BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya. Belajar matematika pada hakekatnya adalah belajar konsep, struktur konsep dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya (Wahyudi, 2012:5). Konsep matematika yang bersifat abstrak inilah yang menyebabkan siswa beranggapan bahwa pelajaran matematika sulit sehingga kemampuan pemahaman konsep siswa kurang terarah. Menurut Wardani (Wibowo, 2015:1) tujuan matematika pendidikan dasar dan menengah antara lain adalah memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep serta mengaplikasikan konsep dengan tepat dan dapat berpikir kritis dalam pemecahan masalah.
Pembelajaran yang bepusat pada guru (teacher center) merupakan paradigma yang telah usang. Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran menjadi berpusat kepada siswa (student center) diharapkan agar siswa dapat terlibat aktif dalam membangun pengetahuan, sikap, dan tingkah laku (Amir, 2015:3). Proses pembelajaran matematika yang terjadi selama ini disekolah-sekolah pada umumnya hanya bersifat satu arah, dimana guru hanya menerangkan materi, guru menyuruh siswa mencatat materi, bertanya tentang materi yang belum jelas, dan memberikan soal latihan. Pembelajaran yang berpusat pada guru membuat siswa bosan dan kurang bersemangat dalam belajar. Hal inilah yang menyebabkan hasil belajar matematika siswa rendah.
Menurut survei Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) 20011 lebih memprihatinkan lagi, karena rata-rata skor siswa dalam prestasi matematika kelas VIII menurun menjadi 386, dibanding tahun 2007 yaitu 397. Sebelumnya pada tahun 2003 Indonesia memperoleh rata-rata skor 411. Dalam TIMSS Indonesia 2011 berada pada peringkat 38 dari 42 negara. Programme for International Student Assessmen (PISA) tahun 2009 dalam
prestasi literasi matematika Indonesia hanya menduduki peringkat 61 dari 65 peserta dengan rata-rata skor 371, sementara rata-rata skor internasional adalah 500. (Kemendikbud.go.id, 2015). Rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII sangat dipengaruhi oleh pendidikan dasar yang selalu menuntut siswa harus mencapai nilai tinggi tanpa harus mengetahui kemampuan siswa yang kurang memahami materi dengan baik dan siswa kurang memahami konsep-konsep dasar dalam matematika.
Pemahaman konsep sangatlah penting pada proses pembelajaran matematika, karena pemahaman konsep merupakan kemampuan mendasar yang harus dimiliki siswa dan harus benar-benar dikuasai siswa karena konsep itulah yang nantinya akan terus menerus dipakai dalam atau ke jenjang yang lebih tinggi. Jika konsep belum dikuasai, bagaimana siswa akan lebih mudah mempelajari materi yang lebih dalam dijenjang sekolah yang lebih tinggi. Dengan demikian, seharusnya pemahaman konsep merupakan strategi belajar yang harus diterapkan di Sekolah Dasar. Ketrampilan dalam memahami konsep harus dimiliki siswa karena dengan penguasaan konsep akan memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Ketrampilan tersebut akan dimiliki siswa apabila dalam setiap pembelajaran lebih ditekankan dalam pemahaman konsep agar siswa memiliki bekal yang mendasar untuk mencapai kemampuan dasar lain seperti penalaran dan pemecahan masalah.
Salah satu tujuan dari pembelajaran matematika didalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 20 tahun 2006 tentang standar isi yaitu siswa mampu memahami konsep atau logaritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. Dengan pemahaman siswa dapat mengerti suatu konsep dari materi yang diajarkan. Pada dasarnya, seorang guru matematika SD harus menguasai konsep-konsep matematika dengan benar dan mampu menyajikan secara menarik karena menurut teori perkembangan piaget, perkembangan kognitif siswa SD berada pada tingkat operasional formal, yakni siswa mampu memahami suatu konsep jika mereka memanipulasi benda-benda konkret (Wahyudi, 2012: 21). Dalam hal anak pada usia ini anak mulai berpikir secara logis tentang
kejadian-kejadian yang nyata (konkret). Oleh karena itu, pembelajaran matematika dikelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep materi dengan pengalaman anak sehari-hari. Aktivitas keseharian anak dapat dijadikan menunjang konsep materi yang disampaikan saat pembelajaran berlangsung.
Kemampuan siswa yang rendah dalam menyelesaikan soal matematika yang berkaitan dengan pemahaman konsep tentunya menjadi masalah dalam pembelajaran. (sumber : eprints.ums.ac.id) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman konsep belajar siswa dapt berasal dari diri siswa tersebut atau dari luar diri siswa. Faktor dalam diri siswa misalnya kecerdasan, motivasi siswa, cara belajar dan minat yang kurang dari diri siswa itu sendiri. Sedangkan faktor dari luar bisa berasal dari sarana dan prasarana, media yang digunakan dan cara penyampaian guru dalam kegiatan pembelajaran.
