ANALISIS IMPLEMENTASI CSR (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY) DI KSPPS BMT MANDIRI SEJAHTERA TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya Ekonomi Syariah (A.Md.E.Sy)

85 

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat

Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya Ekonomi Syariah

(A.Md.E.Sy)

DISUSUN OLEH TYAS FAJAR UTAMI

NIM : 64010150041

PROGRAM STUDI DIII PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

(2)
(3)

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat

Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya Ekonomi Syariah

(A.Md.E.Sy)

DISUSUN OLEH TYAS FAJAR UTAMI

NIM : 64010150041

PROGRAM STUDI DIII PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

(4)
(5)
(6)
(7)

MOTTO

“Adakalanya, orang yang paling buruk di masa silam akan menjadi paling baik di masa depan”

( Sayyidina Umar bin Kattab r.a )

PERSEMBAHAN

Karya yang sederhana ini, kupersembahkan untuk:

Bapak dan Ibu tercinta Adikku tersayang

Keluarga besar, serta

Sahabat-sahabat ku

Yang tidak pernah lelah dalam mendukung dan membantu ku

(8)

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

segala rahmat serta hidayah-Nya yang telah diberikan kepada Penulis, sehingga

penulis mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “Analisis

Implementasi CSR (Corporate Social Responsibility) di KSPPS BMT Mandiri

Sejahtera”.

Tak lupa Sholawat serta salam juga senantiasa kita sanjungkan kepada

Junjungan Rasulullah SAW. Tugas Akhir ini disusun guna memenuhi syarat

untuk memperoleh gelar Ahli Madya Ekonomi Syariah.

Atas terselesaikannya penulisan Tugas Akhir ini, Penulis ingin

mengucapkan terimakasih kepada:

1. Allah SWT, yang telah menyertai, melindungi, dan menguatkan penulis

dalam menyelesaikan Penyusunan Tugas Akhir.

2. Dr. Anton Bawono, M.Si. selaku dekan FEBI serta Dosen Pembimbing

yang telah memberikan kesempatan dan membantu Penulis dalam

menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir.

3. Ari Setiawan, S.Pd., M.M. selaku ketua jurusan D-III Perbankan Syariah

yang telah memberikan arahan kepada Penulis dalam menyelesaikan

penyusunan Tugas Akhir.

4. Bapak Andi Setyawan S., SE. selaku Manajer Utama yang telah bersedia

memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di KSPPS

(9)

5. Bapak Joko Supriyanto. SE. selaku Manajer Pemasaran yang telah

bersedia untuk di wawancarai oleh Penulis dalam rangka melaksanakan

Penelitian di KSPPS BMT Mandiri Sejahtera Ungaran Kab. Semarang.

6. Seluruh Staf dan karyawan KSPPS BMT Mandiri Sejahtera Kab.

Semarang yang telah bersedia untuk di wawancarai selama Penulis

melaksanakan Penelitian..

7. Orang tua yang selalu mendukung dalam doa maupun motivasi hingga

pelaksanaan dan penyusunan Tugas Akhir ini dapat terselesaikan dengan

baik.

8. Teman-teman yang selalu mendukung Penulis serta memberi motivasi

hingga pelaksanaan dan penyusunan Tugas Akhir ini selesai, dan

9. Semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu Penulis dalam penyusunan Tugas Akhir ini hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan. Oleh

karena itu segala kritik dan saran dari pembaca sangatlah penulis harapkan untuk

bisa memberikan yang lebih baikb lagi kedepannya.

Semoga Tugas Akhir ini bisa bermanfaat bukan hanya bagi Penulis tetapi

juga bagi para pembaca.

Salatiga, Agustus 2018

(10)

ABSTRAK

Utami, Tyas Fajar. 2018. Analisis Implementasi CSR (Corporate Social

Responsibility) di KSPPS BMT Mandiri Sejahtera. Tugas Akhir, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Program Studi D3-Perbankan Syariah IAIN Salatiga. Pembimbing: Dr. Anton Bawono, M.Si.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kritik terhadap Tanggungjawab Sosial Perusahaan di Indonesia. Dimana tanggungjawab sosial perusahaan sering dijadikan atribut perusahaan untuk memperoleh keuntungan besar-besaran, dan dijadikan perisai sebagai penetralisir dampak negatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran CSR menurut KSPPS BMT Mandiri Sejahtera, bagaimana cara mereka mengimplementasikannya, serta mengetahui kendala dan strategi dalam praktiknya.

Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan manajer dan karyawan KSPPS BMT Mandiri Sejahtera. Selain itu juga dilaukan survey secara langsung dilapangan serta pengambilan dokumentasi terkait kebenaran data yang ada.

Hasil penelitian Program CSR di KSPPS BMT Mandiri Sejahtera menunjukan bahwa hampir semua sesuai dengan teori yang ada, antara teori legitimasi, stakeholder dan kontrak sosial, berjalan secara bersamaan. Di samping itu, program CSR yang ada di BMT ini sudah terprogram dan terencana dengan baik. Hanya saja antara maal dan bisnis belum seimbang, artinya bisnis masih menjadi nomor satu.

(11)

Daftar Isi

Halaman Judul ... i

Persetujuan Pembimbing ... ii

Pengesahan Kelulusan ... iii

Pernyataan Keaslian Tulisan ... iv

Motto dan Persembahan ... v

Kata Pengantar ... vi

ABSTRAK ... viii

Daftar Isi... ix

Daftar Tabel ... xi

Daftar Gambar ... xii

Daftar Lampiran ... xiii

F. Sistematika Penulisan ... 7

(12)

Analisis ... 32 A. Format dan Konsep Implementasi CSR (Corporate Social Responsibility)

pada BMT Mandiri Sejahtera ... 32 B. Kendala saat Penerapan CSR (Corporate Social Responsibility) ... 46 C. Strategi dalam Penerapan CSR (Corporate Social Responsibility) ... 52 BAB V

(13)

Daftar Tabel

(14)

Daftar Gambar

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Formulir Permohonan Pembiayaan

Lampiran 2. Formulir Permohonan Menjadi Anggota

Lampiran 3. Formulir Pembukaan Rekening & Sertifikat Modal Pemertaan Lampiran 4. Brosur KSPPS BMT Mandiri Sejahtera

Lampiran 5. Slip Penarikan

Lampiran 6. Slip Angsuran

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisasi yang menjalankan aktivitas bisnis tidak berkembang

sendirian.Perusahaan-perusahaan baru bisa hidup dan tumbuh dengan

berbagai kondisi yang melingkupinya. Ada karyawan, pemerintah,

masyarakat sekitar, ada konsumen, pemasok dan berbagai pihak pemangku

kepentingan (stakeholder) yang lain. Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang terkena pengaruh atas beroperasinya perusahaan.Masing-masing

pihak ini memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Kadang-kadang ada

perbedaan kepentingan antar masing-masing pihak. Tapi waktu

bagaimanapun selayaknyalah perusahaan harus memperhitungkan semua

pemangku kepentingan ini demi keberlangsungan usahanya.Jadi, tidak

sekedar kepada pemegang saham (stakeholder) dan karyawan saja.Selain

pemegang saham dan karyawan, perusahaan juga harus memerhatikan

masyarakat luas.Tentu saja perhatian yang diperikan bisa berbeda-beda,

namun wujud kepedulian itu selayaknya ada (Amir, 2012:266).

Tanggungjawab sosial perusahaan merupakan tema yang terus

berkembang dalam dunia bisnis (Fauroni, 2006:221). Sehingga sekarang

semua perusahaan berlomba untuk menarik simpati masyarakat melalui

(17)

mereka karena mereka menganggap itu adalah bagian dari kewajiban

pemerintah.

Menurut Suyanto (2007:102-103) perusahaan yang menyadari tanggung

jawab mereka kepada pelanggan dan masyarakat pada umumnya, akan

berusaha lebih dari pada yang dituntut oleh pemerintah. Mereka tidak hanya

berupaya mengembangkan reputasi dalam hal produk atau jasa dengan harga

yang wajar melainkan juga memantapkan diri sebagai warga yang

bertanggungjawab.

Contohnya pada perusahaan United Parcel Services (UPS) memberikan

sumbangan US$ 44,9 juta dan bantuan ke seluruh dunia pada 2005.

Sumbangan ini termasuk US$ 3 juta untuk membantu korban tsunami di Asia

Tenggara dan US$ 2 juta untuk mendukung pemulihan korban gempa di Asia

Selatan.

Kritik mengenai tanggungjawab sosial perusahaan yang saat ini sedang

berkembang yaitu adanya benturan-benturan kepentingan antara kepentingan

masyarakat dengan kepentingan lembaga yang biasanya terjadi akibat adanya

penyimpangan tujuan dasar dari lembaga dan pengabaian akan fungsi serta

tanggung jawab sosial. Sebagai contoh banyak kasus-kasus BMT yang sudah

membelok dari relnya, mereka lebih mementingkan bisnis dibandingkan

mengelola maal. Padahal seharusnya keduanya berjalan secara seimbang. Hal

(18)

ditemukan BMT yang mengabaikan tanggung jawab sosial perusahaannyaa

mengalami kebangrutan.

