Analisa Pengukuran Kinerja Keuangan Sebelum Dan Setelah
Merger Pada Perbankan Yang Terdaftar Di BEI
Cintia Defi
Universitas Trilogi
1. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dalam dunia usaha bisnis saat ini memang menunjukan angka yang signifikan terlebih dalam era modern dan di jaman globalisasi kondisi dimana perdagangan lokal maupun dunia yang bebas sehingga menyebabkan persaingan antar perusahaan semakin meningkat sehingga manajemen perusahaan pun harus inovatif dalam merumuskan rancangan atau strategi baru. Pada dasarnya setiap perusahaan, baik perusahaan dagang, industri, maupun jasa mempunyai tujuan untuk memperoleh laba. Pengembangan perusahaan merupakan salah satu cara untuk mencapainya. Perusahaan perlu mengembangkan suatu strategi yang tepat agar bisa mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki kinerjanya. Perusahaan diharapkan dapat memilih strategi yang baik dan tepat agar dapat dijadikan tujuan jangka panjang perusahaan. Pemilihan strategi yang baik dan tepat akan membawa perusahaan bertahan pada ketatnya persaingan saat ini dan bahkan akan membawa perusahan menuju kemakmuran.
Pengembangan perusahaan dapat dilakukan dengan cara perluasan usaha (business expansion) yang disebut juga sebagai perluasan usaha secara internal ataupun perluasan usaha secara eksternal berupa penggabungan usaha (business combination). Perluasan usaha secara internal yaitu dilakukan dengan cara memperluas kegiatan perusahaan yang sudah ada, misalnya dengan cara menambah kapasitas pabrik, menambah produk atau mencari pasar baru. Sebaliknya secara eksternal yaitu dilakukan dengan cara membeli perusahaan yang sudah ada atau dibeli oleh perusahaan yang lebih besar (Azhagaiah dan Kumar, 2011).
periode 1989-1992 saja telah terjadi 32 kasus merger dan akuisisi terhadap 79 perusahaan (Santoso, 1992).
Alasan perusahaan lebih cenderung memilih merger dan akuisisi daripada pertumbuhan internal sebagai strateginya adalah karena merger dan akuisisi dianggap jalan cepat untuk mewujudkan tujuan perusahaan dimana perusahaan tidak perlu memulai dari awal suatu bisnis baru. Merger dan akuisisi juga dianggap dapat menciptakan sinergi, yaitu nilai keseluruhan perusahaaan setelah merger dan akuisisi yang lebih besar daripada penjumlahan nilai masing-masing perusahaan sebelum merger dan akuisisi. Selain itu keuntungan lebih banyak diberikan melalui merger dan akuisisi kepada perusahaan antara lain peningkatan kemampuan dalam pemasaran, riset, skill manajerial, transfer teknologi, dan efisiensi berupa penurunan biaya produksi (Hitt, 2002).
Bank menurut Undang-Undang RI nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau dalam bentuk lainnya. Berarti bank adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset keuangan (financial assets) serta bermotifkan profit dan juga sosial, jadi bukan hanya mencari keuntungan saja. Dalam usaha perbankan meliputi tiga kegiatan utama yaitu: menghimpun dana, menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Sebagai badan usaha dalam bidang keuangan yang sangat mengutamakan kepercayaan dari nasabah dan guna memperlancar kegiatan yang dilakukan oleh perbankan, maka kinerja yang baik dalam lembaga perbankan tersebut sangatlah penting karena sangat berpengaruh terhadap kepercayaan nasabah. Profesional dalam kegiatan suatu lembaga perbankan akan sangat mendukung dalam kesejahteraan para stakeholder dan tentunya akan meningkatkan nilai lembaga perbankan.
Seiring dengan berkembangnya zaman, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pengelolahan dana maka sangat dibutuhkan informasi-informasi tentang kinerja keuangan dalam perbankan. Terdapat beberapa indikator dalam penilaian kinerja keuangan perbankan. Salah satu sumber menyatakan indikator dasar penilaian adalah dari laporan keuangan bank yang bersangkutan (Almilia dan Herdiningtyas, 2005).
