GUS-JI-GANG
SEBAGAI KEUTAMAAN
HABITUS DI KABUPATEN KUDUS
Pendahuluan
Keutamaan merupakan acuan sikap manusia terhadap hukum moral yang didasarkan atas keputusan bebasnya, maka menjadi semangat dan sikap batinnya. Karenanya, keutamaan merupakan sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki dan yang tidak dipaksa, maka tidak dapat dibuat begitu saja, misalnya seseorang hendak menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat. Menurut Magnis Suseno1, keutamaan pertama-tama adalah sebagai istilah deskriptif tentang sikap mental. Namun karena dalam melakukan pekerjaan atau profesi, dagang misalnya (keutamaan pedagang) diharapkan bahkan dituntut adanya sikap tertentu dan karena menilai sikap-sikap tertentu sebagai tidak memadai. Keutamaan mendapat arti normatif, yaitu sebagai sikap kehendak yang dituntut agar dikembangkan. Menuntut suatu keutamaan, mengandung kritik atau memuat tuduhan bahwa nilai-nilai moral yang berlaku dalam kehidupan atau sebagai budaya, mengandung kehendak yang kurang baik. Karenanya, pihak yang menuntut keutamaan ini tahu bagaimana orang lain harus bersikap supaya menjadi manusia baik.
mengikuti kursus saja. Namun, menurut Sonny Keraf3, metode reflektif kritis merupakan bagian penting untuk menentukan berbagai pilihan keutamaan sebagai cara bersikap dan bertindak benar atau baik secara moral tentang tiga hal. Pertama, sesuai atau tidaknya keberlakuan norma dan nilai moral yang diberikan oleh adat-istiadat (etika dan moralitas) dalam situasi konkret pada masa kehidupannya. Kedua, masalah tersebut terhadap situasi khusus yang dihadapi dengan keunikan dan kompleksitasnya. Ketiga, terhadap paham yang dianut oleh manusia atau kelompok masyarakat tentang apa saja: tentang manusia, Tuhan, alam, masyarakat dengan sistem sosial-politiknya atau sistem ekonomi, kerja, dan sebagainya.
Dari proses sampai tindakan Gus-ji-gang yang mengalir dalam jiwa masyarakat Kudus, habitus pada pengusaha bordir menurut Bourdieu (1977) menggambarkan sebagai habitus dalam 3 hal, yaitu (1) matrix of perception atau matrix persepsi; (2) appreciations atau apresiasi; dan (3) action atau tindakan. Pada ranah persepsi, habitus merupakan dasar seseorang dalam berpikir dan mempersepsikan sesuatu, misalnya banyaknya bordir baik produksi Tasikmalaya dan daerah lain, serta bordir dari Tiongkok dan Korea. Persepsi terhadap hal ini sangat tergantung pengetahuan terkait dengan nilai dan praktik yang dimiliki dan terbangun lama dan terkait erat dengan latar belakang aktor (pengusaha bordir) secara historis. Dari ranah persepsi mengalir pada ranah apresiasi maka habitus menjadi tempat berpikir, bertindak dan menentukan bagaimana mengapresiasi sesuatu dengan mengembangkan kekuatan-kekuatan produk bordir. Pada ranah tindakan, habitus merupakan basis bagi individu untuk melakukan aksi yaitu mengembangkan bordir Icik yang memiliki nilai jual tinggi.
Penjelasan tersebut mengimplikasikan maksud untuk memahami Gus-ji-gang dan habitus Bourdieu (1977) sebagai keutamaan dagang Jawa di Kudus yang dapat dianalisis dengan teori kritis4 terhadap nilai-nilai moral budaya Jawa tentang tiga hal. Pertama, kebaikan tingkah laku sama dengan kebagusan moral
mengacu pada kata “gus” dikembangkan pemahamannya melalui
internalisasi sebagai proses pembelajaran (learning) seperti dimaksud pada kata “ji” dalam satu kesatuan pengalaman keagamaan yang menentukan ciri khas keutamaan moral. Ciri khasnya diobyektifikan melalui cara bersikap baik dalam pergaulan melalui prinsip hormat dan rukun5 kepada sesamanya baik bagi pandangan dunia atau sebagai pendapat umum. Proses internalisasi dengan nilai moral hormat dan rukun ini searah maksudnya pada habitus Bourdieu sebagai kekuatan social capital.Kedua, obyektifikasi keutamaan moral pada hormat dan rukun tersebut sebagai acuan cara bersikap kekeluargaan atau bergotong-royong baik di pemikiran atau tindakan (teknis pelaksanaan)6 dalam realitas sosial 7 Jawa yang modern atau sesuai di masanya. Ketiga, acuan teknis obyektifikasi keutamaan moral yang kedua itu dipahami sebagai keutamaan social capital dagang Jawa di Kudus. Analisis tiga hal itu dimaksudkan untuk memahami bahwa, antara keutamaan moral sebagai proses internalisasi dengan dunia kehidupan sebagai proses ekternalisasi atau realitas sosial Jawa (khususnya di Kudus) sebagai sumber social capital merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi terhadap perubahan cara bersikap dan bertindak secara terus-menerus (dinamis) baik pada tataran pemikiran pedagang atau cara pelaksanaannya yang sesuai (modern) dan berlaku di masanya. Social capital, dapat dibangun secara spontan setiap saat oleh pelaku-pelaku siapa pun (termasuk komunitas pengusaha bordir di Kudus) yang menjalankan kehidupan sehari-hari.
dapat diperbanyak, ditambah dan dilihat sebagai stock barang. Namun ada pandangan yang berbeda dari Anderson (2002) yang menyatakan bahwa, social capital itu adalah “proses yang menciptakan suatu kondisi untuk pertukaran informasi dan sumber secara efektif”. Pandangan ini menunjukkan pada fungsi memperlancar (lubricant) dan fungsi mempererat (glue) ikatan-ikatan sosial dalam sistem produksi dan perdagangan.
Nilai-nilai Moral Budaya Jawa dalam Kehidupan Komunitas
Pengusaha Industri Kecil Bisnis Keluarga Bordir
Sonny Keraf (2002) menjelaskan, harfiahnya etika maupun moralitas sama-sama berarti adat-kebiasaan hidup yang baik, diwariskan dan atau dilestarikan melalui agama atau kebudayaan serta dianggap sebagai sumber prinsip nilai moral atau norma moral yang baku dan dianut oleh masyarakat sebagai tradisinya8.
Hal itu seperti dalam penjelasan Peursen dan Geertz tentang hakikat kebudayaan. Menurut Peursen (1976), hakikat kebudayaan sama dengan hakikat manusia. Kebudayaan pada dasarnya merupakan endapan dari berbagai kegiatan serta karya manusia9. Geertz (1965) menjelaskan, kebudayaan adalah, susunan dinamisnya ide-ide dan aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain secara terus-menerus10, karenanya, sebelum menganalis tiga hal tersebut diperlukan pemahaman karakteristik budaya Jawa dalam kontruksi teoritis para ahli sebagai kekuatan modal hubungan sosial pedagang di Kudus. Gunawan S. (2003) menjelaskan bahwa, para ahli kebudayaan, baik yang dari luar atau yang ada dalam negeri11, pada prinsipnya mereka memiliki kesamaan dalam memandang inti
nilai-nilai moral budaya Jawa “yang diidealkan” atau budaya Jawa yang
kepada Tuhan. Nrima berarti merasa puas dengan nasib dan kewajiban yang telah ada, tidak memberontak, tapi mengucapkan matur nuwun (terima kasih). Sabar menunjukkan ketiadaan hasrat, ketiadaan nafsu yang bergolak.
Kesamaan pandangan mereka dapat ditarik sebagai central concept (inti konsep) budaya Jawa yang terakulturasi dengan agama Islam yang terinternalisasi pada kehidupan masyarakat pada umumnya (pendapat umum) dalam paparan berikut: Pertama, budaya Jawa mendasarkan diri kepada kehidupan sosial harmonis. Biasanya disebutkan bahwa budaya Jawa adalah anti-konflik karena di dalamnya mempunyai tujuan ideal bahwa dunia ini harus ditata secara harmonis baik antara jagad cilik (jiwa, pikiran, hati nurani manusia) maupun jagad gede (komunitas, masyarakat). Berbagai cara untuk menjaga atau menuju kehidupan harmonis ini, terutama dengan sikap toleransinya. Budaya Jawa adalah budaya yang paling memberi tempat bagi perbedaan sebagai kekayaan yang harus dipupuk bersama. Kedua, budaya dalam konteks modern yang struktural fungsional, dengan asumsi bahwa setiap orang atau lembaga memiliki tempat masing-masing dan ia harus berperilaku atau bekerja sesuai dengan tempat keberadaannya tersebut. Pemahaman tentang “tempat” bukanlah pemahaman mati atau mutlak, tetapi sebagai yang kondisional dan relatif. Ketiga, budaya Jawa menghargai hal-hal atau nilai-nilai yang bersifat transendental. Sifat transenden itu dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa hidup selalu bergantung pada Tuhan Yang Maha Kuasa12.
diteliti oleh Geerts (1981) maupun oleh Suseno (1984) yang menyimpulkan bahwa, setiap anggota masyarakat menyadari kaidah tersebut sebagai prinsip hidupnya. Setiap perbuatan senantiasa mengacu kepada kaidah tersebut. Setiap anggota masyarakat yang menyadari akan kejawaanya senantiasa menjaga situasi rukun dan berusaha untuk menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya.
