I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia, karena banyak penduduk yang hidupnya mengandalkan komoditas ini (Direktorat Perlindungan Perkebunan, 2003). Tanaman karet dapat mencapai umur 25 tahun sebelum masa penanaman kembali atau sering disebut dengan replanting. Masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) merupakan periode yang penting didalam budidaya karet, karena akan menentukan kecepatan pengembalian investasi, kesehatan tanaman dan produktivitas kebun (Supriadi, 2010).
Masa tidak produktif pada tanaman karet pada awalnya berkisar 6-7 tahun. Proode TBM ini secara umum dianut di Indonesia maupun di Malaysia. Masa produktif yang relatif lama tersebut sering menjadi bahan pertimbangan untuk mengusahakan komoditas tersebut sehingga menempatkan budidaya karet sebagai budidaya yang kurang menarik. Oleh karena itu memperpendek masa tidak produktif adalah salah satu tujuan pemeliharaan tanaman karet (Sihotang, 1993)
Produktivitas tanaman karet tidak hanya ditentukan pada pengadaan bahan tanam yang baik saja. Setelah pengadaan batang bawah yang baik, maka perpindahan bibit tanaman kelapangan yang disebut memasuki masa TBM. Masa TBM berakhir saat tanaman sudah memasuki pada tahap matang sadap (Sembiring, 2012).
Masa TBM pada tanaman karet didefinisikan sebagai masa dari sejak penanaman bahan tanam dilapangan sampai dengan tercapainya kriteria matang sadap. Ukuran lilit batang minimal 45 cm (diukur pada ketinggian 1 meter dari pertautan okulasi) adalah merupakan kriteria matang sadap yang dianut sampai sekarang. Suatu blok pertanaman karet dapat dibuka sadap jika
minimal 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria matang sadap. Oleh karena itu usaha untuk mempercepat masa TBM berarti usaha untuk mempercepat pertumbuhan lilit batang, meningkatkan keseragaman dan mempertahankan populasi tetap optimal (Siagian, 2009).
Tingkat pemeliharaan karet pada masa tersebut sangat berpengaruh terhadap lamanya masa TBM. Pencapaian masa TBM yang singkat (3,5-4 tahun), dengan produktivitas yang tinggi adalah merupakan cara untuk mempertahankan kelangsungan komoditi karet sebagai komoditi yang menguntungkan. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemeliharaan yang optimum selama masa TBM akan mempersingkat masa TBM dan meningkatkan produktivitas selanjutnya (Siagian, 2009).
Pemeliharaan tanaman karet dibagi menjadi dua fase yaitu TBM dan TM. Pemeliharaan tanaman karet belum menghasilkan berfokus pada pertumbuhan vegetatif tanaman terutama lilit batang agar dapat tercapai batang matang sadap yang produktif maksimal dan pertumbuhan tanaman seragam. Sedangkan pemeliharaan tanaman menghasilkan berfokus pada kualitas dan kuantitas produksi (Sembiring, 2012).
Kualitas TM sangat ditentukan oleh pemeliharaan priode TBM . TBM yang berkualitas akan menghasilkan keseragaman lilit batang dan persentase matang sadap yang tinggi. Jumlah tanaman yang disadap akan berpengaruh terhadap produksi. Jumlah tanaman yang disadap akan berpengaruh terhadap produksi. Jumlah tanaman yang dapat disadap dalam satu hamparan sangat tergantung dari keseragaman tanaman. Sekitar 40% keberhasilan dalam budidaya tanaman karet ditentukan oleh pemakaian bibit unggul, sedangkan 60% sisanya tergantung dari pemeliharaan tanaman (Nugroho dkk, 2007).
Kegunaan bahan tanam yang kurang baik, penyisipan dengan bahan tanam yang tidak seumur, persiapan lahan yang kurang baik, dan pemeliharaan tanaman yang kurang intensif adalah beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakseragaman TBM (Nugroho dkk, 2007).
B. Perumusan Masalah
Keberhasilan budidaya tanaman karet sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktornya yaitu kelas kesesuaian lahan, jenis klon yang ditanam, proses ataupun teknik pananaman mendasar atau awal, lingkungan sekitar, cuaca, dan yang paling penting yaitu pemeliharaan di masa TBM. Sehingga apabila pemeliharaan tidak dilakukan dengan benar akan menyebabkan masalah-masalah seperti, terhambatnya pertumbuhan tanaman, penyakit, kematian tanaman sehingga berkurangnya populasi tanaman.
