkah dalam pembuatan Feature Class yakni :
b. Setelah itu akan muncul dialog seperti di bawah ini, Isilah data shapefile yang diinginkan kemudian pilih Next. Pada latihan kali ini dilakukan dengan membuat beberapa feature class yakni “Sawah”, “Kecamatan”, dan “Jalan”. Data ini diperlukan nantinya untuk proses Digitasi
c. Ada beberapa pilihan pada Type of Feature yang disimpan pada featur class yakni poligon, line, poin, Multipoint, dll. Selanjutnya klik Next.
d. Jika menginginkan Field tambahan ketik field yang diinginkan dan tipe data yang akan diisikan. Lalu klik Finish.
Kita juga dapat menambahkan kolom yang berisi informasi pada saat membuat Feature Class maupun pada saat anda melakukan editing data setelah melakukan digitasi. Selanjutnya kita juga dapat merencanakan isi masing-masing field. Perencanaan ini terdapat dua macam yaitu isi tersebut dapat digunakan oleh beberapa feature atau hanya dapat digunakan oleh feature saja. a. Isi field hanya dapat digunakan oleh satu feature.
- Klik kanan pada Feature Class (Sawah) kemudian pilih Property - Masuk ke dalam Tab Subtypes
Subtypes ini hanya digunakan untuk memberikan diskripsi pada field yang
mempunyai tipe numerik, dimana nilai numerik tersebut didefinisikan menjadi keterangan.
b. Isi field dapat digunakan oleh beberapa feature dalam satu personal
geodatabase. Pada tab Subtypes klik tool Domains..
- Klik kanan pada personal geodatabase anda (SUMBAR) kemudian pilih Property
- Buat kolom sesuai yang diinginkan, kemudian atur property kolomnya serta isikan rancangan isi kolom yang akan dibuat
- Setelah table domain selesai dibuat maka langkah selanjutnya adalah menghubungkan table domain dengan table dari feature class (Sawah) yang telah dibuat
- Buka property dari feature class (sawah) dengan cara klik kanan feature
class (Sawah) anda kemudian pilih property
- Masuk pada tab Fields
- Kemudian pilih field Sawah dan atur domainnya
Catalog Tree
Property
Nilai dari kolom yang direncanakan
3.1.5 Mengimport Data ke dalam Geodatabase
Jika ingin mengimport data yang telah ada dalm format .shp ke dalam
geodatabase, maka dapat dilakukan dengan langkah berikut.
c. Klik kanan pada Feature Dataset Import Feature Class (Single)..
d. Ketika tampil Window Import, isikan input Features “Peta_admin_Sumbar.shp”, dan Output Feature Class Sesuai dengan yang direncanakan. Pada latihan ini namanya “Admin_Sumbar”, Lalu klik OK.
3.2 ArcMap
Pada pelatihan kali ini Struktur data yang digunakan seperti pada gambar dibawah ini :
Pada pelatihan GIS ini file “DATA” tersimpan ke dalam tiga buah folder yakni : - Data Tabulasi : Folder ini berisi data-data tabel baik dalam format excel,
word ataupun pdf.
- Raster : Folder ini memuat data-data raster yang digunakan selama pelatihan.
- Vektor : Folder ini memuat beberapa contoh data vektor baik titik, garis maupun polygon.
ArcMap sangat membantu kita dalam melakukan eksplorasi data geografis untuk pemetaan, editing, analisis, dan manajemen data spasial, dan membuat berbagai macam jenis atau tema peta untuk ditampilkan. Untuk dapat menjalankan ArcMap dapat dilakukan sesuai tahapan berikut :
1. Start Programs ArcGIS ArcMap 10.x - Klik icon Start pada Windows taskbar - Pilih All Programs
- Pilih ArcGIS
- Pilih icon ArcMap 10.x
2. Cara lainnya klik shortcut ArcMap 10.x
3. Selanjutnya akan terlihat kotak dialog starup yang akan memberikan pilihan dalam memulai Projek. Ada dua pilihan yakni membuka projek yang telah ada (Existing Maps) atau mebuka Projek baru (New Maps).