Nilai-nilai moral pada sisi lain juga memahami Gus-ji-gang dan habitus Bourdieu sebagai dasar pembentukan dan penguatan social capital dagang industri kecil dalam kesatuan central concept budaya Jawa yaitu harmonis, struktural fungsional dan transendental yang uraiannya masing-masing antara lain sebagai berikut:
Harmonis
Karakteristik inti pandangan harmonis adalah, menciptakan dan menjaga kesesuaian atau keselarasan hubungan antara manusia, masyarakat dan dengan alam. Ketiganya merupakan satu sistem yang
disebut “pandangan dunia Jawa”. Tolok ukur arti pandangan dunia bagi
orang Jawa adalah nilai pragmatisnya agar tercapai keadaan psikis tertentu yaitu ketenangan, ketentraman, dan keseimbangan batin. Karenanya, maksud pandangan dunia ini tidak hanya terbatas bagi agama-agama formal dan mitos, tetapi juga seperti yang dimaksud dalam istilah kejawen13. Kejawen merupakan suatu konsep hidup yang melingkupi lahir batin material spiritual yang merupakan kepercayaan tentang pandangan hidup yang diwariskan para leluhur yang dianut oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Pandangan hidup orang Jawa atau filsafat Jawa terbentuk dari gabungan alam pikir Jawa tradisional, kepercayaan Hindu atau filsafat India, dan ajaran tasawuf atau mistik Islam (Abdul Aziz, 2011).
Niels Mulder menjelaskan, kejawen sebagai cap deskriptif bagi unsur-unsur kebudayaan Jawa atau sebagai yang khas Jawa.14 Kejawen
pada dasarnya merupakan “suatu sikap khas” terhadap kehidupan
hormat terhadap berbagai ungkapan religius (agama formal) dalam mewujudkan kesatuan hidup Jawa17. Para pengkaji dari luar negeri dan orang-orang Jawa yang terdidik semakin bersepaham mengenai sebutan sinkretisme dan meresapnya sikap toleransi bagi masyarakat Jawa ini18.
Mencermati pengertian sinkretisme dan toleransi bagi kejawen tersebut menunjukkan adanya cara bersikap hormat dan rukun kepada sesamanya dengan nilai-nilai moralnya seperti, merasa sesuai dengan orang lain maka, bersedia saling kerja sama, dan bersabar dalam perbedaan keyakinan atau pengalaman keagamaan. Nilai-nilai moral kejawen itu sebagai habitus Bourdieu yang mendasari pembentukkan social capital dalam kesatuan tiga central concept budaya Jawa yang utama yaitu harmonis. Obyektivikasi nilai-nilai moral itu juga implisit dalam pemahaman habitus Bourdieu. Menurutnya, habitus merupakan kekuatan social capital yang ditentukan oleh berbagai akumulasi nilai dan beragam tipe dari aspek sosial, budaya, kelembagaan dan aset yang tidak terlihat yang mempengaruhi perilaku kerja sama19. Fukuyama juga lebih menjelaskan bahwa, norma dan nilai bagiannya social capital kekuatan habitus yang di dalamnya terdapat hubungan saling percaya sebagai nilai moralnya perilaku jujur dan dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan dinamis20. Nilai-nilai moral kejawen itu, di satu sisi sebagai acuan teoritis habitus Bourdieu, namun pada sisi lainnya memerlukan obyektivikasi dengan identifikasi21 terhadap para ahli atau tokoh Jawa yang pernah mempraktikkan nilai-nilai moral itu sebagai acuan contoh teknis pelaksanaan dan merasakan baik bagi dunia kehidupan atau realitas sosial Jawa yang sesuai di masanya.
Jawa25. Mencermati makna sikap integrasi itu maka maksud utamanya yaitu, agar pihak-pihak yang terlibat di dalamnya merasa terjalin dalam satu pola kekeluargaan Jawa yang saling kasih (tresno) sehingga tercipta suasana yang harmonis. Maksud makna itu searah dengan Niels Mulder26 yang menjelaskan, tujuan sikap integrasi dengan kekuatan moral aja mitunani wong liya adalah, manusia hendaknya selalu bersikap baik satu sama lain, saling membuat bahagia, dan tidak saling mengganggu. Nilai-nilai moral tata krama Jawa yang ditunjukkan dalam sikap hormat dan rukun justru sebagai usaha untuk menghasilkan suasana yang harmonis itu.
Mencermati berbagai penjelasan identifikasi tersebut maka dalam Gus-ji-gang juga dapat mengimplikasikan dua kebaikan nilai moral. Pertama, kebagusan tingkah laku sebagai tata krama Jawa diimplementasikan melalui caranya bersikap hormat dan rukun terhadap sesama. Kebaikan nilai moralnya terkandung di keutamaan moral sepi ing pamrih dengan kekuatan moralnya aja mitunani wong liyan yang melahirkan sikap toleransi dalam masyarakat modern yang disebut pluralisme modern27. Sebutan terakhir itu merupakan kritik atau sebagai pembaharu pluralisme tradisional28. Kedua, mengimplikasi kebaikan tindakan moral29 yang berprinsip sikap baik30terhadap apa saja dan siapa saja.
seni, dan kemanusiaan32. Berdasarkan pada penjelasan itu maka bersikap hormat terhadap apa saja dan siapa saja dapat dijadikan sebagai acuan pertama untuk menganalisis Gus-ji-gang dan habitus Bourdieu sebagai keutamaan social capital bagi komunitas industri kecil di Kudus yang akan dibahas pada sub-bab berikutnya.
Suseno (2001) menjelaskan, apa yang terkandung dalam prinsip hormat tersebut juga berlaku bagi prinsip kerukunan33. Prinsip kerukunan bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Keadaan semacam itu disebut rukun. Rukun menurut Niels Mulder (1978) berarti “berada dalam keadaan yang selaras, tenang dan tentram, tanpa perselisihan dan pertentangan”, bersatu dalam maksud untuk saling membantu34”. Keadaan rukun ada dimana semua pihak berada dalam keadaan damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima dalam suasana tenang dan sepakat. Rukun yaitu keadaan ideal yang diharapkan dapat dipertahankan dalam semua hubungan sosial, pada keluarga, dalam rukun tetangga, di desa, dan dalam setiap pengelompokkan tetap. Suasana seluruh masyarakat seharusnya bernapaskan semangat kerukunan. Penjelasan tersebut memberikan arah acuan teknis obyektivikasi sikap rukun sebagai identifikasi kebagusan tingkah laku pada Gus-ji-gang bisa ditentukan oleh sesuai (cocok) atau tidaknya cara masing-masing individu memfungsikan nilai-nilai moral Jawa, di satu sisi sebagai tata krama dalam satu kesatuan struktur realitas sosialnya dan sesuai pada masanya pada sisi lain. Masalah tersebut terkait dengan konsep inti budaya Jawa yang kedua yaitu struktur fungsional yang uraian bahasannya antara lain sebagai berikut.
Struktur Fungsional
di sini adalah, bangunan ide para pujangga tentang nilai-nilai moral, dan cara memfungsikan atau pemberdayaannya sebagai konsep hubungan antar individu dalam dunia atau realitas sosial Jawa. Konsepnya merupakan pedoman ajaran moral (norma moral) bagi tingkah lakunya (perilakunya), baik secara individu atau kelompok. Penjelasan itu secara implisit searah dengan maksud Fachry Ali bahwa, ajaran moral pada budaya Jawa yang difungsikan sebagai ideologi, khususnya sebagai corak hidup kalangan bangsawan (priyayi), juga memberi arah cara bersikap bagi seluruh rakyat Jawa36.
Cara memfungsikan atau pemberdayaan pada ajaran moral tersebut yang melahirkan berbagai sikap moral atau tindakan moral masing-masing individu atau kelompok bisa sesuai atau tidak, baik terhadap prinsip hormat dan rukun maupun sebagai sikap kekeluargaan dengan nilai-nilai manusiawi yang transendental bagi berbagai pihak yang hidup bersama. Jadi “struktur” di sini merupakan kerangka bangunan ide para ahli/ulama tentang nilai-nilai moral, dan cara memfungsikan atau teknis pemberdayaannya bagi konsep hubungan individual dalam dunia atau realita sosial masyarakat Jawa. Dalam kehidupan masyarakat Jawa (termasuk di Kabupaten Kudus) mengharapkan agar hidupnya sesuai dengan irama kodrat alam dan cita-cita masyarakat. Hidup seperti itu akan menciptakan kehidupan yang aman, sejahtera, adil makmur, lahir dan batin. Orang Jawa berkeyakinan bahwa hidup seperti tersebut dapat dicapai jika orang dalam setiap berhubungan dan bertingkah laku perbuatan, tata tertib dan kebiasaan hidup sehari-hari berpedoman dan bersumber pada kaidah-kaidah moral yang berlaku di masyarakat.
membantu sejauh kemampuannya, baik dalam kepentingan perorangan maupun kepentingan umum. Hal tersebut dapat dilihat dalam kerja sama, tukar-menukar pikiran, dalam keluarga, lingkungan Rukun Tetangga maupun masyarakat luas (termasuk dalam berbisnis). (b) prinsip hormat, artinya dalam setiap situasi, dimana pun orang berada, hendaknya setiap anggota masyarakat dalam cara berbicara dan membawakan diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukan (status)nya.
