• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIPPOCRATES MEDICAL COACHING PALEMBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HIPPOCRATES MEDICAL COACHING PALEMBANG"

Copied!
389
0
0

Teks penuh

(1)

1. Seorang wanita 26 tahun dibawa oleh suaminya karena memiliki tingkah aneh sejak 1 bulan yang lalu. suami mengeluhkan jika pasien sering memakan tanah akhir-akhir ini. Suami mengatakan jika mereka telah menikah 3 tahun yang lalu dan istrinya baru melahirkan 6 bulan yang lalu. Sejak melahirkan istrinya patuh untuk mengikuti pantang makan daging, telur, sayur, ikan, dan sebagainya. Ia hanya makan nasi dan tahu tempe sejak melahirkan. Tidak pernah minum obat atau vitamin semenjak hamil karena takut berbahaya. Saat diperiksa didapatkan Hb 7,1 g/dl. Hal apakah yang mendasari terjadinya kondisi diatas ?

A. Defisiensi zat besi B. Defisiensi asam folat C. Defisiensi protein D. Defisiensi kalsium E. Defisiensi vitamin B12 Pembahasan :

Keyword:

❖ Keluhan : sering memakan tanah.

❖ Baru melahirkan 6 bulan yang lalu. Sejak melahirkan mengikuti pantang makan daging, telur, sayur, ikan, dan sebagainya. Ia hanya makan nasi dan tahu tempe sejak melahirkan. Tidak pernah minum obat atau vitamin semenjak hamil.

(2)

Anemia Defisiensi Besi

Etiologi:

1. Intake rendah (makanan rendah zat besi) 2. Gangguan absorbsi (gastrektomi, kolitis kronik) 3. Kebutuhan meningkat (masa pertumbuhan, ibu hamil)

4. Kehilangan besi (perdarahan kronis: hemoroid,tukak peptik, infeksi cacing tambang dan lain sebagainya) Gejala Klinis

➢ Umum : lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, konjungtiva anemis.

➢ Khas defisiensi besi : koilonychia (spoon nail), atrofi papil lidah, stomatitis angularis (cheilosis), disfagia, atrofi mukosa gaster, pica.

Penyerapan besi Terdapat 3 fase yaitu:

✓ Fase luminal ✓ Fase mukosal ✓ Fase korporal

(3)

Penyerapan besi dipacu oleh meat factors dan vitamin C, sedangkan dihambat oleh tanat, fitat dan serat. Di lambung besi dilepaskan dari ikatannya dengan senyawa lain. Kemudian terjadi reduksi besi dari bentuk feri ke fero.

Pemeriksaan Penunjang

✓ Darah lengkap: hemoglobin, MCV, MCH, MCHC dan hematokrit menurun.

✓ Hapusan darah tepi: hipokromik mikrositer, anisositosis, poikilositosis, ring cell, pencil cell atau cigar cell ✓ Pemeriksaan khusus: Serum Iron dan ferittin menurun, TIBC meningkat.

Tatalaksana

1. Terapi besi oral: efektif, murah, aman. Preparat pilihan utama yang tersedia adalah ferrous sulphat karena efektif dan paling murah. 2. Terapi besi parenteral: lebih efektif, tetapi resiko lebih besar dan mahal.

3. Transfusi PRC: hanya jika terdapat indikasi (penyakit jantung anemik, gejala yang sangat parah, preoperasi, hamil trimester akhir). Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

2. Seorang pria usia 56 tahun datang karena adanya benjolan pada leher tidak nyeri sejak 1 bulan lalu. Selain itu, akhir-akhir ini pasien sering mengalami demam dan penurunan berat badan yang drastis, kedua kaki sedikit bengkak.Pasien menyangkal adanya penyakit jantung maupun penyakit ginjal. Sejak muda pasien gemar merokok dan sering mengkonsumsi ikan asin. Dari pemeriksaan fisik pasien tampak kurus dan pucat. Konjungtiva anemis, dan terdapat limfadenopati pada leher dengan konsistensi rubbery yang tidak nyeri. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil anemia, LED meningkat dan limfositosis. Histopatologis didapatkan sel reed sternberg. Apa Diagnosis pada

(4)

pasien ini ?

A. Limfadenitis akut B. Limfadenitis TB C. Limfoma hodgkin D. Limfoma non hodgkin E. Leukimia mielositik akut Pembahasan :

Keyword:

❖ Keluhan : benjolan pada leher ng tidak nyeri sejak 1 bulan lalu. Sering mengalami demam dan penurunan berat badan yang drastis, kedua kaki sedikit bengkak.

❖ Sejak muda pasien gemar merokok dan sering mengkonsumsi ikan asin.

❖ Pemeriksaan Fisik : pasien tampak kurus dan pucat. Konjungtiva anemis, dan terdapat limfadenopati pada leher dengan konsistensi rubbery yang tidak nyeri.

❖ Pemeriksaan penunjang: anemia, LED meningkat dan limfositosis. Histopatologis didapatkan sel reed sternberg. Limfoma hodgkin

Faktor resiko:

(5)

Gejala klinis:

Limfadenopati dengan konsistensi rubbery dan tidak nyeri, demam tipe Pel-Ebstein, neuropati, penurunan berat badan, hepatosplenomegali, tanda obstruksi seperti edema ekstremitas, sindroma vena kava

Pemeriksaan penunjang:

Laboratorium : anemia, eosinofilia, LED meningkat, limfosit abnormal atau limfositosis. Biopsi sumsum tulang : untuk staging. Histopatologi ditemukan Reed-Sternberg cell.

Radiologis : foto thorax melihat limfadenopati hilar dan mediastinal, efusi pleura atau lesi parenkim paru.

Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

3. Seorang wanita usia 43 tahun datang ke dokter dengan keluhan lemas, mudah lelah, mata kekuningan dan urine berwarna merah gelap. Pasien menyangkal adanya perdarahan. Pemeriksaan fisik didapatkan tensi 100/70 mmHg, Respirasi 23x/menit, suhu 36,2 ºC, nadi 99x/menit. Pasien tampak pucat, konjungtiva anemis, sclera ikterus. Dari pemeriksaan abdomen ditemukan adanya splenomegali. Pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 6,6 g/dl, retikulosit meningkat. Hapusan darah tepi menunjukkan sel darah yang normokromik normositer. Pemeriksaan utama apa yang perlu dilakukan ?

A. Biopsi sumsum tulang B. Hb elektroforesis C. Pemeriksaan D dimer

(6)

D. Coomb’s test E. Tes Schiling Pembahasan

Keyword:

❖ Keluhan : lemas, mudah lelah, mata kekuningan dan urine berwarna merah gelap.

❖ Pemeriksaan Fisik : tampak pucat, konjungtiva anemis, sclera ikterus, splenomegali (+).

❖ Pemeriksaan penunjang : Hb 6,6 g/dl, retikulosit meningkat. Hapusan darah tepi menunjukkan sel darah yang normokromik normositer. AIHA

Definisi:

Merupakan suatu kelainan dimana terdapat autoantibodi terhadap sel-sel eritrosit sehingga eritrosit mudah lisis dan umur eritrosit memendek.

Gejala dan tanda:

(7)

Pemeriksaan penunjang:

✓ Laboratorium : Anemia normositik, peningkatan bilirubin indirek, retikulositosis, peningkatan LDH, peningkatan serum haptoglobulin. ✓ Deteksi autoantibodi pada eritrosit : direct coomb’s test postif.

✓ Hapusan darah tepi: tampak fragmentasi dari eritrosit (sferosit,skistosit, helmet cell, dan retikulosit).

Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

4. Seorang pria usia 18 tahun datang ke dokter dengan keluhan sering memar pada persendian. Keluhan muncul terutama setelah pasien terlalu kelelahan, melakukan aktivitas berlebihan ataupun trauma ringan. Keluhan sering berulang sejak pasien masih kecil tetapi mengaku belum mengetahui penyebab keluhan tersebut. Ayah dari ibu pasien juga diketahui memiliki riwayat keluhan yang sama. Dari pemeriksaan fisik tampak hemartrosis pada persendian serta multiple hematom pada betis dan lengan. Dari hasil pemeriksaan penunjang didapatkan trombosit 250.000/ ʯl, bleeding time normal, clotting time memanjang, protombin time normal, PTT normal, aPTT memanjang, tes ristosetin normal. Bagaimanakah Cara penurunan penyakit ini ?

A. Autosomal dominant B. Autosomal recessive C. X linked dominant D. X linked recessive E. Bukan herediter

(8)

Pembahasan :

Keyword:

❖ Keluhan : sering memar terutama setelah terlalu kelelahan, aktivitas berlebihan ataupun trauma ringan. Keluhan sering berulang sejak pasien masih kecil.

❖ Ayah dari ibu pasien juga diketahui memiliki riwayat keluhan yang sama.

❖ Pemeriksaan Fisik : hemartrosis pada persendian serta multiple hematom pada betis dan lengan.

❖ Pemeriksaan penunjang : trombosit 250.000/ ʯl, bleeding time normal, clotting time memanjang, protombin time normal, PTT normal, aPTT memanjang, tes ristosetin normal.

Hemofilia

Definisi:

Merupakan penyakit perdarahan akibat kekurangan faktor pembekuan darah yang diturunkan (herediter) secara sex-linked pada kromosom X. Penyakit ini hanya bermanifestasi klinis pada pria. Wanita hanya sebagai carrier.

Klasifikasi:

a. Hemofilia A (Hemofilia klasik) karena defisiensi atau disfungsi faktor VIII. b. Hemofilia B (Chrismas disease) karena defisiensi atau disfungsi faktor IX c. Hemofilia C akibat kekurangan faktor XI.