Dari adanya kritik mengenai tanggungjawab sosial seperti di atas,

menjadi alasan peneliti tertarik untuk meneliti hal ini. Karena menurut

Penulis dari adanya kritik terhadap tanggungjawab sosial perusahaan, penulis

dapat meneliti bagaimana perkembangan CSR di KSPPS Mandiri Sejahtera

ini. Bagaimana menurut pandangan BMT mengenai CSR itu sendiri, dan

bagaimana cara BMT mengimplementasikannya.

Menurut penulis CSR seharusnya ada bukan hanya karena tuntutan dari

Pemerintah, tetapi juga karena setiap perusahaan berkewajiban memberikan

manfaat untuk masyarakat sekitanya (stakeholder). Dengan adanya program

CSR ini, prusahaan dapat ikut memajukan kesejahteraan masyarakat di

sekitarnya terutama dalam perekonomiannya, dan hal tersebut dapat

memberikan timbal balik kepada perusahaan baik secara langsung maupun

tidak langsung. Selain dapat memperbaiki nama baik/citra perusahaan,

masyarakat yang merasakan manfaat positifnya pasti akan mendukung setiap

keputusan yang diambil oleh perusahaan dan bahkan akan merekomendasikan

produk perusahaan kepada orang lain.

Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin menggali lebih dalam tentang

masalah implementasi CSR pada BMT.Maka penulis memberikan judul

Analisis Implementasi CSR (Corporate Social Responsibility) pada BMT

(19)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi CSR (Corporate Social Responsibility) pada

KSPPS BMT Mandiri Sejahtera?

2. Apa saja kendala yang dialami saat mengimplementasikan CSR

(Corporate Social Responsibility) pada KSPPS BMT Mandiri Sejahtera?

3. Bagaimana strategi KSPPS BMT Mandiri Sejahtera dalam penerapan

CSR (Corporate Social Responsibility)?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana implementasi CSR (Corporate Social

Responsibility) pada KSPPS BMT Mandiri Sejahtera.

2. Untuk mengetahui apasaja kendalayang dialami saat mengimplementasi

kanCSR (Corporate Social Responsibility) pada KSPPS BMT Mandiri

Sejahtera.

3. Untuk mengetahui bagaimana strategi KSPPS BMT Mandiri Sejahtera

dalam penerapan CSR (Corporate Social Responsibility).

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti :

a. Menambah wawasan peneliti tentang penerapan CSR (Corporate

Social Responsibility) itu sendiri.

(20)

2. Bagi IAIN Salatiga :

a. Memperkaya literature penelitian tentang cara mengimplementasikan

tanggung jawab sosial pada perusahaan/BMT.

b. Menambah wawasan bagi Mahasiswa, khususnya Mahasiswa FEBI

(Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) IAIN Salatiga.

3. Bagi BMT :

a. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan

selanjutnya.

b. Sebagai bahan pertimbangan dalam proses mengimplementasikan

CSR (Corporate Social Responsibility) pada masyarakat sekitar,

sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya.

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penulisan proposal

ini adalah kualitatif, yaitu penelitian yang memanfaatkan landasan teori

sebagai pemandu saat penelitian berlangsung sehingga penelitian akan

sesuai dengan fakta di lapangan.

2. Jenis Data

a. Jenis data primer

Data diambil langsung dari lapangan (tidak melalui media

(21)

menggunakan hasil survey, observasi, dan wawancara kepada

beberapa Karyawan dan Manajer di KSPPSBMT Mandiri Sejahtera.

b. Jenis data sekunder

Data diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara

berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam

arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak

dipublikasikan oleh BMT Mandiri Sejahtera yang diidentifikasi

terlebih dahulu setelah itu dilakukan evaluasi.

3. Teknik Pengambilan Data

a. Survey

Penulis melakukan metode pengumulan data berupa pengalaman

penulis selama melibatkan diri dan menjadi bagian dari KSPPS BMT

Mandiri Sejahtera serta mengumpulkan data dari banyak subjek

(Karyawan dan Manajer) dan objek (kegiatan yang diteliti).

b. Observasi

Penulis melakukan metode pencatatan tentang sikap serta

kejadian yang terlihat dengan melibatkan diri dan menjadi bagian

dari lingkungan BMT tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi

antara penulis dengan Karyawan dan Manajer BMT.

c. Wawancara

Penulis melakukan metode survey dengan menggunakan

(22)

dan Manajer BMT. Wawancara yang penulis gunakan adalah

wawancara tatap muka agar memungkinkan penulis untuk

mengajukan pertanyaan yang memerlukan waktu banyak.

d. Dokumentasi

Penulis akan melukan metode pengambilan data dengan

memanfaatkan bantuan peralatan mekanik seperti kamera foto agar

data diperoleh secara detail dan juga menggunakan informasi

pendukung melalui buku, kearsipan, dan laporan yang terkait dengan

permasalahan yang diteliti di BMT.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mengetahui gambaran dan mempermudah cara memahami laporan

tugas akhir ini penulis menyusun dalam beberapa bab antara lain sebagai

berikut:

BAB I Pendahuluan

Di dalam bab ini penulis akan menguraikan latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode penelitian, serta sistematika

penulisan.

BAB II Landasan Teori

Bab ini merupakan penjelasan dan penjabaran tentang teori mengenai

CSR beserta implementasi, manfaat dan peran penting CSR dalam sebuah

(23)

BAB III Laporan Objek

Bab ini merupakan kerangka awal dimana penulis menguraikan tentaang

semua hal mengenai BMT Mandiri Sejahtera.

BAB IV Analisis

Pada bab ini penulis akan menguraikan hasil penelitian yang telah

penulis kumpulkan.

BAB V Penutup

Pada bab ini penulis akan mengambil kesimpulan yang terdapat pada

bab-bab sebelumnya, khususnya bab yang menyangkut permasalahan dan

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Telaah Pustaka

Penelitian menurut Mapisangka (2009) yang berjudul “Implementasi

CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat” menghasilkan bahwa kebijakan CSR oleh PT. Batamindo harus difokuskan pada nilai-nilai social.

Pendekatan ini sangat penting agar program CSR oleh perusahaan dapat

berfungsi secara efektif dan efisien.Dengan begitu program CSR harus

melibatkan semua orang di sekitar perusahaan, agar merekadapat

memanfaatkan program CSR tersebut.

Penelitian menurut Rahmayanti (2011) yang berjudul “Implementasi

Corporate Social Responsibility dalam Membangun Reputasi Perusahaan” menghasilkan bahwa pelaksanaan program CSR yang dilakukan oleh PT.

KAI (Persero) Daop 6 Yogyakarta bervariasi dan responsive terutama untuk

menanggapi kebutuhan masyarakat dan lingkungan sekitar

perusahaan.Namun, pelaksanaan program ini masih berada dalam ranah amal

dan pelayanan, bukan perwujudan dari investasi social.

Penelitian menurut George (2013) yang berjudul “Implementasi

Corporate Social Responsibility di PT. Pembangkit Jawa Bali Unit Pembangkit Gresik” menghasilkan bahwa pelaksanaan CSR di sana tidak berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala. Adanya

(25)

sumber daya manusia yang melaksanakan program CSR, kurangnya

koordinasi dan pemahaman antara pelaksana dalam mengartikan makna CSR

yang sebenarnya, terutama koordinasi dengan tingkat pemerintahan yang

lebih rendah. Sehingga diharapkan agar koordinasi antara PT. Pembangkit

Jawa Bali Unit Pembangkit Gresik dengan pemerintah harus ditingkatkan

dengan baik.

Penelitian menurut Samsiyah, Sambharakhresna, dan Kompyurini (2013)

yang berjudul “Kajian Implementasi Corporate Social Resposibility

Perbankan Syariah ditinjau dari Syariah Enterprise Theory pada PT. Bank pembiayaan Rakyat Syariah Bhakti Sumekar Cabang Pamekasan” menghasilkan bahwa implementasi CSR pada PT. BPRS Bhakti Sumekar

masih sangat terbatas, dilakukan secara sukarela, dan masih jauh dari cara

untuk sesuai dengan teori perusahaan syari’ah.

Penelitian menurut Usria (2014) yang berjudul “Implementasi dan Peran CSR terhadap Kepercayaan Anggota Anggota BMT Fastabiq Pati” menghasilkan bahwa adanya pelaksanaan CSR di BMT Fastabiq Pati sejalan

dengan prinsip Triple Button Line (TBL) serta berdampak positif dalam

meningkatkan kepercayaan anggota.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu hanya memfokuskan pada

nilai-nilai sosial (amal) nya saja dan tidak melihat apakah cara

pengimplementasiannya berjalan dengan baik, terprogram dan terencana atau

tidak dan sesuai dengan teori atau tidak, serta bagaimana strategi perusahaan

(26)

oleh stakeholder (masyarakat sekitar). Ada yang menghasilkan tentang kendala pada saat pelaksanaannya dan dampak setelah pelaksanaan CSR bagi

para anggota perusahaan itu sendiri, tetapi tidak di teliti lebih dalam lagi

apasajakah kendala yang sering terjadi saat akan mengimplementasikannya.