Orang Jawa harus menghormati mereka yang lebih tinggi dan sebaliknya tidak meremehkan mereka yang lebih rendah. Sikap hormat tersebut tertanam sejak kecil dalam keluarga dengan perasaan wedi, isin dan sungkan (Geertz, 1983). Anak dididik untuk takut dan menghormati orang lain dan untuk malu akan apa yang tidak pantas bagi orang lain. Perasaan malu dapat muncul dalam setiap situasi sosial (Suseno, 1984). Mengerti kapan dan bagaimana wedi, isin dan sungkan harus dilakukan, berarti telah menjadi orang Jawa (Geerts, 1983). Selanjutnya Geertz (1981) dan Seseno (1984) menyimpulkan penelitiannya bahwa setiap anggota masyarakat manyadari kaidah kerukunan dan hormat sebagai prinsip hidupnya. Setiap perbuatan selalu mengacu kepada kaidah tersebut menjadi sumber etika dan terlihat dalam tatanan dan tingkah laku hidupnya.
Jadi sifat rukun dan hormat berlaku agar masyarakat mencapai keselarasan dan bukan orang perorangan, tetapi masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam masyarakat Jawa orang harus sabar, kerja sama, patuh dan rela berkorban. Manusia dan lingkungan alam ini merupakan suatu keutuhan yang mengandung unsur-unsur dan relasi yang teratur. Terpeliharanya relasi itu berarti tercipta keadaan yang selaras, serasi dan seimbang, yang sering disebut sebagai keadaan tata titi tentrem kerta raharja.
menemukan, serta menciptakan yang baru (modern)37. Agar tercipta yang baru (modern) artinya, yang sesuai dengan nilai-nilai moral budaya Jawa: struktural fungsional, maka keutamaan “ji” sebagai identifikasi proses pembelajaran (to learning), selain bersikap kritis dan kreatif, diperlukan pengembangan kedalamannya. Maksud pengembangan kedalamannya yaitu, dalam bersikap kritis dan kreatif dimaksudkan sebagai kegiatan bermakna38 spiritual39 pada makna internalnya40. Acuan identifikasi kegiatan bermakna spiritual sebagai makna internalnya yang sesuai bagi nilai-nilai moral budaya Jawa: struktural fungsional adalah, bersikap momong atau ngemong41 dan mawas diri atau tahu diri sama dengan bersikap eling42 sebagai satu tatanan caranya bersikap hormat dan rukun (tata krama Jawa) demi kekeluargaan dan hubungan kemasyarakatan.
Transendental
Kata transendental mempunyai pengertian menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian, atau di luar apa yang diberikan oleh pengalaman manusia. Istilah transendental, menurut Garaudy (1986) memiliki 3 (tiga) pengertian dengan perspektifnya. Pertama, mengakui ketergantungan manusia kepada penciptanya. Sikap merasa cukup dengan diri sendiri yang memandang manusia sebagai pusat dan ukuran segala sesuatu, bertentangan dengan makna transendental. Transendental mengatasi naluri-naluri manusia seperti keserakahan dan nafsu berkuasa. Kedua, mengakui adanya kontinuitas dan ukuran bersama antara Tuhan dan manusia. Artinya, transendensi merelatifkan segala kekuasaan, kekayaan, dan pengetahuan. Ketiga, mengakui keunggulan nilai-nilai mutlak yang melampaui akal manusia.
khususnya masyarakat Kabupaten Kudus. Dalam budaya Jawa pandangan hidup lazim disebut ilmu kejawen atau yang dalam kesusastraan Jawa dikenal pula sebagai Ngelmu Kesempurnaan. Wejangan tentang Ngelmu Kesempurnaan Jawa ini termasuk ilmu kebatinan atau dalam filsafat Islam disebut tasawuf atau sufisme. Orang Jawa sendiri menyebutkan suluk atau mistik. Sebenarnya kejawen bukan aliran agama, tetapi adaptasi kepercayaan, karena di sana terdapat ajaran yang berdasarkan kepercayaan terhadap Tuhan dari puncak-puncak teologi Islam, Hindu dan Budha. Berbagai makna yang berkaitan dengan kata “transendental” adalah, sesuatu yang secara kualitas teratas, atau di luar apa yang diberikan oleh pengalaman manusia. Kehidupan yang mengarah ke dalam transendental berarti, sebagai yang mampu mengungkap seluruh realitas obyektif yang sedang dikerjakan dan mengungkapkan secara total sampai pada makna-makna hidup yang paling final43 sebagai “pengalaman keagamaan”.
Maksudnya “pengalaman keagamaan” yaitu, adanya kesadaran akan dunia gaib, rohaniah atau spiritual, sebagai pandangan dunia dan pembuktian fakta-fakta kerohaniannya tersebut dalam dunia jasmaniah44. Pengertian tersebut searah dengan maksud William James
masyarakat Kudus bahwa tidak logis jika dalam mencari rejeki justru melupakan yang memiliki rejeki tersebut. Masyarakat Kudus berkeyakinan semakin dekat dengan yang memiliki rejeki, semakin banyak rejeki yang mereka akan terima. Maka tidak mengherankan bila masyarakat Kudus dalam mencari rejeki dihubungkan dengan tawakal (transendesi), karena pada dasarnya tawakal adalah proses membangun transendensi kepada Allah.
Kebudayaan asli Jawa yang bersifat transendental lebih cenderung pada paham animisme dan dinamisme, perubahan besar pada kebudayaan Jawa terjadi setelah masuknya agama Hindu-Budha yang berasal dari India berabad-abad lamanya mempengaruhi tanah Jawa, seperti sistem kepercayaan, kesenian, kesusasteraan, astronomi, dan pengetahuan umum. Para wali dan ulama mendominasi pembentukan karakter religiusitas orang Jawa, sehingga muncul pemahaman ajaran agama Islam dengan pemahaman kejawen. Sunan Kudus, salah satu walisanga yang memiliki pendekatan sangat toleran dan sebagai waliyyul ilmy yang melahirkan stok tanda paradikmatik varian masyarakat santri di Kabupaten Kudus dan tanda Sunan Kudus sebagai wali saudagar yang melahirkan tanda paradigmatik varian masyarakat santri yang pedagang/saudagar. Maka dengan perpektif ini, gejala budaya paradigmatik yang bisa diserap dari pola hubungan tanda tersebut melahirkan varian Islam di kabupaten Kudus sebagai ”santri
Saudagar”.
Gus-ji-gang sebagai bentukan dari hubungan yang lebih menekankan nilai-nilai akulturasi agama Islam dengan budaya Jawa sebagai nilai-nilai kebersamaan dan kepercayaan baik dalam suatu komunitas atau antar komunitas. Nilai-nilai tersebut merupakan suatu modal dalam membentuk masyarakat kuat dan berkepribadian, dimana saat ini sangat penting karena ketika suatu komunitas atau masyarakat mendapat suatu masalah maka akan cepat diatasi tanpa harus ada yang dirugikan. Bourdieu, dalam tulisannya melihat bahwa posisi agen atau aktor dalam arena sosial ditentukan oleh jumlah dan bobot modal relatif mereka. Dalam arena sosial agen bertaruh tidak hanya
namun juga dengan ”chip biru” yaitu modal budaya dan juga dengan
“chip merah” yaitu social capital (Alheit,1996).
Kehidupan Sehari-hari Komunitas Pengusaha Industri Kecil
Bisnis Keluarga Bordir
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Kabupaten Kudus, khususnya Desa Padurenan Kecamatan Gebog, rumah tempat tinggal merupakan pusat kegiatan ekonomi (bisnis), disamping untuk tempat tinggal keluarga. Rumah tempat tinggal bagi pengusaha bordir bukanlah sekedar tempat berlindung atau beristirahat dari kepenatan kerja sehari-hari, dan tempat komunikasi antar keluarga dan kerabat, tetapi tempat bekerja dan tempat berproduksi. Oleh karena itu, rumah bagi pengusaha bordir selalu dipenuhi barang-barang hasil produksi atau produksi orang lain dan selalu ramai dengan para pekerja yang datang dan pergi dari desa-desa di sekitar Kelurahan Padurenan maupun keluarga inti (suami/isteri, anak,cucu) dari keluarga pengusaha.
Keluarga sebagai kelompok primer, menurut Cooley (dalam Soekanto, 2004) menyatakan kelompok yang ditandai ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Hubungan antar anggota keluarga masyarakat Kudus umumnya saling berkomunikasi dengan bahasa ngoko (bukan bahasa halus), baik orang tua dengan anaknya, anak dengan bapaknya, maupun adik dengan kakak. Mereka menggunakan bahasa kromo (halus) biasanya antara pegawai dengan majikannya, atau pembantu rumah tangga kepada tuannya. Sebagaimana orang Jawa di daerah lain, masyarakat Kudus memanggil atau bertegur sapa kepada yang lebih tua dengan sebutan tertentu, misal pak Haji (bagi yang sudah menunaikan ibadah haji), tetapi kepada yang lebih muda, meskipun sebutannya ada mereka lebih senang memanggil nama panggilannya secara langsung
atau “njangkar”, tetapi untuk memanggil yang lebih tua, seperti orang tua laki-laki memanggil dengan Pak, atau ibunya dengan sebutan Bu. Tetapi ada juga yang memanggil bapak dengan sebutan Bah (Abah) dan Mi (Umi) sebutan ibu dan sebutan untuk kakak laki-laki dengan Mas atau kang dan kakak perempuan dengan sebutan mbak. Panggilan paman dengan sebutan pak Lik dan bibi adalah bu Lik. Sedangkan sebutan kakek dan nenek, mereka menyebut dengan mbah kakung (kakek) dan mbah putri (nenek). Sedangkan mulai turunan kedua, istilah panggilannya sudah tidak ada, dan kebanyakan masyarakat Kudus memanggil dengan langsung namanya, tetapi juga sering menggunakan istilah yang dipakai untuk memanggil anak, yaitu panggilan cucu laki-laki dengan le dan cucu perempuan dengan sebutan nduk.
dibanding anak perempuan, karena anak laki-laki tidak dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan kamar, menyapu halaman, memasak, mencuci dan lain-lain. Sedangkan anak perempuan, karena dekat dengan ibunya, mempunyai tugas membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga setiap harinya, disamping itu kadang-kadang kalau ada waktu longgar harus membatu pekerjaan ayahnya yang ada di rumah sehingga tidak ada kesempatan untuk bermain di luar rumah seperti anak laki-laki. Anak laki-laki yang sudah dewasa memiliki tugas membantu menangani usaha bapaknya sampai pada suatu saat diserahkan sepenuhnya untuk meneruskan mengelola usaha orang tuanya atau membuka usaha sendiri. Kalau sudah sampai pada taraf ini, tugasnya sudah menjadi lebih berat dan lebih banyak dibandingkan dengan perempuan.