4. Pilih New Maps –My Tempaltes untuk memulai projek baru.
3.2.1 Bagian – Bagian ArcMAP
Tampilan utama software ini cukup sederhana, yang hanya terbagi beberapa komponen/Bagian, Adapun bagian-bagian dalam ArcMAP yang harus diketahui terlebih dahulu seperti yang terlihat pada gambar berikut :
Main Menu Attributes (opsional) ArcToolBox (opsional) Table of Contents ArcCatalog (opsional) Serch (opsional) Sistem Koordinat Layout View Data View
List data yang ada pada DataFrame Toolbar
DATA
FRAME
/ MAP
AREA
a. Main Menu : Sekumpulan menu /perintah berbasis teks untuk tugas tertentu. menu bar pada dasarnya hampir sama dengan menu bar umumnya. Pada ArcMap standar menu bar memiliki pilihan File, Edit, Bookmarks, Insert, Selection, Geoprocessing, Customize, Windows dan Help.
b. Toolbar : Sekumpulan perintah berbasis teks/ikon/tombol untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Pada ArcMap tool-tool yang ada dikelompokkan ke dalam group-group Toolbar seperti terlihat pada gambar berikut.
Adapun Toolbar yang umum digunakan yakni :
- Standard Toolbar; Standard Toolbar merupak toolbar standar dalam penggunaan ArcGis dan penggunaan aplikasi lainnya. Penjelasan ikon/button pada standard toolbar dapat dijelaskan pada tabel berikut : dari kiri ke kanan yakni :
Button Nama Fungsi
New Project Memulai sebuah projek baru pada halaman ArcMap
Save Project Menyimpan projek yang sedang berjalan Print Memprint halaman projek
Cut Meng-cut suatu feature atau data dari satu layer
Copy Meng-Copy suatu feature atau data dari satu layer
Paste Meng-Paste suatu feature atau data yang telah di copy atau cut sebelumnya dari suatu layer
Undo & Redo
Kembali pada keadaan sebelumnya/maju pada kondisi sebelumnya
Add Data Menambah data pada layer Editor
Toolbar
Menampilkan toolbar editor Table of
Contents
Menampilkan Table of Contents ArcCatalog Menampilkan ArcCatalog
Search Menampilkan Search windows ArcToolBox Menampilkan ArcToolBox Python
encripsi
Menampilkan Python encripsi Model Menampilkan Model
- Tools Toolbar; Toolbar Tools merupakan salah satu bagian utama dalam interaksi informasi gegrafis pada data frame. Tool ini digunakan untuk explorasi dan navigasi Data Frame .
Button Nama Fungsi
Zoom In
Memperbesar sekali tampilan objek pada Data Frame dengan menempatkan posisi kursor sebagai titik sentral, atau dengan cara diklik dan ditahan sambil mebuat segi empat.
Zoom Out
Memperkecil sekali tampilan objek pada Data Frame dengan menempatkan posisi kursor sebagai titik sentral, atau dengan cara diklik dan ditahan sambil mebuat segi empat.
Pan
Menggeser halaman Data Frame, dengan menklik kiri dan menggeser pointer kearah yang diinginkan
Full Extent Melihat keseluruhan data spasial yang aktif Fixed Zoom
In
Memperbesar sekali tampilan objek pada pusat Data Frame
Fixed Zoom Out
Memperkecil sekali tampilan objek pada pusat Data Frame
Back Untuk kembali pada tampilan sebelumnya Forward Untuk kembali kedepan pada tampilan
selanjutnya Select
Features
Memilih features, dengan cara mengklik atau memblok features. Terdapat opsi pilihan yakni memilih poligon, secara lasso, melingkar, dan garis..
Clear Selection
Mebatalkan seluruh pemilihan features pada data frame yang aktif.
Select Elements
Dapat digunakan untuk memilih, merubah ukuran, dan menggeser tulisan, grafik, dan setiap objek yang ada pada map.
dengan posisi mengklik.
