• Tidak ada hasil yang ditemukan

NAMA : FRITA ANJELINA PAKPAHAN NIM : 100707018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "NAMA : FRITA ANJELINA PAKPAHAN NIM : 100707018"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

TRADISI GANDAI DALAM KONTEKS UPACARA PERKAWINAN PADA MASYARAKAT PEKAL DI KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN

BENGKULU UTARA, BENGKULU: DESKRIPSI PERTUNJUKAN,

PERUBAHAN, DAN FUNGSINYA

SKRIPSI SARJANA O

L E H

NAMA : FRITA ANJELINA PAKPAHAN NIM : 100707018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA

DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN

(2)

ii

TRADISI GANDAI DALAM KONTEKS UPACARA PERKAWINAN PADA MASYARAKAT PEKAL DI KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN

BENGKULU UTARA, BENGKULU: DESKRIPSI PERTUNJUKAN,

PERUBAHAN, DAN FUNGSINYA

SKRIPSI SARJANA

NAMA: FRITA ANJELINA PAKPAHAN NIM : 100707018

Disetujui oleh

Pembimbing I, Pembimbing II,

Arifninetrirosa, SST., M.A Dra. Heristina Dewi, M.Pd. NIP 196502191994032002 NIP 196605271994032010

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA

DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN

(3)

iii PENGESAHAN

DITERIMA OLEH:

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk

melengkapi

salah satu syarat Ujian Sarjana Seni dalam bidang disiplin Etnomusikologi pada

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada Tanggal :

Hari :

Fakultas Ilmu Budaya USU,

Dekan,

Dr. Syahron Lubis, M.A.

NIP 195110131976031001

Panitia Ujian: Tanda Tangan

1. Drs. Muhammad Takari, M.Hum.,Ph.D ( )

2. Dra. Heristina Dewi, M.Pd ( )

3. Arifninetrirosa, SST. M.A ( )

4. Drs. Fadlin, M.A ( )

(4)

iv

DISETUJUI OLEH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI

KETUA,

Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D

(5)

v ABSTRAKSI

Skripsi ini berjudul Tradisi Gandai Dalam Konteks Upacara Perkawinan Pada Masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu: Deskripsi Pertunjukan, Perubahan, dan Fungsi. Melalui skripsi ini, penulis akan mengkaji tentang tiga aspek dalam konteks upacara perkawinan adat Pekal di Kecamatan Ketahun. Adapun ketiga aspek tersebut adalah: (a) deskripsi pertunjukan; (b) Perubahan yang terjadi; dan (c) fungsi pada sosial masyarakat Pekal. Penelitiannya akan difokuskan kepada bagaimana pertunjukan tradisi

Gandai tersebut dalam konteks upacara perkawinan adat masyarakat Pekal,

deskripsi gerak Gandai, musik pengiring, perubahan yang terjadi terhadap tradisi Gandai tersebut, serta fungsinya dalam sosial masyarakat Pekal itu sendiri.

Pendekatan yang penulis lakukan adalah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun dalam proses kerjanya, penulis akan melakukan pengamatan terlibat, wawancara, studi pustaka (termasuk pustaka online), perekaman kegiatan, transkripsi, dan analisis laboratorium. Penelitian ini terfokus kepada pendapat informan dalam konteks studi emik, namun diimbangi dengan pendekatan etnik oleh penulis. Informan berjumlah lima orang, yang terdiri dari satu orang Ketua Badan Musyawarah Adat Pekal, satu orang Budayawan Pekal, satu orang penari Gandai, dan dua orang pemusik Gandai yang terdiri dari satu orang pemain edap dan satu orang pemain sunai. Pada proses pentranskripsian musik iringannya akan dituliskan ke dalam notasi balok dengan menggunakan program sibelius.

Dari metode dan teknik tersebut di atas akan didapatkan hasil penelitian sebagai berikut. (a) deskripsi tradisi Gandai pada upacara perkawinan adat masyarakat Pekal yang di dalamnya terdapat tahapan-tahapan upacara perkawinan adat masyarakatnya. (b) Struktur melodi sunai yang secara umum adalah repetitif. (c) perubahan dan fungsinya dalam sosial masyarakat Pekal.

Kata Kunci: gandai, tari, deskripsi pertunjukan, perubahan, fungsi.

(6)

vi

This thesis entitled Gandai Tradition in the Context of the Community marriage ceremony in the District Ketahun, North Bengkulu, Bengkulu: Description of Performance, Change, and Function. Through this thesis, the authors will examine three aspects in the context of Pekal marriage ceremony custom in District Ketahun. The three aspects are: (a) description of the performance; (b) The changes; and (c) social function in Pekal society. The research is focused on how about the performance of Gandai tradition in the context of custom marriage ceremony in Pekal society, description movement of Gandai, musical accompaniment, the changes of Gandai tradition, and social functions of Gandai tradition.

The approaches used is qualitative research methods. In the process it works, the author will do partisipant observations, interview, study of literature (include online literature), recording, transcription, and laboratory analysis. This research focused on informants opinion in the context of emic study, but offset by ethic study of the author. The informant amounted five, consisting of a chairman of the Pekal customary, a Pekal cultural observer, a Gandai dancer, and two musician consisting of one for edap player and one more for sunai player. In the process of music transcription will be written into notation by using sibelius program.

From the methods and techniques described above can be obtained following results. (a) description of gandai tradition in marriage ceremony of Pekal customary that it will also include stages of Pekal marriage ceremony. (b) Sunai melodic structure which are largely repetitive. (c) change and its function in Pekal society.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa

atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

yang berjudul Tradisi Gandai Dalam Konteks Upacara Perkawinan pada Masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu: Deskripsi Pertunjukan, Perubahan, dan Fungsi. Skripsi ini dikerjakan demi memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana Seni (S.Sn) dari

jurusan Etnomusikologi FakultasIlmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Dalam kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan banyak terima

kasih kepada orang tua terbaik yang sangat penulis cintai, Papa N Pakpahan dan

Mama M Sikumbang. Terima kasih atas doa, perhatian, dan pengorbanannya yang

sungguh luar biasa khususnya dalam proses pengerjaan skripsi ini. Terima kasih

juga atas bimbingannya dari mulai kecil hingga sekarang diberi kesempatan untuk

menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi. Terima kasih penulis sampaikan

kepada saudara-saudara yang penulis sayangi yaitu adik Soferdy Apriansyah

Pakpahan, adik George Faresh Pakpahan, dan adik Dinda Krisnauli Pakpahan.

Perhatian kalian menyemangati penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Serta

terima kasih kepada adik-adik sepupuku, keluarga besar Pakpahan dari

Pangaribuan, dan keluarga besar Nenek Buyut Utiah tersayang.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. dr.

Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas

Sumatera Utara beserta jajarannya dan Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku

(8)

viii

fasilitas dan sarana pembelajaran selama menuntut ilmu di Universitas

Sumatera Utara tercinta ini.

Dalam hal ini, Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu

Arifninetrirosa, SST., M.A selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu Dra. Heristina

Dewi, M.Pd selaku Dosen Pembimbing II dan sekaligus Sekretaris Departemen

Etnomusikologi. Kedua dosen pembimbing yang hebat ini sangat membantu

penulis selama penyelesaian skripsi. Mereka juga memberikan banyak saran,

semangat dan pelajaran mengenai kesabaran, keberanian, dan kepandaian dalam

penulisan skripsi ini.

Kemudian terima kasih kepada kepada Bapak Drs. Muhammad Takari,

M.Hum., Ph.D selaku Ketua Departemen Etnomusikologi, kepada Bapak Drs.

Fadlin, M.A selaku Ketua Laboratorium Departemen Etnomusikologi serta

sebagai dosen Pembimbing Akademik penulis selama kuliah, dan segenap

dosen-dosen di Departemen Etnomusikologi yang turut membantu lancarnya proses

penyelesaian skripsi ini. Begitu pula kepada Ibu Adry Wiyanni Ridwan S.S selaku

pegawai administrasi di Departemen Etnomusikologi yang telah membantu semua

urusan administrasi penulis. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada

informan penulis yaitu Bapak Zhamari A. S Jamal, Bapak Makmur, Ibu Ratna,

Ibu Syuraiani, Bapak Ali Bidin, Bapak Mahmudin, dan Bapak Herman, .

Ucapan terima kasih kepada teman-teman stambuk 2010 yakni Anna

Purba, Yenni Alexandra Mrp, Maharani N Tarigan, Pretty P Manurung, Mei

Linda Tarigan, Friska Simamora, Lido Hutagalung, Benny Yogi Purba, Rony

Sinaga, A M Surung Solin, Yusuf siregar, dan teman-teman seperjuangan

(9)

ix

seperti keluarga selama proses perkuliahan. Tidak terasa sudah empat tahun

kita bersusah senang bersama.

