• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN : KEDISIPLINAN DALAM IBADAH PUASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KAJIAN : KEDISIPLINAN DALAM IBADAH PUASA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 Mulyadi Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Email : [email protected] ABSTRAK

Puasa pada bulan Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat. Puasa merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap muslim (fardhu ‘ain) yang telah mencapai umur baligh. Bagi kaum muslimin, puasa ini diperintahkan pada tahun kedua hijriah tepatnya pada tanggal 24 sya’ban.

Ibadah puasa bukanlah ibadah yang baru bagi umat manusia, ibadah puasa telah disyari’atkan sejak manusia pertama diciptakan (Nabi Adam AS.).

Secara berantai, ibadah puasa ini diwajibkan atas umat-umat sepeninggal Nabi Adam AS, seperti umat Nabi Musa AS, Nabi Isa AS. hingga umat yang terakhir yaitu umat Nabi Muhammad SAW.

Kata puasa berasal dari Bahasa Sansekerta upawasa, menurut Bahasa Arab dan Al-Qur’an, puasa disebut shiam atau shaum yang berarti menahan diri dari sesuatu atau mengendalikan diri.

PENDAHULUAN

Ibadah puasa merupakan rukun Islam keempat. Tidak terasa kita sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Ibadah puasa yang kita lakukakan tahun ini, tentulah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada saat ini kita sedang dihadapi adanya pandemi covid 19. Covid 19 ini bukan hanya melanda di suatu negara saja tetapi Indonesia pun mengalaminya, bahkan 196 negara di dunia ikut mengalaminya juga seperti negara kita.

Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang mulia adalah memupuk tekad yang kuat untuk mempergunakan dengan sebaik-baiknya hari-hari dan malamnya serta menghidupkannya dengan amalan-amalan shaleh. Allah SWT. sangat menekankan nilai waktu dan bahkan sering bersumpah dengannya, karena begitu mulia dan tingginya kedudukan waktu tersebut.

Diantaranya Allah SWT. berfirman dalam : QS. Al-„Ashr ayat 1 : “Dewi waktu „Ashar”. QS. Al-Fajr ayat 1 : “Demi waktu fajar”.

(2)

Dalam ayat-ayat tersebut dan ayat lainnya, Allah SWT. bersumpah dengan semua jenis waktu dikarenakan kemuliaan dan kedudukannya yang begitu tinggi.

Di samping itu, waktu tiada lain adalah umur kita yang kita hidup berdampingan dengannya di muka bumi ini. Hasan Al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam, engkau tiada lain adalah kumpulan hari-hari. Setiap satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dari dirimu”.

Ibnu al-Jauzi berkata, “Seorang harus menyadari begitu berharganya waktu dan mulianya zaman ini, hingga sesaatpun ia tidak boleh menyia-nyiakannya tanpa ibadah. Maka hendaknya diprioritaskan amalan yang paling utama dari jenis perkataan dan perbuatan serta hendaknya selalu dibarengi dengan niat yang baik tanpa merasa lelah yang menyebabkannya tidak mampu untuk beramal”.

Seorang yang sholeh berkata, “Umur itu pendek, maka janganlah kamu memperpendeknya dengan kelalaian”.

Seorang Salaf berkata, “Sesungguhnya malam dan siang bekerja demi dirimu, maka bekerjalah engkau untuk mengisi keduanya.”

“Sesungguhnya malam dan siang adalah jembatan untuk menuju kebahagiaan abadi (surga) atau kesengsaraan yang abadi (neraka).”

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 184 tentang sifat bulan Ramadhan yang artinya : “... hari-hari yang terhitung ....”. Maksudnya hari-hari Ramadhan tersebut adalah hari-hari yang cepat berlalu dan mudah terlewati, seolah-olah belum pernah terjadi, karena cepatnya pergantian.

Oleh karena itu, agar bulan Ramadhan kita semua tidak berlalu dengan “percuma” dan penuh “kesia-siaan”.

Berupayalah untuk melipatgandakan amal kebaikan dan ketaatan yang mubah (dibolehkan) bagi kita di waktu datang haid ketika tidak ada shalat dan puasa. Maka gantilah semua itu dengan beragam ibadah seperti berdzikir dan beristighfar kepada Allah SWT., bershalawat kepada Nabi SAW., berdoa, bersedekah, mendengarkan Al-Qur‟an, membaca buku yang bermanfaat, memberi hidangan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa dan amal-amal kebaikan lainnya.

