1 1. Seorang laki-laki 25 tahun dibawa ke poliklinik dengan keluhan batuk sejak 1
bulan yang lalu. Selain itu pasien juga mengeluh sering sariawan pada mulutnya dan Berat Badan menurun. Pasien juga sering diare. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan IMT 17, Tekanan darah : 100/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, Suhu : 36 ºC, ves +/+, wh-/-, rh +/+ pada apek paru. Saat dilakukan foto thorax didapatkan hasil infiltrate pada apek paru D/S. Apakah Diagnosa yang tepat ?
A. HIV stadium 1 B. HIV stadium 2 C. HIV stadium 3 D. HIV stadium 4 E. TB paru Pembahasan : Keyword :
• Keluhan batuk sejak 1 bulan yang lalu. Sariawan, Berat Badan turun, dan diare.
• Pemeriksaan Fisik : Pasien juga sering diare. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan IMT 17, Tekanan darah : 100/70mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, Suhu : 36 x/menit, ves +/+, wh-/-, rh +/+ pada apek paru.
• Thorax Foto : hasil infiltrate pada apek paru D/S Stadium Klinis HIV
Stadium Klinis I • Tidak ada gejala
• Limfadenopati Generalisata Persisten Stadium Klinis II
• Penurunan berat badan yang sedang tanpa penyebab yang jelas • (10% dari perkiraan berat badan
atau berat badan sebelumnya) • Infeksi saluran pernapasan
berulang (sinusitis, tonsillitis, otitis media, faringitis)
• Herpes zoster
• Kelitis angularis
• Ulkus mulut yang berulang • Ruam kulit pada lengan dan
tungkai yang gatal (Papular
pruritic eruptions)
• Dermatitis seboroik • Infeksi jamur pada kuku Stadium Klinis III
• Penurunan berat badan yang banyak, tanpa sebab yang jelas
2 • (10% dari perkiraan berat badan
atau berat badan sebelumnya) • Diare kronis yang tak jelas
penyebabnya selama 1 bulan • Demam intermiten atau menetap
yang tak jelas penyebabnya selama 1 bulan
• Candidiasis pada mulut yang berulang
• Oral Hairy Leukoplakia pada lidah
• Infeksi bakteri parah (contoh : pneumonia, empiema, meningitis, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, bakteraemia)
• Stomatitis, gingivitis atau periodontitis nekrotikan ulseratif akut
• Anemia ( 8 g/dL), neutropenia (500 l) dan atau thrombositopenia kronis (50.000 l) yang tak jelas penyebabnya
Stadium Klinis IV
• Sindrom Wasting HIV
• Pneumonia Pneumosistis
(jirovenci)
• Pneumonia bacteri berat berulang • Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, genital, atau anorektal selama 1 bulan atau viseral manapun)
• Kandidiasis Esofagal (atau kandidiasis di trakea, bronkus atau paru-paru)
• Tuberkulosis ekstraparu • Kaposi sarkoma
• Penyakit Citomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain, tidak termasuk hati, limpa dan kelenjar getah bening)
• Toksoplasmosis di sistim syaraf pusat
• Ensefalopati HIV
• Kriptokokokis Ekstraparu termasuk meningitis
• Infeksi Mycobacterium non-tuberculosis yang menyebar
• Lekoensefalopati Multifokal Progresif
• Kriptosporidiosis kronis • Isosporiasis kronis
• Mikosis profunda (Histoplasmosis, koksidiodomikosis)
• Septisemia yag berulang (termasuk Salmonella yang tak menyebabkan tifus)
• Limfoma (serebral atau non Hodgkin)
• Karsinoma Serviks Invasif
• Leishmaniasis atipikal diseminata • Nefropati atau kardiomiopati
simptomatik terkait HIV
Sumber: Kemenkes. 2016. Petunjuk Teknis Program Pengendalian HIV AIDS dan PIMS FKTP.
Terapi HIV
Obat ARV lini pertama yang tersedia di Indonesia
Rejimen yang digunakan di tingkat FKTP adalah rejimen lini pertama
dengan pilihan
• Tenofovir (TDF) 300 mg • Lamivudin (3 TC) 150 mg • Zidovudin (ZDV/AZT) 100 mg
3
• Nevirapine (NVP) 200 mg • Kombinasi dosis tetap (KDT)
• TDF + FTC (300 mg/200 mg • TDF + 3 TC + EFV 300 mg/150 mg/600 mg • TDF + 3 TC (atau FTC) + NVP • AZT + 3 TC + EFV • AZT + 3 TC + NVP
2. Seorang wanita 25 tahun datang ke poliklinik dengan bengkak pada kaki dan sekitar matanya. Selain itu pasien juga mengeluhkan kencing berwarna merah sejak 1 minggu yang yang lalu. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah : 150/100 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 20x/menit, Suhu : 36 ºC. Pemeriksaan Urine didapatkan leukosit +3 dan eritrosit penuh. Apa Diagnosa yang tepat ?
A. Sindrom nefrotik B. Sindrom nefritik C. Rapidly progressive GN D. GGK E. GGA Pembahasan : Keyword :
• Keluhan bengkak pada kaki dan sekitar mata serta kencing berwarna merah sejak 1 minggu yang lalu.
• Tekanan darah : 150/100 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 20x/menit, Suhu : 36,0
• UL: leukosit +3 dan eritrosit penuh Sindrom Nefritik
• Gejala Klinis : hematuria dan silinder eritrosit, proteinuria, edema, hipertensi, penurunan fungsi ginjal.
• Pemeriksaan Penunjang : urinalisis, biokimiawi darah (gula darah, serum albumin, profil lemak dan fungsi ginjal), serologi (ASTO, C3, C4, ANA, anti-dsDNA, antibodi antiGBM, ANCA.
• Klasifikasi GN Primer : Proliferatif (GN membranoproliferatif, GN kresentik, nefropati IgA, nefropati IgM, GN mesangio-proliferatif) dan Non-proliferatif (GN lesi minimal (GNLM), Glomerulosklerosis fokal dan segmental (GSFS), GN membranosa (GNMN)),
4
Terapi sindrom nefritik
- Terapi spesifik jika diketahui penyebabnya
- ACE inhibitor atau antagonis reseptor angiotensin II sebagai pengobatan konservatif.
- HMG CoA reductase untuk menghambat progresifitas GN - Kortikosteroid efektif pada beberapa tipe GN
3. Seorang laki-laki usia 60 tahun datang dengan keluhan muntah darah sebanyak 2 kali. Selain itu pasien juga mengeluhkan mudah lelah, berat badan turun, payudara membesar, perut membesar sejak 1 bulan yang lalu. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan anemis (+), asites (+), ginekomasti (+) Tekanan darah : 100/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18 x/menit, Suhu : 36 ºC. Pada darah Pemeriksaan lengkap didapatkan Hb 9,0, USG didapatkan ekodensitas hati meningkat dengan ekostruktur kasar homogen, splenomegaly (+). Apa Terapi yang tepat untuk mengatasi muntah darah ? A. PRC B. Vit K C. Asam Traneksamat D. Somatostatin E. Lactulosa Pembahasan : Keyword :
• Muntah darah sebanyak 2 kali. mudah lelah, berat badan turun, payudara membesar, perut membesar sejak 1 bulan yang lalu
• Pemeriksaan Fisik : anemis (+), asites (+), ginekomasti (+) Tekanan darah : 100/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18 x/menit, Suhu : 36 oC UL: leukosit +3 dan eritrosit penuh
• DL : Hb 9,0
• USG : ekodensitas hati meningkat dengan ekostruktur kasar homogen, splenomegaly (+)
Sirosis Hepatis
❖ Gejala klinis : mudah lelah, anoreksia, berat badan turun, atrofi otot, icterus, spider angiomata, splenomegali, asites, caput medusa, palmar eritema, white nails, ginekomasti, hilangnya rambut pubis dan ketiak pada
5 wanita, asterixis (flapping tremor), foetor hepaticus, dupuytren’s contractur ( sirosis akibat alkohol).
