• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN RINGKASAN EKSEKUTIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN RINGKASAN EKSEKUTIF"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

ii

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

DAFTAR ISI

PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR TABEL iii

DAFTAR GAMBAR iv

DAFTAR LAMPIRAN V

RINGKASAN EKSEKUTIF vi

LAMPIRAN xii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI I – 2

1.2. KONDISI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN I – 11

1.3. RENCANA STRATEGIS I – 17

1.4. SISTEMATIKA PENYUSUNAN LAKIP I – 28

BAB II RENCANA KINERJA TAHUNAN DAN PENETAPAN KINERJA

2.1. RENCANA KINERJA TAHUNAN II – 1

2.2. PENETAPAN KINERJA II – 3

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.1. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA III – 4

3.2. EVALUASI DAN ANALISIS ANGGARAN III – 11

3.3. CAPAIAN KINERJA LAINNYA III – 14

3.4. HAL-HAL YANG MEMERLUKAN PERHATIAN UNTUK PENINGKATAN KINERJA

III – 18

3.5. PENGHARGAAN PIHAK KE-3 KEPADA DIREKTORAT III – 20

BAB IV PENUTUP

4.1. KESIMPULAN IV – 1

(4)

iii

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

DAFTAR TABEL

Tabel i Pencapaian Kinerja Sasaran Ditjen Cipta Karya Tahun 2013 x Tabel ii Trend Pencapaian Sasaran Ditjen Cipta Karya Periode 2010-2013 xi

Tabel 1.1. Klasifikasi Pendidikan PNS I – 10

Tabel 1.2. Persebaran SDM I – 10

Tabel 1.3. Rekapitulasi PNS Berdasarkan Jenis Kelamin I – 11 Tabel 1.4. Kondisi, Tantangan Pembangunan Tahun 2013 I – 16

Tabel 2.1. Rencana Kinerja Tahunan II – 2

Tabel 2.2. Penetapan Kinerja II – 4

Table 2.3. Revisi Penetapan Kinerja II – 5

Tabel 3.1. Kategorisasi Kinerja III – 1

Tabel 3.2. Pengelolaan Kinerja Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun 2013 III – 2 Tabel 3.3. Pengukuran Kinerja Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun 2013 III – 3 Tabel 3.4. Pencapaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Kualitas Layanan Air

Minum dan Sanitasi Permukiman Perkotaan

III – 5 Tabel 3.5. Realisasi Capaian Output Pelayanan Air Minum Tahun 2013 III – 6

Tabel 3.6. Sasaran Pemanfaat Program P4 – SPAM III – 6

Tabel 3.7. Pencapaian Kinerja Peningkatan Jumlah Pelayanan Air Minum III – 7

Tabel 3.8. Kinerja Pelayanan Sanitasi III – 10

Tabel 3.9. Capaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Kualitas Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang

III – 18 Tabel 3.10. Kinerja Pencapaian Pembangunan Rusunawa Hingga Tahun 2013 III – 19 Tabel 3.11. Pencapaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Kualitas Infrastruktur

Permukiman Perdesaan/Kumuh/Nelayan dengan Pola Pemberdayaan Masyarakat

III – 22

Tabel 3.12. Kinerja Peningkatan Kualitas Infrastruktur Permukiman Perdesaan/ Kumuh/Nelayan

III – 22 Tabel 3.13. Tren Realisasi Anggaran Periode 2010-2013 III – 24 Tabel 3.14. Kontribusi Anggaran Terhadap Pencapaian Sasaran Ditjen Cipta Karya III – 25 Tabel 3.15. Pencapaian Output Ditjen Cipta Karya di Tahun 2013 III – 26 Tabel 3.16. Fasilitasi Kerjasama Multipihak Program CSR oleh Ditjen Cipta Karya

(2012-2013)

(5)

iv

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

DAFTAR GAMBAR

Gambar i Trend Rencana dan Realisasi Kinerja Keuangan 2010-2013 xii Gambar 1.1. Struktur Organisasi Ditjen Cipta Karya I – 3

Gambar 1.2. Struktur Organisasi BPPSPAM I – 7

Gambar 1.3. Struktur Organisasi Balai Pembinaan Teknik Air Minum dan Sanitasi

I – 8

Gambar 1.4. Klasifikasi Golongan PNS I – 9

Gambar 1.5. Grafik Golongan Ruang I – 9

Gambar 1.6. Komposisi Perempuan Yang Menduduki Posisi Strategis I – 11 Gambar 2.1. Pembangunan Revitalisasi Kabupaten Sumbawa Kawasan Istana

Dalam Loka NTB

II – 6 Gambar 3.1. Instalasi Penyaringan Air Laut menjadi Air Minum Pulau

Mandingin – JATIM (SWRO PULAU MANDANGIN)

III – 9 Gambar 3.2. Teknologi Hijau pada SPAM Kota Banjar – JABAR III – 9

Gambar 3.3. Grafik Rekapitulasi Kondisi PDAM III – 10

Gambar 3.4. Instalasi SIKIPAS III – 14

Gambar 3.5. Instalasi MCK++ III – 14

Gambar 3.6. Pemanfaatan Biogas dari Instalasi MCK++ III – 15 Gambar 3.7. Saluran Drainase Precast Banyu Urip sekaligus sebagai Badan

Jalan

III – 15 Gambar 3.8. Beton Pra-cetak untuk Saluran Drainase III – 16 Gambar 3.9. Saluran Drainase dengan Beton Pra-cetak, Bali III – 16

(6)

v

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I RENCANA KINERJA TAHUNAN

LAMPIRAN II PENETAPAN KINERJA LAMPIRAN III PENGUKURAN KINERJA

LAMPIRAN IV PETA SEBARAN LOKASI PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA PER OUTPUT

LAMPIRAN V PENGHITUNGAN KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN PMK 249 TAHUN 2011

LAMPIRAN VI PIAGAM PENGHARGAAN

LAMPIRAN VII DOKUMENTASI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA

(7)

vi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

RINGKASAN EKSEKUTIF

Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP) Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Tahun 2013 merupakan wujud akuntabilitas pencapaian kinerja dari pelaksanaan Rencana Strategis (RENSTRA) Ditjen. Cipta Karya Tahun 2010-2014 dan Rencana Kinerja Tahunan 2013 yang telah ditetapkan melalui Penetapan Kinerja Tahun 2013. Penyusunan LAKIP Ditjen. Cipta Karya Tahun 2013 pada hakekatnya merupakan kewajiban dan upaya untuk memberikan penjelasan mengenai akuntabilitas terhadap kinerja yang telah dilakukan selama tahun bersangkutan. Terhadap pelakasanaan pembangunan bidang Cipta Karya, dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut:

A. Tujuan dan Sasaran

Dalam upaya merealisasikan good governance, Ditjen. Cipta Karya telah melaksanakan berbagai kegiatan dan program untuk mencapai tujuan dan sasaran serta mewujudkan visi dan misi yang telah dituangkan dalam RENSTRA. Tujuan Ditjen Cipta Karya adalah:

1. Meningkatkan kualitas perencanaan, pengembangan, dan pengendalian permukiman demi perwujudan pembangunan yang berkelanjutan (termasuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim)

2. Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan cakupan pelayanan (infrastruktur) bidang permukiman (Cipta Karya) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat 3. Meningkatkan pembangunan kawasan strategis, wilayah tertinggal dan penanganan

kawasan rawan bencana untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah

Adapun Visi Ditjen. Cipta Karya adalah “Terwujudnya permukiman perkotaan dan

perdesaan yang layak, produktif, berdaya saing dan berkelanjutan”. Sejalan dengan visi,

telah dirumuskan misi sebagai berikut: [1] Meningkatkan pembangunan infarstruktur permukiman di perkotaan dan perdesaan untuk mewujudkan permukiman yang layak, berkeadilan sosial, sejahtera, berbudaya, produktif, berdaya saing dan berkelanjutan dalam rangka pengembangan wilayah, [2] Mewujudkan kemandirian daerah melalui peningkatan kapasitas pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur permukiman termasuk pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasinya, [3] Melaksanakan pembinaan dalam penataan kawasan serta pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang memenuhi standar keandalan bangunan gedung, [4] Menyediakan infrastruktur permukiman bagi kawasan kumuh/nelayan, daerah perbatasan, kawasan terpencil, pulau-pulau kecil terluar dan daerah tertinggal termasuk penyediaan air minum dan sanitasi bagi masyarakat miskin dan [5] Mewujudkan organisasi yang efisien, tata laksana yang efektif dan SDM yang professional dengan menerapkan good governance. Selanjutnya dengan mengacu kepada tujuan telah pula ditetapkan sasaran strategis Ditjen Cipta Karya sebagai berikut:

(8)

vii

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

1. Meningkatnya kualitas layanan air minum dan sanitasi permukiman perkotaan. 2. Meningkatkan kualitas kawasan permukiman dan penataan ruang.

