• Tidak ada hasil yang ditemukan

NO. 192, TAHUN VIII, Mei 2010 ISSN: HARGA ECERAN RP Puailiggoubat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NO. 192, TAHUN VIII, Mei 2010 ISSN: HARGA ECERAN RP Puailiggoubat."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

CM YK

www.puailiggoubat.com

(2)

COVER DEPAN: 1 FOTO:IMRAN/PUAILIGGOUBAT

1 DESAIN: SYAFRIL

Uggla

PENERBIT: Yayasan Citra Mandiri PEMIMPIN UMUM: Roberta Sarogdog

PEMIMPIN REDAKSI: Imran Rusli DEWAN REDAKSI: Roberta Sarogdog

Imran Rusli

REDAKTUR: Rus Akbar WARTAWAN DAERAH:

Gerson Merari Saleleubaja (Muara Siberut), Bambang Sagurung (Sikabaluan),

Rapot Pardomuan (Sipora) Supri Lindra (Sikakap),

STAF USAHA: Nikman Sanene’ DISTRIBUTOR DAERAH:

Arsenius Samaloisa (Sioban), Vincensius (Siberut Selatan), Bawer Siribere (Siberut Utara)

ALAMAT REDAKSI DAN USAHA:

Jl. Kampung Nias 1 No. 21, Padang.

Telp (0751) 7877373 - Fax. (0751) 35528 REKENING:

Bank Nagari Cabang Pembantu Niaga, Padang No.2105.0210.0207-1

PENCETAK:

PT Riau Graindo, Pekanbaru

(Isi di luar Tanggung Jawab Percetakan).

Puailiggoubat

Terbit setiap tanggal 1 dan 15

ISSN: 1412-9140

TABLOID ALTERNATIF DWIMINGGUAN

Wartawan Puailiggoubat selalu dilengkapi Kartu Pers dan (sesuai Kode Etik Jurnalistik) tidak dibenarkan menerima

suap (‘amplop’) dari narasumber.

www.puailiggoubat.com

Iginia Rp138ngajuta bulagat SPP

(Simpan Pinjam Perempuan)

PNPM-MP ka rura 2008 tak makalou.

Iginia bulagat situguguruk ka

Sikakap karura 2008 Rp3 miliar,

Rp697 juta bulagat SPP. - 16

Bulagat bantuan rumah ibadah

arabela akean pamarintah ka laggo

Desember 2009 katubut gereja

tapoi tak maeruk arapakai nia. Ka

GKPM Sirilanggai Barat, Desa

Malancan, Siberut Utara pasikat nia

bulagat nene tak amakolou.

Pendeta Urlik Tatubeket masikua

bulagat Rp12ngajuta, 10 ngasak

semen lek abara. - 17

Sanitu lek sia, nene te abela

kangu-ngunra sibara kamanra sibobok ra 2

sai polisi Sektor Muara Siberut,

Ke-camatan Siberut Selatan. Sia nene

tak masiakek uluijet tapoi

masibo-bok rua sia sipusisikola SMP, 30

April silelepa sitai kaluluat. - 20

Dari Redaksi

Mentawai Bersawit Redaksi Bersabit

Mone sawit samba pabrik

masigalai pakkale anan

maririuriu, kateteret Bupati

Kepulauan Mentawai

masibelaake izinnia katubut 5

perusahaan sawit.—3

M

asuknya perusahaan perkebunan kelapa sawit tak urung membuat kami di redaksi sibuk. Bukan apa-apa, isu ini sangat sexy dari kacamata pemberitaan, karena dimensinya luas, ada lingkungan, ada konflik sosial, ada human interest, ada ekonomi, ada politik, ada budaya, lengkap pokoknya.

Bagi redaksi, itu hanya berarti banyak berita dan rata-rata kaya nuansa. Ada tragedi, ada drama, ada ironi, ada kegembiraan, ada kesedihan, ada kebencian, ada kekecewaan, ada harapan dan seterusnya.

Sebagai pers kami berkepentingan dengan segala fakta dan peristiwa yang muncul dalam fenomena dimulainya industri sawit di Mentawai ini. Kami akan memberitakan kesenangan, kegembiraan dan harapan masyarakat saat mendapatkan kebaikan dari sawit; kami juga akan memberitakan kesedihan, kekecewaan atau kesengsaraan masyarakat karena keburukan sawit; kami akan memberitakan konflik masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan perusahaan sawit, masyarakat dengan pemerintah

setempat, perusahaan dengan pemerintah; kami akan

memberitakan dampak sawit terhadap lingkungan, kondisi sosial

ekonomi dan budaya masyarakat; kami akan memberitakan apa saja terkait sawit ini, apa adanya, karena seperti telah terjadi di mana-mana, peristiwa semacam ini kami prediksi juga akan muncul di Mentawai setelah sawit masuk. Wartawan kami akan bekerja menyabit berita tentang sawit dari Mentawai. Apa saja.

Namun sebagai pers yang bertanggungjawab kami juga wajib memberikan informasi sekomprehensif mungkin kepada masyarakat, agar mereka tidak terlena dan memiliki cukup informasi untuk bersikap terhadap perkebunan dan industri pengolahan sawit, karena bagaimanapun pada akhirnya mereka—masyarakat—jugalah yang akan menanggungkan susah senangnya, duka bahagianya, sedih gembiranya bersawit.

Pada Masyarakat selamat bersawit dan untuk kami selamat menyabit, semoga berkah adanya.

Salam

Tolak Sawit

Sawit di Mentawai harus melibatkan masyarakat karena akibat yang di timbulkan banyak sekali mohon ada yang investor, pemerintah, masyarakat, LSM dan lainnya jangan hanya sekelompok orang saya tetap menolak kedatangan investor sawit karena merusak lingkungan mohon anggota DPRD Mentawai mengutamakan kepentingan masyarakat, saya atas nama masyarakat Siberut menolak keras perusahaan

+6281374926618

Ganti Rugi

Program Depsos yaitu Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) dulunya

Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing(PKSMT) sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama yang ekonomi lemah katakanlah miskin, sangat membantu mengurangi beban

masalah tanahnya, kalau ini sudah berjalan pasti rakyat akan sejahtera.

+6281374930508

KecewaPendeta

Saya sangat kecewa dengan pendeta kita (bukan pendeta Rudi saja). Jadi untuk pendeta kita janganlah merusak citra sebagai pendeta malu kita, apa tugas pendeta merusak orang dalam menjalankan tugas? Tahu sajalah pak pendeta. Asal jangan melihat balok yang kecil di mata orang saja, sedangkan balok di mata sendiri tak bisa dilihat.

+6281267069702

pikiran, dulunya tidak punya rumah jadi ada, juga

keterbukaan wawasan karena lingkungannya terasa nyaman, hanya saja ini perlu

digarisbawahi lho,

persoalannya masalah tanah pemukiman itu, kita tahu di Mentawai tidak ada tanah tanpa pemiliknya jadi di sini Dinsos Provinsi mesti koordinasi ke Bupati melalui Dinsos

kabupaten, setidaknya Pemkab Mentawai memberikan pelepas hak kepada tuan tanah, atau lebih dikenal dengan bahasa “ganti rugi” atau dalam bahasa daerah “pangumbek” jadi Depsos RI melalui Dinsos membangun rumah, Pemkab Mentawai menyelesaikan

Mana Berita

Jembatannya?

Mengapa jembatan Sirilanggai tidak dimuat ? Padahal tanggal 30 November sudah timbang terima dengan pemerintah. Namun sampai sekarang belum selesai. Dananya habis. Tapi! Tupai makan kelapa di muat. Saya mohon wartawan Puailiggoubat jangan takut. Kenapa? Banyak berita kami kasih tapi tak dimuat maka kami rasa kesal.

+6281363932355

Terima kasih, sudah Anda baca Edisi 188 hal 20? Dengan Anda di belakang, kami tak pernah takut. Salam.

PRORAKYAT

Puailiggoubat

NO 192, 15 -31 Mei 2010

2

Jika Anda punya unek-unek, kritik, saran, pesan, atau pertanyaan untuk kemajuan Kepulauan Mentawai atau laporan kondisi di

daerah Anda, silakan kirim melalui SMS ke Nomor HP 0813 74 172273 HP 0813 74 172273 HP 0813 74 172273 HP 0813 74 172273 HP 0813 74 172273 dilengkapi nama lengkap dan alamat. Kami harus memuat nomor hp lengkap pengirim

sms sesuai Undang-Undang Pers dan anjuran Dewan Pers. Puailiggobat tidak akan memuat SMS tanpa

(3)

SAWIT BAIK

SAWIT BURUK

Perkebunan sawit dan pabrik pengolahan minyak kelapa

sawit segera menjadi realita di Mentawai, setelah Bupati

Kepulauan Mentawai mengeluarkan Izin Lokasi untuk

5 perusahaan sawit. Izin tersebut mencakup 73,500

hektar lahan di 10 kecamatan, masalahnya sebagian

besar lahan merupakan perkebunan rakyat yang berisi

sagu, coklat, kelapa, cengkeh, nilam, manau, pinang,

durian, langsat, ambacang dan lain-lain.

Bagaimana kesiapan masyarakat menghadapi

kenyataan ini? Berikut laporan wartawan

Puailiggoubat Rapot Pardomuan Simanjuntak,

Supri Lindra, Bambang Sagurung, Gerson

Merari Saleleubaja dan Ferdinan Salamanang

dari Mentawai, dibantu Rus Akbar dan Syafril

Adriansyah di Padang, yang dirangkum dan

dilengkapi oleh Imran Rusli.

R

bulkan gonjang-ganjing yang meski tak terlalu heboh tapi tetap menjadi pikiran. Masyarakat Mentawai yang se-dang terhimpit oleh berbagai kebutuhan seperti biaya hidup sehari-hari, pendi-dikan, kesehatan, dan gaya hidup cen-derung melihat ha-rapan pada

dibuka-nya perkebunan sawit, terutama mereka yang tidak memiliki sumber-sumber ekonomi dan alat-alat produksi seperti kebun coklat, nilam, kelapa, sagu, rotan manau, pompong atau speedboat.

Terutama lagi mereka yang sangat ingin menuntaskan pen-didikan di perguruan tinggi, atau ingin memiliki sepeda motor, televisi, DVD player, HP atau kulkas, pakaian, sepatu dan sandal baru, rokok terkenal dan mungkin juga minuman penopang gengsi di pergaulan, serta sudah sangat terpesona dengan hingar bingar kehidupan di Tanah Tepi.