(9)

Gejala dan tanda klinis:

Perdarahan spontan atau karena trauma ringan berupa hemartrosis, hematom subkutan/intramuskular, pedarahan mukosa mulut, perdarahan intrakranial, epitaksis, hematuria, perdarahan berkepanjangan setelah operasi kecil seperti sirkumsisi.

Pemeriksaan laboratorium:

Gangguan uji hemostasis berupa pemanjang masa pembekuan (CT) dan masa tromboplastin partial teraktivasi (aPTT), abnormalitas uji tromboplastin generation. Masa perdarahan (BT) dan masa protombin (PT) serta jumlah trombosit normal. Diagnosis definitif ditegakkan jika berkurangnya aktivitas FVIII/FIX.

Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

5. Seorang wanita 18 tahun datang ke dokter dengan keluhan lemas dan meminta untuk dilakukan transfusi darah. Pasien mengaku sudah sejak kecil rutin melakukan transfusi darah. Tetapi pasien mengaku belum mengetahui penyebab anemia yang dideritanya. Saat diperiksa pasien tampak pucat, tulang dahi, pipi dan dagu atas tampak menonjol, konjungtiva anemis, sklera ikterus, didapatkan hepatosplenomegali. Apa Pemeriksaan penunjang yang merupakan gold standar untuk penyakit pasien ?

A. Darah lengkap B. Hapusan darah tepi C. Analisis sumsum tulang D. Hb elektroforesis

(10)

E. Pearl’s stain Pembahasan :

Keyword:

❖ Keluhan : lemas dan meminta untuk dilakukan transfusi darah. ❖ Riwayat sejak kecil rutin melakukan transfusi darah.

❖ Pemeriksaan Fisik : pasien tampak pucat, tulang dahi, pipi dan dagu atas tampak menonjol, konjungtiva anemis, sklera ikterus, didapatkan hepatosplenomegali.

Thalasemia

Penyebab:

Penurunan kecepatan sintesis atau kemmapuan produksi atu atau lebih rantai globin yang menyebabkan defisiensi produksi parsial atau komplit rantai globin, akibatnya terjadi thalasemia yang jenisnya sesuai ranta globin yang terganggu.

Gejala klinis

Klinis tergantung dari rantai globin mana yang terganggu. Gejala umumnya berupa anemia, ikterus, splenomegali, deformitas skeletal. Pemeriksaan penunjang

(11)

✓ Hapusan darah tepi : eritrosit mikrositik hipokromik dengan poikilositosis, sel target, eliptosis, basophillic stippling. hitung retikulosit meningkat.

✓ Hb elektroforesis merupakan gold standar pemeriksaan thalasemia.

Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

6. Seorang wanita usia 17 tahun datang ke praktek dokter umum dengan keluhan mudah lelah dan sering mengantuk di kelas meskipun telah istirahat cukup. Pasien mengaku merupakan seorang vegetarian sejak 2 tahun lalu dan tidak pernah mengkonsumsi suplemen atau vitamin tambahan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis (+), atrofi papil lidah (+),ikterus (-), Splenomegali (-). Setelah dilakukan pemeriksaan darah lengkap didapatkan hasil Hb 7,9 g/dl, MCV 65 fl, MCHC 25%. Penyerapan zat untuk terapi pasien ini dalam bentuk? Apa ? A. Besi B. Feri C. Fero D. Feritin E. Transferin Pembahasan : Keyword :

(12)

❖ Merupakan seorang vegetarian sejak 2 tahun lalu dan tidak pernah mengkonsumsi suplemen atau vitamin tambahan. ❖ Pemeriksaan Fisik : konjungtiva anemis (+), atrofi papil lidah (+),ikterus (-), Splenomegali (-).

❖ Pemeriksaan penunjang: Hb 7,9 g/dl, MCV 65 fl, MCHC 25%. Anemia Defisiensi Besi

Etiologi:

➢ Intake rendah (makanan rendah zat besi) ➢ Gangguan absorbsi (gastrektomi, kolitis kronik) ➢ Kebutuhan meningkat (masa pertumbuhan, ibu hamil)

➢ Kehilangan besi (perdarahan kronis: hemoroid,tukak peptik,infeksi cacing tambang dan lain sebagainya) Gejala Klinis

✓ Umum : lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, konjungtiva anemis.

Khas defisiensi besi : koilonychia (spoon nail), atrofi papil lidah, stomatitis angularis (cheilosis), disfagia, atrofi mukosa gaster, pica. Penyerapan besi

Terdapat 3 fase yaitu: 1. Fase luminal

(13)

2. Fase mukosal 3. Fase korporal

Penyerapan besi dipacu oleh meat factors dan vitamin C, sedangkan dihambat oleh tanat, fitat dan serat. Di lambung besi dilepaskan dari ikatannya dengan senyawa lain. Kemudian terjadi reduksi besi dari bentuk feri ke fero.

Pemeriksaan Penunjang

➢ Darah lengkap : hemoglobin, MCV, MCH, MCHC dan hematokrit menurun.

➢ Hapusan darah tepi : hipokromik mikrositer, anisositosis, poikilositosis, ring cell, pencil cell atau cigar cell ➢ Pemeriksaan khusus : Serum Iron dan ferittin menurun, TIBC meningkat.

Tatalaksana

1. Terapi besi oral : efektif, murah, aman. Preparat pilihan utama yang tersedia adalah ferrous sulphat karena efektif dan paling murah. 2. Terapi besi parenteral : lebih efektif, tetapi resiko lebih besar dan mahal.

3. Transfusi PRC : hanya jika terdapat indikasi (penyakit jantung anemik, gejala yang sangat parah, preoperasi, hamil trimester akhir).

Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

7. Seorang wanita usia 51 tahun datang ke dokter dengan keluhan lemas, mata kekuningan dan urine berwarna merah gelap. Pasien tampak pucat, tensi 110/70 mmHg, nadi 87x/menit, respiratory rate 21x/menit, suhu 36,4 ºC, konjungtiva anemis, sclera ikterus. Dari pemeriksaan

(14)

abdomen ditemukan adanya splenomegali. Pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 6,9 g/dl, retikulosit meningkat. Hapusan darah tepi menunjukkan sel darah yang normokromik normositer direct coomb’s test positif. Terapi apakah yang tepat diberikan untuk pasien tersebut ?

A. Pemberian transfusi PRC B. Pemberian cairan kristaloid C. Pemberian kortikosteroid D. Pemberian WBC

E. Transplantasi sumsum tulang Pembahasan :

Keyword:

❖ Keluhan : lemas, mata kekuningan dan urine berwarna merah gelap.

❖ Pemeriksaan Fisik : pucat, konjungtiva anemis, sclera ikterus. Dari pemeriksaan abdomen ditemukan adanya splenomegali.

❖ Pemeriksaan penunjang : Hb 6,9 g/dl, retikulosit meningkat. Hapusan darah tepi menunjukkan sel darah yang normokromik normositer direct coomb’s test positif.

AIHA

Definisi:

(15)

memendek.

Gejala dan tanda:

Lemas, mudah capek, sesak napas. Tanda klinis berupa konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali, urine berwarna merah gelap. Pemeriksaan penunjang:

✓ Laboratorium : Anemia normositik, peningkatan bilirubin indirek, retikulositosis, peningkatan LDH, peningkatan serum haptoglobulin. ✓ Deteksi autoantibodi pada eritrosit: direct coomb’s test postif.

✓ Hapusan darah tepi : tampak fragmentasi dari eritrosit (sferosit,skistosit, helmet cell, dan retikulosit). Terapi

Kortikosteroid 1 – 1,5 mg/kgBB/hari

Splenektomi jika terapi steroid tidak adekuat. Rituximab dan alemtuzumab.

Imunosupresi : azathioprin dan siklofosfamid.

Terapi lain : danazol biasanya dipakai bersama kortikosteroid.

Terapi transfusi: bukan merupakan kontraindikasi mutlak. Dapat diberikan pada kondisi mengancam nyawa (misal Hb  3 g/dl).

(16)

8. Pasien wanita usia 20 tahun mengeluh sering mengalami gusi berdarah dan mimisan. Pasien juga mengeluhkan pusing, badan terasa lemas, dan sering mengalami demam. Pada pemeriksaan fisik pasien tampak pucat, tensi 100/60 mmHg, Respirasi 19x/menit, suhu 37,2 ºC, nadi 89x/menit. Pemeriksaan darah lengkap didapatkan Hb 8,1 g/dl. Hasil pemeriksaan hapusan darah tepi menunjukkan sel darah normokromik normositer. Pemeriksaan sumsum tulang didapatkan hasil sumsum tulang yang hiposelular dan berlemak. Apa Diagnosis pada pasien ini? A. Anemia akibat penyakit kronis

B. Limfoma hodgkin C. Anemia aplastik D. AIHA E. Leukimia akut Pembahasan Keyword:

❖ Keluhan : sering mengalami gusi berdarah, mimisan, pusing, badan terasa lemas, dan demam. ❖ Pemeriksaan Fisik : pasien tampak pucat

❖ Pemeriksaan penunjang : Hb 8,1 g/dl. Hasil pemeriksaan hapusan darah tepi menunjukkan sel darah normokromik normositer. Pemeriksaan sumsum tulang didapatkan hasil sumsum tulang yang hiposelular dan berlemak.

(17)

Gejala klinis

Muncul akibat dari pansitopenia yaitu:

✓ Anemia : pucat, fatig, dispnea, pusing dan jantung berdebar-debar.

✓ Trombositopenia: manifestasi perdarahan seperti memar maupun perdarahan mukosa. ✓ Neutropenia: rentan terhadap infeksi suehingga muncul gejala seperti demam.