Hyperlink Membuat hyperlink dari features. HTML
Pop-up Membuat jendela Pop-up HTML dari featur Measure pengukuran jarak dan area pada map Find Mencari informasi yang terdapat pada suatu
Features pada map
Find Route Memungkinkan kita untuk menghitung rute titik ke titik dan menentukan arah jalan. Go To XY
Location
memungkinkan kita untuk mengetik suatu lokasi X,Y, dan menunjukkannya.
c. Table of Contents (TOC) merupakan daftar isi, list atau layer yang digunakan dalam projek dan ditampilkan pada Map area jika diaktifkan. TOC dapat berisi bermacam-macam format data (shapefile, geodatabase, Tif, TIN, tabel dbf, txt, image, dll).
Model list pada TOC ada 4 jenis yakni List By Drawing Order; List By Source; List By Visibility; List By Selection, dan yang biasanya digunakan untuk kemudahan dalam pengaturan layer adalah List By Drawing Order. d. ArcToolBox; merupakan kumpulan fungsi-fungsi dan dan aplikasi yang
menjadi tool / perangkat dalam melakukan berbagai macam analisis spasial.
Layer
Mode List
Check list (tampilan aktif/tidak aktif pada Map Area
Features
Tampilan Data Frame (Map area) baru, yang berbeda dengan Data Frame layer
e. Data View; Tampilan data berupa tampilan utuh keseluruhan Map Area, tanpa dibatasi ukuran kertas.
f. Layout View; Tampilan yang akan terlihat pada saat pembuatan layout peta, atau dibatasi ukuran bidang kerja (kertas).
g. Data Frame/Map Area, merupakan bidang kerja pengerjaan ArcMAp h. Attributes; Toolbar ini merupakan optional dan akan bekerja pada saat
start editing, dimana akan menampilkan informasi dari data yang kita select.
i. ArcCatalog; merupkana salah satu program ArcGis yang digunakan untuk menelusuri, mengorganisir, mendistribusikan, dan mendokumentasikan suatu struktur data dalam ArcGis.
j. Search; toolbar yang akan membantu mencari informasi seputar ArcGIS dan Data.
k. Sistem koordinat; akan menampilkan sistem koordinat yang digunakan.
3.2.2 Memanggil Data
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menampilkan data spasial, dapat dilakukan dengan cara mendrag (klik kiri lalu tahan dan bawa ke halaman Map Area / Data Frame. Namun cara lainnya dan standar yakni dengan mengklik Add Data , kemudian akan muncul Add Data Windows sebagai berikut :
Jika lokasi file telah dikoneksikan melalui ArcCatalog, maka akan langsung terlihat pada Folder Connection, namun jika belum maka dapat dilakukan dengan mengklik ikon Connect to Folder , dan pilih folder lokasi file. Setelah
3.2.3 Bekerja dengan Table of Contents
Pada dasarnya penguasaan pada pengolahan data di TOC menjadikan bekerja dengan ArcMap lebih mudah dan interaktif. Adapun hal – hal yang perlu menjadi perhatian diantaranya :
a. Mengganti Nama Layer ; Klik kanan pada Layers, Pilih Properties Tab General, Ganti nama Layernya, selanjutnya juga diisikan Display dari sistem koordinat, mulai dari Decimal Degrees hingga UTM.
b. Membuat Koordinat Sistem Layer ; Klik kananpada layer, Pilih Properties Tab Coordinate System, lalu pilih Projected Coordinate Systems UTM WGS 1984 Southern Hemisphere WGS 1984 UTM Zone 47 S.
c. Penyusunan Layer ; Posisi dari data di TOC menentukan tampilan pada Map Area, sehingga penyusunan data di TOC memungkinkan untuk menampilkan data sesuai dengan yang diinginkan
d. Menhapus Salah layer/Data, hal ini dilakukan dengan klik kanan pada
layer yang akan dihapus lalu pilih Remove.
e. Pengaktifan Layer ; jika ingin mengktifkan dan menonaktifkan layer yakni dengan mencentang layer tersebut.
f. Merubah Warna Peta ; perubahan warna peta dapat dilakukan dengan cara :
- Klik kanan dengan pada layer yang akan diganti warna featurenya, lalu pilih Property.
- Pilih tab Symbology, pada bagian Show ada pilihan Features, Categories, Quantities, Charts, dan Multiple Attributes.