Salah satu faktor dari luar yang mempengaruhi rendahnya pemahaman konsep adalah model pembelajaran yang digunakan guru. Guru yang berkompeten dan profesional diharapkan mampu dan tepat menggunakan model pembelajaran yang efektif dan efisien dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan variasi model pembelajaran akan membuat suasana kelas lebih hidup dan tidak membosankan, siswa tidak merasa jenuh dan dapat membuat siswa tidak semangat. Akan tetapi pada kenyataannya guru hanya menggunakan pembelajaran konvensional, dimana guru yang menjadi sumber utama atau lebih sering menjelaskan dalam pembelajaran. Guru tidak memberi kesempatan siswa untuk menggali pengetahuannya sendiri dan guru juga tidak memberikan kesempatan siswa untuk memecahkan masalah yang siswa hadapi. Siswa hanya menerima apa yang diberikan atau disampaikan oleh guru tanpa memahami konsep yang termuat dalam setiap pembelajaran.
Seperti halnya di SD Negeri Tlahab dan SD Negeri Bejen, setelah dilakukan penelitian kedua SD tersebut masih menggunakan metode ceramah. Metode ceramah digunakan sebagai pengantar dalam pembelajaran, dan kemudian siswa dibentuk kelompok kecil. Akan tetapi masih banyak siswa yang kurang memahami konsep, hal ini terlihat dari: 1) siswa kurang mampu dalam memberikan tanggapan balik ke guru, 2) siswa kurang percaya diri
terhadap kemampuannya sendiri, 3) siswa kurang mampu mengaplikasikan konsep ke dalam pemecahan masalah, dan 4) siswa belum mampu dalam membuat kesimpulan.
Menurut Arends (dalam Trianto 2014: 62): “It is strange that we expect students to learn yet seldom teach then about learning, we expect student solve problems yet seldom teach then about problem solving,” yang berarti dalam mengajar guru selalu menuntut siswa untuk belajar dan jarang memberikan pelajaran tentang bagaimana siswa untuk belajar, guru juga menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, tetapi jarang mengajarkan bagaimana siswa seharusnya menyelesaikan masalah.
Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus pandai dalam mencoba dan mengembangkan model-model pembelajaran lainnya. Dalam pemahaman konsep, pemberian masalah diawal pembelajaran dapat menarik perhatian dan dapat membuat siswa penasaran dengan masalah tersebut. Akan tetapi dalam pemberian masalah tersebut, guru harus pandai memberikan masalah yang menarik dan sesuai dengan masalah sehari-hari yang dialami siswa.
Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah) adalah model pembelajaran yang memusatkan pada proses identifikasi dan diskusi dalam kelompok kecil diawali dengan memberikan sebuah masalah sebagai masalah dalam pelajaran. Model ini sesuai dalam pembelajaran matematika, dimana siswa dapat menggunakan pengalaman-pengalamannya dalam proses mengidentifikasi dan pemecahan masalah dalam pemahami konsep. Dalam model pembelajaran ini guru bertugas sebagai fasilitator dan memotivasi dengan memberikan masalah yang menarik perhatian siswa untuk memecahkan masalah. Kelebihan dalam model pembelajaran ini adalah siswa lebih memahami konsep yang diajarkan, karena siswa terlibat aktif dalam menemukan konsep itu sendiri.
Learning Cycle 7E adalah rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Hal tersebut menuntut siswa harus belajar melalui ketujuh fase tersebut,
fase tersebut juga dibutuhkan siswa yaitu bagaimana siswa belajar memahami konsep. Learning Cycle 7E juga membuat pelajaran lebih menarik sebab siswa dapat berbagi pengalaman dan membandingkan ide-ide dengan pengetahuan sebelumnya, membangun pengetahuan baru dan dapat melatih siswa belajar menemukan konsep melalui kegiatan eksperimen serta dapat melatih siswa dalam menyampaikan secara lisan tentang konsep yang telah ia pelajari. Tahapan-tahapan dalam model Learning Cycle 7E ini juga dapat mengukur beberapa aspek pada ranah kognitif Bloom, yaitu C2 (memahami), C3 (menerapkan) dan C4 (menganalisis) sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.