B. Kerangka Teori

Dewasa ini tidak cukup bagi perusahaan hanya memfokuskan diri pada

pertumbuhan ekonomi semata, akan tetapi dibutuhkan sebuah paradigma baru

dibidang bisnis yaitu, pembangunan yang berkelanjutan, maksudnya adalah

suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi

skemampuan dan kesempatan generasi berikut untuk dapat memenuhi

kebutuhannya. Generasi masa kini harus memanfaatkan seefisien mungkin

sumber daya alam yang tersedia sesuai dengan kebutuhan yang optimal

(Badroen, Suhendra, Mufraen dan Ahmad, 2006:188).

a. Definisi CSR (Corporate Social Responsibility)

Menurut Fahmi (2014: 293-294) Corporate social responsibility

adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam

pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan

tanggung jawab social perusahaan dan menitik beratkan pada

keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial dan

lingkungan. Secara konseptual, CSR adalah sebuah pendekatan dimana

perusahaan mengintegrasikan kepedulian social dalam operasi bisnis

(27)

(stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan (Suharto, 2007:103). Artinya pihak perusahaan harus melihat jika CSR bukan

program pemaksaan tapi bentuk rasa kesetia kawanan terhadap sesame

umat manusia, yaitu membantu melepaskan pihak-pihak dari berbagai

kesulitan yang mendera mereka, dan efeknya nanti bagi perusahaan itu

juga. Definisi formal dari tanggungjawab social (social responsibility) adalah kewajiban manajemen untuk membuat pilihan dan mengambil

tindakan yang berperan dalam mewujudkan kesejahteraan dan

masyarakat. Kewajiban tersebut dapat berbentuk perhatian perusahaan

pada masyarakat sekeliling maupun tanggungjawab pada pemerintah

dalam bentuk membayar pajak secara jujur dan tepat waktu.

Tanggung jawab perusahaan pada masyarakat saat ini dikenal

dengan istilah CSR (Corporate Social Responsibility). Pembahasan

tentang CSR pada era sekarang ini mulai meningkat sehubungan dengan

banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat akibat tindakan

perusahaan.

Howard Robert Owen oleh beberapa pihak telah disebut sebagai

penggagas dan peletak dasar yang begitu gigih memperjuangkan konsep

CSR untuk diterapkan. Ide dasar yang dikemukakan Bowen adalah

mengenai kewajiban perusahaan menjalankan usahanya sejalan dengan

nilai-nilai dan tujuan yang hendaknya dicapai masyarakat di tempat

(28)

Dalam dekade 1960-an, pemikiran Bowen terus dikembangkan oleh

berbagai ahli sosiologi bisnis lainnya seperti Keith Davis yang

memperkenalkan konsep Iron law of social responsibility. Davis

berpendapat bahwa penekanan pada tanggungjawab social perusahaan

atau lebih tepat dikatakan, semakin besar dampak suatu perusahaan

terhadap masyarakat sekitarnya, semakin besar pula bobot

tanggungjawab yang harus diperhatikan perusahaan itu pada masyarakat.

Seiring dengan perkembangan waktu pembahasan CSR semakin

berkembang, para pengelola bisnis semakin menyadari akan peran serta

fungsi dari CSR dalam mempengaruhi pembentukan kinerja suatu

perusahaan. Seperti pada masa tahun 1990an banyak kalangan mulai

membeikan penafsiran yang beragam tentang CSR tersebut.Tahun

1990an dianggap sebagai tahun yang begitu tinggi menyangkut

pembahasan CSR, dan itu diikuti oleh dukungan serta tekanan dari

berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM).

b. Definisi Implementasi

Implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau

adanya mekanisme suatu sistem.Implementasi bukan sekedar aktivitas,

tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan

(Usman, 2002:70).

Wujud implementasi dari program Corporate Social Responsibility

(29)

bantuan pembangunan jalan, bantuan pembangunan sarana ibadah, atau

bantuan perayaan hari-hari besar nasioanal, akan tetapi berupa program

pemberdayaan masyarakat yang dalam jangka waktu yang panjang dapat

memberikan perubahan kesejahteraan masyarakat seperti, pembuatan

koperasi simpan pinjam, pemberian beasiswa, program orang tua asuh

bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan lain sebagainya

(Badroen, Suhendra, Mufraeni dan Bashori, 2006:191).

Tanggungjawab sosial perusahaan yang diimplementasikan oleh

perusahaan di atas adalah bagian dari etika kerja yang sangat dijunjung

tinggi oleh nilai-nilai agama. Lebih dari itu, etika kerja juga sangat terkait

erat dengan kepuasan kerja (job satisfaction) dan komitmen perusahaan yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi (Badroen,

Suhendra, Mufraen dan Ahmad, 2006:192).

c. Landasan Teoritis

1. Teori Legitimasi

Menurut Hadi (2011:87-93) legitimasi masyarakat merupakan

faktor utama bagi perusahaan dalam rangka mengembangkan

perusahaan ke depan. Hal itu, dapat dijadikan sebagai strategi

perusahaan terutama terkait dengan upaya memposisikan diri di

tengah lingkungan masyarakat yanmg semakin maju.

Legitimasi merupakan sistem pengelolaan perusahaan yang

(30)

pemerintah, untuk itu perusahaan harus beroperasi secara kongruen

dengan harapan masyarakat. Legitimasi perusahaan juga merupakan

arah implikasi orientasi pertanggungjawaban perusahaan yang lebih

menitik beratkan pada perspektif masyarakat (Deegan, dalam Hadi

2011:88). Legitimasi dapat diperoleh manakala terdapat kesesuaian

anatara keberadaan perusahaan yang tidak menggangu atau dengan

kata lain perusahaan itu sesuai dengan sistem nilai yang ada pada

lingkungan sekitarnya. Ketika terjadi ketidaksesuaian, maka

legitimasi perusahaan akan terancam.

Pengurangan kesenjangan legitimasi dapat dilakukan dengan

cara meningkatkan tanggungjawab sosial perusahaan, melakukan

keterbukaan (transparansi) operasi perusahaan. Medley (1996) dalam

Hadi (2011:90) memberikan ilustrasi tentang teori legitimasi yaitu

tentang keterhubungan antara para pihak yang berkepentingan

(stakeholders) yang berpengaruh pada perusahaan. Keterhubungan tersebut dapat memunculkan potensi mendukung maupun menekan

terhadap perusahaan. Tanggungjawab sosial perusahaan juga dapat

meningkatkan reputasi perusahaan, menjaga image dan strategi

perusahaan.

Pattern (1992) dalam Hadi (2011:92) menyatakan bahwa upaya

yang perlu dilakukan oleh perusahaan dalam rangka mengelola

legitimasi agar efektif, yaitu dengan cara:

(31)

b) Melakukan komunikasi dialog tentang masalah nilai sosial

kemasyarakatan dan lingkungan, serta membangun persepsinya

tentang perusahaan.

c) Melakukan strategi legitimasi dan pengungkapan, terutama

terkait dengan masalah tenggungjawab sosial (social

responsibility).

2. Teori Stakeholder

Menurut Hadi (2011:93-95) Perusahaan tidak hanya sekedar

bertanggungjawab terhadap para pemilik sebagaimana terjadi selama

ini, namun bergeser menjadi lebih luas yaitu sampai pada ranah

sosial kemasyarakatan (stakeholder), selanjutnya disebut

tanggungjawab sosial (social responsibility). Fenomena seperti itu terjadi, karena adanya tuntutan dari masyarakat akibat negative externalities yang timbul serta ketimpangan sosial yang terjadi (Harahap, dalam Hadi, 2011: 93). Untuk itu tanggung jawab

perusahaan yang semula hanya diukur sebatas pada indicator

ekonomi dalam laporan keuangan, kini harus bergeser dengan

memperhitungkan faktor-faktor sosial terhadap stakeholder, baik internal maupun eksternal.

Stakeholder adalah semua pihak baik internal maupun eksternal yang memiliki hubungan baik bersifat mempengaruhi maupun

dipengaruhi, bersifat langsung maupun tidak langsung oleh

(32)

sekitar, lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan,

lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja perusahaan, kaum

minoritas dan lain sebagainya yang keberadaannya sangat

mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan.

Batasan stakeholder tersebut di atas mengisyaratkan bahwa

perusahaan hendaknya memperhatikan stakeholder, karena mereka

adalah pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi baik secara

langsung maupun tidak langsung atas aktivitas serta kebijakan yang

diambil dan dilakukan perusahaan. Jika perusahaan tidak

memperhatikan stakeholder bukan tidak mungkin akan menuai

protes dan dapat mengeliminasi legitimasi stakeholder.