Pemeriksaan fisik :

pucat, manifestasi perdarahan, demam Pemeriksaan penunjang:

Darah lengkap: pansitopenia

Hapusan darah tepi: normokromik normositer Faal hemostasis: waktu perdarahan memanjang Gold standar: biopsi sumsum tulang Tatalaksana

✓ Terapi definitif : transplantasi sumsum tulang ✓ Terapi konservatif : immunosupresif

Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

(18)

merasa pusing, mudah lelah dan mudah mengantuk. Pasien mengaku tidak teratur meminum vitamin yang diberikan dokter. Selain itu, sejak setelah melahirkan kesehariannya hanya makan tahu tempe dan nasi karena perintah orang tuanya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis (+), atrofi papil lidah (+),ikterus (-), Splenomegali (-). Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil Hb 8,1 g/dl, MCV 70 fl, MCHC 25%, TIBC meningkat, feritin menurun. Manakah Yang bukan anjuran seharusnya diberikan untuk memperbaiki kondisi anemia pasien ?

A. Memperbanyak makan sayur B. Makan daging dengan jus buah C. Memakan hati sapi atau ayam D. Menambah jumlah asupan ikan laut E. Memakan kerang

Pembahasan

Keyword:

❖ Keluhan: pucat setelah melahirkan anaknya 3 bulan lalu. Selain itu sering merasa pusing, mudah lelah dan mudah mengantuk.

❖ Pasien mengaku tidak teratur meminum vitamin yang diberikan dokter. Selain itu, sejak setelah melahirkan kesehariannya hanya makan tahu tempe dan nasi.

❖ Pemeriksaan Fisik :konjungtiva anemis (+), atrofi papil lidah (+),ikterus (-), Splenomegali (-). ❖ Pemeriksaan penunjang : Hb 8,1 g/dl, MCV 70 fl, MCHC 25%, TIBC meningkat, feritin menurun. Anemia Defisiensi Besi

(19)

Etiologi :

1. Intake rendah (makanan rendah zat besi) 2. Gangguan absorbsi (gastrektomi, kolitis kronik) 3. Kebutuhan meningkat (masa pertumbuhan, ibu hamil)

4. Kehilangan besi (perdarahan kronis: hemoroid,tukak peptik,infeksi cacing tambang dan lain sebagainya) Gejala Klinis

✓ Umum : lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, konjungtiva anemis.

Khas defisiensi besi : koilonychia (spoon nail), atrofi papil lidah, stomatitis angularis (cheilosis), disfagia, atrofi mukosa gaster, pica. Penyerapan besi

Terdapat 3 fase yaitu: 1. Fase luminal

2. Fase mukosal 3. Fase korporal

Penyerapan besi dipacu oleh meat factors dan vitamin C, sedangkan dihambat oleh tanat, fitat dan serat. Di lambung besi dilepaskan dari ikatannya dengan senyawa lain. Kemudian terjadi reduksi besi dari bentuk feri ke fero.

(20)

✓ Darah lengkap : hemoglobin, MCV, MCH, MCHC dan hematokrit menurun.

✓ Hapusan darah tepi : hipokromik mikrositer, anisositosis, poikilositosis, ring cell, pencil cell atau cigar cell ✓ Pemeriksaan khusus : Serum Iron dan ferittin menurun, TIBC meningkat.

Tatalaksana

1. Terapi besi oral: efektif, murah, aman. Preparat pilihan utama yang tersedia adalah ferrous sulphat karena efektif dan paling murah. 2. Terapi besi parenteral: lebih efektif, tetapi resiko lebih besar dan mahal.

3. Transfusi PRC: hanya jika terdapat indikasi (penyakit jantung anemik, gejala yang sangat parah, preoperasi, hamil trimester akhir). Sumber: Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

10. Seorang wanita 23 tahun datang ke dokter karena lemas dan pucat. Pasien mengaku sudah sejak kecil rutin melakukan transfusi darah. Tetapi pasien mengaku belum mengetahui penyebab anemia yang dideritanya. Saat diperiksa pasien tampak pucat, tulang dahi, pipi dan dagu atas tampak menonjol, konjungtiva anemis, sklera ikterus, didapatkan hepatosplenomegali. Hasil pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 4,7 g/dl, trombosit 270.000/ʯl, leukosit 8000/ʯl. Dokter segera memberikan transufusi PRC hingga pasien membaik. Terapi tambahan apa yang perlu diberikan pada pasien ini ?

A. Pemberian zat besi B. Pemberian asam folat C. Pemberian kortikosteroid D. Pemberian deferasirox

(21)

E. Pemberian eritropoetin Pembahasan :

Keyword :

❖ Keluhan : lemas dan pucat.

❖ Sejak kecil rutin melakukan transfusi darah.

❖ Pemeriksaan Fisik : tampak pucat, tulang dahi, pipi dan dagu atas tampak menonjol, konjungtiva anemis, sklera ikterus, didapatkan hepatosplenomegali.

❖ Pemeriksaan penunjang : Hb 4,7 g/dl. Thalasemia

Penyebab:

Penurunan kecepatan sintesis atau kemampuan produksi satu atau lebih rantai globin yang menyebabkan defisiensi produksi parsial atau komplit rantai globin, akibatnya terjadi thalasemia yang jenisnya sesuai ranta globin yang terganggu.

Gejala klinis

Klinis tergantung dari rantai globin mana yang terganggu. Gejala umumnya berupa anemia, ikterus, splenomegali, deformitas skeletal. Pemeriksaan penunjang

(22)

✓ Laboratorium : hemoglobin dan hematokrit menurun, MCV sangat rendah, MCHC sedikit menurun, serum iron dan ferittin normal. ✓ Hapusan darah tepi: eritrosit mikrositik hipokromik dengan poikilositosis, sel target, eliptosis, basophillic stippling . hitung retikulosit

meningkat.

✓ Hb elektroforesis merupakan gold standar pemeriksaan thalasemia. Pengobatan muatan besi berlebih

karena penderita thalasemia sangat sering melakukan transfusi makadiperlukan terapi kelasi. Ada beberapa obat yang direkomendasikan untuk terapi kelasi, yaitu:

Deferasirox Deferiprone

DFO

11. Seorang wanita hamil usia 30 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan demam naik turun sejak 7 hari yang lalu. Demam terjadi terutama di sore hari. Selain itu pasien mengalami nyeri perut dan sulit Buang Air Besar. Pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi : 60x/menit, Respirasi : 20x/menit, suhu : 38 ºC. Pada pemeriksaan fisik abdomen didapatkan meteorismus. Apa Terapi yang tepat pada pasien ini ?

A. Kloramfenikol B. Tiamfenikol C. Amoksisilin D. Kotrimoksazol

(23)

E. Trimetoprim Sulfametoksazol Pembahasan :

Keyword:

❖ Wanita hamil

❖ Demam h-7 step-ladder, nyeri perut (+), sulit Buang Air Besar (+)

❖ Pemeriksaan Fisik : Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi : 60x/menit, Respirasi : 20x/menit, suhu : 38 ºC. Abd : meteorismus (+) Demam Tifoid

✓ Demam naik turun terutama sore dan malam hari dengan pola intermitten dan kenaikan suhu step ladder. Demam tinggi dapat terjadi terus menerus hingga minggu kedua.

✓ Sakit kepala (pusing-pusing)yang dapat dirasakan di daerah frontal.

✓ Gangguan GIT berupa meteorismus, konstipasi, diare, Buang Air Besar berdarah, mual, muntah, nyeri abdomen. ✓ Gejala penyerta lain seperti nyeri otot, pegal-pegal, batuk, anoreksia, insomnia.

✓ Pada kasus berat dapat dijumpai penurunan kesadaran dan kejang Terapi

1. Kloramfenikol 4x500mg 2. Tiamfenikol 4x500mg

(24)

3. Kotrimoksazol 2x2 tab (1 tab mengandung sulfametoksazol 400mg dan 80 mg trimethoprim) 4. Ampisilin dan amoksisilin (aman untuk penderita hamil

5. Sefalosporin generasi ketiga

12. Seorang laki-laki datang dengan keluhan nyeri pada kedua lutut yang memberat saat dipakai beraktivitas dan membaik saat beristirahat. Saat ini pasien merasa kesulitan untuk berjalan. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan krepitasi (+) dan deformitas pada kedua kaki. Pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil asam urat 6 mg/dL. Dari hasil foto didapatkan hasil berikut. Apa Diagnosa yang tepat ? A. Osteoarthritis grade I

B. Osteoarthritis grade II C. Osteoarthritis grade III D. Osteoarthritis grade IV E. Gout Arthritis

Pembahasan

Keyword:

(25)

❖ Pemeriksaan Fisik : Krepitasi (+), Deformitas (+) ❖ Laboratorium : asam urat 6,0 mg/dl

Osteoarthritis

❖ Keluhan : nyeri sendi, hambatan gerak sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi, perubahan gaya berjalan.

❖ Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda patognomonis berupa: hambatan gerak, krepitasi, pembengkakan sendi yang seringkali asimetris, tanda-tanda peradangan sendi, deformitas sendi yang permanen, perubahan gaya berjalan.

❖ Pemeriksaan penunjang: radiografi

Sumber: Pedoman Praktek Klinis, 2014

(26)

Grade OA

13. Seorang wanita datang ke poliklinik dengan keluhan badan kuning sejak tiga hari yang lalu. Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri perut dan mual muntah. Teman satu kantor pasien mengalami hal yang sama. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, suhu : 38,8 ºC, Respirasi : 18x/menit, sklera ikteri (+), hepatomegali(+). Pemeriksaan laboratorium didapatkan IgM anti HAV (+). Terapi apa yang tidak tepat diberikan pada pasien ini ?

