• Tidak ada hasil yang ditemukan

pemilu 2014 kota padang doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "pemilu 2014 kota padang doc"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perbedaaan antara laki – laki dan perempuan adalah cerita lama yang akan

selalu menjadi buah bibir orang – orang, perbedaan yang dimaksud tidak

hanya pada faktor biologis semata yaitu fisik, karena memang laki – laki

secara kodrati memiliki bentuk fisik dan power lebih besar dari pada wanita.

Perbedaan secara sex (jenis kelamin) antara dua jenis anak Adam tersebut

membawa dampak yang secara kodrati sangat jauh berbeda satu dengan yang

lainya, seperti seorang perempuan menjadi seorang ibu dia akan melalui frase

hamil, melahirkan dan menyusui anak – anaknya hal ini tentu tidak bisa

dilakukan oleh seorang ayah. Perbedaan secara sex memang merupakan

karunia Tuhan yang luar biasa yang tidak bisa ditolak, ataupun diminta dan

diubah walapun banyak orang pada zaman sekarang yang bisa mengubah jenis

kelamin namun tidak bisa mengubah kodrat yang dibawa sejak lahir.

Karena perbedaan secara sex antara laki –laki dan perempuan yang kodrati

membawa dampak sosial kultural, secara kesempatan dan peluang pada banyak

bidang seperti Ekonomi, Politik, Pendidikan. Orang masih melihat melihat

perbedaan yang jelas antara laki – laki dan perempuan, hal ini terlihat dari

penguasaan sektor Publik yang didominasi oleh laki – laki sedangkan

perempuan banyak mengerjakan pekerjaan pada sektor domestik (urusan

rumah tangga). Hal ini terjadi tidak hanya karena kualitas perempuan yang

terkadang kurang bisa bersaing jika dibandingkan dengan laki – laki ditambah

lagi beberapa masyarakat yang ada juga menganut budaya patriarki1 tentunya

(2)

akan semakin membuat posisi wanita sulit mendapatkan aksespada sektor

domestik yang selama ini memang selalu dikendalikan oleh laki – laki.

Berbagai diskriminasi yang diterima para perempuan selama ini seperti

ketimpangan pendidikan, kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan

perempuan, marginalisasi, subordinasi perempuan, stereotip jenis kelamin,

beban kerja yang lebih berat (Wirdanengsih 2011)2 bukanlah karena perbedaan

jenis kelamin yang mereka miliki tetapi lebih banyak karena permasalahan

gender yang berkembang ditengah – tengah masyarakat Indonesia yang

menguasai sektor publik sangat didominsi oleh para laki – laki tidak terkecuali

pada ranah politik. Gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki

– laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.

Misalnya, bahwa perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau

keibuan. Sementara para laki – laki dianggap kuat, rasional, jantan dan

perkasa.3 Ciri ini sebenarnya dapat dipertukarkan artinya laki – laki juga bisa

memiliki sifat seperti perempuan dan begitu juga sebaliknya.

Permasalahan adanya gender dalam politik selama ini tidak dapat

dipungkiri kenyataannya. Politik memang seperti dunianya kaum laki – laki

secara kultural, namun sebenarnya kaum perempuan juga memiliki hak sama

dalam kebebasan berpolitik baik itu keterlibatan politik secara pasif maupun

keterlibatan secara aktif. Dalam keterlibatan para perempuan dalam politik

praktis selama ini dinilai kurang memdapatkan porsi yang selayaknya,

walaupun telah banyak hal ini mendapatkan perhatian berbagai pihak mulai

dari aparatur negara sampai pada pihak – pihak yang juga memperjuangkan

2 Wirdanengsih, 2011. Dinamika perempuan dalam kajian gender. Bogor : Yayasan Lentera Istiqlal (Hal 3-5)

(3)

hak para kaum perempuan di panggung politik. Hal ini dilihat dari Intruksi

Presiden Republik Indonesia (INPRES) No 9 tahun 2000 Pengarusutamaan

Gender Dalam Pembangunan Nasional Republik Indonesia. Konvensi

mengenai hak politik perempuan tahun 1952 diratifikasi menjadi UU No 68

Tahun 1958, Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan

Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap

Perempuan (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran

Negara Nomor 3277).