3. Meningkatnya kualitas infrastruktur permukiman perdesaan/kumuh/nelayan dengan pola pemberdayaan masyarakat.

B. Kinerja sasaran

Pencapaian sasaran strategis Ditjen Cipta Karya Tahun 2013 adalah sebagai berikut:

1. Terhadap sasaran Meningkatnya kualitas layanan air minum dan sanitasi permukiman perkotaan telah tercapai peningkatan jumlah pelayanan air minum sebanyak 9.264 l/det (116,25%) dan 331 IKK (136,21%), pembinaan kemampuan Pemda/PDAM di 107 PDAM (109,18%) serta peningkatan jumlah pelayanan sanitasi di 137 kab/kota (100%) dan 486 kawasan (97,78%).

2. Terhadap sasaran Meningkatkan kualitas kawasan permukiman dan penataan ruang telah tercapai pembangunan rusunawa sebanyak 67 TB (100%) dan revitalisasi kawasan permukiman di 473 kawasan (117,37%)

3. Terhadap sasaran Meningkatnya kualitas infrastruktur permukiman perdesaan/kumuh/nelayan dengan pola pemberdayaan masyarakat telah tercapai peningkatan infrastruktur permukiman perdesaan/kumuh/nelayan di 27.569 desa (156,73%)

Pencapaian sasaran tersebut diperoleh dari capaian indikator kinerja utama (IKU) Ditjen Cipta Karya yang telah disepakati di lingkup Ditjen Cipta Karya. Capaian kinerja sasaran (outcome) Ditjen Cipta Karya Tahun 2013 tercermin dari pencapaian indikator kinerja utama sebagaimana tergambar dalam tabel i berikut:

(9)

viii

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Tabel i. Pencapaian Kinerja Sasaran Ditjen Cipta Karya Tahun 2013

Adapun trend pencapaian sasaran selama periode Renstra 2010-2014 adalah sebagai berikut:

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET REALISASI PROPORSI

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

l/det, 7.969 9.264 116,25%

IKK 243 331 136,21%

Kawasan MBR yang terlayani Infrastruktur Air

Minum. Kwsn 322 728 226,09%

IKK yang Terlayani Infrastruktur Air Minum. IKK 243 331 136,21%

Desa yang Terlayani Infrastruktur Air Minum. Desa 1.687 2.495 147,90%

Kawasan Khusus yang Terlayani Infrastruktur Air

Minum. Kwsn 221 388 175,57%

Pembinaan Kemampuan Pemda/ PDAM PDAM 98 107 109,18%

PDAM yang Memperoleh Pembinaan. PDAM 98 107 109,18%

Peningkatan Jumlah Pelayanan Sanitasi Kab/Kota 137 137 100,00%

Kwsn 934 947 101,39%

Kab/Kota 8 8 100,00%

Kwsn 829 859 103,62%

Kawasan yang Terlayani Infrastruktur Drainase

Perkotaan. Kab/Kota 55 56 101,82%

Kabupaten/Kota yang Terlayani Infrastruktur Stasiun Antara dan Tempat Pemrosesan Akhir

Sampah. Kab/Kota 74 73 98,65%

Kawasan yang Terlayani Infrastruktur Tempat

Pengolah Sampah Terpadu/3R. Kwsn 105 96 91,43%

Pembangunan Rusunawa TB 67 67 100,00%

Satuan Unit Hunian Rumah Susun yang Terbangun

Beserta Infrastruktur Pendukungnya. TB 67 67 100,00%

Revitalisasi Kawasan Permukiman dan Penataan

Bangunan. Kwsn 403 473 117,37%

Kawasan yang Tertata Bangunan dan

Lingkungannya. Kwsn 403 473 117,37%

Kab./Kota Mendapatkan Pengembangan Bangunan

Gedung Negara/ Bersejarah. Kab/Kota 155 130 83,87%

Peningkatan Infrastruktur Permukiman Perdesaan/

Kumuh/ Nelayan Desa 17.590 27.569 156,73%

Kelurahan/ Desa yang Mendapatkan Pendampingan Pemberdayaan Sosial

(P2KP/PNPM). kel/desa 10.950 11.066 101,06%

Desa Tertinggal Terbangun Infrastruktur

Permukiman. Desa 6.640 16.503 248,54%

Meningkatnya Kualitas Infrastruktur Permukiman Perdesaan/ Kumuh/ Nelayan Dengan Pola Pemberdayaan Masyarakat

Peningkatan Jumlah Pelayanan Air Minum

Kawasan yang Terlayani Infrastruktur Air Limbah Dengan Sistem Off-site dan Sistem On-Site. Meningkatnya Kualitas

Layanan Air Minum Dan Sanitasi Permukiman Perkotaan

Meningkatnya Kualitas Kawasan Permukiman Dan Penataan Ruang.

(10)

ix

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Tabel ii. Trend Pencapaian Sasaran Ditjen Cipta Karya Periode 2010-2013

C. Kinerja Keuangan

Dalam melaksanakan sasaran sebagaimana tersebut diatas, Ditjen Cipta Karya didukung pendanaan sebesar Rp 21.953.711.955.000 dengan capaian sebesar Rp 20.890.695.803.000 (95,56%). Adapun trend capaian kinerja keuangan selama periode 2010-2013 adalah sebagai berikut:

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET RENSTRA 2010 2011 2012 2013

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

l/det, - 2.576 5.745 6.381 9.264

IKK 953 170 178 192 292

Kawasan MBR yang terlayani Infrastruktur Air

Minum. Kwsn 1.392 71 355 331 728

IKK yang Terlayani Infrastruktur Air Minum. IKK 953 170 178 192 292

Desa yang Terlayani Infrastruktur Air Minum. Desa 10.239 2.807 1.811 2.312 2.494

Kawasan Khusus yang Terlayani Infrastruktur Air

Minum. Kwsn 749 19 65 244 388

Pembinaan Kemampuan Pemda/ PDAM PDAM 206 87 103 124 107

PDAM yang Memperoleh Pembinaan. PDAM 206 87 103 124 107

Peningkatan Jumlah Pelayanan Sanitasi Kab/Kota 310 87 156 138 137

Kwsn 2.480 93 203 731 955

Kab/Kota 8 8 8 8 8

Kwsn 2.038 37 129 630 859

Kawasan yang Terlayani Infrastruktur Drainase

Perkotaan. Kab/Kota 100 25 58 46 56

Kabupaten/Kota yang Terlayani Infrastruktur Stasiun Antara dan Tempat Pemrosesan Akhir

Sampah. Kab/Kota 210 62 98 92 73

Kawasan yang Terlayani Infrastruktur Tempat

Pengolah Sampah Terpadu/3R. Kwsn 442 56 74 101 96

Pembangunan Rusunawa TB 250 40 78 48 67

Satuan Unit Hunian Rumah Susun yang

Terbangun Beserta Infrastruktur Pendukungnya. TB 250 40 70 48 67

Revitalisasi Kawasan Permukiman dan Penataan

Bangunan. Kwsn 1.589 137 322 411 437

Kawasan yang Tertata Bangunan dan

Lingkungannya. Kwsn 1.589 137 322 411 437

Kab./Kota Mendapatkan Pengembangan

Bangunan Gedung Negara/ Bersejarah. Kab/Kota 474 44 134 44 130

Peningkatan Infrastruktur Permukiman

Perdesaan/ Kumuh/ Nelayan Desa 37.944 14.848 16.792 16.517 27.569

Kelurahan/ Desa yang Mendapatkan Pendampingan Pemberdayaan Sosial

(P2KP/PNPM). kel/desa 10.950 10.948 10.930 10.925 11.066

Desa Tertinggal Terbangun Infrastruktur

Permukiman. Desa 26.994 3.900 5.862 5.592 16.503

Meningkatnya Kualitas Infrastruktur Permukiman Perdesaan/ Kumuh/ Nelayan Dengan Pola Pemberdayaan Masyarakat

Peningkatan Jumlah Pelayanan Air Minum

Kawasan yang Terlayani Infrastruktur Air Limbah Dengan Sistem Off-site dan Sistem On-Site. Meningkatnya Kualitas

Layanan Air Minum Dan Sanitasi Permukiman Perkotaan

Meningkatnya Kualitas Kawasan Permukiman Dan Penataan Ruang.