- Untuk pemberian warna berdasarkan kategori nama attribut maka dipilih opsi Categories, maka akan ditampilkan layer properties sebagai berikut :
- Value Field dipilih sesuai dengan dasar pembagian warna pada peta, Color Ramp merupakan pilihan warna yang akan ditampilkan secara otomatis, dan untuk menampilkan keseluruhan feature maka pilih ikon Add All Values.
- Jika ingin merubah warna persegmen value maka tinggal klik dua kali warna yang ingin digantikan. Maka akan timbul window Symbol Selector
g. Menambah Data Frame, Data Frame pada ArcMap dapat ditambahkan, biasanya untuk pembuatan index peta. Artinya ada dua Map Area/Data
Frame pada tampilan Layout yang akan terlihat. Namun pada tampilan Data View hanya akan terlihat Data Frame yang aktif saja. Adapun langkah untuk
menambah Data Frame Yakni :
- Pilih menu Insert Data Frame lalu akan di peroleh dua data Frame yang pertama Layer dan New Data Frame,
- Jika ingin kembali pada Data Frame layer maka klik kanan pada Layer dan pilih Activate.
h. Menampilkan label, untuk menampilkan label di Map Area ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan yakni :
- Klik kanan pada layer yang akan ditampilkan labelnya
- Pilih Label Features, maka akan keluar nama dari field yang ditunjuk. - Sedangkan untuk merubah informasi yang akan ditampilkan maka klik
kanan layer pilih Properties.. Tab Labels. Pilih label field yang akan ditampilkan dan setingan lainnya.
i. Attribute Table, Menampilkan informasi peta dapat dilihat pada Attribut peta dengan cara klik kanan dan pilih Open Attribute Table, maka akan terlihat Table Windows.
Terdapat beberapa pilihan yakni : Table Options, Related Tables, Select By Attributes, Switch Selection, Clear Selection, Zoom to Selected, Delet Selected.
3.2.4 Membuat Bookmarks
Bookmark merupakan salah satu teknik navigasi di ArcMap, yang berfungsi untuk menhyimpan informasi tampilan zoom dan pan pada suatu kondisi tertentu, sehingga kita dengan mudah dapat menampilkannya kondisi tersebut kembali. Pada saat digitasi Bookmarks dapat membantu dalam mempermudah tampilan dan menjaga tingkat ditail dari gambar. Adapun langkahnya sebagai berikut :
j. Posisiskan tampilan view sesuai dengan yang diinginkan, dan skala yang diinginkan sehingga tampak tingkat ditail dari gambar, lalu klik Menu Bookmarks Create.
k. Tulikan nama Bookmarks sesuai keinginan
m. Untuk menghapus dan mengelola Bookmarks dapat dilakukan dengan Menu Bookmarks manage...
BAB IV. GEOREFERENCING PADA ARCMAP
4.1 Pengerian GeoreferencingGeoreferencing merupakan proses memberikan referensi spasial tertentu pada
objek berupa raster atau image yang belum mempunyai acuan sistem koordinat. Transformasi koordinat pada data raster dari yang sebelumnya berupa koordinat
digitizer atau scanner ke koordinat real-world. Data raster yang diperoleh dari scanning peta, foto udara dan citra satelit biasanya belum berisikan informasi yang
menunjukkan referensi spasial, baik yang tersimpan di dalam file raster sendiri atau yang disimpan sebagai suatu file yang terpisah. Sehingga data raster tidak akan terlihat pada Map Area, kecuali jika dipilih Zoom to Layer. Georeferencing berdasarkan pada perbandingan koordinat sumber peta raster dan titik tujuan, atau disebut titik kontrol (titik ikat), dalam unsur grafis disebut Displacement Links. Kita dapat membuat link secara interaktif atau mengambil link dari text file atau control points
file. Secara matematis proses transformasi pada georeferencing dapat ditulis sebagai
berikut :
y x T Y XProses georeferencing juga disebut koreksi geometri sehingga jika kita melakukan Geometrik terhadap citra maka kita melakukan korelasi antara koordinat suatu objek (x,y) pada citra dengan koordinat (X,Y) pada permukaan bumi. Koreksi geometrik diperlukan untuk menghilangkan distorsi geometrik pada citra dan juga untuk mendapatkan hubungan antara sistem koordinat citra
(X, Y)
proses mentransformasi koordinat titik-titik pada citra yang masih mengandung kesalahan geometrik menjadi citra yang benar.