Setiap anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Bapak sebagai kepala keluarga menjadi pemimpin dan bertanggung jawab pada seluruh keluarga yang harus mencari nafkah, disamping pengambil keputusan untuk hal-hal yang penting, misalnya sekolah anak-anak, hubungan sosial maupun hajatan yang harus dipatuhi dan dilayani oleh semua anggota keluarga. Sedangkan tugas ibu memiliki kewajiban melayani kepada suami dan anak-anak sesuai dengan kebutuhannya (memberi uang saku kepada anak-anak, masak dan lain-lain) dan mengatur uang belanja dan memanfaatkan sesuai kebutuhan, serta melakukan pendidikan anak-anaknya khususnya perempuan.
Namun pada suatu keluarga yang sudah tidak utuh, misalnya bapaknya sudah meninggal atau tidak ada (cerai), pemimpin rumah tangga menjadi tanggung jawab ibu. Dalam keadaan demikian, anak-anak perempuan tugasnya akan lebih berat dibanding dengan anak-anak laki-laki, karena ketika ibunya berperan sebagai bapak, pekerjaan ibu menjadi tanggung jawab anak perempuan.
pengajian dan lain sebagainya. Namun menyangkut kehidupan bisnis (ekonomi), mereka saling bersaing, meskipun tidak secara terbuka, misalnya ada pengusaha bordir mau membeli bahan baku di KSU Padurenan Jaya tetapi saat bersamaan ada pengusaha lain (bahkan masih hubungan kekerabatan) juga mau belanja bahan baku pada tempat yang sama, maka pasti salah satu akan menunggu setelah pengusaha pesaing bisnis (meskipun itu masih kerabat) selesai belanja baru mereka mau membeli.
Setiap pagi, menjelang sholat subuh, semua mushola dan masjid di Kelurahan Padurenan–Kecamatan Gebog mengumandangkan adzan sholat subuh yang sangat ramai suaranya, membangunkan warga supaya menjalankan sholat subuh, saat itulah kehidupan masyarakat Kudus sudah mulai mempersiapkan kehidupan pada hari itu. Keluarga Ibu Hj. Sri Murni‟ah dan Bp.H.Moch Anshori sebagai informan kunci pada setiap jam 04.30 melakukan sholat subuh di rumah sendiri atau menuju mushola terdekat untuk melaksanakan sholat subuh.
Pagi itu setelah selesai sholat subuh Ibu Sri Murni‟ah sudah
mempersiapkan keperluan keluarga yaitu masak untuk persiapan sarapan pagi anak-anaknya yang akan ke sekolah dan suaminya (pegawai kantor kelurahan Padurenan), setelah selesai mulai mengelompokkan bahan-bahan yang akan dibordir oleh para pengrajin yang akan diantar suaminya ke rumah masing-masing pengrajin atau mengambil hasil bordir yang sudah selesai dikerjakan oleh para pengrajin. Kemudian anak perempuan nomer dua datang dari rumahnya (masih di sekitar Desa Padurenan) sekitar jam 09.00 terus
membuka butik/toko bordir ibu Hj.Sri Murni‟ah setelah kegiatan rumah sudah selesai atau saat anaknya nomer 3 masih tinggal bersama jam 8.30 toko sudah di buka. Kadang-kadang pagi-pagi sudah ada pesanan dari konsumen datang membeli atau menerima para pengrajin yang mengambil bahan bordir dan model disain, serta menerangkan kepada pengrajin mengenai disain, warna atau corak dan kapan
selesainya. Dan bila ibu Hj.Sri Murni‟ah akan mengantar hasil produksi
perempuannya sudah bisa melaksanakan tugas ibunya mengelola bisnis bordir.
Sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan Ibu Sri Murni‟ah dalam menerima dan melayani para pelanggan atau calon pembeli baru. Kemudian ditunjukkan berbagai variasi desain, corak dan warna, maupun model bordir, beliau pasti menanyakan: “Pados nopo kemawon mbak, taken mawon mboten nopo-nopo” artinya cari apa mbak, tanya saja nggak apa-apa. Dalam berjualan kita harus sregep (rajin), sabar dan sumanak (ramah)”. Lebih lanjut Ibu Hj. Sri Murni‟ah mengatakan sebagai berikut:
“Sregep ngomong, ampun kendel kemawon amargi menawi
kendel kemawon ngrantos pembeli tangklet ya saget kawon kalian pengusaha bordir sanesipun amargi barang ingkang dipun wadhe sami. Amargi pembeli meniko benten-benten, wonten ingkang namun pilih wonten noponipun, lan wonten pembeli ingkang tangklet disain, corak dan warni
ingkang sanesipun”.
Artinya:
Aktif dalam bicara, jangan diam saja sebab kalau diam saja menunggu pembeli bertanya ya bisa kalah dengan pengusaha bordir lain karena barang yang dibuat hampir sama,. Pembeli itu bermacam-macam, ada yang hanya memilih sak adanya dan ada pembeli yang menanyakan lebih detail mengenai disain, corak dan warna yang lain.
Hari Kamis tanggal 29 Januari 2015 kira-kira jam 8.30 WIB, Ibu Hj. Sri Murni‟ah menerima telpon kalau ada pembeli dari Semarang (rombongan pegawai Dinas Perindustrian Propinsi Jawa Tengah) akan datang, mau membeli pakaian blouse wanita dengan pernik-pernik bordir sebanyak 400 buah untuk keperluan pakaian dinas yang diwajibkan memakai pakaian khas daerah, setelah kira-kira jam 10.00
mereka tiba di rumah Ibu Hj.Sri Murni‟ah, dan langsung diterima oleh
Ibu H.Sri Murni‟ah dengan ramah, gesit dan cekatan menawarkan berbagai corak bordir. Karena kemampuan usaha Ibu Hj. Sri Murni‟ah
untuk pemenuhan order tersebut, dan beberapa saat pesanan datang dengan membawa pesanan blouse dengan bordir tersebut sehingga dapat terpenuhi 400 buah blouse bordir. Saat ditanya keuntungan hari ini, tuturnya sebagai berikut:
“injih lumayan keuntungan ipun dinten punika,pas pikantuk
rejeki saking Gusti Allah, amargi sedoyo sampun dipun atur Gusti Allah lan alhamdulilah pelanggan saking Semarang dumugi lan kawulo saget ngaturi pelayanan ingkang sae
supados tetap dados lengganan kawulo”
Artinya:
ya lumayan dapat keuntungan hari ini, kebetulan rejeki dari Gusti Allah, karena semuanya sudah diatur Gusti Allah dan alhamdulilah pelanggan dari Semarang datang dan bisa memenuhi kebutuhan dan pelayanan baik supaya tetap menjadi pelanggan).
Kemudian beliau melanjutkan ucapannya dan titip tidak usah diceritakan ke mana-mana kepada pengusaha bordir yang lain karena ini merupakan rahasia usahanya, supaya tidak terjadi persaingan yang tidak sehat, dan menumbuhkan kecemburuan antar pengusaha. Ini menunjukkan betapa implikasi dari ajaran Gus-ji-gang telah mereka lakukan untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan para pengusaha bordir telah dilakukan informan, sehingga kondisi yang baik di antara pengusaha bordir terjalin harmonis. Demikian pula Ibu
Hj.Sri Murni‟ah dalam menjalin hubungan dengan para pekerja bordir,
baik yang bekerja di rumahnya maupun pekerja bordir yang mengerjakan di rumah masing-masing dilakukan dengan baik dan selalu memberikan petunjuk sebelum para pekerja mengerjakan, baik itu desain maupun kombinasi warna benang dengan dasar warna kain, sehingga diharapkan sesuai dengan yang diharapkannya. Ungkapnya terhadap pekerjanya sebagai berikut:
“ngene lho, dik Markonah yen kono biso gawe bordir sesuai
sing takkarepke, rapi,cepet lan kombinasi warna sesuai lan biso kemadol duwur, pasti kono takwenehi bonus lan ojo
nganti salah le bordir… aku biso rugi”.
Artinya:
kombinasi warna sesuai dan bisa terjual tinggi, pasti kamu
saya beri bonus dan jangan sampai salah dalam membordir…
saya bisa rugi.