Ketika kita terhalang untuk melaksanakan shalat dan puasa di waktu haid dan kita diniatkan itu semata-mata dalam rangka mentaati Allah SWT. dan rela terhadap apa yang telah ditentukan-Nya, maka kita dalam keadaan diberi pahala. Hendaknya lisan kita selalu basah karena berdzikir kepada Allah SWT. karena yang demikian itu adalah hiasan mulut dan makanan hati serta penenang jiwa. Dan dzikirpun merupakan perniagaan besar yang sangat menguntungkan. Kita semua memohon kepada Allah SWT. agar Dia memberkahi kita semua

(3)

dalam bulan Ramadhan ini dan menjadikan kita orang yang dirahmati dengan amalan puasa, shalat kita serta berbagai amal shaleh lainnya. Raihlah kesempatan yang baik ini sebelum terlewatkan dan bergegaslah kepada amalan-amalan kebaikan.

Nabi Muhammad SAW. selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadhan. Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu memberi kabar gembira kepada sahabatnya dengan bersabda, : “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah SAW. mewajibkan puasa atas kalian didalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka Jahim di tutup, setan-setan dibelenggu dan didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan mendapatkan kebaikan malam itu, maka ia telah diharamkan”. (HR. Ahmad, dishahihkan al-Ar-na‟uth). Sebagian ulama berkata, hadits ini menjadi landasan hukum atas perintah mengucapkan selamat datang terhadap bulan Ramadhan. Bagaimana mungkin seorang muslim tidak bergembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana seorang pendosa tidak bergembira dengan ditutupnya pintu-pintu-pintu-pintu neraka? Bagaiman seorang yang berakal tidak bergembira dengan dibelenggunya setan-setan? Waktu seperti apakah yang menyamai bulan Ramadhan?

Kedatangan bulan Ramadhan dan berpuasa didalamnya adalah nikmat Allah SWT. yang agung bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Hal ini ditegaskan oleh sebuah hadits Rasulullah SAW. dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan, “Ada dua orang laki-laki dari negeri Qudha‟ah yang masuk Islam di hadapan Nabi SAW. Laki-laki yang pertama gugur sebagai mati syahid dalam peperangan bersama Rasulullah SAW., sedangkan yang kedua wafat setahun sesudahnya. Thalhah bin „Ubaidillah (salah seorang sahabat yang utama) berkata, “Aku bermimpi melihat surga, lalu aku melihat orang yang mati syahid itu didahului oleh temannya ketika masuk surga, aku heran karenanya. Keesokan harinya aku sampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW. Beliau berkata, “Apakah yang kalian herani dari mimpi tersebut? Bukankah ia sempat berpuasa Ramadhan setelah kematian temannya, ia pun telah shalat enam ribu rakaat atau sekian-sekian rakaat shalat sunnah?”. Para sahabat menjawab, “Ya, benar”. Maka Rasulullah SAW. berkata, “Sesungguhnya perbedaan tingkatan antara keduanya lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi”. (HR. Ahmad, dishahihkan al-Albani).

Allah SWT. telah mengistimewakan bulan Ramadhan secara spesifik dengan menurunkan kitab suci Al-Qur‟an yang teragung untuk umat termulia. Dengan keistimewaan ini, Allah SWT. mengkhususkan bulan Ramadhan dengan firman-Nya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur‟an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan

(4)

pembeda (antara yang hak dan yang batil)....”. (QS. Al-Baqarah ayat 185). Itulah Al-Qur‟an yang agung, dengannya Allah SWT. mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, turun pada bulan yang agung ini. Maka, adakah keutamaan yang melebihi keutamaan ini?

Dalam bulan Ramadhan, terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ini adalah keberkahan, rahmat dan pemuliaan Allah SWT. kepada umat manusia. Kita adalah umat yang dirahmati. Usia umat manusia ini berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun (sedikit sekali yang melampauibatas ini), Allah SWT. pun mengaruniakan keberkahan pada amal mereka, kebaikan di balas dengan sepuluh kali lipatnya; membaca satu huruf Al-Qur‟an diganjar dengan sepuluh kebaikan; satu malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu bulan. Tidak ada orang yang terhalang mendapatkan kebaikan malam tersebut kecuali orang yang aniaya dan terpedaya. Qiyamullail (shalat malam) pada malam itu menghapus dosa yang telah lalu. Sungguh nikmat tiada terkira atas kaum mukminin seluruhnya.

Puasa Ramadhan merupakan puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan yang jumlah harinya antara 29 dan 30 hari. Menurut ajaran Islam dalam puasa di bulan Ramadhan dapat kita menghapus kesalahan atau terampuni dosa-dosa yang telah diperbuat selama ini. Namun harus dengan kekuatan iman dan mengharapkan pahala serta ridha dari Allah SWT. Menurut ajaran Islam puasa pada bulan Ramadhan merupakan puasa yang wajib dilaksanakan selama 1 bulan penuh. Sehingga jika dengan sengaja tidak melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, maka seseorang tersebut akan berdosa. Selain itu, puasa juga termasuk ibadah dengan keutamaan yang istimewa. Dalam salah satu hadits qudsi diterangkan, bahwa setiap amal kebaikan manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat, kecuali amal puasa. Allah SWT. berfirman : "Puasa tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku". (HR. Muslim).