Untuk keperluan rektifikasi citra satelit, dibutuhkan beberapa koordinat titik kontrol lapangan sebagai bagian dari titik sekutu. Koordinat titik kontrol lapangan ini dapat diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan dengan GPS atau interpolasi dari peta dasar yang sudah ada.
.
4.2 Georeferencing Toolbar
Sebelum melakukan proses Georeferensing maka terlebih dahulu dikenal tool / ikon yang akan digunakan. Adapun fungsi-fungsi icon pada toolbar Georeferencing adalah sebagai berikut :
4.2.1 Georeferencing Items
Pada saat memilih Georeferencing maka akan ada list item kebawah yang merupakan proses georeferencing. Adapun menu tersebut dijelaskan sebagai berikut :
Item Fungsi
Update
Georeferencing
Menyimpan transformasi koordinat yang telah dibuat pada raster
Rectify Membuat transformasi dataset raster yang Fit To Display Menampilkan raster sesuai Map
Update Display Menyimpan tampilan sesuai dengan perubahan hal ini sangat berguna pada saat auto adjust dinon aktifkan Auto Adjust Update display dengan setiap link yang dibuat
Flip or Rotate Mengoreksi distorsi scanning secara umum Transformation Sets transformasi
Delete Control
Points Menghapus seluruh titik kontrol (titik ikat) Reset
Transformation
Reset data raster kembali pada kondisi asli (mula-mula), namun titik kontrol tidak dihapus dari list titik kontrol
Options Membuka jendela Option Georeferencing
4.2.2 Interactive Georeferencing Tools
Toolbar ini memiliki beberapa ikon / tool interaktif untuk mengendalikan proses georeferencing secara grafis adapun ikon/buton tersebut yakni :
Ikon Nama Fungasi
Add Control Points
Membuat titik kontrol (titik ikat) pada data raster
Auto
Registration
Secara otomatis membuat link untuk raster terhadap raster sasaran. Sumber raster harus berada di lokasi geografis yang relatif dekat agar registrasi koordinat dapat bekerja.
Select Link Memilih dan menyoroti link dalam layar Zoom To
Selected Link Memperbesar satu kali link yang dipilih Delete Link Menghapus link yang dipilih
Viewer
Membuka jendela Viewer yang hanya
menampilkan data raster yang akan dilakukan Georeferencing. Jendela ini akan
memungkinkan Anda untuk memproses georeference raster menggunakan dua jendela View Link
Table
Menampilkan link dan error dalam bentuk tabular
Rotate
Memutar layer sumber, dapat dilakukan secara manual, atau dengan mengetik derajatnya di Measurement Text Box Shift
Menggeser layer, dapat dilakukan secara manual, atau dengan mengetik nilai X,Y di Measurement Text Box
Scale
Merubah ukuran layer, dapat dilakukan secara manual, atau dengan mengetik nilai skala X,Y di Measurement Text Box
Measurement Text Box
Mengetik derajat putar pada rotation, nilai X,Y untuk pergeseran dan nilai faktor skala untuk rescale
4.2.3 Menambahkan Gambar dan Membuat Georeferennya
Pada latihan ini akan ditampilkan gambar peta kedalam ArcMap, namun peta tersebut belum memiliki sistem koordinat. Gambar yang akan di tampilkan yakni “Sawah Dharmasraya” yang berada pada Folder DATA RASTER Sawah Dharmasraya. Jpg. Adapun tahapan yang dilakukan yakni :
a. Klik Add Data untuk mendapatkan file raster, lalu pilih raster yang akan digunakan (Sawah Dharmasraya).
b. Akan terlihat dialog konfirmasi pembuatan pyramid yang merupakan konsep pembacaan gambar, untuk mempercepat tampilan data raster. Untuk kali ini pilih Yes.
c. Sealanjutnya akan terlihat dialog peringatan, bahwa gambar tidak memiliki informasi geografis. Klik OK.
d. Selanjutnya gambar akan ditambahkan pada TOC, untuk melihat gambar tersebut dapat dilakukan dengan menzoom layar (klik kanan “sawah Dharmasraya” pilih Zoom to Layer). Hal ini dikarenakan antara layer
vektor dan raster memiliki sistem proyeksi yang berbeda.