Begitupula elit masyarakat yang masih bernafsu menambah pundit-pundi kekayaan atau me-miliki ageda politis atau kepen-tingan politik tertentu, mereka sangat mendukung dibukanya

perkebunan sawit skala besar dan berdirinya pabrik-pabrik sawit di Mentawai.

Bagi mereka ke-datangan perusahaan besar yang akan membuka perkebun-an sawit sama dengperkebun-an kedatangan uang ber-karung-karung yang akan membuka akses ke semua keinginan dan kepentingan tadi.

Janji Manis

Apalagi janji yang ditebar perusahaan sawit dan kaki tangan mereka ke tengah-tengah masyarakat sungguh manis. Misalnya janji Direktur PT MGPP (Mentawai Golden Plantation Pratama) dan PT SGPP

(Siberut Golden Plan-tation Pratama), Jamal Rosyidin Hakki dalam sosialisasinya April lalu di Muara Siberut, Kecamatan Siberut Se-latan dan Muara Sika-baluan, Kecamatan Si-berut Utara.

“Perkebunan sawit akan meningkatkan ke-sejahteraan

masyara-kat, banyaknya tenaga kerja akan menggairahkan perekonomian karena menyerap hasil bumi dan jasa warga, warga lokal juga akan diutamakan sebagai tenaga kerja, selain itu retribusi yang dibayarkan

ke Pemkab akan mempercepat laju pembangunan,” katanya.

Koleganya sesama direktur, Andrew Michael Vincent men-janjikan hal senada. “Keuntungan ekonomi yang akan

diterima masyara-kat dengan mene-rima perkebunan kelapa sawit jauh lebih besar diban-ding dampak nega-tifnya ke lingku-ngan,” katanya. “Masyarakat dan da-erah akan kebagi-an,” tegasnya.

D i t a m b a h k a n Vincent, saat pem-bukaan lahan jika

ada tanaman produktif akan di-ganti per batangnya sesuai kese-pakatan dengan masyarakat, kalau harganya tidak cocok, perusahaan akan mengeluarkannya dari areal konsesi.

Soni Anggoro, konsultan AMDAL PT SGPP dan PT MGPP dari PT Alas Kon-sultan Bogor juga ikut menekankan bahwa perkebunan sawit ini akan menguntung-kan masyarakat ke-tika menjawab kece-masan masyarakat Sirilogui akan nasib ternak babi mereka.

“Soal ternak itu sebenarnya peluang karena dengan ada-nya sekitar 3.000 pekerja ada kebutuhan makan yang tidak sedikit, kami bukan Sinterklas tapi ibarat gula yang mengundang semut, masyarakat harus memanfaatkan peluang itu,” encana pembukaan

per-kebunan kelapa sawit di Mentawai telah

menim-3

NO 192, 15 -31 Mei 2010

Puailiggoubat

SAJIAN UTAMA

Tim Puailiggoubat

katanya seperti mewakili pe-rusahaan.

Menyejahterakan Masyarakat

Kurnia Sakerebau, mantan Plt, Sekretariat Daerah Kabupaten Kepu-lauan Mentawai yang menjadi Ketua Tim Sosialisasi AMDAL perkebu-nan sawit kedua perusahaan ini se-cara terang-terang-an mendukung di-bukanya perkebun-an sawit dperkebun-an ren-cana pendirian pa-brik sawit di Men-tawai.

Ia mengatakan perkebunan sawit di Siberut akan memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi kepada masyarakat. “Mari kita dukung pelaksanaan perkebunan ini agar rakyat tambah sejahtera,” katanya.

Pemerintah, katanya, mema-sukkan investor

sa-wit ke Siberut seba-gai tanggung jawab menyejahterakan rakyat. “Saya selama ini berpikir keras bagaimana sawit ini bisa beroperasi di Mentawai agar ke-hidupan ekonomi masyarakat mening-kat,” ujarnya.

Ahmad Arifian-to, Camat Siberut

Selatan, tak kalah semangat. Dalam sambutannya berkali-kali ia mengajak masyarakat untuk mendukung program ini agar kehidupan eko-nomi meningkat.

“Mari kita dukung perkebunan ini agar kehidupan semakin baik,” katanya.

Sri Harianto, Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Mentawai juga. “Kalau ada yang salah dalam dokumen itu mari kita beri masukan agar prosesnya cepat sehingga perkebunan bisa beroperasi, masyarakat bisa makmur dan lingkungan tak rusak,” katanya tentang proses AMDAL.

Bikin Makmur

Idris Siregar, Kepala Desa Mai-leppet, Kecamatan Siberut Selatan meyakinkan masyarakat bahwa perkebunan kelapa sawit sangat positif dampaknya bagi pereko-nomian masyarakat. “Saya sudah banyak lihat di daerah lain perke-bunan sawit ini tak ada efek nega-tifnya, justru yang banyak efek positifnya karena ekonomi masya-rakat meningkat cepat,” ucapnya.

Rekannya Alizar, Kepala Desa Muara Siberut juga mendukung, “Sawit akan mensejahterakan ma-syarakat,” katanya.

Begitu pula Kepala Desa Sirilo-goi, Kecamatan Siberut Utara Mu-hammad Abetnego, “Di Pasaman ekonomi masyarakat tumbuh de-ngan cepat karena sawit, tak ada dampak negatif seperti yang dibe-ritakan media,” katanya.

Masyarakat Desa Boriai, Keca-matan Pagai Utara, lebih tegas lagi,

sibakkat laggai akan mengusir warga

yang menolak masuknya perke-bunan sawit.

Yohannes Berisigep, tokoh ma-syarakat Aban Baga dan anggota BPD Desa Sinaka’, Kecamatan Pagai Selatan, mengaku gembira dengan masuknya investor sawit. “Saya menyambut gembira kedatangan investor sawit yang akan mengolah lahan kami di Aban Baga. Kenapa? Lahan yang kami punya cukup luas untuk diserahkan ke perusahaan. Dengan kehadiran mereka, anak-anak kami bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena mereka

(inves-tor-red) menjanjikan

kehidupan dengan penghasilan yang le-bih baik,” katanya.

Bisa Dapat Rp20 Juta Sebulan

Ke halaman 4

FOTO:GERSON/PUAILIGGOUBAT

COKLA

COKLA

COKLA

COKLA

(4)

Sajian Utama

Puailiggoubat

NO 192, 15-31 Mei 2010

4

I

sar Taileleu, anggota DPRD Mentawai dari PDS (Partai Damai Sejahtera) bahkan bertingkah bak humas perusa-haan. “Kedatangan kami ini ada-lah menawarkan peluang untuk kesejahteraan masyarakat,” de-mikian kalimat awal yang disam-paikannya. Selanjutnya dia me-ngatakan bahwa masyarakat akan mendapat penghasilan dari kebun sawit Rp5 juta per bulan tanpa perlu bekerja.

“Bandingkan dengan kami yang anggota DPRD, dengan penghasilan Rp7 juta per bulan-nya harus kerja sepenuh waktu. Lebih mewah masyarakat kan? Tanpa kerja dapat Rp5 juta se-bulan,” katanya dengan antusias. Lebih jauh dia mengatakan perusahaan merupakan satu-satunya cara yang dapat

membawa masyarakat ke bentuk kehidupan yang lebih baik.

“ Tanpa perusahaan, dalam

Asal Tak Menggusur Coklat

Dalam rapat disepakati bahwa masuknya perkebunan sawit akan membuka peluang kerja bagi warga desa.

Tapi ada yang dikuatirkannya, karena lahan untuk kebun itu belum jelas. Kalau area perkebunan menggusur lahannya dia tidak setuju. “Saya punya sehektar lahan berisi coklat yang sudah mengha-silkan dan menjadi sandaran hidup kami sekeluarga, kalau lahan itu digusur untuk coklat saya tidak setuju, tapi kalau pemerintah menyediakan lahan di luar itu, saya dan masyarakat pasti mendukung perkebunan sawit,” tegas dia.

Nurdin Samaloisa, tokoh ma-syarakat Desa Matobek, mengaku sangat mendukung rencana dibu-kanya perkebunan dan pabrik sawit di Mentawai karena akan membuka peluang kerja dan mencegah kejahatan seperti pencurian. Tapi dia mempertanyakan sistemnya. “Apakah tanahnya disediakan pemerintah, atau akan menggunakan tanah masyarakat tapi bibitnya dari pemerintah atau model lain?”

Tapi dia tegas-tegas menolak kalau pemerintah menyuruhnya

Rp5 Juta Tanpa Kerja

Elias, warga Dusun Sirilanggai,

Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara mengatakan dia mendukung perkebunan sawit karena lebih jelas untungnya. “Jangan salahkan masyarakat kalau mendukung rencana perkebunan sawit karena masyarakat punya pemikiran akan ada hasil dibanding melepas tanah atau hutan ulayat untuk program pemerintah seperti konservasi,” katanya.

Ligi Loers Saumanuk, pengurus

AMA-PM Sirilanggai dan tokoh masyarakat Sirilanggai) berpen-dapat, “Masyarakat menerima sawit karena selama ini hanya dijadikan korban dalam program-program kehutanan, seperti BTNS yang hanya menguntungkan peme-rintah dan pegawai yang terlibat, tanpa adanya kompensasi yang jelas untuk masyarakat,” tegasnya. Liosam Simamora, pedagang di Muara Siberut juga mendukung masuknya perkebunan sawit ke

Mentawai karena menurutnya sawit itu menguntungkan. “Kalau menurut saya pribadi sawit itu ba-nyak keuntungannya. Di kampung saya di Sumatera Utara atau yang per-nah saya lihat di Muara Bungo, masyarakat yang punya sawit -5 hektar saja bisa mendapat uang bersih Rp20 juta per bulan.”

Liosam juga mengaku tidak gamang kalau masyarakat beralih dari coklat ke sawit. “Kalau masya-rakat beralih dari coklat ke sawit,

tidak masalah. Kami pedagang juga akan beralih dari coklat ke bentuk lain. Jika perkebunan sawit jadi akan banyak tenaga kerja datang dengan berbagai kebutu-han, saya mungkin akan beralih bisnis ke bagian pemenuhan per-lengkapan,” katanya.

Yang dikuatirkan Lio hanya masuknya pedagang-pedagang bermodal besar. “Kalau muncul muncul pedagang yang lebih besar, kami pedagang kecil dengan modal

terbatas ini mungkin akan tergen-cet ke pedalaman,” ujar dia.