Demikian pula Bapak H.Moch Anshori menceritakan kebiasaan yang dilakukan setiap hari kepada peneliti:
“setelah solat subuh, biasanya melakukan perjalanan ke luar
kota setiap minggu 3 kali untuk mengirim produksi bordir tempel ke Magelang, Surakerta maupun ke Semarang. Rencana hari ini, Bp. H. Moch Anshori akan mencari bahan baku dan sekaligus mengirim hasil produksi bordir tempel ke Surakarta. Sebelum berangkat bisanya sudah memberikan pengarahan pada karyawan pengrajin bordir maupun berkoordinasi dengan isterinya yang nantinya bertugas mengawasi pekerjaan pengrajin bordir selama dia ke luar kota dan bisanya tidak menginap (langsung pulang). Malam harinya setelah di rumah, setiap ada kegiatan “kumpulan” beliau selalu mengikuti kegiatan sosial, pengajian,
menghadiri hajatan tetangga”.
Para pengusaha bordir setiap ditanya berapa rupiah keuntungan hari ini, pasti jawabannya tidak jelas dengan kata “lumayan” dan ukurannya bisa untuk beli bahan baku, bayar tukang/pengrajin bordir dan bisa memenuhi iuran kegiatan-kegiatan sosial (arisan, pengajian, gotong-royong, jimpitan dan sebagainya). Seperti yang diungkapkan
Ibu Islahiyah pemilik usaha bordir „La Risma‟ kepada peneliti sebagai berikut:
“ya untungnya lumayan lah, bisa buat beli bahan yang
berkualitas baik, bayar tenaga kerja dan masih bisa untuk kebutuhan keluarga sedikit-dikit, ya harus selalu disyukuri bila masih ada sisa akan di tabung untuk keperluan yang lain
misal naik haji, umroh atau punya hajat”.
Habitus
Pengusaha Bordir di Kudus
perilaku yang menetap di dalam diri manusia tersebut. Bila seseorang memiliki habitus yang begitu kuat, sampai dapat mempengaruhi tubuh fisiknya. Habitus yang sudah demikian kuat tertanam serta mengendap menjadi pelaku fisik disebutnya sebagai hexis.
Dengan habitus, Bourdieu merujuk pada berbagai disposisi yang tidak disadari, skema-skema klasifikasi, pilihan-pilihan yang dianggap benar yang tampak jelas dalam pengertian seseorang tentang ketepatan dan validitas seleranya akan berbagai benda dan praktik budaya. Habitus merupakan kontribusi penting bagi Bourdieu dalam usahanya untuk mengkontruksi sebuah model yang memperhitungkan struktur dan agen (Lash, 2004:239), dan habitus menurut Bourdieu (dalam Malawarman, 2008:431) merupakan sebuah proses yang meng-hubungkan antara agensi (practice) dengan struktur (melalui capital dan field/arena).
Pembentukan habitus menurut Bourdieu (1977) melalui suatu proses dialektika yang digambarkan sebagai ”a dialectic of
internalization of externality and externalization of internality.‟”
Artinya proses internalisasi yang terus diterima atau dilakukan secara terus-menerus sehingga akan membentuk habitus yang berfungsi sebagai pola berpikir pelaku bisnis bordir (aktor) yang terekternalisasi dalam bentuk praktik yaitu perdagangan, dan selanjutnya apa yang terekternalisasi ini akan mengalami proses internalisasi kembali, dst., semuanya berlangsung dalam ranah/field. Dalam ranah inilah para aktor melakukan tindakan atau praktik dalam bentuk berinteraksi yang dialektis yang melibatkan capital baik ekonomi, sosial, budaya maupun simbolik yang dimiliki untuk meraih, mempertahankan, dan pemberdayaan sumber-sumber daya yang dimiliki agar eksis dalam melakukan perdagangan.
medium dalam hubungan pengusaha dengan tenaga kerja, pemasok bahan baku maupun pemangku kepentingan dalam perekonomian.
Perbedaan habitus antar-daerah nampak pada perbedaan tindakkan yang menurut Bourdieu (1994) digambarkan dalam perbedaan gaya hidup atau selera, praktik-praktik dan hasil karya yang memposisikan habitus-nya dan sekaligus menjadi pembeda perilaku dan gaya dari suatu masyarakat. Dalam masyarakat Jawa (termasuk masyarakat Kudus) memiliki karakteritik budaya yang khas sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Masyarakat Kudus memiliki pola akulturasi antara budaya Jawa dengan budaya Islam yang merupakan ciri khas budaya Kudus. Menurut Prabowo (2003:24), budaya secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu: budaya lahir dan budaya batin. Budaya lahir terkait dengan kedudukan seseorang sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial. Sebaliknya budaya batin terkait dengan persoalan-persoalan yang bersifat transendental atau hal-hal yang tidak dapat dijangkau berdasarkan perhitungan empiris atau objektif, tetapi menduduki posisi yang penting dalam sistem kehidupan masyarakat Jawa. Pengakuan orang Jawa terhadap Tuhan Sang Pencipta dapat diketahui dari berbagai ungkapan-ungkapan yang mengacu pada ketergantungan manusia kepada Tuhan.
Menurut Koentjaraningrat (1982), budaya batin masyarakat Jawa (termasuk masyarakat Kudus) dapat dimasukkan pada sistem religi atau keagamaan Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terkristalisasi dalam perilaku berdagang masyarakat Kudus, ketika memulai untuk melakukan aktivitas dagang/bisnis para orang tua mengingatkan Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur. Ungkapan ini memiliki makna bahwa kita harus memulai aktivitas baik itu berdagang atau aktivitas yang lain dengan memohon apa yang kita inginkan kepada Tuhan. Tuhan selalu mengawasi sehingga manusia harus memikirkan apakah tindakan yang dilakukannya berpengaruh baik atau buruk, baik bagi dirinya maupun orang lain.
disebut sebagai sangkan atau “asal atau kelahiran‟” dan paran (tujuan hidup). Disamping memiliki sikap perilaku yang sangat kental dengan keyakinan yang dianutnya, orang Jawa (termasuk masyarakat Kudus) juga memiliki etos kerja yang kuat dan disiplin tinggi. Etos kerja ini diajarkan pertama kali oleh para orang tua kepada anaknya ketika mereka sudah berumur akil baligh. Nilai-nilai yang ditanamkan orang tua secara terus-menerus kepada anaknya terkait dengan kewajiban dalam mencari kehidupan (memenuhi kebutuhan sehari-hari). Orang tua terus mendorong anaknya dengan memberikan nilai-nilai yang arif serta memberikan contoh.
Prabowo (2003), mengemukakan kata-kata arif yang sering diucapkan oleh orang tua kepada anaknya agar mau bekerja, misal ana dina ana upo, artinya ada hari pasti ada rejeki; ajo sanggo tangan artinya “jangan berpangku tangan”; obah mamah, untuk lebih lengkapnya dalam sebuah nasehat sing sopo gelem obah bakal mamah, artinya siapa yang mau berusaha (bekerja) pasti akan makan. Ketika akan memulai melakukan aktivitas bisnis para orang tua mengingatkan Gusti ora sare/ Tuhan tidak tidur. Ungkapan ini memiliki makna bahwa kita harus memulai aktivitas dengan memohon apa yang kita inginkan dan Tuhan selalu mengawasi sehingga manusia harus memikirkan apakah tindakan yang dilakukannya berpengaruh baik atau buruk, baik bagi dirinya maupun orang lain.
Demikian pula nilai-nilai keagamaan diberikan orang tua kepada anak-anaknya sejak kecil, misalnya anak-anak disamping mengikuti belajar di sekolah formal (SD, SMP, SMA) tetapi setiap sore diwajibkan mengikuti kegiatan keagamaan melalui pengajian yang
keagamaan (Islam). Hal ini seperti diungkapkan informan kunci Ibu Hj. Sri Murni‟ah:
“Menawi dinten Jum‟at karyawan bordir libur lan kawulo ginakaen derek kegiatan pengajian dateng Masjid”.
Artinya:
kalau hari jum‟at karyawan bordir libur dan saya gunakan
untuk mengikuti pengajian di Masjid.
Sedangkan informan Ibu Mirah mengungkapkan kebiasaan melakukan usaha yang agak berbeda kepada peneliti:
“menawi dinten jum‟at wonten 2 karyawan ingkang tetap
bekerja lan nyuwun libur ipun dinten minggu, ya kawulo manut kemawon, ingkang baku damelanipun rampung, sanesipun karyawan menawi Jum‟at nyuwun libur lan
dinten minggu mlebet nyambut damel”.
Artinya:
kalau hari jum‟at ada 2 karyawan yang tetap bekerja dan
minta liburnya hari minggu, ya saya ikuti saja, yang penting pekerjaan selesai, karyawan lainnya kalau hari Jum‟at minta libur lan hari minggu masuk kerja.
Kemudian informan kunci Bapak H.Moch Anshor menjelaskan kepada peneliti sebagai berikuti:
“kalau hari Jum‟at saya tidak melakukan kegiatan pengiriman
barang atau membeli bahan baku dan kegiatan membuat bordir berhenti karena karyawan libur dan saya gunakan untuk melakukan servis mesin, mendisain rancangan bordir
dan melakukan sholat Jum‟at serta mengikuti pengajian”.
Nilai-nilai Gus-ji-gang dalam kehidupan sehari-hari sudah meresap dalam diri masyarakat Kudus, termasuk para pengusaha bordir. Hal ini dapat dilihat dari pola berpikir, perbuatan, tindakan baik dalam kehidupan sosial maupun bisnis/dagang, sehingga adanya sinergi antara kehidupan dunia dan akhirat di masyarakat Kudus. Rutinitas kegiatan keagamaan (Islam) demikian kuatnya dalam kehidupan masyarakat Kudus untuk menjaga keseimbangan dua kehidupan (sosial dan ekonomi) sehingga mengkristal dalam diri masyarakat Kudus.