Penulis juga berterima kasih banyak kepada kak Reny Yulyati Br

Lumban Toruan S.Sn yang sudah menjadi teman sekamar, teman menari,

teman suka, dan teman duka penulis. Terima kasih banyak juga kepada

teman-teman menari penulis di sanggar Tigo Sapilin yaitu teteh Riza, kak Dina

Mayantuti Sitopu S.Sn, kak Jery Periance Saragih S.Sn, kak Chrismes Manik

S.Sn, kak Sari Ramadhani S.E, Syafwan Arrazak, dan Friska Simamora. Serta

terima kasih banyak kepada Sopandu Manurung dan Titi K Laoli,yang telah

membantu penulis dalam proses pentranskripsian.

Penulis juga mengucapkan beribu-ribu maaf apabila ada kata yang

kurang berkenan dalam hati dan beribu-ribu maaf pula apabila ada nama yang

lupa penulis cantumkan. Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih kepada

seluruh pihak yang sudah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga hasil penelitian dari skripsi ini dapat berguna bagi masyarakat Pekal,

bagi pembaca dan juga kepada peneliti berikutnya.

Medan, Agustus 2014

Penulis

Frita Anjelina Pakpahan

NIM: 100707018

(10)

x

1.5.1 Studi Kepustakaan ... 15

1.5.2 Penelitian Lapangan ... 15

1.5.2.1 Wawancara ... 16

1.5.2.2 Perekaman ... 16

1.5.3 Kerja Laboratorium (Desk Work) ... 17

1.5.3.1 Metode Transkripsi 18 1.6 Lokasi Penelitian ... 18

BAB II: MASYARAKAT PEKAL DI KECAMATAN KETAHUN ... 19

2.1 Lokasi Lingkungan Alam dan Demografi ... 19

2.2 Asal-usul Masyarakat Pekal ... 27

2.3 Mata Pencaharian ... 30

2.4 Sistem Agama dan Kepercayaan ... 31

2.5 Sistem Kekerabatan ... 32

2.6 Bahasa ... 34

2.7 Kesenian ... 36

BAB III: PERTUNJUKAN TRADISI GANDAI DALAM KONTEKS UPACARA PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT PEKAL ... 39 3.1 Asal Usul Tradisi Gandai ... 39

3.2 Perkawinan Pada Masyarakat Pekal ... 41

3.3 Jenis Pesta Perkawinan ... 42

(11)

xi

BAB IV: DESKRIPSI PERTUNJUKAN TRADISI GANDAI ... 61

4.1 Pendukung Pertunjukan ... 61

4.1.1 Penari ... 61

4.1.2 Pemusik ... 62

4.1.3 Penonton ... 62

4.2 Perlengkapan Pertunjukan ... 63

4.2.1 Pengujung ... 63

4.2.2 Kostum dan Tata Rias ... 64

4.2.2.1 Kostum ... 64

4.2.2.2 Tata Rias ... 65

4.2.3 Alat Musik yang Digunakan ... 67

4.2.3.1 Edap ... 67

4.4 AnalisisMusik Iringan ... 98

4.4.1 Model Notasi ... 98

4.4.2 Melodi Sunai dan Strukturnya ... 99

4.4.2.1 Tangga Nada ... 102

4.4.2.2 Nada Dasar ... 103

4.4.2.3 Wilayah Nada ... 103

4.4.2.4 Frekuensi Pemakaian Nada ... 104

4.4.2.5 Jumlah Interval ... 104

4.4.2.6 Formula Melodik ... 105

4.4.2.7 Pola Kadensa ... 108

4.4.2.8 Kontur ... 110

BAB V: FUNGSI DAN PERUBAHAN TRADISI GANDAI ... 112

5.1 Fungsi Gandai Sebagai Fenomena Kontinuitas ... 112

5.1.1 Fungsi Pengungkapan Emosional ... 113

5.1.2 Pengungkapan Penghayatan Estetika ... 113

5.1.3 Fungsi Hiburan ... 114

5.1.4 Fungsi Komunikasi ... 114

5.1.5 Fungsi Reaksi Jasmani ... 115

5.1.6 Fungsi yang Berkaitan dengan Norma Sosial ... 115

5.1.7 Fungsi Pengintegrasian Masyarakat ... 116

5.1.8 Fungsi Berdasarkan Teori Narawati dan Seodarsono ... 116 5.2 Perubahan Tradisi Gandai dalam Kebudayaan Masyarakat

(12)

xii

BAB VI: PENUTUP ... 120

6.1 Kesimpulan ... 120

6.2 Saran ... 122

DAFTAR PUSTAKA ... 123

DAFTAR INFORMAN ... 125

(13)

xiii

Gambar 2.1 Peta Kecamatan Ketahun Dilihat Dari Provinsi Bengkulu ... Ketua Badan Musyawarah Adat ... 47 Gambar 3.3 Serawo ... 48

Gambar 3.4 Bolu Koja yang Akan Dihidangkan Bersama Serawo ... 48 Gambar 3.5 Rombongan Calon Pengantin Lanang Tiba ... 51

Gambar 3.6 Lengguai Nikah yang Dibawa Calon Pengantin Lanang ...

Gambar 3.10 Penyematan Cincin ... 54

(14)

xiv

Tabel 2.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 22 Tabel 2.3 Distribusi Sarana Pendidikan ... 22 Tabel 2.4 Nama-nama Satuan Pendidikan di Kecamatan

Ketahun ...

23

Tabel 2.5 Perbedaan Bahasa Pekal dengan Beberapa Bahasa Para-Melayu ...

35

Tabel 4.1 Nama Ragam Gerak Gandai ... 72 Tabel 4.2 Deskripsi Kinesiologis Tradisi Gandai ... 77

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Siklus1 hidup manusia dimulai sejak menjadi janin dalam kandungan,

lahir, dewasa, perkawinan, memiliki anak, memasuki keorganisasian, kematian,

pasca kematian, dan seterusnya. Menurut William Haviland (2014: 200)

pernikahan atau perkawinan adalah kesatuan sosial atau ritual yang diakui atau

juga kontrak sah antara pria dan wanita yang saling menetapkan hak dan

kewajiban, antara mereka dan anak-anak mereka, dan antara mereka dan hukum.

Fungsi utama perkawinan adalah untuk melanjutkan keturunan. Sedangkan

gunanya adalah untuk memuaskan nafsu biologis manusia, menerima dan

memberi kasih sayang kepada pasangan hidup, membina keluarga, menyatukan

dua keluarga besar, dan sebagainya. Dimana terjadi suatu hubungan antara

seorang pria dan seorang wanita secara seksual yang nantinya perempuan yang

bersangkutan memenuhi syarat untuk melahirkan anak (Goodenough,1970:12 13).

Dalam menuju proses itu, harus terlebih dahulu mengikuti upacara

pengabsahannya yang sering disebut upacara perkawinan. Disini agama

memegang peran utama, karena dalam masyarakat tertentu perkawinan tidak

boleh bertentangan dengan ajaran agama dan norma-norma adat. Demikian juga

yang terjadi pada masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun.

1

(16)

2

Pekal adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Provinsi Bengkulu,

terutama di Kabupaten Bengkulu Utara. Suku Pekal merupakan proses asimilasi2

antara suku Rejang dan suku Minangkabau. Masyarakat Pekal dalam sistem

kekerabatannya sama seperti dengan masyarakat Minangkabau yang menerapkan

sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan dari pihak ibu).3

Dalam melaksanakan tata cara adat perkawinannya, masyarakat Pekal

harus menjalankan secara adat dan agama. Tata cara menurut adat sudah

dijalankan dari mulai betanyu (melamar), berasan, 4 akad nikah, pesta resepsi.

Pada tahap akad nikah, adat tetap berjalan bersamaan dengan agama. Disini Ketua

Badan Musyawarah Adat dan perwakilan dari Kantor Urusan Agama (KUA)

duduk berdampingan selama proses akad nikah berlangsung. Para majelis adat

dan keluarga kedua belah pihaklah sebagai saksi. Setelah itu pada malam harinya

malam begandai dimana ditampilkan pertunjukan Gandai. Dalam upacara

pernikahan masyarakat Pekal, malam begandai digunakan untuk berkumpul

dengan semua keluarga, tetangga, teman-teman dari kedua pengantin. Gandai

sendiri berarti tari yang ditarikan bersama-sama. Tradisi ini bisa dikatakan sebagai

pelengkap upacara adat, yang dilakukan oleh golongan masyarakat yang tingkat

perekonomiannya relatif baik. Jika tradisi ini atau acara malam begandai tidak

diadakan, pesta resepsi keesokan harinya tetap berlangsung.

2

Asimilasi adalah proses sosial yang timbul dari beberapa golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama sehingga kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifat khasnya yang lambat laun membentuk satu kebudayaan yang baru (budaya campuran).

3Matrilineal

adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Matrilineal berasal dari dua kata, yaitu mater (bahasa Latin) yang berarti "ibu," dan linea

(bahasa Latin) yang berarti "garis". Jadi matrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu. (sumber: id.wikipedia.org/Wiki/Matrilineal).

