BAB I beberapa ruas jalan tertentu di Kabupaten Sukabumi.
Studi ini untuk dapat menyajikan unjuk kerja Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, mengidentifikasi permasalahan yang ada dan memberikan rekomendasi atau usulan-usulan untuk memecahkan permasalahan permasalahan di daerah penelitian tersebut. Transportasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia, oleh karena itulah jasa akan angkutan umum yang ada dalam suatu Kota atau daerah sangat dibutuhkan dalam melakukan pergerakan terutama pendukung utama aktivitas manusia. Dalam bidang transportasi terutama jalan raya dikenal tiga hal yang satu sama lain saling mempengaruhi yaitu faktor pertama tata guna lahan, yang mempengauhi pergerakan, faktor kedua lalu lintas yang ada sebagai akibat dari adanya pergerakan ( mobilitas ) orang dan barang, faktor ketiga sarana yang digunakan untuk memindahkan orang atau barang serta prasarana sebagai pendukung dalam melakukan pergerakan.
C. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari penulisan Laporan Umum ini adalah untuk memberikan gambaran secara umum mengenai kondisi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan juga mengidentifikasi permasalahan dalam bidang manajemen dan rekayasa lalu lintas yang ada di Kabupaten Sukabumi.
Penulisan Laporan Umum ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Mendapatkan data tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Kabupaten Sukabumi yang menyangkut tentang karakteristik permintaan ( demand )
akan jasa angkutan dan penawaran ( supply ) dari sarana dan prasarananya, pengoperasian serta pola pergerakan di Kabupaten Sukabumi.
dan Angkutan Jalan di Kabupaten Sukabumi dengan merangking masalah yang terburuk yang perlu mendapatkan prioritas penanganan.
D. RUANG LINGKUP
Dalam penyusunan laporan ini yang menjadi ruang lingkup adalah wilayah Kabupaten Sukabumi bagian utara secara spesifik ialah pada kecamatan Cibadak :
Karena transportasi selalu terkait dengan sektor - sektor lainnya dan mempunyai permasalahan yang kompleks, maka pembahasan dan penelitian masalah - masalah yang ada akan ditinjau untuk rekomendasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas ( Traffic Engineering ) dalam hal ini memberikan gambaran tentang unjuk kerja lalu lintas yang ada serta permasalahan yang sedang di hadapi pada daerah studi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Tinjauan Literatur
Hasil penelitian yang didapat oleh penulis terdahulu yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan , sebagai berikut:
a. Wardhana (2011) , Analisis Peningkatan Kinerja lalu lintas terhadap rencana pembangunan jalan lingkar selatan di Kota Bojonegoro
b. Faridli (2013) , Studi Kelayakan Pembangunan Jalan Lingkar Barat Dalam Kota Surabaya.
Peneitian studi ini untuk menguji kelayakan proyek layak atau tidak layak untuk dibangun lingkar barat Kota Surabaya dengan analisa ekonomi. Terdapat permasalahan dari penelitian yang disampaikan pada di atas yaitu berkurangnya nilai aksesibilitas Kota Surabaya dengan begitu cepatnya perekonomian dan minat orang untuk selalu bergerak dan akhirnya tin gkat pelayanannya jatuh di titik jenuh perlu dibutuhkan penanganan terkait manajemen yang akan diusulkan. Metode yang digunakan penulis tersbut ialah penghematan nilai waktu dan konsumsi bahan bakar yang nantinya juga akan digunakan dalam analisis lanjutan di analisis ekonomi yang menjadi acuan layak atau tidaknya digunakan pembangunan lingkar barat tersebut. Parameter tersebut adalah NPV,BCR dan IRR. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwasanyalayak segera untuk dibangun.
Pada penelitian ini terdapat persamaan dalam kajian analisis kinerja lalu lintas dan ekonomi dengan penelitian wardhana (2011) yaitu kajian kinerja lalu lntas dan indicator aksesibilitas eksisting , tahun rencana tanpa penanganan serta analisa ekonominya.
Tetapi ada perbedaan dalam penelitian ini karena dalam penelitian ini mengkaji bagaimana penanganan mana yang paling efektif dengan berbagai skenario misal peningkatan kapasitas jalan dan pembangunan jalan baru.
B. GAMBARAN UMUM 1. Wilayah Admisnistratif
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Bogor Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Lebak Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Sungai Cimandiri dan
Kecamatan Ciemas
Adapun untuk wilayah studi secara Administratif Kabupaten ini terbagi dalam 27 kecamatan, 211 desa ( wilayah studi )
2. Kondisi perekonomian
Sumber: Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2011
Gambar II.1 : Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Sukabumi Tahun 2015
3. KONDISI TRANSPORTASI
a. Jaringan Jalan
Jaringan jalan di wilayah Kabupaten Sukabumi pada dasarnya berpola linier dengan koridor utama yaitu ruas jalan negara yang membentang dari perbatasan Kabupaten Bogor sampai dengan perbatasan Kabupaten Cianjur yang membentang dari timur ke barat.
b. Kepemilikan Kendaraan
Tabel II.2 : Jenis Kendaraan berdasarkan Jumlahnya
JENIS KENDARAAN JUMLAH
MOBIL PENUMPANG 916
MOBIL BARANG 1305
BUS 12
SEPEDA MOTOR 38029
JUMLAH 40262
Sumber : Kabupaten Sukabumi Dalam Angka
Dari data di atas maka diperoleh data bahwa jumlah kepemilikan kendaraan terbanyak adalah pada jenis kendaraan Sepeda motor dengan jumlah kendaraan sebanyak 38029 kendaraan, dan kepemilikan kendaraan terendak adalah pada jenis kendaraan Bus yaitu sebanyak 12 kendaraan. Agar lebih jelasnya berikut adalah prosentase dari jumlah kepemilikan kendaraan berdasarkan jenisnya di Kab. Sukabumi.