A. Ibuprofen B. Ranitidin C. Paracetamol D. Simetidin E. Omeprazole Pembahasan : Keyword:

Grade 1 Celah sendi normal, osteofit minimal, sclerosis (-), deformitas (-) Grade 2 Celah sendi sempit, osteofit (+), sclerosis (-), deformitas (-)

Grade 3 Celah sendi sempit, osteofit (+), sclerosis (+), deformitas (-), kista subchondral (+) Grade 4 Celah sendi sempit, osteofit (+), sclerosis (+), deformitas (+)

(27)

❖ Badan kuning sejak 3 hari yang lalu. Mual, muntah, nyeri perut (+).

❖ Pemeriksaan Fisik : Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, suhu : 38,8 ºC, Respirasi : 18x/menit, sklera ikteri (+), hepatomegali(+).

❖ Laboratorium : IgM anti HAV (+) Hepatitis A

❖ Keluhan : demam, mata dan kulit kuning, penurunan nafsu makan, nyeri otot dan sendi, lemah, letih, dan lesu, mual, muntah, warna urine seperti teh dan tinja seperti dempul.

❖ Pemeriksaan fisik: febris, sklera ikterik, hepatomegali, warna urin seperti teh.

❖ Laboratorium: tes laboratorium urin (bilirubin dalam urin), peningkatan kadar bilirubin dalam darah, kadar SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai normal tertinggi, dilakukan di fasilitas primer lebih lengkap. IgM anti HAV (dilayanan sekunder).

Terapi

✓ Asupan kalori dan cairan yang adekuat ✓ Tirah baring

✓ Pengobatan simptomatik

- Demam : ibuprofen 2x400 mg

- Mual : metoklopramid 3x10 mg/hari atau domperidon 3x10mg/hari - Perut perih dan kembung : H2 blocker atau proton pump inhibitor

(28)

✓ Jangan diberikan obat hepatotoksik seperti paracetamol

Sumber: Pedoman Praktek Klinis, 2014, PAPDI, 2014

14. Seorang wanita usia 46 tahun datang untuk kontrol kadar kolesterol. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, suhu : 36,3ºC, Berat Badan : 80 kg, Tinggi Badan : 160 kg. Pemeriksaan lab didapatkan LDL : 180 mg/dL dan TG: 420 mg/dL.Terapi apa yang tepat untuk pasien tersebut ?

A. Fibrat B. Statin C. GHS

D. Fibrat+statin

E. HMG CoA reductase inhibitor Pembahasan

Keyword

❖ Kontrol kolesterol.

❖ Pemeriksaan Fisik : Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, suhu : 36,3ºC ❖ Laboratorium LDL : 180 mg/dL dan TG: 420 mg/dL

(29)

Dislipidemia

Sumber: PAPDI, 2014

Terapi

Apabila gagal dengan pengobatan non-farmakologis maka harus dimulai dengan pemberian obat penurun lipid. NCEP-ATP III menganjurkan sebagai obat pilihan pertama adalah golongan HMG-CoA reductase inhibitor. Jika TG > 400mg/dL maka perlu dimulai dengan golongan derivate fibrat. Apabila TG sudah turun maka dapat diberikan kombinasi HMG-CoA reductase inhibitor.

(30)

15. Seorang perempuan usia 52 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan nyeri mendadak, bengkak, nyeri sendi kaki sejak 2 hari yang lalu. Saat diperiksa didapatkan hasil hiperemis, edema, dan teraba hangat pada MTP 1. Hasil laboratorium didapatkan kadar asam urat 10 mg. Apa Tatalaksananya yang tepat pada pasien tersebut ?

A. Asam mefenamat B. Kolkisin C. Na Diclofenac D. Allupurinol E. Paracetamol Pembahasan : Keyword:

❖ Nyeri mendadak, bengkak, nyeri sendi kaki sejak 2 hari yang lalu. ❖ Pemeriksaan Fisik : hiperemis, edema, dan teraba hangat pada MTP 1 ❖ Laboratorium asam urat: 10 mg/dL

Gout Artritis

Keluhan :

Bengkak pada sendi, nyeri sendi mendadak biasanya timbul pada malam hari,bengkak disertai rasa panas dan kemerahan, demam, menggigil, nyeri badan.

(31)

Pemeriksaan Fisik :

Arthritis monoartikuler dapat ditemukan, biasanya melibatkan sendi metatarsophalang 1 atau sendi tarsal lainnya. Sendi yang mengalami inflamasi tampak kemerahan dan bengkak.

Pemeriksaan Penunjang :

Xray (pembengkakan asimetris pada sendi dan kista subkortikal tanpa erosi. Kadar asam urat darah  7mg/dl. Terapi

✓ Mengatasi serangan akut dengan segera :

a. Kolkisin (efektif 24 jam pertama setelah serangan nyeri timbul. Dosis oral 0,5-0,6 mg per hari dengan dosis maks 6 mg) b. Kortikosteroid sistemik jangka pendek (jika kolkisin dan NSAID tidak berespon baik)

c. NSAID

✓ Program pengobatan untuk mencegah serangan berulang (analgetik, kolkisin dosis rendah) ✓ Mengelola hiperuresemia dan mencegah komplikasi

a. Obat penurun asam urat (tidak digunakan selama serangan akut) b. Modifikasi gaya hidup

16. Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan nyeri dada menjalar dan sesak sejak 1 jam yang lalu. Pasien riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu dan jarang kontrol. Pemeriksaan fisik Tekanan Darah 100/60 mmHg, Nadi 110x/m,RR 28x/m

(32)

Suhu 36 C. EKG menunjukan St elevasi lead I, avL, V5,V6. Apa tatalaksana untuk mengatasi nyeri dada? A. Oksigen B. Aspirin C. Clopidogrel D. Morfin E. Nitrogliserin Pembahasan Keywords

❖ Pasien usia 50 tahun nyeri dada menjalar, sesak ❖ Riwayat HT (+) 10 tahun

❖ EKG ST elevasi lead I,avl,v5,v6 (lateral) STEMI

Gejala

Typical chest pain ( nyeri dada kiri >30 menit, bersifat dull, menjalar ke bahu/pundak atau rahang kiri, tidak hilang dengan istirahat) Pemeriksaan Penunjang

(33)

• Cardiac Enzyme ( pasti meningkat) = Gold standart Troponin I

(34)

TATALAKSANA SKA Di UGD(awal)

• Oksigen 4/lpm

• Nitrat (untuk nyeri dada iskemik) = ISDN 15-80 mg/hari dalam 3 dosis/ nitroliserin • Aspirin PO 160-320 mg loading dose, maintanance 1x80 mg

• Clopidogrel PO 300 mg loading dose, maintanance 1x 75 mg

• Morfin 1-5 mg iv (hanya dipakai jika nyeri tidak hilang dengan 3 kali pemberian nitrat) Definitif reperfusi(onset  12 jam)

• Primary PCI jika  3 jam

• trombolitik ( streptokinase, ateplase)jika <3 jam

Sumber: Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiologi Indonesia. 2015. Pedoman Tatalaksana Sindrom Koroner Akut. Edisi: 03. Jakarta., Indonesia

17. Seorang laki-laki usia 55 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan sesak nafas sejak 1 jam yang lalu yang tidak berkurang dengan istirahat. Riwayat HT (+). Pemeriksaan fisik Tekanan Darah 180/100 mmHg, Nadi 120 x/m Respirasi 30x/m, Suhu 37 ºC. pemeriksaan paru didapatkan ronkhi (+/+). Apa Terapi awal yang dapat diberikan kepada pasien tersebut ?

A. Nitrat B. Dopamin C. Loop diuretic

(35)

D. Dobutamin E. Spironolacton Pembahasan :

Keywords

❖ Pasien sesak nafas tidak berkurang dengan istirahat ❖ Riwayat HT (+),Tekanan Darah 180/100 mmHg

❖ Didapatkan ronkhi +/+ HEART FAILURE

Tabel 1. Tanda dan Gejala Gagal Jantung Definisi Gagal Jantung

Gagal jantung merupakan kumpulan gejala pasien dengan tampilan seperti :

Gejala khas gagal jantung : sesak nafas saat istirahat atau aktivitas, kelelahan, edema tungkai DAN

Tanda khas Gagal Jantung : Takikardia, takipnu, ronki paru, efusi pleura, peningkatan tekanan vena jugularis, edema perifer, hepatomegaly

(36)

Tanda objektif gangguan structural dan fungsional jantung saat istirahat, kardiomegali, suara jantung ke tiga, murmur jantung, abnormalitas dalam gambaran ekokardiografi, kenaikan konsentrasi peptide natriuretik

Tabel 3 Klasifikasi Gagal Jantung

Klasifikasi berdasarkan kelainan struktural jantung Klasifikasi berdasarkan kapasitas fungsional (NYHA) Stadium A

Memiliki resiko tinggi untuk berkembang menjadi gagal jantung. Tidak terdapat gangguan struktural atau fungsional jantung, tidak terdapat tanda atau gejala

Kelas I

Tidak terdapat batasan dalam melakukan aktifitas fisik. Aktifitas fisik sehari-hari tidak menimbulkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas

Stadium B

Telah terbentuk penyakit struktur jantung yang berhubungan dengan perkembangan gagal jantung, tidak terdapat tanda atau gejala

Kelas II

Terdapat Batasan aktifitas ringan. Tidak terdapat keluhan saat istirahat, namun aktifitas fisik sehari-hari menimbulkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas

Stadium C

Gagal jantung yang simtomatik berhubungan dengan penyakit struktural jantung yang mendasari

Kelas III

Terdapat Batasan aktifitas bermakna. Tidak terdapat keluhan saat istirahat tetapi aktivitas fisik ringan menyebabkan kelelahan, palpitasi atau sesak

Stadium D

Penyakit jantung struktural lanjut serta gejala gagal jantung yang sangat bermakna saat istirahat walaupun sudah mendapat terapi medis maksimal (refrakter)

Kelas IV

Tidak dapat melakukan aktivitas fisik tanpa keluhan. Terdapat gejala saat istirahat. Keluhan meningkat saat melakukan aktivitas

(37)

Disadur dari ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 20081

TERAPI HEART FAILURE DENGAN ALO 1. Nonfarmakologis

• Restriksi cairan 1.5-2 L/day • Olahraga teratur

2. Farmakologis • Sistol  110

• Furosemid (loop diuretic) 20-40 mg , Boleh ditambah vasodilator • Sistol 85-110

• Tidak perlu terapi tambahan (cukup loop diuretik) • Sistol  85/ syok

• Tambahkan inotropik nonvasodilator atau vasopressor

Sumber: Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiologi Indonesia. 2015. Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung. Edisi: 03. Jakarta., Indonesia

(38)

18. Seorang perempuan usia 40 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan tungkai kanan bawah bengkak dan nyeri sejak 1 hari yang lalu. Pasien tergolong obesitas. Pada pemeriksaan fisik tampak tungkai kanan bawah edema, venectasi (+), eritema dan teraba hangan. Homan sign (+). Apa terapi yang paling tepat pada pasien ini?