Puailiggoubat tidak bisa memuat

per-nyataan Bupati Kepulauan Mentawai tentang sikapnya terha-dap perkebunan sawit, karena telepon dan SMS kami tidak dires-pon, tapi dari Izin Lokasi yang dikeluarkannya untuk lima peru-sahaan sawit yang akan membuka perkebunan dan pabrik sawit di 10 kecamatan di Mentawai, kita tahu apa jawabannya.***

Sikap berbeda terhadap

rencana masuknya

per-kebunan sawit dan

ber-dirinya pabrik

pengola-han minyak kelapa sawit

di Mentawai

diperlihat-kan kelompok

masyara-kat yang sudah memiliki

basis ekonomi lumayan

dan tak punya agenda

ataupun kepentingan

politis. Mereka

mendu-kung asal kebun

coklat-nya tak diutak-atik dan

tak ada maksud lain di

balik rencana itu.

beralih dari tanaman coklat ke kelapa sawit. “Coklat saya walau-pun hanya 500 batang tapi sudah berumur 2 tahun , hampir berbuah,

rugi rasanya kalau diminta pindah ke sawit,” katanya. “Pemerintah sediakan saja tanah untuk perke-bunan sawit seperti di Pasaman,

biar kami jadi pekerjanya,” ujar dia lebih jauh.

Marisa Saogo, tokoh perem-puan Desa Matobek, sependapat dia setuju perkebunan sawit selama tidak mengutak-atik kebun cok-latnya. Perkebunan sawit menurut dia akan membuka peluang kerja bagi masyarakat.

“Saya setuju perkebunan ke-lapa sawit karena itu akan membuka peluang kerja, ekonomi keluarga bisa meningkat, sehingga masyarakat bisa menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi, tapi kalau pemerintah hanya me-nyediakan bibit tapi penana-mannya di tanah masyarakat, apalagi sampai menggantikan coklat, saya tidak setuju, ma-salahnya coklat saya telah berusia 3 tahun dan sudah menghasilkan uang, berkat coklat itu saya bisa menyekolahkan anak ke Padang, sementara harga kepala sawit belun jelas berapa per kilogram-nya, kapan sawit akan mengha-silkan uang dan sampai umur berapa menghasilkan uang juga belum jelas,” tegasnya.*** jangka waktu 30 tahun ke depan,

jangan harap masyarakat Parak Batu bermimpi menikmati akses jalan ke pusat kecamatan

(Ma-lakopa). Perusahaanlah yang mampu membuat hal itu terwujud,” sambungnya meyakinkan masyarakat.*** kakap menyambut baik masuknya

perkebunan sawit. “Kami sudah merapatkannya dengan camat di Kantor Desa Matobek,” katanya.

M

isalnya Rudal Sabelau, petani coklat dari Desa Matobek, Kecamatan

Si-W

ashington Sabelau, tokoh pendidikan Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap lain lagi. Dia memperta-nyakan apakah investor tersebut serius membuka perkebunan kelapa sawit. “Jangan-jangan ha-nya kedok untuk mengambil ka-yunya, kayu habis sawit tak jadi” katanya.

Dia mengaku setuju perkebu-nan kelapa sawit dan pabrik pe-ngolahan minyak kelapa sawit, tapi harus diwaspadai jangan sampai kasus PT ATN berulang. “Perusahaan ini mengaku akan membuka perkebunan kelapa hibrida di Silaoinan, tapi ternyata hanya mengincar kayu, setelah kayu habis dibawa ke Padang, kebun kelapa hibridanya tak jadi-jadi, yang seperti ini kan meng-untungkan segelintir orang saja,” katanya.

Menurut Washington, kalau pemerintah benar-benar mau meningkatkan kesejahteraan ma-syarakat, sebaiknya membangun infrastruktur seperti jalan dan jem-batan sebanyak mungkin. “Jika per-hubungan lancar ekonomi masya-rakat akan meningkat,” katanya.

Selain itu dia meminta pemerin-tah serius mendampingi petani coklat dan padi. Jangan setengah-setengah. “Jangan hanya memba-gikan bibit lalu pergi, tanpa pen-dampingan dari PPL kebun coklat dan sawah, masyarakat tak berse-mangat mengolah, karena hasil yang didapat tak maksimal,” katanya lagi.

Intan Sababalat, tokoh agama Desa Taikako, membenarkan si-nyalemen Washington. Menurut dia, “Waktu PT ATN masuk ke Du-sun Silaoinan perusahaan menyediakan dana awal Rp1

milyar, tapi entah buat siapa dana tersebut kita tidak tahu, dana itu digunakan untuk membuka perkebunan kelapa hibrida, tapi setelah kayu di lokasi habis perkebunannya tidak jadi-jadi, kelapa hibridanya tinggal impian,” katanya.

Dia mendukung dibukanya perkebunan kelapa sawit di Mentawai asal tidak di tanahnya. “Kalau di tanah saya, sebatang pun takkan saya izinkan, karena menurut saya tak ada manfaatnya, malah lebih banyak ruginya,” tegas dia.

Intan mengatakan

penolakannya karena kelapa sawit banyak menyerap air dan bisa membuat tanah mengering, padahal di Mentawai air bersih masih menjadi masalah dan sangat tergantung hujan. Informasi bahwa sebatang sawit

membutuhkan 20 – 30 liter air per hari membuatnya gundah. “Tanaman sawit bisa

mengancam persediaan air, kita bisa kesulitan mendapatkan air minum, mandi dan mencuci,” katanya.

Selain itu, menurut Intan, perkebunan sawit tak memberi ruang pada perempuan dan anak-anak. “Buahnya berat, satu tandannya bisa 10 – 20 kg, kalau tertimpa kan celaka,” katanya. Berbeda dengan coklat.

“Perempuan dan anak-anak bisa memelihara atau memanennya tanpa kuatir cedera,” tambah dia.

Dia berharap pemerintah mempertimbangkan dampak perkebunan sawit terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, sebab yang akan menanggungkan akibatnya kelak adalah masyarakat juga. ***

Jangan Ada Tujuan Lain

COKLA

COKLA

COKLA

COKLA

COKLAT -

T -

T -

T -

T -

Coklat di jemur di tepi sungai

(5)

dan menunggu perkebunan sawit, akhirnya masyarakat tak menda-pat apa-apa,” ujar Tamairang.

Dia juga mencemaskan dam-pak sawit terhadap lingkungan. “Sekarang saja banjir tak

terken-Sawit Dinilai akan Mengancam

Ekonomi Rakyat dan Lingkungan

5

Puailiggoubat

NO 192, 15-31 Mei 2010

Sajian Utama

C

ornelius Tamairang, Kepala Desa Mongan Poula mempertanyakan keseri-usan Pemerintah Kabupaten Kepu-lauan Mentawai dalam upaya pe-ningkatan kesejahteraan masya-rakat terkait rencana pembukaan perkebunan sawit di daerahnya.

“Kemarin pemerintah memin-ta masyarakat bermemin-tanam coklat, sekarang ada lagi perkebunan sawit. Kami jadi ragu. Apakah coklat yang sudah kami tanam harus dibabat lagi dan memulai kembali dari nol untuk perke-bunan sawit? Mungkin masyarakat akan meninggalkan kebun coklat

Masyarakat Mentawai

yang tegas-tegas menolak

sawit juga banyak,

umumnya mereka

mencemaskan

perekonomian yang

sudah berjalan baik, juga

dampak perkebunan

sawit terhadap ekonomi

rakyat, lingkungan dan

kehidupan sosial budaya.

F

. Sialagan, tokoh agama Desa Sikakap, berpendapat perkebunan dan pabrik kelapa sawit bisa menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) karena itu dia sangat mendu-kung rencana masuknya peru-sahaan sawit ke Mentawai. Na-mun dia mempertanyakan sis-tem yang digunakan, apakah HGU atau kredit.

Kalau HGU (Hak Guna Usa-ha), menurut dia, yang akan diuntungkan hanya perusahaan karena sistem itu bersifat monopoli, tanah masyarakat

Sebenarnya, tambah Sialagan, bagi orang yang mengerti, per-kebunan sawit sangat besar man-faatnya. “Mentawai curah hujannya tinggi, cocok sekali untuk perke-bunan sawit,” katanya. Ditambah-kannya, di Mentawai banyak sekali lahan tidur berupa rawa, lokasi seperti ini sangat cocok untuk sawit karena kelapa sawit sangat tergantungan air. “Rawa-rawa itu bisa mengering setelah ditanami kelapa sawit,” ujarnya lagi.

Bester Berisigep, pengurus mesjid Desa Boriai, Kecamatan Pagai Selatan mengaku belum

paham betul dengan perkebunan sawit, tapi dia berharap kalau memang sawit akan masuk sebaiknya tak mengganggu lahan yang sudah mereka garap karena telah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Dia minta sibakkat laggai bijak dalam menyikapi keberadaan kebun sawit dan kebun rakyat.

Misno, pengurus AMA-PM Siberut Utara, anggota Badan perwakilan Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara punya syarat kalau perusahaan perkebunan sawit masuk

Mentawai. “Kalau sawit masuk sistem perkebunan yang dilaksanakan harus pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat), masyarakat hanya mencicil ke perusahaan, tanpa kehilangan hak atas tanah,” katanya.

Dia juga mensyaratkan pengelolaan limbah harus benar-benar dilakukan, jangan sampai mencemari lingkungan, juga jangan sampai

menimbulkan erosi dan banjir, karena pada akhirnya

masyarakat juga yang akan menderita. ****

hanya disewa atau dilepaskan de-ngan penggantian, sementara masyarakat akan menjadi buruh di tanahnya sendiri. Uang juga takkan beredar di Mentawai, karena hasil panen akan dibawa ke luar Mentawai.

Sebaliknya, kata Sialagan, sis-tem kredit akan menguntungkan masyarakat, pemerintah menge-reditkan bibit kelapa sawit pada petani, petani menanam di lahan-nya sendiri, setelah panen petani menjualnya ke mana dia suka, hasilnya baru digunakan untuk mencicil kredit bibit.

Sistemnya Harus Menguntungkan Rakyat

dali gara-gara pembukaan hutan untuk perusahaan kayu, kini sawit akan membuat hutan gundul, ben-cana akan menjadi langganan desa kami, bahkan bisa menghancurkan kebun coklat rakyat,” katanya.