Pada bulan Ramadhan ini, setiap kaum muslimin yang telah memenuhi syarat-syaratnya wajib menjalankan ibadah puasa. Dalam hal ini Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur‟an Surat Al-Baqarah ayat 183 artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Banyak orang yang bergembira karena usianya bertambah. Akan tetapi sedikit sekali orang yang ingin mawas diri, bahwa di samping ada yang bertambah, ada pula yang berkurang, yaitu jatah kesempatan untuk beramal dan berbuat kebaikan. Bulan Ramadhan

(5)

yang kita jalani ini, telah memberikan kesempatan baik bagi kita semua sebagai kaum muslimin dan muslimat untuk memperbaiki sikap, perilaku, kedudukan, keadaan dan posisi hidupnya. Rasulullah SAW. dalam hal ini menyatakan bahwa bulan Ramadhan ini penuh dengan berkah, rahmat, ampunan (maghfirah) dan kebebasan dari api neraka (itqun minan nar).

Ada beberapa nilai kedisiplinan yang sangat positif dari melaksanakan ibadah puasa, yaitu :

1. Memantapkan disiplin jasmani.

Seseorang yang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan untuk menahan diri dari makan dan minum pada waktu pagi atau siang hari selama satu bulan berturut-turut. Tindakan tersebut jelas memberikan kesempatan kepada pencernakan makanan untuk beristirahat. Alat-alat pencernakan dalam tubuh manusia memerlukan istirahat dan pembersihan, menghilangkan cairan-cairan kotor, sehingga saluran-salurannya lebih lancar dan bersih. Dengan bertambah segar dan sehat jasmanilah, akan membawa efek yang sangat baik dan langsung pada kesegaran otak dan kejernihan berfikir yang menjadi kunci utama untuk membuka pintu-pintu sukses, keberhasilan dan kebahagiaan. Dan tentunya seseorang yang menjalankan ibadah puasa akan sehat. Tidak ada istilah seseorang yang melaksanakan ibadah puasa meninggal, melainkan yang meninggal itu karena kelaparan bukan karena sedang berpuasa.

2. Meningkatkan disiplin rohani.

Puasa merupakan pusat latihan untuk meningkatkan kehidupan spiritual dan usaha berbakti dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika sudah terbentang jalur-jalur yang langsung antara makhluk yang diciptakan dangan Sang Kholik yang menciptakan, maka dengan sendirinya akan sampailah manusia kepada tingkat insan muttaqin, satu derajat yang paling tinggi yang menjadi tujuan pokok ibadah puasa. Seperti ditegaskan dalam Al-qur‟an : La‟allakum tattaqun (agar kamu menjadi orang yang bertaqwa).

3. Membentuk disiplin moral.

Seorang yang sedang berpuasa, berarti mengendalikan dan menguasai dirinya sendiri untuk tidak makan, minum dan tidak berhubungan atau bersenggama dengan isterinya di pagi atau di siang hari. Hal tersebut dilaksanakannya dengan kesadaran diri sendiri. Bukan karena dipaksa oleh orang lain, bukan pula karena ada petugas keamanan yang selalu mengawasinya.

Pada hakekatnya, kalau seseorang ingin makan atau minum, dapat saja ia lakukan secara tersembunyi di tempat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Akan tetapi ia sadar bahwa ada Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Yang dapat melihat gerak-geriknya.

(6)

Kemampuan mengendalikan diri tersebut adalah merupakan disiplin moral yang bernilai tinggi. Hal inilah yang perlu kita miliki sebagai seorang muslim tentunya.

4. Meningkatkan disiplin sosial.

Salah satu pengalaman yang amat penting bagi seorang yang melakukan ibadah puasa adalah pengenalan dan penghayatannya yang mendalam tentang hakekat lapar. Karena satu bulan ia tidak makan dan minum di pagi atau di siang hari. Dengan sendirinya di dalam jiwanya tumbuhlah perasaan santun dan belas kasih terhadap orang-orang yang biasa menderita lapar, yaitu golongan “foqoro wal masakin”. Dan secara otomatis, dia akan terpanggil untuk mengulurkan tangannya membantu mereka. Dengan berpuasa, orang merasakan betapa pedihnya lapar dan haus, sebagaimana hampir setiap hari orang-orang fakir miskin merasakan lapar dan haus, sehingga timbul rasa santun kepada orang-orang yang berkekurangan. (Zakiah Darajat, 1984:64).