Gambar II.2 : Prosentase Kepemilikan Kendaraan
BAB III
A. Pola Pikir Penelitian
Pola pikir penelitian ini seperti yang tampak pada dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Input
Perlunya menyediakan data mengenai data jaringan jalan dan inventarisasi jalan di Kabupaten Sukabumi.
2. Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian (sumber data) adalah kendaraan yang melintas ( Volume ) dan Data Inventarisasi ruas jalan dan simpang Kabupaten Sukabumi.
3. Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian antara lain data sekunder dan data primer mengenai:
a Kinerja Lalu Lintas
b Permasalahan di ruas atau simpang
c Saran dan rekomendasi manajemen dan rekayasa. 4. Metode
Dalam penelitian ini akan digunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif, yakni dengan menganalisis kinerja jaringan jalan serta kondisi sarana dan prasarana dengan inventarisasi jaringan jalan, melakukan pengamatan langsung di lapangan.
5. Output
Output dari hasil penelitian ini adalah tersusunnya profil rekomendasi menajemen rekayasa lalu lintas di Kabupaten Sukabumi.
6. Outcome
Target data yang didapat dari survei inventarisasi jalan yaitu :
a). Panjang ruas
b). Lebar jalur efektif
c). Lebar bahu efektif
d). Lebar trotoar
e). Jenis perkerasan jalan
f). Jumah lajur
g). Tipe jalan
h). Fasilitas perlengkapan jalan
3). Persiapan Survei
Gambar III.2: Bagan Alir Bidang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas
PENGUMPULAN DATA
DATA SEKUNDER : Data Jaringan Jalan berdasarkan
jenisnya
a). Peralatan dan Perlengkapan
Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan survei inventarisasi jalan adalah :
(1) Pita ukur dan roda meteran
(2) Alat – alat tulis
(3) Formulir survei
(4) Clip board b). Tenaga Pelaksana
Dalam survei inventarisasi jalan dilakukan oleh anggota Tim Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi yang berjumlah 16 (enam belas) orang tenaga surveyor / Pembantu lapangan.
c) Lokasi Survei
Survei inventarisasi jalan dilakukan pada setiap jalan yang berada di Kabupaten Sukabumi yang studi. Diawali dengan ruas utama yaitu jalan arteri yang memiliki volume lalu lintas tinggi antara daerah Cibadak dengan Cisaat
d) Waktu Pelaksanaan Survei
Survei inventarisasi jalan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan survei pencacahan lalu lintas terklasifikasi, pada waktu malam hari atau pada waktu hari libur.
e) Pelaksanaan Survei
Survei inventarisasi jalan dilakukan dengan melakukan pengamatan, mengukur, dan mencatat data langsung ke formulir survei, sesuai dengan target data yang dibutuhkan. Data yang didapat pada survei ini yaitu :
(1) Panjang jalan, lebar jalan, lebar trotoar, lebar bahu
(3) Kondisi jalan saat sekarang.
b. Survei Inventarisasi Prasarana Jalan dan Simpang
Survei ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung dengan mengetahui titik lokasinya serta jenis dari prasarananya. Berikut uraian dari survei inventarisasi :
1) Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari survei inventarisasi prasarana yaitu untuk mengetahui tingkat ketersediaan prasarana jalan dan simpang bagi pengguna. Dari data survei ini dapat digunakan dalam indicator perangkingan jalan dan simpang secara statis.
2) Target Data
Target data yang diperlukan dari survei inventarisasi prasarana yaitu :
a) Terminal
b) Parkir
c) Halte
d) Stasiun
e) Pelabuhan
3) Persiapan Survei
a) Peralatan dan Perlengkapan
Diperlukan peralatan dan perlengkapan dalam survei inventarisasi prasarana yaitu :
(2) Clip board
(3) Formulir survei
(4) Alat – alat survei
(5) Camera
b) Tenaga survei
Pada survei ini dilakukan oleh 16 (enam belas) orang tenaga surveyor / Pembantu lapangan.
c) Lokasi survei
Survei inventarisasi prasarana dilakukan pada setiap jalan dan simpang yang ada di wlayah Kabupaten Sukabumi yang di studi.
4) Waktu dan Pelaksanaan Survei
Pengambilan data survei inventarisasi prasarana dilakukan bersamaan dengan survei inventarisasi jalan dan simpang, pada waktu hari libur, atau pada malam hari. Dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung dan pengukuran setiap prasarana yang tersedia.
c. Survei Pencacahan Lalu Lintas Terklasifikasi
Survei pencacahan lalu lintas dilakukan pada semua jaringan jalan yang merupakan daerah wilayah perbatasan. Menurut waktu surveinya dibedakan menjadi tiga yaitu 16 (enam belas) jam, 24 (dua puluh empat) jam, dan tiap setengah jam (TC screenline). Dibedakan lagi menurut lokasinya adalah tc kordon dalam dan kordon luar.