(11)

x

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Gambar i. Trend Rencana dan Realisasi Kinerja Keuangan 2010-2013

D. Kendala

Secara umum, hasil capaian kinerja sasaran yang ditetapkan telah tercapai sesuai rencana dan target yang telah ditetapkan, walaupun masih terdapat beberapa kendala dan permasalahan, antara lain terkait dengan:

a. Belum optimalnya perencanaan serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan b. Masih terbatasnya jumlah SDM dan kapasitas kelembagaan bidang permukiman

khususnya terkait pelaksana di daerah (Satker, Pemda)

c. Masih terbatasnya data dan informasi (basis data) permukiman. Selain itu terdapat perbedaan data yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan program menyebabkan tidak optimalnya capaian yang dihasilkan

d. Lemahnya persiapan pelaksanaan antara lain identifikasi dan penetapan lokasi yang menyebabkan terjadinya perubahan maupun penambahan lokasi sasaran pada pertengahan tahun anggaran berjalan.

e. Beberapa kegiatan tidak dapat dilaksanakan terkait tidak terpenuhinya readiness criteria seperti kesiapan lahan.

E. Rekomendasi

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, beberapa rekomendasi yang disampaikan sebagai perbaikan ke depan antara lain:

1. Menyusun rencana pelaksanaan program dan kegiatan serta penetapan target target kinerja yang lebih akurat dengan mempertimbangkan tujuan organisasi, kemampuan SDM, faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan alokasi anggaran dan faktor terkait lainnya;

2. Meningkatkan monitoring dan evaluasi kinerja secara reguler (setiap bulan, triwulan, semester dan tahunan) untuk dapat mengawal pencapaian kinerja;

0 5.000.000.000 10.000.000.000 15.000.000.000 20.000.000.000 25.000.000.000 2010 2011 2012 2013 Ribu Rp Rencana Realisasi

(12)

xi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

3. Mengembangkan dan meningkatkan kapasitas SDM dan kelembagaan bidang permukiman.

4. Meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait baik di pusat maupun daerah lebih intensif, mengingat berbagai pencapaian target indikator yang telah ditetapkan hanya dapat dilakukan dengan melibatkan segenap instansi terkait. Koordinasi juga diperlukan untuk memperoleh data dan informasi bidang permukiman.

5. Perkuatan pada stakeholder pelaksana di daerah (Satker, Pemda), antara lain dengan memberikan acuan pelaksanaan (panduan), melakukan diseminasi, dan koordinasi yang lebih intensif.

Melalui LAKIP Ditjen. Cipta Karya Tahun 2013 ini diharapkan dapat menjadi bahan perbaikan kinerja kegiatan untuk tahun selanjutnya sesuai dengan tujuan dan sasaran strategis Renstra Ditjen. Cipta Karya Tahun 2010-2014.

(13)

I-1

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam rangka pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang tepat, jelas, terukur dan akuntabel, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah disertai Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 17/PRT/M/2012 Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Penetapan Kinerja di Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum, maka setiap Eselon I dan Eselon II pada Kementerian/Lembaga wajib menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) di akhir tahun anggaran. Begitu pula dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya, dimana pada akhir tahun anggaran 2013 menyusun LAKIP Eselon I.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Ditjen Cipta Karya disusun dengan maksud untuk memberikan gambaran yang jelas, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan atas kinerja serta capaian yang telah dilaksanakan selama 1 tahun. Hasilnya diharapkan dapat membantu pimpinan dan seluruh jajaran instansi Ditjen Cipta Karya dalam mencermati berbagai permasalahan sebagai bahan acuan dalam menyusun program di tahun berikutnya. Dengan demikian program di tahun mendatang dapat disusun lebih fokus, efektif, efisien, terukur, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bab ini menjelaskan tentang mandat Ditjen Cipta Karya berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang pembentukan organisasi kementerian dan lembaga. Berdasarkan PerPres tersebut, Ditjen Cipta Karya adalah unsur pelaksana Kementerian Pekerjaan Umum yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang cipta karya. Bab ini juga menggambarkan kondisi dan tantangan yang dihadapi sesuai dengan Renstra Ditjen Cipta Karya.

Sesuai Peraturan Menteri PU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum Pasal 538, mandat Ditjen Cipta Karya adalah:

(14)

I-2

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

1.1. TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI A. TUGAS DAN FUNGSI

TUGAS

merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang Cipta Karya sesuai dengan peraturan perundang-undangan

FUNGSI

1. Perumusan kebijakan di bidang Cipta Karya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang meliputi permukiman perkotaan dan perdesaan, tata bangunan dan lingkungan, air minum, air limbah, persampahan, dan drainase, serta bangunan gedung dan rumah negara.

2. Pelaksanaan kebijakan di bidang Cipta Karya sesuai dengan peraturan perundang-undangan meliputi penyusunan program dan anggaran, evaluasi kinerja pelaksanaan kebijakan, pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi, serta fasilitasi kegiatan strategis nasional, termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial. 3. Penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang Cipta Karya sesuai dengan

peraturan perundang-undangan.

4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi bidang Cipta Karya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

5. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal.

Dalam membantu mewujudkan tugas dan fungsi tersebut, Ditjen Cipta Karya didukung oleh lima (5) unit kerja eselon II yang terdiri atas Direktorat Bina Program, Direktorat Pengembangan Permukiman, Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan, Direktorat Pengembangan Air Minum, dan Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman serta satu unit kerja unsur pendukung yang dilaksanakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal. Khusus di bidang air minum dan sanitasi, Direktorat Jenderal Cipta Karya memiliki 2 (dua) Unit Pelayanan Teknis (UPT) berupa Balai Pembinaan Teknik Air minum dan Sanitasi setingkat eselon III yang bertanggung jawab langsung pada Direktur Jenderal Cipta Karya. Selain itu, Ditjen Cipta Karya juga dibantu oleh Badan Pendukung Pengembangan Sistem Air Minum (BPPSPAM) dalam rangka melaksanakan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, unit pelaksana eselon II di dukung oleh 5 (lima) unit kerja setingkat eselon III yang menjalankan fungsi perumusan, pelaksanaan kebijakan, penyusunan NSPK dan pemberian bimbingan teknis. Unit pendukung eselon II di dukung oleh 4 (empat) unit kerja setingkat eselon III yang menjalankan fungsi dukungan administrasi dan manajemen keciptakaryaan.

(15)

I-3

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Secara keseluruhan Ditjen Cipta Karya memiliki 5 (lima) Direktorat, 1 (satu) Sekretariat Direktorat, 1 (satu) Sekretariat Badan, 25 (duapuluh lima) Subdirektorat, 5 (lima) Bagian Pendukung, 3 (tiga) Bidang, serta 2 (dua) Balai UPT yang tugas dan fungsinya diatur berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 08/PRT/M/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pekerjaan Umum. Untuk lebih detail terkait struktur organisasi Ditjen Cipta Karya, dapat dilihat pada Gambar 1.1.

B. STRUKTUR ORGANISASI

Gambar 1.1. Struktur Organisasi Ditjen Cipta Karya

DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DIREKTORAT PENGEMBANGAN AIR MINUM DIREKTORAT PENGEMBANGAN PLP DIREKTORAT PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DIREKTORAT BINA PROGRAM SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL BAGIAN KEPEGAWAIAN DAN ORTALA BAGIAN KEUANGAN BAGIAN HUKUM DAN PER-UU BAGIAN UMUM DAN PBMN SUB DIREKTORAT KEBIJAKAN DAN STRATEGI SUB DIREKTORAT PROGRAM DAN ANGGARAN SUB DIREKTORAT KERJASAMA LUAR NEGERI SUB DIREKTORAT DATA DAN INFORMASI SUB DIREKTORAT EVALUASI KINERJA SUB DIREKTORAT PERENCANAAN TEKNIS SUB DIREKTORAT PENGEMBANGAN PERMUKIMAN BARU SUB DIREKTORAT PENINGKATAN PERMUKIMAN WIL I SUB DIREKTORAT PENINGKATAN PERMUKIMAN WIL II SUB DIREKTORAT PENGATURAN DAN PEMBINAAN KELEMBAGAAN SUB DIREKTORAT PERENCANAAN TEKNIS SUB DIREKTORAT PEMBINAAN PENGELOLAAN GEDUNG DAN SUB DIREKTORAT WILAYAH I SUB DIREKTORAT WILAYAH II SUB DIREKTORAT PENGATURAN DAN PEMBINAAN KELEMBAGAAN SUB DIREKTORAT PERENCANAAN TEKNIS SUB DIREKTORAT INVESTASI SUB DIREKTORAT WILAYAH I SUB DIREKTORAT WILAYAH II SUB DIREKTORAT PENGATURAN DAN PEMBINAAN KELEMBAGAAN SUB DIREKTORAT PERENCANAAN TEKNIS SUB DIREKTORAT AIR LIMBAH SUB DIREKTORAT DRAINASE SUB DIREKTORAT PERSAMPAHAN SUB DIREKTORAT PENGATURAN DAN PEMBINAAN KELEMBAGAAN SUBBAG TU SUBBAG TU SUBBAG TU SUBBAG TU SUBBAG TU KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