2. Rumusan Masalah
Penelitian ini akan meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan perbankan sebelum dan sesudah merger di Indonesia, sehingga dapat dirumuskan berbagai pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a. Apakah terdapat perbedaan loan to deposit ratio pada periode sebelum dan sesudah merger?
c. Apakah terdapat perbedaan capital adequacy ratio pada periode sebelum dan sesudah merger?
d. Apakah terdapat perbedaan return on assets pada periode sebelum dan sesudah merger?
e. Apakah terdapat perbedaan price earnings ratio pada periode sebelum dan sesudah merger?
3. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui perbedaan loan to deposit ratio pada periode sebelum dan sesudah merger
b. Untuk mengetahui perbedaan total assets turn over pada periode sebelum dan sesudah merger
c. Untuk mengetahui perbedaan capital adequacy ratio pada periode sebelum dan sesudah merger
d. Untuk mengetahui perbedaan return on assets pada periode sebelum dan sesudah merger
e. Untuk mengetahui perbedaan price earnings ratio pada periode sebelum dan sesudah merger
4. Hipotesa Penelitian
a. H1 : Terdapat perbedaan loan to deposit ratio yang signifikan pada periode sebelum dan sesudah merger
b. H2 : Terdapat perbedaan total assets turn over yang signifikan pada periode sebelum dan setelah merger
c. H3 : Terdapat perbedaan capital adequacy ratio yang signifikan pada periode sebelum dan setelah merger
d. H4 : Terdapat perbedaan return on assets yang signifikan pada periode sebelum dan setelah merger
e. H5 : Terdapat perbedaan price earnings ratio yang signifikan pada periode sebelum dan sesudah merger
5. Landasan Teori
a. Pengertian Kinerja Keuangan
Menurut Barlian (2003) kinerja keuangan adalah prospek atau masa depan, pertumbuhan dan potensi perkembangan yang baik bagi perusahaan. Informasi kinerja keuangan diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi, yang mungkin dikendalikan dimasa depan dan untuk memprediksi kapasitas produksi dari sumber daya yang ada. Suatu analisis ini dilakukan untuk melihat dan mengukur sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.
periode tertentu. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan.
b. Pengertian Merger
Perluasan atau ekspansi bisnis diperlukan oleh suatu perusahaan untuk mencapai efisiensi, menjadi lebih kompetitif, serta untuk meningkatkan keuntungan atau profit perusahaan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan merger dan akuisisi. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun 1998 tentang penggabungan, peleburan dan pengambil-alihan perseroan terbatas menyebut merger sebagai penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada dan selanjutnya perseroan yang menggabungkan diri menjadi bubar, sedangkan akuisisi menurut PP RI No. 27 Tahun 1998 adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau perseorangan untuk mengambil-alih baik seluruh atau sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.
c. Beberapa Jenis Merger
Menurut Moin (2003) pada dasarnya menurut jenis usahanya merger dapat dikategorikan ke dalam lima bagian, antara lain:
1). Merger Horisontal
Merupakan penggabungan dua atau lebih perusahaan yang bergerak dalam industri yang sama dengan tujuan mengurangi persaingan atau untuk meningkatkan efisiensi melalui penggabungan aktivitas produksi, pemasaran, distribusi, riset dan pengembangan dan fasilitas administrasi. Dampak dari merger horisontal adalah semakin terkonsentrasinya struktur pasar pada industri tersebut. Contohnya: merger antara Bank of Tokyo dengan Mitsubishi Bank.
2). Merger Vertikal
Terjadi apabila suatu perusahaan membeli perusahaan-perusahaan hulunya seperti perusahaan pemasoknya dan atau perusahaan hilirnya, seperti perusahaan distribusinya yang langsung menjual produknya ke pelanggan. Dengan demikian merger vertikal merupakan penggabungan atau pengintegrasian dua tahapan produksi atau distribusi. Keuntungan dari jenis merger seperti ini adalah terjaminnya pemasokan bahan baku, penekanan biaya transaksi, terciptanya koordinasi yang lebih baik, dan mempersulit kemungkinan masuknya perusahaan pesaing yang baru. Contoh: merger antara PT Gudang Garam dengan PT Surya Pamenang sebagai perusahaan kertas.