1) TC kordon dalam
Maksud dan tujuan dari survei TC kordon dalam yaitu untuk mengetahui pola dan karakteristik lalu lintas pada setiap jalan yang berbatasan dengan CBD. Tujuannya untuk mengetahui beberapa data yang diperlukan yaitu :
(1) Mengetahui pola lalu lintas
(2) Mengetahui fluktuasi volume lalu lintas pada suatu ruas dalam tiap arah
(3) Mengetahui fluktuasi volume lalu lintas tiap jenis kendaraan
(4) Mengetahui volume jam tersibuk pagi, siang, dan sore
(5) Mengetahui periode sibuk pagi, siang, dan sore
(6) Mengetahui proporsi tiap kendaraan di suatu ruas dalam tiap arah
(7) Mengetahui kepadatan lalu lintas pada suatu ruas dalam tiap arah
(8) Mengetahui split distribusi arah
b) Target Data
Pada survei pencacahan lalu lintas terklasfikasi target yang diambil adalah arus lalu lintas dan jenis klasifikasi kendaraan pada suatu ruas dalam tiap arah, di jalan yang merupakan lintasan menuju dan keluar dari CBD.
c) Persiapan Survei
(1) Peralatan dan Perlengkapan
Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan saat survei pencacahan lalu lintas terklasifikasi yaitu :
(b) Formulir survei
(c) Clip board
(d) Alat penghitung (counter)
(2) Tenaga Pelaksana
Pada survei pencacahan lalu lintas terklasifikasi dilakukan oleh semua anggota 16 (enam belas) orang tenaga surveyor / Pembantu lapangan.
(3) Lokasi Survei
Survei pencacahan lalu lintas terklasifikasi dilaksanakan di jalan yang berbatasan dengan CBD, yaitu di lokasi :
(a) Parungkuda
(b) Bantarmuncang
(c) Cicantayan
(d) Cikidang
(e) Nagrak
d) Waktu dan Pelaksanaan Survei
Survei pencacahan lalu lintas terklasifikasi dilaksanakan selama 30 November – 3 Desember 2015 selama 4 ( Empat ) hari, yang dilakukan selama 16 (enam belas) jam dimulai dari jam 06.00 WIB sampai jam 22.00 WIB.
arus kendaraan yang melintas tanpa terhalang oleh benda apapun. Surveior melakukan penghitungan dengan interval waktu setiap 15 (lima belas) menit selama survei dilakukan dalam 16 (enam belas) jam.
d. Survei Gerakan Membelok Terklasifikasi
Survei gerakan membelok terklasifikasi dilakukan pada setiap simpang, terutama bagi simpang yang memiliki hirarki pendekat arteri – arteri, arteri – kolektor dan kolektor – kolektor. Berikut bagan alir dari pengumpulan data survei gerakan membelok terklasifikasi :
Pengumpulan Data
Data Sekunder :
Data volume lalu lintas pada persimpangan
Klasifikasi jumlah kendaraan tiap jenis di setiap gerkan membelok pada persimpangan
Fluktuasi arus lalu lintas
Periode jam sibuk
Jam tersibuk pagi, siang, dan malam
Jumlah kendaraan yang terhenti dan terlewatkan
Analisa Data Hasil :
Derajat kejenuhan (pendekat paling kritis)
Jumlah kendaraan yang dilewatkan dan terhenti dalam simpang perjam waktu sibuk
Proporsi kendaraan berat di simpang
Proporsi sepeda motor
Gambar III.4 : Bagan Survei Gerakan Membelok Terklasifikasi
1) Maksud dan Tujuan
Maksud dari survei gerakan membelok terklasifikasi dilakukan pada persimpangan guna mengetahui tingkat kepadatan lalu lintas di setiap simpang, berdasarkan jenis gerakan dalam setiap jenis kendaraan.Dilakukan dengan pengamatan dan penghitungan secara langsung pada setiap kaki simpang.
Tujuan dari survei ini yaitu untuk mengetahui desain geometrik persimpangan, jenis pengendalian persimpangan, volume lalu lintas pada persimpangan, dan lain - lain. Survei ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui permasalahan yang ada saat kendaraan berada di persimpangan.Dikarenakan saat berada di persimpangan berbeda dengan di jalan.
Pada persimpangan sering juga terjadi hambatan perjalanan disebabkan karena persimpangan merupakan suatu sistem pembagian ruang, jadi jika satu kendaraan memperoleh prioritas maka kendaraan yang lain akan terhambat yang disebut tertunda. Prioritas diperlukan untuk memperkecil dan mengendalikan konflik yang terjadi, khususnya antara lalu lintas yang bergerak lurus dengan lalu lintas yang membelok.Maka survei ini sangat diperlukan.
2) Target Data
a) Data arus lalu lintas pada setiap kaki simpang
b) Jenis kendaraan dalam setiap pergerakan di setiap kaki simpang
c) Kendaraan yang terhenti dan terlewatkan di setiap kaki simpang
3) Persiapan Survei
a) Peralatan dan Perlengkapan
Dalam melakukan gerakan membelok terklasifikasi dibutuhkan peralatan dan perlengkapan sebagai berikut :
(1) Alat – alat tulis
(2) Alat penghitung (counter)
(3) Formulir survei gerakan membelok terklasifikasi
(4) Stop watch
(5) Clip board
b) Tenaga Pelaksana
Dalam survei gerakan membelok terklasifikasi dilakukan oleh semua anggota 16 (enam belas) orang tenaga surveyor / Pembantu lapangan.
c) Lokasi Survei
Survei gerakan membelok dilakukan di setiap persimpangan yang terdiri dari 1 (satu) persimpangan APILL dan 18 persimpangan tidak diatur. Berikut adalah nama – nama simpangnya :
(1) Persimpangan Cibaraja
(2) Persimpangan Cipanas
(4) Persimpangan Lingkar Cibolang
(5) Persimpangan Bagbagan
4) Waktu dan Pelaksanaan Survei
Survei gerakan membelok terklasifikasi dilaksanakan selama 16 (enam belas) jam dimulai jam 06.00 WIB sampai jam 22.00 WIB. Setiap surveior mengamati satu kaki simpang.Surveior tidak beloh berada di tempat yang terhalang oleh benda apapun agar dapat melihat setiap gerakan dari kendaraan yang melintas pada persimpangan.