(16)

I-4

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Adapun tugas dan fungsi unit-unit pendukung Direktorat Jenderal Cipta Karya adalah sebagai berikut:

1. Sekretariat Direktorat Jenderal Cipta Karya

Dalam memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada semua unsur di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Sekretariat Direktorat Jenderal Cipta Karya menyelenggarakan fungsi:

- perencanaan, pembinaan, dan pengembangan pegawai, pengelolaan administrasi kepegawaian serta evaluasi dan penyusunan organisasi dan tata laksana;

- pembinaan dan pengelolaan administrasi keuangan, serta pembinaan dan pengelolaan akuntansi, termasuk penyusunan akuntansi keuangan Direktorat Jenderal;

- penyusunan dan pembinaan peraturan perundang-undangan, pembinaan hukum dan pemberian bantuan hukum;

- penyelenggaraan tata usaha dan urusan rumah tangga, serta pengelolaan barang milik negara Direktorat Jenderal;

- pengelolaan sarana dan prasarana penanggulangan darurat bencana; dan

- koordinasi pemantauan, pengelolaan data dan informasi, evaluasi dan pelaporan kejadian bencana alam serta penanggulangannya.

2. Direktorat Bina Program

Dalam merumuskan kebijakan, menyusun rencana, program dan anggaran termasuk sumber pembiayaan, pengelolaan data, dokumentasi, publikasi, serta evaluasi kinerja pelaksanaan kebijakan dan program di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Direktorat Bina Program menyelenggarakan fungsi :

- penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan, baik di perkotaan maupun di perdesaan;

- penyusunan program dan anggaran penyediaan prasarana dan sarana;

- pengembangan kerjasama dan penyiapan administrasi pinjaman/hibah luar negeri serta pengembangan program investasi;

- evaluasi kinerja pelaksanaan kebijakan dan program; - pengelolaan data, informasi dan komunikasi publik; dan - pelaksanaan tata usaha Direktorat.

3. Direktorat Pengembangan Permukiman

Dalam melaksanakan sebagian tugas pokok Ditjen Cipta Karya di bidang perumusan dan pelaksanaan kebijakan, pembinaan teknik dan pengawasan teknik, serta standardisasi teknis dibidang pengembangan permukiman, Direktorat Pengembangan Permukiman menyelenggarakan fungsi:

- penyusunan kebijakan teknis dan strategi pengembangan permukiman di perkotaan dan perdesaan;

(17)

I-5

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

- pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi pengembangan kawasan permukiman baru di perkotaan dan pengembangan kawasan perdesaan potensial; - pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi peningkatan kualitas

permukiman kumuh termasuk peremajaan kawasan dan pembangunan rumah susun sederhana;

- pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi peningkatan kualitas permukiman di kawasan tertinggal, terpencil, daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;

- penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pembinaan kelembagaan dan peran serta masyarakat di bidang pengembangan permukiman; dan

- pelaksanaan tata usaha Direktorat

4. Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan

Dalam melaksanakan sebagian tugas pokok Ditjen Cipta Karya di bidang perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan produk pengaturan, pembinaan dan pengawasan, serta fasilitasi di bidang penataan bangunan dan lingkungan termasuk pembinaan pengelolaan gedung dan rumah negara, Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan menyelenggarakan fungsi:

- penyusunan kebijakan teknis dan strategi penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan termasuk gedung dan rumah negara;

- pembinaan teknik, pengawasan teknik, fasilitasi serta pembinaan pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara termasuk fasilitasi bangunan gedung istana kepresidenan;

- pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan dan pengembangan keswadayaan masyarakat dalam penataan lingkungan;

- pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi revitalisasi kawasan dan bangunan bersejarah/tradisional, ruang terbuka hijau, serta penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;

- penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pembinaan kelembagaan penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan; dan

- pelaksanaan tata usaha Direktorat.

5. Direktorat Pengembangan Air Minum

Dalam melaksanakan sebagian tugas pokok Ditjen Cipta Karya di bidang perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan produk pengaturan, pembinaan dan pengawasan, serta fasilitasi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum, Direktorat Pengembangan Air Minum menyelenggarakan fungsi:

- penyusunan kebijakan teknis dan strategi pengembangan sistem penyediaan air minum;

(18)

I-6

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

- pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi pengembangan sistem penyediaan air minum termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;

- pengembangan investasi untuk sistem penyediaan air minum;

- penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta pembinaan kelembagaan dan peran serta masyarakat di bidang air minum; dan

- pelaksanaan tata usaha Direktorat.

6. Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman

Dalam melaksanakan sebagian tugas pokok Ditjen Cipta Karya di bidang kebijakan, pengaturan, perencanaan, pembinaan, pengawasan, pengembangan dan standardisasi teknis di bidang air limbah, drainase dan persampahan permukiman, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman menyelenggarakan fungsi:

- penyusunan kebijakan teknis dan strategi pengembangan air limbah, drainase dan persampahan;

- pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi pengembangan air limbah, drainase, dan persampahan termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;

- pembinaan investasi di bidang air limbah dan persampahan;

- penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pembinaan kelembagaan dan peran serta masyarakat di bidang air limbah, drainase dan persampahan; dan - pelaksanaan tata usaha Direktorat.

7. Badan Pendukung Pengembangan Sistem Air Minum (BPPSPAM)

BPPSPAM bertugas mendukung dan memberikan bantuan dalam rangka mencapai tujuan pengaturan pengembangan SPAM guna memberikan manfaat yang maksimal bagi negara dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, BPPSPAM menyelenggarakan fungsi:

- Memberikan masukan kepada Pemerintah dalam penyusunan kebijakan dan strategi

- Membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam penerapan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) oleh penyelenggara dan masyarakat

- Melakukan evaluasi terhadap standar kualitas dan kinerja pelayanan penyelenggaraan SPAM

- Memberikan rekomendasi tindak turun tangan terhadap penyimpangan standar kualitas dan kinerja pelayanan penyelenggaraan

- Mendukung dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dalam penyelenggaraan SPAM oleh koperasi dan badan usaha swasta

- Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dalam menjaga kepentingan yang seimbang antara penyelenggara dan masyarakat

Unit kerja BPPSPAM memiliki struktur organisasi yang berbeda dari keseluruhan Eselon I. Unit kerja BPPSPAM merupakan badan yang dibentuk berdasarkan amanat Peraturan

(19)

I-7

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Pemerintah No 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. BPPSPAM dibentuk oleh Menteri Pekerjaan Umum melalui Peraturan Menteri No 249/PRT/M/2005. BPPSPAM memiliki tugas mendukung dan memberikan bantuan dalam rangka mencapai tujuan pengaturan pengembangan SPAM guna memberikan manfaat yang maksimal bagi negara dan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Gambar 1.2. Struktur Organisasi BPPSPAM

KETUA ANGGOTA ANGGOTA Masyarakat Pelanggan ANGGOTA Penyelenggara ANGGOTA Profesi SEKRETARIS KABAG UMUM DAN INFORMASI KABAG TATA USAHA KABAG INFORMASI DAN TATA LAKSANA KABAG KEUANGAN KEPALA BIDANG PEMANTAUAN DAN EVALUASI KINERJA KEPALA BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM KEPALA BIDANG ANALISA KEUANGAN, INVESTASI DAN PROMOSI KELOMPOK PROFESIONAL

PEJABAT FUNGSIONAL DAN TENAGA AHLI BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PERMUKIMAN

(20)

I-8

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

8. Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi

Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Cipta Karya, melalui Sekretaris Jenderal Cipta Karya erdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 21/PRT/M/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pekerjaan Umum. Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi memiliki tugas melaksanakan bimbingan teknis dan pemberdayaan pengelolaan sistem penyediaan air minum dan sanitasi dengan tugas pokok mengembangan kurikulum, melaksanakan bimbingan teknis bidang air minum dan sanitasi, serta pelatihan lainnya, dan diseminasi bahan latihan.