3). Merger Konglomerat
semula. Apabila merger konglomerat dilakukan secara terus menerus oleh perusahaan, maka terbentuklah sebuah konglomerasi. Contoh: merger antara Viks Richardson (farmasi) dengan Procter and Gamble (Consumer Goods).
4). Merger Ekstensi Pasar
Merupakan penggabungan dua atau lebih perusahaan untuk memperluas area pasar. Adapun tujuan utamanya adalah untuk memperkuat jaringan pemasaran bagi produk masing-masing perusahaan. Biasanya merger ekstensi pasar dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lintas negara, dalam rangka ekspansi dan penetrasi pasar serta untuk mengatasi keterbatasan ekspor karena kurang memberikan fleksibilitas penyediaan produk terhadap konsumen luar negeri. Contoh: merger antara Daimler Benz (Jerman) dengan Chrysler (Amerika Serikat).
5). Merger Ekstensi Produk
Merupakan penggabungan dua atau lebih perusahaan sejenis atau dalam industri yang sama tetapi tidak memproduksi produk yang sama maupun tidak ada keterkaitan supplier. Penggabungan usaha ini dilakukan untuk memperluas lini produk masing-masing perusahaan setelah merger, perusahaan akan menawarkan lebih banyak jenis dan lini produk sehingga akan dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Merger ekstensi produk ini dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan departemen riset dan pengembangan masing-masing untuk mendapat sinergi melalui efektivitas riset sehingga lebih prodiktif dalam inovasi. Contoh: merger antara perusahaan farmasi Upjohn (Amerika Serikat) dengan Pharmacia (Swedia).
d. Alasan Melakukan Merger
Perusahaan mengambil kebijakan untuk merger atau mengakuisisi perusahaan lain didasarkan pada berbagai alasan atau motif. Motif utama dibalik merger perseroan menurut Eugene F. Bringham (2006) yaitu:
1). Sinergi
Kondisi dimana nilai keseluruhan lebih besar daripada hasil penjumlahan bagian-bagiannya. Merger yang bersifat sinergistik, nilai perusahaan setelah merger lebih besar daripada penjumlahan nilai masing-masing perusahaan sebelum merger.
2).Pertimbangan Pajak
Pertimbangan pajak dapat mendorong dilakukannya sejumlah merger. Misalnya, perusahaan yang menguntungkan dan termasuk dalam kelompok tarif pajak tertinggi dapat mengambilalih perusahaan yang memiliki akumulasi kerugian yang besar. Kerugian tersebut dapat mengurangi laba kena pajak dan tidak ditahan untuk digunakan dimasa depan. Merger juga dapat dipilih sebagai cara untuk meminimalkan pajak dan menggunakan kas yang berlebih.
Kadang-kadang perusahaan diambil alih karena nilai pengganti (replacement value) aktivanya jauh lebih tinggi daripada nilai pasar perusahaan itu sendiri. Nilai sebenarnya dari setiap perusahaan adalah fungsi daya menghasilkan laba masa depannya, bukan biaya untuk mengganti aktivanya. Jadi akuisisi harus berdasarkan nilai ekonomi dari aktiva yang diakuisisi bukan atas biaya penggantinya.
4). Diversifikasi
Manajer berpendapat bahwa diversifikasi menstabilkan laba perusahaan sehingga bermanfaat bagi pemiliknya. Akan tetapi pada perusahaan pemilik tidak mau menjual sebagian saham yang dimilikinya untuk melakukan diversifikasi karena akan memperkecil kepemilikan dan mengakibatkan kewajiban pajak yang besar atas keuntungan modal. Jadi merger dapat menjadi jalan terbaik untuk mengadakan diversifikasi perorangan.
5). Insentif Pribadi Manajer
Beberapa keputusan bisnis banyak didasarkan pada motivasi pribadi daripada analisis ekonomi. Tidak ada eksekutif yang akan mengakui bahwa egonya merupakan alasan utama dibalik suatu merger, akan tetapi ego memegang peranan penting dalam banyak merger.