❖ USG didapatkan ekodensitas hati meningkat dengan ekostruktur kasar homogen atau heterogen pada sisi superfisial, sedang pada sisi profunda ekodensitas menurun. Dapat dijumpai pula pembesaran lobus caudatus, splenomegali, dan vena hepatika gambaran terputus-putus. Hati mengecil dan dijumpai splenomegaly
Terapi Sirosis Heptis
Komplikasi Terapi Dosis
Asites • Tirah baring • Diit rendah garam
• Obat antidiuretik : diawali spironolakton, bila respons tidak adekuat dikombinasi Furosemid • Parasintesis bila asietas
sangat besar, hingga 4 – 6 iter & dilindungi pemberian albumin • Restriksi cairan • 5,2 gram atau 90 mmol/hari • 100-200 mg sekali sehari maks 400 mg • 20 – 40 mg / hari, maks 160 mg/hari • 8 t0 10 g IV per liter cairan parasintesis (jika 5L)
• Direkomendasikan jika natrium serum kurang 120 – 125 mmol/L Ensefalopati hepatikum • Laktulosa • Neomisin • 30 – 45 mL sirup oral 3 – 4 kali/hari atau 300 mL enema sampa 2 – 4 kali Buang Air Besar /hari dan perbaikan status mental • 4-12 g oral/hari dibagi
tiap 6-8 jam, dapat ditambahkan pada pasien yang refrakter laktulosa Varises
esophagus
• Propranolol
• Isosorbide mononitrat • Saat perdarahan akut
diberikan somatostatin atau okreotid diteruskan skleroterapi atau ligasi endoskopi
• 40 – 80 mg oral 2 kali/hari • 20 mg oral 2 kali / hari
Peritonitis
bacterial spontan
• Pasien asietas dengan jumlah sel PMN ≥250 /mm3 mendapat
6 profilaksis untuk
mencegah PBS dengan Seforaksim dan albumin • Albumin • Norfloksasin • Trimethoprim / sulfamethoxazole • 2 g IV tiap 8 jam • 1,5 g per kg IV dalam 6 jam, 1 g per kg IV hari ke 3
• 400 mg oral 2 kali/hari untuk terapi, 400 mg oral 2 kali/hari selama 7 hari untuk perdarahan gastrointestinal, 400 mg oral per hari untuk profilaksis
• 1 tablet oral/hr untuk profilaksis, 1 tablet oral 2 kali/hari selama 7 hari untuk perdarahan gastrointestinal
Sindrom hepatorenal (HRS)
Transjugular intrahepatic portosystemic shunt efektif,
menurunkan hiertensi porta dan memperbaiki HRS, serta menurunkan perdarahan gastrointestinal. Bila terapi medis gagal dipertimbangkan untu transplantasi hati merupakan terapi definitife
Sumber : PAPDI. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI. Interna Publishing: Jakarta
4. Seorang wanita usia 50 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan rasa panas pada wajah. Keluhan tersebut muncul sejak pasien minum obat penurun kolesterol. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah : 130/80 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Suhu : 36,8 ºC, Respirasi : 18 x/menit. Obat apa yang dapat menyebabkan efek tersebut ?
A. Simvastatin B. Asam nikotinat C. Asam fibrat D. Atorvastatin
E. Bile Acid Sequestrant Pembahasan :
Keyword :
• Rasa panas pada wajah sejak minum obat penurun kolesterol
• Pemeriksaan Fisik : Tekanan darah : 130/80 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Suhu : 36,8, Respirasi : 18 x/menit
7
Dislipidemia
Tabel 7. Sasaran kadar kolesterol LDL serta Batasan untuk Mulai Perubahan Gaya hidup dan pemberian obat penurun LIPID
Kelompok risiko
Sasaran kolesterol LDL (mg/dl)
Kadar kolesterol LDL dimana harus mulai perubahan gaya hidup
Kadar kolesterol LDL dimana perlu dipertimbangkan pemberian obat PAK atau yang disamakan
PAK ≥ 2 faktor risiko 0 – 1 faktor risiko 100 130 160 ≥ 100 ≥ 130 ≥ 160
Kadar kolesterol LDL dimana perlu dipertimbangkan pemberian obat 10 tahun risiko 10 – 20 % : ≥ 130 10 tahun risiko 10 % : 160 ≥ 190 ( 160 – 189 pemberian obat opsional)
Dikutip dari : Penatalaksanaan dislipidemia. Buku petunjuk praktis penatalaksanaan dislipidemia. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2005; 5-14
Terapi Dislipidemia Golongan Obat Efek terhadap
Lipid
Efek samping Kontraindikasi Statin LDL ↓ 18 – 55 % HDL ↑ 5 – 15 % TG ↓ 7 – 30 % Miopati, peningkatan enzim hati
Absolut : penyakit hati akut atau kronik Relative : penggunaan Bersama obat tertentu
Bile acid sequestrant LDL ↓ 15 – 30 % HDL ↑ 3 – 5 % TG tidak berubah Gangguan pencernaan, konstipasi, penurunan absorbsi obat lain-lain Absolut : disbetalipoproteinemia TG 400 mg/dl Relative : TG 200 mg/dL Asam nikotinat LDL ↓ 5 – 25 % HDL ↑ 15 – 35 % TG ↓ 20 – 50 % Flushing, hiperglikemia, hiperuricemia, gangguan pencernaan, hepatotoksitas
Absolut : penyakit liver kronik, penyakit gout yang berat Ralatif : diabetes, hipeuricemia, ulkus peptikum Fibrat LDL ↓ 5 – 20 % (may be increased in patients with high TG) HDL ↑ 10 – 20 % TG ↓ 20 – 50 % Dispepsia, batu empedu, miopati Absolut : penyakit ginjal dan hati yang berat
5. Seorang laki-laki usia 24 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan demam naik turun sejak 1 minggu yang lalu. Demam terjadi terutama sore hari. Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri perut, tidak bisa Buang Air Besar, mual dan muntah, serta nafsu makan menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan abdomen, Tekanan darah : 100/70 mmHg, Nadi :
8 80x/menit, Respirasi : 18 x/menit, Suhu : 39,1 ºC. Pemeriksaan baku emas apa untuk kasus tersebut ?
A. Tubex-TF
B. Kultur Salmonelathypi C. Enzyme Immunoassay Test D. Test Widal
E. IgM antigen O9 Salmonela thypi Pembahasan :
Keyword :
• Demam naik turun terutama sore hari sejak 1 minggu yang lalu nyeri perut, tidak bisa Buang Air Besar , mual dan muntah, serta nafsu makan menurun. • Pemeriksaan Fisik : nyeri tekan abdomen, Tekanan darah : 100/70 mmHg,
Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18 x/menit, Suhu : 39,1oC
Demam Tifoid
• Demam naik turun terutama sore dan malam hari dengan pola intermitten dan kenaikan suhu step ladder. Demam tinggi dapat terjadi terus menerus hingga minggu kedua.
• Sakit kepala (pusing-pusing)yang dapat dirasakan di daerah frontal. • Gangguan GIT berupa meteorismus, konstipasi, diare, Buang Air Besar
berdarah, mual, muntah, nyeri abdomen.
• Gejala penyerta lain seperti nyeri otot, pegal-pegal, batuk, anoreksia, insomnia.
• Pada kasus berat dapat dijumpai penurunan kesadaran dan kejang Penunjang pada demam Tifoid
Darah perifer lengkap beserta hitung jenis leukosis
Dapat menunjukkan : Leukopenia/leukositosis/jumlah leukosit normal. Limfositosis relative, monositosis, trombositopenia (biasanya ringan) anemia
Serologi
a. IgM antigen O9 Salmonella thypi (Tubex, TF)
- Hanya dapat mendeteksi antibody IgM Salmonella typhi - Dapat dilakukan pada 4 – 5 hari pertama demam
9 - Dapat mendeteksi IgM dan IgG Salmonella typhi
- Dapat dilakukan pada 4 – 5 hari pertama demam c. Tes widal tidak direkomendasi
- Dilakukan setelah demam berlangsung 7 hari
- Interpretasi hasil positif bila titer aglutinin O minimal 1/320 atau terdapat kenaikan titer hingga 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5 – 7 hari
- Hasil pemeriksaan Widal positif palsu sering terjadi oleh karena reaksi silang dengan non typhoidal Salmonella, Enterobacteriaceae, daerah endemis infeksi dengue dan malaria. Riwayar imunisasi tifoid dan preparat antigen komersial yang bervariasi dan standardisasi kurang baik. Oleh karena itu, pemeriksaan Widal tidak direkomendasi jika hanya dari 1 kali pemeriksaan serum akut karena terjadinya positif palsu tinggi yang dapat mengakibatkan
over diagnosis dan over treatment
Kultur Salmonella typhi (gold standard) Dapat dilakukan pada specimen :
a. Darah : pada minggu pertama sampai akhir minggu ke 2 b. Feses : pada minggu kedua sakit
c. Urin : pada minggu kedua atau ketiga sakit
d. Cairan empedu : pada stadium lanjut penyakit, untuk mendeteksi
carrier typhoid
Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi klinis, misalnya SGOT, SGPT, kadar lipase dan amilase
6. Seorang wanita usia 43 tahun datang ke dokter dengan keluhan lemas, mudah lelah, mata kekuningan dan urine berwarna merah gelap. Pasien menyangkal adanya perdarahan. Pemeriksaan fisik didapatkan tensi 100/70 mmHg, Respirasi 23x/menit, suhu 36,2 ºC, nadi 99x/menit. Pasien tampak pucat, konjungtiva anemis, sclera ikterus. Dari pemeriksaan abdomen ditemukan adanya splenomegali. Pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 6,6 g/dl, retikulosit meningkat. Hapusan darah tepi menunjukkan sel darah yang normokromik normositer, direct coomb’s test (+). Apa Diagnosis dari pasien tersebut ?
A. Thalasemia B. AIHA
10 C. Defisiensi enzim G6PD D. Malaria E. Anemia aplastic Pembahasan : Keyword :
• Keluhan : keluhan lemas, mudah lelah, mata kekuningan dan urine berwarna merah gelap.
• Pemeriksaan Fisik : tampak pucat, konjungtiva anemis, sclera ikterus. Dari pemeriksaan abdomen ditemukan adanya splenomegali.
• Pemeriksaan penunjang : Hb 6,6 g/dl, retikulosit meningkat. Hapusan darah tepi menunjukkan sel darah yang normokromik normositer, direct coomb’s test (+).
AIHA
Definisi : Merupakan suatu kelainan dimana terdapat autoantibodi terhadap sel-sel eritrosit sehingga eritrosit mudah lisis dan umur eritrosit memendek. Gejala dan tanda : Lemas, mudah capek, sesak napas.