Dalam penyelenggaraan tugasnya tersebut, Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi menyelenggarakan fungsi:

- Pelaksanaan bimbingan teknik pelayanan air minum dan sanitasi

- Pemberdayaan kemampuan masyarakat dan badan usaha dalam pengelolaan system penyediaan air minum dan sanitasi

- Penyebarluasan dan penerapan teknologi rancang bangun sistem penyediaan air minum dan sistem pengolahan sanitasi

- Pengelolaan laboratorium dan bengkel kerja air minum dan sanitasi

- Penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang milik Negara

- Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga balai

Gambar 1.3. Struktur Organisasi Balai Pembinaan Teknik Air Minum dan Sanitasi

KEPALA BALAI / KEPALA SATKER

KELOMPOK JABATAN

FUNGSIONAL KA. SUB. BAG. TATA USAHA

KA. UR. UMUM

DAN KEUANGAN KEPEGAWAIAN KA. UR.

KA. SIE AIR MINUM

KA. SUBSIE AIR MINUM

KA. SIE SANITASI KA. SUBSIE SANITASI

BENDAHARA PENGELUARAN PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN PEJABAT PENANDA TANGAN SPM PEJABAT PEMUNGUT PNBP BENDAHARA PENERIMAAN PANITIA POKJA/ PENGADAAN BARANG JASA SEKRETARIS DIREKTUR JENDERAL

(21)

I-9

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

3% 29% 62% 6% Gol I Gol II Gol III Gol IV C. KERAGAMAN SDM

Dalam mendukung tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Cipta Karya beserta unit kerja pendukungnya di tahun 2013, Ditjen Cipta Karya didukung oleh 2.177 orang pegawai dengan keragaman SDM sebagai berikut:

Sumber: Data Kepegawaian, Seditjen 2013

Gambar 1.4. Klasifikasi Golongan PNS

Di tahun 2013, proporsi terbesar SDM Ditjen Cipta Karya berasal dari golongan III sebanyak 1.342 orang (62%) yang terbagi golongan ruang sebagaimana terdapat pada gambar 1.5.

Gambar 1.5. Grafik Golongan Ruang

Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa 71% SDM yang berasal dari golongan III, umumnya didominasi oleh SDM dengan golongan ruang III/A sebanyak 542 orang yang sebagian besar merupakan pegawai negeri sipil baru (masa kerja <5 tahun).

(22)

I-10

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Tabel 1.1. Klasifikasi Pendidikan PNS No. Pendidikan Jumlah

1. S3 7 orang 2. S2 321 orang 3 S1 977 orang 4. D III 104 orang 5. SMA 669 orang 6. SMP 50 orang 7. SD 49 orang Total 2.177 orang

Sumber: Data Kepegawaian, Seditjen 2013

Jika dilihat dari sisi pendidikan, maka komposisi terbesar ada pada SDM yang berpendidikan S1 sebanyak 977 orang (44,87%) dan SMA sebanyak 669 orang (30,73%). Kemudian, dalam rangka meningkatkan kualitas SDM, Ditjen Cipta Karya, juga menyediakan/bekerjasama menyediakan dukungan beasiswa dari Universitas dalam maupun luar negeri.

Terhadap persebaran SDM di setiap unit kerja Es II, sebagaimana terlihat pada tabel 1.2. maka akan terlihat persebaran SDM yang kurang lebih merata.

Tabel 1.2. Persebaran SDM

No. Unit Kerja Jumlah

1. Sekretariat Direktorat Jenderal 190 orang

2. Direktorat Bina Program 145 orang

3. Direktorat PBL 149 orang

4. Direktorat Pengembangan

Permukiman 151 orang

5. Direktorat Pengembangan PLP 143 orang

6. Direktorat Pengembangan Air Minum 149 orang

7. BPPSPAM 38 orang

8. Balai Wilayah I 38 orang

9. Balai Wilayah II 20 orang

10. PNS Diperbantukan 1.154 orang

Total 2.177 orang

Sumber: Data Kepegawaian, Seditjen 2013

Komposisi terbesar persebaran PNS ada di Sekretariat Direktorat Jenderal sebanyak 190 orang dan yang terendah di Balai Wilayah II sebanyak 20 orang. Dari analisis kebutuhan pegawai, dapat disampaikan bahwasanya jumlah pegawai di beberapa unit kerja masih belum memadai, hal ini dikarenakan besarnya beban kerja yang tidak sebanding dengan ketersediaan SDM.

(23)

I-11

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Tabel 1.3. Rekapitulasi PNS Berdasarkan Jenis Kelamin No. Unit Kerja Jumlah

1. Laki-Laki 1.389 orang

2. Perempuan 788 orang

Total 2.177 orang

Sumber: Data Kepegawaian, Seditjen 2013

Berdasarkan jenis kelamin, SDM Direktorat Jenderal Cipta Karya masih didominasi Laki-laki sebanyak 1.389 orang (63,80%) sementara Perempuan sebanyak 788 orang. Walaupun komposisi SDM Ditjen Cipta Karya didominasi oleh Laki-Laki, namun demikian terdapat beberapa orang Perempuan diantaranya berperan penting dalam pembangunan bidang Cipta Karya karena menduduki posisi strategis. Dimana sebanyak 33 perempuan menduduki posisi Eselon IV, 9 perempuan menduduki posisi Eselon III dan 1 perempuan menduduki posisi Eselon II.

Sumber: Data Kepegawaian, Seditjen 2013

Gambar 1.6. Komposisi Perempuan Yang Menduduki Posisi Strategis

1.2. KONDISI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN

Subbab ini menjelaskan lingkungan strategis yang melatarbelakangi dan memberikan arahan dalam pembangunan bidang Cipta karya. Lingkungan strategis pembangunan bidang Cipta Karya dipengaruhi oleh tantangan dan isu-isu strategis tingkat nasional maupun internasional yang diperkirakan akan memberikan dampak potensial bagi pelayanan prasarana dan sarana permukiman bidang Cipta Karya selama tahun 2010-2014. Tantangan serta isu-isu tersebut meliputi:

A. KONDISI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN

Tantangan pembangunan sub bidang ke-Cipta Karya-an sebagaimana tertuang dalam Permenpu No 20/PRT/M/2012 tentang Perubahan kedua atas Permenpu No 02/PRT/M/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2010-2014: 1 orang 9 orang 33 orang es II es III es IV

(24)

I-12

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

1. Perlunya menetapkan target-target kinerja yang lebih jelas untuk meningkatkan kinerja TPA yang berwawasan lingkungan di kota metropolitan/besar yang sampai saat ini masih belum menuai hasil yang optimal. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang masih rendah, sementara konflik sosial yang berkaitan dengan pengelolaan TPA sampah sampai saat ini masih sering terjadi di samping ketersediaan sarana dan prasarana persampahan yang masih belum memadai.

2. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah rumah tangganya serta mengurangi volume timbulan sampah mulai dari skala rumah tangga dalam rangka mengurangi beban TPA

3. Meningkatkan keterpaduan penanganan sistem drainase mulai dari sistem terkecil (tersier, sekunder) hingga sistem primer yang pelaksanaanya harus selaras dengan RTRW yang berlaku.

4. Makin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap aspek kesehatan akan menuntut pelayanan sanitasi sesuai dengan kriteria kesehatan dan standar teknis.

5. Memperluas akses pelayanan sanitasi dan peningkatan kualitas fasilitas sanitasi masyarakat yang akan berpengaruh terhadap kualitas kehidupan dan daya saing sebuah kota dan sebagai bagian dari jasa layanan publik dan kesehatan.

6. Mendorong dan meningkatkan keterlibatan dunia usaha (swasta) dalam pendanaan pembangunan prasarana air minum.

7. Mengembangkan kemampuan masyarakat dalam penyediaan air minum baik dalam pengolahan maupun pembiayaan penyediaan air minum.

8. Memenuhi backlog perumahan sebesar 6 juta unit sebagai akibat dari terjadinya penambahan kebutuhan rumah akibat penambahan keluarga baru, rata-rata sekitar 820.000 unit rumah setiap tahunnya.

9. Meningkatkan keandalan bangunan baik terhadap gempa maupun kebakaran melalui pemenuhan persyaratan teknis dan persyaratan administrasi/perizinan.

10. Meningkatkan kesadaran masyarakat agar dalam membangun bangunan gedung memperhatikan daya dukung lingkungan sehingga dapat meminimalkan terjadinya banjir, longsor, kekumuhan, dan rawan kriminalitas.

11. Mendorong penerapan konsep gedung ramah lingkungan (green building) untuk mengendalikan penggunaan energi sekaligus mengurangi emisi gas dan efek rumah kaca dalam kerangka mitigasi dan adaptasi terhadap isu pemanasan global.

12. Meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang khususnya pemanfaatan ruang bagi permukiman.

(25)

I-13

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

13. Menyelaraskan pertumbuhan pembangunan kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil mengacu pada sistem pembangunan perkotaan nasional.