A. Heparin B. Aspirin C. Streptokinase D. Clopidogrel E. Alteplase Pembahasan : Keywords

❖ Pasien perempuan keluhan tungkai kanan bawah bengkak dan nyeri ❖ Obesitas (+)

(39)

DEEP VEIN THROMBOSIS

Definisi :

pembuntuan akibat bekuan dalam vena

Patofisiologi = trias virchow • Stasis vena

• Kerusakan endotel • Hiperkoagubilitas

(40)

Gejala klinis

• Nyeri dan bengkak pada tungkai • Kemerahan dan hangat pada tungkai Tanda klinis

• Tampak edema, eritema, venectasi (+), homan sign (+) • Penunjang

• Venografi • D-dimer • MRI Tatalaksana

• Antikoagulan = LMWH (low molecular weight heparin) • compression elastic stocking

(41)

Sumber: Mann, Zippes, Libby. 2014. Brauwnalds Heart Disease; A Textbook of Cardiovascular Medicine 10th Edition. Elsevier. United States

19. Seorang laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan sesak nafas yang bertambah parah sejak 1 hari lalu. Riwayat sesak sudah sejak kecil (+). Sesak biasanya kambuh 2 kali dalam seminggu. Saat anamnesis pasien lebih suka posis duduk menjawab dengan penggal kalimat.

(42)

Pemeriksaan fisik Tekanan Darah 120/80 mmHg, Nadi 82x/m, Respirasi 26x/m, suhu 37 ºC. wheezing +/+ ronkhi -/-. Apa diagnosis yang paling tepat?

A. Asma intermiten serangan sedang

B. Asma persisten ringan serangan sedang C. Asma persisten berat serangan sedang D. Asma persisten ringan serangan ringan E. Asma persiten sedang serangan ringan Pembahasan :

Keywords

❖ Pasien sesak nafas 1 hari lalu ❖ Riwayat sesak +

❖ Kambuh 2 kali dalam seminggu

❖ Anamnesis lebih suka posisi duduk dan bicara dalam penggal kalimat ❖ Wheezing +/+

ASMA BRONKIALE

Gejala klinis

(43)

• Gejala memburuk pada malam hari • Riwayat atopik penderita/keluarga • Pemeriksaan fisik Wheezing +/+ Pemeriksaan penunjang

• Spirometri ( FEV1 postbronkodilator >15% atau 200 cc atau FEV1/FVC Post bronkodilator >70%)

DERAJAT ASMA BRONKIALE Berdasarkan kekambuhan

✓ Intermitten

Gejala  1x/minggu (bulanan) dan gejala malam  2 kali sebulan ✓ Persisten ringan

Gejala  1x/minggu (mingguan) tetapi  1x/hari dan gejala malam  2 kali sebulan

✓ Persisten sedang

Gejala setiap hari (harian) dan gejala alam  1 kali seminggu ✓ Persisten berat

(44)

Berdasarkan serangan ✓ Ringan

- Sesak bila beraktivitas - Bicara dalam kalimat ✓ Sedang

- Sesak saat bicara

- Bicara dalam penggal kalimat ✓ Berat

- Sesak saat istirahat - Bicara dalam kata

Sumber:

(45)

20. Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan sesak nafas yang memberat 1 hari yang lalu. Pasien bekerja sebagai buruh pabrik rokok. Pemeriksaan fisik Tekanan Darah 120/80 mmHg, Nadi 82x/m, Respirasi 28x/m, suhu 37.5 ºC. dada tampak barell chest, perkusi paru hipersonor. jika dilakukan pemeriksaan radiologi, apa yang akan ditemukan?

A. Tampak fibroinfiltrat pada kedua lapang paru B. Tampak kavitas dengan airfluid level

C. Tampak gambaran eggshell

D. Tampak ICS melebar dan corakan bronkovaskuler menurun E. Tampak peningkatan broncovacular pattern

Pembahasan :

Keywords

❖ Pasien usia 50 tahun sesak nafas 1 hari, kerja sebagai buruh pabrik rokok ❖ Pemeriksaan paru tampak barel chest, perkusi hipersonor

PPOK

Diagnosis

• Jika memberat dan disertai tanda infeksi bakteri = eksaserbasi akut • Riwayat merokok atau pajanan polutan • Usia tua Pemeriksaan fisik

(46)

Barel chest, perkusi hipersonor Pemeriksaan Penunjang

• Foto thorax = emfisematus lung (Hiperinflasi, Hiperlusen, Ruang retrosternal melebar, Diafragma mendatar

• Spirometri post brokodliator = FEV1/FVC <70%

Sumber :

1. Global Initiative for Chronic Lung Disease. 2017. Pocket Guide to COPD Diagnosis, Management and Prevention. A Guide For Health Care Profesionals. Philadelphia. 2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Diagnsosi dan Penatalaksanaan PPOK.

(47)

21. Seorang laki-laki usia 45 tahun keluhan batuk berdarah sejak 1 bulan yang lalu. Batuk disertai dahak kental. Pasien juga mengeluh berat badan semakin menurun dan keringat pada malam hari. Pasien rutin meminum obat OAT, sekarang pasien datang ke puskesmas karena tangan sering kesemutan. Manakah obat yang menyebabkan keluhan tersebut?

A. Rifampisin B. Pirazinamid C. Ethambutol D. Streptomisin E. Isoniazid Pembahasan : Keywords

❖ Pasien keluhan batuk berdarah, Berat Badan menurun, keringat malam ❖ Sudah minum OAT sekarang datang dengan keluhan kesemutan

EFEK SAMPING OAT ✓ Rifampisin

Hepatotoksik, Urine berwarna merah ✓ Isoniazid

(48)

✓ Ethambutol

Buta warna, gangguan penglihatan ✓ Pirazinamid

Paling hepatotoksik, gangguan GIT ✓ Streptomisin

Nefrotoksik, ototoksik, reaksi anafilaktik, agrganulositosis

Sumber:

1. PERMENKES. 2016. Pedoman Penanggulangan TB. Jakarta 2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2017. Pedoman

(49)

22. Pasien usia 50 tahun datang dengan keluhan sesak nafas, batuk dan demam menggigil sejak 1 minggu yang lalu. Batuk berdahak berwarna kecoklatan. Pada pemeriksaan fisik Tekanan Darah 120/80 mmHg, Nadi 80x/m, Respirasi 26 x/m, suhu 39 ºC. ronkhi basah pada paru kiri bawah. Fotothoraks tampak perselubungan difus pada paru kiri bawah. Apa diagnosis yang paling tepat?

A. Pneumonia B. Tb paru aktif C. Efusi pleura D. Pneumothorax E. Abses paru Pembahasan : Keywords

❖ Pasien datang dengan sesak nafas batuk berdahak kecoklatan, demam menggigil ❖ Pemeriksaan fisik RR 28x/m,suhu 39 ºC, Ronkhi basah paru kiri bawah

❖ Pemeriksaan radiologi: perselubungan difus pada pada paru kiri bawah PNEUMONIA

Definisi :

(50)

Gejala klinis :

• Demam menggigil

• Batuk berdahak purulen • Nyeri dada

• Kadang disertai sesak nafas • Biasanya diawali ISPA Tanda klinis:

• Inspeksi: dada sakit tertinggal, retraksi dinding dada • Palpasi: gerak dada asimetris

• Perkusi: redup pada daerah yang sakit • Auskultasi: ronkhi (+), suara nafas bronkial Pemeriksaan penunjang:

Fotothoraks = perselubungan difus/homogen atau konsolidasi dengan air bronkogram

Darah lengkap = peningkatan leukosit Kultur darah = gold standart

(51)

Terapi cap

• Pasien tidak rawat inap Makrolide/ doksisiklin

• Pasien tidak rawat inap dengan penyakit penyerta Quinolon respirasi + po betalactam + macrolide • Pasien rawat inap non ICU

IV beta lactam + macrolide atau quinolon respirasi • Pasien rawat inap ICU

IV betalactam + macrolide+ quinolon respirasi

Sumber:

1. Sumber: Murray and Nadal’s. 2015. Textbook of Respiratory Medicine 6th Edition. Elsevier. United States.

2. Infectious Diseases Society of American. 2007. Management of

(52)

23. Seorang laki-laki 40 tahun datang ke puskesmas dengan batuk  2 minggu, demam sumer, Berat Badan menurun dan keringat malam hari. Riwayat minum OAT(+), pasien hanya meminum obat selama 2 bulan dan terakhir 3 bulan yang lalu. Sputum BTA (+/+). Dokter puskesmas akan melakukan terapi. Kapan pemeriksaan dahak ulang dilakukan pada kasus ini?