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui jenis pemeliharaan tanaman belum menghasilkan pada tanaman karet (H. brasiliensis)
2. Untuk mengetahui biaya pemeliharaan tanaman belum menghasilkan pada tanaman karet (H. brasiliensis)
3.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman perhitungan biaya dalam pelaksanaan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan pada tanaman karet (H. brasiliensis).
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Teknik pemeliharaan TBM
Pada masa TBM, tanaman diharapkan memiliki kemampuan untuk tercapainya kriteria matang sadap yang lebih cepat melalui pertumbuhan ukuran llilit batang, tingkat homogenitas yang tinggi, dan mempertahankan populasi tetap optimal. Pemeliharaan dilakukan untuk memperoleh tanaman karet yang dapat disadap lebih cepat, yaitu <5 tahun (Sembiring, 2012).
Menurut Nugroho, dkk (2007) beberapa metode untuk meningkatkan keseragaman TBM yaitu : 1) Thinning out, yaitu suatu metode peningkatan keseragaman dengan membuang tanaman yang tidak berpotensi; 2) Compacting, yaitu pengelompokkan tanaman yang mempunyai lilit batang yang relative sama; 3) Pemupukan ekstra, yaitu pemberian tambahan pupuk sebesar 50% dari dosis anjuran pada tanaman yang terhambat pertumbuhannya, tetapi masih berpotensi untuk mengejar pertumbuhan tanaman disekitarnya.
Pada TBM yang yang berumur lebih dari satu tahun biasanya dilakukan pemupukan ekstra diikuti dengan pengurangan tajuk tanaman yang berada disekitarnya, tujuan agar mendapatkan sinar matahari untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang terhambat. Dasar utama dari evaluasi TBM adalah besarnya lilit batang (Nugroho dkk, 2007). Berikut akan disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Lilit batang tanaman karet umur 1-5 tahun pada berbagai kondisi pertumbuhan.
Tahun Ke
Lilit batang (cm)
Sangat lambat Terlambat Normal
1 7 7-8 9-10
3 <24 24-27 28-31
4 <30 32-36 37-40
5 <40 40-44 45-47
Sumber : Pusat Penelitian Karet
Pemeliharaan TBM meliputi inventarisasi tanaman, penyulaman, pembuangan tunas palsu, induksi cabang pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, dan pemupukan. Pembuangan tunas palsu dan induksi cabang merupakan bagian dari pengelolaan tajuk (Sembiring, 2012) .
Menurut Siagian (2011) tujuan pengelolaan tajuk pada masa TBM adalah untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang jagur, homogen dan mempertahankan populasi tetap optimal. Dengan demikian hasil akhir yang diharapkan adalah masa TBM yang singkat yaitu ≤ 4 tahun, dan produktivitas yang tinggi terutama pada tahun pertama sadap (1.300 kg/ha).
Salah satu faktor yang mempengaruhi kerusakan tanaman karet akibat angin adalah bentuk tajuk. Ditinjau dari tipe percabangan, tajuk dengan satu batang utama yang dominan dengan cabang-cabang utama berlilit batang relatif lebih kecil dan membentuk sudut cabaang besar terhadap batang dinilai toleran terhadap angin. Disamping itu, tanaman karet yang toleran terhadap gangguan angin juga memiliki pertumbuhan batang yang tegak lurus, dan bertajuk padat. Sebaliknya, tajuk dengan batang yang tinggi dan mempunyai lebih dari satu cabang yang dominan sehingga batang utamanya kehilangan dominasi, relatif peka akan gangguan angin (Siregar, 1990).
1. Inventarisasi tanaman
Inventarisasi tanaman pada masa TBM berguna untuk menentukan kebijakan selanjutnya pada program penyisipan, pemupukan dan pengendalian hama/penyakit. Inventarisasi tanaman yang mati, rusak, daunnya mengunung dan terserang penyakit mulai dilakuakan tiga sampai empat minggu setelah penanaman dan segera diganti dengan tanaman yang sehat atau segar dengan bibit polibag stadia satu atau dua payung daun tua (Siagian dkk, 2009).
Dibuat pancang dengan tanda khusus pada titik titik tanaman yang mati, rusak, abnormal, terserang penyakit atau tumbang. Jumlah baris dan jumlah tanaman perbaris dalam satu blok dicatat di kartu tanaman yang telah dipersiaapkan sebelumnya. Kegiatan inventarisasi dilakukan 6 bulan sekali selama periode TBM (Siagian dkk, 2009).