Tanda klinis berupa konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali, urine berwarna merah gelap
Pemeriksaan penunjang :
• Laboratorium : Anemia normositik, peningkatan bilirubin indirek, retikulositosis, peningkatan LDH, peningkatan serum haptoglobulin. • Deteksi autoantibodi pada eritrosit : direct coomb’s test postif.
• Hapusan darah tepi : tampak fragmentasi dari eritrosit (sferosit,skistosit, helmet cell, dan retikulosit).
7. Seorang pria 18 tahun datang ke poli penyakit dalam untuk konsultasi mengenai penyakit yang dideritanya. Pasien mengatakan sering mengalami gusi berdarah dan mimisan. Selain itu badan sering memar-memar. Keluhan sering berulang sejak kecil, tetapi belum mengetahui penyebabnya. Ayah pasien juga mengalami hal serupa. Saat dilakukan pemeriksaan tampak beberapa hematom pada kaki. Pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 11 g/ dl, leukosit 7000/ʯl ,trombosit 380.000/ʯl, bleeding time memanjang, PPT normal, aPTT memanjang, tes ristosetin terganggu. Apa Diagnosis pada pasien ini ? A. Hemofilia
11
B. Von willebrand disease C. ITP
D. DIC E. Leukimia Pembahasan :
Keyword :
• Keluhan : sering mengalami gusi berdarah, mimisan dan memarmemar. Keluhan sering berulang sejak kecil.
• Ayah pasien juga mengalami hal serupa.
• Pemeriksaan Fisik : pemeriksaan tampak beberapa hematom pada kaki. • Pemeriksaan penunjang:trombosit 380.000/ʯl, bleeding time memanjang,
PPT normal, aPTT memanjang, tes ristosetin Penyakit Von Willebrand
Definisi : Adalah kelainan perdarahan herediter disebabkan oleh defisiensi faktor von Willebrand (FVW), dimana FVW berfungsi untuk membantu trombosit melekat pada dinding pembuluh darah dan sesamanya.
Gambaran klinis : Perdarahan gusi, hematuria, epitaksis, perdarahan saluran kemih, darah dalam fases, mudah memar, menoragi, hemartrosis, luka yang lama berhenti perdarahannya.
Pemeriksaan laboratorium : Jumlah trombosit normal, waktu perdarahan memanjang, PPT normal, aPTT memanjang/normal, penurunan aktivitas faktor VIII, tes ristosetin terganggu. Untuk menetapkan diagnosis diperlukan pemeiksaan khusus kadar FVW dan fungsinya
Terapi : 1. Transfusi :
Penggantian FVW dapat diperoleh dengan: transfusi plasma segar atau konsentrat plasma mengandung kompleks FVWVIII.
12 Kriopresipitat adalah konsentrat yang mudah didapatkan dan efektif. Jika kriopresipitat tidak didapatkan maka salah satu konsentrat faktor VIII/FVW dapat diberikan.
2. Obat :
Pemberian desmopresin untuk merangsang pengeluaran FVW dari sel endotel segingga FVW dan faktor VIII:C cepat meningkat dalam plasma. Kontraindikasi pada pasien PVW tipe 2B dan tipe trombosit. Obat lain yang dapat membantu pasien PVW antara lain premarine, estrogen, EACA, igG intravena
8. Seorang wanita usia 32 tahun yang merupakan seorang alkoholisme sejak muda datang dengan keluhan mudah lelah. Diketahui 3 tahun yang lalu melahirkan anak dengan bibir sumbing. Pada pemeriksaan didapatkan konjungtiva anemis. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 9,2 g/dl, MCV 115 fl. Apa Diagnosis dari pasien ini ?
A. Anemia defisiensi besi B. Anemia pernisiosa
C. Anemia defisiensi asam folat D. Thalasemia
E. Polisitemia vera Pembahasan :
Keyword :
• Keluhan : mudah lelah.
• Merupakan seorang alkoholisme sejak muda. Diketahui 3 tahun yang lalu melahirkan anak dengan bibir sumbing.
• Pemeriksaan Fisik : konjungtiva anemis.
• Pemeriksaan penunjang: Hb 9,2 g/dl, MCV 115 fl. Anemia defisiensi asam folat
Etiologi : Defisiensi asam folat akibat kekurangan asupan, alkoholisme, peningktan kebutuhan (yaitu pada kehamilan, bayi, sirosis) malabsorbsi, reseksi usus dan jejunum, tidak langsung akibat kekurangan thiamin dan enzim untuk memetabolisme asam folat, racun dan obat (metotreksat, 6-merkaptopurin, sitosin arabinosid, fenitoin, nitrous oksida).
13 Gejala Klinis
Gejala umum anemia : lemas, lesu, mudah lelah, pucat, takikardi, dispneu, takipneu, konsentrasi menurun, pingsan, telinga berdenging. Dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi seperti CLP, spinia bifida.
Laboratorium :
Darah lengkap (Hb rendah, MCV >100 fl), hapusan darah tepi (anemia makrositer).
Penatalaksanaan
Terapi disesuaikan dengan etiologi, keparahan serta gejala anemia. Pada anemia dengan gejala yang sangat parah atau Hb yang sangat rendah dapat dilakukan transfusi PRC. Karena defisiensi asam folat maka pasien diberi asam folat 1 mg/hari. Pemberian suplementasi asam folat untuk wanita yang berencana atau telah hamil untuk mencegah kecacatan pada bayi.
9. Pria usia 20 tahun mengeluh sering mimisan. Selain itu pasien juga mengeluh jika sering mengalami memar pada persendian meskipun karena trauma ringan. Saat khitan dulu pendarahan lama untuk berhenti. Keluhan sering berulang sejak pasien masih kecil tetapi mengaku belum mengetahui penyebab keluhan tersebut. Kakek pasien dari sisi ibu juga memiliki riwayat keluhan yang sama. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tensi 110/70 mmHg, nadi 82x/menit, suhu 36,2 ºC, Respirasi 19x/menit, tampak epitaksis aktif dan hemartrosis pada persendian. Dari hasil pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 10 g/dl, leukosit 7000/ ʯl, trombosit 360.000/ʯl, bleeding time normal, clotting time memanjang, protombin time normal, PTT normal, aPTT memanjang, tes ristosetin normal. Transfusi apa yang paling tepat diberikan pada pasien tersebut ?
A. Whole blood
B. Konsentrat Faktor VIII/IX C. Cryopresipitated AHF
D. PRC
E. Platelet concentrate Pembahasan :
14 • Keluhan : sering mimisan. Selain itu pasien dan sering mengalami memar
pada persendian meskipun karena trauma ringan. Keluhan sering berulang sejak pasien masih kecil.
• Riwayat khitan dulu pendarahan lama untuk berhenti. Kakek pasien dari sisi ibu juga memiliki riwayat keluhan yang sama.
• Pemeriksaan Fisik : tampak epitaksis aktif dan hemartrosis pada persendian.
• Pemeriksaan penunjang: Hb 10 g/dl, leukosit 7000/ ʯl, trombosit 360.000/ʯl, bleeding time normal, clotting time memanjang, protombin time normal, PTT normal, aPTT memanjang, tes ristosetin normal.
Hemofilia
Definisi :
Merupakan penyakit perdarahan akibat kekurangan faktor pembekuan darah yang diturunkan (herediter) secara sexlinked pada kromosom X. Penyakit ini hanya bermanifestasi klinis pada pria. Wanita hanya sebagai carrier.
Klasifikasi :
▪ Hemofilia A (Hemofilia klasik) karena defisiensi atau disfungsi faktor VIII.
▪ Hemofilia B (Chrismas disease) karena defisiensi atau disfungsi faktor IX.
▪ Hemofilia C akibat kekurangan faktor XI. Gejala dan tanda klinis :
Perdarahan spontan atau karena trauma ringan berupa hemartrosis, hematom subkutan/intramuskular, pedarahan mukosa mulut, perdarahan intrakranial, epitaksis, hematuria, perdarahan berkepanjangan setelah operasi kecil seperti sirkumsisi.
Pemeriksaan laboratorium :
Gangguan uji hemostasis berupa pemanjang masa pembekuan (CT) dan masa tromboplastin partial teraktivasi (aPTT), abnormalitas uji tromboplastin generation. Masa perdarahan (BT) dan masa protombin (PT) serta jumlah trombosit normal. Diagnosis definitif ditegakkan jika berkurangnya aktivitas FVIII/FIX
15 Tatalaksana
1. Supportive
2. Terapi pengganti AHF
a. Konsentrat faktor VIII/IX
b. Kriopresipitat AHF. Kurang spesifik, mengandung F VIII, FVW, dan fibrinogen.
3. Obat : desmopressin (merangsang produksi F VIII), antifibrinoliti (menstabilkan bekuan).
4. Terapi gen
10. Seorang pria 48 tahun datang ke dokter meminta untuk melakukan cek kesehatan. Saat anamnesis pasien mengaku tidak pernah memiliki riwayat penyakit berat. Keluhan hanya berupa mudah lelah, pusing dan tangan kaki terasa panas. Pasien mengaku sehari-harinya bekerja sebagai tukang kebun teh di pegunungan sejak 10 tahun lalu. Pemeriksaan fisik didapatkan tensi 150/90 mmHg, nadi 87x/menit, Respirasi 19x/menit, suhu 36,4 ºC. Saat dilakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil Hb 19 g/dl, leukosit 8000/ ʯl, trombosit 250.000/ ʯl, hematrokrit 54%. Apa Diagnosis pada pasien ini ? A. Polisitemia vera B. Eritrositosis relatif C. Polisitemia sekunder D. Polisitemia kriptogenik E. Pseudoeritrositosis Pembahasan : Keyword :
Keluhan: mudah lelah, pusing dan tangan kaki terasa panas.