A. Akhir fase intensif B. Akhir fase lanjutan C. Akhir fase sisipan D. Akhir bulan ke 5 E. Akhir bulan ke 6 Pembahasan :

Keywords :

❖ Pasien batuk > 2 minggu, bb menurun, keringat malam

❖ Riwayat OAT (+), Selama 2 bulan dan terakhir 3 bulan yang lalu ( kasus putus obat) TB PARU

Tb paru kasus putus obat (default) = minum OAT > 1 bulan dan putus  2 bulan Terapi Tb paru default

(53)

2RHZE + 4R3H3

Kategori 2 (kasus default, gagal terapi, relaps) ( 2RHZE (S) + RHZE + 5 R3H3E3)

Pemeriksaan dahak ulang

• Pada kategori 1 = bulan ke 2 (akhir fase intensif), 5, 6 • Pada kategori 2 = bulan ke 3 ( akhir fase sisipan), 5 ,8

(54)

Sumber:

1. PERMENKES. 2016. Pedoman Penanggulangan TB. Jakarta

2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2017. Pedoman Penatalaksanaan TB. Jakarta. Indonesia

(55)

24. Pasien laki-laki usia 10 tahun dibawa oleh ibunya datang ke Rumah Sakit dengan keluhan sering mengompol sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan disertai dengan rasa tidak puas setiap kali Buang Air Kecil. Nyeri pada kedua pinggang disangkal. Pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan suprapubik, lain-lain dalam batas normal. Apa Pemeriksaan gold standard untuk menegakkan diagnosis pada kasus ini ?

A. Urinalisis B. Kultur urine C. Darah lengkap D. USG E. Pielografi intravena Pembahasan : Keyword:

❖ Pasien laki-laki usia 10 tahun dengan keluhan sering mengompol sejak 1 minggu yang lalu. ❖ Keluhan disertai dengan rasa tidak puas setiap kali Buang Air Kecil

(56)

Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Etiologi tersering : Escherichia coli

Gejala : tidak khas (asimptomatis s/d gejala sepsis berat)

- Neonatus s/d 2 bulan : demam, apatis, muntah, mencret, anoreksia, sianosis (gejala sepsis) - Bayi : demam, anoreksia, BB sukar naik

- Anak

Pyelonefritis (ISK Atas) : demam, nyeri pinggang, Buang Air Kecil bau menyengat

Sistitis (ISK Bawah) : gejala obstruksi (disuri, frekuensi, tidak tampias), mengompol, Buang Air Kecil bau menyengat Pemeriksaan fisik :

✓ Demam, nyeri ketok costovertebra (+), nyeri tekan simfisis (+), pada laki-laki ✓ bisa dijumpai fimosis, hipospadia, epispadia

Pemeriksaan penunjang : ✓ DL : leukositosis

✓ Urinalisis : ditemukan proteinuria, leukosituria (>5/lpb), hematuria (>5/lpb) ✓ Diagnosis PASTI : kultur urine

(57)

Tatalaksana : Algoritma Tatalaksana ISK ✓ Antibiotik IV

- Neonatus : Ampicillin, Gentamisin - Anak : Ceftriaxone

✓ Antibiotik PO - Amoxicilline - Ampicilline - Cotrimoxazole

(58)

25. Anak laki - laki usia 13 tahun datang bersama orang tuanya dengan keluhan kencing seperti air cucian daging. Sebelumnya sekitar 1 bulan yang lalu pasien mengalami luka pada kakinya disertai demam namun sudah sembuh sendiri. Pemeriksaan didapatkan Tekanan Darah 130/90 mmHg, Nadi 90x/m, Respirasi 26x/m, Tax 36,7ºC lain-lain dalam batas normal. Dari hasil pemeriksaan darah didapatkan kadar ASTO meningkat. Apakah penatalaksanaan yang tepat untuk pasien ini?

A. Furosemid B. Captopril C. Nifedipin D. Prednison E. Penicilin Pembahasan : Keywords:

❖ Anak laki - laki usia 13 tahun dengan keluhan kencing seperti air cucian daging.

❖ Sebulan yang lalu pasien mengalami luka pada kakinya disertai demam namun sudah sembuh sendiri.

❖ Pemeriksaan Fisik : Tekanan Darah 130/90 mmHg, Nadi 90x/m, Respirasi 26x/m, Tax 36,7ºC lain- lain dalam batas normal. ❖ Laboratorium : kadar ASTO meningkat.

Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus (GNAPS)

(59)

grup A pada saluran nafas dan kulit. Gejala :

- Riwayat ISPA (faringitis) dan kulit (pioderma) 1-2 minggu sebelumnya - Bengkak di kedua kelopak mata dan tungkai

- Kencing darah (gross hematuria) atau seperti air cucian daging, jumlah berkurang (oliguria) Pemeriksaan Fisik :

- Hipertensi

- Edema di kedua kelopak mata dan tungkai ❖ Pemeriksaan Penunjang :

- Urinalisis : eritrosit (+++), proteinuria (+) (eritrosit > protein), ditemukan silinder eritrosit - DL : BUN dan SK ↑

- Kadar ASTO ↑↑, kadar C3 ↓↓ ❖ Tatalaksana :

Medikamentosa :

- Antibiotik Penicillin : Amoxicillin 50mg/kgBB/hari 3 dosis selama 10 hari atau bila alergi : Eritromisin 30 mg/kgBB/hari 3

dosis selama 10 hari.

- Diuretik → bila ada retensi cairan (edema) dan hipertensi - Antihipertensi → golongan ACE-inhibitor (renal protector) Suportif : Tirah baring

(60)

26. Anak laki-laki usia 7 tahun, dibawa ibunya ke Puskesmas dengan keluhan bengkak di seluruh tubuh dan perutnya membuncit. Dari pemeriksaan dokter asites dan edema anasarka positif. Dokter menduga sebagai suatu sindrom nefrotik. Apa hasil yang diharapkan dari pemeriksaan urin pasien tersebut ?

A. Glukosuria 4+ B. Keton bodies 2+ C. Proteinuria 4+ D. Hematuria E. Bilirubinuria Pembahasan : Keywords :

❖ Anak laki-laki usia 7 tahun dengan keluhan bengkak di seluruh tubuh dan perutnya membuncit ❖ Pemeriksaan Fisik : dokter asites dan edema anasarka (+).

Sindroma Nefrotik

Kumpulan gejala : edema, hipoalbuminemia, proteinuria masif, hiperkolestrolemia, hipertensi, hematuria, penurunan fungsi ginjal (Azotemia) Pemeriksaan fisik :

(61)

Pemeriksaan penunjang :

UL : proteinuria masif (≥ 2+), rasio albumin kreatinin > 2, hematuria

DL : hipoalbuminemia (< 2,5g/dl), hiperkolestrolemia (> 200 mg/dl), LED ↑ Penatalaksanaan :

✓ Medikamentosa : Prednison dosis awal 60 mg/m2/hari dalam 3 dosis selama 4 minggu dilanjutkan 2/3 dosis awal sebanyak single dose selang sehari selama 4-8 minggu

✓ Suportif :

- Diuretik : Furosemid 1-2 mg/kgBB/hari - Antihipertensi

- Tirah baring

- Diet rendah garam (1-2 g/hari) protein normal (1,5-2 g/kgBB/hari) - Albumin 0.5g/kgBB/hari

(62)

Sumber : Pedoman Pelayanan Medik IDAI, 2011

27. Seorang bayi perempuan umur 2 bulan datang ke puskesmas diantar oleh ibunya dengan keluhan kuning hampir seluruh tubuh. Bayi juga malas menetek, dan sembelit sudah 5 hari. Pada pemerisaan fisis, tampak muka sembab dan makroglosi, fontanel yang melebar, tangisan yang parau. Bayi lahir normal dengan Berat Bayi Lahir 3000 gram dan Panjang Bayi Lahir 50 cm. Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis?

(63)

A. Billirubin serum B. TSH, FT4 serum C. Albumin serum

D. Growth hormone serum E. Protein serum

Pembahasan :

Keywords:

❖ Bayi perempuan 2 bulan dengan keluhan kuning hampir seluruh tubuh disertai malas menetek, dan sembelit sudah 5 hari. ❖ Pemeriksaan Fisik : muka sembab dan makroglosi, fontanel yang melebar, tangisan yang parau.

❖ Bayi lahir normal dengan Berat Bayi Lahir 3000 gram dan Panjang Bayi Lahir 50 cm. Hipotiroid Kongenital

❖ Faktor resiko : daerah endemis kretinisme, defisiensi yodium, ibu saat hamil konsumsi obat thyroid ❖ Gejala dan tanda (Quebec score) :

(64)

Sumber : mother-top.com

Bila skor > 4, curiga hipotiroid kongenital, butuh investigasi

(65)

Pemeriksaan penunjang :

❖ Fungsi tiroid (T3, T4, TSH) ❖ Radiologi : bone age terlambat

❖ Darah perifer lengkap ❖ Screening : 2-3 minggu setelah kelahiran Penatalaksanaan :

Medikamentosa : Levotiroksin (replacement therapy) ❖ Suportif

Sumber : Pedoman Pelayanan Medik IDAI, 2011

28. Anak laki-laki 10 tahun dibawa ibunya ke puskesmas dengan keluhan sering lemas, pucat, dan mudah lelah. Pasien punya kebiasaan main di luar rumah tanpa alas kaki. Pemeriksaan fisik didapatkan anemis dan tampak ground itch pada kaki. Apakah etiologi yang tepat?