Penelitian ini menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Learning Cycle 7E karena ingin mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika antara siswa 5 yang diajar menggunakan model Problem Based Learning dan siswa kelas 5 yang diajar menggunakan Learning Cycle 7E. Kedua model tersebut dimulai dengan pemunculan masalah yang berkaitan dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari, penyelesaian masalah dilakukan dengan diskusi bersama teman kelompoknya dengan tujuan agar siswa mampu mengeluarkan pendapatnya dan menghargai pendapat teman kelompoknya, dan melatih siswa untuk dapat berbicara didepan umum sehingga kedua model tersebut dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Ningsih, 2016 yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa pada Materi Statistika” menunjukan: (1) Hasil belajar matematika siswa lebih baik dengan menerapkan model pembelajaran PBL, dibandingkan tanpa menggunakan pembelajaran PBL pada materi statistika di SMK Pemuda Papar. Hasil ini terbukti dari ketuntasan belajar siswa di atas 85%. (2) Secara klasikal rata-rata prosentase data angket minat belajar siswa mencapai 67% dan berada pada rentang 63% - 81%, dengan demikian minat belajar siswa dapat dikategorikan berminat atau berespon positif dengan pembelajaran matematika pada materi
statistika menggunakan model pembelajaran PBL. (3) Aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan PBL sangat baik, dengan perolehan prosentase sebesar 86%. (4) Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran materi statistika menggunakan model pembelajaran PBL dinyatakan sangat baik, dengan prosentase sebesar 87,3%. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Suparno (2013) yang bejudul “Pengaruh Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Learning Cycle 7E Terhadap Pemahaman Konsep dan Berpikir Kritis Siswa MA Wahid Hasyim Kelas X Yogyakarta” menunjukan hasil bahwa: (1) Pengaruh penggunakan Learning Cycle 7E lebih baik dibanding model pembelajaran konvensional (ekspositori) terhadap pemahaman konsep siswa MA Wahid Hasyim kelas X pada materi logika matematika sub bab pernyataan majemuk dan nilai kebenarannya. (2) Pengaruh penggunaan Learning Cycle 7E lebih baik dibanding model pembelajaran konvensional (ekspositori) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa MA Wahid Hasyim kelas X pada materi logika matematika sub bab penyataan majemuk dan nilai kebenarannya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ningsih dan Supano adalah bahwa Problem Based Learning dan Learning Cycle 7E dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Namun dalam penelitian ini, akan melihat apakah Problem Based Learning lebih baik dari Learning Cycle 7E dalam pemahaman konsep matematika atau sebaliknya. Jadi akan dilakukan penelitian yang berjudul “Perbedaan Pemahaman Konsep Matematika yang diajar dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Learning Cycle 7E kelas 5 Semester 2 SD Negeri Tlahab dan SD Negeri Bejen Tahun Pelajaran 2015/2016 ”.
1.2 Rumusan Masalah
Beracuan pada uraian diatas, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:”Apakah terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based
Learning dan Learning Cycle 7E pada siswa kelas 5 Semester 2 SD Negeri Tlahab dan SD Negeri Bejen Tahun Pelajaran 2015/2016?”
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan Learning Cycle 7E pada siswa kelas 5 Semester 2 SD Negeri Tlahab dan SD Negeri Bejen Tahun Pelajaran 2015/2016.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan penelitian didalam dunia pendidikan khususnya matematika dan untuk memberikan gambaran tentang model-model pembelajaran khusunya model pembelajaran Problem Based Learning dan Learning Cycle 7E dalam menguji kemampuan siswa dalam memahami konsep suatu materi.
1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi siswa
1. Siswa lebih memahami konsep suatu materi secara mendalam. 2. Siswa lebih tertarik untuk belajar matematika
3. Siswa menjadi lebih bersemangat dalam belajar matematika b. Bagi Guru
1. Menuntut guru agar lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan model-model pembelajaran. 2. Sebagai masukan untuk guru agar mengetahui manfaat mengajar
menggunakan model-model pembelajaran, khususnya Problem Based Learning dan Learning Cycle 7E.
c. Bagi Sekolah
1. Sebagai pertimbangan untuk memotivasi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang lebih menarik, efektif dan efisien.
2. Menumbuhkan kerjasama antar guru agar bertambah positif pada kualitas pembelajaran di sekolah.
d. Bagi Peneliti lain
1. Sebagai masukan bagi peneliti lain untuk menyumbangkan wawasan dan pengetahuan di dunia pendidikan.
2. Sebagai motivasi peneliti lain agar ikut turun tangan dalam melakukan penelitian dibidang pendidikan.
e. Bagi Dunia Pendidikan
1. Mengubah paradigma yang dahulunya teacher center menjadi student center yang berarti bahwa proses pembelajaran lebih ditekankan pada aktivitas siswa sebagai konsekuensinya siswa dituntut dapat memahami konsep dan mempersiapkan siswa ke materi yang lebih dalam pada jenjang berikutnya.