Perilaku “gus” artinya beraklak baik atau berperilaku bagus dan
”ji” artinya pintar mengaji, telah mendasari internalisasi perilaku pengusaha bordir yang sering ditunjukkan dengan ungkapan paring panglilane Gusti artinya pemberian sesuai dengan kerelaan Tuhan. Dan masyarakat Kudus masih berpegang pada prinsip hidup sak titahe dan etika “sak titahe” akan menjadi pegangan hidup dan guidance value bagi masyarakat Kudus dalam mengarungi kehidupanya, terutama dalam menjalankan usahanya.
Menurut Abdul Jalil (2013), etika “sak titahe” kalau dicari padananya lebih mendekati konsep tawakal dalam Islam dan masyarakat Kudus mampu menginternalisasi konsep tawakal dalam Islam ke dalam etika ”sak titahe”. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh informan kunci Ibu Hj Sri Murni‟ah dan Bapak H.Moch Anshori
yang pada dasarnya hampir sama. Ibu Hj Sri Murni‟ah mengatakan:
“sak wanci dinten pas sepi namun pikantuk penghasilan
namun cekap kagem bayar borongan bordir, injih kedah bersyukur alhamdulilah, namun pas rame injih pikantuk penghasilan cukup kagem tumbas bahan, bayar karyawan lan tasih wonten sisanipun kagem kebetahan sedinten-dinten,
injih tetap disyukuri”.
Artinya:
Sedangkan Bapak H.Moch Anshori menuturkan kepada peneliti sebagai berikut:
“tetapi saya tetap sabar karena rejeki sudah diatur Yang Maha Kuasa dan Alhamdulilah karena pelanggan saya sangat banyak, ya lumayan lah penghasilannya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”.
Bagi masyarakat Jawa (termasuk masyarakat Kudus), mencari kerelaan Tuhan menjadi tujuan utama untuk mendapat rejeki yang berkah. Sebagai konsekuensinya akan menyisihkan sebagian rejeki yang telah diterimannya untuk diberikan kepada yang berhak. Ada dua bentuk balasan kebaikan yang diharapkan yang sesuai dengan ajaran agama Islam yaitu: Pertama, kebaikan yang dengan cepat/segera akan mendapat balasan dengan kebaikan. Kedua, kebaikan yang mendapat balasan dalam jangka waktu yang lama, yang diibaratkan dengan nandur pari jero. Menanam kebaikan kepada seseorang yang tidak mampu membalas kebaikan itu dipandang sebagai nandur pari jero (menanam padi yang dalam), dan berkeyakinan bahwa akan memperoleh kenikmatan bagi anak dan cucunya.
Demikian pula “gus” dan “ji” telah mampu memperkuat
kehidupan internal komunitas pengusaha bordir di Kudus dalam melakukan kegiatan dagang, seperti yang sering diungkapkan para informan sebagai sikap rendah hati yaitu tuna satak bathi sanak dalam pergaulan komunitas pengusaha bordir. Artinya bila mendapat rugi uang tidak apa-apa, asal mendapat untung saudara. Menurut Suratno dan Astiyanto (2009), Bathi sanak artinya tambah sedulur (tambah saudara; yang berarti tambah juga pelanggan). Demikian pula pendapat Marbangun (1995) yang menjelaskan bahwa, manusia Jawa merupakan sosok yang dapat menerima kondisi atau nasib yang terjadi dalam hidupnya dengan dilandasi rasa percaya pada kemurahan Tuhan sehingga segala sesuatu diterima dengan jiwa narima ing pandum tetapi bukan tindakan fatalis.
menambah jejaring atau pelanggan, yang dalam berusaha dihitung sebagai keuntungan (laba). Oleh karena itu, seorang pengusaha bordir rela menjual barang dagangannya dengan harga sedikit lebih rendah dari penawarannya demi menjaga dan menjalin hubungan dengan orang lain, yakni pembeli. Bagi orang Jawa (termasuk orang Kudus) harta benda bukanlah segala-galanya dan ukuran kekayaan seseorang tidak selalu ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki. Pelanggan merupakan aset potensial yang menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang dan pelanggan keberadaannya tidak berada di luar melainkan manunggal dengan kekayaan. Sehingga pengusaha bordir pada suatu saat mendapatkan kerugian atau tuna satak dianggap tidak berarti apa-apa jika kekayaan yang berupa sanak “pelanggan” terus bertambah.
Pengusaha
Industri
Kecil
Bisnis
Keluarga
Bordir
Berinteraksi dengan Tenaga Kerja
Berdasarkan data empiris di lapangan, komunitas IKBK bordir di Kabupaten Kudus sebagian besar dilakukan di rumah sebagai tempat usaha (bengkel) dan dikelola oleh suatu keluarga, dimana suami atau isteri sebagai pemilik usaha dibantu dengan anggota keluarga yang lain seperti isteri atau suami, anak, menantu sehingga pembagian area publik (produktif) dan domestik (reproduktif) menjadi tidak jelas secara fisik, usaha bukan lagi milik seseorang tetapi milik bersama dan tidak jelas siapa juragan (suami atau isteri), tidak ada perjanjian dan kontrak karena semuanya berlangsung karena saling menjaga kepercayaan, saling memahami, saling membantu, dan sebagai social capital. Bourdieu (dalam Richard Jenkins, 2013) mengatakan bahwa, capital tidak selalu bermakna ekonomi tetapi capital juga bisa bermakna sosial, budaya, politik, dan simbolik yang dapat menghasilkan bukan hanya barang atau uang tetapi makna dan simbol.
dengan pengusaha, sehingga hubungan kerja di antara mereka secara informal. Keterlibatan pekerja saling bekerja sama membantu dan saling percaya dalam pengelolaan dan proses produksi bordir sampai pemasarannya dan para pekerja tersebut juga berperan dalam mendukung perekonomian keluarga, keterlibatan keluarga sebagai pekerja mendapat upah harian atau borongan dengan kesepakatan (majikan dan pekerja) sebelumnya dan kondisi pekerja didominasi oleh perempuan. Para pekerja sebagian melakukan aktivitas mengerjakan produksi bordir di rumah/bengkel pengusaha bordir dan sebagian lagi pekerja membawa pulang bahan-bahan bordir dari majikannya dan mengerjakan aktivitas bordir di rumah masing-masing, ini yang sering disebut sebagai tenaga kerja rumahan (home-woker)47.
Meskipun tenaga kerja bordir sebagain besar perempuan dan dalam mengerjakan pekerjaan bordir di bawa pulang atau dikerjakan di rumahnya tetapi tetap dalam kendali dan pengawasan pengusaha baik itu dalam menentukan desain, penentuan kombinasi warna benang, penentuan jenis dan warna kain dan akan dibayar dalam satuan tertentu (pieces) yaitu borongan atau harian.
“para pekerja, saya beri kebebasan mau mengerjakan di bengkel atau di rumahnya, yang penting pekerjaan selesai tepat waktu, dan sudah disepakati pula dengan desain, kombinasi warna benang tertentu karena secara teknik membordir para pekerja sudah profesional, dan untuk tetap menjaga kualitas tetap saya kontrol dengan mendatangi di rumah para pekerja setiap sore hari (setelah sholat dhuhur) dan harga pekerjaan bordir sudah disepakati bersama, biasanya kalau dikerjakan di rumah pekerja dengan borongan sedangkan kalau dikerjakan di bengkel (rumah pengusaha) dengan harian, yang terpenting antara pengusaha dan pekerja menjaga kejujuran dan norma-norma yang berlaku, rata-rata pekerja ikut bekerja dengan saya rata-rata di atas 5
tahun lebih.”
Dalam memenuhi kebutuhan karyawan bordir yang dihadapi usaha bordir ”Fadillah” dirasa cukup memadai. Dalam wawancara
secara mendalam dengan Ibu Sri Murni‟ah49 terungkap sebagai berikut:
”jumlah karyawan sameniko sampun cekap lan kualitas ipun
sampun sae, injih kawulo boten nambah karyawan, namun menawi wedal pesanan katah, kawulo nembe pados karyawan pocokan, sakmenika karyawan ingkang dateng griyo 2 tiyang lan karyawan ingkang dateng griyonipun kiambak-kiambak wonten 12 tiyang ngagem sistem
borongan, hanya untuk administarasi anak kulo kiyambak”
Artinya:
Jumlah karyawan sekarang sudah mencukupi dan kualitas sudah baik, ya saya tidak menambah karyawan, tetapi kalau
pesanan banyak baru mencari karyawan “pocokan”, sekarang
jumlah karyawan 2 orang di rumah dan 12 orang karyawan di rumahnya masing-masing dengan sistem borongan dan kalau tenaga administrasi anak saya sendiri).
Dari karyawan yang dimiliki Ibu Hj. Sri Murni‟ah sudah ada
pembagian pekerjaan dari masing-masing karyawan, hal ini terungkap dari hasil cuplikan wawancara sebagai berikut:
“sampun wonten pembagian tugas ingkang jelas kagem
masing-masing karyawan, wonten ingkang mengerjakan
bordir Juki kemawon, bordir manual “icik” dan wonten
kawolu hanya menerima ingkang sampun saget bordir,sak
lajengipun dipun latih kaliyan bekerja”
Artinya:
sudah ada pembagian tugas yang jelas buat masing-masing karyawan, ada yang hanya mengerjakan bordir mesin Juki,
bordir manual “Icik” dan mengerjakan bordir komputer dan
tidak melakukan pelatihan sebab saya hanya menerima yang sudah bisa bordir dan seterusnya dilatih sambil bekerja).