6). Nilai Pecahan
Para analis mengestimasi nilai pemecahan suatu perusahaan, yang merupakan nilai masing-masing bagian dari perusahaan itu jika dijual terpisah. Jika nilai ini lebih tinggi dari nilai pasar berjalan perusahaan, maka seorang spesialis pengambil alihan dapat mengakuisisi perusahaan itu pada atau bahkan di atas nilai pasar berjalannya, dijual secara sepotong-sepotong dan menghasilkan laba yang besar.
e. Motivasi Melakukan Merger
Menurut Moin (Muhammad Aji, 2010) pada prinsipnya terdapat dua motif yang mendorong sebuah perusahaan melakukan merger dan akuisisi, yaitu motif ekonomi dan motif non-ekonomi. Motif ekonomi berkaitan dengan esensi tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Sedangkan di sisi lain, motif non-ekonomi adalah motif yang bukan di dasarkan pada esensi tujuan perusahaan tersebut, melainkan didasarkan pada keinginan subyektif atau ambisi pribadi pemilik. Kedua motif tersebut akan dijelaskan lebih lanjut dibawah ini:
1). Motif Ekonomi
Implementasi program yang dilakukan oleh perusahaan harus melalui langkah-langkah konkrit misalnya melalui efisiensi produksi, peningkatan penjualan, pemberdayaan dan peningkatan produktivitas sumber daya manusia. Disamping itu menurut Moin (Muhammad Aji, 2010) motif ekonomi merger dan akuisisi yang lain meliputi:
Mengurangi waktu, biaya dan risiko kegagalan memasuki pasar baru a. Mengakses reputasi teknologi, produk dan merk dagang b. Memperoleh individu-individu sember daya manusia yang
profesional
c. Membangun kekuatan pasar d. Memperluas pangsa pasar e. Mengurangi persaingan f. Mendiversifikasi lini produk g. Memperoleh pertumbuhan
h. Menstabilkan cash flow dan keuntungan
2). Motif Sinergi
Motivasi utama perusahaan melakukan merger dan akuisisi adalah menciptakan sinergi. Sinergi merupakan kondisi yang saling menguntungkan dari peristiwa merger maupun akuisisi. Sinergi dapat berarti nilai keseluruhan perusahaan setelah merger dan akuisisi yang lebih besar daripada penjumlahan nilai masing-masing perusahaan sebelum merger dan akuisisi. Sinergi dihasilkan melalui kombinasi aktivitas secara simultan dari kekuatan atau lebih elemen-elemen perusahaan yang bergabung sedemikian rupa sehingga gabungan aktivitas tersebut menghasilkan efek yang lebih besar dibandingkan dengan penjumlahan aktivitas-aktivitas perusahaan jika mereka bekerja sendiri.
Pengaruh sinergi dapat timbul dari empat sumber:
a. Penghematan operasi, yang dihasilkan dari skala ekonomis dalam manajemen, pemasaran, produksi atau distribusi b. Penghematan keuangan, yang meliputi biaya transaksi yang
lebih rendah dan evaluasi yang lebih baik oleh para analisis sekuritas
c. Perbedaan efisiensi, yang berarti bahwa manajemen salah satu perusahaan, lebih efisien dan aktiva perusahaan yang lemah akan lebih produktif setelah merger
3). Motif Diversifikasi
Diversifikasi adalah strategi pemberagaman bisnis yang dapat dilakukan melalui merger dan akuisisi. Diversifikasi dimaksud untuk mendukung aktivitas bisnis dan operasi perusahaan untuk mengamankan posisi bersaing. Akan tetapi jika melakukan diversifikasi yang semakin jauh dari bisnis semula, maka perusahaan tidak lagi berada pada koridor yang mendukung kompetensi inti (core competence). Disamping memberikan manfaat seperti transfer teknologi dan pengalokasian modal, diversifikasi juga membawa kerugian yaitu adanya subsidi silang.
4). Motif Non-Ekonomi
Aktivitas merger dan akuisisi terkadang dilakukan bukan untuk kepentingan ekonomi saja tetapi juga untuk kepentingan yang bersifat non-ekonomi, seperti prestise dan ambisi. Motif non-ekonomi dapat berasal dari manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan.
f. Sisi Positif dan Sisi Negatif Penggabungan Perusahaan
Penggabungan badan usaha menurut Desak Agung Oka Suardewi (Yeni, 2006) memiliki sisi positif dan sisi negatif.
a). Sisi Positif Penggabungan Usaha
1). Dengan skala usaha yang relatif besar, konglomerat dapat menikmati dan memanfaatkan economics of scale
2). Dengan melaksanakan diversifikasi setiap perusahaan yang berada dibawah kepemilikan konglomerat dapat menikmati dan memanfaatkan eksternal economics karena terbentuknya peluang untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas yang pada gilirannya akan mendatangkan laba yang memuaskan.