e. Jika gambar memiliki sitem koordinat yang terlihat dengan jelas, maka koreksi geometrik dapat dilakukan dengan mengisi sumbu X dan Y pada titik kontrol, namun jika tidak maka disesuaikan dengan kondisi alam pada raster dengan data shapefile. Pada kesempatan ini kita akan menyesuaikan dengan kondisi peta shapefile.
f. Pilih ikon Add Control Point Tentukan bagian pada gambar yang akan dijadikan titik kontrol baik berupa sudut / tanda alam yang nantinya dapat terlihat pada peta shapefile dengan memperbesar bagian terlebih dahulu. Lalu klik kiri. Lalu perbesar layer shapefile yang akan diambil referensinya (Dharmasraya) dengan cara klik kanan Zoom to Layer.
g. Lalu klik kiri pada bagian yang hampir sama lokasi/tanda alamnya.
h. Lakukan hal yang sama sebanyak 3 – 4 kali. Diusahakan lokasi titik kontrol saling berjauhan, misal titik 1 sudut kanan bawah dan titik 2 di sudut kiri atas.
i. Setelah selesai akan terlihat titik kontrol yang telah dibuat, jika sudah pas maka dapt dilakukan Update Georeferencing. Selesai.
4.2.4 Membuat Georeferen Berdasarkan Data GCP
Pada latihan ini akan ditampilkan gambar Drone dari PS TEP. Dan akan dijadikan data spasial berbasis koordinat. Adapun langkah yang dapat dilakukan yakni :
a. Tambahkan data Foto ke dalam ArcMap dengan cara klik Add Data . Carai File foto udara PS TEP pada Folder Gambar.
b. Lihat tanda alam yang mudah dikenali dan dapatkan titik koordinatnya dengan menggunakan GPS. Pada latihan ini digunakan empat tanda alam , baik simpang, sudut jalan, parkiran, Jembatan dan lainnya.
c. Pilih ikon Add Control Point Tentukan bagian pada gambar yang akan dijadikan titik kontrol. Lalu klik kanan pilih Input X and Y.
d. Ketik koordinat yang telah didapatkan baik dalam desimal degre atau UTM.
BAB V.
MEMBUAT DAN MERUBAH DATA SPASIAL
Beberapa metode dalam inpu data SIG : 1. Manual Digitizing
Yaitu proses input data dilakukan dengan menggunakan bantuan meja
digitizer
2. On Screen Digitizing
Yaitu proses input data dilakukan langsung pada layer monitor. Metode ini banyak dikembangkan karena keterbatasan manual digitizing (harus dengan mengggunakan meja digitizer yang harganya cukup mahal dan tidak semua instansi / kantor memilikinya)
3. Raster to Vektor
Proses ini digunakan untuk mempercepat proses input data dari data raster, namun metode ini memiliki kelemahan semua kenampakan yang ada dijadikan bentuk vector.
4. Live Digitizing
Metode ini dilakukan dengan bantuan alat GPS, dimana pengguna yang sedang survei lapangan dapat secara otomatis merekam rute perjalanan mereka dan menjadikannya data spasial format vektor
5. Cogo
Metode ini merupakan metode input data yang memiliki akurasi sangat baik, dimana pengguna dapat memperoleh posisi, panjang serta luas sesuai dengan pengukuran di lapangan. Metode ini dilakukan dengan cara memasukan nilai-nilai koordinat dari suatu objek sehingga menjadi suatu data spasial
6. Converting Data
Metode ini merupakan pengubahan format data dari format software lain. Misal format *.tab (Map Info) dirubah menjadi format *.shp (ESRI Shapefile)
5.1 Digitasi Peta
secara umum dapat didefinisikan sebagai proses konversi data analog ke dalam format digital. Objek-objek tertentu seperti jalan, rumah, sawah dan lain-lain yang sebelumnya dalam format raster baik dari sebuah citra satelit resolusi tinggi
dapat diubah kedalam format vektor (shapefile) dengan proses digitasi. Adapun Tahapan yang dapat dilakukan yakni :
5.1.1 Persiapan Digitasi
Pada latihan ini data raster yang akan dilakukan Digitasi yakni data raster yang telah dilakukan georeferencing (Sawah Dharmasraya.jpg).