4

(17)

3

Gandai ini merupakan salah satu tarian yang terdapat di Kecamatan

Ketahun, Provinsi Bengkulu. Diperkirakan sudah cukup lama ada dan

berkembang di dalam masyarakatnya dengan pola-pola tradisi. Tetapi tidak bisa

dipastikan siapa penciptanya dan kapan diciptakan. Menurut Soedarsono (1986 :

93) tari tradisional ialah semua tarian yang telah mengalami perjalanan sejarah

yang cukup lama, yang selalu bertumpu pada pola-pola tradisi yang telah ada.

Dengan mengacu pada pendapat yang dikemukakan di atas, jelas Gandai dapat

dikelompokan pada tari tradisional.

Gandai ini ditarikan selalu pada malam hari pada upacara perkawinan

masyarakat Pekal. Gandai ditarikan oleh dua orang atau lebih penari dan harus

dalam jumlah yang genap, karena menarikannya berpasangan, semakin banyak

penarinya semakin terlihat ramai dan semarak. Jumlah genap ini melambangkan

keseimbangan yang kokoh, misalnya keseimbangan baik-buruk, kiri-kanan,

pulang-pergi, dan sebagainya (Murni dalam Arifni, 2006: 340). Pada umumnya

penarinya adalah perempuan, hanya pada ragam ambat dan ejang baseluk penari

berpasangan (laki-laki dan perempuan). Gerak yang sering disajikan dalam

upacara perkawinan adat masyarakat Pekal hanya ada berkisar enam sampai dua

belas dari tiga puluh enam ragam gerak saja, dari 26 ragam gerak yang ada.5

Karena 6 ragam gerak ini dianggap sudah mewakili 20 ragm lainnya. Dalam

penyajiannya, para penari menari di atas pengujung.6 Tradisi Gandai ini,

dipertunjukkan untuk menghibur pengantin lanang (laki-laki) dan pengantin tinu

(wanita) yang duduk bersanding di pelaminan, keluarga besar kedua pengantin,

5

Menurut wawancara dengan Ibu Ratna selaku penari Gandai pada tanggal 19 Pebruari 2014 6Pengujung

merupakan panggung yang didirikan khusus untuk upacara perkawinan. Pengujung

(18)

4

dan masyarakat yang datang untuk menyaksikannya. Gerakan Gandai diatur oleh

gerakan kaki maupun gerakan tangan.

Peranan musik dalam Gandai ini sangat penting, karena bisa dirasakan

kehadiran Gandai tanpa musik terasa tidak menarik untuk ditonton. Musik iringan

Gandai sangat berkaitan dengan tarinya, musik menjadi pembentuk suasana dan

jembatan bagi perubahan gerak tari. Jadi, disini musik berperan sebagai

terbentuknya keindahan Gandai itu sendiri. Dalam mengiringi Gandai, musik

iringan telah memiliki struktur yang baku sesuai dengan ragam tarinya. Tarian ini

menggunakan dua alat musik, yakni edap (frame drum) sebagai pembawa tempo

dan pembawa ritem variabel dan sunai (endblownflute) sebagai pembawa melodi

dan penentu tempo. Musiknya disajikan dengan pantun yang dibawakan, bisa

dibawakan oleh penari, pemusik, bahkan masyarakat yang menyaksikannya.

Berikut beberapa syair pantun yang dibawakan dalam mengiringi Gandai ini:

Kalu aban mameli regen

(kalau kamu membeli harmonika)

Beli untuk di akui lak regen pecak

(belilah untuk aku harmonika yang pecah)

Kalu aban jadi pengaten

(kalau kamu jadi pengantin)

Enang lak akui basusak payak

(19)

5

Makna dari syair tersebut adalah pesan dari orangtua yang sangat gembira melihat

anaknya menikah sehingga mereka rela bersusah payah untuk mengadakan pesta.

Racang samilu di tengak kebon

(iris kulit bambu di tengah kebun)

Asal tembak ngambik di batang

(asal-asaln ambil di batang)

Ati senang diam di dusun

(hati senang tinggal di dusun)

Enang akui di rantau uhang

(biar aku di rantau orang)

Syair pantun ini bermakna kerinduan masyarakat Pekal yang ada di perantauan

akan kampung halamannya. Mereka yang merantau akan sangat senang bila ikut

terlibat dalam malam begandai sehingga mereka dapat menyampaikan keluh

kesah mereka.

Bintang timur bamiak manis

(bintang timur berminyak manis)

Tagonang-gonang dalam tempian

(tergenang-genang dalam tampi)

Sedang tidoh ku bakik nangis

(sedang tidur aku bangkit nangis)

Mangenang utung dengan bagian

(20)

6

Makna dari syair tersebut adalah keluh kesah seorang janda yang merasa

hidupnya bernasib malang akibat ditinggal pergi suaminya.

Dahulunya Gandai adalah tarian masyarakat Pekal yang dipertunjukan saat

acara buka lahan atau pesta panen dan acara-acara adat lainnya. Masyarakat Pekal

mengapresiasikan suasana hati sekaligus ucapan terima kasih dengan cara menari.

Setiap malam Jumat para masyarakat desa baik yang tua maupun yang muda

berkumpul di balai desa. Namun dewasa ini penyajian Gandai lebih banyak

dipertunjukan pada upacara perkawinan, perpisahan sekolah, dan pengesahan

lembaga-lembaga saja dan sudah jarang dilihat pada kegiatan tanam dan panen,

hal ini dikarenakan sudah banyak masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun yang

tidak lagi bertani atau berladang walaupun masih ada sebagian. Mereka sekarang

lebih banyak bekerja di pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit dan

karet7. Adapun yang mempunyai lahan sendiri kebanyakan mengupahkan

lahannya pada orang lain atau menggunakan mesin untuk membantu mereka.

Sehingga timbul pertanyaan bagaimana deskripsi pertunjukan tradisi Gandai,

mengapa ragam gerak gandai tersebut hanya tinggal dua puluh enam gerak saja

lagi dan apa-apa saja perubahan serta fungsi pada tradisi Gandai dalam konteks

upacara perkawinan pada masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun.

Untuk mengkaji deskripsi pertunjukan tradisi Gandai yang didalamnya

mencakup gerak tari digunakan pendekatan-pendekatan ilmu antropologi tari.

Dimana antropologi tari merupakan disiplin ilmu yang sebelumnya dikenal

sebagai etnologi tari (etnokoreologi). Penelitian terhadap tradisi ini memerlukan

7

(21)

7

bantuan disiplin lainnya, seperti: antropologi, sejarah, psikologi, sosiologi, dan

lainnya seperti yang diungkapkan Janet Adshead (1988: 6). Disiplin-disiplin ini

membantu untuk memahami tari dan fungsi-fungsinya dalam kehidupan

masyarakat pendukungnya.

Tradisi Gandai dalam konteks upacara perkawinan adat masyarakat Pekal

di Kecamatan Ketahun seperti terurai dalam latar belakang ini, dapat didekati

dengan pendekatan multidisiplin ilmu. Pertama untuk mengkaji deskripsi gerak

tari digunakan pendekatan etnokoreologi yang penerapannya dari sejumlah

disiplin ilmu seperti antropologi, musikologi, etnografi, dan lain-lain.

Kedua untuk mengkaji perubahan dan fungsinya digunakan pendekatan

sosiologi, fungsionalisme dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humaniora. Pada

pendekatan sosiologi, hampir semua kajian sosiologi berkaitan dengan perubahan

khususnya perubahan sosial yang menggambarkan realitas sosial. Dalam kajian

sosiologi, masyarakat tidak boleh dibayangkan sebagai keadaan yang tetap, tetapi

sebagai proses, bukan sebagai obyek semu yang kaku tetapi sebagai aliran

peristiwa yang terus menerus. Sehingga dapat dilihat perbedaan antara keadaan

sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. Lalu pada pendekatan

fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari

elemen-elemennya sepertinorma, adat, tradisi, dan institusi.

Berdasarkan fakta lapangan tersebut diatas, penulis memilih judul untuk

(22)

8 1.2Pokok Permasalahan

Agar pembahasan lebih terarah maka ditentukan pokok permasalahan

sebagai berikut:

1. Bagaimana deskripsi pertunjukan tradisi Gandai dalam konteks

upacara perkawinan pada masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun,

Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu?

2. Bagaimana perubahan dan fungsi tradisi Gandai dalam konteks

upacara perkawinan pada masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun,

Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu?

1.3 Tujuan dan Manfaat 1.3.1 Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana deskripsi pertunjukan

tradisi Gandai dalam konteks upacara perkawinan pada masyarakat

Pekal di Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu.

2. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana perubahan dan fungsi

tradisi Gandai dalam konteks upacara perkawinan pada masyarakat

Pekal di Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu.

1.3.2Manfaat

Adapun manfaat yang diambil dari penelitian yang diwujudkan dalam

(23)

9

1. Untuk memperdalam pengetahuan tentang tradisi Gandai dalam

konteks upacara perkawinan pada masyarakat Pekal dan menambah

referensi dan dokumentasi budaya(khususnya Gandai).