Sabar, warga Desa Sirilogui, Kecamatan Siberut Utara lain lagi kecemasannya. Ia kuatir perke-bunan sawit akan menggusur ternak babi sekaligus tempat pe-meliharaan babi tersebut. “Babi tidak terlepas dari kehidupan orang Mentawai. Bagaimana kebe-radaanya nantinya kalau perlada-ngan habis dibabat, mau ditaruh di mana babi kami,” katanya mem-pertanyakan. Seperti diketahui babi bukanlah ternak komersial di Mentawai, melainkan ternak budaya. Kacamata ekonomi saja tak bisa digunakan melihatnya.

Bagi Andom Sabebegen, Koor-dinator Wilayah YCMM (Yayasan Citra Mandiri Mentawai), yang paling mengganggu dari rencana pembukaan perkebunan dan pa-brik pengolahan minyak sawit ini adalah limbah. “Persoalan limbah pabriknya bagaimana, kalau

lim-bahnya dibuang di sungai jelas membahayakan nelayan dan masyarakat di sekitar sungai,” katanya.

Selain itu Andom yakin masuk-nya perkebunan coklat akan me-nimbulkan konflik di tengah ma-syarakat, dampak negatifnya lebih banyak,” tegas Andom.

Pendapat yang lebih ekstrim datang dari Reygen S Sakoikoi, pengurus AMA-PM (Aliansi Ma-syarakat Adat Peduli Mentawai) yang juga anggota Dewan Paroki Sikakap. Menurut Reygen masuk-nya perkebunan sawit sama arti-nya genosida (pemusnahan) bagi masyarakat Mentawai.

“Sebagai organisasi yang ber-gerak di bidang penguatan adat, kami telah berkomitmen untuk menolaknya karena tidak cocok dengan karakteristik alam Men-tawai yang labil. Bukti nyata yang sering dialami oleh penduduk, kemarau 2 (dua) hari saja sudah kekeringan. Apalagi dengan ha-dirnya sawit yang setiap harinya membutuhkan air 15 liter per hari perbatangnya. Coba dibayangkan, berapa liter air yang disedot sawit seluas 21.500 hektar setiap harinya di Pagai Utara Selatan? Itu sama dengan membasmi masyarakat Mentawai, bukan?” katanya pan-jang lebar.

“Di Rapat Wilayah Gereja Ka-tolik Mentawai Maret lalu, salah satu pembahasan kami adalah fenomena masuknya sawit di Men-tawai, dan melalui pendalaman bersama kami memutuskan untuk menolak invasi besar-besaran oleh perusahaan perkebunan, khu-susnya kelapa sawit.

Jadi, andai sawit masuk, kami akan menjadi salah satu lawan mereka, AMA-PM dan Gereja Katolik,” tegas dia.***

A

lbertus Salakkau, Sekretaris Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, mengatakan masyarakat di desanya sudah membahas untung rugi menerima perkebunan sawit. “Kami berikan pemahaman akan dampak positif dan negatif perkebunan sawit, selanjutnya terserah masyarakat,” katanya.

“Kami jelaskan kalau sawit masuk maka tanah Mentawai atau pulau Si-berut ini akan menjadi ibarat padang tandus karena hutannya telah terbabat habis sehingga rawan erosi dan banjir. Kami juga tegaskan kayu akan sulit dicari karena hutan telah gundul,” katanya.

“Kami juga ingatkan masyarakat bahwa lebih baik bersakit-sakit da-hulu bersenang-senang kemudian, daripada bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian, sawit me-mang nikmat di awalnya, tapi menya-kitkan di akhirnya,” tambah dia.

Di samping itu, kata Albertus,

Semua Terserah Masyarakat

pihak desa juga mengingatkan pola kerja di perkebunan sawit yang sangat berbeda dari kebiasaan sehari-hari masyarakat di Mentawai. “Kebun sawit berdisiplin ketat, masyarakat terbiasa santai dan manja karena semuanya sudah disediakan alam, kami kuatir mereka shock,” katanya.

Albertus mencemaskan keluarga-keluarga yang sedang membutuhkan biaya untuk pendidikan anak. Karena desakan biaya pendidikan anak di per-guruan tinggi, “Mereka tak akan berpi-kir panjang dan melepas tanahnya ke perusahaan dengan mudah,” katanya. Kuncinya, menurut Albertus ada pada sibakkat laggai atau pemilik tanah ulayat, merekalah ujung tombak yang bisa menjadi kekuatan sekaligus kele-mahan dalam permasalahan ini.

Pastor Anton,W. SX, gembala ge-reja di Mentawai, salah seorang pastor yang ikut dalam rapat wilayah gereja Katolik di Sikakap mengatakan pener-bitan izin untuk

perusahaan-perusa-haan berskala besar memang sudah lazim di Indonesia, tak terkecuali di Mentawai

“Dalam rapat wilayah gereja Katolik di Mentawai (Rawil) masalah ini sempat jadi perbincangan. Rawil mengha-rapkan gereja berperan menjelaskan dampak positif dan negatif sawit.

Hasilnya gereja tidak bisa memutuskan menerima atau menolak, gereja hanya bisa memberikan pandangan. Biar umat yang memutuskan. Sikap gereja ini disebarluaskan melalui bajak gereja dan para sibakkat laggai,” katanya. Pendapatnya beda dengan Reygen yang juga hadir di Rawil.

Esrom, tokoh agama Kristen Gere-ja Bethel Indonesia berpendapat, “Pem-bukaan perkebunan sawit di Siberut akan menghasilkan 2 dampak yakni positif dan negatif. Mungkin saja ekonomi masyarakat tambah maju, kemudian tenaga kerja pengangguran akan terserap, namun saya selalu

ingatkan siapkah masyarakat dengan keahlian yang dimiliki untuk bekerja di perkebunan? Itu perlu

dipertanyakan, karena kalau masyarakat tak punya skill , mereka akan tergilas dengan kedatangan orang dari luar. Persaingan akan ketat, dituntut kemampuan, kalau tidak mampu masyarakat akan jadi penonton.

Sekali lagi menerima atau me-nolak sawit itu tergantung

masyarakat pemilik lahan,” tegasnya. Ikral Dinata mewakili Camat Siberut Utara meminta masyarakat jeli melihat rencana masuknya perkebunan sawit.

“Perkebunan sawit ini memang ada dampak positifnya yaitu akan peningkatan ekonomi masyarakat, namun harus dilihat juga dampak negatifnya. Kita berharap pihak perusahaan memberikan informasi yang jelas sehingga masyarakat dapat menilai,” katanya.***

KEBUN -

KEBUN -

KEBUN -

KEBUN -

KEBUN -

Kebun sawit di Pelalawan Riau, bikin makmur pemilik kapital

(6)

Sajian Utama

Puailiggoubat

NO 192, 15-31 Mei 2010

6

P

ertimbangan H Rusli, salah

satu pedagang penampung biji coklat di Sikakap, lain lagi, menurut dia masyarakat harus lebih selektif dan berpikir panjang dalam menyambut renca-na perkeburenca-nan dan pabrik pengo-lahan minyak sawit di Mentawai, karena coklat sudah memberi penghasilan yang baik. Mengapa sumber penghasilan yang telah baik ini ditinggalkan lagi untuk komoditi yang belum tentu mem-berikan hasil serupa?

“Setiap bulan saya bisa me-nampung 1 ton coklat, dengan harga Rp20.000 per kg petani bisa berpenghasilan Rp 2 – 3 juta. Kalau pemerintah serius mendukung petani dengan memberikan bim-bingan maksimal saya yakin suatu hari nanti Mentawai bisa menjadi sentra coklat di Sumatera,” tegas-nya.

Alimuzar, pedagang coklat Desa Sikakap sependapat. Dengan ekspor coklat setiap bulan 10 – 12 ton, Kecamatan Sikakap lebih baik pemerintah memfokuskan diri pada tanaman coklat. “Sekarang saja harga coklat di Sikakap Rp22 ribu per kg, di Padang Rp24 ribu, mengapa masih menunggu sawit yang mengancam persediaan air bersih?” katanya.

Jhon, pedagang penampung coklat dan manau di Mongan Poula, Kecamatan Siberut Utara mengaku akan kesulitan kalau perkebunan sawit jadi dibuka. Rotan, manau dan coklat tak akan

keluar lagi, karena masyarakat tak bisa mendapatkannya. “Kalau sawit masuk jelas berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Salah satunya pasokan manau dan coklat akan berkurang atau mung-kin takkan ada lagi. Saat ini dalam seminggu saya bisa membawa 800 batang manau dan 2 ton coklat, kelak takkan ada lagi. Untuk apa semua itu?” katanya.

Jhon mengakui perkebunan sawit bisa meningkatkan kese-jahteraan masyarakat, seperti di Pesisir Selatan, tapi itu yang punya lahan sawit luas, kalau kecil-kecilan tak akan.

Mansyur, pengurus SKPP (Sen-tra Pertanian Kehutanan Pede-saan) Desa Mongan Poula meng-anggap masuknya perkebunan sawit adalah pembunuhan ter-hadap petani coklat.

“Dari coklat masyarakat sudah menikmati hasil, setiap keluarga di Mongan Poula rata-rata me-miliki 2 hetar lahan coklat di luar pemuda, bahkan sudah ada masya-rakat yang berpenghasilan Rp5 juta per bulan, kalau sawit masuk masyarakat akan kembali ketitik nol. Ini jelas pembunuhan!” ser-gahnya.

Antonius Samemek, angota AMA-PM Siberut Selatan menye-salkan pemerintah yang

see-naknya saja mengizinkan perusa-haan sawit. “Kalau ladang coklat masyarakat dijadikan perkebunan sawit jadi mau hidup apa masyara-kat nanti? Harusnya pemerintah mempertimbangkan dulu atau me-nanya dulu ke masyarakat, siapkah kami dengan perkebunan sawit. Jangan karena tak sanggup menye-jahterakan rakyat kabupaten ini mereka memasukkan sawit de-ngan dalih memberi keuntude-ngan dan kemakmuran rakyat, nya-tanya mereka yang kenyang, rakyat yang susah” rutuknya.