Sementara itu seorang informan lainnya, Ibu Mirah pemilik usaha bordir ”La Mirah” menyampaikan sebagai berikut:
”pembagian tugas pekerjaan boten rumit, namun tugas-tugas membordir engkang kawolu tekanaken kaliyan karyawan
cekap sae lan boten ribet”.
Artinya:
di usaha bordir “la Mirah” pembagian tugas pekerjaan tidak rumit, namun tugas-tugas membordir yang saya tekankan bagi karyawan cukup baik dan tidak rumit.
Pada umumnya para pengusaha memberikan bonus atau hadiah kepada para karyawannya apabila bisa bekerja sesuai target dangan kualitas yang diharapkan komunitas pengusaha IKBK bordir, hal ini bisa terungkap dari wawancara informan kunci maupun informan yang lain. Seperti yang disampaikan Ibu Hj.Sri Muni‟ah dalam cuplikan wawancara sebagai berikut:
“Kawulo ngaturi penghargaan kagem karyawan berupa uang
menawi karyawan saget damel bordir ingkang sae sesuai kaliyan ingkang kawulo kersakake, sampun sami disain ipun
dan reginipun sae”
Artinya:
Saya memberi penghargaan buat karyawan berupa uang kalau karyawan bisa membuat bordir baik sesuai dengan yang saya harapkan, sama dengan disain dan harganya baik).
Demikian pula informan Bapak Nur Syafiq50 menyatakan:
”kami memberi bonus berupa uang dan memberikan kebebasan karyawan sebagai usaha mempertahankan
Karyawan pada umumnya baik yang bekerja di rumah pengusaha maupun yang mengerjakan di rumah pekerja sendiri, memiliki hubungan informal yang sangat baik, tanpa ditandai dengan kontrak kerja secara tertulis, hanya dengan perjanjian lisan dengan didasarkan saling percaya, hal ini disampaikan oleh para informan yang dijumpai dan diwawancarai peneliti. Seperti Ibu Hj.Sri Murni‟ah yang mengungkapkan sebagai berikut:
“pekerja bordir ingkang nyambut damel dateng mriki
puniko, katah ipun injih tetanggi dusun mriki kemawon, amargi sampun kados sederek injih menawi ijin wonten kebatahan sanes ipun injih monggo, contonipun dipun sambi methuk lare sekolah, belanjo dateng peken, namun ingkang penting damelanipun bordir rampung sesuai kaliyan wedal ingkang sampun kawulo tenthok-aken, disain ingkang
kawulo tenthok-aken”
Artinya:
pekerja bordir yang bekerja di sini, kebanyakkan tetangga di sini saja, karena sudah seperti saudara sendiri sehingga kalau ada keperluan lain, ya silahkan contohnya menjemput anak sekolah, belanja di pasar), namun yang penting pekerjaan bordir selesai tepat waktu sesuai dengan disain yang telah ditentukan).
Demikian juga informan Bapak H.Hasan51 menyampaikan kepada peneliti sebagai berikut:
“Untuk mendapatkan pekerja bagi saya sangat mudah, yang
penting mereka sudah bisa menjahit, tinggal saya latih mengkombninasikan benang dan warna kain dasarnya, itu sudah kami gambarkan desainnya, dan hubungan saya dengan karyawan tidak formal, karena semua perjanjian kerja secara lesan, hanya saling percaya dan saling menguntungkan, dan saya lakukan secara fleksibel saja, yang penting hasil bordir sesuai yang saya kehendaki yaitu sesuai desain yang saya inginkan dan rata-rata mendapat upah dengan sistem borongan kalau gaji dibayar harian tanpa
makan siang mendapatkan Rp.60.000, per hari”.
disimpan/ditabung untuk merencanakan ibadah umroh. Hal itu disampaikan Hj.Sri Murniah saat diwawancarai sebagai berikut:
”menawi pikantuk untung radi katah, kawulo sisihkan dipun
tabung kangge rencana bade kesah ngilen “umroh” (menawi
pikantuk untung cukup banyak, saya sisihkan di tabung buat pergi ke Barat untuk ”umroh”). Namun jika mendapatkan rejeki sedikit, ya harus disyukuri pula, tentunya tidak menyisihkan untuk ditabung dan tidak mengurangi untuk kulakan bahan-bahan bordir, bahaya. Nah, ini harus sesuai dengan pemasukkan dan pengeluarannya.
Jadi ukuran keuntungan, atau kinerja yang baik bagi Hj.Sri
Murni‟ah adalah ketika sekurang-kurangnya dapat menyediakan alokasi dana untuk arisan dan mengangsur kredit pinjaman. Seperti ucapnya ”Tasih saget kagem bayar arisan, lan bayar utang kreditan” (masih dapat buat bayar arisan, dan bayar utang kreditan).
Bagi pengusaha bordir yang penting mendapatkan keuntungan akan mendorong pengusaha tetap berproduksi bordir untuk memenuhi pesanan dan menjual langsung kepada konsumen, meskipun penjualan langsung maupun pesanan bordir sangat dipengaruhi oleh faktor musim (dalam konteks budaya) yang secara umum dialami semua pengusaha bordir, misalnya sebelum bulan puasa Ramadhan dan hari raya Idhul Fitri, pesanan dan omzet penjualan bordir meningkat. Hal
ini sesuai dengan yang diungkapkan Ibu Hj.Sri Murni‟ah sebagai
berikut:
”Biasanipun wedal bade wulan pusasa Rhomadon, bisaanipun
katah pelanggan ingkang pesan bordir baju Muslim, jilbab, baju Koko dengan motif bordir lan kain-kain motif bordir
kagem kabayak”
Artinya:
Biasanya setiap waktu menjelang bulan puasa Rhamadan, biasanya banyak pelanggan yang pesan baju muslim, jilbab, baju koko dengan motif bordir dan kain-kain motif bordir untuk kebaya).
“Setiap musim orang punya hajat, souvenir menikahkan putra-putrinya, atau mendekati hari besar keagamaan banyak pesanan baik konsumen maupun pemilik toko yang memesan souvenir dompet, tutup gelas, tempat tisu,taplak meja dll, ya
lumayan omzetnya”.
Konsep keuntungan bagi para pengusaha bordir cukup sederhana, kadang-kadang tidak diperhitungkan oleh berbagai komponen yang selalu dianggap biaya. Keuntungan adalah saldo selisih antara harga jual yang yang telah dikurangi harga pokok barang, namun dalam kisaran tidak lebih dari 15%. Pedagang tidak menafikan untuk mendapatkan keuntungan yang banyak sehingga keluarga sejahtera, namun pada umumnya komunitas pengusaha bordir setiap usaha selalu dikaitkan dengan motif untuk ibadah seperti zakat, sedekah, infak maupun kegiatan sosial dilakukan secara rutin. Jadi tidak semata-mata mencari keuntungan yang besar dan melupakan ibadah. Indikator dan bukti secara empiris cukup banyak ditemukan, diantaranya setiap hari Jumat pengusaha bordir menutup usahanya atau dibuka lagi setelah lewat sholat Jumat, memberikan zakat, sedekah meskipun permintaan bordir sepi, seperti yang diucapkan oleh Ibu Islahiyah53 bahwa:
“Kulo, nek sepi pesanan bordir boten tentu, kadang-kadang
wulan Pebruari ngatos Maret, namun sakwedal ipun bede romadhon lan dinten Riyadi injih radi rame, ningali rejekine teka Pangeran (Allah SWT), menawi nembe kesel nggih istirahat, nek rame nggih remen sanget, ngantos garapipun lembur-lembur injih tetap amal ngaturi shodakoh, zakat
utawi infak injih tetap”.
Artinya:
kalau sepi pesanan bordir tidak tentu, kadang-kadang bulan Februari sampai April, namun sewaktu mendekati bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri ya cukup ramai, ya seneng sekali, melihar rejekinya datang dari Allah SWT, kalau baru capek ya istirahat, kalau rame ya senang sekali sampai mengerjakan lembur-lembur ya tetap beramal memberikan zakat, sedekah atau infak”.
menarik serta memiliki keunikan tersendiri. Jadi minat untuk mengembangkan bordir di kalangan pengusaha bordir sangat tinggi dan bukan atas dasar permintaan pangsa pasar yang dominan diperlukan oleh banyak konsumen, dan bukan atas harga yang menarik, tetapi ada keinginan untuk melestarikan dan menguri-uri bordir di Desa Padurenan Kecamatan Gebog yang sudah merupakan warisan para orang tua, sehingga masih bertahan sampai sekarang. Usaha bordir yang dikembangkan keluarga, tidak hanya sekedar space tempat melakukan kegiatan bisnis tetapi sebagai tempat dalam menimba ilmu memproduksi bordir dan menjualnya kepada konsumen, sehingga sebagai praktik nyata (learning by doing and natural education) orang tua kepada anak-anaknya dalam menjalani etika berdagang, memelihara dan menepati janji pembayaran, menjaga kualitas barang, menjalin kerja sama, memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggannya. Hal ini seperti yang diungkapkan Bapak H.Maskan54, suami dari Ibu Hj. Sri Murni‟ah:
“Sebenarnya saya bukanlah yang menjalankan usaha ini tetapi isteri saya dan anak-anak. Saya hanyalah sebagai pendukung atau memberi masukan kepada isteri dan anak-anak saya dalam menjalankan usaha bordir. Isteri saya punya bakat dagang dari orang tuanya. Waktu masih sekolah isteri saya sudah rajin menabung, terus selalu membantu orang tuanya memproduksi bordir dan menjualnya ke pasar atau ke pengecer. Dari pengalaman itulah setelah menikah dengan isteri saya, isteri saya mencoba mulai membuka usaha sendiri
sampai sekarang dan cukup berhasil…ya otodidak ya ilmu
katon saja (ilmu dari melihat/mengamati saja)……”
Pengusaha
Industri
Kecil
Bisnis
Keluarga
Bordir
Berinteraksi dengan Konsumen
konsumen selalu mengalami perubahan dan berkembang, pada zaman modern ini selalu mengarah pada peningkatan efisiensi, menggunakan teknologi yang bisa memberi kemudahan, terutama dalam penggunaan sumber daya manusia ke arah sumber daya non manusia.