2. Sebagai bahan informasi bagi pembaca dan masyarakat mengenai

kesenian Gandai agar dapat mengetahui penyajian Gandai dan musik

iringannya dalam konteks upacara perkawinan pada masyarakat Pekal

di Kecamatan Ketahun.

3. Menambah pengetahuan bagi penulis dan peneliti-peneliti lain.

Penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai materi dasar

atau awal untuk penelitian selanjutnya.

1.4 Konsep dan Teori 1.4.1 Konsep

Tradisi adalah suatu kepercayaan atau perilaku yang diturunkan dalam

suatu kelompok atau masyarakat yang memiliki makna simbolik atau makna

khusus yang berasal dari masa lalu (Thomas A. Green, 1997:800). Kata tradisi

yang dimaksud dalam tulisan ini, yaitu tradisi Gandai yang diturunkan oleh nenek

moyang masyarakat Pekal kepada generasi sekarang ini. Dimana proses

pembelajarannya secara oral (tanpa tulisan).

Gandai berarti tari, tari adalah segala gerak yang berirama atau sebagai

segala gerak yang dimaksudkan untuk menyatakan keindahan ataupun

kedua-duanya (Tengku Luckman Sinar, 1996:5). Dalam tulisan ini yang penulis maksud

dengan Gandai adalah salah satu tradisi masyarakat Pekal yang digunakan pada

(24)

10

penari dalam jumlah genap, yang gerakannya diambil dari kehidupan sehari-hari

masyarakat Pekal. Tradisi ini juga sudah satu kesatuan dengan musik iringannya,

dimana alat musiknya terdiri dari edap dan sunai.

Konteks adalah situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.

Konteks yang dimaksud adalah pada upacara perkawinan dimana upacara

perkawinan itu sendiri adalah aktivitas yang dilakukan untik meresmikan ikatan

perkawinan dua orang yang berjanji secara norma agama, norma hukum, dan

norma sosial.

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut

suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh

suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat 1986:160). Masyarakat yang

dimaksud dalam tulisan ini adalah masyarakat yang tinggal pada Kecamatan

Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Daerah ini sesuai

dengan daerah yang menjadi tempat penelitian penulis dimana daerah ini masih

terdapat pelaksanaan upacara perkawinan yang mempertunjukkan Gandai.

Deskripsi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:258) artinya

mengambarkan apa adanya. Deskripsi atau deskriptif berasal dari bahasa Inggris

yaitu descriptif, yang artinya bersifat menyatakan sesuatu dengan memberikan

gambaran melalui kata-kata atau tulisan. Seeger (1958:184) menyebutkan bahwa

deskriptif adalah penyampaian objek dengan menerangkan terhadap pembaca

secara tulisan maupun lisan dengan sedetil-detilnya. Deskripsi yang penulis

maksud adalah deskripsi pertunjukan tradisi Gandai pada masyarakat Pekal di

(25)

11

Perubahan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000:1234) adalah

hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran. Menurut Yandianto dalam Bonggud

Sidabitar (2013:9) perubahan dalam bahasa inggris disebut change, misalnya

perubahan sosial atau sosial change, artinya perubahan dalam kemasyarakatan

yang mempengaruhi sistem sosial suatu masyarakat yang berhubungan dengan

nilai-nilai, dan perilaku di antara kelompok manusia. Perubahan yang dimaksud

penulis adalah suatu perubahan/peralihan yang terjadi pada tradisi Gandai dalam

konteks upacara masyarakat Pekal dan fungsi tradisi Gandai bagi hidup

masyarakat Pekal. Dimana akan dilihat bagaimana kedudukannya dalam

masyarakat Pekal, peranannya dalam masyarakat Pekal, dan aturan-aturan yang

membatasi peranan tradisi Gandai ini dalam masyarakat Pekal, serta akan dilihat

adakah perubahan terhadap tradisi Gandai tersebut yang berpengaruh pada

fungsinya dalam masyarakat Pekal khususnya dalam konteks upacara Perkawinan

adatnya.

1.4.2 Teori

Dalam meneliti keenam ragam gerak Gandai tersebut, penulis akan

mendeskripsikannya. Dalam teori komposisi tari, hadirnya gerak dapat

ditimbulkan karena beberapa faktor rangsang yaitu rangsang visual, kinestetik,

rabaan, dan gagasan (Ben Suharto, 1985: 20-21). Menurut pendapat tersebut

diatas, gerak-gerak dalam Gandai timbul dari rangsang visual dan rangsang

kinestetik. Rangsang visual bisa dilihat dari nama-nama gerak, contoh sementaro,

yang mengacu pada bagaimana kehidupan seseorang yang hanya bersifat

(26)

12

Keenam ragam gerak Gandai tersebut penulis akan menggunakan teknik

kinisiologi. Kinesiologi tari yang dimaksud adalah ilmu yang mempelajari tentang

gerak-gerak tubuh manusia dalam tari yang ditata sesuai dengan musik dan

mengandung makna serta memiliki kekuatan otot, tulang, syaraf, dan sendi yang

dibutuhkan untuk melakukan gerakan tersebut (http://gitadanceq.blogspot.com).

Setelah itu juga akan dilihat bagaiman uraian mengenai ragam gerak, pola lantai,

motif gerak, frase gerak, busana tari yang digunakan masyarakat Pekal dalam

konteks adatnya.

Untuk mendeskripsikan musik Gandai ini, khususnya struktur melodi

sunai yang berfungsi secara musikal sebagai pembawa melodi utama, penulis

menggunakan teori “bobot tangga nada” (weighted scale), yang ditawarkan oleh

Malm (1977). Ia menawarkan delapan parameter untuk mendeskripsikan melodi,

yaitu: (1) tangga nada, (2) wilayah nada, (3) nada dasar, (4) interval, (5) distribusi

nada, (6) formula melodi, (7) pola-pola kadensa, dan (8) kontur.

Dalam suatu kebudayaan tradisi lisan atau oral suatu perubahan dapat

terjadi, karena proses pengajarannya dilakukan secara lisan. Menurut Alan P

Merriam (1964:303) mengemukakan bahwa perubahan dapat berasal dari dalam

lingkungan kebudayaan (internal), dan perubahan juga bisa berasal dari luar

kebudayaan (eksternal). Perubahan secara internal merupakan perubahan yang

timbul dari dalam dan dilakukan oleh pelaku-pelaku kebudayaan itu sendiri, dan

juga disebut inovasi. Sedangkan perubahan eksternal merupakan perubahan yang

timbul akibat pengaruh yang dilakukan oleh orang-orang dari luar lingkup budaya

(27)

13

hasil kreatifitas masyarakat Pekal itu sendiri yang diakibatkan oleh kebudayaan

barat.

Fungsi menurut Alan P Merriam (1964) pada teori use and function

(penggunaan dan fungsi) yang berkaitan dengan tradisi Gandai adalah sebagai

berikut: (i) fungsi pengungkapan emosional, (ii) fungsi penikmatan estetika, (iii)

fungsi hiburan, (iv) fungsi komunikasi, (vii) fungsi validasi lembaga-lembaga

sosial dan ritual keagamaan, (viii) fungsi kontribusi demi kelangsungan dan

stabilitas budaya, dan (ix) fungsi pengintegrasian masyarakat.

Sementara itu pakar tari lndonesia yaitu Narawati dan R.M. Soedarsono

dalam Reny Yulyati (2013:22) membedakan fungsi tari menjadi dua, yaitu (1)

kategori fungsi tari yang besifat primer, yang dibedakan menjadi tiga, yaitu: (a)

fungsi tari sebagai sarana ritual, (b) fungsi tari sebagai ungkapan pribadi, dan (c)

fungsi tari sebagai presentasi estetik, dan (2) kategori fungsi tari yang bersifat

sekunder, yaitu lebih mengarah pada aspek komersial atau sebagai lapangan mata

pencaharian.

Berdasarkan teori fungsi tari dari Narawati dan Soedarsono ini, maka

fungsi tradisi Gandai, mencakup baik itu fungsi primer dan juga fungsi sekunder.

Di dalam kegiatan tari ini terdapat fungsi ritual, ungkapan pribadi, estetik, dan

mata pencaharian.

1.5 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang

menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Untuk meneliti Gandai pada upacara

(28)

14

metode penelitian kualitatif, sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Kirk

Miller dalam Moleong (1990:3) yang mengatakan: “Penelitian kualitatif adalah

tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental

bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan

berhubungan dengan orang-orang dalam bahasa dan peristilahannya”.

Pendekatan emik dan etik juga menjadi penting karena penulis adalah

“orang dalam” (insider). Dalam penelitian lapangan, pendekatan emik merupakan

identifikasi fenomena budaya menurut pandangan pemilik budaya tersebut,

sedangkan etik adalah identifikasi menurut peneliti yang mengacu pada konsep

konsep sebelumnya (Kaplan dan Manners 1999:256-8). Dalam penelitian ini

penulis akan menggunakan pendekatan emik dan etik untuk mendapatkan data

yang objektif.