Resman Saogo, Kepala Dusun Parak Batu, Desa Makalo,

Kecama-tan Pagai SelaKecama-tan, lebih tegas lagi. “Saya sarankan mereka tak usah datang, karena kami sudah tenang, coklat telah memberikan pengha-silan yang cukup untuk biaya hidup kami setiap bulan. Apalagi kalau datang dengan janji-janji yang sudah basi. Sejak dulu perusa-haan hanya menimbulkan konflik di masyarakat, bahkan antar suku dan keluarga. Mereka dapat un-tungnya masyarakat kebagian buntungnya. Jadi cukuplah. Kalau mereka tetap datang dan meng-gusur coklat kami, kami akan lawan!” tandasnya.

Longgimus Lea, Kepala SDK

ST Vincentius Sikakap berpen-dapat pemerintah sebaiknya men-dampingi masyarakat dengan mengoptimalkan upaya Dinas Pertanian. Misalnya dalam hal bertani coklat. “Bimbing dan ca-rikan mereka pasar agar harga tidak dimainkan para pedagang pengumpul sehingga masyarakat mendapat hasil maksimal dari coklat mereka, ini jauh lebih baik daripada mengembangkan perke-bunan kelapa sawit,”katanya.

Menurut Lea, Mentawai pulau kecil, pembukaan perkebunan sawit skala besar hanya akan menimbulkan krisis air, karena setiap batang sawit membutuhkan 16 liter air per hari, sementara sumber air utama di Mentawai hanya hujan.

Reju, warga Desa Muntei, Ke-camatan Siberut Selatan, berko-mentar bahwa izin yang diberikan kepada perusahaan kelapa sawit untuk mengelola tanah yang sa-ngat luas jelas-jelas penghancuran hidup rakyat. ”Demi memuaskan nafsunya pemerintah memasuk-kan sawit, apa sudah tanya ke masyarakat setuju apa tidak de-ngan perkebunan itu, semba-rangan saja,” ujarnya.

Ia khawatir ladang coklatnya yang berada di daerah Bat Mara akan digusur traktor perusahaan. “Apalagi jarak perkebunan dengan sungai hanya 50 meter, jadi kalau sudah masuk ke dalam itu sudah ladang masyarakat” katanya.***

Petani Coklat Terancam

P

dt. Parsaoran Simanjuntak, STh, Ephorus GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) di Sikakap mengata-kan masuknya perkebunan sawit di Mentawai akan menimbulkan persoalan baru yang pasti mem-buat hidup masyarakat tidak nyaman lagi.

“Semua aspek akan tergang-gu! Dari segi kemasyarakatan, adat dan budaya hingga dalam melaksanakan persekutuan da-lam beribadah, karena apa? Su-dah pasti akan ada oknum yang memposisikan dirinya sibakkat

laggai sekaligus ‘menjajah’ sitoi .

Hal itu akan merusak tatanan ke-hidupan dalam bermasyarakat,” katanya.

“Selain itu, kami di lembaga GKPM, telah berkomitmen un-tuk mengurangi pemanasan glo-bal (gloglo-bal warming) yang salah satu kuncinya adalah menjaga alam agar tetap lestari. Jadi, ka-mi menghimbau agar warga ma-syarakat atau lebih khusus jema-at GKPM, lebih berfikir jernih dalam menyikapi rencana terse-but. Bisa jadi generasi kita akan dikutuk oleh generasi berikut karena alam yang kita wariskan

Merusak Lingkungan dan Mengundang Konflik

adalah alam yang gersang. Kon-kretnya, kami tidak setuju den-gan hadirnya perusahaan perke-bunan skala besar di Mentawai, karena akan membuat masyara-kat terpinggirkan,” tegas dia.

Firman Simanjuntak (tokoh pemuda Desa Sikakap) juga me-negaskan penolakannya terhadap perkebunan kelapa sawit. Menu-rut dia selain membahayakan sumber air, pembukaan lahan perkebunan juga akan mengaki-batkan banjir dan longsor.

“Keringnya sumber-sumber air akan menyebabkan matinya pohon-pohon, air hujan yang jatuh di perbukitan takkan ada lagi yang menahan, akibatnya banjir dan longsor akan gampang terjadi, hujan sedikit saja akan jadi bencana, kalau sudah terjadi bencana siapa yang akan meno-long kita? Pemerintah? Jangan harap, bantuan gempa 2007 saja belum cair sampai sekarang,” katanya.

Kejahatan seperti pencurian dan pertengkaran diprediksinya akan lebih sering terjadi jika perkebunan kelapa sawit dibuka, karena itu, seperti yang lain-lain

dia mengusulkan agar pemerin-tah berkonsentrasi maksimal membimbing masyarakat ber-tani coklat.

Frans Sakeletuk, aktivis AMA-PM Kecamatan Pagai Utara berpendapat serupa. Menurut Frans Mentawai belum butuh sawit. Dia menduga penerimaan Pemkab terhadap perkebunan sawit dilatarbelakangi kepenti-ngan tertentu.

Selain itu dia mengingatkan, masyarakat Mentawai tak cuma asing dengan sawit, tetapi juga hanya akan dimanfaatkan semen-tara. “Masyarakat Mentawai itu

tipe pekerja serabutan, mereka takkan selamanya dipakai pe-rusahaan, ingat saja kasus PT MPLC (Minas Pagai Lumber

Corporation) di Sikakap, sebentar

saja banyak orang kita yang diberhentikan dengan alasan tak punya skill. Paling-paling kita ha-nya dipakai saat membuka lahan saja, sesudah itu dibuang karena tak diperlukan lagi,” ungkapnya.

Potnsi konflik juga diingat-kannya, di samping konflik antar suku dan antar keluarga, bisa ju-ga terjadi konflik antar etnis, ka-rena perbedaan sikap terhadap per-kebunan sawit dan pendapatan.

Frans mengusulkan sebaik-nya pemerintah memaksimalkan pemberdayaan petani, karena Mentawai cukup kaya komodi-tas, seperti cengkeh, coklat, ke-lapa, pinang, pisang, nilam, padi “Kalau didampingi PPL dengan benar, kesejahteraan mereka pasti meningkat,” katanya.

Dia juga menyebut peran penting program-program se-perti P2D, PNPM-MP, KMN dan lain-lain, semua itu sudah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, mengapa Pemkab tak meningkatkan itu saja?***

R

oberta Sarogdog, Direk-tur YCMM (Yayasan Citra Mandiri Mentawai) tidak setuju pembukaan perkebunan kelapa sawit dan pendirian pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di Mentawai karena mengancam hak-hak dan sumber kehidupan masyarakat. Misalnya terhadap hutan, selain itu perkebunan kelapa sawit dinilai hanya akan

menyebabkan masyarakat terlibat konflik berkepanjangan.

Mengancam Hak-hak Masyarakat

“Mungkin sawit menguntungkan kalau masyarakat dilibatkan

sepenuhnya dalam perkebunan dan pabrik tersebut, misalnya tanah adat dihitung sebagai saham, tapi itukan tak mungkin terjadi, perusahaan takkan mau memberi kesempatan seluas itu kepada masyarakat,” katanya.

Berta menambahkan jika pembukaan lahan sawit juga bertujuan untuk meningkatkan PAD, sepertinya bukan hanya

sawit yang harus dikembangkan. “Mengapa tidak kakao saja yang diseriusi, kan sudah terbukti menghasilkan?” tanyanya.

Berta menegaskan

pemerintah bisa membuka pasar seluas-luasnya, memberikan penyuluhan dan bimbingan pada petani, memasukkan investor besar di sektor percoklatan, kalau perlu mendirikan pabrik coklat, sehingga coklat masyarakat bisa

Ke halaman 7

BIBIT -

BIBIT -

BIBIT -

BIBIT -

BIBIT -

Bibit coklat di perlindungan

(7)

H

eronimus, Kepala Dusun Puro II, Kecamatan Siberut Selatan mempertanyakan bagaimana akses masyarakat ter-hadap hutan yang masuk ke wila-yah konsesi perkebunan. sawit. Se-lain itu dia menguatirkan global

war-ming (pemanasan global). “Hidup

kami sangat tergantung hutan, kalau hutan diganti sawit bagai-mana kebutuhan kami terpenuhi? Lagi pula membuka hutan apa ti-dak membuat bumi makin panas?”. Damianus Saluluni, Ketua DPD Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, menyesalkan klaim tanah oleh perusahaan. “Tanpa mengajak bi-cara dan minta persetujuan pe-milik tanah ulayat, tanah sudah di-klaim saja oleh perusahaan,” gugatnya. Kerisauan juga mewarnai Yan-to (55), warga Desa Muntei, Keca-matan Siberut Selatan.

Yanto perantau dari Jawa ini mengatakan dari pengalamannya selama ini kelapa sawit lebih banyak menguntungkan pihak perusahaan. Walaupun ada kebun plasma yang dikelola oleh rakyat namun pada prakteknya, perusahaan yang berkuasa dan manajemennya tetap diatur oleh perusahaan, rakyat hanya dapat persen kecil dari hasil panen.

Peluang kerja masyarakat se-tempat sangat kecil karena yang

bekerja di perusahaan hanya orang-orang yang paham betul tentang penanaman dan perawatan kelapa sawit. “Masyarakat pribumi tidak mengerti bagaimana proses pemupukan dan penanaman sawit sesuai aturan, jadi masyarakat hanya akan menjadi penonton,” katanya.

Selain itu kayu, kalau perke-bunan telah dibuka maka kayu untuk membuat sampan dan ru-mah akan sulit didapat. Masyara-kat juga akan kesulitan menda-patkan tanah untuk bercocok

ta-nam, karena tanah yang telah di-serahkan takkan bisa diakses lagi. “Baiknya masyarakat tak serahkan tanah karena yang akan rugi masyarakat itu sendiri” ujarnya.

Fransiskus, warga Muntei lain mengaku bingung dengan dite-tapkan areal perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah. Ia ber-tanya-tanya dari mana perusahaan dapat kuasa mengklaim tanah ulayat di Mentawai sebagai areal perkebunan sementara masya-rakat pemilik tanah tidak pernah diajak membahas penentuan areal

buat perkebunan. “Inikan main caplok dan main patok namanya, seperti tanah moyangnya saja yang mau diambil,”katanya.

Ia khawatir kelak masyarakat disibukkan dengan pembicaraan mengenai tapal batas tanah dengan suku lain jika mereka menyerahkan tanah di luar tapal batas ulayatnya. “Masyarakat akan direpotkan membahas keturunan kepemilikan tanah agar bisa me-nyerahkan tanah atau memper-tahankan tanah seperti yang terjadi saat perusahaan kayu dulu masuk di Mentawai, rugi waktu dan harta benda karena modal penyelesaian sengketa tanah besar,” ujarnya.