Sehari-harinya bekerja sebagai tukang kebun teh di pegunungan sejak 10 tahun lalu.
Pemeriksaan Fisik : tensi 150/90 mmHg, nadi 87x/menit, Respirasi 19x/menit, suhu 36,4oC.
Pemeriksaan penunjang: Hb 19 g/dl, leukosit 8000/ʯl, trombosit 250.000/ʯl, hematrokrit 54%.
16
Eritrositosis
Klasifikasi eritrositosis :
1. Eritrositosis relatif atau pseudoertrositosis:hemokonsentrasi, polisitemia surious
2. Polisitemia (eritrositosis absolut)
a. Polisitemia primer : polisitemia vera, polisitemia familial lain b. Polisitemia sekunder : akibat hal lain
- Karena penurunan oksigenasi jaringan (contoh di pegunungan) - Penyakit paru
- Monge disease
- Cyanotic congenital heart disease - Sindroma hipoventilasi
- Hemoglobin abnormal
- Karena penyimpangan produksi eritropoetin - Polisitemia idiopatik
11. Seorang wanita usia 20 tahun di bawa ke Instalasi Gawat Darurat karena mengeluh nyeri perut. Selain itu pasien mengeluh demam dan badan menjadi kuning. Keluhan tersebut muncul sejak 1 hari yang lalu. Teman sekantor pasien juga mengalami hal yang sama. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 20x/menit, Suhu : 38 ºC, ikterus (+), nyeri tekan abdomen (+). Pemeriksaan penunjang apakah yang dapat dilakukan ?
A. Dark field microscope B. IgM anti HAV
C. HbsAg
D. IgM anti HCV E. IgG anti HCV Pembahasan :
Keyword :
Nyeri perut, demam, badan menjadi kuning sejak 1 hari yang lalu Teman sekantor mengalami hal yang sama
Pemeriksaan Fisik : Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 20x/menit, Suhu : 38 oC, ikterus (+), nyeri tekan abdomen (+)
17
Hepatitis A
Keluhan : demam, mata dan kulit kuning, penurunan nafsu makan, nyeri otot dan sendi, lemah, letih, lesu, mual dan muntah, warna urine seperti the, tinja seperti dempul.
Faktor resiko : mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak terjaga sanitasinya serta menggunakan alat makan dan minum penderita hepatitis. ▪ Pemeriksaan fisik ditemukan febris, sklera ikterik, hepatomegali, warna
urin seperti teh, tinja seperti dempul.
▪ Laboratorium : tes lab urin (bilirubin dalam urin), peningkatan kadar bilirubin dalam darah, kadar SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai normal tertinggi, dilakukan di fasilitas primer lebih lengkap. IgM anti HAV (dilayanan sekunder).
▪ Terapi : asupan kalori dan cairan yang adekuat ,tirah baring, pengobatan simptomatik
12. Seorang wanita usia 60 tahun datang dengan keluhan nyeri dan bengkak pada sendi-sendi jari tangan kanan dan kiri. Nyeri semakin parah saat digerakkan. Pasien juga sering merasa sendi jarinya menjadi kaku di pagi hari. Pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah : 130/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 20x/menit, Suhu : 36,8 ºC. Dari hasil Laboratorium didapatkan RF (+). Terapi non farmakologis apakah yang dapat diberikan ? A. Methylprednisolon B. Predison C. Natrium Diclofenac D. Fisioterapi E. Meloxicam Pembahasan : Keyword :
Nyeri dan bengkak pada sendi-sendi jari tangan kanan dan kiri. Semakin nyeri saat digerakkan dan kaku dipagi hari.
Pemeriksaan Fisik : Tekanan darah : 130/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 20 x/menit, Suhu : 36,8 oC
18
Rumatoid Artritis
Keluhan : gejala prodromal, gejala spesifik pada banyak sendi (poliartikular) secara simetris, dapat mengenai seluruh sendi terutama sendi PIP, MCP atau MTP, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Sendi DIP umumnya tidak terkena. Gejala synovitis pada sendi yang terkena: bengkak, nyeri yang diperburuk dengan gerakan sehingga gerakan menjadi terbatas. Kekakuan pada padi hari > 1 jam. Gejala ekstraartikular : mata(episkleritis), kardiovaskular (nyeri dada pada perikarditis), hematologi (anemia).
Pemeriksaan fisik : manifestasi articular berupa bengkak/ efusi sendi, nyeri tekan sendi, sendi teraba hangat, deformitas (swan neck, boutonniere, deviasi ulnar).
▪ Pemeriksaan Penunjang : LED, RF, Radiologi tangan dan kaki, ACPA, CRP, analisis cairan sendi, biopsi sinovium / nodul rheumatoid
Terapi
Pasien diberikan informasi untuk memproteksi sendi, terutama pada stadium akut dengan menggunakan decker.
Pemberian obat anti inflamasi non-steroid, seperti diklofenak 50-100 mg 2x/hari, meloksikam 7,5-15 mg/hari, celecoxib 200-400 mg/hari.
▪ Pemberian golongan steroid, seperti predinison atau methylprednosolon dosis rendah sebagai (bridging therapy).
13. Seorang wanita datang dengan keluhan sering kencing, haus dan berat badan menurun. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, Suhu : 36 ºC. Saat dilakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan GDP 200 mg/dl dan GD2JPP 220 mg/dl. Pasien saat ini juga mengeluh nyeri saat kencingnya. Obat apakah yang tidak boleh diberikan pada pasien tersebut ?
A. Penghambat SGLT-2 B. Penghambat DPP-IV
C. Penghambat alfa glukosidase D. Sulfonilurea
E. Metformin Pembahasan :
19 Keyword :
Sering kencing, haus, Berat Badan turun. Saat ini mengeluh nyeri saat kencing
Pemeriksaan Fisik : Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, Suhu : 36oC.
Laboratorium : GDP 200 mg/dl dan GD2JPP 220 mg/dl Diabetes Mellitus
Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya
Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita
Tabel 4. Kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis diabetes dan prediabetes HbA1c (%) Glukosa darah puasa (mg/dL)
Glukosa plasma 2 jam setelah TTGO (mg/dL) Diabetes ≥ 6,5 ≥ 126 mg/dL ≥ 200 mg/dL Prediabetes 5,7 – 6,4 100 - 125 140 - 199 Normal 5,7 100 140
Tabel 8. Profil Obat antihiperglikemia oral yang tersedia di Indonesia Golongan Obat Cara Kerja Utama Efek Samping
Utama
Penurunan HbA1c Sulfonilurea Meningkatkan
sekresi insulin
Berat Badan naik
hipoglikemia 1,0 – 2,0 % Glinid Meningkatkan sekresi Insulin Berat Badan naik hipoglikemia 0,5 – 1,5 %
Metformin
Menekan produksi glukosa hati & menambah sensitifitas terhadap insulin Dyspepsia diare, asidosis laktat 1,0 – 2,0 % Penghambat Alfa-Glukosidase Menghambat absoprsi glukosa Flatulen, tinja lembek 0,5 – 0,8 % TTiaz Olidindion Menambah sensitifitas terhadap insulin Edema 0,5 – 1,4 %
20 menghambat sekresi glukagon Penghambat SGLT-2 Menghambat penyerapan kembali glukosa ditubuli distal ginjal Dehidrasi, infeksi saluran kemih 0,8 – 1,0 %
14. Seorang wanita usia 32 tahun datang dengan keluhan nyeri pada ulu hati sejak 1 bulan yang lalu. Sudah diobati dengan obat yang dibeli diapotik namun tidak membaik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, Suhu : 37 ºC, nyeri tekan pada region hipokondrium sinistra. Saat dilakukan UBT didapatkan hasil (+). Maka terapi apa yang tepat diberikan kepada pasien?
A. Omeprazole 2x20 mg + Tetrasiklin 4x500 mg + Klaritromisin 2x500 mg B. Omeprazole 2x20 mg + Amoksisilin3x1000 mg + Klaritromisin 2x500 mg C. Omeprazole 2x20 mg + Metronidazole 3x750 mg + Klaritromisin 2x500
mg
D. Lansoprazole 3x20 mg + Amoksisilin 2x1000 mg + Klaritromisin 2x500 mg E. Omeprazole 2x20 mg + Amoksisilin2x1000 mg + Klaritromisin 2x500
mg
Pembahasan :
Keyword :
▪ Nyeri ulu hati sejak 1 bulan yang lalu.
▪ RPO : obat yang dibeli di apotik dan tidak membaik
▪ Pemeriksaan Fisik : Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18x/menit, Suhu : 37 oC, nyeri tekan pada region hipokondrium sinistra
▪ Laboratorium : UBT (+) H. Pylori
Penyebab : Helicobacter pylori
Manifestasi klinis: sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala, dyspepsia fungsional, tukak peptic, sampa kanker lambung.