Menurut Curt Sachs dalam Nettl (1962:16) penelitian dalam

etnomusikologi dapat dibagi menjadi dua, yaitu: kerja lapangan (field work) dan

kerja laboratorium (desk work). Kerja lapangan meliputi pengumpulan dan

perekaman data dari aktivitas musikal dalam sebuah kebudayaan manusia,

sedangkan kerja laboratorium meliputi pentranskripsian, menganalisis data dan

membuat kesimpulan dari keseluruhan data.

Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan metode yang diungkapkan

oleh Curt Sach, namun sebelum melakukan kerja lapangan (field work) dan kerja

laboratorium (deks work) penulis akan melakukan studi kepustakaan terlebih

dahulu. Adapun tujuan dari studi kepustakaan ini dalah untuk mengumpulkan

(29)

15 1.5.1 Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan perlu dilakukan untuk mengumpulkan data-data atau

sumber bacaan untuk mendukung penelitian. Sumber bacaan ini dapat berupa

buku-buku, skripsi etnomusikologi, jurnal, maupun bacaan yang diperlukan untuk

mendukung penelitian.

Dalam hal ini penulis telah membaca skripsi sarjana Etnomusikologi yaitu

Reny Yulyati Br Lumban Toruan, Desi Ari Natalia S, Seridah Ritha Gustina

Ginting, dan Flora Hutagalung, serta skripsi lainnya yang berhubungan dengan

tulisan penulis. Penulis juga membaca buku-buku antropologi dan etnomusikologi

yaitu Pengantar Ilmu Antropologi, The Anthropology Of Music, Etnomusikologi,

dan beberapa buku lainnya. Untuk melengkapi tulisan ini, penulis melakukan

studi kepustakaan juga terhadap topik-topik lain yang berkaitan dengan penelitian

skripsi ini antara lain pendidikan, sosiologi, antropologi, sistem kekerabatan, dan

topik tentang kebudayaan masyarakat Pekal. Selajutnya hasil dari studi

kepustakaan tersebut akan dijadikan sebagai informasi tambahan dalam penulisan

skripsi ini.

1.5.2 Penelitian Lapangan

Penulis melakukan penelitian lapangan agar mengetahui keseluruhan

mengenai objek yang diteliti. Penulis juga dapat terlibat langsung dengan objek

yang sedang diteliti dan mendapat lebih banyak informasi. Oleh karena itu penulis

(30)

16 1.5.2.1Wawancara

Wawancara diperlukan untuk mendukung penelitian tentang tradisi

Gandai dalam konteks upacara perkawinan adat masyarakat Pekal. Dalam

mengambil sumber data dilapangan penulis melakukan wawancara dengan

budayawan, beberapa tokoh adat, penari dan pemusik maupun orang-orang yang

pernah terlibat dalam penyajian tradisi Gandai ini. Serta informan lainnya yang

berhubungan dengan penelitian ini.

Teknik wawancara yang penulis lakukan adalah wawancara berfokus

(focus interview) yaitu melakukan pertanyaan selalu berpusat pada pokok

permasalahan. Selain wawancara berfokus peneliti juga melakukan wawancara

bebas (free interview) yaitu pertanyaan tidak selalu berpusat pada pokok

permasalahan tetapi pertanyaan dapat berkembang ke pokok permasalahan

lainnya dengan tujuan untuk memperoleh data yang beraneka ragam namun tidak

menyimpang dari pokok permasalahan (Koentjaraningrat 1985:139). Hal ini

penulis lakukan untuk mendukung data yang telah diperoleh dari kerja lapangan

maupun dari studi kepustakaan. Penulis menjadikan bapak Zhamari A.S Jamal

dan Bapak Makmur sebagai informan kunci mereka adalah budayawan Pekal

sekaligus orang yang paham mengenai adat perkawinan Pekal. Untuk informan

pangkal penulis menunjuk Ibu Ratna dan Bapak Mahmudin. Selain itu penulis

juga mewawancarai beberapa orang penonton.

1.5.2.2Perekaman

Perekaman dalam penelitian sangat penting untuk mengumpulkan data di

lapangan. Perekaman yang dilakukan secara audi-visual. Perekaman secara audio

(31)

17

ini akan menggunakan kamera digital Sony Cyber-shot dan Hp. Penulis akan

merekam hasil wawancara dengan narasumber yang dilakukan di lapangan.

Narasumber-narasumber yang penulis wawancarai antara lainZhamari A.S Jamal,

Makmur, Mahmudin, Ali Bidin, Ratna, dan Herman. Selain itu penulis juga akan

merekam materi musik yang akan menjadi di deskripsikan nantinya. Khusus

foto-foto ragam gerak Gandai ini, didapat melalui rekonstruksi. Karena pencahayaan

panggung malam begandai yang penulis teliti kurang baik. Sehingga diambil pada

siang hari.

1.5.3 Kerja Laboratorium (Desk Work)

Setelah semua data di lapangan diperoleh dan bahan dari hasil studi

kepustakaan terkumpul, selanjutnya dilakukan pembahasan dan penyusunan

tulisan. Untuk mendeksripsikan materi musik, terlebih dahulu dilakukan

pentranskripsian yang selanjutnya akan dideskripsikan.

Terdapat dua pendekatan yang diungkapkan oleh Bruno Nettl (1964:98)

dalam mendeksripsikan materi musik pada kerja laboratorium, yaitu (1) kita dapat

menganalisis dan mendeskripsikan apa yang didengar, dan (2) kita dapat dengan

cara menuliskannya apa yang kita dengar tersebut diatas kertas lalu

mendeskripsikan apa yang kita lihat. Dari kedua pendekatan tersebut penulis akan

menggunakan pendekatan yang kedua dalam mendeskripsikan musik iringan

Gandai. Untuk itu harus dilengkapi dengan analisis yang didasarkan atas materi

yang terlihat dalam bentuk notasi. Oleh karena itu dalam kerja laboratorium

penulis akan melakukan transkripsi. Transkripsi adalah proses memindahkan

(32)

18 1.5.3.1Metode Transkripsi

Sebagai bahan transkripsi penulis mengambil langsung dari lapangan yaitu

saat malam begandai pada upacara perkawinan adat Maradona Johansyah dengan

Irayanti Putri. Musik iringan Gandai ini disajikan oleh bapak Ali Bidin selaku

pemain sunai dan bapak Herman selaku pemain edap. Dalam

mentranskripsikannya, penulis meminta bantuan kepada beberapa teman yang

mampu dalam hal pentranskripsian. Adapun alasan mengapa penulis tidak

mentranskripsikan sendiri dikarenakan kurangnya pengetahuan penulis akan

instrumen tiup serta keterbatasan penulis dalam mengidentifikasi setiap bunyi

instrumen yang dimainkan. Melalui bantuan tersebut proses pentranskripsian

musik tradisi Gandai dapat diselesaikan lebih cepat.

Setelah mendapatkan hasilnya (baik melodi maupun pola ritemnya)

penulis lalu memindahkannya ke dalam software musik sibellius, kemudian

mendengarkan kembali hasil yang telah dipindahkan tersebut.

1.6 Lokasi Penelitian

Untuk lokasi penelitian penulis meneliti tradisi Gandai pada upacara

perkawinan adat Maradona Johansyah dengan Irayanti Putriyang berlangsung di

Desa Pasar Ketahun pada tanggal 7 Februari 2014. Kecamatan ini masih

ditemukan upacara yang menyajikan Gandai, Kecamatan Ketahun merupakan

salah satu daerah tempat bermukimnya masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun

Provinsi Bengkulu. Selain itu Kecamatan Ketahun juga merupakan kampung

halaman penulis dan semua kerabat dekat penulis menetap disana, sehingga

(33)

19 BAB II

MASYARAKAT PEKAL DI KECAMATAN KETAHUN

Bab II ini akan menguraikan tentang keadaan lingkungan masyarakat Pekal

di Kecamatan Ketahun seperti lokasi lingkungan alam dan demografi, asal-usul

masyarakat Pekal, mata pencaharian, sistem agama dan kepercayaan, sistem

kekerabatan, sistem bahasa, dan sistem kesenian. Hal-hal tersebut menurut penulis

juga penting untuk diuraikan, karena selain untuk mengenalkan daerah penelitian

penulis kepada pembaca, juga berhubungan dengan tradisi Gandai dalam konteks

upacara perkawinan masyarakatnya.

2.1 Lokasi Lingkungan Alam dan Demografi

Ketahun adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara,

Provinsi Bengkulu, Indonesia dengan luas 8216 hektar. Kecamatan Ketahun

berjarak± 95 km dari kota Bengkulu yang merupakan ibukota provinsidan dapat

di tempuh dengan menggunakan mobil, dengan lama perjalanan sekitar 2,5 jam

(jika kondisi arus lalu lintas dalam keadaan normal). Kecamatan Ketahun yang

berada 0-1500 m di atas permukaan laut ini terdiri atas 27 Desa yang terdiri dari

21 desa depinitif dan 6 lainnya merupakan desa persiapan (dapat dilihat pada

halaman 19).