3). Dengan melakukan diversifikasi usaha dan ditunjang dengan skala usaha yan relatif besar, dapat meningkatkan profesionalisme dan mempercepat penguasaan alih teknologi.
4). Dengan efisiensi dan produktifitas yang lebih tinggi pada gilirannya dapar meningkatkan ekspor, menciptakan dan memperluas kesempatan kerja serta mendukung industrialisasi.
5). Bargaining position yang lebih kuat
6). Dari segi manajemen, sentralisasi pengambilan keputusan mengandung aspek positif seperti pengambilan keputusan yang cenderung lebih cepat, berpandangan jauh ke depan dan berwawasan luas.
1). Apabila penggabungan usaha tidak dibatasi dalam jenis dan skala usahanya, maka cenderung dapat menimbulkan free fight liberalism, yang pada akhirnya bermuara pada struktur pasar baru yang monopolistis.
2). Sentralisasi pengambilan keputusan dapat dimanfaatkan untuk melakukan manipulasi pelaporan hasil usaha, pelaporan kekayaan perusahaan maupun manipulasi melalui transfer pricing. Cara ini sering disebut conglomerate game.
3). Integrasi horisontal dengan tujuan mengurangi jumlah pesaing maupun vertikal dengan tujuan membatasi kemampuan pesaing melalui penguasaan sejumlah mata rantai produksi dari hulu sampai hilir dapat berdampak kepada melemahnya mekanisme pasar yang menjurus kepada monopoli.
4). Dengan adanya sentralisasi pengambilan keputusan, maka kepentingan tiap perusahaan anak disubordinasikan pada kepentingan perusahaan induk yang pada gilirannya dapat berdampak negatif dan destruktif, seperti peluang yang semakin besar dan mudah untuk membentuk semacam trust dan kartel. Kondisi ini juga memungkinkan terbentuknya community of interest diantara konglomerat yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional.
5). Kecenderungan timbulnya praktik reprocity yakni penciptaan kondisi yang memungkinkan kesepakatan sejumlah perusahaan yang tergabung, untuk salig membeli barang dan jasa yang dihasilkan masing-masing perusahaan tersebut tanpa mempertimbangkan keadaan pasaran, sehingga membatasi atau meniadakan akses pasar bagi pesaing.
g. Tahapan Merger
Perusahaan yang akan melakukan merger perlu memerlukan beberapa proses untuk bergabung dengan perusahaan yang menjadi salah satu targetnya.
dilaksanakan baik dalam bentuk pembayaran tunai maupun dalam bentuk pembayaran dengan saham perusahaan.
h. Operasional Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Rasio Likuiditas
Rasio ini diperoleh melalui persamaan berikut (Dendawijaya, 2005)
� � � �� � � � =Dana Pihak KetigaKredit
2. Rasio Aktivitas
Rasio ini diperoleh melalui persamaan berikut (Berlian, 2013)
� �� � � ��� =PendapatanTotal Asset
3. Rasio Permodalan
Rasio ini diperoleh melalui persamaan berikut (Almilia, 2005)
� � �� � � � �� � �� = Modal SendiriATMR
4. Rasio Profitabilitas
Rasio ini diperoleh melalui persamaan berikut (Barlian, 2013)
� � � � =Total AssetsEBIT
5. Rasio Nilai Pasar
Rasio ini diperoleh melalui persamaan berikut (Barlian, 2013)
� � � � �� � � =Laba Bersih per SahamHarga Saham
6. Metode Penelitian a. Jenis Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, website dan lain-lain yang berhubungan dengan aspek penelitian.
b. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kuantitatif. Sumber data berasal dari laporan keuangan perbankan sebelum dan setelah merger yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia.