Bertitik tolak dari nilai kedisplinan, yang terakhir adalah sungguh amat bijak sekali, manakala Rasulullah SAW. mewajibkan kepada seluruh umatnya yang mampu untuk mengeluarkan zakat fitrah, seiring dengan kewajiban puasa ramadhan. Zakat fitrah merupakan kewajiban tahunan yang memiliki atau mempunyai fungsi ganda. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, yang artinya : “Rasulullah SAW. telah mewajibkan zakat fitrah, sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Apakah ada hubungan pahala puasa dengan zakat fitrah? Untuk ini Rasulullah SAW. telah menyatakan dengan tegas : “Puasa Ramadhan akan selalu bergantungan antara langit dan bumi. Dan tidak akan dilangsungkan pahalanya kepada Allah SWT. kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah”. (HR. Abu Khafsh).

Untuk itulah kita harus memperhatikan sebaik-baiknya kewajiban zakat fitrah ini. Jangan sampai kita lupakan, sebab orang yang tidak mau mengeluarkan zakat fitrah berarti dia pelit atau bakhil terhadap dirinya sendiri. Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur‟an Surat Ali Imran ayat 180 :

Artinya : “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

(7)

Sungguh tidak patut, jika kita merasa tidak mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang kita miliki. Karena masih jauh lebih banyak yang kita nikmati setiap hari selama satu tahun.

Hasan al-Bashri, berkata : ”Jika engkau mendapati bulan Ramadhan, maka janganlah engkau bisikkan dalam jiwamu bahwa engkau masih akan mendapatinya pada tahun yang akan datang”. Semoga Allah SWT. memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita untuk dapat memakmurkan waktu-waktu yang mulia di bulan Ramadhan dengan berbagai amal ibadah yang diridhoi-Nya dan semoga Allah SWT. menerima amal ibadah shaleh kita.

KESIMPULAN

Taqwa adalah tujuan utama puasa. Waktunya selama bulan Ramadhan, yakni bulan diturunkannya Al-Qur‟an, menurut perhitungan tahun hijriah, bulan Ramadhan merupakan bulan yang kesembilan. Taqwa adalah sikap mental seseorang yang selalu ingat dan waspada terhadap sesuatu dalam rangka memelihara dirinya dari noda dan dosa, selalu berusaha melakukan perbuata-perbuatan baik dan benar.

Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum, hubungan seksual, mengucapkan perkataan dan melakukan perbuatan yang tidak baik sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, dilakukan menurut cara dan syarat tertentu sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Puasa membuat kita sabar, tidak mudah emosi. Wajah orang yang berpuasa kelihatan tenang dan sabar, kondisi ini akan membuat orang lain yang memandang kita menjadi sabar juga, karena di otak manusia ada mirror neuron (syaraf seperti kaca reflektor), kalau lihat orang lain senang kita ikut senang, lihat orang lain marah kita ikut marah.

Bulan Ramadhan adalah bulan suci, bulan yang membawa berkah dan pengampunan. Bila selama bulan tersebut dilakukan kegiatan-kegiatan yang diperintahkan Allah SWT., maka Allah SWT. akan mengampuni dosa-dosa yang dilakukan pada bulan-bulan yang lalu di tahun ini.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 2014. Al-Qur’an Terjemah & Tajwid. Bandung : Sygma. A. Qohar Masjkoery dkk. 2003. Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Gunadarma. Dosen Pendidikan Agama Islam. 2020. Oase Ramadhan. Yogyakarta : Omahi Ilmu. Lajnah Ilmiah HASMI. 2010. Kemuliaan Ramadhan. Bogor : LBKI.

Referensi

Dokumen terkait

Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, dapat

Fraktur patologis sering ditemukan pada multiple myeloma seperti Fraktur kompresi vertebra dan juga fraktur tulang panjang (contoh femur proksimal) Gejala- gejala yang dapat

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakaukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak tanaman pacar kuku (Lawsonia inermis l.)

Ambejoss: Dosis, Khasiat dan Herbal Alami - Penyakit Ambeien atau biasa disebut juga dengan penyakit wasir (dalam bahasa Inggris penyakit ambeien disebut Hemorrhoid

K-Means merupakan metode data clustering yang digolongkan sebagai metode pengklasifikasian yang bersifat unsupervised (tanpa arahan). Pengkategorian metode-metode

Pada umumnya bertindak tegas dan tidak memihak, memberikan teladan yang baik, kemampuan mengerakkan tim kerja untuk men-capai kinerja yang tinggi, mampu menggugah semangat

c) Guru berkeliling mencermati siswa bekerja, mencermati dan menemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya hal-hal

Wakil Bupati Kayong Utara dan Polres Kayong Utara yang diwakili Oleh Kabag Ops Polres Kayong Utara mengizinkan pemanfaatan / pengolahan limbah kayu yang terdapat di areal