2. Penyulaman / penyisipan
Penyulaman merupakan kegiatan penggantian tanaman yang mati atau terhambat pertumbuhannya dengan tanaman yang baru. Tujuan penyulaman adalah untuk mempertahankan populasi dan mencapai keseragaman pertumbuhan tanaman. Pemeriksaan tanaman dilakukan dua minggu sekali. Penyulaman dianjurkan sampai tanaman berumur tiga tahun karena lebih dari tiga tahun dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil. (Sembiring, 2012).
Penyisipan yang terlambat dengan menggunakan bahan tanam yang tidak seumur dengan tanaman utama menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak seragam. Pada 6 bulan pertama digunakan bibit polibeg payung dua, sedangkan umur 7-12 bulan, digunakan polibeg paying 3-5. Pada umur tanaman 1-2,5 tahun dapat menggunakan bahan tanam Core Stump (CS) (Siagian dkk, 2009).
Menurut Siagian dkk, (2009) CS adalah stum tinggi yang akarnya tetap terbungkus polibeg. Panjang akar tunggang 60 cm, polibeg utuh, mata tunas mulai membengkak dan warna batang coklat. Bahan tanam CS sesuai untuk bahan penyisipan pada umur TBM 1 s.d 2,5 tahun. Penanaman CS yaitu lobang tanam digali ± 70 cm menggunakan Hole digger, tanam CS ke dalam lobang, dan pemadatan tanah tanpa merusak kolom tanah polibeg Perbanyakan CS terdiri dari 2 tahap yaitu :
1. Pembibitan polibeg untuk menghasilkan bahan tanam berstadia satu payung daun, dan
2. Pembibitan CS bahan tanam polibeg berstadia satu payung daun yang akan digunakan sebagai bahan tanam pada pembitan CS.
3. Penunasan / pembuangan tunas palsu
Salah satu kultur teknis yang dilakukan pada tahun pertama dari sejak penanaman di lapangan adalah penunasan. Penunasan merupakan tindak kultur teknis dengan membuang segala tunas yang tidak diinginkan seperti tunas yang tumbuh dari batang bawah dan tunas yang tumbuh dari batang setinggi 2,8-3,0 m dari pertautan okulasi (Siagian, 2011).
Hingga ketinggian 2,8-3,0 m dari pertautan okulasi tanaman karet harus bebas cabang agar diperoleh bidang sadap yang mulus. Penunasan dilakukan menggunakan pisau tajam, mepet (sedekat mungkin) dengan batang dan dilakukan sedini mungki pada saat jaringan belum mengkayu. Pada saat penunasan, batang jangan dibengkokkan. Rotasi penunasan dilakukan 12 kali pertahun dengan prestasi 2 ha/HK (Siagian, 2011).
4. Induksi Cabang
Induksi percabangan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk membentuk percabangan, mempercepat pertumbuhan lilit batang, dan mengurangi kepekaan pohon terhadap angin (Sembiring, 2012). Beberapa jenis klon lambat membentuk percabangan yang disebabkan oleh sifat dominasi apikal sangat kuat. Dominasi apikal mendorong pertumbuhan tunas terminal tapi menghambat pertumbuhan tunas lateral sehingga menyebabkan tanaman tinggi/kurus. Untuk tanaman seperti itu diperlukan induksi percabangan (Siagian dkk, 2009).
Menurut Siagian, dkk (2009) syarat teknik industri cabang yang ideal : a) Dapat menambah lilit batang
b) Dapat dilakukan sedini mungkin pada tanaman muda dan relatif tidak menimbulkan stres bagi tanaman.
c) Tidak menghambat pertumbuhan tunas apikal sehingga tetap ada batang utama yang lebih dominan sebagai leader.
d) Mudah dilaksanakan dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, dan
e) Membentuk cabang normal dalam jumlah banyak (minimal 3 samai 4 cabang)
Teknik induksi percabangan cara clipping yaitu induksi cabang dengan clipping dilakukan dengan cara memotong tangkai daun pada payung daun teratas dan disisakan 3-4 tangkai daun yang paling ujung, pada saat clipping digunakan tangan pendek dan pohon jangan dibengkokkan, clipping dilakukan pada saat payung daun teratas masih berwarna kuning kemerahan sampai dengan hijau muda yang dimulai pada ketinggian 2,8 m dari pertautan okulasi, keberhasilan clipping membentuk percabangan dapat menapai 75-80% bila dilakukan pada saat musim hujan (Siagian dkk, 2009).