Mikael, juga warga Muntei berkomentar pembukaan perke-bunan sawit di Siberut hanya akal-akalan perusahaan untuk meng-ambil kayu. “Kalau kayu sudah mereka ambil dan jual, kebun tak akan jadi-jadi” katanya. Namun ia hanya bisa menyerahkan semua itu kepada masyarakat pemilik tanah,

Tertutupnya Akses ke Hutan

apakah menerima atau menolak perkebunan sawit yang lebih banyak dampak negatifnya.

Linus, petani coklat Muntei, Kecamatan Siberut Selatan juga menguatirkan itikad lain peru-sahaan. “Jangan-jangan mereka hanya ingin mengambil kayu, yang pasti kehidupan masyarakat akan terancam, kayu untuk mem-buat sampan dan rumah akan susah didapat, lingkungan akan rusak, ladang coklat akan dihancurkan,” keluhnya.

Valentinus, Ketua Badan Per-musyawaratan Desa (BPD) Muntei mengatakan dengan luas 19.500 hektar tanah yang akan disawitkan di Siberut Selatan otomatis akan menghancurkan sumber kehi-dupan masyarakat. Masyarakat yang hidupnya tergantung hasil pertanian akan melarat karena ladangnya dirampas untuk disa-witkan.

“Dari peta perusahaan sawit yang dipampangkan dalam sosialisasi Amdal otomatis ladang rakyat akan diambil, jadi ke mana mereka lagi kalau pemerintah Mentawai memasukkan sawit,” katanya.***

7

Puailiggoubat

NO 192, 15-31 Mei 2010

Mentawai News

F

idelis Leman Sakela’asak, anggota Badan Permusya-waratan Desa Sikabaluan, mantan pengurus AMA-PM Sika-baluan mencurigai. “Jangan-ja-ngan ini politik bupati menerbit-kan izin lokasi karena masa jaba-tannya akan habis, istilahnya se-bagai amplop terakhir,” katanya.

Ia mengingatkan kesulitan yang akan dihadapi masyarakat jika perkebunan kelapa sawit masuk. “Masyarakat akan kesuli-tan mencari kayu untuk memba-ngun rumah dan kayu api,” ka-tanya. “Limbah juga akan mem-berikan dampak buruk bagi masyarakat yang ada di sekitar

aliran sungai. Akan terjadi penya-kit kulit dan nelayan akan teran-cam karena ikan mati akibat pembuangan limbah,” tegasnya.

Menurut dia perkebunan sawit lebih buruk dari HPH, karena perkebunan sawit akan membabat habis hutan, sedangkan HPH tebang pilih.

Namun seperti yang lain, Leman mengatakan. “Masuk atau tidaknya perkebunan sawit ter-gantung dari pemilik tanah ula-yat atau sibakkat laggai.”

Yosapat Sagurung, Kepala Dusun Puran Desa Sikabaluan, dengan tegas menolak perke-bunan kelapa sawit.

“Masyara-kat sudah bertekad menolak ren-cana masuknya perkebunan sa-wit karena karena ini menyang-kut kehidupan di masa yang akan datang untuk anak dan cucu, kami tidak mau disesali kelak,” katanya.

Yosapat juga menguatirkan sikap sibakkat laggai. “Merekalah kuncinya, masuk tidaknya peru-sahaan sawit ke Mentawai sangat tergantung mereka,” katanya.

Yeses, Kepala Dusun Sirilang-gai Barat, Desa Malancan yakin masyarakatnya akan menolak perkebunan sawit, tapi

Tergantung Sibakkat Laggai

maksimal tertampung. Lagipula coklat itu pasar terbuka, sedangkan sawit pasar tertutup.

Jika seandainya pembukaan lahan coklat ini terealisasi, karena berbagai faktor, Berta minta masyarakat jangan dijadikan ‘budak’ oleh perusahaan dan pemerintah, hak-hak mereka harus tetap dihargai dan kebebasan mereka untuk meningkatkan

perekonomian dijamin. “Perusahaan juga harus memikirkan secara matang

tentang pembuangan limbah sawit agar tidak mencemari lingkungan,” tegasnya.

Penolakan terhadap masuknya perkebunan sawit skala besar ke Mentawai juga ditolak mahasiswa Mentawai. Mahasiswa Mentawai yang tergabung dalam organisasi Formma Sumbar menolak keras rencana pembukaan kebun kelapa sawit di seluruh Mentawai. Hal itu ditegaskan ketuanya, Daudi Silvanus Satoko pada Puailiggoubat. Senin (10/5).

Menurutnya perkebunan

kelapa sawit tersebut itu akan berdampak negatif pada

lingkungan dan kehidupan sosial. Konflik antar warga akan sering terjadi, penyebabnya bisa jadi satu pihak diuntungkan dan pihak lain dirugikan. “Kami cenderung melihat dampaknya kurang baik, hanya menguntung sebagian kecil masyarakat kecil, bukan keseluruhan, selain itu akan sering muncul konflik antar suku dan masyarakat lainnya,” katanya.

Di samping itu, tambah Daudi, dampaknya terhadap lingkungan

juga akan buruk, terutama saat pembabatan hutan, karena sawit tidak akan tumbuh jika masih ada pohon-pohon lainnya yang ada di sekitarnya. “Akan terjadi erosi, bahkan banjir karena tidak adanya daya serap tanah, sebab kayu sebagai penyangga sudah habis,” ujarnya.

Daudi mengakui aspek ekonominya cukup

menggairahkan, tapi menurutnya ini perlu dipikirkan lagi,

bagaimana dengan kebun coklat masyarakat yang sudah

menghasilkan atau akan mulai panen? “Butuhkan waktu lama, baru sawit itu bisa di panen,” ulasnya.

Terjadinya perubahan budaya juga menjadi alasan Formma, menurut Daudi perkebunan sawit akan

menyebabkan budaya Mentawai terkikis, akan muncul pola baru dalam kehidupan, keserasian dengan alam akan hilang. “Jadi, kami atas nama Formma menolak perkebunan sawit di Mentawai,” pungkasnya.***

Membahayakan Ekosistem

Y

esi Filda, guru Biologi SMAN 1 Siberut Utara, menolak

perkebunan sawit karena menurut dia sawit akan memunahkan hewan-hewan di hutan, merusak ekosistem, tumbuhan tinggi dan rendah akan habis, unsur hara tanah akan berkurang dan terjadi polusi udara, “Kita akan miskin udara segar dan lingkungan semakin panas,” katanya.

Temannya Karolina, juga guru Biologi di SMAN 1 Siberut Utara menambahkan lingkungan akan rusak, air bersih susah didapat, erosi, banjir, longsor akan menjadi langganan masyarakat,

persesdiaan makanan dari alam akan berkurang, kualitas tanah dan lingkungan akan menurun drastis. “Pokoknya susahlah,” tegas dia.

Helmut Samangilailai, tokoh masyarakat Pokai, Kecamatan Siberut Utara menolak sawit karena menyebabkan penyakit. “Untuk

memberantas hama sawit perusahaan akan melakukan

penyemprotan, itu menimbulkan penyakit pernafasan dan hama baru, kayu juga akan sulit karena hutan tak ada lagi,” katanya.

Parga, pemuda Sikabaluan, tegas-tegas menolak sawit terutama karena perkebunan sawit menyebabkan pemanasan global, rusaknya lingkungan, tercemarnya sungai dan hilangnya perkebunan rakyat. “Dampak negatifnya lebih banyak dibanding dampak positif,” tegas dia.

Adi Putra, Kordinator Balai Taman Nasional Wilayah II Siberut Utara, juga menguatirkan dampak perkebunan kelapa sawit terhadap Balai TNS. “Dampaknya terhadap BTNS pasti ada, halaman rumah saja bisa bergeser apalagi perkebunan, sekarang memang belum terlihat,” katanya.

Gerson Sirivaro, tenaga lokal di SCP (Siberut Conservation Programme) di Pulitcoman, Kecamatan Siberut Utara mengaku cemas dengan masa depan SCP jika perkebunan sawit jadi dibuka. ‘“Saya kuatir soalnya Sungai Pulitcoman yang bermuara ke Muara Sigep akan terkena dampak perkebunan,” katanya.***

Ke halaman 8

CARI KA

CARI KA

CARI KA

CARI KA

CARI KAYU BAKAR -

YU BAKAR -

YU BAKAR -

YU BAKAR -

YU BAKAR -

Cari kayu bakar ke hutan tidak bisa lagi

(8)

Pedagang Sayur dan Sikerei Resah

U

ri, ibu rumah tangga di Mongan Poula yang menjual sayur dan hasil kebun di Sikabaluan juga terkesan tak berdaya. “Kalau sawit masuk jelas tidak kami terima karena sayur, pisang, keladi yang kami tanamani dan jual ke Sikabaluan selama ini akan habis. Di mana lagi kami dapatkan biaya kebutuhan dapur sehari-hari?” ujarnya memelas.

Lempen Tubu, dukun kampung di Mongan Poula, juga sama tak berdayanya. “Kalau hutan habis jelas tanaman obat juga akan habis, padahal tak semua obat bisa mengobati penyakit masyarakat, tumbuhan sering lebih mujarab. Tanpa pembabatan hutan saja kami sudah kesulitan mencari daun untuk ramuan obat, apalagi kalau dibabat habis,” katanya.

Yustinus Lepakaken, mantan anggota Sispala Karonan SMAN 1 Siberut Utara langsung menolak ketika ditanya soal masuknya perkebunan sawit ke Mentawai. “Mendengar sawit saja saya sudah tidak setuju karena tidak ada pengalaman soal itu. Bisa kita lihat dari beberapa tanaman sawit yang sudah ada sebelumnya, yang hanya menjadi pajangan halaman rumah atau tanah masyarakat, tidak menghasilkan sampai sekarang,” tegasnya.

Gabriel Salakkopak, warga Desa Muntei menolak karena mengaku sudah tahu kondisi di perkebunan sawit. “Bekerja di perkebunan sawit tidak mendatangkan keuntungan, gajinya sedikit. Saya sudah pernah bekerja di perkebunan sawit hidup saya malah

melarat hingga harus minggat, pulang ke Mentawai tanpa ongkos. Yang untung besar hanya perusahaan, pekerjanya melarat,” tegasnya.