14. Melanjutkan program pengembangan kawasan agropolitan.

15. Mengupayakan pengarusutamaan gender dalam proses pelaksanaan kegiatan sub-bidang infrastruktur permukiman, baik dari segi akses, kontrol, partisipasi, maupun manfaatnya.

Isu strategis bidang ke-Cipta Karya-an:

1. Proporsi penduduk perkotaan yang bertambah

Diperkirakan bahwa pada tahun 2025, proporsi penduduk perkotaan di Indonesia adalah sebesar 68,3%. Lebih besarnya jumlah penduduk perkotaan daripada perdesaan dapat dipandang sebagai suatu indikasi positif dari kemajuan perekonomian negara utamanya dari sektor industry dan jasa. Namun di sisi lain hal ini juga mengindikasikan pembangunan yang bias ke perkotaan, yang selanjutnya dapat menimbulkan kesenjangan wilayah antara kota besar-kota menengah atau antara kota-desa.

2. Angka kemiskinan perkotaan yang masih tinggi

Urbanisasi yang didorong oleh terbatasnya lapangan kerja di perdesaan dapat membawa dampak negatif yaitu meningkatnya angka kemiskinan perkotaan. Pada tahun 2010, sekitar 18% atau 21,25 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal di kawasan kumuh perkotaan dengan luas mencapai sekitar 42.500 hektar. Hal ini menjadi perhatian utama dalam rangka mencapai tujuan ke 7 sasaran ke 11 dari MDGs, “Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduudk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020”.

3. Kota sebagai engine of growth

Dalam studi yang dilakukan Bappenas di tahun 2003 dikemukakan peranan perkotaan yang sangat signifikan sebagai penghela pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya peranan kota-kota besar dengan jumlah penduduk di atas 700 ribu dan kota menengah dengan jumlah penduduk antara 200 ribu dan 700 ribu. Kota-kota besar dan menengah yang berjumlah 37 kota, atau 9% dari total jumlah daerah, mempunyai sumbangan 40% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sedangkan bila dipisahkan kota-kota besar saja, yang hanya berjumlah 14 kota-kota saja, atau hanya 3,4% dari total jumlah daerah, mampu menyumbang 30% dari total PDB nasional. Berdasarkan data-data di atas sudah sangat jelas bahwa kota merupakan motor dari pertumbuhan ekonomi nasional.

(26)

I-14

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya 4. Desentralisasi

Dengan diterapkannya desentralisasi, perkembangaan perkotaan di Indonesia sangat bergantung pada Pemerintah Kabupaten/Kota, sedangkan strategi skala nasional di bidang pengembangan perkotaan tidak dapat serta merta diimplementasikan. Pembangunan yang ekspansif dan tidak terencana justru membahayakan daya dukung kota, terutama di Kota Besar dan Metropolitan.

5. Kerusakan lingkungan hidup dan perubahan iklim

Tuntutan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi jika mengabaikan daya dukung lingkungan hidup dapat berakibat pada kerusakan lingkungan hidup. Selain itu isu pemanasan global dan perubahan iklim juga mempengaruhi kebijakan pembangunan infrastruktur agar dapat mengurangi laju kerusakan lingkungan hidup dan mitigasi bencana yang salah satunya diakibatkan oleh perubahan iklim

6. Daya saing kota dan demokratisasi

Peran utama mengarahkan pembangunan kabupaten/kota telah berada di tangan Pemerintah Kabupaten/Kota. Di era desentralisasi ini Kabupaten/Kota sering kali bersaing untuk menarik investasi dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berkualitas, dukungan prasarana, sarana dan pelayanan perkotaan ikut mendukung daya saing kota tersebut. Sebuah kota yang mampu mengedepankan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan kesehariannya memberikan nilai tambah dan daya saing bagi sebuah kota untuk menarik investasi dari luar.

7. Modal sosial dan pembangunan partisipatif

Setiap bangsa, kelompok masyarakat pasti memiliki modal sosial yang unik dan spesifik. Apabila aspek modal sosial tidak diperhitungkan, maka investasi yang dilakukan tidak mendorong peningkatan kesejahteraan. Sebagai subjek pembangunan, masyarakat perlu dilibatkan secara aktif yang perlu didukung dengan adanya tenaga pendamping yang mendorong dan memberdayakan masyarakat.

8. Pengarusutamaan Gender

Pengarusutamaan Gender adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional. Dimulai dari adanya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, maka dibentuklah Tim Pengarusutamaan Gender Kementerian Pekerjaan Umum melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor

(27)

I-15

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

363/KPTS/M/2009 tentang Pembentukan Tim Pengarusutamaan Gender Kementerian Pekerjaan Umum.

Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, pelaksanaan pembangunan yang responsif gender dapat diukur dari 2 (dua) hal yaitu: Pelaku Pembangunan dan Penerima Manfaat Hasil Pembangunan yaitu kondisi dimana seluruh lapisan masyarakat (laki-laki, perempuan, lansia, anak-anak dan kaum difable mempunyai kesetaraan dan keadilan di dalam kesempatan untuk mendapatkan akses, ikut terlibat dalam partisipasi, memiliki kontrol/pengawasan dan menerima manfaat hasil pembangunan. 9. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011

- 2025

MP3EI merupakan dokumen kerja yang berisikan arah pengembangan kegiatan ekonomi utama yang sudah lebih spesifik, lengkap dengan kebutuhan infrastruktur dan rekomendasi perubahan/revisi terhadap peraturan perundang-undangan yang perlu dilakukan maupun pemberlakukan peraturan-peraturan baru yang diperlukan untuk mendorong percepatan dan perluasa investasi. (Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 Tanggal 20 Mei 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011 – 2025).

Dasar Hukum

- Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 Tanggal 20 Mei 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011 – 2025

- Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 – 2025 Nomor PER.-06/M.EKON/08/2011 Tanggal 25 Agustus 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) 2011 – 2025

- Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 – 2025 Nomor PER.-06/M.EKON/08/2011 Tanggal 25 Agustus 2011 tentang Sekretariat Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) 2011 – 2025 - Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian Komite

Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 – 2025 Nomor PER.-06/M.EKON/08/2011 Tanggal 25 Agustus 2011 tentang Tim Kerja pada Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) 2011 – 2025

(28)

I-16

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya 10. MDGs (Millenium Development Goals)

Pembangunan bidang Cipta Karya yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum juga mengacu kepada lingkungan strategis yang berskala internasional, yaitu Millenium Development Goals (MDGs). Millenium Development Goals merupakan agenda masyarakat internasional dalam pencapaian pembangunan untuk pengentasan kemiskinan, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kondisi kehidupan global yang mempunyai milestone pada tahun 2015, yang dideklarasikan oleh para pemimpin dunia pada bulan September 2000 pada Konperensi Tingkat Tinggi Millenium, dengan menetapkan 8 (delapan) butir sasaran utama yang akan dicapai pada tahun target sasaran 2015 dengan tolok ukur kondisi tahun 1990. Adapun ruang lingkup Cipta Karya di dalam MDGs:

Tujuan 7 : Memastikan kelestarian lingkungan hidup

Target 10 : Penurunan sebesar separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015

Target 11 : Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020

B. KONDISI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN 2013

Tabel berikut ini berisi informasi tentang kondisi sumberdaya keciptakaryaan (SDM, Asset, anggaran DIPA, dan beban SDM) yang telah diperhitungkan pada saat penyusunan Renstra dan harus dipantau setiap tahun. Kondisi sumberdaya keciptakaryaan tersebut sangat berpengaruh dalam menghadapi tantangan-tantangan yang harus dihadapi selama melaksanakan Renstra.

Tabel 1.4. Kondisi, dan Tantangan Pembangunan Tahun 2013

Uraian Kondisi dan Tantangan 2011 2012 2013 Kondisi

1. Total SDM Ditjen CK (orang) 2.258 2.240 2.177

2. Pejabat Fungsional (orang) 103 80 88

3. Nilai Aset Tetap (Milyar Rp) 25.533,391 32.245,538 37.049,308

4. Nilai Aset Tidak Tetap (Milyar Rp) 25,394 24,947 13,664

5. Anggaran (DIPA Realisasi dalam milyar Rp) 12, 481 12,710 20,890

6. Beban SDM dalam milyar Rp/kapita 5,52 5,67 9,59

(29)

I-17

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya 1. Sektor AM

- Peningkatan akses aman air minum

- Peningkatan kapasitas kelembagaan

- Pengembangan dan penerapan peraturan perundang-undangan

- Pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum

- Penyelenggaraan pengembangan SPAM dengan penerapan inovasi teknologi

2. Sektor PLP

- Pendanaan terkait terbatasnya dana APBN dan APBD untuk pengembangan sanitasi (Kab/Kota hanya mengalokasikan 1% APBD untuk sanitasi yang layak) serta banyaknya Pemerintah Kab/Kota yang alokasi dana OM nya sangat sedikit

- Kapasitas Kelembagaan terkait Komitmen Pemda yang rendah terhadap sanitasi serta masih perlu peningkatan kualitas & kuantitas SDM pengelola sanitasi serta peningkatan kesadaran & peran serta masyarakat untuk PBHS

- Ketersediaan peraturan perundang-undangan mengingat belum tersedianya UU mengenai sanitasi sebagai payung hukum Masih banyak Pemda yang belum memiliki PERDA sanitasi

3. Sektor Bangkim

- Tantangan dalam penyediaan perumahan dan permukiman, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR), belum dapat dipenuhi seluruhnya.