Jika pohon belum berhasil membentuk percabangan, clipping dapat diulang kambali pada payung daun berikutnya, prestasi kerja clipping adalah 2 ha/HK, rotasi 2 minggu sekali, dan pada cara clipping, tetap ada batang utama yang lebih dominan sebagai leader (Siagian dkk, 2009).
Menurut Siagian, dkk (2009) teknik induksi percabangan cara penyanggulan/folding yaitu daun dewasa pada payung teratas secara berkelompok (6 sampai 8 helai daun) dilipat ke arah ujung menyerupai sanggul, dengan demikian titik tumbuh terminal tidak mendapat sinar matahari. Lipatan daun diikat dengan karet dan setelah 4 minggu ikatan karet dibuka, dua sampai tiga minggu setelah penyanggulan, tanaman sudah mulai membentuk cabang, pada cara ini sering kali pucuk terminalnya mati, sehingga batang leader menjadi tidak dominan, prestasi kerja sanggul adalah 1 ha/HK, dan keberhasilan cara sanggul lebih tinggi dibandingkan dengan cara clipping. Penyanggulan dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 1. Induksi cabang dengan teknik penyanggulan
Menurut Siagian, dkk (2009) teknik induksi percabangan cara pemenggalan batang jika cara clipping dan penyanggulan tidak berhasil, maka pilihan akhir adalah pemenggalan batang, pemenggalan batang atau topping dilakukan pada ketinggian 2,8-3 m, sedikit ± 5 cm di atas
kumpulan mata pada bagian batang yang berwarna coklat, topping sebaiknya dilakukan pada saat musim hujan, menggunakan gergaji serong yang tajam dan tangga berkaki tiga.
Prestasi kerja pemenggalan batang adalah 2 ha/HK. Setelah topping, luka dioles dengan TB 192, setelah cabang terbentuk, dilakukan penunasan ringan terhadap cabang, sehingga tajuk menjadi seimbang. Prestasi kerja mengatur keseimbangan tajuk adalah 2 ha/HK, dan kelemahan topping adalah jika dilakukan pada jaringan yang masih muda, batang menjadi condong, sehingga peka terhadap serangan angin. Pemenggalan batang dapat dilihat pada gambar berikut
(Siagian dkk, 2009).
Gambar 2. Induksi cabang dengan teknik pemenggalan batang
5. Pemangkasan tajuk / topping
Pemangkasan tajuk merupakan kegiatan pemangkasan tajuk dan cabang yang terlalu berat (Sembiring, 2012). Tujuannya yaitu untuk mengurangi kepekaan pohon terhadap serangan angin, sehingga populasi tanaman per hektar tetap optimal (Siagian dkk, 2009).
Pada beberapa sentra perkebunan karet terutama di Sumatera Utara, menurunnya populasi akibat angin cukup signifikan sehingga produksi tidak optimal. Kerusakan tanaman karena angin dapat dilihat dari kondisi tanaman atau kondisi angin. Ditinjau dari segi tanaman, kerusakan yang ditimbulkan angin dapat terjadi karena beberapa hal seperti pohon terlalu tinggi, pohon tidak lentur, jarak tanam dan tajuk terlalu rapat serta arah baris menimbulkan kontak yang besar dengan arah angin (Siagian, 2011).
Teknik pelaksanaannya yaitu pada umur 3-3,5 tahun dengan lilit batang ≥ 35 cm, dilakukan pemangkasan pertama pada ketinggian 6-8 m dari permukaan tanah tergantung pada kondisi tanaman. Pelaksanannya secara manual, meenggunakan tenaga dan gergaji. Norma kerja ± 80 pohon/HK termasuk untuk membersihkan areal. Cabang–cabang yang terlalu berat dipangkas juga, dan pemangkasan kedua dilakukan 2 tahun setelah sadap, pada ketinggian 1 m di atas pengkasan pertama (Siagian dkk, 2009).
6. Pengendalian Gulma
Tujuan dari pengendalian gulma pada TBM karet yaitu menekan gangguan dan kerugian yang ditimbulkan oleh gulma hingga sekacil mungkin, agar pertumbuhan dan produksi tanaman karet optimal serta kegiatan pemeliharaan lainnya tidak tergaggu (Siagian dkk, 2009).