Aleksius Samaileppet, Ketua Badan Permusyawaratan Desa Maileppet menolak karena perkebunan sawit menggusur kebun rakyat. “Saya pribadi tidak setuju kalau perkebunan sawit masuk di Siberut karena akan merusak lingkungan dan menghabiskan ladang masyarakat yang selama ini telah menjadi tumpuan ekonomi. Namun soal itu kembali ke masyarakat, apakah menerima atau menolak,” ujarnya.***

Sajian Utama

Puailiggoubat

NO 192, 15-31 Mei 2010

8

R

ivai Lubis, Koordinator Divisi Hukum dan Kebijakan YCMM (Yaya-san Citra Mandiri Mentawai) me-ngaku menolak masuknya perkebu-nan kelapa sawit ke Mentawai ka-rena sarat dengan muatan konflik. “Secara pribadi, saya tidak setuju dengan rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) membuka lahan sawit di Mentawai. Berkaca dari pengalaman, pembukaan lahan sawit di beberapa wilayah lain memang berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat berupa konflik antar mereka,” katanya.

“Secara tidak langsung saya pernah menjadi korban sawit di daerah Kinali, Pasaman Barat. Saat itu ada masyarakat yang menuntut hak-hak mereka karena sebelum lahan sawit itu dibuka, masyarakat dijanjikan plasma dari lahan yang mereka serahkan. Saat mendampi-ngi mereka untuk menuntut hak-hak itu, terjadi kekerasan fisik. Para buruh perusahaan malah mengeroyok masyarakat, padahal yang masyarakat tuntut hanyalah hak mereka sesuai perjanjian sebelumnya. Jelas di sini pemerintah ingkar, dan sudah menjadi maling tanah rakyat,” tambah Rivai.

Rivai menjelaskan, jika sudah ada izin dari pemerintah kepada perusahaan untuk membuka lahan sawit tersebut, perusahaan akan memiliki HGU (Hak Guna Usaha) Sementara dalam Undang-Undang Pokok Agraria jika adanya izin pemerintah dalam pengelolaan

lahan, maka tanah tersebut sudah di-kategorikan menjadi tanah negara. “Dalam waktu lama status, tanah ulayat atau tanah adat secara otomatis juga akan berubah status menjadi tanah negara dan tentu saja hak-hak warga pun sudah tidak ada lagi di dalamnya,” tegas dia.

Menurut Rivai, pembukaan lahan sawit di Mentawai memang tidak seharusnya dilakukan. Se-bab, salah satu komoditi yang telah dikembangkan di Mentawai adalah kakao dan kemungkinan besar akan menjadi lahan perkebunan.

Kalau ini terwujud, tinggal bagaimana pemerintah mengem-bangkan teknologi seperti yang paling kecil industri berbasis rumah tangga. Pemerintah dapat juga mengundang investor untuk membuka perusahaan cokelat sebagai mitra. “Dengan begini

harga cokelat pun dapat lebih tinggi di pasaran,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembukaan lahan sawit juga akan mengun-dang pesaing-pesaing yang berpo-tensi ‘membunuh’ pertanian rak-yat yang sudah ada.

Ia juga mengimbau kepada pemerintah agar tidak terlalu terlena dengan gambaran makro di daerah-daerah yang memiliki perkebunan sawit, tetapi harus juga melihat secara mikro jika lahan perkebunan sawit tersebut direali-sasikan apakah akan terwujud ke-sejahteraan para masyarakat se-tempat dan seharusnya kalangan pengusaha menjadi mitra dan bukan pesaing.

Kepada masyarakat Rivai me-ngingatkan agar mempertimbang-kan betul penyerahan tanah, ka-rena di masa yang akan datang

Tanah Masyarakat akan Hilang Selamanya

Perkebunan Sawit Langkahi DPRD

Akibatnya beberapa anggota dewan pun mulai mempertanyakan kebijakan yang dikeluarkan itu, karena menurut mereka sebagai wakil rakyat mereka tidak diberitahu secara resmi terhadap rencana perkebunan sawit ini,

Hendri Dori Satoko, Ketua

DPRD Mentawai mengatakan bahwa hingga 11 Mei 2010 DPRD belum menerima selembar surat pun tentang rencana perkebunan sawit ini baik dari Bupati maupun dari pengusaha sawit itu sendiri.

“Sampai sekarang DPRD belum menerima surat apapun tentang perkebunan sawit, walau

5 izin lokasi dan sosialisasi telah dikeluarkan dan dilakukan” jelas Hendri.

Ia mengungkap bahwa di antara anggota DPRD ada juga yang ikut melakukan sosialisasi atas nama pribadi yang menurut Salimi anggota DPRD Mentawai adalah Isar Taileleu dari komisi A

dan Jimer dari Komisi B. Menurut Hendri, seharusnya mereka diberitahu secara resmi karena mereka adalah wakil rakyat yang selalu menjadi sasaran pertanyaan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa

Keluarnya Izin Lokasi

dari Bupati Kepulauan

Mentawai untuk lima

perusahaan sawit

menimbulkan keresahan

di DPRD Mentawai,

soalnya eksekutif tak

memberitahu kebijakan

tersebut ke dewan.

masalahnya sibakkat laggai telah diiming-imingi bayangan keun-tungan kalau menerima perkebu-nan sawit.

Sementara Bonifasius Sabebe-gen, wakil Ketua BPD Sikabalu-an, mantan pengurus AMA-PM Siberut Utara dan salah seorang peserta Rawil Gereja Katolik Mentawai di Sikakap mengingat-kan masyarakat agar tidak gam-pang tergoda.

“Masyarakat jangan tergiur

dengan iming-iming plasma sebanyak 20 persen. Kita bisa meminta plasma 40 persen kare-na ada pengalaman dalam kasus sawit di Riau. Soalnya setelah jangka plasma habis atau 25 ta-hun kemudian, tanah kita telah menjadi hak investor karena surat-surat lahan di luar plasma pihak investor yang mengurus, yang otomatis mereka bunyikan sebagai lahan milik mereka,” katanya.

Dia juga mengingatkan akan modus penipuan melalui sosiali-sasi AMDAL.

“Perusahaan selalu

melakukan penipuan untuk men-dapatkan lahan dengan

bertamengkan sosialisasi. Tanda tangan peserta yang hadir dalam berita acaranya dibuat seolah-olah masyarakat telah setuju dan menyerahkan lahan. Hari-hati,” katanya.

Boni menambahkan sekarang

sangat sulit menyatukan persepsi masyarakat, karena pemilik tanah ulayat atau

sibak-kat laggai sudah pintar.

“Pintu masuk perusahaan sekarang adalah pemilik lahan, iming-iming biaya pendidikan dan aneka kebutuhan lainnya, apalagi kalau tanahnya tak didiami sendiri, pasti akan mudah diserahkan,” tegasnya.

Rapit, pengurus AMA-PM Mongan Poula dan BPD Mongan

Poula, mengaku tidak setuju perkebunan sawit tapi tak berdaya karena bukan pemilik lahan.

“Kami jelas menolak rencana perkebunan sawit, kebun dan ladang yang ada sekarang saja kami sudah mati-matian

mengolahnya, apalagi sawit, tapi kami hanya bisa pasrah kalau tanah yang kami tinggali dan garap sekarang ini diserahkan untuk perkebunan sawit oleh pemilik lahan,” katanya.***

tanah tersebut berpotensi menjadi tanah negara yang tentunya akan merugikan masyarakat.

Rivai mengkhawatirkan jika kebun sawit ini terealisasi akan muncul pemborosan keuangan daerah karena pemerintah tentu harus mengalokasikan sejumlah

dana terutama untuk meredam konflik-konflik, padahal dana itu dapat digunakan untuk pembangu-nan lain yang lebih bermanfaat. “Tentu ini juga akan mem-perlambat pembangunan Mentawai,” tegasnya. ***

Rapot Pardomuan Simanjuntak Ke halaman 9

KEBUN SA

KEBUN SA

KEBUN SA

KEBUN SA

KEBUN SAWIT -

WIT -

WIT -

WIT -

WIT -

Perkebunan sawit membuat tanah terbuka.

(9)

9

Puailiggoubat

NO 192, 15-31 Mei 2010

Sajian Utama

lembaganya merasa kecolongan dengan dikeluarkannya Izin lokasi kepada 5 perusahaan sawit itu, namun ia mengungkapkan bahwa rencana kebun sawit ini telah ada sebelum mereka menjadi anggota DPRD . Untuk itu DPRD menurut Hendri akan memanggil Dinas terkait yakni Dinas Kehutanan dan Pertanian untuk mendapatkan keterangan tentang rencana per-kebunan sawit itu termasuk tim sosialisasi dari Pemda Mentawai.

Tolak

Secara pribadi menurut Hendri, ia menolak adanya kebun sawit di Mentawai. Alasannya antara lain bahwa kebun sawit akan memun-culkan berbagai konflik horizontal di tengah masyarakat, terutama pada aspek penguasaan tanah. Tanah di Mentawai kepemilikan-nya komunal dan bukan pribadi, untuk itu jika terjadi pro kontra dalam satu komunal akan memun-culkan konflik diantara mereka dan akan merusak tatanan budaya masyarakat. “Saya sangat kuatir dengan masuknya sawit di Menta-wai” tegasnya. “Kebun sawit akan memunculkan berbagai masalah

baru di tengah masyarakat” kata-nya lagi.

Ia menambahkan bahwa infor-masi rencana kebun sawit ini termasuk lokasi yang masuk kam-pung halamannya di Saibi baru ia ketahui dari media walau beberapa anggota dewan telah ikut dalam me-lakukan sosialisasi ke masyarakat. Secara ekonomi menurutnya memang masyarakat akan menda-patkannya akan tetapi hanya

sesa-at, setelah itu akan terjadi masalah sosial yang tidak sebanding dengan apa yang didapat oleh masyarakat saat dibukanya kebun sawit. “Belum ada studi tentang dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat dari kebun sawit,” katanya.

Untuk itu dalam jangka dekat ia akan mengagendakan dengan badan musyawarah DPRD mem-pertanyakan apa regulasi dari

kebun sawit ini kepada tim sosia-lisasi dari Pemda yang turut serta dengan pengusaha sawit.