A. Ascaris lumbricoides B. Ancylostoma duodenale C. Trichuris trichuria D. Schistosoma hematobium E. Enterobius vermicularis Pembahasan :

(66)

Keyword:

❖ Anak laki-laki 10 tahun dengan keluhan sering lemas, pucat, dan mudah lelah. ❖ Pasien punya kebiasaan main di luar rumah tanpa alas kaki.

Pemeriksaan Fisik : anemis (+) dan ground itch pada kaki (+) Infeksi Cacing Nematoda

Nama Bentuk Telur Cara infeksi Patogenesis & Gejala Pemeriksaan

Penunjang Terapi

Necator americanus Ancylostoma duodenale

(cacing tambang)

Lonjong berdinding tipis (morula bersegmen)

Intrakutan

Migrasi larva filariform → anemia, bronkitis, ground itch Pemeriksaan mikroskopis tinja : telur, larva Albendazole 400 mg SD Mebendazole 500 mg SD Preparat besi Ancylostoma braziliensis Ancylosoma caninum

Migrasi larva filariform → creeping eruption

Tiabendazole Chloretil spray

(67)

Strongyloides stercoralis

(Cacing benang)

Mirip cacing tambang Migrasi larva flariform → dermatitis, diare darah

lendir Tiabenazole

Larva Strongyloides stercoralis

(68)

keluar cacing ukuran kurang lebih 10 cm saat pasien Buang Air Besar. Pemeriksaan fisik tanda vital normal, status nutrisi gizi kurang. Apa Hasil pemeriksaan lanjutan yang diharapkan ?

A. Ditemukan telur cacing dengan bentuk lonjong seperti tempayan B. Ditemukan telur cacing dengan bentuk lonjong planokonveks

C. Ditemukan telur cacing dengan bentuk lonjong dengan dinding tebal bergelombang D. Ditemukan telur cacing dengan bentuk lonjong dengan morula bersegmen

E. Ditemukan telur cacing dengan bentuk lonjong dengan operkulum Pembahasan :

Keywords:

❖ Anak 7 tahun dengan keluhan perut sering kembung, mual kadang muntah, disertai pernah keluar cacing ukuran kurang lebih 10 cm saat pasien Buang Air Besar.

(69)

Nama Bentuk Telur Cara infeksi Patogenesis Pemeriksaan

Penunjang Terapi

Ascaris lumbricoides

(cacing gelang) Lonjong, dinding albuminoid Fecal oral

Migrasi larva cacing --> gangguan GIT, gangguan

paru (Loeffler syndrome Pemeriksaan tinja

1. Albendazole 400 mg SD 2. Mebendazole 500 mg SD 3. Pirantel pamoat 10mg/kg SD Enterobius vermicularis (cacing kremi) Asimetris (planokonveks), dinding tembus sinar

*Fecal oral

*Inhalasi Migrasi cacing di perianal --> pruritus ani

Anal swab

Trichuris trichiura

(cacing cambuk)

Punya 2 kutub seperti

tong/tempayan Fecal-oral

Migrasi cacing di usus --> infeksi berat bisa anemia berat, prolaps recti

*Pemeriksaan tinja *Protoskopi

(70)

Air Besar namun setelah Buang Air Besar membaik. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Ibu khawatir karena nafsu makan anak menurun dan anak sering bermain di lumpur. Pada pemeriksaan tinja ditemukan mikroorganisme berbentuk tempayan. Dimanakah Lokasi organ tempat menetapnya organisme penyebab kasus ini ?

A. Colon ascendens B. Colon descendens C. Ileum D. Jejunum E. Caecum Pembahasan : Keyword:

❖ Anak 8 tahun dengan Buang Air Besar berdarah sejak 4x hari ini disertai nyeri perut bila hendak Buang Air Besar namun setelah Buang Air Besar membaik.

❖ Nafsu makan anak menurun dan anak sering bermain-main di lumpur. ❖ Pemeriksaan tinja : mikroorganisme berbentuk tempayan.

31. Anak perempuan 12 tahun datang dengan keluhan kaki kanan bengkak sejak 2 minggu yang lalu. Bengkak dirasakan semakin lama semakin bertambah berat. Tetangga pasien juga memiliki riwayat keluhan yang sama. Pada pemeriksaan lokalis didapatkan nonpitting edema dan kulit

(71)

A. Wuchereria bancrofti B. Brugia malayi C. Brugia timori D. Oncocherca volvulus E. Anopheles bancrofti Pembahasan : Keywords:

❖ Anak perempuan 12 tahun dengan keluhan kaki kanan bengkak sejak 2 minggu lalu. ❖ Tetangga pasien juga memiliki riwayat keluhan yang sama.

❖ Pemeriksaan Fisik : nonpitting edema dan kulit mengelupas pada tungkai kanan. ❖ Pemeriksaan lanjutan : mikrofilaria berinti tidak teratur dan berselubung merah

(72)

Sumber : Nelson Textbook of Pediatrics 19th Edition, 2011 32. Anak laki-laki 10 tahun datang diantar ibunya ke Puskesmas mengeluh Buang Air Besar cair sejak 3 hari ini. Keluhan juga disertai nyeri pada epigastrium. Riwayat pasien tinggal di daerah yang banyak babi hutan selama 2 minggu. Riwayat mandi, minum air sungai dan makan dedaunan mentah yang ada di rawa. Dari pemeriksaan feses didapatkan gambaran sebagai berikut. Apakah etiologi penyakit pasien ?

A. Taenia solium B. Taenia saginata C. Fasciola hepatica D. Schistosoma mansoni

Nama Bentuk Mikrofilaria Vektor Patogenesis Terapi

Wuchereria bancrofti

Selubung (+)

Inti tidak sampai ujung ekor

Nyamuk *Anopheles

*Culex *Aedes

Toksin cacing dewasa → obstruksi limfe → elefantiasis & hidrokel Sama dgn Filariasis bancrofti TAPI

elefantiasis hanya kena tungkai bawah

*DEC 6 mg/kg/hari selama 12 hari

*Ivermectin Single dose *Simptomatis

Brugia malayi Selubung (+), bentuk ekor

mengecil, warna merah, 2 inti

Brugia timori

Selubung (+),

bentuk ekor mengecil, warna pucat

(73)

Keywords:

❖ Anak laki-laki 10 tahun mengeluh Buang Air Besar cair sejak 3 hari disertai nyeri pada epigastrium. ❖ Riwayat pasien tinggal di daerah yang banyak babi hutan selama 2 minggu.

❖ Pemeriksaan feses :

Infeksi Cacing Trematoda

Nama Bentuk Telur Bentuk Infektif Hospes Perantara Patogenesis Terapi

Fasciola hepatica

(sheep liver fluke) Lonjong, operkulum (+) Metaserkaria Siput Lymnea Migrasi cacing dari duodenum → hepar → gejala GIT, ikterus

(74)

33. Anak laki-laki usia 5 tahun datang bersama orang tuanya dengan keluhan demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam dirasakan pada malam hari disertai nyeri kepala, lemah, lesu, mual, nafsu makan menurun dan diare. Penderita tinggal di dekat Danau Lindu Sulawesi Tengah. Hasil

Schistosoma japonicum Bulat, spina (-)

Serkaria Siput Serkaria menembus kulit →

Gatal-gatal, radang akut hepar Praziquantel Schistosoma mansoni Lonjong, spina lateral

Schistosoma hematobium Lonjong, spina terminal

Fasciola hepatica a b c

Schistosoma : a. S.mansoni, b. S.japonicum, c. S.hematobium

(75)

B. Menelan telur cacing

C. Larva rhabditiform menembus kulit D. Larva metaserkaria menembus kulit E. Larva serkaria menembus kulit

Pembahasan

Keywords :

❖ Anak Laki-laki 5 tahun keluhan demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam dirasakan pada malam hari disertai nyeri kepala, lemah, lesu, mual, nafsu makan menurun dan diare.

❖ Pasien tinggal di dekat Danau Lindu Sulawesi Tengah. ❖ Pemeriksaan feses :

(76)

Nama Bentuk Telur Bentuk Infektif Hospes Perantara Patogenesis Terapi Fasciola hepatica

(sheep liver fluke) Lonjong, operkulum (+) Metaserkaria Siput Lymnea

Migrasi cacing dari duodenum →

hepar → gejala GIT, ikterus

Triclabendazole Schistosoma japonicum Bulat, spina (-)

Serkaria Siput

Serkaria menembus kulit → Gatal-gatal, radang akut hepar

Praziquantel Schistosoma mansoni Lonjong, spina lateral

Schistosoma hematobium Lonjong, spina terminal

Fasciola hepatica a b c

Schistosoma : a. S.mansoni, b. S.japonicum, c. S.hematobium

(77)

34. Seorang bayi perempuan usia 9 hari dibawa ibunya ke Puskesmas dengan keluhan mata kuning sejak 2 hari yang lalu. Empat hari sebelumnya bayi terlihat lesu, malas minum, kadang disertai muntah 2-3 kali sehari, dan panas badan. Keluhan disertai kencing berwarna seperti teh pekat sejak kemarin. Bayi lahir normal spontan dengan Berat Bayi Lahir 3200 gram, panjang 50 cm, ditolong oleh bidan. Selama hamil ibu kontrol di bidan, pada anamnesis lebih lanjut ibu diketahui bekerja sebagai PSK. Apakah pemeriksaan penunjang yang sebaiknya dilakukan?