Kecamatan Ketahun berbatasan dengan Kecamatan Napal Putih di sebelah

utara, Samudera Indonesia di sebelah selatan, sebelah barat berbatasan dengan

Kecamatan Putri Hijau, dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Batik

(34)

20

TABEL 2.1

Perincian Nama Desa dan Luas Wilayah Kecamatan Ketahun

NO NAMA DESA LUAS WILAYAH

(Hektar)

1 Urai 300

2 Air Simpang 104

3 Air Sebayur 420

4 Air Sekamanak 132

5 Marga Bakti 250

6 Bukit Makmur 490

7 Pasar Ketahun (Ibukota

Kecamatan)

230

8 Bukit Indah 102

9 Giri Kencana 670

10 Bukit Harapan 300

11 Gunung Payung 270

12 Kualalangi 258

13 Talang Baru 200

14 Dusun Raja 250

15 Fajar Baru 250

16 Lubuk Mindai 270

17 Tanjung Muara 110

(35)

21

19 Bumi Harjo 130

20 Bukit Tinggi 150

21 Melati Harjo 120

22 Persiapan Sebayur Jaya 600

23 Persiapan Limas Jaya 750

24 Persiapan Simpang Batu 170

25 Persiapan Lembah Duri 320

26 Persiapan Alas Bangun 720

27 Persiapan Baru Manunggal 350

JUMLAH 8216

Sumber: Kantor Kecamatan Ketahun (November 2013)

Dari data nama-nama tersebut diatas, yang masih aktif sering

menggunakan tradisi Gandai adalah desa Urai, desa Pasar Ketahun, desa Bukit

Indah, desa Bukit Harapan, desa Gunung Payung, desa Kualalangi, desa Talang

Baru, dan desa Lubuk Mindai. Sedangkan desa Air Simpang, desa Air Sebayur,

desa Air Sekamanak, desa Marga Bakti, desa Bukit Makmur, desa Giri Kencana,

desa Fajar Baru, desa Tanjung Muara, desa Sumber Mulya, desa Bumi Harjo, desa

Bukit Tinggi, dan desa Melati Harjo merupakan desa-desa ekstransmigrasi dari

pulau Jawa. Lalu desa-desa yang masih dalam tahap persiapan merupakan desa

perambah yang kebanyakan masyarakatnya berasal dari Kabupaten Bengkulu

Selatan.

Saat ini 6 desa persiapan depinitif tersebut menjadi polemik bagi

Kecamatan Ketahun, dimana terjadi tarik ulur antara pihak pemerintahan dengan

(36)

22

Bangun, Limas Jaya, dan Sebayur Jaya terletak pada Hutan Produksi Tanah

(HPT) Air Urai dan Air Serangai. Hal ini menjadi polemik dikarenakan HPT

menjadi kewenangan Menteri Kehutanan, sementara 3 desa lainnya yaitu Baru

Manunggal, Lembah Duri dan Simpang Batu terletak di perkebunan PT Way

Sebayur yang umur HGUnya terlantar.

Selain suku Pekal sebagai suku yang mayoritas mendiami wilayah

Kecamatan Ketahun, ada suku-suku lainnya yang ada di Kecamatan Ketahun

yaitu, suku Minangkabau, suku Rejang, suku Batak, suku Jawa, suku Serawai,

suku Sunda, dan lain sebagainya. Mengenai keadaan penduduknya dan

pendidikan dapat dilihat pada tabel 2.2, 2.3 dan tabel 2.4 di bawah ini.

Tabel 2.2

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Pria Wanita Jumlah (Jiwa)

22.948 22.773 45721

(Data Statistik Kecamatan Ketahun Tahun 2013)

Tabel 2.3

Distribusi Sarana Pendidikan

SMA/SMK/MA SMP/MTS SD/MI

Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta

3 2 13 2 32 6

(37)

23 Tabel 2.4

Nama-nama Satuan Pendidikan di Kecamatan Ketahun

No Nama Alamat Status

1 MAN Ketahun Pasar Ketahun Negeri

2 MAS Al Um Bukit Harapan Swasta

3 MAS Darun Naja Urai Swasta

4 MIN Ketahun Giri Kencana Negeri

5 MIS Al Hidayah Simpang Batu Swasta

6 MIS Al Iman Bukit Indah Swasta

7 MIS Al Um Bukit Harapan Swasta

8 MIS Darunanaja Urai Swasta

9 MIS Mimbarul Huda Air Sebayur Swasta

10 MTSN Ketahun Giri Kencana Negeri

11 MTSS Al Um Bukit Harapan Swasta

12 MTSS Darunnaja Urai Swasta

13 SD Negeri 01 Ketahun Pasar Ketahun Negeri

14 SD Negeri 02 Ketahun Dusun Raja Negeri

15 SD Negeri 03 Ketahun Urai Negeri

16 SD Negeri 04 Ketahun Kualalangi Negeri

17 SD Negeri 05 Ketahun Talang Baru Negeri

18 SD Negeri 06 Ketahun Giri Kencana Negeri

19 SD Negeri 07 Ketahun Bukit Tinggi Negeri

(38)

24

21 SD Negeri 09 Ketahun Bukit Harapan Negeri

22 SD Negeri 10 Ketahun Sumber Mulya Negeri

23 SD Negeri 11 Ketahun Marga Bakti Negeri

24 SD Negeri 12 Ketahun Bukit Makmur Negeri

25 SD Negeri 13 Ketahun Bukit Makmur Negeri

26 SD Negeri 14 Ketahun Fajar Baru Negeri

27 SD Negeri 15 Ketahun Fajar Baru Negeri

28 SD Negeri 16 Ketahun Melati Harjo Negeri

29 SD Negeri 17 Ketahun Gunung Payung Negeri

30 SD Negeri 18 Ketahun Lubuk Mindai Negeri

31 SD Negeri 19 Ketahun Air Simpang Negeri

32 SD Negeri 20 Ketahun Air Sebayur Negeri

33 SD Negeri 21 Ketahun Air Sekamanak Negeri

34 SD Negeri 22 Ketahun Air Simpang Negeri

35 SD Negeri 23 Ketahun Kualalangi Negeri

36 SD Negeri 24 Ketahun Dusun Raja Negeri

37 SD Negeri 25 Ketahun Tanjung Muara Negeri

38 SD Negeri 26 Ketahun Limas Jaya Negeri

39 SD Negeri 27 Ketahun Tanjung Muara Negeri

40 SD Negeri 28 Ketahun Lembah Duri Negeri

41 SD Negeri 29 Ketahun Sebayur Jaya Negeri

42 SD Negeri 30 Ketahun Cakra Negeri

(39)

25

44 SDS Tunas Kita Pamor Pamor Ganda Swasta

45 SMAN 1 Ketahun Bukit Indah Negeri

46 SMKN 1 Ketahun Pasar Ketahun Negeri

47 SMP Negeri 01 Ketahun Bumi Harjo Negeri

48 SMP Negeri 02 Ketahun Pasar Ketahun Negeri

49 SMP Negeri 03 Ketahun Bukit Makmur Negeri

50 SMP Negeri 04 Ketahun Limas Jaya Negeri

51 SMP Negeri 05 Ketahun Air Sebayur Negeri

52 SMP Negeri 06 Ketahun Bukit Harapan Negeri

53 SMP Negeri 07 Ketahun Urai Negeri

54 SMP Negeri 08 Ketahun Marga Bakti Negeri

55 SMP Negeri 09 Ketahun Air Simpang Negeri

56 SMP Negeri 11 Ketahun Dusun Raja Negeri

57 SMP Negeri 12 Ketahun Melati Harjo Negeri

58 SMP Negeri Terbuka Ketahun Bumi harjo Negeri

(Data statistik dari http://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Dari tabel distribusi pendidikan diatas, dapat dikatakan bahwa adanya

sarana pendidikan yang telah menyebar rata membuat masyarakat Pekal di

Kecamatan Ketahun banyak yang bersekolah daripada yang menganggur atau

hanya bekerja di ladang atau sawah, waktu mereka untuk berkumpul dan

melakukan kegiatan begandai terbatas dengan adanya kegiatan belajar ersebut.

Ketahun merupakan daerah yang subur dan sangat berpotensi dalam

bidang pertanian, kelautan, perkebunan sawit, dan pertambangan batu bara.

(40)

26

sehari-hari dan tak sedikit pula sekarang yang telah memliki lahan pribadi untuk

perkebunan kelapa sawit dan karet. Banyak pengusaha-pengusaha yang

menanamkan modalnya untuk mendirikan perkebunan kelapa sawit atau

perkebunan karet di Kecamatan Ketahun. Perusahaan-perusahaan yang bergerak

dalam bidang perkebunan kelapa sawit yaitu PT Julang Oca Permana milik Bakrie

Group dan PTPN VII, sedangkan PT Pamor Ganda milik bapak D L Sitorus

bergerak dalam bidang perkebunan karet.