Dilaksanakan dengan interval waktu tiap 15 menit selama waktu survei.Survei ini dilaksanakan bergantian dengan survei pencacahan lalu lintas terklasifikasi.
E. Teknik Analisis Dan Pengolahan Data
a. Survei Inventarisasi Jalan
Dari survei inventarisasi jalan data yang diperoleh di masukan dalam data input digabung dengan data sekunder yang diperoleh dari instansi – instansi terkait di Kabupaten Sukabumi. Dari data yang telah diperoleh dapat dilakukan penghitungan kapasitas jalan dan dapat digunakan sebagai indikator perangkingan ruas secara statis.
b. Survei Pencacahan Lalu Lintas Terklasifikasi
penentuan SMP untuk jalan perkotaan dan untuk jalan luar kota. Setelah dikonversikan ke dalam bentuk SMP, maka dapat dilakukan analina berikutnya yaitu mencari waktu sibuk atau waktu puncak setiap ruas.Maka volume dengan interval waktu 15 menit dijumlahkan menjadi tiap 1 jam.Waktu sibuk merupakan hasil dari volume yang paling tingggi, baik pada pagi hari, siang hari, ataupun sore hari.
Setelah didapat waktu sibuk maka dicari periode sibuk dengan menggunakan persentil 85. Maka akan didapat jam – jam sibuk dalam tiap ruasnya. Dimana tabel standar SMP yang digunakan adalah sebagai berikut ;
Tabel III.7 : Standar SMP Untuk Jalan Perkotaan Tipe Tak Terbagi Tipe jalan : Arus lalu
Tabel III.8 : Standar SMP Untuk Jalan Luar Kota Tipe 2/2 UD
(Sumber Standar SMP : IHCM, Indonesia Highway Capacity Manual – 1997)
Setelah didapat, maka dapat mengetahui proprsi setiap kendaraan yang melewati pada setiap arah di suatu ruas.
c. Survei Gerakan Membelok Terklasifikasi
Survei gerakan membelok terklasifikasi dilakukan guna mengetahui volume lalu lintas pada setiap mulut persimpangan dan mengetahui tundaaan yang terjadi pada setiap kendaraan saat berada di mulut persimpangan. Survei yang dilakukan dengan interval waktu 15 menit selama 16 jam. Dari survei tersebut data di masukkan dalam data input untuk mengetahui volume lalu lintas pada setiap kaki simpang, yang dihitung selama tiap 1 jam. Untuk mengetahui jam sibuknya maka setiap jumlah jenis kendaraan dikalikan nilai SMP nya masing – masing. Dalam perhitungannya menggunakan standar factor SMP untuk jalan perkotaan. Standarnya seperti tabe di bawah ini:
Tabel III.9 : Standar SMP Pada Simpang
Kendaraan Kendaraan Simpang
(Sumber Standar SMP : IHCM, Indonesia Highway Capacity Manual – 1997)
Keterangan :
LV = Light Vehicle (Kendaraan Ringan)
HV = Heavy Vehicle (Kendaraan Berat)
MC = Motorcycle (Sepeda Motor) UM = Unmotorised (Tidak Bermotor)
d. Perangkingan Ruas
Perangkingan ruas dibedakan menjadi dua indikator yaitu :
1) Statis
Indikator perangkingan ruas yaitu kondisi fisik, jumlah lajur, lebar lajur, ketersediaan fasilitas, rasio luas jalan rusak per kilometer dan jumlah akses. Dalam analisis digunakan beberapa metode yang digunakan :
a) Dalam peraturan standar statis yang berlaku disesuaikan dengan kondisi jalan yang tertuang dalam UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan, UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang.
Perangkingan statis dinilai berdasarkan penawaran.Arti penawaran sendiri adalah ketersediaan prasarana kelengkapan suatu ruas.
2) Dinamis
Perangkingan dinamis digunakan dalam perangkingan dengan metode sampai pembobotan proporsional. Dalam perangkingan dinamis digunakan beberapa indikator yaitu :
a) Volume, kecepatan, dan kepadatan
b) Antrian dalam satuan jumlah tiap kendaraan dan hambatan yang memiliki satuan detik / kilometer.
c) Proporsi kendaraan berat
d) Rasio kecepatan sibuk dan tidak sibuk
e) Rasio distribusi arah
Dalam perangkingan dinamis digunakan metode sebagai berikut :
a) Dalam perangkingan dinamis menggunakan peraturan yang berlaku disesuaikan dengan kondisi unjuk kerja dan karakteristik lalu lintas dengan menggunakan KM No. 14 Tahun 2006 tentang manajemen lalu lintas khusus untuk volume dan lalu lintas lainnya kecuali kecepatan, dan menggunakan MKJI Tahun 1997 khususnya untuk kecepatan dengan pendekatan kecepatan baik diidentifikasi setengah dari free flow perkotaan sebesar 56 km/jam..
b) Nilai pembobotan masing-masing indikator diperoleh dari wawancara terhadap instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi dan pengguna jalan.