Prinsip pengendalian gulma adalah menekan populasi gulma dan mempertahankannya pada tingkat yang tidak merugikan, atau mengendalikan jenis yang tumbuh dari jenis-jenis yang tidak menimbulkan kerugian yang berarti. Pemberantasan gulma dapat mengakibatkan gundulnya permukaan tanah sehingga mendorong terjadinya erosi. Penggunaan herbisida yang tidak terkendali dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan (Siagian dkk, 2009).
Pengertian tingkat yang tidak merugikan dipandang dari dua sudut, yaitu : ambang biologis dan ambang ekonomis. Ambang biologis adalah tingkat maksimum pertumbuhan gulma tertentu yang masih dapat diterima karena belum menimbulkan efek persaingan yang merugikan pertumbuhan dan produksi tanaman. Ambang ekonomis adalah tingkat maksimum pertumbuhan gulma tertentu yang masih dapat diterima karena belum menimbulkan kerugian secara ekonomi (Siagian dkk, 2009).
Tingkat kerugian yang ditimbulkan pada gulma tergantung pada pertumbuhan gulma (periode tumbuh, penutupan, kerapatan dan tinggi), priode pertumbuhan karet, dan topografi.
Pengendalian gulma di perkebunan karet menggunakan tiga teknik yaitu secara manual (mekanis), kultur teknis, dan khemis. Terdapat dua metode yang dapat dilakukan untuk aplikasi pengendalian, yaitu metode piringan (circle weeding) dan metode baris (strip weeding). Metode piringan merupakan pembersihan gulma yang berada disekitar batang sehingga membentuk lingkaran (circle). Metode baris merupakan pembersihan gulma pada barisan tanaman dengan jarak sekitar 1 meter dari batang (Sembiring, 2012).
Pengendallian gulma dilakukan dengan penyiangan pada gawangan dengan rotasi 3 minggu sekali (tergantung kecepatan pertumbuhan gulma). Pengendalian cara ini memerlukan ketelitian dalam pelaksanaan untuk menghindari kerusakan perakaran tanaman karet. Tenaga kerja dan waktu yang dibutuhkan juga lebih banyak. Alternatif lain pada teknik manual ini adalah pembabatan (Sembiring, 2012).
Pengendalian kultur teknis yang biasa di terapkan di perkebunan salah satunya yaitu penanaman legume cover crops (LCC), seperti Mucuna bracteata . Tujuan penanaman LCC adalah menekan pertumbuhan gulma, memperbaiki sifat fisik tanah, dan menghasilkan bahan organik yang cukup tinggi. Pengendalian gulma dengan mnggunakan LCC ini biasanya
dilakukan di perkebunan besar. Perkebunan rakyat belum sepenuhnya menggunakan teknik pengendalian tipe ini karena biaya yang dibutuhkan cukup tinggi dan pemeliharaan seperti penyiangan yang semakin intens karena adanya LCC (Sembiring, 2012).
Pengendalian secara khemis adalah penggunaan herbisida sesuai dengan dosis dan rotasi aplikasi. Pengendalian seperti ini lebih sering dilakukan karena waktu yang dibutuhkan untuk aplikasi ini lebih cepat, tenaga kerja lebih efisien, dan hasil lebih efektif. Namun kelemahannya adalah memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk memperoleh herbisida tersebut dan membutuhkan pengetahuan dalam aplikasi herbisida. Pada TBM, herbisida yang digunakan dalam pengendalian gulma adalah Round up dengan dosis 120 cc/15 liter air (Sembiring, 2012).
Pengendalian gulma pada areal TBM berpenutup tanah kacangan bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan LCC dan tanaman karet (Siagian dkk, 2009).
Teknis pelaksanaannya yaitu selama 3 bulan pertama setelah karet ditanam, penyiangan jalur dan gawangan dilakukan 2 minggu sekali dengan norma kerja 10-12 HK/ha/rotasi, semua tumbuhan selain tanaman karet dan kacangan (LCC) digaruk dengan radius jalur 1-1,25 m, pada saat menggaruk, sukur kacangan jangan mengganggu (jangan diangkat-angkat), terutama pada LCC jenis M. bracteata (Siagian dkk, 2009).