▪ Pemeriksaan Penunjang : Urea Breath Test sebagai baku emas untuk deteksi infeksi HP secara non invasif
21 Terapi H. Pilory
Terapi lini pertama / terapi tripel Terapi lini kedua / terapi Kuadrupel Urutan prioritas
1. PPI + Amoksisilin + Klaritromisin 2. PPI + Metronidazol + Klaritromisin 3. PPI + Metronidazol + Tetrasiklin Pengobatan dilakukan selama 1 minggu Dosis
1. Proton Pump Inhibitor Omeprazol 2 x 20 mg Lansoprazol 2 x 30 mg Rabeprazol 2 x 10 mg Esomeprazol 2 x 20 mg 2. Amoksisilin : 2 x 1000 mg/hari 3. Klaritromisin : 2 x 500 mg/hari 4. Metrodinazol : 3 x 500 mg/hari 5. Tetrasiklin : 4 x 250 mg/hari
Terapi lini kedua dilakukan jika terdapat kegagalan pada lini pertama. Kriteria gagal : 4 minggu pasca terapi, kuman Hp tetap positif berdasarkan pemeriksaan UBT/HPSA atau hispatologi
Urutan prioritas
- Collodial bismuth subcitrate + PPI + Amoksisilin + Klaritromisin - Colloidal bismuth subcitrate + PPI + metronidazole + Klaritromisin
- Collodial bismuth subcitrate + PPI + Metronidazol + Tetrasiklin Pengobata dilakukan selama 1 minggu
Dosis colloidal bismuth subcirate : 4 x 120 mg
15. Seorang laki-laki usia 30 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan diare sejak 1 hari yang lalu. Diare disertai lendir dan darah. Pasien juga merasakan nyeri perut bagian bawah dan rasa panas pada anusnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah : 100/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18 x/menit, Suhu : 39 ºC, nyeri tekan pada abdomen bawah. Kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium yang didapatkan hasil shigella. Pemeriksaan Penunjang apakah yang merupakan baku emas untuk mendiagnosa pasien tersebut ?
A. Fecal smear B. Darah lengkap C. Kultur D. UBT E. Serologi Pembahasan : Keyword :
22 Diare sejak 1 hari yang lalu disertai darah, lendir. Selain itu didapatkan nyeri perut bawah dan rasa panas pada anus.
Pemeriksaan Fisik : Tekanan darah : 100/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Respirasi : 18 x/menit, Suhu : 39 oC, nyeri tekan pada abdomen bawah Laboratorium : didapatkan shigella
Disentri Basiler (shigellosis)
Penyebab : Shigella dysenteriae
Gejala Klinis: bervariasi mulai dari nyeri perut bawah, rasa panas rektal, diare disertai demam yang bisa mencapai 40 ˚C, tenesmus, nafsu makan menurun.
▪ Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan mikroskopik tinja menunjukkan ertrosit dan leukosit PMN. Kultur merupakan baku emas untuk diagnosis shigellosis
Terapi Disentri Basiler (shigellosis)
Siprofloksasin 2 x 500mg selama 3 hari (KI: anak-anak dan wanita hamil) Azithromisin 1g single dose
Sefikisim 400 mg/hari selama 5 hari
Asam nalidiksik 3x1 g/hari selama 5 hari (pada S. dysentriae tipe 1 yang multiresisten terhadap obat-obatan
16. Seorang laki-laki usia 60 tahun datang dengan keluhan berdebar sejak 2 jam yang lalu. Keluhan tidak dosertai nyeri dada dan sesak nafas. Pemeriksaan fisik Tekanan darah 130/70 mmHg, Nadi 120x/m, Respirasi 20x/m, suhu 37 ºC. Hasil pemeriksaan EKG di temukan gambaran:
Apa tatalaksana yang tepat? A. Digoksin
B. Aspirin C. Bisoprolol
23 D. Nitrat
E. Epinefrin Pembahasan :
Keywords
Pasien keluhan berdebar, tidak disertai nyeri dada dan sesak nafas Pemeriksaan fisik Nadi 120x/m
▪ Hasil EKG: tampak ekstrasistol ventrikel PVC
Merupakan gelombang ekstrasistol dari ventrikel Etiologi Iskemia miokardium Hipertensi Hipokalemia Dehidrasi Penggunaan kafein Toksisitas digitalis Hasil EKG
▪ Muncul gelombang QRS Prematur, lebar dan ganjil diantara gelombang normal
Klasifikasi PVC
▪ Bigemini Normal-pvc-Normal-pvc
▪ Trigemini Noormal-normal-pvc-normal-normal ▪ Couplet Pvc-pvc-normal-Triplet Pvc-pvc-pvc-normal Tatalaksana
24 • Antiaritmia Lidocaine, procainamide, bretylium, B-blocker
17. Seorang laki-laki usia 70 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan batuk darah sejak 6 bulan yang lalu. Keluhan disertai berat badan menurun dan sesak nafas. Riwayat pasien merokok sejak usia 20 tahun. Pemeriksaan fisik Tekanan darah 120/80mmHg, Nadi 80x/m, Respirasi 20x/m, suhu 37 ºC. hasil fotothoraks ditemukan gambaran:
Apa diagnosis yang tepat? A. TB paru B. Pneumonia C. PPOK D. Asma bronkiale E. Ca paru Pembahasan : Keywords
25 Keluhan batuk berdarah sejak 6 bulan lalu
Riwayat merokok sejak usia 20 tahun
▪ Fotothoraks: gambaran radioopaq di paracardial sinistra CA PARU
o Keganasan pada paru o Gejala klinis :
- Batuk dahak atau darah - Sesak nafas
- Nyeri dada
- Penurunan berat badan - Riwayat merokok
Diagnosis • Fotothoraks • CT scan • Bronkoskopi
• Biopsy (gold standart)
18. Seorang laki-laki usia 30 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan sesak nafas dan batuk sejak 3 bulan lalu. Pasien bekerja pada pabrik keramik. Pemeriksaan fisik Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 82x/m, Respirasi 28x/m, suhu 37 ºC. auskultasi ronkhi (+). Fotothoraks tampak gambaran egg shell calcification. Apa diagnosis yang tepat?
A. PPOK B. Asbestosis
26 C. TB paru D. Silikosis E. Bisinosis Pembahasan : Keywords
Pasien sesak nafas dan batuk berdahak Pekerjaan di pabrik keramik
Fotothoraks : Egg shell calcification SILIKOSIS
Pneumokoniosis akibat inhalasi partikel silika
Silika merupakan partikel yang sering ditemukan pada pekerja keramik, tambang, logam Gejala klinis
- Fase akut Batuk, Berat Badan menurun, nyeri dada dll - Fase akselerata Gejala mirip kronis tetapi lebih progresif - Fase kronis Sesak nafas, wheezing, penurunan kapasitas paru
Acute Acclerated Chronic
- Cough - Weight loss - Fatigue - Chest pain
- Shortness of breath - Low blood oxygen - Levels
Similar to chronic but symptoms occur faster, rapidly progress
Shortness of breath Crackles or wheezing in lungs
Lung capacity decreases over time
May need oxygen to help breath
27 Diagnosis
Fotothoraks
Egg shell calcification Riwayat eksposur silika Tes fungsi paru
19. Seorang laki-laki usia 60 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan sesak nafas. Pasien riwayat merokok sejak 30 tahun lalu. Pasien pernah ke dokter dan di diagnosis PPOK. Pemeriksaan fisik Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 84x/m, Respirasi 30x/m, suhu 37 ºC. tampak dada kiri tertinggal, perkusi dada kiri hipersonor. Dari hasil Fotothoraks tampak seperti gambar berikut ini :
Apa diagnosis yang paling tepat? A. Pneumonia B. Pneumothoraks sekunder C. Pneumothraks primer D. Pnumothoraks traumatica E. Pneumothoraks tension Pembahasan : Keywords
Pasien usia 60 tahun sesak nafas
Riwayat merokok (+) di diagnosis PPOK oleh dokter
28 ▪ Fotothoraks: tampak gambaran hiperlusen avaskuler pada dada kiri
PNEUMOTHORAKS
Akumulasi udara di dalam rongga pleura Klasifikasi :
Spontan
1. Primer: idiopatik, bukan karena penyakit paru
2. Sekunder: karena penyakit paru Traumatika
Akibat trauma Iatrogenik
Akibat prosedur diagnostikatau terapi
Tension
Kegawatan, disertai gangguan hemodinamik
Diagnosis - Anamnesis
Sesak nafas, nyeri pleuritik, onset tiba-tiba
- Pemeriksaan fisik
Gerak tertinggal, hipersonor, suara nafas menurun, fremitus raba menghilang - Pemeriksaan penunjang
29 20. Seorang laki-laki usia 60 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan
sesak nafas. Riwayat merokok sejak 30 tahun lalu. Pemeriksaan fisik Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 80x/m, Respirasi 26x/m, suhu 37 ºC. tampak barell chest. FEV1 postbronkodilator 30%. Apa diagnosis yang tepat menurut kriteria GOLD?