3) Klasifikasi ruas yang dirangking
a) Menurut fungsi jalan
b) Menurut status jalan
Yang dimulai dari jalan arteri, kolektor dan lokal yang terpilih sejumlah 201 ruas jalan.Dirangking berdasarkan tiap arah dalam setiap ruas.
e. Analisa
1) Kecepatan Perjalanan Pada Ruas Jalan
Kecepatan perjalanan pada suatu ruas dapat dilihat dari survei observasi gerakan perjalanan. Namun dari hasil survei dapat diketahui dengan suatu rumus yaitu :
…………..(III.28)
Sumber : Buku manajemen rekayasa lalu lintas perkotaan
2) Arus Lalu Lintas Waktu Sibuk Harian
Arus lalu lintas pada saat waktu sibuk diketahui dari hasil survei pencacahan lalu lintas terklasifikasi untuk jalan dan survei gerakan membelok terklasifikasi untuk simpang. Hasil survei tersebut yang sudah dikalikan dengan Satuan Mobil Penumpang dan dijumlahkan dalam tiap 1 jam. Maka angka SMP tertinggi disebut volume pada jam sibuk.
3) V/C Ratio
V/C ratio suatu jalan didapatkam dari perbandingan volume arus waktu sibuk dengan kapasitas dari ruas tersebut. Dari V/C akan diketahui karakteristik pelayanan suatu ruas. Rumus yang digunakan dalam penghitungan V/C ratio suatu ruas yaitu :
kecepatan perjalanan= panjangruas
waktu perjalanan
V/C ratio=volume waktu sibuk
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)
4) Kendaraan Menit Per Kilometer (Kepadatan)
Kendaraan menit per kilometer merupakan kombinasi antara kecepatan dan volume lalu lintas serta mengukur besarnya total waktu perjalanan kendaraan yang diperlukan untuk menempuh masing – masing jalan. Dengan menggunakan rumus dapat diprediksikan jumlah kendaraan dalam tiap kilometernya yaitu dengan rumus berikut :
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesi (MKJI)
5) Perangkingan Proporsioanal Pada Ruas
Perangkingan proporsional dilakukan dengan melakukan pengurutan hasil data yang didapat dari survei, yang digunakan sebagai indikator dalam perangkingan.Dalam perangkingan proporsional dilakukan dengan mencari nilai maksimum dan minimumnya terlebih dahulu. Berikut merupakan rumus dari perangkingan proporsional yaitu
Proporsi untuk kecepatan :
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)
Sedangkan rumus untuk proporsi kepadatan, dan V/C ratio adalah :
kend−mnt/km=waktu perjln X volume lalu lintas
panjangruas
p=(X−min)X(n−1)
(max−min)
p=(max−X)X(n−1)
Keterangan :
P = proporsi
X = nilai indikator untuk ruas jalan yang dimaksud
Max = nilai maksimum unjuk kerja
Min = nilai minimum unjuk kerja
N = jumlah data
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
Lalu lintas merupakan suatu bagian yang terpenting dalam suatu wilayah, sebab tanpa lalu lintas tidak akan ada perpindahan baik orang maupun barang. Maka diperlukan pengaturan lalu lintas yang sesuai, yang disebut dengan sistem pergerakan. Setiap pergerakan dilakukan dengan menggunakan sarana, yang biasa disebut alat transportasi. Sistem transportasi adalah suatu cara untuk memindahkan manusia dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat yang sesuai. Tetapi transportasi dapat diukur dengan penilaian lain yaitu dengan kata aman, efisien dan efektif. Kata aman dinilai dari pengguna jalan, efisien dapat diartikan lalu lintas yang hemat biaya dan cepat, dan kata efektif diartikan lalu lintas yang sesuai dengan kebutuhan. Jadi lalu lintas yang aman bagi pengguna jalan tanpa perlu biaya yang besar serta sesuai kebutuhan dalam melakukan perpindahan.
Maka dari itu, perlu tersedianya jaringan jalan yang berguna sebagai penghubung antar wilayah. Dalam kehidupan manusia, jaringan jalan diibaratkan sebagai urat nadi yang mengalirkan darah keseluruh tubuh.Jaringan jalan mengalirkan setiap kebutuhan – kebutuhan yang diperlukan oleh semua manusia di seluruh wilayah. Di Kabupaten Sukabumi sebagian besar merupakan jalan pegungungan yang sangat banyak keloknya dan dikarenakan luasnya wilayah Kabupaten Sukabumi membuat jumlah jaringan jalannya juga sangat banyak. Tetapi lalu lintas di Kabupaten Sukabumi memiliki ciri yang khusus karena letaknya yang berdekatan dengan wilayah lain yang mempengaruhinya.
A. KARAKTERISTIK JALAN DAN LALU LINTAS
1. Pola Jaringan Jalan
sirkulasi arus sistem dua arah. Berikut merupakan gambar jaringan jalan di Kabupaten Sukabumi bagian utara yang di studi :
Sumber : Hasil Laporan Umum profil LLAJ Kabupaten Sukabumi
Gambar IV.1 : Peta Jaringan Jalan Kabupaten Sukabumi Yang Distudi 2. Karakteristik Umum
a. Ruas Jalan
1). Ruas Jalan Raya Sukabumi – Bogor (Benda)
1). Parkir
Kabupaten Sukabumi memiki dua macam lokasi parkir yaitu terdapat di tepi jalan (On Street) dan di dalam jalan (Off Street). Lokasi parkir yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi hanya yang berada dibahu jalan (on street). Sedangkan lokasi parkir (off street) dikelola oleh swasta.