Selanjutnya, penyiangan dilakukan 3 minggu sekali selama 2 bulan dengan norma kerja 8-10 HK/ha/rotasi, selanjutnya, penyiangan dilakukan 4 minggu sekali dengan norma kerja 5 HK/Ha/rotasi, setelah tanaman berumur 2 tahun, penyiangan jalur dapat dilakukan secara khemis menggunakan Glyphosate (0,1%-0,3%) + 2,4 D Amine (0,5%-0,1%), penyemprotan dilakukan 2 bulan sekali dengan norma kerja 2 HK/ha/rotasi atau diselang seling khemis dan manual, pada tahun ke-4 jika ada anak kayu, maka dilakukan pendongkelan dengan rotasi 3-4 bulan sekali.
Norma kerja 1 HK/ha/rotasi, sulur kacangan yang merambat ke batang diturunkan dengan rotasi setiap 2 minggu (Siagian dkk, 2009).
Teknik pengndalian gulma pada areal TBM berpenutup tanah rumput alami yaitu, selama 3 bulan pertama setelah penanaman, penyianagan jalur dilakukan 3 minggu sekali dengan norma kerja 4-5 HK/Ha/rotasi. Lebar jalur 2 m, selanjutnya penyianagn jalur dilakukan 1 bulan sekali dengan norma kerja 4 Hh/Ha/rotasi (Siagian dkk, 2009).
Setelah tanaman berumur 2 tahun, penyiangan jalur dapat dilakukan secara khemis menggunakan Glyphosate (0,33%-0,5%) dengan dosis 330-500 ml/ha/rotasi, penyemprotan dilakukan 2 bulan sekali dengan norma kerja 2 HK/ha/rotasi, pengendalian gulma di gawangan dilakukan secara manual (dibabat) setiap 3 bulan sekali dengan norma kerja 2 HK/ha/rotasi, dan anak kayu di gawangan di dongkel dengan rotasi 3-4 bulan sekali. Norma kerja 1 HK/ha/rotasi (Siagian dkk, 2009).
Buru alang-alang (Imperata cylindcica) dilakukan pada areal yang penyiapan lahannya dilakukan secara manual, sering tumbuh alang-alang. Sejak dari awal tanama alang-alang harus sudah diberantas sampai habis, dan selanjutnya dikontrol dengan pekerjaan memburu alang. Jika alang tumbuh secara sporadic, maka harus dilakukan pekerjaan buru alang-alang. Memburu alang-alang dilakukan secara kimiawi menggunakan herbisida Glyphosate (1%) (Siagian dkk, 2009).
Herbisida diaplikasikan dengan alat penjepit dengan kedua ujungnya dibungkus dengan kain. Penjepit dicelupkan ke dalam larutan dan sedikit ditekan pada pinggir wadahnya, agar tidak terjadi penetesan. Kemudian kedua ujung penjepit dilapkan pada alang-alang dari pangkal sampai ke ujung, sampai daun basah. Dosis herbisida yang yang dibutuhkan per hektar areal tergantung dari populasi alang-alang. Jumlah bahan yang diperlukan 10-15 ml
Glyphosate/ha/rotasi. Rotasi buru lalang dilakukan sebulan sekali selama masih ada pertumbuhan, dengan norma kerja 0,3-0,5 HK/ha/rotasi (Siagian dkk, 2009).
7. Pengendalian Hama dan Penyakit
Kerugian secara ekonomis yang diakibatkan oleh penyakit pada tanaman karet sebenarnya telah lama dirasakan oleh para pekebun Indonesia akan tetapi perhatian untuk pengendalian penyakit tersebut masih kurang. Pengendalian penyakit tanaman karet dimasa mendatang nampaknya membutuhkan biaya yang besar serta pengetahuan yang memadai serta didukung oleh prasarana dan sarana, jejaring dan disiplin kerja dari semua pihak yang terlibat (Sujatno dkk, 2007).
Berdasarkan Direktorat Perlindungan Perkebunan 2003, jenis-jenis hama pada TBM karet yaitu :
a. Rayap, pengendalian hama rayap dilakukan dengan beberapa cara yaitu mencegah rayap memperoleh jalan masuk ke dalam tanaman inang, mengurangi jumlah rayap yang berada di lokasi tanama dan membuat tanaman itu sendiri memiliki ketahanan terhadap serangan rayap. b. Uret, pengendaliannya yaitu mengumpulkan uret di sekitar tanaman terserang dan dimatikan. c. Babi hutan, pengendaliannya yaitu dengan cara, sanitasi, fisik, biologi dan kimiawi.
