• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Profesi Dalam Islam docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Etika Profesi Dalam Islam docx"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Disusun Oleh:

1. Munirsyah 2. Syafii Yogi S 3. Aldo Devano 4. Laily Indaryani 5. Hesty Khairunnisa 6. Hartati Sepdiyanti 7. Ghinsa Asmaul SK 8. Nining Kartika 9. Rika Darma Ranti

(3)

Bisnis atau usaha perniagaan/perdagangan atau usaha komersial merupakan salah satu yang penting bagi kehidupan manusia, oleh karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu system ekonomi, maka sebagaian dari tugas etika bisnis sesungguhnya ialah mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, yang pada gilirannya akan berbicara tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai system tersebut. Al-qur’an memberikan informasi yang cukup banyak berkaitan dengan hal tersebut. Diantaranya QS. An Nisa:29

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dan disisi lain Rasulullah mempunyai misi penting dalam penyempurnaan akhlaq, sehingga dalam berniaga/berbisnis pun ada aturan perilaku dalam melaksanakannya., salah satunya sabda Rasulullah saw:

Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w melarang menahan barang dagangan sebelum tiba di pasaran. Ini adalah lafaz dari Ibnu Numair. Sedangkan menurut perawi yang lain, sesungguhnya Nabi s.a.w melarang pembelian barang dagangan sebelum dipasarkan

Dalam pandangan moral manusia manapun pastilah tidak membenarkan seorang mengambil milik orang lain dengan cara merampas, dalam sebuah perusahaan seorang pejabat ataupun pekerja tidak dibenarkan memiliki barang/uang milik perusahaan menjadi milik pribadi. Seorang pekerja yang sadar akan etika bisnis, yang terlanjur mengambil milik perusahan, maka ia wajib mengembalikan, kesadaran inilah yang disebut sebagai kesadaran moral, karena ia harus mempertanggung jawabkan hal tersebut bukan hanya ia seorang karyawan tetapi ia sadar bahwa ia juga seorang hamba Tuhan.

Seorang yang menimbun barang dagangan akan dianggap sebagai seorang yang dzalim dengan melakukan monopoli padahal rakyat sangat sullit mencari barang tersbut. Dari ayat dan hadits tersebut sudah cukup jelaslah bahwa dalam Islam berbisnis adalah seuatu yang dibenarkan dan dalam mejalankannya pun terdapat aturan berperilaku yang harus diperhatikan oleh pelaku bisnis tersebut. Dalam mejalankan usaha tersebut pastilah dibutuhkan bekerja untuk mencapai tujuan dari usaha/niaga/bisnis, apakah itu dengan cara pribadi, kelompok kecil atau kelompok besar.

Pekerjaan dalam al-Qur`an

Di dalam al-Quran terdapat lebih dari 100 ayat yang berbicara tentang profesi dan kerja diantaranya:

(4)

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. Al-Qashash: 26)

“Dan yang lain orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah (QS. Al-Muzzammil: 20)

Kepedulian terhadap etika profesi bertitik tolak dari mafhum firman Allah:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl: 89)

Al-Quran menjelaskan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya. Ini menunjukkan pentingnya mengaitkan kerja dengan dasar-dasar islam, karena dasar-dasar islam datang dengan membawa sesuatu yang mengandung kebaikan dalam kehidupan manusia di dunia dan di akhirat nanti.

Maka setiap pekerjaan mubah yang orang muslim bekerja di dalamnya dengan niat baik untuk membangun masyarakat islam, atau membantu kaum muslimin maka ia menanam untuk akhirat, apakah pekerjaan itu bersifat, syar’iyyah, ilmiah, industry, administrasi, pendidikan atau lainnya. Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan masing-masing orang mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, Muslim dari Umar)

Para nabi makan dari pekerjaannya

Cakupan islam yang luas ini adalah salah satu prinsip dasar bagi akidah islam dan kebudayaan islam. Imam Muhammad ibn hasan al-Syaibani berkata:

“Nabi Nuh as adalah seorang tukang kayu, dia memakan dari hasil usahanya. Isris as adalah penjahit, Ibrahim penjual pakaian, Daud memakan dari hasil karyanya (pembuat baju besi), sulaiman pengerajin membuat miktal (wadah berisi 30 sha’) dari daun kurma (atau juga kelapa dan pandan), dan dia makan dari situ. Zakariya seorang tukang kayu, isa as memakan dari hasil tenun ibunya! (Al-Kasb, 35-36)

Sunnah datang sebagai aplikasi dari etika profesi, dimana Rasul pada saat muda bekerja sebagai buruh menggembalakan kambing milik penduduk Makkah, dan beliau menjelaskan bahwa semua nabi pernah menggembalakan kambing. Kemudian bekerja menjualkan barang dagangan milik Khadijah –sebelum menjadi Nabi- dan ia sukses dalam pergadangannya itu. Lalu sang majikan menawarkan dirinya untuk dinikahi seraya mengatakan:

“Wahai anak paman, aku menginginkanmu karena kekerabatanmu, dan pertengahanmu dalam kaummu, amanahmu, bagusnya akhlakmu dan jujurnya ucapanmu.”

Ibnulqayyim berkata:

(5)

mewakilkannya lebih banyak, memberi hadiah dan diberi hadiah, menghibahkan dan dihibahi, meminjam uang dan barang, memberi jaminan secara umum dan khusus, mewakafkan dan memberi syafaat; terkadang diterima dan terkadang ditolak.”

Begitu pula nabi saw mendorong untuk bekerja dan menjelaskan bahwa bekerja adalah sebaik-baik mata penjaharian

Tidaklah seseorang makan makanan lebih baik baginya dari pada memakan dari hasil pekerjaan tangannya.” Beliau bersabda: “dan Daud memakan dari hadil pekerjaan tangannya.”

“Tidaklah mendapatkan rizki seseorang satu rizki yang lebih baik dari pada pekerjaan tangannya, dan tidaklah seseorang berinfak untuk dirinya, istrinya, anaknya dan pelayannya melainkan ia adalah sedekah.”

Bekerja adalah bagian dari jihad

Bahkan menganggapnya termasuk bagian dari pada jihad fi sabilillah:

“Jika ia keluar bekerja untuk anaknya yang kecil-kecil maka dia fi sabilillah. Jika dia keluar bekerjua untuk menafkahi kedua orang tuanya yang sepuh dan tua maka dia fi sabilillah. Jika dia keluar bekerja untuk menafkahi dirinya, menjadikannya afif (bersih) maka dia fi sabilillah. Jika ia keluar untuk riya` (pamer) dan persaingan (gengsi) maka ia di jalan setan.”

Nabi menjelaskan barang siapa menggabungkan antara dunia dan akhirat maka itu lebih baik dari pada mencukupkan pada salah satunya saja:

“Bukanlah orang terbaik kamu orang yang meninggalkan dunianya untuk akhiratnya dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya, hingga ia mendapatkan dari keduanya secara bersama-sama, karena dunia adalah bekal akhirat, dan janganlah kalian menjadi beban atas orang lain.”

Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani dalam kitab al-Kasb menyebutkan bahwa bekerja itu wajib atas setiap muslim, dan beliau panjang lebar menyebutkan dalilnya. Imam Ahmad menafsiri sabda Nabi saw:

“Kalau kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Dia memberi rizki kalian sebagaimana Dia memberi rizki bangsa burung, pagi hari berangkat lapar sore hari pulang kenyang.” Dengan ucapannya: ini menunjukkan adanya usaha mencari bukan duduk (diam) Imam Ahmad ditanya tentang ucapan seseorang:

Aku duduk saja tidak perlu bekerja sampai dating padaku rizkiku. Maka beliau berkata: orang ini tidak tahu ilmu, tidakkah dia mendengar sabda Nabi:

Sesunggunya Allah menjasikan rizkiku ada di bawah bayang-bayang tombakku? Dan sabdanya: “Berangkat pagi hari lapar, pulang sore hari kenyang? Dan tidakkah dia tahu bahwa dulu para murid Nabi berdagang di darat dan di laut serta bekerja di ladang (kebun kurma) mereka, dan merekalah panutan.”