Berikut merupakan lokasi parkir pada wilayah Cibadak, Cisaat, Cicurug, Palabuhanratu, Pangleseran, sepanjang jalan dan jalan kolektor di Kabupaten Sukabumi.
Sumber :
Hasil Olahan
Gambar IV.2 :
Gambar IV.3 : Peta Lokasi Parkir 2). Fasilitas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Fasilitas lalu lintas berupa prasarana jalan di Kabupaten Sukabumi sudah cukup banyak tetapi masih kurang lengkap dan terdapat juga yang kondisinya kurang baik. Prasarana jalan disebut juga rambu, masih ada beberapa daerah yang tidak terdapat rambu. Berikut merupakan lokasi rambu yang terdapat pada wilayah Cibadak, sepanjang jalan , dan sepanjang jalan kolektor di Kabupaten Sukabumi.
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.4 : Peta Lokasi Rambu b. Simpang
Di Kabupaten Sukabumi bagian utara terdapat persimpangan yang dibedakan lagi berdasarkan tipe pengendalian dan jumlah kaki simpangnya.. Berikut Simpang yang telah dikaji
1). Simpang Bagbagan
adalah simpang tidak diatur, yang ramai pada sore hari dan hari libur. Pada simpang ini tidak ada truk dan bus besar yang memilitas karena adanya pembatasankendaraan. Berikut adalah visualisasi dan gambar penampang dari Simpang Bagbagan :
Gambar IV.5 :
Visualisasi Simpang Bagbagan
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.6 : Penampang Simpang Bagbagan
2). Simpang Cibaraja
dibandingkan kaki lainnya. Banyaknya pertokoan yang terdapat di simpang membuat arus lalu lintas terkadang terhambat. Berikut merupakan visualisasi dan gambar penampang dari Simpang Cibaraja:
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.7 :
Gambar IV.8 : Penampang Simpang Cibaraja
3). Simpang Cibolang
Simpang Cibolang adalah simpang tiga yang baru ada karena pembangunan jalan lingkar. Pada pagi hari di kaki timur arus lurus ditutup maka kendaraan yang akan lurus harus melewati lingkar terlebih dahulu untuk memutar, kecuali kendaraan berat. Namun pada malam hari arus normal seperti biasa.. Berikut merupakan visualisasi dan gambar penampang dari Simpang Cibolang :
Gambar IV.9 :
Visualisasi Simpang Cibolang
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.12 : Penampang Simpang Cibolang
Simpang Cipanas merupakan salah satu simpang yang menghubungkan antara jalan , jalan surya kencana dan jalan kolektor, jalan perintis kemerdekaan. Simpang ini mempunyai tiga kaki simpang dan tidak diatur oleh pengendalian, yang ramai pada pagi hari sebelum jam 07.00. Berikut adalah visualisasi beserta gambar penampang simpang cipanas :
Gambar IV.17 :
Visualisasi Simpang Cipanas
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.18 : Penampang Simpang Cipanas
5). Simpang Kadudampit
Banyak kendaraan umum yang melakukan gerakan membelok dikarenakan terdapat terminal cisaat di dalam simpangnya. Terminal cisaat yaitu terminal tipe C yang cukup banyak melayani trayeknya. Berikut merupakan gambar visualisasi dan gambar penampang dari simpang kadudampit :
Gambar IV.21 :
Visualisasi Simpang Kadudampit
Sumber : Hasil Olahan
3. Kapasitas Jalan Dan Persimpangan
a). Kapasitas Jalan
Berdasarkan survei inventarisasi jalan diketahui ukuran jalan seperti lebar efektif jalan, pangjang jalan, tipe jalan, lebar bahu beserta kondisinya saat ini. Dari survei inventarisasi dan pengamatan langsung di wilayah studi maka diperoleh gambaran mengenai jaringan jalan.
Dalam penghitungan kapasitas jalan diperlukan data tipe jalan, hambatan samping, tata guna lahan, presentase arus lalu lintas per arah, lebar efektif jalan, dan jumlah penduduk. Contoh dalam penghitungan kapasitas jalan sebagai berikut :
Diketahui dari survei inventarisasi Jalan Karang Tengah (103-204) memiliki tipe jalan 2/2 UD, dengan lebar efektif 8 m, tata guna lahan daerah pertokoan, dengan hambatan samping sedang, prosentase arus lalu lintas perarah adalah 50%:50% dan diketahui dari data sekunder penduduk Kabupaten Sukabumi 1.664.333 jiwa. Dengan melihat tabel faktor koreksi pada MKJI 1997. Berikut merupakan salah satu contoh penghitungan dan tabel kapasitas jalan di Kabupaten Sukabumi :
Kapasitas dasar (CO) = 1450 (per lajur) Faktor koreksi lebar jalan (FCW) = 1,14
Faktor koreksi pemisah arah (FCCS) = 1 Faktor koreksi ukuran Kabupaten = 1 Faktor koreksi hambatan samping (FCSF) = 0,92
b) Kapasitas Simpang
Perhitungan kapasitas persimpangan juga didapat hari data yang diperoleh dari Dinas PU dan hasil pengamatan langsung saat melakukan inventarisasi. Dihitung berdasarkan MKJI dengan memperhatikan jenis pengendaliannya. Berikut merupakan contoh cara perhitungan dan tabel kapasitas simpang di Kabupaten Sukabumi :
Nilai kapasitas dasar (Co) = 2700 Faktor koreksi lebar pendekat (Fw) = 1,31 Faktor koreksi media pada jaln mayor (Fm) = 1 Faktor koreksi ukuran Kabupaten (Fcs) = 1 Faktor koreksi gangguan samping (Frsu) = 0,88 Faktor koreksi belok kiri (Flt) = 0,84 Faktor koreksi belok kanan (Frt) = 0,98 Faktor koreksi jalan minor (Fmi) = 0,89 Maka kapasitas Simpang Cikembang adalah
C = 2700 x 1,31 x 1 x 1 x 0,88 x 0,84 x 0,98 x 0,89 = 2425,6 smp/jam
Tabel V.4 : Jumlah Kendaraan Jalan Karang Tengah Arah Keluar CBD
Sumber : Hasil Olahan
Dari tabel diatas sepeda motor merupakan kendaraan yang paling banyak melewati jalan Karang Tengah, dengan jumlah 13404 kendaraan untuk arah masuk CBD dengan jumlah seluruh kendaraan yang melewati adalah 21469 kendaraan, sedangkan sepeda motor yang keluar CBD jumlah 16139 kendaraan dengan jumlah seluruh kendaraan yang melewati adalah 24133.