- Tantangan pembangunan perkotaan dimana terjadi kesenjangan antara Jawa dan luar jawa, kesenjangan antar kota

- Tantangan pembangunan perdesaan, daerah tertinggal, perbatasan dan kawasan strategis

- Tantangan pengembangan ekonomi lokal dan daerah ke depan yang dipengaruhi oleh kesenjangan antardaerah, pengangguran di perdesaan, globalisasi dan daya saing, serta lingkungan dan bencana alam.

- Tantangan pengembangan kawasan perbatasan

- Tantangan pembangunan kawasan rawan bencana

4. Sektor PBL

- Lambatnya penerbitan Perda Bangunan Gedung (BG) oleh pemda

- Belum lengkapnya pengaturan tentang Bangunan Gedung Hijau (BGH)

5. Pengelolaan Aset

- Belum tertibnya penatausahaan BMN

- BMN yang digunakan/dikuasai Pihak Lain

Sumber: Berbagai sumber, 2013

Sebagaimana tertera pada tabel tersebut, total SDM Cipta Karya cenderung menurun dikarenakan pensiun sementara disisi lain jumlah pejabat fungsional cenderung menurun pula (kenaikan jumlah pejabat fungsional antara 2012-2013 kurang signifikan dibandingkan penurunan pada periode 2011-2012). Dengan jumlah SDM yang menurun sementara realisasi anggaran cenderung meningkat dari tahun ke tahun, berpengaruh terhadap beban tugas SDM/kapitanya yang semakin bertambah. Terlebih lagi, semakin lama tantangan pembangunan bidang Cipta Karya cenderung berat.

(30)

I-18

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

1.3. RENCANA STRATEGIS

Dalam penyelenggaraan fungsi, tugas, dan tanggungjawabnya, Direktorat Jenderal Cipta Karya telah menyusun Rencana Strategis yang dirancang dan digunakan sebagai acuan awal dalam menuju sasaran yang akan dicapai. Penyusunan Rencana Strategis sepenuhnya mempertimbangkan tuntutan lingkungan strategis yang bersifat lokal, nasional, maupun global. Rencana Strategis yang dimaksud pada hakekatnya merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai dicapai dalam penyelenggaraan pembangunan Bidang Cipta Karya selama lima tahun mendatang dengan mempertimbangkan faktor-faktor internal dan eksternal dalam upaya pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran.

Dalam LAKIP 2013 ini, digunakan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya 2010-2014 yang telah mengalami revisi. Namun demikian pada bab evaluasi, dibahas juga pencapaian kinerja Direktorat Jenderal Cipta Karya terhadap Renstra 2010-2014. Rumusan yang konstruktif dan terpadu ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kondisi yang mempengaruhi serta tantangan yang dihadapi. Untuk itu telah dirumuskan langkah-langkah perencanaan dalam bentuk Visi, Misi, Kebijakan, Strategi, serta Program Ditjen. Cipta Karya yang dapat digambarkan sebagai berikut:

A. VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN STRATEGIS VISI dan MISI

Visi Ditjen Cipta Karya selaras dengan Visi Kementerian PU yaitu kehendak untuk mewujudkan infrastruktur yang memadai dan berbasis wilayah artinya, Infrastruktur yang terbangun memiliki kualitas (mutu) yang sama (secara proposional) pada semua wilayah. Kedalam kata wilayah, tercermin pemerataan dan keadilan, sedangkan pada kata memadai, tercermin unsur pemeliharaan, kestabilan, dan kinerja pelayanan yang mantap. Solusi terhadap masalah kemiskinan, dan keadilan, bencana, produktifitas, dampak perubahan iklim dan pemanasan Global, adalah beberapa nilai (value) yang tersirat dalam Visi infrastruktur tersebut.

Infrastruktur PU yang terbangun, diharapkan mampu memberi dukungan untuk mengatasi kesenjangan antar wilayah/daerah; berkontribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional artinya, Infrastruktur yang terbangun memiliki kualitas (mutu) yang sama (secara proposional) pada semua wilayah. Kedalam kata wilayah, tercermin pemerataan dan keadilan, sedangkan pada kata memadai, tercermin unsur pemeliharaan, kestabilan, dan kinerja pelayanan yang mantap. Solusi terhadap masalah kemiskinan, dan keadilan, bencana, produktifitas, dampak perubahan iklim dan pemanasan Global, adalah bebearapa nilai (value) yang tersirat dalam Visi infrastruktur tersebut.

(31)

I-19

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Berdasarkan Visi Kementerian PU tersebut, maka Visi Ditjen Cipta Karya :

Adapun makna dari visi tersebut adalah:

- Layak, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang mempunyai persyaratan kecukupan prasarana dan sarana permukiman sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal sebagai tempat bermukim warga perkotaan dan perdesaan.

- Produktif, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang dapat menghidupkan kegiatan perekonomian di lingkungan permukiman.

- Berdaya saing, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang dapat menonjolkan kualitas lingkungan permukimannya dengan baik dan mampu bersaing sebagai lingkungan permukiman yang menarik untuk warganya.

- Berkelanjutan, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang asri, nyaman dan aman sebagai tempat bermukim warganya untuk jangka panjang.

Misi Ditjen Cipta Karya pada dasarnya juga harus selaras dengan Misi Kementerian PU, maka untuk mencapai Visi Ditjen Cipta Karya tersebut maka ditetapkan misi Ditjen Cipta Karya sebagai berikut :

1. Meningkatkan pembangunan infarstruktur permukiman di perkotaan dan perdesaan untuk mewujudkan permukiman yang layak, berkeadilan sosial, sejahtera, berbudaya, produktif, berdaya saing dan berkelanjutan dalam rangka pengembangan wilayah. 2. Mewujudkan kemandirian daerah melalui peningkatan kapasitas pemerintah daerah,

masyarakat dan dunia usaha dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur permukiman termasuk pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasinya. 3. Melaksanakan pembinaan dalam penataan kawasan serta pengelolaan bangunan

gedung dan rumah negara yang memenuhi standar keandalan bangunan gedung. 4. Menyediakan infrastruktur permukiman bagi kawasan kumuh/nelayan, daerah

perbatasan, kawasan terpencil, pulau-pulau kecil terluar dan daerah tertinggal termasuk penyediaan air minum dan sanitasi bagi masyarakat miskin.

5. Mewujudkan organisasi yang efisien, tata laksana yang efektif dan SDM yang professional dengan menerapkan good governance.

Terwujudnya permukiman perkotaan dan perdesaan yang layak, produktif, berdaya saing dan berkelanjutan

(32)

I-20

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

TUJUAN

Dalam rangka mewujudkan Visi, Misi serta mengantisipasi potensi maupun permasalahan infrastruktur bidang Pekerjaan Umum pada periode lima tahun mendatang, maka tujuan yang akan dicapai oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan kualitas perencanaan, pengembangan, dan pengendalian permukiman demi perwujudan pembangunan yang berkelanjutan (termasuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim)

2. Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan cakupan pelayanan (infrastruktur) bidang permukiman (Cipta Karya) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat 3. Meningkatkan pembangunan kawasan strategis, wilayah tertinggal dan penanganan

kawasan rawan bencana untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah

SASARAN

Dengan mengacu sasaran strategis Kementerian Pekerjaan Umum, maka sasaran Direktorat Jenderal Cipta Karya yang akan dicapai meliputi:

1. Meningkatkan kualitas kawasan permukiman dan penataan ruang.

2. Meningkatnya kualitas infrastruktur permukiman perdesaan/kumuh/nelayan dengan pola pemberdayaan masyarakat.

3. Meningkatnya kualitas layanan air minum dan sanitasi permukiman perkotaan.

4. Meningkatnya kualitas pengaturan, pembinaan dan pengawasan pada pembangunan infrastruktur permukiman

B. KEBIJAKAN, PROGRAM, DAN KEGIATAN

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN

Kebijakan penyelenggaraan kegiatan Direktorat Jenderal Cipta Karya diarahkan tidak hanya agar sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jenderal Cipta Karya saja tetapi juga disesuaikan dengan beberapa dokumen kebijakan dan strategi nasional seperti RPIJM Kab/Kota, Kebijakan dan Strategi Nasional Perkotaan (KSNP-Kota), Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (KSNP-SPAM), Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP), serta [bijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah permukiman (KSNP-SPALP). Kebijakan-kebijakan penyelenggaraan Direktorat Jenderal Cipta Karya tersebut difokuskan pada hal-hal sebagai berikut:

(33)

I-21

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya 1. AIR MINUM

- Meningkatkan kinerja pengelola air minum (PDAM) dengan melanjutkan kebijakan sebelumnya, yaitu restrukturisasi utang pokok dan peningkatan manajemen melalui penetapan tarif yang wajar serta penurunan tingkat kebocoran/kehilangan air pada ambang batas normal (20%).