(6)

Dalam penjelasan terdahulu terdapat bantahan atas orang yang menyangka bahwa berdagang bertentangan dengan tawakkal, karena Nabi justru sebaik-baik orang yang bertawakkal kepada Allah, dan beliau menetapkan perdagangan dan berpencar di muka bumi untuk mencari rizki. Imam bukhari membuatr judul “Bab mata pencaharian seseorang dan ketrampilannya, bab keluar berdagang, bab firman Allah “ممتتبمسسكس امس تتابسييتطس نمت اموقتفتنأس ” (belanjakan dari bagusnya rizki yang kalian peroleh. Al-Baqarah: 167), bab menyebut Shawwagh (tukang perhiasan), bab menyebut al-Qain (pandai besi, pengrajin), bab Khayyath (tukang jahit), bab Nassaj (tukaang tenun, penyulam), bab para Najjar (tukang kayu), bab Aththar (tukang minyak wangi), bab menyebut tukang bekam, bab perniagaan sesuatu yang makruh dipakai. Imam Bukhari menyebutkan ini semua sebagai dalil bahwa beliau menyetujuinya. Cukuplah bagimu ijma para ulama tentang legalitas bekerja sebagai bantahan atas orang ini.

Sebagian ulama telah menulis kitab tentang tata caranya dalam hukum, tugas-tugas yang dia kerjakan sendiri, tugas-tugas yang ia wakilkan pada orang lain, macam-macam pekerjaan dan profesi yang ada pada zamannya, dan siapa saja dari para sahabat yang menggelutinya.”

Sementara pekerjaan sahabat yang ditugaskan oleh nabi i:

- Ta’lim : dilaksanakan oleh Mush’ab bin Umair, Muadz ibn Jabal dan Amr ibn Hazm

- Qadha: dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan Muadz bin Jabal

- Adzan: dilakukan oleh Bilal bin Rabah, ibnu Ummi Maktum dan abu Mahdzurah

- Menarik Jijyah: dilaksanakan oleh Abu Ubaidah ibn al-Jarrah

- Menarik zakat: dilaksanakan oleh sekumpulan sahabat diantaranya: Umar ibn al-Khththab dan Muadz ibn Jabal dan Adiy bin Hatim.

Perbedaan sahabat dalam macam-macam pekerjaan tidak menunjukkan keutamaan sebagiannya atas sebagian yang lain, tetapi masing-masing dari mereka menempati posisi penting di tempatnya. Kalau seluruh sabat bekerja di bidang ta’lim tentu tidak ada orang yang berdagang pakaian untuk menutup aurat, atau orang yang meraut panah untuk jihad, atau membuiat lampu untuk penerangan.

Sesungguhnya pekerjaan tidak membuat pelakunya suci akan tetapi yang mengangkat dan merendahkannya adalah niatnya dan maksudnya antara dirinya dan Allah. Dulu sahabat setelah nabi saw bekerja dalam pekerjaan yang bermacam-macam, begitu pula para imam setelah sahabat, tanpa ada pengingkaran dari mereka, sesuatu yang menunjukkan ijma’ mereka atas legalitas pekerjaan dan profesi.

- Dalam Tijarah (perdagangan): Abu Bakar al-Shiddiq, Umar al-Faruq, Zubair ibnul Awam, Abdurrahman bin Auf, Khadijah bintu Khuwailid, Said bin ‘Aidz, Abu Mi’laq al-Anshari, Hathib bin Abi Balta’ah, Zaid bin Arqam dan Bara` bin Azib.

(7)

- Dalam Khiyathah (jahit-menjahit): Usman bin Thalhah juru kunci masjidil Haram), Sahl bin Sa’ad.

- Dalam Shaid (perburuan hewan): Adiy bin Hatim, Abu Qatadah al-Anshari.

- Dalam Dibaghah (penyamakan kult): al-Harits ibn Shubairah.