A. Mild COPD B. Moderate COPD C. Severe COPD D. Very severe COPD E. Very Mild COPD Pembahasan :
Keywords
▪ Pasien usia 60 tahun sesak nafas ▪ Riwayat merokok (+)
▪ Hasil FEV1 Postbronkodilator = 30% PPOK
Definisi :
penyakit paru kronik karena hambatan saluran nafas yang irreversibel Diagnosis
Usia tua
Riwayat merokok atau pajanan polutan
Jika memberat dan disertai tanda infeksi bakteri = eksaserbasi akut
Penunjang Foto thorax Spirometri
Grade PPOK menurut GOLD - Mild
30 - Moderate FEV1 50 % - 79 % - Severe FEV1 30 % - 49 % - Very severe FEV1 < 30 %
Grade Post Brochodilator Spirometry Grade 1 (Mild COPD)
Grade 2 (Moderate COPD) Grade 3 (Severe COPD) Grade 4 (Very severe COPD)
FEV1/FVC 70 %; FEV1 %pred ≥ 80 %
FEV1/FVC 70 %; 50 % FEV1 % pred 80 % FEV1/FVC 70 %; 30 % FEV1 % pred 50 % FEV1/FVC 70 %; 50 % FEV1 % pred 30 % Or FEV1 % pred 50 % plus chronic respiratory failure
Notes : Adapted by the author from the “Global Strategy for Diagnosis, Management and
Prevention of COPD, 2013” Global initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) available from http://www.goldcopd.org.1
Abbreviations : COPD, chronic obstructive pulmonary disease; FEV1, forced expiratory
volume in one second; FVC, forced vital capacity; %pred, percentage of predicated
21. Seorang laki-laki 30 tahun datang ke puskesmas dengan batuk >2 minggu, demam sumer, Berat Badan menurun dan keringat malam hari. Riwayat minum OAT (+), pemeriksaan fisik Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 80x/m, Respirasi 20x/m, Suhu 37.8 ºC. Sputum BTA (+/+). Hasil fotothoraks tampak infiltrat pada paracardial kanan. Reaksi hipersensitivitas tipe berapa yang terjadi pada pasien ini?
A. Hipersensitivitas tipe I B. Hipersensitivitas tipe II C. Hipersensitivitas tipe III D. Hipersensitivitas tipe IV E. Hipersensitivitas tipe V Pembahasan :
Keywords
Pasien batuk > 2 minggu, umer, Berat Badan menurun, keringat malam Sputum BTA (+/+)
31
HIPERSENSITIVITAS
Klasifikasi
Tipe I IgE mediated type
Tipe II Celluler type diperantarai Ig G dan Ig M Tipe III Imun complex type diperantarai IgG ▪ Tipe IV Delayed type diperantarai sel T
TIPE 1 TIPE II TIPE III TIPE IV
Diperantarai oleh Antibodi Diperantarai oleh sel Limfosit T
Nama Lain Alergi atau anafilaksis Autoimmune Hemolytic Anemia, Graves Disease Systemic Lupus Erythematosus, Lupus Nephritis Rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, Tes Mantoux Antibodi yang berperan
IgE IgM dan IgG IgG Sel Th1
Waktu reaksi
Cepat (15-30 menit)
Menit hingga
jam 3 – 10 jam 48 - 72 jam
Mekanisme
Antigen bebas akan berikatan dengan IgE yang ada di permukaan sel mast. Hal ini akan menghasilkan histamin Ig dan IgM akan berikatan dengan antigen yang terdapat pada sel normal, hal ini akan mengakibatkan kerusakan sel IgG akan berikatan dengan antigen bebas, membentuk komplek imun kemudian mengendap di persendian atau ginjal Sel Th1 akan diaktifkan oleh sel APC. Setelah itu sel memori Th1 akan mengaktifkan
makrofag dan terjadi peradangan atau inflamasi
32 22. Seorang laki-laki usia 50 tahun pingsan di tengah jalan. Telah dilakukan
pertolongan pertama. Setelah ambulans datang, dilakukan pemasangan EKG. Saat perjalanan tiba-tiba pasien apnea, nadi (-). Gambaran EKG menunjukan tidak ada gelombang. Apa tatalaksana selanjutnya?
A. Defibrilasi 360 joule B. Kardioversi 100 joule C. RJP + Amodaron 300 mg bolus D. RJP + epinefrin 1 amp E. RJP+observasi Pembahasan : Keywords :
Pasien pingsan sudah dalam perjalanan menggunakan ambulans Saat di ambulans pasien apnea, nadi (-)
33 23. Seorang laki-laki atlet lari datang ke klinik dokter untuk dilakukan
pemeriksaan rutin, pasien sering mengalami lemas badan dan pusing. Pemeriksaan fisik Tekanan darah 90/60 mmHg, Nadi 50x/m, Respirasi 20x/m, Suhu 37 ºC. Hasil EKG tampak gelombang P yang berjalan sendiri dan QRS kompleks yang berjalan sendiri. Apa terapi definitif pada pasien ini? A. Atropin 0.5 mg bolus
B. Pacemaker
C. Kardioversi 100 joule D. O₂ nasal + observasi E. Epinefrin 1 mg
Pembahasan :
Keywords
▪ Seorang atlet pusing dan lemas
▪ Tekanan darah : 90/60 mmHg (hipotensi) , Nadi 50x/m
▪ Gambaran EKG : Gelombang P dan QRS kompleks yang berjalan sendiri-sendiri ( AV blok grade 3)
BRADIKARDIA ARITMIA 1. Sinus bradikardiaadi
34 - Frekuensi < 60 x/m
- Reguler
1. AV block • Grade 1 PR interval memanjang secara konstan • Grade 2 - Mobitz 1( escape beat+ PR interval semakin memanjang) - Mobitz 2 ( escape beat+ PR interval konstan) • Grade 3 (total av blok) Gelombang P dan QRS kompleks berjalan sendirisendiri
AV block Grade 1
PR interval memanjang secara konstan Grade 2
- Mobitz 1( escape beat+ PR interval semakin memanjang)
- Mobitz 2 ( escape beat+ PR interval konstan)
Grade 3 (total av blok) Gelombang P dan QRS kompleks berjalan sendiri-sendiri
35 24. Seorang anak usia 7 tahun dibawa periksa ke dokter dengan keluhan perut
sering kembung, mual kadang muntah. Ibu juga mengeluhkan pernah keluar cacing ukuran kurang lebih 10 cm saat pasien Buang Air Besar. Pemeriksaan fisik tanda vital normal, status nutrisi gizi kurang. Dari pemeriksaan feses didapatkan gambaran telur dinding tebal dengan bagian luar bergelombang. Bagaimana metode penyebaran parasit tersebut?
A. Menelan larva infeksius B. Menelan telur cacing
C. Telur cacing menembus kulit
D. Larva rabditiform menembus kulit E. Larva filariform menembus kulit Pembahasan :
Keywords :
Anak 7 tahun dengan keluhan perut sering kembung, mual kadang muntah, disertai pernah keluar cacing ukuran kurang lebih 10 cm saat pasien Buang Air Besar.
Pemeriksaan Fisik : status nutrisi gizi kurang.
36 25. Seorang ibu membawa anaknya umur 5 tahun ke Puskesmas dengan keluhan
gatal pada duburnya, gatal semakin dirasakan terutama pada malam hari. Dari pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Status lokalis ditemukan ekskoriasi pada anus serta ditemukan parasit kecil berwarna putih. Apa Organisme penyebab yang paling tepat pada kasus ini ?
A. Ascaris lumbricoides B. Ancylostoma duodenale C. Trichuris trichuria D. Oxyuris hematobium E. Enterobius vermicularis Pembahasan : Keywords :
Anak 5 tahun ke Puskesmas dengan keluhan gatal pada duburnya, gatal semakin dirasakan terutama pada malam hari.
37 26. Anak perempuan 12 tahun datang dengan keluhan kaki kanan bengkak sejak 2
minggu yang lalu. Bengkak dirasakan semakin lama semakin bertambah berat. Tetangga pasien juga memiliki riwayat keluhan yang sama. Pada pemeriksaan lokalis didapatkan limfadenopati inguinal, nonpitting edema dan kulit mengelupas. Manakah Etiologi penyebab keluhan di atas yang kurang tepat ? A. Wuchereria bancrofti B. Brugia malayi C. Brugia timori D. Oncocherca volvulus E. Anopheles bancrofti Pembahasan : Keywords :
Anak perempuan 12 tahun dengan keluhan kaki kanan bengkak sejak 2 minggu lalu.
Tetangga pasien juga memiliki riwayat keluhan yang sama.
Pemeriksaan Fisik : nonpitting edema dan kulit mengelupas pada tungkai kanan.
38
Infeksi Nematoda Jaringan
Nama Bentuk
Mikrofilaria Vector Pathogenesis terapi
Wuchereria bancrofti Selubung (+) Inti tidak sampai ujung ekor Nyamuk *Anopheles *Culex *Aedes Toksin larva dan cacing dewasa --> obstruksilimfe --> elefantiasis & hidrokel * DEC 6 mg/kg/hari selama 12 hari * Ivermectin Single dose * Simptomatis Brugia malayi Selubung (+), bentuk ekor mengecil, warna merah, 2 inti Sama dengan Filariasis bancrofti TAPI elefantiasis hanya kena tungkai bawah Brugia timori Selubung (+), bentuk ekor mengecil, warna pucat
27. Seorang anak perempuan usia 7 tahun, diantar ibunya ke puskesmas karena sakit perut sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh mual namun tidak muntah, kehilangan nafsu makan, lemah dan terkadang ada diare. Akhir-akhir ini, pasien merasa berat badannya turun. Keluarga pasien sering menyantap daging babi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tanda Tanda Vital dalam batas normal, konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-). Pada pemeriksaan mikroskopik feses didapatkan gambaran proglotid. Terapi apa yang diberikan pada pasien ini?
A. Albendazole B. Prazikuantel C. Pirantel Pamoat D. Mebendazole E. Omeprazole Pembahasan : Keywords :
39 Anak perempuan 7 tahun dengan keluhan sakit perut sejak 3 hari yang lalu disertai mual (+), kehilangan nafsu makan (+), lemas (+), diare (+), Berat Badan menurun.