Jika bicara gender dalam panggung politik, terutama politik di Indonesia

masih banyak beraromakan gender, walaupun berbagai cara yang telah

ditempuh agar proposisi dan keterwakilan perempuan diPangung politik dapat

mewakili suara parempuan. Adanya quota 30 % pada pemilu tahun 2004 dan

sistem silang seling bagi perempuan pada pemilu 2009 sehingga setiap parpol

harus memiliki kader atau caleg perempuan dengan munculnya aturan baru

tersebut hal ini merupakan tindakan affirmatif action guna memberi

kesempatan seluas – luasnya bagi perempuan berkiprah di bidang politik

namun hal ini belum memberikan kesempatan keterwakilan perempuan dengan

sistem penempatan caleg secara Zig Zag dengan harapan keterwakilan

perempuan dengan jumlah yang lebih banyak lagi, harapan ini seolah – olah

gugur dengan keluarnya keputusan mahkamah konstitusi No

22-24/PU-VI/2008 dengan keputusan caleg yang terpilih adalah berdasarkan suara

terbanyak bukan no urut lagi.

Di samping itu banyak orang yang mempertanyakan kualifikasi caleg

(4)

memang memiliki persepsi masing – masing tentang perempuan dan

dibandingkan laki – laki mereka memiliki tingkat kepercayaan sendiri dalam

masyarakat. Ini juga permasalahan gender karena anggapan laki – laki lebih

layak dan patut menjadi pemimpin dari pada perempuan. Tentunya ini sebuah

penilaian yang sangat subjektif terhadap salah satu jenis kelamin padahal

kecakapan dalam memimpin, kecerdasan, pengalaman, perilaku bukanlah hal

yang kodrati dibawa dari lahir karena hal itu bisa didapat dari proses

pembelajaran sepanjang hayat. Artinya apa, untuk menjadi pemimpin yang

baik, bagus dan panutan serta berdedikasi yang tinggi (loyalitas) terhadap tugas

yang diembannya bukanlah hak mutlak yang hanya bisa dimiliki oleh kaum

laki – laki semata, para perempuan juga bisa masuk kepanggung politik dengan

kualitas – kualitas yang dapat dipertimbangakan, tidak sedikit wanita yang

mampu menaklukan panggung politik dengan background yang berkualifikasi

sama seperti laki – laki baik dari segi pandidikan, pengalaman organisasi

maupun jaringan sosial yang luas.

Konteks perempuan dalam panggung politki memang sangat subjektif

sekali karena pandangan masyarakat Indonesia masih memiliki budaya

patriarki yang tinggi dan propaganda yang berbau gender selama ini. Tak

terkecuali di Sumatera Barat, Jika melihat dari perbandingan jumlah penduduk

Indonesia BPS jumlah Penduduk Indonesia sekarang 244.011.299 jiwa dan

khusus Provinsi Sumatera Barat 4.555.810 jiwa dengan perbandingan jumlah

laki – laki 2.248.970 jiwa dan perempuan 2.306.840 dengan sex ratio 07. 4

Dari data yang BPS di atas terlihat perbandingan jumlah penduduk

Indonesia khususnya Sumatera Barat dimana jumlah penduduk perempuan

(5)

lebih banyak dari pada jumlah penduduk laki – laki namun keterwakilan secara

politik wanita jauh lebih sedikit dari laki – laki padahal ada banyak wacana

tentang perempuan yang juga harus melibatkan perempuan itu langsung dalam

panggung politik. Ketimpangan jumlah perwakilan politik memang jelas sekali

terlihat Di Indonesia seperti data Hasil riset Puskapol UI5 tentang pencalonan

perempuan pada Pemilu 2009 menunjukkan bahwa memperbanyak jumlah

caleg perempuan akan membuka peluang keterpilihannya di setiap daerah

pemilihan. Data berikut ini menunjukkan untuk pencalonan DPR RI, total

wilayah daerah pemilihan (gabungan kabupaten/kota) tingkat DPR RI yang

pencalonan perempuan di bawah 30% terdapat di 8 daerah pemilihan dari 77

daerah pemilihan DPR RI, atau setara 10% total wilayah. Seperti dilihat pada

tabel berikut ini:

No Daerah Pemilihan DPR yang pencalonan perempuan di bawah 30% pada Pemilu 2009

4 Sulawesi Selatan 2 (Sinjai, Bone, Maros, Bulukumba, Pangkajene Kepulauan, Barru, Kota Pare Pare, Soppeng,

Wajo) 27.78%

(6)

5 Jawa Tengah 1 (Semarang, Kendal, Kota Salatiga, Kota

Semarang) 28.03%

6 Maluku Utara

28.05%

7 Aceh 1 (Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Kota Subulussalam, Aceh Singkil, Simeulue

28.38%

8 Jawa Tengah 3 (Grobogan, Blora, Rembang, Pati)

28.77%

Perolehan suara caleg perempuan juga signifikan menambah perolehan

suara partai politik di setiap daerah pemilihan. Data Puskapol UI menunjukkan

dari total suara pemilih untuk caleg DPR RI (71.865.110), sejumlah 16 juta

adalah suara pemilih yang diberikan untuk caleg perempuan (setara 22,45%).