- Dalam penganyaman al-Khush (tikar): Salman al-Farisi, hingga saat menjabat sebagi amir Madain

Adapun paara imam yang terdepan maka Abu Hanifah bekerja dalam perdaghangan kain (aqmisyah, Khazz). Imam Malik bekerja dalam perdagangan pakaian (tsiyab, al-Bazz), Imam Ahmad bekerja dalam pembuatan dan penjualan roti (Bakry) beliau menyewakan took, dan kadang menenun dan menjual.

Bingkai akhlak bagi pekerja dan investor muslim

1. Niat yang baik. Melindungi diri dari minta-minta, bekal taat dan takwa, mencukupi keluarga, bekal silaturrahim, infak fi sabilillah.

2. Akhlak yang baik. Jujur, amanah, qana’ah, wafa` terhadap janji, bagus menagih, bagus membayar, jauh dari kecurangan dan kezaliman.

3. Bermuamalah dengan yang thayyib. Usaha barang dan jasa harus halal

4. Menunaikan hak-hak. Baik hak karyawan (buruh) maupun lainnya.

5. Menjauhi riba dan akad-akad yang menyeret kepada riba. Menjauhi memakan harta dengan batil, seperti: riba, judi, korupsi, babi, khamer, narkoba dan khabaits.

6. Konsisten dengan undang-undang dan peraturan dalam bingkai syariah. Berupaya keras untuk tidak memasuki tindakan-tindakan yang menyeretnya kepada undang-undang yang menyalahi syariat (misal terlambat cicilan yang berakibat terkena bunga).

7. Tidak membahayakan orang lain.

8. Loyal kepada kaum mukminin

9. Terus mendalami hokum-hukum syariat tentang muamalat syar’iyyah.

Etika dalam Bekerja

(8)

a. Bekerja Sebagai Ibadah

Bekerja dalam pandangan Islam memilki nilai ibadah, firman allah dalam surat Adzariyat:56: “sesungguhnya tidak aku ciptakan Jin dan Manusia kecuaali agar beribadah kepada-Ku”, kata Li Ya’budun dalam surat tersbut mengandung arti dampak atau akibat atau kesudahan, bahakan dalam melaksanakan shalat kita selalu bersumpah dan berpasrah bahwa hidupku, matiku lillahi rabbil ‘alamiin.

Namun kerja yang diluar ibadah ritual bagaimana yang akan berdampak ibadah?

Kerja bernilai ibadah apabila ia didasari keikhlasan dan menjadikan si pekerja tidak semata-mata mengharapkan ibalan duniawi saja tetapi ia juga berharap akan balasan yang kekal diyaumil akhirah. Dengan niatan bahwa ia bekerja untuk mendapatkan harta yang akan ia jadikan sebagai sarana bagi dirinya untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya sehingga dapat melakukan perintah allah yang lain.

b. Bekerja sebagai sebuah Amanah

Kata amanah, aman dan iman berasal dari akar kata yang sama. Seorang disebut beriman bila ia telah menunaikan amanat. Tidak disebut beriman orang yang tidak menunaikan amanat. Seorang yang menunaikan amanat akan melahirkan rasa aman bagi dirinya dan orang lain. Di dalam al Qur’an banyak ayat yang memerintahkan agar manusia menunaikan amanat yang telah dipercayakan kepadanya. Diantaranya:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. al Ahzab/33:72)

Menurut Murtadha Muthahhari amanat dalam ayat ini artinya taklif, tanggung jawab dan hukum. Artinya amanat manusia harus dibangun berdasarkan tugas dan tanggung jawab. Pendapat senada dikemukakan juga oleh Muhammad Ali al Shobumi, amanah dalam ayat ini adalah taklif syari’at, keharusan menta’atinya dan meninggalkan kemaksiatan. Itulah sebabnya, langit dan bumi tidak sanggup menerimanya. Makhluk-makhluk lain selain manusia, diberi oleh Allah instink termasuk bumi dan langit. Dengan instink ini langit dan bumi tidak dapat menerima amanat seperti tersebut diatas. Apabila amanat itu berupa materi mungkin ia dapat menerima, tanpa ada tanggungjawab ia hanya menerima saja. Seperti amanat Allah kepada Matahari agar ia beredar pada porosnya, demikian pula bumi dan bulan.