Keluarga pasien sering menyantap daging babi. Pemeriksaan Fisik : dbn
Pemeriksaan feses : proglotid (+) Infeksi Cacing Cestoda
Nama Bentuk Telur Bentuk Proglotid Vector Cara Infeksi Patogenesis
& Gejala Terapi
Taenia solium (cacing pita babi) Telur bulat dengan striae radier Segmen 1000 5-8 cabang Babi Fecal oral Larva nempel di organ vektor sapi/babi mentah dimakan manusia --> usus manusia --> gangguan GIT (diare, konstipasi), anemia Praziquantel 10-20 mg/kg SD Taenia saginata (Cacing pita sapi) Segmen 2000 15-30 cabang Sapi
Sistiserkosis --> infeksi larva Taenia solium, Tx : Albendazole + Prazikuantel 3x15 mg/kg/hari selama 15 hari + steroid
28. Anak Laki-laki usia 4 tahun datang bersama orang tuanya dengan keluhan demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam dirasakan pada malam hari disertai nyeri kepala, lemah, lesu, mual, nafsu makan menurun dan diare. Penderita tinggal di dekat Danau Lindu Sulawesi Tengah dan bekerja sebagai nelayan penangkap ikan. Hasil pemeriksaan feses penderita ditemukan telur lonjong dengan operculum tanpa duri. Apakah etiologi yang tepat?
A. Ascariasis lubricoides B. Ancylostoma duodenale
C. Schisctostoma japonicum
D. Schistostoma mansoni E. Schistostoma hematobium
40
Pembahasan :
Keywords :
Anak Laki-laki 4 tahun keluhan demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam dirasakan pada malam hari disertai nyeri kepala, lemah, lesu, mual, nafsu makan menurun dan diare.
Pasien tinggal di dekat Danau Lindu Sulawesi Tengah.
Pemeriksaan feses : telur lonjong dengan operculum tanpa duri. Nama Bentuk
Telur
Bentuk Infektif
Hospes
Perantara Patogenesis Terapi Fasciola hepatica (sheep liver fluke) Lonjong, operkulum (+)
Metaserkaria Siput Lymnea
Migrasi cacing dari duodenum --> hepar ---> gejala GIT, icterus Triclabendazole Schistosoma japonicum Bulat, spina (-) Serkaria Siput Serkaria menembus kulit --> gatal2, radang akut hepar Praziquantel Schistosoma mansoni Lonjong, spina lateral Schistosoma hematobium Lonjong, spina terminal
29. Seorang anak perempuan 4 tahun dibawa ibunya ke dokter dengan keluhan nyeri perut sejak 3 hari yang lalu. Keluhan disertai badan lemas, mual, muntah. Pasien juga dikeluhkan demam sejak 4 hari yang lalu. Pemeriksaan fisik nadi
41 78x/menit, Respirasi 24x/menit, suhu 38 ºC, didapatkan sklera ikterik dan nyeri tekan pada regio hipokondrium kanan. Hasil laboratorium : Anti HAV (+), HBsAg (-), anti HBs (+), anti HBc (-). Apakah diagnosis yang tepat? A. Hepatitis A dan hepatitis B
B. Hepatitis A C. Hepatitis B
D. Hepatitis A dan carrier hepatitis B
E. Hepatitis A dan pernah vaksin hepatitis B Pembahasan :
Keyword :
Anak perempuan 4 tahun keluhan nyeri perut sejak 3 hari yang lalu disertai badan lemas, mual, muntah, demam sejak 4 hari yang lalu.
Pemeriksaan Fisik : suhu 38C, sklera ikterik (+) dan nyeri tekan pada regio hipokondrium kanan (+).
Hasil laboratorium : Anti HAV (+), HBsAg (-), anti HBs (+), anti HBc (-). Hepatitis Akut
Etiologi : virus Hepatitis
Ada 2 jenis yang paling umum : hepatitis A dan B
Hepatitis A Hepatitis B
Gejala Flu like syndrome + icterus + Buang Air Kecil teh
70% asimptomatis Kronis --> resiko sirosis hepatis Factor resiko Outbreak, orang sekitar
mengalami keluhan yang sama (fecal oral)
Transmisi vertical, tranfusi darah
Pemeriksaan Fisik
Icterus, hepatomegali, nyeri tekan abdomen kuadran kanan atas, demam
Laboratorium IgM anti HAV (+) HBsAg (+), IgM anti HBc (+)
42 30. Seorang anak laki-laki 11 tahun dibawa ibunya ke puskesmas dengan keluhan
muncul benjolan di pipi kiri sejak 5 hari yang lalu, semakin lama semakin membesar, nyeri dan disertai demam hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nadi 102 x/menit, napas 22 x/menit, suhu 38,6 ºC. Berat badan pasien 45 kg. Didapatkan massa pada preaurikuler sampai mandibula sinistra, kenyal, batas tidak tegas dan nyeri tekan. Pasien mengaku di sekolahnya
43 banyak teman- temannya yang mengalami keluhan serupa. Apa Terapi yang tepat untuk kasus tersebut?
A. Paracetamol 3 x 500 mg B. Amoxicilin 3 x 500 mg C. Asiklovir 4 x 500 mg D. Asam Mefenamat 3x500 mg E. Dexametason 3 x 0.5 mg Pembahasan : Keywords :
Anak laki-laki 11 tahun keluhan muncul benjolan di pipi kiri sejak 5 hari yang lalu, semakin lama semakin membesar, nyeri dan disertai demam hilang timbul.
Pasien mengaku di sekolahnya banyak teman- temannya yang mengalami keluhan serupa
Pemeriksaan Fisik : nadi 102 x/menit, napas 22 x/menit, suhu 38,6 oC, Berat Badan : 45 kg.
Status lokalis : massa pada preaurikuler sampai mandibula sinistra, kenyal, batas tidak tegas dan nyeri tekan.
Parotitis / Mumps
Etiologi : virus Paramyxoviridae Predileksi : kelenjar parotis Gejala klinis :
- Pembesaran kelenjar parotis unilateral atau bilateral disertai lesu, nyeri otot, nafsu makan menurun
- Riwayat kontak dengan penderita
Komplikasi : orchitis, meningoensefalitis, pankreatitis, oovoritis Terapi :
Simptomatis dan suportif (antipiretik, analgetik, vitamin)
31. Seorang anak perempuan 8 tahun diantar oleh ibunya ke puskesmas dengan keluhan demam sejak 10 hari yang lalu. Demam dirasakan meningkat terutama malam hari, namun 2 hari terakhir demam dirasakan terus menerus. Keluhan disertai dengan penurunan nafsu makan dan diare. Pasien memiliki kebiasaan jajan dipinggir jalan. Pada pemeriksaan fisik Tekanan darah : 100/80mmHg,
44 Nadi : 80x/m, Respirasi : 18x/m, Suhu : 38,5 ºC. teraba pembesaran hepar 1 jari di bawah arcus costae, lidah eritema dan tremor. Kapan pemeriksaan kultur darah dapat dilakukan ?
A. Hari ke-3 B. Hari ke-5 C. Minggu 1-2 D. Minggu 3-4 E. Minggu ke-4 Pembahasan : Keyword :
• Anak perempuan 8 tahun keluhan demam sejak 10 hari yang lalu, meningkat terutama malam hari
• Keluhan disertai dengan penurunan nafsu makan dan diare. • Pasien memiliki kebiasaan jajan di pinggir jalan.
• Pemeriksaan Fisik : Tekanan darah : 100/80mmHg, Nadi : 80x/m, Respirasi : 18x/m, Suhu : 38,5 oC, pembesaran hepar 1 jari di bawah arcus costae (+), lidah eritema dan tremor (+).
Demam Tifoid
▪ Etiologi : bakteri Salmonella typhii (gram negatif) ▪ Cara penularan : fecal-oral
▪ Gejala klinis :
- Demam (Stepladder) ≥ 6 hari
- GIT : diare, obstipasi, nyeri perut, meteorismus, lidah khas (kotor di tengah merah di tepi, tremor)
- Lain-lain : Nyeri kepala, malaise, nausea, nyeri telan, bradikardi relatif, penurunan kesadaran
• Pemeriksaan penunjang : - Gold standard : kultur → - Serologis (rapid test : Tubex)
- Widal O : kenaikan titer 4x selang 1 minggu Komplikasi tersering : perforasi usus halus
Minggu 1-2 Kultur darah, LCS (invasive) Minggu 2-3 Feses dan urine
45 Tatalaksana :
▪ Medikamentosa :
1. Kloramfenikol 100mg/kg/hari 4 dosis 10-14 hari 2. Amoxicillin 100mg/kg/hari 4 dosis 10-14 hari
3. Trimetoprim-Sulfametoksazol (TMP-SMZ) 6 mg/kg/hari 2 dosis 10 hari
▪ Resisten : Ceftriaxone 100mg/kg/hari 1-2 dosis 5-7 hari (IV) atau Cefixime 10-15 mg/kg/hari 2 dosis selama 10 hari (PO)
▪ Komplikasi : laparotomi
▪ Suportif : tirah baring, isolasi, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan 32. Seorang pasien datang dengan periksa ke praktek dokter dengan keluhan
demam mendadak sejak 3 hari ini. Demam disertai nyeri kepala, nyeri otot, nyeri daerah mata, mual dan muncul bercak-bercak kemerahan di lengan atas. Pemeriksaan fisik tanda vital dalam batas normal. Apakah pemeriksaan yang selanjutnya dilakukan?