Gambar IV.43 : Komposisi Kendaraan Jalan Karang Tengah Arah Masuk CBD
Sumber : Hasil Olahan
Tabel V.5 : Jumlah Kendaraan Jalan Perintis Kemerdekaan Arah Masuk CBD
Sumber : Hasil Olahan
Tabel V.6 : Jumlah kendaraan Jalan Perintis Kemerdekaan Arah Keluar CBD
Sumber : Hasil Olahan
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.46 : Proporsi Kendaraan Arah Masuk CBD
Proporsi penggunaan moda arah masuk CBD pada ruas jalan ini yang tertinggi adalah kendaraan pribadi dengan sepeda motor sebesar 61 %, angkot 19 %, mobil 7 %, pick up 5 %, truk sedang 5% dan truk besar 1 %.
Sumber : Hasil Olahan
Tabel V.10 : Jumlah Kendaraan Jalan Cibadak-Nagrak Arah Keluar CBD
Sumber : Hasil Olahan
Komposisi penggunaan moda arah keluar CBD pada ruas jalan Cibadak-Nagrak yang terbesar adalah sepeda motor dengan jumlah 2904 kendaraan.
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.52 : Komposisi Kendaraan Arah Masuk CBD
Sumber : Hasil Olahan
Gambar IV.53 : Komposisi Kendaraan Arah Keluar CBD
b. Dinamis
1. V/C ratio
V/C Ratio suatu jalan didapatkan dari perbandingan arus waktu sibuk pada ruas jalan tersebut dengan kapasitasnya. Dari V/C ratio akan diketahui karakteristik pelayanan suatu ruas jalan.
Setelah diketahui tingkat pelayanan pada setiap jalan berdasarkan fungsinya, maka dilakukan analisis perengkingan. Dari perengkingan dapat dilihat V/C ratio jalan dari yang terburuk sampai yang terbaik. Berikut merupakan tabel perengkingan berdasarkan V/C ratio jalan :
Tabel V.40 : Perengkingan V/C Ratio Tertinggi Jalan
NO NODE
1 204 103 Jl. Karang Tengah 0,89 1
2 103 204 Jl. Karang Tengah 0,87 2
4 1701 1702
Jl. Raya
Sukabumi-Cianjur 2 0,83 3
5 605 502 Jl. Raya Siliwangi 2 0,81 4
6 102 101 Jl. Suryakencana 0,80 5
Sumber : Hasil Olahan
Tabel V.41 : Perengkingan V/C Ratio Terendah Jalan
42 1605 1606 Jl. Raya Sukalarang 0,27 26 41 1606 1605 Jl. Raya Sukalarang 0,41 25
40 401 502 Jl. Raya Siliwangi 3 0,55 24
39 1303 1202 Jl. Raya Rambay 1 0,56 23
38 1202 1303 Jl. Raya Rambay 1 0,60 22
Sumber : Hasil Olahan
Dari tabel diatas dapat diketahui V/C ratio terendah untuk jalan adalah jalan Raya Sukalarang (1605 - 1606) degan V/C ratio sebesar 0,27, V/C ratio teredah ke-2 terdapat pada jalan Raya Sukalarang (1606 - 1605) dengan V/C ratio sebesar 0,41, V/C ratio terendah ke-3 terdapat pada jalan Raya Siliwangi 3 (401 - 502) dengan V/C ratio sebesar 0,55, V/C ratio terendah ke-4 terdapat pada jalan Raya Rambay 1 (1303 - 1202) dengan V/C ratio sebesar 0,56, V/C ratio terendah ke-5 adalah jalan Raya Ramabay 1 (1202 - 1303) dengan V/C ratio sebesar 0,60.
2. Kecepatan perjalanan
Kecepatan perjalanan pada ruas jalan dapat di ketahui dengan cara membagi panjang ruas jalan tersebut dengan waktu perjalanan dimana data tentang kecepatan perjalanan ini di dapat dari hasil survai MCO, kecepatan perjalanan didapatkan dari perhitungan panjang jalan dibagi dengan waktu tempuh rata-rata yang didapat dari hasil survai MCO. Contoh perhitungan untuk mencari kecepatan adalah sebagai berikut: Diketahui panjang jalan suryakencana (101-102) adalah 1815 meter dan waktu tempuh rata-rata adalah 6,55 menit, maka kecepatan perajalan rata-rata adalah:
Kecepatan perajalanan =panjang jalan waktu tempuh rata-rata
=1815 6,55
= 16,644 km/jam
Ada pun data perangkingan kecepatan pada ruas jalan kami lampirkan dalam tabel di bawah ini yaitu 5 ruas jalan yang memiliki peringkat terbaik dan 5 ruas jalan yang memiliki peringkat terburuk.