Perusahaan tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan

sosial. Perusahaan perlu menjaga legitimasi stakeholder serta mendudukkannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan

keputusan, sehingga dapat mendukung pencapaian tujuan

perusahaan, yaitu stabilitas usaha dan jaminan untuk bertahan

hidup (Adam, dalam Hadi, 2011:94-95).

Dengan ini dapat ditarik hubungan antara teori legitimasi dan

teori stakeholder bahwa perusahaan seharusnya mengurangi

expectation gap dengan masyarakat sekitar guna meningkatkan legitimasi (pengakuan) masyarakat terhadap perusahaan. Perusahaan

sudah seharusnya menjaga reputasinya dengan memutar pola tujuan

(33)

menjadi cenderung kepada orientasi masyarakat atau dengan kata

lain lebih memperhitungkan faktor sosial sebagai wujud kepedulian

dan keberpihakan terhadap masalah sosial kemasyarakatan.

3. Teori Kontrak Sosial

Menurut Hadi (2011:95-99) kontrak sosial muncul karena

adanya hubungan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Agar

terjadi keselarasan, keseimbangan, dan keserasian termasuk terhadap

lingkungan. Bederadaan perusahaan sangat ditentukan oleh

masyarakat, di mana antara keduanya saling berpengaruh. Untuk itu,

agar terjadi keseimbangan, maka perlu kontrak sosial baik secara

eksplisit maupun implisit sehingga akan terjadi kesepakatan untuk

saling melindungi kepentingan satu sama lain.

Perusahaan memiliki kewajiban kepada masyarakat untuk

member manfaat bagi masyarakat setempat. Perusahaan akan selalu

berusaha untuk memenuhi dan mematuhi aturan dan norma-norma

yang berlaku di masyarakat, sehingga kegiatan perusahaan dapat

dipandang dan diakui (Deegan, dalam Hadi, 2011:96). Dalam

hubungan antara perusahaan dengan stakeholder, kontrak sosial

mengisyaratkan bahwa operasinya harus sejalan dengan ekspektasi

masyarakat sehingga perusahaan akan mendapatkan legitimasi.

Perusahaan harus melebarkan tanggungjawabnya tidak hanya

sekedar economic resposibility tetapi lebih di arahkan kepada

(34)

bahwa kegiatannya tidak melanggar dan bertanggungjawab kepada

pemerintah yang dicerminkan dalam peraturan dan perundangan

yang berlaku. Sebagai pihak yang memiliki ikatan sosial, disamping

perusahaan berupaya menjaga eksistensi dan survival dengan

pencapaian dan peningkatan kinerja secara ekonomi (profit),

perusahaan juga harus memperhatikan kaidah tata aturan yang

berlaku. Dalam mencapai tujuan secara ekonomi, perusahaan tidak

diperkenankan untuk menggunakan berbagai caratanpa menaati

peraturan yang ada. Tetapi itu semua tidak cukup, hal ini di

karenakan keberadaan perusahaan di tengah lingkungan juga

membutuhkan pengakuan dari masyarakat. Disitulah perlunya

meningkatkan perlunya meningkatkan perhatian terhadap masalah

sosial yang terbungkus dalam strategi corporate social

(35)

BAB III

LAPORAN OBJEK

A. Gambaran Umum

1. Sejarah KSPPS BMT Mandiri Sejahtera

Koperasi Jasa Keuangan Syariah BMT Mandiri Sejahtera merupakan

salah satu dari begitu banyak Koperasi yang ada di Jawa Tengah,

khususnya di Kabupaten Semarang, yang bergerak dalam bidang usaha,

simpan pinjam dengan sistem syariah.Berawal dari keinginan beberapa

orang pendiri yang sebagian sekarang menjadi pengelola untuk bisa lebih

mandiri, setelah bergabung dan cukup lama di koperasi/BMT yang lain,

untuk bisa meningkatkan taraf hidupnya dan anggota, untulk bisa lebih

mengem,bangkan diri dengan tantangan yang baru serta membuka

lapangan kerja baru, maka berdirilah koperasi ini.

Maka setelah berkonsultasi dengan Dinas terkait kami disarankan

untuk tidak sudah ada yang tidak pernah beroperasi. Setelah melalui

pertimbangan banyak hal, kami memilih Koperasi Upaya Mandiri dengan

Badan Hukum: 012/BH/KWK.11.1/IX/1998 dengan surat pengesahan

dari Menteri Koperasi Pengusaha Kecil Menegah Nomor:

01/KOP-UM/VIII/1998 milik Masjid Istiqomah Ungaran untuk kami pergunakan,

pergunakan, dikarenakan beberapa pengurus kami adalah pengurus

Masjid Istiqomah yang berada di Ungaran Barat Kabupaten Semarang,

(36)

persetujuan dari Dinas Koperasi maka pada tanggal 17 januari 2010

Koperasi Upaya Mandiri resmi dijalankan untuk kegiatannya dengan

beralamat kantor di Jl. Palmerah Raya B1 Babadan Permai Beji Ungaran

Timur Kab. Semarang.

Setelah berjalan selama kurang lebih satu tahun, maka kami adakan

perubahan Anggran Dasar Koperasi Upaya Mandiri, sekaligus perubahan

Nama Lembaga dan Badan Hukum untuk wilayah Kabupaten Semarang

menjadi Jawa Tengah karena beberapa anggota beralamat di luar

kabupan Semarang.Setelah Pengajuan Perubahan Anggaran Dasar maka

pada tanggal 18 Januari 2011 telah mendapat pengeasaha dari Gubernur

Jawa Tengah Nomor: 04/PAD/XIV/I/2011 tentang pengesahan Anggaran

Dasar Koperasi Upaya Mandiri manjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah

(KJKS) BMT Mandiri Sejahtera dengan Badan Hukum Jawa Tengah.

Pada tahun 2016 Koperasi Jasa Keuangan Syari’ah (KJKS) BMT

Mandiri Sejahtera mengadakan perubahan Anggaran Dasar lagi untuk

perubahan Nama, Alamat Dan Badan Huskum dari Koperasi Jasa

Keuangan Syariah (KJKS) BMT Mandiri Sejahtera menjadi Koperasi

Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Mandiri Sejahtera

yang beralamatkan di Ruko Grand Royal, Jalan Merdeka No. 6D

Kelurahan Beji, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang sampai hari ini.

Demikian sejarah singkat berdirinya lembaga kami di awal tahun 2010

(37)

2. Visi,Misi dan Tujuan

Visi :

“Menjadi Lembaga Keuangan Syariah yang Sehat, Professional, dan

Terpercaya”

Misi :

a. Mengembangkan system ekonomi syariah.

b. Meningkatkan kesejahteraan bagi para anggota yang

berkesinambungan.

c. Membantu terciptanya lapangan kerja.

d. Menciptakan system kerja yang efektif dan efisien (great

system).

e. Menciptakan SDI (sumber daya insani) yang handal (great

people).

f. Mendapatkan laba yang optimal (great result).

Tujuan :

a. Menjalin silaturrahim dan kerjasama saling menguntungkan

antara anggota, calon anggota, dan stakeholder.

b. Menciptakan lapangan kerja baru.

c. Sebagai jembatan antara pemilik modal dengan merka yang

membutuhkan jasa keuangan.

d. Sebagai sarana untuk mencapai cita-cita bagi para anggota,

(38)

3. Struktur Organisasi

Sumber: KSPPS BMT Mandiri Sejahtera

Gambar 3. 1. Gambar Struktur Organisasi KSPPS BMT Mandiri Sejahtera

4. Penjabaran Tugas dan Wewenang Masing-Masing Bagian

a. Manajer Cabang

1) Identitas Jabatan

Posisi dalam organisasi : Di bawah Manajer Tamwil;

membawahi langsung Bagia/Kabag. Operasional, Kabag.

Pemasaran.

2) Fungsi Utama Jabatan

a) Memimpin Usaha KSPPS BMT Mandiri Sejahtera di

(39)

kebijakan umum yang telah ditentukan KSPPS BMT

Mandiri Sejahtera.

b) Merencenakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan

seluruh aktivitas lembaga yang meliputi penghimpunan dan

dari anggota dan lainnya serta penyaluran dana yang

merupakan kegiatan utama lembaga serta kegiatan-kegiatan

yang secara langsung berhubungan dengan aktivitas utama

dalam upaya mencapai target.

c) Melindungi dan menjaga asset perusahaan yang berada

dalam tanggung jawabnya.

d) Membina hubungan dengan anggota, calon anggota, dan

pihak lain (customer) yang dilayani dengan tujuan untuk

mengembangkan pelayanan yang lebih baik.

e) Membina hubungan kerjasama eksternal dan internal, baik

dengan para Pembina koperasi setempat, badan usaha

lainnya maupun secara internal dengan seluruh aparat

pelaksana, demi meningkatkan produktifitas usaha.

b. Kepala Bagian Koperasi

a) Identitas Jabatan

Unit kerja : Bagian koperasi

Posisi dalam organisasi : Dibawah ini Manager

cabang sejajar Kabag.Pemasaran, membawahi seksi pembukuan

(40)

b) Fungsi Utama Jabatan

Merencanakan, mengarahkan, mengontrol serta

mengevaluasi seluruh aktivitas dibidang operasional baik yang

berhubungan dengan pihak internal maupun eksternal yang

dapat meningkatkan profesionalisme KSPPS BMT Mandiri

Sejahtera khususnya pelayanan terhadap mitra maupun anggota

KSPPS BMT Mandiri Sejahtera.