Menurut Siagian, dkk (2009) jenis-jenis penyakit pada TBM karet yaitu : a. Jamur akar putih (Rigidoporus lignosus)
Gejala serangan JAP yaitu daun hijau kusam, menguning, tepi daun menggulung, lebih tebal, akar diliputi benang-benang jarum berwarna putih, jika yang terserang JAP akar tunggangnya, tanaman akan tumbang tanpa gejala daun menguning
1) Kultur teknis
Kegiatan ayap akar saat penyiapan lahan untuk mengumpulkan sisa-sisa akar dan ranting yang dapat mrnjadi sumber inokulum JAP. Penanaman penutup tanah (LCC) akan mempercepat pelapukan sisa-sisa akar yang tertinggal sehingga mengurangi serangan JAP dan meningkatkan mikroba antagonis terhadap JAP. Kegiatan seleksi untuk memastikan bibit yang terinfeksi JAP tidak ikut terbawa ke lapangan.
2) Pengendalian hayati dengan Triko SP plus
Menaburkan biofungisida Triko sp berbahan aktif jamur Tricoderma sp. yang dapat membunuh jamur R. lignosus. Tujuan untuk menciptkan suasana yang tidak kondusif bagi pertumbuhan JAP. Aplikasi pada waktu kondisi tanah lembab. Triko sp bersifat ramah lingkungan, tidak membahayakan kesehatan dan 20% lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan cara khemis.
3) Pengendalian JAP secara kimiawi
Ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu dengan penyiraman dan dengan pelumasan. Cara penyiraman efektif apabila tingkat serangan JAP masih pada stadium awal (stadium 1 dan 2), yaitu miselium JAP masih menempel dan belum menetrasi ke dalam jaringan kulit. Penyiraman sebaiknya juga dilakukan pada pohon di sebelahnya. Kelemahan cara penyiraman adalah bahan mudah tercuci oleh air hujan. Apabila JAP sudah menetrasi ke dalam jaringan kulit (stadium 2 dan 3), maka penyirman tersebut tidak efektif dan harus dilakukan pelumasan.
Cara pelumasan yaitu, pengobatan JAP dilakukan dengan cara menggali tanah disekitar pangkal pohon. Tanah digali sampai leher akar dan dilanjutkan bila akar lateral juga terserang. Penggalian tanah menelusuri perakaran yang terserang jamur sampai batas akar yang dtidak
terserang. Setelah tanah digali, akar kemudian dikerok dengan sebilah bambu tipis untuk menghilangkan jamur yang melekat. Jika terdapat perakaran yang terinfeksi berat dan menunjukan gejala pembusukan, maka dilakukan pemahatan.
Selanjutnya akar dibersihkan dengan kain lap. Kemudian akar diolesi dengan fungisida Anvil 50 SC atau Bayleton 250 E atau Calixin 750 EC yang telah dicampur dengan lateks. Pencampuran Anvil 50 SC dengan lateks dilakukan dengan takaran 130 cc Anvil 50 Sc ditambah 1000 cc laters denagn KKK 40% dann diaduk selama 90 menit. Dalam satu regu ayang terdiri dari 2 orang mampu menyelesaikan 4-6 pohon/ha.
b. Penyakit gugur daun
Penyakit gugur daun terdiri dari Corynespora cassicola, Colletotrichum gloeosporiodes dan Oidium hevea. Secara kultur teknis, penyakit gugur daun dapat dikendalikan dengan menurunkan kelembaban di dalam kebun dengan cara perbaikan drainase, pengelolaan gulma secara normatif, pemangkasan tajuk strata bawah yang tidak produktif sampai ketinggian 3-4 m dan pemupukan normatif.
c. Jamur upas (Corticium salmonicolor)
Pengendaliannya dapat dilakukan secara kultur teknis dan secara kimiawi. Secara kultur teknis, pengendalian gulma secara intensif/total, pemangkasan tajuk strata bawah hingga ketinggian 3-4 m, pembuatan parit agar tidak ada genangan air di dalam kebun dan pemupukan sesuai anjuran.
d. Fusarium
Pengendaliannya yaitu pada batang atau cabang yang terserang dikerok kulitnya kemudian diobati dengan pengolesan fungisida. Selanjutnya dilakukan penyemprotan insektisida untuk mencegah serangan kumbang penggerek batang, dapat juga dilakuakn penyiraman
fungisida pada daerah perakaran pada tanaman yang terserang. Serangan yang terdapat pada tanaman berumur < 1 tahun dapat dilakukan dengan cara pembuangan jaringan yang terserang. Pemotongan dilakukan 20-30 cm di bawah jaringan yang masih tampak sehat. Tanaman yang mati dikumpulkan dan dibakar untuk mencegah penularan penyakit ini pada tanaman lain yang sehat. Untuk pencegahan tanaman sehat disekitar tanaman sakit dapat diolesi cabang atau batangnya dengan fungisida.