Selanjutnya dilihat dari data 463 kabupaten/kota, terdapat di 206 kab/kota,

suara yang diberiukan untuk caleg perempuan mencapai 11-20%. Bahkan ada

sejumlah kabupaten/kota yang suara untuk caleg perempuan mencapai lebih

dari 50%, melebihi jumlah suara untuk caleg laki-laki. Ini merupakan wilayah

tinggi perolehan suara caleg perempuan yang (mestinya) potensial bagi

keterpilihan caleg perempuan. Seperti informasi tabel berikut ini:

(7)

3

21 – 30% 134 kab/kota (29%)

4

31 – 50% 66 kab/kota (14%)

5

Di atas 50% 7 kab/kota (2%)

Data di atas telah memberikan gambaran tentang peluang dan kiprah

perempuan dipanggung politik.

Sumatera Barat salah satu Provinsi yang juga ikut dalam pemilu 2014.

Secara konstitusi tentunya hak semua perempuan Indonesia tak terkecuali

siapapun dia, dari latar belakang apapun berhak mendaftarkan diri menjadi

caleg. Begitupun perempuan di Sumatera Barat juga berhak mendapatkan hak

berpolitik salah satunya dengan cara menjadi kader dan caleg yang akan

diusung oleh 15 parpol yang lulus verifikasi pemilu dan seleksi untuk

mengikuti pemilu 2014 seperti data KPU Sumbar6

No Parpol

Dapil 1 Dapil 2 Dapil 3 Dapil 4 Dapil 5 Jumlah

Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr

1

Nasdem 6 3 6 3 7 3 5 3 6 3 30 15

2

PKB 6 3 6 3 7 3 5 3 6 3 30 15

(8)

3

Dapil 3: Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kecamatan Lubuk Begalung,

Kecamatan Lubuk Kilangan

Dapil 4: Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Padang Timur

Dapil 5: Kecamatan padang Barat, Kecamatan Padang Utara, Kecamatan

(9)

Dari data KPU Sumbar di atas dapat terlihat data jumlah caleg perempuan

di Kota padang masih sangat minim dibandingkan dengan caleg laki – laki,

namun dengan munculnya banyak perempuan sebagai caleg tentunya

membawa angin segar pada aspirasi politik kaum perempuan. Permasalahanya

adalah pegakuan secara sosial kultural terhadap caleg – caleg perempuan yang

mengajukan diri dalam pemilu. Pengakuan secara sosial kultural itu jauh lebih

penting dari pada pengakuan legitimasi secara hukum dan tertulis, karena

menyangkut kepercayaan masyarakat umum untuk memilih seorang

perempuan menjadi wakil mereka di panggung politi. Hal ini juga di perkuat

oleh paham – paham gender yang berkembang di tengah – tengah masyarakat

Indonesia pada umumnya dan masyarakat sumatera Barat pada Khususnya.

Adanya keyakinan yang telah tertanam kuat dan mengakar dalam masyarakat

Sumatera Barat yang mayoritasnya adalah orang Minangkabau bahwa

pemimpin itu sebaiknya kaum laki – laki, bahkan dengan semboyan “jika masih ada laki – laki sebagai calon pemimpin mengapa harus memilih yang perempuan”. Cara berpikir seperti ini adalah efek dari paham gender dan penilaian secara subjektif terhadap kemampuan perempuan dalam bidang

politi. Hal ini tanpa disadari telah membuat kaum perempuan terdiskriminasi

secara sosial di panggung politik. Seakan – akan perempuan masuk panggung

politik di Sumatera Barat hanya untuk meramaikan pesta demokrasi semata ,

mereka sebagai pelengkap daftar urut caleg, hanya untuk mempercantik nama

parpol karena telah mengusung nama perempuan dan untuk lulus syarat yang

(10)

parahnya lagi jika perempuan mendaftarkan diri sebagai caleg mereka seakan –

akan sudah benar – benar harus siap kalah dan kehilangan semua yang telah

dikorbankan selama proses pemilihan hal ini juga diperparah dengan

Stereotipe7, Kenyataannya ialah bahwa setiap kehidupan wanita itu mencakup

pekerjaan, keluwesan dan kebutuhan adanya kerjasama, dalam hal ini lebih

dahulu kita akan mengamati peran – peran umum yang berlawanan, yaitu:

wanita rumah tangga dan wanita karier8 tak terkecuali berkarier di panggung

politik. Jika hal ini benar maka kecil sekali kemungkinan para perempuan bisa

berkiprah di panggung politik dengan jumlah yang bisa bersaing dengan

jumlah caleg laki – laki yang selama ini telah didominasi oleh para laki – laki

akibat konstruksi sosiokultural (gender) terutama di Sumatera Barat. Antara

masyarakat dengan politik sendiri memiliki hubungan timbal balik9

Ket:

tergantung kondisi sosial budaya dan pola pikir masyarakat.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis ingin memfokuskan

penelitian ini pada keterkaitan gender dengan tingkat partisipasi caleg

7 Stereotipe : sikap yang memberikan anggapan / penilaian mengenai sifat/ karakter kelompok tertentu berdasarkan prasangka subjektif dan mengabaikan fakta. Atau sebagai pemberian citra kaku terhadap kelompok lain (Suku bangsa, Ras, Agama, Jenis kelamin )

8 Brunetta R. Wolfman. 1989. Peran Kaum Wanita. Yogyakarta: Kanisius hal 21

9 Damsar. 2012. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group hal 13

(11)

perempuan pada pemilu legislatif 2014. Berangkat dari permasalah tersebut

maka pertanyaan yang akan dijawab adalah Apakah gender mempengaruhi

tingkat partisipasi politik perempuan pada pemilihan calon legislatif ?.

C. Tujuan

Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka

penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Apakah gender mempengaruhi

tingkat partisipasi politik perempuan pada pemilihan calon legislatif.

D. Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat akademis: akan menghasilkan tulisan ilmiah yang berkaitan

dengan gender dan politik, juga memberikan analisis tersendiri dalam

melihat fenomena politik dalam perspektif gender.

2. Manfaat praktis: penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

masyarakat yang ingin terjun dan berkiprah di panggung politik serta

ingin memberikan pemahaman terntang gender dan politik

(12)

Brunetta R. Wolfman. 1989. Peran Kaum Wanita. Yogyakarta: Kanisius

Damsar. 2012. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Fakih, Mansour. 1999. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Jackson, Stevi dan Jackie, Jones. 2009. Pengantar Teori – Teori Feminisme Kontemporer. Yogyakarta & Bandung : Jalasutra (sumber terjemahan Contemporary Feminist Theories, Edited By Stevi Jackson and Jackie Jones, New York University Press, 1998)

Puscapol. UI. Center For Pilitical Studies. Pecalonan 30 % Perempuan Pada Pemilu 2014. Diakses 21 Maret 2014

Wirdanengsih, 2011. Dinamika Perempuan Dalam Kajian Gender. Bogor : Yayasan Lentera Istiqlal

www//http:BPS(Badan Pusat Statistik). Diakses 20 Maret 2014

(13)

Out Line

Tingkat Patisipasi Politik Perempuan Dalam Pemilu

2014

(Analisis Antropologi Gender)

Arjenia Tona Arman

17605/2010

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Gambar

tabel  berikut ini:

Referensi

Dokumen terkait

Apakah peserta diklat memberikan saran/masukan terkait dengan layanan yang diberikan oleh lembaga?. Apakah peserta diklat memberikan saran/masukan terkait dengan

Dari tujuh karakteristik responden Desa Cinagara dan Desa Pasir Buncir hanya dua karakter yang akan diuji dengan menggunakan pengujian regresi linear berganda, diduga dua

Objektif kajian ini adalah mengenal pasti bentuk kata pinjaman bahasa Arab dalam bahasa Minangkabau dan seterusnya menganalisis adakah kata-kata pinjaman tersebut

C. Susunan tata-tempat pada sidang-sidang di Aula Bank Indonesia.. Seperti tertera dalojn rjurat keputusan Presidium Kabinet Kerdja tanjgal 26 Pebruari 196^!- No.Aa/C/ll/196AS

Model terbaik adalah hasil pemodelan dari metode RKU yang ditambahkan peubah boneka pada data presipitasi GCM dengan time lag berdasarkan bentuk model yang lebih

Adsorpsi fisika terjadi bila gaya intermolekular lebih besar dari gaya tarik antar molekul atau gaya tarik menarik yang relatif lemah antara adsorbat dengan

[r]