A. Darah rutin dan NS1 B. Darah dan widal
C. Darah dan Tubex D. Darah dan IgM E. Darah dan IgG Pembahasan :
Keyword :
▪ Seorang pasien keluhan demam mendadak sejak 3 hari ini disertai nyeri kepala, nyeri otot, nyeri daerah mata, mual dan muncul bercak-bercak kemerahan di lengan atas.
▪ Pemeriksaan Fisik : dbn Infeksi Virus Dengue
Etiologi : virus Flavivirus serotipe DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 → vektor : nyamuk Aedes aegypti
Diagnosis :
- DEMAM : mendadak tinggi (39-40C), kontinu selama 2-7 hari
- Tanda-tanda perdarahan : uji Torniquet (+), ptekiae, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, dan hemathemesis/melena
46 - Hepatomegali
- Tanda-tanda syok : lemas, pucat, akral dingin, takikardi, CRT > 2 detik, selisih Tekanan darah sistolik dan diastolik < 20
mmHg
Pemeriksaan penunjang : - DL :
Trombositopeni (≤100.000/mm3)
DHF : Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit ≥ 20% dari nilai normal)
- NS 1 : hari 1-3
- IgM anti Dengue : hari ke 5 dst
Klasifikasi Derajat Infeksi Dengue :
Grade Tanda dan Gejala Pemeriksaan laboratorium DF Demam dengan min 2 kriteria :
Nyeri kepala Nyeri orbita Mialgia
Arthralgia / nyeri tulang Rash
Manifestasi perdarahan TIDAK ADA BUKTI kebocoran plasma
Leukopenia (< 5000/m3)
Trombositopeni (<150.000/m3) Peningkatan hematokrit 5-10% TIDAK ADA BUKTI kebocoran plasma
DHF I Demam dengan manifestasi perdarahan (uji Tourniquet positif) dan bukti kebocoran plasma positif
Trombositopeni (<100.000/m3) Peningkatan hematokrit ≥ 20% DHF II Sama seperti grade I +
Perdarahan spontan
Trombositopeni (<100.000/m3) Peningkatan hematokrit ≥ 20% DHF III Sama seperti grade I-II +
Tanda kegagalan sirkulasi nadi (nadi lemah, hipotensi, selisih Tekanan darah ≤ 20 mmHg, tampak lemas)
Trombositopeni (<100.000/m3) Peningkatan hematokrit ≥ 20%
DHF IV Sama seperti grade III + bukti nyata adanya syok (nadi dan tensi TIDAK teraba)
Trombositopeni (<100.000/m3) Peningkatan hematokrit ≥ 20% DHF III dan IV disebut juga Dengue Shock Syndrome (DSS)
47 Tatalaksana :
DF : Rehidrasi oral, antipiretik, terapi cairan bila intake kurang (mual muntah)
DHF : Terapi cairan kristaloid isotonik (NaCl 0.9%, Ringer Lactat, Ringer Asetat)
DHF grade I-II : cairan maintenance 1 hari + defisit 5%
Kebutuhan cairan berdasarkan Berat Badan Ideal (Guideline WHO, 2011) Ideal body weight (Kgs) Maintanance (ml) M+5% deficit (ml) Ideal body weight (Kgs) Maintanance (ml) M+5% deficit (ml) 5 500 750 35 1.800 3.550 10 1.000 1.500 40 1.900 3.900 15 1.250 2.000 45 2.000 4.250 20 1.500 2.500 50 2.100 4.600 25 1.600 2.850 55 2.200 4.950 30 1.700 3.200 60 2.300 5.300 DHF grade III-IV Komplikasi :
Akibat syok : ensefalopati Dengue,edema cerebri, kelainan ginjal
Akibat overload cairan : edema paru
33. Anak laki-laki usia 5 tahun dibawa ibunya ke Puskesmas dengan keluhan batuk pilek sejak 20 hari yang lalu. Riwayat batuk terus-menerus dijumpai sampai wajah pasien memerah bahkan sianosis dan setiap akhir batuk diakhiri bunyi melengking dan terkadang muntah. Berat Badan 14 kg, vital sign dalam batas normal, namun pada kedua mata dijumpai perdarahan subkonjungtiva. Apa pencegahan imunisasi yang diberikan pada anak ini?
48 B. Polio C. Tetanus toksoid D. Campak E. DPT Pembahasan : Komplikasi :
Akibat syok : ensefalopati Dengue,edema cerebri, kelainan ginjal Akibat overload cairan : edema paru
34. Anak umur 15 bulan dibawa ibunya ke Rumah Sakit untuk imunisasi. Ibu menunjukkan KMS dan diketahui anak telah mendapat imunisasi BCG, polio 4x, DPT 2x, Hepatitis B 2x. Bagaimanakah Tindakan yang tepat untuk diberikan kepada pasien tersebut ?
A. Berikan vaksinasi MMR, DPT dan hepatitis B saat ini
B. Berikan vaksinasi DPT dan hepatitis B saat ini, campak berikan lagi saat usia 24 bulan
C. Berikan vaksinasi DPT dan hepatitis B saat ini, campak tidak usah diberikan lagi
D. Berikan vaksinasi campak
E. Usia pasien sudah terlambat untuk vaksinasi Pembahasan :
49 Anak umur 15 bulan telah mendapat imunisasi BCG, polio 4x, DPT 2x,
Hepatitis B 2x.
Jadwal Imunisasi yang Terlambat / Tidak Teratur ▪ Segera lanjutkan imunisasi yang tertunda sesuai jadwal
▪ Bila status imunisasi diragukan → dianggap belum pernah → berikan ▪ Tidak ada bahwa pemberian vaksin akan merugikan penerima yang sudah
imun
▪ Interval vaksinasi tetap/tidak berubah
▪ Jika terlambat > 1 vaksin → dapat beberapa vaksin sekaligus / combo 35. Seorang bayi lahir dengan usia gestasi 38 minggu dari ibu G₁P₀A₀ di bidan.
Oleh bidan kemudian dilakukan langkah-langkah resusitasi neonatus. Setelah penilaian awal dilakukan didapatkan HR 80x/menit, nafas megap-megap. Apa Tindakan selanjutnya yang harus dilakukan bidan tersebut ?
A. O₂ suplementasi 100% B. Injeksi adrenalin
50 C. VTP sampai dengan pijat jantung
D. VTP dengan O₂ 21%
E. VTP sampai dengan pijat jantung dengan O₂ 100% Pembahasan :
Keyword :
Bayi G1P0A0 38 minggu → dilakukan langkah-langkah resusitasi neonatus. Setelah penilaian awal dilakukan didapatkan HR 80x/menit, nafas megap-megap
36. Bayi perempuan usia 2 hari dibawa ibunya dengan benjolan di kepalanya. Bayi dilahirkan normal pervaginam. Saat dilakukan pemeriksaan, benjolan terdapat didaerah frontal, lunak dilapisi kulit dan melewati garis tengah. Apa Diagnosis yang tepat?
A. Caput succadeneum B. Subgaleal hemorrhage C. Cephal hematome D. Meningomyelocele
51 E. Meningocele
Pembahasan :
Keyword :
Bayi perempuan usia 2 hari dengan benjolan di kepalanya, lahir normal pervaginam.
Pemeriksaan Fisik : benjolan terdapat didaerah frontal (+), lunak dilapisi kulit dan melewati garis tengah
37. Bayi usia 7 hari dibawa ibunya ke dokter karena kuning hampir seluruh badan sejak 3 hari ini. Riwayat demam disangkal. Riwayat pasien mendapatkan Air
Susu Ibu eksklusif. Buang Air Besar warna coklat dan urin warna kuning
Lesi Bengkak Kenaikan Sutura Lintas Kehilangan Darah Terapi Caput succadenum Lunak, pitting (+) (-) (+) (-) Observasi, hilang dalam 1 minggu Cephalhematoma Keras, tegang (+) (-) (+) bisa masif Observasi hilang dalam 2-3 minggu Subgaleal hematoma Keras, fluktuatif (+) (-) (-) Monitor koagulopati, hipotensi, anemia, hyperbilirubinemia -- > rawan syok
52 jernih. Pemeriksaan fisik tanda vital dalam batas normal didapatkan ikterus kramer 4, lain-lain dbn. Pemeriksaan penunjang bilirubin total 18 mg/dl. Apa yang harus dilakukan pada bayi ini?
A. Fototerapi B. Transfusi tukar C. Medikamentosa
D. Tambahkan jumlah dan frekuensi ASI E. Observasi
Pembahasan :
Keyword :
Bayi usia 7 hari kuning hampir seluruh badan sejak 3 hari ini.
Demam (-), ASI eksklusif (+), Buang Air Besar warna coklat dan urin warna kuning jernih.
Pemeriksaan Fisik : ikterus kramer 4. Laboratorium : bilirubin total 18 mg/dl. Ikterus Neonatorum
Secara klinis terlihat bila kadar bilirubin darah 5-7 g/dl Pembagian :
- Ikterus FISIOLOGIS →bilirubin direk ≤ 2 mg/dl, bilirubin total ≤ 12 mg/dl, muncul di hari ke-2 s/d minggu ke-2
- Ikterus PATOLOGIS → bila ada salah satu syarat ikterus fisiologis dilanggar
▪ Tatalaksana :
- Ikterus Fisiologis : pemberian ASI eksklusif - Ikterus Patologis : fototerapi