a. Klik Add Data sama dengan tahapan sebelumnya.
b. Tambahkan data shapefile yang telah dibangun pada geodatabase dengan nama “Kecamatan”. Nantinya Shapefile ini berisikan hasil digitasi batas kecamatan Dharmasraya.
c. Aktifkan Toolbar editor dengan cara mengklik icon atau dengan cara klik kanan mouse pada toolsbar kosong dan pilih editor.
d. Selanjutnya select shapefilenya (Kecamatan) lalu klik Editor Start Editing. Atau cara lainnya klik kanan pada shapefile Edit Features Start Editing.
e. Maka akan terlihat Jendela Create Features disebalah kanan Map Area, jika tidak terlihat maka klim ikon pada editor Toolbar.
f. Klik Feature “Dharmasraya” maka Contruction Tools akan aktif.
5.1.2 Digitasi Poligon
Untuk mempermudah digitas banyak cara dalam digitasi, salah satunya dengan membuat batas luar poligon terlebih dahulu baru dipotong sesuai batasan.
a. Untuk memulai digitasi pilih Polygon. Selanjutnya mulai digitasi dengan memperbesar Map Area dengan menggunakan skrol pada mouse.
b. Ikuti garis/batas kecamatan pada gambar dengan klik kiri pada setiap belokan, hingga membentuk poligon secara keseluruhan.
Jika pada saat digitasi terjadi kesalahan maka dapat dilakukan undo untuk satu perintah.
c. Setelah selesai potong poligon sesuai dengan batas kecamatan.
d. untuk memotong poligon dapat dilakukan dengan ikon pada toolbar
editor. Lalu dipotong mengikuti batas kecamatan. Sehingga didapatkan hasil
digitasi sebagai berikut.
e. Nonaktifkan layer raster “Sawah Dharmasraya” maka akan terlihat hasil digitasi kecamatan.
f. Setelah proses digitasi selesai maka klik Editor Stop Editing untuk mengakhiri edit pada features.
5.1.3 Mendigitasi dengan Autocomplete Polygon
Autocomplete Polygon merupakan pilihan dalam Create Features
windows dalam memulai digitasi selain polygon. Item ini berguna untuk
membuat feature baru yang menempel dengan feature yang telah ada (menambah feature).
5.1.4 Merubah Fitur Vertex
Jika terjadi kesalahan dalam membuat vertex, kita bisa membatalkan digitasi dengan kanan dan pilih delete sketch. Sedangkan untuk merubah
vertex-vertex dari satu feature dapat digunakan edit tool . a. Klik dua kali pada poligon yang akan dirubah
b. Semua vertex poligon akan ditampilkan
c. Silahkan lakukan perbaikan sehingga mendekati kondisi peta.
5.2 Input dari Data X dan Y
Pada latihan ini kita akan menjadikan data pada exel yang memiliki koordinat X dan Y menjadi data spasial berupa titik. Adapun langkah yang dilakukan yakni : d. Klik Menu File Add Data Add XY Data...
e. Pada Add XY Data Dialog, klik open dan browse Data\Data Tabulasi\ input XY.xls (harus format .xls), lalu tentukan posisi sheetnya.
f. Selanjutnya tentukan kolok X dan Y
h. Selanjutnya ada peringatan bahwa belum ada Object-ID. Hal ini bisa diabaikan untuk sementara.
i. Hasil ini hanya bersifat sementara (belum jadi shapefile), maka untuk menyimpan layar klik kanan pada layer Sheet1$event dan pilih File Export Data.. Pilih Export : All features dan Output Class Featureset sebagai shapefile dengan folder yang diinginkan.
5.3 Input Data GPS
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memasukkan data GPS ke ArcGis, salah satunya dengan menggunakan aplikasi DNR GPS. DNR GPS dapat secara otomatis menghubungkan komputer dengan GPS Garmin. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
a. Hubungkan GPS Garmin dengan komputer (melalui port USB) b. Buka aplikasi DNR GPS, sehingga muncul DNR GPS windows.