A. HBsAg dan IgM anti HAV B. Anti HBs dan IgM anti HAV C. HBe dan anti HBs

D. IgM anti HBc dan HBeAg E. HBsAg dan IgM anti HBc Pembahasan :

Keywords:

❖ Bayi perempuan usia 9 hari keluhan mata kuning sejak 2 hari yang lalu. Empat hari sebelumnya bayi terlihat lesu, malas minum, kadang disertai muntah 2-3 kali sehari, dan panas badan.

❖ Keluhan disertai kencing berwarna seperti teh pekat sejak kemarin.

❖ Bayi lahir normal spontan dengan Berat Bayi Lahir 3200 gram, panjang 50 cm, ditolong oleh bidan. ❖ Ibu bekerja sebagai PSK.

(78)

Hepatitis Akut

Etiologi : virus Hepatitis

❖ Ada 2 jenis yang paling umum : hepatitis A dan B

HEPATITIS A HEPATITIS B

Gejala Flu like syndrome + icterus + BAK teh 70% asimptomatis

Kronis --> resiko sirosis hepatis Faktor resiko

Outbreak, orang sekitar mengalami keluhan yg sama (fecal oral)

Transmisi vertikal, transfusi darah Pemeriksaan Fisik Icterus, hepatomegali, nyeri tekan abdomen kuadran kanan atas, demam Laboratorium IgM anti HAV (+) HBsAg (+), IgM anti HBc (+) Tatalaksana Suportif

(79)

IgM Anti = antibody ➢ IgG anti HBs

IgM

(+)

RIWAYAT

VAKSIN

HBsAg (-) = TIDAK SAKIT

HBsAg (+) = SAKIT

IgM (+)

IgG

(+)

HBeAg (+)

IgG

anti

HBs &

HBc (+)

Hep B Akut

SEMBUH

min 2 antibodi

(+)

WINDOW

PERIOD

Hep B KRONIS

Hep B

(80)

35. Anak perempuan 7 tahun diantar ibunya dengan keluhan demam sejak 5 hari yang lalu terutama pada malam hari. Nafsu makan menurun dan sulit Buang Air Besar. Pemeriksaan fisik ditemukan lidah kotor. Riwayat pasien sering jajan sembarangan. Pada pemeriksaan tanda vital, apa yang mungkin ditemukan pada pasien ini ?

A. Takikardi B. Hipotensi C. Takipneu D. Bradikardi relatif E. Bradikardi Pembahasan Keyword:

❖ Anak perempuan 7 tahun keluhan demam sejak 5 hari yang lalu terutama pada malam hari disertai nafsu makan menurun dan sulit Buang Air Besar.

❖ Riwayat pasien sering jajan sembarangan ❖ Pemeriksaan Fisik : lidah kotor (+).

Demam Tifoid

Etiologi : bakteri Salmonella typhii (gram negatif) ❖ Cara penularan : fecal-oral

(81)

Gejala klinis :

❖ Demam (Stepladder) ≥ 6 hari

❖ GIT : diare, obstipasi, nyeri perut, meteorismus, lidah khas (kotor di tengah merah di tepi, tremor) ❖ Lain-lain : Nyeri kepala, malaise, nausea, nyeri telan, bradikardi relatif, penurunan kesadaran

Pemeriksaan penunjang : • Gold standard : kultur →

• Serologis (rapid test : Tubex)

Widal O : kenaikan titer 4x selang 1 minggu Komplikasi tersering : perforasi usus halus Tatalaksana :

Medikamentosa :

Kloramfenikol 100mg/kg/hari 4 dosis 10-14 hari

Amoxicillin 100mg/kg/hari 4 dosis 10-14 hari

Trimetoprim-Sulfametoksazol (TMP-SMZ) 6 mg/kg/hari 2 dosis 10 hari

Resisten : Ceftriaxone 100mg/kg/hari 1-2 dosis 5-7 hari (IV) atau Cefixime 10-15 mg/kg/hari 2 dosis selama 10 hari (PO) Minggu 1-2 Kultur darah, LCS (invasif)

(82)

Komplikasi : laparotomi

Suportif : tirah baring, isolasi, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan Sumber :

1. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, 2008

2. Rekomendasi IDAI mengenai Pemeriksaan Penunjang Demam Tifoid, 2016

36. Seorang anak perempuan umur 5 tahun dibawa ibunya ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit dengan keluhan mimisan sejak 3 jam Sebelum Masuk Rumah Sakit. Sebelumnya pasien mengalami demam 3 hari. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, tanda tanda vital Tekanan Darah 110/80 mmHg, nadi 120 kali/menit, Respirasi 22 kali/menit, suhu 38,2 ºC. Pada hasil laboratorium didapatkan trombosit 45.000, HB 13, hematokrit 46%, leukosit 3.200. Apa diagnosis pada pasien tersebut?

A. Demam dengue

B. Demam berdarah dengue derajat I C. Demam berdarah dengue derajat II D. Demam berdarah dengue derajat III E. Demam berdarah dengue derajat IV

(83)

Pembahasan :

Keyword:

❖ Anak perempuan 5 tahun keluhan mimisan sejak 3 jam Sebelum Masuk Rumah Sakit. Sebelumnya pasien mengalami demam 3 hari. ❖ Pemeriksaan Fisik : kesadaran compos mentis, TTV: Tekanan Darah 110/80 mmHg, nadi 120 kali/menit, Respirasi 22 kali/menit, suhu

38,2 ºC

❖ Laboratorium : trombosit 45.000, HB 13, hematokrit 46%, leukosit 3.200. Infeksi Virus Dengue

Etiologi : virus Flavivirus serotipe DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 vektor : nyamuk Aedes aegypti Diagnosis :

DEMAM : mendadak tinggi (39-40C), kontinu selama 2-7 hari

Tanda-tanda perdarahan : uji Torniquet (+), ptekiae, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, dan hemathemesis/melena Hepatomegali

Tanda-tanda syok : lemas, pucat, akral dingin, takikardi, CRT > 2 detik, selisih Tekanan Darah sistolik dan diastolik < 20 mmHg Pemeriksaan penunjang :

- DL :

• Trombositopeni (≤100.000/mm³)

(84)

- NS 1 : hari 1-3

(85)

Klasifikasi Derajat Dengue

GRADE TANDA DAN GEJALA PEMERIKSAAN LABORATORIUM

DF

• Demam dengan minimal. 2 kriteria : • Nyeri kepala

• Nyeri orbita • Mialgia

• Arthralgia / nyeri tulang • Rash

• Manifestasi perdarahan

TIDAK ADA BUKTI kebocoran plasma

• Leukopenia (5000)/m³)

• Trombositopeni (150.000/ m³) • Peningkatan hematokrit 5-10%

TIDAK ADA BUKTI kebocoran plasma

DHF I

Demam dengan manifestasi perdarahan (uji Tourniquet positif) dan bukti kebocoran plasma positif

• Trombositopeni (100.000/ m³) • Peningkatan hematokrit ≥ 20% DHF II Sama seperti grade I + Perdarahan spontan • Trombositopeni (<100.000/ m³)

• Peningkatan hematokrit ≥ 20% DHF III

Sama seperti grade I-II + Tanda kega- galan sirkulasi nadi (nadi lemah, hipotensi, selisih Tekanan Darah  20 mmHg, tampak lemas)

• Trombositopeni (<100.000/ m³) • Peningkatan hematokrit ≥ 20% DHF IV

Sama seperti grade III + bukti nyata adanya syok (nadi dan tensi TIDAK teraba)

• Trombositopeni (<100.000/ m³) • Peningkatan hematokrit ≥ 20% DHF III dan IV disebut juga Dengue Shock Syndrome (DSS)

(86)

Tatalaksana :

• DF : Rehidrasi oral, antipiretik, terapi cairan bila intake kurang (mual muntah) • DHF : Terapi cairan kristaloid isotonik (NaCl 0.9%, Ringer Lactat, Ringer Asetat) • DHF grade I-II : cairan maintenance 1 hari + defisit 5%

(87)

DHF grade III-IV

Komplikasi :

Akibat syok : ensefalopati Dengue,edema cerebri, kelainan ginjal

Akibat overload cairan : edema paru

Sumber :

Gambar

Tabel 1. Tanda dan Gejala Gagal Jantung  Definisi Gagal Jantung

Referensi

Dokumen terkait

Pasien laki-laki datang dengan keluhan benjolan di tungkai bawah, bengkak, nyeri tekan, pada perabaan panas,……….,……….. Guna tes tuberculin adalah………

Pada bagian tubuh manakah saudara merasakan keluhan nyeri/panas/kejang/mati4. rasa/bengkak/kaku/pegal?.. 24 Pergelangan

Seorang wanita 56 tahun datang ke polimata dengan keluhan penglihatan kabur mendadak sejak 1 hari yang lalu, disertai nyeri mata hebat, nyeri kepala hebat, mual, muntah, pasien

Seorang Laki-laki berusia 55 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri pada mata kanan, pada pemeriksaan fisis didapatkan visus normal, konjungtiva hiperemis, terdapat

D 14 tahun, pasien datang dengan keluhan bengkak yang mendadak pada testis setelah tertendang saat bermain bola.. Pada pemeriksaan fisik Nampak testis yang membengkak, reflex

57 Seorang anak laki- laki berusia 14 tahun datang ke puskesmas diantar ibunya datang dengan keluhan bengkak pada lutut kiri disertai nyeri 1 minggu yang lalu.. 2

Seorang perempuan berusia 25 tahun G3P2A0 merasa hamil datang ke unit gawat darurat rumah sakit dengan keluhan perdarahan pervaginam sedikit-sedikit sejak 2 hari

Pada pasein ini didiagnosis purpura henoch schonlein PHS karena datang dengan keluhan muncul ruam kemerahan diseluruh badan kecuali muka disertai dengan nyeri pada sendi-sendi,