Perilaku seorang komsumen terkadang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, politik dan ekonomi dalam menentukan komoditas dan jasa yang harus dikonsumsi. Bahkan sekarang ini, sering ditemukan seorang konsumen yang mengkonsumsi atau membeli produk baru tetapi tidak dilandasi oleh pengetahuan tentang komoditas tersebut, tetapi didasarkan karena pengaruh advertensi (iklan) yang dapat mempengaruhi dan membuat image baru tentang sebuah produk. Sesungguhnya antara kepentingan produsen sebagai penjual bordir dengan konsumen adalah sama-sama ingin mendapatkan manfaat maksimal, bagi produsen menjual bordir ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya melaui omzet penjualan yang besar, sedangkan konsumen ingin memperoleh kepuasan maksimal dengan harga yang terjangkau. Sistem harga luncur, disertai dengan tawar-menawar antara produsen dan konsumen yang ramai dan kadang-kadang agresif menjadi ciri sistem harga luncur dalam situasi penetapan harga yang tidak pasti. Tawar-menawar yang tidak selesai-selesai dalam menentukan harga merupakan refleksi dari kenyataan tidak adanya pembukuan yang baik dan perhitungan anggaran serta biaya jangka panjang itu telah menimbulkan kesulitan, baik bagi pembeli maupun penjual dalam menentukan harga yang “pantas”.
Produsen bordir akan menjual dalam memaksimalkan keuntungan dengan mengambil margin harga tinggi dan mendapatkan harga jual dengan tawar-menawar. Ketika tawar-menawar berlarut-larut, maka sering kali hasilnya justru cenderung berupa kegagalan, konsumen tidak jadi membeli. Oleh karena itu banyak produsen menjual bordir dengan tidak memaksakan margin harga yang besar dan keuntungan yang dicanangkan bersifat lentur atau elastis.
kapasitas interpersonal kepercayaanya sebagai hasil dari kepercayaan produk bordir kepada konsumen atau pelanggannya, baik personal maupun pedagang eceran tidak terbatas pada Kota Kudus, tetapi bisa berbagai kota yaitu Pekalongan, Surakarta, Malang bahkan Denpasar (Bali). Demikian pula kepercayaan dari para pemasok bahan baku juga semakin tinggi dikarenakan pengusaha bordir tersebut menjaga kepercayaan tepat waktu melunasi bahan baku yang dibelinya, bahkan sering digunakan caranyaur ngamek. Hal itu karena pengusaha bordir
tersebut telah mendapat semacam sertifikat “kepercayaan sosial” (social credentials) sehingga sebagai pedagang memiliki aksesibilitas peluang sumber daya usaha lebih besar.
Menunjuk pada informan kunci Ibu Hj.Sri Murni‟ah pemilik usaha bordir “Fadillah Embroidery” tanpa dibuat-buat, apa adanya dan jauh daripada kesan hyperbolik, menunjukkan sikap kejujuran, perilaku sabar, tata cara komunikasi bagus dan memelihara kepercayaan sebagai modal usaha yang amat menentukan berlangsungnya usaha.
Berdagang adalah interaksi antara penjual (produsen) dan pembeli, oleh karena itu membangun kerja sama serta menjalin komunikasi dilakukan dengan baik. Bila sudah ada kecocokan dengan pembeli, karena telah mengenal dengan baik melalui jual beli berulang kali, terjalinnya hubungan baik maka hubungan antara penjual (produsen bordir) dengan pembeli yang sudah menjadi pelanggan. Cara berkomunikasi, berinteraksi dan selalu menjaga kejujuran dengan pembeli merupakan kekuatan modal berjualan yang dimiliki produsen bordir, dan hubungan yang baik itu jika dipelihara sebagai norma atau nilai-nilai yang disepakatinya. Cara yang dilakukan Ibu Hj.Sri
Murni‟ah selalu membuat terkesan bagi siapa pun yang pernah berbelanja di rumahnya:
“Dagang meniko kedah sumeh, disiplin. Sumeh meniko
ingkang dipun padosi tiyang, boten pikantuk cepet nesu
menawi dipun tawar dagangan kanti murah”
Dagang itu harus sumeh, disipin. Sumeh itu yang dicari orang, tidak boleh marah-marah kalau dagangan ditawar murah).
Untuk melihat dan mendalami pengusaha IKBK bordir di tempat penelitian yang dipilih, peneliti menetapkan beberapa
informan kunci, salah satunya ibu Hj.Sri Murni‟ah pemilik usaha bordir “Fadillah”, asal mulanya merupakan usaha dari orang tuanya (warisan) yang kemudian dikembangkan dan diberi nama usaha
“Fadillah”. Pemilik usaha “Fadillah” sangat sederhana dan tidak
mengesankan bila diperhatikan cara pandang tentang betapa pentingnya suatu modal financial, demikian pula tidak pernah mendapat pendidikan formal yang mengajarkan teori tentang norma dan nilai berdagang, jaringan usaha, kepercayaan, hubungan timbal balik sebagai model usaha. Namun berdasarkan pengalaman selama mengikuti dan membantu orang tua dalam berbisnis bordir ternyata menjadikan proses pembelajaran, sehingga mampu mengemukakan pandangannya tentang bisnis bordir, tanpa dibuat-buat, apa adanya yang menunjukan nilai kejujuran, mampu memelihara kepercayaan, perilaku sabar, tata cara komunikasi baik, berhubungan timbal balik dengan sesama baik sebagai modal usaha yang amat menentukan kelangsungan usaha bordir. Sebagaimana yang diungkapan Ibu Hj.Sri
Murni‟ah55 kepada peneliti sebagai berikut:
“kejujuran lan kesabaran kuncinipun kawolu padhos
pedagang kain lan batik besar dateng peken Kliwon-Kudus dan Peken Klewer Surakarta supados purun tumbas hasil produksi bordir kawulo. Alhamdulilah, wonten pengusaha
pemilik toko batik lan konveksi “Toko Sinar Jaya” keturunan Cina purun tumbas ‟kulakan‟ produksi bordir kawulo lan ngantos sakmeniko dodhos jujugan menawi kentun bordir, lan pembayaranipun injih lancar. Amargi rembagan engkang sae lan kejujuran ingkang kawulo jagi ngantos sakmeniko kawulo tasih dipun pitados kaliyan pemilik Toko Sinar Jaya peken Klewer-Surakarta, ugi katah pedagang kain peken Kliwon Kudus injih katah ingkang pesen bordir kawulo, injih
Alhamdulilah dipun pitados tiyang ya kedhah dipun jagi”.
kejujuran dan kesabaran, kuncinya saya mencari pedagang kain dan batik besar di Pasar Kliwon Kudus dan Pasar Klewer Surakarta supaya mau membeli hasil produksi bordir saya. Alhamdulilah, ada pengusaha pemilik toko batik dan
konveksi “Toko Sinar Jaya” keturunan Cina mau beli ”kulakan” produksi bordir saya dan sampai sekarang menjadi
tujuan mengirim bordir, dan pembayaran ya lancar. Sebab komunikasi yang baik dan kejujuran yang selalu dijaga, sampai sekarang masih dipercaya dengan pemilik Toko Sinar Jaya di pasar Klewer Surakarta, demikian juga banyak pedagang kain pasar Kliwon Kudus, ya banyak yang pesan bordir saya, ya Alhamdulillah dipercaya orang ya harus dijaga).
Kejujuran harus menjadi dasar pengusaha bordir, bila dirinya berharap usahanya akan tetap berkelanjutan. Temuan fenomena nilai kejujuran dalam berdagang bagi pengusaha bordir juga diperoleh dari ungkapan Bapak H.Moch Anshori56 ketika menuturkan informasi tentang tawar-menawar dengan konsumennya:
“saat menawarkan hasil produk bordir kadang-kadang ada pengusaha bordir yang mengatakan harga yang ditawar di bawah harga pokok padahal belum tentu benar, meskipun hanya sebagai pemanis kata saja itu tidak baik karena sudah berbohong sebab bila pembeli ternyata benar-benar mengetahui harga produksi bordir maka dapat kehilangan kepercayaan pembeli. Dan saya hanya mengatakan kepada pembeli kalau dibolehkan dinaikkan sedikit harganya, kita tidak bohong, ya seandainya pembeli menyetujui kita dapat
untung sedikit, tetapi akan menambah pelanggan”
Bahkan waktu diadakan pameran produk inovatif yang diadakan di Citraland-Semarang selama 3 hari, KSU Padurenan Jaya bekerja sama dengan Bank Indonesia, Bank Jateng dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan UKM Kabupaten Kudus telah mengirim pengusaha Bordir dari Kelurahan Padurenan-Kecamatan Gebog, yang diwakilkan oleh antara lain Ibu Hj.Sri Muni‟ah, Ibu Mirah, Ibu Islahiyah yang menjaga stand bordir dari hasil produksi para pengusaha bordir di Desa Padurenan Kec.Gebog. Waktu Ibu Hj.