3. Teller

a) Identitas Jabatan

Unit Operasional : Bagian Operasional

Posisi dalam Organisasi : Di bawah Kepala Bagian

Operasional

b) Fungsi Utama Jabatan

Merencanakan dan melaksanakan seluruh transaksi yang

sifatnya tunai.

4. Sumber Daya Manusia (SDM) & Umum

a) Identitas Jabatan

Unit Operasional : Bagian Operasional

Posisi dalam Organisasi : Dibawah Kepala Bagian

Operasional

b) Fungsi Utama Jabatan

1) Melakukan pengadministrasian dan pemeliharaan data

(41)

(absensi, cuti dan lain-lain), pendidikan, pelatihan, karir dan

hubungan atarr karyawan.

2) Memberikan pelayanan pada karyawan serta hal-hal umum

lainya yang tidak termasuk dalam kegiatan operasional

koperasi yang telah diatur seecara khusus dalam bidang

pemasaran, operasional lain-lain.

5. Layanan Mitra Usaha

a) Identitas Jabatan

UnitOperasional : Bagian Operasional

Posisi dalam Organisasi :Dibawah Kepala Bagian

Operasional

b) Fungsi Utama Jabatan

1) Memberikan pelayanan prima kepada mitra sehubungan

dengan produk funding (penghimpunan dana) dan produk

financing(pembiayaan)

2) Memberikan informasi hak dan kewajiaban anggota

secukupnya dan informasi lain yang diperlukan dan

mengarahkan anggota/calon anggota pada pilihan produk

yangsesuai dengan kebutuhannya.

6. Akutansi/Pembukuan

a) Idetitas Jabatan

Unit Operasional : Bagian Operasional

(42)

Operasional

b) Fungsi Utama Jabatan

Mengelola administrasi keuangan hingga ke pelaporan

keuangan.

7. Kepala bagian pemasaran

a) Identitas jabatan:

Unit kerja : Bagian pemasaran

Posisi dalam organisasi : Dibawah Manajer cabang,

sejajar Kabag. Operasional. Membawahi seksi-seksi Adm.

Pembiayaan, Staf Pembiayaan dan Staf Penagihan.

b) Fungsi utama jabatan:

Merencanakan, mengarahkan serta mengevaluasi target dan

funding serta memastikan strategi yang digunakan sudah tepat

dalam upaya mencapai sasaran termasuk dalam menyelesaikan

pembiayaan bermasalah.

8. Staff Pemasaran

a) Identitas Jabatan:

Unit Kerja : Bagian Pemasaran

Posisi dalam Organisasi : Di bawah Kepala Bagian

(43)

b) Funsi Utama Jabatan:

1) Melakukan sosialisasi seluruh produk BMT Mandiri

Sejahtera dan melakukan upaya kerjasama atau sindikasi

dengan pihak/lembaga lainnya

2) Melayani permohonan penyimpanan dana (simpanan &

deposito) dengan bekerja sama dengan bagian Layanan

Mitra Usaha

3) Melayani pengajuan pembiayaan, melakukan analisis

kelayakan serta memberikan rekomendasi atas pengajuan

pembiayaan sesuai dengan hasil analisis yang telah

dilakukan.

9. Administrasi Pembiayaan

a) Identitas jabatan:

Unit Kerja : Bagian Pemasaran

Posisi dalam Organisasi : Di bawah Kepala Bagian

Pemasaran

b) Fungsi Utama Jabatan:

Mengelola administrasi data mitra usaha, melakukan proses

pembiayaan mulai dari pencairan hingga pelunasan, membuat

(44)

B. Kegiatan BMT

1. Produk Simpanan

a. SIRELA (simpanan suka rela lancar)

Pengambilan simpanan dapat dilakukan setiap waktu pada jam

kantor. Setoran awal minimal Rp. 20.000,- selanjutnya minnimal Rp.

5.000,-

b. SISUKA (Simpanan Berjangka)

Simpanan yang penggambilanya dilakukan dalam jangka waktu

yang telah disepakati bersama yaitu 3 (tiga) sampai 12 (dua belas)

bulan. Setoran pertama minimal Rp. 1.000.000,-

c. SISUQUR (Simpanan Sukarela Qurban)

Membantu anda dalam merencanakan pelaksanaan ibadah

qurban secara bertahap dan mudah

d. SIHARUM (Simpanan Haji dan Umroh)

Membantu nasabah dalam perencanaan ibadah Haji dan Umroh

e. Baitul Maal

KSPPS BMT Mandiri Sejahtera juga siap menerima titipan

zakat, infaq dan shodaqoh dari anggota dan masyarakat dan juga siap

menyalurkanya kepada masyarakat yang berhak menerima melalui

(45)

2. Produk Pembiayaan

a. Pembiayaan Beli Barang

Dengan prinsip jual beli murabahah, fasilitas pembiayaan yang

diperuntukan bagi anggota yang mengingiinkan barang atau

peralatan usaha guna mendukung kegiatan usaha anggota.

b. Pembiayaan Multi Jasa (PMJ)

Dengan prinsip jasa ijaroh, fasilitas pembiayaann diperuntukan

bagi anggota yang terkendala dalam membayar biaya pendidikan,

biaya sewa rumah, biaya sewa tempat usaha, biaya perawatan rumah

sakit, biaya perjalanan dan biaya lain yang diperlukan.

c. Pembiayaan Mitra Usaha (PMU)

Kerjasama mudharabah atau musyarokah, fasilitas pembiayaan

yang diperuntukan bagi anggota yang menginginkan permodalan

dalam pengembangan usaha yang digelutinya, agar usahanya

(46)

BABIV

ANALISIS

A. Format dan Konsep Implementasi CSR (Corporate Social Responsibility)

pada BMT Mandiri Sejahtera

Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis melalui wawancara dengan

Bapak Andi Setyawan, S.E. selaku Manajer Utama di KSPPS Mandiri

Sejahtera diketahui bahwa tanggung jawab sosial perusahaan menurut BMT

ialah tanggung jawab mereka terhadap masyarakat, terutama kepada

masyarakat di sekitar perusahaan (stakeholder) yaitu dengan cara

mengedepankan sisi Baitul Maal, hal ini sejalan dengan teori stakeholder

yang dikemukakan oleh Hummels (1998) dalam Hadi (2011:94) “stakeholder

are individuals and groups who have legitimate claim on the organization to participate in the decision making process simply because the are affected by the organisation’s practices, policies and actions”. Dari definisi tersebut, BMT menggaris bawahi jika perusahaan hendaknya memperhatikan

stakeholder nya karena mereka adalah pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung atas segala aktivitas dan

kebijakan yang di ambil dan dilakukan oleh perusahaan.

Dalam wawancara berikutnya, Bapak Joko Supriyanto. S.E. selaku

Manajer Pemasaran juga menuturkan bahwa untuk mengimplementasikan

tanggungjawab sosialnya, BMT Mandiri Sejahtera bergabung dengan sebuah

(47)

Daerah) Kabupaten Semarang yang juga termasuk dalam FOZ (Forum

Organisasi Zakat) Indonesia. Di dalam organisasi ini sudah terdapat program

amal yang terencana, seperti; Program Kab. Semarang Sehat, Program Kab.

Semarang Peduli, Program Kab. Semarang Cerdas, Program Kab. Semarang

Makmur, dan Program Kab. Semarang Bedah Rumah.

Hampir semua program yang ada di BAZNASDA diikuti oleh BMT

Mandiri Sejahtera, terkecuali Program Kab. Semarang Bedah Rumah,

“Karena biaya yang tidak sedikit, maka BMT memilih untuk tidak

mengambilnya terlebih dahulu” tutur Pak Joko. Mungkin jika dana maal dari

BMT sudah dirasa mencukupi maka BMT akan mencoba untuk mengambil

program tersebut. Walaupun BMT tidak mengambil program tersebut, tetapi

semua program yang di ambil oleh BMT di rasa sudah sangat mencukupi

untuk melatih kepekaan BMT terhadap lingkungan, dan hal ini terus berlajan

sampai sekarang.

Dana maal yang di kumpulkan oleh KSPPS BMT Mandiri Sejahtera

berasal dari ZISWAF yakni Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf. Dana

tersebut nantinya akan dikumpulkan setiap bulannya, dan hasilnya akan

disalurkan kepada yang lebih membutuhkan. Begitulah bentuk dari

tanggungjawab sosial perusahaan di BMT Mandiri Sejahtera.