(9)

Dalam konteks ini, matahari, bumi dan bulan dalam menerima amanah, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Ia tidak mempunyai pilihan, yang ada hanya instink untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Dan kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (QS ali Imron/3:83)

Berbeda dengan makhluk Allah SWT yang lain, manusia diberi potensi berupa akal. Dengan akal itu manusia sanggup dan mampu menerima amanat yang ditawarkan kepadanya. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Wahab Kholaf bahwa seluruh aktivitas manusia, baik yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, jinayat atau berbagai transaksi lainnya mempunyai konsekwensi hukum . Dan manusia mempunyai hak untuk memilih dan mengikuti atau tidak melaksanakan apa yang ditawarkan kepadanya. Tetapi mengapa manusia saat menerima tawaran Allah berupa amanat disebut sebagai dzaluman Jahula (amat zalim dan bodoh) ?

Setelah manusia menerima amanah itu, manusia mempunyai tanggung jawab dan konsekwensi hukum dari semua yang diperbuatnya. Apabila ia menunaikan amanat dengan menggunakan akalnya, ia termasuk manusia yang cerdas, tetapi sebaliknya bila ia tidak sanggup menggunakan akal pikirannya untuk menunaikan amanat itu, maka manusia disebut sebagai menzalimi dirinya sendiri dan bersikap bodoh.

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk disisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mau menggunakan akalnya. (QS. al Anfal/8:22)

Binatang yang paling buruk adalah manusia yang diberi akal dan hati, tetapi ia tidak memahami, diberi telinga, tetapi tidak mendengar dan dibekali mata, namun ia tidak sanggup melihat. Bahkan untuk mereka disediakan neraka Jahanam. Manusia yang tidak pandai memilih kebenaran yang ada dihadapannya, dan tidak sanggup memperjuangkan keadilan yang didengarnya dan matanya tidak dapat melihat kebenaran yang ada disekelilingnya itulah yang disebut dzaluman Jahula.

Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa siapa yang diberi kebebasan dan amanat yang jelas kebaikannya dan ia telah merasakan nikmat dari amanat itu, lalu ia memilih yang tidak sesuai dengan hati nurani, tempat yang layak baginya adalah neraka Jahannam.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al A’raf /7:179)

(10)

ditetapkan untuk dilaksanakan. Dalam kontek ini, amanat dapat disamakan dengan imarat al maknawiyah yakni mengisi dan meningkatkan kualitas dan intensitas bekerja sebagai “sebuah gerakan” yang terus menerus, dinamis dan inovatif

c. Bekerja Dengan Bersungguh-sungguh

Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.

Ayat diatas menunjukkan kepada kita bahwa dalam melakukan sesuatu haruslah dengan kesungguhan dan kemampuan, hal ini berlaku bukan hanya bagi pribadi namun juga akan berlaku juga dalam kelompok atau dengan kata lain sebuah organisasi atau perusahaan. Sebuah kata bijak (atsar) mengatakan bahwa : “kebaikkan yang tidak terencana/terorganisasi /didasari oleh kemampuan akan dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terencana/ terornaisasi dengan baik”.

Rasulullah saw pernah bersabda:

“sesungguhnya allah senang apabila salah seorang dianatara kamu mengerjakan suatu pekerjaan, bila dikerjakan dengan baik(jitu)”

d. Menghargai Waktu

Islam sangat istimewa dalam membicarakan tentang waktu, bahkan salah satu surat dalam Al-qur’an khusus menuliskan bagaiman apabila kita tidak mengahargai waktu, yaitu dalam surat Al-Ashr. Dalam surat ini Allah dengan jelas memperingatkan kepada manusia (pribadi/kelompok) apabila ia tidak betul-betul memperhatikan waktu, dengan ancaman kerugian (dalam hal ini kerugian mencakup secara materi maupun immaterial) dan hal tersbut dapat terhindari apbila ia mampu menjaga komitmen (amanu) dengan konsekwen menjalankan aturan dan kewajiban (amilu Ash-sholihat)