Untuk sektor pertambangannya, dapat dikelompokkan menjadi

pertambangan mineral dan pertambangan batu bara. Pertambangan mineralnya

berupa pertambangan batuan. Pada sektor pertambangaan batu baranya ditujukan

untuk pasar ekspor. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang

pertambangan batu bara seperti PT Injatama, PT Rekasindo Guriang Tandang, dan

PT Adi Bara Pratama. Banyak masyarakat Pekal yang bekerja di

perusahaan-perusahaan tersebut sehingga tingkat kesejahteraan masyarakatnya cukup baik,

tampak dari sedikitnya tindakan kriminal seperti curanmor (pencurian kendaraan

bermotor) dan pencurian lainnya.8 Mereka pun juga ada yang melaut untuk

mencari ikan. Hasil tangkapan mereka bisa untuk di konsumsi secara pribadi atau

di jual.

8

(41)

27

Gambar 2.1:

Peta Kecamatan Ketahun Dilihat Dari Provinsi Bengkulu

2.2 Asal-usul Masyarakat Pekal

Secara etimologi, Pekal berasal dari kata mengkal yang berarti belum

matang namun sudah tidak lagi mentah. Menurut legenda, nama ini diperoleh

karena suku Pekal merupakan bentuk mengkal dari suku Minangkabau dan suku

Rejang yang wilayahnya merupakan pemberian dari suku Minangkabau dan suku

Rejang. Dengan begitu, suku Pekal berkaitan dengan mitologi suku Rejang dan

hikayat raja Inderapura dari Minangkabau (http://ms.wikipedia.org/wiki/

Minangkabau). Menurut bapak Makmur yang diamini oleh bapak Zhamari A.S

Jamal dahulunya dikisahkan putri Rindu Bulan yang merupakan satu-satunya

anak perempuan dari raja Rejang Lebong yang bernama menaruh hati dengan

pemuda biasa di kerajaannya, sehingga raja Rejang Lebong marah dan

memerintahkan keenam putranya untuk membunuh putrinya tersebut. Namun

keenam putranya tidak tega membunuh adiknya, sehingga mereka membawa putri

rindu Bulan ke tepi sungai besar dan membuatkannya sebuah rakit dari bambu

(42)

28

Tapus yang sungainya bermuara di muara Ketahun dan yang satunya lagi

bermuara ke Jambi.

Maka pergilah putri Rindu Bulan dengan rakitnya menelusuri sungai. Hari

demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan hingga setahun putri Rindu

Bulan menyelusuri sungai hingga rakitnya rusak di muara. Setelah sampai di

muara, ayam yang ia bawa berubah menjadi elang sedangkan beras yang ia bawa

tertumpah dan berubah menjadi senggugu. Inilah yang menjadi asal asul

penamaan sungai Ketahun yang dilewati putri Rindu Bulan selama setahun

Setelah rakitnya diperbaiki, ia melanjutkan perjalanannya sehingga sampai

di pulau Pagai (Sumatera Barat). Kemudian ia diselamatkan dan dirawat oleh

orang yang tinggal disana. Karena kecantikannya, ia mampu memikat hati anak

raja dari kerajaan Pagai, lalu ia dipinang oleh anak raja tersebut dan menikahlah

mereka. Putri Rindu Bulan kemudian mengatakan pada suaminya bahwa daerah

asalnya dari daerah Rejang Lebong. Ia dan suaminya memutuskan untuk kembali

ke Rejang Lebong.

Menurut sumber lainnya yang jalan ceritanya sedikit berbeda,9 putri yang

dimaksud bernama Putri Lindung Bulan yang merupakan putri bungsu dari Rajo

Tiang Pat “Sultan Sarduni”, setelah ia menginjak remaja banyak sekali putra-putra

Raja, putra-putra Sultan, dan putra-putra sunan dari Aceh, Sulawesi, dan

daerah-daerah lain yang menyukainya dan ingin meminangnya. Tapi anehnya, setiap ada

yang datang hendak melamar selalu saja secara tiba-tiba tubuh Putri Lindung

Bulan mendapat penyakit kulit yang menulir, dan hal inilah yang membuat

9

(43)

29

pinangan itu batal. Namun setelah yang meminang itu kembali

kedaerah/kerajaannya, secara tiba-tiba pula penyakit Putri Lindung Bulan sembuh.

Melihat kejadian yang terus terjadi atas Putri Lindung Bulan, yang

menjadi aib bagi kerajaan khususnya bagi saudara-saudara Putri Lindung Bulan,

maka datanglah niat busuk dari saudaranya ki Geto untuk membunuh Putri

Lindung Bulan. Bermufakatlah saudara-saudaranya yaitu Ki Geto, Ki Tago, Ki

Ain, Ki Genain, dan Ki Nio untuk menyingkirkan dan membunuh Putri Lindung

Bulan.

Mereka memberikan alasan kepada Sultan Sarduni untuk mengobati Putri

Lindung Bulan ke hutan hingga sembuh. Maksud kelima bersaudara itu tidak

disetujui oleh Karang Nio (saudara Putri Lindung Bulan lainnya). Ia kalah suara

dan mendapat ancaman dari kelima saudara lainnya bahwa harus ia yang

membunuh adiknya tersebut. Akhirnya pada suatu hari setelah mendapatkan izin

dari ayahnya, berangkatlah Karang Nio denga Putri Lindung Bulan menuju hutan.

Sesampai mereka di sana, Karang Nio membawa Putri Lindung Bulan ke pinggir

sungai (yang sekarang dikenal dengan sungai Ketahun) dan ia menceritakan niat

buruk saudara-saudaranya yang lain. Ia pun berniat menyelamatkan Putri, ia

menyuruh putri untuk berakit mengikuti arus sungai itu. Namun sebelum Putri

berangkat, Karang Nio berencana untuk mengelabui ke-5 saudara lainnya dengan

cara menyayat sedikit kulit telinga Putri dengan mata pedangnya sebagai barang

bukti bahwa ia telah membunuhPutri Lindung Bulan.

Sebelumnya ia membekali Putri dengan secupak (ukurann 1½ kg) beras

dawai, sebuah kelapa, dan seekor ayam biring serta sepotong bambu sebagai

(44)

30

Bandar Agung untuk melaporkan kepada saudara-saudaranya bahwa Putri

Lindung Bulan telah dibunuh dengan menunjukan barang bukti berupa pedang

yang berlumur darah. Kepada ayahnya ia mengatakan bahwa Putri sedang berobat

di tengah hutan.

Setelah beberapa lama Putri Lindung Bulan berakit, sampailah ia di muara

sungai. Karena muara sungai itu airnya tenang dan luas, ia membuang satang

yang ia gunakan untuk mendayung rakitnya. Ia juga membuang buah kelapa dan

ayam biring yang diberikan kakknya ke darat, lalu secupak beras dawai ia

hamburkan ke air muara sungai itu. Ia dan rakitnya hanyut hingga ke lautan

sampai ia terdampar di pagi hari di sebuah pulau yang ia beri nama pulau Pagai

(berasal dari bahasa Rejang yang berarti pagi). Satang bambu yang ia buang tadi

berubah menjadi aur kuning, buah kelapa berubah menjadi nibung kuning, ayam

biring berubah menjadi burung elang berantai, dan beras dawai berubah menjadi

segugu. Benda-benda tersebut masih bisa dilihat sekarang di muara sungai

Ketahun.

2.3 Mata Pencaharian

Kecamatan Ketahun merupakan daerah yang subur dan berpotensi tinggi

dalam bidang pertanian, kelautan dan perkebunan. Beberapa dari masyarakat

Pekal juga telah bekerja sebagai pegawai pada sektor swasta maupun sektor

pemerintahan, dan pedagang. Pada sektor perkebunan, masyarakat Pekal

mayoritas berkebun karet dan kelapa sawit.

Banyak juga masyarakat Pekal yang memanfaatkan hasil laut dengan

(45)

31

Adanya sektor tambahan lainnya yaitu sektor pertambangan batu bara.

Pertambangan batu bara yang digerakan pihak asing membuat semakin

bertambahnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat Pekal di Kecamatan Ketahun.

2.4 Sistem Agama dan Kepercayaan

Mayoritas masyarakat Bengkulu beragama Islam, termasuk suku Pekal

yang ada di Kecamatan Ketahun. Walau sedikit terlambat perkembangannya dari

daerah lain yang sudah tersentuh pada abad ke-7. Hal ini dikarenakan letak

geografis Bengkulu yang berada di tepi Samudera Hindia bukan berada di antara

selat atau pulau, sehingga pelayaran mengalami kesulitan untuk berlayar menuju

Bengkulu. Islam sendiri masuk saat Bengkulu masih terbentuk dalam sistem

pemerintahan berupa kerajaan-kerajaan kecil yang berada di kawasan dataran

tinggi ataupun berada di wilayah pesisir Bengkulu.