Berikut program amal dari BAZNASDA Kab. Semarang yang diikuti

(48)

1. Program Kab. Semarang Sehat

Dalam program ini BMT Mandiri Sejahtera memberikan bantuan

kepada salah satu anak yang menderita penyakit Hidrosepalus sejak

lahir. Bantuan yang diberikan berupa uang jumlah sebesar Rp 200.000,-,

dan diberikan setiap bulan pada tanggl 24/25 di akhir bulan. Kebetulan

anak tersebut adalah anak yatim, jadi uang yang diberikan biasanya

digunakan untuk kebutuhannya sehari-hari. Pemberian bantuan ini sudah

berjalan selama 3 tahun, dan masih dijalankan sampai sekarang.

Profil penerima Santunan:

Nama : Fadli

Alamat : Jl. Ngrawan Lor, Bawen, Kab. Semarang

Usia : 12 tahun

2. Program Kab. Semarang Makmur

Melalui dana ZISWAF yang sudah terkumpul, BMT Mandiri

Sejahtera melakukan pemberdayaan skill bagi anggota dan bukan

anggota yang kurang mampu. Hal ini akan diberikan kepada seseorang

yang memiliki keahlian tetapi benar-benar kurang dalam masalah

ekonomi, maka akan dibantu dengan memberikan sesuatu yang dapat

dimanfaatkan agar menghasilkan pundi-pundi uang.

Pada program ini, BMT Mandiri Sejahtera melakukan pemberdayaan

skill kepada beberapa keluarga. Contohnya sebagai berikut:

(49)

BMT Mandiri Sejahtera memberikan dana pinjaman lunak

(qardhul hasan) untuk salah seorang anggotanya. Dana tersebut digunakan untuk membeli 1 buah mesin jahit. Mesin jahit itu

nantinya akan digunakan untuk bekerja guna memenuhi

kebutuhannya setiap hari. Dimana mereka hanya perlu mengganti

pokoknya saja kepada BMT tanpa tambahan dana apapun. Fasilitas

ini hanya akan diberikan kepada para anggota miskin potensial saja.

Sekarang usaha mereka sudah mulai berkembang. Bahkan

anggota tersebut sudah mulai menabung dan dapat bersedekah di

BMT Mandiri Sejahtera.

b. Memberikan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf)

Pada kesempatan ini Bapak Joko membocorkan bahwasannya

BMT Mandiri Sejahtera berencana akan memberikan sebuah warung

yang nantinya akan digunakan salah seorang anggota BMT untuk

berjualan gorengan. Semua peralatan dan perlengkapan untuk

berjualan akan dibiayai oleh BMT, anggota tersebut hanya tinggal

menjalankannya saja.

Lokasi warung tersebut terletak di ruko-ruko Undaris, Ungaran.

Rencananya di warungnya akan berikan celengan untuk bersedekah

si pemilik warung sejumlah Rp 1.000,- setiap harinya. Celengan

tersebut nantinya akan di sedekahkan melalui BMT. Karena BMT

berarap agar selain usahanya berkembang mereka juga dapat berbagi

(50)

Berbagai contoh di atas adalah beberapa contoh anggota BMT yang

menerima bantuan untuk mengembangkan kecakapan (skill) nya. Dan

yang diberikan pun tidak langsung diberikan, tetapi juga melewati

beberapa pertimbangan dan survey yang dilakukan oleh BMT apakah

orang-orang tersebut layak untuk diberi bantuan atau tidak. Dan apakah

orang-orang tersebut dapat bertanggung jawab atas apa yang sudah

diberikan/diamanahkan oleh BMT kepada mereka.

Khusus untuk pembiayaan qardhul hasan sendiri, salah seorang

kepala bagian yang merangkap menjadi staff marketing di KSPPS BMT

Mandiri Sejahtera cabang Ambarawa biasanya BMT menggunakan

prinsip 5C dalam mensurvei anggotanya, yakni:

1. Character

Penilaian ini berhubungan dengan kebiasaan, kejujuran,

kepribadian, dan kemauan calon penerima pembiayaan dalam

memenuhi kewajibannya.

2. Capability

Penilaian secara subjektif ini berhubungan dengan kemampuan,

kepandaian, dan keahlian si calon penerima pembiayaan untuk

menjalankan sebuah usaha.

3. Capital

Penilaian ini dilihat dari kemampuan modal si calon penerima

(51)

4. Collateral

Calon penerima pinjaman harus memberikan jaminan, tetapi

jaminan tersebut hanya untuk mengikat penerima pinjaman agar

bertanggung jawab dan membayar kembali pinjaman yang telah

diberikan. Mengingat dana ini memang digunakan untuk membantu

mensejahterakan masyarakat di sekitardan

5. Condition

Penilaian ini dilihat dari segi keadaan ekonomi yang sedang

berlangsung untuk pertimbangan di masa yang akan datang.

3. Program Kab. Semarang Cerdas

Dalam program ini, Bapak Joko mengemukakan bahwa BMT

Mandiri Sejatera mengalokasikan dana Infaq, Sodaqoh dan (hasil

deposito) Wakaf untuk diberikan kepada anak-anak sekolah yang

berprestasi tetapi dalam kondisi kurang mampu. Pemberian ini di lakukan

setiap pergantian tahun ajaran baru.

Setiap tahun ajaran baru, sekolah yang bekerjasama dengan BMT

Mandiri Sejahtera akan didahulukan untuk mendapatkan bantuan bagi

para pelajarnya. Seperti biasa, ada beberapa ketentuan-ketentuan khusus

untuk pemberian bantuan ini..

Bagi siswa/siswi berprestasi dan kurang mampu untuk membayar

(52)

belikan perlengkapan sekolah seperti tas, alat tulis dan sebagainya

dengan anggaran sebesar ±Rp 150.000,- sampai dengan Rp 200.000,-.

Hasil observasi penulis salama meneliti di BMT Mandiri Sejahtera,

dana tersebut tidak hanya dialokasikan untuk beasiswa saja tetapi BMT

juga merambah untuk men-sponsori setiap kegiatan perlombaan yang

diadakan di beberapa sekolahan yang bekerjasama dengan BMT. Seluruh

biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan lomba di biayai oleh BMT

Mandiri Sejahtera.

Beberapa waktu yang lalu penulis di ajak untuk melihat kegiatan

lomba RA daerah Ambarawa se-Kecamatan yang disponsori oleh BMT

Mandiri Sejahtera. Berdasarkan observasi di lapangan secara langsung,

memang benar seluruh biaya pengadaannya di biayai oleh BMT. Dengan

ini penulis menyimpulkan bahwasannya untuk posisi keterlibatan

manajemen perusahaan dalam mengimplementasikan program CSR di

lapangan, KSPPS BMT Mandiri Sejahtera menggunakan pola strategi

self managing strategy dimana cara pengimplementasiannya dilaksanakan sendiri di lapangan, tanpa menggunakan pihak ke dua atau

ke tiga. BMT sendiri yang merencanakan, merumuskan tujuan, target,

evaluasi, monitoring serta melaksanakannya. Berikut daftar lomba yang

diadakan yaitu:

a. Lomba mewarnai (untuk TK kecil)

b. Lomba menggambar (untuk TK besar)

(53)

d. Lomba silat (untuk putra), dan

e. Lomba da’i cilik (untuk putra dan putri)

4. Program Kab. Semarang Peduli

Pada program ini, dana yang terkumpul akan di alokasikan untuk

santunan kepada kaum duafa dan 8 ASNAF lainnya, seperti; fakir,

miskin, amil, muallaf, budak, orang-orang yang terlilit hutang, fi

sabilillah, dan ibnu sabil. Dari kategori di tersebut, BMT hanya akan

menyantuni beberapa diantaranya, karena tidak semua kategori selalu

ditemui oleh BMT.

Dari hasil wawancara penulis dengan Ibu Linda yang bekerja sebagai

Teller dan merangkap menjadi Customer Service menuturkan bahwa dalam pencarian orang-orang yang akan diberi bantuan ini, semua

pengelola BMT harus ikut bergerak tanpa terkecuali, untuk pencarian

anggota pun dilakukan hal yang sama. Baik yang marketing ataupun

tidak diwajibkan untuk ikut memantu dan terjun langsung. Karena

pengelola yang ada di BMT Mandiri Sejahtera masih sangat terbatas dan

tidak banyak seperti di Bank, jadi semua staff harus bekerjasama dalam

mencapai tujuan bersama. Penyaluran dana maal ini adalah bagian dari

tujuan BMT yaitu mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Karena BMT Mandiri Sejahtera tergabung dalam BAZNASDA

(Badan Amil Zakat Nasional Daerah) Kabupaten Semarang, jadi BMT

(54)

aktivitas amal dipandu oleh BAZNASDA. Salah satu hal yang di atur

oleh BAZNASDA adalah BMT di targetkan selama setahun mencari 2

orang untuk di bantu dengan dana ZISWAF, hal ini sudah berlaku sejak

tahun 2018 awal tahun ini. Dengan adanya peraturan ini, berarti BMT

Mandiri Sejahtera telah menjalankan teori Kontrak Sosial dimana BMT

Mandiri Sejahtera ini bukan hanya bertanggungjawab kepada stakeholder nya, tetapi juga dengan Pemerintah. BMT mencoba menaati peraturan

yang ada, dan tidak melanggar peraturan dan perundang-undangan yang

berlaku.