8. Pemupukan
Pada dasarnya pemupukan bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah serta menjaga kelestariannya, menjaga keseimbangan hara tanah dan tanaman, meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan dan mempertahankan produksi, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit (Thomas dkk, 2010).
Secara umum tanaman karet yang kurang atau tidak mendapat pemupukan yang sempurna akan menunjukkan gejala tanaman kerdil, daun berwarna pucat dengan ukuran kecil, ukuran lilit batang lebih kecil dari ukuran standar, periode TBM lebih dari 6 tahun, produksi karet kering jauh di bawah angka taksiran, jika daunnya dianalisir dilaboratorium angka-angka N,P,K dan Mg berada di bawah angka optimum, dan jika tanahnya dianalisis dilaboratorium angka-angka N,P,K dan Mg berada pada taraf di bawah rendah sampai dengan sangat rendah (Thomas dkk, 2010).
Pada pemupukan ada 4 T yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu. Menurut Thomas, dkk (2010) dosis pupuk seharusnya diberikan dalam jumlah yang cukup. Dosis pupuk yang yang terlalu sedikit, hanya akan dimanfaatkan oleh jasad renik dalam tanah serta
gulma, sedangkan tanaman utama mungkin kurang bisa memanfaatkan. Sebaliknya dosis pupuk yang terlalu tinggi merupakan pemborosan.
Biaya pemupukan yang dikategorikan sebagai biaya produksi, cenderung semakin tinggi terutama karena harga pupuk yg semakin naik akibat dicabutnya subsidi pupuk, kenaikan upak, transport, dan biaya tidak langsung lainnya. Akan tetapi dipihak lain pemupukan mutlak dipperlukan karena berpengaruh langsung kepada pemeliharaan kesehatan tanaman dan kemantapan produksi. Oleh karena itu, dalam program pemupukan semakin dituntut usaha untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dengan nilai tambah dari kenaikan produksi yang dapat memberikan keuntungan yang layak (Istianto dan E. Purnomo, 2003).
Menurut Siagian, dkk (2009) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aplikasi pemupukan, yaitu lokasi letak tebar pupuk harus bebas dari gulma, dua minggu setelah pemupukan letak tabor pupuk harus dibersihkan/disemprot, Jika menggunakan pupuk tunggal, pencampuran pupuk harus benar-benar homogeny dan campuran pupuk segera digunakan dan tidak dianjurkan melebihi waktu 24 jam setelah dicampur ( untuk menjamin efektivitas pemupukan sebaiknya masing-masing pupuk tunggal tersedia dalam waktu yang bersamaan), keadaan tanah yang lembab pada saat aplikasi pupuk sangat diperlukan untuk menjamin daya larut pupuk (sebaiknya pemupukan dilakukan setelah hujan turun dengan curah hujan ≥ 60 mm/bulan).
Pada pengujian pupuk majemuk pukalet pada tanaman TBM dan TM karet, telah dilakukan pengambilan contoh tanah untuk tujuan analisis kesuburan tanah pada areal yang akan dijadikan lokasi percobaan dan perlakuan pemupukan (Istianto, 2006).
Hasil percobaan pemupukan pukalet terhadap perkembangan lilit batang di areal TBM pada beberapa kebun di Sematera Utara selama 12 bulan menunjukkan bahwa, pukalet dengan
formulasi 18-10-14-2+TE dapat menyamai pertumbuhan lilit batang TBM karet yang dipupuk dengan pupuk tunggal. Pukalet bahkan menunjukkan trend yang lebih baik (Nugroho dan Istianto, 2010).
III. METODOLOGI
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Afdeling V Kisaran Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III. Waktu penelitian bulan April-Mei 2013.
B. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan dengan metode deskriftif, dengan mengumpulkan data sekunder pada objek penelitian dengan keadaan dan kejadian sekarang.
C. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah :
1. Informasi umum meliputi profil kebun, luas areal tanaman, tahun tanam kerapatan SPH dan jarak tanam.
2. Jenis pemeliharaan pada TBM. 3. Ketentuan norma, bahan dan tenaga.