- Mendorong pengelolaan PDAM agar lebih professional dan menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola pelayanan air minum melalui uji kompetensi, pendidikan dan pelatihan.

- Meningkatkan pembiayaan melalui Dana Alokasi Khusus yang diarahkan untuk membantu pelayanan air minum perdesaan serta insentif bagi PDAM, di samping mendorong pemerintah provinsi/ kabupaten/kota untuk berinvestasi di bidang pengembangan air minum.

- Meningkatkan peran serta seluruh pemangku kepentingan dalam upaya mencapai sasaran pembangunan air minum.

- Menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia usaha (swasta) untuk turut berperan aktif dalam memberikan pelayanan air minum.

2. AIR LIMBAH

- Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan air limbah, baik yang dikelola BUMD maupun yang dikelola secara langsung oleh masyarakat.

- Meningkatkan pendanaan dengan mengembangkan alternatif sumber pembiayaan yang murah dan berkelanjutan serta melalui kemitraan swasta dan pemerintah.

- Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan air limbah.

- Mengembangkan kelembagaan dalam penanganan air limbah. 3. PERSAMPAHAN DAN DRAINASE

- Menciptakan kesadaran seluruh stakeholders terhadap pentingnya peningkatan pelayanan persampahan dan drainase.

- Meningkatkan peran serta seluruh stakeholders dalam upaya mencapai sasaran pembangunan persampahan dan drainase.

- Menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia usaha (swasta) untuk turut berperan serta secara aktif dalam memberikan pelayanan persampahan, baik dalam handling-transportation maupun dalam pengelolaan TPA.

(34)

I-22

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

- Menciptakan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public private partnership) dalam pengelolaan persampahan.

- Mendorong terbentuknya regionalisasi pengelolaan persampahan dan drainase. - Meningkatkan kinerja pengelola persampahan dan drainase melalui

restrukturisasi kelembagaan dan revisi peraturan perundang-undangan yang terkait.

- Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola persampahan dan drainase melalui uji kompetensi, pendidikan, pelatihan, dan perbaikan pelayanan kesehatan.

4. BANGUNAN GEDUNG DAN LINGKUNGAN

- Meningkatkan pembinaan bagi peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung.

- Meningkatkan pengawasan dan pembinaan teknis keamanan dan keselamatan gedung.

- Meningkatkan pengawasan dan penertiban pelestarian bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan yang berskala nasional maupun internasional.

5. PENGEMBANGAN PERMUKIMAN

- Pemantapan peran dan fungsi kota dalam pembangunan nasional.

- Pengembangan permukiman yang layak huni, sejahtera, berbudaya, dan berkeadilan sosial.

- Peningkatan kapasitas manajemen pembangunan perkotaan. PROGRAM

Selama kurun waktu 2010-2014, seluruh kebijakan Direktorat Jenderal Cipta Karya dituangkan dalam satu program pelaksanaan yaitu:

Program Pembinaan dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman

KEGIATAN

1. Meningkatnya jumlah kabupaten/kota yang menerapkan NSPK dalam pengembangan kawasan permukiman sesuai rencana tata ruang wilayah/kawasan bagi terwujudnya pembangunan permukiman, yang diukur dari indikator kinerja outcome:

(35)

I-23

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013

Direktorat Jenderal Cipta Karya

- Jumlah kabupaten/kota yang menerbitkan produk pengaturan dan mereplikasi bantek permukiman.

- Jumlah kabupaten/kota yang menerbitkan produk pengaturan dan mereplikasi bantek bangunan gedung dan lingkungan.

- Jumlah kabupaten/kota yang menerbitkan produk pengaturan dan mereplikasi bantek air limbah dan drainase.

- Jumlah kabupaten/kota yang menerbitkan produk pengaturan dan mereplikasi bantek air minum.

- Jumlah dukungan manajemen bidang permukiman

- Jumlah kebijakan, program dan anggaran, kerjasama luar negeri, data informasi, serta evaluasi kinerja infrastruktur bidang permukiman

- Jumlah kabupaten/kota yang menerapkan NSPK

2. Berkurangnya kawasan kumuh perkotaan, yang diukur dari indikator kinerja outcome: Jumlah kawasan kumuh di perkotaan yang ditangani.

3. Terlaksananya pembangunan rusunawa, yang diukur dari indikator kinerja outcome: Jumlah rusunawa terbangun.

4. Menurunnya kesenjangan antar wilayah, yang diukur dari indikator kinerja outcome: - Jumlah kawasan permukiman perdesaan ditangani.

- Jumlah kawasan pusat pertumbuhan terbentuk

5. Meningkatnya jumlah kelurahan/desa yang ditingkatkan infrastruktur permukiman perdesaan/kumuh/nelayan, yang diukur dari indikator kinerja outcome:

- Jumlah desa tertinggal yang ditangani

- Jumlah kelurahan/desa yang meningkat kualitasnya melalui pemberdayaan masyarakat

6. Terwujudnya revitalisasi kawasan permukiman dan penataan bangunan, yang diukur dari indikator kinerja outcome: Jumlah kawasan yang meningkat fungsinya.

7. Meningkatnya jumlah pelayanan sanitasi, yang diukur dari indikator kinerja outcome:

- Jumlah cakupan pelayanan sistem air limbah

- Luas kawasan potensi banjir di perkotaan yang tertangani

8. Berkurangnya potensi timbunan sampah, yang diukur dari indikator kinerja outcome: Jumlah cakupan pelayanan persampahan.

Gambar

Tabel i. Pencapaian Kinerja Sasaran Ditjen Cipta Karya Tahun 2013
Gambar i. Trend Rencana dan Realisasi Kinerja Keuangan 2010-2013 D.  Kendala
Gambar 1.1. Struktur Organisasi Ditjen Cipta Karya
Gambar 1.2. Struktur Organisasi BPPSPAM KETUA ANGGOTA ANGGOTA Masyarakat Pelanggan ANGGOTA Penyelenggara  ANGGOTA Profesi SEKRETARIS KABAG UMUM DAN INFORMASI  KABAG  TATA USAHA KABAG  INFORMASI DAN TATA LAKSANA KABAG KEUANGAN KEPALA BIDANG  PEMANTAUAN DAN
+7

Referensi

Dokumen terkait

Realisasi IKU “Persentase Pemerintah Kabupaten/Kota dengan Maturitas SPIP Level 3” Tahun 2019 adalah sebesar 34,78% atau mencapai 38,22% dari target sebesar 91%,

Sedangkan Direktur Dana Kegiatan Pendidikan (Direktur DKP) dan Direktur Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan (Direktur DRFP) berasal dari Kementerian Pendidikan

Terkait hal ini, juga disampaikan bahwa saat ini Indonesia belum dapat meningkatkan komitmennya pada existing regulation, hal ini sesuai dengan posisi Bank Indonesia

Berikut ini penjelasan mengenai rekapitulasi total anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan sanitasi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun yaitu tahun 2017 sampai dengan

Tabel 14 Perbandingan Realisasi Kinerja untuk Indikator Kinerja Jumlah Dokumen Perencanaan Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang Sudah di-KLHS Tahun 2013 –

Hasil evaluasi capaian indikator kinerja sasaran terhadap Jumlah penyediaan rumah yang layak huni bagi Masyarakat yang terkena relokasi program pemerintah daerah

5 (lima) indikator kinerja yang terdapat dalam sasaran strategis tersebut adalah indikator jumlah rekomendasi hasil analisis dan evaluasi hukum yang dimanfaatkan sebagai

Kedudukan subsektor tanaman pangan sangat bersentuhan pada prioritas keenam dan ketujuh dari nawacita. Sebagai penanggung jawab simpul koordinasi dalam