Pada tahun 2017 kemarin, BMT mendapatkan orang yang pantas

untuk mendapatkan bantuan melalui program ini. Beliau adalah Bapak

Sukarmin, pekerjaannya hanya sebagai marbot mesjid. beliau

mendapatkan bantuan dari BMT sebesaar Rp 100.000,-. Menurut

penuturan Bu Lili sebagai Kepala Bagian KSPPS Mandiri Sejahtera

cabang Ungaran, karena Bapak Sukarmin tidak ingin menerima uang

tersebut, maka uang tersebut di selipkan ke dalam gajinya. Bantuan ini

masih berjalan sampai sekarang.

Profil Penerima Santunan:

Nama : Sukarmin Karman

Alamat : Jl. Semboja, Bawen, Kab. Semarang

Usia : 50 tahun

(55)

Selain itu, BMT juga memiliki beberapa acara tertentu di hari-hari

tertentu untuk merealisasikan program ini. Seperti contohnya pada bulan

puasa Ramadhan, biasanya BMT Mandiri Sejahtera memiliki agenda

untuk berbuka bersama ± 30 kaum duafa dan anak yatim. Seperti biasa

semua karyawan diwajibkan mencari orang-orang yang membutuhkan

bantuan tersebut, minimal 1 orang karyawan harus mendapatkan 2 orang

untuk di ajak berbuka bersama. Setelah acara buka bersama selesai BMT

membagi-bagikan bingkisan berisi sembako kepada mereka dan juga

peralatan alat tulis untuk anak-anak yatim.

Bukan hanya acara di bulan ramadhan saja, tetapi BMT Mandiri

Sejahtera juga pernah mengadakan acara pengajian di sebuah desa kecil

di daerah Ambarawa. Pada acara tersebut semua biaya pengadaan di

tanggung oleh BMT. Di dukung oleh RT dan RW yang ada di desa

tersebut. Pengunjungnya pun selain warga desa, ada anak-anak yatim

Panti Asuhan yang ada di desa tersebut. Acara ini di meriahkan oleh

salah satu group Band sholawatan yang di bentuk oleh Bapak Joko.

Anggotanya terdiri dari 3 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, mereka

adalah anak-anak jalanan yang berasal dari berbagai daerah lalu

dikumpulkan oleh Bapak Joko untuk dibantu. Acara ini pun di akhiri

dengan pembagian sembako kepada warga desa yang datang dan alat

(56)

Tabel 4. 1. Daftar Sembako yang Diberikan Kepada per Orangan Sumber : Wawancara di BMT Mandiri Sejahtera

Secara teori tanggung jawab sosial perusahaan memang membawa

dampak positif bagi perusahaan maupun masyarakat di sekitarnya

(stakeholder). Memberikan manfaat yang sangat beragam bagi perusahaan yang dapat melihat CSR dari sisi positif. Walaupun banyak

sekali kritik atau masalah mengenai tanggungjawab sosial, tetapi itu

tergantung bagaimana setiap perusahaan dalam menyikapinya dan

mendudukan sebuah tanggungjawab sosial pada perusahaan.

Hasil wawancara dari pihak-pihak yang ada di KSPPS BMT Mandiri

Sejahtera, secara garis besar mereka mengemukakan bahwa tanggung

jawab sosial perusahaan ini sangat berpengaruh bagi BMT sendiri, baik

secara signifikan maupuan tidak. Manfaat yang diperoleh BMT Mandiri

Sejahtera dengan ada tanggung jawab sosial ini, diantaranya:

1. Adanya timbal balik

Setiap apapun yang kita lakukan pasti akan mendapatkan timbal

balik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika kita berbuat

(57)

hal yang buruk, maka timbal baliknya pun akan buruk. Timbal balik

disini mengacu pada teori legitimasi dimana saat perusahaan

menjadikan tanggung jawab sosial sebagai kewajiban dan bukan

beban, maka kita akan memperoleh legitimasi (pengakuan)

masyarakat dengan mudah. Timbal balik untuk perusahaan adalah

terjaganya image serta citra positif perusahaan, dan masyarakat akan

ikut mendukung kegiatan dan kebijakan yang akan di lakukan dan di

tentukan oleh perusahaan. Tidak hanya teori legitimasi saja, tetapi

jika perusahaan menjadikan semua teori tentang tanggungjawab

sosial sebagai acannya, maka timbale balik positif yang akan mereka

terima.

Dengan adanya legitimasi, selain perusahaan mendapatkan

timbal balik terjaganya image dan citra positif perusahaan,

perusahaan juga akan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Inilah

yang dimaksud dengan timbal balik yang paling signifikan. Selama

BMT mengedepankan Baitul Maal, maka akan lebih banyak

masyarakat yang mengenalnya. Dalam wawancara penulis dengan

Bapak Andi Setyawan, beliau menuturkan bahwa saat ini mulai

banyak permintaan proposal yang datang kepada BMT Mandiri

Sejahtera. Dan pada wawancara berikutnya, dengan Ibu Linda beliau

juga menurutkan bahwa tidak semua proposal dapat di terima (ACC)

tetapi hanya beberapa dan itu pun harus di sampaikan saat rapat

(58)

seperti apa. Untuk proposal dari luar kota jelas tidak akan diterima

karena jangkauannya terlalu jauh.

2. Mempengaruhi Ekonomi BMT

Dengan terpisahnya manajemen antara Baitul Maal dengan

Baitul Tamwil, memberikan tantangan kepada BMT agar keduanya bisa berjalan secara seimbang. Menurut Bapak Joko, dengan adanya

hal ini BMT dapat menghidupkan dana maal yang semula tidak

terlalu dihiraukan.

Pengaruh signifikan lainnya yaitu secara nominal ekonomi

(asset) dari BMT Mandiri Sejahtera sendiri ikut bertambah. Semakin

banyak masyarakat yang mengenal BMT, maka semakin banyak

masyarakat yang ingin menyimpan dan mengembangkan harta nya

di BMT Mandiri Sejahtera.

Salah satu staff marketing dari KSPPS BMT Mandiri Sejahtera

yaitu Bapak Oki, beliau menuturkan bahwa “semenjak BMT

semakin di kenal masyarakat, para staff marketing tidak pernah

mencari anggota, karena sudah banyak orang yang ingin bergabung

menjadi anggota dengan sendirinya tanpa diminta”.

3. Memberikan hal positif bagi Pengelola maupun para

Anggotanya

Sejak berdirinya BMT Mandiri Sejahtera, telah membawa

dampak positif untuk pendirinya yakni Bapak Andi Setyawan, Bapak

(59)

masing-masing, mereka bertiga adalah panutan yang patut untuk di contoh.

Mereka menularkan kabikan kepada setiap karyawan.

Apalagi dengan adanya kegiatan tanggungjawab sosial

perusahaan ini, dimana setiap karyawan BMT harus ikut terjun ke

lapangan. Sehingga membuat mereka mengerti dan paham tentang

keadaan disekitarnya. Serta menambah rasa syukur atas segala

nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita semua.

Jika hal ini berpengaruh positif bagi pengelolanya, tentu saja hal

ini juga berpengaruh positif juga bagi para anggotanya. BMT

Mandiri Syariah mencoba menularkan sifat berbagi kepada setiap

anggota. Contohnya dengan sedekah subuh yang diberikan di

warung-warung milik anggota. Belum lagi wajib wakaf bagi

pengajuan pembiayaan, sampai denda kifarat bagi yang terlambat

dalam mengangsur. Hal seperti ini harusnya bisa disadari oleh para

anggota. Walaupun kelihatannya hal ini sangat kecil dan mudah

tetapi jarang ada orang yang bisa melakukannya dengan ikhlas.

Hal ini terbukti pada kesempatan lalu saat penulis melakukan

penelitian, Ibu Linda menuturkan bahwa ada seorang anggota yang

mengajukan pembiayaan di BMT Mandiri Sejahtera dan

menyerahkan uang Rp 500.000,- untuk di wakafkan. Hal ini tentu

membuat bangga BMT sendiri, karena ternyata ada seorang anggota

yang berbaik hati dan tulus dalam beramal. BMT juga merasa

(60)

anggota untuk anggota lainnya atau masyarakat diluar sana yang

lebih membutuhkan.

B. Kendala saat Penerapan CSR (Corporate Social Responsibility)

Sebagai lembaga mikro syariah, KSPPS BMT Mandiri Sejahtera pasti

memiliki kendala dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaannya

sebagaimana perusahaan-perusahaan pada umumnya. Karena pada

kenyataannya memang perusahaan yang berhasil dalam penerapan tanggung

jawab sosial jumlahnya relatif sedikit. Untuk mendapatkan kepercayaan dari

para stakeholder tidak membutuhkan waktu yang singkat, semua itu

membutuhkan proses. Begitu juga dengan adanya kritik tentang tanggung

jawab sosial yang bermunculan di luar sana, menimbulkan berbagai persepsi

publik tentang perusahaan yang ada menjadi tantangan tersendiri bagi BMT

Mandiri Sejahtera untuk membangun reputasi dan citra positif perusahaan di

kalangan stakeholder. Hal itu tidak menyurutkan semangat dari BMT Mandiri Sejahtera untuk mewujudkan tanggung jawab sosial, karena memang itulah

dasar dari membangun sebuah BMT (Baitul Maal wa Tamwil).