c. Populasi dan Sampel
Purposive Sampling adalah metode yang digunakan untuk pengambilan sample secara sengaja dengan kriteris-kriteria yang di tentukan sesuai dengan keperluan peneliti. Kriteria yang diambil oleh peneliti yaitu perbankan yang telah melalukan merger dengan bank terkait yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Dalam penelitian ini akan digunakan 10 sample perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia:
No Kode Emiten Tahun Merger
1 BSWD Bank of India Indonesia Tahun 2002
2 NISP Bank OCBC NISP Tahun 1994
3 PNBS Bank Panin Dubai Syariah Tahun 2014 4 BABP Bank MNC Internasional Tahun 2002 5 BKSW Bank QNB Indonesia Tahun 2002
6 BSIM Bank Sinar Mas Tahun 2010
7 NOBU Bank Nasional Nobu Tahun 2013
8 AGRS Bank Agris Tahun 2014
9 DNAR Bank Dinar Indonesia Tahun 2014
10 BNGA Bank CIMB NIAGA Tahun 2009
Tabel 1.1 Daftar Perbankan yang dijadikan Sampel
d. Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan untuk mengetahui masalah ini adalah dengan menggunakan:
1) Statistik Deskriptif
Dengan analisi ini membantu peneliti menggambarkan suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi dan varian indikator kinerja perusahaan dari rasio keuangan sebelum dan sesudah merger yang ditinjau dari kinerja perbankan yang terdaftar di BEI. Menentukan perbedaan mean (naik turun) indicator keuangan perbankan sebelum dan setelah merger.
2) Uji Asumsi Klasik
Untuk pengujian asumsi klasik dilalukan lima asumsi uji klasik: uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji autokorelasi, dan uji linearitas.
- Uji Normalitas
berdistribusi normal. Sebaliknya, jika nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 maka data tersebut tidak berdistribusi normal.
3) Uji Beda
Uji beda ini dipergunakan untuk mencari perbedaan, baik antara dua sampel data atau antara beberapa sampel data. Jenis uji beda lain selain berdasarkan jumlah kelompok sampel yang diuji. Misalnya jumlah sampel pada masing-masing kelompok juga menentukan jenis uji beda yang digunakan. Jika dua kelompok mempunyai anggota yang sama dan mempunyai korelasi maka dipergunakan uji sampel berpasangan (paired test), dan jika jumlah anggota kelompok berbeda, tentunya tidak berkorelasi, maka memerlukan uji beda yang lain, misalnya independent Sample t test atau Mann-Whitney U-test.
7. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penyusunan jurnal metodologi penelitian ini terdiri dari:
1. Latar Belakang Masalah 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan Penelitian 4. Hipotesa Penelitian 5. Landasan Teori
a. Pengertian kinerja keuangan b. Pengertian merger
c. Beberapa jenis merger d. Alasan melakukan merger e. Motivasi melakukan merger
f. Sisi positif dan negatif melakukan merger g. Tahapan merger
h. Operasional variable penelitian 6. Metode Penelitian
a. Jenis data b. Sumber data
c. Populasi dan sampel d. Alat analisis
7. Sistematika Penulisan 8. Daftar Pustaka
8. Daftar Pustaka
1. Kisman, Z. Model For Overcoming Decline in Credit Growth (Case Study of Indonesia with Time Series Data 2012MI-2016M12). Journal of Internet Banking and Commerce. Vol.22, No.3, 2017
Journal of Economics, Finance and Management Vol. 1, No. 3, 2015, pp.184-189
3. Kisman, z. Disappearing Dividend Phenomenon:A Review of Theories and Evidence.
4. https://www.researchgate.net/publication/323169940_ANALISIS_PE NGUKURAN_KINERJA_KEUANGAN_PASCA_MERGER_DAN_ AKUISISI_PADA_PERUSAHAAN_YANG_TERDAFTAR_DI_BEI 5. http://ejournal.kopertis10.or.id/index.php/benefita/article/view/1435/8
37
6. http://eprints.uny.ac.id/53301/1/PhilliphusErgiHanantyo_1380814104 4.pdf
7. www.kppu.go.id/docs/Merger/Lampiran.pdf
8. https://tipsserbaserbi.blogspot.co.id/2017/01/pengertian-dan-tujuan-laporan-keuangan.html
9. https://dosen.perbanas.id