Imam Ali mengatakan“ Waktu adalah Pedang, apabila ia tidak tepat dimanfaatkan maka ia dapat melukai/membunuh diri sendiri”

e. Kerjasama

Dalam ibadah shalat kita selalu membaca “iyyaka na’budu….” Ayat tersebut dikemukakan secara jamak yang berati “hanya kepadaMu kami menyembah…”, Islam begitu mengutamakan sesuatu yang dilakukan secara berjamaah. Dalam kesehariannya rasululahpun selalu mengingatkan untuk saling bekerjasama.

(11)

mengulitinya”, dan yang kempat mengatakan “saya akan memasaknya. Maka Rasulullah saww bersabda: saya akan mengumpulkan kayu bakarnya.

Dalam kisah lain, pada saat membangun masjid nabawi para sahabat menganjurkan Rasulullah untuk beristirahat/tidak perlu ikut turun tangan, namun rasulullah tetap ikut dalam pembangunan masjid tersebut. Dari sini jelaslah bahwa Islam sangat menganjurkan Budaya Bekerjasama dalam hal kebaikan.

…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS:Al-Maidah:2)

f. Bekerja dengan pengetahuan(Ilmu)

Dalam melakukan sebuah pekerjaan seharusnyalah seseorang memiliki pengetahuan atas apa yang akan ia kerjakan, hal ini akan berdampak pada apa yang akan dihasilkan dari pekerjaan itu.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS:Al-Isra:36)

Dalam surah yang lain allah menjanjikan bahwa orang yang memliki pengetahuan lebih mulia beberapa derajat.

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS:Al-Mujaadilah:11)

g. Bekerja dengan memiliki keahlian

Selain Ilmu yang dimiliki kita juga harus memliki keahlian(spesialisasi) dalam bekerja yang juga akan berdampak pada hasil yang kita dapatkan.

Rasulullah Saww bersabda:

Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhori)

h. Pengendalian Mutu

(12)

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS:At-Taubah:105)

i. Kesimpulan

Dari apa yang kita pelajari, maka dapatlah kita simpulkan bahwa, ketika seorang menganggap dirinya sebagai seorang professional maka ia harus memliki unsur:

a. Bertauhid b. Amanah c. Berakhlaq d. Memiliki Ilmu e. Keahlian

Referensi

Dokumen terkait

sekolah sebagai wadah pembiasaan untuk proses internalisasi nilai-nilai PAI kepada para siswa, yang mana kemudian budaya religius sekolah tersebut berisiskan tradisi

Namun ia masih bersikeras untuk berjalan sampai setidaknya keluar dari gerbang desa, dimana ia bisa menyewa kuda-kuda untuk transportasi —atau, kalau beruntung,

Adapun batas administrasi dari Kampung Pulo adalah sebagai berikut (Pemerintah Kabupaten Garut, 2010): Utara: Desa Neglasari Kecamatan Kadungora, Timur: Desa

UAV merupakan sistem tanpa awak (Unmanned System), yaitu sistem berbasis elektro-mekanik yang dapat melakukan misi-misi terprogram, dengan karakteristik: (i) tanpa awak

Warung hidup adalah lahan yang ditanami dengan berbagai tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluargaB. Tanaman yang ditanam dapat berupa buah-buahan

Oleh sebab itu pemberdayaan keluarga dalam upaya-upaya kesehatan jiwa di atas sangat diperlukan yang dapat memberikan pengetahuan mengenai cara pemberdayaan keluarga melalui

Agar validitas metode ini terjamin, maka akan diberikan suatu contoh kasus dari persamaan integral fuzzy Volterra dan membandingkan penyelesaian eksak dan

Terlihat jelas bahwa kepercayaan merupakan faktor penting bagi konsumen agar tidak mudah berpindah ke produk lain.Maka dari itu, perusahaan Iphone Apple harus memikirkan