Dari hasil wawancara, Bapak Andi menarik secara garis besar beberapa

kendala yang dialami BMT Mandiri Sejahtera pada saat

mengimplementasikan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) atau

(61)

1. Kendala pada anggaran

Sejak awal berdiri, BMT Mandiri Sejahtera telah memisahkan

bagian antara Baitul Maal dengan Baitul Tamwil, bukan berarti

dipisahkan secara bangunan tetapi secara manajemen. Baitul Maal

sendiri di manajeri oleh Bapak Joko Supriyanto selaku Manajer

Pemasaran di KSPPS BMT Mandiri Sejahtera. Memisahkan bagian

secara manajemen bukan berarti BMT lepas dari tanggung jawab

sosialnya, akan tetapi ini justru sebagai pemicu agar kedua bagian

manajemen terpisah tersebut berjalan secara seimbang tanpa ada yang

lebih unggul diantara keduanya. Hal ini sejalan dengan teori yang

dikemukakan oleh Aziz (2013:221) sudah saatnya setiap perusahaan

memberikan perhatian yang serius kepada masalah tanggungjawab sosial,

karena terbukti tanggungjawab sosial perusahaan memiliki peranan yang

signifikan dalam keberhasilan perusahaan di masa yang akan datang. Di

samping itu, tanggungjawab sosial perusahaan dapat menyeimbangkan

perusahaan dalam mencapai tujuan komersil dan tujuan lebih agung

terkait dengan CSR, yaitu salah satu dari rukun Islam tentang

pengeluaran ZAKAT. Melalui pengumpulan zakat akan dapat dibangun

masyarakat yang sejahtera.bahkan dalam instrument ilmu ekonomi Islam

sebagai bentuk dari tanggungjawab pribadi maupun sosial adalah

perangkat ZIS (Zakat, Infaq, dan Sodaqoh).

Dengan memisahkan bagian manajemen, secara otomatis dana juga

(62)

yang didapatkan dari sedekah subuh, dan pemotongan gaji suluruh

karyawan sebesar 2,5% setiap bulannya. Dana ZIS setiap bulannya akan

kumpulkan untuk dihitung. Tiap bulannya dana ZAI terkumpul sekitar ±

sejumlah Rp 2.000.000,-.

Untuk dana Wakaf memang masih berkaitan dengan bisnis, yaitu

dengan mewajibkan setiap anggota BMT Mandiri Sejahtera yang

mengajukan pembiayaan untuk membayar wakaf dengan pilihan nominal

sebanyak; Rp 5.000,-, Rp 10.000,-, Rp 20.000,-, Rp 25.000,-, Rp

50.000,-, Rp 100.00050.000,-,- dan seterusnya. Seluruh dana wakaf tersebut akan di

depositkan, setelah itu hasilnya akan di gabungkan dengan dana ZIS

untuk di berikan kepada yang lebih membutuhkan. Untuk dana wakaf

saat ini sudah terkumpul sekitar ± sejumlah Rp 8.000.000,- belum

termasuk perputarannya.

Tidak hanya dana ZIS saja, tetapi ada pemasukan lainnya juga.

Seperti yang kita ketahui untuk menyedekahkan harta kita bisa dari

Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf, Hibah, sumbangan, dana kifarat dan juga

pendapatan non-halal. Dana kifarat (denda kifarat) adalah denda yang

harus dibayar oleh anggota mengajukan pembiayaan tetapi ada

keterlambatan dalam pembayarannya (tidak sesuai waktu yang

ditentukan). Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Aris salah satu

staff Teller yang merangkap menjadi Customer Service di KSPPS

(63)

karena keterlambatan angsuran selama lebih dari 1 bulan dengan nominal

sukarela (tidak ditentukan).

Walaupun dana yang akan dikumpulkan berasal dari banyak hal,

tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kendala kekurangan dana. Hal

ini disebabkan karena kurangnya kepekaan dari para anggota yang dari

sebagian kalangan menengah ke atas. Sedikit dari mereka yang ikut

mengeluarkan dana untuk bersedekah. Yang kedua dari para

pengelolanya sendiri, kebanyakan dari staff BMT sibuk memikirkan

target bisnis sehingga melupakan kewajiban untuk mencapai target Baitul

Maal. Mereka menganggap bahwa gaji yang sudah dipotong setiap

bulannya itu sudah cukup untuk menutupi dana maal yang ada. Pada

kenyataannya dana yang tersedia masih saja kurang.

2. Kendala di lapangan

Menurut penuturan Bapak Andi, pelaksanaan tanggung jawab sosial

di BMT Mandiri Sejahtera terkadang tidak berjalan dengan maksimal.

Mengingat, terjun ke lapangan akan membawa kita berhadapan dengan

masyarakat yang beraneka motif, berbagai perilaku dan kemampuan

dengan cara pandang tetang social responsibility yang berbeda. Sehingga memang akan memunculkan persoalan yang membutuhkan adaptasi dan

tingkat kesukaran yang cukup tinggi.

Kurangnya komunikasi serta koordinasi yang baik antara

(64)

Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial ini membuat rencana yang semula tertata dengan rapih menjadi berubah saat di lapangan. Atau

mungkin sebaliknya, persiapan yang kurang matang dan rencana yang

belum tertata dengan rapi membuat apa yang ingin diberikan oleh BMT

kepada si penerima bantuan tersebut menjadi berubah dan tidak bisa

sesuai dengan rencana yang ada.

Adanya kendala yang dihadapi oleh KSPPS Mandiri Sejahteran ini,

dapat disimpulkan bahwa kurangnya penerapan pada setiap evaluasi yang

dilakukan BMT untuk meminimalisir kendala yang sering terjadi. Karena

evaluasi dan pemantauan yang dilakukan guna mengetahui sejauhmana

pencapaian tujuan program serta apakah terdapat penyimpangan yang

membutuhkan tindakan koreksi, harus diterapkan dalam kegiatan

berikutnya. Paling tidak, evaluasi merupakan usaha prefentif munculnya

berbagai kesalahan dan kekurangefektifan pada suatu program yang

sedang dilaksanakan seperti program tanggungjawab sosial ini. Terutama

bagi tanggungjawab sosial yang bersifat multy years. Mengingat

banyaknya kendala di lapangan yang selalu menghadang dalam setiap

praktik tanggungjawab sosial perusahaan ini terhadap masyarakat dan

lingkungan (Hadi, 2011:148).

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut BMT Mandiri Sejahtera

terus berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik dalam setiap

(65)

serta saran dari para anggota. Memperbaiki berbagai kesalahan dan

kekurangefektifan yang sering terjadi. Terus meningkatkan tanggung

jawab sosialnya selaras dengan teori legitimasi yang dikemukakan oleh

Carroll dan Buchholtz (2003) dalam Hadi (2011:92) bahwa

perkembangan tingkat kesadaran dan peradaban masyarakat membuka

peluang meningkatnya tuntutan terhadap kesadaran kesehatan

lingkungan. Lebih lanjut dinyatakan, bahwa legitimasi perusahaan di

mata stakeholder dapat dilakukan dengan melaksanakan etika dalam

berbisnis serta meningkatkan tanggung jawab sosial perusahaan (social responsibility). Hasil wawancara penulis dengan Bapak Andi Setyawan, menyatakan bahwa dalam penerapan tanggung jawab sosialnya BMT

Mandiri Sejahtera memiliki beberapa strategi khusus yang bertujuan

untuk meningkatkan dana maal (ZISWAF), diantaranya adalah sebagai

berikut:

a. Untuk mengatasi kendala Anggaran

1) Untuk mengembangkan dana ZIS (Zakat, Infaq dan Sedekah)

yang tadinya hanya mengambil dari gaji karyawannya saja, kini

BMT mulai menambah strategi baru yaitu melalui sedekah

subuh. Sedekah subuh disini adalah strategi dengan memberikan

celengan di setiap meja karyawan, dan menitipkan celengan

tersebut kepada anggota BMT terutama yang memiliki warung.

Agar bukan hanya pemilik warung saja yang mengisinya tetapi

Figur

Gambar 3. 1. Gambar Struktur Organisasi KSPPS BMT Mandiri Sejahtera
Gambar 3 1 Gambar Struktur Organisasi KSPPS BMT Mandiri Sejahtera . View in document p.38
Tabel 4. 1. Daftar Sembako yang Diberikan Kepada per Orangan
Tabel 4 1 Daftar Sembako yang Diberikan Kepada per Orangan . View in document p.56

Referensi

Memperbarui...