Tabel V.46 : Perengkingan Kecepatan PerjalananTerendah Jalan
Sumber : Hasil Olahan
Ruas jalan yang memiliki kecepatan terendah pada ruas jalan raya siliwangi 1 (701-605) dimana pada ruas jalan ini memiliki kecepatan sebesar 15,62 km/jam. Ruas jalan yang menempati rangking ke-2 kecepatan terendah yaitu terdapat pada ruas jalan suryakencana (101-102) dimana pada rus jalan ini memiliki kecepatan sebesar 16,64 km/jam. Ruas jalan yang menempati rangking ke-3 kecepatan terendah yaitu terdapat pada ruas jalan raya siliwangi 1 (605-701) dimana pada ruas jalan ini memiliki kecepatan sebesar 16,71 km/jam. Sedangkan ruas jalan yang menempati rangking ke-4 kecepatan terendah yaitu pada ruas jalan suryakencan (102-101) dimana pada ruas jalan ini memiliki kecepatan sebesar 17,21 km/jam. Ruas jalan yang menempati rangking ke-5 kecepatan terendah yaiutu pada ruas jalan raya siliwangi 3 (ke-502-401) dengan kecepatan 21,85 km/jam.
Tabel V.46 : Perengkingan Kecepatan Perjalanan Tertinggi Jalan
N
42 2303 2302 Jl. Kadupugur 1 51.836 42
41 502 605 Jl. Raya Siliwangi 2 49.171 41 40 605 502 Jl. Raya Siliwangi 2 49.048 40
39 2302 2303 Jl. Kadupugur 1 48.042 39
38 1701 1702
1 701 605 Jl. Raya Siliwangi 1 15.628 1
2 101 102 Jl. Suryakencana 16.644 2
3 605 701 Jl. Raya Siliwangi 1 16.718 3
4 102 101 Jl. Suryakencana 17.219 4
Sumber : Hasil Olahan
Ruas jalan yang menempati rangking 1 memiliki kecepatan tertinggi pada ruas Jalan kadupugur 1 (2303-2302) dengan kecepatan sebesar 51,83 km/jam. Ruas jalan yang menempati rangking ke-2 kecepatan tertinggi yaitu terdapat pada ruas Jalan raya siliwangi 2 (502-602) dengan kecepatan sebesar 49,17 km/jam. Ruas jalan yang menempati rangking ke-3 kecepatan tertinggi yaitu terdapat pada ruas Jalan Raya Siliwangi 2 (605-502) dengan kecepatan sebesar 49,04 km/jam. Sedangkan ruas jalan yang menempati rangking ke-4 kecepatan tertinggi yaitu pada ruas Jalan Kadupugur 1 (2302-2303) dengan kecepatan sebesar 48,04 km/jam. Ruas jalan yang menempati rangking ke-5 kecepatan tertinggi yaitu pada ruas Jalan Raya Sukabumi-Cianjur 2 (1701-1702) dengan kecepatan 47,26 km/jam.
3. Kepadatan
Kepadatan (kendaraan menit per kilometer) merupakan gabungan antara kecepatan dan volume lalu lintas serta mengukur besarnya total waktu perjalanan yang diperlukan untuk menempuh masing-masing ruas jalan. Dalam membuat suatu perbandingan, maka hal ini digambarkan dalam satuan panjang jalan.
Dari hasil analisa yang dilakukan, maka kami mendapatkan ruas jalan yang memiliki kepadatan tertinggi dan terendah yang kami lampirkan pada table berikut :
Tabel V.51 : Perengkingan Kepadatan Tertinggi Jalan
N
1 102 101 Jl. Suryakencana 76,05 1
2 701 605 Jl. Raya Siliwangi 1 74,90 2
3 605 701 Jl. Raya Siliwangi 1 72,89 3
4 101 102 Jl. Suryakencana 59,48 4
5 1303 1304 Jl. Raya Rambay 2 50,76 5
Tabel V.52 : Perengkingan Kepadatan Terendah Jalan
39 2302 2303 Jl. Kadupugur 1 19,63 38
31 2303 2302 Jl. Kadupugur 1 19,51 39
40 502 605 Jl. Raya Siliwangi 2 19,02 40 41 1606 1605 Jl. Raya Sukalarang 13,85 41 42 1605 1606 Jl. Raya Sukalarang 9,13 42
Sumber : Hasil Olahan
Ruas jalan yang memiliki kepadatan terendah terdapat pada ruas jalan Kadupugur 1 (2302-2303) yaitu sebesar 19,63 smp-menit/km. Ruas jalan yang memiliki kepadatan terendah ke-2 terdapat pada ruas jalan Kadupugur 1 (2303-2302) yaitu sebesar 19,51 smp-menit/km. Ruas jalan yang memiliki kepadatan terendah ke-3 terdapat pada ruas jalan Raya Siliwangi 2 (502-605) yaitu sebesar 19,20smp-menit/km. Sedangkan ruas jalan yang memiliki kepadatan tertinggi ke-4 terdapat pada ruas jalan Raya Sukalarang (1606-1605) yaitu sebesar 13,85 smp-menit/km.
C. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
1. Peringkat Permasalahan Lalu Lintas Ruas Jalan
a. Prasarana (Statis)