Islam masuk ke Bengkulu melalui Minangkabau (1500) atau Palembang.

Masuknya Islam diperkirakan melalui lima pintu. Pertama melalui penyebaran

Islam oleh Tengku Malim Mukidim dari Aceh pada tahun 1471yang datang ke

kerajaan tertua di Bengkulu yaitu kerajaan Sungai Serut dengan raja pertamanya

Ratu Agung (1550-1570) yang berasal dari Gunung Bungkuk. Beliau berhasil

mengislamkan Ratu Agung. Kedua melalui perkawinan Perkawinan antara sultan

Muzafar Syah dengan putri Serindang Bulan (inilah awal Islam masuk ke tanah

Rejang pada pertengahan abad ke-17). Ketiga melalui datangnya Bagindo

Maharajo Sakti dari Pagaruyung ke kerajaan Sungai Lemau pada abad ke-17.

(46)

32

kerajaan Banten dengan kerajaan Selebar). Dan yang terakhir melalui kerajaan

Mukomuko.

Pada suku Pekal unsur Islami terlihat dari beberapa acara adat dan seni

budaya mereka. Walaupun mereka telah memeluk Islam, tetapi beberapa

kepercayaan terhadap hal-hal animisme dan dinamisme masih terlihat dalam

kehidupan masyarakat suku Pekal. Mereka mempercayai hal-hal gaib dan

tempat-tempat keramat yang konon dapat mempengaruhi kehidupan dan kesehatan

mereka.

Masyarakat Pekal masih memberikan punjung (sesajian) kepada muara

(setiap tahun) dan jika tidak memberikan punjung ke muara, ada kepercayaan

bahwa laut akan marah dan memakan korban yang selalu merupakan pendatang

(bukan masyarakat Pekal). Agama Islam tidak dapat dipisahkan dari identitas

masyarakat Pekal. Masyarakat Pekal mempunyai pepatah yang sama dengan

pepatah masyarakat Minangkabau yaitu, adat besandi syara’, syara’ besandi

Kitabullah (adat Pekal bersendi hukum Islam dan hukum Islam bersendi Al

Qur’an). Sehingga dapat dilihat kesatuan antara adat masyarakat Pekal dengan

agama Islam yang saling membina masyarakatnya.

2.5 Sistem Kekerabatan

Masyarakat Pekal menggunakan sistem matrilinel, dimana silsilah

keturunan yang diperhitungkan melalui garis ibu. Hal ini dikarenakan pengaruh

budaya Minangkabau lebih kuat daripada budaya Rejangnya yang menganut

Patrilineal. Dalam sistem kekerabatan matrilineal terdapat tiga unsur yang paling

(47)

33

harus dengan kelompok keluarga lain, di luar kelompok keluarga sendiri, yang

sekarang dikenal dengan eksogami matrilineal. Ketiga, ibu memegang peran

sentral dalam pendidikan, pengamanan kekayaan, dan kesejahteraan keluarga.

Dalam perkawinan masyarakat Pekal menganut sistem eksogami, dimana

yang artinya adalah sistem perkawinan di luar batas suatu lingkungan tertentu,

atau dengan kata lainnya perkawinan di luar kelompoknya. Serta matrilokal

dimana suami tinggal di sekitar rumah kerabat isterinya, atau di dalam lingkungan

kekerabatan isterinya. Semua harta dan tanah yang dimiliki diwariskan kepada

anak perempuan.

Dalam keluarga Pekal, ayah tidak termasuk dalam anggota keluarga istri

dan anaknya, akan tetapi ia tetap menjadi anggota kaum warganya

masing-masing, yaitu ibunya. Ayah dipandang sebagai pemberi keturunan. Di dalam

masyarakat Pekal ada sebutan atau nama panggilan yang digunakan keluarga.

Seperti seorang anak memanggil ibunya dengan panggilan amak, dan panggilan

abak untuk ayah.

Dalam masyarakat Pekal, terdapat sebutan atau nama panggilan yang

digunakan keluarga. Panggilan ini juga berlaku untuk semua masyarakat Pekal

dimana saja seperti seorang adik memanggil uwo kepada kakak perempuannya,

kelawai untuk panggilan adik perempuan. Panggilan untuk kakak laki-laki adalah

dang, adek dipanggil asek. Bagi laki-laki dalam satu kelompok keluarga

menyebut kakak atau adik perempuan mereka dengan istilah kelawai. Sedangkan

bagi perempuannya menyebut istilah manai kepada kakak maupun adik

(48)

34

dipanggil pindoung, lalu memanggil sebai kepada nenek, dan memanggil ninik

kepada kakek.

2.6 Bahasa

Bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan

oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan

mengidentifikasi diri: percakapan (perkataan) yang baik , tingkah laku yang baik,

sopan santun (Kamisa, 1997:49). Bahasa Pekal merupakan bahasa ibu dari

masyarakat Pekal yang menetap disana. Hampir seluruh masyarakat Pekal

menggunakan bahasa Pekal sebagai media komunikasi dalam percakapan formal

maupun percakapan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Pekal termasuk dalam

rumpun bahasa Melayu cabang dari rumpun bahasa Austronesia.

Kecamatan Ketahun merupakan salah satu daerah yang penduduknya

adalah mayoritas suku Pekal. Masyarakat Pekal ini sangat menjaga kelestarian

budaya mereka, termasuk bahasa yang mereka pakai. Mereka terbiasa memakai

bahasa Pekal dalam kehidupan sehari-hari ketika berkomunikasi dengan sesama

mereka. Bahkan sebagian penduduk yang tidak bersuku Pekal pun mengerti dan

fasih menggunakan bahasa ini, karena bahasa Pekal lebih sering digunakan jika

dibandingkan dengan bahasa nasional (bahasa indonesia). Hal ini mengharuskan

mereka untuk beradaptasi dengan penduduk asli yang dalam kesehariannya

menggunakan bahasa Pekal. Masyarakat suku Pekal biasanya menyebut diri

mereka sendiri sebagai Uhang Aok atau orang Pekal sedangkan bahasa mereka

(49)

35

Bahasa Pekal sendiri sama di seluruh Kecamatan Ketahun, namun beda

dialeknya. Sepanjang sungai Serut (Ketahun) bahasa Pekal banyak dipengaruhi

dialek Rejang. Seperti contoh untuk mengatakan “tidak” masyarakat daerah ini

menggunakan kata codo mirip dengan bahasa Rejang coa. Daerah Sebelat sudah

dipengaruhi dialek Minangkabau. Sebagai contoh untuk mengatakan tidak

menggunakan kata dodo mirip dengan bahasa Minangkabau indak ado. Meski

terdapat adanya perbedaan dialek dan kosakata dalam bahasa Pekal, namun

perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan yang berarti dalam proses komunikasi

antar penutur bahasa Pekal. Perbedaan dialek dan kosakata tersebut menjadi

cerminan kayanya kandungan bahasa Pekal.

Berikut ini adalah contoh yang menunjukkan persamaan dan perbedaan

antara bahasa Pekal dengan beberapa bahasa Para-Melayu pada tabel 2.2.

Tabel 2.5

Perbedaan Bahas Pekal dengan Beberapa Bahasa Para-Melayu

Bahasa Pekal

(Bengkulu)

apo lawik Liek kucing alui ulah kehas

Bahasa

Minangkabau

(Sumatera

Barat)

apo lauik caliak kuciang pai ula kareh

Bahasa

Mukomuko

Gambar

TABEL 2.1
Tabel 2.2
Tabel 2.4
Gambar 2.1:
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pertanyaan ini, saya memilih judul untuk penelitian ini adalah: Tari Inai dalam Konteks Upacara Adat Perkawinan Melayu di Batang Kuis: Deskripsi Gerak, Musik Iringan,

Tradisi yang di gunakan dalam upacara adat Suku Betawi dalam konteks ini adalah penggunaan Roti Buaya dalam pernikahan adat di kampung Petukangan Utara, Jakarta

Untuk menyelesaikan tugas akhir penulis melakukan penelitian berjudul “Studi Analisis dan Deskriptif Tonel Dalam Pertunjukan Teater Tradisi Dul Muluk di Desa Muara

Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan adapun fungsi dan makna balai dalam upacara perkawinan sangat diperlukan karena balai adalah salah satu

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

Unsur Animisme dalam Proses Tradisi Ziarah Keramat “Kubua Gutua / Raden Agung” Di Desa Talang Ginting Bengkulu Utara, masih ditemukan dan hal itu dapat dipahami dari hasil wawancara

Perubahan tradisi temu manten dalam upacara perkawinan adat jawa merupakan di Dusun Mulya Bhakti Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi dimana mefokuskan pada prosesi yakni

Dalam sebuah konteks masyarakat yang semakin terbuka adalah menarik untuk melihat sejauh mana perubahan masyarakat Kajang bertahan dalam tradisi mereka dalam kurun waktu beberapa puluh