Korbankan Coklat

Hendri juga mengungkapkan bahwa kebun sawit ini akan me-ngorbankan program dinas pertanian yang memfasilitasi masyarakat menanam kakao yang menurut data dari bidang perke-bunan pada dinas pertanian luas-nya sudah mencapai 3.810 hektar dengan biaya yang sudah cukup lumayan besar dalam APBD. “Ke-bun sawit akan gagalkan program pertanian jika areal yang dibe-rikan termasuk perkebunan ma-syarakat” kata Hendri.

Selain itu masyarakat tidak akan bisa mengolah lahannya lagi selama tanahnya menjadi HGU dari perusahaan sawit dan tanah tersebut juga tidak akan kembali ke masyarakat karena statusnya sudah tanah negara. Hendri juga meragukan plasma yang akan di-berikan kepada masyarakat seluas 2 hektar akan terkelola dengan baik.

“Bagaimana kalau plasma yang diberikan kepada masyarakat arealnya jauh dari tempat ting-galnya?” tanyanya.

Lain hal dengan Salimi anggota Komisi C DPRD Mentawai. Ia jelas – jelas menolak masuknya perke-bunan sawit ke Mentawai. Ketika ia mendengar ada yang mela-kukan sosialisasi di Taileleu kam-pungnya, ia pun mencarter boat dan pergi menemui masyarakat di wilayah Kecamatan Siberut barat Daya.

Ia menghimbau masyarakat di kecamatan itu untuk tidak menerima sawit. “Saya sudah menghimbau masyarakat di Sibe-rut Barat Daya untuk tidak mene-rima sawit” terangnya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika masyarakat tidak menghiraukan himbauannya itu.

Rakus Air dan Menghilangkan Hak Ulayat

Beberapa alasan penolakan oleh Salimi antara lain bahwa areal yang diberikan izin lokasinya untuk kebun sawit sangat luas yang akan mempersempit areal yang dapat dikelola masyarakat. “Lahan tidak akan cukup lagi untuk ma-syarakat” katanya.

Kedua ia katakan bahwa seba-tang pohon sawit membutuhkan air 45 liter / hari, jika dikalikan dengan luasan yang akan dibuka maka ia kwatir masyarakat akan kekurangan air untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi lokasi kebun itu berada di sumber-sumber air masyarakat.

Ketiga menurutnya pabrik sawit akan menghasilkan limbah yang tidak bisa diolah agar tak mencemari lingkungan. Ia juga mengatakan dokumen AMDAL adalah normatif saja, namun ke-nyataannya tidak bisa dilakukan. Ia mencontohkan kondisi di Jambi dan Riau yang limbah pabrik sawitnya tidak bisa diolah dan mencemari lingkungan.

Yang ke empat menurut Salimi bahwa ketika HGU dikantongi pengusaha maka masyarakat tidak akan bisa lagi menggunakan tanah itu karena akan menjadi milik pengusaha sawit dan jika kebun tutup maka akan menjadi milik negara dan tidak dikembalikan kepada masyarakat.

Terkait dengan tenaga kerja yang akan di pekerjakan di kebun dan pabrik sawit, Salimi menga-takan bahwa baru-baru ini ia melihat tayangan di Metro TV di mana seorang anak yang dijanjikan untuk diterima bekerja di kebun sawit, ketika orangtuanya mening-gal, janji itu pun tak di tetapi hingga ia menjadi pencuri sawit dan dipenjara 5 tahun.

“Saya tidak menginginkan hal-hal ini terjadi di Mentawai” tegas-nya.***

B

erbagai pihak baik dari DPRD dan instansi lain memprediksi akan terjadi berbagai konflik di tingkat ma-syarakat. Untuk itu diperlukan berb-agai antisipasi sebelum konflik terjadi dan meluas.

Menurut Miko Siregar, Kepa-la Dinas Sosial dan Transmigrasi diharuskan ada kebijakan dalam pengembangan pertanian dengan peningkatan SDM masyarakat. Dengan meningkatnya SDM ma-syarakat, maka peran sertanya dalam menentukan kebijakan akan dapat terserap yang akan mem-perkecil dampak negatif dari suatu kebijakan yang dikeluarkan.

Selama ini Miko mengaku belum pernah diajak dalam membicarakan rencana kebun sawit ini. Oleh karenanya ia tidak bisa berkomentar banyak tentang dam-pak sosial yang akan terjadi. Ia hanya menganalisa bahwa dalam kurun waktu sekitar 5 tahun sete-lah beroperasi tingkat perekono-mian masyarakat akan naik akan tetapi kalau tidak di-seimbangkan dengan pening-katan SDM masyarakat maka ekonomi akan menurun setelah 5 tahun dan akan terjadi berbagai konflik di tengah masyarakat.

Konflik akan terjadi saat ma-syarakat tidak bisa lagi memenu-hi kebutuhannya dengan sumber daya yang tersedia sementara

Berpotensi Konflik

tingkat konsumerismenya naik. Dengan plasma yang direncana-kan 20 persen dari total areal yang direncanakan untuk kebun maka tenaga yang terserap seki-tar 4.000 hingga 6.000 KK diluar tenaga untuk pabrik yang akan dibangun.

Hal ini didasarkannya dengan luasan 73.500 hektar yang diren-canakan di kali 20% untuk plasma yang sama dengan 14.700 hektar. Jika setiap KK menerima plasma 2 hektar maka akan ada 7.350 KK yang akan bekerja mengolah plasma atau yang sama dengan 43,15% dari total KK di Mentawai yang berjumlah 17.030 KK sesuai data Catatan Sipil.

Hal ini sama dengan perhitu-ngan Sri Harianto Kepala Kantor Lingkungan Hidup Mentawai yang mengatakan bahwa setiap 1.000 hektar kebun sawit akan menye-rap tenaga kerja sebanyak 100 orang. Dengan luasan 73.500 hek-tar maka akan terserap tenaga se-banyak 7.350 orang. Perbedaannya adalah Miko menghitung/KK se-dangkan Sri menghitung /orang.

Dari sudut hasil yang akan didapat masyarakat, hingga saat ini Bidang Perkebunan di Dinas Pertanian Mentawai tidak menge-tahui hitungan terhadap penda-patan yang akan didapat masya-rakat dari setiap hektar yang akan mereka kelola. “Hal itu adalah perhitungan dari

pengu-saha sawit” kata Sihol Simani-huruk Kepala bidang Perkebu-nan di dinas Pertanian Mentawai.

Sihol mengatakan bahwa da-lam 1 hektar kebun sawit akan dapat ditanami 125 batang sawit, sedangkan kakao dalam 1 hektar akan dapat ditanami 1000 batang. Namun secara logika kata Sihol bahwa Sawit lebih menguntung-kan. Logikanya adalah bahwa pengusaha belum ada membuat kebun kakao atau kebun lainnya dalam skala besar dibanding dengan sawit.

Hanya saja menurut Sihol jika hanya 2 hektar saja yang dikelola tidak akan cukup untuk kehidu-pan satu keluarga. Ia mencerita-kan bahwa temannya yang me-miliki kebun sawit 2 hektar menam-bah luas kebunnya menjadi 4 hektar dengan alasan tidak cukup.

Terkait dengan program di-nas pertanian yang memberikan ban-tuan bibit kakao kepada ma-syarakat dan telah ditanami war-ga denwar-gan luas 3.810 hektar sesu-ai data yang mereka miliki, ia menga-takan agar lokasi yang sudah ditanami kakao itu jika masuk dalam peta lokasi perke-bunan sawit, jangan sampai dibe-rikan oleh masyarakat untuk di-jadikan sawit termasuk kebun lainnya seperti kelapa yang luas-nya 3.688 hektar dan pisang 2.460 hektar serta komoditi lainnya.***

KLH Tak akan Tolerir Perkebunan Sawit

Sri Harianto kepala Kantor Lingkungan Hidup Mentawai mengatakan tidak akan mentolelir kebun sawit yang akan mencemari lingkungan.

Ia mengatakan bahwa dalam sosialisasi AMDAL di tingkat masyarakat bulan lalu ia sebutkan bahwa beberapa hal yang dia syaratkan kepada pengusaha sawit adalah bahwa perkebunan sawit harus tidak memiliki dampak negatif yang tidak bisa diminimalisir, kedua bahwa kayu yang dipotong saat land clearing tidak boleh dibakar dan tidak

menimbulkan erosi ataupun longsor, ketiga bahwa limbah sawit harus bisa diolah sehingga tidak mengakibatkan pencemaran air.

“Jika perusahaan sawit tidak bisa memenuhi hal ini maka Kantor Lingkungan Hidup tidak akan mentolerirnya”

tegasnya.

Walau masyarakat mengizinkan tanahnya untuk dijadikan kebun sawit, namun Sri mengatakan bahwa pihaknya tidak serta merta mengizinkan pengusaha sawit itu beroperasi mutlak. Kajian dampak lingkungan perlu dikaji serius sebelum beroperasi. ***

SA

SA

SA

SA

SAWIT -

WIT -

WIT -

WIT -

WIT -

Sawit petani di Ukui, Pelalawan, pas-pasan kalau hanya punya kebun di bawah 10 hektar

Referensi

Dokumen terkait

1) Menghitung Analisa Biaya Konstruksi (ABK) pada pengerjaan struktur (kolom, balok, plat, dinding, dan tangga), pada perencanaan Gedung Perkantoran 5 Lantai

Permasalah utama yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah adalah “Bagaimana kesenian calung dapat bertahan seiring perkembangan zaman pada tahun 1970-2013?”

pengumpulan beragam sumber tulisan untuk kemudian mengambil darinya ide dalam level paragraf bahkan kalimat untuk menggabungkannya menjadi satu. Sering kali hasil

Beberapa nilai siswa tidak mencapai kriteria ketuntasa minimal (KKM), namun setelah menggunakan Mobile Learning Media bermuatan ethnoscience menunjukkan bahwa

Kegawatdarurat an obstetri yang berakibat pada kematian maternal merupakan kontribusi dari faktor medis dan keterlambatan mengenal tanda bahaya dirumah. Faktor – faktor

Perancangan hotel resort dengan penerapan struktur merupakan bangunan komersil yang digunakan sebagai tempat sementara para wisatawan untuk beristirahat

masyarakat yang tagihan listriknya tidak terlalu besar, bisa membayar tagihan listrik dengan sampah mereka. Sebelumnya, untuk menjadi anggota Bank Sampah JWProject

1) Mengintensifkan pelaksanaan Pengkaderan Muhammadiyah dan menjadikan pengkaderan sebagai budaya organisasi di seluruh tingkatan pimpinan, amal usaha dan institusi